BAB VI. PENUTUP
5.2 Saran
Tak salah jika Pasar Kota Kualasimpang disebut sebagai pusat Pasar di Aceh Tamiang, karena letaknya yang dilalaui oleh jalan lintas Sumatera dan akses menuju pasar ini cukup mudah untuk dijangkau dan dapat dijangkau oleh bermacam kendaraan mulai dari kendaran pribadi seperti sepeda, sepeda motor dan mobil, pasar ini juga dapat di jangkau dengan menggunakan kendaraan umum seperti ADT8 dan becak yang masih banyak beroperasi di Aceh Tamiang.
Berdasarkan keterangan dari Bu Nazmi di pasar Kota Kualasimpang terdapat banyak sarana yang dapat digunakan oleh masyarakat luas baik pedagang di pasar, pembeli dan khalayak ramai. Adapaun sarana yang terdapat di pasar antara lain :
1. Musholah 2. Wc umum 3. Air bersih 4. Bak sampak 5. Video tron
Musholah dan WC umum ini merupakan satu kesatuan yang lokasinyapun berdampingan yakni di bagian dalam pasar atau diantara bagian pasar ikan dan pasar potong ayam. Di musholah ini pedagang bisanya tak hanya sekedar melakukan ibadah shalat, tetapi WC umumnya juga dapat digunakan oleh pedagang dan khalayak ramai kapan saja dan gratis. Tak berhenti sampai di situ
8 Sebutan warga Aceh Tamiang untuk bus antar daerah
halaman musholah yang terbilang luas ini juga sering kali menjadi tempat parkir kendaraan roda dua.
Pasar lekat dengan kesan kotor karena banyaknya sampah, maka dari dinas Koperindang menyediakan bak-bak sampah yang terdapat di bagian luas pasar dekat dengan pitu masuk utama pasar, kemudian di tiap-tiap sisi pasar biasanya di bawah tangga di lantai dua pasar. Setiap harinya petugas kebersihan yang dipekerjakan oleh Dinas Kebersihan akan membersihkan dan mengangkut sampah-sampah tersebut.
Videotron sendiri terdapat di lampu merah sebelum memasuki pasar, sebenarnya tak tahu pasti apa tujuan dan kegunaan dari videotron tersebut bagi para pedagang di pasar. Bahkan saat ini saat ini saya perhatikan layar dari videotron ini sudah mati dan tidak berfungsi lagi. Hal tersebut tidak dapat diketahui pasti untuk apa benda ini di pasar.
BAB III
PEDAGANG EMPERAN TOKO DI PASAR KOTA KUALASIMPANG
3.1. Gambaran Umum Pedagang Emperan
Meskipun di pasar sudah ada bangunan seperti kios, pertokoan dan ruko-ruko yang berdiri kokoh yang dapat digunakan untuk berdagang, namun bangunan tersebut hanya mampu disewa dan dipakai oleh pedagangang dengan modal yang terbilang tidak sedikit. Maka dari itu pasar tak lepas kaitannya dengan pedagang kaki lima (PKL).
Meskipun kerap kali saat menonton berita di televisi tentang penertiban PKL, bongkar paksa dan sebaginya namun nyatanya untuk pasar Kota Kualasimpang ini ada kasus yang cukup unik. Para PKL dengan jenis dagangan sayur-mayur akan berjualan sebelum toko atau kios-kios di dalam pasar buka dan PKL yang menjajakan kuliner akan berjualan saat jajaran ruko-ruko sudah tutup.
Tentunya pasar terdapat banyak PKL dengan sususan dan jenis dagangan yang beragam, kali ini peneliti akan membahas tentang PKL pedagang sayuran yang berjualan di emperan toko saat dini hari.
Para pedagang emperan toko ini biasanya mulai berdatangan menggelar lapak jualan di pasar pada pukul tiga dini hari dan saat itulah kehidupan Pasar Kota Kualasimpangpun dimulai. Mulai dari transaksi antara pedagang dan tengkulak, penjaja jasa angkut barang dengan sorongan (troli), dan yang tak lepas dari pedagang tentunya adalah pembeli. Meskipun terbilang masi gelap biasanya pembeli sudah berdatang ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti
ikan, danging dan sayuran. Pembeli ini biasanya juga merupakan pedagang yang membuka warung di lingkungan rumahnya, namun tak sedikit pula dari para pembeli yang berbelanja untuk konsumsi pribadi.
Meskipun di pasar ada tengkulak yang membawa barang-barang dengan menggunakan pick-up untuk diberikan pada pedagang tempatnya memasok barang, namun uniknya lagi tak sedikit dari para pedagang ini yang tidak menggunakan jasa tengkulak. Para pedagang ini biasanya akan menjual komoditas dari hasil ladangnya atau kebunnya yang mereka tanami dan rawat sendiri, oleh sebab itulah para pembeli tak jarang menyebut para pedagang emperan toko dini hari ini sebagai orang kampung karena menjual tanaman hasil ladang sendiri dan mereka juga kebanyakan adalah orang dari desa lain yang mencoba mengais rezekinya di pasar.
Sebab sayuran segar yang mereka jual dan dengan harga yang terbilang cukup terjangkau, harga dan kualitas tersebut sangat berbeda jika berbelanja di kios sayur saat siang hari. Sebab itulah pembelipun mulai memadati pasar saat dini hari. Mereka di sebut pedagang emperan karena mereka menggelar lapak jualan mereka seperti tikar atau terpal plastik di emperan toko-toko pakaian di pasar saat toko tersebut belum buka atau saat keadaan masih sangat gelap yakni dini hari.
3.1.1. Alokasi Waktu
Tiap-tiap pemilik toko, ruko ataupun kios punya hak untuk kapan membuka dan menutup toko miliknya sesuai dengan kehendak hati mereka,
namun para pedagang emperan toko ini memiliki batasan waktu yang tidak bisa disesuai dengan kehendak hati mereka sendiri.
Para pedagang emperan yang mulai menggelar lapak dagangan paling cepat pukul tiga dan paling lambat adalah selepas shalat shubuh ini, memang punya kehendak kapan mereka akan datang dan menggelar lapak jualan mereka, namun tidak saat mereka melipat kembali lapak yang telah mereka gelar.
Batasan waktu mereka untuk mulai melipat kempali lapaknya dan berpulangan tak hanya tergantung dari habisnya dagangan yang mereka jual, namun dari kapan toko yang emperannya mereka gunakan mulai buka. Sebab itulah saat mata hari mulai memancarakan cahayanya sekitar pukul tujuh para pedagangang emperan toko ini satu persatu mulai berkurang meninggalkan emperan toko mereka atau bahkan meninggalkan pasar Kota Kualasimpang.
Selambat-lambatnya mereka meninggalkan pasar adalah pukul delapan, karena biasanya pukul delapan toko-toko yang emperannya mereka gunakan satu per satu sudah mulai buka, baik itu toko pakaian, sandal, pecah belah dan sebagainya yang menempati bagian dalam pasar.
Namun demikian tak menutup kemungkinan masih ada beberapa pedagang emperan toko yang masih berjualan di pasar saat lebih dari pukul delapan, biasanya hal tersebut dapat terjadi tergantung bagaimana pedagangan emperan tersebut berkomunikasi dan bernegosiasi dengan si empunya emperan. Jika siempunya lapak tidak keberatan dan memperbolehkan maka si pedagangang emperan bisa berjualan lebih lama lagi bahakan berdampingan dibukanya toko tersebut. Namun hal ini hanya terjadi di deretan kios sayur, tidak di deretan kios
dan toko pakaian karena mereka juga membutuhkan emperan tersebut untuk meletakkan pakaian atau sepatu yang dijualnya.
Dapat dikatakan bahwa aktivitas di pasar Kota Kualasimpang ini tak ada hentinya dalam 24 jam, meskipun para pedagang emperan mulai berdatangan dan menggelar lapak jualan mereka pada pukul tiga pagi, namun pada pukul dua dini hari bagian depan pasar juga sudah mulai di padati dengan mobil bak terbuka (pick up) milik tengkulak yang setiap harinya mengantarkan sayuran di pasar.
Para tengkulak bisanya sudah punya pedagang emperan di psar yang biasanya mengambil barang-barang padanya.
Sekitar pukul empat pembeli sudah mulai pula berdatangan di pasar, biasanya mereka ini adalah pembeli yang juga pedagang, atau sengaja datang ke pasar pagi-pagi untuk berbelanja berbagai kebutuhan yang untuk diperdagangkan lagi nantinya. Kebanyakan dari mereka sengaja datang saat masih dini hari agar mendapat sayuran yang masih segar-segar dan murah yang akan dibeli dari pedagang-pedagang emperan yang ada di pasar. Jika matahari sudah mulai menampakkan dirinya barulah pasar semakin ramai dengan pembeli tak hanya pembeli yang notabenenya adalah pedagang juga, namun pembeli yang seorang ibu rumah tangga juga sudah mulai berdatangan di pasar dan tujuannya tak lain untuk mendapatkan sayuran segar dengan harga yang terbilang lebih murah ketimbang membeli di kios sayur.
Seperti halnya bu Ila yang seorang ibu rumah tangga, ia kerap kali berbelanja di psar saat dini hari untuk mencari sayuran yang murah dan segar-segar.
“kalau masih pagi-pagi gini masih banyak orang kampung yang berjualan, sayurannya segar dan murah-murah kali bisa nawar juga. Lagian pulang kalau dimasak bisa langsung dimakan buat sarapan, dan bisa ngerjai urusan lain di rumah”
Jika pedagang emperan mengambil sayuran dari tengkulak, maka pada pukul tujuh pagi bisanya tengkulak juga sudah mulai keliling ke lapak masing-masing pedagang untuk mengutip uang dari barang yang mereka ambil, Karena sistemnya adalah ambil dulu baru bayar, bahkan tengkulak ini juga tak keberatan jika diminta menunggu sebentar atau bayar besok oleh si pedagang karena hubungan yang mereka jalin juga sudah cukup lama.
Tak selang lama dari kedatangan tengkulak, biasanya pengutip uang restribusi pasar juga sudah mulai mendatangi lapak-lapak pedagang emperan ini, untuk mengutip uang sebesar tiga ribu rupiah. Karena waktu jualan pedagang emperan ini dibatasi dengan waktu buka toko maka satu-persatu pedagang sudah mulai berpulangan pada pukul tujuh dan pukul delapan sangat sedikit bisa dijumpai pedagang emperan ini, jikapun ada mereka juga sudah mulai menyusun dagangannya dalam goni untuk dibawa pulang.
Jajaran pertokoan dan kios-kios di dalam pasar bisanya mulai buka pada pukul delapan dan paling lambat pukul Sembilan pagi, serta tutup pada pukul empat atau lima sore. Tutupnya toko-toko di pasar bukan berarti aktivitas pasar mulai tertidur masih ada pihak lain yang juga mencari makan saat hari mulai gelap yakni PKL penjaja kuliner, berbagai macam kuliner tersedia saat menjelang magrib di area simpang Bogor pasar Kota Kulasimpang, mulai dari berbagai jenis martabak, sate, roti bakar, hingga makanan berat seperti nasi juga ada. Dan bisanya PKL kuliner malam mulai berpulang satu persatu setelah tengah malam,
hal ini saya amati langsung ketika musim piala dunia waktu itu saya dan adik pergi keluar mencari pengganjar perut malam dan para pedagang ini sudah mulai berberes untuk pulang.
3.1.2. Jumlah, Susunan dan Jenis Dagangan
Jumlah pedagang kaki lima yang berada di Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah 414 (Empat Ratus Empat Belas) pedagang.
Jumlah pedagang tersebut menempati pasar Pagi Kota Kualasimpang dan Pasar Eks. Terminal Lama (Pajak Bawah). Sedangkan Pedagang yang tidak termasuk ke dalam pedagang kaki lima tetapi pedagang yang berjualan di kios-kios Pasar Jaya Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah 37 (Tiga Puluh Tujuh) pedagang.9
9 Rekap Data Pedagang Kaki Lima Kecamatan Kota Kualasimpang Tahun 2018 (dinas Koperindang)
Tabel 5: Rekapitulasi Data Pedagang Kaki Lima Pasar Pagi Kota Kualasimpang Tahun 2018
NO PEDAGANG JUMLAH KETERANGAN
1 Sayur 108 Orang 27 org yg jual subuh
2 Ikan 39 Orang -
3 Pakaian/sejenisnya 10 Orang -
4 Sepatu/jahit sepatu 6 Orang Tidak dikutip Retribusi
5 Cd 8 Orang -
Dari 414 jumlah PKL di Kecamatan Kota Kualasimpang, 368 diantaranya adalah para PKL yang berjualan di Pasar Kota Kualasimpan atau biasanya di sebut sebagai pusat pasar, pasar pagi dan/atau pajak atas. Serta 368 diantaranya diklasifikasikan oleh pihak Dinas Koperindang berdasarkan dengan Jenis dagangannya menjadi 17, yakni sayur, ikan, pakaian, kelapa, ikan dan lain sebagainya. Dari 368 yang di klasifikasinkan kedalam pedagang sayuran ada 108 pedagang.
Serta yang digolongkan dalam pedagang sayuran ini tidak semua dari mereka berjualan sayuran, ada yang berjualan tahu, tempe, kolang-kaling dan
berbagai jenis dagangan lainnya yang masuk dalam klasifikasi pedagang sayuran.
Dari 108 pedagang sayuran ini, dari data yang saya peroleh dari Dinas Koperindang hanya ada 27 pedagang yang berjualan saat subuh atau dini hari, padah jika melihat fakta di pasar sebenarnya bisa lebih, melihat nama informan saya juga tidak masuk dalam daftar pedagang di pasar.
Sebanyak 108 pedagang sayuran ini juga dibagi menjadi dua golongan berdasarkan lokasi mereka berjulan yakni di dalam pasar dan lantai atas pasar.
Berikut rincian pedagang kaki lima yang berada di Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang.
Tabel 6: Data Pedagang Kaki Lima Pasar Kota Kualasimpang
No Nama Alamat Nomor Ktp Keterangan 7 Saniah Kp. Langsa Baru 111808430164
0001
13 Jamaliah Kp. Pande Tinjo - Sayur
27 Poniyem Kp. Durian 111608550263
0001
Kp. Kebun Tengah (0853 6224 6311)
Jengkol
37 Ramaolo 45 Emidarti Kp. Landuh 111608521177
0001
61 Sumarni Kp. Landuh - Sayur 62 Sarwani Kp. Bukit Tempurung 111605160740
003
Cabe
63 Legiyem Kp. Bundar - Sayur
64 Salmiah Kp. Air Tenang 111603410762 0100
Dasa Pangkalan - Sayur/Pisang
69 Herlina
Kp. Bukit Tempurung
- Sayur
70 Salyah Kp. Paya Bedi - Sayur
71 Salmah Kp. Medang Ara 111603551165 0001
Sayur 72 Suriana Kp. Kejuruan Muda 111606550571
0005
Kolang-Kaling/Sayur
73 Juliati Kp. Sekerak 111603440468
0002
Kolang-Kaling/Sayur
74 Inem Kp. Landuh - Sayur
75 Zainudin Kp. Perdamaian - Cabe/Bawang/To
mat
76 Sofiya Kp. Tanjung Rambut - Bawang/Tomat/
Tempe
80 Intan Kp. Dalam 111603410761
8002
84 Edi Surya Kp. Landuh 111608161275 Tempe/Tahu
0092 85 Marian
i
Kp. Bukit Tempurung 111605410756 0071
93 Sri Rahayu Kp. Landuh 110313600888 0001
Sayur 94 Siti Aminah Kp. B. Mahligai 111603410760
0001
Kp. Bukit Tempurung - Tahu/Tempe
10
Rafida Kp. Rantau Panjang 111603460966 0001
Nyakman Kp. Benua Raja 111608250462 0001
Cabe 10
7
Faisal Kp. Bukit Tempurung 111605010176 0003
Cabe 10
8
Heri Afrizal Kp. Bukit Tempurung - Cabe
TOTAL PEDAGANG SAYUR (PASAR PAGI KOTA
KUALASIMPANG)
108
Seratus Delapan
sumber: data dinas Koperindang
keterangan : Tulisan yang diblod Merah (Berjualan di lantai 2)
Seperti yang tertera di tabel, para pedagang emperan ini banyak yang bukan berasal dari desa Kota Kulasimpang yang menjadi lokasi pasar, melainkan dari desa-desa sekitarannya dan tak hanya di kecamatan Kota Kualasimpang saja namun pedagang emperan juga datang dari desa-desa di kecamatan sebelah yakni Kecamatan Karang Baru, seperti dua infoman saya.
Para pedagang emperan ini juga punya etnis yang beragam, yang bisa dilihat dari tabel diatas tak sedikit dari mereka yang memiliki nama keluarga (klen/marga) dibelakang namanya, juga berbagai macam etnis lainnya seperti Aceh, Jawa, Tamiang dll. Wajar jika pasar terdapat banyak pedagang dengan berbagai etnis, karena Kabupaten Aceh Tamiang sendiri merupakan Kabupaten yang di didiami berbagai macam etnis dan agama yang berbeda atau dapat dikatakan salah satu wilayah multicultural yang ada di Provinsi Aceh.
Untuk komoditas yang dijual pedagang ada yang mengambil dari tengkulak, menjual hasil panen ladang sendiri, atau mengambil dari usaha pabrik rumah tangga seperti pedagang tahu dan tempe.
3.2. Pekerjaan Sebagai Pedagang Emperan
Pekerjaan sebagai seorang pedagangan di emperan toko pada dini hari merupakan pekerjaan pekerjaan rutin yang dilakukan setiap harinya oleh para wanita yang juga sebagai seorang ibu rumah tangga berikut. Pekerjaan rutin mereka dimulai saat matahari belum menunjukkan sinarnya hingga menjelang toko inang/toko yang mereka tumpangi emperannya hampir buka. Bekerja sebagai pedagang emeperan toko merupakan salah satu pekerjaan di sektor informal dan termasuk dalam sektor usaha menengah ke bawah.
Para pedagang yang notabenenya adalah seorang ibu rumah tangga yang juga memiliki tanggung jawab dalam sektor domestik tentu memilik alasannya tersendiri sehingga mereka memutuskan untuk berjualan di emperan toko.
Keputusan mereka sebagai pedagang ini erat kaitannya dengan keadaan ekonomi keluarga. Mulai dari menambah pemasukkan keuanngan hingga tulang punggung keluarganya.
Kajian-kajian sektor informal yang berkaitan dengan ketenaga kerjaan sejak dahulu sangat erat kaitannya dengan kajian-kajian gender, baik pada komunitas perkotaan maupun di pedesaan, sektor informal di dominasi oleh kaum perempuan.10 Pekerjaan sebagai seorang pedagangan di emperan toko pada dini hari merupakan pekerjaan pekerjaan rutin yang dilakukan setiap harinya oleh para wanita yang juga sebagai seorang ibu rumah tangga berikut. Adanya pandangan mengenai konsep pembagian kerja (division of labor) berdasarkan jenis kelamin dimana laki-laki ditempatkan di sektor public sementara perempuan di sektor
domestic. Padangan kerja atau tugas seperti ini tentunya terus berakar dalam diri tiap individu karena sering kali saya mendengar sehebat apapun perempuan tentunya ia akan kembali ke dapur juga atau pada akhirnya ia akan menjadi seorang yang pengurus sektor domestik juga.
Benar saja walaupun para perempuan pedagang emperan ini telah bekerja mencari uang demi menopang kebutuhan ekonomi keluarga mereka tetap tak lupa peran mereka dalam rumah tangga. Sebanyak apapun penghasilan yang mereka peroleh hari itu urusan domestik tetaplah tanggung jawab yang harus mereka kerjakan. Pandangan seperti ini disebut oleh Levi-Strauss dengan sebutan binary opposition (oposisi kembar). Seperti yang diungkapkan oleh antropolog ini
dimanapun manusia berada, manusia selalu mempunyai kemampuan untuk membedakan antara satu hal dengan hal yang lain yang berada dalam garis yang berhubungan. (Levi-Strauss dalam sairin: 2002) dapat membedakan antara siang-malam, jelek-cantik, pahit-manis dan sebagainya.
Para pedagang yang notabenenya adalah seorang ibu rumah tangga yang juga memiliki tanggung jawab dalam sektor domestik tentu memilik alasannya tersendiri sehingga mereka memutuskan untuk berjualan di emperan toko.
Keputusan mereka sebagai pedagang ini erat kaitannya dengan keadaan ekonomi keluarga, mulai dari menambah pemasukkan keuanngan hingga tulang punggung keluarganya.
Seorang Ibu yang berprofesi sebagai pedagang tentunya memiliki suatu peran ganda. Peran ganda yang diemban wanita pedagang tersebut selain menjadi guru untuk anaknya dalam hal pembinaan, juga berperan dalam menopang
kehidupan ekonomi keluarga. Untuk berperan seperti itu tentunya memerlukan suatu pertimbangan yang baik oleh seorang ibu, keseimbangan antara kegiatan dan pembinaannya sangat diperlukan untuk menghindari suatu hal yang menyebabkan ketimpangan terhadap suatu proses pendidikan dan komunikasi anak.
Kenyataan menunjukkan bahwa wanita pedagang sebagai bagian dari komunitas sektor informal memegang peranan penting dalam perekonomian, baik dalam skala makro maupun mikro (rumah tangga). Pendapatan mereka cukup signifikan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari pembiayaan pendidikan, kebutuhan sehari-hari dan kesehatan.
Menjadi pedagang emperan tentunya tidak lepas dari modal, keberadaan baitul Al-qiradh di pasar Kota Kualasimpang menjadi salah satu penopang dari modal para pedagang di pasar. Tidak sedikit dari pedagang di pasar yang mengambil pinjaman dari lembaga tersebut. seperti dari pengakuan dari wak Nur, yang berjualan tepat di depan kantor tersebut.
“Kantor ini kalo kita bilang simpan pinjamlah. Orang yang jualan di pajak ini hampir rata banyak yang ngambil pinjaman di sini, termasuk uwak. Bunganya juga gak murah 20 persenlah kita katakan, itukan udah besar ngalah-ngalahi ngutang sama Batak”
Kantor yang mulai beroperasi pada pukul Sembilan pagi tersebut setiap harinya selalu diramaikan oleh para pedagang yang ingin membayarkan ansuran pinjaman dan ada pula meminjam. Wak Nur mengaku ia hampir tidak pernah putus membayar ansuran, karena saat hutang sudah habis terkadang ada
kebutuhan yang mendesak yang membuatnya terus meminjam uang. Seperti pembayaran uang muka kreedit sepeda motor, uang sekolah anak dan lainnya.
Dunia perdagangan tentunya tak lepas dari keuntungan atau pendapatan yang mereka peroleh jika hitung-hitung pendapat rata-rata para pedagang terendah perhari adalah Rp. 75.000,- dan jumlah pendapatan tertinggi bisa sampai Rp.
175.000,-. Jumlah tersebut terbilang tidak kecil jika dikalikan dalam perbulan.
Namun, hasil dari pendapatan tersebut harus digunakan untuk belanja kebutuhan pangan keluarga setiap harinya, uang bensin, sampai dengan ansuran yang harus dibayarkan ke Baitul Al-Qiradh.
3.3. Peran Keluarga Dalam Proses Berdagang
Menurut Kutanegara dalam Haryanto (2016:239) di daerah Jatinom (Jawa Tengah) menunjukkan bahwa pilihan wanita untuk terlibat dalam sektor perdagangan merupakan salah satu alternative yang dapat dilakukan ketika mereka harus memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Seperti halnya yang saya temui di lapangan, pandangan tersebut ingin menunjukkan bahwa kaum perempuan memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam keluarga meskipun mereka seorang ibu rumah tangga. Demi terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga para perempuan tersebut rela menjadi penambah pemasukan keluarga bahkan tulang punggung keluarga.
Meskipun keluarga seperti anak atau suami kerap kali menggantikan kegiatan rumah tangga para pedagangang emperan perempuan tersebut. namun peran seorang keluarga tidak berhenti sampai disitu. Urusan berdagangpun
mereka juga mengambil peran yang penting untuk membantu ibu atau istri mereka. Adapun peran tersebut yaitu:
3.3.1. Mengantarkan dan Menjemput Ibu Atau Istrinya Ke Pasar Untuk Berdagang
Para pedagang tentunya memiliki dagang yang akan di tawarkan di pasar dan mereka membawa dagangan tersebut dari rumah mereka, sekalipun dua dari tiga informan mengandalkan bahan baku dari tengkulak tentunya ada beberapa benda yang harus dibawanya dari rumah sepertih halnya dagangan sisa kemarin atau dagangan hasil dari kebun sendiri, dikarena jauhnya lokasi pasar masing-masing rumah tentunya mereka butuh bantuan seseorang untuk mengantarnya ke pasar. Ketiga informan saya mengaku bahwa untuk ke pasar mereka diantarkan oleh anak atau suaminya ke pasar untuk berjualan.
Para pedagang tentunya memiliki dagang yang akan di tawarkan di pasar dan mereka membawa dagangan tersebut dari rumah mereka, sekalipun dua dari tiga informan mengandalkan bahan baku dari tengkulak tentunya ada beberapa benda yang harus dibawanya dari rumah sepertih halnya dagangan sisa kemarin atau dagangan hasil dari kebun sendiri, dikarena jauhnya lokasi pasar masing-masing rumah tentunya mereka butuh bantuan seseorang untuk mengantarnya ke pasar. Ketiga informan saya mengaku bahwa untuk ke pasar mereka diantarkan oleh anak atau suaminya ke pasar untuk berjualan.