• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP IKLIM MIKRO DI KOTA JAMBI SKRIPSI SILVIA LAURA ROZA LIMBONG PROGRAM STUDI KEHUTANAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2023

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP IKLIM MIKRO DI KOTA JAMBI SKRIPSI SILVIA LAURA ROZA LIMBONG PROGRAM STUDI KEHUTANAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2023"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP IKLIM MIKRO DI KOTA JAMBI

SKRIPSI

SILVIA LAURA ROZA LIMBONG

PROGRAM STUDI KEHUTANAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI

2023

(2)

PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP IKLIM MIKRO DI KOTA JAMBI

SILVIA LAURA ROZA LIMBONG

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Program Studi Kehutanan Jurusan Kehutanan

Fakultas Pertanian Universitas Jambi

PROGRAM STUDI KEHUTANAN JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI

2023PERNYATAAN

(3)

Yang bertanda tangan dibawah ini.

Nama : Silvia Laura Roza Limbong

NIM. : L1A118123

Program Studi/Fakultas. : Kehutanan/Pertanian Dengan ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini belum pernah diajukan dan tidak dalam proses pengajuan dimanapun juga dan/oleh siapapun juga.

2. Semua sumber keperpustakaan dan bantuan dari berbagai pihak yang diterima selama penelitian dan penyusunan Skripsi ini telah dicantumkan/dinyatakan pada bagian yang relevan dan Skripsi ini bebas dari plagiarisme.

3. Apabila kemudian hari terbukti bahwa Skripsi ini telah diajukan atau dalam proses pengajuan oleh pihak lain dan/atau terdapat plagiarisme di dalam Skripsi ini, maka saya bersedia menerima sanksi 12 ayat (1) butir (g) peraturan mentri Pendidikan nasional nomor 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di perguruan tinggi, yakni pembatalan Ijazah.

Jambi, Februari 2023 Yang membuat pernyataan

Silvia Laura Roza Limbong

(4)

RINGKASAN

PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP IKLIM MIKRO DI KOTA JAMBI. ( Skripsi oleh Silvia Laura Roza Limbong dibawah bimbingan Dr. Ir. Eva Achmad, S.Hut., M.Sc., I.PM dan Rahmad Nurmansah, S.Hut. M.Si).

Kota sebagai pusat pemerintahan, pembangunan di wilayah perkotaan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat akan sarana dan prasarana kota, hal inilah yang menyebabkan jumlah ruang terbangun di kawasan perkotaan selalu meningkat seiring dengan meningkatnya populasi manusiaSehingga perlu diiringi dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang akan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan serta menambah keindahan kota.Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2017, Kota Jambi merupakan ibu kota Provinsi Jambi meliputi 11 kecamatan serta sebanyak 62 kelurahan dengan luas 20.543 Ha atau 0,41% dari luas wilayah Provinsi Jambi dengan jumlah penduduk sebanyak 583,490 jiwa.Pemahaman akan pentingnya upaya menjaga fungsi lingkungan melalui keseimbangan antara RTH Publik, akan menentukan keberhasilan pembagunan kota berkelanjutan (Rias Asriati dan Asif, 2009).Menurut Laurie (1986) iklim ideal bagi manusia adalah udara yang bersih dengan suhu udara kurang lebih 27o C sampai dengan 28o C dan kelembaban udara antara 40% sampai dengan 75%. Akan tetapi kondisi seperti ini sering kali dalam jangka waktu tertentu dapat terjadi perubahan yang cukup drastis, akibat dari perubahaneruntukan lahan yang cukup siknifikan, karena berubahnya fungsi peruntukan. Bukan hanya manusia, vegetasi maupun hewan juga sering kali merasakan dampak yang tidak menguntungkan akibat perubahan kondisi iklim mikro (khususnya suhu dan kelembaban udara).

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis Pengaruh RTH Kota Jambi terhadap iklim mikro berupa suhu udara, kelembaban udara dan intensitas radiasi matahari.Penelitianmenggunakan teknik metode survei yang bertujuan untuk mengumpulkan data variabel iklim mikro.Menggunakan teknik “purposive sampling”, berdasarkan karakteristik tertentu yaitu dengan pertimbangan kondisi ruang terbuka hijau. Pengukuran masing-masing parameter iklim mikro dilakukan

(5)

dengan ThermoHigrometer dan Luxmeter diletakkan ±1,5 meter diatas permukaan tanah pada setiap titik sampel, pengambilan data suhu dan kelembaban udara pada setiap kecamatan yang di Kota Jambi dilakukan setiap pukul; 08.00 WIB, 13,00 WIB, dan 16.00 WIB, waktu tersebut dipilih karena merupakan waktu minimum, maksimal, dan ketika menurun, pengambilan data intesitas radiasi matahari dilakukan dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Pengukuran kondisi RTH pada masing-masing kecamatan dilakukan dengan data spasial dari Google Earth dikelola menggunakan ArcGIS dengan pertimbangan interpretasi visual.

Hasil penelitian menunjukan bahwa luasan total Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Jambi adalah sebesar 14,922 Ha yang meliputi taman kota, hutan kota dan taman pemakaman umum.Ruang terbuka hijau sangat berpengaruh terhadap iklim mikro kota jambi karena perbedaan kondisi geografis maupun demografis pada masing-masing wilayah kecamatan di kota jambi menunjukkan perbedaan nilai iklim mikro yang berpengaruh terhadap nilai dan fungsi lingkungan perkotaan maka terwujudnya keseimbangan antara jumlah penduduk dan RTH sangat diperlukan demi menentukan keberhasilan pembagunan kota berkelanjutan. Untuk itu, menjaga kestabilan iklim mikro perkotaan dibutuhkan keseimbangan terhadap peningkatan jumlah penduduk yang tinggi dan akitvitasnya dengan supply kebutuhan kualitas udara yang baik, sehingga tingginya peningkatan penduduk harus diiringi pula dengan tingginya peningkatan ruang terbuka hijau.

Kata Kunci: Kota Jambi, Iklim Mikro, Ruang Terbuka Hijau, RTH, Kecamatan, Arcgis.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Jambi, Provinsi Jambi pada tanggal 03 Juli 2000. Penulis memiliki 4 bersaudara yang merupakan putri ke dua anak ketiga dari ayahanda Joel Limbong, S.IP dan Ibunda Mery Simbolon, S.T., M.M.

Penulis menyelesaikan Pendidikan sekolah dasar di SDS Xaverius 2 Kota Jambi Provinsi Jambi pada tahun 2012. Penulis melanjutkan sekolah menengah pertama di SMPN 8 Kota Jambi Provinsi Jambi yang lulus pada tahun 2015. Kemudian penulis melanjutkan Pendidikan Sekolah menengah atas di SMAN 3 Kota Jambi Provinsi Jambi yang lulus pada tahun 2018. Selanjutnya pada tahun yang sama penulis melanjutkan Pendidikan jenjang Sarjana melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri (SBMPTN).

Penulis menjadi salah satu mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Pada 2020 semester ganjil, penulis memilih salah satu peminatan atau konsentrasi yaitu Manajemen Kehutanan. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Dinas Lingkungan Hidup UPTD Hutan Kota, Kota Jambi. Penulis memulai penyusunan proposal skripsi pada semester ganjil tahun akademik 2021/2022 dan melaksanakan penelitian hingga penyusunan skripsi pada semester genal tahun akademik 2021/2022 dengan judul “Pengaruh Ruang Terbuka Hijau (RTH) terhadap Iklim Mikro di Kota Jambi” yang dibimbing oleh Dr. Ir. Eva Achmad, S.Hut., M.Sc., I.PM dan Rahmad Nurmansah, S.Hut. M.Si.

Penyusunan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana

kehutanan di Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Penulis

melaksanakan ujian skripsi dan dinyatakan lulus pada tanggal 06

Januari 2023.

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat yang berkelimpahan serta karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Ruang Terbuka Hijau (RTH) terhadap Iklim Mikro di Kota Jambi.

Keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud dan terselesaikan dengan baik bila tanpa adanya support dan bimbingan dari berbagai pihak baik secara material maupun spiritual. Pada kesempatan kali ini penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Dr. Ir. Eva Achmad, S.Hut., M.Sc., I.PM selaku pembimbing skripsi I dan Bapak Rahmad Nurmansah, S.Hut. M.Si selaku pembimbing II. Atas bimbingan, kritik dan saran yang sangat membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Ahyauddin, S.TP., M.P, Ibu Maria Ulfa, S.Hut., M.Si dan Ibu Rince Muryunika, S.P., M.Si selaku penguji skripsi. Atas masukan dan saran dalam penyempurnaan skripsi.

3. Bapak Dr. Marwoto, S.Hut., M.Si sebagai pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan sejak awal perkuliahan.

4. Bapak/Ibu dosen dan staf Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang telah memberikan ilmu, arahan dan motivasi selama masa perkuliahan.

5. Bapak Dr. H. Ardhi, SP, M.Si selaku kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi yang telah memberi izin dan pengalaman kepada penulis selama penelitian.

6. Bapak M. Fauzi, S.Hut, M.Si selaku kepala UPTD Hutan Kota yang telah memberi bimbingan kepada penulis diawal penulisan skripsi.

7. Ibu Sri Utami Widyastuti, Ah. Mg selaku Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Jambi Provinsi Jambi yang telah memberi arahan dalam pedoman skripsi.

8. Ibu Anissa Fauziah. SST selaku Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas 1 Sultan Thaha Jambi yang telah memberikan informasi pedoman skripsi.

(8)

iv 9. Papa dan mama yang selalu sabar dan tak henti-hentinya mendorong semangat penulis baik didalam doa, ucapan support maupun materil dari awal hingga akhir perkuliahan.

10. Seluruh sanak saudara yang telah mendoakan dan mendukung penulis untuk selalu optimis.

11. Anabul tersayang, ping ping bucuk yang selalu menjadi penyemangat utama penulis.

12. Sahabat tercintah Pitri, Gerald dan Cici yang selalu mendukung walaupun terkadang menghambat penulis dalam penulisan skripsi. Nyusul yah.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dalam penulisan maupun penyusunannya. Oleh karena itu, kritik dan saran akan sangat membantu penulis dalam penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat.

Jambi, Februari 2023

Silvia Laura Roza Limbong

(9)
(10)

v

(11)

v

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR. ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN... x

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Kota ... 4

2.2 Ruang Terbuka Hijau (RTH) ... 4

2.2.1 Tujuan adanya RTH. ... 5

2.2.2 Tipologi RTH ... 6

2.2.3 Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) ... 9

2.2.4 RTH Publik ... 10

2.3 Interpretasi Penggunaan Lahan. ... 11

2.4 Iklim Mikro. ... 12

2.4.1 Suhu Udara... 13

2.4.2 Kelembaban Udara. ... 14

2.4.3 Intensitas Radiasi Matahari. ... 16

2.5 Pengindraan Jauh ... 16

2.5.1 ArcGIS ... 17

2.6 Penelitian Sebelumnya ... 17

III. METODE PENELITIAN ... 19

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 19

3.2 Alat dan Bahan ... 19

3.3 Tempat Pengambilan Data.. ... 20

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 20

3.5 Metode Pengambilan Data ... 21

3.5.1 Pengambilan data iklim mikro. ... 21

3.5.2 Pengambilan data kondisi RTH setiap kecamatan. ... 21

3.6 Metode Pengukuran ... 21

3.6.1 Pengukuran masing-masing parameter iklim mikro. ... 21

3.6.2 Pengukuran kondisi masing-masing RTH setiap kecamatan. ... 22

3.7 Pengolahan dan Analisis Data ... 22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 24

4.1 Deskripsi RTH di Kota Jambi ... 24

4.2 Kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) masing-masing kecamatan di Kota Jambi . ... 25

(12)

vi

4.3 Kondisi ruang Kota Jambi terhadap iklim mikro ... 29

4.3.1 Kecamatan Alam Barajo. ... 30

4.3.1.1 Kondisi Kecamatan Alam Barajo. ... 32

4.3.2 Kecamatan Telanaipura ... 33

4.3.2.1 Kondisi Kecamatan Telanaipura... 35

4.3.3 Kecamatan Pelayangan ... 36

4.3.3.1 Kondisi Kecamatan Pelayangan. ... 38

4.3.4 Kecamatan Pasar ... 39

4.3.4.1 Kondisi Kecamatan Pasar... 41

4.3.5 Kecamatan Paal Merah. ... 42

4.3.5.1 Kondisi Kecamatan Paal Merah. ... 45

4.3.6 Kecamatan Kota Baru. ... 46

4.3.6.1 Kondisi Kecamatan Kota Baru. ... 48

4.3.7 Kecamatan Jelutung. ... 49

4.3.7.1 Kondisi Kecamatan Jelutung. ... 52

4.3.8 Kecamatan Jambi Timur. ... 53

4.3.8.1 Kondisi Kecamatan Jambi Timur. ... 55

4.3.9 Kecamatan Jambi Selatan. ... 56

4.3.9.1 Kondisi Kecamatan Jambi Selatan. ... 58

4.3.10 Kecamatan Danau Teluk. ... 59

4.3.10.1 Kondisi Kecamatan Danau Teluk. ... 62

4.3.11 Kecamatan Danau Sipin. ... 63

4.3.11.1 Kondisi Kecamatan Danau Sipin. ... 65

4.4 Rata-rata iklim mikro per kecamatan ... 66

4.5 Hasil Analisis Interpretasi Visual. ... 66

4.6 Deteksi Geografis Kota Jambi. ... 68

4.7 Deteksi Demografis Kota Jambi. ... 69

V.KESIMPULAN DAN SARAN. ... 71

5.1 Kesimpulan. ... 71

5.2 Saran. ... 71

DAFTAR PUSTAKA. ... 72

LAMPIRAN. ... 74

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Karakteristik RTH ... 7

2. Struktur tata ruang kota dan RTH ... 8

3. Jenis RTH Publik Kota Jambi. ... 11

4. Data Primer dan Data Sekunder ... 19

5. Total Kepadatan per kecamatan. ... 26

6. Jenis dan Luasan Penggunaan Lahan. ... 26

7. Persentase luasan daerah kecamatan. ... 27

8. Total luasan RTH Publik di Kota Jambi. ... 29

9. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Alam Barajo. ... 30

10. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Alam Barajo. ... 30

11. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Alam Barajo. ... 31

12. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Telanaipura. ... 33

13. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Telanaipura. ... 33

14. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Telanaipura. ... 34

15. Jenis Taman Kota pada Kecamatan Telanaipura. ... 35

16. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Pelayangan. ... 36

17. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Pelayangan. ... 37

18. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Pelayangan. ... 37

19. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Pasar. ... 39

20. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Pasar.. ... 40

21. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Pasar.. ... 40

22. Taman Kota pada Kecamatan Pasar. ... 42

23. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Paal Merah. ... 42

24. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Paal Merah. ... 43

25. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Paal Merah. ... 44

26. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Kota Baru. ... 46

27. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Kota Baru. ... 46

28. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Kota Baru. ... 47

29. Taman Kota pada Kecamatan Kota Baru. ... 48

30. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Jelutung. ... 49

(14)

31. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Jelutung. ... 50

32. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Jelutung. ... 51

33. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Jambi Timur. ... 53

34. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Jambi Timur. ... 53

35. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Jambi Timur. ... 54

36. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Jambi Selatan. ... 56

37. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Jambi Selatan. ... 57

38. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Jambi Selatan... 57

39. Taman Kota pada Kecamatan Jambi Selatan. ... 59

40. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Danau Teluk. ... 60

41. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Danau Teluk. ... 60

42. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Danau Teluk. ... 61

43. Taman Kota pada Kecamatan Danau Teluk. ... 63

44. Suhu udara (OC) pada Kecamatan Danau Sipin. ... 63

45. Kelembaban udara (%) pada Kecamatan Danau Sipin ... 64

46. Intensitas radiasi matahari (%) pada Kecamatan Danau Sipin ... 64

47. Rata-rata iklim mikro perkecamatan ... 66

48. Luasan potensial pada setiap kecamatan di Kota Jambi ... 68

(15)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Tipologi RTH ... 7

2. Rata-rata suhu udara Kota Jambi pada tahun 2021. ... 14

3. Rata-rata kelembaban udara Kota Jambi pada tahun 2021. ... 15

4. Rata-rata curah hujan Kota Jambi pada tahun 2017-2021. ... 15

5. Rata-rata radiasi matahari pada tahun 2021. ... 16

6. Peta Administratif Kota Jambi... 19

7. Bagan Alir Penelitian. ... 23

8. Peta THKMS Kota Jambi, 2017. ... 25

9. Peta Tingkat Kualitas Permukiman Kota Jambi. ... 28

10. Grafik suhu udara pada Kecamatan Alam Barajo... 30

11. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Alam Barajo. ... 31

12. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Alam Barajo. ... 31

13. Peta Kondisi Kecamatan Alam Barajo. ... 32

14. RTH pada Kecamatan Alam Barajo. ... 32

15. Grafik suhu udara pada Kecamatan Telanaipura. ... 33

16. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Telanaipura. ... 34

17. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Telanaipura... 34

18. Peta kondisi Kecamatan Telanaipura. ... 35

19. RTH pada Kecamatan Telanaipura. ... 35

20. Grafik suhu udara pada Kecamatan Pelayangan. ... 36

21. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Pelayangan. ... 37

22. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Pelayangan. ... 38

23. Peta kondisi Kecamatan Pelayangan. ... 38

24. Grafik suhu udara pada Kecamatan Pasar. ... 39

25. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Pasar. ... 40

26. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Pasar. ... 41

27. Peta kondisi Kecamatan Pasar. ... 41

28. RTH pada Kecamatan Pasar. ... 42

29. Grafik suhu udara pada Kecamatan Paal Merah. ... 43

30. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Paal Merah. ... 43

(16)

x

31. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Paal Merah. ... 44

32. Peta kondisi Kecamatan Paal Merah. ... 45

33. RTH pada Kecamatan Paal Merah. ... 45

34. Grafik suhu udara pada Kecamatan Kota Baru. ... 46

35. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Kota Baru. ... 47

36. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Kota Baru. ... 47

37. Peta kondisi Kecamatan Kota Baru. ... 48

38. RTH padaKecamatan Kota Baru. ... 49

39. Grafik suhu udara pada Kecamatan Jelutung. ... 50

40. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Jelutung. ... 50

41. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Jelutung. ... 51

42. Peta kondisi Kecamatan Jelutung. ... 52

43. RTH padaKecamatan Jelutung. ... 52

44. Grafik suhu udara pada Kecamatan Jambi Timur... 53

45. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Jambi Timur. ... 54

46. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Jambi Timur. ... 54

47. Peta kondisi Kecamatan Jambi Timur. ... 55

48. RTH pada Kecamatan Jambi Timur. ... 55

49. Grafik suhu udara pada Kecamatan Jambi Selatan. ... 56

50. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Jambi Selatan... 57

51. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Jambi Selatan. ... 58

52. Peta kondisi Kecamatan Jambi Selatan. ... 58

53. RTH padaKecamatan Jambi Selatan. ... 59

54. Grafik suhu udara pada Kecamatan Danau Teluk. ... 60

55. Grafik kelembaban udara pada Kecamatan Danau Teluk. ... 61

56. Grafik intensitas radiasi matahari pada Kecamatan Danau Teluk. ... 61

57. Peta kondisi Kecamatan Danau Teluk. ... 62

58. RTH padaKecamatan Danau Teluk. ... 62

59. Grafik suhu udara pada Kecamatan Danau Sipin. ... 63

60. Grafik kelembaban udara pada kecamatan Danau Sipin. ... 64

61. Grafik intensitas radiasi matahari pada kecamatan Danau Sipin. ... 65

62. Peta kondisi kecamatan Danau Sipin. ... 65

(17)

xi 63. RTH pada Kecamatan Danau Sipin. ... 66

(18)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Peta Tutupan Lahan Kota Jambi. ... 74

(19)

1

I. PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Kota sebagai pusat pemerintahan, pembangunan di wilayah perkotaan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat akan sarana dan prasarana kota, bahkan menyimpulkan bahwa terjadi pertambahan luas sampai tiga kali lipat pada berbagai kota di negara berkembang yang terjadi karena berkembangnya pemukiman penduduk(Seto et al., 2012). Hal inilah yang menyebabkan jumlah ruang terbangun di kawasan perkotaan selalu meningkat seiring dengan meningkatnya populasi manusia (Aprianto, 2011).

Sehingga perlu diiringi dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang akan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan serta menambah keindahan kota.

RTH memiliki fungsi utama sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara atau paru-paru kota, pengatur iklim mikro agar sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen dan penyerap air hujan. RTH dijadikan solusi yang muncul untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan karena RTH merupakan kombinasi sistem alam dan manusia dalam lingkungan perkotaan, serta merupakan bagian dari penataan ruang suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan estetika, serta berfungsi sebagai kawasan lindung (Fandeli et al. 2004). Terdapat perbedaan suhu antara perkotaan dengan sekelilingnya. Suhu udara di perkotaan lebih tinggi sekitar 3o-10o pada siang hari dibandingkan dengan wilayah sekelilingnya (Khomarudin, 2004). Perbedaan suhu pada wilayah sekeliling perkotaan inilah yang sebaiknya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berbentuk Ruang Terbuka rekreasi keluarga bagi masyarakat perkotaan.

Undang-undang No.26 Tahun 2007 menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang, jalur atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman alami maupun yang sengaja ditanam. RTH merupakan elemen kota yang memiliki fungsi estetis dan ekologis (Dahlan, 2004). Fungsi estetis yang dimiliki RTH, antara lain, dapat menghasilkan keindahan dan melembutkan arsitektur

(20)

2 bangunan. Fungsi ekologis yang dimiliki RTH bermacam-macam, salah satunya, mengameliorasi iklim. RTH dapat mengameliorasi iklim dengan cara memberikan perlindungan dari sinar matahari secara langsung, hujan deras, dan angin (Irwan, 2005).

Menurut data Badan Pusat Statistik (2017), Kota Jambi merupakan ibu kota Provinsi Jambi meliputi 11 kecamatan serta sebanyak 62 kelurahan dengan luas 20.543 Ha atau 0,41% dari luas wilayah Provinsi Jambi dengan jumlah penduduk sebanyak 583,490 jiwa. Pemahaman akan pentingnya upaya menjaga fungsi lingkungan melalui keseimbangan antara RTH Publik, akan menentukan keberhasilan pembagunan kota berkelanjutan (Rias Asriati dan Asif, 2009).Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Tahun 2008 Nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan juga menambahkan variabel jumlah penduduk sebagai penentu luasan RTH yang ideal.

Hal ini karena kombinasi peran RTH yang juga berfungsi sebagai estetika selain punya fungsi ekologis. Pada kasus RTH Kota Jambi ini, jumlah penduduk menjadi faktor penting dalam menentukan RTH publik karena jumlah penduduknya yang termasuk kategori rendah- sedang sesuai Permen PU 2008 No.05/PRT/M/2008.

Setiap struktur RTH Publik memiliki kemampuan yang berbeda dalam mempengaruhi iklim mikro. Perbedaan kondisi ini mempengaruhi iklim mikro sangat terkait dengan karakteristik strukturalnya maupun luasannya, oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran iklim mikro untuk mengetahuinya. Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh RTH Publik terhadap iklim mikro pada beberapa RTH Publik kota dengan kondisi yang berbeda.

1.2 Rumusan Masalah

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik sebagai penyeimbang ekosistem kota baik itu sistem hidrologi, klimatologi, keanekaragaman hayati, maupun sistem ekologi lainnya, bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup, estetika kota, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat (Joga dan Iswan, 2011).

Menurut Laurie (1986) iklim ideal bagi manusia adalah udara yang bersih dengan suhu udara kurang lebih 27o C sampai dengan 28o C dan kelembaban

(21)

3 udara antara 40% sampai dengan 75%. Akan tetapi kondisi seperti ini sering kali dalam jangka waktu tertentu dapat terjadi perubahan yang cukup drastis, akibat dari perubahan peruntukan lahan yang cukup siknifikan, karena berubahnya fungsi peruntukan. Bukan hanya manusia, vegetasi maupun hewan juga sering kali merasakan dampak yang tidak menguntungkan akibat perubahan kondisi iklim mikro (suhu udara, kelembaban udara dan intensitas radiasi matahari).

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh RTH Kota Jambi terhadap iklim mikro (suhu udara, kelembaban udara dan intensitas radiasi matahari).

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dihasilkan dari penelitian ini yaitu sebagai gambaran dalam pertimbangan arah pembangunan atau pengelolaan Ruang Terbuka Hijau kepada pemerintah daerah setempat dengan harapan terjaganya kualitas iklim mikro Kecamatan dengan meningkatnya kualitas kondisi RTH pada setiap Kecamatan

demi kestabilan Iklim Mikro di Kota Jambi.

(22)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kota

Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Secara khusus dalam pengertian administrasi pemerintahan,Kota adalah suatu bentuk pemerintah daerah yang merupakan daerah perkotaan. Wilayah administratif pemerintah kota dikelola oleh pemerintah kota yang bersifat otonom. Kota mendorong pertumbuhan penduduk kota melalui migrasi, urbanisasi, maupun fertilitas. Konsekuensi lain dari sebuah kota adalah tumbuhnya pemukiman, industri, sarana perdagangan, dan sarana transportasi.

Menurut Fandheli dan Muhammad (2009), pada saat ini hampir setiap kota besar ditemukan dengan suhu yang tinggi yang terdapat di beberapa bagian wilayah kota. Hal ini merupakan dampak dari pembangunan kota atau tata landscape yang tidak teratur sehingga mengganggu tingkat kenyamanan masyarakat perkotaan.

Perkembangan kota tentunya juga menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan.

2.2 Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas sosial ekonomi di wilayah perkotaan akan mempengaruhi ketersediaan lahan dan keberlangsungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terus mengalami penurunan RTH berguna untuk kepentingan masyarakat serta meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan sehingga tercapai lingkungan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Apabila jumlah RTH pada suatu wilayah semakin berkurang, maka akan terjadi penurunan kualitas lingkungan yang berpotensi mengakibatkan pencemaran di sekitar wilayah tersebut. Dalam Peraturan Mentri PU No.05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di perkotaan terdapat beberapa contoh jenis RTH yaitu taman kota, hutan kota, sabuk hijau, jalur hijau jalan, RTH pejalan kaki, RTH dibawah jalan laying, RTH fungsi tertentu antara lain RTH sempadan rel kereta api, RTH

(23)

5 jaringan listrik tegangan tinggi, RTH sempadan sungai, RTH sempadan pantai, RTH sempadan danau, RTH pengamanan sumber mata air.

Empat fungsi utamanya dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan, kepentingan dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air, konservasi hayati dan keseimbangan ekologi. Fungsi tambahan (ekstrinsik) dibagi dalam tiga kelompok fungsi yaitu fungsi social budaya, fungsi ekonomi dan fungsi estetika (Permen PU No.5 tahun 2008). (Young et al. 2014) menyatakan bahwa RTH merupakan identitas alam dan budaya yang penting untuk sebuah kota.

RTH memiliki fungsi utama sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota), pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen dan penyerap air hujan. Manfaat RTH di perkotaan berdasarkan Permen PU No. 5 tahun 2008 dibagi 2 yaitu manfaat langsung yang membentuk kenyamanan dan keindahan serta manfaat tidak langsung seperti pelestarian fungsi lingkungan, penyedia udara bersih dan pemeliharaan persediaan air dan tanah.

Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat mempengaruhi kondisi atmosfer setempat karena dengan ditanamnya pohon-pohon dan tumbuhan mampu menurunkan suhu, menaikkan kelembaban dan mengurangi kecepatan angin. Keberadaan sekelompok pepohonan yang memiliki kerapatan tinggi dapat membantu lingkungan dalam mengurangi tempratur yang tinggi di siang hari, dan pada malam hari berperan sebagai penahan panas maupun suhu udara dibandingkan pada wilayah yang terbuka atau tanpa pepohonan. Daerah yang tertutup tegakan pohon akan memiliki kelembaban yang relatif tinggi sedangkan kelembaban yang lebih rendah pada tanah kering tanpa pepohonan cenderung menimbulkan suhu yang tinggi. Bangunan dapat berdampak pada iklim mikro lokal dimana bangunan yang tinggi dapat memperlambat proses penurunan suhu perkotaan pada malam hari. Bangunan dapat menghambat pergerakan udara sehingga udara panas terjebak di sekitar bangunan. Material yang ada di perkotaan seperti material konstruksi, beton, dan aspal menyerap panas matahari lebih banyak dan melepaskannya kembali secara perlahan sehingga menyebabkan suhu di perkotaan menjadi lebih panas pada siang hari, dan masih bertahan hingga malam hari (Jurgens, 2010).

(24)

6 2.2.1 Tujuan adanya RTH

Dalam penyediaan ruang terbuka hijau terdapat tujuan tujuan yang ingin dicapai, menurut Permen PU No. 5 tahun 2008 tujuan diadakannya RTH yaitu:

1. Menjaga ketersediaan lahan sebagai Kawasan resapan air

2. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang bersih, segar, nyaman, aman dan indah

3. Menciptakan keseimbangan lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat sebagai sarana rekreasi perkotaan.

Fungsi RTH kota berdasarkan Inmendagri No.14/1988 yaitu sebagai:

1. Areal perlindungan berlangsungnya fungsi ekosistem dan penyangga kehidupanSarana untuk menciptakan kebersihan, kesehatan, keserasian dan keindahan lingkungan

2. Sarana rekreasi

3. Pengaman lingkungan hidup perkotaan terhadap berbagai macam pencemaran baik darat, perairan maupun udara

4. Sarana penelitian dan pendidikan serta penyuluhan bagi masyarakat untuk membentuk kesadaran lingkungan

5. Tempat perlindungan plasma nutfah

6. Sarana untuk mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro 7. Pengatur tata air.

Pertambahan jumlah penduduk berakibat pada terjadinya densifikasi penduduk dan permukiman yang cepat dan tidak terkendali di bagian kota sehingga menyebabkan kebutuhan ruang meningkat untuk mengakomodasi kepentingannya. Semakin meningkatnya permintaan ruang khusus untuk permukiman dan lahan terbangun berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Rencana Tata Ruang yang telah dibuat tidak mampu mencegah alih fungsi lahan di perkotaan sehingga keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin terancam dan kota semakin tidak nyaman untuk beraktivitas.

2.2.2 Tipologi RTH

Ruang terbuka hijau memiliki karakteristik tipologi kawasannya, dapat dibedakan berdasarkan fungsi, struktur, fisik,dan kepemilikan. Secara struktur ruangnya RTH dapat berupa pola ekologis (tersebar, mengelompok, memanjang)

(25)

7 maupun berupa pola planologis yaitu mengacu berdasarkan struktur ruang perkotaan. Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami dan non alami, contoh RTH alami yaitu berupa Kawasan lindung dan taman nasional, sedangkan RTH non alami yaitu taman, jalur-jalur hijau, lapangan olahraga dan pemakaman.

Pembagian jenis-jenis RTH sesuai dengan tipologinya sigambarkan sebagai berikut :

Gamba r 1. Tipologi RTH

Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.05/PRT/M/2008

Untuk itu karakteristik Ruang Terbuka Hujau mempunyai fokus terhadap fungsi penerapan masing-masing. Dalam setiap pembangunan kebutuhan RTH harus sesuai dengan fungsi-fungsi yang ada. Dan dalam perhitungan kebutuhan RTH di suatu wilayah atau kota harus sesuai dengan tipologi kawasan perkotaan.

Karakteristik Ruang Terbuka Hijau perkotaan sesuai dengan tipologi yaitu sebegai berikut :

Tabel 1. Karakteristik RTH Topologi

Kawasan Perkotaan

Karakteristik RTH

Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH Pantai 1. Pengaman wilayah

pantai

2. Sosial budaya 3. Mitigasi bencana

1. Berdasarkan luas wilayah 2. Berdasarkan fungsi tertentu Pegunungan 1. Konservasi tahan

2. Konservasi air 3. Keanekaragaman

hayati

1. Berdasarkan luas wilayah

2. Berdasarkan fungsi tertentu

Rawan bencana

1.

Mitigasi/evakuasi bencana

Berdasarkan fungsi tertentu

Berpenduduk jarang sampai dengan

1. Dasar perencanaan kawasan

2. Sosial

1. Berdasarkan fungsi tertentu

2. Berdasarkan luas

(26)

8

Sedang wilayah

3. Berdasarkan jumlah penduduk

Penduduk padat

1. Ekologi, Sosial, Budaya 1. Berdasarkan fungsi tertentu

2. Berdasarkan jumlah penduduk

Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.05/PRT/M/2008

Terdapat pula struktur Tata Ruang Kota dan Ruang Terbuka Hijau. Setiap kawasan dijabarkan masing-masing fungsi dan fasilitasnya, sehingga dapat ditentukan kebutuhan jenis-jenis RTH yang sesuai dengan fungsi dan fasilitasnya (Purnomohadi, 2006) menurut Direktorat Jendral Dep. PU Tahun 2006 Struktur Tata Ruang Kota dan Ruang Terbuka Hijau sebagai berikut:

Tabel 2. Struktur tata ruang Kota dan RTH Hirarki

kawasan

Fungsi pelayanan Fasilitas umum &

sosial

Ruang terbuka hijau Pusat kota 1. Melayani

fungsi- fungsi kawasan 2. Pemenuhan

kebutuhan insidential seperti RS besar,

pendidikan tinggi, jasa perbangkan dan koneksi terhadap jaringan transportasi regional/antar

1. Pusat

perdagangan dan bisnis 2. Perkantoran 3. Perdagangan

dan jasa skala besar 4. Rumah sakit

pusat sarana Pendidikan lanjutan 5. Sarana

hiburan dan rekreasi kota

1. Taman kota, green belt, hutan kota, taman botani dll 2. Fasilitas olahraga:

stadion sepakbila skala

regional/nasional 3. Jalur-jalur hijau pada

koridor jalan utama 4. Danau dan area

retensi pengendali pengendali banjir

Sub-pusat (kecamatan)

1. Melayani kegiatan

ekonomi-sosial di tingkat kecamatan

1. SMA, sekolah tinggi, Perpustakaan wilayah 2. Pasar

kecamaan

1. Taman kecamatan, jogging track.

2. Fasilitas olahraga, stadion mini, kolam renang

2. Pemenuhan kebutuhan

bulanan (pusat perbelanjaan,

3. Fasilitas perbankan, pos dan giro 4. Sarana

3. Sempandan sungai, situ, dan kolam- kolam retensi

4. Urban argiculture,

(27)

9 pasar tradisional

dan jasa

perbankan)

rekreasi (bioskop, arena hiburan dll)

kebon bibit, taman bunga dll.

Lokal (kelurahan)

1.Pusat kegiatan lokal

2.Pemenuhan kebutuhan mingguan

(belanja, bank, rekreasi)

3.Kawasan hinian (dormitory area)

1. Pendidikan menengah SMP, sekolah kejuruan, kursus keterampilan 2. Sarana

ibadah

1. Taman kelurahan, taman bunga

2. Sarana olahraga lapangan bola, lapangan basket 3. TPU

4. Taman bermain (playground)

Sub-lokal (RT/RW)

Pemenuhan kebutuhan sehari- hari (pendidikan dasr, ibadah , interaksi sosial, belanja harian dll)

1. Taman kanak- kanak, sekoah dasar 2. Sarana

ibadah 3. Pertokoan

kecil, warung serba ada.

Sarana transportasi ojek, becak dll.

1. Lapangan olahraga (voli, teni, badminton dll)

2. Taman-taman privat

Sumber : Purnomohadi (2006)

2.2.3 Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Berdasarkan bobot alami, bentuk ruang terbuka hijau dapat dikategorikan menjadi:

1. Bentuk ruang terbuka hijau alami (habitat liar/alami, kawasan lindung).

2. Bentuk ruang terbuka hijau non alami atau ruang terbuka hijau binaan (pertanian kota, pertamanan kota, lapangan olah raga, pemakaman).

Berdasarkan sifat dan karakter ekologisnya diklasifikasikan menjadi:

1. Ruang terbuka hijau berbentuk kawasan/areal, meliputi ruang terbuka hijau yang berbentuk hutan (hutan kota, hutan lindung, hutan rekreasi), taman lkota, Kebun Raya, kebun pembibitan, kawasan fungsional ruang terbuka hijau kawasan perdagangan, ruang terbuka hijau perindustrian.

2. Ruang terbuka hijau berbentuk jalur/koridor/linear, meliputi ruang terbuka hijau koridor sungai, ruang terbuka hijau sempadan danau, ruang terbuka hijau sempadan pantai, ruang terbuka hijau tepi jalur jalan, ruang terbuka

(28)

10 hijau tepi jalur kereta, ruang terbuka hijau sabuk hijau (green belt), dan sebagainya.

Berdasarkan status kepemilikannya, ruang terbuka hijau diklasifikasikan menjadi dua kelompok:

1. Ruang terbuka hijau publik, yaitu ruang terbuka hijau yang beralokasi pada lahan-lahan publik atau lahan yang dimiliki oleh pemerintah.

2. Ruang terbuka hijau privat atau non publik, yaitu ruang terbuka hijau yang beralokasi pada lahan-lahan milik privat (Sumarmi.2012).

Menurut Chafid Fandeli (2004) RTH Kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung namun permasalahan utama keberadaan RTH adalah semakin berkurangnya RTH karena keterbatasan lahan dan ketidakkonsisten dalam menerapkan tata ruang. Berkurangnya RTH disebabkan oleh konversi lahan yaitu beralih fungsinya RTH untuk peruntukan ruang yang lain.

2.2.4 RTH Publik

Pemerintah dalam UU No. 26 Tahun 2007 secara jelas memandatkan bahwa RTH harus diatur dalam tata ruang suatu wilayah dengan proporsi 20% RTH publik.

Disebutkan dalam Permen No. 1 tahun 2007, RTH Publik merupakan RTH yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum yaitu seperti;

1) Jalur hijau sepanjang jalan 2) Lapangan umum

3) Sepadan sungai 4) Taman kota

5) Taman pemakaman umum

Di Kota Jambi RTH Publik berada tersebar di 11 kecamatan, yaitu terbagi kedalam RTH Taman Kota, RTH Hutan Kota, RTH Pemakaman, RTH Sempadan Sungai dan Danau, RTH Lahan Pertanian dan RTH Jalur Hijau. Luasan RTH Publik di Kota Jambi cenderung menurun setiap tahunnya, dengan luasan Kota Jambi yaitu 2,0540 Ha sejatinya memiliki 4.111 Ha dari 20% wilayah Kota Jambi.

Terdapat tiga kategori utama RTH Publik di Kota Jambi yang merupakan kategori

(29)

11 spesifik 46 RTH Publik Kota Jambi, dimana 45 lokasi merupakan taman dan hutan kota sedangkan 1 lainnya adalah TPU (Taman Pemakaman Umum) yang tersebar menjadi 40 lokasi di Kota Jambi.

Tabel 3. Jenis RTH Publik Kota Jambi.

No Jenis RTH Publik Luas (Ha)

1 Taman Kota 5,18

2 Hutan Kota 68,00

3 Taman Pemakaman Umum 94,00

Jumlah 167,18

Sumber: BPS (2019)

2.3 Interpretasi Penggunaan Lahan

Interpretasi merupakan proses untuk mengenali dan mengidentifikasi objek untuk memperoleh informasi yang bersumber dari data penginderaan jauh. Proses interpretasi dapat dilakukan secara digital maupun visual. Pada penelitian ini cara interpretasi yang digunakan adalah interpretasi visual. Cara interpretasi visual dipilih dalam penelitian ini karena interpretasi visual lebih mudah untuk dilakukan dan juga memiliki tingkat akurasi yang lebih baik daripada hasil interpretasi digital. Nilai uji akurasi citra diperoleh dari hasil perbandingan interpretasi variabel kualitas lingkungan permukiman pada citra satelit dengan keadaan sebenarnya dilapangan. Dari hasil penelitian, Kota Jambi hanya memiliki 4 jenis RTH Publik.

Jenis-jenis RTH Publik pada wilayah penelitian berupa:

1. Taman Kota

Taman Kota merupakan ruang didalam kota yang ditata untuk menciptakan keindahan, kenyamanan, keamanan, dan kesehatan bagi penggunanya. Taman kota dilengkapi dengan beberapa fasilitas untuk kebutuhan masyarakat kota sebagai tempat rekreasi. Selain itu, taman kota difungsikan sebagai paru-paru kota, pengendali iklim mikro, konservasi tanah dan air, dan habitat berbagai flora dan fauna.

2. Hutan kota

Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitarnya, berbentuk jalur, menyebar, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa liar dan menimbulkan lingkungan sehat, suasana nyaman, sejuk, dan estetis.

(30)

12 Berdasarkan PP No. 63 Tahun 2002, hutan kota didefinisikan sebagai suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang.

3. Sumber Air Baku

Sumber Air Baku/Mata Air meliputi sungai dan danau.Ketentuan untuk danau yang terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang- kurangnya 50 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Sedangkan untuk mata air ditetapkan sekurang-kurangnya 200 m di sekitar mata air.

4. Jalur Hijau Jalan

Jalur hijau merupakan daerah hijau sekitar lingkungan pemukiman atau sekitar kota, yang bertujuan mengendalikan pertumbuhan pembangunannya, mencegah dua kota atau lebih menyatu, mempertahankan daerah hijau, rekreasi ataupun daerah resapan hujan, di daerah ini tidak diperbolehkan ada bangunan apapun (Daftar Istilah Dinas Pertamanan, 2001). Salah satu bentuk jalur hijau adalah jalur hijau jalan. Terdapat beberapa struktur pada jalur hijau jalan yaitu daerah sisi jalan, median jalan, maupun pulau lalu lintas (traffic islands).

Simonds (1983) menyatakan bahwa karakter dan tingkat kelayakan untuk hidup dari sebuah kota sangat ditentukan oleh kondisi alamnya dan pengaturan ruang-ruang terbukanya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa bentuknya berupa tepi laut, jalur biru, jalur hijau, taman kota dan area rekreasi dan lain-lain. Bentuknya jalur hijau dapat berupa jalan raya lintas, jalan raya yang berumput tengahnya, koridor transportasi, lereng, jalan setapak, jalur jogging dan jalur sepeda.

2.4 Iklim Mikro

Iklim adalah keadaan rata cuaca di satu daerah yang cukup luas dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Supaya kawasan perkotaan lebih nyaman, perlunya dibuat vegetasi berbentuk hutan. Dengan adanya pepohonan akan lebih efektif dibandingkan dengan vegetasi semak liar (Pudjoarianto, 2001). Iklim dibedakan atas iklim makro dan iklim mikro. Dimana iklim makro adalah

(31)

13 keseluruhan keadaan meteorologis khusus di atmosfir yang juga dipengaruhi oleh kondisi topografi bumi dan perubahan-perubahan peradaban di permukaan dan berhubungan dengan ruang yang besar seperti negara, benua dan lautan.

Sedangkan iklim mikro merupakan kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat terbatas tetapi komponen ini penting artinya bagi kehidupan tumbuhan, hewan dan manusia karena pada skala mikro ini akan berkontak langsung dengan makhluk hidup tersebut (Lakitan, 1994).

Iklim mikro merupakan iklim tempat hidupnya tanaman dan hewan.

Intensitas iklim mikro sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim pada ketinggian di atas satu meter dari permukaan tanah (Rosenbreg, 1974). Menurut Fandeli (2003) variasi iklim setempat dipengaruhi beberapa faktor, yaitu ketinggian tempat, kelerengan dan naungan. Faktor ini yang menyebabkan temperatur, kelembaban dan intensitas matahari berbeda dengan kondisi sekitarnya.

Menurut Kepmenkes No. 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, bahwa pencahayaan yang memenuhi syarat yakni sebesar 100 lux. Suhu dan kelembaban yang memenuhi syarat lingkungan kerja industri yang baik yaitu :

Suhu minimum : 18 ͦ C – 22 ͦ C Suhu sedang : 23 ͦ C – 27 ͦ C

Suhu maksimum: 28 ͦ C - 30 ͦ C dan Kelembaban rendah : 40%

Kelembaban sedang : 50 % Kelembaban tinggi: 60%.

2.4.1 Suhu Udara

Suhu adalah derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan termometer. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat celcius (oC), sedangkan di Inggris dan beberapa negara lainnya dinyatakan dalam derajat fahrenheit (oF).

oC=5/9(oF-32o) oF = 9/5 (oC)

(32)

14 Iklim Mikro Kota Jambi yang diukur berdasarkan garis Bujur 103.641o , garis Lintang -1.636o dan garis Elevasi 27 Meter yaitu memiliki rata-rata 27,2o yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Rata-rata Suhu Udara Kota Jambi pada tahun 2021 Sumber: Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu di permukaan bumi, antara lain:

1) Jumlah radiasi yang diterima per tahun, per hari, dan per musim.

2) Pengaruh daratan atau lautan.

3) Pengaruh ketinggian tempat. Tentang hal ini, Braak memberikan rumusan sebagai berikut: makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, maka suhu akan semakin rendah.

4) Pengaruh angin secara tidak langsung, misalnya angin yang membawa panas dari sumbernya secara horizontal.

5) Pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam atmosfer.

6) Penutup tanah, yaitu tanah yang ditutupi vegetasi yang mempunyai temperatur yang lebih rendah daripada tanah tanpa vegetasi.

7) Tipe tanah, tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi.

8) Pengaruh sudut datang sinar matahari. Sinar yang tegak lurus akan membuat suhu lebih panas daripada yang datangnya miring (Prawirowardoyo, 1996 dan Kartosapoetra, 2006).

2.4.2 Kelembaban Udara

25.5 26 26.5 27 27.5 28

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nov Des

o Celcius

Bulan

Suhu Udara

(33)

15 Kelembaban udara yaitu banyaknya kadar uap air yang ada di udara.

Kelembaban adalah banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Dalam kelembaban dikenal beberapa istilah seperti:

1) Kelembaban mutlak adalah massa uap air yang berada dalam satu satuan udara, yang dinyatakan dalam gram/m.

2) Kelembaban spesifik, merupakan perbandingan massa uap air di udara dengan satuan massa udara, yang dinyatakan dalam gram/kilogram.

3) Kelembaban relatif, merupakan perbandingan jumlah uap air di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dikandung udara pada temperatur tertentu, yang dinyatakan dalam persen. Angka kelembaban relatif dari 0- 100 persen, dimana 0 persen artinya udara kering, sedangkan 100 persen artinya udara jenuh dengan uap air dimana akan terjadi titik-titik air.

Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan faktor yang dapat

menstimulasi curah hujan. Di Indonesia, kelembaban udara tertinggi dicapai pada musim hujan dan terendah pada musim kemarau.

Iklim Mikro Kota Jambi yang diukur berdasarkan garis Bujur 103.641o ,garis Lintang -1.636o dan garis Elevasi 27 Meter memiliki rata-rata 82,4 % yang digamba

rkan dalam grafik sebagai berikut:

Gam bar 3.

Rata-rata Kelembaban Udara pada tahun 2021.

Sumber: Stasiun BMKG Sultan Thaha Jambi

Dengan rata rata curah hujan di kota jambi pada tahun 2017-2021:

65 70 75 80 85 90

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nov Des

Persen (%)

Bulan

Kelembaban Udara

198.9 196.8 152.1 201.9 223.5

0 50 100 150 200 250

2017 2018 2019 2020 2021

Curah Hujan (mm)

Curah Hujan

(34)

16 Gambar 4. Rata-rata Curah Hujan Kota Jambi pada Tahun 2017-2021.

Sumber: Stasiun BMKG Sultan Thaha Jambi 2.4.3Intensitas Radiasi Matahari

Energi radiasi yang dipancarkan oleh matahari tidak semua sampai ke permukaan, dari 100% radiasi yang dipancarkan oleh matahari, hanya 48-50%

yang sampai secara langsung ke permukaan dan yang bisa dimanfaatkan hanya pada panjang gelombang tertentu (NASA Earth Observatory, 2008). Penerimaan radiasi juga erat kaitannya dengan faktor musim. Pada musim hujan, nilai curah hujan dan keawanan menjadi meningkat serta lama penyinaran menjadi lebih singkat.

Iklim Mikro Kota Jambi yang diukur berdasarkan garis Bujur 103.641o, garis Lintang -1.636o dan garis Elevasi 27 Meter memiliki rata-rata 50,4 % yang di

gam bar kan dala m graf ik

sebagai berikut:

Gambar 5. Rata-rata Radiasi Matahari pada tahun 2021.

Sumber: Stasiun BMKG Sultan Thaha Jambi 2.5 Pengindraan Jauh

Sebagai alat klasifikasi tutupan lahan daerah penelitian pengindraan jauh digunakan untuk mendapatkan data. Menurut Lillesand dan Kiefer, 1979 Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu dan seni untuk memperoleh data dan informasi dari suatu objek dipermukaan bumi dengan menggunakan alat yang

0 20 40 60 80

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nov Des

Persen (%)

Bulan

Radiasi Matahari

(35)

17 tidak berhubungan langsung dengan objek yang dikaji. Terapan pengindraan jauh sistem satelit bidang kehutanan berkembang sangat cepat selaras dengan perkembangan pemrosesan citra digital satelit sumberdaya bumi (Howard, 1996)

Informasi penutupan lahan dapat diperoleh dari citra pengindraan jauh (remote sensing), foto udara, foto satelit serta teknologi lainnya. Mudhofir (2010) menyatakan bahwa dari informasi penutupan lahan yang ada dapat digunakan sebagai informasi awal dalam mendapatkan informasi penggunaan lahan.

Keberhasilan penafsiran citra sangat bervariasi bergantung kepada pengalaman penafsir, sifat objek yang diinterpretasi dan kualitas citra yang digunakan (Lillesand dan Kiefer 1990 dalam Salman, 2011).

2.5.1 ArcGis

Merupakan perangkat lunak SIG yang dari ESRI (Environmental Systems Research Institute), yang memungkinkan pengguna untuk memanfaatkan data dari berbagai format data. Dengan ArcGIS pengguna dapat memanfaatkan fungsi desktop maupun jaringan, selain itu juga pengguna bisa memakai fungsi pada level ArcView, ArcEditor, ArcInfo dengan fasilitas ArcMap, ArcCatalog dan Toolbox. Materi yang disajikan adalah konsep SIG, pengetahuan peta, pengenalan dan pengoperasian ArcGIS, input data dan manajemen data spasial, pengoperasian ArcCatalog, komposisi atau tata letak peta dengan ArcMap, memanfaatkan perangkat lunak SIG ArcGIS untuk pengelolaan data spasial dan tabular serta untuk penyajian informasi peta.

2.6 Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian mengenai Perubahan Penutupan Lahan dan kaitannya dengan perubahan iklim mikro telah dilakukan sebelumnya. Penelitian sebelumnya digunakan sebagai referensi dan pembanding untuk penelitian yang saat ini dilakukan. Berikut merupakan garis besar dari hasil penelitian sebelumnya:

1. Anugrah Teguh Prasetyo (2015) tentang Pengaruh ruang terbuka hijau (RTH) terhadap iklim mikro di Kota Pasuruan, penelitian yang dilakukan menghasilkan besarnya keberadaan suatu RTH berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban udara di Kota Pasuruan.

(36)

18 2. Cherish nurul ainy (2012) tentang Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Iklim Mikro Di Kawasan Kota Bogor, menghasilkan bukti bahwa struktur vegetasi yang berbeda mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap iklim mikro di Kawasan Kota Bogor.

3. Pirka Setiawati (2012) tentang Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Iklim Mikro (Studi Kasus Kebun Raya Cibodas, Cianjur), menghasilkan analisis pengaruh struktur RTH terhadap iklim mikro dengan melihat pengaruhnya berdasarkan karakteristik struktural yaitu bentuk tajuk, tinggi, penanaman, dan kepadatan tajuk dari setiap strukturnya.

4. Yorri Y. J. Sanger Rino Rogi Johan A. Rombang (2016) tentang Pengaruh Tipe Tutupan Lahan Terhadap Iklim Mikro Di Kota Bitung, menghasilkan bukti perbedaan lingkungan disetiap tipe tutupan lahan berpengaruh terhadap iklim mikro di Kota Bitung.

(37)

19

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Jambi, Provinsi Jambi pada bulan Juni 2022. Wilayah administratif Kota Jambi terdiri dari 11 kecamatan dan 68 kelurahan. Secara geografis Kota Jambi berada pada posisi 1o35’21” LU 103o36’36” BT / 1,58917o LS 103,61o BT dengan luas wilayah ± 205,38 km2. Penelitian menggunakan teknik metode survei yang bertujuan untuk mengumpulkan data variabel iklim mikro.

Gambar 6. Peta Administratif Kota Jambi Sumber: BPD Kota Jambi (2020)

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, kamera digital, Global Psistioning System (GPS), ThermoHigrometer dan Luxmeter dan laptop yang dilengkapi dengan program GoogleEarth dan ArcGIS. Bahan yang digunakan berupa data primer dan sekunder yang digunakan yaitu:

Tabel 4. Data Primer dan Data Sekunder

No Jenis Data Sumber Data Keterangan

Data Primer

1. Titik-titik Koordinat Ground Check Survei Lapangan

2. Dokumentasi Ground Check Survei Lapangan

Data Sekunder

1. Data Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Jambi

Survey Instansi

(38)

20 Jambi

2. Pedoman Permen PU No. 5 tahun 2008

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Jambi

Survey Instansi 3. Peta Pesebaran RTH

Publik Kota Jambi

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Jambi

Survey Instansi 3.3 Tempat Pengambilan Data

Pengambilan data penelitian yaitu pada 11 kecamatan yang ada di Kota Jambi yaitu Kecamatan Alambarajo, Kecamatan Telanaipura, Kecamatan Pelayangan, Kecamatan Pasar, Kecamatan Paal Merah, Kecamatan Kota Baru, Kecamatan Jelutung, Kecamatan Jambi Selatan, Kecamatan Jambi Timur, Kecamatan Danau Teluk dan Kecamatan Danau Sipin. Setiap kecamatan memiliki karakteristik struktural yang berbeda dalam penutupan lahan atau jumlah Ruang Terbuka Hijau dan berpengaruh pada nilai iklim mikronya, sehingga sampel yang diambil juga didasarkan dari luasan lahan dan kondisi dari masing-masing kecamatan dengan kategori RTH berturut-turut sangat baik, baik, sedang, dan buruk. Pada penelitian, untuk melihat kondisi tutupan lahan RTH Publik di Kota Jambi dilakukan pengambilan data spasial dari Google Earth selanjutnya data dikelola menggunakan ArcGIS dengan pertimbangan interpretasi visual.

3.4Metode Pengumpulan Data

Penentuan RTH Publik sebagai sampel gambaran pengaruh penutupan terhadap iklim mikro dilakukan dengan mengambil sampel dari berbagai jenis RTH Publik yang ada di Kota Jambi.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

1. Observasi, Merupakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung dilapangan. Teknik observasi dilakukan untuk melihat secara sepintas wilayah penelitian, sehingga dapat diperoleh gambaran umum mengenai kondisi wilayah penelitian dan isu aktual di masyarakat yang menyangkut penelitian (Hasanah, 2016).

2. Studi literatur, merupakan metode pengumpulan data yang memperoleh informasi dari sumber-sumber yang relevan terkait dengan penelitian ini yang menghasilkan data sekunder.

(39)

21 3.5 Metode Pengambilan Data

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode survei yang bertujuan untuk mengumpulkan data berupa variabel iklim mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik terhadap iklim mikro di Kota Jambi. Menggunakan teknik “purposive sampling”, berdasarkan karakteristik tertentu yaitu dengan pertimbangan kondisi ruang terbuka hijau.

3.5.1 Pengambilan data iklim mikro

Pengambilan data dilakukan pada setiap kecamatan dengan jumlah sampel yang berbeda tergantung luasan dan kondisi masing-masing kecamatan, dengan meletakkan alat ThermohigroMeter untuk mengukur suhu dan kelembaban udara pada ketinggian 1,5 meter diatas permukaan tanah ditiga waktu pengambilan sampel, untuk parameter intensitas radiasi matahari dengan meletakkan alat Lux Meter dilakukan pada ketinggian 1,5 meter diatas permukaan tanah juga pada saat matahari terbit hingga matahari terbenam.

3.5.2 Pengambilan data kondisi RTH setiap kecamatan

Untuk melihat kondisi RTH Publik yang berada di setiap kecamatan yang ada di Kota Jambi yaitu data spasial dari Google Earth dikelola menggunakan ArcGIS.

3.6Metode Pengukuran

3.6.1Pengukuran masing-masing parameter iklim mikro

Setiap titik sampel dilakukan pengukuran iklim mikro yang akurat, ThermoHigrometer dan Luxmeter diletakkan ±1,5 meter diatas permukaan tanah dikarenakan menurut Frick H dan Suskiyanto FXB (2007) iklim mikro merupakan iklim di lapisan udara dekat permukaan bumi dengan tinggi ±2 meter.

Pengambilan data suhu dan kelembaban udara pada setiap kecamatan yang di Kota Jambi dilakukan setiap pukul; 08.00 WIB, 13,00 WIB, dan 16.00 WIB, waktu tersebut dipilih karena merupakan waktu minimum, maksimal, dan ketika menurun, pengambilan data intesitas radiasi matahari dilakukan dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Pada pagi hari hingga siang hari aktivitas penduduk berupa transportasi meningkat kemudian menurun pada sore hari

(40)

22 memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap peningkatan parameter iklim mikro di Kota Jambi.

3.6.2 Pengukuran kondisi masing-masing RTH setiap kecamatan

Pada penelitian, untuk melihat kondisi tutupan lahan RTH Publik di Kota Jambi dilakukan pengambilan data spasial dari (Google Earth dikelola menggunakan ArcGIS dengan pertimbangan interpretasi visual.

3.7 Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data dikerjakan pada Microsoft Excel 2010. Setelah pengumpulan data selesai dilakukan, didapatkan data kondisi RTH dan iklim mikro pada berbagai macam bentuk RTH yang tersebar di berbagai titik. Data iklim mikro pada RTH Publik sampel yang sama dikelompokkan sesuai areanya.

Untuk mencari hubungan antara RTH Publik dan iklim mikro yang dihasilkan, dilakukan analisis deskriptif dengan cara membandingkan hasil pengukuran iklim mikro dengan kondisi RTH Publik yang menjadi lokasi pengambilan data iklim.

(41)

23 Persiapan Administrasi

dan Survei

Studi Literatur dan Pengumpulan data sekunder

Penentuan Titik pengambilan data

Hasil dan Kesimpulan Pengukuran Iklim

Mikro Parameter Suhu Udara

Analisis Kondisi RTH Sampel dengan

ARCGIS Pengukuran Iklim

Mikro Parameter Intensitas Radiasi Pengukuran Iklim

Mikro Parameter Kelembaban Udara

Analisis Deskriptif Kuantitatif

Gambar 7. Bagan Alir Penelitian

(42)

24

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi RTH di Kota Jambi

Kota Jambi memiliki luas 20.538 Ha, terdiri dari 11 Kecamatan dan 62 Kelurahan terus mengalami perubahan dalam penggunaan lahan. Upaya memenuhi kebutuhan luas ruang terbuka hijau Kota Jambi, tertuang dalam peraturan Daerah Kota Jambi No. 09 Tahun 2013 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Jambi 2013-2033, dimana kebutuhan luas ruang terbuka hijau direncanakan seluas 5.381,79 Ha atau sebesar 30% terdiri dari ruang terbuka hijau privat seluas ± 1.764, 29 Ha atau 10% dan ruang terbuka hijau publik seluas

± 3.617,50 Ha atau 20% dan taman seluas ± 875,90 Ha atau 4,99% dari luas publik.Kota Jambi memiliki sekitar 600 buah ruang terbuka hijau yang tersebar di seluruh Kota Jambi (Muhammad Fajar dan Soni Pratomo, 2017).

Sejauh ini penyediaan luas ruang terbuka hijau masih belum cukup. Hanya tersedia 779,02 Ha atau 3,8% ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat 632,46 Ha atau 3,1%. (Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kota Jambi, 2018).Banyak faktor yang menyebabkan minimnya atau berkurangnya luas taman.

Faktanya, bahwa dominasi sektor ekonomi masih sangat kuat mempengaruhi perubahan fungsi lahan terbuka. Ketidak konsistenan dan tidak adanya sanksi yang tegas, terhadap perizinan yang diberikan bagi pembangunan fisik kota (perumahan, hotel, supermarket, perkantoran dan fasilitas lainnya), yang tidak sesuai dengan penataan dan pemanfaatan ruang dalam kota, turut menyebabkan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau.

Taman Hutan Kota Muhammad Sabki (THKMS) merupakan salah satu area ruang terbuka hijau besar yang dapat dikunjungi serta berada pada lokasi padat permukiman. Dominasi penggunaanruang terutama untuk perumahan, sehingga iklim mikro sekitar berkontras langsung dengan kegiatan tranportasi warga sekitar. Pengelolaan Taman Hutan Kota (THK) di Kota Jambi secara optimal dilakukan oleh kelembagaan berbentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang mengelola 3 RTH besar yaitu THKMS dengan luas 11 hektar, Hutan Kota Bagan Pete dengan luas 41 hektar dan Hutan Rengas dengan luasan 54,77 hektar.

(43)

25 Gambar 8. Peta THKMS Kota Jambi, 2017

Sumber: DLH Kota Jambi, 2019

4.2 Kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) masing-masing kecamatan di Kota Jambi

Setelah diperoleh data setiap parameter Iklim Mikro, dilakukan pengambilan peta penutupan lahan dari masing-masing kecamatan. Berdasarkan hasil analisis spasial tutupan lahan pada tahun 1990 di wilayah Kota Jambi sekitar 58,68% merupakan pemukiman. Luasan tutupan hutan mengalami penurunan setiap tahunnya, sedangkan luasan tutupan non hutan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Lokasi pengambilan data dipilih berdasarkan dan banyaknya Kecamatan yang tersebar di Kota Jambi yaitu 11 Kecamatan, sehingga digunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) dalam memudahkan membuat peta penutupan lahan Kota Jambi. Penutupan lahan didapat dengan menggunakan pertimbangan Interpretasi Visual. Interpretasi visual bertujuan untuk pengidentifikasian secara langsung pada citra pengindraan jauh, interpretasi visual adalah penyadapan data spasial dari citra pengindraan jauh yang berdasarkan pada pengenalan karakteristik objek secara keruangan pada itra pengindraan jauh. Menurut Lillesand et al (2007) interpretasi visual juga dapat didefinisikan sebagai proses untuk mendapatkan sifat fisik objek dan fenomena yang tampak pada citra pengindraan jauh. Peta penutupan lahan menggambarkan keadaan RTH, lahan terbangun, dan badan air di Kota Jambi.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Ruang Terbuka Hijau Kota Medan, 3) Ketersediaan lahan hutan mangrove dalam. Peta Tutupan Lahan

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi)

Kegiatan pembangunan fisik RTH publik seperti taman kota, hutan kota, jalur hijau, lapangan terbuka dan juga daerah sepadan sungai dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan

Luas RTH menurut kebutuhan oksigen Kota Pasuruan sebesar 547,12 Ha, jika dengan kerapatan vegetasi 5 x 5 m maka jumlah pohon yang dibutuhkan Kota Pasuruan yaitu minimal

Hasil studi RTH (Ruang Terbuka Hijau) taman Pancasila Karanganyar adalah luas kawasan taman Pancasila Karanganyar 6844 m 2 terdapat 214 batang pohon dengan kondisi yang sudah tua

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau RTH Kota Balikpapan berdasarkan pendekatan kebutuhan oksigen, dengan sasaran penelitian yaitu

Bos Ariadi Muis, 2010 Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Penyediaan Oksigen dan Air di Kota Depok Provinsi Jawa Barat Gerarkis Kebutuhan RTH berdasarkan kebutuhan

SIAR IV 2023 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR| 594 IDENTIFIKASI KESESUAIAN VEGETASI TAMAN SEKARTAJI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU RTH KOTA SURAKARTA Aditya Pratama Nugroho Program Studi