• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

`

Oleh:

SYAHRONI ROMADHON NIM: 084 093 093

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER

2014

(2)

SEX IN THE COST DAN IKLIM AKADEMIS

DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER

Diajukan kepada:

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember

Untuk Diujikan Dalam Rangka Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Fakultas Tarbiyah Jurusan Manajemen Pendidikan Islam

Oleh:

SYAHRONI ROMADHON NIM: 084 093 093

Disetujui oleh:

Dosen Pembimbing,

Drs. Ainur Rafiq, M.Ag NIP. 1964040501990031005

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

SEX IN THE COST DAN IKLIM AKADEMIS

DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER

SKRIPSI

Diajukan kepada:

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember

Untuk Diujikan Dalam Rangka Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Fakultas Tarbiyah Jurusan Manajemen Pendidikan Islam

Hari : Selasa

Tanggal : 20 Januari 2015

Tim Penguji : Ketua,

Khoiru Faizin, M.Mag NIP: 19710612 200604 1 001

Sekretaris

Drs. Mahrus, M. Pd.I NIP: 196705 200012 1 001 Anggota :

1. Dr. H. Ubaidillah, M.Ag ( )

2. Drs. Ainur Rafiq, M. Ag ( )

Menyetujui, Rektor IAIN Jember

Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM.

(4)

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini saya:

Nama : SYAHRONI ROMADHON NIM : 084 093 093

Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam Institusi : IAIN Jember

Dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa Skripsi ini dengan judul:

“Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember” secara keseluruhan adalah hasil kajian atau karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.

Jember, Agustus 2014 Saya yang menyatakan,

SYAHRONI ROMADHON NIM: 084 093 093

(5)

MOTTO



















“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ [17]: 32).

(6)

PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku sebagai wujud bhakti yang belum tertunaikan. Mereka yang telah menuntunku mengenal pencipta. Kepada ayahku tercinta yang telah menanamkan arti cinta, kesabaran, dan kegigihan dalam mencari kebenaran.

Kepada bundaku yang telah mencurahkan kasih dan pengorbanannya kepadaku.

Kepada sahabat/i PMII senasib dan seperjuangan, khususnya Mahasiswa STAIN Jember, yang selalu melontarkan kritikan tajam pada setiap ungkapan-ungkapan yang termaktub dalam karyaku ini, sehingga dengan kritikan tersebut aku selalu berusaha mencari jawaban yang obyektif dan logis.

Kepada para pelaku, pemerhati dan pendukung pendidikan Islam, kiranya karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi pendidikan, bernilai ibadah, dan berbuah ridha dari-Nya, amin.

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Swt, shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw yang telah membimbing ummat manusia melalui lembaga pendidikan terbaik Islam. Alhamdulillah karya sederhana yang berjudul “Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember” ini telah tersusun. Semoga kehadirannya dapat memberi manfaat bagi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.

Lahirnya karya sederhana ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak.

sekecil apa pun andil mereka, tentu hal itu telah melengkapi hitungan lahirnya skripsi ini. Ucapan terimaksih yang sedalam-sedalamnya penulis haturkan kepada:

1. Kedua orang tuaku yang telah memberikan motivasi dalam menempuh pendidikan dan karierku.

2. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE.,MM., selaku Rektor IAIN Jember, yang telah memberikan izin kepada kami untuk melakukan penelitian ini.

3. Dr. H. Syamsun Ni’am, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah IAIN Jember.

4. Hafidz, S.Ag., M.Hum, selaku Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam.

5. Drs. Ainur Rafiq, M.Ag, selaku Pembimbing Skripsi, yang telah memberikan waktu dan kesabarannya dalam membimbing menyelesaikan skripsi ini.

6. Segenap dosen yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada kami hingga kami dapat menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam di IAIN Jember.

(8)

Dalam proses penyusunan skripsi selama ini telah diusahakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik. Namun penulis menyadari bahwa selalu ada celah dan kekurangan dalam setiap upaya manusia, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Oleh karena itu, penulis selalu membuka diri untuk menerima saran dan kritikan dari semua pihak demi perbaikan skripsi ini.

Jember, Agustus 2014 Penulis

(9)

ABSTRAK

Syahroni Romadhon, 2014, Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember

Mahasiswa merupakan generasi yang seharusnya mampu berperilaku sesuai dengan norma yang baik. Namun, realita di lapangan mengungkapkan hal yang berbeda, bahwa masih banyak mahasiswa yang melakukan seks pra nikah. Fokus penelitian ini mengkaji Sex in the cost dan iklim akademis di lingkungan STAIN Jember, yang meliputi empat pembahasan, yaitu: (1) Potret perilaku Sex in the cost di luar nikah; (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Sex in the cost di luar nikah; (3) Relasi antara perilaku Sex in the cost dan iklim akademis; dan (4) Upaya-upaya antisipatif dalam menanggulangi perilaku Sex in the cost di luar nikah di kalangan mahasiswa STAIN Jember.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu jenis kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ini di lingkungan STAIN Jember, yang difokuskan di tempat-tempat kost dan rumah kontrakan mahasiswa.

Penentuan informan menggunakan: teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan: wawancara, dokumentasi, dan observasi. Adapun analisis data menggunakan: data reduction, data display, dan verification. Sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi metode.

Hasil penelitian ini yaitu: Pertama, potret seks pra nikah di kalangan mahasiswa STAIN Jember, yaitu: pacaran sudah dianggap wajar; bentuk-bentuk seks pra nikah yang mereka lakukan, antara lain: pegangan tangan, berpelukan, berciuman, saling meraba bagian-bagian sensitif, saling memegang/menempelkan alat kelamin, bahkan hingga bersenggama;. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi seks pra nikah, yaitu: orang tua yang kurang perhatian; media yang mengandung unsur pornografi;. Ketiga, relasi antara perilaku seks pra nikah dengan perkembangan akademik secara umum berdampak negatif, yaitu semakin malasnya untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan menurunnya nilai/prestasi mereka. Keempat, upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi terjadinya perilaku seks, yaitu: Tahap pencegahan meliputi: ak kampus telah berupaya menindak lanjuti kasus perilaku seks pra nikah di kalangan mahasiswa, namun upaya tersebut akan dihentikan ketika mahasiswa tersebut telah menikah.

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR LAMPIRAN... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 14

A. Penelitian Terdahulu ... 14

B. Kajian Teori ... 19

1. Perilaku Seks ... 19

2. Pengelolaan Kos-kosan ... 29

3. Iklim Akademis Mahasiswa ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 55

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 55

B. Lokasi Penelitian ... 57

C. Subyek Penelitian ... 58

D. Teknik Pengumpulan Data ... 59

E. Analisis Data ... 63

(11)

G. Tahap-tahap Penelitian ... 67

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 68

A. Penyajian dan Analisis Data ... 68

1. Potret Perilaku Sex In The Cost di Luar Nikah di kalangan Mahasiswa STAIN Jember... 68

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sex In The Cost di Luar Nikah di Kalangan Mahasiswa STAIN Jember ... 92

3. Relasi Antara Perilaku Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan STAIN Jember ... 96

4. Upaya-upaya untuk Menanggulangi Perilaku Sex In The Cost di Luar Nikah di Kalangan Mahasiswa STAIN Jember ... 99

B. Pembahasan Temuan ... 110

1. Potret Perilaku Sex In The Cost di Luar Nikah di kalangan Mahasiswa STAIN Jember... 110

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sex In The Cost di Luar Nikah di Kalangan Mahasiswa STAIN Jember ... 122

3. Relasi Antara Perilaku Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan STAIN Jember ... 126

4. Upaya-upaya untuk Menanggulangi Perilaku Sex In The Cost di Luar Nikah di Kalangan Mahasiswa STAIN Jember ... 127

BAB V PENUTUP ... 124

A. Kesimpulan ... 124

B. Saran ... 126

DAFTAR PUSTAKA ... 130

LAMPIRAN-LAMPIRAN……….. 133

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Matrik Penelitian

Lampiran 2. Instrumen Pengumpulan Data Lampiran 3. Jurnal Penelitian

Lampiran 4. Riwayat Hidup

Lampiran 4. Surat-surat Penelitian Lampiran 6. Gambaran Obyek Penelitian

(13)

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Di dalamnya sarat dengan informasi yang selalu hangat dan aktual dari zaman ke zaman, termasuk di dalamnya mengatur tentang hal-hal yang dilarang dalam hubungan antar manusia, salah satunya yaitu berzina (seks). Allah berfirman:



















“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’

[17]: 32).

Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa:

ﹶﻗ ﹶﻝﺎ ﺭ

ﺳ

ﻮ ﹸﻝ

ِﷲﺍ

ﺻ ﱠﻠﻰ

ُﷲﺍ ﻋ ﹶﻠﻴِﻪ ﻭ

ﺳﱠﻠ

ﻢ : ﹶﻻ ﻳ

ِﺨ ﱡﻠﻮ ﹶﻥ ﹶﺃﺣ

ﺪ ﹸﻛ

ﻢ

ِﺑِﺎ

ﻣﺮ ﹶﺃٍﺓ

ِﺍﱠﻟﺎ ﻣ

ﻊ

ِﺫ

ﻱ ﻣ

ﺤ

ﺮٍﻡ

) ﻩﺍﻭﺭ ﻱﺭﺎﲞ ﻢﻠﺴﻣ (

Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang dari kalian berdua- duaan dengan seorang wanita, kecuali didampingi oleh keluarganya.”

(HR. Bukhari Muslim).

Ayat dan hadits di atas secara garis besar, menjelaskan tentang larangan melakukan maksiat, khususnya zina. Hal tersebut, juga didukung oleh Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan Nasional yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan, salah satunya adalah

(14)

menjadikan manusia berakhlak mulia dan terhindar dari hal-hal yang dilarang agama dan negara. UU RI No. 20 Tahun 2003 menyebutkan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat.” (UU RI No. 20 Tahun 2003, Pasal 1).

Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa dan mereka relatif belum mencapai tahap kematangan mental serta sosial sehingga harus menghadapi tekanan emosi, psikologi, dan sosial yang saling bertentangan. Banyak life event tidak saja menentukan kehidupan masa dewasa, tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis. Di Negara berkembang masa transisi itu berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda dari pada usia ideal menikah (Suriah, 2007: 5).

Dari hasil survei kesehatan reproduksi remaja, remaja Indonesia pertama kali pacaran pada usia 12 tahun. Perilaku pacaran remaja juga semakin permisif yakni sebanyak 92% remaja berpegangan tangan saat pacaran, 82% berciuman, 63% rabaan petting. Perilaku-perilaku tersebut kemudian memicu remaja melakukan hubungan seksual secara bebas (http://kpai.co.id, diakses pada tanggal 11/10/2013).

Namun kondisi ini sangat ironis, karena berdasarkan kenyataan di lapangan ditemukan perilaku-perilaku seks bebas. Berdasarkan data yang ditemukan di berbagai media, kasus tersebut dilakukan oleh para akademisi utamanya mereka yang sudah mengemban predikat sebagai mahasiswa.

(15)

Secara umum, mahasiswa merupakan generasi intelektual yang seharusnya mampu berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang baik.

Mahasiswa seharusnya lebih mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Secara umum, tuntutan dan harapan masyarakat adalah menginginkan agar mahasiswa menjadi manusia bermoral dan intelek sehingga mampu membersihkan ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada, juga diharapkan mampu menjadi inovator pembangunan di dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Mahasiswa merupakan generasi yang seharusnya dituntut untuk mengembangkan profesionalisme mereka untuk membangun negara dan menegakkan norma.

Meningkatnya perilaku seksual di luar nikah tidak hanya negara- negara maju dan berkembang, bahkan di Indonesia hal ini bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan lagi, karena seringkali melihat remaja dalam hal ini mahasiswa berpacaran di tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpul bagi para mahasiswa serta di tempat-tempat khusus seperti rumah kos-kosan. Lingkungan dan tempat yang nyaman merupakan faktor pendukung untuk melakukan seks bebas atau seksual diluar nikah. Misalnya melakukan seks bebas saat tidak ada mata kuliah, kemudian saat pulang ke rumah kos suasana rumah kos yang sangat mendukung sehingga kemungkinan melakukan hubungan seksual (Setyowati, 2011: 67).

Sri Malahayati dalam sebuah studinya di Semarang, mengatakan bahwa dari 1.000 responden itu jumlahnya berimbang antara mahasiswa dan mahasiswi, yang berusia 17-20 tahun 485 orang dan 21-25 tahun 507 orang.

(16)

Mereka yang melakukan hubungan seksual pertama kali saat berusia 18-20 tahun 55 orang, 15-17 tahun 23 orang, dan 21-23 tahun 17 orang.

Dari jumlah itu, sekitar 43% tinggal bersama orang tuanya, 27%

tinggal di kos dengan induk semang, dan 30% di kos tanpa induk semang.

Yang melakukan hubungan seksual di kos 31 orang, di rumah 29 orang, di hotel 27 orang, di rumah teman 3 orang, di tempat terbuka 3 orang, dan lain- lain -biasa dilakukan di kolam renang, ruang karaoke 6 orang (Suara Merdeka, Semarang, 2002).

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2002 yang ditulis dr. Mawardi.

SpKJ dalam artikelnya, menyatakan: remaja jawa timur yang mengaku pernah berhubungan seks cukup besar. Jember, 12,1%, Madiun, 15,25%, Surabaya, 15.0% dan Banyuwangi 19,0%. (Majalah Al-Falah, Edisi 174/ September 2002 Jakarta). Hal itu dilakukan oleh muda-mudi dalam premarital seks (seks pranikah) berdasarkan kemauan sendiri (suka sama suka). Ada juga yang melakukannya karena pengaruh obat (drugs) yang mereka konsumsi sebelumnya. Saat ini jelasnya semakin memprihatinkan dari angka tersebut.

Perilaku seks bebas atau seks di luar nikah di kos-kosan juga dibuktikan oleh polling yang dilakukan Sahara Indonesia, menyebutkan bahwa 44,8% mahasiswa dan remaja melakukan hubungan seks hampir sebagian besar berada di wilayah kos-kosan. Dari sekitar 1000 remaja peserta konsultasi (curhat) dari tahun 2000-2002, tempat mereka melakukan hubungan seksual terbesar dilakukan di tempat kos (51,5%). Menyusul kemudian di rumah (30%), di rumah perempuan (27,3%), di hotel (11,2%), di taman

(17)

(2,5%), di tempat rekreasi (2,4%), di kampus (1,3%), di mobil (0,4%) dan tidak diketahui (0,7%). Menurut Agus Mochtar, Ketua Sahara Indonesia, banyak mahasiswa yang menjadikan kos-kosan sebagai tempat melakukan hubungan seks karena ada kecenderungan pola hubungan sosial yang sangat renggang antara pemilik kos dengan penghuni yang bersifat hubungan transaksional. Ini juga menyebabkan tempat kos bebas tanpa ada yang mengawasi (Gemari, 2003: 3).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amarin Yudhana (2006) tentang perilaku seksual mahasiswa D-III Kesehatan di Kota Kediri diperoleh hasil bahwa sebagian besar (77,3%) berperilaku seksual baik dan sisanya (22,7%) berperilaku kurang, yang mana pengetahuan mereka termasuk kategori cukup sebanyak 57,8% dan memiliki sikap yang baik terhadap perilaku seksual sebanyak 52,4% dari 22 responden.

Penelitian yang sama dilakukan oleh BKKBN tahun 2008 terhadap mahasiswa yang tinggal di rumah kost, dimana jumlah populasi sebanyak 2000 orang dari 16 perguruan tinggi di Yogyakarta dan diperoleh 1660 responden atau seksitar 83% dari jumlah populasi. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa 97,5 % mahasiswa telah hilang keperawanannya dan 90% di antaranya pernah melakukan aborsi. Dari penelitian tersebut bisa kita ketahui bahwa terdapat kecenderungan seks bebas dikalangan mahasiswa (http://one.indoskripsi.com/, diakses pada tanggal 11/10/2013)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dr. Andik Wijaya kepada 202 pelajar dikota Malang Jawa Timur antara lain menyebutkan bahwa 95%

(18)

remaja kota Malang pernah terlibat pornografi. Dari hasil penelitian tersebut, 85 responden menyatakan pernah, 110 sering dan sisanya mengaku setiap hari selalu terlibat dalam hal-hal yang berbau pornografi. Responden yang diteliti terdiri atas 52% laki-laki dan 48% perempuan, 8% berusia antara 13-15 tahun, 65,3% berusia 16-18 tahun dan 26,7% berusia diatas 18 tahun. Dalam penelitian ini terungkap hampir 16% responden telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan 100% dari mereka yang telah bertunangan mengaku telah melakukan hubungan seksual. Semua yang melakukan tadi mengaku mendapat gagasan itu dari VCD porno, teman, internet, dan media lainnya (http://sobatmuda.multiply.com//, diakses pada tanggal 11/10/2013).

Data terakhir yang peneliti dapatkan yaitu terdapat 27 pasangan mahasiswa yang berasal dari STAIN Jember, Universitas Jember, dan Universitas Terbuka Jember, yang terjaring razia hubungan seks di luar nikah pada tiga Hotel yaitu hotel Beringin Indah Ajung, Hotel Jember Indah Sukorambi, dan Hotel Cendrawasih Patrang (, 17/04/2013).

Kota Jember adalah sebagai kota pendidikan yang banyak dijadikan tempat oleh mahasiswa baik dari dalam daerah maupun dari luar daerah untuk melanjutkan studinya. Lingkungan STAIN Jember merupakan salah satu kawasan yang dikenal sebagai daerah pemukiman mahasiswa yang mayoritas berupa rumah kontrakan dan rumah kost. Rumah kontrakan maupun rumah kost tersebut tanpa induk semang yang rentan sekali terhadap perilaku seks bebas. Namun rumah kontrakan atau rumah kost tanpa induk semang lebih banyak dijadikan pilihan oleh mahasiswa sebagai tempat tinggal sementara

(19)

selama kuliah dari pada rumah kontrakan yang ada pengawasan dari pemiliknya serta rumah kost yang ada induk semangnya, sebab mereka merasa tidak bebas dalam melakukan segala aktivitas sesuai yang di inginkan termasuk perilaku seks bebas. Namun lebih memprihatinkan lagi, lingkungan masyarakat sekitar yang cenderung ‘lepas tangan’ dan ‘menutup mata’. Hal ini disebabkan masyarakat yang cenderung permisif sehingga tidak memperhatikan dan mempermasalahkan semua aktivitas yang ada disekelilingnya. Hal ini berimplikasi kepada longgarnya pengawasan.

Di samping itu faktor lain seperti Warung Internet (Warnet) atau jaringan internet yang telah menjamur di lingkungan STAIN Jember ini memudahkan mahasiswa mengakses berbagai situs di internet termasuk video porno secara bebas tanpa pengawasan. Pemasaran Blue Film dalam bentuk file, DVD dan VCD yang menyebar luas di masyarakat. Video atau gambar porno secara bebas dan mudah didapatkan mahasiswa.

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti (20/10/2013), di salah satu rumah kontrakan di sekitar lingkungan kampus STAIN Jember ditemukan sepasang mahasiswa yang sedang bercumbu di dalam kamar kontrakan laki- laki. Kedua mahasiswa tersebut diketahui belum berstatus menikah.

Perilaku seks di kalangan mahasiswa yang masih berstatus belum menikah melanggar norma dan susila, akan tetapi dalam fakta kenyataannya banyak pemuda yang berstatus mahasiswa yang justru melakukannya.

Berdasarkan salah satu observasi yang dilakukan peneliti tersebut maka diperoleh data bahwa perilaku seks ditemukan dikalangan mahasiswa yang

(20)

tinggal di rumah kost atau rumah kontrakan di lingkungan STAIN Jember.

Fenomena seks yang terjadi di kalangan mahasiswa di lokasi ini terselubung dan masih belum diungkap oleh media masa atau peneliti akademis. Sehingga perilaku seks yang terjadi di lingkungan STAIN Jember ini tidak terungkap ke khalayak masyarakat. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul: Sex In The Cost dan Iklim Akademis di Lingkungan STAIN Jember.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini yaitu: bagaimana Sex in the cost dan iklim akademis di lingkungan STAIN Jember?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu: mendeskripsikan Sex in the cost dan iklim akademis di lingkungan STAIN Jember.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis dalam bidang pendidikan Islam. Manfaat penelitian ini yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan penelitian ini menghasilkan sumbangsih pengetahuan dan kaidah dalam bidang pendidikan Islam, khususnya terkait dengan Sex in the cost dan iklim akademis.

(21)

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

a. Bagi lembaga STAIN Jember. Diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, khususnya terkait dengan upaya-upaya antisipatif dalam menanggulangi perilaku Sex in the cost di luar nikah di kalangan mahasiswa STAIN Jember.

b. Peneliti. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan menjadi tolok ukur seberapa dalam pengetahuan dan wawasan terkait dengan Sex in the cost di lingkungan STAIN Jember, serta sebagai sarana dalam pengembangan keilmuan dalam keterampilan penelitian dan penyusunan karya ilmiah.

c. Pembaca dan peneliti lain. Diharapkan dapat menjadi bahan kajian pengembangan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan pendekatan dan metode yang berbeda.

E. Definisi Istilah 1. Sex in the Cost

Sex in the cost adalah istilah peneliti yang digunakan untuk penyebutan perilaku seks yang dilakukan di tempat kost atau kontrakan.

Sarwono (2008: 98) mengatakan seks adalah perbedaan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Istilah seks dan seksualitas yang belum ada sinonimnya di indonesia memiliki arti yang sangat luas, tapi masyarakat mengartikan seks dalam arti sempit yaitu koitus (bersatunya tubuh antara

(22)

pria dan wanita). Sedangkan tempat kos adalah sebuah hunian yang dipergunakan oleh sebagian kelompok masyarakat sebagian tempat tinggal sementara atau sebuah hunian yang sengaja didirikan untuk disewakan kepada beberapa orang dengan sistem pembayaran perbulan (http://dinasperumahan.jakarta.go.id/, diakses 20/10/2013).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan seks in the cost dalam penelitian ini adalah perilaku seks di luar nikah di kalangan mahasiswa yang dilakukan dalam tempat kost.

2. Iklim Akademik

Iklim Akademis didefinisikan orang secara beragam dan dalam penggunaanya kerapkali dipertukarkan dengan istilah budaya akademik.

Iklim akademmik sering dianalogikan dengan kepribadian individu dan dipandang sebagai bagian dari lingkungan akademik yang berkaitan dengan aspek-aspek psikologis serta direfleksikan melalui interaksi di dalam maupun di luar kelas. Halpin dan Croft (1963) menyebutkan bahwa iklim akademik adalah sesuatu yang bersifat intangible tetapi memiliki konsekuensi terhadap organisasi (dalam http://sobatmuda.multiply.com//, diakses 20/10/2013).

Tagiuri (1998) mengetengahkan tentang taksonomi iklim perguruan tinggi yang mencakup empat dimensi, yaitu: (1) ekologi; aspek- aspek fisik-materi, ruang perpustakaan, ruang rektor, ruan dosen, ruang BK dan sejenisnya (2) milieu: karateristik individu di lembega perguruan tinggi pada umumnya, seperti: moral kerja dosen, latar belakang

(23)

mahasiswa, stabilitas staf dan sebagainya: (3) sistem sosial: struktur formal maupun informal atau berbagai peraturan untuk mengendalikan interaksi individu dan kelompok, partispasi staf dalam pengambilan keputusan, keterlibatan siswa dalam pengambilan keputusan, kolegialitas, hubungan dosen dengan mahasiswa; dan (4) budaya: sistem nilai dan keyakinan, seperti: norma pergaulan mahasiswa, ekspektasi keberhasilan, disiplin lembaga (dalam http://sobatmuda.multiply.com//, 20/10/2013).

Berdasarkan berbagai studi yang dilakukan, iklim lembaga perguruan tinggi telah terbukti memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian hasil-hasil akademik mahasiswa. Hasil tinjauan ulang yang dilakukan Anderson (1982) terhadap 40 studi tentang iklim lembaga perguruan tinggi sepanjang tahun 1964 sampai dengan 1980, hampir lebih dari setengahnya menunjukkan bahwa komitmen guru/dosen yang tinggi, norma hubungan kelompok sebaya yang positif, kerja sama team, ekspektasi yang tinggi dari dosen dan administrator, konsistensi dan pengaturan tentang hukuman dan peganjaran, konsensus tentang kurikulum dan pembelajaran, serta kejelasan tujuan dan sasaran telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pencapaian hasil akademik mahasiswa.

Berdasarkan beberapa definisi istilah di atas, maka yang dimaksud dengan judul Sex in The Cost dan Iklim Akademis di lingkungan STAIN Jember, yaitu perilaku seks yang dilakukan oleh mahasiswa di tempat- tempat kos atau kontrakan. Seks yang dimaksud yaitu semua bentuk-

(24)

bentuk seks, seperti: berpegangan tangan, ciuman, berpelukan, petting, saling memegang kelamuan, hingga bersenggama. Selain itu, dikaji pula dampak perilaku seks tersebut dengan iklim akademis, yang meliputi:

kegiatan akademis dan hasil akademis.

F. Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika pembahasan tersebut sebagai berikut:

Pada Bab satu akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan. Fungsi dari Bab satu ini adalah untuk memperoleh gambaran umum dari skripsi ini.

Pada Bab dua akan dijelaskan mengenai penelitian terdahulu dan kajian teori yang meliputi: perilaku seks di luar nikah, pengelolaan kos-kosan, dan iklim akademis. Fungsi dari Bab dua ini adalah untuk mengetahui hasil- hasil dari penelitian yang pernah ada dalam bidang yang sama, serta membicarakan teori yang terkait dengan topik penelitian ini.

Pada Bab tiga akan dijelaskan mengenai metode penelitian, meliputi:

pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisa data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

Fungsi Bab tiga ini adalah untuk acuan atau pedoman dalam penelitian ini, berupa langkah-langkah yang harus diikuti untuk menjawab pertanyaan dalam perumusan masalah.

Pada Bab empat akan dijelaskan mengenai gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis, serta temuan penelitian. Fungsi Bab

(25)

empat ini adalah pemaparan data yang diperoleh dilapangan dan juga untuk menarik kesimpulan dalam rangka menjawab masalah yang telah dirumuskan.

Pada Bab lima akan dipaparkan mengenai kesimpulan dan saran- saran. Fungsi dari bab lima ini adalah sebagai rangkuman dari semua pembahasan yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya, sekaligus penyampaian saran-saran bagi pihak yang terkait.

(26)

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang mempunyai relasi atau keterkaitan dengan penelitian ini yaitu:

1. Anda Sarati (2008) dengan judul: “Analisis Kualitatif Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Seksual Mahasiswa (Studi Kasus pada Suatu Pendidikan Tinggi di Jawa Timur).” Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku seks bebas/seks di luar nikah antara lain: (1) program studi yang dipilih berkaitan dengan kesehatan reproduksi yang akan membuat mereka memahami tentang proses kehamilan, masa subur, pencegahan kehamilan dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual. (2) Daerah asal akan menentukan budaya yang dibawa di tempat baru yang kemungkinan budaya tersebut bertentangan dengan tradisi di tempat baru.

(3) Agama, sangat berkaitan dari pemahaman tentang ajaran-ajaran agama serta perintah dan larangannya. (4) Tempat tinggal di kos/kontrakan yang jauh dari orang tua sehingga pengawasan dari orang tua yang tidak ada karena orang tua jauh dari tempat tinggal serta pengawasan pemilik kos yang kurang. (5) Jenis kelamin dimana laki-laki memiliki kecenderungan lebih agresif karena mereka lebih sering berganti-ganti pasangan untuk melakukan hubungan seksual daripada informan yang berjenis kelamin

(27)

perempuan. (6) Usia (21-25 tahun) lebih sering melakukan hubungan seksual. (7) Media informasi yang sering digunakan menimbulkan pesepsi/pemahaman yang kurang tepat serta adanya keinginan informan untuk melakukan aktivitas seksual. (8) Ajakan teman atau pengaruh orang lain. (9) Pengalaman melakukan seks bebas. (10) Pengawasan orang tua yang kurang disebabkan banyaknya kesibukan. (11) Melakukan kebiasaan buruk sebagai bentuk penyaluran frustasi akibat tekanan-tekanan dari lingkungan. (12) Pergaulan dengan orang-orang di lingkungan sekitar. (13) Kebiasaan-kebiasaan yaitu kebiasaan pergi ke lokalisasi, menonton BF, pergi ke tempat hiburan malam, minum-minuman keras dan pulang malam.

2. Mita Ranita (2011) dengan judul: “Perilaku Seks Bebas di kalangan Mahasiswa (Studi Kasus Terhadap Mahasiswa di kecamatan Medan Baru dan kecamatan Medan Selayang).” Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terjadi pergeseran nilai keperawanan (virginitas) bagi kalangan pelaku seks bebas, kurang pentingnya penghargaan keperawanan bagi pelaku terhadap nilai keperawanan (virginitas), pelaku seks bebas menjadi manusia yang permisif terhadap perilaku seks, makna hubungan pacaran pelaku seks lebih mengarah ke orientasi seks bukan kearah pengenalan, perilaku seks bebas tersebut mempengaruhi nilai sebagian pelaku seks jika dilihat dari Indeks Prestasi kumulatif (IPK) mereka yang dibawah 3,00. Kecenderungan diatas dipicu oleh dorongan nafsu seks, kekurangtaatan terhadap ajaran agama, tekanan dari pasangan,

(28)

terpengaruh teman, lemahnya kontrol sosial baik teman satu kost, pemilik kost maupun masyarakat sekitar dimana teman pelaku, pemilik kost serta masyarakat sekitar bersikap permisif terhadap perilaku pelaku seks bebas, kebebasan ruang untuk penyaluran hasrat, akses pornografi yang sangat mudah dan orientasi materi juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pelaku melakukan seks bebas.

3. Fandi Ahmad (2012) dengan judul: “Dampak Media Internet Terhadap Perilaku Seks Bebas Dikalangan Mahasiswa (Studi Kasus Pada Mahasiswa di Jember Tahun 2012).” Hasil analisis data dampak media internet terhadap perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa yaitu mahasiswa yang melakukan perilaku seks bebas dalam kategori ringan ada 5 orang atau (33,33%) dikarenakan mahaisswa tersebut Perilaku seks bebas dalam kategori rendah yaitu berkencan berpelukan, berpegangan tangan dan ciuman bibir. Hal ini dikarenakan subyek menganggap hubungan yang wajar di dalam berpacaran adalah hubungan yang biasa- biasa begitu pula dalam hubungan seks bebas,berpelukan dan ciuman bibir adalah hal yang wajar. Jika hubungan yang dilakukan lebih sekedar berpelukan terus berciuman, maka hubungan yang terjadi bukan hanya sekedar pacaran tetapi lebih dari berpacaran. Dan yang melakukan perilaku seks bebas dengan tingkat sedang ada 8 orang (53,33%). Kategori seks bebas tingkat sedang memasuki tahap masturbasi, meraba-raba dan petting. Hal ini di karenakan subyek tidak memiliki pasangan untuk memuaskan diri serta rasa takut subyek untuk melakukanya, seperti takut

(29)

bertanggung jawab bila pasangan seksnya hamil dan merasa takut bila terkena penyakit kelamin. dan yang melakukan seks bebas dengan kategori tinggi yaitu ada 2 orang (13,33%) Perilaku seks bebas dalam kategori tinggi yaitu melakukan hubungan kelamin (bersetubuh). Hal ini dikarenakan subyek merasa terlanjur sayang dan terlanjur cinta serta kedua subyek ini merasa yakin bahwa pasangan seksnya sekarang ini akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Bahkan dalam melakukan hubungan seks kedua subyek merasa tidak ada katapenyesalan dalam melakukannya bahkan tidak ada rasa takut bila terjadi kehamilan.

4. Israwati (2015) dengan judul: “Perilaku Seks Pra-Nikah Mahasiswa Pada Sekolah Tinggi Manajemen Dan Ilmu Komputer Bina Bangsa Kendari (Studi Kasus).” Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman mahasiswa tentang perilaku seks pranikah yaitu perilaku seks yang dilakukan sebelum adanya ikatan pernikahan. Dampak perilaku seks pranikah yang diketahui mahasiswa yaitu putus sekolah, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, tertular penyakit HIV dan AIDS. Tempat mahasiswa saat berpacaran yaitu di tempat romantis, pantai, rumah teman, kamar kos, dan hotel. Aktifitas yang dilakukan ketika bersama pasangannya berpegangan tangan, ciuman, berpelukan, bermesraan, bercumbu, sampai melakukan hubungan seks. Sumber informasi mengenai perilaku seks pranikah diperoleh dari internet, HP, video porno, surat kabar, dan majalah porno. Adanya tabu, rasa malu, pengaruh budaya yang melarang membicarakan masalah seks didepan anak, sehingga mahasiswa

(30)

tidak mendapatkan informasi seputar seks dari orang tua dan membicarakan masalah seks dengan teman sebaya. Bagi mahasiswa yang pernah melakukan seks pranikah agar menikah saja dan bagi mahasiswa yang belum pernah melakukan hubungan seks pranikah agar meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sehingga dampak yang diakibatkan dari perilaku seks pranikah tidak terjadi.

Demikian beberapa penelitian terdahulu yang dapat peneliti telusuri.

Dari hasil penelitian di atas mempunyai kekurangan masing-masing, secara umum kekurangan tersebut yaitu: (1) belum ada yang secara khusus memfokuskan pada perilaku seks di luar nikah yang dilakukan di tempat kost;

(2) belum ada yang memaparkan terkait upaya-upaya dalam mengantisipasi perilaku seks di luar nikah; (3) belum adanya evalusi dan tindak lanjut dari beberapa temuan penelitian di atas; (4) belum ada yang menemukan sebuah cara yang paling ideal dalam menanggulangi perilaku seks di luar nikah.

Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada Sex in the cost dan kaitannya terhadap iklim akademik mahasiswa di lingkungan STAIN Jember. Kemudian, dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi sebuah formulasi secara teori maupun praktis berupa model atau cara dalam menanggulangi seks di luar nikah.

(31)

B. Kajian Teoritis 1. Perilaku Seks

a. Pengertian Perilaku Seks

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis (Sutejo, 2008: 142). Pcker (2002: 43) mengatakan bahwa perilaku seks di luar nikah merupakan perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan resmi menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan baik stimulus eksternal maupun stimulus internal (Langulung, 1996: 13). Menurut Notoadmojo (2005: 23), perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas manusia itu sendiri, oleh karena itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi dan berpakaian. Bahkan kegiatan internal seperti berfikir, menafsirkan dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah segala sesuatu yang dikerjakan oleh organisme, baik yang dapat dianalisis secara langsung ataupun tidak langsung.

Seks merupakan energi psikis yang ikut mendorong manusia untuk bertingkah laku. Tidak cuma bertingkah laku di bidang seks saja,

(32)

yaitu melakukan relasi seksual atau bersenggama, akan tetapi juga melakukan kegiatan-kegiatan tugas moril dan lain-lain. Sebagai energi psikis, seks merupakan motivasi atau dorongan untuk berbuat atau bertingkah laku. Kartono (1992: 225) disebutnya sebagai libido sexualis (libido: gasang, dukana, dorongan hidup, nafsu erotis). Seks adalah satu mekanisme bagi manusia agar mampu mengadakan keturunan. Sebagai berikut itu sekarang merupakan mekanisme yang vital sekali yang mana manusia mengabadikan jenisnya.

Perilaku seks terdiri dari berbagai macam perilaku dan ditentukan oleh suatu interaksi faktor-faktor yang kompleks. Perilaku seks dipengaruhi oleh hubungan seseorang dengan orang lain, baik oleh lingkungan, atau kultur budaya yang dibawa atau diturunkan dari orang tua di mana seseorang tinggal.

Menurut (PKBI dalam, 2007: 34), pengertian perilaku seksual adalah segala bentuk kegiatan yang dapat memberikan penyaluran pada dorongan seksual yang dilakukan oleh dua orang yang berjenis kelamin berbeda mulai dari bermesraan, bercumbu, sampai dengan hubungan kelamin.

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seks di luar nikah itu adalah perilaku seks adalah suatu perbuatan yang dapat diobservasi baik secara langsung maupun tidak langsung yang dilakukan oleh dua individu berjenis kelamin berbeda, mulai dari berkencan, bercumbu sampai

(33)

bersenggama, tetapi belum ada ikatan yang sah menurut norma, hukum, ataupun agama.

b. Bentuk Perilaku Seks

Bentuk-bentuk tingkah laku seks ini bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai pada tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Obyek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri, sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang ditimbulkannya, tetapi pada sebagian perilaku seks yang lain dampaknya cukup serius, seperti perasaan bersalah, depresi, marah, misalnya pada gadis-gadis yang terpaksa menggugurkan kandungannya (Haqiqi, 2008: 142).

Menurut Hurlock (1990: 34), pola keintiman yang dilakukan selama berpacaran dimulai dari berciuman, bercumbu ringan, bercumbu berat dan kemudian berhubungan intim. Keintiman dalam berpacaran biasanya diawali dengan berpegangan tangan, saling memegang, setelah itu masuk ke ciuman. Awalnya ciuman kering (dry kissing), setelah itu melangkah keciuman basah (wet kissing), menciumi leher (necking), setelah itu saling menggesekkan alat kelamin (petting), mencoba menggesekkan penis ke bibir vagina dan seterusnya hingga intercourse penuh.

Lebih lengkap, menurut PKBI dalam (Harmoko, 2007: 36), aspek-aspek perilaku seks antara lain:

(34)

1) Bermesraan

Aspek ini mengungkap aktivitas psikologis dua individu yang berlainan jenis dalam kesamaan tujuan untuk saling berbagi rasa yang diungkap dalam kata-kata manis, pandangan mata yang mesra, namun belum sampai pada aktivitas bercumbu.

2) Bercumbu

Aspek ini mengungkap pendekatan-pendekatan jasmaniah yang dilakukan, seperti saling memegang, berciuman, berpelukan atau berangkulan, saling tempel alat kelamin, yang dapat membangkitkan gairah seksual, tetapi belum sampai hubungan kelamin.

3) Hubungan kelamin/ seksual

Hubungan kelamin berati melakukan kegiatan senggama atau seksual. Hubungan kelamin adalah hubungan yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda jenis kelamin, dengan memasukkan penis ke dalam vagina dan masing-masing orang akan memperoleh kepuasan.

c. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seks di Luar Nikah

Menurut Alif Haqiqi (2003: 18), faktor yang menjadikan remaja baik laki-laki dan perempuan melakukan penyimpangan dan kejahatan seks, diantaranya adalah:

(35)

1) Keseriusan seksual pada diri anak, tanpa disertai perasaan hitero seksual yang sejati sehingga keinginannya untuk melakukan hubungan sex senantiasa berkobar

2) Kurangnya kemampuan remaja untuk mengontrol dan mengendalikan diri, terutama emosi-emosinya. Ini seringkali membuat remaja melakukan hal-hal yang negatif, seperti hubungan sex bebas, tanpa berpikir lagi olehnya mengenai dampak dan resiko yang ditimbulkannya.

3) Adanya konflik-konflik intern yang sangat kuat. Ini juga menjadi penyebab anak remaja terjerumus dalam perbuatan negatif, karena jiwanyan belum mampu mengendalikan emosinya.

4) Adanya kebimbangan-kebimbangan pada dirinya karena belum menemukan norma yang mantab yang bisa dijadikan pegangan hidupnya. Karena itu, tingkah lakunya seringkali bertentangan dengan norma-norma susila dan agama.

Menurut Harmoko (2007: 58), faktor-faktor yang mempengaruhi untuk berperilaku seks di luar nikah yaitu:

1) Faktor Fisik

Faktor fisik yaitu berfungsinya hormon-hormon seks yang dapat meningkatkan dorongan seksual yang harus disalurkan sehingga keinginan remaja untuk berperilaku sex semakin kuat.

(36)

2) Pola Asuh Orang Tua

Kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dalam masalah seputar seksual dapat mengakibatkan penyimpangan perilaku seksual. Pendidikan seks pasif (tanpa komunikasi dua arah) bisa mempengaruhi sikap serta perilaku seseorang, karena dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengar sekali atau dua kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Orang tua wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan resiko perilaku seks yang salah.

3) Pengaruh Alat Kontrasepsi

Dengan banyak beredarnya alat kontrasepsi secara bebas dipasaran serta mudah diperoleh oleh siapa saja tanpa ada batasan tegas, seringkali, disalahgunakan oleh para remaja terutama dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.

4) Pergaulan bebas

Para remaja mempunyai banyak kebebasan dalam bergaul dengan teman sebaya terutama pergaulan dengan lawan jenis.

Pergaulan yang semakin bebas tanpa adanya suatu pengendalian pada diri remaja dapat menimbulkan perilaku seks di luar nikah.

5) Pengaruh Media

Penyebaran informasi tentang masalah seksual melalui media cetak atau elektronik yang menyuguhkan gambar porno,

(37)

film porno, dan semua hal yang berbau pornografi, dapat menyebabkan perilaku seksual pada remaja semakin meningkat.

Menurut (2008: 154-164), faktor-faktor penyebab seksualitas di luar nikah yaitu:

1) Meningkatnya libido seksual, perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.

2) Penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batasan usia menikah (sedikitnya 16 tahun bagi wanita, dan 19 tahun bagi pria), maupun karena norma sosial yang makin lama menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk pernikahan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain).

3) Tabu-larangan. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangannya berkembang lebih jauh kepada tingkah laku yang lain seperti berciuman dan masturbasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.

4) Kurangnya informasi tentang seks. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan

(38)

rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih (video cassette, fotocopy, satelit, HP, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa, khususnya karena mereka pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.

5) Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini.

6) Di pihak lain, tidak dapat diingkari lagi adanya kecenderungan pergaulan yang semakin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

d. Dampak dari Perilaku Seks di Luar Nikah 1) Aspek Medis

Dari aspek medis melakukan hubungan seksual pranikah memiliki banyak konsekuensi, sebagai berikut:

a) Kehamilan yang tidak diinginkan pada usia muda

Mudanya usia ditambah lagi minimnya informasi tentang

‘bagaimana seorang perempuan bisa hamil’, mempertinggi kemungkinan terjadinya kasus kehamilan yang tidak

(39)

diinginkan. Menurut (2003), 37.700 perempuan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Dari jumlah itu, 30,0%

adalah masih remaja, 27,0% belum menikah, 12,5% masih berstatus pelajar atau mahasiswa dan sisanya adalah ibu rumah tangga.

b) Aborsi

Dengan status mereka yang belum menikah maka besar kemungkinan kehamilan tersebut tidak dikehendaki dan aborsi merupakan salah satu alternatif yang kerap diambil oleh remaja. Setiap tahun terdapat sekitar 2,6 juta kasus aborsi Indonesia, yang berarti setiap jam terjadi 300 tindakan pengguguran janin dengan resiko kematian ibu.

c) Meningkatkan resiko terkena kanker rahim

Dian Nugroho mengungkapkan bahwa hubungan seksual yang dilakukan sebelum usia 17 tahun membuat resiko terkena penyakit kanker mulut rahim menjadi empat hingga lima kali lipat lebih tinggi (Adiningsih, 2004).

d) Terjangkit Penyakit Menular Seksual (PMS)

Penyakit Menular Seksual adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual. Seseorang beresiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. Bila tidak diobati

(40)

dengan benar, penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian. Ada banyak macam penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS. Di Indonesia yang banyak ditemukan saat ini adalah gonore (GO), sifilis (raja singa), herpes kelamin, clamidia, trikomoniasis vagina, kutil kelamin hingga HIV/AIDS (Anonim, 2005).

2) Aspek Sosial-Psikologis

Dari aspek psikologis, melakukan hubungan seksual pranikah akan menyebabkan remaja memiliki perasaan dan kecemasan tertentu, sehingga bisa mempengaruhi kondisi kualitas sumber daya remaja di masa datang. Kualitas remaja ini adalah:

a) Kualitas mentalis. Kualitas mentalis remaja perempuan dan laki-laki yang terlibat perilaku seksual pranikah akan rendah bahkan cenderung memburuk. Mereka tidak memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi, karena dibayangi masa lalunya. Cepat menyerah pada nasib, tidak sanggup menghadapi tantangan dan ancaman hidup, rendah diri dan tidak sanggup berkompetisi.

b) Kualitas kesehatan reproduksi. Hal ini erat kaitannya dengan dampak medis karena kondisi fisik perempuan khususnya.

Sedangkan laki-laki akan memiliki kesehatan yang rendah.

c) Kualitas keberfungsian keluarga. Seandainya mereka menikah dengan cara terpaksa, akan mengakibatkan kurang dipahaminya

(41)

peran-peran baru yang disandangnya dalam membentuk keluarga yang sakinah.

d) Kualitas ekonomi keluarga. Kualitas ekonomi yang dibangun oleh keluarga yang menikah karena terpaksa, tidak akan memiliki kesiapan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.

e) Kualitas pendidikan. Remaja yang terlibat perilaku seksual pranikah, kemudian menikah, tentunya akan memiliki keterbatasan terhadap pendidikan formal.

f) Kualitas partisipasi dalam pembangunan. Karena kondisi fisik, mental dan sosial yang kurang baik, remaja yang terlibat perilaku seksual pranikah, tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan (, 2005: 56).

2. Pengelolaan Kos-kosan a. Pengertian Kos-kosan

Tempat kos adalah sebuah hunian yang dipergunakan oleh sebagian kelompok masyarakat sebagian tempat tinggal sementara atau sebuah hunian yang sengaja didirikan untuk disewakan kepada beberapa orang dengan sistem pembayaran perbulan (http://.jakarta.go.id/, diakses 20/10/2013).

b. Fungsi Kos-kosan

Kos-kosan dirancang untuk memenuhi kebutuhan hunian yang sifat sementara dengan sasaran pada umumnya adalah mahasiswa dan

(42)

pelajar yang berasal dari luar kota ataupun luar daerah. Namun tidak sedikit pula, kos-kosan ditempati oleh masyarakat umum yang tidak memiliki rumah pribadi dan menginginkan berdekatan dengan lokasi beraktifitas. Oleh karena itu, fungsi dari kos-kosan dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Sebagai saran tempat tinggal sementara bagi mahasiswa yang pada umumnya berasal dari luar daerah selama masa studinya.

2) Sebagai sarana tempat tinggal sementara masyarakat umum yang bekerja di kantor atau yang tidak memiliki rumah tinggal agar berdekatan dengan lokasi kerja

3) Sebagai sarana pembentukan kepribadian mahasiswa untuk lebih berdisiplin, mandiri dan bertanggung jawab

4) Sebagai sarana penggalang pertemanan dengan mahasiswa lain dan hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya.

c. Karakteristik Kos-kosan

Tempat tinggal kos-kosan biasanya terdapat area yang dekat dengan kampus. Pemiliknya biasanya merupakan penduduk- penduduk setempat ataupun pemilik modal yang besar. Kos-kosan untuk mahasiswa biasanya terdiri dari 1 kamar. Dan di dalamnya terdapat 1 tempat tidur 1 meja belar 1 almari. Dan biasanya menggunakan kamar mandi dan dapur secara kolektif. Pada saat sekarang ini pembangunan kos-kosan semakin berkembang dan fasilitas yang diberikan semaki ekskusif. Hal ini terlihat dalam penyediaan AC, kamar mandi dalam,

(43)

ruang tamu, dan lain-lainnya. Sistem pembayaran kos-kosan didasarkan pada jangka waktu sebulan terkadang 3 bulan langsung.

Pambayaran untuk jangka yang panjang biasanya akan diberikan potongan oleh pemilik kos-kosan.

Menurut Dinas Perumahan, rumah kos memiliki ciri-ciri atau kriteria sebagai berikut:

1) Perumahan pemondokan/rumah kos adalah rumah yang penggunaannya sebagian atau seluruhnya dijadikan sumber pendapatan oleh pemiliknya dengan jalan penerima penghuni pemondokan minimal 1(satu) bulan dengan memungut uang pemondokan;

2) Pengelola rumah kos adalah pemilik perumahan dan atau orang yang mendapatkan dari pemilik untuk mengelola rumah kos;

3) Penghuni adalah penghuni yang menempati rumah kos sekurang- kurangnya 1 (satu) bulan dengan membayar uang pemondokan;

4) Uang kos adalah harga sewa dan biaya lainnya yang dibayar oleh penghuni dengan perjanjian (http://.jakarta.go.id/, diakses 20/10/2013).

d. Jenis-jenis Kos-kosan

Jenis kos-kosan mahasiswa/pelajar dibedakan menjadi:

1) Sistem 2 orang pada satu kamar (double room); untuk double room, tempat tidur yang digunakan adalah tempat tidur tingkat (double decker), dan atau mahasiswa atau pelajar tersebut sudah

(44)

masuk pada tingkat yang lebih tinggi diperbolehkan untuk mengganti tempat tidur terpisah (twin decker)

2) Sistem satu orang satu kamar (single room); di mana hanya diperbolehkan satu pelajaran pada tiap kamar

3) Sistem campur antara ketiga sistem diatas, biasanya digunakan pada tingkat kebangsaan/ antar bangsa.

3. Iklim Akademis Mahasiswa

a. Konsep Iklim, Etika, dan Budaya Akademis

Iklim akademis didefinisikan orang secara beragam dan dalam penggunaannya kerapkali dipertukarkan dengan istilah etika atau budaya akademik. Iklim akademik sering dianalogikan dengan kepribadian individu dan dipandang sebagai bagian dari lingkungan akademik yang berkaitan dengan aspek-aspek psikologis serta direfleksikan melalui interaksi di dalam maupun di luar kelas. (1963) menyebutkan bahwa iklim akademik adalah sesuatu yang bersifat intangible tetapi memiliki konsekuensi terhadap organisasi (http://.com//, diakses 20/10/2013).

Perguruan tinggi merupakan suatu lingkungan pendidikan tinggi bukan merupakan lingkungan yang eksklusif. Dengan demikian, maka kampus merupakan komunitas atau masyarakat yang tersendiri yang disebut masyarakat akademik (academic community). Di dalam kampus terdapat kegiatan-kegiatan dan tata aturan yang lain dari yang lain. Oleh karena itu, kampus menjadi semacam lembaga akademik

(45)

dan jalinan antarkampus memiliki suasana yang khas, yaitu suasana akademik (academic atmosphere). Ciri-ciri masyarakat akademik yaitu kritis, objektif, analitis, kreatif dan konstruktif, terbuka untuk menerima kritik, menghargai waktu dan prestasi ilmiah, bebas dari prasangka, kemitraan dialogis, memiliki dan menjunjung tinggi norma dan susila adademik serta tradisi ilmiah, dinamis, dan berorientasi kemasa depan.

Hak milik yang paling berharga bagi suatu perguruan tinggi adalah kebebasan, otonomi, dan budaya akademik (academic culture).

Budaya akademik dapat dipahami sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai dan diamalkan oleh warga masyarakat akademik khususnya di lembaga pendidikan (http://.blogspot.com/, diakses 01/02/2014).

Budaya akademik lebih cenderung diarahkan pada budaya kampus (campus culture) yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan intelektual, tetapi juga kejujuran, kebenaran dan pengabdian kepada kemanusiaan, sehingga secara keseluruhan budaya kampus adalah budaya dengan nilai-nilai karakter positif.

Nilai-nilai utama karakter inilah yang sebenarnya menjadi penyokong utama dalam proses terciptanya budaya akademik. Budaya akademik sendiri adalah budaya universal yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik.

Budaya ini seharusnya melekat dalam diri semua insan akademisi

(46)

perguruaan tinggi, baik itu dosen ataupun mahasiswa. Karena, pada dasarnya budaya akademik juga merujuk pada cara hidup masyarakat ilmiah yang majemuk dan multikultural yang bernaung dalam sebuah institusi yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kebenaran ilmiah dan objektifitas.

Perbincangan mengenai budaya akademik akan membawa kita pada sebuah kata kunci yang menjadi dasar pijakan untuk pembahasan selanjutnya, yaitu etika atau etik. Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani, “Ethos” yang artinya cara berpikir, kebiasaan, adat, perasaan, sikap, karakter, watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, ada 3 (tiga) arti yang dapat dipakai untuk kata Etika, salah satunya adalah etika sebagai sistem nilai atau sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi pedoman bagi seseorang atau kelompok untuk bersikap dan bertindak. Etika juga bisa diartikan sebagai kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak atau moral. Selain itu, Etika bisa juga diartikan sebagai ilmu tentang yang baik dan yang buruk yang diterima dalam suatu masyarakat, menjadi bahan refleksi yang diteliti secara sistematis dan metodis.

Kata-kata etika, etik dan moral merujuk ke persoalan baik-buruk, lurus-bengkok, benar-salah dan adanya penyimpangan ataupun pelanggaran praktek tidak lagi disebabkan oleh faktor yang bersifat di luar kendali manusia (force majeur), tetapi lebih diakibatkan oleh semakin kurangnya pemahaman etika yang melandasi perilaku

(47)

manusia. Sementara itu banyak orang yang menaruh harapan terhadap lembaga pendidikan agar tidak hanya memberi bekal pengetahuan (knowledge) ataupun ketrampilan (skill) saja kepada anak didik, melainkan juga pemahaman dan pembentukan soft skill seperti watak, sikap dan perilaku (attitude) di dalam kehidupan sehari-hari. Tiga aspek tersebut akhirnya akan menjadi dasar pembentukan dan penilaian terhadap kompetensi seseorang sebagai hasil dari sebuah proses pendidikan.

Istilah etik merupakan istilah-istilah yang memiliki makna yaitu sebuah pengertian tentang salah dan benar, atau buruk dan baik.

Pernyataan ini harus dipahami sebagai nilai-nilai tradisional yang meskipun terkesan konservatif karena mengandung unsur nilai kejujuran (honesty), integritas dan perhatian pada hak serta kebutuhan orang lain, tetapi sangat tepat dijadikan “standar” dalam menilai dan mempertimbangkan persoalan etika akademik, yang intinya menjunjung tinggi kebenaran ilmiah.

Dalam konteks seni pergaulan manusia, etika ini kemudian diwujudkan dalam bentuk kode etik tertulis, yang secara sistematik dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada, sehingga pada saat yang dibutuhkan dapat difungsikan sebagai dasar untuk menentukan segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari aturan, tata-tertib dan/atau kode etik yang mengaturnya. Dengan demikian, etika akademik dapat diartikan

(48)

sebagai ketentuan yang menyatakan perilaku baikatau buruk dari para anggota civitas akademika perguruan tinggi, ketika mereka berbuat atau berinteraksi dalam kegiatan yang berkaitan dengan ranah dalam proses pembelajaran. Etika akademik perlu ditegakkan untuk menciptakan suasana akademik yang kondusif bagi pengembangan perguruan tinggi sesuai standar yang telah ditetapkan.

Perguruan tinggi merupakan masyarakat akademik yang mekanisme kerjanya akan terikat pada etika-moral untuk melaksanakan misi dan tugas Tridharma perguruan tinggi yang disandangnya. Civitas akademika perguruan tinggi yang terdiri atas 3 (tiga) kelompok yaitu mahasiswa, dosen, dan staf administrasi secara integratif membangun institusi perguruan tinggi dan berinteraksi secara alamiah di dalam budaya akademik untuk mencapai satu tujuan, yaitu mencerdaskan mahasiswa dalam aspek intelektual, emosi, dan ketaqwaan mereka.

Sebagai konsekuensinya, etika akademik di perguruan tinggi juga harus melibatkan ketiga unsur itu. Jika mahasiswa tidak ada, dosen tidak berarti apapun, jika dosen tidak ada mahasiswa tidak berarti apa-apa, dan jika staf administrasi tidak ada, mahasiswa dan dosen tidak dapat menyelenggarakan proses pembelajaran dengan baik pula. Di dalam melaksanakan ketiga Dharma perguruan tinggi (pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada

(49)

masyarakat), maka seluruh unsur sivitas akademika akan terikat pada etika akademik.

Bertolak dari gagasan di atas maka dapat dikemukakan bahwa etika pada hakekatnya adalah sebagai berikut:

1) Yang esensial adalah etika bagian dari kebudayaan. Etika merupakan salah satu manifest dari wujud kebudayaan yakni tata kelakuan dan aspek eveluatif.

2) Etika sangat penting, mengingat bahwa jika manusia berpegang pada etika, mereka tidak perlu tahu tentang apa yang seharusnya mereka lakukan karena sesuai dengan asas normatif, tetapi lebih penting, mereka bias pula bersifat konformitas sehingga peluang bagi timbulnya masyarakat yang damai integratif menjadi lebih besar.

3) Etika berkaitan dengan sanksi. Artinya, jika seorang melanggar etika, maka yang bersangkutan akan terkena sanksi. Sanksi bias berbentuk sanksi social seperti cemooh, gunjingan, teguran, bahkan bias pada sanksi hukuman, jika pelanggaran yang mereka lakukan ada indikasi pidan maupun perdata yang melanggar etika hukum.

Sebagai contoh praktek baik dapat dikemukakan beberapa standar etika akademik, direpresentasikan sebagai etika dosen dan etika mahasiswa, yang akan memberikan jaminan mutu proses interaksi dosen-mahasiswa dan suasana akademik yang kondusif, seperti berikut:

(50)

1) Etika Dosen

Dosen adalah sebuah pilihan profesi mulia dan secara sadar diambil oleh seseorang yang ingin terlibat dalam proses mencerdaskan anak bangsa. Untuk itu dosen wajib untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dan kualitasnya dalam kerangka melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab. Berkaitan dengan hal-hal tersebut seorang dosen harus mematuhi beberapa etika akademik yang berlaku bagi dosen pada saat melaksanakan kewajiban serta tanggung-jawabnya. Kalau perlu etika akademik (dosen) ini digambarkan menjadi peraturan atau kontrak kerja yang mengikat, serta diikuti dengan sanksi akademik maupun kepegawaian bagi mereka yang melakukan pelanggaran.

Sebagai contoh, kalau kewajiban utama seorang dosen adalah meningkatkan aspek kognitif dari mahasiswa dengan memberikan pengajaran, maka ketidakhadiran dosen dalam proses pembelajaran yang terlalu sering tidak hanya melanggar etika akademik, tetapi juga melanggar peraturan, komitmen, tanggung jawab dan sangat tidak profesional. Standar kehadiran dosen untuk melaksanakan proses pembelajaran (misalnya) minimal 75 – 80%. Dengan sanksi dalam hal tidak dipenuhi maka mata kuliah yang diasuhnya tidak dapat diujikan. Hal yang sama berlaku untuk mahasiswa (termuat dalam aturan akademik). ketidakhadiran kurang dari prosentase

(51)

minimal akan menyebabkan yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti ujian.

Satu contoh praktis lain dari implementasi etika dosen, yaitu dalam kegiatan akademik seorang dosen wajib menghargai dan mengakui karya ilmiah yang dibuat orang lain (termasuk mahasiswa). Sesuai dengan etika ini pengakuan hak milik orang lain sebagai milik sendiri secara tidak sah, yang dalam karya akademik dikenal dengan sebutan plagiat, dianggap sebagai penipuan, pencurian dan bertentangan dengan moral akademik.

Pelanggaran terhadap hak atas kekayaan intelektual ini bukan sekedar pelanggaran etika akademik ringan, bisa ditolerir dan cepat dilupakan, tetapi sudah merupakan pelanggaran berat dengan sanksi sampai ke pemecatan.

2) Etika Mahasiswa

Seperti halnya dengan dosen, maka mahasiswa sebagai salah satu unsur civitas akademika yang merupakan obyek dan sekaligus subyek dalam proses pembelajaran juga perlu memiliki, memahami dan mengindahkan etika akademik khususnya pada saat mereka sedang berinteraksi dengan dosen maupun sesama mahasiswa yang lain pada saat mereka berada dalam lingkungan kampus.

Mahasiswa memiliki sejumlah hak, berbagai kewajiban dan beberapa larangan (plus sanksi manakala dilanggar) selama berada di lingkungan akademik. Salah satu hak mahasiswa adalah

(52)

menerima pendidikan/pengajaran dan pelayanan akademik sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Mahasiswa memiliki hak untuk bisa memperoleh pelayanan akademik dan menggunakan semua prasarana dan sarana maupun fasilitas kegiatan kemahasiswaan yang tersedia untuk menyalurkan bakat, minat serta pengembangan diri. Kegiatan kemahasiswaan seperti pembinaan sikap ilmiah, sikap hidup bermasyarakat, sikap kepemimpinan dan sikap kejuangan merupakan kegiatan ko- kurikuler dan ekstra-kurikuler yang bertujuan untuk menjadikan mahasiswa lebih kompeten dan profesional.

Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), tetapi juga sikap mental (attitude) yang baik. Dalam rangka meningkatkan kompetensi, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai IPTEK sebagai gambaran tingkat kemampuan kognitif maupun psikomotorik, melainkan harus pula memiliki sikap profesional, serta kepribadian yang utuh. Oleh karena itu, dipandang perlu adanya sebuah pedoman yang bisa dijadikan sebagai rambu, standar etika ataupun tatakrama bersikap dan berperilaku di lingkungan kampus, yang di dalamnya memuat garis-garis besar mengenai nilai-nilai moral dan etika yang mencerminkan masyarakat kampus yang religius, ilmiah dan terdidik. Sebagai cermin masyarakat akademik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesopanan, maka mahasiswa

(53)

wajib menghargai dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan akademik di mana mereka akan berinteraksi dalam pembelajaran.

Selain hak, mahasiswa juga terikat dengan berbagai kewajiban dan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam peraturan akademik. Sebagai contoh, hak untuk mendapatkan kebebasan akademik dalam proses menuntut ilmu, haruslah diikuti juga dengan tanggung jawab bahwa semuanya tetap sesuai dengan etika, norma susila dan aturan yang berlaku dalam lingkungan akademik. Demikian juga dengan hak untuk bisa menggunakan sarana/prasarana kegiatan kurikuler (fasilitas pendidikan, laboratorium, perpustakaan, dan sebagainya) harus juga diikuti dengan kewajiban untuk menjaga, memelihara dan menggunakannya secara efisien.

Segala bentuk vandalisme tidak saja menunjukkan perilaku yang menyimpang, melanggar norma/etika maupun tata krama, tetapi juga mencerminkan sikap (attitude) ketidakdewasaan yang bisa mengganggu terwujudnya suasana akademik yang kondusif.

3) Etika staf administrasi

Seperti halnya dosen dan mahasiswa, staf administrasi juga merupakan salah satu cari civitas akademik yang memiliki peranan yang sangat penting untuk kelancaran proses akademis. Staf memiliki fungsi diantara adalah mengatur segala kegiatan yang berhubungan dengan administrasi dan registrasi mahasiswa

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pembelajaran barisan dan jumlah deret tak hingga ini diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan

Dalam kondisi normal (tidak perlu percepatan), proyek akan mempunyai waktu maksimum dan biaya yang minimum, sedangkan pada kondisi dibutuhkan percepatan durasi

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi administrasi, teknis dan kewajaran harga serta formulir isian Dokumen Kualifikasi untuk penawaran paket pekerjaan tersebut diatas,

Tanda pelunasan pajak tahun terakhir (SPT tahun 2013) dan Laporan Bulanan Pajak (PPh pasal 21, PPh pasal 23 bila ada transaksi, PPh pasal 25/29 dan PPN) untuk 3 (tiga) bulan

Sama halnya dengan budaya organisasi dan karakteristik individu yang berbeda-beda, motivasi dari perusahaan juga merupakan suatu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam

Dwi Puja Kesuma, yang ditulis oleh Editiawarman; kedua , Kebijakan Kriminal Terhadap Cyber Sex (Menggunakan Internet Untuk Tujuan Seksual) Dalam Pembaharuan Hukum

Investor yang lebih tua memerlukan sedikit waktu untuk pulih dari potensi kerugian yang disebabkan oleh investasi yang beresiko (Grable and Lytton, 1998 : 64). Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada studi kasus seleksi mahasiswa baru Universitas Telkom yang memakai framework Yii dengan menggunakan metode