1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasar merupakan sekumpulan pembeli dan penjual dari sebuah barang atau jasa tertentu. Pada awalnya pasar diartikan sebagai tempat beremuhnya konsumen dan produsen. Fungsi utama dari pasar ialah mengalokasikan sumber daya yang ada secara rasional.Pasar telah dideskripsi dalam sejumlah fenomena yang berbeda dan memiliki perjalanan yang panjang. Istilah pasar awalnya berasal dari bahasa latin “mercatus”
yang berarti berdagang.1
Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempatusaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangannya melalui tawar menawar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan zaman, Pasar tidak hanya menjadi tempat transaksi antara penjual dan
1M.L.Jhingan. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan.(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.2008) Hal 5
pembeli melainkan Pasar telah menjadi sarana penggerak roda perekonomian dalam skala besar.
Pengertian pasar modern adalah jenis pasar dimana produknya (barang dan jasa) dijual dengan harga pas sehingga tidak terjadi aktivitas tawar- menawar harga barang antara penjual dan pembeli. Semakin maraknya perkembangan pasar modern seperti minimarket, supermarket dan hipermarket belakangan ini telah menggeser peran pasar tradisional yang ada. Kebanyakan masyarakat saat ini telah memenuhi kebutuhan rumah tangganya dari pasar modern, terutama masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan yang walaupun harganya lebih mahal tapi terjamin kualitasnya.
Bahkan untuk beberapa jenis barang, harganya lebih murah dibanding pasar tradisional. Sekarang ini, pasar modern seperti swalayan sudah sangat mudah untuk diakses oleh masyarakat kelas bawah. Akhir-akhir ini minimarket juga telah merambah ke kawasan-kawasan perumahan dan perkampungan.
“Sektor ekonomi, baik sektor formal maupun sektor informal merupakan aspek penting yang dapat mendukung kemajuan suatu daerah dan bahkan suatu bangsa secara terukur dan progresif”.2 Maju atau tidaknya suatu daerah ditentukan oleh kamauan dan kemampuan daerah itu sendiri.
Upaya pemerintah daerah dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat adalah dengan membangun fasilitas-fasilitas umum seperti pasar tradisional.
2George R Terry,2006, Prinsip-Prinsip Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara,
Sistem kebijakan, sebagaimana dikemukakan oleh William Dunn dalam Wahyono3, sedikitnya terdiri atas tiga komponen, yaitu komponen pertama: kebijakan publik (public policies), komponen kedua: stakeholders kebijakan (policy stakeholders), dan komponen ketiga: lingkungan kebijakan (policy environment). Kebijakan publik (public policies) yang merupakan isi kebijakan itu sendiri (policy content) terdiri dari sejumlah daftar pilihan keputusan tentang urusan publik (termasuk keputusan untuk tidak melakukan apa-apa) yang dibuat oleh lembaga dan pejabat pemerintah.
Isi sebuah kebijakan merespon berbagai masalah publik (public issues) yang mencakup berbagai bidang kehidupan mulai dari pertahanan, keamanan, energi, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan semacamnya.
Tingkat ketepatan keputusan sebuah kebijakan tergantung pada ketepatan dalam merumuskan masalah publik yang ingin dipecahkan Upaya pemerintah dalam menjaga eksistensi pasar tradisional sebenarnya sudah mulai nampak dengan adanya wacana-wacana tentang penertiban pasarpasar tradisional agar bisa tertata rapi sehingga nyaman untuk masyarakat, namun wacana tersebut belum bisa berjalan maksimal, karena pada kenyataannya pasar-pasar tradisional yang ada sekarang keadaanya justru masih banyak yang tidak terurus, sehingga kesan pasar tradisonal yang kumuh, bau, tidak terawat masih terngiang dalam benak masyarakat sehingga masyarakat lebih
3Teguh Wahyono, 2014, Manajemen Kearsipan Elektronik. Yogyakarta: Gava Media,
memilih pergi ke pasar-pasar modern yang terkesan bersih, nyaman, wangi dan segar karena menggunakan AC di dalamnya.4
Selain itu, Upaya pemerintah dalam menjaga eksistensi pasar tradisional juga terlihat dengan adanya peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Semangat pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap eksistensi pasar tradisonal telah dibuktikan dengan lahirnya Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres RI) Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern serta penjabaran teknisnya telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Permendag RI) Nomor : 53/MDAG/PER/12/ 2008 tentang Pedoman Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern. Kedua peraturan tersebut merupakan pengejawantahan dari semangat Undang Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pasar tradisional pada dasarnya adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah, termasuk kerja sama swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios dan los.
Hal ini terkait dengan upaya mengelola pasar- pasar tradisional agar dapat berkembang serta memiliki daya saing yang dapat bersaing menghadapi pasar modern. Permasalahan yang dihadapi selama ini adalah
4Pungky Praja Jatmika, 2017, Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Pasar Tradisional Di Kota Probolinggo, Jurnal SAWALA Vol 5 No 2, Oktober 2017, 35-47 p-ISSN 2302-2231, e-ISSN 2598-4039
bagaimana mengembangkan pasar tradisional menjadi pasar yang sehat, bersih, dikelola secara tepat dan profesional seperti pasar modern lainnya karena selama ini pengelolaan pasar di Kabupaten Kerinci terutama pasar Pasar Senen masih lemah terutama pengelolaan manajemen dan kelestarian bangunan Pasar.
Indikator pasar yang baik adalah pengelolaan yang profesional dan manajemen strategi pasar yang baik, bangunan infrastruktur yang memadai, bersih, aman dan nyaman. George R. Terry mengatakan manajemen adalah “proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.5 selesai dibangun kemudian terjadi masalah dalam hal pengelolaan dan sosialisasi pasar. Saat itu pengelola pasar tidak memberikan tempat kepada pedagang untuk menempati pasar tersebut, sehingga terjadi beberapa kali renovasi posisi strategis dipasar tersebut, pihak pengelola pasar masih sangat terkendala dalam memaksimalkan posisi dan penempatan para pedagang.
Berdasarkan pengamatan di lapangan dan diskusi dengan kepala desa pasar senen Masalah pertama yang terjadi di pasar senen siulak Kabupaten Kerinci yaitu kurangnya ketertiban pedagang dalam mengisi tempat tempat di dalam gedung yang sudah disediankan oleh pemerintah kabupaten kerinci sehingga banyak pedagang yang memilih untuk membuka kios baru diluar gedung bahkan sampai ke pinggir jalan raya . Dampak dari
5Bekti Rahayu, R. Slamet Santoso, Maesaroh, 2015, Analisis, Strategi, Pengelolaan Pasar Johar Oleh Dinas Pasar Kota Semarang, Volume 1, No 4, 2015, diakses 11-11-2019
hal tersebut membuat kemacetan di jalan raya dimana jalan raya tersebut adalah jalan lintas provinsi yang menjadi jalan utama yang di lewatu oleh masyarakat dan pengguna jalan lainnya.
Menurut kepala desa Pasar Senen siulak, Bapak Permasalahan kedua adalah kurangnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap kelangsungan Pasar Senen Kabupaten Kerinci tersebut seperti misalnya pengaturan manajemen pasar, penertiban saat pasar berlangsung dan juga kemacetan di jalan raya. Sehingga kondisi tempat pada Pasar Senen tidak terkendalikan. Jadi permasalahan Pasar Senen Kabupaten Kerinci ini sangat kompleks mulai dari permasalahan pengelolaan manajerial pasar sampai dengan masalah pengelolaan kios pada pasar.
Permasalahan pasar ini menjadi sangat ironis karena posisinya sangat strategis yang mana lokasi Pasar Senen ini berada di Kecamatan Siulak Kabupaten kerinci dan juga di tengah ibu kota Kabupaten Kerinci saat ini. Hal ini menjadi sorotan masyarakat seolah olah pemerintah tidak memperhatikan pasar tersebut.
Jika pasar tersebut beroperasi secara maksimal, maka pasar tersebut akan mampu menjadi pusat perekonomian masyarakat Kerinci, karena Kerinci menjadi salah satu pusat pertanian terbesar di Provinsi Jambi. Posisi pasar yang sangat strategis menjadi faktor pendukung untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, pasar tersebut dapat dijadikan opsi selain mengirim ke pasar yang ada di Jambi.
Pemerintah daerah kabupaten Kerinci harusnya bisa mengambil sikap dan kebijakan sesegera mungkin untuk mengatasi permasalahan ini, karena permasalahan ini merupakan permasalahan sentral yang dapat mengganggu jalannya perekonomian masyarakat. Solusi nyata yang dapat diambil oleh pemerintah setempat adalah dengan melakukan revitalisasi manajemen pengelolaan pasar menjadi lebih profesional dan terbuka karena masalah pengelolaan inilah yang menjadi masalah utama yang terjadi Pada Pasar tersebut.
Permasalahan kompleks mengenai pasar senen tersebut seharusnya menjadi salah satu fokus program pemerintah kabupaten Kerinci karena posisinya yang ditengah kota dan berdampak bagi perekonomian warga kecamatan siulak dan sekitarnya teutama warga pasar senen khususnya. Dari semua penjelasan panjang lebar diatas, itulah alasan dan latar belakang masalah Pasar Senen Siulak tersebut layak diajukan sebagai bagian dari pengajuan masalah penelitian proposal saya.
Adapun penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan tema dengan penelitian ini yaitu pertama, penelitian yang dilakukan oleh Heru Sulistyo dan Budhi Cahyono dalam jurnal Fakultas Ekonomi Unissula Semarang pada tahun 2017 dengan judul “Model Pengembangan Pasar Tradisional Menuju Pasar Sehat di Kota Semarang”. Jenis penelitian ini adalah deskriptis analisis, dengan memfokuskan pada kajian-kajian tentang pasar yang komprehensif dalam upaya mengembangkan pasar tradisional menjadi pasar sehat. Berbagai kajian difokuskan pada empat
variabel yaitu kajian organisasi dan SDM, variabel kajian hukum, variabel kajian stakeholders dan variabel benchmarking. Kajian stakeholder dimaksudkan untuk menganalisis data-data penelitian yang bersumber dari pedagang, pembeli, tokoh masyarakat, pengurus asosiasi pedagang, dan koordinator pedagang.6
Kedua penelitian yang dilakukan oleh Deki R Abdillah dalam Skripsi Fakultas Hukum Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi pada tahun 2020 dengan judul ”Analisis Strategi Pemerintah Daerah Sarolangun Dalam Revitalisasi Pasar Bawah Sarolangun”. Jenis penelitian ini adalah data kualitatif. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT dan AHP. Analisis SWOT untuk menganalisis faktor internal dan eksternal serta alternatif
strategi. AHP untuk mengetahui prioritas strategi yang digunakan untuk mengembangkan pasar tradisional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuisioner atau angket. Kuisioner adalah tehnik pengumupulan data dengan memberikan suatu daftar pertanyaan kepada responden untuk diisi.7
Penjelasan dari dua penelitian terdahulu diatas menggambarkan dengan jelas bagaimana peran dan fungsi pasar yang sangat vital dalam kegiatan ekonomi masyarakat kelas menengah kebawah, pasar yang terorganisir dengan baik pada akhirnya akan memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Namun, penelitian-penelitian diatas
6Heru Sulistyo, Budi Cahyono, 2010, Model Pengembangan Pasar Tradisional Menuju Pasar Tradisional Menuju Pasar Sehat di Kota Semarang, Vol 11, No 2, Juli 2010 : 516-526
7Deki R Abdillah, 2020, Analisis Strategi Pemerintah Daerah Sarolangun Dalam Revitalisasi Pasar Bawah Sarolangun, Skripsi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, Juli 2020.
masih berfokus pada aspek tata ruang semata, belum berorientasi pada bagaimana kesejahteraan pedagang yang berjualan di pasar tersebut padahal fungsi pasar yang utama adalah meningkatkan perekonomian masyarakat terutama pedagang itu sendiri.
Berdasarkan urgensitas yang ada di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”ANALISIS STRATEGI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KERINCI DALAM PENGEMBANGAN PASAR SENEN SIULAK ”
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Upaya pemerintah daerah dalam merevitalisasi Pasar Senen siulak?
2. Apa Faktor Penghambat yang dihadapi pemerintah daerah dalam merevitalisasi Pasar Senen siulak ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui upaya pemerintah daerah Kabupaten Kerinci dalam menciptakan strategi revitalisasi Pasar Senen Siulak
2. Untuk mengetahui faktor penghambat yang dihadapi pemerintah daerah Kabupaten Kerinci dalam proses revitalisasi Pasar Senen
1.4 Manfaat Penelitian
Tercapainya tujuan penelitian yang telah disebutkan di atas, maka hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan manfaat:
1. Teoritis
a) Sebagai bahan untuk memperluas ilmu pengetahuan tentang teori- teori dan konsep-konsep yang diperoleh selama masa perkuliahan yang jika dibandingkan dengan penerapan nya secara nyata.
b) Memberikan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai pengelolaan Pasar Tradisional dalam meningkatkan perekonomian masyarakat khusus nya yang berkaitan dengan Pasar Senen Siulak di Kabupaten Kerinci
2. Praktis
a) Manfaat bagi peneliti adalah menambah pengetahuan yang lebih mendalam mengenai pengelolaan dan pengembangan Pasar Tradisional dalam meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya yang berkaitan dengan Pasar Senen Siulak di Kabupaten Kerinci.
b) Manfaat yang didapat oleh pemerintah Kabupaten Kerinci adalah mengetahui bagaimana pengelolaan dan pengembangan pasar tradisional yang baik dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
c) Manfaat bagi masyarakat adalah membangun masyarakat untuk lebih peduli dalam mengelola Pasar Senen Kerinci, sehingga pasar
tradisional tersebut bisa terus berkembang dan maju dalam memperkuat perekonomian di daerah tersebut.
1.5 Landasan Teori
Pada dasarnya konsep merupakan abstraksi dari suatu gambaran ide, atau menurut Kant yang dikutip oleh Harifudin Cawidu yaitu gambaran yang bersifat umum atau abstrak tentang sesuatu.8 Fungsi dari konsep sangat beragam, akan tetapi pada umumnya konsep memiliki fungsi yaitu mempermudah seseorang dalam memahami suatu hal. Sementara itu, menurut Glaser dan Straus Teori berasal dari sebuah datayang diperoleh dengan cara analisis dan sistematis irelalui metode komparatif.9 Berdasarkan makna konsep dan teori diatas, maka penulis menggunakan konsep dan landasaran teori sebagai berikut:
1.5.1 Good Governance
Lembaga Administrasi Negara (LAN) mengartikan good governance sebagai proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public goods and services.10 Sementara itu, menurut Bank Dunia yang dikutip Wahab menyebut Good Governance adalah suatu konsep dalam penyelenggaran manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab sejalan dengan demokrasi pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dan
8Harifudin Cawidu, 1991, Konsep Kufr Dalam al-Qur'an, Suatu Kajian Teologis Dengan Pendekatan Tematik (Jakarta: Bulan Bintang, 1991)
9 Mudjia Rahardjo, 2010, Antara Konsep, Proposisi, Teori, Variabel dan Hipotesis dalam Penelitian, Volume 3 No 1, Februari-Mei 2010
10 Muhammad Ilham Saputra, 2013, Penerapan Prinsip-prinsip Good Governance dalam Penyelenggaran Reforma Agraria di Indonesia, Yuridika: Volume 28 No 2, Mei-Agustus 2013
investasi yang langka dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas kewiraswastaan.11
Berdasarkan beberapa pengertian good governance yang telah dipaparkan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa good governance merupakan suatu teori atau konsep penyelenggaran pemerintahan yang baik dan terukur serta dalam setiap pembuatan kebijakan selalu melibatkan rakyat di dalamnya.
Pada tahun 1997, UNDP mengemukakan setidaknya ada sembilan prinsip dasar dalam penerapan teori good governance yaitu:12
1. Partisipasi
Setiap warga negara memiliki hak suara yang sama dalam proses pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun lembaga perwakilan, sesuai dengan kepentingan dan aspirasi masing-masing.
2. Penegakan Hukum
Kerangka aturan hukum dan perundang-undangan haruslah berkeadilan dan dapat ditegakkan serta dipatuhi secara utuh (impartialy), terutama tentang aturan hukum dan Hak Asasi Manusia.
11Trisusanti Lamangida, 2018, Studi Implementasi Good Governance pemerintahan daerah Kabupaten Bone Bolango, Jurnal Ilmu Administrasi, Volume 6 No 2 Tahun 2018, ISSN:
2301-573
12Modul Materi, Good Governance dan Pelayanan Publik, Komisi Pemberantasan Korupsi, 2016
3. Transparansi
Transparansi harus dibangun dalam kerangka kebebasan aliran informasi berbagai proses, kelembagaan dan informasi harus dapat diakses bebas oleh masyarakat yang membutuhkannya.
4. Responsivitas
Setiap institusi dan prosesnya baru diarahkan pada upaya untuk melayani berbagai pihak yang berkepentingan. Kesesuaian antara program dan kegiatan yang diberikan organisasi publik dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang disiapkan dan dijalankan oleh organisasi publik, maka kinerja organisasi tersebut akan semakin baik. Responsivitas yang rendah ditunjukkan dengan ketidak selarasan antara pelayanan dan apa yang dibutuhkan masyarakat.
5. Konsensus
Pemerintahan yang baik akan berlaku sebagai penengah (mediator) bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai kesepakatan yang terbaik bagi tiap pihak yang mempunyai kepentingan.
6. Kesetaraan dan keadilan
Pemerintah yang baik pasti akan memberikan kesempatan yang sama baik terhadap laki-laki maupun perempuan dalam upaya mereka untuk meningkatkan dan memelihara kualitas hidupnya.
7. Efektifitas dan Efisien
Setiap proses kegiatan dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan yang terbaik dari sumber daya yang ada.
8. Akuntabilitas
Para pengambil keputusan (Decision Maker) dalam organisasi sektor publik dan pelayanan masyarakat memiliki pertanggungjawaban kepada publik sebagaimana halnya kepada pemilik.
9. Visi Strategis
Para pemimpin dan warga negara memiliki paradigma yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaran pemerintahan yang baik dan pembangunan humanis, bersamaan dengan dirasakannya kebutuhan untuk pembangunan tersebut.
Poin nomor 9 menjadi fokus kajian pada penelitian ini, karena visi strategi merupakan pandangan-pandangan strategi untuk menghadapi masa yang akan datang, karena perubahan-perubahan yang akan datang mungkin menjadi perangkap bagi pemerintah dalam membuat kebijakan- kebijakan. Disinilah diperlukan strategi-strategi jitu untuk menangani persoalan yang ada.
1.5.2 Teori Manajemen Strategi
Menurut Fred R. David Manajemen Strategi dapat diartikan sebagai seni dan ilmu dari perumusan, pengaplikasian, dan evaluasi dari berbagai keputusan yang memungkinkan perusahaan untuk dapat
mencapai tujuannya.13 Tujuan Manajemen Strategi adalah memanfaatkan dan membuat kesempatan/oportunitas baru dan berbeda untuk masa depan. Manajemen Strateji terdiri dari 3 kegiatan utama, yaitu:14
1) Terdiri dari kegiatan:
- Mengembangkan visi dan misi
- Mengidentifikasi kesempatan dan hambatan eksternal - Menentukan kekuatan dan kelemahan internal
- Menetapkan tujuan jangka panjang - Menghasilkan alternatif strategi - Menentukan strategi khusus 2) Implementasi Strategi
Menggerakkan pegawai dan manajer untuk menempatkan rumusan strategi ke dalam suatu tindakan yang mendukung strategi yang telah dirumuskan. Sering dianggap sebagai tahapan paling sulit dalam manajemen strategi. Syarat utama keberhasilan implementasi strategi adalah kemampuan interpersonal, terdiri darikegiatan:
- Mengembangkan budaya yang mendukung strategi yang telah direncanakan tersebut.
- Membuat struktur organisasi yang efektif.
- Mengarahkan usaha dalam pemasaran.
13Fred R. David, 2011, Strategic Management Concept and Cases, Francis Marion University, South Carolina
14Ibid. ,hlm 1
- Mempersiapkan anggaran.
- Mengembangkan dan memanfaatkan Sistem Informasi.
- Menjembatani antara kompensasi ke karyawan dan kinerja perusahaan.
3) Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi merupakan Fungsi pokok agar manajer dapat mengetahui informasi tentang keberhasilan strategi yang telah dilaksanakan. Kegiatan pokoknya adalah sebagai berikut:
- Mereview faktor eksternal dan internal dari strategi yang dilaksanakan.
- Mengukur kinerja.
- Mengambil tindakan korektif 1.5.3 Teori Analisi S.W.O.T
Menurut Freddy Rangkuti analis SWOT adalah indikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahan.
Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenght) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).15 Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan , dan strategi, dan kebijakan dari perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi
15Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka utama, 2004), h18-19
(strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis pasar (kekuatan, kelemahan , peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada disaat ini. Hal ini disebut dengan analisis situasi.
Model yang paling popular untuk analisis situasi adalah analisis SWOT. Sedangkan menurut Sondang P Sinagian ada pembagian faktor- faktor strategis dalam analisis SWOT yaitu:
1. Faktor kekuatan (strength)
Dimaksud dengan faktor-faktor kekuatan yang dimiliki oleh suatu perusahaan termasuk satuan-satuan bisnis didalamnya adalah antara lain kompetisi khusus yang terdapat dalam organisasi yang berakibat pada pemilikan keunggulan komparatif oleh unit usaha dipasaran.16 Dikatan demikian karena satuan bisnis memilki sumber keterampilan, produk andalan dan sebagainya yang membuatnya lebih kuat dari pada pesaing dalam memuaskan kebutuhan pasar yang sudah dan direncanakan akan dilayani oleh satuan usaha yang bersangkutan.
2. Faktor Kelemahan (weakness)
Dimaksud dengan kelemahan ialah keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber, keterampilan, dan kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan kinerja organisasi yang memuaskan.
3. Faktor Peluang (oppurtuniti)
16Sondang P.Siagian, manajemen strategi, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2000) hal 172
Definisi peluang secara sederhana peluang ialah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu satuan bisnis.
4. Faktor Ancaman
Pengertian ancaman merupakan kebalikan pengertian peluang yaitu faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu satuan bisnis jika tidak diatasi ancaman akan menjadi bahaya bagi satuan bisnis yang bersangkutan baik unutk sekarang maupun dimasa depan.
1.6 Kerangka Fikir
Kerangka Pemikiran Analisis Strategi Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Pasar Senen Di Kabupaten Kerinci
Good Governance
Visi Strategis
Proses Manajemen Strategi Menurut Fred R David dibagi menjadi 3 yaitu:
Menurut Freddy Rangkuti analis SWOT adalah indikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenght) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
Perumusan Strategi
Implementasi Strategi
Evaliasi Strategi
Strategi Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Pasar Senen
1.7 Metode Penelitian
1.7.1 Jenis dan Tipe Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Locke, Spirduso, dan Silverman penelitian kualitatif merupakan penelitian interpretatif, yang didalamnya peneliti terlibat dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus menerus dengan para partisan, keterlibatan inilah yang nantinya memunculkan serangkaian masalah strategis, etis dan personal dalam proses penelitian kualitatif.17
Untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang diteliti secara mendalam maka peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif pada dasarnya ialah mengamati orang dengan lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnaya.
Penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif yang mana bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan atau gejala kelompok tertentu.
1.7.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelti akan mengungkapkan keadaan yang sebenarnya untuk mendapatkan data- data dan informasi dari objek-objek yang diteliti. Lokasi dalam
17John W. Creswell, Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitaif, dan Campuran) Edisi 4, Pustaka Belajar, Yogyakarta, 2017, hlm 251
penelitian ini di lakukan di Pasar Senen kecamatan siulak Siulak, Kabupaten Kerinci, adapun pertimbangan memilih lokasi ini adalah karena permasalahan Pasar senen sudah terjadi bertahun-tahun dan sampai sekarang belum mendapat solusi yang nyata untuk diterapkan, selain itu pasar senen merupakan pasar tradisional yang pembangunannya membutuhkan dana yang sangat besar dan lokasinya sangat strategis berada di pusat kota sehingga penulis merasa masalah ini sudah sangat penting untuk diteliti dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat.
1.7.3 Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian kualitatif digunakan sebagai batasan masalah untuk membatasi studi dalam penelitian. Fokus penelitian ini mengungkapkan data yang akan dikumpulkan dan dalam pelaksanaannya bisa menambah, memperluas dan menggeser fokus penelitian. Fokus penelitian merupakan suatu penentuan konsentrasi sebagai pedoman arah suatu penelitian dalam upaya mengumpulkan dan mencari informasi serta sebagai pedoman dalam mengadakan pembahasan atau penganalisaan sehingga penelitian tersebut benar- benar mendapatkan hasil yang diinginkan.
Disamping itu juga fokus penelitian juga merupakan batas ruang dalam mengembangkan penelitian supaya penelitian yang dilakukan tidak terlaksana dengan sia-sia. Fokus dalam penelitian ini yaitu berkaitan dengan upaya menciptakan strategi pengembangan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci dalam pengembangan pasar tradisional sebagai upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.
1.7.4 Teknik Penentuan Informan
Dalam upaya untuk mendapat data yang valid maka peneliti memilih informan yang relevan dengan permasalahan yang diteliti dan dengan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel (informan) sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini seperti orang yang dianggap paling paham dan mengetahui secara jelas tentang permasalahan yang penulis teliti. Berikut beberapa informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kerinci 2. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kerinci
3. Camat Siulak Kabupaten Kerinci
4. Pedagang-pedangang di Pasar senen Siulak
1.7.5 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang relevan dan lengkap, penelitian ini menggunakan beberapa teknik untuk mengumpulkan data. Adapun teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a) Observatif Parsitipatif
Dalam observasi ini peneliti terlibat dengan kegiatan sehari- hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan
apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.18
b) Wawancara atau Interview
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang diteliti dan mengetahuihal-hal yang mengenai masalah kepada responden secara mendalam.19
Teknik pengumpulan data dengan metode wawancara ini terbagi menjadi dua jenis yaitu, wawancara terstruktur dan tidak terstruktur yang mana keduanya dapat digunakan sesuai dengan keadaan penelitian.
1.7.6 Teknik Analisis Data
Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuanya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan nya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.20
18 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, (Bandung:
ALFABETA,2017), hlm. 145
19Ibid., hlm. 137
20Ibid., hlm. 244
Susan Stainback mengemukakan bahwa analisis data merupakan hal yang kritis dalam proses penelitian kualitatif. Analisis digunakan untuk memahami hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi.21
Berdasarkan hal tersebut diatas dapat dikemukakan disini bahwa,analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Terdapat tiga jalur analisis data kualitatif, yaitu Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi adalah memilih data atau informasi hasil pengumpulan data yang berkaitan dengan topik penelitian dan membuang informasi atau data yang tidak berhubungan dengan topik penelitian. Penyajian adalah menampilkan atau memaparkan data (informasi) yang diperoleh dalam proses pengumpulan data. Penarikan kesimpulan proses analisis data atau informasi yang kemudian bermuara pada kesimpulan penelitian.
21Ibid., hlm. 132
1.7.7 Keabsahan Data (Triangulasi Data)
Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memamfaatkan sesuatu yang lain. Dalam hal ini melihat kecocokan antara data yang diperoleh peneliti dengan kejadian yang menjadi fenomena yang ingin diteliti.22 Dalam penelitian ini digunakan triangulasi metode (Methodological Triangulation), yang dimaksud dengan triangulasi metode adalah mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dan dokumentasi. Jika menghasilkan data yang berbeda- beda, bisa jadi semuanya benar, karena sudut pandang yang berbeda-beda maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar.
22Ibid., hlm.