• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PEMBERIAN PENGHARGAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "HUBUNGAN PEMBERIAN PENGHARGAAN"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Oleh:

Furie Kholifatul Ulya NIM. 084144024

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

DESEMBER 2021

(2)
(3)
(4)

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya; dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah,

niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS. Al- Zalzalah: 7-8)1

1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Suara Agung, 2015), 599.

(5)

persembahkan kepada:

Ibuku Budriati dan Bapakku Hadi Prayitno,

terima kasih atas segala bentuk kasih sayang, pengorbanan, dan untaian doa tulus yang tiada henti kalian panjatkan untukku.

Kedua mertuaku Ibu Siti Munfarida dan alm. Bapak Moh. Abdullah, terima kasih untuk kasih sayang serta perhatian yang telah kalian berikan

untukku.

Suami tercinta, Luqman Hakim, S.Pd ,

Terima kasih senantiasa memberikan dukungan, doa, dan bantuannya selama penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir.

Putriku Jihan Almahyra Hakim dan Putraku Lu’ay Al-Ghifari Hakim, terima kasih telah menjadi anak yang pintar, ceria dan selalu mampu menjadi

pelipur lara, penghibur, dan penyemangat dalam penyelesaian skripsi ini.

Adik-adikku, Fieka Yusuf Maulana, Affan Kohar Afdillah dan Fariz Ali Muhaimin, terima kasih sudah memberikan semangat dan dukungan untuk

menyelesaikan skripsi ini.

Mohammad Fauzi dan Ni’matul Ainiyah, kedua kakak yang telah membantu memberikan fasilitas perjalanan selama proses pengerjaan skripsi ini dari awal

hingga akhir.

(6)

ِ للّا ِم ْسِب ْم حَّْا

ِمْي ِح حَّْا ِن

Alhamdulillah segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat beserta salam juga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan manusia dari zaman kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan upaya dan semangat yang besar, penulis berusaha menyajikan yang terbaik. Sehingga dapat terwujud penyusunan skripsi ini, dengan judul “Hubungan Pemberian Penghargaan (Reward) Terhadap Motivasi Belajar Matematika Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi Tahun Pelajaran 2021/2022”. Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi syarat-syarat dalam menempuh gelar Sarjana Pendidikan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini telah mendapatkan banyak sekali dukungan baik secara moril dan juga materil dari berbagai pihak.

Maka, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua kontribusi, bimbingan dan bantuan yang telah diberikan oleh:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Terimakasih telah memberikan

(7)

Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah membimbing mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

3. Bapak Dr. Rif’an Humaidi, M.Pd.I, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang telah memberikan arahan dalam program perkuliahan.

4. Bapak Mohammad Kholil, M.Pd selaku Dosen Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahannya kepada penulis selama penyusunan skripsi dan memberikan tambahan ilmu serta solusi atas permasalahan dan kesulitan dalam penyusunan skripsi ini, sehingga skripsi ini bisa terselesaikan.

5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang sudah berkenan memberikan pengetahuan yang sangat-sangat bermanfaat selama masa perkuliahan.

6. Bapak Drs. H. Lukman Hakim, MM selaku Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari dan segenap dewan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari yang telah memberikan izin dan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi.

(8)

8. Seluruh teman-teman mahasiswa PGMI angkatan 2014, terutama kelas D1 yang senantiasa mengisi hari-hari penulis menjadi lebih menyenangkan selama masa perkuliahan.

9. Segenap staf dan karyawan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah berkenan memberikan bantuan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna karena terbatasnya pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik positif yang bersifat membangun dari berbagai pihak.

Penulis hanya mampu berdoa semoga amal kebaikan, bantuan serta partisipasi pihak-pihak yang telah penulis sebutkan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga bagi para pembaca. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Hidayah dari setiap langkah kita serta selalu mendapatkan ridlo-Nya, aamiin.

Jember, 6 Desember 2021

Penulis

(9)

Kata Kunci: Pemberian Penghargaan (Reward), Motivasi Belajar.

Motivasi belajar peserta didik tidaklah sama, ada yang bersifat intrinsik dan juga ekstrinsik. Dalam proses pembelajaran, motivasi diperlukan untuk menambah minat belajar siswa, salah satunya pada mata pelajaran matematika yang seringkali masih dianggap sulit oleh siswa. Salah satu hal yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pelajaran matematika adalah dengan memberikan reward. Hal inilah yang mendasari peneliti untuk mengetahui hubungan pemberian reward terhadap motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi Tahun Pelajaran 2021/2022.

Rumusan masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah (1) Adakah pemberian penghargaan (reward) siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022? (2) Adakah motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022? (3) Adakah hubungan pemberian penghargaan (reward) terhadap motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan proses pemberian penghargaan (reward) siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022? (2) Untuk mendeskripsikan motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022? (3) Untuk Mengetahui hubungan pemberian penghargaan (reward) terhadap motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif, adapun pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling, sedangkan untuk pengumpulan data melalui angket dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data peneliti menggunakan rumus korelasi product moment dan juga uji linearitas menggunakan rumus persamaan regresi linear sederhana.

Penelitian ini memperoleh hasil: 1) Pemberian penghargaan (reward) pada kategori tinggi sebesar 20%, pada kategori sedang sebesar 63,33%, dan pada kategori rendah sebesar 16,67%. 2) Motivasi belajar siswa pada kategori tinggi sebesar 33,33%, pada kategori sedang sebesar 53,33%, dan pada kategori rendah sebesar 13,33%. 3) Ada hubungan positif yang cukup kuat antara pemberian penghargaan (reward) terhadap motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Banyuwangi tahun pelajaran 2021-2022.

(10)

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

1. Variabel Penelitian ... 12

2. Indikator Variabel ... 13

F. Definisi Operasional... 14

G. Asumsi Penelitian... 15

H. Hipotesis ... 16

I. Sistematika Pembahasan ... 18

(11)

1. Kajian Teori tentang Pemberian Penghargaan (Reward) ... 28

2. Kajian Teori tentang Motivasi Belajar ... 32

3. Kajian Teori tentang Hubungan Pemberian Penghargaan (Reward) dengan Motivasi Belajar ... 40

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 42

B. Populasi dan Sampel ... 43

C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan data ... 45

D. Analisis Data ... 54

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 60

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 60

B. Penyajian Data ... 65

C. Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 73

D. Pembahasan ... 87

BAB V PENUTUP ... 91

A. Simpulan ... 91

B. Saran-saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 93 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

Tabel 3.1 Jumlah Populasi ... 43

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Variabel ... 48

Tabel 3.3 Nilai-nilai r table Product Moment dengan harga N ... 50

Tabel 4.1 Data Pegawai Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari ... 63

Tabel 4.2 Jumlah Keseluruhan Siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari .... 64

Tabel 4.3 Uji Validitas Instrumen Pemberian Penghargaan ... 66

Tabel 4.4 Uji Validasi Instrumen Motivasi Belajar Siswa ... 69

Tabel 4.5 Nama-Nama Responden ... 72

Tabel 4.6 Rekapitulasi Jumlah Skor Pemberian Penghargaan ... 73

Tabel 4.7 Kategori Jumlah Skor Pemberian Penghargaan ... 76

Tabel 4.8 Pengelompokkan Kategori tentang Pemberian Penghargaan ... 77

Tabel 4.9 Deskripsi tentang Pemberian Penghargaan ... 78

Tabel 4.10 Rekapitulasi Jumlah Skor Motivasi Belajar ... 78

Tabel 4.11 Kategori Jumlah Skor Motivasi Belajar ... 80

Tabel 4.12 Pengelompokkan Kategori tentang Motivasi Belajar ... 82

Tabel 4.13 Deskripsi tentang Motivasi Belajar ... 82

Tabel 4.14 Analisis Tentang Hubungan Pemberian Penghargaan Dengan Motivasi Belajar ... 83

Tabel 4.15 Interval Koefisien ... 85

(13)

Pendidikan merupakan kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya terdapat tujuan untuk menghasilkan perubahan yang positif terhadap peserta didik. Untuk menghasilkan perubahan yang positif, diperlukan peran pendidik sebagai pengelola proses belajar peserta didik. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, tutor, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam proses pendidikan.1

Pendidikan adalah bagian penting dari kehidupan manusia, melalui pendidikan seseorang bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, baik dalam bentuk kegiatan, bimbingan, pengajaran, dan pelatihan. Karena, pendidikan merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara menyeluruh dalam kehidupan masyarakat.2

Menurut Mulyasa pendidikan merupakan sarana untuk menyiapkan generasi masa kini dan sekaligus masa depan. Hal ini berarti bahwa proses

1Nurul Ulfatin dan Teguh Triwiyanto, Manajemen Sumber Daya Manusia Bidang Pendidikan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), 8.

2Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara. 2011), 79.

(14)

pendidikan yang dilakukan pada saat ini bukan semata mata untuk hari ini, melainkan untuk masa depan.3

Dalam undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab I ketentuan umum pasal 1 dijelaskan bahwa,

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.4

Berdasarkan undang-undang tersebut pendidikan memiliki cakupan mengenai arah, proses, maupun tujuan yang menyeluruh dan kompleks.

Pembelajaran tidak diartikan sebagai sesuatu yang statis, melainkan suatu konsep yang bisa berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia.5 Pendidikan dalam arti luas dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan, diantara mata pelajaran yang di pelajari oleh siswa salah satunya yaitu metematika.

Matematika merupakan salah satu pilar dari pendidikan itu sendiri juga perlu dipelajari oleh para siswa sebagai generasi penerus bangsa untuk terus

3 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter. (Jakarta:Bumi Aksara, 2013), 17.

4 Sisdiknas, Undang-undang RI Nomer 20 Tahun 2003. (Bandung: Citra Umbara, 2010), 2-3.

5 Martinis Yamin & Maisah, Standarisasi Kinerja Guru. (Jakarta: Persada, 2012), 164.

(15)

maju, sehingga kesadaran dan penguasaan standar kompetensi dari matematika akan ada diantara para siswa. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif, sementara itu penguasaan matematika siswa di Indonesia masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah belum efektifnya model pembelajaran yang di ajarkan di sekolah. Dalam pembelajaran matematika guru dan siswa dituntut mempunyai kemampuan berfikir yang tinggi dan kreatif. Guru dituntut untuk mampu menggunakan strategi dan metode yang tepat. Apabila strategi dan metode yang digunakan dalam pembelajaran kurang tepat, maka siswa akan merasa sulit dalam memahami pelajaran matematika. Akibatnya hasil belajar yang diperoleh siswa juga rendah.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut dibutuhkan metode belajar mengajar yang efektif dan terarah karena berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Dalam hal ini diperlukan peran aktif guru untuk mempengaruhi kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa, dengan memberi dorongan moral, bimbingan dan memberi fasilitas belajar terbaik melalui metode pembelajaran dan strategi yang tepat untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa guna tercapainya tujuan pendidikan.

Guru sebagai aktor utama yang berperan mengendalikan jalannya proses kegiatan belajar di kelas diharapkan bisa mengemban tugasnya dengan

(16)

sebaik-baiknya serta dapat memperbaiki moral peserta didiknya.

Keterampilan pemberian penguatan (reinforcement) merupakan hal yang penting dilakukan oleh guru sebagai langkah untuk memodifikasi perilaku siswa dalam belajar. Guru dapat mengarahkan dan mendorong siswa untuk tertarik dan aktif dalam pembelajaran di kelas. Ketika siswa memiliki dorongan atau motivasi untuk belajar maka dapat dimungkinkan kualitas serta prestasinya akan meningkat, salah satunya yaitu memotivasi siswa dengan memberikan penghargaan (reward).

Reward adalah alat pendidikan represif yang bersifat menyenangkan dan membangkitkan atau mendorong anak untuk berbuat sesuatu yang lebih baik terutama bagi anak yang malas. Dengan memberikan reward diharapkan siswa lebih bersemangat dalam belajar sehingga hasil belajar matematika yang optimal dapat dicapai. Menurut Nugroho, reward adalah ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan yang bertujuan agar seseorang menjadi lebih giat usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja yang telah dicapai.6

Dalam pendidikan Islam, yang berkaitan dengan reward adalah adanya ganjaran yang diberikan kepada pemeluknya agar selalu taat dan mendekatkan diri pada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Zalzalah ayat 7-8:

ٗۚ ه َرَّي ا ًرْي َخ ٍة َّرَذ َ لا َ

قْث ِم ْ

ل َم ْعَّي ْن َم َ ف ٍة َّرَذ َ ٧

لا َ قْث ِم ْ

ل َم ْعَّي ْن َم َو ࣖ ه َرَّي ا ًّر َش

٨

6 Moh. Zaiful Rosyid dan Aminol Rosid Abdullah, Reward Dan Punishment Dalam Pendidikan (Malang: CV. Literasi Nusantara, 2018), 9.

(17)

Artinya: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”7

Ayat di atas menjelaskan bahwa kebaikan dan keburukan sekecil apapun yang dilakukan, pasti akan mendapat balasan. Dalam pembelajaran, balasan yang dimaksudkan adalah berupa reward yang diberikan oleh guru kepada siswanya atas perbuatan baik yang telah dilakukan. Reward merupakan sarana pendidikan dalam proses pembelajaran yang digunakan guru sebagai penguatan dalam proses pembelajaran ketika siswa melakukan hal yang baik dan benar.

Salah satu tugas pendidik adalah menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik bagi siswa, memberi dorongan kepada siswa sehingga siswa senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat di dalam lingkungan belajarnya. Dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu disebut motivasi. Motivasi adalah daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu tercapai.8

Motivasi belajar pada siswa tidak sama, ada siswa yang motivasinya bersifat intrinsik dimana kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak tergantung pada faktor di luar dirinya. Sebaliknya siswa yang motivasi belajarnya

7 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 599.

8 A.M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), 73.

(18)

bersifat ekstrinsik, kemauan untuk belajar sangat tergantung pada kondisi di luar dirinya. Namun demikian, di dalam kenyataannya motivasi ekstrinsik inilah yang banyak terjadi, terutama pada anak-anak dan remaja dalam proses belajar. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar.

Untuk memotivasi dan mewujudkan tujuan pendidikan tersebut tidaklah mudah, pada dasarnya guru sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan kepada peserta didik, dan kenyataanya banyak peserta didik yang menganggap bahwa matematika itu sulit dan membosankan dan ada sebagian siswa mengatakan pelajaran matematika itu antara soal dan contoh berbeda.

Dalam proses pembelajaran motivasi sangat besar peranannya terhadap tercapainya tujuan pembelajaran. Bagi siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Siswa yang memiliki intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kekurangan motivasi, sebab hasil belajar itu akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Oleh karena itu, apabila siswa mengalami kegagalan dalam belajar, hal ini bukanlah semata-mata kesalahan siswa. Kemungkinan tidak berhasilan tersebut dikarenakan guru tidak dapat memberi semangat dan motivasi siswa. Reward diberikan oleh guru kepada siswa dengan memberikan pujian atas hal positif yang dilakukan oleh siswa. Dengan reward guru bermaksud membuat anak lebih giat lagi usahanya untuk belajar dan berbuat lebih baik lagi.

(19)

Kurangnya guru dalam memberikan reward pada siswa akan menimbulkan kejenuhan dan siswa kurang bersemangat dalam melakukan kegiatan belajar. Apabila siswa merasa jenuh dan kurang bersemangat, keaktifan siswa dalam pembelajaran akan kurang. Pengamatan dan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan guru akan hilang. Siswa akan mengamati dan memperhatikan hal atau kegiatan lain yang lebih menarik perhatiannya, memberi rasa senang atau kepuasan seperti melamun, menggambar di buku catatan, berbicara dengan teman sebangku, atau memperhatikan benda di luar kelas. Sebagai akibatnya, siswa kurang memahami materi pelajaran yang diajarkan guru. Sebaliknya, pemberian reward yang tepat dan bervariasi dapat menciptakan semangat, ketertarikan dan rasa senang siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan observasi awal di lapangan, tidak sedikit siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari yang masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit. Salah satu alasan timbulnya anggapan ini adalah siswa merasa bahwa dalam pelajaran matematika antara contoh dan soal yang diberikan oleh guru tidak sama. Hal ini menimbulkan kebingungan pada siswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Sehingga dalam proses belajar siswa yang motivasinya rendah akan mudah menyerah, merasa malas dan bosan untuk belajar matematika. Sedangkan siswa yang motivasinya tinggi akan terus merasa tertantang untuk menyelesaikan soal- soal dari guru.

(20)

Permasalahan di atas pada dasarnya berhubungan erat dengan metode dan cara penyampaian materi yang digunakan oleh guru. Untuk itu salah satu upaya yang dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswa adalah dengan memberikan penghargaan (reward) kepada siswa yang aktif dalam pembelajaran. Dengan adanya penghargaan (reward) yang diberikan oleh guru diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk belajar.

Berangkat dari permasalahan rendahnya motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang sudah disebutkan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Pemberian Penghargaan (Reward) Dengan Motivasi Belajar Matematika Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi Tahun Pelajaran 2021/2022”

(21)

B. Rumusan Masalah

Bagian ini mencantumkan semua rumusan masalah yang hendak dicari jawabannya melalui penelitian. Rumusan masalah disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam bentuk kalimat Tanya.9

1. Adakah pemberian penghargaan (reward) siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

2. Adakah motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

3. Adakah hubungan pemberian penghargaan (reward) dengan motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu dan konsisten dengan masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah.10

9 Tim Penyusun IAIN Jember. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember, 2020), 39.

10 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 39.

(22)

1. Untuk mendeskripsikan proses pemberian penghargaan (reward) siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

2. Untuk mendeskripsikan motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

3. Untuk mengetahui hubungan pemberian penghargaan (reward) dengan motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2021/2022?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Manfaat penelitian terdiri atas manfaat teoritis dan manfaat praktis, seperti manfaat bagi peneliti, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. Manfaat penelitian harus realistis.11

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang hubungan pemberian penghargaan (reward) dengan motivasi belajar siswa.

11 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 39.

(23)

2. Manfaat Praktis a) Bagi Siswa

Hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk memperbaiki kualitas belajar siswa dan diharapkan dapat memberikan motivasi belajar siswa.

b) Bagi Guru

Hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan ilmiah dalam proses pembelajaran dengan adanya pemberian reward dapat meningkatkan motivasi belajar siswa

c) Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk memperbaiki kualitas layanan pembinaan berkelanjutan untuk menngkatkan profesionalisme guru.

d) Bagi Peneliti

Bagi peneliti dapat menjadi bahan acuan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan menambah pengetahuan, memperluas wawasan bagi penulis dalam kajian ilmiah dengan adanya pemberian reward dalam proses pembelajaran.

(24)

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mencakup pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar matematika siswa. Adapun ruang lingkup yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.12

Variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah:

a. Variabel bebas atau independen variable adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya dependen (terikat).13 Adapun yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian penghargaan (reward) dengan menggunakan simbol X.

b. Variabel terikat atau dependen variable merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.14 Adapun yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar matematika (Y) siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi Tahun pelajaran 2021/2022.

12 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), 38.

13 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D,39.

14 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D,39.

(25)

2. Indikator Variabel

Setelah variabel penelitian terpenuhi kemudian dilanjutkan dengan menggunakan indikator-indikator variabel yang merupakan rujukan empiris dari variabel yang diteliti. Indikator empiris ini nantinya akan dijadikan dasar dalam membuat butir-butir atau item pertanyaan dalam angket, interview, dan observasi.15

Memecah-mecah variabel menjadi sub variabel ini juga disebut kategorisasi, yakni memecah variabel menjadi kategori-kategori ini dapat diartikan sebagai indikator variabel.16

Adapun indikator dari variabel dalam penelitian ini, yaitu.

1. Indikator dari pemberian penghargaan (reward) (X) yaitu:

a) Penerimaan siswa terhadap reward. Indikator ini memiliki sub indikator yaitu pandangan siswa terhadap reward.

b) Persepsi siswa terhadap pemberian reward. Indikator ini memiliki sub indikator yaitu persepsi siswa terhadap pemberian reward.

c) Efek psikologis pemberian reward. Indikator ini memliki sub indikator yaitu efek pemberian reward.17

15 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 39-40.

16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 164.

17 Mar’atul Latifah Dwi Saputri “Pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar kelas I MIM Pekalongan Lampung Timur Tahun Pelajaran 2017/2018”. (Skripsi, IAIN Metro, 2017), 26.

(26)

2. Indikator pada variabel terikat yaitu motivasi belajar Matematika (Y) adalah:

a) Perhatian siswa terhadap mata pelajaran matematika b) Minat dalam belajar mata pelajaran matematika

c) Rasa suka dalam mengerjakan tugas mata pelajaran matematika

F. Definisi Operasional

Berdasarkan indikator empiris variabel penelitian kemudian dilanjutkan dengan mengemukakan definisi operasionalnya. Definisi operasional adalah definisi yang digunakan sebagai pijakan pengukuran secara empiris terhadap variabel penelitian dengan rumusan yang didasarkan pada indikator variabel.18

1. Penghargaan (Reward)

Reward menurut kamus bahasa Inggris yang berarti ganjaran atau hadiah.19 Penghargaan sebagai alat dalam pembelajaran diberikan kepada siswa ketika melakukan suatu hal yang baik atau mencapai sebuah tahap perkembangan tertentu dan tercapainya sebuah target.

Penghargaan (reward) yang diberikan tidak hanya kepada siswa yang “pintar” tetapi kepada siswa yang mau menyelesaikan tugasnya

18 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 40.

19 John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1996), 485.

(27)

dalam proses belajar. Seperti siswa yang maju ke depan untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.

2. Motivasi belajar Matematika

Secara etimologi kata motivasi berasal dari Bahasa Inggris motivation yang berarti dorongan untuk melakukan suatu aktivitas dalam mencapai tujuan. Motivasi juga berasal dari Bahasa Latin movere yang berarti to move atau menggerakkan.20

Motivasi belajar merupakan dorongan dari guru kepada siswa seperti:

1. Menambah perhatian terhadap mata pelajaran matematika

2. Menambah minat (rajin, ingin tahu, semangat) untuk lebih dalam belajar matematika, dan

3. Lebih suka terhadap pelajaran matematika.

G. Asumsi Penelitian

Asumsi penelitian biasa disebut juga sebagai anggapan dasar, yaitu sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti.

Anggapan dasar harus dirumuskan secara jelas sebelum peneliti melangkah mengumpulkan data. Anggapan dasar disamping berfungsi sebagai dasar berpijak yang kukuh bagi masalah yang diteliti juga untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian peneliti dan merumuskan hipotesis.21

20 Suhadi Winoto, Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: CV. Building Nusantara, 2020), 97.

21 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 41.

(28)

Asumsi dasar perlu dipaparkan karena sebagai patokan atau acuan dan barometer teoritis, sehingga penelitian yang dilaksanakan sesuai dengan paradigma dan profil objek penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai asumsi dasar bahwa:

1. Setiap responden senang jika diberi penghargaan (reward) sebagai motivasi belajar.

2. Dengan adanya reward siswa menjadi lebih giat belajar matematika.

3. Responden dapat mengisi angket yang diberikan peneliti sesuia realita yang ada.

H. Hipotesis

Hipotesis berasal dari kata “hypo” yang artinya di bawah dan “thesa”

artinya kebenaran.22 Pengertian hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya Sesuai dengan pendapat di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa hipotesis merupakan pernyataan yang masih perlu dibuktikan kebenarannya, dan anggapan yang timbul adalah yang bersifat sementara untuk dibuktikan secara nyata dan benar melalui data lapangan dan fakta-fakta yang diperoleh dari penelitian.

Hipotesis adalah pernyataan tentatif yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.

22 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 110.

(29)

Hipotesis dapat diturunkan dari teori, akan tetapi ada kalanya sukar diadakan perbedaan yang tegas antara teori dan hipotesis.23

Hipotesis adalah dugaan yang bersifat mengenai obyek/subyek yang akan dibuktikan kebenarannya melalui penelitian Hipotesis juga dikatakan sebagai pernyataan yang merupakan terkaan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih.24

Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Hipotesis kerja (Ha)

Ada hubungan pemberian reward dengan motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Banyuwangi Tahun Pelajaran 2021/2022.

Berdasarkan hipotesis kerja yang diajukan di atas, karena analisis menggunakan statistik, maka hipotesis kerjanya (Ha) terlebih dahulu dirubah menjadi hipotesis nihil (H0), yaitu sebagai berikut:

2. Hipotesis Nihil (H0)

Tidak ada hubungan pemberian reward dengan motivasi belajar matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Banyuwangi Tahun Pelajaran 2021/2022.

23 Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah),(Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 39.

24 Junaidi Ghonny, Petunjuk Praktis Penelitian Pendidikan, (Yogyakarta, 2009), 46

(30)

I. Sistematikas Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan yang dimulai dari bab pendahuluan hingga pada bab penutup.25 Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah:

Bab satu merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian (yang meliputi variabel penelitian dan indikator variabel), definisi operasional, asumsi penelitian, hipotesis, sistematika pembahaasan.

Bab dua merupakan pembahasan mengenai kajian kepustakaan yang meliputi hasil penelitian terdahulu serta kajian teori. Bab tiga mliputi pendekatan dan jenis penelitian, populasi dan sampel, teknik dan isntrumen pengumpulan data, dan analisis data

Bab empat merupakan penyajian data dan analisis terhadap data-data

yang berkenaan dengan pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah NU Tegalsari Banyuwangi. Bab ini meliputi gambaran objek penelitian, penyajian data, analisis dan pengujian hipotesis, serta pembahasan temuan selama melakukan penelitian.

Bab lima merupakan bab penutup. Pada bab ini menjelaskan tentang kesimpulan sebagai intisari dari kajian teoritis dan empiris, kemudian berdasarkan itu pula dapat dijadikan saran-saran yang erat kaitannya dengan pokok bahasan dari objek penelitian.

25 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 42.

(31)

Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan.27

1. Sarita Cyntia Aljena, 2020. Pengaruh Reward Terhadap Motivasi Belajar Siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas V SDN 033 Tarakan.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN 033 Tarakan. Sampel penelitian ini berjumlah 108 siswa yang diambil dengan teknik sampling jenuh pengambilan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket, wawancara tidak terstruktur, dokumentasi dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan bantuan program Software SPSS 21.0 for windows.

Hasil analisis data penelitian menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas V SDN 033 Tarakan dengan persamaan regresi Y = 27,429 +

27 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 40.

(32)

0,704X. dimana signifikansi hubungan ditunjukkan oleh fhitung 48,362 > ftabel 3,93. Sedangkan melalui uji t diperoleh nilai t hitung 6,954 > t tabel 1,982. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas V SDN 033 Tarakan. Dari hasil uji hipotesis diperoleh r hitung 0,560 > r tabel 0,187, menunjukkan bahwa besarnya pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa adalah sebesar 31,3

% sedangkan sisanya 68,7 % dipengaruhi oleh variabel lain.28

Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang reward dan motivasi belajar. Selain itu, juga terletak dalam teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis regresi linier sederhana. Sedangkan perbedaan dari penelitian ini terdapat pada objek penelitian yaitu pada kelas V SDN 033 Tarakan dan populasinya seluruh siswa.

2. Ima Melinda dan Ratnawati Susanto, 2018. Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Motivasi Belajar Siswa kelas IV SDN Merak I Tangerang. Penelitian ini fokus pada seberapa besar sumbangan pengaruh pemberian reward and punishment terhadap motivasi belajar.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas IV SDN Merak 1 Tangerang yang

28 Sarita Cyntia Aljena, (Judikdas Borneo) “Pengaruh Reward Terhadap Motivasi Belajar Siswa” , Jurnal Pendidikan Dasar Borneo. Volume 01, Nomor 02, Tahun 2020. ISSN. 2721-4257.

(33)

berjumlah 38 siswa. Teknik pengambilan Sampel Jenuh. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kuesioner (angket).

Data Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kedisiplinan belajar terhadap motivasi belajar siswa kelas IV. Hal ini diperoleh melalui perhitungan analisis uji tregresi dengan thitung sebesar 9,096 sedangkan ttabel sebesar 0,3932.

Karena thitung (9.096) > ttabel (0,3932) dan dengan uji signifikansi diketahui nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel pemberian reward and punishment terhadap motivasi belajar siswa Besarnya sumbangan pengaruh yang diberikan oleh X (reward and punishment) terhadap Y (Motivasi Belajar Siswa) adalah 82,1%, yang mempunyai arti bahwa prediktor pemberian reward and punishment memiliki daya pengaruh terhadap motivasi belajar siswa sebesar 81,2 % dan sisanya 18,8 % dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.29

Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang reward dan motivasi belajar. Selain itu, juga terletak dalam teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode kuesioner (angket).

Sedangkan perbedaan dari penelitian ini terdapat pada objek penelitian yaitu pada siswa kelas IV SDN Merak I Tangerang, dalam penelitian

29 Ima Melinda dan Ratnawati Susanto, “Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Motivasi Belajar Siswa” International Journal of Elementary Education. Volume 2, Number 2, Tahun 2018, pp. 81-86.

(34)

ini juga membahas variabel lain yaitu punishment, dan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik pengambilan sampel jenuh.

3. Ahmad Bahril Faidy dan I Made Arsana. 2014, Hubungan Pemberian Reward Dan Punishment Dengan Motivasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas XI SMA NEGERI 1 Ambunten Kabupaten Sumenep.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian reward dan punishment dengan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Ambunten.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Ambunten dengan jumlah sampel sebanyak 42 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis rumus korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian reward dan punishment dengan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa sebesar 0,601 yang berarti memiliki hubungan yang kuat dan arah hubungan adalah positif karena nilai r positif, berarti semakin sering guru memberikan reward dan punishment semakin tinggi motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.30

30 Ahmad Bahril Faidy dan I Made Arsana. “Hubungan Pemberian Reward Dan Punishment Dengan Motivasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Ambunten Kabupaten Sumenep” Kajian Moral dan Kewarganegaraan Nomor 2 Volume 2 Tahun 2014, hal. 454-468.

(35)

Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang reward dan motivasi belajar. Selain itu, juga terletak dalam teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode angket. Sedangkan perbedaan dari penelitian ini terdapat pada objek penelitian yaitu pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Ambunten Kabupaten Sumenep, dalam penelitian ini juga membahas variabel lain yaitu punishment, dengan motivasi belajar pendidikan kewarganegaraan.

4. Mar’atul Latifah Dwi Saputri, 2017. Pengaruh Pemberian Reward Terhadap Motivasi Belajar Kelas I MIM Pekalongan Lampung Timur Tahun Pelajaran 2017/2018.31

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian reward memiliki pengaruh motivasi belajar siswa kelas I B MIM Pekalongan Kab. Lampung Timur tahun pelajaran 2017/2018.

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, objek tindakan penelitian ini adalah siswa kelas I B MI Muhammadiyah pekalongan dengan jumlah 18 siswa. Pengumpulan data pada penelitian ini adalah lembar observasi dan Angket langsung yang ditujukan kepada siswa untuk mengamati peningkatan motivasi belajar siswa setelah pemberian reward pada proses pembelajaran, observasi digunakan untuk melihat proses pembelajaran dan perubahan motivasi siswa dan dokumentasi

31 Mar’atul Latifah Dwi Saputri, Pengaruh Pemberian Reward Terhadap Motivasi Belajar Kelas I MIM Pekalongan Lampung Timur Tahun Pelajaran 2017/2018.

(36)

untuk mengetahui sejarah berdirinya MIM Pekalongan dan mengetahui keadaan guru dan siswa. Analisis data menggunakan Chi Kuadrat.

Berdasarkan hasil penelitan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 MIM Pekalongan Lampung Timur.

Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang reward dan motivasi belajar. Objek yang dituju sama madrasah ibtidaiyah. Selain itu, juga terletak dalam teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode angket. Sedangkan perbedaan dari penelitian ini terdapat pada metode analisis data yang menggunakan Chi Kuadrat.

5. Iffa Qorri Aina, 2017. Hubungan Pemberian Reward dan Punishment dengan Motivasi Belajar IPA siswa Kelas IV MIT Nurul Islam Ngaliyan Semarang Tahun Ajaran 2016/2017.32

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian Reward dan Punishment dengan motivasi belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IV MIT Nurul Islam Ngaliyan Semarang.

Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa kelas IV, dengan sampel sebanyak 26 siswa. Variabel-variabel dalam penelitian ini yaitu variabel pemberian reward dan punishment, serta variabel motivasi belajar siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket, observasi, dan

32 Iffa Qorri Aina, Hubungan Pemberian Reward Dan Punishment Dengan Motivasi Belajar IPA siswa Kelas IV MIT Nurul Islam Ngaliyan Semarang Tahun Ajaran 2016/2017.

(37)

wawancara. uji hipotesis dengan menggunakan analisis korelasi satu prediktor.

Diketahui bahwa persamaan garis regresinya adalah Y =17,941 + 0,766X sedangkan untuk menguji signifikansi dari persamaan regresi yaitu Harga Freg diperoleh sebesar 9,8973 yang dikonsultasikan dengan harga Ftabel pada taraf signifikan 5% yaitu 4,26. Karena Freg = 9,8973 >

Ftabel 4,26 maka signifikan. Selanjutnya berdasarkan perhitungan koefesien determinasi sebesar 29,20%. Hasil tersebut menunjukkan berarti terdapat hubungan pemberian reward dan punishment dengan motivasi belajar IPA siswa kelas IV MIT Nurul Islam Ngaliyan Semarang Tahun Ajaran 2016/2017.

Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang reward dan motivasi belajar. Objek yang dituju sama madrasah ibtidaiyah. Selain itu, juga terletak dalam teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode angket. Sedangkan perbedaan dari penelitian ini terdapat pada metode analisis data yang menggunakan satu prediktor. Dalam penelitian ini juga membahas variabel lain yaitu punishment.

(38)

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang Dilakukan Peneliti

No Nama Judul Tahun

Hasil

Penelitian Persamaan Perbedaan

1 2 3 4 5

1 Sarita Cyntia Aljena.

Pengaruh Reward Terhadap

Motivasi Belajar Siswa.

2020.

Terdapat pengaruh signifikan antara pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas V SDN 033 Tarakan

1. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana.

2. Reward terhadap motivasi belajar

1. Pada kelas V SDN 033 Tarakan.

2. Populasi dalam penelitian Sarita Cyntia Aljena ini adalah seluruh siswa.

2 Ima Melinda dan Ratnawati Susanto.

Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap

Motivasi Belajar Siswa kelas IV SDN Merak I Tangerang.

Penelitian ini fokus pada seberapa besar sumbangan pengaruh

pemberian reward and punishment terhadap motivasi belajar.

2018.

Terdapat pengaruh yang signifikan antara reward dan

punishment terhadap motivasi belajar siswa kelas IV SDN Merak I Tangerang.

1. Reward terhadap motivasi belajar siswa 2. Pengumpul

an data dilakukan dengan menggunak an metode kuesioner (angket)

1. Reward and punishment 2. Teknik

pengambila n Sampel Jenuh

(39)

1 2 3 4 5 4 Mar’atul Latifah

Dwi Saputri.

Pengaruh Pemberian Reward Terhadap Motivasi Belajar Kelas I MIM Pekalongan Lampung Timur Tahun Pelajaran 2017/2018.

2017.

Terdapat pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 MIM Pekalongan Lampung Timur.

1. Sama-sama di

Madrasah Ibtidaiyah 2. lembar

observasi dan Angket langsung

1. Analisis data menggunak an Chi Kuadrat.

5 Iffa Qorri Aina.

Hubungan Pemberian Reward Dan punishment Dengan Motivasi Belajar Ipasiswa Kelas IV MIT Nurul Islam Ngaliyan

Semarang Tahun Ajaran

2016/2017.

2017.

Terdapat hubungan pemberian reward dan punishment dengan motivasi belajar IPA siswa kelas IV MIT Nurul Islam Ngaliyan Semarang Tahun Ajaran 2016/2017.

1. Pemberian Reward 2. Instrumen

yang digunakan adalah angket, observasi, dan

wawancara.

1. Tambahan variabel Punishment 2.

Menggunak an Analisis satu

predictor.

Kesimpulan dari hasil penelitian terdahulu Sarita Cyntia Aljalena:

terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian reward terhadap hasil motivasi belajar. Ima Melinda dan Ratnawati Susanto, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara antara reward dan punishment terhadap motivasi belajar. Ahmad Bahril Faidy dan I Made Arsana: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian reward dan punishment dengan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa. Mar’atul Latifah Dwi Saputri dengan hasil penelitian Terdapat pengaruh pemberian reward

(40)

terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 MIM Pekalongan Lampung Timur. Dan yang terakhir Iffa Qorri Aina, menunjukkan adanya hubungan antara pemberian reward dan punishment.

B. Kajian Teori

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penelitian. Pembahasan secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.33

Adapun kajian teori dalam penelitian ini yaitu:

1. Penghargaan (reward)

a. Pengertian Penghargaan (reward)

Setiap peserta didik memiliki kemampuan dan potensi masing-masing untuk mengaktualisasikan dirinya. Namun dalam prosesnya terkadang peserta didik kehilangan fokus mereka dalam belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembalikan fokus mereka adalah dengan memberikan reward.

Reward adalah cara guru memberikan apresiasi peserta didik terhadap tingkah laku atau perbuatannya yang patut dipuji.

Menurut Mulyasa, reward adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulang kembalinya

33 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 40.

(41)

tingkah laku tersebut.34 M. Ngalim Purwanto berpendapat bahwa reward adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaan-pekerjannya mendapat penghargaan.35 Sedangkan menurut Nugroho, reward adalah ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan yang bertujuan agar seseorang menjadi lebih giat usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja yang telah dicapai.36

Reward mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari, yaitu mendorong seseorang memperbaiki tingkah laku serta meningkatkan kegiatannya atau usahanya.

Individu membutuhkan harga diri untuk merasa kompeten dan berguna dan pada saat yang sama membutuhkan pengakuan atas nilai dan kompetensi yang kita miliki dari orang lain.37

Dari pendapat beberapa ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan pengertian reward adalah penghargaan terhadap tingkah laku atau perbuatan positif seseorang yang patut dipuji, agar seseorang tersebut menjadi lebih giat usahanya untuk meningkatkan apa yang telah dicapai.

34 Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 77.

35 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 182.

36 Zaiful dan Aminol, Reward Dan Punishment, 9.

37 Desmint, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung; PT Rosda Karya, 2011).

103.

(42)

Reward merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh pendidik untuk memberi penguatan positif terhadap peserta didik dalam proses pembelajaran.

b. Macam-Macam Penghargaan (Reward)

Untuk memberikan reward terhadap anak didik merupakan suatu yang sulit. Satu yang penting bahwa pemberian reward tidak harus selalu dalam bentuk barang. Anggukan kepala dengan wajah berseri, menunjukkan jempol pendidik, sudah merupakan suatu penghargaan atau hadiah.38

Reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya murid. Reward (ganjaran) yang diberikan kepada siswa bentuknya bermacam-macam, secara garis besar reward (ganjaran) dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

1) Pujian

Pujian dalam bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga pada waktu yang tepat sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi belajar.39

38 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2012), 183.

39 Surni. “Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa” G-Count Jurnal Bimbingan dan Konseling, 2018, 140 vol. 3 No. 1.

(43)

2) Hadiah

Hadiah dapat menjadi motivasi yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah.40 3) Tanda Penghargaan

Tanda penghargaan tidak dinilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti halnya pada hadiah.

Melainkan, tanda pengahargaan dinilai dari segi “kesan” atau

“nilai kenang”nya. Oleh karena itu reward (ganjaran) atau tanda penghargaan ini disebut juga reward (ganjaran) simbolis.41

c. Manfaat penghargaan (Reward)

Adapun manfaat reward di antaranya adalah:

1) Membantu guru untuk mendorong perilaku yang baik dan kerja keras.

2) Membantu guru untuk memotivasi siswa, terutama siswa- siswi yang tidak memiliki kecenderungan alami untuk berusaha dengan keras.

3) Mendorong guru untuk mengambil pendekatan positif terhadap siswa.

4) Dapat memotivasi siswa yang memiliki rasa percaya diri rendah.42

40 Surni. “Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa. 139.

41 Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Malang: FIP IKIP MALANG, 1978), 159-161.

42 Sue Cowley, Perilaku Siswa, (Indonesia: Publishing Group, 2011), 104.

(44)

2. Motivasi belajar matematika

a. Pengertian Motivasi belajar matematika

Secara etimologi kata motivasi berasal dari Bahasa Inggris motivation yang berarti dorongan untuk melakukan suatu aktivitas dalam mencapai tujuan. Motivasi juga berasal dari Bahasa Latin movere yang berarti to move atau menggerakkan.43

Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.44 Vroom menyatakan bahwa motivasi mengacu pada proses mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan yang dikehendaki.45 Menurut Walgito, motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.46

Pengertian motivasi telah banyak didefinisikan oleh beberapa ahli menurut sudut pandang mereka masing-masing.

Namun pada intinya sama, yakni suatu dorongan dalam diri seseorang yang mengubah energi menjadi suatu tindakan atau kegiatan yang dikehendaki untuk mencapai tujuan tertentu.

43 Suhadi Winoto, Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan, 97.

44 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: PT.

Refika Aditama, 2010), 19.

45 Doni Juni Priansa, Pengembangan Strategi dan Model Pembelajaran, (Bandung: CV.

Pustaka Setia,2019), 110.

46 Afi Parnawi, Psikologi Belajar, (Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2019), 66.

(45)

b. Macam-Macam Motivasi

Motivasi peserta didik digolongkan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

1) Motivasi Intrinsik

Motivasi Intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.47 Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia akan secara sadar melakukan suatu kegiatan yang bertujuan tanpa motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan untuk mencapai tujuan belajar dari seseorang.

Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik dalam belajar, maka ia akan merasa selalu ingin maju dalam belajar.

Keinginan untuk maju ini didasari oleh pemikiran positif bahwa apa yang dipelajari akan dibutuhkan dan berguna untuk masa yang akan datang.

2) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar.48 Motivasi

47 Haryu Islamudin, Psikologi Pendidikan, (Jember: STAIN Jember Press, 2014), 266-267.

48 Parnawi, Psikologi Belajar, 69.

(46)

ekstrinsik juga dapat dikatakan sebagai bentuk motivasi yang aktivitasnya dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak berkaitan dengan dirinya.49 Motivasi intrinsic timbul sebagai akibat pengaruh dari luar diri seorang peserta didik, baik berupa ajakan, suruhan ataupun paksaan dari orang lain.

c. Fungsi Motivasi

Adapun fungsi motivasi dalam belajar mengajar adalah:

1) Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Motivasi mendorong peserta didik untuk berbuat.

Artinya, motivasi merupakan penggerak atau motor yang melepaskan energi peserta didik.50 Pada mulanya peserta didik tidak ada minat untuk belajar, namun karena ada sesuatu yang ingin dicari, maka muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang belum diketahui yang pada akhirnya mendorong peserta didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Sikap inilah yang mendasari dan mendorong peserta didik untuk melakukan suatu tindakan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya diambil peserta didik dalam proses belajarnya.

49 Priansa, Pengembangan Strategi, 112.

50 Priansa, Pengembangan Strategi, 113.

(47)

2) Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Motivasi diibaratkan sebagai sebuah mesin pada suatu mobil. Jika mesin baik maka mobil akan melaju dengan cepat. Begitupun dengan motivasi belajar, jika motivasi belajar baik maka hasil belajarpun yang didapat akan baik dan maksimal. Artinya, motivasi menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.51

Dalam hal ini motivasi berfungsi sebagai:

a) Motivasi berfungsi sebagai motivator, artinya menggerakkan perilaku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu pekerjaan.

b) Mendorong munculnya perilaku atau tindakan.

c) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya megarahkan tindakan atau mencari tujuan yang di inginkan.52

3) Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Motivasi berfungsi sebagai penentu arah perbuatan peserta didik, yaitu ke arah yang hendak dicapai peserta

51 Halid Hanafi, La Adu dan Muzakkir, Profesionalisme Guru Dalam Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran Di Sekolah,(Yogyakarta: CV Budi Utama, 2019), 65.

52 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 161.

(48)

didik.53 Peserta didik yang mempunyai motivasi akan menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan perbuatan yang diabaikan. Perbuatan yang dilakukan peserta didik tersebut tentu akan mengarah pada tujuan belajar yang ingin dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada peserta didik.

d. Indikator Motivasi Belajar

Indikator motivasi belajar meliputi beberapa hal yaitu:

1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil

2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 3) Adanya harapan dan cita-cita masa depan 4) Adanya penghargaan dalam belajar

5) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar

6) Adanya situasi belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan baik54 Menurut Sardiman, indikator motivasi belajar meliputi ; (1) tekun menghadapi tugas, (2) ulet menghadapi kesulitan, (3) menunjukkan minat, (4) lebih senang (5) dapat mempertahankan pendapatnya, (6) tiak mudah menyerah, (7) senang mencari dan memecahkan maslah.55

53 Priansa, Pengembangan Strategi, 113.

54 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang pendidikan (Jakarta: Bumi Aksar. 2014), 23.

55 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar, 83.

(49)

e. Bentuk-Bentuk Motivasi

Dalam kegiatan belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik sama-sama dibutuhkan untuk mendorong peserta didik agar tekun belajar. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan ketika ada peserta didik yang kurang berminat dalam mengikuti kegiatan belajar pelajaran tertentu. Motivasi ekstrinsik berperan cukup besar dalam kegiatan belajar peserta didik.

Motivasi ekstrinsik ini seringkali dimanfaatkan oleh pendidik untuk meningkatkan minat belajar peserta didik.

Ada beberapa bentuk motivasi ekstrinsik yang dapat dimanfaatkan oleh seorang pendidik dalam rangka meningkatkan gairah belajar peserta didiknya.

1) Memberi nilai

Nilai adalah angka atau simbol yang dapat diperoleh peserta didik dari aktivitas belajar yang diberikan oleh pendidik sesuai dengan hasil belajar yang telah dicapai.

Angka atau simbol yang diperoleh peserta didik bervariasi sesuai dengan penilaian yang diberikan oleh pendidik, bukan berdasarkan belas kasihan pendidik.56 Angka atau simbol merupakan alat motivasi yang cukup berpengaruh terhadap kegiatan peserta didik. Angka atau simbol ini dapat menjadi perangsang peserta didik untuk mempertahankan atau

56 Parnawi, Psikologi Belajar, 72.

(50)

bahkan lebih meningkatkan hasil belajarnya di masa mendatang.

2) Hadiah

Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada peserta didik yang berprestasi. Hadiah yang diberikan bisa berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi. Biasanya hadiah yang sering diberikan kepada peserta didik dapat berupa uang beasiswa, buku tulis, alat tulis, buku bacaan atau lainnya.57 Dalam dunia pendidikan hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah biasanya diberikan kepada peserta didik yang mendapatkan rangking satu, dua atau tiga dari peserta didik yang lain.

3) Kompetisi

Kompetisi adalah persaingan yang dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong peserta didik agar mereka bergairah belajar.58 Persaingan dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam dunia pendidikan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, hal ini tentu tidak lepas dari peran metode belajar yang digunakan.

57 Priansa, Pengembangan Strategi, 123.

58 Parnawi, Psikologi Belajar, 73.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, untuk kategori setuju dan sangat setuju sebesar 98%, ini artinya mahasiswa sangat senang menggunakan e- learning

Kemudian Senyawa precursor THMs tersebut bereaksi dengan senyawa khlor yang digunakan untuk proses disinfeksi sehingga terbentuklah senyawa trihalomethanes dan senyawa halogen

Kelompok Fungsional Keperawatan Kamar Bedah merupakan kelompok perawat spesialis atau perawat yang bekerja di bidang kamar bedah..

Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran cooperative script berbantuan dengan media animasi mengalami peningkatan dari

Kaitannya dengan masalah penegakan hukum terhadap praktik tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat, seperti apa yang terjadi di Kelurahan

Rambut Rambut merupakan substansi keratin yang berbentuk benang yang terpasang kuat pada kulit serta memiliki tebal 5-200 mikro meter, bagian yang menonjol di atas kulit disebut

a. Petugas pelaksana membutuhkan manual ini sebagai pedoman untuk pelaksanaan kerja pada unitnya. Pimpinan membutuhkan manual ketika akan menentukan retensi arsipnya.

Penerapan sistem akuntansi keuangan pemerintah daerah harus sesuai dengan standar akuntansi keuangan pemerintahan. Karena sistem akuntansi pemerintahan merupakan