UPAYAMENINGKATKANKEPERCAYAANDIRISISWASMPMELALUI
LAYANANBIMBINGANPRIBADISOSIALBERBASIS OUTBOUND
(PenelitianTindakanBimbinganKonselingpadaSiswaKelasVIIA SMPNegeri4Pandak,BantulTahunAjaran2013/2014)
YunitDitaSetiyawan
UniversitasSanataDharma
2015
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa serta
untukmengetahuiseberapabesarpeningkatankepercayaandirisiswamelaluilayanan
bimbingan pribadisosialberbasis outboundpadasiswakelasVIIA SMP N4Pandak
Bantul,Tahunajaran2013/2014.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
(PTBK) yang telah dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus dalam penelitian ini
dilakukan dalam satu kali pertemuan. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas
VIIA SMP N 4 Pandak Bantul Tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 27 siswa,
terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Data penelitian diperoleh
melalui skala kepercayaan diri dan didukung oleh hasil observasi selama kegiatan
bimbinganpribadisosialberlangsung,hasilwawancara,dandokumentasi.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan pre-test dan post-test, dimana
terdapat peningkatan skor item dan skor subjek pada setiap siklusnya. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kepercayaan diri secara signifikan pada
siswa kelas VIIA SMP N 4 Pandak Bantul setelah mengikuti layanan bimbingan
pribadi sosial berbasis outbound. Hasil rata-rata skor subjek pada pra siklus adalah
99,54, meningkat menjadi 124,52 pada siklus I. Pada siklus II rata-rata skor subjek
meningkat menjadi 139,50. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa Ho ditolak.Hal
inimenunjukkanbahwaterdapatpeningkatanyangsiginifikankepercayaandirisiswa
kelas VIIA SMP N 4 Pandak Bantul melalui layanan bimbingan pribadi sosial
berbasisoutbound.
ABSTRACT
EFFORTSTOINCREASECONFIDENCEAMONGTHEJUNIORHIGH
SCHOOLSTUDENTS’CONFIDENCETHROUGHPERSONALSOCIAL
GUIDANCESERVICES INTHEOUTBOUNDACTIVITIES
(ACounselingActionResearchInTheSeventhGradeStudents
OfSMPNegeri4PandakBantulSchoolYear2013/2014)
YunitDitaSetiyawan
SanataDharmaUniversity
2015
This research aimstoimprovestudents’ confidenceand toknowthe increase
ofthestudents'selfconfidencethroughpersonal andsocialguidanceservicesthrough
outboundactivities to theseventh gradestudents ofSMP N 4PandakVIIA Bantul,
academicyear2013/2014.
Thisstudyisacounseling actionresearch(PTBK)whichwasimplementedin
two cycles.Eachcyclein this research wasdonein onemeeting.The subjectofthis
study was 27 seventh grade students of SMP N 4 Pandak Bantul 2013/2014,
consistingof14malestudentsand13 femalestudents. Datawereobtainedthrough a
scale of confidence and was supported by theobservation ofsocial activities during
ongoingpersonalguidance,theinterviews,anddocumentation.
The analysis showed the difference in pre-test and post-test, in which there
was anincrease inthe itemscores andsubject scoresin each cycle.This shows that
there was a significant increase in confidence among the students after joining the
personal social guidance services in the outbound activities. Score of the subject in
thepre-cycle99,54wasandroseto124,52incycle I.Inthesecondcycle,theaverage
scoreincreased to139,50.Meanwhilethesubjecthypothesis testshowedthatHowas
rejected. This shows that there was a significant increase in confidence among the
seventhgrade students ofSMP N4 PandakBantulthroughpersonal social guidance
servicesintheoutboundactivities.
UPAYAMENINGKATKANKEPERCAYAANDIRISISWASMPMELALUI
LAYANANBIMBINGANPRIBADISOSIALBERBASIS OUTBOUND
(PenelitianTindakanBimbinganKonselingpadaSiswaKelasVIIA SMPNegeri4PandakBantulTahunAjaran2013/2014)
SKRIPSI
Diajukanuntukmemenuhisebagianpersyaratan MemperolehGelarSarjanaPendidikan ProgramStudiBimbingandanKonseling
Oleh:
YUNITDITASETIYAWAN NIM:101114079
PROGRAMSTUDIBIMBINGANDANKONSELING
JURUSANILMUPENDIDIKAN
FAKULTASKEGURUANDANILMUPENDIDIKAN
UNIVERSITASSANATADHARMA
YOGYAKARTA 2015
PERSEMBAHAN
Karyakuinikupersembahkanuntukorang-orangyangsenantiasa
membantu, mendukung,danselalumenyemangatiku,yaitu:
Keduaorangtuaku SuwariSThdanKasiyem.
AdikkuDeniSulistiyawandanDianAnggitP.
KepadaIbuDefiyangsangatmembatusayasehinggasayadapatkuliah.
ZufitaRahmawatiyang selalumemberikusemangat.
Teman–temandariYayasanSahabatGloria.
Sahabat-sahabatkuBK2010B yangtidakbisakusebutkan satupersatu.
AlmamaterkuUniversitasSanataDharmaYogyakarta.
Sertasemuatemandankerabatyangselalumemberikandukungan.
MOTTO
“Kemenanganbukansegala-galanya,tetapiperjuanganuntukmenangadalah
segala-galanya”.
(VinceLombardi)
“Hidupadalahperjuanganjadikitaharusselaluberusahadantidakpernah
putusasa”.
(YunitDitaSetiyawan)
“Berpikirpositif,optimis,diiringiusahakerasdandoa”.
(YunitDitaSetiyawan)
ABSTRAK
UPAYAMENINGKATKANKEPERCAYAANDIRISISWASMPMELALUI
LAYANANBIMBINGANPRIBADISOSIALBERBASIS OUTBOUND
(PenelitianTindakanBimbinganKonselingpadaSiswaKelasVIIA SMPNegeri4Pandak,BantulTahunAjaran2013/2014)
YunitDitaSetiyawan
UniversitasSanataDharma
2015
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa serta
untukmengetahuiseberapabesarpeningkatankepercayaandirisiswamelaluilayanan
bimbingan pribadisosialberbasis outboundpadasiswakelasVIIA SMP N4Pandak
Bantul,Tahunajaran2013/2014.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
(PTBK) yang telah dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus dalam penelitian ini
dilakukan dalam satu kali pertemuan. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas
VIIA SMP N 4 Pandak Bantul Tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 27 siswa,
terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Data penelitian diperoleh
melalui skala kepercayaan diri dan didukung oleh hasil observasi selama kegiatan
bimbinganpribadisosialberlangsung,hasilwawancara,dandokumentasi.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan pre-test dan post-test, dimana
terdapat peningkatan skor item dan skor subjek pada setiap siklusnya. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kepercayaan diri secara signifikan pada
siswa kelas VIIA SMP N 4 Pandak Bantul setelah mengikuti layanan bimbingan
pribadi sosial berbasis outbound. Hasil rata-rata skor subjek pada pra siklus adalah
99,54, meningkat menjadi 124,52 pada siklus I. Pada siklus II rata-rata skor subjek
meningkat menjadi 139,50. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa Ho ditolak.Hal
inimenunjukkanbahwaterdapatpeningkatanyangsiginifikankepercayaandirisiswa
kelas VIIA SMP N 4 Pandak Bantul melalui layanan bimbingan pribadi sosial
berbasisoutbound.
Katakunci:kepercayaandiri,bimbinganpribadisosial,outbound
ABSTRACT
EFFORTSTOINCREASECONFIDENCEAMONGTHEJUNIORHIGH
SCHOOLSTUDENTS’CONFIDENCETHROUGHPERSONALSOCIAL
GUIDANCESERVICES INTHEOUTBOUNDACTIVITIES
(ACounselingActionResearchInTheSeventhGradeStudents
OfSMPNegeri4PandakBantulSchoolYear2013/2014)
YunitDitaSetiyawan
SanataDharmaUniversity
2015
This research aimstoimprovestudents’ confidenceand toknowthe increase
ofthestudents'selfconfidencethroughpersonal andsocialguidanceservicesthrough
outboundactivities to theseventh gradestudents ofSMP N 4PandakVIIA Bantul,
academicyear2013/2014.
Thisstudyisacounseling actionresearch(PTBK)whichwasimplementedin
two cycles.Eachcyclein this research wasdonein onemeeting.The subjectofthis
study was 27 seventh grade students of SMP N 4 Pandak Bantul 2013/2014,
consistingof14malestudentsand13 femalestudents. Datawereobtainedthrough a
scale of confidence and was supported by theobservation ofsocial activities during
ongoingpersonalguidance,theinterviews,anddocumentation.
The analysis showed the difference in pre-test and post-test, in which there
was anincrease inthe itemscores andsubject scoresin each cycle.This shows that
there was a significant increase in confidence among the students after joining the
personal social guidance services in the outbound activities. Score of the subject in
thepre-cycle99,54wasandroseto124,52incycle I.Inthesecondcycle,theaverage
scoreincreased to139,50.Meanwhilethesubjecthypothesis testshowedthatHowas
rejected. This shows that there was a significant increase in confidence among the
seventhgrade students ofSMP N4 PandakBantulthroughpersonal social guidance
servicesintheoutboundactivities.
Keywords:self-confidence,personalsocialguidance,outbound
KATA
PENGANTAR
Pujidansyukur senantiasakepadaTuhanYang MahaEsa,sehingga penulis bisa
menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan lancar dan terselesaikan dengan baik.
penyusunan skripsiinibertujuanuntukmemenuhisalahsatusyarat yangwajibuntuk
memperoleh gelarSarjana Pendidikan dari Programstudi Bimbingan danKonseling
UniversitasSanataDharma.
Berkat bimbingan, dukungan dan nasihat dari berbagai pihak, akhirnya Tugas
Akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini dengan segenap
kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Dr. Gendon Barus, M.Si. Selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas SanataDharma serta sebagai dosenpembimbing yang
telahmemberikanpendampinganbagipenulisdengan penuhkesabarandalam
prosespenulisanskripsiini.
2. Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakaprodi Program Bimbingan dan
Konseling.
3. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas
SanataDharmayangtelahmencurahkanwaktudantenagauntukberbagiilmu
denganpenuhkesabarandanketulusan.
4. Suwari STh. dan Kasiyem selaku Bapak dan Ibu saya yang telah memberi
dukunganbaikmaterialmaupunspiritualhinggasaatini.
5. WartoRejoselakusimbahsayayangtelahmemberidukunganbaikmaterial
maupunspiritualhinggasaatini.
6. Deni Sulisityawan dan Dian Anggit Prasetyo selaku saudara kandung saya
yang memberikan dorongan semangat serta membantu agar segera
terselesaikannya skripsiini.
7. Zufita Rahmawati yang selalu memberikan motivasi dan semangat pada
penulissehinggapenulisanskripsiinidapatterselesaikan.
8. IbuDefidanYayasanSahabatGloria
9. KepadaDra.MaryamselakuKepalaSekolahSMPN4PandakBantul.
10.Ibu Sumaryanti SPd. Dan Ibu Titien Suwartini SPd. Selaku Guru BK dan
selalumembantusayadalampenelitianini.
11.SeluruhsiswakelasVIIASMPN4PandakBantulyangtelahmembantusaya
dalamPenelitianini.
12.Teman-teman Bimbingan dan Konseling Sanata Dharma angkatan 2010 dan
teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satuper satu, terimakasih
atassegalabantuanya.
Penulismenyadaridalampenulisanskripsi inimasihjauhdarisempurna.Segala
kritik dan saran sangat penulis harapkan demi penyempurnaan dikemudian hari.
Semogaskripsiinidapatmemberikanmanfaatbagikitasemua.
Yogyakarta,27Juli2015
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……….……….. i
HALAMANPERSETUJUAN PEMBIMBING………... ii
HALAMAN PENGESAHAN………...……. iii
HALAMANPERSEMBAHAN ………...……... iv
HALAMAN MOTTO………... v
HALAMANKEASLIANKARYA... vi
LEMBARPUBLIKASI ………...…. vii
ABSTRAK... viii
ABSTRACT... ix
KATAPENGANTAR ………..………...………...…..……... x
DAFTARISI ……….………...…...………..…...……... xii
DAFTARTABEL ... xvii
DAFTARGAMBAR ………... xviii
DAFTARGRAFIK... xix
DAFTARLAMPIRAN... xx
BABI PENDAHULUAN ………...………... 1
A. LatarBelakangMasalah ... 1
B. IdentifikasiMasalah... 4
C. PembatasanMasalah... 5
D. RumusanMasalah... 5
E. TujuanPenelitian... 6
F. ManfaatPenelitian... 6
G. DefinisiOperasionalVariabel... 7
BABIILANDASANTEORIDANHIPOTESISTINDAKAN... 9
A. HakikatKepercayaanDiri... 9
1. PengertianKepercayaanDiri... 9
2. ProsesTerbentuknyaRasaPercayaDiri... 11
3. Ciri-ciriOrang yangPercayaDiri... 12
4. Aspek-aspekKepercayaanDiri... 12
5. Faktor-faktoryangMempengaruhiKepercayaanDiri... 17
B. HakikatBimbinganPribadiSosial... 18
1. PengertianBimbinganPribadiSosial... 18
2. TujuanBimbinganPribadiSosial... 20
3. FungsiBimbinganPribadiSosial... 21
4. AspekBimbinganPribadiSosial... 22
5. EfektifitasLayananBimbinganPribadiSosialdalam MeningkatkanKepercayaanDiri... 23
C. HakikatOutbound... 23
1. PengertianOutbound... 23
2. TujuanOutbound... 24
3. Jenis-jenisOutbound... 25
4. ManfaatOutbound... 28
5. HasilPenelitianSebelumnya... 30
D. KerangkaBerpikir... 31
E. HipotesisTindakan... 33
BABIII MetodePenelitian... 34
A. JenisPenelitian... 34
B. SubjekdanObjekPenelitian... 35
C. WaktudanTempatPenelitian... 36
D. SettingPenelitian... 36
E. PartisipandalamPenelitian... 36
F. PerandanPosisiPeneliti... 37
G. ProsedurPenelitian... H. TahapPenelitian... 39 41 I. TeknikPengumpulanData... 47
1. Skala/Angket... 47
2. Observasi... 47
3. Wawancara... 48
4. StudiDokumen... 48
J. InstrumenPenelitian... 48
1. SkalaKepercayaanDiri... 48
2. PedomanPengamatan/Observasi... 51
3. PedomanWawancara... 52
4. StudiDokumen... 53
K. AnalisisUjiInstrumen... 53
1. Validitas... 53
2. Relibilitas... 55
L. TeknikAnalisisData... 56
1. DataKuantitatif... 57
2. DataKualitatif... 59
M. KriteriaKeberhasilan... 61
1. Kuantitatif... 61
2. Kualitatif... 62
BABVIHASILPENELITIANDANPEMBAHASAN... 64
A. HasilPenelitian... 64
1. PraTindakan... 64
a. PerencananPraTindakan... 64
b. PelaksanaanPraTindakan... 66
a).ObservasidiKelas... 66
b).BimbinganklasikalPraTindakan... 67
c. DataHasilPengukuranPraTindakan... 70
1).DataskorItemKepercayaanDiri... 71
2).DataskorSubjek... 73
d. HasilRefleksiPraTindakan... 75
2. PenelitianTindakanSiklusI... 76
a. PerencanaanTindakanSiklusI... 76
b. PelaksanaanTindakanSiklusI... 78
1).RekamanFakta... 78
2).DataHasilPengukuranSiklusI... 83
c. HasilRefleksiTindakanSiklusI... 88
3. PenelitianTindakanSiklusII... 89
a. PerencanaanTindakanSiklusII... 89
b. PelaksanaanTindakanSiklusII... 90
1).RekamanFakta... 90
2).DataHasilPengukuranSiklusII... 93
c. HasilRefleksiTindakanSiklusII... 99
4. HasilObservasidanWawancaraSetiapSiklus... 100
a. PraTindakan... 100
1).HasilObservasi... 100
2).HasilWawancara... 101
b. SiklusI... 103
1).HasilObservasi... 103
2).HasilWawancara... 104
c. SiklusII... 105
1).HasilObservasi... 105
2).HasilWawancara... 106
5. KetercapaianKriteriaKeberhasilan... 107
6. HasilUjiHipotesis... 108
B. Pembahasan... 109
BABVPENUTUP... 115
A. Kesimpulan... 115
B. KeterbatasanPeneliti... 116
C. Saran... 116
DAFTARPUSTAKA... 118
LAMPIRAN... 120
DAFTAR
TABEL
Tabel3.1 TugasPenelitidanKolabolator... 38
Tabel3.2 KegiatanPengumpulanData... 41
Tabel3.3 Kisi-kisiSkalaKepercayaanDiri... 50
Tabel3.4 KriteriaPanduanPengamatan... 52
Tabel3.5 KriteriaPanduanWawancara... 53
Tabel3.6 KategoriSkorItem... 58
Tabel3.7 KategoriSkorSubjek... 59
Tabel3.8 KriteriaKeberhasilan... 62
Tabel4.1 DataSkorItemPraTindakan... 71
Tabel4.2 KategorisasiSkorItemPraTindakan... 72
Tabel4.3 DataSkorSubjekPraTindakan... 73
Tabel4.4 KategorisasiSkorSubjekPraTindakan... 74
Tabel4.5 DataSkorItemPraTindakandanSiklusI... 84
Tabel4.6 KategorisasiSkorItemSiklusI... 85
Tabel4.7 DataSkorSubjekPraTindakandanSiklusI... 86
Tabel4.8 KategorisasiSkorSubjekSiklusI... 87
Tabel4.9 DataSkorItemPraTindakan,SiklusI,danSiklusII... 94
Tabel4.10 KategorisasiSkorItemSiklusII... Tabel4.11 Rekapitulasi data Skor Kepercayaan Diri Subjek Pra Tindakan, SiklusI,danSiklusII... Tabel4.12 KategorisasiSkorSubjekSiklusII... Tabel4.13 RekapitulasiDataKategoriSkorSubjek... Tabel4.14 HasilObservasiPraTindakan... 94 96 97 98 101 Tabel4.15 HasilObservasiSiklusI... 104
Tabel4.16 HasilObservasiSiklusII... 106
Tabel4.17 KetercapaianKriteriaKeberhasilan... 107
Tabel4.18 RekapitulasiHasilUjiHipotesisTindakan... 108
DAFTAR
GAMBAR
Gambar2.1 KerangkaBerpikir... 38
Gambar3.1 BaganPenelitianTindakanModelHopkins... 39
DAFTAR
GRAFIK
Grafik1 SkorItem PraTindakan... 72
Grafik2 SkorSubjekPraTindakan... 75
Grafik3 PerbandinganSkorItemPraTindakandanSiklusI... 85
Grafik4 PerbandinganSkorSubjekPraTindakandanSiklusI... 88
Grafik5 Perbandingan SkorItemPraTindakan,Siklus I,Siklus
II... 95
Grafik6 Perbandingan Skor Subjek Pra Tindakan, Siklus I,
SiklusII... 98
DAFTAR
LAMPIRAN
Lampiran1 SatuanPelayananBimbingan... 121
Lampiran2 InstrumenPenelitian... 138
Lampiran3 TabulasiDataSkorKepercayaanDiri... 148
Lampiran4 RekapitulasiDataKepercayaanDiri……….. 152
Lampiran5 HasilUjiValiditas,Reliabilitas,Ujit... 161
Lampiran6 PresensiSiswa... 167 Lampiran7 Foto-FotoPenelitian... 171 Lampiran8 SuratIjinPenelitian... 175
1 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional dari
beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
Masa SMP adalah masa dimana seseorang berusia 12 sampai 15 tahun, secara umum termasuk dalam kategori remaja. Pada masa remaja, terjadi peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Dalam masa
peralihaan ini sebagian besar remaja masih labil dalam menentukan keputusan, mencari identitas diri, dan mencoba mengaktualisasikan dirinya
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam usia tersebut, remaja mempunyai tugas perkembangan yang sangat menuntut perubahan besar dalam bersikap dan
berperilaku. Hurlock (2005) menyebutkan berbagai perubahan yang terjadi pada masa remaja tersebut, antara lain perubahan emosional, perubahan fisik, perubahan minat, dan perubahan perilaku. Meskipun ini merupakan proses
kedewasaan yang normal, tetapi perubahan-perubahan yang terjadi pada individu tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan
mempengaruhi kepercayaan diri, sehingga individu merasa kurang percaya diri.
Kepercayaan diri (self confidence) merupakan salah satu aspek
(Ghufron dan Risnawati, 2012). Remaja yang memiliki kepercayaan diri tidak akan memandang kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya sebagai
sebuah hambatan, melainkan sebagai batu loncatan untuk meraih keberhasilan (Rini, 2010).
Kepercayaan diri pada remaja, terbentuk karena adanya pengaruh dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat. Ketiga faktor itu sangat mempengaruhi dalam pembentukan kepercayaan diri remaja.
Sebagai contoh, kalau keluarga terlalu over protektif mengatur apa-apa yang
harus dilakukan si anak, anak boleh ini dan tidak boleh itu, menganggap anak
belum bisa berbuat apa-apa tanpa arahan keluarga, maka akan terbentuk kepercayaan diri yang rendah, sehingga anak merasa dirinya tidak bisa
berbuat apa-apa. Berbeda bila dalam masa pertumbuhan dan
perkembangannya, anak selalu diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi-potensinya, maka kepercayaan diri pada anak akan tumbuh.
Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah sangat mempengaruhi terbentuknya kepercayaan diri remaja, karena di lingkungan sekolah para remaja berinteraksi, baik dengan teman sebaya maupun dengan guru.
Lingkungan sekolah juga merupakan salah satu tempat pendidikan bagi siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dan tempat mengembangkan semua
bertindak, serta mampu menentukan langkah yang pasti dalam kehidupannya (Ghufron dan Risnawati, 2012).
Realitasnya, disekolah tidak setiap siswa mempunyai kepercayaan diri yang cukup. Masih banyak siswa yang mengalami kurang percaya diri,
sehingga sangat berpengaruh pada perkembangan siswa itu sendiri, seperti di SMP Negeri 4 Pandak Bantul khususnya kelas VIIA. Siswa di SMP Negeri 4 Pandak Bantul khususnya kelas VIIA banyak yang memiliki kepercayaaan
diri yang rendah, hal ini ditunjukan dengan adanya perilaku siswa yang bila disuruh maju kedepan tidak mau dan hanya diam saja, tidak ada siswa yang
berani bertanya kepada guru pada saat guru memberikan materi pembelajaran, mempunyai rasa malu, minder, takut. Maka dari itu kepercayaan diri pada kelas VIIA SMP Negeri 4 Pandak harus ditingkatkan
sehingga tidak mempengaruhi perkembangan akademik, pengembangan minat dan bakat, maupun perkembanganya dalam menjalin relasi dengan
orang lain. Kepercayan diri yang rendah dalam hal akademik menyebabkan anak merasa malu dan takut bertanya pada guru, sehingga mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Secara tidak
langsung dapat menyebabkan kepercayaan diri yang rendah. Dalam hal pengembangan minat dan bakat, anak merasa kesulitan dalam menyalurkan
bakat dan minat yang dimilikinya sehingga bakat dan minat yang mereka miliki tidak tersalurkan dengan baik. Selain itu dalam relasi sosialnya, anak akan banyak menutup diri, dan sulit menjalin relasi dengan orang lain
mudah pesimis, mudah putus asa. Bahkan mereka merasa kurang mampu dalam menyesuaikan diri dengan siswa lain.
Untuk mengatasi siswa yang kurang percaya diri diperlukan pendampingan khusus, dalam bentuk layanan bimbingan pribadi sosial, yang
dimaksudkan agar siswa dapat menghadapi masalahnya, dan mengelola diri sendiri, serta menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Pemberian
layanan bimbingan pribadi sosial harus menggunakann cara yang menarik sehingga membuat siswa senang dalam mengikuti bimbingan, salah satunya
dengan menggunakan kegiatan outbound. Maka dari itu peneliti memilih
judul penelitian sebagai berikut :“Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri
Siswa SMP Melalui Layanan Bimbingan Pribadi Sosial Berbasis Outbound
(Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling Siswa Kelas VII SMP Negeri 4
Pandak Bantul)’’.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, ditemukan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Dalam kenyataannya terlihat ada indikasi siswa yang memiliki
kepercayaan diri yang rendah, dan perlu mendapatkan perhatian sebagai
solusi untuk mengatasinya.
2. Sebagian besar siswa di SMP Negeri 4 Pandak, Bantul, khususnya kelas
VIIA memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, hal ini terlihat dari
kedepan, kalau ditanya hanya diam saja, malu bertanya, dan takut salah dengan apa yang dilakukannya.
3. Bimbingan Pribadi sosial dengan menggunakan outbound belum
diketahui hasilnya.
4. Bimbingan yang kurang diberikan oleh Guru BK kelas VIIA SMP Negeri
4 Pandak Bantul, sehingga menjadi salah satu penyebab kepercayaan diri rendah.
C. Pembatasan Masalah
Masalah yang teridentifikasi dalam penelitian ini sangat luas dan cukup
kompleks. Maka dari itu peneliti merasa perlu untuk memberikan pembatasan masalah agar penelitian ini lebih fokus dan sesuai dengan
tujuan. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah “ Upaya
Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa Melalui Bimbingan Pribadi Sosial
Berbasis Outbound Pada Siswa Kelas VIIA di SMP Negeri 4 Pandak
Bantul.”
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian maka penulis mengajukan rumusan
masalah penelitian, yaitu :
1. Apakah tingkat kepercayaan diri siswa kelas VIIA dapat ditingkatkan
2. Seberapa tinggi peningkatan kepercayaan diri siswa setelah melalui
bimbingan pribadi sosial dengan berbasis outbound pada setiap
siklusnya?
3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kepercayaan diri
siswa setelah melalui bimbingan pribadi sosial dengan berbasis outbound
antarsiklusnya?
E.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas VIIA melalui bimbingan
pribadi sosial dengan berbasis outbound di SMP Negeri 4 Pandak,
Bantul.
2. Mengetahui seberapa tinggi peningkatan kepercayaan diri siswa melalui
bimbingan pribadi sosial dengan berbasis outbound pada setiap
siklusnya.
3. Mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan tingkat kepercayaan
diri siswa secara signifikan melalui bimbingan pribadi sosial dengan
berbasis outbound antar siklusnya.
F. Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari penelitian ini, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan
bagi ilmu pengetahuan, khususunya dalam bidang ilmu Bimbingan dan
dengan pemanfaatan outbound dalam pemberian layanan bimbingan pribadi sosial.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru BK
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kepercayaan diri pada siswa melalui layanan bimbingan
pribadi sosial dengan berbasis outbound.
b. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
diri siswa, sehingga dapat berkembang secara optimal, dan menyadarkan siswa akan perilaku dan sikapnya saat ini.
c. Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan kesempatan bagi peneliti untuk menerangkan ilmu yang telah didapat selama kuliah di program
Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam praktek penelitian secara ilmiah, khususnya mengenai upaya meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui pemberian layanan
bimbingan pribadi sosial berbasis outbound.
G. Definisi Operasional Variabel
Supaya tidak terjadi salah pengertian dalam memaknai maksud dari judul penelitian ini, maka peneliti merasa perlu memberikan penegasan-penegasan
batasan istilah dalam judul “Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa
(Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling Siswa Kelas VII SMP N 4
Pandak Bantul,)’’, yaitu :
1. Kepercayaan diri merupakan sikap mental seseorang dalam menilai diri
maupun objek sekitarnya, sehingga orang tersebut mempunyai keyakinan
akan kemampuan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, selain yakin akan kemampuan dirinya, juga tidak mudah terpengaruh oleh orang
lain, yang ditandai oleh beberapa aspek yaitu : Adanya keyakinan atas kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggungjawab, rasional dan
realistis.
2. Layanan bimbingan pribadi sosial adalah suatu cara memberikan bantuan
kepada individu (siswa) melalui bimbingan kelas, dimana berguna untuk
menunjang perkembangan siswa secara optimal di kelas VIIA SMP N 4 Pandak Bantul.
3. Outbound adalah semua aktivitas pembelajaran yang dilakukan di luar kelas atau di alam terbuka. Melalui aktivitas tersebut diharapkan siswa
dapat belajar langsung dari pengalaman (experiential learning), dan dapat
belajar secara menyenangkan karena berada di alam terbuka, sehingga penuh dinamika, sekaligus terhindar dari kebosanan atas rutinitas
pembelajaran klasikal di dalam kelas.
4. Siswa yaitu semua peserta didik yang terdaftar pada kelas VIIA SMP N 4
9 BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Dalam bab ini dipaparkan beberapa hal, yaitu kajian pustaka mengenai hakekat kepercayaan diri, hakekat bimbingan pribadi sosial, dan hakekat
Outbound. Selain itu juga dipaparkan kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.
A. Hakikat Kepercayaan Diri 1. Pengertian Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri (self confidence) adalah salah satu aspek
kepribadian yang sangat penting dalam diri seseorang. Dengan memiliki kepercayaan diri, seseorang akan menyadari bahwa di satu sisi ia memiliki potensi sedangkan di sisi lain memiliki kelemahan (Margaretha Rini,
2010). Maksudnya, dengan memiliki rasa percaya diri, di satu sisi seseorang sangat percaya pada potensi yang ada dalam dirinya dan
berkeyakinan akan mampu mengaktualisasikan segala potensi yang ada dalam dirinya tersebut, di sisi lain ia akan sangat menyadari keterbatasan dan kelemahannya sebagai manusia, sehingga mungkin saja melakukan
berbagai kesalahan dan kekhilafan, tetapi akan selalu berjuang mengoreksinya agar semakin lebih baik .
Kepercayaan diri merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Kepercayaan diri sangat diperlukan, baik oleh seorang anak maupun orang tua, secara individual maupun kelompok (Ghufron dan
Ghufron dan Risnawati (2012) pernah mencatat beberapa pengertian kepercayaan diri menurut beberapa pakar psikologi. Beberapa
diantaranya, Willis (1985) mengartikan kepercayaan diri sebagai keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kemampuan untuk menanggulangi
suatu masalah dengan baik, dan dia juga yakin kalau mampu memberikan sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain.
Anthony (1992) mengartikan kepercayaan diri sebagai sikap dalam
diri seseorang yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai
kemampuan untuk memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkannya.
Afiatin dan Andayani (1998) menegaskan, kepercayaan diri adalah
aspek kepribadian yang berisi keyakinan tentang kekuatan, kemampuan, dan ketrampilan yang dimiliki. Dari beberapa pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah sikap mental seseorang dalam menilai diri maupun objek di sekitarnya, sehingga orang tersebut mempunyai keyakinan akan kemampuan dirinya untuk dapat melakukan
sesuatu sesuai dengan kemampuanya. Dengan kata lain, kepercayaan diri adalah keyakinan pada diri subyek sebagai karakteristik pribadi yang di
2. Proses Terbentuknya Rasa Percaya Diri
Kepercayaan diri yang melekat pada diri individu bukan bawaan sejak
lahir melainkan hasil proses belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian kepercayaan diri adalah hasil proses panjang, tidak didapat
secara instan (Lusi, 2010). Setiap orang sering berhadapan dengan rangsangan dari luar, baik yang disadari maupun tidak disadari sehingga setiap orang akan merespon dan mempersepsikanya.
Individu menjadi pribadi yang percaya diri atau tidak, sangat tergantung dari individu tersebut. Individu yang memiliki rasa percaya diri memiliki
kemampuaan untuk menjawab tantangan yang ada di lingkungannya. Ketika individu berhasil mengatasi permasalahannya sangat mungkin dia akan percaya diri, tetapi sebaliknya kegagalan dalam menyelesaikan permasalahannya akan
membuatnya tidak percaya diri (Iswidharmanjaya, 2004 dalam Rini, 2010). Hakim (2005) menjelaskan, terbentuknya rasa percaya diri yang sangat
kuat terjadi melalui beberapa proses. Pertama, terbentuknya kepribadian yang baik sesuai proses perkembangan yang melahirkan kelebihan-kelebihan tertentu. Kedua, pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yang
dimilikinya sehingga melahirkan keyakinan yang kuat bahwa ia bisa berbuat segala sesuatu dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan tersebut. Ketiga,
pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan-kelemahan yang dimilikinya sehingga tidak menimbulkan rasa rendah diri atau rasa sulit untuk menyesuaikan diri. Keempat, pengalaman dalam menjalankan berbagai aspek
Kekurangan dalam salah satu proses tersebut, menjadikan seseorang mengalami hambatan untuk mendapatkan rasa percaya diri. Sebagai contoh
individu-individu yang mengalami hambatan-hambatan dalam
perkembangannya ketika bersosialisasi akan mengakibatkan individu tersebut
cenderung tertutup dan rendah diri, yang bila dibiarkan terus akan mengakibatkan kurang percaya diri.
3. Ciri-Ciri Orang yang Percaya Diri
Lie (2006) menyebutkan beberapa ciri individu yang mempunyai kepercayaan diri, yaitu yakin kepada diri sendiri, tidak tergantung pada orang
lain, dan tidak ragu- ragu, merasa dirinya berharga, tetapi tidak menyombongkan diri dan memiliki keberaniaan untuk bertindak.
Hakim (2005) menyebutkan beberapa ciri individu yang memiliki
kepercayaan diri tinggi, antara lain selalu bersikap tenang dalam mengerjakan sesuatu, mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai, dan mampu
menetralisir ketegangan yang muncul dalam berbagai situasi, memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya, memiliki kecerdasan yang cukup, memiliki tingkat pendidikan formal yang memadai, serta memiliki
keahlian atau ketrampilan yang menunjang kehidupannya, tetap tegar, sabar dan tabah menghadapi persoalan dan tantangan hidup.
4. Aspek-Aspek Kepercayaan Diri
a. Aspek tingkah laku
Ditinjau dari aspek tingkah laku seseorang yang memiliki
kepercayaan diri akan selalu yakin untuk melakukan apapun secara maksimal. Ciri-cirinya, antara lain :
1) Memiliki keyakinan atas kemampuan sendiri untuk melakukan
sesuatu pekerjaan.
2) Memiliki keyakinan atas kemampuan untuk menindaklanjuti apa yang
telah direncanakan secara konsekuen.
3) Memiliki keyakinan atas kemampuan pribadi dalam menanggulangi
segala permasalahan.
4) Memiliki keyakinan atas kemampuan sendiri untuk memperoleh
bantuan.
b. Aspek emosi
Ditinjau dari aspek emosi seseorang yang memiliki kepercayaan diri
akan memiliki keyakinan yang kuat untuk menguasai diri sendiri. Ciri-cirinya, antara lain :
1) Memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk mengetahui
perasaan terhadap diri sendiri. Kemampuan untuk mengidentifikasi perasaan, sedih, senang, dan emosi. Sehingga seseorang memiliki
kepercayaan diri, akan dapat mengetahui perasaan yang sedang dialaminya dalam kehidupanya sehari-hari.
2) Memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk mengungkapkan
Idealnya, setiap orang perlu mengenal perasaannya sendiri, setelah itu ia harus mampu mengungkapkan perasaan tersebut kepada
pihak-pihak yang terkait. Emosi yang tidak disalurkan dapat membendung perasaan, sehingga menghalangi untuk memberi dan menerima
perhatian dan kasih sayang.
3) Memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk menyatukan diri
dengan kehidupan orang lain, dalam pergaulan yang positif dan
penuh perhatian. Dalam hidup ini orang selalu bersosialisasi dengan orang lain melalui berbagai kesempatan, seperti mengikuti
pertemuan, dan kemampuan bersosialisasi yang baik akan menambah kepercayaan diri emosional seseorang.
4) Memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk memperoleh rasa
sayang, pengertian dan perhatian dalam segala situasi, khususnya pada saat mengalami kesulitan. Salah satu cara untuk menciptakan
hubungan yang baik adalah berusaha untuk melawan emosi-emosi yang buruk. Dalam hidup ini setiap orang bisa saja mengalami cobaan dalam berbagai hal yang menimbulkan emosi walaupun
dalam kadar yang berbeda-beda. Setiap orang harus mempunyai keyakinan bahwa ia mampu menelusuri perasaan sendiri dan
mengelolahnya secara baik.
5) Memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk mengetahui manfaat
Mengenal diri sendiri dan tahu apa yang bisa disumbangkan adalah bagian dari kepercayaan diri pada aspek emosional, dengan
menyadari betapa berharganya diri kita bagi orang lain. c. Aspek spiritual
Angelis (2003) menggunakan istilah aspek spiritual karena menegaskan kedudukan seseorang dengan keberadaan seluruh alam semesta. Ciri-cirinya, antara lain :
1) Keyakinan bahwa semesta ini adalah suatu misteri yang terus berubah,
bahwa setiap perubahan dalam kesemestaan itu merupakan bagian dari
suatu perubahan yang lebih besar lagi.
2) Kepercayaan atas adanya kodrat alami sehingga segala yang terjadi
tidak lebih dari kewajaran belaka.
3) Keyakinan kepada diri sendiri dan adanya Tuhan yang Maha Kuasa
dan Maha Tinggi, ataupun ungkapan rohani orang tersebut pada maha
pencipta semesta ini.
Lauster (1992) sebagaimana dikutip Ghufron dan Risnawati (2012) menyebutkan aspek-aspek dari kepercayaan diri sebagai berikut :
a. Yakin pada kemampuan diri sendiri.
Suatu sikap percaya diri yang positif akan dirinya, bahwa dia
mampu melaksanakan apa yang diyakininya sendiri, tidak bergantung pada orang lain .Ciri-cirinya :
1) Yakin terhadap apa yang dilakukan atau dikerjakannya.
b. Optimis
Optimis adalah sikap positif yang dimiliki seseorang yang selalu
berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri dan
kemampuannya. Ciri–cirinya:
1) Yakin dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
2) Yakin dapat mengatasi berbagai tantangan dan hambatan
secara cepat dan tepat.
c. Obyektif
Orang yang obyektif memandang permasalahan atau sesuatu
sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri. Ciri-cirinya :
1) Bersikap terbuka terhadap semua masukan.
2) Memandang persoalan dari segala aspek.
d. Bertanggung jawab.
Bertanggung jawab adalah kesediaan orang untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya. Ciri- cirinya :
1) Siap menerima apapun konsekuensi dari langkah yang
diambil.
2) Konsisten dalam bersikap dan bertindak.
e. Rasional dan realistis
Rasional dan realistis adalah kemampuan analisis terhadap suatu masalah, dan suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang
1) Tidak mudah percaya dengan hal-hal yang tidak bisa dinalar.
2) Sesuai dengan kenyataan, apa adanya.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri
Ghufron dan Risnawati (2012) menegaskan bahwa kepercayaan diri individu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Konsep diri
Menurut Antony (dalam Ghufron dan Risnawati, 2012) terbentuknya kepercayaan diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep
diri yang diperolehnya melalui pergaulan dalam suatu kelompok. Hasil interaksi yang terjadi akan menghasilkan konsep diri. Pembentukan konsep diri akan sangat mempengaruhi pola hidup, pola pikir, emosi dan
perilaku seseorang. Pembentukan konsep diri yang negatif cenderung membuat seseorang hanya memusatkan pikiran pada hal-hal yang negatif
dalam dirinya. Akibatnya ia menjadi pesimis dengan kemampuan yang dimiliki, bahkan cenderung menyalahkan diri sebagai orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hal sebaliknya bila konsep dirinya positif.
b. Harga diri
Konsep diri yang positif akan membentuk harga diri yang positif.
Harga diri adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Tingkat harga diri seseorang akan mempengaruhi tingkat kepercayaan seseorang. Ketika konsep dirinya negatif tentu akan membentuk harga diri yang
akan terjadi krisis kepercayaan diri. Hal sebaliknya bila harga dirinya positif maka akan terbentuk kepercayaan diri yang positif.
c. Pengalaman
Pengalaman masa lalu dapat menjadi faktor yang mempengaruhi
kepercayaan diri. Ketika seseorang sering mengalami kegagalan, sering kalah dalam persaingan, seseorang akan mudah gugup, cemas, takut, malu, minder, dan sebagainya. Mereka sering tidak berani menghadapi
masalah, merasa tidak mampu, oleh karena itu lebih suka menutup diri, tidak berani bersikap dan bertindak. Hal ini berbeda dengan
pengalamannya berkaitan dengan keberhasilan.
d. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap tingkat
kepercayaan diri seseorang. Tingkat pendidikan yang rendah akan menjadikan seseorang tersebut, tergantung dan berada di bawah
kekuasaan orang lain yang lebih pandai dari dirinya. Sebaliknya orang yang mempunyai pendidikan tinggi, akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih dibandingkan dengan orang yang memiliki pendidikan
yang rendah.
B.Layanan Bimbingan Pribadi Sosial 1.Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial
Menurut Yusuf (2008 : 11) menjelaskan bahwa bimbingan pribadi sosial merupakan layanan yang mengarah pada pencapaian pribadi yang
permasalahan yang dihadapi individu. Bimbingan pribadi sosial diarahkan untuk perkembangan kepribadian yang menyangkut dirinya sendiri, serta
hubungannya dengan orang lain, dan bidang perencanaan masa depan yang menyangkut jabatan yang akan dipangku kelak.
Menurut Winkel (2004) istilah bimbingan pribadi sosial digunakan bila isi pelayanan bimbingan terutama mengenai hal-hal yang menyangkut keadaan batinnya sendiri dan kejasmaniaanya sendiri, atau Bimbingan
Pribadi lain. Sebetulnya kalau perhatian khusus diberikan pada hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri, digunakan istilah bimbingan pribadi, kalau
perhatian khusus diberikan pada hal yang menyangkut hubungan dengan orang lain digunakan istilah bimbingan sosial. Namun mengingat kaitannya yang erat sekali antara keadaan batinnya sendiri dan keberhasilan atau
kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain, maka digunakan istilah
bimbingan pribadi sosial untuk ragam bimbingan ini (Personal –Social
Guidence).
Oleh karena itu menurut Winkel (2004) bimbingan pribadi sosial adalah bimbingan yang digunakan dalam menghadapi keadaan batinya
sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri, dalam mengatur diri sendiri di bidang kerohaniaan, perawatan jasmani, pengisian
waktu luang, penyaluran nafsu seksual, serta bimbingan dalam membangun hubungan dengan orang lain di dalam pergaulan sosial.
Gunawan (1992) mengartikan bimbingan pribadi sosial sebagai
menerima diri apa adanya atau secara realistis dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungannya. Dengan kata lain bimbingan untuk memecahkan
masalah-masalah pribadi dan sosial, agar terjadi perubahan sikap, tingkah laku dan perilaku. Sedangkan menurut Yusuf (2006), bimbingan pribadi
sosial adalah bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi.
Jadi bimbingan pribadi sosial adalah bimbingan yang diberikan
kepada pribadi atau individu agar mereka mengenal dirinya, mengenal permasalahannya, dan dapat memecahkan masalah-masalah pribadi sosial,
sehingga terjadi perubahan sikap, perilaku individu tersebut. 2. Tujuan Bimbingan Pribadi Sosial
Gunawan (1992) menegaskan bahwa tujuan bimbingan pribadi
sosial yang utama adalah memberikan bantuan kepada individu agar individu itu dapat berkembang secara optimal. Winkel (2004) menegaskan
bahwa tujuan bimbingan pribadi sosial adalah agar individu yang diberikan bimbingan menjadi mampu menghadapi semua tugas perkembangannya, secara sadar dan bebas, serta mewujudkan kesadaran dan kebebasan dalam
membuat pilihan-pilihan secara bijaksana, serta dapat menyesuaikan diri dengan baik.
dapat berfungsi jauh sebelumnya, bila orang menyadari bahwa aneka tugas hidup menantang dia untuk mengembangkan segala potensinya.
Gunawan (1992) secara lebih terperinci menyebutkan bahwa tujuan bimbingan pribadi sosial adalah membantu siswa agar :
a. Mengerti dirinya dan lingkungannya. Mengerti diri meliputi pengenalan
kemampuan, bakat khusus, minat, cita-cita, dan nilai-nilai hidup yang dimilikinya. Mengerti lingkungan meliputi ligkungan sosial, maupun
budaya.
b. Mampu memilih, memutuskan, dan merencanakan hidupnya secara
bijaksana dalam bidang sosial pribadi, termasuk di dalamnya membantu individu untuk mengembangkan pola hidup pribadinya.
c. Mengembangkan kemampuan dan kesanggupanya secara maksimal.
d. Memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana termasuk
memberikan bantuan dalam menghilangkan kebiasaan-kebiasaaan
buruk atau sikap hidup yang menjadi sumber timbulnya masalah.
e. Dapat mengambil keputusan dengan bijaksana serta dapat
pertanggungjawabkannnya.
f. Memahami dan mengarahkan diri dalam bertindak serta bersikap sesuai
dengan tuntutan dan keadaan lingkungannya.
3. Fungsi Bimbingan Pribadi Sosial
a. Membantu individu bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya.
b. Membantu individu memahami dirinya sendiri yaitu menyadari kelebihan
dan kelemahan yang dimilikinya.
c. Belajar berkomunikasi yang lebih sehat dan baik dengan lingkungannya.
d. Melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu dapat bertahan.
dengan keadaan masa kini, dapat menerima keadaan dengan lapang dada,
dan mengatur kembali kehidupannya dengan kondisi yang baru.
2. Aspek-aspek Bimbingan Pribadi Sosial
Menurut Surya dan Winkel (dalam Tohirin, 2007 : 123), aspek-aspek persoalan individu yang membutuhkan layanan bimbingan pribadi sosial adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan individu memahami dirinya sendiri.
b. Kemampuan individu mengambil keputusan.
c. Kemampuan individu memecahkan masalah yang menyangkut keadaan
batinnya sendiri.
d. Kemampuan individu melakukan sosialisasi dengan lingkungannya.
e. Kemampuan individu melakukan adaptasi.
f. Kemampuan individu melakukan hubungan sosial (interaksi sosial)
3. Efektifitas Layanan Bimbingan Pribadi Sosial dalam Meningkatkan
Kepercayaan Diri.
Setiap siswa mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, maka dalam proses belajar mengajarnya pasti berbeda antara siswa yang satu
dengan siswa yang lainnya, dengan adanya perbedaan tersebut maka akan menimbulkan permasalahan. Permasalahan itu bisa berasal dari keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat.
Melalui layanan bimbingan pribadi sosial adalah jenis bimbingan yang bertujuan membantu individu dalam menyelesaikan masalah-masalah
pribadi sosial (Nurhisan, 2006: 16). Mengingat masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, maka remaja sering mengalami kurang percaya diri. Melalui layanan bimbingan pribadi sosial para remaja
dibantu untuk menyelesaikan permasalahannya yang berkaitan dengan masalah pribadi sosialnya. Sehingga pada usia remaja, perlu adanya
penanganan sejak dini, sehingga dapat melakukan pencegahan dan perbaikan agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan. Dalam hal ini yang sangat berperan aktif adalah guru, karena sebagian besar waktu para siswa
dihabiskan di sekolah. Maka dari itu guru memberikan layanan bimbingan pribadi sosial untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa.
C. Hakikat Outbound
1. Pengertian Outbound
walaupun ada juga yang dmanfaatkan sebagai sarana pendidikan untuk membina watak dan kepribadian sekaligus wahana pelatihan untuk
meningkatkan ketrampilan dan kemampuan
Outwardbound (2009) menegaskan bahwa kegiatan outbound adalah
sebuah petualangan yang berisi tantangan, bertemu dengan sesuatu yang tidak diketahui tetapi penting untuk dipelajari, belajar tentang diri sendiri, tentang
orang lain. Melalui outbound seseorang bisa mendapatkan pengetahuan,
ketrampilan dan nilai-nilainya langsung dari pengalaman lapangan (learning
by doing). Kegiatan tersebut diharapkan bisa memunculkan sikap saling
mendukung, komitmen, rasa puas, dan memikirkan masa yang akan datang.
Oleh karena itu menurut Outwardbound (2009). Outbound dapat digunakan
sebagai sarana pembelajaran . Outbound sejauh ini dapat dianggap sebuah
simulasi dari kehidupan yang sesungguhnya yang sangat komplek, kehidupan itu disimulasikan sehingga anak bisa mempelajari miniatur kehidupan dengan
segala permasalahannya. Selain itu melalui outbound, orang bisa belajar
melalui pengalaman (experiential learning). Pembelajaran melalui kegiatan
outbound cocok bagi remaja karena mengandung banyak hiburan yang membuat mereka bergembira dan berbagai tantangan yang ada membuat mereka bisa belajar mengatasinya.
2. Tujuan Outbound
Menurut Hamid Bahari (2010) untuk para siswa selaku remaja
mengikuti kegiatan outbound pada dasarnya bertujuan untuk
mereka mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang ideal baik untuk masa depan maupun kehidupan sehari-hari sekarang. Secara lebih
spesifik, outbound dilakukan untuk tujuan sebagai berikut :
a. Membuka wawasan baru dalam berinteraksi dengan linkungan sosial
serta bekerjasama dengan orang lain.
b. Memberikan pengalaman untuk mandiri dan menyelesaikan masalah.
c. Meningkatkan kemampuan ,kreatif dalam menyelesaikan masalah.
d. Belajar untuk berkomunikasi secara efektif.
e. Meningkatkan kepercayaan diri.
3. Jenis-jenis Outbound
Menurut Hamid Bahari (2010) terdapat bermacam-macam permainan dalam
outbound dan tujuan outbound serta prosedurnya dalam bermain outbound
diantaranya adalah:
1) Trust Fall
Tujuannya:
a. Menumbuhkan rasa percaya diri pada peserta.
b. Menumbuhkan rasa percaya pada teman.
c. Menumbuhkan tanggung jawab.
d. Melatih kerjasama kelompok.
e. Menumbuhkan keberanian untuk mengambil resiko.
Prosedurnya :
a) Salah seorang peserta diminta untuk berdiri dan membelakangi peserta
b) Peserta lainya berada dibelakang lalu kedua tangan berada dibelakang punggung peserta yang ada didepannya dan dikasih jarak 15 cm.
c) Kemudian peserta yang berada didepan disuuh untuk menjatuhkan diri
dan peserta yang belakang berusaha menahan dari belakang.
2). Human Ladder Tujuan:
a. Menumbuhkan rasa percaya diri pada peserta.
b. Menumbuhkan tanggung jawab dalam diri peserta
c. Melatih kegigihan dalam mencapai tujuan.
d. Membuat peserta menjadi aktif.
Prosedurnya :
a) Peserta berdiri sejajar dan berpasangan berhadap-hadapan.
b) Setiap pasangan memegang kayu sehingga terlihat seperti anak tangga.
c) Ketinggian kayu yang dipegang bisa bervariasi sesuai dengan keinginan masing-masing pasangan.
d) Salah satu peserta yang tidak ikut memegang kayu diminta untuk
menaiki anak tangga tersebut.
e) Pasangan yang sudah dilewati berpindah kedepan untuk membuat anak
tangga berikutnya.
3). Almost Infinite Circle
Tujuannya :
a. Melatih kemampuan peserta untuk menyelesaikan masalah
b. Melatih kesabaran peserta dalam mengerjakan sesuatu.
c. Melatih kepercayaan diri.
d. Menumbuhkan rasa saling pengertian
e. Mengetahui kekurangan dan kelebihan orang lain.
Prosedurnya :
a) Seluruh peserta diminta untuk berpasangan berpasangan berdua.
b) Setiap orang mengikatkan tali raffia dipergelangan tangannya
dengan saling menyilang dengan pasangannya.
c) Setiap orang diharuskan untuk melepaskan tali yang terikat dengan
tali pasanganya.
d) Tidak boleh memotong tali.
e) Tidak boleh membuka simpul yang mengikat kepergelangan tangan.
4). Estafet karet Tujuan:
a. Melatih keberanian kepercayaan diri.
b. Melatih kerjasama.
c. Meningkatkan komunikasi antar anggota peserta.
Prosedurnya :
a) Peserta disuruh membentuk 2 kelompok dengan jumlah 13 dan 13.
Satu orang untuk menjadi juri.
b) Setelah itu disuruh membentuk barisan selang-seling cewek cowok
cewek cowok dan seterusnya.
c) Lalu peserta disuruh menggigit selang sedotan yang sudah disediakan
d) Setelah itu peserta disuruh memindahkan karet gelang dari ujung kiri
sampai ujung kanan menggunakan sedotan diestafetkan.
4. Manfaat Outbound
Menurut Hamid Bahari (2010) manfaat outbound memberikan masukan
yang positif dalam perkembangan kedewasaan seseorang. Kedewasaan itu terbentuk mulai dari pembentukan kelompok, bagaimana cara bekerja sama.
Bersama-sama dilatih mengambil keputusan termasuk siap menerima segala konsekuensinya. Setiap kelompok akan dilatih untuk tanggung jawab dan siap
menerima segala tantangan.
Tujuan utama kegiatan outbound adalah melatih para peserta untuk
mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, membentuk sikap
professionalisme dan tercapainya kinerja yang diidealkan. Sikap dan perilaku
profesionalisme yang bisa terbentuk outbound meliputi :
1). Terbentuknya suatu komitmen yang utuh dari setiap peserta melalui 4C, yaitu :
a) Peningkatan kompetensi (competency).
c) Terjadinya hubungan ( connection ) yang semakin erat antara peserta.
d) Munculnya keyakinan akan kepercayaan (confidence) diri akan
kemampuan masing-masing pesera yang akan berpengaruh dalam
membangun rasa memiliki 2). Pola perilaku yang berkarakter
Melalui pelatihan dalam outbound akan semakin disiplin,
bertanggung jawab, berorientasi ke masa depan, mengutamakan tugas pengabdian, memiliki sikap, etika dan etos kerja yang tinggi.
3). Meningkatkan semangat kerja dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing, serta meningkatkan keberanian peserta dalam
mengambil setiap resiko (risk taking) dari setiap tantangan yang
dihadapi.
4.) Team building yang solid
Melalui pelatian dalam outbound akan terbangun saling
pengertian, kerja sama, koordinasi, menghargai perbedaan, dengan
demikian akan terbangun team yang solid.
5). Peningkatan kematangan Emotional Question (EQ)
Melalui program Olahrasa yang menjadi porsi perhatian
outbound akan membantu peserta semakin matang dalam Emotional Question (EQ) bahkan Spiritual Quotion (SQ) sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam setiap
5. Hasil Penelitian Sebelumnya
Berdasarkan penelusuran kepustakaan, penulis menemukan beberapa
penelitian yang hampir sama dengan penelitian yang akan penulis lakukan, diantaranya adalah :
a. Penelitian Ristin Rahmawati (2010) yang berjudul Upaya Peningkatan
Kepercayaan Diri Siswa Melalui Layanan Bimbingan Pribadi Sosial Klasikal dengan menggunakan media Permainan Titian Balok. Subjek
dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Surwohdukuh yang berjumlah 21 siswa yang terdiri 14 siswa laki-laki dan 7 siswa
perempuan. Metode yang digunakan untuk membantu para siswa tersebut adalah dengan media permainan titian balok dan metode bimbingan pribadi sosial klasikal. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada
perbedaan pres-test dan post-test, dimana terdapat peningkatan sekor itemdan skor subyek pada setiap siklusnya. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat adanya peningkatan kepercayaan diri secara signifikan pada siswa kelas III SD Surwohdukuh setelah mengikuti layanan bimbingan pribadi sosial klasikal dengan menggunakan media permaianan titian
balok.
b. Penelitian Yusika Dwi Martafani (2010) yang berjudul Upaya
Peningkatan Percaya Diri Melalui Layanan Bimbingan Kelompok
Berbasis Aktivitas Outbound. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa
kelas VIII A SMP Kalasan Yogyakarta yang berjumlah 25 siswa yang
untuk membantu para siswa tersebut adalah dengan media permainan
aktivitas berbasis aktivitas outbound dan metode bimbingan kelompok.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada perbedaan pres-test dan post-test, dimana terdapat peningkatan sekor item dan skor subyek pada setiap
siklusnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat adanya peningkatan kepercayaan diri secara signifikan pada siswa kelas VIII A SMP Kalasan Yogyakarta setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok melalui
bimbingan kelompok berbasis outbound.
D. Kerangka Berpikir
Kepercayaan diri pada setiap orang, termasuk pada siswa remaja, sesungguhnya tidak mutlak dalam kondisi benar antara positif dan negatif. Ada remaja yang sangat menonjol sisi positifnya, tetapi masih lebih banyak
lagi yang sisi negatifnya yang menonjol. Tetapi mengingat kepercayaan diri sangat berperan penting sebagai pengarah dan penentu perilaku, maka yang
harus diupayakan adalah bagaimana meningkatkan kepercayaan diri yang positif dalam diri siswa.
Dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri pada siswa SMP kelas VII
digunakan Layanan bimbingan pribadi sosial. Efektif tidaknya layanan bimbingan pribadi sosial dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa, sangat
tergantung bagaimana layanan tersebut dikemas. Kalau dilakukan secara klasikal sering kurang efektif karena siswa merasa bosan dan jenuh. Oleh karena itu, melalui penelitian ini mencoba pendekatan lain yang diharapkan
outbound diharapkan siswa lebih bersemangat dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi sosial, sehingga diharapkan dapat meningkatkan
kepercayaan diri siswa.
Berdasarkan paparan di atas, maka kerangka berpikir ini dapat
[image:56.595.92.560.162.578.2]digambarkan seperti di bawah ini :
Gambar 2.1. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir tersebut memperlihatkan bahwa pada awalnya siswa mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Kemudian pada rentang waktu
tertentu peneliti memberikan tindakan pada siklus 1 dan 2 dengan
menerapkan outbound melalui bimbingan pribadi sosial yang bertujuan untuk
meningkatkan kepercayaan diri pada siswa kelas VIIA. Setelah diberikan
tindakan diduga bahwa tingkat kepercayaan diri siswa kelas VIIA meningkat.
Kondisi awal
a. Guru dalam memberikan layanan
bimbingan pribadi sosial pada siswa masih menggunakan ceramah dan sharing, dan selalu dilakukan dilingkup kelas / sekolah.
b. Banyak siswa kelas VIIA yang
kurang aktif dan mempunyai kepercayaan diri rendah.
Siswa : tingkat kepercayaan diri siswa kelas VIIA masih rendah.
Peneliti memberikan bimbingan pribadi sosial berbasis outbound.
Siklus II:
Menerapkan outbound
dalam memberikan bimbingan pribadi sosial dan perbaikan pada siklus I Kondisi Akhir Tindakan Siklus I: Memberikan bimbingan pribadi
sosial dengan outbound
Diduga melalui penggunaan outbound
E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir maka diajukan hipotesis
tindakan sebagai berikut :
Ha : Tingkat kepercayaan diri siswa SMP kelas VIIA dapat ditingkatkan
melalui bimbingan pribadi sosial berbasis outbound di SMP Negeri 4
Pandak.
Ho : Tingkat kepercayaan diri siswa SMP kelas VIIA tidak dapat
ditingkatkan melalui bimbingan pribadi sosial berbasis outbound di
34 BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini berisi jenis penelitian, subyek dan obyek penelitian, waktu dan
tempat penelitian, setting penelitian, prosedur penelitian, tahapan penelitian,
teknik pengumpulan data, instrument pengumpulan data, teknik analisis data, dan
indikator keberhasilan.
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan bimbingan kelas. Penelitian
tindakan bimbingan kelas pada dasarnya mengikuti prosedur penelitian
tindakan kelas, dengan fokus penelitian dalam bimbingan dan konseling.
Menurut Arikunto (2009:3), Penelitian tindakan kelas atau Classroom
Action Research (CAR) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan
belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi
dalam sebuah kelas secara bersama.
Dede Rahmat dan Badrujaman (2011) menjelaskan penelitian tindakan
merupakan salah satu strategi yang memanfaatkan tindakan nyata dan
proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan
masalah, dengan adanya suatu putaran kegiatan yang terdiri dari
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpilkan bahwa penelitian tindakan
bimbingan dan konseling adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk
mempelajari suatu masalah, mencari solusi, dan memberikan perbaikan
dengan melakukan perencanaan, melakukan tindakan, melakukan
pengamatan, dan melakukan refleksi, sehingga dapat menghasilkan proses
pengembangan dalam bidang bimbingan dan konseling dalam sekolah
tersebut. Dalam penelitian ini akan diteliti tindakan bimbingan kelas
dengan judul “Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMP Melalui
Layanan Bimbingan Pribadi Sosial Berbasis Outbound (Penelitian
Tindakan Bimbingan Konseling Siswa Kelas VII SMP N 4 Pandak di
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta).
B. Subyek Penelitian dan Objek Penelitian
Subyek penelitian merupakan subyek yang diteliti atau sasaran penelitian
(Arikunto, 2006). Pada penelitian ini subyek penelitiannya adalah para
siswa kelas VIIA SMP N 4 Pandak, Bantul tahun ajaran 2014/2015. Terdiri
atas 27 siswa (14 laki-laki dan 13 perempuan). Objek penelitian ini adalah
meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui layanan bimbingan pribadi
C. Waktu dan Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada jam bimbingan klasikal yaitu pada
saat jam bimbingan konseling ataupun mengganti jam pelajaran yang
kosong. Penelitian ini dilaksanakan satu kali setiap minggunya yaitu pada
hari yang telah dijadwalkan oleh sekolah. Pelaksanaan penelitian dilakukan
pada bulan Oktober 2014 dan dilaksanakan di ruang kelas VIIA ataupun di
lapangan belakang SMP N 4 Pandak, Bantul yang beralamatkan di Desa
Ngaran, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul.
D. Setting Penelitian
Penelitian ini menggunakan setting di dalam kelas ataupun di luar kelas.
Data diperoleh pada saat proses bimbingan tersebut dilaksanakan
E. Partisipan dalam Penelitian
Pada pelaksanaan penelitian, peneliti dibantu oleh mitra kolaboratif yang
terdiri atas :
1. Mitra kolaboratif 1
Nama : Dra.Maryam
NIP :195804141984032003
2. Mitra kolaboratif 2
Nama : Sumaryanti, SP.d
NIP : 196601161997022003
Jabatan : Guru BK
3. Mitra kolaboratif 3
Nama : Titien Suwartini, SP.d.
NIP : 195809301980032003
Jabatan : Guru BK
F. Peran dan Posisi Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pihak luar yang sedang
mengadakan penelitian dan ingin memberikan kontribusi dalam konteks
layanan bimbingan pribadi sosial di kelas VIIA SMP N 4 Pandak. Oleh
sebab itu, terlebih dahulu peneliti membicarakan peran dan tugas
masing-masing dengan mitra kolaboratif. Berdasarkan hal tersebut, maka ditetapkan
kesepakatan sebagai berikut :
1. Pelaksana tindakan
Dalam hal ini, disepakati bahwa peneliti sendiri yang menjadi
2. Kolaborator
Kolaborator berperan sebagai pihak yang membantu peneliti
mengumpulkan data dan merencanakan tindakan perbaikan
untuk setiap pertemuan yang akan diadakan. Pekerjaan inti
kolaborator ketika pelaksanaan tindakan adalah sebagai observer
proses.
Kolaborator yang dilibatkan adalah kepala sekolah sebagai
pihak yang memahami kondisi siswa. Selain itu, kolaborator
yang juga dilibatkan adalah guru BK di sekolah yang bertugas
sebagai pengumpul data untuk meningkatkan keobjektifan dan
tafsiran yang dilakukan atas data yang terkumpul. Berikut adalah
[image:62.595.104.513.218.737.2]tugas dan peran antara peneliti dan kolaborator Tabel 3.1
Tugas Peneliti & Kolaborator
No Peran Deskripsi Tugas
1 Peneliti a. Membuat desain penelitian dan rencana
perbaikan
b. Merancang Instrumen pengungkapan
data
c. Mengumpulkan data awal sebagai dasar
penelitian
d. Pelaksana layanan bimbingan pribadi
sosial dengan berbasis outbound.
e. Mengamati proses tindakan
2. Kolaborator a. Bersama peneliti membuat disain penelitian dan
rencana perbaikan
b. Mengamati dan berbagi informasi hasil
observasi
c. Bersama peneliti mendiskusikan hasil
G. Prosedur Penelitian
Menurut model Hopkins (1993) PTK mencakup empat langkah utama
setelah adanya identifikasi masalah. Keempat langkah utama tersebut, yaitu:
1) perencanaan (planning), 2) tindakan (acting), 3) pengamatan (observing),
4) refleksi (reflecting). Keempat langkah tersebut bersifat spiral dan
dipandang sebagai satu siklus (Wiriatmadja, 2005). Keempat langkah
[image:63.595.101.502.232.592.2]tersebut tergambar di bawah ini:
Gambar 3.1
Bagan Penelitian Tindakan Model Hopkins (1993 dalam Sanjaya, 2009)
Bagan PTK di atas dapat diartikan bahwa setiap tahapan penelitian
wajib dilakukan agar memperoleh hasil yang sesuai dengan kriteria
keberhasilan PTK itu sendiri. Berdasarkan bagan PTK dapat diketahui
identifikasi masalah dilakukan peneliti dengan melakukan wawancara,
FGD (Focus Group Discussion) dan observasi. Tujuannya untuk
menemukan dan merumuskan akar masalah agar mempermudah peneliti
membuat perencanaan. Tahap perencanaan ini digunakan sebagai acuan
pemberian tindakan bimbingan.
Tahap tindakan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah
disusun. Pada tahap ini peneliti memberikan tindakan kepada siswa sesuai
dengan pokok permasalahan yang diteliti. Pada pelaksanaan tahapan ini
peneliti tetap melakukan observasi, wawancara dan membagikan angket
untuk mengetahui hasil yang dicapai melalui tindakan yang diberikan. Pada
tahapan ini peneliti akan melihat kesesuaian proses dengan pelaksanaan
dan membuat refleksi atas setiap siklusnya.
Tahap terakhir yang dilakukan adalah membuat refleksi. Hal ini
dilakukan setelah tindakan. Refleksi ini berisi renungan dari peneliti dan
juga hasil yang diperoleh melalui observasi dan angket. Pada t