• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA."

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA

TESIS

Diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar

Magister Pendidikan Program Studi Pengembangan Kurikulum

Oleh:

ASEP GOJWAN NIM: 019474

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

PROGRAM PASCASARJANA

(2)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING

Pembimbing I,

^of. Dr. H. Oemar Hamalik

NIP. 130188263

Pembimbing II,

// /

'//! I

Dr. H. Mukhidin, M.Pd.

NIP. 130809446

Mengetahui:

Ketua Program Studi Pengembangan Kurikulum,

Prof. Dr. H.R. Ibrahim, MA.

(3)

ABSTRAK

Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif pada Mata Pelajaran Pendidikan

Agama Islam di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk membentuk perilaku dan kepribadian individu sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep Islam dalam mewujudkan nilai-nilai

moral dan agama sebagai landasan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Akan tetapi, dalam realisasinya di lapangan menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, baik dalam

proses maupun hasil pembelajaran siswa. Ada beberapa hal yang menjadi kendala, di

antaranya: (1) rendahnya motivasi belajar siswa pada pembelajaran PAI; (2) materi pembelajaran PAI masih berorientasi pada kemampuan kognitif dan kurang dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik); (3) terbatasnya sikap dan pemahaman guru agama dalam pengembangan pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa {student centered), sehingga pembelajaran masih berjalan secara

konvensional; dan (4) terbatasnya sarana dan prasarana penunjang belajar. Oleh karena

itu perlu dikembangkan sebuah model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, kreatif, demokratis, kolaboratif dan konstruktif, salah satunya

dengan pengembangan model pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil,

mempelajari materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif. Model

pembelajaran ini menganut prinsip saling ketergantungan, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses secara kelompok.

Dengan menggunakan metode Research and Development di kelas 2 pada 3

SLTP di Kabupaten Bandung, pengembangan model pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran Pendididikan Agama Islam memfokuskan pada masalah pengembangan model dengan menggunakan 5 domain bidang teknologi pembelajaran yang mencakup

desain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan evaluasi untuk melihat

keberhasilan penerapan model dan meningkatkan kemampuan siswa dalam proses dan hasil belajar baik secara individual maupun kelompok.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara sebelum dan sesudah

penerapan model pembelajaran kooperatif, menunjukkan hasil belajar yang signifikan, dimana rata-rata prestasi belajar sesudah penerapan pembelajaran kooperatif lebih besar dari nilai sebelumnya. Hal ini didukung pula oleh peningkatan aktivitas dalam proses

pembelajaran, siswa lebih bermotivasi dan memiliki keberanian dalam mengungkapkan

pendapat, pertanyaan dan koreksi, tumbuhnya sikap kritis, kolaboratif, demokratis dan

inovatif dalam menyikapi persoalan yang dihadapi pada saat pembelajaran. Di lain pihak, kreativitas dan performansi guru menunjukkan perbaikan yang berarti baik dalam

menyusun perencanaan, penggunaan teknologi pembelajaran, pelaksanaan maupun

pengembangan sistem evaluasi yang dilakukan. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan salah satu alternatif pendekatan yang cocok untuk

(4)

DAFTARISI

Halaman

PERNYATAAN

ABSTRAK

KATA PENGANTAR i

UCAPANTERIMAKASIH iii

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR/BAGAN x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Rumusan dan Pembatasan Masalah 8

C. Definisi Operasional 10

D. Pertanyaan Penelitian 12

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 13

BAB n KAJIAN TEORITIS

A. Konsep Kurikulum 15

B. Konsep Pembelajaran 17

C. Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran 19

D. Teknologi Pembelajaran 22

E. Model Pembelajaran Kooperatif 27

F. Pendidikan Agama Islam 40

G. Beberapa Penelitian Terdahulu 48

BAB HI METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian 50

(5)

B. Langkah-langkah Pengembangan Model 51

C. Lokasi dan Subyek Penelitian 60

D. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data 61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian 64

B. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Pada Mata

Pelajaran PAI 73

C. Hasil Uji Coba Terbatas 81

D. Hasil Uji Coba Lebih Luas 104

E. Pandangan Siswa dan Guru terhadap Pembelajaran

Kooperatif 154

F. Pembahasan Hasil Penelitian 159

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan 167

B. Rekomendasi 169

DAFTAR PUSTAKA 172

LAMPIRAN-LAMPIRAN 176

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif 34

2.2 Pemberian Skor Perkembangan Individu 39

3.1 Pemberian Skor Perkembangan Individu 58

4.1 Distribusi Jumlah Responden Guru dan Siswa 66

4.2 Jumlah Siswa Kelas II SLTPN 2 Cililin, SLTP Darul Falah dan

SLTP Ummul Quro 68

4.3 Hasil Pretes dan Postes secara Individual SLTPN 2 Cililin ... 96

4.4 Korelasi Pretes dan Postes Individu 97

4.5 Hasil Pretes dan Postes secara Kelompok SLTPN 2 Cililin 98

4.6 Korelasi Pretes dan Postes Individu 99

4.7 Hasil Pretes dan Postes secara Individual SLTP Darul Falah... 115

4.8 Korelasi Pretes dan Postes Individu 116

4.9 Hasil Pretes dan Postes secara Kelompok SLTP Darul Falah... 117

4.10 Korelasi Pretes dan Postes Kelompok 118

4.11 Hasil Pretes dan Postes secara Individual SLTP Ummul Quro 119

4.12 Korelasi Pretes dan Postes Individual 119

4.13 Hasil Pretes dan Postes Secara Kelompok SLTP Ummul Quro 120

4.14 Korelasi Pretes dan Postes Kelompok 121

4.15 Hasil Pretes dan Postes secara Individual SLTP Darul Falah... 143

4.16 Korelasi Pretes dan Postes Individu 144

4.17 Hasil Pretes dan Postes secara Kelompok SLTP Darul Falah 145

4.18 Korelasi Pretes dan Postes Kelompok 146

4.19 Hasil Pretes dan postes Secara Individual SLTP Ummul Quro 147

4.20 Korelasi Pretes dan Postes Individual 148

4.21 Hasil Pretes dan Postes secara Kelompok SLTP Ummul Quro 149

(7)

4.22 Korelasi Pretes dan Postes Kelompok 150

4.23 Pandangan Siswa tentang Pembelajaran Kooperatif 155

4.24 Pandangan Guru tentang Pembelajaran Kooperatif 157

4.25 Desain Model Pembelajaran Kooperatif pada Mata Pelajaran

PAI di SLTP 166

(8)

DAFTAR GAMBAR/BAGAN

Gambar Halaman

2.1 Model Keterkaitan antara Kurikulum dan Pembelajaran 20

2.2 Kontinum Kurikulum dan Pengajaran 22

2.3 Domain Teknologi Pembelajaran 24

2.4 Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif 30

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia

Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya

dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedoman. Salah satu asas yang

harus dipegang teguh dalam pembangunan sejak dari perencanaan sampai

kepada pelaksanaannya adalah asas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan

Yang Maha Esa. Hal ini berarti bahwa setiap usaha dan kegiatan pembangunan

harus dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan

sebagai nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral dan etik

pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Pembangunan pendidikan diarahkan untuk meningkatkan harkat dan

martabat manusia serta kualitas sumber daya manusia dalam wujud manusia

yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan

keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mantap dan mandiri

serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan sebagaimana dinyatakan

dalam tujuan pendidikan nasional.

Keberhasilan pendidikan bukan hanya tugas pemerintah melainkan

merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga dan

masyarakat. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Undang-Undang No. 2 tahun

(10)

dasarnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,

masyarakat dan pemerintah". Oleh karena itu pihak keluarga dan masyarakat

harus pro aktif mendukung program-program yang dilaksanakan di sekolah

khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Pendidikan agama Islam bertujuan untuk membentuk perilaku dan

kepribadian individu sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep Islam dalam

mewujudkan nilai-nilai moral dan agama sebagai landasan pencapaian tujuan

pendidikan nasional. Untuk mencapai tujuan pendidikan, ada dua sasaran

pokok yang harus diperhatikan, sebagaimana menurut Al Ghazaly (dalam

Sulaiman (1993:21), yaitu: 1) aspek-aspek ilmu pengetahuan yang harus

disampaikan kepada murid dan dipelajari murid, 2) metode yang relevan untuk

menyampaikan materi pelajaran sehingga dapat memberikan faedah yang

besar tentang penggunaan metode tersebut.

Di lain pihak, kenyataan di sekolah secara praktis menunjukkan bahwa

pendidikan agama Islam di sekolah dewasa ini belum mampu mencapai

cita-cita ideal yang digariskan pada tujuan pendidikan nasional. Materi PAI masih

dominan menekankan pada aspek ingatan/pengetahuan, sedangkan hal yang

tidak kalah penting yaitu aspek pengamalan dan pembiasaan kegiatan

keagamaan belum optimal. Hasil penelitian Jamari (1994:4), menyatakan

bahwa antara hasil belajar yang diraih peserta didik dalam pelajaran agama,

PMP, dan bidang studi lainnya tidak sesuai dengan perilaku peserta didik

(11)

Ada tiga substansi dasar dalam PAI menurut Kurikulum 1994, yaitu

pengajaran, bimbingan dan latihan. Ketiga substansi tersebut harus

diimplementasikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Akan tetapi dalam

realisasinya di lapangan, pelaksanaan kurikulum PAI ditemukan berbagai

kendala, di antaranya: (1) waktu yang disediakan hanya dua jam pelajaran

dengan muatan materi yang begitu padat dan penting; (2) materi pendidikan

agama Islam, termasuk bahan ajar akhlaq, lebih berfokus pada pengayaan

pengetahuan (kognitif) dan kurang dalam pembentukan sikap (afektif) serta

pembiasaan dalam membentuk keterampilan (psikomotorik); (3) terbatasnya

pemahaman guru agama dalam pengembangan pendekatan dan metode

pembelajaran yang lebih variatif; (4) kurangnya berbagai kegiatan pelatihan

dan pengembangan guru; (5) terbatasnya sarana dan prasarana penunjang

belajar; (6) belum optimalnya kerjasama sekolah dengan lingkungan keluarga

(orang tua siswa); dan (7) rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran

PAI, dengan alasan mata pelajaran ini tidak ada dalam Ujian Akhir Nasional

(UAN). Akibatnya, proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI

belum sesuai dengan tujuan kurikuler, yaitu siswa memahami, menghayati,

dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi muslim yang beriman,

bertaqwa kepada Allah SWT., dan berakhlaq mulia.

Kondisi tersebut dipandang sebagai wujud kelemahan tentang

pelaksanaan proses pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah dewasa ini.

Padahal kedudukan mata pelajaran PAI saat ini sangat strategis dalam

(12)

Azra (1999:57), "bahwa kedudukan pendidikan mata pelajaran Pendidikan

Islam (Pendidikan agama Islam) dalam berbagai tingkatannya, mempunyai

kedudukan yang penting dalam Sistem Pendidikan Nasional untuk

mewujudkan siswa yang beriman dan bertaqwa serta berakhlaq mulia". Hal ini

mengandung pengertian bahwa mata pelajaran PAI harus betul-betul menjadi

salah satu pokok perhatian dalam upaya mengoptimalkan pencapaian tujuan

pendidikam nasional. Oleh karena itu, untuk menyikapi hal tersebut perlu

dilakukan inovasi dalam pembelajaran sebagai respons terhadap gejala

melemahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran khususnya pada mata

pelajaran PAI.

Ada empat unsur pokok yang menjadi prioritas dalam pembelajaran

Pai, yaitu keimanan, ibadah, Alqur'an dan Assunah, akhlaq, dan tarikh.

Berdasarkan empat usur pokok itu, secara spesifik dijabarkan ke dalam

beberapa tujuan sebagai berikut:

1) Siswa beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab, rasul, hari

kiamat, dan qadha-qadar dengan mengetahui maknanya;

2) Siswa mampu membaca dan menulis ayat Al Qur'an serta mengetahui

hukum bacaan dan maknanya;

3) Siswa memahami ketentuan hukum Islam tentang ibadah dan mu'amalah

serta terbiasa mengamalkannya;

4) Siswa terbiasa berperilaku dengan sifat-sifat terpuji, menghindari sifat-sifat

(13)

5) Siswa memahami dan mampu mengambil manfaat dan hikmah

perkembangan Islam fase Makkah, Madinah, dan Khulafaur Rasyidin serta

mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam pendidikan Islam, ada beberapa metode pembelajaran yang

dapat diterapkan. An-Nahlawi (1992:283-284), mengemukakan bahwa metode

untuk menanamkan keimanan dan ketaqwaan adalah sebagai berikut: "(a)

metode hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi, (b) metode kisah Qurani dan

Nabawi, (c) metode amtsal (perumpamaan) Qurani dan Nabawi, (d) metode

keteladanan, (e) metode pembiasaan diri dan pengamalan, (f) metode ibrah

(pelajaran) dan mauidhah (peringatan), dan (g) metode targhib (membuat

senang) dan tarhib (membuat takut)".

Penerapan model pembelajaran yang dibutuhkan sekarang harus

mampu membekali siswa dengan beberapa jenis kecerdasan. Menurut

Goleman (dalam Mastuhu, 2003:44), "Banyak hal atau kejadian yang secara

logika benar, tetapi perasaan menyatakan bahwa hal itu tidak benar, karena

itulah seringkali diperlukan keahlian kecerdasan akal didampingi kecerdasan

emosi (Thought and feeling are inextricably woven together)". Aspek-aspek

kecerdasan itu antara lain: Kecerdasan akal, kecerdasan emosi, kecerdasan

spiritual, dan kecerdasan sosial.

Kecerdasan akal (IQ), dimana siswa dituntut untuk mengetahui sesuatu

secara sistematis dan logis. Kecerdasan emosi (EQ), yang berakar dalam hati

nurani yang amat mendalam dan kesadaran diri. Kecerdasan emosi akan

(14)

mengambil keputusan dalam kehidupan bersama, penilaian diri, yang akan

mengantarkan peserta didik memiliki kemampuan belajardari pengalaman dan

percaya diri, yang akan mengantar peserta didik memiliki kemampuan dan

keberanian menyatakan kebenaran. Menurut Goleman (dalam Mastuhu,

2003:44), "Kecerdasan emosi ini merupakan 'the inner rudder', kekuatan dari

dalam, sifatnya alami, dan dapat berkembang dengan kuat melalui berbagai

akumulasi pengalaman yang panjang dan beragam.

Kecerdasan spiritual atau kecerdasan agama menurut Goleman (dalam

Mastuhu, 2003:44), adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan dan

aktivitas yang terinspirasi oleh theisness atau penghayatan ketuhanan yang di

dalamnya kita semua memilikinya, yang harus kita temukan. Lebih tegas,

Marsha Sinetar (dalam Mastuhu, 2003:44), menyatakan bahwa, "ia bagaikan

'intan' yang harus terus menerus harus kita asah" .

Peranan guru menjadi faktor yang menentukan dalam pencapaian

tujuan pendidikan. Sudjana (1998:1), mengatakan bahwa: "Ada tiga variabel

utama yang saling berkaitandalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Ketiga variable tersebut adalah kurikulum, guru dan pengajaran atau proses

belajar dan mengajar". Guru menempati kedudukan sentral, sebab peranannya

sangat menentukan. Ia harus mampu menterjemahkan dan menjabarkan

nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum, kemudian mentranformasikan nilai-nilai-nilai-nilai

tersebut kepada siswa melalui proses pengajaran di sekolah. Kualitas

(15)

sikap guru yang kreatifuntuk memilih dan melaksanakan berbagai pendekatan

dan model pembelajaran.

Dalam upaya mengembangkan kurikulum, khususnya kurikulum mata

pelajaran PAI, para guru tidak lagi hanya menekankan pada aspek kognitif

atau intelektualnya saja, karena yang lebih penting adalah bagaimana melalui

proses pembelajaran itu dapat menciptakan suasana keagamaan untuk

menanamkan nilai-nilai keimanan, ibadah dan akhlaqul karimah pada diri

siswa untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, guru

tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, melainkan siswa

dapat mencari dan menemukan sendiri apa yang dipelajarinya, atau bisa juga

mendapatkannya dari siswa yang lain melalui kegiatan belajar bersama.

Menurut Slavin, (1995:9), "Para guru mendorong para siswa untuk

bekerjasama dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperi diskusi atau tutor sebaya.

Hal ini dilakukan didasarkan pada keyakinan bahwa siswa akan lebih baik bila

mengajar atau diajar oleh siswa yang lain".

Hal ini sudah saatnya dilaksanakan oleh guru dalam proses

pembelajaran, dengan pertimbangan bahwa kurikulum bersifat fleksibel untuk

menyesuaikan dengan tuntutan dan karakteristik bahan ajar dan karakteristik

siswa dalam lingkungan belajar. Menurut Hamalik (2001:31), "Kurikulum

yang luwes mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan

tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuansetempat,jadi tidak statis dan

kaku. Lebih lanjut, Sukmadinata (2000:151) menyatakan, "Suatu kurikulum

(16)

pelaksanaannya memungkinkan terjadinya

penyesuaian-berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar"

anak."

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guru perlu melakukan

perbaikan atas praktek pembelajaran yang dilakukan. Kemampuan dan

ketepatan guru dalam memilih model pembelajaran yang menunjang

pencapaian tujuan kurikulum dan sesuai dengan potensi siswa merupakan

bagian kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Menurut

Sukmadinata (2000:87), tugas guru adalah menciptakan situasi yang permisif

dan mendorong siswa untuk mencari dan mengembangkan pemecahan sendiri.

Dengan menjadikan siswa sebagai subjek belajar, maka paradigma yang

dikembangkan dalam proses pembelajaran adalah terciptanya suasana belajar

yang lebih demokratis, kolaboratif dan konstruktif. Suasana belajar yang

demokratis, kolaboratif dan kontruktif akan menjadikan kelas sebagai

miniatur masyarakat yang dinamis, inovatif dan kreatif serta interaksi multi

arah antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa semakin intens.

Interaksi kelas yang kondusifakan menentukan efektivitas pembelajaran yang

padaakhirnya akan dapat meningkatkan kualitas hasil belajar.

B. Rumusan dan Pembatasan Masalah

Dari deskripsi pada latar belakang masalah, pemilihan model

pembelajaran sangat penting dalam proses belajar mengajar, termasuk proses

(17)

diharapkan tujuan pendidikan dapat tercapai. Tujuan pendidikan merupakan

suatu proses untuk mengubah perilaku{behavior) peserta didik. Perilaku siswa

yang diharapkan dapat berubah mencakup: Pertama, ranah perilaku

pengetahuan; kedua, ranah perilaku sikap; dan ketiga, domain perilaku

keterampilan. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Dahama dan

Bhatnagar (dalam Tampubolon, 2001:668), tujuan pendidikan ".... as the

process of bringing desirable change into behavioral change of human being".

Menurutnya, komponen-komponen perilaku yang harus berubah meliputi:

Knowledge dan ideas, values dan attitudes, norms dan skills, understanding

dan translation, ditambah dengan goals dan confidence.

Kata kunci tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku. Unsur-unsur

perubahan perilaku merujuk kepada apa yang diketahui {knowledge), apa yang

dapat mereka lakukan {skills), apa yang mereka rasakan/pikirkan {attitudes)

dan apa yang mereka kerjakan {action).

Domain kognitif dan afektif sebagaimana yang telah dipaparkan,

apabila dikaitkan dengan teori pembelajaran dari Bloom mengandung

penafsiran bahwa faktor utama yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar

adalah kualitas pembelajaran itu sendiri.

Dengan mengkaitkan teori tersebut, fokus masalah yang akan dikaji

adalah "Bagaimana pengembangan model kooperatif dalam pembelajaran PAI

dapat meningkatkan hasil belajar siswa". Untuk menyamakan persepsi tentang

fokus penelitian ini, selanjutnya dikemukakan batasan masalah penelitian

(18)

1. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif pada pelajarar

dibatasi pada pokok bahasan: (1) Penyakit hati, dengan sub pokok Danasah:

Iri hati, hasud/dengki, buruk sangka, fitnah dan khianat; (2) Iman Kepada

Nabi Muhammad SAW; dan (3) Puasa, dengan sub pokok bahasan: (1)

puasa wajib dan (2) puasa sunat.

2. Pelaksanaan pembelajaran PAI dibatasi pada proses pembelajaran di SLTP

kelas II semester ganjil sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia

berdasarkan kurikulum 1994 suplemen tahun 1999, yaitu 2 jam pelajaran

(2 x 45 menit) per minggu.

3. Hasil belajar siswa yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan

psikomotorik

siswa

yang

mengikuti

pembelajaran

PAI

melalui

pembelajaran kooperatif selama pelaksanaan pengembangan model.

C. Definisi Operasional

Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka operasional penelitian

adalah sebagai berikut:

1.

Pengembangan adalah suatu kegiatan memperluas atau menyempurnakan

sesuatu yang telah ada.

2.

Model pembelajaran mengandung dua maksud, yaitu model mengajar

oleh guru dan model belajar oleh siswa. Suatu model pembelajaran dapat

diartikan sebagai suatu pola yang digunakan oleh guru dan siswa dalam

(19)

11

bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang

melukiskan prosedur pengorganisasian pengalaman belajar secara

sistematis untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai

pedoman dalam melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

3. Pembelajaran kooperatif, merupakan suatu model pembelajaran dimana

siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok secara kolaboratif,

yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok

heterogen (Slavin (1995). Belajar kooperatif menekankan pada kerja

kelompok (siswa belajar bersama, saling membantu). Kerja kelompok

raembuat siswa bersemangat untuk belajar aktif untuk saling

menampilkan diri atau berperan di antara teman-teman sebaya. Model

pembelajaran kooperatif, berpijak pada kaidah kolektivitas untuk

memperoleh saling pemahaman {mutual understanding). Menurut Slavin

(1995:5), ada tiga konsep utama dari pembelajaran kooperatif, yaitu

penghargaan kelompok {team reward), pertanggungjawaban individu

{individual accountability) dan kesempatan yang sama untuk berhasil

{equal opportunitiesfor success).

4. Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam

menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati

hingga mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia dalam mengamalkan

ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Qur'an dan

(20)

12

penggunaan pengalaman, disertai tuntutan untuk menghormati penganut

agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama

dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan

bangsa.(Depdiknas, 2001:8).

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian, lebih lanjut dikembangkan ke dalam

bentuk pertanyaan penelitian sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian.

Rincian pertanyaan penelitian dikemukakan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran PAI di SLTP yang berlangsung saat

ini?

2. Bagaimana desain model pembelajaran kooperatif yang cocok untuk mata

pelajaran PAI di SLTP?

3. Bagaimana implementasi model pembelajaran kooperatif pada

pembelajaran PAI di SLTP?

4. Bagaimana hasil pembelajaran kooperatif pada pembelajaran PAI di

SLTP?

5. Bagaimana pandangan guru terhadap model pembelajaran kooperatifpada

pembelajaran PAI?

6. Bagaimana pandangan siswa terhadap pembelajaran kooperatif pada

(21)

13

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model

pembelajaran kooperatif pada pembelajaran PAI. Tujuan penelitian lebih rinci

dirumuskan pada sub-sub tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kondisi pelaksanaan pembelajaran PAI di SLTP yang

mendukung pelaksanaan pengembangan model pembelajaran kooperatif.

2. Untuk menemukan desain model pembelajaran kooperatif pada mata

pelajaran PAI di SLTP.

3. Untuk mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif pada

pembelajaran PAI di SLTP.

4. Untuk mengetahui hasil belajar model pembelajaran kooperatif pada mata

pelajaran PAI di SLTP.

5. Untuk mengetahui pandangan guru terhadap model pembelajaran

kooperatif pada pembelajaran PAI.

6. Untuk mengetahui pandangan siswa terhadap pembelajaran kooperatif

pada pembelajaran PAI di SLTP.

Adapun kegunaan yang diharapkan melalui penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Bagi guru mata pelajaran PAI di SLTP, hasil penelitian ini diharapkan

menjadi salah satu masukan, khususnya bagi peningkatan mutu

(22)

14

2. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

masukan dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif bagi

peningkatan keimanan dan. ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT.

3. Bagi Departemen Agama dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, hasil

penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu masukan dalam

pengembangan kurikulum mata pelajaran PAI dalam rangka pencapaian

tujuan kurikuler PAT.

4. Untuk pengembangan konsep dan teori, hasil penelitian ini diharapkan

dapat menyumbangkan kerangka dasar pemikiran tentang keterkaitan

antara materi yang dipelajari dengan pengembangan sikap dan praktek

(23)

b a b i n

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran

kooperatif pada mata pelajaran PAI di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

(SLTP). Sehubungan dengan hal tersebut, metode yang tepat digunakan dalam

penelitian ini adalah research and development. Menurut Borg dan Gall

(1979:624), "Education research and development is a process used to develop

and validate education product".

Produk yang dikembangkan melalui research development ini tidak

hanya meliputi bahan-bahan material seperti buku cetak, film pembelajaran,

dan sejenisnya tetapi juga mencakup prosedur dan proses yang ditetapkan

seperti metode mengajar dan metode untuk mengorganisasi pembelajaran.

Melalui metode research development, produk yang diharapkan dari

penelitian ini adalah desain model pembelajaran PAI di SLTP berdasarkan

model pembelajaran kooperatif.

Langkah-langkah yang ditempuh mengikuti konsep Borg dan Gall

(1979:625-636) yang dikenal dengan siklus "research and development",

terdiri dari studi hasil-hasil penelitian untuk mengembangkan produk

berdasarkan temuan hasil studi, melakukan uji lapangan, dan terakhir

memperbaiki produk tersebut berdasarkan temuan lapangan.

(24)

51

Secara rinci langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian adalah

sebagai berikut:

1. Pengumpulan riset dan informasi meliputi reviu, literatur, observasi kelas,

dan menyiapkan laporan.

2. Perencanaan, mencakup menjelaskan keterampilan, menetapkan tujuan

khusus, menetapkan urutan penjelasan.

3. Mengembangkan bentuk produk awal, meliputi persiapan bahan-bahan

pelajaran, buku pegangan dan alat evaluasi.

4. Uji awal lapangan.

5. Revisi produk utama.

6. Revisi produk utama.

7. Perbaikan hasil operasional.

8. Uji lapangan operasional.

9. Perbaikan hasil akhir.

10. Penyebaran dan distribusi.

Sesuai dengan keperluan penelitian ini, maka kesepuluh langkah itu

disederhanakan menjadi tiga langkah yang memungkinkan dapat dilakukan

oleh penulis. Ketiga langkah itu meliputi: (1) studi pendahuluan; (2)

penyusunan model; dan (3) uji coba model.

B. Langkah-langkah Pengembangan Model

Sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada, langkah-langkah

(25)

52

langkah-langkah sebagai berikut: Studi awal, perencanaan, implementasi dan

evaluasi/revisi model.

Penyusunan rancangan model

pembelajaran dilakukan dengan

memperhatikan the domain of the field menurut Seels dan Richey (1994),

yaitu; Design, development, utilization, management, dan evaluation. Model

pembelajaran kooperatif dalam pelajaran PAI diharapkan mencapai sasaran

sebagai berikut:

1. Studi awal

Pada tahap pertama penelitian dan pengembangan dilakukan studi awal

yang meliputi:

2. Studi literatur, yaitu mengkaji sumber-sumber yang berkaitan dengan

pengembangan model pembelajaran PAI di SLTP, dan model pembelajaran

kooperatif yang diterapkan di SLTP. Studi literatur yang diterapkan pada

tahap awal terutama berkaitan dengan teori, konsep, prinsip, aksioma, yang

berkaitan dengan model yang akan dikembangkan.

3. Studi hasil penelitian, dilakukan melalui pengkajian terhadap hasil-hasil

penelitian yang telah dilaksanakan oleh para peneliti terdahulu yang erat

kaitannya dengan penelitian yang akan dilaksanakan terutama berkaitan

dengan pengembangan model pembelajaran PAI di SLTP dan model

pembelajaran kooperatif.

4. Studi lapangan (pra-survey), dilakukan di tiga SLTP yang akan menjadi

(26)

53

dikumpulkan meliputi keadaan pembelajaran yang sedang berlangsung,

kualifikasi guru, siswa, kurikulum, fasilitas dan lingkungan belajar.

2. Penyusunan Rancangan Model

Di dalam menyusun rancangan model, kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Menganalisis model yang ada, yaitu model-model pembelajaran yang

berkenaan dengan model pembelajaran yang dapat meningkatkan belajar

bersama, menekankan pada siswa untuk memperoleh dan mengembangkan

pengetahuan, sikap nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial sesuai

dengan kurikulum 1994 suplemen GBPP tahun 1999.

2. Pengkajian model yang relevan dengan pendidikan agama Islam di SLTP.

3. Penentuan sistematika model.

4. Penentuan kriteria keberhasilan model

2. Penyusunan Draft Rancangan Model

Penyusunan model dikembangkan berdasarkan hasil studi pendahuluan

yang telah dilakukan di tiga SLTP yang ada di Kabupaten Bandung dan kajian

literatur yangmendukung terhadap pengembangan model ini.

a. Desain pembelajaran.

Desain pembelajaran yang digunakan adalah rancangan pembelajaran

(27)

54

model pembelajaran kooperatif menurut pendapat Arends, (1997:13) dengan

penambahan seperlunya.

b. Kegiatan Pembelajaran

1. Merumuskan Tujuan

Tujuan pembelajaran dirumuskan untuk dijadikan sebagai target

pencapaian hasil belajar yang diharapkan dapat dikuasai siswa pada suatu

kegiatan pembelajaran.

2. Materi yang diberikan kepada siswa

Materi yang disajikan berkenaan dengan pengembangan model ini,

yaitu berkenaan dengan materi: Penyakit Hati, Iman Kepada nabi Muhammad

SAW, dan Puasa.

3. Mengembangkan perencanaan pengajaran

Perencanaan pengajaran dikembangkan berdasarkan hasil studi

pendahuluan yang materinya berkenaan dengan materi: Penyakit Hati, Iman

Kepada nabi Muhammad SAW, dan Puasa. Guru, dalam tahap ini

mempersiapkan materi berikut perangkat pengajaran termasuk Lembar Kerja

Siswa (LKS), soal quiz, dan metode pengajaran. Perencanaan pengajaran

termuat dalam Satuan Rencana Pelajaran.

(28)

55

Proses pembelajaran merupakan pelaksanaan dari perencanaan

pengajaran yang telah dikembangkan. Berkenaan dengan pengembangan

model ini, proses pembelajaran yang dikembangkan mencakup tiga langkah

pembelajaran, yaitu: (1) kegiatan awal; (2) kegiatan inti;dan (3) kegiatan akhir.

a) Kegiatan awal

Dalam kegiatan awal, guru melakukan pretes, menyampaikan tujuan

pembelajaran, pembelajaran kooperatif, dan apersepsi.

b) Kegiatan inti

Sebelum pembelajaran inti dimulai, guru terlebih dahulu

menginformasikan kepada siswa tujuan-tujuan yang hendak dicapai dan

prasyarat yang harus dimiliki. Guru bercerita singkat mengenai materi itu

dikaitkan dengan fenomena yang sedang berkembang pada saat sekarang

dengan memberikan contoh-contoh aktual yang dapat membangkitkan

motivasi belajar siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.

Melalui cerita tersebut, selanjutnya guru mempersilahkan siswa untuk

menanggapi dan sekaligus mengemukakan pemahamannya akan materi yang

telah diberikan. Penyajian materi awal ini dilakukan secara klasikal. Langkah

berikutnya, guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil. Tiap

kelompok terdiri dari 4-5 orang. Anggota setiap kelompok merupakan

gabungan siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.

Pada tahap kegiatan kelompok, siswa mempelajari materi dan

(29)

56

(LKS). Dalam kegiatan kelompok siswa saling membantu dan berbagi tugas.

Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas kelompoknya. Guru

berkeliling membantu kelompok-kelompok belajar saat mengerjakan pekerjaan

mereka. Peran guru dalam kegiatan ini sebagai fasilitator dan motivator

kegiatan tiap kelompok.

Setelah materi dipelajari dan dibahas secara berkelompok, setiap

kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan dan

mempertahankan argumentasi atas hasil pekerjaannya di depan, kemudian

siswa dari kelompok lain diberikan kesempatan untuk memberikan komentar

atas hasil yang telah dipresentasikan. Hasil pekerjaan pada LKS tiap kelompok

kemudian dinilai oleh guru.

c) Kegiatan Akhir

Siswa dan guru menyimpulkan materi pembelajaran. Pada tahap ini

juga diadakan postes dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana

keberhasilan belajar yang telah dicapainya. Pada penelitian ini, tes individu

dilaksanakan setelah 2 x pertemuan. Tes dikerjakan 20 menit. Hasil tes

digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan untuk perolehan skor

kelompok.

5. Menetapkan metode

Metode yang digunakan dalam pengembangan model ini adalah

(30)

57

6. Menetapkan alokasi waktu sesuai dengan topik pembelajaran

Menelaah kedalaman dan keluasan materi pada pokok bahasan yang

akan diajarkan, alokasi yang memungkinkan sesuai dengan yang telah

ditetapkan dalam GBPP, yaitu 2 jam pelajaran (2 x 45 menit) per minggu.

7. Mengembangkan alat evaluasi

Evaluasi yang dikembangkan pada tahap ini bertujuan untuk

mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang telah dicapainya.Bentuk

penilaian terdiri atas penilaian kelompok melalui proses dan hasil pekerjaan

pada lembar kerja siswa melalui penilaian portofolio. Penilaian individu

dilaksanakan setelah 2 x pertemuan. Tes dikerjakan 20 menit. Hasil tes

digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan untuk perolehan skor

kelompok. Penilaian portopolio dilakukan untuk menjangkau aspek proses,

hasil, peniangkatan yang dicapai dan upaya yang dilakukan.

Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan tes

sebelumnya (skor pretes) dengan tes akhir (skor postes). Berdasarkan skor

awal, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan

sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang

diperolehnya.

Pada penelitian ini, perhitungan skor perkembangan individu (Slavin,

(31)
[image:31.595.95.475.134.580.2]

58

Tabel 3.1

Pemberian Skor Perkembangan Individu

Skor Tes Nilai Perkembangan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal

10 poin hingga 1 poin di bawah skor awal

Skor awal sampai 10 poin di atasnya

Lebih dari 10 poin di atas skor awal

Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)

5

10

20

30

30

Perhitungan skor kelompok dihitung dengan cara menjumlahkan

tiap perkembangan skor individu dibagi jumlah anggota kelompok.

Berdasarkan rata-rata nilai perkembangan tersebut, ditetapkan tiga tingkat

penghargaan kelompok, yaitu:

d. Kelompok dengan rata-rata skor 15, sebagai Good Team.

e. Kelompok dengan rata-rata skor 20, sebagai Great Team.

f. Kelompok dengan rata-rata skor 25, sebagai Super Team.

b. Uji Lapangan

Kegiatan penyusunan rancangan uji coba meliputi:

1. Menetapkan kemampuan yang harus dikuasai guru dalam menetapkan

(32)

2. Penyusunan format observasi dan wawancara.

3. Penentuan lokasi uji coba terbatas maupun uji coba luas.

c. Uji Lapangan dan Revisi Model

Uji lapangan meliputi uji coba terbatas dan uji coba luas. Uji coba

terbatas dilakukan pada satu SLTP melalui dua siklus kegiatan, yaitu siklus

satu dan siklus dua. Tujuan uji coba terbatas adalah untuk memperoleh

deskripsi penerapan model, kebermaknaan/kelayakan model dan perbaikan

model. Kekurangan-kekurangan pada siklus satu dapat diperbaiki pada siklus

dua. Pada uji coba terbatas yang diamati lebih difokuskan pada proses.

Setelah implementasi siklus dua dievaluasi, kemudian dilakukan revisi

dan disempumakan pada uji lebih luas. Pada uji coba lebih luas, penilaian

dilakukan melalui penilaian awal dan penilaian akhir. Hal ini dilakukan untuk

melihat pengaruh model/keberhasilan model. Tujuan uji coba lebih luas adalah

untuk menghasilkan model pembelajaran PAI di SLTP dengan model

pembelajaran kooperatif. Uji coba lebih luas dilaksanakan pada dua SLTP.

Langkah-langkah dalam uji lapangan

1) Studi awal dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi sekolah

tempat uji lapangan terbatas/lebih luas.

2) Persiapan uji coba dilakukan dengan cara memperkenalkan model

yang akan dikembangkan kepada kepala sekolah dan guru melalui

(33)

60

3) Pembagian tugas kepada kepala sekolah dan guru yang akan dilibatkan

dalam uji lapangan.

4) Implementasi uji lapangan. Pelaksanaannya dilakukan melalui

kegiatan:

a) Penyusunan rancangan pembelajaran secara kolaboratif dalam

bentuk rencana pembelajaran disusun oleh peneliti dan guru

termasuk penyiapan media yang dibutuhkan, penetapan kegiatan

siswa, pengorganisasian kelas, dan penetapan evaluasi.

b) Implementasi pembelajaran di kelas yang dilaksanakan oleh guru

dan peneliti bertindak sebagai observasi partisipan.

c) Evaluasi terhadap rancangan dan implementasi.

d) Revisi dan penyempurnaan model sehingga menjadi model final.

C. Lokasi dan Subyek Penelitian

Lokasi penelitian adalah SLTP yang ada di Kabupaten Bandung,

dibatasi pada SLTP Negeri 2 Cililin, SLTP Darul Falah Cihampelas, SLTP

Ummul Quro Rongga. Ada beberapa alasan yang dijadikan bahan

pertimbangan pemilihan lokasi penelitian ini. Pertama, SLTP Negeri 2 Cililin

merupakan SLTP inti di wilayah Kabupaten Bandung Bagian Barat Utara,

Kedua, SLTP Darul Falah dan SLTP Ummul Quro merupakan SLTP Plus

Keagamaan yang bernaung di bawah pondok pesantren. Ketiga, ketiga SLTP

(34)

61

memiliki jumlah siswa yang cukup banyak. Kelima, demi kemudahan dalam

perizinan dan proses penelitian.

Sesuai dengan topik penelitian yaitu pengembangan model

pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran PAI di SLTP, maka yang akan

menjadi subyek utama dalam penelitian adalah yang akan terlibat dalam

kegiatan belajar, khususnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Selain

para siswa yang terlibat dalam pelaksanaan pengembangan model

pembelajaran, juga guru PAI terutama guru kelas II. Dimana mereka akan

banyak terlibat dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran.

D. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

1. Teknik Pengumpulan data

Dalam penelitian ini ada beberapa data atau informasi yang

dikumpulkan terutama yang berkaitan dengan:

1. Data tentang kondisi nyata pembelajaran PAI di SLTP serta unsur-unsur

yang mempengaruhinya yang mencakup jumlah siswa, sarana dan fasilitas

belajar, jumlah dan kualifikasi guru, serta lingkungan belajar.

2. Data tentang kemampuan guru baik kemampuan dalam merancang

pembelajaran model pembelajaran kooperatif maupun kemampuan guru

dalam melaksanakan pembelajaran model kooperatif.

3. Data tentang implementasi model pembelajaran kooperatif yang mencakup

kegiatan belajar siswa, pengorganisasian kelas, metode yang digunakan,

(35)

62

Sesuai dengan pendekatan, penelitian yang digunakan adalah penelitian

kualitatif, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah

observasi, wawancara, angket, dan studi dokumentasi. Observasi yang

digunakan adalah observasi partisipatif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak

sebagai observer partisipatif sebagaimana yang dikemukakan oleh Goodman

(1990:56), yaitu "in participant observation, the researcher participates directly

with the people he or she is studying in the activities in which they are

engaged". Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar, pengolahan data

dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS for

Windows versi 11.5.

Peneliti dalam hal ini berpartisipasi langsung dengan orang-orang,

dimana mereka sedang melaksanakan kegiatan tersebut. Peneliti tidak hanya

semata-mata berpartisipasi melakukan aktivitas dalam merancang dan

mengimplementasikan program sejauh tidak mengganggu tugas guru. Melalui

partisipasi peneliti dapat mengamati dan mencatat secara cermat tentang apa

yang terjadi pada saat implementasi. Untuk melengkapi data, digunakan juga

wawancara baik terhadap guru, kepala sekolah, dan para siswa.

2. Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan melalui berbagai alat pengumpul data,

maka selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data dengan

(36)

63

1) Analisis rasional (induktif dan deduktif).

2) Analisis statistika dengan menggunakan bantuan program SPSS for

Windows versi 11.5, yang digunakan untuk menganalisis data tentang skor

hasil belajar siswa dan perbedaan hasil belajar sebelum menggunakan

model dengan sesudah menggunakan model.

Pengumpulan dan penganalisisan data dilakukan selama proses

penelitian berlangsung (tahap perencanaan, pelaksanaan dan kulminasi).

Prosedur yang dilakukan dalam analisis data ini meliputi analisis data, refleksi

(37)
(38)

BABV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pada bab ini menyajikan kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan

hasil penelitian yang telah dilaksanakan di tiga SLTP wilayah Kabupaten

Bandung, yaitu SLTPN 2 Cililin (uji coba terbatas), SLTP Daml Falah dan

SLTP Ummul Quro (uji coba lebih luas).

A. Kesimpulan

Pembelajaran kooperatif mempakan suatu model pembelajaran yang

menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk

kelompok kecil, mempelajari materi pelajaran dan memecahkan masalah

secara kolektif. Model pembelajaran ini menganut prinsip saling

ketergantungan, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka,

komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses secara kelompok.

Dari hasil uji coba yang dilaksanakan, diketahui bahwa kemampuan

gum dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif, secara umum ada

peningkatan aktivitas dan kreativitas mengajar, baik dalam menyusun rencana

pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang meliputi pendahuluan,

pelaksanaan, evaluasi, penggunaan media dan sumber pelajaran.

Walaupun demikian, masih nampak kekurangan temtama dalam

memposisikan siswa benar-benar sebagai subyek belajar {student centered).

(39)

168

Dalam hal penggunaan media pembelajaran, gum diharapkan lebih kreatif, dan

tidak hanya memokuskan pada lembar kerja siswa saja.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan model pembelajaran

kooperatif terlihat adanya pengamh yang cukup signifikan terhadap hasil

belajar siswa baik secara individual maupun secara kelompok. Pembelajaran

kooperatif berdampak pada motivasi siswa dalam belajar, semangat untuk

menemukan, sikap demokratis, berfikir kritis dan logis serta kemampuan

menggalang kerjasama yang dapat diaplikasikannya dalam kehidupan

sehari-hari.

Hasil belajar siswa, dengan membandingkan hasil pretes dan postes

temyata perbedaannya signifikan pada setiap uji coba. Begitu pula rata-rata

hasil belajar siswa setiap uji coba terns mengalami kenaikan. Di samping itu,

kreativitas dan performansi gum menunjukkan perbaikan yang berarti baik

dalam menyusun perencanaan, penggunaan teknologi pembelajaran,

pelaksanaan maupun pengembangan sistem evaluasi yang dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan gum, lembar observasi pada saat

proses pembelajaran dan hasil angket pada guru dan siswa, temyata model ini

baik dan cukup diminati siswa. Gum dan siswa pada umunya sangat respek

terhadap model pembelajaran kooperatif Dengan demikian model

pembelajaran kooperatif dapat dijadikan salah satu altematif pendekatan yang

(40)

169

B. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan sebagaimana yang telah diuraikan, maka

dapat dikemukakan beberapa rekomendasi dalam penerapan model

pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1. Rekomendasi untuk gum

Untuk menerapkan model kooperatif gum perlu memperoleh pelatihan

khusus dalam mengembangkan rancangan pembelajaran, karena rancangan

pembelajaran ini dapat menentukan terhadap penerapan model dalam

pembelajaran secara lebih akurat dan mencapai hasil yang optimal.

Gum diharapkan benar-benar dapat mengoptimalkan perannya sebagai

perancang, motivator, fasilitator, pengelola pembelajaran sekaligus sebagai

model dalam pembelajaran. Karena model pembelajaran kooperatif

menghamskan adanya berbagai altematif kegiatan belajar, sehingga peran

gum dalam proses pembelajaran pun akan selalu bembah sesuai dengan

jenis dan karakteristik materi pembelajaran Untuk meningkatkan peran

gum sebagaimana yang dituntut, maka gum sebaiknya terns bemsaha

*vt a« rtQin Kn « <Ylrn « vwrffexn-i ntiolmrvm \%t% tlr tvialol i »» T*'=*n/"11 Hi Iron w~\1"TYlQ I moiini in

iiiViiwViiii^tiii^is.cvii piv/i-vOiviitiiioiii^ uiiiiv niviaiui jJx^IIulUlftau HJlIllal Illa.UJJU.ll

kegiatan-kegiatan pengembangan r,rnfh>ic.-a! dalam jabatan {??? xprvirp

training), seperti MGMP, workshop, dan kegiatan in house training (IHT)

di sekolahnya masing-masing.

2. Rekomendasi untuk Lrpulu ickubk

Kepala sekolah sebagai pihak yang paling strategis dan memiliki

(41)

J

tingkat sekolah diharapkan lebih memperhatikan pengadaan

prasarana pendukung belajar. Kepala sekolah dituntut untuP

memberikan kesempatan yang seluas-Iuasnya kepada para gum untuk

meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan pembelajaran, baik

melalui pendidikan formal seperti penyetaraan jenjang SI bagi gum yang

masih berpendidikan D2 atau D3, atau atau pendidikan pascasarjana bagi

gum yang bependidikan SI. Di samping itu wada-wadah pengembangan

profesional guru perlu terns diberdayakan, seperti kegiatan MGMP,

workshop, dan sebagainya.

3. Untuk LPTK

Sebagai tenaga profesional, gum hams memiliki kemampuan profesional

yang optimal. LPTK sebagai lembaga yang berfungsi mencetak dan

mempersiapkan gum perlu membekali mahasiswa calon gum dengan

berbagai kemampuan profesional gum yang diperlukan, termasuk

mengenai penguasaan mengenai model-model pembelajaran yang lebih

inovatif.

4. Untuk Instansi terkait.

Untuk Departemen Agama dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung,

hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu masukan dalam

pengembangan kurikulum PAI untuk mencapai tujuan kurikuler yang lebih

optimal. Di samping itu, untuk meningkatkan kemampuan profesional gum

(42)

171

termasuk pelatihan mengenai penerapan model-model pembelajaran yang

berpusat kepada siswa (student centered), seperti halnya pembelajaran

kooperatif secara berkesinambungan.

5. Untuk peneliti selanjutnya

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan topik dan metodologi yang

sama dengan melibatkan variabel yang lebih besar. Hal ini dimaksudkan

untuk memberikan sentuhan yang lebih luas kepada gum-gum PAI tentang

model pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas dan kreativitas siswa

sehingga kualitas proses dan hasil pembelajaran PAI dapat lebih meningkat

lagi di masa-masa yang akan datang.

Wallahu 'alam bissowab

(43)
(44)

172

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, (2000), Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung,

Sinar Bam Algensindo.

Aly, Hery Noer, (1999), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu.

An-Nahlawi, A., (1992), Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam,

Bandung, CV. Diponegoro.

Arends, S. (1997)., Classroom Instruction and Management, New York: Mc GrawHill.

Azra, Azyumardi, (1999), Pendidikan Islam Tradisidan Modernisasi Menuju

Milenium Baru, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu

Bloom, S. Benyamin, (1970), Human Characteristics and School Learning.

Toronto : McGraw-Hill Book Company.

Bogdan, C.R. & Biklen, SK., (1992), QualitativeResearchfor Education

an Introduction to Theory and Method, Boston, Allyn and

Bacon Inc.

Borg, W.R., & Gall, M.D (1979), Educational Research: an Introduction, New

York, Longman Inc.

Darajat, Zakiyah, (1985), Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia, Jakarta:

PT Bulan Bintang

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, (1993), Kurikulum Sekolah

Lanjutan Tingkat Pertama (Landasan, Program dan

Pengembangan), Jakarta, Depdikbud.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, (1993), Garis-Garis Besar

Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Depdikbud.

Departemen Pendidikan Nasional, (2001), Kurikulum Berbasis Kompetensi

(45)

173

Felder, M. Richard, (1994). Cooperative Learning in Technical Cources: Procedures, Fitfalls, and Payoffs [Online]. Tersedia:

www.nesu.edu/felder-public/paper/coopreport html... 4-04-2003.

Hamalik, Oemar, (2000), Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Bumi Aksara.

. (1990), Pengembangan Kurikulum (Dasar-Dasar dan

Perkembangannya). Bandung, Mandar Maju.

--. (1993), Strategi Belajar Mengajar. Bandung, Mandar Maju

. (2003), Perencanaan Pengajaran berdasarkan Pendekatan

Sistem. Jakarta, Bumi Aksara.

Ivor K. Davis, (1991). Pengelolaan Belajar. Jakarta, Rajawali.

Jarolimek, J, & Foster D. Clifford, (1989), Teachingand Learning in The

ElementarySchool. New York : Macmillan Pub.

Joyce, Bmce., Weil, Marsha, (2000). Models of Teaching. Allyn & Bacon:

London

Lie, Anita, (2002), CooperativeLearning: Mempraktikkan Cooperative

Learning di Ruang-ruang Kelas, Jakarta, Grasindo.

Kadir, Abdul, (2000). Penerapan Model Cooperative Learning Tipe STAD

dalam Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, Tesis Magister PPS UPI Bandung (Tidak diterbitkan).

Lundgren, L., (1994). CooperativeLearning in Science Classroom,

Giencoe:Mc Milan/Mc Graw-Hill.

Marhamah, (2001), Pengembangan Model Pembelajaran Cooperative

Learning pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD,

Tesis PPS UPI, Bandung, (tidak diterbitkan).

Mastuhu, 1994), Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta, INIS.

9(2003), Menata UlangPemikiran Sistem Pendidikan Nasional

(46)

174

Mathews, et all, (1986), Learning Through an Integrated Curriculum

Approaches and Guidelines. Victoria: Ministry of Education.

Miller, John P & Seller Wayne, (1985), Curriculum ; Perspective and

Practice. London, Longman.

Oliva, Peter F., (1992), Developing the Curriculum, ThirdEdition, New York, Harper Collins Publishers.

Quthb, Muhammad, (1988), Sistem Pendidikan Islam, Bandung, Alma'arif

Schubert, W.H., (1986), Curriculum : Perspective, Paradigm, and Possibility.

New York, Macmillan Pub.

Seels & Richey, (1994), Instructional Technology: The Definition and

Domains ofthe Field, Washington, DC, Associations for

EducationalCommunications and Technology.

Slavin, R.E., (1994), Educational Psychology: Theory dan Practice, Fourth

Edition, Massachusetts:Allyn and Bacon Publisher.

(1995), Cooperative Learning: Theory, Research and Practice,

Second Edition. Massachusetts:Allyn and Bacon Publisher.

Small, Robert, (1994). Cooperative Learning in Social Studies Hand Bookfor

Teacher. USA: Addison Wesley Publishing Company, Inc.

Sudjana, Nana, 1998, GuruDalam Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar

Bam Algensindo.

Sukmadinata, N.S. (2000), Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosda Karya.

Sulaiman, F.H., (1993), Sistem Pendidikan versiAl Ghazaly, Bandung, Alma'arif.

Taba, Hilda, (1992), CurriculumDevelopment (Theory and Practice), New

York:Harcourt, Brace & World, Inc.

Tampubolon,M., (2001), Pola Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat

dalam Pembangunan sesuai dengan tuntutan Otonomi Daerah,

(47)

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2Tahun 1989 dan PerfytujrcBp.|r?" &

Pelaksanaannya, Jakarta, Sinar Grafika. y> ^k ^SJJ^a.

Wahyudin, Udin, (2001), Pendidikan Agama Islam Untuk SLTP Kelas 27

Bandung, Bina Siswa.

Winkel, W.S., (1996), Psikologi Pengajaran, Jakarta, PT. Grasindo.

Wiwik, W.A, (2000). Penerapan Strategi Belajar KooperatifTipe STAD pada

Pembelajaran Matematika Kelas II di MAN Magelang. Tesis

PPS UPI, Bandung, (tidak diterbitkan).

Zais, Robert.S., (1976), Curriculum Principles andFoundations, New York,

Gambar

Tabel 3.1

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan total keluarga petani adalah pendapatan yang diperoleh dari hasil usahatani, hasil usaha penggemukan sapi potong, dan hasil usaha lain dalam satu tahun

Berkenaan dengan hal tersebut diatas, diminta kepada Saudara untuk membawa seluruh data asli perusahaan yang sesuai dengan Data Isian Kualifikasi Perusahaan yang saudara kirimkan

[r]

dalam buku IPA pegangan siswa, lembar observasi implementasi scientific approach dalam proses pembelajaran, lembar observasi aktivitasbelajar siswa, dan angket sikap

salahsatunyaberpengaruhkepadaperubahantingkahlakusiswa.Banyaktingkahlakusi swa yang akanberubahseiringdenganpengalamandanlatihan yang diterimasiswaselama proses pembelajaran,

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, dan (2) keterampilan membaca pemahaman wacana beraksara Jawa pada siswa kelas

Kemudian untuk mahasiswa memandang seks merupakan hal yang biasa menyatakan bahwa 246 mahasiswa (79%) memandang kurang tertarik dengan seksualitas dan 252 mahasiswa

Because of their location in low-relief areas on the coast, mangrove habitats are vulnerable recipients of toxic and other hazardous substances from land-based sources.