1 ANALISIS PENGARUH BI RATE, SIBOR, JUMLAH UANG BEREDAR, PDB, INFLASI
TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA
Harif Pribadi, Alvis Rozani 1, Firdaus SY 2
Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Bung Hatta
Email : [email protected], [email protected], [email protected]
Abstract
The purpose of this study was to prove whether the variable BI Rate, SIBOR, JUB, GDP and inflation have an influence on the exchange rate in Indonesia (Rp / USD). The data used in this research is time series data starting from 1987 to 2014. Data obtained from Bank Indonesia, the Central Bureau of Statistics, Financial Statistics Indonesia, the Monetary Authority of Singapore and the International Financial Statistics report. To see the relationship and influence of each variable we use multiple regression analysis.
The results showed that the variable BI rate, JUB, GDP had a significant impact on the rupiah in Indonesia (Rp / USD). While variable SIBOR and inflation does not significantly influence the exchange rate in Indonesia (Rp / USD).
Key words : Exchange Rate, BI Rate, SIBOR, JUB, GDP, Inflation, Regression analysis.
PENDAHULUAN
Kegiatan perdagangan internasional yang melibatkan dua negara dan memiliki mata uang yang berbeda, maka kedua negara tersebut harus memperhatikan nilai kurs dari masing-masing negara. Kurs adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut, kurs merupakan salah satu nilai yang penting dalam perekonomian terbuka karena ditentukan oleh adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar.
Mengingat pengaruhnya yang besar bagi neraca perdagangan, transaksi berjalan, maupun bagi variabel-variabel makro ekonomi lainnya. kurs dapat dijadikan alat untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara.
Pada tahun 1997 Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang bebas.
Pertengahan juli 1997, rupiah mendapat tekanan besar yang mengakibatkan semakin melemahnya nilai rupiah terhadap US dollar.
Tekanan tersebut dikarenakan oleh adanya currency turmoil yang melanda Thailand dan
2 menyebar ke Indonesia. Hal ini
menyebabkan Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1998, yang pada saat itu banyak perusahaan-perusahaan mengalami kebangkrutan karena tidak mampu membayar kewajibannya dalam bentuk valuta asing.
Nilai tukar rupiah pada pertengahan tahun 2015 berada dalam tren melemah yaitu hampir mencapai Rp 15.000/USD.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia tekanan terhadap nilai tukar rupiah tersebut tidak terlepas dari pengaruh ekonomi global yang melambat dan harga komoditas internasional yang menurun. Yang mana menyebabkan melebarnya defisit transaksi berjalan Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar semakin kuat karena dipicu oleh devaluasinya mata uang yuan dan adanya spekulasi yang bermunculan bahwa adanya kenaikan suku bunga di Amerika. Serta adanya beberapa faktor dari dalam negeri yang membuat nilai tukar rupiah melemah.
Nilai mata uang yang stabil menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kondisi ekonomi yang relatif baik atau stabil. Ketidakstabilan nilai tukar dapat mempengaruhi arus modal atau investasi dan perdagangan internasional (Triyono,2008).
Pergerakan nilai tukar rupiah dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat suku bunga dalam negeri dan luar negeri, inflasi, jumlah uang beredar, tingkat investasi.
BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. Menaikan atau menurunkan suku bunga (BI rate) merupakan salah satu kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengatur jumlah uang beredar dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Perubahan suku bunga BI rate akan mempengaruhi investasi pada surat berharga luar negeri. Investor yang berinteraksi secara global akan mencari negara dengan tingkat suku bunga yang menguntungkan (Situmeang,2010). Jika BI rate meningkat ketika tingkat suku bunga luar negeri seperti suku bunga Singapore yaitu SIBOR relatif tidak berubah. Investor Indonesia akan mengurangi permintaan terhadap US dollar karena di Indonesia menawarkan tingkat pengembalian yang lebih menarik dan investor dari luar negeri akan menawarkan US dollar untuk diinvestasikan di Indonesia.
Faktor lain yang mempengaruhi nilai tukar adalah inflasi, inflasi adalah meningkatnya harga-harga secara umum dan
3 terus-menerus sehingga dapat menurunkan
nilai mata uang suatu negara. Adapun penyebab terjadinya inflasi adalah karena adanya kenaikan permintaan. Kenaikan permintaan ini dikarenakan banyaknya uang beredar di masyarakat yang mana akan menyebabkan masyarakat membelanjakan uangnya dan tidak menginvestasikan uangnya. Kenaikan permintaan ini akan mengakibatkan harga-harga naik karena penawaran tetap, yang mana faktor lain dianggap tetap.
pada tahun 2005 laju inflasi di Indonesia meningkat menjadi 17,11% adalah inflasi tertinggi pasca krisis moneter Indonesia (1997/1998), tekanan akan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan menjadi faktor utama tingginya inflasi pada tahun 2005. Tingginya harga minyak di pasar internasional menyebabkan pemerintah berusaha untuk menghapuskan subsidi BBM. dan pada tahun 2006 indonesia kembali meraih kestabilan makro ekonomi dengan laju inflasi 6,60% dan pada tahun 2007 inflasi sebesar 6,70%
dikarenakan kurang stabilnya kurs rupiah terhadap dolar dan relatif tingginya rata-rata jumlah uang beredar di Indonesia setiap tahunnya.
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang masalah diatas penelitian mencoba untuk melihat faktor-faktor apa yang mempengaruhi nilai tukar rupiah Indonesia dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh BI Rate, SIBOR, JUB, PDB, Inflasi Terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia”.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah pengaruh BI Rate, SIBOR, JUB, GDP, Inflasi terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia.
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diduga terdapat pengaruh negative dan signifikan variabel BI Rate terhadap variabel nilai tukar rupiah di Indonesia.
2. Diduga terdapat pengaruh negative dan signifikan variabel SIBOR terhadap variabel nilai tukar rupiah di Indonesia.
3. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel Jumlah Uang Beredar terhadap variabel nilai tukar rupiah di Indonesia.
4 4. Diduga terdapat pengaruh negative dan
signifikan variabel PDB terhadap variabel nilai tukar rupiah di Indonesia.
5. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel inflasi terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia.
METODOLOGI PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah mengenai perkembangan BI Rate, SIBOR, JUB, nilai PDB atas dasar harga konstan di Indonesia, Inflasi. apakah variabel tersebut mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah di Indonesia.
Jenis dan Sumber Data
1. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan runtun waktu (time series) dimulai dari tahun 1987-2014.
2. Data sekunder ini bersumber dari lembaga atau institusi seperti, Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, dan International Financial Statistic.
Monetary Authority of Singapore. Selain itu juga diperoleh dari berbagai referensi, literature, dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini.
Metode Pengumpulan Data dan Pengolahan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah dengan melakukan pencatatan langsung mengenai variabel yang akan di teliti, seperti data Nilai Tukar Rupiah, BI Rate, SIBOR, JUB, PDB, laju Inflasi. Software yang digunakan untuk pengolahan dalam penelitian ini adalah Eviews 8.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan penelitian ini adalah :
1. Library Research
Yaitu, data yang diperoleh dari berbagai referensi seperti, buku, jurnal, artikel, Koran, majalah, dll yang berhubungan dengan variabel yang akan di teliti.
2. Field Research
Yaitu, data yang diperoleh dari berbagai lembaga atau instansi yang ada kaitan nya dengan variabel yang akan di teliti.
Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Analisis Regresi Berganda yaitu model yang digunakan untuk membahas hubungan variabel regresi yaitu dua atau lebih variabel.
Maka dibentuk dalam persamaan sebagai berikut :
LER = β0 + β1LSBI + β2LSIBOR + β3JUB+ β4LGDP + β5LINF+U
5 Dimana :
ER = Nilai Tukar Rupiah (Rp/USD) SBI = BI Rate (%)
SIBOR = Singapore Interbank Offered Rate (%) JUB = Jumlah Uang Beredar
PDB = Produk Domestik Bruto INF = Inflasi
Model persamaan dari Regresi berganda lebih lanjut dapat diparameterisasi menjadi :
LER = γ0β0 + γ1LSBI - γ2LSIBOR+ γ3LJUB - γ4LGDP + γ5LINF Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang baik adalah mempunyai distribusi normal atau mendekati normal.
Uji Multikolinearitas
Suliyanto (2011) menyatakan, multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang
“sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen dari model regresi. Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam moel regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi atau
sempurna antara variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen. Jika dalam model regresi yang terbentuk terdapat korelasi yang tinggi atau sempurna diantara variabel bebas maka model regresi tersebut mengandung masalah multikolinearitas.
Untuk mengetahui adanya masalah multikolinearitas pada penelitian ini digunakan nilai TOL (Tolerance) dan VIF (Varian Inflation Facktor). Salah satu metode untuk menguji gejala multikolinearitas dalam model regresi. Jika nilai VIF tidak lebih dari 10 maka model dinyatakan tidak mengandung multikolonieritas.
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t (sekarang) dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi, model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin Watson.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
6 terjadi ketidaksamaan varians dan residual
satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
logaritma sebagai berikut :LER = γ0β0 + γ1LSBI - γ2LSIBOR+ γ3LJUB - γ4LGDP + γ5LINF
LER= 24.145 + 0.606 LSBI – 0.098 LSIBOR + 1.110 LJUB – 2.112 LGDP + 0.002 LINF
Dependent Variable: LER Method: Least Squares Date: 03/24/16 Time: 12:00 Sample: 1987 2014 Included observations: 28
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 24.14571 4.556056 5.299695 0.0000
LSBI 0.606345 0.157418 3.851808 0.0009
LSIBOR -0.098397 0.080312 -1.225182 0.2335
LJUB 1.110989 0.099084 11.21255 0.0000
LGDP -2.112173 0.385886 -5.473567 0.0000
LINF 0.002951 0.073080 0.040383 0.9682
R-squared 0.963783 Mean dependent var 8.588086
Adjusted R-squared 0.955552 S.D. dependent var 0.780847
uS.E. of regression 0.164624 Akaike info criterion -0.582901
Sum squared resid 0.596220 Schwarz criterion -0.297429
Log likelihood 14.16062 Hannan-Quinn criter. -0.495630
F-statistic 117.0903 Durbin-Watson stat 1.394416
Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber:Hasil Estimasi
Berdasarkan hasil estimasi persamaan diatas, maka didapatlah hasil yang ditransformasikan dalam bentuk
Berdasarkan hasil estimasi, maka dapat disimpulkan bahwa :
7 1. Nilai konstanta
Dari hasil estimasi diatas, diperoleh nilai konstanta sebesar 24.145 Rp/USD artinya jika variabel bebas BI Rate (X1), SIBOR (X2), Jumlah Uang Beredar (X3), PDB(X4), Inflasi (X5) bernilai nol persen maka Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar akan terapresiasi sebesar 25.145 (Rp/USD).
2. Pengaruh BI Rate terhadap Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan hasil estimasi di atas, nilai koefisien variabel BI Rate yaitu 0,606 dan dapat dilihat bahwa variabel BI Rate memiliki nilai probability < alpha 5 % yaitu 0,00 <
0,05. Maka keputusannya adalah H0 ditolak dan Ha diterima artinya variabel BI Rate berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah Indonesia terhadap US Dollar. Ini berarti apabila variabel Suku Bunga SBI mengalami peningkatan sebesar 10%
maka nilai tukar riil Indonesia terhadap US Dollar akan meningkat sebesar 6 persen.
3. Pengaruh SIBOR terhadap Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan hasil estimasi di atas, nilai koefisien variabel SIBOR yaitu -0,098
dan dapat dilihat bahwa variabel SIBOR memiliki nilai probability > alpha 5 % yaitu 0,23 > 0,05. Maka keputusannya adalah H0
diterima dan Ha ditolak artinya variabel SIBOR tidak berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah Indonesia terhadap US Dollar.
4. Pengaruh JUB terhadap Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan hasil estimasi di atas, nilai koefisien variabel JUB yaitu 1,11 dan dapat dilihat bahwa variabel JUB memiliki nilai probability < alpha 5 % yaitu 0,00 < 0,05.
Maka keputusannya adalah H0 ditolak dan Ha diterima artinya variabel JUB berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah Indonesia terhadap US Dollar. Ini berarti apabila variabel JUB mengalami peningkatan sebesar 10% maka nilai tukar riil Indonesia terhadap US Dollar akan meningkat sebesar 11,1 persen.
5. Pengaruh PDB terhadap Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan hasil estimasi di atas, nilai koefisien variabel PDB yaitu -2.11 dan dapat dilihat bahwa variabel PDB memiliki nilai probability < alpha 5 % yaitu 0,00 < 0,05.
Maka keputusannya adalah H0 ditolak dan Ha diterima artinya variabel PDB berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah Indonesia terhadap US Dollar. Ini berarti apabila variabel PDB mengalami
8 peningkatan sebesar 10% maka nilai tukar
riil Indonesia terhadap US Dollar akan meningkat sebesar 21.1 persen.
6. Pengaruh Inflasi terhadap Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan hasil estimasi di atas, nilai koefisien variabel Inflasi yaitu 0,002 dan dapat dilihat bahwa variabel Inflasi memiliki nilai probability > alpha 5 % yaitu 0,96 >
0,05. Maka keputusannya adalah H0
diterima dan Ha ditolak artinya variabel Inflasi tidak berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah Indonesia terhadap US Dollar.
7. Pengaruh BI Rate, SIBOR, JUB, PDB, Inflasi terhadap nilai tukar rupiah
Berdasarkan hasil estimasi di atas, bahwa variabel yang berpengaruh signifikan adalah BI Rate, JUB, PDB. Untuk hasil dari variabel BI Rate sendiri memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Hal ini ditunjukkan apabila BI Rate mengalami peningkatan maka akan menyebabkan kenaikan suku bunga bank-bank umum di Indonesia.
Kenaikan tersebut akan mendorong para investor untuk menanamkan investasinya dikarenakan pengembalian yang tinggi di Indonesia maka akan terjadi capital inflow.
Keadaan tersebut akan mendorong penguatan nilai tukar rupiah sehingga nilai tukar akan terapresiasi. Hal ini sesuai dengan teori paritas suku bunga ( interest rate parity theory) yang mana naik turunnya suku bunga akan mempengaruhi nilai tukar menguat atau melemah.
Sedangkan jumlah uang beredar memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Melihat proses transaksi dan kebutuhan masyarakat Indonesia semakin bertambah sehingga Bank Indonesia meningkatkan jumlah uang beredar. Ini terbukti berdasarkan data dari Bank Indonesia selama periode penelitian jumlah uang beredar selalu meningkat.
Semakin banyak jumlah uang beredar maka nilai tukar rupiah akan terapresiasi.
Sementara itu PDB memberikan kontribusi negatif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Jika nilai ekspor naik maka PDB akan meningkat yang akan mengakibatkan kurs akan turun yang berarti nilai mata uang rupiah mengalami apresiasi, begitu sebaliknya.
Sedangkan variabel SIBOR memberikan kontibusi negatif dan tidak signifikan terhadap nilai tukar rupiah dan variabel inflasi memberikan kontribusi positif dan tidak signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Jika inflasi naik maka akan
9 menyebabkan nilai tukar rupiah melemah
atau terdepresiasi.
Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas
Tabel 2 Hasil Uji Normalitas
Jarque-Bera 5.9597
Probability 0,0510
Sumber: Hasil Estimasi
Dari hasil tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa nilai probability sebesar 0,0510 dan akan dibandingkan dengan alpha 5%. Jadi, 0,51 > 0,05 maka dengan ini H0 diterima dan Ha ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal.
Uji Multikolinearitas Tabel 3
Hasil Uji Multikolinearitas
Sumber: hasil estimasi
Dari hasil Uji Multikolinieritas pada tabel 5.8 diatas, dapat dilihat bahwa nilai koefisien korelasi (r) lebih kecil dari 0,80 (Koefisien Korelasi < 0,80) sedangkan Rule of Thumbs mengatakan
masalah multikolinieritas terjadi apabila koefisien antara variabel bebas besar dari 0,80. Maka dengan ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya masalah multikolinieritas.
Uji Autokorelasi
Dalam penelitian ini jumlah data yang digunakan sebanyak 28 tahun (n = 28), dan jumlah variabel bebas yang digunakan adalah 5 (k = 5). Maka didapatlah nilai dL = 1,027 dan dU = 1,85. Serta nilai Durbin- Watson test yang diperoleh adalah sebesar 1.39. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai Durbin-Watson berada pada kuadran dU ≤ DW ≤ 4 – dL yaitu 1.85 ≤ 1.39 ≤ 2,97 yang menunjukkan nilai Durbin-Watson berada pada daerah tidak terjadi Autokorelasi.
Dengan demikian, penelitian ini telah terbebas dari masalah Autokorelasi.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan bertujuan untuk melihat apakah terjadi ketidaksamaan variance dari satu residual ke residual berikutnya.
LGDP LINF LJUB LSBI LSIBOR
LGDP 1.000000 -0.154552 0.970208 -0.656748 -0.809042
LINF -0.154552 1.000000 -0.135194 0.641392 0.220215
LJUB 0.970208 -0.135194 1.000000 -0.628152 -0.820332
LSBI -0.656748 0.641392 -0.628152 1.000000 0.680930
LSIBOR -0.809042 0.220215 -0.820332 0.680930 1.000000
10 Tabel 4
Hasil uji heteroskedastisitas
Sumber: hasil estimasi
Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas dengan Uji White diatas, dapat dilihat bahwa nilai probability Obs*R-squared adalah sebesar 0,419 dan ini akan dibandingkan dengan alpha 5 % jadi 0,419 > 0,05.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini telah terbebas dari masalah Heteroskedastisitas.
Metode Pengujian Statistik Koefisien Penentu Berganda (R2)
Berdasarkan hasil estimasi pada tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0.955.
hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel BI Rate (X1), SIBOR (X2), JUB (X3), Produk Domestik Bruto (X4), dan Inflasi (X5) mampu memberikan sumbangan atau kontribusi terhadap variabel terikatnya
Nilai Tukar Riil Indonesia terhadap US Dollar (Y) sebesar 0,955 persen sedangkan sisanya 0,045 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam model penelitian ini.
Uji T-test
1. Berdasarkan hasil estimasi, didalam tabel hasil regres terlihat probabilitas BI Rate 0,00 ini berarti probability < alpha 5 % yaitu 0,00
< 0,05. Maka keputusannya adalah H0
ditolak dan Ha diterima artinya variabel BI Rate berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah Indonesia.
2. Berdasarkan hasil estimasi, didalam tabel hasil regres terlihat probabilitas SIBOR 0,23 ini berarti probability > alpha 5% yaitu 0,23
> 0,05. Maka keputusannya adalah H0 diterima Ha ditolak artinya variabel SIBOR tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah Indonesia.
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 0.948903 Prob. F(5,22) 0.4696
Obs*R-squared 4.967241 Prob. Chi-Square(5) 0.4199
Scaled explained SS 6.453159 Prob. Chi-Square(5) 0.2646
11 3. Berdasarkan hasil estimasi, didalam tabel
hasil regres terlihat probabilitas JUB 0,00 ini berarti probability < alpha 5%
yaitu 0,00 < 0,05. Maka keputusanya H0
ditolak dan Ha diterima artinya variabel JUB berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah Indonesia.
4. Berdasrkan hasil estimasi, didalm tabel hasil regres terlihat probabilitas PDB 0,00 ini berarti probability < alpha 5%
yaitu 0,00 < 0,05. Maka keputusannya H0 ditolak dan Ha diterima artinya variabel PDB berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah Indonesia.
5. Berdasarkan hasil estimasi, didalam tabel hasil regres terlihat probabilitas Inflasi 0,96 ini berarti probability > alpha 5%
yaitu 0,96 > 0,05. Maka keputusannya H0 diterima dan Ha ditolak artinya variabel inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah Indonesia.
Uji F-test
Berdasarkan hasil estimasi dapat dilihat nilai probabilitynya sebesar 0.00 akan dibandingkan dengan alpha 5 %. Ini berarti keputusan yang dapat diambil adalah H0
ditolak dan Ha diterima jadi dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan
variabel bebas BI Rate (X1), SIBOR (X2), JUB (X3), PDB (X4), dan Inflasi (X5) mampu mempengaruhi terhadap variabel terikatnya Nilai Tukar Rupiah Indonesia terhadap US Dollar.
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
Berdasarkan hasil estimasi persamaan regresi linear berganda dengan pembahasan hasil dari beberapa uji maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa variabel BI Rate berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (Rp/USD). Karena dilihat dari hasil regresi sebesar 0.00, ini berarti 0,00 < alpha 0,05 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima.
2. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa variabel SIBOR tidak berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (Rp/USD).
Karena dilihat dari hasil regresi sebesar 0.23
> alpha 0.05 yang artinya H0 diterima dan Ha
ditolak.
3. Dalam Penelitian ini ditemukan bahwa variabel Jumlah Uang Beredar berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (Rp/USD). Karena dilihat dari
12 hasil regresi sebesar 0.00 < alpha 0.05
yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima.
4. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa variabel Produk Domestik Bruto berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (Rp/USD). Karena dilihat dari hasil regresi sebesar 0.00 < alpha 0.05 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima.
5. Dalam penelitian ini ditemukan variabel Inflasi tidak berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia (Rp/USD).
Karena dilihat dari hasil regresi sebesar 0.96 > alpha 0.05 yang artinya H0 diterima Ha ditolak.
6. Berdasarkan hasil regresi nilai koefisien determinasi (R2) yaitu sebesar 0.955. ini berarti seluruh variabel tidak terikat mampu memberikan sumbangan atau kontribusi terhadap variabel terikat.
7. Untuk melihat pengaruh seluruh variabel tidak terikat terhadap variabel terikat dapat dilihat dari nilai probability F (statistic) sebesar 0.00 oleh karena itu tingkat signifikan lebih kecil dari 0.05 (0.00 < 0.05) maka dapat disimpulkan bahawa terdapat pengaruh variabel tidak terikat terhadap variabel terikat.
SARAN
1. Bagi Bank Indonesia, secara keseluruhan indikator makroekonomi seperti BI Rate, SIBOR, Jumlah Uang Beredar, Produk
Domestik Bruto, Inflasi dapat menjadi acuan untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh serta perkembangan Nilai Tukar terhadap perekonomian di Indonesia, dan nantinya Bank Indonesia selaku otoritas moneter dapat mengambil kebijakan yang tepat serta dapat memprediksi pergerakan nilai tukar sehingga bisa berdampak kepada membaiknya perekonomian di Indonesia.
2. Bagi insan akademisi dan para peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel lain yang lebih banyak serta data yang digunakan secara kuartalan, sehingga hasil yang diperoleh pun lebih akurat dan dapat menjelaskan secara nyata dari pengaruh Nilai Tukar Rupiah.
DAFTAR PUSTAKA
ADININGSIH SRI & DKK 1998. Perangkat Analisis Dan Teknik Analisis Investasi Dipasar Modal Indonesia, Jakarta, PT Bursa Efek Jakarta.
Anonymous., (2008). BI rate naik 25 bps menjadi 9% [Online]. jakarta: Bank Indonesia. Bank Indonesia.
Available:
http://www.bi.go.id/id/ruang- media/siaran-
pers/Pages/sp_103808.aspx 2015]
13 _____., (2015). Indikator Ekonomi Berbagai
Tahun Penerbitan (1990-2014), BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) PUSAT 2015.
_____., (2015). Transmisi Kebijakan Moneter [Online]. Jakarta: Bank Indonesia. Bank Indonesia.
Available:
http://www.bi.go.id/id/moneter/trans misi-
kebijakan/Contents/Default.aspx 2015].
BLINDER, A. 1998. Central Banking in Theory and Pactice. Cambrige. Mass:
MIT Press.
BOEDIONO 1994. Ekonomi Moneter, Yogyakarta, BPFE.
BOEDIONO 1998. "Merenungkan Kembali Mekanisme Transmisi Moneter di Indonesia”. Buletin Ekonomi Moneter
dan Perbankan, Bank Indonesia, 1, 1-3.
COLEMAN, A. K. & TATTEY, K. A. 2008.
Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing, Jakarta, Salemba Empat.
HAKIM L 2004. Perbandingan peranan jalur kredit pada masa sebelum dan ketika krisis ekonomi 1990.1-2000.4. Media Ekonomi Publishing.
KRUGMAN, PAUL & MAURICE OBSTFELD 2005. Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan.
Jakarta : Indeks.
KUNCORO, M. 2001. Metode Kualitatif : Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi, Yogyakarta, UPP-AMP YKPN.
KUTTNER, KENNETH N & MOSSER P.C 2002. The Monetary Transmission Mechanism: Some Answers and Further Questions. FRBNY Economic Policy Review (May).
MADURA, J. 1993. Financial Management.
Florida University Expres.
MANKIW, G. 2013. Teori Makro Ekonomi, Jakarta, Erlangga.
PUTANG, I. 2002. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro, Jakarta, Penerbit Ghalia Indonesia.
SITINJAK, MARETHA, E. L. &
WIDARINKURNIASARI 2003.
Indikator Indikator Pasar Saham dan Pasar Uang Yang Saling Berkaitan Ditinjau Dari Pasar Saham Sedang Bullish dan Bearish. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen 03.
SITUMEANG, CHANDRA. 2010.
Manajemen Keuangan Internasional.
Bandung: Citaputaka Media Perintis.
14 SULIYANTO 2011. Ekonometrika Terapan
: Teori dan Aplikasi dengan SPSS, Yogyakarta, ANDI.
TAYLOR & J.B 1995. The Monetary Transmission Mechanism. An Empirical Framework. Journal of Economic Perspective., 9, 11-26.
WARJIYO P & SOLIKIN 2004. Bank Indonesia, Bank Sentral Republik Indonesia: Sebuah Pengantar, Pusat
Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan Bank Indonesia, Jakarta, PPSK Bank Indonesia.