• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Analisis terhadap Bentuk-bentuk Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam Membina Akhlak Siswa MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon

Sekolah merupakan lembaga yang baik bagi pertumbuhan dan pembinaan akhlak anak. Di samping sebagai tempat pemberian pengetahuan dan ketrampilan, sekolah juga menjadi tempat pembentukan kepribadian anak. Oleh karena itu pendidikan akhlak di sekolah perlu dilakukan secara intensif agar ilmu dan amal dapat dirasakan oleh anak didik. Karena, apabila agama dan akhlak kurang diperhatikan oleh sekolah, maka pendidikan agama dan akhlak yang diterimanya di rumah tidak berkembang.

Pembinaan akhlak di sekolah harus dilakukan secara teratur dan terarah agar siswa dapat mengembangkan dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari, deimikian juga di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon.

Untuk mencapai tujuan itu tentu tidak terlepas dari beberapa faktor penunjang yang tersedia dan terlaksana dengan baik, seperti tenaga pengajar yang baik serta faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap proses dari pembinaan akhlak secara keseluruhan. Hal ini sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan dalam undang- undang RI nomor 20 tahun 2003 yaitu:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esaberakhlak mulia, seha t, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demografis serta bertanggung jawab.”

Selama ini dalam hal membina akhlak para siswa, banyak sekali upaya yang telah dilakukan oleh para guru di madrasah. Sebagaimana hasil penelitian yang dipaparkan pada bab bentuk-bentuk Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina akhlak mulia para siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk sebagai berikut:

1) Mengajarkan sopan santun (tata krama) kepada siswa

(2)

2) Mengajarkan pelajaran tentang akhlaq dan ilmu-ilmu yang berkaitan 3) Memberikan nasehat dan sindiran

4) Melakukan pengawasan terhadap perilaku siswa

5) Membiasakan Siswa Melakukan Shalat Dhuha bersama-sama dan Shalat Dhuhur berjamaah

6) Membiasakan siswa mengucapkan salam dan bersalaman kepada guru di saat akan masuk dan akan pulang

7) Membiasakan siswa bersikap disiplin melalui teguran dan hukuman kepada siswa yang berbuat kurang terpuji atau melanggar aturan sekolah

8) Memberikan bumbingan dan penyuluhan kepada siswa yang bermasalah 9) Melaksanakan kegiatan keagamaan pada hari-hari besar Islam.

Di bawah ini masing-masing bentuk upaya para guru di atas akan penulis analisis satu-persatu dengan mendeskripsikan manfaat, kelemahan dan kelebihan yang ada dari bentuk-bentuk upaya tersebut.

1. Mengajarkan Sopan Santun (Tata Krama) kepada Siswa

Upaya mengajarkan sopan santun kepada siswa yang dilaksanakan oleh para guru di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon bentuknya adalah melalui pendidikan langsung, di mana guru mengajarkan secara langsung di saat kegiatan belajar mengajar, ataupun melalui peraturan- peraturan yang dibuat kepada siswa. seperti mengucapkan salam ketika masuk kelas, masuk ruang guru, masuk kantor dan bila bertemu guru di luar sekolah. Demikian juga anak diharuskan menggunakan bahasa yang sopan (Jawa: krama ingggil) ketika berbicara dengan guru. Setiap akan pulang siswa dibiasakan bersalaman mencium tangan guru. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Kepala MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon:

“setiap bertemu guru siswa-siswi diwajibkan bersalaman terutama ketika masuk kelas dan akan pulang. Berbicara dengan guru harus sopan. Pembinaan langsung di dalam kelas pada setiap pelajaran terutama aqidah akhlak.”

Pengajaran sopan santun atau tata krama kepada siswa dalam sekolah memang harus menjadi program utama yang selalu ditekankan.Apalagi

(3)

lembaga seperti madrasah yang nota bene dikenal sebagai lembaga pendidikan agama, pengajaran sopan santun haruslah menjadi program utama pendidikannya. Jadi mengajarkan sopan santun tata krama kepada anak merupakan kewajiban para orang tua dan para pendidik, yang sangat penting untuk kebaikan akhlak anak didik. Sebagaimana firman Allah dalam al- Qur’an surat At-Taubah ayat 71:

ََنوُنِم ۡؤُمۡلٱ َو

ََو َ

َُتََٰنِم ۡؤُمۡلٱ

َِبَ َنو ُرُمۡأَيَ ٖۚ ضۡعَبَُءٓاَيِل ۡوَأَ ۡمُهُضۡعَب َ

َِفو ُرۡعَمۡلٱ

َ

َ ِنَعَ َن ۡوَهۡنَي َو

َِرَكنُمۡلٱ

َ َنوُميِقُي َو َ

ََة َٰوَلَّصلٱ

َ َنوُت ۡؤُي َو َ

ََة َٰوَك َّزلٱ

ََنوُعيِطُي َو َ

َََّللّٱ

َُهَلوُس َر َو َ

َٖۚٓۥَ

َُمُهُمَح ۡرَيَسَ َكِئ ََٰٓل ْوُأ

َهَُّللّٱ

َ َّنِإ َ

َََّللّٱ

َ ميِكَحَ حزي ِزَعَ

١٧

َ

َ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Q.S. At-Taubah: 71)

Kedua ayat di atas hanyalah di antara dalil-dalil yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang pentingnya mengajarkan sopan santun kepada anak.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina akhlak mulia siswa dengan cara mengajarkan kesopanan dalam berperilaku dan bertutur kata kepada para siswa, yaitu melalui pengajaran langsung, pembiasaan dan nasehat ini sudah sesuai dalam Islam memang sangatlah dianjurkan. Upaya tersebut bertujuan agar para siswa memiliki pengetahuan sekaligus tabiat yang mulia, baik kepada para gurunya maupun kepada teman-temannya di sekolah, serta terhadap orang tuanya sedniri di rumah serta orang lain yang lebih tua.

2. Mengajarkan Pelajaran tentang Akhlaq dan Ilmu-ilmu yang Berkaitan

Materi pelajaran yang berkaitan langsung dengan pembinaan akhlak yang diajarkan di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon adalah pelajaran Aqidah Akhlak, juga pelajaran-pelajaran lain yang masuk dalam rumpun pendidikan agama Islam. Selain itu dengan dimasukkannya pelajaran muatan lokal Kitab Ta’lim al-Muta’allim dan Washoya yang berisi tentang pendidikan akhlak. Di mana kitab ini adalah semacam kode etik bagi

(4)

siswa, baik ketika ia masih menuntut ilmu, maupun kelak setelah selesai belajar, yaitu bagaimana ia harus bersikap terhadap ilmu, terhadap kitab, terhadap guru, mengamalkan ilmu dan lain-lainnya. Kenyataannya manfaat kitab ini cukup besar. Walaupun banyak pula orang yang mengatakan ada juga kenegatifannya.

Di dalam Kitab Ta`lim al-Muta`allim, selain memuat adab belajar ada pula disisipkan suatu norma hukum, yaitu hukum belajar.5 Jadi mengajarkan kitab Ta’lim al-Muta’allim dalam kurikulum madrasah merupakan upaya yang sangat baik dan tepat untuk menumbuhkembangkan akhlak mulia siswa.

Di mana materinya banyak berisi tentang tata krama siswa kepada guru, teman dan juga tata krama kepada orang tua.

Upaya guru mengajarkan materi akhlak (baik secara langsung maupun tidak langsung) inilah yang pada saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah maupun disarankan oleh para pakar pendidikan dengan isitilah pendidikan karakter. Padahal jauh sebelumnya madrasah sudah terlebih dahulu melaksanakan pendidikan karakter ini dengan memberikan pelajaran- pelajaran tentang materi akhlak dan melakukan pembinaan secara intensif terhadap kesopanan siswa. Di mana madrasah sendiri merupakan lembaga pendidikan formal, tetapi tetap bercirikan Islam dan menjunjung tinggi nilai- nilai relegius, etika dan kebudayaan.

Jadi dengan mengajarkan pelajaran-pelajaran yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan masalah akhlak ini, bertujuan agar akhlak para siswa akan menjadi baik dan dapat dibina oleh para guru-guru serta baik pula budi pekertinya baik ketika berada di sekolah, di rumah maupun di masyarakat. Bahkan jika perlu menurut pendapat penulis madrasah dapat menambahkan pelajaran muatan lokalnya atau pelajaran tambahan seperti akhlaq lil banin, washoya, ataupun buku-buku khusus yang mengajarkan anak bersopan santun kepada orang lain dan hal-hal yang harus dilaksanakan dan ditinggalkan sebagaimana tugas seorang pelajar.

3. Memberikan Nasehat dan Sindiran

(5)

Upaya ini sangat baik dilakukan para guru supaya para siswa tersentuh hatinya atau terbuka wawasannya agar tidak meniru perbuatan-perbuatan yang buruk serta berusaha untuk menjauhinya. Memberi nasihat merupakan salah satu metode penting dalam mendidik akhlak anak. Sebagaimana dijelaskan oleh Noer Aly bahwa dengan metode nasehat pendidik dapat menanamkan pengaruh yang baik ke dalam jiwa apabila digunakan dengan cara yang dapat mengetuk relung jiwa melalui pintunya yang tepat. Bahkan, pendidik mempunyai kesempatan yang luas untuk mengarahkan siswa kepada berbagai kebaikan dan kemashlahatan serta kemajuan masyarakat dan umat.

Hendaknya ketika memberikan nasihat harus lahir dari hati yang tulus.

Artinya pendidik berusaha menimbulkan kesan bagi siswanya bahwa ia adalah orang yang mempunyai niat baik dan sangat peduli terhadap kebaikan siswa. Hal inilah yang membuat nasihat mendapat penerimaan yang baik dari orang yang diberi nasihat.

Nasihat dapat pula disampaikan dengan menggunakan perumpamaan ataupun sindiran. Al-Qur`an telah banyak menyajikan perumpamaan yang dapat dipergunakan sebagai model dalam menyampaikan nasihat.

Umpamanya, nasihat untuk beriman dan tidak kafir:

ََب َرَض َو

ََُّللّٱ َ

َ َوُه َوَ ء ۡيَشَ َٰىَلَعَ ُرِدۡقَيَ َلََُمَكۡبَأَٓاَمُهُدَحَأَ ِنۡيَلُج َّرَ الَٗثَم َ

َنَم َوَ َوُهَيِوَت ۡسَيَ ۡلَهَ ٍرۡيَخِبَ ِتۡأَيَ َلََُّهه ِ ج َوُيَاَمَنۡيَأَُهَٰىَل ۡوَمَ َٰىَلَعَ ٌّلَك

َِبَ ُرُمۡأَي

َِلۡدَعۡلٱ

ََعَ َوُه َو َ

َ ميِقَت ۡسُّمَ ط ََٰر ِصَ َٰىَل ١٧

َ

َ

"Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus? (Q.S. An-Nahl: 76).

Ayat di atas mengumpamakan orang mukmin dengan orang yang mampu berjalan di atas jalan yang lurus, dan mengumpamakan orang kafir dengan orang yang tidak mampu mengerjakan apapun, malah hanya menjadi beban bagi orang yang lain. Jadi penggunaan metode nasihat dalam pembinaan akhlak mulia siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan

(6)

Harjamukti Kota Cirebon merupakan metode yang sangat baik dalam rangka memberikan penjelasan tentang kebenaran dan kemashlahatan kepada siswa dengan tujuan menghindarkan siswa dari bahaya serta menunjukkannya ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat.

4. Melakukan Pengawasan terhadap Perilaku Siswa

Bentuk pengawasan yang telah dilakukan oleh para guru MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon dalam rangka membina akhlak mulia siswa merupakan suatu usaha yang baik dan memang sangat perlu dilaksanakan. Walupun pengawasan guru lebih terfokus di saat berada di sekolah, sedangkan di luar sekolah kurang diperhatikan.

Unsur pengawasan adalah unsur yang sangat penting dalam praktik pendidikan. Tanpa adanya pengawasan yang baik, akan sia-sialah pendidikan yang diberikan di sekolah atau oleh para pendidik dan lembaga pendidikan secara umum. Dengan pengawasan yang dilaksanakan, guru dapat mengetahui apakah usaha yang dilakukan sudah cukup berhasil atau masih jalan di tempat bahkan tidak berhasil. Tujuan pengawasan ini agar ketika anak melakukan penyimpangan atau perbuatan-perbuatan tercela akan dapat diketahui untuk selanjutnya diberikan sanksi dan pembinaan agar menjadi lebih baik.

Namun demikian seharusnya ketika melakukan pengawasan para guru di MA Madinatunnajah harus tegas dan konsisten dalam memberikan sanksi dan hukuman agar siswa mempunyai rasa takut bila diawasi guru.

Sebagaimana menurut Noer Aly bahwa ―pengawasan hendaknya dilakukan terus-menerus, artinya pendidik hendaknya konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh pada pendirian yang telah diambilnya. Segala aturan, baik perintah maupun larangan, hendaknya dijaga agar selalu dilaksanakan dan tidak dilanggar.

Dengan demikian pengawasan terhadap perilaku siswa, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah oleh para guru di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon hendaknya dapat

(7)

ditingkatkan lagi supaya lebih konsisten dan tegas dalam menegakkan aturan kepada siswa.

5. Membiasakan Siswa Melakukan Shalat Dhuha bersama-sama dan Shalat Dhuhur Berjamaah

Program sholat berjmaah dhuhur yang dilaksanakan di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon merupakan upaya yang sangat baik dan harus dilaksanakan secara konsisten dan kontinyu. Karena shalat lima waktu yang dilaksanakan secara berjamaah adalah ibadah yang sangat mulia dan utama.

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa “kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan.

Jika manusia membiasakan berbuat jahat, maka ia akan menjadi orang jahat”.

Untuk ini al-Ghazali menganjurkan agar akhlak diajarkan yaitu dengan cara melatih jiwa pada pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang menghendaki agar ia menjadi pemurah, maka ia harus dibiasakan dirinya melakukan pekerjaan yang bersifat pemurah, hingga murah hati dan murah tangan itu menjadi tabi’atnya yang mendarah daging.

Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir al-Misbah sebagaimana dikutip oleh Anwar Sutoyo menjelaskan bahwa shalat adalah amal ibadah yang pelaksanaannya membuahkan sifat keruhanian dalam diri manusia yang menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dengan demikian hati orang yang shalat menjadi suci dari kekejian dan kemungkaran serta bersih dari kotoran dosa dan pelanggaran. Shalat adalah cara untuk memperoleh potensi keterhindaran dari keburukan. Jika ada individu yang mengerjakan shalat tidak terdapat dampak potensi itu bisa jadi ada hambatan bagi kemunculannya, seperti kelengahan dalam melaksanakan shalat dan tidak menghayati dzikirnya.

Jadi bila individu melaksanakan shalat dengan sempurna, khusyu’ dan ikhlas, maka dampak pencegahan itu semakin sempurna, sebaliknya jika kurang sempurna maka kurang sempurna dampak itu. Pemahaman ini mengandung makna bahwa jika individu melaksanakan shalat sesuai dengan

(8)

ketentuan Allah maka niscaya ada dampak pencegahan terhadap perilaku yang keji dan melanggar norma masyarakat.

Jadi upaya membiasakan para siswa untuk senantiasa rajin menjalankan ibadah sholat di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon adalah upaya yang sangat baik dan harus ditiru oleh sekolah-sekolah lain dalam mendidik kesopanan siswa. Jika siswa sudah terbiasa melakukan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah, kebiasaan ini akan membekas pada diri siswa sampai dirinya menjadi dewasa.

6. Membiasakan siswa mengucapkan salam dan bersalaman dengan guru ketika akan masuk dan pulang

Adanya kebiasaan para siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon mengucapan salam dan bersalaman dengan guru, tersirat suatu pengajaran dan pendidikan tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bergaul dengan orang lain, sopan dan menghormati orang lain, terutama kepada para gurunya. Sehingga para siswa nantinya dapat menjadi manusia yang mempunyai kepribadian yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam ajaran Islam, mengucapkan salam kepada sesama mukmin yang ditemui sangatlah dianjurkan. Dalam haditsnya, Rasulullah SAW memerintahkan tentang penggunaan salam. Sebagaimana sabdanya:

هيِبهنلا َلَأَس الًُج َر هنَأ اَمُهْنَع ُ هللَّا َي ِض َر و ٍرْمَع ِنْب ِ هللَّا ِدْبَع ْنَع هلَص ُأ َرْقَت َو َماَعهطلا ُمِعْطُت َلاَق ٌرْيَخ ِم َلًْسِ ْلْا ُّيَأ َمهلَس َو ِهْيَلَع ُ هللَّا ى

ْف ِرْعَت ْمَل ْنَم َو َتْف َرَع ْنَم ىَلَع َم َلًهسلا

"Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwa sesungguhnya seorang laki- laki telah bertanya kepada Rasulullah saw.: Seperti apa Islam yang baik itu? Rasulullah menjawab: kamu memberi makan (kepada sesamamu) dan kamu membaca salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal (HR. Bukhari dan Muslim)".

Jadi membiasakan para siswa mengucapkan salam kepada guru merupakan bentuk upaya pembentukan kesopanan siswa yang sangat baik, sehingga para siswa dapat terbiasa melaksanakan tradisi dan budaya Islam yang telah diajarkan oleh Islam.

(9)

7. Membiasakan siswa bersikap disiplin, melalui teguran dan hukuman kepada siswa yang berbuat kurang terpuji atau melanggar aturan sekolah

Upaya guru di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon dnegan membiasakan siswa bersikap disiplin dalam berpakaian, disiplin waktu ketika masuk maupun pulang sekolah serta disiplin dalam tugas adalah upaya yang harus terus menerus ditingkatkan dan dijaga konsistensinya. Seperti dikatakan wakil kepala madrasah bidang kesiswaan:

“... dengan membiasakan anak bersikap disiplin, baik dalam berpakaian, disiplin dalam waktu dan tugas.”

Tujuan pembiasaan kedisiplinan kepada para siswa ini agar disiplin menjadi tabiat dan kebiasaan siswa hingga nantinya mereka dewasa, dan hal ini adalah bagian dari pendidikan akhlak mulia. Sebagaimana tujuan umum pendisiplin adi sekolah berdasarkan tipe kegiatan pendisiplinan, ada tiga tipe disiplin yaitu :

1) Disiplin preventif, yaitu kegiatan untuk mendorong seseorang agar mengikuti berbagai standar aturan sehingga penyelewengan- penyelewengan dapat dicegah.

2) Disiplin korektif, yaitu kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut.

3) Disiplin progesif, yaitu memberikan hukuman yang lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang berulang.

Dari pengamatan peneliti selama berada di MA Madinatunnajah Kec.

Harjamukti, pembiasaan perilaku disiplin di sekolah sudah berjalan cukup baik.

Semua siswa datang ke sekolah sebelum pelajaran di mulai, rata-rata anak pukul 06.45 WIB sudah datang ke sekolah dan tepat pukul 07.00 WIB sudah dilaksanakan kegiatan pembelajaran. Namun dalam segi lainnya justru yang masih perlu ditingkatkan adalah kedisiplinan guru ketika mengajar yaitu masih ada kekosongan pada jam mengajar.

(10)

Jadi upaya guru membina kesopanan siswa melalui kedisiplinan yang dibiasakan dan diterapkan kepada siswa merupakan suatu bentuk usaha yang harus terus menerus ditingkatkan, selain dari para siswa, perilaku disiplin juga dilaksanakn oleh guru sebagai teladan bagi siswa. Dengan bersikap disiplin siswa akan berlatih menaati peraturan dan berlatih untuk menjauhi perbuatan- perbuatan yang dilarang oleh sekolah, agama maupun bertentangan dengan akhlaq mulia.

8. Memberikan Bimbingan dan Penyuluhan kepada Siswa yang Bermasalah Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina kesopanan siswa dengan cara melakukan bimbingan dan penyuluhan (BP) bagi para siswa yang melakukan perilaku kurang terpuji, khususnya oleh guru BP merupakan salah satu bentuk pembinaan yang harus terus diintensifkan. Jika siswa yang melakukan perilaku menyimpang diibaratkan sebagai orang sakit, maka guru yang melakukan bimbingan dan penyuluhan adalah dokternya yang memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit siswa.

Bimbingan dan penyuluhan yang dilaksanakn di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon bertujuan agar masalah-masalah yang terjadi pada diri siswa dapat diketahui penyebabnya, misalnya anak yang nakal, anak yang bodoh dan anak yang malas. Kemudian setelah mengetahui penyebabnya, guru memberikan pengarahan dan bimbingan agar anak tersebut dapat memiliki kesadaran atas kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi pada akhirnya akan memiliki akhlak mulia dan diharapkan mereka bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Lebih lanjut Anwar Sutoyo menjelaskan bahwa setelah melakukan bimbingan dan konseling, konselor (para guru) hendaklah melakukan tindak lanjut yang bersifat pencegahan, pemeliharaan, penyembuhan dan pengembangan. Tindakan pencegahan dan pemeliharaan dimaksudkan agar perkembangan iman, Islam dan ikhsan yang telah dicapai individu tidak kembali ke posisi sebelumnya; tindakan penyembuhan dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh negatif yang dapat merusak keimanan, ke-Islaman dan keikhsanan; tindakan pengembangan dimaksudkan agar iman, Islam dan

(11)

ikhsan yang ada pada individu bisa semakin tumbuh subur mendekati sempurna dan seklaigus terhindar dari kerusakan.

Jadi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan oleh para guru kepada siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon haruslah diarahkan sesuai ajaran Islam, yaitu untuk perbaikan siswa, bukan untuk mencemooh atau menghina si anak. Bimbingan dan konseling harus terus diberikan kepada para siswa yang berperilaku menyimpang dengan tujuan untuk mendorong dan membantu siswa memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar dalam kehidupan sehari-hari, yang di dalamnya termasuk ajaran tentang pengamalan akhlak mulia.

9. Melaksanakan Kegiatan Keagamaan pada Hari Besar Islam

Bentuk program kegiatan keagamaan di MA Madinatunnajah Kec.

Harjamukti seperti pengajian dan kegiatan sosial memang dapat menjadi salah satu upaya yang terus dilaksanakan oleh sekolah. Karena dengan kegiatan ini para siswa dapat memperoleh pengetahuan sekaligus siraman rohani sehingga tumbuh kesadaran untuk senang beribadah atau melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Selain itu ceramah-ceramah kegamaan juga dapat memupuk keimanan dan melatih siswa untuk dapat memaknai dari setiap kegaitan yang dilaksanakan.

Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa agar hidup manusia tidak berada dalam kerugian maka dirinya harus beriman kepada Allah, berperilaku baik dan slaing menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ashr:

َ َّلَِإ َ

ََنيِذَّلٱ

َ ْاوُلِمَع َوَ ْاوُنَماَء َ

َِت ََٰحِل ََّٰصلٱ

َِبَ ْا ۡوَصا َوَت َو َ

َِ قَحۡلٱ

َْا ۡوَصا َوَت َو َ

َِب

َِرۡبَّصلٱ

َ ٣

َ

َ

“1). Demi masa. 2). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Q.S. Al-Ashr: 1-3)

Jadi adanya pengajian atau ceramah keagamaan pada tiap hari besar islam yang diselenggarakan di MA Madinatunnajah Kecamatan

(12)

Harjamukti Kota Cirebon merupakan program yang sangat baik untuk meningkatkan pengetahuan serta wawasan para siswa tentang ajaran agama.

Sedangkan kegiatan sosial dengan memberikan santunan kepada fakir miskin di sekitar madrasah, bertakziyah dan lain sebagainya merupakan pendidikan secara langsung tentang akhlak mulia kepada para siswa. Oleh karena itu pada tahun-tahun berikutnya kegatan-kegiatan seperti ini harus tetap dilaksanakan oleh madrasah.

B. Analisis terhadap Hasil Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam Membina Kesopanan siswa MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon

Secara umum hasil upaya pembinaan akhlak di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon terlihat sudah berjalan baik.

Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 5 (lima) hal utama yang terlihat begitu jelas dan menjadi kebiasaan siswa di sekolah. Masing- masing akan penulis analisis seperti di bawah ini:

1. Setiap hari para siswa teratur melakukan sholat dhuha bersama dan sholat dhuhur berjamaah

Hasil Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina akhlak para siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon di antaranya dapat dilihat dari pelaksanaan sholat dhuha bersama dan sholat dhuhur berjamaah. Kegiatan ini menunjukkan adanya akhlak mulia para siswa khususnya berhubungan dengan akhlak kepada Allah.

Namun demikian dalam pengamatan peneliti, ketika pelaksanaan sholat dhuha bersama dan sholat berjamaah dhuhur masih ada siswa yang kurang khusyuk dalam melaksanakan sholat, ada yang menjahili temannya, tertawa, atau bersenda gurau dengan temannya. Oleh karena itu hal ini perlu segera dicarikan solusi atau perbaikan agar pelaksanaan sholat berjamaah di masjid dapat berjalan dengan tertib dan khusyuk.

2. Para siswa terbiasa bersalaman kepada guru ketika akan masuk kelas dan ketika akan pulang

(13)

Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon dibudayakan adanya kegiatan bersalaman antara siswa dan guru, yaitu ketika akan masuk kelas di awal pelajaran dan ketika akan pulang di akhir pelajaran.

Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Jelas sekali bahwa perilaku ini sangat baik untuk dibiasakan kepada para siswa, karena bersalaman dengan guru apalagi sambil mencium tangan guru merupakan bentuk penghormatan kepada guru sekaligus menunjukkan ketawadhuan siswa kepada guru.

3. Para siswa terbiasa mengucapkan salam ketika bertemu guru, ruang guru, ruang kelas dan kantor

Adanya kebiasaan para siswa mengucapan salam, di sini tersirat suatu pengajaran dan pendidikan tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bergaul dengan orang lain, sopan dan menghormati orang lain, sehingga para siswa nantinya dapat menjadi manusia yang mempunyai kepribadian yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Dalam ajaran Islam, mengucapkan salam kepada sesama mukmin yang ditemui atau ketika masuk rumah orang lain dan lain sebagainya sangatlah dianjurkan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat An-Nuur ayat 61:

...

َُيُبَمُت ۡلَخَدَاَذِإَف َ ااتو

َ ِدنِعَ ۡنِ مَ اةَّي ِحَتَ ۡمُكِسُفنَأَ َٰٓىَلَعَْاوُمِ لَسَف َ

ََِّللّٱ

َ

َُنِ يَبُيَ َكِلََٰذَكَ ٖۚاةَبِ يَطَاةَكَرََٰبُم

ََُّللّٱ

َُمُكَل َ

َِتََٰيٓ ۡلۡٱ

َ َنوُلِق ۡعَتَ ۡمُكَّلَعَل َ ٧٧

َ

َ

"… Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat- ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya." (Q.S. an-Nuur: 61).

Dengan demikian adanya kebiasaan para siswa mengucapkan salam ketika masuk kantor, ruang guru dan bertemu guru menunjukkan adanya akhlak yang mulia yang merupakan bentuk perilaku yang dianjurkan dalam ajaran Islam.

(14)

Oleh karena itu kebiasaan ini harus terus dijaga dan dibudayakan dalam pendidikan madrasah. Budaya inilah yang merupakan salah satu ciri pendidikan madrasah dari pendidikan sekolah umum.

4. Para siswa terbiasa menggunakan bahasa yang sopan (Jawa: kromo Inggil) ketika berbicara dengan guru

Salah satu ciri-ciri akhlak mulia seseorang adalah bila berbicara dengan orang lain dirinya menggunakan bahsa yang sopan dan halus.

Dalam budaya Jawa, seorang anak dikatakan memiliki kesopanan kepada orang tua, bila dirinya berbicara dengan orang yang dewasa, dirinya menggunakan ―krama Inggil‖ atau jenis bahasa Jawa yang halus. Jadi dari pengamatan peneliti terlihat bahwa ketika para siswa berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa Jawa, para siswa sudah menggunakan bahasa ―Krama Inggil‖ ketika berbicara dnegan para guru, walupun usia gurunya masih muda.

Perilaku ini menunjukkan adanya akhlak mulia dari para siswa kepada gurunya. Menurut Imam Az-Zarnujy termasuk arti menghormati guru, yaitu tidak memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan dirinya, berbicara macam-macam di depannya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya. Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjunjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada sesama mahkluk dalam melakukan perbuatan durhaka kepada Allah Maha Pencipta).

Selain itu termasuk kesopanan siswa kepada guru adalah saat berbicara dengan guru adalah siswa berbicara dengan sopan menggunakan bahasa yang sopan dengan sikap tegak dan mata memandang ke muka.

Tidak boleh berbicara dengan guru sambil menoleh ke kanan atau ke kiri tanpa menghiraukan omongannya.

5. Para siswa sangat hormat kepada para guru

Seorang siswa memang sudah semestinya ta'dhim dan tawadu terhadap gurunya, karena lantaran bimbingan, motivasi gurunya ruh dan akal mereka dapat dimasuki ilmu pengetahuan yang semula mereka tidak

(15)

tahu menjadi tahu, yang semula belum mereka lakukan, kemudian mereka mampu melakukan, serta mereka dapat merasakan fase ilmiah. Di samping itu gurulah yang mendidik mereka untuk bisa membaca, menulis berhitung dan segala ilmu yangberguna bagi kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Syaikh Az-zarnujy mengatakan:

(Barang siapa melukai hati gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemanfaatannya).

C. Analisis Terhadap Hasil Angket dan Pengamatan Siswa 1. Hasil Angket

Hasil angket sebagaimana pada tabel 4.4 diperoleh data bahwa prosentase jawaban yang benar dari siswa kelas X bervariasi untuk masing-masing soalnya. Siswa yang mampu menjawab soal no 1 dengan benar sebanyak 38 siswa dari 42 siswa (90%). Siswa yang mampu menjawab soal no 2 dengan benar sebanyak 42 siswa dari 42 siswa (100%). Siswa yang mampu menjawab soal no 3 dengan benar sebanyak 42 siswa dari 42 siswa (100%). Siswa yang mampu menjawab soal no 4 dengan benar sebanyak 36 siswa dari 42 siswa (86%). Siswa yang mampu menjawab soal no 5 dengan benar sebanyak 28 siswa dari 42 siswa (67%).

Siswa yang mampu menjawab soal no 6 dengan benar sebanyak 33 siswa dari 42 siswa (79%). Siswa yang mampu menjawab soal no 7 dengan benar sebanyak 32 siswa dari 42 siswa (76%). Siswa yang mampu menjawab soal no 8 dengan benar sebanyak 34 siswa dari 42 siswa (81%).

Siswa yang mampu menjawab soal no 9 dengan benar sebanyak 27 siswa dari 42 siswa (64%). Siswa yang mampu menjawab soal no 10 dengan benar sebanyak 29 siswa dari 42 siswa (69%).

Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan siswa kelas X mengenai akhlak berbeda-beda, ada yang memiliki pemahaman yang tinggi, sedang bahkan tidak sedikit yamg memiliki pemahaman yang kurang terhadap akhlak.

Pemahaman mereka terhadap akhlak akan menjadikan gambaran perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari, disebabkan akhlak adalah merupakan

(16)

buah dari pengetahuan, sebagaimana qoul menyatakan “Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah”.

Hasil angket sebagaimana pada tabel 4.5 diperoleh data bahwa prosentase jawaban yang benar dari siswa kelas XI seragam yaitu 100%.

Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas XI memiliki pengetahuan tetang akhlak yang sama. Hal ini disebabkan siswa kelas XI telah mendapatkan pembinaan akhlak ketika mereka masih dikelas X. Diharapkan dengan adanya pengetahuan tentang akhlak ini, para siswa dapat bertutur kata sopan, berperilaku yang baik dan berpakaian sesuai dengan norma dan aturan yang ada sebagai bentuk pengamalan ilmu mereka.

2. Hasil Pengamatan

Bagaimana dengan hasil pengamatan? Penulis akan memaparkan data yang penulis peroleh ketika melakukan pengamatan terhadap siswa MA Madinatunnajah baik siswa kelas X maupun siswa kelas XI.

Asfek yang diamati adalah kesopanan siswa dalam hal bertutur kata dengan guru, perilaku perbuatan siswa terhadap guru, dan penampilan siswa ketika di hadapan guru. Perkataan merupakan salah satu tanda keimanan seseorang, semakin tinggi imannya maka ia akan semakin berhati-hati dalam bertutur kata, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“ Barang siapayang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berkata baik, atau lebih baik diam”.

a. Hasil pengamatan siswa kelas X

Berdasarkan tabel 4.8 diperoleh data yaitu terdapat 26 siswa dari 42 siswa yang bertutur kata sopan dan baik (62%), ada 32 siswa dari 42 siswa (76%) yang perkataannya tidak mengandung penghinaan, dan terdapat 36 siswa dari 42 siswa (86%) yang tidak suka memotong pembicaraan guru, mendahului atau menyamai ucapannya.

Ini artinya di kelas X masih ada 38% siswa yang perkataannya belum sopan atau baik, masih terdapat 24% siswa yang perkataanya mengandung unsur penghinaan dan ada 14% siswa kelas X yang

(17)

masih suka memotong pembicaraan guru, mendahului ucapan guru atau menyamai ucapannya.

Keadaan seperti ini tentu perlu diperbaiki, para siswa perlu mendapatkan bimbingan dan pembinaan akhlak agar mereka menjadi siswa yang beradab, berakhlak dan bermartabat, sehingga akan disukai oleh teman-temannya, guru-gurunya, orang tua mereka, dan orang sekitarnya. Ini merupakan tanggung jawab moral yang cukup berat mengingat keterbatasan waktu mereka beradadi madrasah.

b. Hasil pengamatan siswa kelas XI

Berdasarkan tabel 4.9 diperoleh data yaitu terdapat 37 siswa dari 37 siswa yang bertutur kata sopan dan baik (100%), ada 36 siswa dari 37 siswa (97%) yang perkataannya tidak mengandung penghinaan, dan terdapat 36 siswa dari 37 siswa (97%) yang tidak suka memotong pembicaraan guru, mendahului atau menyamai ucapannya.

Ini artinya di kelas XI semua siswa kelas XI perkataannya sudah sopan atau baik, hanya 3% siswa yang perkataanya mengandung unsur penghinaan dan 3% siswa kelas XI yang masih suka memotong pembicaraan guru, mendahului ucapan guru atau menyamai ucapannya.

Keadaan ini tentu sangat lebih baik bila dibandingkan dengan siswa sebelunya. Kemungkinan ini disebabkan siswa kelas XI telah mendapatkan pembinaan dan bimbingan akhlak sebelumnya.

Perubahan seperti inilah yang diharapkan oleh lembaga, orang tua siswa, dan masyarakat yaitu perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dari tercela menjadi terpuji, dari kasar menjadi santun.

Jadi dari pengamatan peneliti, kesopanan siswa kepada guru terlihat sangat sopan. Mereka sangat tawadhu dengan guru dan masih menghormati para gurunya, baik dalam bentuk sikap dan perilaku. Perilaku-perilaku siswa atas menunjukkan adanya kebiasaan yang baik pada diri siswa yang mencerminkan akhlak yang baik. Walaupun tentunya masih ada kekurangan- kekurangan yang perlu dibenahi dan diperbaiki. Misalnya dari pengamatan

(18)

peneliti, terutama cara berpakaian para siswa, masih terlihat para siswa laki- laki yang memakai celana ketat atau songkok yang kurang enak dipandang mata.

D. Analisis terhadap Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam Membina Kesopanan siswa MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon

1. Faktor Pendukung

Sebagaimana telah dipaparkan sebalumnya pada hasil penelitian, bahwa faktor yang mendukung pelaksanaan pembinana akhlak mulia para siswa di MA Madinatunnajah yaitu (1) adanya kerjasama yang baik dari para guru (2) adanya tata tertib sekolah (3) adanya pelajaran-pelajaran tentang akhlak.

Masing-masing akan penulis bahas sebagaimana di bawah ini.

a. Adanya kerjasama yang baik dari para guru

Di antara para guru di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon sudah terjalin kerjasama yang baik dalam hal pembinaan kesopanan siswa. Dalam pengamatan peneliti para guru semuanya saling menjunjung tinggi dan menegakkan tata tertib sekolah serta mempunyai keingginan yang kuat agar para siswa mereka mempunyai akhlak yang mulia. Hampir semua guru yang dalam pengamatan peneliti ketika menemukan atau menyaksikan siswa melakukan hal-hal yang kurang baik, mereka segera menegur secara langsung dan memberikan nasehat.

Karena adanya kekompakan dari para guru inilah yang menjadi faktor pendukung pelaksanaan pembinaan akhlak mulia bagi siswa MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon.

b. Adanya tata tertib sekolah yang dilaksanakan secara konsisten

Adanya tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur akhlak atau perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa, sehingga siswa memiliki pribadi yang baik. Tanpa adanya tata tertib otomatis pembinaan Kesopanan siswa tidak akan mungkin bisa terwujud, sebaliknya dengan melaksanakan tata tertib yang ada, maka dengan sendirinya akan membentuk pribadi siswa yang berakhlak.

(19)

Selama melaksanakan pengamatan di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, peneliti menyaksikan bahwa para siswa dan guru sangat konsisten dalam melaksanakan tata tertib sekolah. Di mana jika ada siswa yang melanggar aturan, guru yang menyaksikan langsung menegurnya. Jika pelanggaran tersebut dirasa cukup berat, maka langsung diberikan sanksi atau hukuman. Adapun di antara hukuman yang diberikan (selama terlihat oleh pengamatan peneliti) adalah menyapu halaman, mengepel dan menyapu ruangan yang ditunjukkan oleh guru piket/wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Jadi dengan adanya tata tertib yang dilaksanakan secara konsisten oleh civitas akademika di MA Madinatunnajah Kec. Harjamukti tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari bentuk upaya pembinaan akhlak mulia para siswa yang menjadi program dan misi madrasah.

c. Adanya pelajaran-pelajaran kitab salaf (muatan lokal) yang berhubungan dengan pendidikan akhlak

Pelajaran-pelajaran kitab salaf sebagaimana dikurikulum MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon adalah Kitab Ta’lim al-Muta’allim dan Washoya. Kedua pelajaran ini sarat makna akan pendidikan akhlak. Di mana kitab Ta`lim al-Muta`allim adalah kitab karangan syaikh az-Zarnuji yang judul aslinya adalah Ta`lim al- Muta`allim Thariqat at-Ta`allum, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "tuntunan (pelajaran) bagi penuntut ilmu, jalan-jalan menuntut ilmu". Kitab ini menjadi semacam kode etik bagi santri, baik ketika ia masih menuntut ilmu, maupun kelak setelah selesai belajar, yaitu bagaimana ia harus bersikap terhadap ilmu, terhadap kitab, terhadap guru, mengamalkan ilmu dan lain-lainnya. Kenyataannya manfaat kitab ini cukup besar. Walaupun banyak pula orang yang mengatakan ada juga kenegatifannya. Di dalam Kitab Ta`lim al-Muta`allim, selain memuat adab belajar ada pula disisipkan suatu norma hukum, yaitu hukum belajar.

Jadi pantas saja dengan adanya pelajaran-pelajaran kitab-kitab salaf yang berhubungan dengan pendidikan akhlak ini menjadi faktor yang sangat

(20)

mendukung Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina akhlak mulia di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon.

2. Faktor Penghambat

Sebagaimana telah disampaikan pada bab sebelumnya bahwa darai hasil wawancara dan pengamatan diketahui bahwa di antara faktor–faktor penghambat Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina kesopanan siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon adalah (1) Masih banyak orang tua yang belum bersungguh-sungguh dalam memperhatikan akhlak anaknya, (2) Lingkungan pergaulan siswa di luar sekolah, (3) Maraknya dunia hiburan dan pornografi yang sangat mudah di akses di internet dan Hand Phone, (4) Terbatasnya pengawasan guru.

a. Masih banyak orang tua yang belum bersungguh-sungguh dalam memperhatikan akhlak anaknya

Usaha pembinaan akhlak yang dilakukan oleh para guru hanya bisa maksimal ketika para siswa berada di sekolah. Setelah siswa pulang atau berada di luar sekolah, pembinaan terhadap akhlak anak sangat erat dengan pendidikan orang tua dalam keluarga. Oleh karena itu keberhasilan pembinaan akhlak para siswa di sekolah sangat erat hubungannya dengan pembinaan yang dilakukan oleh para orang tua dalam keluarga.

Banyak orang tua yang hanya menggantungkan pendidikan anaknya kepada para guru di sekolah. Padahal, pendidikan akhlak di sekolah akan mengalami banyak hambatan bila orang tuanya sendiri tidak ikut membina secara optimal terhadap perkembangan akhlak anak- anaknya. Bahkan ironisnya, saat ini orang tua terlalu memanjakan anak, semua kemauan anak dituruti, padahal sebenarnya kurang baik untuk pembentukan akhlak mulianya. Misalnya ketika anak main game atau nonton hiburan pada malam hari yang ada di sekitar rumah. Jelas contoh di atas dapat menjadi faktor-faktor yang menghambat perkembangan akhlak mulia anak.

(21)

Semakin hari orang tua juga banyak yang kurang peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Banyak dari mereka yang hanya pasrah pada sekolah, padahal tentunya pendidikan di sekolah akan kurang maksimal bila tanpa dukungan dari orang tua. Sebab waktu anak di rumah tentu lebih banyak daripada di sekolah, sehingga diperlukan peran yang besar dari orang tua.

Berdasarkan tanya jawab dan pengamatan peneliti teerhadap beberapa siswa yang dianggap sering melakukan perilaku menyimpang oleh pihak guru, ternyata hampir sebagian siswa tersebut berasal dari keluarga yang tidak harmonis, kondisi keluarganya ada masalah karena broken home atau perantauan serta kurang peduli dengan anak. Hal inilah yang menjadi kendala dari upaya pembinaan akhlak yang dilakukan oleh para guru di sekolah. Seringkali anak di sekolah diajarkan dengan berbagai pengetahuan, tata nilai, akhlak maupun perilaku-perilaku positif, tetapi di rumahnya para orang tua kurang mengimbangi dengan perhatian dan pembinaan maka anak akan sulit tidak dibina dan dididik secara maksimal.

Karena alasan kesibukan pekerjaan atau alasan lainnya, memang banyak saat ini orang tua yang hanya menggantungkan pendidikan anaknya kepada para guru di sekolah. Padahal, pendidikan akhlak di sekolah akan menjadi kurang berarti bila orang tuanya sendiri atau keluarganya tidak ikut membina secara optimal terhadap perkembangan akhlak anak-anaknya. Bahkan ironisnya, ada juga orang tua yang tidak terima anaknya diberikan hukuman, walaupun anak tersebut berbuat salah.

Dengan masih banyaknya orang tua siswa yang belum bersungguh- sungguh dalam memperhatikan akhlak anaknya menjadi kendala atau faktor penghambat dari upaya para guru dalam membina akahlak siswa di sekolah. Orang tua harus berperan serta mendidik dan membina akhlak anak-anaknya secara optimal dan meemberikan contoh yang baik di dalam keluarga. Apalagi waktu pendidikan di sekolah setiap harinya

(22)

kurang lebih hanya sampai siang hari, sedangkan yang lainnya banyak dihabiskan di rumah.

Seorang anak jika tidak dididik dan dibina dengan pendidikan akhlak yang baik, bisa menjadi musuh dan fitnah bagi orang tuanya.

Maksud dari anak menjadi musuh orang tua yaitu seorang anak yang sejak kecil dirawat oleh orang tuanya, ternyata setelah besar ia menjadi musuh bagi orang tuanya. Misalnya saja saat ini banyak sekali anak yang memperkarakan orang tuanya karena perebutan harta bahkan yang lebih tragis lagi seorang anak sampai tega membunuh orang tuanya. Ayat yang menerangkan bahwa anak dan istri itu dapat sebagai musuh terdapat dalam surat At-Taghabun ayat 14:

اَهُّيَأََٰٓي

َ

ََنيِذَّلٱ

ََّلَا ا وُدَعَ ۡمُكِدََٰل ۡوَأ َوَ ۡمُك ِج ََٰو ۡزَأَ ۡنِمَ َّنِإَْا ٓوُنَماَء َ

ََفَ ۡمُك

َٖۚۡمُهو ُرَذ ۡحٱ

َ

َ َّنِإَفَْاو ُرِفۡغَت َوَْاوُحَف ۡصَت َوَْاوُفۡعَتَنِإ َو

َََّللّٱ

َحمي ِح َّرَ روُفَغ َ ٧١

َ

َ

―Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang‖ (QS.At-Taghabun: 14).

Sedangkan, maksud dari anak sebagai fitnah bagi orang tuanya yaitu seorang anak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan memalukan, baik itu ditinjau secara hukum maupun agama. Hal ini, sesuai dengan firman Allah yang terdapat dalam surat al-Anfal ayat 28 yang berbunyi:

َْا ٓوُمَل ۡعٱ َو

ََّنَأ َوَ ةَنۡتِفَ ۡمُكُدََٰل ۡوَأ َوَ ۡمُكُل ََٰو ۡمَأَٓاَمَّنَأ َ

َََّللّٱ

َُهَدنِع َ

َٓۥَ

َ ميِظَعَ حر ۡجَأ ٨٢

َ

َ

―Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan/fitnah dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar‖ (Q.S.

Al-Anfaal: 28).

Dari kedua ayat di atas dapatlah dimengerti bahwa menurut ajaran Islam pembinaan akhlak sangatlah penting, oleh karena itu harus dibiasakan sejak kecil. Dalam hal ini orang tualah yang dapat memberikan pendidikan sejak kecil tersebut. Sekolah dan pendidikan yang lain hanya melanjutkan pendidikan dari apa yang telah diberikan

(23)

orang tua. Orang tua yang lalai akan pendidikan anaknya atau memberikan pendidikan yang tidak benar, maka Allah akan memberikan adzab yang lebih besar kepadanya.

b. Pergaulan Siswa di Luar Sekolah

Kegiatan pendidikan di sekolah hanya terbatas pada pagi hari saja, sedangkan keberadaan siswa lebih banyak di luar sekolah. Pergaulan siswa di luar sekolah akan banyak mempengaruhi perilaku dan sikap anak. Misalnya teman bermainnya di waktu sore hari dan malam hari, teman-teman nongkrong dan lain sebagainya.

Lingkungan mempunyai peranan yang sangat besar dalam proses pendidikan, termasuk pembinaan kesopanan siswa. Para siswa di MA adalah remaja yang sangat suka meniru atau mudah terbawa oleh arus pergaulan di dalam lingkungannya.

Kebanyakan anak sekarang memiliki kecenderungan untuk mengikuti trend atau mode yang baru popular di masyarakat, seperti dandanan, perilaku, gaya bicara dan lain sebagainya. Jika salah pergaulan, anak cenderung berperilaku liar ―nakal‖ dan sulit diatur oleh orang tua ataupun guru di sekolahnya. Kalau anak sudah seperti itu, akibatnya dia sudah tidak mempedulikan pelajaran atau pendidikannya, tapi lebih mementingkan pergaulan dengan teman-temannya. Kalaupun mereka datang ke sekolah seringkali hanya main-main, tidak bersungguh- sungguh dalam mengikuti pelajaran. Di samping itu juga malas untuk belajar, bahkan sudah tidak ada minat untuk menguasai pelajaran.

Terutama perilaku seperti itu kelihatan sekali bila anak sudah akan memasuki usia remaja. Oleh karena itu, jika lingkungannya kurang baik, maka hal itu dapat menghambat pelaksanaan pembinaan akhlak yang dilakukan oleh guru di sekolah.

c. Maraknya dunia hiburan dan pornografi yang sangat mudah di akses di internet dan Hand Phone

Kemajuan teknologi dan informasi di samping berdampak pada hal-hal positif, juga mempunyai dampak negatif yang cukup besar.

Misalnya; film-film dewasa, sinetron yang tidak mendidik, gambar-

(24)

gambar porno, budaya mabuk-mabukan, hedonisme, narkotika dan sebagainya yang ada di masyarakat sangat menghambat dan menggangu kepribadian siswa. Hal ini juga terjadi pada siswa MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, masalah-masalah di atas sangat terasa berpengaruh pada kesopanan siswa.

Oleh karena itu untuk meminimalisir efek negatif dari tayangan- tayangan hiburan dan alat komunikasi, orang tua perlu menyelamatkan anaknya dari media yang menyesatkan yaitu dengan cara mengawasi dan mengarahkan penggunaan media pada anak-anaknya. Misalnya tayangan- tayangan televisi yang boleh ditonton, membatasi penggunaan handp phone yang berinternet, melarang anak keluar rumah di malam hari dan sebagainya.

Dengan maraknya tayangan-tayangan yang bernilai negatif di berbagai media elektronik seperti internet, tevisi, HP dan lain sebagainya menjadi salah satu faktor penghambat dari Upaya Guru Aqidah Akhlak dalam membina akahlak mulia para siswa di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon.

d. Terbatasnya pengawasan guru

Para guru tidak bisa selalu memantau atau mengawasi perilaku siswa di luar sekolah. Selain itu para guru tidak mengetahui baik buruk lingkungan tempat tinggal siswa terutama sekali orang tua/keluarga yang sangat memegang peranan penting dalam pembinaan kesopanan siswa dalam keluarga.

Karena terbatasnya pengawasan guru terhadap perilaku siswa ini menyebabkan banyak perilaku, sikap dan kebiasaan siswa yang tidak diketahui oleh guru. Sehingga hal ini menghambat dari upaya para guru dalam membina kesopanan siswa. Oleh karena itu mungkin keterbatasan pengawasan guru ini akan dapat diminimalisir bila semua siswa berada dalam pondok pesantren yang terintegrasi dengan madrasah, dimana sebagian besar siswa berdomisil pesantren tersebut, maka pembinaan kesopanan siswa akan dapat lebih intensif dan menjadi lebih baik.

(25)

E. Alternatif Strategi Pengembangan Usaha-usaha Guru MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon dalam Membina Akhlak Siswa

Setelah memaparkan berbagai kendala dari usaha guru dalam membina akhlak mulia para siswa, maka penulis akan mencoba memberikan saran dan masukan sebagai alternatif peningkatan usaha tersebut:

1. Menjalin kerjasama dengan orang tua siswa

Program ini dilakukan dengan jalan menjalin kerjasama yang erat antara sekolah dengan orang tua siswa, misalnya orang tua diberikan tanggungjawab tentang kedisiplinan absen siswa agar memonitor langsung keberangkatan siswa ke sekolah.

Selain itu jika siswa melakukan kesalahan di sekolah maupun di luar sekolah yang diketahui oleh pihak sekolah, maka orang tua dapat langsung diundang di sekolah dan diberikan informasi tentang keadaan anaknya.

Bahkan orang tua boleh meminta informasi dari sekolah—walau tidak bermasalah—tentang keadaan anaknya.

2. Mengadakan kegiatan ekstra kurikuler yang berhubungan dengan keagamaan, seperti latihan qiroah dan khitobah.

Dengan kegiatan seperti latihan qiroah atau latihan khitobah anak akan bertambah pengetahuan dan pengalaman tentang ajaran-ajaran agama sehingga memupuk sikap sopan.

3. Melaksanakan silaturrahmi ke orang tua yang dilakukan oleh perwakilan guru atau wali kelas bagi siswa yang bermasalah.

Dengan cara ini para wali murid merasa ada ikatan dengan guru. Sehingga diharapkan perhatian orang tua kepada anak semakin meningkat. Dan pada akhirnya perilaku-perilaku anak yang kurang baik akan segera berubah menjadi baik.

4. Mengoptimalkan pemantauan perilaku anak di luar sekolah

Program ini dilaksanakan oleh semua dewan guru MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon. Apabila dijumpai dan diketahui ada siswa yang melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma agama dan sosial, baik di dalam maupun di luar sekolah, seperti mabuk-mabukan,

(26)

berjudi, mencuri atau yang lainnya, maka ke pihak sekolah akan langsung memberikan sanksi dan pembinaan kepada siswa, bahkan apabila pelanggarannya dianggap cukup fatal, siswa tersebut bisa dikeluarkan dari sekolah. Masalah ini di MA Madinatunnajah Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon sangat diperhatikan. Tujuannya agar para siswa baik di dalam maupun di luar sekolah pun selalu menjaga perilakunya dan berakhlak mulia.

Referensi

Dokumen terkait

(2) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup,

NIM adalah rasio yang menggambarkan penghasilan bunga bank dari aktiva produktif, semakin besar NIM maka biaya bunga yang harus dikeluarkan terus meningkat sementara pendapatan

(1) Dalam hal Penyelenggaraan Reklame Permanen tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, maka Perangkat Daerah yang berwenang melaksanakan tugas di bidang

Selain penghasilan yang berkesinambungan seperti yang telah dipaparkan di atas, terdapat pula penghasilan tidak berkesinambungan yang diperoleh oleh Wajib Pajak

Di peringkat sekolah pula, didikan moral yang positif dan nilai murni yang diterapkan oleh guru, akan dapat mengelakkan diri pelajar daripada terjebak dalam pelbagai pengaruh

Jejer m enunjuk pada adegan yang menggambarkan istana, di mana persoalan mulai muncul. Adegan, merupakan suatu babak yang muncul karena jejer, seperti gapuran,

Tujuan penulisan laporan Tugas Akhir ini untuk mengetahui apakah hasil belajar dapat meningkat dengan dimanfaatkannya media pembelajaran berupa flashcard dengan

Dari ketiga fungsi komunikasi keluarga yaitu pembentukan konsep diri, aktualisasi diri, dan untuk memperoleh kebahagiaan, menghindarkan diri dari tekanan dan