1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Pada penelitian ini, objek penelitian yang diteliti oleh penulis adalah produk bensin dari Pertamina yang berjenis Pertalite yang dijual di wilayah Bandung.
1.1.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan
Dengan tujuan mengelola aset perminyakan yang ada di Indonesia, permerintah mendirikan sebuah perusahaan minyak nasional pada tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT. Perusahaan Minyak Nasional, disingkat dengan istilah PT. PEMINA.
Kemudian pada tahun 1960, PT Permina berubah status menjadi Perusahaan Negara (PN) Permina dan PN Permina bergabung dengan PN Pertamin menjadi PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara pada 20 Agustus 1968. (Sumber: Annual Report PT Pertamina (persero) tahun 2016).
Berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 tanggal 18 Juni 2003, Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara berubah nama menjadi PT Pertamina (Persero) yang melakukan kegiatan usaha migas pada Sektor Hulu hingga Sektor Hilir.
Pada 10 Desember 2005, Pertamina mengubah lambang kuda laut menjadi anak panah dengan warna dasar hijau, biru, dan merah yang merefleksikan unsur dinamis dan kepedulian lingkungan. (Sumber: Annual Report PT Pertamina (persero) tahun 2016).
Kegiatan usaha PT Pertamina (Persero) meliputi Sektor Hulu dan Sektor Hilir.
Pada Sektor Hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas bumi.
Untuk kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas dilakukan di beberapa wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Di dalam negeri dikerjakan oleh Sektor Hulu dan melalui kerjasama dengan mitra sedangkan untuk di luar negeri dilakukan melalui aliansi strategis bersama dengan mitra. Sektor Hulu juga memiliki usaha di bidang
2
pengeboran minyak dan gas. Sedangkan untuk Sektor Hilir, kegiatan usaha meliputi bisnis Pengolahan, Pemasaran & Niaga, serta bisnis LNG. Bisnis Pemasaran & Niaga mencakup aktivitas pendistribusian produk-produk hasil minyak dan petrokimia yang diproduksi oleh kilang Pertamina maupun yang diimpor, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun luar negeri, serta didukung oleh sarana distribusi dan transportasi melalui darat dan laut. (Sumber: http://www.pertamina.com).
Gambar 1.1 Logo Pertamina
(Sumber: Annual Report PT Pertamina (Persero))
Makna dari logo Pertamina adalah:
1. Warna biru memiliki arti andal, dapat dipercaya dan bertanggung jawab.
2. Warna hijau memiliki arti sumber daya energi yang berwawasan lingkungan.
3. Warna merah memiliki arti keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
Simbol grafis memiliki arti:
1. Bentuk anak panah menggambarkan aspirasi organisasi Pertamina untuk senantiasa bergerak ke depan, maju dan progresif. Simbol ini juga mengisyaratkan huruf “P” yakni huruf pertama dari Pertamina.
2. Tiga elemen berwarna melambangkan pulau-pulau dengan berbagai skala yang merupakan bentuk negara Indonesia.
3
1.1.2. Jenis Usaha dan Jenis Produk Perusahaan
Pertamina merupakan salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara BUMN) yang bertugas mengelola minyak dan gas bumi di Indonesia. Pertamina adalah perusahaan milik Negara (BUMN) yang pendapatan dan labanya terbesar di Indonesia.
Perusahaan ini memiliki usaha yang aktif bergerak dari sektor hulu dan hilir dari industri minyak dan gas. Sektor hulu meliputi eskplorasi dan produksi minyak, gas dan energi panas bumi, sementara kegiatan hilir mencakup pengolahan, pemasaran, perdagangan dan pengiriminan.
Sektor hilir Pertamina meliputi kegiatan pengolahan minyak mentah, pemasaran dan niaga produk hasil minyak, gas dan petrokimia, dan bisnis perkapalan terkait untuk pendistribusian produk Perusahaan. Kegiatan pengolahan terdiri dari: RU II (Dumai), RU III (Plaju), RU IV (Cilacap), RU V (Balikpapan), RU VI (Balongan) dan RU VII (Sorong).
Selanjutnya, Pertamina juga mengoperasikan Unit Kilang LNG Arun (Aceh) dan Unit Kilang LNG Bontang (Kalimantan Timur). Sedangkan produk yang dihasilkan meliputi bahan bakar minyak (BBM) seperti premium, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, minyak bakar dan Non BBM seperti pelumas, aspal, Liquefied Petroleum Gas (LPG), Musicool, serta Liquefied Natural Gas (LNG), Paraxylene, Propylene, Polytam, PTA dan produk lainnya.
Kini perusahaan yang telah melebarkan sayapnya dibidang minyak dan gas telah mengoperasikan 7 kilang minyak dengan kapasitan total 1.051,7 MBSD, pabrik petrokimia dengan kapasitas total 1.507.950 ton pertahun dan pabrik LPG dengan kapasitas total 102,3 juta ton pertahun.
Dengan pengalaman hampir 60 tahun, Pertamina semakin percaya diri untuk berkomitmen menjalankan kegiatan bisnisnya secara profesional dan penguasaan teknis yang tinggi mulai dari kegiatan hulu sampai hilir. Berorientasi pada kepentingan
4
pelanggan juga merupakan suatu hal yang menjadi komitmen Pertamina agar dapat berperan dalam memberikan nilai tambah bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Pertamina memiliki beberapa produk yang dihasilkan dari pengelolaan minyak dan gas bumi salah satunya adalah:
Bahan bakar minyak : BioPertamax, Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Turbo, Pertalite, BioPremium, Premium, Solar, Bio Solar, DEXlite, Pertamina, DEX, Kerosin
Non-minyak : Miranex, HVI 90, HVI
Gas: Elpiji, Bahan bakar gas, Vigas, LPG. CNG, Musicool
Pelumas :
a. Fastron adalah minyak lumas mesin kendaraan dengan bahan dasar semi synthetic
b. Prima XP SAE 20W – 50 adalah pelumas produksi Pertamina untuk mesin bensin
c. Mesran Super SAE 20W-50 adalah pelumas mesin bensin
d. Mesrania 2T Super-X adalah pelumas mesin bensin dua langkah yang berpendingin air seperti mesin temple atau speed boat. Pelumas ini diproduksi oleh Pertamina. Juga cocok untuk penggunaan pada motor temple yang lebih kecil dan mesin ketam, mesin gergaji, bajaj dan bemo e. 2T Enviro merupakan pelumas kendaraan 2 Tak dengan bahan bakar
bensin juga pelumas semi sintesis yang dibuat dari bahan dasar pelumas mineral ditambah bahan dasar pelumas sintesis Poly Isobutylene.
5
Direkomendasikan untuk digunakan pada mesin kendaraan 2 Tak berbahan bakar bensin dengan pendingin udara.
f. Enduro 4T g. Meditran h. Rored
Petrokimia : Pure Teraphitalic Acid (PTA), Paraxyline, Benzene, Propyline, Sultur (www.pertamina.com)
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh pihak Pertamina dalam usaha dibidang penyelenggaran usaha energi, yaitu dengan minyak dan gas bumi kini telah mengalami banyak perubahan. Hal tersebut berkembang sesuai dengan zaman serta kebutuhan dan teknologi yang semakin pesat.
1.1.3. Visi dan Misi Perusahaan Visi:
“Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia”.
Misi:
“Menjalankan usaha minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat”.
1.2. Latar Belakang Penelitian
Saat ini, kondisi lingkungan di berbagai wilayah baik di Indonesia maupun di negara lain sedang mengalami masa-masa yang mengkhawatirkan, dimana semakin meningginya tingkat polusi dan penumpukkan sampah secara besar-besaran yang tentunya dapat mencemari lingkungan sekitar dan mengganggu ekosistem yang ada.
Oleh karena itu, banyak perusahaan-perusaahaan saat ini yang berusaha untuk menerapkan strategi Green Marketing pada setiap prodak yang dikelola, untuk meminimalisir pencemaran dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
6
Menurut Polonsky (1994), pemasaran hijau atau pemasaran lingkungan terdiri dari semua kegiatan yang dirancang untuk menghasilkan dan memfasilitasi transaksi yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan manusia, sehingga kepuasan terhadap kebutuhan dan keinginan ini dapat terjadi dengan dampak kerugian yang minimal pada lingkungan sekitar.
Pride and Ferrell, 1993 dalam Nanere, (2010), mengatakan bahwa Green Marketing dideskripsikan sebagai usaha organisasi atau perusahaan mendesign, mempromosikan, menghargai dan mendistribusikan produk-produk yang tidak merugikan lingkungan. Salah satu penerapan green marketing dalam perusahaan adalah dengan menghasilkan produk hijau. Kasali (2005) mendefinisikan, produk hijau (green product) adalah produk yang tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, tidak boros sumber daya, tidak menghasilkan sampah berlebihan, dan tidak melibatkan kekejaman pada binatang. Bagi masyarakat, kesadaran mereka akan kebutuhan produk ramah lingkungan semakin meningkat mengingat saat ini kondisi lingkungan di Indonesia cukup memprihatinkan.
Bicara mengenai produk yang ramah lingkungan memang masih sulit diterima di lingkungan, namun berbagai aspek bisa digunakan sebagai acuan dalam menunjang produk yang ramah lngkungan, karena satu hal yang pasti setiap kegitan yang dilakukan pasti akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, entah manusia dan lingkungan itu sendiri. Karena masih sulitnya mengklaim bahwa suatu material, produk atau bahan dengan sebutan “ramah lingkungan”. Ramah lingkungan berarti menyelaraskan aktivitas manusia dengan lingkungan tanpa mengurangi kualitas hidup. (kompasiana.com)
Kondisi ini dapat menyadarkan mereka mengenai kontribusi apa yang dapat dilakukan untuk dapat membantu memperbaiki lingkungan. Pilihan mudahnya adalah dengan membeli dan menggunakan produk-produk ramah lingkungan yang saat ini sudah cukup banyak dijumpai.
Guna menjawab tantangan pasar, PT. Pertamina berusaha melakukan perbaikan dan inovasi terkait kiprahnya dalam menjalankan peran strategis sebagai lokomotif
7
perekonomian nasional. Dengan tagline “Semangat Terbarukan”. Pertamina membuktikan komitmennya untuk menciptakan alternatif baru dalam penyediaan sumber energi secara lebih efisien dan berwawasan lingkungan. Inovasi produk baru tersebut disesuaikan dengan standar emisi terbaru yang dicanangkan oleh pemerintah.
Pada tahun 2015, PT Pertamina (persero) mengeluarkan jenis produk bahan bakar baru yaitu Pertalite. Jika dibandingkan dengan Premium, Pertalite memiliki kualitas yang lebih baik. Hal ini dikarenakan Pertalite mengandung oktan 90 serta berwarna hijau terang dan jernih dan sangat tepat digunakan oleh kendaraan dengan kompresi 9:1 hingga 10:1 serta cocok dengan kendaraan bermesin bensin yang saat ini beredar di Indonesia. Dengan tambahan zat additive, Pertalite mampu menempuh jarak yang lebih jauh dengan tetap memastikan kualitas dan harga yang terjangkau.
Produk Pertalite memiliki banyak keunggulan, diantaranya:
Pertalite menghasilkan pembakaran lebih baik sehingga kendaraan mampu menempuh jarak yang lebih jauh.
Pertalite menjajikan kualitas yang lebih baik bagi kendaraan.
Pertalite juga menawarkan harga yang lebih terjangkau dengan kualitas yang lebih baik.
Berdasarkan data Pertamina, sebelum Pertalite diluncurkan, konsumsi Premium mencapai 93 persen dari total konsumsi Bahan Bakar Minyak. Sementara produk Pertamax dan Pertamax Plus sebesar 8 persen. Pada Desember 2015 saat Pertalite sudah muncul di pasaran, komposisi pangsa pasar Premium turun menjadi 87,4 persen dan Pertalite mengambil porsi 3,9 persen. (katadata.co.id)
Dengan adanya produk Pertalite ini merupakan langkah yang dilakukan Pertamina dalam mendukung produk berbasis ramah lingkungan dengan kualitas yang baik dalam mendapatkan kepuasan untuk produk bahan bakar. Dengan harapan kualitas Pertalite dapat melebihi Premium. Karena produk Pertalite bisa dikatakan merupakan
8
produk yang berada diantara Premium dan Pertamax dengan harga yang masih terjangkau bagi kalangan masyarat atau konsumen.
PT Pertamina (Persero) mencatat kenaikan penjualan yang signifikan pada Bahan Bakar minyak (BBM) jenis Pertalite tahun 2017. Penjualan awal bulan Januari hingga Juli tercatat 7,63 juta kilo liter (kl) atau meningkat 363,7% dibandingkan periode tahun sebelumnya hanya sebesar 1,64 juta kilo liter.
Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito menuturkan, tingginya permintaan itu disebabkan karena masyarakat sudah memiliki kesadaran dalam menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Dimana Pertalite memiliki kadar oktan di atas 90, sementara Premium masih di angka 88. (cnnindonesia.com)
Berdasarkan data-data volume penjualan dan pergeseran konsumsi BBM tersebut menunjukkan kesadaran konsumen akan BBM yang berkualitas tinggi dan lebih ramah lingkungan makin meningkat. Peningkatan penjualan ini mengurangi penjualan pada Bahan Bakar Premium yang tererlihat pada angka bulan Januari hingga Juli tahun 2017, di mana porsi penjualan Premium tercatat 41,6 persen dari total penjualan Bahan Bakar Minyak dikarenakan kurangnya minat konsumen pada Bahan Bakar Premium. (cnnindonesia.com)
Berbeda pada tahun 2016 Premium masih berkontribusi sebesar 79,6 persen. Di sisi lain, kini porsi Pertalite masing-masing telah mencapai 40,6 persen dan 17,8 persen dari total penjualan Bahan Bakar Minyak. Ditahun sebelumnya, porsi penjualan jenis Pertalite masih di angka 9 persen dan 11,4 persen saja. Semakin tingginya penjualan bahan bakar minyak berkualitas tinggi ini mengindikasi tahapan yang sudah dijalankan Pertamina yang sejauh ini sudah sangat lebih baik. (cnnindonesia.com)
Dengan diluncurkannya bahan bakar Pertalite maka diharapkan dapat sejalan dengan produksi kendaraan bermotor yang memiliki spesifikasi minimal menggunakan bahan bakar minyak berkualitas tinggi. Hal yang memotivasi berkembangnya bahan bakar yang ramah lingkungan ini didorong karena besarnya harapan konsumen dalam
9
mendapatkan bahan bakar yang lebih aman, berkualitas tinggi, dan terjangkau sehingga masyarakat beralih dari Premium pada Pertalite. (cnnindonesia.com)
Suatu produk baru membutuhkan tindakan agar dapat diterima di masyarakat.
Tindakan-tindakan tersebut berupa strategi yang dilakukan untuk dapat mengenalkan produk tersebut kepasar secara luas dan memberikan kepuasan secara berkelanjutan.
Sebelum konsumen memutuskan untuk melakukan suatu pembelian, biasanya konsumen terlebih dahulu memperhatikan pilihan produk yang akan dibeli dan melakukan pencarian informasi mengenai suatu produk yang akan dibeli. Dalam hal ini, perusahaan perlu melakukan pertimbangan terhadap green perceived value konsumen pada green product (Pratiwi, 2017). Dalam pengertiannya green pereived value merupakan penilaian keseluruhan oleh konsumen mengenai keseluruh manfaat dari produk hijau (Spreng dan Patterson, 1997 ; Akbar et al, 2014).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian green product. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN GREEN PRODUCT BENSIN PERTALITE DI KOTA BANDUNG.
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, bahwa keputusan pembelian terhadap produk bahan bakar berjenis Pertalite yang dilakukan masyarakat adalah merupakan suatu bentuk dukungan masyarakat dalam menjaga serta melestarikan kondisi alam dan sekitarmya dengan memberikan dukungan terhadap Pertamina yang menciptakan produk bahan bakar minyak berbasis ramah lingkungan.
Pertamina memberi dukungan terhadap bahan bakar Pertalite dengan kualitas diatas Premium, serta memberikan pilihan lebih kepada konsumen yang menginginkan bahan bakar minyak berkualitas dengan harga terjangkau. Hal tersebut menyebabkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian produk hijau.
10 1.4 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan yang telah dipaparkan mengenai pengaruh variabel produk hijau (green product) terhadap keputusan pembelian di PT Pertamina (Persero), yang menimbulkan beberapa pertanyaan untuk penelitian ini diantaranya:
1. Bagaimana tanggapan konsumen terhadap variabel Supporting Environmental Protection (mendukung perlindungan lingkungan), Drive for Environmental Responsibility (dorongan tanggung jawab terhadap lingkungan), Green Product Experience (pengalaman terhadap produk hijau), Environment Friendliness of Companies (perusahaan ramah lingkungan), Social Appeal (daya tarik sosial), Product Quality (kualitas produk) dan Price (harga).
2. Seberapa besar keputusan pembelian konsumen pada produk bensin Pertalite di kota Bandung?
3. Apakah faktor dukungan perlindungan lingkungan, dorongan tanggung jawab terhadap lingkungan, pengalaman produk hijau, perusahaan ramah lingkungan, daya tarik social, kualitas produk dan harga berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian produk bensin Pertalite di kota Bandung?
4. Apakah model ini dapat dipakai untuk mengukur keputusan pembelian produk hijau bensin Pertalite di kota Bandung?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai:
1. Untuk mengetahui tanggapan konsumen mengenai Supporting Environmental Protection (mendukung perlindungan lingkungan), Drive for Environmental Responsibility (dorongan tanggung jawab terhadap lingkungan), Green Product Experience (pengalaman terhadap produk
11
hijau), (Environment Friendliness of Companies) perusahaan ramah lingkungan, daya tarik sosial (Social Appeal), Product Quality (kualitas produk) dan Price (harga) pada produk bensin Pertalite.
2. Untuk mengetahui keputusan pembelian konsumen terhadap produk bensin
Pertalite.
3. Untuk mengetahui apakah faktor-faktor seperti mendukung perlindungan lingkungan, dorongan tanggung jawab terhadap lingkungan, pengalaman produk hijau, perusahaan ramah lingkungan dan daya tarik sosial berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian produk bensin Pertalite di kota Bandung.
5. Untuk mengetahui apakah model ini dapat dipakai untuk mengukur keputusan pembelian produk hijau bensin Pertalite di kota Bandung.
1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sarana informasi yang berwawasan pengetahuan serta memberikan informasi kepada konsumen dalam mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pembelian green product pada bensin pertalite di kota Bandung.
1.6.2 Manfaat Praktis
a. Untuk mengetahui pengaruh strategi green product (mendukung perlindungan lingkungan (supporting environmental protection), dorongan untuk tanggung jawab terhadap lingkungan (drive for environmental safety), pengalaman dengan produk hijau (green product experience), keramahan lingkungan dari perusahaan (environment friendliness of companies), daya tarik dari sisi sosial (social appeal), kualitas produk
12
(product quality) dan harga (price) terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk ramah lingkungan.
b. Untuk mengetahui variabel yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk ramah lingkungan
c. Bagi perusahaan diharapkan menjadi lebih baik lagi dalam menerapkan strategi perusahaan
d. Bagi konsumen atau masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam melakukan keputusan pembelian suatu produk
e. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah wawasan mengenai dunia green marketing khususnya green product.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan yang dimaksud, penulis membatasinya pada ruang lingkup sebagai berikut:
a. Penelitian ini membahas pengaruh green marketing yaitu green product yang digunakan perusahaan sebagai strategi pemasaran
b. Penelitian ini menganalisa variabel-variabel green product khususnya pada produk bensin Pertalite.
c. Penelitian ini menggunakan responden dari konsumen yang membeli produk jenis Pertalite di Kota Bandung.
1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Dalam penulisan tugas akhir ini yang merupakan laporan dari hasil penelitian, direncanakan terdiri dari lima bab, masing-masing bab berisi:
Dalam penulisan tugas akhir ini yang merupakan laporan dari hasil penelitian, direncanakan terdiri dari lima bab, masing-masing bab berisi:
BAB I : PENDAHULUAN
13
Dalam bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisi tentang teori-teori yang berkaitan dengan penelitian dan mendukung terhadap pemecahan permasalahan.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini berisi tentang variabel penelitian dan definisi operasional, menentukan posisisi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data serta metode analisis data.
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan menjelaskan secara rinci tentang pembahasan dan analisaanalisa yang di lakukan sehingga akan jelas gambaran permasalahan yang terjadi dan alternatif pemecah masalah yang dihadapi berisi tentang deskriptif objek penelitian serta hasil analisi.
BAB V : PENUTUP
Dalam bab ini berisi kesimpulan dari seluruh penelitian serta saran-saran dan masukan yang berguna dimasa yang akan datang.