BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata Desain merupakan hal yang sangat lumrah dikalangan para graphic desainer. dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa Latin (designare) yang artinya merencanakan atau merancang. Sedangkan desain sendiri diambil dari kata “designo” (Itali) yang artinya gambar. Dalam desain sendiri menurut Acher adalah suatu bentuk yang memberikan maksud penjabaran melalui beberapa pengalaman, skill dan pengetahuan yang memberikan dan membentuk cerminan pada suatu apresiasi dan adaptasi terhadap sekelilingnya, terutama yang berkaitan dengan komposisi, bentuk, berbagai gambar, corak, motif, warna, arti, dan nilai yang sebagian besar memiliki perbedaaan dan memiliki arti yang berbeda pula. Dalam dunia seni rupa istilah desain dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa ide. (Supriyono,2010) Dalam berbagai produk, desain merupakan step yang memang harus dilewati. Desain dalam sebuah karya merupakan proses awal membentuk karya tersebut terutama karya yang dihasilkan dari sebuah desain adalah karya yang selalu punya makna dan fungsi. Desain digunakan untuk suatu perancangan terutama perancangan visual. Dalam berbagai kehidupan tentu desain banyak berperan salah satunya adalah desain mata uang.
Mata uang merupakan alat transaksi untuk pembayaran. Mata uang pertama kali dibuat oleh bangsa lydia abad ke 6 sebelum masehi, mereka pertama menggunakan mata uang dari bahan logam sedangkan mata uang kertas ditemukan di Cina pada abad ke 2 sebelum masehi. Dalam sejarahnya mata uang kertas adalah mata uang yang mudah dapat dimengerti dan dapat dibuat dengan menggunakan bahan yang terbuat dari bubur kayu dari pada mata uang yang terbuat dari logam, emas maupun perak yang sulit didapatkan. Dalam kehidupan desain, mata uang tentu tidak hanya sebagai
alat transaksi namun juga alat komunikasi visual yang dirancang untuk mempunyai makna, simbol maupun ikon tertentu pada setiap detail gambarnya. Setiap makna, simbol maupun ikon pada mata uang secara tidak langsung memiliki suatu ciri khas di dalam desainya.
Setiap rupa memiliki ciri khas atau identitas masing-masing, ciri khas itu muncul ketika seniman atau pencipta itu memiliki sebuah pola yang hanya meraka ciptakan sendiri. Identitas dalam sebuah karya seni visual disebut dengan identitas visual, identitas visual sendiri memiliki suatu pola yang hanya dimiliki suatu karya seni dan itupun berbeda satu sama lain yang digunakan dengan tujuan untuk membedakan karya seni satu dengan yang lain sehingga mudah dikenal masyarakat. Identitas visual atau yang dimaksud visual identity juga terdapat pada desain mata uang, pola tersebut dapat dilihat jika diteliti secara langsung dengan mengumpulkan semua jenis spesimen mata uang yang emisi tahunnya sama.
Selain itu, mata uang kertas sebagai salah satu media komunikasi visual yang tersirat dengan nilai estetika. Estetika merupakan suatu hal yang memiliki beberapa unsur yang terdiri atas gambar, huruf, warna serta teknik cetak yang punya ciri khas. Hasil karya seorang pencipta tidak akan pernah menjadi sebuah produk seni apabila karya tersebut tidak memiliki bentuk estetika yang bermakna.(Damianus, 2005:212) Penerapan estetika visual mata uang tentu menjadi penambahan point setiap mata uang yang dibuat.
Setiap karya seni yang memiliki estetika tentu terdapat nilai jual tinggi terutama yang menyangkut budaya maupun pahlawan dalam suatu negara.
Pengertian estetika berasal dari bahasa yunani kuno aistheton oleh seorang filsuf bernama Baumgarten di tahun 1750, yang berarti kemampuan lewat penginderaan. Menurutnya seni masuk dalam pengetahuan sensoris, sehingga hakekat seni dalam estetika tidak lain ialah keindahan. (Sumardjo, 2000:25) Estetika dapat diterapkan untuk menganalisis suatu karya terutama desain mata uang, seperti halnya estetika menurut Thomas Aquinas yang memiliki 3 syarat keindahan yaitu integrity of perfaction, proportion of harmony dan brightness of clarity yang mana dari ketiga syarat tersebut
membentuk teori subjektif (tentang perlunya pengalaman keindahan) dan objektif (perlunya benda seni) maka dari itu ketiga syarat tersebut akan melahirkan suatu objektivitas yang disebut dengan benda seni. (Sumardjo, 2000:279) Pengaruh Aritoteles dalam pemikiran Thomas mengenai estetika tampak dalam pengajuannya terhadap peran subjek dalam proses terjadinya keindahan, yang memberikan pengetahuan empiris, yakni terhadap alam semesta, diri manusia sendiri dan dunia lingkungannya. (Sumardjo, 2000:280)
Dibalik desain mata uang kertas selain adanya nilai estetika didalamnya juga memiliki suatu makna, tanda atau pertanda pada setiap elemen desainnya. Dalam pandangan Damianus, hasil karya seni seorang seniman tidak akan pernah menjadi sebuah karya seni apabila karya tersebut tidak memiliki bentuk estetis bermakna. (Damianus, 2005:212). Sama halnya dengan pandangan Saussure, sebuah hal memiliki kandungan dua relasi antara penanda dan petanda. Hal tersebut mempunyai cakupan komunikasi visual yang terdapat pada mata uang kertas juga, bisa dikatakan mata uang kertas mengandung konsep semiotik denotasi dan konotasi.
Dalam ranah hal ini, denotasi adalah tanda yang logis atau masuk akal bersifat jelas atau nyata. Sedangkan konotatif atau konotasi adalah gagasan dan asosiasi yang didalamnya setiap individu mempunyai interprestasi masing-masing. (Ashwin,1989:208)
Dalam suatu mata uang Indonesia untuk tampilannya terdapat kesepakatan bersama antara pihak yang bersangkutan. Dalam kesepakatan tersebut dimata uang kertas mengandung identitas-identitas dari bangsa Indonesia. Identitas tersebut memberikan gambaran tentang ciri-ciri bangsa Indonesia dan yang dimiliki bangsa Indonesia. Identitas dalam mata uang kertas Indonesia tersebut tidak hanya identitas saja namun terdapat maksud dalamnya.
Pada mata uang kertas Indonesia terdapat banyak sekali makna dan nilai estetik pada setiap elemennya, didalamnya mempunyai tanda dan penanda, denotasi maupun konotasi. Mata uang kertas Indonesia emisi tahun
2000 merupakan salah satu desain mata uang terbaik didunia, dengan standar bahan mutu maupun desain. Dalam mata uang kertas emisi tahun 2000 terdapat desain yang menarik untuk dibahas, untuk dimengerti maksud dan tujuan pada visual mata uang kertas yang dihasilkan oleh delinavit atau desainer mata uang dari departemen pengelolaan uang Bank Indonesia tersebut. Dari hal yang dikemukakan di atas perlu diadakan penelitian tentang desain pada mata uang kertas Indonesia, akan tetapi informasi dan pengetahuan ini akan mengerucut pada visual identity pada visual mata uang kertas Republik Indonesia emisi tahun 2000 dengan menggunkan pendekatan estetika menurut Thomas Aquinas, yang akan diteliti lebih lanjut dalam laporan kajian ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, dapat ditarik beberapa rumusan masalah. Yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana mendiskripsikan dan memahami visual identity mata uang kertas Republik Indonesia emisi tahun 2000?
2. Bagaimana memahami penerapan estetika dalam mata uang kertas Republik Indonesia emisi tahun 2000 menurut Thomas Aquinas?
1.3 Tujuan Penelitian
Pada dasarnya tujuan penelitian yang ingin dicapai pada kajian ini adalah sebagai berikut.
1. Mendekripsikan dan memahami apa saja visual identity mata uang kertas republik Indonesia emisi tahun 2000.
2. Mendeskripsikan dan memahami estetika menurut Thomas Aquinas dan makna yang terdapat dalam desain mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000.
1.4 Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan penelitian yang penulis dapatkan yaitu sebagai berikut :
1. Penulis hanya meneliti mata uang kertas emisi tahun 2000.
2. Jumlah objek uang yang digunakan ada 7 buah.
3. Penelitian hanya berpusat pada penelitian estetika menurut Thomas Aquinas dan visual identity dalam mata uang kertas Republik Indonesia Emisi Tahun 2000.
1.5 Manfaat Penelitian
Dalam Penelitian ini penulis berharap mampu memberikan manfaat yang baik secara teoritis maupun praktis kepada kalangan mahasiswa desain dan masyarakat khusus yang berperan pada bidang desain maupun seni.
Manfaat tersebut adalah sebagai berikut : 1. Secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pengetahuan mengenai estetika menurut Thomas Aquinas pada desain mata uang kertas emisi tahun 2000.
b. Memberikan pemahaman akan estetika dan makna mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000.
2. Secara Praktisi
a. Memberikan ilmu atau pengetahuan yang lebih untuk penulis dan pembaca dalam ilmu desain, estetika menurut Thomas Aquinas dan maknanya.
b. Menumbuhkan rasa minat untuk mendalami sejarah maupun estetika mata uang indonesia khususnya dari tahun 2000.
c. Menjadi salah satu bahan referensi untuk penelitian dalam bidang estetika mata uang.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1 Teori Desain
2.1.1.1. Definisi Desain
Kata Desain merupakan hal yang sangat lumrah dikalangan para graphic desainer. Desain sendiri diambil dari kata “disegno” (Itali) yang artinya gambar. Sedang dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa Latin (designare) yang artinya merencanakan atau merancang.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 346) menegaskan bahwa desain berarti suatu kerangka, bentuk atau sebuah rancangan. Menurut Hery Suhersono (2005: 11) desain adalah penataan atau penyusunan berbagai aspek elemen visual seperti garis, bentuk, warna dan figur yang diciptakan agar tercipta adanya nilai-nilai keindahan didalamnya. Dalam dunia seni rupa istilah desain dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa ide.
Dari desain sebagai bidang disiplin studi, desain adalah suatu disiplin atau mata pelajaran yang tidak hanya mencakup eksporasi visual, tertentau terkait dan mencakup pula dengan aspek-aspek seperti kultural-sosial, filosofis, teknis dan bisnis. (Safanayong, 2006:2) sedangkan dalam ensiklopedia desain merupakan dorongan keindahan yang mewujudkan dalam suatu bentuk komposisi; rencana komposisi; sesuatu yang memiliki kekhasan; atau garis besar suatu komposisi, misalnya bentuk yang berirama desain motif, komposisi nada dan lain-lain. (Sachari, 2005: 8)
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa artian desain dalam kaca mata dunia seni komunikasi visual
yaitu desain merupakan suatu rancangan awal sebuah solusi masalah untuk membuat sesuatu secara visual yang mana unsur pembentuknya menggunakan elemen visual yang mempunyai ciri khas dan didalamnya mempunyai nilai-nilai keindahan dan maksud tujuan si pembuat yang tertuang ke dalam perancangan gambar visual tersebut.
2.1.1.2 Unsur-Unsur Desain Visual
Di dalam desain terdapat elemen-elemen pembentuk dalam suatu karya desain. Elemen-elemen itu sendiri dapat saling berhubungan untuk membentuk suatu karya desain nyata atau visual. Didalam visual terdapat unsur-unsur dalam mewujudkan visual yakni :
a. Titik
Gambar 2.1: Titik (Foto, Anggi 2016)
Merupakan salah satu unsur visual yang wujudnya relatif kecil dan dasar, dimana dimensi panjang dan lebarnya dianggap tidak berarti. Titik tidak cenderung memiliki rangkaian, susunan, kepadatan dan jumlah tertentu.
(Kusrianto, 2009:30) Titik adalah unsur terpenting dalam senu rupa Sebagai contoh butiknya yaitu adanya lukisan bergaya impresif dengan teknik kombinasi antara variasi ukuran, warna, prinsip desain hingga membentuk suatu perwujudan kesatuan, seperti lukisan yang beraliran pointilisme.
b. Garis
Gambar 2.2: Garis (Foto, Anggi 2016)
Adalah goresan yang berpengaruh dalam terhadap pembentukan suatu objek, goresan atau coretan juga sebagai suatu batas limit bidang atau warna. (Kusrianto, 2009:30) c. Bidang
Gambar 2.3: Bidang
(Internet, Team DKV SMKN 9 Bandung 2013)
Merupakan unsur visual yang memiliki dimensi panjang dan lebar. Dilihat dari bentuknya, dikelompokkan menjadi dua bidang, yaitu bidang geometri aliasa beraturan dan bidang nongeometris alias tidak beraturan. (Kusrianto, 2009:30)
d. Ruang
Gambar 2.4: Ruang (Web, Putu darmayasa 2016)
Ruang dapat dihadirkan dengan adanya bidang.
Pembagian bidang atau jarak antar objek berunsur titik, garis, bidang dan warna. Ruang lebih mengarah pada perwujudan tiga dimensi sehingga ruang dapat dibagi dua, yaitu ruang nyata dan semu. Keberadaan ruang sebagai salah satu unsur visual sebenarnya tidak dapat diraba tetapi dapat dimengerti.
(Kusrianto, 2009:30) e. Warna
Warna merupakan pelengkap suatu gambar serta mewakili suasana kejiwaan pelukisnya dalam berkomunikasi.
Warna juga merupakan unsur yang sangat tajam untuk menyentuh kepekaan penglihatan sehingga mampu merangsang munculnya perasaaan. Secara visual warna memiliki kekuatan yang mampu memengaruhi citra orang yang melihatnya. Masing-masing warna mampu memberikan respon secara psikologis. Molly E. Holzschlag, seorang pakar tentang warna, dalam tulisannya “Creating Color Scheme”
membuat daftar warna seperti berikut :
Warna Respons Psikologis yang mampu ditimbulkan
Merah Kekuatan, bertenaga, kehangatan, nafsu, cinta, agresifitas, bahaya.
Biru Kepercayaan, Konservatif, Keamanan, teknologi, Kebersihan, Perintah.
Hijau Alami, Kesehatan, Pandangan yang enak, Kecemburuan, Pembaruan.
Kuning Optimis, Harapan, Filosofi, Ketidak jujuran/
kecurangan, pengecut, pengkhianatan.
Ungu Spiritual, misteri, keagungan, perubahan, bentuk, galak, arogan.
Orange Energi, keseimbangan, kehangatan Coklat Bumi, dapat dipercaya, nyaman, bertahan Abu-abu Intelek, futuristik, modis, kesenduan, merusak
Putih Kemurnian/Suci, bersih, kecermatan, inocent (tanpa dosa), steril, kematian
Hitam Kekuatan, seksualitas, kemewahan, kematian, misteri, ketakutan, ketidakbahgiaan, keanggunan
Gambar Tabel 2.1: Psikologi Warna menurut Molly E. Holzschlag (Kusrianto,2009:47)
Semua orang menyukai warna, warna dapat mempengaruhi kejiwaan. Warna juga salah satu pertimbangan untuk suatu hal. Warna menurut teori Sir Isaac Newton apabila dilakukan pemecahan warna spektrum dari sinar matahari, akan dihasilkan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, alias mejikuhibiniu. Warna-warna itu bisa ditangkap mata manusia pada saat ada pelangi.
(Kusrianto,2009:48)
f. Tekstur
Gambar 2.5: Tekstur tanah (Web, Argoteknologi 2016)
Merupakan pola raba dalam suatu bidang permukaan.
Tekstur berdasarkan fisiknya dibagi menjadi 2 yaitu tekstur kasar dan halus, beserta kesan pantul mengkilat dan kusam.
berdasarkan efek tampilanya tekstur dibagi menjadi 2 yaitu tekstur semu dan tekstur nyata. (Kusrianto, 2009:32)
2.1.1.3 Prinsip Desain
Desain memiliki prinsip didalamnya yaitu sebagai berikut : a. Kesatuan
Gambar 2.6: Prinsip Desain
(Web, Team DKV SMKN 9 Bandung 2013)
Merupakan prinsip yang mendasar untuk mewujudkan keutuhan. Dalam hal ini kesatuan adalah kunci yang menghubungkan keharmonisan antara warna, raut, arah dan lainya sehingga bisa dilihat keutuhannya.
Hukum Gestalt merujuk pada faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas kesatuan seperti kedekatan, kesamaan, ketertutupan, kesinambungan, gerak bersama.
b. Keserasian
Gambar 2.7: Prinsip Desain (Foto, Anggi 2016)
Merupakan prinsip desain yang mempertimbangkan kecocokan antara seluruh bagian sehingga dapat dilihat keharmonisan, serta tidak bertentangan agar tercipta suatu makna didalamnya. Model pendekatan keserasian dibagi menjadi dua yaitu keserasian fungsi dan keserasian bentuk.
Keserasian fungsi ialah menunjukkan adanya kesesuaian antara objek yang berbeda dalam satu hubungan fungsional.
Sedangkan keserasian bentuk karena ada terciptanya kesesuaian raut, ukuran, warna, tekstur dan aspek lain.
c. Irama
Gambar 2.8: Prinsip Desain (Foto, Anggi 2016)
Merupakan suatu pengaturan unsur-unsur desain secara berulang dan berkelanjutan, sehingga terbentuk suatu kesatuan arah dan gerak yang menimbulkan keterpaduan didalamnya. Irama dibagi menjadi Beberapa
yaitu : repetitif (irama yang tertib dan monoton), alternatif (perulangan secara bergantian), progresif (perulangan yang bertingkat), flowing (perulangan berkelok, berombak, kesinambungan).
d. Dominasi (penekanan)
Gambar 2.9: Prinsip Desain (Foto, Anggi 2016)
Merupakan suatu prinsip desain yang bersifat unggul atau keunggulan sehingga membuat sesuatu untuk menjadi pusat perhatian/center of interest. Cara mewujudkan dominasi yaitu keunggulan bagian, kontras/perbedaan, kelainan, pengaturan arah.
e. Keseimbangan
Gambar 2.10: Prinsip Desain (Foto, Anggi 2016)
Merupakan prinsip desain yang berkaitan dengan peletakan layout sehingga dapat tersusun dengan keadaan seimbang. Pengaturan keseimbangan dapat dibagi menjadi
3 bagian yaitu keseimbangan simetris (keseimbangan yang dilihat kanan dan kiri sama berat), keseimbangan asimetris (keseimbangan yang membedakan wujud, ukuran, jarak penempatan antara kiri dan kanan dengan seimbang), keseimbangan memancar (keseimbangan yang mengarah pada suatu sumbu atau titik pusat tertentu).
f Kesebandingan
Gambar 2.11: Prinsip Desain (Foto, Anggi 2016)
Merupakan proporsi desain untuk memperoleh keserasian. Proporsi itu sering dipakai dalam karya seni maupun arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1, sering juga dipakai 8:13. Dalam desain proporsi ini dapat kita lihat dalam perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.
2.1.1.4. Syarat-syarat desain yang baik
Desain yang baik selalu memiliki karakteristik yang bernilai maksimal dengan prinsip keekonomisan. Ada beberapa syarat seperti berikut :
a) Daya Kreasi : Mengandung unsur estetika dan kreatif.
b) Daya Pakai : Efisensi dalam pemakaian.
c) Daya Jual : Memiliki daya jual yang tinggi.
d) Daya Fungsi : Memiliki Pencapaian maksud dan tujuan dalam desain tersebut.
2.1.1.5. Tentang Tipografi
Didalam desain grafis, tipografi adalah suatu cetakan huruf yang disusun dan dirancang secara kreatif dalam suatu publikasi dalam proses seni. Huruf cetak memang digunakan untuk mencetak pada media tertentu. Tipografi sebagai unsur pendukung tidak pernah lepas dari desain komunikasi visual.
Perkembangan tipografi dipengaruhi oleh kebudayaan dan zaman karena itu dapat bentuk huruf dapat dipersepsikan berbeda-beda, maka dari itu desainer harus cermat untuk memilih dan menyusun huruf. Tidak dapat dipungkiri bahwa teks adalah bagian dari desain grafis yang sangat penting. Oleh karena itu, untuk menguasai desain grafis, harus mempelajari pula tipografi, yaitu ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang huruf cetak. (Kusrianto, 2009:190)
Huruf terdiri dari bagian-bagian yang secara ilmiah memiliki nama. Untuk itu huruf dikelompokkan dalam beberapa kategori dan penggayaan. Ada 2 aspek dalam anatomi huruf :
1) Aspek yang pertama adalah bentuk fisik huruf dan merupakan metode mengenai bagaimana huruf dibentuk, demikian juga dengan cara mengukurnya.
2) Aspek yang kedua menyangkut bentuk, kontruksi dan tampilan secara visual dan masing-masing huruf secara individu.
Adapun pengelompokkan huruf sesuai dengan ciri-ciri anatominya :
1) Oldstyle
Gambar 2.12: Tipografi menurut ciri anatominnya (Web, David Radtke 2016)
Huruf ini diciptakan dalam periode tahun 1470 ketika huruf venetian pertama kali dibuat oleh seniman Venice, diikuti seniman Aldus dan Caslon berakhir pada abad ke- 16.
Beberapa font yang dikategorikan sebagai font oldstyle : Bembo, bauer text, CG Cloister, ITC U sherwood, Claren- don, Garamond, Goudy, Oldstyle, Palatino dan lain sebagainya. Oldstyle memiliki huruf yang sangat rumit dan memiliki seni keiindahan didalamnya.
(Kusrianto,2009:202)
2) Modern
Gambar 2.13: Tipografi menurut ciri anatominnya (Web, David Radtke 2016)
Huruf ini diciptakan pada abad ke 18 ketika Giambastita Bodoni menciptakan karya yang kita kenal saat ini sebagai font bodoni.
Beberapa font yang dikategorikan sebagai font modern : Bodoni, bauer bodoni, didot, torino, auriga, ITCFenice, Linotype Modern, ITC Modern dan lain sebagainya.
Memiliki huruf yang relatif senerhana dari pada oldstyle.
(Kusrianto,2009:203) 3) Slab Serif
Gambar 2.14: Tipografi menurut ciri anatominnya (Web, David Radtke 2016)
Kelompok ini ditandai dengan bentuk serif yang tebal, masa kemunculan jenis font bervariasi dan ikut kemunculan huruf-huruf yang berfungsi sebagai penarik perhatian.
Beberapa font yang dikategorikan sebagai font slab serif : Boton, aachen, calvert, lubalin graph, serifa, eockwell dan lain sebagainya. (Kusrianto,2009:204)
4) San Serif
Gambar 2.15: Tipografi menurut ciri anatominnya (Web, David Radtke 2016)
Adalah huruf tanpa serif (kait diujung). Pertama kali diciptakan oleh William Calson IV pada tahu 1816.
Beberapa font yang dikelompokkan sebagai font san serif : Franklin Gothic, Helvetica, Univers, Formata, Gill sans, Futura, Optima dan masih banyak lagi.
(Kusrianto,2009:208)
2.1.1.6. Tentang Layout
Layout dalam artian adalah menata atau menyusun.
Dalam penataan layout dihalaman cetak adalah salah satu bagian dari kegiatan dalam desain grafis. Oleh karena itu, prinsip desain tidak ada bedanya dengan apa yang telah dipelajari pada nirmana maupun desain grafis, elemen-elemen visual harus ditata secara apik di halam tersebut. (Kusrianto, 2009:268)
Dalam dunia grafis, layout sangat berpengaruh karena layout memeberikan kita kemudahan untuk mendesain secara menarik dan seimbang, tantang yang paling menarik untuk graphic desainer adalah tata desain atau layout. Layout memeliki prinsip yang harus digunakan dalam mendesain menurut Robin Williams dalam buku the nondesigner’s design book, yaitu :
1) Kontras (contrast)
Gambar 2.16: Prinsip Layout
(Web, Aulia Masna 2016)
Disamakan dengan artian keseimbangan. Desain yeng memiliki penyusunan yang kontras akan memperoleh fokus yang ditonjolkan sehingga desain itu tidak akan dikatakan desain datar.
2) Perulangan (repetition)
Gambar 2.17: Gambar dari the nondesigner’s design book (Foto, Anggi 2016)
Pengulangan merupakan cara lain yang bisa digunakan untuk menciptakan suatu kesatuan dalam desain. Dalam desain, perulangan bisa digunakan untuk berkreasi dalam berbagai elemen grafis seperti warna, bentuk, garis, tekstur, bahkan objek. Dalam dunia layout perulangan akan memperkuat kesatuan pada desain.
3) Peletakkan (alignment)
Gambar 2.18: Prinsip Layout (Foto, Anggi 2016)
Alignment atau peletakkan elemen - elemen dalam desain grafis dan layout merupakan hal yang sering muncul dalam proses desain. Alignment sangatlah penting dalam desain untuk membangun suatu tampilan yang indah secara estetis dan efektif secara fungsinya. Alignment dibagi menjadi 4 format utama yaitu center (rata tengah), left (rata kiri), right (rata kanan) dan justify (rata kanan-kiri).
4) Kesatuan atau fokus (proximity)
Gambar 2.19: Prinsip Layout (Pinterest, Lee Waller 2016)
Kesatuan merupaka salah satu dasar tata rupa yang sangat penting. Kesatuan menghubungkan ke berbagai elemen satu dengan elemen lain yang mengakibatkan keharmonisan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa mempunyai hubungan, maka kesatuan telah tercapai. Dalam layouting kesatuan dapat terlihat jelas.
2.1.2. Teori Seni
2.1.2.1 Definisi Seni
„Seni‟ dalam bahasa melayu rendah kuno berarti “kecil” tapi dalam artian zaman setelah merdeka disebut sebagai art atau keterampilan, aktivitas manusia, karya, seni indah.Seni merupakan sebuah wujud penginderaan, karya seni sendiri yaitu suatu seni yang dapat dilihat, didengar tetapi arti seni itu sendiri
berada diluar benda seni karena seni itu berupa nilai. Dalam seni butuh adanya suatu kreativitas didalamnya untuk menciptakan hal-hal baru dan lebih segar tentunya. Kreativitas dalam seni adalah bagaimana seseorang mampu mempergunakan teori ketrampilan dalam menjawab persoalan dalam bidang seni tersebut (Sumardjo, 2000:43). Menurut Susanne K. Langer menyebutkan ada 3 prinsip seni yakni ekspresi, kreasi dan bentuk.
Prinsip ekspresi ini berlaku untuk semua golongan seni karena disini orang mempunyai pemikiran dan tindakan yang sesuai dengan diri sendiri. Prinsip ini dilakukan karena adanya dorongan rasa ingin memuaskan diri dan bebas untuk melakukan segala sesuatu. Prinsip yang kedua adalah kreasi. Kreasi yang berarti ciptaan. Segala sesuatu yang belum ada, lalu dibuat berdasarkan ide yang mapan beserta material yang sudah ada di alam semesta.
Kreasi itu berbentuk wujud yang dapat dilihat, didengar, dirasa, yang tidak ada menjadi ada. Prinsip yang ketiga yaitu bentuk.
Bentuk dikatakan prinsip karena bentuk itu perwujudan dari seni yang dapat dilihat dengan struktur tertentu dengan pengertian abstrak. Bentuk juga dapat dikatakan sesuatu yang menyangkut nilai.
2.1.2.2 Seni sebagai nilai
Yang dimaksud seni itu adalah tentang nilai bukan tentang bendanya. Nilai itu sesuatu yang subjektif, karena itu tergantung kepada manusia yang menilainya. Secara konteks nilai itu praktis, dapat dilihat karena kegunaanya terkadang dapat ditambahkan pada suatu kenyataan. Nilai lain dalam karya seni adalah nilai kognitif atau pengetahuan. (Jakob Sumarjo, 2000:135)
2.1.3. Teori Desain dan seni
2.1.3.1 Antara Desain dan Seni
Desain merupakan suatu perancangan yang berasal dari ide dan memiliki fungsi tertentu dalam penciptaannya. Selain fungsi desain memiliki prinsip dasar yang harus dipenuhi.
Desain adalah bagian dari karya seni. Karya seni memiliki aspek ide, juga memiliki prinsip yaitu aman, nyaman dan indah.
Meskipun memiliki kesamanan, desain dan seni memiliki perbedaan ensensia. Desain diciptakan untuk memenuhi fungsi kegunaan, sedangkan seni untuk memenuhi ekspresi pribadi dan mengungkapkan ide (gagasan). Desain bersifat praktis sedangkan seni bersifat ideologis.
2.1.3.2 Seni dan Desain dalam Suatu Karya
Dalam suatu karya terdapat unsur desain dan seni.
Namun, banyak orang awam yang mengatakan desain dan seni itu sama. Seni dan desain tidak sepenuhnya sama, seni dan desain memiliki beberapa perbedaan, pengertiannya pun sangatlah berbeda. Dalam seni tidak semua karya seni itu indah tapi dalam desain, karya desain itu harus indah atau estetika selain memiliki kegunaannya. Indah atau tidak indahnya dalam suatu karya seni tergantung pada seniman yang membuatnya dan juga peran penikmat seni (Suhernawan dan Nugraha, 2010:3).
Setiap manusia menyukai keindahan masing-masing.
Melalui seni manusia memiliki kenikmatan secara batiniah.
Keindahan seni adalah keindahan yang diciptakan oleh manusia.
Keindahan dalam karya seni dan desain memiliki nilai esentitas tersendiri. Meninjau sebuah karya seni rupa ataupun desain hakikatnya karya tersebut harus diletakkan sebagai objek bermakna. Karya-karya tersebut diyakini memiliki sejumlah
nilai yang tercipta seiring proses pembuatanya. Dalam karya seni maupun desain nilai-nilai tersebut amatlah luas, yaitu sebagai ekspresi dan tanda-tanda zaman di saat karya tersebut dibuat. Semakin berbobot seniman atau perancangan itu membuat karya, semakin luas dan dalam pula nilai yang menyertainya.
2.1.3.3 Seni dan Desain dalam Ragam Hias
Ornamen berasal dari kata „ornare‟ bahasa latin yang berarti menghias. Ornamen juga berarti „dekorasi‟ atau hiasan.
Ornamen merupakan hasil budaya sejak zaman prasejarah dan berlanjut sampai masa kini. Dalam hal ini ragam hias memiliki pengertian secara umum yaitu keinginan manusia untuk menghias benda-benda sekelilingnya, bentuk yang didapat oleh seniman dari berbagai hal terlihat oleh indera penglihatan manusia dan dibentuk sesuai inmajinasi seniman tersebut.
Dengan itu, kekayaan bentuk yang berasal dari penglihatan manusia tersebut menjadi sumber ornamen dari masa lampau yang berkembang di istana raja-raja dan para bangsawan baik yang ada dibangsa barat maupun bangsa timur. Pada prinsipnya ragam hias merupakan hasil karya seniman. Dalam ragam hias tersebut terkandung unsur seni yang menampilkan keindahan.
Disamping keindahan, banyak ragam hias diciptakan dengan maksud untuk keperluan yang tertentu. (kemdik,2009:4)
Dalan struktur yang terdapat pada bidang gambar, ornamen adalah suatu perihal struktur dari elemen-elemen visual yang terdapat pada sebuah gambar tersebut. (Susanto, 2003). Unsur yang terdapat pada ornamen yaitu motif, motif merupakan elemen pokok dalam ornamen yang gambarnya memiliki pola tertentu. Motif memiliki beberapa macam meliputi :
a. Motif Geometris
Gambar 2.20: Macam Motif (Web, Mohammad Imam 2016)
Yaitu motif yang menggunakan unsur-unsur rupa seperti garis dan bidang yang bersifat abstrak.
Contoh : meader, lilin, lereng, kawung, jlamprang, tumpai, L/T
b. Motif tumbuh-tumbuhan
Gambar 2.21: Macam Motif (Web, Bayu Wiyanta 2016)
Yaitu penggambaran motif yang berbentuk tumbuh- tumbuhan baik natural maupun stilirisasi.
Contoh : motif bunga mawar, pohon asem c. Motif Binatang
Gambar 2.22: Macam Motif (Web, Ani Andayati 2016)
Yaitu penggambaran motif berbentuk binatang yang merupakan hasil dari gubahan/ stilirisasi.
Contoh : motif gajah, motif singa, motif ular d. Motif manusia
Gambar 2.23: Macam Motif (Web, Iqbal 2016)
Yaitu salah satu motif perwujudan manusia baik berkedok atau bertopeng atau secara utuh.
Contoh : Motif sosok utuh (gaya belalang sembah), motif kedok dan kala (neraca bulan pejejang bali), motif sebagian tubuh, motif wayang.
e. Motif benda-benda alam
Gambar 2.24: Macam Motif (Web, Team Universitas Negri Medan 2016) yaitu motif yang menyerupai benda alam.
Contoh : batu, air, gunung, matahari.
f. Motif Kreasi
Gambar 2.25: Macam Motif
(Web, Lulu & Endang 2016)
Yaitu motif yang berdasarkan pemeikiran atau imajinasi, bentuk ciptaan sendiri.
Contoh : motif kal, motif ikan duyung, raksasa.
Tidak hanya motif saja, benda yang memiliki ornamen adalah benda yang memiliki nilai harga yang sangat tinggi. Hal itu membuat ornamen selain indah dilihat tapi juga bernilai tinggi.
2.1.4 Tentang Estetika
Begitu banyak pemikiran orang dengan teori-teori yang dibuat, seperti halnya estetika. Teori estetika tidak hanya satu atau dua tetapi lebih dari 10 dengan berbagai macam pemikiran dari berbagi filsuf.
Mulai dari Plato hingga Jacob Sumarjo membahasa tentang pengertian maupun pola pikir estetika seni. Estetika yang paling terkenal sepanjang masa yaitu estetika milik Plato dan Aritoreles hingga saat ini masih menimbulkan perdepatan dan penafsiran oleh filsuf-filsuf.
Teori yang dimaksud Plato adalah bersumber dari cinta kasih, moral dan kebenaran/ilmu pengetahuan (watak). Keindahan yang menurut Plato dibagi menjadi 2 kategori yaitu keindahan menurut bendanya dan keindahan menurut bentuk hubungan.
No Menurut Benda Menurut Bentuk
1 Keindahan yang melekat pada benda (keindahan sesungguhnya yang hanya tiruan dari ide abadi)
Keindahan yang sederhana (keindahan yang menunjukkan adanya kesatuan yang sederhana)
2 Keindahan diluar benda (tingkah laku)
Keindahan yang kompleks (keindahan menunjukkan adanya proporsi, ukuran dan unsur-unsur yang membentuk kesatuan besar.
Gambar Tabel 2.2: Plato
Karya seni dalam sudut pandang Plato adalah karya seni terjadi akibat pendekatan yang terlalu intelektual dengan car menilai dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang rasional. (Sumarjo,273)
Beda halnya dengan Plato, Aritoteles memang setuju dengan pendapat Plato bahwa seni itu adalah suatu tiruan atau imitasi. Akan tetapi, tiruan yan dimaksud oleh Aritoteles adalah tiruan yang bukan hanya sekedar reproduksi realitas. Seniman memiliki sejumlah realitas untuk membangun sebuah memiliki makna, contoh adalah tingka laku manusia yang terjadi dimana pun dan kapanpun dengan begini karya seni itu bersifat universal.
Adapun ciri-ciri keindahan menurut Aritoteles :
1. Keatuan atau keutuhan yang dapat menggambarkan kesempurnaan bentuk, tak ada yang berlebihan maupun berkekurangan, semua serba pas.
2. Harmoni atau keseimbangan, sesuai dengan ukurannya atau proporsional.
3. Kejernihan atau kejelasan, terang tanpa adanya keraguan.
Semua keindahan itu dapat diapresiasikan dengan peran nalar, dan bukan bersifat transendental seperti Plato. (Sumarjo, 275) Dalam pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kedua orang filsuf tersebut memiliki banyak perbedaan dalam pandangan mengenai estetika dalam suatu karya seni, namun kedua filsuf tersebut sangat mempengaruhi cara pandang filsuf-filsuf dalam masa dikemudian seperti halnya filsuf Horatius, S.t Agustinus, Thomas Aquinas, Emmanuel Kant, Wolfgang Von Goethe dan masih banyak lagi. Yang paling banyak terpengaruh dalam estetika Plato dan Aritoteles adalah Horatius, S.t Agustinus dan Thomas Aquinas pada abad pertengahan. Dua diantaranya memiliki kecondongan pandangan yang berbeda satu sama lain, S.t Agustinus memilih Plato sebagai filsuf yang berpengaruh dalam pandangannya, sedangkan Thomas Aquinas memilih Aritoteles sebagi pertimbangan
estetikanya tapi keduanya tetap menggunakan pandangan Plato dan Aritoteles.
Dalam hal ini penulis memilih pandangan Thomas Aquinas sebagai panduan untuk memecahkan estetika dalam mata uang kertas Indonesia ini dengan alasan bahwa estetika menurut pandangan Thomas Aquinas memiliki unsur-unsur estetika yang dimiliki mata uang kertas Indonesia emisi 2000 dengan menggunakan visual identity.
Menurut Jakob Sumardjo dalam bukunya filsafat keindahan merupakan bagian dari estetika modern, tidak hanya mempersoalkan proses atau hasil/produk, tetapi juga makna atas produk tersebut, baik keterlibatannya dalam proses produksi maupun caranya mengevaluasi dan menggunakan produk tersebut. Estetika sendiri merupakan suatu keindahan yang didalamnya memiliki pesan dan maksud tertentu selain keindahan saja. Sebagai bagian dari budaya rupa, karya desain memiliki nilai-nilai estetis. Nilai-nilai tersebut lahir karena ekspresi pribadi seperti halnya pada seniman dalam berkarya seni, maupun nilai-nilai yang lahir karena tuntutan objektif yang lahir karena selera pasar, tren yang berkembang dimasyarakat, maupun yang lahir karena penggunaan teknologi atau material baru. (Sachari, 2005:122)
Estetika memilki 3 pokok aspek : seniman/kreator/desainer, karya seni/desain, publik seni/apresiator.
a) Seniman
Yaitu orang yang membuat karya tersebut.
b) Karya seni
Hasil jadi dari proses kreatif berbentuk fisik visual.
c) Publik Seni
Orang-orang yang mengapresiasi dan mengkritik karya seni.
Model pendekatan estetik dapat dilakukan atas dua sisi yaitu :
a) Pendekatan melalui filsafat seni
Objek desain dapat diamati sebagai sesuatu yang mengadung makna simbolik, makna sosial, makna budaya, makna keindahan, makna ekonomi, makna penyadaran, ataupun makna religius. Dengan itu memberikan tinjauan dari artian dan makna pada sebuah objek tersebut.
b) Pendekatan melalui kritik seni
Objek cenderung diamati sebagai sebuah objek yang mengandung dimensi kritis, seperti dinamika gaya, teknik pengungkapan, tema karya, ideologi estetik, pengaruh terhadap gaya hidup, hubungan dengan perilaku, dan berbagai hal yang sementara ini memiliki dampak terhadap lingkungan.
Gambar Tabel 2.3: Model Pengamatan objek desain yang dipahami sebagai budaya benda bermuatan nilai estetik.
(Sachari, 2005: 119)
Estetika menurut Thomas Aquinas sesuatu bisa disebut indah jika menarik dan menyenangkan untuk dilihat. Pemikiran Aquinas dipengaruhi oleh hasil pengabungan Plato dan Aritoteles.
Plato (alam) Aritoteles (iman)
Semua yang ada di dunia ini adalah berasal dari ide.
Ide bukan dasar adanya sesuatu tetapi ada 4 sebab adanya sesuatu : Nilai Estetika
Filsafat Seni
Kritik Seni
Sejarah Seni Objek Desain
a. Cause materialis b. Cause formalis c. Caause efficiens d. Cause finalis Plato tidak suka seni, menurutnya
seni membuat pikiran manusia itu keruh sehingga tidak bisa mengambil keputusan.
Menyukai seni
Keindahan adalah aspek dari
„yang baik‟ identik dengan kebaikkan.
Yang indah adalah yang menyenangkan secara inderawi, keindahan itu terikat erat dengan keinginan
Estetikan itu bersifat metafisik dan rasional Gambar Tabel 2.4: Pemikiran Plato dan Aritoteles
Dengan kesimpulan tersebut, Aquinas berpendapat dengan pandangan bahwa estetika :
1. Estetika adalah cabang dari teologi 2. Keindahan adalah percikkan kebenaran
3 Mengatasi dunia inderawi, menuju kontemplasi langsung.
4 Keindahan hanya bisa ditangkap dengan intuisi atau intelektual.
Gambar Tabel 2.5: Pemikiran Thomas Aquinas
Pandangan tersebut membuat karya seni bersifat obyektif (menarik perhatian) sekaligus subyektif (indah) bisa dilihat indah karena memenuhi kriteria. Adapun kriteria-kriteria dari Aquinas :
a. Interity of perfaction
Keindahan harus memiliki kelengkapan atau integritas, maksudnya bersifat sempurna, tidak terpecah dan tidak tersamai.
b. Propotion of harmony
Keindahan harus memiliki keselarasan yang benarserta bersifat proposional.
c. Brightness of clarity
Keindahan harus memiliki kecermelangan, yaitu jelas, terang dan jernih.
Jadi menurut Aquinas keindahan itu yang berada didalam pengalaman merupakan suatu akal budi yang dapat menjadi keindahan menjadi abstrak dan objek itu sendiri menjadi objek itu sendiri. Selain terdapat keindahan, estetika memiliki nilai makna dan tanda itu sendiri.
Tanda merupakan awal sebuah sesuatu atau peristiwa yang terlihat, bersifat telihat fisik. Tanda disebut tanda apabila pengenalan oleh penggunaannya. Sedangkan makna adalah suatu akibat dari tanda atau penandaan itu sendiri, makna itu bersifat dinamis. Makna merupakan hasil interkasi dinamis antara tanda, interpretant dan objek sehingga tercipta sebuah segitiga proses. Seiring dengan berjalannya waktu makna bisa berubah. Makna dan tanda adalah suatu hal yang sangat penting dalam dunia desain komunikasi visual.
4.1.3 Teori Visual Identity
Dalam kamus bahasa Indonesia visual adalah yang dapat dilihat dengan indra penglihat (mata) sedangkan identity diambil dari bahasa Inggris yang artinya ciri-ciri atau keadaan, khususnya seseorang.Visual
identity secara umum adalah gambar atau goresan yang merepresentasikan satu atau lebih pesan dengan maksud tertentu yang mempunyai ciri khas tertentu dalam visualnya. Visual identity mengenalkan suatu ciri khas dalam sebuah gambar atau visual yang mengarah kepada persepsi dalam sebuah pesan pada gambar tersebut.
Dalam konteks kehidupan manusia gambar banyak dipakai sebagai salah satu media penyampaian informasi. Tujuan dari adanya visual identity adalah untuk mengidentifikasi, membedakan dan membangun sebuah hal yang berbeda dari pangsa pasar.
Dalam dunia desain grafis, begitu banyak karya desain maupun seni yang dihasilkan, maka dari itu visual identity menjadi suatu keharusan dalam membedakan dari hal satu dengan hal lainnya. Selain dalam bentuk rupa, visual identity juga sangat diperlukan dalam hal berkomunikasi karena dapat memperjelas apa yang ingin dan akan disampaikan dalam visual tersebut. Sebuah visual identity adalah artikulasi visual dan verbal dalam sebuag rupa desain. Kesempurnanya sebuah desain atau hasil karya haraus memiliki sebuah visual identity untuk mengkomunikasikan makna, nilai tambah, relevan dalam berbagai pangsa pasar. Tidak hanya itu, menurut Lely Umiarsih dalam websitenya mengatakan bahwa didalam merancang sebuah visual identity harus menampilkan : orientasi, analisis, konsep, desain dan implementasi itu semua tergantung pada apa yang akan didesain. Adapun elemen-elemen yang terdapat pada visual identity dalam buku mendesain logo oleh Surianto Rustan yaitu :
a. Nama
Gambar 2.26: Elemen-elemen visual identity (Pinterest, Aone 2016)
Dalam visual identity nama adalah atribut yang sangat mendasar dan penting dalam sebuah identitas. Nama mewakili semua hal yang menyangkut visual tersebut.
b. Logo
Gambar 2.27: Elemen-elemen visual identity (Web, Carolyn Davidson 2016)
Merupakan atribut terpenting yang terlihat secara fisik, seperti layaknya wajah pada manusia. Melalui logo, tergambara semua atribut nonfisik lainnya sebagai jiwa dari entitas tersebut.
c. Warna
Gambar 2.28: Elemen-elemen visual identity (Web, Abi 2016)
Penelitian yang dilakukan oleh institute for color research di Amerika menemukan bahwa sesorang dapat mengambil keputusan terhadap orang lain, lingkungan maupun visual dalam waktu hanya 90 detik. Dan keputusan tersebut 90%-nya didasari oleh warna.
d. Tipografi
Gambar 2.29: Elemen-elemen visual identity (Web, David Radtke 2016)
Merupakan rangkaian unsur yang penting dalam sebuah visual identity. Dalam publikasinya, tipografi sangat mudah dimengerti dari pada gambar oleh pandangan masyarakat sehingga citra suatu perusahaan lebih cepat dikenal dan disebutkan karena adanya tipografi. Tipografi sebagai elemen visual identity karena bisa memberikan ciri khas yang cepat dikenal masyarakat.
e. Elemen gambar
Gambar 2.30: Elemen-elemen visual identity (Web, Michel 2016)
Yang termasuk dalam elemen gambar pada visual identity adalah foto, artwork, infografis dan lain-lainnya yang memperkuat kesan terhadap kepribadian. Kadangkala dalam identitas visual, desainer menciptakan elemen visual lain, bisa berfungsi berupa background atau cropping image. Berfungsi untuk memperkuat identitas dengan menambahkan
keunikannya, sehingga secara visual membuat masyarakat lebih mudah dikenali.
f. Penerapan identitas
Gambar 2.31: Elemen-elemen visual identity (Web, Ardi 2016)
Penerapan identitas yang ditampilkan dengan konsisten akan memberi gambaran pada publik bahwa entitas tersebut konsekuen dan profesional. Oleh karena itu perlu adanya prinsip unity dalam penerapannya. Desain sebagai bahasa rupa memiliki empat kelompok unsur sebagai berikut :
a. Unsur Konsep, yang terdiri dari titik, garis, bidang, dan volume.
b. Unsur Rupa, yang terdiri dari bentuk, ukuran, warna dan tekstur.
c. Unsur Pertalian, yang terdiri dari arah, kedudukan, ruang, gaya dan berat.
d. Unsur Peranan, yang terdiri dari gaya, makna dan tugas.
Bahasa rupa tidak memiki kaidah gramatika seperti bahasa lain, maka penafsiran mengenai sebuah desain rupa pun berbeda- beda. Namun, bahasa rupa juga memiliki kaidah yang sifatnya universal, dan hampir berlaku dimana-mana. Keempat unsur itu saling berkaitan dan berhubungan, karena satu tanda rupa yang tidak
memiliki makna, gaya atau fungsi hanya merupakan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh penafsir.
2.1.6 Tentang Uang
2.1.5.1 Mengenai Mata Uang
Uang adalah alat yang selalu digunakan setiap saat untuk tukar menukar. Kehidupan diduniawi tidak akan pernah lepas dari yang namanya uang. Uang memiliki 2 kategori yaitu uang kertas dan uang logam. Uang kertas biasanya memiliki nominal yang lebih tinggi dari pada uang logam dan itupun sebaliknya. Uang kertas memilki nilai estetika yang terlihat pada visualnya. Pada perjalanannya yang begitu panjang sampai sekarang didalam visual uang terdapat gambar yang selalu memiliki makna dan sejarah maka dari itu uang yang memiliki nominal yang semakin tinggi maka akan semakin banyaknya pengamanan didalam desain visual uang tersebut, sehingga tidak ada yang bisa memalsukannya. Bapak uang kertas yaitu Benyamin Franklin adalah orang pertama yang memperkenalkan uang kertas kepada masyarakat. (Banindro, 2008: 13)
Uang kertas Indonesia yang pertama kali adalah Oeng Republik Indonesia (ORI) yang dibuat oleh Bank Indonesia yang dulu bernama De Javasche Bank. (Hermanu,2011:10) Uang ini di resmikan sebagai uang Indonesia setelah kemerdekaan dengan desain dan bentuk yang sederhana.
Uang ini pertama kali dicetak di Yogyakarta. Pada tanggal 2 november 1946 Indonesia mengumumkan nama mata uang
„Rupiah‟ sebagai mata uang resmi. Sejak saat itu rupiah adalah alat pembayaran di Indonesia.
Istilah-istilah dalam mata uang, yaitu sebagai berikut:
Contoh mata uang kertas 50.000 a. Intaglio
Angka nominal tulisan “Bank Indonesia” dan “Lima puluh ribu rupiah”, gambar pahlawan serta burung garuda tersa kasar bila diraba.
b. Visible ink
Gambar ornamen (daerah Bali) yang akan memendar hijau kekuningan di bawah sinar UV.
c. Blink Code
Kode tertentu berbentuk 2 segitiga untuk mengenali jenis pecahan bagi tuna netra dengan cara meraba kode tersebut.
d. Rectoverso
Logo BI yang akan terlihat secara utuh apabila diterawang ke arah cahaya.
e. Latent Image
Tulisan BI tersembunyi yang dapat dilihat dari sudut padang tertentu.
f. Watermark/ Bectrotype
Tanda air berupa gambar pahlawan nasional dan electrotype berupa logo BI dan ornamen daerah Bali akan terlohat jika diterawang ke arah cahaya.
g. Microtext
Tulisan BI hanya dapat dibaca dengan menggunakan bantuan kaca pembesar.
h. Optical Variable Ink
Logo BI dalam bidang segi empat yang akan berubah warna dari magenta menjadi hijau apabila dilihat dari sudut pandang berbeda.
i. Asymetica Serial Number
Nomer seri yang tidak simetris , runtutan nomer seri yang terdiri dari 3 huruf dan 6 anga yang akan memedar hijau dan orange bila terkena sinar UV.
j. Security Thread
Benang pengaman yang tertanam didalam kertas dan memuat tulisan BI berulang-ulang yang akan terbaca apabila diterawang ke arah cahaya.
k. Rainbow Printing
Dalam bidang berbentuk garis yang akan berubah warna bila dilihat dari sudut pandang tertentu.
2.1.5.2 Seni dan Desain dalam Mata Uang
Ide dapat dituangkan pada berbagai media, Seni dan desain lahir karena ada ide. Dalam visual mata uang, desain dan seni memiliki peranan sangat penting. Selain sebagai alat transaksi juga, mata uang juga memiliki nilai estetika seni didalamnya. Estetika seni dalam mata uang terdapat pada elemen-elemen pembentuk dalam desain mata uang, seperti : garis, angka, gambar orang dan masih banyak lagi yang membentuk sesuatu yang baru. Dalam perancangannya, mata uang dibuat memiliki ciri khas pada masing-masing nominalnya sehingga membuat mata uang Indonesia ini sangat bernilai. Tidak hanya itu, seni juga didapat dari tekstur permukaan mata uang, tanda keamanan mata uang dan bahkan alat cetak mata uang tersebut.
2.2 Penelitian yang Relevan
Penelitian itu tidak semuanya ciptaan sendiri, adapun penelitian yang sebanding atau berbalik maupun sedikit sama. penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu jurnal yang pertama skripsi yang berjudul
“kajian ikonografis bahasa rupa uang kertas Indonesia masa revolusi” yang
ditulis oleh Baskoro Suryo Banindro dosen program studi desain komunikasi visual di ISI Yogyakarta yang menjelaskan mengenai bahasa rupa dan makna visual mata uang Indonesia masa revolusi. Uang yang dikeluarkan Bank Indonesia saat itu yang disebut ORI sedangkan pada tulisan ini membahas mengenai desain mata uang emisi tahun 2000.
Yang kedua yaitu yang berjudul “Tinjauan Visual Gambar Uang Kertas Indonesia” yang ditulis oleh Baskoro Suryo Banindro di ISI Yogyakarta yang menjelaskan mengenai makna uang kertas dari ORI yang pertama hingga uang seratus ribu tahun 2000 sedangkan tulisan ini membahas visual identity mata uang kertas emisi tahun 2000 menggunakan pendekatan Thomas Aquinas.
Yang ketiga, skripsi berjudul “Engraving Mata Uang Kertas Indonesia Masa Pasca Kemerdekaan Tahun 1945-1965”, ditulis oleh Herman mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta program studi pendidikan seni kriya. Membahas mengenai pembuatan mata uang kertas saat itu, delinavit atau pendesain mata uang tersebut dan teknik engraving.
Jurnal skripsi yang keempat yaitu berjudul “Soekarno dalam Visual Mata Uang Kertas Republik Indonesia di Era Kepemimpinannya” yang ditulis oleh mahasiswa dan dosen program studi desain komunikasi visual Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur yang bernama Hanif Soebagiyo dan Aditya Rahman Yani membahan mengenai buku yang menceritakan tentang seluk beluk gambar Ir. Soekarno yang berada dalam visual mata uang Indonesia pada masa tersebut sedangkan tulisan membahas visual identity dalam mata uang kertas.
Jurnal yang kelima, berjudul “ Perancangan Desain Mata Uang Kertas Rupiah Sebagai Kasus Wacana Redenominasi” yang ditulis oleh Suprayitno mahasiswa desain komunikasi visual Universitas BINUS Jakarta menjelaskan mengenai penyederhanaan mata uang dengan mengurangi digit tiga angka nol tanpa mengurangi nilainya sedangkan tulisan ini mengangkat nilai estetika yang terkandung didalamnya dengan panduan visual identity
dalam desain mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000 dan maknanya dengan menggunkan pendekatan estetika Thomas Aqiunas.
Persamaan dari skripsi ini dengan beberapa penelitian yang relevan tersebut adalah sama-sama terkait dalam mata uang kertas Indonesia.
Sedangkan perbedaan antara penelitian yang relevan tersebut dengan skripsi penulis terletak pada pembahasan atau penekankan dalam penulisan skripsi.
Dalam skripsi ini, penulis lebih menekankan pada Visual Identity pada mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000 menggunkan pendekatan estetika Thomas Aquinas.
2.3 Kerangka Berfikir
Gambar 2.33: Bagan Alur Kerangka Berpikir
Pada kerangka berfikir diatas, dijelaskan penulis dimulai penelitian dengan mempertimbangkan ide dan judul permasalahan yang diangkat untuk dibahas. Untuk dasar penelitian, penulis fokus pada desain mata uang
Visual Identity Mata Uang Kertas Indonesia emisi tahun 2000 dengan menggunakan pendekatan estetikas menurut
Thomas Aquinas
Mengumpulkan specimen uang kertas emisi tahun 2000
Analisis Visual Identity
Latar Belakang Permasalahan/ Isu
yang diangkat
Kesimpulan dari pembahasan tentang mata uang kertas Indonesia
Gambar
Pahlawan Kebudayaan
Warna Ornamen
Nominal
Pembahasan Sesuai Estetika Thomas Aquinas
Teori Estetika Thomas Aquinas
Makna
1. Bagaimana mendiskripsikan dan memahami visual identity mata uang kertas Republik
Indonesia emisi tahun 2000?
2. Bagaimana memahami penerapan estetika dalam mata uang kertas Repubik Indonesia emisi tahun
2000 menurut Thomas Aquinas?
Desain dan makna dalam setiap mata uang di berbagai negara berbeda-beda begitu pula dengan nilai estetikanya. Manusia memandangan mata uang
berharga karena bernominal padahal mata uang sendiri memiliki nilai estetika yang tidak terduga
Integrity Of Perfaction
Propotion Of Harmony
Brightness Of Clarity
kertas Indonesia emisi tahun 2000. Selanjutnya pendalamam masalah, ada dua pendalaman masalah yang ada dalam desain mata uang yaitu mengenai visual identity (ciri khas yang melekat pada setiap masing-masing mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000) dan estetika Thomas Aquinas Untuk mencapai pembahasan, disetiap point terdapat teori-teori untuk menuntun penulis mendapatkan kesimpulan atau hipotesis, sumber data yang terdapat pada penelitian ini didapat dari hasil wawancara, metode reading (membaca buku, jurnal maupun web) dan metode dokumentasi yang selanjutnya disaring dan dipertimbangkan. Dalam visual identity, terdapat pembahasan mengenai ciri khas visual yaitu gambar pahlawan, budaya atau tradisi, warna setiap mata uang kertas dan ornamen yang berbeda. Selain itu, terdapat identifikasi permasalahan yang lainnya yaitu estetika yang akan mengerucut kepada keindahan apa yang terdapat pada seni desain mata uang kertas dan makna atau maksud dibalik gambar desain mata uang kertas tersebut menggunakan pendekatan Thomas Aquinas. Dari pembahasan- pembahasan yang telah dibahas penulis dapat mencapai kesimpulan atau hipotesis dari pembahasan tersebut.
Secara singkatnya dalam bagan kerangka berfikir diatas penulis menggunakan metode alur yang dibuat sendiri menurut kegunaan dalam penelitian, agar mempermudah untuk fokus ke permasalahan, proses penelitian dan pembahasan sehingga tercapainya suatu kesimpulan atau hipotensis.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian adalah sebuah proses untuk mencari jawaban atas sebuah pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Penelitian menurut Fellin, Tripodi dan Meyer adalah suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan, memodifikasi dan pengembangan pengetahuan yang dapat disampaikan (dikomunikasikan) dan diuji oleh peneliti lain. Penelitian dimaksudkan untuk mempelajari karakteristik yang diteliti sehingga akan membuahkan hasil yang maksimal. Penelitian sering dikaitkan dengan metode ilmiah, proses penelitian berisi langkah-langkah penelitian atau alur dalam mengerjaan suatu penelitian.
Jenis penelitian yang digunakan hanya berupa penjelasan tentang visual identity mata uang Republik Indonesia emisi tahun 2000 menggunakan pendekatan esetetika Thomas Aquinas yang didalamnya terdapat berbentuk kata, skema dan gambar. Penelitian mulai dari jenis penelitian sampai teknik analisis yang terlah dicapai. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah pendekatan kualitatif untuk menggambarkan suatu keadaan secara sistematis terhadap fenomena yang terjadi saat itu.
Penelitian kualitatif menggunakan penekanan pada penggunaan desain riset yang baku. Oleh karena itu sebelum melakukan riset, peneliti sebaiknya menyusun desain riset dengan sebaik-baiknya. (Sarwono dan Lubis, 2007:41) Penelitian kualitatif bersifat deskriptif analitis yang berarti hasil penelitian tidak dalam bentuk angka yang berkaitan dengan memperkaya informasi, hubungan, membandingkan dan menentukan pola dalan penelitian. Tekanan pada proses bukan hasil namun makna dalam visual. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsep untuk membuat persepsi bahkan teori sebagai suatu temuan atau hasil. Penelitian kualitatif juga bersifat deduktif, bukan hanya teori tapi fakta dalam lapangan dan memepelajari suatu proses atau temuan yang datanya saling berkaitan. Kulitatif mengutamakan makna dan
persepsi penelitian secara tepat. Penelitian kualitatif memiliki dua tujuan utama. Yang pertama, menggambar dan mengungkapkan dan yang kedua, menggambarkan dan menjelaskan.
3.2. Waktu Penelitian
Objek yang akan diteliti adalah visual mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000. Gambar rupa dalam mata uang ini berkaitan tentang elemen- elemen visual, ciri khas, keindahan dan maksud dari delinavet yang akan dibahas pada kajian ini. Penelitian ini dimulai pada tanggal 4 oktober 2016.
3.3. Populasi dan Sample
Penelitian sample pada mata uang kertas Indonesia dilakukan dengan metode sample non probalitas judgement yang telah diterangkan pada buku metode riset untuk DKV oleh Jonathan dan Hary yaitu metode memilih sample dari suatu populasi didasarkan pada informasi yang tersedia sehingga keterwakilannya terhadap populasi dapat dipertanggungjawabkan.
3.4. Sumber Data
Sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Data dapat dipeoleh dari beberapa cara seperti wawancara atau kajian pustaka. Sumber data terdiri dari dua sumber yaitu data primer dan sekunder. Data primer penelitian ini adalah data dari hasil penelitian mata uang kertas tahun 1945 sampai tahun 1999 dari orang pertama sedangkan data sekunder dari hasil penelian dari sumber yang ada seperti internet atau masyarakat. Dalam penelitian ini peneliti mengambil beberapa sumber data dari :
a) Informan
Menurut Moleong (2015: 132) informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Informan memiliki banyak data dan pengalaman dalam mempersepsikan mata uang kertas Indonesia. Adapun informan yang dimaksud berkaitan dengan penelitian ini, yaitu :
1) Bapak Baskoro Suryo Banindro ( Dosen ISI Jogja sekaligus pakar Numerik)
b) Sumber Data Pelengkap
Selain data utama, peneliti juga menyiapkan data tambahan yaitu mengenai cetak yang berupa foto, arsip dan dokumen resmi mengenai mata uang yang hanya mengandung estetika dan visual indentity mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2007.
Moleong (2015: 157) mengungkapkan bahwa data yang dihasilkan dari penelitian kualitatif adalah berupa kata-kata dan tindakan. Untuk itu data dalam penelitian ini berisi kutipan dan gambaran mengenai estetika dan visual identity mata uang Indonesia emisi tahun 2000. Semua data dapat diperoleh dengan melalui wawancara lapangan, arsip baik secara online maupun offline ,dan foto. Data yang diambil berupa data visual dan non visual, Data visual berupa mata uang Indonesia emisi tahun 2000 sedangkan data nonvisual berupa kutipan dan hasil wawancara dari narasumber yang berkaitan tentang estetika dan visual identity mata uang Indonesia tahun 2000.
3.5. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti memilih beberapa teknik pengumpulan data yaitu :
a) Wawancara
Moleong (2015: 186) menjelaskan bahwa wawancara adalah tanya jawab dalam suatu percakapan yang mempunyai tujuan. Wawancara adalah pengambilan data melalui tanya jawab secara lisan antara penulis dengan responden yang cukup mendalami permasalahan dalam penelitian ini. Wawancara dilakukan dengan beberapa narasumber.
Alat yang digunakan untuk wawancara adalah smartphone untuk merekam suara dan catatan kecil untuk mencatat hasil wawancara.
Informan : Bapak Baskoro Suryo Banindro ( Dosen ISI Jogja sekaligus pakar Numerik)
b) Dokumentasi
Dokumentasi adalah bentuk data dari sebuah visualisasi bentuk nyata dari adanya kejadian atau peristiwa bahkan menjadi bukti nyata suatu hal untuk membuktikan bahwa hal itu benar adanya. Penulis menggunakan metode ini supaya penulis dapat meyakinkan bahwa kejadian atau peristiwa atau suatu hal itu nyata adannya, tidak dibuat- buat.
c) Studi Pustaka
Dokumen merupakan suatu hal bukti tertulis adanya suatu peristiwa dan kejadian yang ada pada masa itu. Buku dan jurnal adalah ilmu tertulis yang tertuang kedalam beberapa kertas yang dibukukan, isinya sebuah bukti atau karya tertulis yang didesain untuk dapat dipelajari dan dipahami si pembaca. Penulis menggunkan studi pustaka karena mudah dipahami dan dapat digunakan untuk referensi penulis bahkan menjadi pedoman penulis dalam penelitian ini.
3.6. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Teknik pemeriksaaan keabsahan data digunakan untuk meminimalis kesalahan dalam penelitian yang melibatkan informan. Oleh karena itu ada dua hal yang penulis gunakan yaitu :
a) Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan bermaksud menentukan ciri-ciri dan unsur- unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Hal ini berarti peneliti bahwa hendaknya mengadakan pengamatan dengan sangat teliti dan secara rinci dalam kesinambungan dengan faktor-faktor yang menonjol dan kemudian ditelaah secara rinci sampai pada suatu titik sehingga proses penemuan yang dapat diuraikan dengan jelas dan penelaahan secara rinci dapat dilakukan (Moleong, 2015: 329).
Dalam pernyataan diatas sebuah pengamatan tentang menganalisis sebuah desain haruslah secara benar, konkret dan rinci kemudian data tersebut disaring menjadi data yang terperici lagi agar bisa ditemukannya sebua hipotesis.
b) Trangulasi
Pengertian triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. (Moloeng, 2004:330) dalam trangulasi perlu adanya perbandingan-perbandingan persepsi dan hasil pengamatan antara narasumber, persepsi masyarakat, diri sendiri dan dokumen-dokumen sehingga menciptkan tingkatan keabsahan yang dapat dipercayai pada suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat.
3.7. Teknik analisis Data
Pengertian analisis data menurut Patton dalam Moleong (2015: 249) merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Analisa ini menggunakan analisa kualitatif, agar mudah dikelola dan dapat dipahami. Data yang didapat berupa data tertulis dan dokumentasi atau gambar-gambar mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000 yang berupa tentang ciri khas, warna, gambar pahlawan, ornamen, numerik, kalimat, budaya dan masih banyak lagi.
a) Reduksi Data
Reduksi data adalah memilih, merangkup, mengerucutkan data yang didapat dari dokumentasi, wawancara maupun studi pustaka untuk menemukan suatu kesimpulan. Menurut Sugiyono Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2011: 338). Mereduksi desain visual mata uang kertas Indonesia merupakan memilih, merangkum data-data dari visual mata uang kertas Indonesia. Data yang ingin direduksi adalah visual
identity dan estetika beserta semiotika dalam mata uang kertas emisi tahun 2000.
b) Penyajian Data
Penyajian data adalah susunan sekumpulan informasi yang akhirnya akan tercapainya kesimpulan. Dalam analisa kualitatif pengajian data yang digunakan adalah berupa teks naratif dan bagan.
Hasil wawancara akan memberikan keterangan mengenai persepsi mengenai estetika dan semiotika dalam mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000, sedangkan hasil dokumentasi memberikan keterangan bukti nyata atau gambar mata uang kertas Indonesia. Hasil dari studi pustaka akan memberikan keterangan mengenai teori-teori visual identity, estetika dan semiotika, tentang sejarah, berita, tentang delivenit mata uang Indonesia.
c) Menarik kesimpulan dan Verifikasi
Menarik kesimpulan dan verifikasi adalah hasil akhir dari analisis dan pembahasan penelitian dari awal pencarian masalah, tujuan, pencarian data kemudian disusun menjadi pembahasan dan disaring menjadi kesimpulan. Penarikkan kesimpulan didapat peninjauan kembali atas catatan-catatan lapangan atau hasil tukar pikiran dengan orang lain dengan menggunkan jenis metode penelitian kualitatif secara sistematis dan benar adanya mengenai mata uang kertas Indonesia emisi tahun 2000.
3.8. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis membagi beberapa tahap penelitian yaitu tahap identifikasi, tahap analisis hingga hipotesis yang akan dijabarkan sebagai berikut:
Pertama, penulis mengadakan analisa pendahuluan, identifikasi masalah dan pencarian data dan bandingan data dalam kajian pustaka.
Kedua, selain meneliti atau mengkaji menggunakan teori desain dan teori visual identity, teori estetika Thomas Aquinas lah yang akan menjadi pokok utama pembahasan dalam kajian ini.
Ketiga, penelitian ini tidak luput dari metode penelitian yang akan digunakan sebagai sarana kemudahan untuk mencari sumber data dan data- data yang lebih akurat dengan sample non probalitas judgement.
Keempat, menggunakan instrumen teknik pengumpulan data lewat wawancara, dokumentasi dan studi pustaka mengenai mata uang kertas Indonesia.
Kelima, mengelola data dan analisis visual identity mata uang kertas emisi tahun 2000 menggunkan pendekatan estetika Thomas Aqiunas sehingga mendapatkan kesimpulan dari analisis tersebut.
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Data Mengenai Mata Uang Kertas Indonesia Emisi Tahun 2000 4.1.1 Data Visual dan Verbal
4.1.1.1 Data Visual
Mata Uang Kertas Republik Indonesia Emisi Tahun 2000
...