• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Secara global, bisnis jasa penerbangan terus berkembang walaupun dikenal dengan profit sekitar 3% sampai 5%. Pasalnya semakin tinggi kebutuhan jasa penerbangan maka semakin tinggi pula tingkat persaingan antar maskapai. Persaingan yang terjadi dalam bisnis penerbangan tidak hanya terjadi dalam lingkup satu negara saja melainkan melintasi antar negara. Bisnis airlines dikenal memiliki kompleksitas yang tinggi karena banyak sekali melibatkan pihak terkait seperti bandara, produsen pesawat, produsen bahan bakar, agen travel, dll. Kompleksitas pada bisnis jasa penerbangan semakin meningkat ketika deregulasi peraturan muncul, faktor keselamatan, bencana alam (gunung meletus), dan yang lainnya. Dari adanya fenomena yang unik ini maka dari itu perusahaan airlines dituntut untuk fokus pada pertumbuhan tingkat atas dikarenakan tingkat profitabilitasnya yang rendah. Selain itu perusahaan airlines juga dituntut untuk menentukan strategi terkait untuk menentukan kinerja dan performa perusahaan di tahun mendatang (http://www.strategyand.pwc.com/perspectives/2015-aviation-trends). Pada proses menentukan strategi perusahaan, biasanya perusahaan memiliki divisi khusus seperti manajemen strategis atau sejenisnya. Strategi yang digunakan oleh perusahaan biasanya terdiri dari berbagai jenis tergantung dari tujuan dan waktu penggunaan. Salah satu konsep strategi dikenal dengan istilah Quick Wins.

Quick Wins biasanya digunakan sebagai suatu bentuk strategi jangka pendek yang dilakukan oleh organisasi. Di Indonesia, Quick Wins lebih sering digunakan oleh organisasi pemerintahan untuk mencapai tujuan tertentu. Pihak Presiden RI periode baru ini (http://www.cnnindonesia.com/politik/20150127205258-32-27801/istana-jokowi-jk-tak-pakai-istilah-100-hari-tapi-quick-wins/) menyatakan tidak mengenal istilah 100 hari kerja sebagai indikator evaluasi kinerja pemerintahan. Pihaknya menambahkan jika lebih sering menggunakan istilah Quick Wins untuk melakukan evaluasi kinerja pada masing-masing kementerian dan lembaga di dalam kabinetnya. Anggapan Quick Wins sebagai metode percepatan kemenangan ternyata tidak berjalan efektif. Program Quick Wins yang dirancang

(2)

Presiden RI (http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/04/21/389186/program-ekonomi-jokowi-jk-belum-sentuh-masyarakat-luas) dianggap belum terasa dampaknya oleh rakyat secara langsung. Hal ini dikarenakan beberapa program Quick Wins seperti pengalihan subsidi untuk rakyat miskin belum dapat diimplementasikan secara tepat. Sehingga tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan baru masih rendah.

Selain itu, penerapan Quick Wins oleh POLRI (http://nasional.kompas.com/read/2009/01/30/15100597/Polri.Andalkan.Program.Qu ick.Wins.) ternyata sudah dilakukan sejak tahun 2009. Pihaknya mengaku, program Quick Wins ini selalu diperbaharui setiap tahunnya. Quick Wins memiliki tujuan untuk meningkatkan kepercayaan dan kemitraan terhadap publik atau masyarakat kepada POLRI dalam waktu yang cepat. Alasan dipilihnya program Quick Wins ini dikarenakan program tersebut mudah dilaksanakan dan hasilnya dapat dirasakan secara langsung (http://komisikepolisianindonesia.com/kasus/read/716/rencana-pelaksanaan-quick-wins-tahun-2010.html) . Pada kenyataannya, ketika istilah ini mulai diperkenalkan di masyarakat, Quick Wins justru dianggap terlalu susah untuk diartikan sehingga masyarakat cenderung tidak merespon dengan baik.

Dampak yang timbul dari adanya penggunaan Quick Wins ternyata tidak selalu membuahkan hasil yang maksimal. Pasalnya, mencapai tujuan atau kemenangan dengan mengakomodir segala sumber daya yang relatif banyak dan bervariasi dalam waktu yang relatif singkat bukanlah suatu hal yang mudah dilaksanakan. Melihat kegagalan penggunaan program Quick Wins tersebut, ternyata tidak menghalangi keyakinan salah satu perusahaan dalam negeri untuk tetap menggunakannya. Salah satu perusahaan maskapai penerbangan dalam negeri, PT. Garuda Indonesia (GA) (Persero) Tbk akhir tahun lalu menyatakan sedang menyiapkan strategi jangka pendek atau yang lebih sering disebut sebagai istilah Quick Wins (http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/14/12/30/nhdei5-garuda-beberkan-strategi-jangka-pendek-hadapi-krisis).

Program Quick Wins GA rencananya akan dilaksanakan mulai awal tahun 2015. Program Quick Wins merupakan bagian dari rencana efisiensi perusahaan yang diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan laba perusahaan. Total efisiensi yang ditargetkan perusahaan adalah sebesar Rp 4 triliun dan akan meningkatkan laba perusahaan ke tingkat yang positif pada semester pertama 2015

(3)

(http://indo-aviation.com/2015/01/15/dengan-program-quick-wins-garuda-lakukan-efisiensi-rp-4-triliun/). Upaya peningkatan laba tersebut diakui GA sebagai respon penanganan krisis keuangan perusahaan yang terjadi selama tahun 2014. GA tercatat sedang mengalami kerugian sebesar US$ 371.9 juta atau sekitar Rp 4,87 triliun (kurs Rp 13.100 per US$).

Kerugian yang dialami GA ternyata juga dialami oleh beberapa maskapai

Asia Pasifik lainnya

(http://finance.detik.com/read/2014/09/01/092618/2677477/1036/setiap-dolar-menguat-rp-100-garuda-rugi-rp-120-miliar). Maskapai penerbangan asal Australia, Qantas Airlines ternyata menanganggung kerugian yang lebih banyak jika dibandingkan dengan GA yaitu sebesar AUS$ 2,8 miliar setara dengan Rp 30 triliun. Namun kerugian yang dialami GA lebih sedikit jika dibandingkan dengan Thai Airways. GA mencatat kerugian selama semester 1 2014 sebesar US$ 211,7 miliar setara dengan Rp 2,7 triliun. Sedangkan Thai Airways merugi sebesar US$ 3 miliar. Berikut data selengkapnya:

Tabel 1. 1 Daftar Kerugian Maskapai Asia Pasifik 2014

No Nama Maskapai Periode Jumlah Kerugian

1 Sampai akhir Juni 2014 AU$ 2.8 miliar/ Rp 30

triliun

2 Sampai akhir kuartal II

(Juni)

US$ 236 juta/ Rp 3 triliun

3 Semester I 2014 US$ 211,7 miliar/ Rp 2.7

triliun

4 Sepanjang 1 tahun

terakhir (2013-2014)

AU$116 juta/ US$109 juta/ Rp 1,4 triliun

(4)

Tabel 1.1 Daftar Kerugian Maskapai Asia Pasifik 2014 (lanjutan)

5 Semester I 2014 RM 307 juta / US$95 juta/

Rp 1.2 triliun

6 Kuartal I 2014 US$48.2 juta/ Rp 631 juta

Sumber: www.finance.detik.com (2014) yang sudah diolah

Di Indonesia, GA terkenal sebagai maskapai penerbangan yang menerapkan sistem FSC (Full Service Carrier) yaitu maskapai penerbangan yang kualitas pelayanannya dianggap sebagai prioritas. Jadi harga jual tiket yang ditawarkan FSC cenderung lebih mahal daripada maskapai lainnya seperti tipe LCC. (Low Cost Carrier). Tingginya biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan banyak rute penerbangan yang dioperasikan oleh GA menjadikan GA mampu menguasai pangsa pasar masyarakat Indonesia khususnya pada segmen menengah ke atas.

Sedangkan di kancah internasional, pada tahun 2014 lalu GA menyatakan telah bergabung dengan aliansi Skyteam. Aliansi Skyteam merupakan aliansi penerbangan yang terdiri dari 20 anggota maskapai dengan konektivitas 1.052 rute di 177 negara. Sebagai perusahaan maskapai nasional pertama yang bergabung, GA tidak hanya mendapatkan akses pasar di Asia Tenggara yang lebih besar tetapi juga frekuensi penerbangan dan konektivitas rute. Rencananya GA akan menghubungkan lebih dari 1.000 kota destinasi di seluruh dunia. GA sanggup melayani konsumen dengan layanan barunya mulai bulan Maret 2014. Kerjasama ini dilakukan GA sebagai salah satu bentuk upaya meningkatkan layanan bagi konsumen (https://www.garuda-indonesia.com/id/id/news-and-events/skyteam/skyteam.page?).

Peranan GA sebagai perusahaan maskapai di dalam dan luar negeri ternyata cukup besar. Pasalnya konsumen yang dimiliki GA tidak hanya konsumen domestik saja tetapi mancanegara. Keputusan melakukan efisiensi

(5)

dengan konsep Quick Wins kemudian menjadi sebuah tantangan dan tanggung jawab bagi GA. Efisiensi tinggi tentunya akan berdampak pada restrukturisasi biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan. Akibat dari adanya restrukturisasi biaya perusahaan tentunya juga akan mempengaruhi ketentuan harga tiket.

Memasuki kuartal I 2015, keberhasilan program Quick Wins mulai terlihat dengan adanya peningkatan pada beberapa aspek. Perhitungan peningkatan tersebut menggunakan beberapa indikator dalam lingkup internal dan eksternal perusahaan. Pada lingkup internal, indikator yang digunakan antara lain: Jumlah penumpang, kapasitas produksi/ASK (available seat kilometer), tingkat isian penumpang/SLF (seat load factor), pendapatan perusahaan, pendapatan bersih (net income), dan market share. Sedangkan untuk lingkup eksternal, indikator yang digunakan diantaranya: Kapasitas produksi/ASK (availability seat kilometer), jumlah penumpang, trafik penumpang AAPA, pendapatan penumpang/RPK (revenue passenger kilometer). Pada indikator eksternal, GA akan dibandingkan dengan beberapa maskapai Asia-Pasifik lainnya seperti: Cathay Pacific, Singapore Airlines, Thai Airlines, Qantas, dan beberapa yang lainnya.

Berikut adalah beberapa grafik yang menunjukan adanya peningkatan pada aspek kinerja operasional baik secara internal maupun eksternal perusahaan:

Gambar 1.1 Pertumbuhan Jumlah Penumpang GA Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)

(6)

Pada gambar 1.1, GA mengalami peningkatan jumlah penumpang yang diangkut sebesar 15.1% pada Januari dan 10.8% pada Februari. Pada periode Januari 2014, GA hanya mengangkut sekitar 1.63 juta penumpang kemudian meningkat menjadi 1.87 juta penumpang pada periode Januari 2015. Sedangkan perbandingan periode yang sama pada Februari tercatat mengalami peningkatan dari 1.55 juta menjadi 1.72 penumpang.

Gambar 1.2 Pertumbuhan Kapasitas Produksi (ASK) GA Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)

Pada gambar 1.2, GA juga mengalami peningkatan pada indikator kapasitas produksi/ASK (Availability Seat Kilometer). Perbandingan pertumbuhan pada periode Januari 2014/2015 tercatat meningkat meningkat 9.5% dari 3.6 miliar menjadi 3.93 miliar. Sedangkan untuk periode Februari 2014/2015 terhitung meningkat 6.5% dari 3.15 miliar menjadi 3.36 miliar. Pada gambar 1.3, GA mengalami peningkatan pada indikator tingkat isian penumpang/SLF (Seat Load Factor) dari 66% menjadi 73% pada Januari 2014/2015. Sedangkan pada februari 2014/2015, GA berhasil meningkatkan indikator ini dari 68.6% menjadi 74.37%.

(7)

Gambar 1.3 Pertumbuhan Tingkat Isian Penumpang/SLF GA Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)

Gambar 1.4 Pertumbuhan Pendapatan GA Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)

Seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang dan tingkat isian penumpang/ASK (Availibility Seat Kilometer) GA mampu membukukan pendapatan pada titik positif. Pada gambar 1.4 GA memperoleh peningkatan pendapatan sebesar 19.3% dari US$ 226.1 juta menjadi US$ 269,8 juta pada periode Januari 2014/2015. Sedangkan untuk periode Februari 2014/2015, GA meraih peningkatan sebesar 13.6% dari US$ 205.9 juta menjadi 238,8 juta dolar AS.

Dari adanya peningkatan pendapatan yang diperoleh GA maka pendapatan bersih juga mengalami hal yang sebanding. Pasalnya, pada periode Januari 2015, perusahaan membukukan pendapatan negatif sebesar US$ 2.8 juta. Pendapatan

(8)

negatif yang diperoleh dianggap perusahaan mengalami penurunan yang signifikan daripada periode Januari tahun lalu sebesar US$ 73.7 juta. Kemudian pada pada Februari 2015, GA telah berhasil meraih keuntungan sebesar US$ 1.2 juta yang sebelumnya mengalami kerugian sebesar US$ 77.4 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Gambar 1.5 Pertumbuhan Pendapatan Bersih GA Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)

Gambar 1.6 Market Share Maskapai Penerbangan Domestik 2014 Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I

Pada indikator Market Share domestik (gambar 1.6 dan 1.7) , GA mengalami peningkatan hanya sebesar 3% menjadi 44% sampai pada bulan

(9)

Maret 2015. Meskipun jarak antara GA dengan maskapai lain seperti Lion Air pada periode 2014/2015 hanya memiliki selisih yang sangat tipis, ternyata jumlah Market Share GA masih memimpin pada 2 periode tersebut. Peringkat selanjutnya dipegang oleh Air Asia dan beberapa maskapai domestik lainnya.

Gambar 1.7 Market Share Maskapai Penerbangan Domestik YTD Maret 2015 Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

Kinerja GA sejak menjalankan program Quick Wins juga berdampak langsung pada peningkatan beberapa indikator secara eksternal. GA masih memimpin dengan persentase tertinggi di bandingkan beberapa kinerja maskapai Asia Pasifik lainnya. Berikut beberapa diagram yang menunjukan GA memiliki persentase tertinggi diantara maskapai internasional lainnya:

Pada gambar 1.8, tingkat isian penumpang/ availibility seat kilometer (ASK) yang dimiliki GA pada perbandingan tahun 2014 dan 2015, digambarkan memiliki persentase tertinggi. GA meraih 9.3% sebagai maskapai yang memiliki jumlah terbanyak penumpang di setiap penerbangannya. Cathay Pacific dan maskapai Asia Pasifik lainnya hanya memperoleh sekitar 7-7.5%. Sedangkan untuk maskapai Thai Airlines dan Qantas hanya memperoleh maksimal 2%. Singapore Airlines sebagai posisi terakhir cenderung berasa di titik minus sebesar 0.2%.

(10)

Gambar 1.8 Pertumbuhan (ASK) Maskapai Asia Pasifik (%) 2014 vs 2015

Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

Gambar 1.9 Pertumbuhan Tingkat Pendapatan Penumpang/ Revenue Passenger Kilometer (RPK) (%) 2014-2015

Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

Selanjutnya, pada gambar 1.9 ditunjukan jika GA masih memimpin sebagai maskapai yang memiliki pertumbuhan pendapatan penumpang/ revenue passenger kilometer (RPK) tertinggi sebesar 20.2 persen pada periode 2014-2015. Maskapai lainnya seperti Cathay Pacific dan Thai Airlines cenderung hanya memiliki 9 sampai 12 persen. Persentase terendah sebesar -1.4% masih dimiliki oleh Singapore Airlines.

(11)

Gambar 1.10 Pertumbuhan Penumpang (RPK) (%) 2014-2015 Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

Pertumbuhan Penumpang pada gambar 1.10 periode 2014-2015 yang dimiliki GA mencapai 18.3%. Persentase sebesar ini membawa GA kembali menjadi maskapai dengan pertumbuhan penumpang tertinggi. Maskapai selanjutnya yang menjadi urutan kedua setelah GA adalah Cathay Pacific. Singapore Airlines dan Thai Airlines pertumbuhan penumpangnya tidak mencapai 5% yakni sebesar 1% dan 4.8%. Sedangakan Qantas sebagai urutan maskapai terakhir hanya memperoleh persentase sebesar -0.2%.

G

Gambar 1.11 Pertumbuhan Trafik Penumpang AAPA-2015 Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

(12)

Pertumbuhan Trafik Penumpang AAPA sampai dengan kuartal I 2015 cenderung dimiliki oleh aktivitas penumpang dari wilayah Asia Tenggara. Persentase sebesar 14% yang dimiliki oleh Asia Tenggara memiliki selisih 0.2% lebih banyak dibandingkan persentase penumpang yang berada di wilayah Asia Selatan. Wilayah Asia Timur juga memiliki persentase pertumbuhan trafik penumpang mendekati Asia Selatan sebesar 12.1%. Asia Pasifik menyusul pada urutan ke-4 yang memiliki persentase pertumbuhan trafik penumpang sebesar 9.4%. Wilayah Ocenia hanya memperoleh persentase sebesar 2.6%. Sedangkan pada urutan terakhir, Asia Tengah memperoleh penurunan pertumbuhan trafik penumpang hingg 1.5%.

Gambar 1.12 Market Share Maskapai Penerbangan Internasional 2014 Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

Pada gambar 1.12 Market Share yang dimiliki GA tingkat internasional hampir mencapai 80% pada periode tahun 2014. Sisanya hanya sekitar 20% dimiliki oleh maskapai penerbangan internasional lainnya. Selanjutnya sampai pada periode Maret 2015, Market Share yang diraih GA sedang mengalami penurunan sebesar 13% menjadi 66%. Sedangkan market share yang dimiliki maskapai penerbangan internasional lainnya mengalami peningkatan menjadi 34%.

(13)

Gambar 1.13 Market Share Maskapai Penerbangan Internasional YTD Maret 2015

Sumber: Paparan Publik & Analyst Meeting PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk Kuartal I 2015

Quick Wins sebagai langkah strategi efisiensi jangka pendek yang direncanakan oleh GA ternyata sangat efektif. Periode yang sangat singkat ini dapat digunakan GA untuk kembali memperoleh keuntungan. Efek yang secara jelas terlihat dari adanya penggunaan Quick Wins ini adalah berkurangnya jumlah kerugian yang ditanggung perusahaan. Dilihat dari indikator internal dan eksternal diatas menunjukan jika GA mampu mengatasi krisis keuangan perusahaan dengan tepat.

Prestasi GA dalam mengimplementasikan strategi jangka pendek atau Quick Wins patut dicontoh oleh perusahaan lain, terutama perusahaan sejenis baik itu di tingkat nasional maupun internasional yang sedang mengalami krisis keuangan. Pasalnya, besar kerugian yang ditanggung GA cukup besar hampir menembus angka Rp 5 triliun. Namun, dengan kemampuan perusahaan melakukan strategi jangka pendek Quick Wins akhirnya GA dapat mengurangi jumlah kerugiannya hingga 100%.

Dari uraian latar belakang di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang keberhasilan strategi jangka pendek atau Quick Wins yang dirancang khusus oleh GA. Laporan penelitian ini akan dituangkan pada skripsi dengan judul “Penggunaan Program Quick Wins Sebagai Bentuk Strategi Penanganan Krisis Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Garuda Indonesia Persero (Tbk) Periode: 2014-2015)”

(14)

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana penggunaan program Quick Wins sebagai sebuah strategi penanganan krisis keuangan oleh PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam rangka meningkatkan pendapatan usaha?

2. Bagaimana penggunaan program Quick Wins sebagai sebuah strategi penanganan krisis keuangan oleh PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam rangka merestrukturisasi biaya?

3. Bagaimana penggunaan program Quick Wins sebagai sebuah strategi penanganan krisis keuangan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk terhadap aspek pendanaan jangka pendek?

1.3 Fokus Penelitian

Untuk mempermudah penulis dalam melakukan penelitian, maka peneliti menggunakan batasan materi dan waktu. Batasan materi yang digunakan pada penelitian ini adalah penggunaan program “Quick Wins” terhadap 3 aspek utama yakni, pendapatan usaha, restrukturisasi biaya, serta pendanaan jangka pendek

Kemudian untuk batasan waktu, penulis mengambil periode tahun 2014 hingga 2015. Penulis mengambil periode tahun 2014 dikarenakan PT. Garuda Indonesia sedang mengalami turbulensi keuangan yang pada akhirnya menggunakan strategi “Quick Wins” sebagai solusi untuk kembali mencapai profitabilitas pada awal tahun 2015.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan bagaimana penggunaan program Quick Wins sebagai sebuah bentuk strategi penanganan krisis keuangan oleh manajemen strategi PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam rangka meningkatkan pendapatan usaha

2. Menjelaskan bagaimana penggunaan program Quick Wins sebagai sebuah strategi penanganan krisis keuangan oleh manajemen strategi PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam rangka merestrukturisasi biaya

(15)

3. Menjelaskan bagaimana penggunaan program Quick Wins sebagai sebuah strategi penanganan krisis keuangan oleh manajemen strategi PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk terhadap aspek pendanaan jangka pendek

1.5 Manfaat penelitian

Dari adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna bagi beberapa pihak, berikut diantaranya:

1. Untuk PT. Garuda Indonesia

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis yang berkaitan dengan kajian manajemen strategi

2. Untuk Pembaca

a. Sebagai sumber informasi yang dapat digunakan bagi pihak-pihak terkait dengan topic sejenis

b. Sebagai bahan referensi untuk dijadikan landasan bagi penelitian selanjutnya

3. Untuk Penulis

a. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi School of Business Management Bina Nusantara University

b. Sebagai sarana untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang diperoleh di bangku kuliah

1.6 State of The Art

Tabel 1.2 State of The Art

No Nama Jurnal Metode Hasil Adaptasi

1 The Exceptional Performance Strategies of Emirate Airlines/ Sundram Nataraja dan Pendekatan kualitatif (Wawancara, extensive literature, PESTLE analysis)

Pada jurnal ini dijelaskan jika Emirates memiliki Competitive strategies khusus yang terdiri dari operational strategies, generic strategies, intensive strategies, dan diversification strategies. Yang diadaptasi dari jurnal ini adalah kesamaan kasusnya.

(16)

Tabel 1.2 State of The Art (lanjutan)

No Nama Jurnal Metode Hasil Adaptasi

Abdulrahman Al-Aali (2011)

Strategi ini dirancang khusus untuk membantu perusahaan untuk meraih competitive advantage diantara kompetitornya. Kemampuan perusahaan untuk berinovasi, memberikan pengaruh, dan menjadi pioneer ide-ide baru juga menjadi poin penting perusahaan untuk meraih kesuksesan. 2 The Impact of Restructuring On The Airline Performance (Case Study: Garuda Indonesia)/ Roberto Akyuwen/2011 Mix methods: Kualitatif (Literatur review, wawancara, FGD) dan kuantitatif ( SEM/ Structuralequation modeling) Keadaan ekonomi, persaingan industry sejenis, dan harga bahan bakar

mempengaruhi secara signifikan kinerja perusahaan. Intervensi pemerintah memiliki dampak yang negative dalam mempengaruhi kinerja perusahaan.

Yang diadaptasi dari jurnal ini adalah kasusnya. 3 Understanding Performance Indicators of Organizational Achievement in Turkish Airlines Companies/ Dilek Erdogan/ 2014 Kualitatif (Multiple Case Study) Participant: scheduled airlines business in Turkey

Ada beberapa indikator yang digunakan

maskapai di Turki dalam mengukur kinerja perusahaannya. Beberapa indikator yang digunakan antara lain: operational cost, cost per seat ,

profitabilitas. Selain itu di dalam meningkatkan profitabilitas, beberapa

Yang diadaptasi dari jurnal ini adalah kasusnya.

(17)

Tabel 1.2 State of The Art (lanjutan)

No Nama Jurnal Metode Hasil Adaptasi

perusahaan maskapai di Turki memiliki unit sendiri yang dinamakan revenue management departments 4 Why Can’t US Airlines Make Money?/ Severin Borenstein/ 2011 Mix Methods (kualitatif dan kuantitatif) Participant: US Airlines

Faktor Harga bahan bakar yang

menyebabkan kerugian perusahaan ternyata baru terjadi sekitar tahun 2011. Untuk beban pajak ternyata tidak terlalu berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan Perbedaan struktur biaya antara legacy airlines dan LCC dan tragedy 9/11 menjadi penyebab utama kerugian perusahaan

Yang diadaptasi dari jurnal ini adalah kasusnya.

5 The Quick Wins Paradox/ Mark E. Van Buren and Todd Saferstone/ 2008 Penelitian Kualitatif: wawancara

Quick Wins dianggap sebagai suatu bentuk kontribusi nyata yang dapat memberikan elemen kesuksesan dengan periode waktu yang lebih cepat

Yang diadaptasi dari jurnal ini adalah teorinya

(18)
(19)

Gambar

Tabel 1. 1 Daftar Kerugian Maskapai Asia Pasifik 2014
Tabel 1.1 Daftar Kerugian Maskapai Asia Pasifik 2014 (lanjutan)
Gambar 1.1 Pertumbuhan Jumlah Penumpang GA  Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)
Gambar 1.2 Pertumbuhan Kapasitas Produksi (ASK) GA  Sumber: www.garuda-indonesia.com (2015)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Setelah pengelasan selesai dilakukan maka perlu dilakukan kontrol dan pengecekan terhadap seluruh parameter proses lasan seperti arus listrik, tegangan listrik, komposisi

Dari sisi pelanggan, dalam membangun loyalitas Toko Bursa Sajadah sudah cukup bagus dengan melakukan berbagai cara seperti halnya melakukan pemasaran yang cukup

Rencana Strategis Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak tahun 2014 - 2019 selanjutnya disebut Renstra Dishutbun Tahun 2014 - 2019 merupakan dokumen resmi

134.397.600,- (Seratus Tiga Puluh Empat Juta Tiga Ratus Sembilan Puluh Tujuh Ribu Enam Ratus Rupiah) dikurangi dengan pengembalian Kerugian Keuangan Negera yang telah

Adapun dari ketenagakerjaan yang dapat dilihat adalah rata-rata kontribusi jumlah tenaga kerja kelompok film, video, dan fotografi terhadap industri kreatif sebesar 17.496 pekerja

Semi Intensif Replanting Tanaman Berproduktivitas Rendah Subsitusi Sebagian Penggunaan Pestisida dan Stimulan dengan Pestisida Nabati Subsitusi Sebagian Penggunaan Pupuk dengan

Uji statistik dengan variabel umur yang menjadi variabel pengganggu dalam penelitian ini dengan keluhan muskuloskeletal menunjukkan ada hubungan yang tidak

Dilihat dari mechanical property serat pelepah pisang semakin banyak jumlah helai serat pada komposit maka nilai kekuatn tarik semaikn tinggi hal ini menyebabkan