MATERI II
THAHARAH (BERSUCI)
A. Hikmah Thaharah
Apa yang anda rasakan jika tubuh anda kotor? Pasti risih, gatal, bau, dan tentunya tidak nyaman. Bahkan tak jarang menjadi sarang penyakit. Karena itulah dalam Islam kita diajarkan untuk menjaga kebersihan agar diri kita sehat, agar hidup kita nyaman. Karena itulah Islam sangat memperhatikan kebersihan. Namun demikian, konsep kebersihan dalam Islam lebih mendalam lagi. Berkenaan dengan kebersihan, Islam mengenal 3 (tiga) istilah:
nadzafah, thaharah, dan tazkiyyah.
Nadzafah adalah bersih dari kotoran fisik. Badan kita terkena lumpur misalnya. Atau lantai rumah kita penuh dengan debu. Bersih dari kotoran seperti inilah yang disebut dengan nadzafah. Cara membersihkan kotoran jenis ini cukup diguyur air atau hal lain yang dapat menghilangkan kotoran tersebut.
Thaharah adalah bersih dari najis dan hadas. Najis adalah juga kotoran fisik. Namun demikian kalau dihitung-hitung tingkat kekotoranya ia lebih kotor dari kotoran yang biasa.
Kotor dari kotoran biasa tidak menghalangi seseorang untuk beribadah. Tapi terkena kotoran najis menghalangi sahnya ibadah.
Kotoran yang disebut najis ini terbagi ke dalam 3 (tiga) jenis: berat (mughalazah), ringan (mukhaffafah), dan sedang (mutawasithah). Najis mughallazah adalah air liur anjing.
Cara membersihkan najis ini adalah dibasuh tujuh kali, basuhan pertama dicampur dengan debu.
ِبإا رتُّل ِبِ َّنُهالاوُأ ٍتإَّرام اعْب ا س ُ الَ ِسْغاي ْنَأ ُبْ اكَْلإ ِهيِف اغالاو إاذ إ ْ ُكُِداحَأ ِء انَ ِ إ ُروُه ُط ِ
Thohuuri inaa-i ahadikum idzaa walaghol kalbu ayyaghsilahu sab’a marrootin uulahunna bitturoobin.
Cara menyucikan bejana di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dicuci sebanyak tujuh kali dan awalnya dengan tanah.(HR. Muslim).
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bagian anjing yang termasuk najis adalah jilatannya saja. Sedangkan bulu dan anggota tubuh lainnya tetap dianggap suci sebagaimana hukum asalnya. Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/616-620, Darul Wafa’, Cet.
III, 1426 H.
Najis Mukhaffafah adalah kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain susu dan umurnya belum sampai 2 (dua) tahun. Cara untuk menyucikan najis ini adalah dengan diperciki air sampai merata.
ِمالاُغْلإ ِلْواب ْنِم رشارُياو ِةايِرااجْلإ ِلْواب ْنِم ُل اسْغُي
Yughsalu min baulil jaariyyati wayurassyu min baulil ghulaami
Membersihkan kencing bayi perempuan adalah dengan dicuci, sedangkan bayi laki-laki cukup dengan diperciki. (HR. Abu Daud dan An-Nasai).
Yang dimaksudkan di sini adalah bayi yang masih menyusui dan belum mengonsumsi makanan. Kencing bayi laki-laki dan perempuan sama-sama najis, namun cara menyucikannya saja yang berbeda. (Tawdhihul Ahkam, Syaikh Ali Basam, 1/176-177, Darul Atsar).
Najis Mutawassithah adalah najis selain air liur anjing dan kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain susu dan belum belum berusia 2 (dua) tahun. Contohnya seperti kencing manusia, tahi, binatang dan darah. Sedangkan hadats adalah kotoran non fisik. Saya menyebutkan kotor spiritual level 1 (satu). Kotoran hadats kasat mata, tak bisa ditangkap panca indera. Bersih dari najis dan hadats biasa disebut suci. Saya menyebutnya suci level 1 (satu).
Kotoran yang bernama hadats ini juga dibagi 2 (dua) hadas kecil (asghar) dan hadas besar (akbar). Hadats kecil disebabkan karena seseorang buang hajat, buang angin, atau menyentuh kemaluan. Cara membersihkannya adalah dengan berwudhu. Hadats besar disebabkan karena seseorang bersetubuh atau keluar mani. Cara membersihkannya adalah dengan mandi besar.
Tazkiyyah adalah bersih dari kotoran hati. Bersih dari kotoran jiwa. Kotoran jiwa itu sifatnya tentu saja non fisik/spiritual. tetaapi lebih dalam lagi dari hadas. Saya menyebutnya kotor spiritual level 2 (dua). Bersih dari kotoran hati juga sering disebut suci. Tetapi sifatnya lebih abstrak/lebih mendalam lagi dibandingkan suci dari hadas. Saya menyebutnya suci level 2 (dua). Kotoran hati disebabkan karena seseorang melakukan perbuatan tercela/maksiyat yang membuat dia menjadi bersalah/berdosa. Cara membersihkan kotoran ini adalah dengan cara bertubat dan meminta maaf.
Kotoran, baik yang fisik maupun non fisik akan mengganggu manusia. Membuat kehidupan tidak nyaman. Karena kotoran fisik, tubuh manusia bisa sakit. Demikian juga karena kotoran non fisik, jiwa manusia juga bisa sakit. Bahkan keduanya bisa saling pengaruh mempengaruhi. Karena fisiknya kotor maka kemudian berpengaruh pada pikiran manusia, berpengaruh pada jiwa manusia. Bukan hanya fisik yang tidak nyaman. Tapi pikiran dan jiwa manusia menjadi terganggu.
Demikian juga karena mental dan jiwa seseorang kotor, jiwa diliputi oleh kesedihan dan resah yang mendalam. Akibatnya berpengaruh pada nafsu makan dan aktivitas fisik lain serta tubuhnya bisa menjadi sakit. Oleh karenanya, kedua-duanya harus dijaga. Manusia harus bersih raga dan jiwanya. Harus sehat lahir dan batinnya. Begini baru hidupnya bisa seimbang. Karena itulah Islam sangat memperhatikan semuanya.
Allah SWT berfirman:
َّنِإ هَّللّٱ ُّب ِحُي هنيِب ََّّٰوَّتلٱ ُّب ِحُي هو
ِ ههطهتُمۡلٱ هني ِر
٢٢٢
Innalloha yuhibbuttawwaabiina wa yuhibbul mutathohiriin
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Rasulullah SAW pun bersabda:
ِناايم
ِ ْلاإ ُر ْط اش ُروُهرطلإ
Athohuuru syathrul iimaan
Bersuci itu separoh keimanan. (HR. Muslim)
Kapan manusia harus bersih dari kotoran-kotoran itu? Kapan saja. Setiap saat sebaiknya dia dalam kondisi bersih dan suci. Ini tentunya sangat bergantung pada kesadaran masing-masing orang. Namun ada saat yang diharuskan agar manusia dalam kondisi bersih dari kotoran fisik dan non fisik, yaitu pada saat ia akan menghadap Allah. Pada saat ia akan beribadah, terutama shalat.
Rasulullah SAW bersabda:
ُرْوُه اط ِ ْيْاغِب اة الا اصلإ ِالله ُلابْقُي الا
Laa yaqbalulloohusholata bighoiri thohuurin
Allah tidak akan menerima shalat yang tidak dengan bersuci. (HR. Muslim).
Saat akan melakukan ibadah shalat dan beberapa ibadah lain yang telah ditentukan, manusia harus dalam kondisi suci dari najis dan hadas.
B. Cara Membersihkan Hadats Kecil
Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, Konsep Kotor dan Bersih dalam Islam, hadats adalah kotoran yang tak tampak. Kotoran yang non fisik. Kotoran yang bersifat spiritual. Kita tahu persisi macam mana kotoran yang disebut hadats itu dan di mana ia terletak dalam tubuh kita. Ilmu kedokteran juga tidak bisa mendeteksinya. Hanya Allah yang tahu macam apa dan di mana letak kotoran hadats itu. Karena itulah kita juga tidak tahu bagaimana cara membersihkannya jika saja Allah tak memberitahu kita.
Karena itu pula cara membersihkan hadats ini harus mengikuti persis seperti apa yang diajarkan Allah melalui RasulNya. Kita tidak bisa mengarang-ngarang atau pun merubah baik menambah atupun mengurangi apa yang diajarkan Rasul. Cara membersihkan hadats ini termasuk ke dalam ibadah mahdhah. Masih ingat kan ya, apa itu ibadah mahdhah? Ibadah mahdah adalah ibadah yang berhubungan langsung dan ditentukan cara langsung oleh Allah.
Azasnya taat dan supra rasional (IM= AT + SR) sebagaimana yang telah kita ulas dalam pembahasan sebelumnya yang berjudul Pembagian Ibadah.
Pada pembahasan ini kita akan mempelajari bagaimana tatacara membersihakn hadats kecil sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Hadits. Untuk melengkapi pemahaman, saya juga akan sertakan beberapa perbedaan pendapat yang berkembang di masyarakat beserta duduk persoalannya dan bagaimana sikap kita atau lebih tepatnya pendapat saya dalam persoalan ini. Dengan pemahaman yang komprehensif seperti ini diharapkan kita mempunyai pemahaman yang mendalam, beragama tak hanya sekedar ikut-ikutan dan mempunyai sikap yang luwes dan toleran dalam menghadapi berbagai perbedaan yang berkembang di masyarakat.
Tulisan ini agak panjang. Sengaja dibuat satu tulisan agar pembahasannya utuh.
Silahkan membaca dengan teliti. Mari kita mulai. Seperti telah kita bahas sebelumnya bahwa dalam kondisi suci kapan pun itu sangat dianjurkan dan bermanfaat bagi kita. Namun ada saat yang diwajibkan bagi kita untuk dalam kondisi suci dari hadats, yaitu saat kita akan bertemu dengan Allah, saat kita akan menghadapnya terutama dalam ibadah shalat. Nah, karena itulah perintah dan tatacara membersihkan hadats kecil kita akan mulai dari sini. Kita akan mulai dari perintah pokok dan tatacara yang diajarkan Allah dalam kitab suci al-Quran, Allah SWT berfirman:
اههُّيهأََّٰٰٓهي هنيِذَّلٱ ىهلِإ ۡمُت ۡمُق اهذِإ ْا َٰٓوُنهماهء
ِة َّٰوهلَّصلٱ ْاوُلِس ۡغٱ هف
ىهلِإ ۡمُكهيِدۡيهأ هو ۡمُكههوُج ُو ِقِفا هرهمۡلٱ
هو ْاوُحهس ۡمٱ ىهلِإ ۡمُكهلُج ۡرهأ هو ۡمُكِسوُء ُرِب
ِنۡيهبۡعهكۡلٱ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS. Al Maidah [5]: 6)
Inilah tatacara membersihkan hadats kecil. Ayat di atas tidak menyebutkan apa nama dari tatacara membersihkan hadats kecil ini. Penjelasan ini didapat dari banyak hadits Nabi bahwa nama dari tatacara itu adalah wudhu. Berdasarkan ayat di atas, tatacara wudhu adalah:
(1) membasuh muka, (2) membasuh kedua tangan sampai siku, (3) mengusap kepala, (4) membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
Pada pembahasan “Pengertian Ibadah” kita telah memahami arti pentingnya niat.
Aktivitas di atas tidak menjadi nilai ibadah dan tidak berfungsi dalam membersihkan/mensucikan hadats jika tidak ada niat ibadah, niat karena Allah. Oleh karena itu, meskipun pada ayat di atas tidak secara tegas dicantumkan, tentu saja niat ini sudah secara otomatis harus ada. Dengan demikian tatacara wudhu secara lengkap adalah: (1) niat, (2) membasuh muka, (3) membasuh kedua tangan sampai siku, (4) mengusap kepala, (5) membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
Berapa kali cara membasuh atau mengusap anggota wudhu itu? Karena Allah SWT tidak memerintahkan untuk mencuci lebih dari sekali dalam ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6), maka cukup dibasuh/diusap 1 kali. Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi. Dari Ibnu
‘Abbas, ia berkata:
ر ِبَِّنلإ َأ َّضاوات –
لمسو هيلع الله لىص ًةَّرام ًةَّرام –
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sekali, sekali.(HR. Bukhari, no. 157).
Inilah tatacara wudhu yang paling pokok, yang paling minimalis, yaitu dengan melakukan hal-hal yang bersifat wajib. Namun jika kita melihat praktik wudhu Rasulullah SAW, ada beberapa tambahan selain apa yang dijelaskan Allah di atas. Tambahan ini adalah sunah hukumnya untuk dilakukan. Sebagai umat Nabi, tentunya akan lebih baik jika kita melakukan secara lengkap dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Tatacara wudhu Rasulullah SAW secara umum disebutkan dalam hadits berikut:
اناَّفاع انْب اناامْثُع َّنَأ ُها ابَْخَأ اناامْثُع الَ ْوام انإارْ ُحُ
– هنع الله ضىر اثالااث ِهْيَّفاك ال اساغاف َأ َّضاواتاف ٍءو ُضاوِب ااعاد –
إ الَ
ِ إ انَْمُيْلإ ُهاداي ال اساغ َّ ُثُ ٍتإَّرام اثالااث ُها ْجْاو ال اساغ َّ ُثُ ا اثَْنات ْ سإاو اضام ْضام َّ ُثُ ٍتإَّرام َّ ُثُ ٍتإَّرام اثالااث ِقافْرِمْل
َّرام اثالااث ِ ْيْابْعاكْلإ الَ إ انَْمُيْلإ ُ الَْجِر ال اساغ َّ ُثُ ُه اسْأار اح اسام َّ ُثُ ا ِلِاذ الْثِم ىا ْسُْيْلإ ُهاداي ال اساغ ِ ال اساغ َّ ُثُ ٍتإ
ِ َّللَّإ الو ُسار ُتْيَأار الااق َّ ُثُ ا ِلِاذ الْثِم ىا ْسُْيْلإ -
و هيلع الله لىص لمس
ِ َّللَّإ ُلو ُسار الااق َّ ُثُ إاذاه ِئِو ُضُو اوْ انَ َأ َّضاوات -
- لمسو هيلع الله لىص -
اام ُ الَ ارِفُغ ُه اسْفان اامِيهِف ُثِ دا ُيُ الا ِ ْيْاتاعْكار اعاكاراف امااق َّ ُثُ إاذاه ِئِو ُضُو اوْ انَ َأ َّضاوات ْنام «
ِهِبْناذ ْنِم امَّداقات او ٍبااه ِش ُنْبإ الااق .»
ِةالا َّصلِل ٌداحَأ ِهِب ُأ َّضاواتاي اام ُغاب ْ سَأ ُءو ُضُوْلإ إاذاه انوُلوُقاي انَُؤاامالُع ان اكَ
Humran pembantu Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan pernah meminta air untuk wudhu kemudian dia ingin berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur diiringi memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya 3 kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai ke siku tiga kali, kemudian mencuci tangan yang kiri seperti itu juga, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki yang kiri seperti itu juga. Kemudian Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW pernah berwudhu seperti wudhuku ini. (HR.
Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan hadits di atas, tatacara wudhu yang sempurna adalah:
1. Niat berwudhu karena Allah.
2. Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
3. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali.
4. Membasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali.
5. Membasuh tangan –kanan kemudian kiri- hingga siku tiga kali.
6. Mengusap kepala satu kali.
7. Membasuh kaki tiga kali.
Tadi di atas saya menyebutkan praktik wudhu Nabi secara umum. Mengapa? Sebab secara lebih detail masih ada beberapa hadits yang melengkapi hadits di atas. untuk itu, kita sekalian lengkapi bagaimana tatacara wudhu Rasulullah SAW berdasarkan hadits-hadits
Rasul. Sekalian di sini juga akan dilengkapi dengan berbagai perbedaan pendapat yang muncul di masyarakat.
Jadi membacanya pelan, cermat, dan mendetail. Kalau perlu diulang-ulang. Agak banyak pembahasannya. Sistem pembahasannya kita akan bahas per point, kemudian kita sertakan dasar hadits-nya, lalu kita bahas beberapa perbedaan pendapat, dan terakhir posisi dan sikap kita, atau tepatnya pendapat saya diantara perbedaan itu.
Pertama, niat dan baca basmallah.
Masih ingat dengan definisi ibadah? Niat itu sangat penting. Aktivitas ini harus diniatkan karena Allah, atau lengkapnya: niat menghilangkan hadats kecil karena Allah dan mengawalinya dengan menyebut namaNya, Rasulullah SAW bersabda:
ِ نلبِ لااعمألإ اامَّن إ ىاوان ام ٍءيرمإ ِ ُكِل ماَّن
ِ إو ِتاَّي
Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR.
Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
اع الَااعات ِ َّللَّإ ا ْسْإ ِرُك ْذاي ْمال ْنامِل اءو ُضُو الااو ُ الَ اءو ُضُو الا ْنامِل اةالا اص الا ِهْيال
Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu. Dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ta’ala atasnya. (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud).
Saya garis bawahi, ya. Jadi cukup niat dalam hati dan membaca basmallah. Itu yang dilakukan Rasulullah SAW.
Sekarang mari kita lanjutkan dengan perbedaan pendapat yang muncul di masyarakat.
Di atas telah saya jelaskan bahwa pada prinsipnya niat itu ada dalam hati dan membaca basmallah. Itu yang dilakukan Rasulullah SAW pada permulaan wudhu. Namun diantara masyarakat ada yang membiasakan melafadzkan niat dalam bahasa Arab:
الَااعات ِ ه ِللَّ ا ًضْراف ِراغ ْصالاْإ ِثاداحْلإ ِعْفارِل اءْو ُضُوْلإ ُتْياوان
Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala.
Di sinilah kemudian muncul perbedaan pendapat. Ada yang menentang membaca lafadz niat di atas. Wudhu adalah ibadah mahdhah sehingga tidak boleh menambah-nambah apapun dari yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ada juga yang membolehkan (bukan mengharuskan) membaca lafadz niat di atas dengan alasan untuk menambah kemantapan dan memastikan niat yang benar pada saat mengerjakan wudhu. Perbedaan antara keduanya sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Pendapat pertama benar, tetapi mestinya bisa memaklumi juga pendapat kedua.
Mengapa? Membaca lafadz niat sebenarnya tidaklah menambah-nambahi ibadah mahdhah. Ia hanya mengucapkan niat yang ada dalam hati. Tentu saja hal ini tidak ada larangan. Terkadang orang menjadi semakin mantap jika niat diucapkan, tidak hanya dibatin dalam hati. Ada semacam kesan pengkondisian ke arah suatu pekarjaan. Namun bagi pendapat kedua juga penting untuk diberi catatan. Lafadz niat itu bukan doa wudhu. Jadi tidak ada keharusan untuk membacanya. Jika mau mengucapkan niat tentu tidak harus juga bahasa Arab. Boleh juga mengucapkan niat dalam bahasa Indonesia, misalnya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”. Pada kondisi tertentu tidak harus pula merepotkan menghafal niat dalam bahasa Arab sehingga bagi yang tidak hafal menjadi tidak bisa berwudhu. Pada intinya simpel saja. Cukup diawalai basmallah dan niat karena Allah sudah cukup.
Kedua, membasuh kedua telapak tangan dengan menyela-nyela jari.
Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Ada sedikit penjelasan di hadits lain bahwa yang lebih sempurna adalah menyela-nyela jari tangan, sebagaimana sabda Nabi:
ْلإ ْغِب ْ سَأامَّل اساو ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص ِ َّللَّإ ُلو ُسار الااق : الااق ُهْناع ُ َّللَّإ ا ِضِ ار اةا ِبَ اص ِنْب ِطيِقال ْناعاو ْلِ لاخاو اءو ُضُو
ِلاإ ِفِ ْغِل ابِ او ِعِبا اصَ ْلإ ا ْيْاب اةامْيازُخ ُنْبإ ُهاحَّ اصَاو ُةاعابْرَ ْلإ ُهاجارْخَأاًمِئا اص انوُكات ْنَأ َّلا إ ِقا اشْنِت ْ س
Laqith Ibnu Shabirah Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sempurnakanlah dalam berwudlu usaplah sela-sela jari dan isaplah air ke dalam hidung dalam-dalam kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR. Imam Empat dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah).
Berkenaan dengan membasuh telapak tangan tidak ada perbedaan pendapat.
Ketiga, berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak 3 kali.
Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Jika melihat teks hadits, antara berkumur dan menghirup air ke hidung menggunakan kata sambung “wa (dan)” bukan “tsumma (kemudian)”. Nah, dalam struktur bahasa Arab ini menunjukkan bahwa antara berkumur dan menghirup air ke hidung itu tidak dipisahkan. Jadi satu basuhan bersamaan.
Hal ini juga sesuai dengan hadits Nabi:
ٍة ادِحإاو ٍ فاك ْنِم اق اشْنات ْ سإاو اضام ْضاماف
Kemudian ia berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung melalui satu telapak tangan. (HR. Muslim, no. 235).
Masalahnya ada hadits lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memisah antara kumur-kumur dan menghirup air ke hidung. Inilah yang menimbulkan perbedaan pendapat. Berikut haditsnya: Hadits Thalhah bin Musharrif dari ayahnya, dari kakeknya, beliau berkata:
ِهِ ْجْاو ْنِم ُلْي ِ ساي ُءاامْلإاو ُأ َّضاواتاي اوُهاو اَّلم اساو ِ ِلَ أ الىاعاو ِهْيالاع ُالله َّلى اص ِ ِبَّنلإ الىاع ُتْلاخ اد
ِقا اشْنِت ْ س
ِ ْلاإاو ِة اضام ْضامْلإ ا ْيْاب ُل ِصْفاي ُهُتْيَأاراف ِهِرْد اص الىاع ِهِتايْحِلاو
Saya masuk menemui Nabi SAW dan beliau sedang berwudhu. Air mengucur dari wajah dan jenggot beliau di atas dadanya. Saya melihat beliau memisahkan antara kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung. (HR. Abu Daud dalam Sunan -nya no. 139, Al-Baihaqy dalam Sunan -nya 1/51, dan Ath-Thabarany jilid 19 no. 409-410). Semuanya dari jalan Al- Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya, dari kakeknya. Lalu dalam salah satu riwayat Ath-Thabarany dengan lafazh,
ِ إ
ًثًالااث اق اشْنات ْ سإاو ًثًالااث اضام ْضاماتاف َأ َّضاوات اَّلم اساو ِ ِلَ أ الىاعاو ِهْيالاع ُالله َّلى اص ِالله الْو ُسار َّن إ ًدْيِداج ًءاام ٍةادِحإاو ِ ُكِل ُذُخْأاي
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam berwudhu lalu berkumur- kumur tiga kali dan menghirup air tiga kali. Beliau mengambil air baru (baca: tersendiri)
untuk setiap anggota ….” (Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hatim dalam Al-‘Ilal 1/53 karya anaknya).
Menurut Imam Shon’aniy, meskipun banyak ulama hadits yang menilai hadits ini lemah, namun hadits Kakek Thalhah telah ditegaskan oleh hadits Utsman dan Ali Rodhiyallahu anhuma, katanya :
ُثيِداح ا ًضْيَأ ُ الَ َّلاد ْداقاو ٍ ِلاع ”
، ُم الا َّسلإ ِهْيالاع ” اناامْثُعاو ”
اة اضام ْضامْلإ إادارْفَأ اامَُّنََّأ : ”
ُهاجارْخَأ ؛ َأ َّضاوات اَّلم اساو ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص ِ َّللَّإ الو ُسار اانْيَأار إاذاكاه : الاااق َّ ُثُ ، اقا اشْنِت ْ س ِلاإاو ِ ِلاع وُبَأ
ٌةاعاا اجَ إاذاه الَ إ اباهاذاو ، ِهِحاا ِصَ ِفِ ِناك َّسلإ ُنْب
.Telah ditunjukkan juga oleh hadits Ali dan Utsman Rodhiyallahu anhuma bahwa mereka berdua menyendirikan berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung, lalu berkata:
‘demikikan kami melihat Rasulullah berwudhu, dikeluarkan oleh Abu Ali Ibnus Sakan dalam Shahihnya dan ini adalah pendapat sekelompok ulama”.
Jadi menurut Imam Shon’any hadis tentang memisah kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung bisa diterima. Hadis inilah yang menjadi dasar bahwa berkumur dan menghirup air ke hidup dipisah.
Jadi mana yang benar?
Menurut para ahli hadits, sebagimana disinggung di atas, kedua hadits di atas adalah hadits lemah (dha’if). Di sana terdapat rawi yang bernama Al-Laits bin Abi Sulaimdan ia telah dilemahkan oleh Ibnu Mahdy, Yahya Al-Qaththan, Ibnu ‘Uyyainah, Ibnu Ma’in, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ya’qub Al-Fasawy, An-Nasa`i dan lain-lainnya, bahkan Imam An-Nawawy, dalam Tahdzib Al-Asma` Wa Al-Lughat. Bahkan Imam Shon’any juga mengakui semua ini. Ayah Thalhah bin Musharrif adalah rawi yang majhul (tidak dikenal).
Lihat dalam: Tahdzibut Tahdzib, Al-Badrul Munir 3/277-286, At-Talkhish Al-Habir 1/133- 134, dan Nashbur Rayah 1/17.
Sekarang kita telah sampai pada kesimpulan bahwa pendapat terkuat adalah antara kumur-kumur (madhmadha) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) dijadikan satu. Hal ini didasarkan pada logika teks hadits shahih dari Humron di atas dan beberapa hadis shahih lain yang mendukung.
Keempat, membasuh muka dan menyela-nyela jenggot sebanyak 3 kali.
Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Ada sedikit tambahan “dengan menyela-nyela jenggot” tentu saja bagi yang berjenggot. Nabi bersabda:
ُهاتايْحِل ُلِ لا ُيُ ان اكَ اَّلم اساو ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص َّ ِبَّنلإ َّنَأ ُهْناع الَااعات ُ َّللَّإ ا ِضِ ار اناامْثُع ْناعاو ِفِ
ةامْيازُخ ُنْبإ ُهاحَّ اصَاو ريِذِمْ ِ تُّلإ ُهاجارْخَأ .ِءو ُضُوْلإ
Dari Utsman Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyela- nyelai jenggotnya dalam berwudlu. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah).
Berkenaan dengan hal ini tidak ada perbedaan pendapat.
Kelima, membasuh kedua tangan hingga siku, kanan dulu kemudian kiri sebanyak 3 kali.
Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Di sini ada sedikit perbedaan. Ada yang berpendapat harus dimulai dari ujung jari hingga siku, tidak boleh sebaliknya. Namun banyak ulama yang berpendapat tidak harus demikian. Yang terpenting adalah seluruh bagian yang harus dibasuh semuanya dibasuh.
Perintah ayat intinya hanya menunjukkan batas yang mempertegas semua area yang harus dibasuh. Tentu tidak mungkin jika disebut: batasnya ujung jari (lantas dari mana mulanya?).
Menurut saya akan lebih baik jika kita mengikuti pendapat pertama: dimulai dari ujung jari hingga siku. Supaya persis seperti kemauan ayat secara struktur bahasa. Tapi itu bukan suatu keharusan.
Keenam, mengusap kepala.
Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Namun ada 3 pertanyaan tambahan yang sekaligus menjadi tolak pangkal perbedaan pendapat, pertanyaan itu adalah:
1. Apakah seluruh kepala atau cukup sebagian saja?
2. Apakah kuping termasuk kepala atau tidak?
3. Berapa bilangan dalam mengusap kepala?
Mari kita mulai dari yang pertama.
1. Apakah seluruh kepala atau cukup sebagian saja?
Perbedaan pendapat tentang hal ini bermula dari penafsiran ayat tentang wudhu, yaitu QS. Al-Maidah [5]: 6, pada kalimat:
هو ْاوُحهس ۡمٱ ۡمُكِسوُء ُرِب
“…. usaplah kepalamu.”
Mengusap kepala ini ada yang mengartikan “sebagian” ada yang mengartikan
“seluruh” kepala. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena dalam strukur bahasa Arab, huruf “ba”
yang terdapat pada kalimat:
مُك ِسوُءُرِب
memang memungkinkan dua arti itu.Nah, untuk menentukan mana yang tepat maka kita harus melihat bagaimana Rasulullah SAW mempraktikkan mengusap kepala. Namun ternyata Rasulullah SAW juga pernah mempraktikkan kedua-duanya. Rasulullah SAW pernah mengusap keseluruhan kepala. Hal ini terdapat dalam hadits berikut:
Amr bin Yahya al-Maziniy, menceritakan tentang Abdullah bin Zaid yang memperagakan cara berwudlunya Rasulullah SAW sebagai berikut:
الابْقَأاف ِهْيادايِب ُه اسْأار اح اسام َّ ُثُ
َّتىاح اا ُهُ َّدار َّ ُثُ ُهاافاق الَ إ اامِ ِبِ اباهاذ َّ ُثُ ِه ِسْأار ِمَّداقُمِب َأاداب ارابْدَأ او اامِ ِبِ ِ
ُهْنِم َأ اداب ىِ َّلَّإ ِن اكَاـلمْإ الَ إ اعاجار ِ
Lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang mulai dari depan kepalanya kemudian menggerakkannya sampai ketengkuknya, lalu mengembalikannya ketempat semula. [HR Abu Dawud: 118, an-Nasa’iy: I/ 70-71,71, Ibnu Majah: 434 dan at- Turmudziy: 32. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]
Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengusap seluruh kepala dengan diawali dari depan sampai ke belakang, kemudian kembali ke depan lagi. Namun Rasulullah SAW juga pernah mengusap sebagian kepala, tepatnya bagian depan (ubun-ubun). Hal ini terdapat dalam hadits berikut:
َّفُخْلإ الىاعاو ، ِةاماامِعْلإ الىاعاو ، ِهِتاي ِصاانِب اح اساماف ، َأ َّضاوات اَّلم اساو ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص َّ ِبَّنلإ َّنَأ ِ ْيْ
Nabi SAW berwudhu dengan mengusap bagian depan kepala dan ‘imamahnya (serbannya), beliau juga mengusap khuf (sepatunya). (HR. Bukhari, no. 182 dan Muslim, no. 274).
Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memakai sorban, sehingga beliau hanya mengusap bagian depan kepalanya. Namun demikian sisanya beliau mencukupkan dengan mengusap soban. Berdasarkan pembahasan di atas karena kedua hadits shahih tampaknya yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala. Kemudian jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.
Lanjut ke pertanyaan kedua.
2. Apakah kuping termasuk kepala atau tidak?
Ada yang berpendapat bahwa cara membasuh kepala diteruskan sampai ke telinga, berdasarkan hadits berikut:
اوات : الااق ، اةاماامُأ ِبَِأ ْناع ، ًثًالااث ِهْي اداياو ، ًثًالااث ُها ْجْاو ال اساغاف اَّلم اساو ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص ر ِبَّنلإ َأ َّض
ِسْأَّرلإ انِم ِن انَُذُلإ : الااقاو ، ِه ِسْأارِب اح اساماو
Dari Abu Umamah Ra. beliau berkata: Nabi Saw. berwudhu (dengan cara) membasuh wajah sebanyak tiga kali, tangan sebanyak tiga kali, dan mengusap kepala. Nabi Saw. berkata:
kedua telinga adalah bagian dari kepala.
Bagi yang mendasarkan hadits ini mengusap kuping menjadi wajib, karena bagian dari kepala. Ada juga yang berpendapat bahwa mengusap kepala dan kuping dipisah. Artinya mengusap kuping tidaklah wajib karena bukan bagian kepala. Hal ini didasarkan atas hadits berikut, yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abdullah bin Zayd Ra. tentang cara berwudhu Nabi:
ُه اسْأار ِهِب اح اسام يِ َّلَّإ ِءاامْلإ ِ ْيْاغِب ِهْيانُذُأ اح اسام
Beliau berwudhu, kemudian membasuh kedua telinga dengan air yang bukan (digunakan) untuk membasuh kepala.
Imam Nawawi menyimpulkan, “Mengusap telinga adalah bagian dari sunnah wudhu sebagaimana hadits yang telah lewat.” (Al-Majmu’, 1:228). Imam Tirmidzi juga meragukan kalimat yang terdapat pada hadits bahwa “kuping bagian dari kepala” itu dari Nabi atau bukan. Katanya: “Saya tidak tahu, apakah kalimat ini (kedua telinga adalah bagian dari kepala) adalah pernyataan Nabi Saw. atau pendapat Abu Umamah.”
Imam Asy-Syaukani juga menyanggah bahwa hadits tersebut tidak bisa dibawa ke maksud semacam itu. Tetap yang lebih meyakinkan adalah hukum mengusap telinga adalah sunnah (bukan wajib).
Karena keraguan ini pula dalam kitab al-Tamhid fi Adillati al-Taqrib karya Dr.
Mustafa Dhieb al-Bigha, disebutkan bahwa membasuh sebagian kepala dan telinga tidak diperbolehkan dengan air yang sama. Artinya, setelah membasuh sebagian kepala – atau seluruhnya sebagian praktik yang disunnahkan – tidak boleh langsung membasuh kedua telinga.
Hal ini diperkuat dengan hadits yang terdapat dalam kitab Bulughul Maram pada hadits no. 42 tentang tata cara wudhu disebutkan hadits berikut:
ْلإ ا ْيْاغ ًءاام ِهْيانُذُ ِل ُذُخْأاي اَّلم اساو ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص َّ ِبَّنلإ ىَأار { ٍدْياز ِنْب ِ َّللَّإ ِدْباع ْناعاو يِ َّلَّإ ِءاام
اح اساماو { : ِظْفالِب ِهْجاوْلإ إاذاه ْنِم ٍ ِلم ْسُم ادْنِع اوُهاو ، ريِقا ْيهابْلإ ُهاجارْخَأ. } ِه ِسْأارِل ُهاذاخَأ ِه ِسْأارِب
ُظوُفْحامْلإ اوُهاو ، } ِهْياداي ِل ْضاف ِ ْيْاغ ٍءاامِب
Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil air untuk kedua telingannya dengan air yang berbeda dengan yang diusap pada kepalanya. (HR.
Baihaqi).
Banyak ahli hadits yang menyatakan hadits di atas perawinya tsiqah, berarti hadis ini shahih atau setidaknya hasan. Sampai di ini saya tidak mau berpanjang-panjang lagi. Intinya begini, setelah saya membaca banyak pendapat, kedua pihak mempunyai banyak argumen yang kuat untuk mendukung pendapat masing-masing. Mana yang paling tepat?
Mentok. Kedua argumentasi cukup kuat. Jadi kesimpulannya boleh kedua-duanya.
Mari kita lanjutkan pertanyaan terakhir.
3. Mengusap kepala cukup sekali atau tiga kali?
Pertama saya ingin mengatakan bahwa mengusap sekali itu jelas sudah cukup. Tapi pada anggota yang lain Rasul membasuh tiga kali. Mana yang lebih utama sesuai Rasul?. Jika melihat hadis utama, yaitu Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas memang untuk “mengusap kepala” tidak disebutkan bilangannya. Sedangkan untuk yang lain disebutkan tiga kali. Di sini terkesan bahwa Rasul hanya mengusap sekali. Ternyata ini bukan hanya kesan penafsiran, tapi memang didukung oleh hadits:
ًة ادِحإاو ًةَّرام ِه ِسْأارِب اح اسام او
Dan mengusap kepalanya sekali. (HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dwud: 111. berkata asy- Syaikh al-Albaniy: Shahih).
Namun Rasulullah pernah juga membasuh 3 (tiga) kali:
اكاذاف َأ َّضاوات اناَّفاع انْب اناامْثُع ُتْيَأار ِهيِف الااقاو اقا اشْنِت ْ س ِلاإاو اة اضام ْضامْلإ ْرُكْذاي ْمالاو ُهاوْ انَ ار
ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص ِ َّللَّإ الو ُسار ُتْيَأار الااق َّ ُثُ ًثً الااث ِهْيالْجِر ال اساغ َّ ُثُ ًثً الااث ُه اسْأار اح اساماو اذاه انوُد َأ َّضاوات ْنام الااقاو إاذاكاه َأ َّضاوات اَّلم اساو ِة الا َّصلإ ارْمَأ ْرُكْذاي ْمالاو ُهاافاك إ
Aku melihat Utsman bin Affan berwudhu. Kemudian dia menceritakan sebagaimana hadits sebelum ini, namun di dalamnya dia tidak menceritakan berkumur-kumur dan istinsyaq. Dan di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Humran mengatakan: Dia -Utsman- mengusap rambut kepalanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya tiga kali. Lalu Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu demikian. Dan beliau bersabda, ‘Barang siapa yang berwudhu kurang dari ini maka hal itu pun mencukupi baginya.’ Dan dia tidak menyebutkan tentang perkara sholat (sebagaimana yang ada pada riwayat Muslim di atas, pent). (HR. Abu Dawud, dinyatakan oleh al-Albani hasan sahih di dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [1/185] as-Syamilah).
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa mengusap kepala tiga kali termasuk Sunnah (ajaran Nabi) adalah pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnul Mundzir dari Anas, Atha’ dan yang lainnya.
Abu Dawud pun meriwayatkan keterangan itu mengusap kepala tiga kali- melalui dua jalur yang salah satunya dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan ulama yang lain.
Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Utsman mengusap kepalanya sebanyak tiga kali, sedangkan tambahan keterangan dari perawi yang terpercaya/tsiqah adalah informasi yang harus diterima (ziyadatu tsiqah maqbulah, istilah dalam ilmu hadits, pen), demikian papar al-Hafizh (silakan periksa Fath al-Bari [1/313], lihat juga keterangan Syaikh Dr. Abdul
‘Azhim Badawi hafizhahullah dalam kitabnya al-Wajiz, hal. 35)
Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-’Azhim Abadi rahimahullah mengatakan, Kesimpulan hasil penelitian dalam masalah ini menunjukkan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan sekali usapan adalah lebih banyak dan lebih sahih, dan ia lebih terjaga keabsahannya daripada hadits yang menyebutkan tiga kali usapan.
Meskipun hadits-hadits tiga kali usapan tersebut juga berderajat sahih melalui sebagian jalannya, akan tetapi ia tidak bisa mengimbangi kekuatan hadits-hadits tersebut.
Maka yang semestinya dipilih adalah mengusap sekali saja, walaupun mengusap tiga kali juga tidak mengapa.” (‘Aun al-Ma’bud [1/132] as-Syamilah).
Berdasarkan pembahasan di atas saya menyimpulkan:
1. Tampaknya yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala dengan meneruskan sampai telinga atau pun memisahnya.
2. Jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.
3. Bilangan dalam mengusap kepala yang paling kuat argumentasinya adalah 1 kali.
Meskipun demikian sangat bisa dimaklumi jika ada yang melakukan 3 kali mengingat argumentasinya juga kuat.
Kelima, membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, kaki kanan terlebih dahulu .
Kemudian kaki kiri. Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Hanya tambahan cara membasuh yang baik adalah dengan menyela-nyela jari kaki.
Keenam, bacaan setelah wudhu.
Bacaan setelah wudhu tidak ada dalam hadits Umron. Tapi ada pada hadits lain.
Rasulullah SAW bersabda:
الا ُهادْحاو ُالله َّلا إ ا الَ ِ
ِ إ الا ْنَأ ُداه ْشَأ :ُلوُقاي َّ ُثُ اءو ُضاوْلإ ُغِب ْ سُياف ُأ َّضاواتاي ٍداحَأ ْنِم ْ ُكْنِم اام ُ الَ اكيِ اشَ
اِ يَأ ْنِم ُلُخ ْداي ُةايِناامَّثلإ ِةَّناجْلإ ُبإاوْبَأ ُ الَ ْتاحِتُف َّلا إ ُ ُلَو ُس اراو ِالله ُدْباع إًدَّماحُم َّنَأاو ِ اءا اش ا
Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” (HR. Muslim no.
234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470).
Berdasarkan hadits di atas, bacaan/doa setelah wudhu adalah:
ُُلَو ُس اراو ِالله ُدْباع إًدَّماحُم َّنَأاو ُ الَ اكيِ اشَ الا ُهادْحاو ُالله َّلا إ ا الَ ِ
ِ إ الا ْنَأ ُداه ْشَأ
Namun umunya di masyarakat ada tambahan lagi doa sebagai berikut:
انيِرِ ه اطاتُلمإ انِم ِنِْلاعْجإاو ، ايِْبإَّوَّتلإ انِم ِنِْلاعْجإ َّمُهَّلل إ
Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri. (HR. Tirmidzi).
Hadits ini ada yang menyatakan sebagai hadits hasan. Tapi lebih banyak yang menyatakan hadis dhaif. Karena itu banyak pula yang memilih meninggalkan bacaan ini.
C. Cara Membersihkan Hadas Besar
Sebagaimana hadats kecil, hadats besar juga kotoran yang tak tampak. Kita tidak tahu di mana letak hadats besar dalam tubuh kita. Karenanya tak tau pula kita cara membersihkannya kecuali ada petunjuk dari Allah dan RasulNya. Karena itu pula tatacara membersihkan/mensucikan hadats besar adalah termasuk ibadah mahdhah yang secara praktik harus mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Namun demikian kita diberitahu penyebabnya. Penyebab yang membuat tubuh kita mengandung kotoran yang disebut hadats besar. Ada 4 hal yang membuat seseorang mempunyai hadats besar dalam dirinya:
1. Karena berhubungan badan (baik keluar air mani atau pun tidak).
2. Karena keluar mani.
3. Karena haid.
4. Karena nifas.
Jika seseorang mengalami salah satu dari 4 hal ini, maka di dalam dirinya terkandung hadats besar.
Bagaimana cara membersihkan kotoran yang bernama hadats besar ini? Cara membersihkan hadats besar adalah mandi khusus untuk membersihkan hadats besar yang disebut dengan mandi janabah atau mandi junub. Tatacara paling minimal dalam mandi janabah adalah: (1) niat menghilangkan hadats besar karena Allah dengan membaca basmallah, (2) menyiramkan air ke seluruh tubuh. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:
ِتاَّي ِنل ِبِ ُلاا ْعمَلإ اامَّن إ ِ
Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no.
1907)
ِه ِ ُك ِهِد اساج الىاع اءاامْلإ ُضيِفُي َّ ُثُ
Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya. (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Namun jika kita ingin menyempurnakan mandi janabah, sebagaimana Rasululah SAW juga melakukan hal ini, maka tatacaranya sebaagai berikut:
ِهْيالاع ُ َّللَّإ َّلى اص ِ َّللَّإ ُلو ُسار ان اكَ ْتالااق اة اشِئااع ْناع َّ ُثُ ِهْياداي ُل ِسْغاياف ُأادْباي ِةابااناجْلإ ْنِم ال اساتْغإ إاذ إ اَّلم اساو ِ
ُياف اءاامْلإ ُذُخْأاي َّ ُثُ ِة الا َّصلِل ُهاءو ُضُو ُأ َّضاواتاي َّ ُثُ ُهاجْراف ُل ِسْغاياف ِ ِلَاا ِشِ الىاع ِهِنيِمايِب ُغِرْفُي
ِفِ ُهاعِبا اصَأ ُلِخ ْد
اذ إ َّتىاح ِرْع َّشلإ ِلو ُصُأ ِ ِرِئا اس الىاع اضاافَأ َّ ُثُ ٍتاانافاح اث الااث ِه ِسْأار الىاع انافاح َأا ْبَات ْ سإ ْداق ْنَأ ىَأار إ
ِهْيالْجِر ال اساغ َّ ُثُ ِهِد اساج
Dari Aisyah dia berkata, “Apabila Rasulullah SAW mandi hadas karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan, kemudian menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan, kemudian berwudhu dengan wudhu untuk shalat, kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata dan membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh dan terakhir membasuh kedua kaki.” (HR. Muslim).
Berdasarkan hadits di atas, tatacara mandi janabah yang lebih sempurna adalah sebagai berikut:
1. Niat menghilangkan hadats besar dengan membaca basmallah.
2. Mencuci kedua telapak tangan.
3. Mencuci kemaluan dengan tangan kiri.
4. Berwudhu seperti wudhu shalat.
5. Menyiram air ke kepala (keramas) dan bilas tiga kali.
6. Mengguyur seluruh tubuh hingga bersih.
7. Membasuh kaki.
Perlukah berwudhu seusai mandi?
Jawabnya adalah boleh. Tapi jika hendak berwudhu lagi juga tidak mengapa. Dalil kebolehannya adalah hadits berikut:
َّ ِبَِّنلإ َّنَأ اة اشِئااع ْناع -
لمسو هيلع الله لىص ِل ْسُغْلإ ادْعاب ُأ َّضاواتاي الا ان اكَ -
Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,
؟ ِل ْسُغْلإ انِم ر اعََأ ٍءو ُضُو ريَأاو:الااقاف ؟ِل ْسُغْلإ ادْعاب ِءو ُضُوْلإ ِناع الِئ ُ س
Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
Kedua hadits ini mengisyaratkan bahwa hilangnya hadats besar secara otomatis juga menghilangkan hadats kecil. Jadi diperbolehkan untuk tidak wudhu lagi.
D. Tayamum
Pada pembahasan sebelumnya kita telah memahami bahwa cara membersihkan/mensucikan hadats kecil adalah dengan cara berwudhu, dan cara membersihkan/mensucikan hadats besar adalah dengan cara mandi janabah. Namun dalam keadaan tertentu, Allah membolehkan mengganti keduanya dengan cara lain yang disebut tayamum. Jadi, tayamum berfungsi untuk menggantikan wudhu dan mandi janabah. Karena itu tayamum mempunyai dua fungsi: dapat menghilangkan hadats kecil dan dapat pula menghilangkan hadats besar.
Namun demikian tidak sembarang waktu seseorang boleh mengganti wudhu dan mandi janabah dengan tayamum. Tayamum hanya dipebolehkan pada saat-saat tertentu, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Maidah ayat [5]:6.
هنِ م مُكنِ م ٞدهحهأ هءَٰٓاهج ۡوهأ ٍرهفهس َّٰىهلهع ۡوهأ ََّٰٰٓىهض ۡرَّم مُتنُك نِإ هو ِطِئَٰٓاهغ ۡلٱ
ُمُت ۡسهمَّٰهل ۡوهأ هءَٰٓاهسِ نلٱ
ۡمهلهف
هف ا ٗبِ يهط ا ٗديِعهص ْاوُمَّمهيهتهف ٗءَٰٓاهم ْاوُد ِجهت ْاوُحهس ۡمٱ
ُدي ِرُي اهم ُهۡنِ م مُكيِدۡيهأ هو ۡمُكِهوُج ُوِب َُّللّٱ
هلهع ۡجهيِل
َّٰهلهو ٖج هرهح ۡنِ م مُكۡيهل هع ُههتهمۡعِن َّمِتُيِل هو ۡمُك هرِ ههطُيِل ُدي ِرُي نِك
هنو ُرُك ۡشهت ۡمُكَّلهعهل ۡمُكۡيهلهع ۥ ٦
Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (QS. Al Maidah [5]: 6).
Berdasarkan ayat di atas, penyebab diperbolehkannya tayamum adalah:
1. Ketika tidak ada air, atau ada air tapi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.
2. Ketika sakit yang menghalangi orang tersebut menggunakan air.
Ketika kita mengalami kedua hal di atas, maka diperbolehkan mengganti wudhu ataupun mandi janabah dengan tayamum. Berbeda dengan wudhu dan mandi janabah yang medianya menggunakan air. Tayamum medianya adalah debu/tanah yang suci. Berbeda pula dengan wudhu yang harus membasuh/mengusap beberapa anggota tubuh dan mandi janabah yang harus meratakan air ke seluruh tubuh. Tayamum pada praktiknya tidak sama sepertu wudhu atau pun mandi janabah. Tayamum cukup mengusapkan debu ke muka dan telapak tangan masing-masing sekali, Lebih detailnya dijelaskan dalam hadits berikut:
ِل ٍ ِسِ ايَ ُنْب ُراَّ اعم الااقاف . اءاامْلإ ِب ِصُأ ْالماف ُتْبانْجَأ ِ نّ إ الااقاف ِبا َّطاخْلإ ِنْب ارا ُعم الَ ِ إ ٌلُجار اءااج ِ ارامُع
اتاف انََأ اَّمَأاو ، ِ ل اصُت ْالماف اتْنَأ اَّمَأاف اتْنَأاو انََأ ٍراف اس ِفِ اَّنُك َّنََأ ُرُك ْذات اامَأ ِباَّطاخْلإ ِنْب ُتْيَّل اصاف ُتْكَّعام
ِ ِبَِّنلِل ُتْراكاذاف ، –
لمسو هيلع الله لىص ر ِبَِّنلإ الااقاف –
– لمسو هيلع الله لىص –
ان اكَ اامَّن إ ِ «
إاذاكاه اكيِفْكاي ر ِبَِّنلإ ابا اضَاف . »
– لمسو هيلع الله لىص َّ ُثُ اامِيهِف اخافاناو ، اضْرَلإ ِهْيَّفاكِب –
اامِ ِبِ اح اسام ِهْيَّفاكاو ُها ْجْاو
Ada seseorang mendatangi ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata, “Aku junub dan tidak bisa menggunakan air.” ‘Ammar bin Yasir lalu berkata pada ‘Umar bin Khottob mengenai kejadian ia dahulu, “Aku dahulu berada dalam safar. Aku dan engkau sama-sama tidak boleh shalat. Adapun aku kala itu mengguling-gulingkan badanku ke tanah, lalu aku shalat.
Aku pun menyebutkan tindakanku tadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Cukup bagimu melakukan seperti ini.” Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dengan menepuk kedua telapak tangannya ke tanah, lalu beliau tiup kedua telapak tersebut, kemudian beliau mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.
(HR. Bukhari no. 338 dan Muslim no. 368).
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
ُها ْجْ اواو ِهْيَّفاك ارِها اظاو ِيِْمايْلإ الىاع الاام ِ شلإ اح اسام َّ ُثُ ًةادِحإاو ًةابْ اضَ اضْرَلإ ِهْيادايِب ابا اضَ َّ ُثُ
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk kedua telapak tangannya ke tanah dengan sekali tepukan, kemudian beliau usap tangan kiri atas tangan kanan, lalu beliau usap punggung kedua telapak tangannya, dan mengusap wajahnya.
Dalam hadits riwayat Muslim ini didahulukan mengusap punggung telapak tangan, lalu wajah. Ini menunjukkan bahwa urutan antara wajah dan kedua telapak tangan tidak
dipersyaratkan mesti berurutan. Berdasarkan hadits shahih di atas, tatacara tayamum yang dipraktikkan Rasululullah SAW adalah sebagai berikut:
1. Niat bertayamum untuk menghilangkan hadats kecil/besar karena Allah dengan membaca basmallah.
2. Menepukkan kedua telapak tangan ke debu.
3. Meniup debu yang menempel di telapak tangan.
4. Mengusap muka.
5. Mengusap telapak tangan kanan (dengan telapak tangan kiri).
6. Mengusap telapak tangan kiri (dengan telapak tangan kanan).
Atau urutannya setelah niat, menepuk debu, dan meniupnya, kemudian telapak tangan terlebih dahulu baru muka, sesuai dengan hadits Muslim di atas.
Sebagai tambahan pembahasan, kita perlu mengetahui perbedaan yang terjadi di masyarakat. Di kalangan masyarakat ada yang mempraktikkan tayamum berbeda dengan tatacara di atas. Mereka menepuk debu dua kali, sekali untuk mengusap wajah, sekali untuk mengusap kedua tangan sampai siku. Praktik tayamum seperti ini didasarkan pada sebuah hadits:
َّنلإ َّنَأ ارا ُعم ِنْبإاو اةاماامُأ ِبَِأ ْناع ِ ْيْاقافْرِلمإ الَ إ ِنْيادايلِل ُةاب ْ اضَاو ِهْجاوْلِل ٌةابْ اضَ : ِنااتابْ اضَ ُمرمايَّتلإ :الااق َّ ِب ِ
Dari Abi Umamah dan Ibni Umar radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW bersabda”Tayammum itu terdiri dari dua tepukan. Tepukan pada wajah dan tepukan pada kedua tangan hingga siku. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Namun demikian hadits ini banyak yang menyatakan sebagai hadits dhaif sehingga yang lebih berhati-hati adalah cukup menepuk sekali dan batas tangan hanyalah telapak tangan sampai pergelangan sebagaimana dijelaskan di atas.
E. Hal-hal yang membatalkan wudhu dan tayamum
Sebagaimana telah kita bahas dan pahami sebelumnya bahwa setelah melakukan wudhu atau tayamum kita telah bersih atau lebih tepatnya “suci” dari hadats kecil. Demikian juga setelah kita mandi janabah, kita telah suci dari hadats besar. Kita tetap dalam kondisi suci selama kita tidak melakukan beberapa hal yang membatalkan wudhu, tayamum, atau mandi janabah kita. Jika kita melakukannya, maka wudhu, tayamum dan mandi janabah kita batal yang berarti kita kembali pada kondisi kotor dimana dalam tubuh kita mengandung hadats kecil/besar.
Berikut ini beberapa hal yang membatalkan wudhu dan tayamum:
Pertama, keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur). Ini bisa berupa kentut, buang air kecil, buang air besar, dan lain-lain.
Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al Maidah ayat 6:
مُكنِ م ٞدهحهأ هءَٰٓاهج ۡوهأ هنِ م
ِطِئَٰٓاهغ ۡلٱ
Atau salah satu dari kalian telah datang dari kamar mandi.
Kedua, hilang akal. Bisa disebabkan karena tidur, gila, mabuk, dan lain-lain. Rasulullah SAW bersabda:
ْأَّضاواتايْلاف ام انَ ْناماف
Barangsiapa yang tidur maka berwudhulah. (HR. Abu Dawud).
Ketiga, menyentuh kelamin atau lubang dubur manusia, Rasulullah bersabda:
ْأَّضاواتايْلاف ُهاراكاذ َّسام ْنام
Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah. (HR. Abu Daud no. 181, An Nasa-i no. 447, dan At Tirmidzi no. 82).
Keempat, melakukan hubungan seksual, Allah SWT berfirman:
هنِ م مُكنِ م ٞدهحهأ هءَٰٓاهج ۡوهأ ٍرهفهس َّٰىهلهع ۡوهأ ََّٰٰٓىهض ۡرَّم مُتنُك نِإ هو َٰٓاهغ ۡلٱ
ِطِئ ُمُت ۡسهمَّٰهل ۡوهأ هءَٰٓاهسِ نلٱ
ۡمهلهف
هف ا ٗبِ يهط ا ٗديِعهص ْاوُمَّمهيهتهف ٗءَٰٓاهم ْاوُد ِجهت ْاوُحهس ۡمٱ
ُدي ِرُي اهم ُهۡنِ م مُكيِدۡيهأ هو ۡمُكِهوُج ُوِب َُّللّٱ
هلهع ۡجهيِل
َّٰهلهو ٖج هرهح ۡنِ م مُكۡيهلهع ُههتهمۡعِن َّمِتُيِل هو ۡمُك هرِ ههطُيِل ُدي ِرُي نِك
ۡيهلهع ۥ هنو ُرُك ۡشهت ۡمُكَّلهعهل ۡمُك ٦
Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (QS. Al Maidah [5]: 6)
Jika sesorang melakukan hal yang keempat ini, dia tidak hanya menjadi berhadats kecil, tapi juga berhadats besar. Atau dengan kata lain, orang tersebut menjadi berhadats kecil yang secara otomatis ia juga berhadats besar.
Sebagai tambahan ada beberapa perbedaan pendapat yang penting untuk kita pahami, terutama dalam hal sentuhan lawan jenis. Ada yang berpendapat menyentuh atau sentuhan lawan jenis membatalkan wudhu. Sedangkan di atas kita tidak memasukkannya dalam perkara yang membatlkan wudhu. Mengapa hal ini terjadi?
Karena di sini terjadi perbedaan pendapat pada kata yang terdapat dalam surat al Maidah ayat 6 yaitu kata:
اءۗا اسِ نلإ ُ ُتُ ْ سامهل ْواإ
. Ada yang mengartikan dengan kata tersebut dengan“menyentuh perempuan” ada juga yang mengartikan kata tersebut dengan “bersetubuh”. Kata tersebut memang memungkinkan memiliki 2 arti itu.
Lalu kenapa pada kesimpulan di atas kita mengambil arti bersetubuh? Karena tafsiran inilah yang diberikan oleh sahabat Nabi yang paling ahli dalam menafsirkan al-Quran, yaitu sahabat Ibnu Abbas. Hal ini juga cocok dengan arah pembicaraan surat al Maidah ayat 6 yang di dalamnya sedang membicarakan hadats kecil dan hadats besar. Coba perhatikan ayat berikut:
اههُّيهأََّٰٰٓهي هنيِذَّلٱ ىهلِإ ۡمُت ۡمُق اهذِإ ْا َٰٓوُنهماهء
ِة َّٰوهلَّصلٱ ْاوُلِس ۡغٱ هف
ىهلِإ ۡمُكهيِدۡيهأ هو ۡمُكههوُج ُو ِقِفا هرهمۡلٱ
هو ْاوُحهس ۡمٱ ىهلِإ ۡمُكهلُج ۡرهأ هو ۡمُكِسوُء ُرِب
ِنۡيهبۡعهكۡلٱ هف ا ٗبُنُج ۡمُتنُك نِإ هو
ْاو ُرَّهَّطٱ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah. (QS. Al Maidah [5]:
6)
Ayat ini sedang bicara tentang bagiamana mensucikan hadats kecil (wudhu) dan bagaimana mensucikan hadats besar (mandi), yang kemudian disambung dengan ayat berikut:
هنِ م مُكنِ م ٞدهحهأ هءَٰٓاهج ۡوهأ ٍرهفهس َّٰىهلهع ۡوهأ ََّٰٰٓىهض ۡرَّم مُتنُك نِإ هو ِطِئَٰٓاهغ ۡلٱ
ُمُت ۡسهمَّٰهل ۡوهأ هءَٰٓاهسِ نلٱ
Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan…(QS. Al Maidah [5]: 6)
Nah, menjadi serasi dengan ayat sebelumnya jika “laa mastumunnisa” diartikan sebagai “jimak/bersetubuh” sehingga mewakili pembicaraan ayat sebelumnya yang memuat hadats kecil dan besar. Jika diartikan “menyentuh perempuan”, hadats besar menjadi tidak
terwakili. Hal ini menjadi cocok dengan bunyi ayat selanjutnya yang menjelaskan bahwa tayamum itu diperbolehkan sebagai pengganti wudhu yang merupakan tatacara untuk menghilangkan hadats kecil dan mandi yang merupakan tatacara untuk menghilangkan hadats besar, berikut ayat lanjutannya:
هف ا ٗبِ يهط ا ٗديِعهص ْاوُمَّمهيهتهف ْاوُحهس ۡمٱ
ُه ۡنِ م مُكيِدۡيهأ هو ۡمُكِهوُج ُوِب
Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (QS. Al Maidah [5]: 6).
LATIHAN II
1. Apa yang dimaksud dengan thaharah?
2. Apa perbedaan pengertian beberapa istilah berikut: 1) nazhafah, 2) thaharah, 3) tazkiyyah?
3. Sebutkan macam-macam hadas dan cara membersihkannya!
4. Sebutakan secara singkat cara berwudhu dan tayamum sesuai tuntunan Rasulullah?
5. Sebutkan secara singkat tatacara mandi besar sesuai tuntunan Rasulullah?
KUNCI JAWABAN II
1. Apa perbedaan pengertian beberapa istilah berikut: 1) nazhafah, 2) thaharah, 3) tazkiyyah?
Jawaban: 1) nazhafah adalah bersih dari kotoran fisik selain najis, 2) thaharah adalah bersih atau suci dari hadas dan najis, 3) tazkiyyah adalah bersih atau suci dari kotoran jiwa.
2. Sebutkan macam-macam najis dan cara membersihkannya!
Jawaban: najis terbagi menjadi tiga: mukhafafah (najis ringan), mutawasithah (najis sedang), dan mughaladazah (najis berat). Cara membersihkan najis ringan adalah dengan cara menciprati air pada tempat najis. Adapun cara membersihkan najis mutawasithah adalah dengan cara menghilangkan wujud dan bau najis menggunakan air. Sedangkan cara membersihkan najis mughalazah adalah dengan cara membersihkan tempat najis sebanayak tujuh kali menggunaka air dan salah satunya dicampur dengan debu.
3. Sebutakan secara singkat cara berwudhu dan tayamum sesuai tuntunan Rasulullah!
Jawaban: cara berwudhu mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) niat dalam hati dengan membaca basmalah, 2) mencuci kedua telapak tangan, 3) membasuh muka 3 kali, 4) membasuh kedua tangan mulai dari jari hingga siku sebanyak 3 kali, kanan dulu tiga kali baru kiri tiga kali, 5) mengusap kepala mulai dari depan kepala hingga belakang langsung ke kedua telinga sebanyak 1 kali, 6) membasuh kedua kaki mulai dari ujung jari hingga mata kaki 3 kali, kaki kanan dulu tiga kali baru kaki kiri tiga kali. Kemudian tatacara tayamum mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) niat dalam hati sembari membaca basamalah, 2) menepuk kedua tangan ke debu, lalu menipiskan debu dengan menipu telapak tangan atau menggerak-gerakkannya, 3) mengusap muka sekali, 4) lanjut mengusap telapak tangan kanan sekali dan telapak tangan kiri sekali hingga pergelangan.
4. Apa saja yang membatalkan wudhu dan tayamum dan kapan tayamum boleh dilakukan?
Jawaban: yang membatalkan wudhu dan tayamaum adalah: 1) hilang akal, 2) keluar sesuatu dari kubul dan dubur, 3) menyentuh alat kelamin. Sedangkan bersentuhan lawan jenis tidak membatalkan wudhu dan tayamum.
5. Sebutkan secara singkat tatacara mandi besar sesuai tuntunan Rasulullah!
Jawaban: tatacara mandi besar mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) niat menghilangkan hadats besar dengan membaca basmallah, 2) mencuci kedua telapak tangan, 3) mencuci kemaluan dengan tangan kiri, 4) berwudhu seperti wudhu shalat, 5) menyiram air ke kepala (keramas) dan bilas tiga kali, 6) mengguyur seluruh tubuh hingga bersih, 7) membasuh kaki.
RANGKUMAN II
1. Kesucian diri adalah tujuan utama dari ajaran Islam. Kesucian diri merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Semakin manusia itu kotor tentu hidupnya menjadi tidak nyaman dan tidak bahagia. Sebaliknya orang yang suci keadaan dirinya akan hidup dengan nyaman dan bahagia, bahkan hingga ke alam akhirat.
2. Thaharah adalah membersihkan diri dari kotoran berupa hadas dan najis. Namun demikian, sebagai pelengkap penting untuk dijelaskan secara keseluruhan mengenai konsep kotor dan bersih dalam Islam yang meliputi: nazhafah, thaharah, dan tazkiyyah. Nazhafah adalah bersih dari kotoran fisik selain najis. Adapun thaharah adalah bersih atau suci dari hadas dan najis. Sedangkan tazkiyyah adalah bersih atau suci dari kotoran jiwa.
3. Kotoran yang harus dibersihkan dalam thaharah ini meliputi hadas dan najis. Hadas adalah kotoran tak tampak yang wajib dibersihkan dengan wudhu atau tayamum jika seseorang akan melakukan ibadah. Sedangkan najis merupakan kotoran fisik yang terbagi menjadi tiga: mukhafafah (najis ringan), mutawasithah (najis sedang), dan mughaladazah (najis berat). Najis mukhafafah adalah air kencing bayi laki-laki yang belum makan selain ASI dan belum berumur dua tahun. Cara membersihkan najis ini adalah dengan cara menciprati air pada tempat najis. Najis mutawasithah adalah kotoran selain yang kencing bayi tadi dan selain air liur anjing, seperti tai ayah, darah dan lain-lain. Adapun cara membersihkan najis mutawasithah adalah dengan cara menghilangkan wujud dan bau najis menggunakan air. Najis mughalazah adalah air liur anjing. Sedangkan cara membersihkan najis mughalazah adalah dengan cara membersihkan tempat najis sebanayak tujuh kali menggunaka air dan salah satunya dicampur dengan debu.
4. Tatacara berwudhu sesuai tuntuna Rasulullah adalah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) niat dalam hati dengan membaca basmalah, 2) mencuci kedua telapak tangan, 3) membasuh muka 3 kali, 4) membasuh kedua tangan mulai dari jari hingga siku sebanyak 3 kali, kanan dulu tiga kali baru kiri tiga kali, 5) mengusap kepala mulai dari depan kepala hingga belakang langsung ke kedua telinga sebanyak 1 kali, 6) membasuh kedua kaki mulai dari ujung jari hingga mata kaki 3 kali, kaki kanan dulu tiga kali baru kaki kiri tiga kali. Kemudian tatacara tayamum mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) niat dalam hati sembari membaca basamalah, 2) menepuk kedua tangan ke debu, lalu menipiskan debu dengan menipu telapak tangan atau menggerak-gerakkannya, 3) mengusap muka sekali, 4) lanjut mengusap telapak tangan kanan sekali dan telapak tangan kiri sekali hingga pergelangan.
5. Wudhu dan tayamum menjadi batal karena beberapa hal sebagai berikut: 1) hilang akal, 2) keluar sesuatu dari kubul dan dubur, 3) menyentuh alat kelamin. Sedangkan bersentuhan lawan jenis tidak membatalkan wudhu dan tayamum.
6. Tatacara mandi besar sesuai tuntunan Rasulullah adalah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) niat menghilangkan hadats besar dengan membaca basmallah, 2) mencuci kedua telapak tangan, 3) mencuci kemaluan dengan tangan kiri, 4) berwudhu seperti wudhu shalat, 5) menyiram air ke kepala (keramas) dan bilas tiga kali, 6) mengguyur seluruh tubuh hingga bersih, 7) membasuh kaki.