Lensa Driyarkara adalah program kerja Kementerian Analisis Isu Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sanata Dharma 2021 berupa kajian yang berisi pemikiran-pemikiran atas isu-isu kontemporer dari perspektif BEM USD.
Selamat membaca!
Lensa Driyarkara:
PERGAULAN BEBAS, SALAH PARENTING, REMAJA, ATAU LINGKUNGANNYA?
Krisna Yudhistira S Patricia Christine Sekeh Elvida Glodia Ardiani Susiani Suprapti
Kementerian Analisis Isu Strategis
Perkembangan anak pada saat ini sangat mengkhawatirkan karena kurangnya pengawasan dari orang tua, bahkan tidak sedikit ada orang tua yang tidak memahami perkembangan anaknya karena kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak atau orang tua dengan sekolah. Kurangnya komunikasi tersebut bisa menyebabkan terjadinya masalah kesinambungan terhadap pendidikan yang diterima anak di sekolah dengan pendidikan yang diterima anak di rumah, maka dari itu pentingnya parenting dalam melihat proses tumbuh kembang anak.
Parenting merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan antara orang tua dan pihak sekolah dalam membahas proses tumbuh kembang anak dan berbagai permasalahannya agar terjadi kesinambungan dalam pendidikan yang diterima baik
di sekolah maupun di rumah.1 Kegiatan parenting akan menjadi suatu wadah yang dapat memberikan keuntungan pada semua pihak, baik kepada orang tua, PAUD, maupun pemerintah. Ada beberapa manfaat dalam pelaksanaan parenting misalnya: (1) terjalinnya mitra kerja lintas sektor, misalnya dari pengusaha-pengusaha yang berkaitan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak, instansi pemerintah, penerbit buku, dan lain-lain, (2) terpenuhinya kebutuhan hak-hak anak, (3) berkembangnya rasa percaya diri orang tua dalam mendidik anak, (4) terjalinnya hubungan yang harmonis pada masing anggota keluarga sesuai dengan tugasnya masing-masing, (5) terciptanya hubungan antar keluarga di lingkungan masyarakat sekitar lembaga pendidikan, dan (6) terjalinnya mitra kerja antar sesama anggota parenting.2
Faktor penentu bagi perkembangan anak baik fisik maupun mental adalah peran orang tua, terutama peran seorang ibu yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkan sampai dia dewasa. Dalam proses pembentukan pengetahuan, melalui berbagai pola asuh yang disampaikan oleh seorang ibu sebagai pendidik pertama sangatlah penting. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan watak, kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan moral, serta keterampilan sederhana. Dalam konteks ini proses sosialisasi dan enkulturasi terjadi secara berkelanjutan.3
Peran lingkungan terhadap tumbuh kembang anak sangat penting karena lingkungan merupakan tempat di mana seorang anak tumbuh dan berkembang, sehingga lingkungan banyak berperan dalam membentuk kepribadian dan karakter seseorang. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan
1 Heru Kurniawan, PENGEMBANGAN LINGKUNGAN BELAJAR LITERASI UNTUK ANAK USIA DINI , As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini: Vol 3 No 01 (2018): Juni 2018, diakses dari http://www.jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/assibyan/article/view/190 ,pada 22 agustus 2021 Pukul 22:30 WIB.
2 KHAZANAH PENDIDIKAN. Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. IX, No. 2 Maret 2016. Diiakses dari http://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/khazanah/article/view/1065/986. Pada 22 Agustus 2021 pukul 23:00 WIB.
3 Permono, H. Peran Orangtua dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak untuk Membangun Karakter Anak Usia Dini, Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013. diakses dari
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/3994/02.pdf?sequence=1&isAllowed=y
yang mempengaruhi perkembangan anak, setelah itu sekolah, dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya, dalam hal ini yang berbeda misalnya cara didik keluarga dan keadaan ekonomi keluarga. Setiap keluarga memiliki sejarah perjuangan, nilai-nilai, dan kebiasaan yang turun-temurun secara tidak sadar akan membentuk karakter anak. Lingkungan buruk yang sering terjadi di sekitar anak, misalnya kelompok pengangguran, judi, perkataan jorok dan kasar, dan dunia hiburan yang tidak mendidik. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin pesat juga dapat membawa dampak negatif seperti tersedianya informasi negatif melalui media masa dengan teknologi yang sulit untuk dihindari, misalnya kekerasan, pergaulan bebas, takhayul, handphone, majalah, televisi, dll. Banyak anak yang mengalami kesulitan berkembang bukan karena keluarga mereka tidak memberikan kebiasaan yang baik.4 Hal ini dipengaruhi juga dari faktor pergaulan anak tersebut. Anak yang masuk ke pergaulan bebas bisa dihasut oleh teman-teman sepergaulan untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma yang ada, seperti merokok, minum-minuman keras dan kemungkinan terburuknya adalah menggunakan obat-obatan terlarang. Maka dari itu, perkembangan seorang anak bukan hanya dari lingkungan keluarganya saja, tetapi bisa dari pergaulan dan lingkungan sekitar.
Dampak Parenting bagi Anak
Pola asuh atau parenting yang diterapkan orang tua terhadap anak-anaknya akan mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan mereka. Pola asuh yang baik tentu akan memberikan dampak yang baik bagi perkembangan anak, demikian sebaliknya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh yang benar. Pola asuh yang dibutuhkan setiap anak tentu berbeda satu dengan yang lain. Untuk itu perlu pemahaman orang tua terhadap anaknya dalam mengetahui pola asuh apa yang kira-kira tepat dan berdampak positif bagi mereka.
4 Kompasiana, Peran Penting Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak, 2011 diakes dari
https://www.kompasiana.com/sutrisni/55005fae8133119c19fa76bf/peran-penting-lingkungan-terhadap-perkembangan-anak. Pada 22 Agustus 2021 pukul 22.00 WIB.
Menurut DPPKBPMD Kabupaten Bantul (Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Masyarakat & Desa, 2021)5, terdapat beberapa pola asuh yang benar dan memberikan dampak positif pada anak, antara lain:
1. Menjadi panutan bagi anak
Anak memiliki kecenderungan untuk meniru figur otoritas di sekitarnya. Baik itu guru, orang tua, maupun saudaranya yang lebih tua. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa dirinya dan figur otoritas lain di lingkungan anak memberikan contoh yang baik.
2. Jangan terlalu memanjakan anak
Terkadang orang tua akan menuruti seluruh kemauan anaknya ketika mereka menangis atau tantrum. Tetapi hal ini akan membuat anak bertumbuh menjadi sosok yang manja. Perlu diketahui orang tua bahwa mendisiplinkan anak dan membentuk karakternya merupakan bentuk kasih sayang orang tua. Namun, hal ini tidak berarti orang tua berhak untuk memukul, menyiksa, atau melakukan kekerasan terhadap anaknya ketika ia salah. Jika anak salah, cobalah untuk menegur dia dengan lembut dan berikan pemahaman terkait perbuatannya.
3. Luangkan waktu untuk anak setiap hari
Quality time bersama anak sangat penting untuk perkembangannya. Hal ini tidak berarti orang tua tidak harus selalu ada disamping anak. Cukup dengan meluangkan waktu untuk anak seperti sarapan bersama, mengantarkannya ke sekolah, menghadiri acara atau kegiatan yang dilakukan anak, atau membacakan cerita pengantar tidur di malam hari. Perhatian kecil ini dapat membuat anak merasa diperhatikan dan mencegahnya melakukan hal buruk untuk mendapatkan perhatian.
4. Tumbuhkan sifat kemandirian pada anak
Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan kepercayaan, kesempatan, dan apresiasi kepada anak. Misalnya dengan mengajarkan mereka untuk
5 Rahma, Imelda. (2020, 5 Juli). Orang tua harus hindari 5 pola asuh anak yang salah ini. Liputan6. Diakses dari https://www.liputan6.com/bola/read/4296841/orang-tua-harus-hindari-5-pola-asuh-anak-yang-salah-ini pada 22 Agustus 2021 22.10 WIB.
merapikan tempat tidurnya sendiri. Jika mereka melakukannya, selalu berikan mereka apresiasi seperti pujian atau hadiah kecil agar anak tahu bahwa usaha mereka dihargai oleh orang tua.
5. Tentukan peraturan rumah dengan menyertakan alasan
Aturan membuat anak dapat membedakan perilaku yang baik dan buruk. Beritahu mereka mengapa peraturan tersebut dibuat. Misalnya, anak tidak boleh tidur dari jam 10 karena hal itu akan mencegahnya dari sakit. Selain itu, konsistensi dari orang tua juga diperlukan. Jika orang tua tidak konsisten dengan aturan tersebut maka akan memunculkan kebingungan pada anak.
Meskipun orang tua telah mengetahui pentingnya pola asuh pada anak, tetapi banyak orang tua yang masih abai terkait pola asuh anak. Mereka tidak memperhatikan pola asuh yang diterapkan dan bahkan tidak memahami terkait pola asuh. Dilansir dari Liputan6 (Rahma, 2020)6, kesalahan pola asuh berikut sering dilakukan oleh orang tua tanpa disadari.
1. Memberikan segalanya
Orang tua perlu menyadari bahwa tidak semua kemauan anak perlu dituruti. Orang tua perlu menyaring apakah permintaan anak akan berdampak baik atau sebaliknya. Jika orang tua menuruti seluruh keinginan anak, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang manja. Ia juga tidak akan percaya pada dirinya sendiri sehingga selalu bergantung pada orang tua.
2. Keras dan otoriter
Bertolak belakang dengan pola asuh sebelumnya, disini orang tua akan berfokus pada diri sendiri dan tidak pada anak. Pola asuh ini dapat membuat anak tumbuh dengan penuh kebencian dan depresi sejak dini.
3. Hanya memberi materi tanpa perhatian
Orang tua terkadang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Tetapi hal tersebut justru membuat mereka lupa bahwa anak juga
6 Wahhab. (2021). 5 prinsip parenting membentuk karakter positif pada anak. DPPKBPMD Kabupaten Bantul. Diakses pada 21 Agustus 2021 melalui https://dppkbpmd.bantulkab.go.id/5-prinsip-parenting-membentuk-karakter-positif-pada-anak/
membutuhkan perhatian. Memberikan materi bukanlah hal yang buruk, tetapi perlu diingat bahwa anak juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.
Pola asuh yang diterapkan orang tua baik secara sadar maupun tidak dapat mempengaruhi kehidupannya di luar lingkungan rumah. Pola asuh yang salah dapat membentuk karakter anak yang manja, bergantung pada orang tua, tidak percaya diri, mengalami tekanan, menjadi seorang attention-seeker, dan karakter buruk lainnya. Oleh karena itu orang tua harus benar-benar memahami anaknya, dan kemudian menentukan pola asuh seperti apa yang dirasa cocok untuk mereka. Setelah itu, dibutuhkan konsistensi orang tua. Jika memilih pola asuh yang tegas, maka teruslah bersikap tegas. Sikap yang berubah-ubah dari orang tua akan membuat anak bimbang.
Penyebab Pergaulan Bebas
Secara umum, pergaulan bebas dinyatakan sebagai perilaku seseorang yang menyimpang dari norma saat bergaul dengan orang lain.7 Jika kita hanya berpaku
pada satu opini, kita akan dengan mudah berpikir bahwa pola parenting yang salah merupakan satu-satunya akar masalah dari pergaulan bebas yang dilakukan oleh seseorang. Namun, jika dilihat lebih dalam pergaulan bebas juga disebabkan oleh beberapa faktor lainnya. Seseorang yang orang tuanya berlatar belakang pendidikan tinggi (S1) akan cenderung dididik dengan pemahaman yang tepat akan pergaulan bebas. Sebaliknya, orang tua dengan taraf pendidikan rendah bisa menjadi pemicu munculnya pergaulan bebas di tengah kehidupan remaja. Penyebab lainnya adalah kurangnya keharmonisan dalam hidup berkeluarga khususnya pada keluarga broken home. Kurangnya perhatian orang tua membuat anak berusaha melakukan segala hal demi memperoleh perhatian mereka. Sama dengan keluarga yang kurang
7 Rinda Fithriyana, “Hubungan Fungsi Afektif Keluarga dengan Pergaulan Bebas Remaja di MTS Swasta Nurul Hasanah Tenggayun”, Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 1 No. 2, 2019, hlm. 76, diakses dari https://edukatif.org/index.php/edukatif/article/view/8 pada 22 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB.
harmonis, keadaan lingkungan tempat tinggal yang tidak tergolong baik juga termasuk ke dalam faktor eksternal penyebab pergaulan bebas di kalangan remaja.8
Selain itu, pergaulan bebas juga disebabkan oleh faktor internal yang mencakup rendahnya kontrol diri sehingga mudah terpengaruh oleh ajakan teman, kurangnya kesadaran diri bahwa pergaulan bebas membawa dampak yang negatif, kurangnya pendidikan agama, dan gaya hidup yang cenderung mengadopsi kebiasaan-kebiasaan buruk.9 Remaja yang tidak bisa mengendalikan emosi serta dorongan negatif dalam dirinya akan lebih mudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Maka dari itu, kita tidak bisa memutuskan salah satu pihak sebagai penyebab pergaulan bebas yang dilakukan oleh seseorang. Melainkan, kita harus mengetahui akar penyebabnya secara jelas.
Dampak bagi Seseorang yang Terjerumus ke dalam Pergaulan Bebas
Seseorang yang sudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas akan mengalami perubahan yang signifikan dalam dirinya. Masalah yang paling sering dialami adalah terganggunya proses berpikir seseorang yang mengakibatkan susahnya dalam menangkap informasi dan materi. Pelaku sudah terbiasa melakukan hal-hal yang menyenangkan saja dan enggan untuk memikirkan kepentingan akademiknya. Bagi mahasiswa, hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap Indeks Prestasi Akademik (IPK) mereka yang akan mengalami penurunan.10 Dari segi psikologis, akan timbul rasa bersalah, sedih, menyesal, stress, dan malu pada diri sendiri sehingga pelaku mulai merasa kurang percaya diri, dan bahkan bisa merusak
8 Hafri Khaidir Anwar, Martunis, Fajriani, “Analisis Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pergaulan Bebas Pada Remaja Di kota Banda Aceh”, Jurnal Ilmiah Bimbingan Dan Konseling, Vol. 4 No. 2, 2019, hlm. 15-16, diakses dari http://www.jim.unsyiah.ac.id/pbk/article/view/10065 pada 22 Agustus 2021 pukul 18.42 WIB.
9 Ibid.
10 Sendy Agus Setyawan dkk, “Pergaulan Bebas di Kalangan Mahasiswa dalam Tinjauan Kriminologi dan Hukum”, Student Free Sex in the Perspective of Criminology and Law, Vol. 5 No. 2, 2019, hlm. 154, diakses dari https://doi.org/10.15294/snh.v5i2.31265 pada 22 Agustus 2021 pukul 19.34 WIB.
mentalnya.11 Sementara itu, bagi pelaku pergaulan bebas yang sudah memasuki fase yang lebih ekstrim seperti melakukan hubungan seksual tanpa adanya ikatan pernikahan akan lebih mudah menderita penyakit menular seksual.12
Cara Terhindar dari Pergaulan Bebas
Seperti yang kita ketahui, pergaulan bebas dan kenakalan remaja bisa terjadi pada siapa saja. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari anak tentang bahayanya pergaulan bebas, serta orang tua terhadap anak-anak mereka. Jika hanya dari satu pihak yang berusaha mencegah, maka tidak akan bisa terealisasikan. Harus dari orang tua dan juga anak menyadari bahayanya pergaulan bebas.
Ada lima cara orang tua dalam mendidik anak agar terhindar dari pergaulan bebas yang dirangkum dari Kompas.com., yakni sebagai berikut.
1. Pondasi agama
Memiliki iman dan keyakinan yang kuat adalah hal utama dalam mendidik anak. Aturan-aturan dan larangan dalam agama tentang hal yang buruk dan baik bisa diterapkan pada anak. Dengan berpedoman pada ajaran agama dan dosa yang akan didapat jika melakukan kesalahan, maka seorang anak akan menyadari bahayanya dari pergaulan bebas. Hal ini bisa meminimalisir kenakalan dan pergaulan bebas pada remaja.
2. Sinergi pengasuhan
Harus adanya kesamaan dalam pola asuh atau didikan yang diberikan ayah dan ibu kepada anak. Dengan adanya sinergi pengasuhan, diharapkan orang tua bisa menjadi benteng bagi anak agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas. Orang tua juga bisa menjadi sahabat bagi anak, agar mereka merasa orang tua bisa berbagi kesulitan maupun perasaan yang mereka rasakan.
3. Memilih pergaulan dan sekolah
11 Aisyah, "Dampak Negatif Pergaulan Bebas terhadap Generasi Muda Menurut Tinjauan Pendidikan Islam”, Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, 2013, hlm. 38, diakses dari http://repositori.uin-alauddin.ac.id/id/eprint/1228 pada 22 Agustus 2021 pukul 20.18 WIB.
Orang tua bisa mengawasi anak-anak mereka sebelum menginjak dewasa. Selagi dibangku sekolah, apa yang ditempuh seorang anak akan masih menjadi tanggung jawab orang tua. Maka, orang tua harus selektif melihat pergaulan anak-anak mereka. Diharuskan sejak dini pergaulan anak-anak harus dibatasi atau dipantau. Agar tidak salah dalam pergaulan. Dengan catatan tidak membatasi gerak mereka atau membuat mereka merasa tidak dipercayai. Hal ini akan membuat mereka merasa berkecil hati karena tidak dipercaya oleh orang tua.
Lalu orang tua bisa mengontrol anak-anak mereka dengan mendatangi atau konsultasi dengan guru di sekolah jika memungkinkan. Agar mengetahui bagaimana perilaku anak-anak di sekolah. Biasanya tingkah laku anak-anak di lingkungan rumah dan sekolah berbeda. Seorang anak akan cenderung berperilaku baik di depan orang tua, tetapi tidak di luar. Oleh sebab itu, orang tua harus tahu perilaku anak-anak di luar rumah. 4. Edukasi sejak dini
Seperti yang kita ketahui, di Indonesia tentang edukasi seks masih tabu. Padahal ini sangatlah penting untuk anak-anak yang memasuki remaja. Anak-anak biasanya akan penasaran apa yang tidak mereka coba ataupun mereka tidak tahu. Disinilah peran orang tua menjelaskan hal yang harus mereka ketahui. Anak-anak harus diberitahukan mana yang boleh dan tidak. Serta dampak bagi mereka jika melakukan hal itu. Selain itu, saat remaja seharusnya diberitahukan dampak pergaulan bebas bisa membuat waktu habis untuk bermain dan salah satunya melakukan seks bebas. Dampak dari hal itu bisa membuat rusaknya kesehatan dan terjangkit HIV/AIDS.
5. Menyeleksi tontonan dan bacaan
Orang tua perlu menyeleksi apa yang dibaca dan ditonton oleh anak-anak. Biasanya anak-anak suka mengikuti apa yang mereka tonton atau pelajari. Oleh karena itu, memilih tontonan dan bacaan pada anak-anak sangatlah penting. Selain itu, hindari anak di bawah umur memakai gadget. Itu bisa membuat ketergantungan dan jika tidak diawasi dengan benar, anak-anak bisa membuka situs yang tidak diinginkan. Jadi, orang tua harus
selektif dalam memberikan bacaan, tontonan, hingga tetap mengawasi buah hati dalam menggunakan gadget.13
Selain tindakan pencegahan pergaulan bebas dari orang tua. Pergaulan bebas juga harus bisa dicegah dari diri remaja. Jika hanya dari sisi orang tua dan anak pun tidak mengindahkannya, maka semua yang dilakukan orang tua akan sia-sia. Jadi, di bawah ini ada cara menghindari pergaulan bebas yang dikutip dari Kompas.com yang dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Di antaranya: (1) bersikap optimis dan percaya diri, (2) melakukan berbagai kegiatan positif, (3) memiliki dan menjaga pola keseimbangan hidup, (4) selektif dalam memilih teman, (5) berusaha mengembangkan talenta untuk meraih cita-cita yang diinginkan, (6) berpikir tentang memiliki rencana masa depan yang baik dan menyenangkan, (7) membentuk dan memiliki karakter yang positif.14
Jika cara diatas telah diterapkan pada diri dan apa yang dimandatkan oleh orang tua telah dilakukan. Maka, anak-anak dan remaja bisa terhindar dari pergaulan bebas. Orang tua memang punya peran penting dalam tumbuh kembang anak, sifat, dan perilaku anak-anak mereka. Akan tetapi, yang menentukan masa depan dan apa yang dilakukan oleh seorang anak adalah diri mereka sendiri.
Kesimpulan
Perkembangan buah hati dan pergaulan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan bagi para orang tua. Banyak anak-anak pada saat remaja masuk dalam pergaulan bebas. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya lingkungan, pergaulan, dan kesalahan parenting dari orang tua. Dampak dari pergaulan bebas juga sangat besar. Bisa menurunkan nilai akademik hingga moral pada remaja, sampai tidak tahu masa depan yang anak-anak inginkan. Oleh sebab
13Ayunda Pininta Kasih. “5 Cara Orang Tua Mendidik Anak Sekolah Agar Terhindar Pergaulan Bebas”. diakses dari https://edukasi.kompas.com/read/2020/02/05/19000091/5-cara-orangtua-mendidik-anak-sekolah-agar-terhindar-pergaulan-bebas?page=all pada 22 Agustus 2021 pukul 22.50 WIB.
14 Vanya Karunia Mulia. “Cara Menghindari Pergaulan Bebas”.
https://www.kompas.com/skola/read/2020/10/22/153000069/cara-menghindari-pergaulan-bebas?page=all diakses pada tanggal 22 Agustus 2021, pukul 23.10 WIB
itu, orang tua harus bisa memberikan parenting yang baik bagi anak-anak hingga mereka bisa memilih dan menjalani kehidupan sesuai dengan yang mereka inginkan.
Saran
Dengan mengoptimalkan cara terhindar dari pergaulan bebas, baik dari orang tua dan remaja, maka besar kemungkinan seorang anak akan terhindar dari pergaulan bebas. Kerja sama orang tua dan anak akan mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang baik dan bijaksana. Oleh sebab itu, orang tua dan anak harus saling bersinergi untuk mencapai tujuan yang dibangun.