Cara Pengendalian Hama Tembakau
Cara Pengendalian Hama Tembakau. Tanaman tembakau dengan bahasa Indonesia sebagai resapan dari Bahasa Spanyol tobacco sebagai salah satunya tanaman tropis asli Amerika. Asal-usul tembakau tidak dikenali dengan tentu karena
tanaman ini benar-benar tua dan sudah diperbudidayakan berabad lama waktunya.
hama dan penyakit tanaman tembakau, hama tanaman tembakau, hama pada
tanaman tembakau, hama pada tembakau, hama gudang tembakau, hama
tembakau,hama tanaman tembakau pdf, hama penyakit tanaman tembakau, hama dan penyakit tembakau, makalah hama pada tanaman tembakau, bioteknologi untuk mentransfer gen anti hama pada tanaman tembakau, tembakau untuk hama, hama dan penyakit tembakau beserta gambarnya, hama dan penyakit pada
tanaman tembakau, hama penyakit tembakau.
Di tahun 1556, tanaman tembakau dikenalkan di Eropa, dipakai untuk kepentingan dekor dan kedokteran/klinis saja. Jean Nicot, yang pertama kalinya lakukan
eksplorasi tanaman ini di Perancis. Selanjutnya, tanaman tembakau menebar dengan cepat sekali di semua Eropa, Afrika, Asia, dan Australia.
Tembakau sudah populer sebagai komoditi export semenjak dua 1/2 era lalu, yaitu saat penguasa penjajahan yang selanjutnya diganti oleh pemodal swasta
mengupayakan untuk pasaran Eropa. Kurang lebih dua era semenjak dikenalkannya tembakau oleh bangsa Portugis di Nusantara, tanaman tembakau sebagai tanaman untuk konsumsi barisan elit, dan dengan bertahap semakin makin tambah meluas jadi konsumsi rakyat.
Kemudian tembakau jadi populer di Eropa dan dipakai untuk beberapa kepentingan, misalkan hilangkan rasa lapar, kurangi rasa mengantuk atau tidak sadarkan diri, dan menyembuhkan beberapa penyakit. Perkembangan tembakau benar-benar sama dengan perubahan koloni - koloni pertama, khususnya di wilayah Virginia dan Maryland.
sebagai rokok, pipa atau tembakau kunyah. (chewing) atau untuk disedot melalui hidung atau tembakau sedotan (snuff). Tembakau sebagai sumber nikotin yakni, satu zat aditif, dan sebagai material dasar untuk beberapa macam insektisida.
Di Indonesia, tembakau sudah dikenali semenjak 400 tahun lalu sebagai tanaman obat atau bahan halusinogen (Balitas, 1994). Kultivar tembakau sudah berkembang luas. Perubahan itu sudah melahirkan beragam tipe tembakau baik berdasar
tipologi, morfologi, penyesuaian lokal atau berdasar langkah pemrosesan, pemakaian dan musim tanamnya.
Sebagai contoh kultivar tembakau berdasar penyesuaian lokasi yakni: tembakau Virginia, Burley dan Turki. Tembakau sebagai komoditas penting yang
menambahkan devisa untuk negara. Sumatera dulu populer dengan "Tembakau Deli" kuasai dunia. Tembakau Deli sekarang ini masih jadi bintang tembakau cerutu, yang manfaatnya lebih diprioritaskan untuk pembungkus cerutu.
Daun tembakau Deli dikenali sebagai pembungkus cerutu nomor satu di dunia, hingga masih tetap diperlukan oleh pabrik pemroduksi cerutu berkualitas tinggi. Oleh karenanya dipandang penting dan perlu untuk kembalikan nama populer itu memakai salah satunya langkah lewat literatur pendataan hama dan penyakit tanaman tembakau dengan tepat buat untuk tingkatkan produktiviats tembakau ke luar negeri.
BIOLOGI Tembakau Deli
Tipe tembakau berdasar pemrosesannya diantaranya, Pertama, Flue cured, tembakau yang pemrosesannya dari daun hijau jadi krosok dilaksanakan dalam bangunan pengering dengan menyalurkan udara panas. Ke-2 , Sun cured,
tembakau yang pemrosesannya dengan cahaya matahari dan yang lain.
Sebagai contoh berdasar pemakaiannya dikelompokkan tembakau cerutu, sigaret, kemyak, hisap dan pipa. Berdasar musim tanamnya dikelompokkan dalam
tembakau voor oogst dan na oogst. Dalam pemberdayaan tembakau yang
menguasai di Indonesia bisa digolongkan dalam tembakau cerutu, rajangan dan virginia.
Tembakau cerutu hingga saat ini biasanya diupayakan oleh PT Perkebunan
Nusantara (BUMN). Di negara Indonesia tembakau yang bagus (komersil) cuman dibuat di beberapa daerah tertentu. Tanaman tembakau, curahan hujan rerata 2000 mm/tahun, Temperatur udara Yang pas di antara 21°-32°C, pH di antara 5-6. Tanah gembur, remah, mudah mengikat air, mempunyai tata air dan perputaran udara hingga dapat tingkatkan drainase, ketinggian di antara 200-3.000 m dpl.
Kualitas tembakau benar-benar ditetapkan oleh lokasi penanaman, hasil panen dan pemrosesan pascapanen. Mengakibatkan, cuman beberapa lokasi yang mempunyai kecocokan dengan kualitas tembakau terbaik, bergantung produk targetnya. Dalam klasifikasinya tembakau termasuk dalam Seksio Plantae, Kelas Dicotyledonaea, Ordo Personatae, Kerabat Solanaceae, Sub Kerabat Nicotianae, Genus Nicotianae, Spesies Nicotiana tabacum L. Akar tanaman tembakau sebagai tanaman berakar tunggang yang tumbuh tegak ke pusat bumi.
Akar tunggangnya bisa tembus tanah kedalaman 50- 75 cm, sedang akar
serabutnya menebar ke samping. Disamping itu, tanaman tembakau mempunyai bulu-bulu akar. Perakaran akan berkembang baik bila tanahnya gembur, gampang meresap air,dan subur. Tangkai tanaman tembakau mempunyai wujud tangkai cukup bundar, cukup lunak tapi kuat, semakin ke ujung, semakin kecil.
Ruas-ruas tangkai alami penebalan yang banyak daun, tangkai tanaman bercabang atau sedikit bercabang. Pada tiap batas tangkai selainnya banyak daun, banyak tunas ketiak daun, diameter tangkai sekitaran 5 cm.
Daun-daun tanaman tembakau berupa bundar lonjong (oval) atau bundar, bergantung pada varietasnya. Daun yang berupa bundar lonjong ujungnya meruncing, sedang yang berupa bundar, ujungnya pijakl. Daun mempunyai tulang-tulang menyirip, sisi pinggir daun cukup bergelombang dan licin. Susunan atas daun terdiri dari susunan palisade parenchyma dan spongy parenchyma di bagian bawah. Jumlah daun pada sebuah tanaman sekitaran 28 - 32 lembar.
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN TEMBAKAU
turun.Untuk jaga hasil produksi karena itu harus dipahami beberapa jenis penyakit, tanda-tanda dan pengontrolannya.
1. Londrak (Thrips parvispinus)
Hama Thrips atau Londrak (wilayah) serang daun-daun dari bawah ke arah atas, dengan menggaruk dan menghisap cairan daun. Tanda-tanda gempuran diikuti dengan sisi bawah daun yang diserang warna keperakan, seterusnya beralih menjadi kecoklat-coklatan.
Daun terlihat masak saat sebelum waktunya, terkadang mengeriting dan meliuk ke atas. Bila dirajang warna tembakau kehitaman, tidak plastis seperti kertas dengan wewangian sirna. Hama ini awalnya dipandang hama sekunder sebagai vector dari penyakit virus tembakau. Semenjak gempuranya meninggi pada tahun 2004 dan selalu bertambah di tiap tahunnya karena itu hama ini termasuk hama utama pada tembakau.
Hama ini mengakibatkan rugi hasil tembakau 50 %, terutamanya pada kualitas tembakau jadi rendah. Thrips dewasa warna coklat dan hitam, langkah jalan menyerong akan berkembang secara cepat bila kondisi panas dan cukup lembab. Pengaturan trips pada tanaman yang sudah dilakukan dengan mekanisme
pengaturan hama terintegrasi (PHT) ialah seperti berikut: - Penempatan jebakan rekat warna biru, putih atau kuning
- Pendayagunaan lawan alami. Lawan alami prospektif yang bisa dipakai untuk mengontrol thrips ialah predator kumbang macan Menochilus sexmaculatus (1 ekor/tanaman) dan jamur bakteri Verticillium lecanii (fokus 3 x 108 spora/ml). - Pelepasan kumbang predator M. sexmaculatus dan penyemprotan jamur
bakteri V. lecanii dilaksanakan mulai tanaman tembakau berusia 1 minggu sesudah tanam di sore hari sekitaran jam 16.00. Di luar negeri, lawan alami trips telah diperjualbelikan seperti kepik Orius sp., tungau predator Amblyseius sp. dan jamur bakteri V. lecanii.
- Penyemprotan insektisida. Penyemprotan insektisida untuk mengontrol trips pada tanaman sebagai usaha paling akhir. Insektisida yang disarankan ialah insektisida yang selective yakni yang dengan bahan aktif Spinosad (Tracer 120 EC).
Pemakaian insektisida dilaksanakan bila komunitas hama itu sudah capai tingkat pengaturan. Menurut Moekasan et al (2005), nilai tingkat pengaturan trips pada tanaman paprika ialah :
- Babak vegetatif (0 ± 5 minggu sesudah tanam) ialah 2,7 ekor trips/daun atas. - Babak berbunga (6 ± 11 minggu sesudah tanam) ialah 0,3 ekor trips/daun
puncak dan 0,8 ekor trips/bunga.
- Babak berbuah (> 11 minggu sesudah tanam) ialah 0,3 ekor trips/daun atas
2. Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Ulat muda makan daun dengan tersisa epidermis, hingga daun jadi terbuka. Ulat tua makan semua sisi daun dan yang ditinggal cuman tulang daunnya saja. Ulat memiliki warna yang bervariatif, tapi ada ciri-ciri khusus, yakni ada garis seperti kalung warna hitam yang melingkar pada batas ke-3 . Kepompongnya warna coklat tua dan ada di atas tanah (Kalshoven 1981). Pengaturan ulat grayak bisa
dilaksanakan dengan seperti berikut:
- Penghimpunan barisan telur dan larva. Barisan telur dan larva S. litura yang ada pada tanaman dihimpun lalu dihilangkan.
- Penempatan feromonoid atau jebakan lampu untuk tekan komunitas Maksudnya untuk tangkap imago atau ngengat S. litura.
- Pendayagunaan lawan alami. Lawan alami yang prospektif mengontrol ulat grayak ialah virus bakteri SlNPV (Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus). Di pasar lawan alami ini telah dipasarkan bernama VirX yang dibuat oleh
Perusahaan Dompet Duafa Republika. Penyemprotan virus bakteri ini
dilaksanakan mulai usia tanaman satu minggu sesudah tanam dengan jeda satu minggu
- Pemakaian insektisida. Bila gempuran ulat grayak telah capai tingkat pengaturan, yakni 5% kerusakan daun baru bisa dipakai insektisida.
Insektisida yang disarankan ialah insektisida selective seperti Spinosad (Tracer 120 EC).
3. Ulat Puncak Tembakau (Helicoverpa armigera)
Helicoverpa armigera atau dikenali dengan panggilan ulat sirna, hama ini
menghancurkan daun puncak, atau puncak tembakau bahkan juga pada kapsul (buah) ulat ini ingin mengkonsumsinya. pada tahun 2015 tingkat gempurannya lumayan luas, gempuran hama ulat sirna di Kabupaten Probolinggo menempati rangking ke dua sesudah penyakit virus.
Kondisi luas gempuran hama ulat sirna bisa dilukiskan dengan luas gempuran paling tinggi terjadi di Kecamatan Paiton, Krejengan, Jenguk, Kotaanyar. Bulan gempuran paling tinggi pada bulan Agustus 2015. Menurut Kalshoven (1981), tanda-tanda yang diakibatkan ialah daun muda dan puncak berlubang bahkan juga ulat menggerek kapsul (buah), ada dua tipe Helicoverpa sp yang serang tembakau yakni Halicoverpa armigera Hubner dan Helicoverpa assulta Genn. Ciri-ciri dari H. assulta menempatkan telur di permukaan daun muda sedang H. armigera
menempatkan telur di permukaan daun muda, karena ulat memiliki sifat kanibal, bila mereka berjumpa saudaranya sama-sama memakan, oleh karenanya secara perasaan sang induk betina bila menempatkan telurnya secara terpisah satu-satu pada tanaman.
Betina sanggup bertelur 200 -2000 butir. Rugi yang disebabkan oleh ulat sirna ini jika sibetina menempatkan telur secara tunggal dan telur itu menetas semua
berapakah tanaman yang hancur dan bisa mengakibatkan rugi yang cukup banyak. Seranngan berat menyebabkan rugi sekitaran 50 %.. Ide pengendaian hama
sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi. Dalam masalah ini yang perlu ialah lakukan penilaian perubahan komunitas hama. Bila komunitas hama melalui titik krisis tingkat ekonomi karena itu harus dilaksanakan pengaturan diantaranya dengan:
- Secara fisik, satu diantaranya lakukan sanitasi kebun yakni bersihkan gulma di sekitar tanaman tembakau. Hama ini memiliki sifat polifaghus hingga bisa saja gulma di sekitar tanaman tembakau bisa juga dipakai untuk berkembang biak. - Secara teknisi, yakni mengambil ulat pada komunitas tidak begitu padat,
selanjutnya menghancurkannya.
- Secara biologis, bisa memakai agens hayati jamur Beauveria bassiana, Metarhizium, parasitoid Trichogramma nana, Nematoda entomopatogen Steinernema spp., dan Virus HaNPV.
- Secara kultur tehnis bisa dilaksanakan pergiliran tanaman dan waktu tanam dan sistem pemrosesan tanah untuk memutuskan transisi hama.
- Secara kimiawi, dilaksanakan sebagai alternatif paling akhir yakni di saat tingkat gempuran tinggi (>20%). Insektisida yang bisa dipakai diantaranya Permetrin 2 gr/liter atau Betasiflutrin 25 gr/liter, Thiodan 4 ml/liter,dan Lannate 2 ml/liter.
4. Kutu Daun Persik (Myzus persicae)
Kutu daun persik kerap juga dikatakan sebagai kutu daun tembakau. Nimfa dan serangga dewasa serang daun-daun muda, dengan menyerang dan menghisap cairan daun. Tanda-tanda gempuran diikuti dengan peralihan struktur daun jadi
kerutan, terpuntir, warna kekuningan, perkembangan tanaman kerdil, daun jadi layu dan pada akhirnya mati.
Selain itu, kutu daun sebagai vector penyakit virus PLRV dan PVY. Badannya warna kuning kehijauan dengan panjang badan sekitar di antara 0,8 ± 1,2 mm.
Pengaturan kutu daun persik pada tanaman tembakau yang sudah dilakukan dengan mekanisme PHT berikut :
1. Pendayagunaan lawan alami. Di alam, kutu daun persik memiliki lawan alami yang prospektif yakni parasitoid Aphidius sp., kumbang macan M.
sexmaculatus, dan larva lalat Syrphidae. Pelepasan kumbang macan M.
sexmaculatus dilaksanakan semenjak tanaman tembakau berusia satu minggu sesudah tanam dan diulangi tiap minggu.
2. Pemakaian insektisida. Bila komunitas kutu daun persik sudah capai tingkat pengaturan, yakni 7 ekor/10 daun, karena itu pertanaman disemprotkan dengan insektisida Fipronil (Regent 50 EC).
Tanda-tanda:
- Kutu ini menghancurkan tanaman tembakau dan mengisap cairan daun tanaman, serang di pembibitan dan pertanaman hingga perkembangan
tanaman terhalang. Kutu ini hasilkan embun madu yang mengakibatkan daun jadi lekat dan banyak cendawan warna hitam.
- Kutu daun secara fisik memengaruhi warna, wewangian dan struktur dan seterusnya akan kurangi kualitas dan harga, secara khemis kutu daun kurangi kandungan alkaloid, gula, rasio gula alkaloid dan tingkatkan keseluruhan nitrogen daun.
- Kutu daun bisa mengakibatkan rugi sampai 50%, kutu daun bisa
mengakibatkan rugi 22 ± 28% pada tembakau flue-cured. Pengontrolannya: Kurangi pemupukan N dan lakukan penyemprotan insektisida imidaklorid jika semakin besar dari 10% tanaman ditemui koloni kutu tembakau (tiap koloni sekitaran 50 ekor kutu).
5. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Tanda-tanda yang muncul: dengan daun diserang berlubang-lubang khususnya daun muda hingga ada batang daun rebah. Pengaturan: Potong daun sarang telur/ulat, penggenangan sebentar dan semprot Pestona.
Tanda-tanda yang muncul: dengan daun puncak tanaman diserang
berlubang-lubang apabila didiamkan akan habis. Pengaturan: kumpulkan dan hancur telur / ulat, sanitasi kebun dan semprot Pestona
7. Nematoda (Meloydogyne sp)
Tanda-tanda yang muncul: Sisi akar tanaman terlihat bisul-bisul bundar, tanaman dapat kerdil, layu, daunberguguran dan pada akhirnya akan mati. Pengaturan: Sanitasi kebun, pemberian GLIO diawalnya tanam, PESTONA
8.Kutu-Kutuan (Aphis sp, Thrips sp, Bemisia sp)
Hama ini pembawa penyakit yang karena virus. Pengaturan: Memakai predator Koksinelid, Alami BVR, Gangsir (Gryllus partnertus), jangkrik (Brachytry
pesportentosus), orong-orong (Gryllotalpa africana), semut geni (Solenopsis geminata), belalang banci (Engytarus tenuis). Sedang yang termasuk kelompok penyakit pada tanaman tembakau berikut:
1. Hangus Tangkai (Damping off) Dikarenakan oleh jamur Rhizoctonia solani. Tanda-tanda yang muncul: Tangkai tanaman yang terkena akan jadi kering dan warna coklat sampai hitamseperti terbakar. Pengaturan : mengambil tanaman yang diserang dan bakar dan penangkalan awalnya dengan Alami GLIO.
2. Lanas Dikarenakan oleh tingkah Phytophora parasitica var. nicotinae.
Tanda-tanda yang muncul: timbulnya bercakbercak pada daun warna kelabu yang bakal semakin makin tambah meluas, pada tangkai,diserang akan lemas dan menggantung lalu layu dan pada akhirnya mati. Pengaturan: Mengambil tanaman yang diserang dan bakar, semprot Alami GLIO.
3. Patik Daun Karena tingkah jamur Cercospora nicotianae. Tanda-tanda: di atas daun ada bintik bundar putih sampai coklat, sisi daunyang diserang jadi ringkih dan gampang robek. Pengaturan: memakai desinfeksi bibit, renggangkan jarak tanam, olah tanah intens, pakai airbersih, bedah dan bakar tanaman diserang, semprot Alami GLIO.
4. Bintik Coklat Pemicu oleh jamur Alternaria longipes. Tanda-tanda yang muncul: Ada bintik-bintik coklat, selainnya tanaman dewasa penyakit ini
serangtanaman di persemaian. dan perlu anda ketahui jamur serang tangkai dan biji. Pengaturan: dengan mengambil dan membakar tanaman yang diserang.
5. Busuk Daun Pemicu: Bakteri Sclerotium rolfsii. Tanda-tanda yang muncul: Serupa dengan lanas tetapi daun membusuk, akarnya jika ditelaah diselubungi oleh massa cendawan. Pengaturan: mengambil dan bakar tanaman diserang, semprot Alami GLIO.
6. Virus Pemicu: virus mozaik (Tobacco Virus Mozaic/TVM), Krupuk (Krul),
Pseudomozaik, Marmer, Mozaik ketimu (Cucumber Mozaic Virus). Tanda-tanda yang umum terjadi: Perkembangan tanaman jadi lamban. Pengaturan: dengan jaga sanitasi kebun, tanaman yang terkena di cabut dan dibakar.
Factor-Faktor Yang Memengaruhi Perkembangan
Tembakau
Beberapa hal yang perlu jadi perhatian di saat penanaman dan perawatan tembakau ialah seperti berikut :
1. Penyiapan benih yang sehat dan produktif.
2. Penyiapan tempat pembibitan dan tempat tanam (diusahakan tempat tidak boleh ditanah sisa tanaman sumber infeksi hama dan penyakit atau tumpang sari dengan tanaman sumber infeksi hama dan penyakit).
3. Gunakan penggunaan Agens Pengontrol Hayati (APH) dan Pupuk organik cair sebagai imunisasi tanaman, penyehat dan penyubur tanaman.
4. Gunakan abu sekam atau abu dapur/tomang saat penanam persemaian atau penanam dilahan sebagai penghalang penebaran penyakit karena bakteri atau virus.
5. Kabersihan tempat pada tanaman pengganggu (gulma) yang disebut tempat persembunyian hama atau inang penyakit dan kompetitor hara yang yang diperlukan tanaman dasar.
KESIMPULAN
Hama-hama khusus tanaman tembakau ialah Thrips parvispinus, Spodoptera litura, Helicoperva armigera, Myzus persicae, Agrotis ipsilon, Heliothis, Meloydogyinae, Aphis sp, Thrips sp,Bemisia sp. Sedang tipe penyakit yang kerap serang tanaman tembakau ialah hangus tangkai, lanas, patik daun, bintik cokelat, busuk daun, dan virus.
Penyiapan benih yang sehat dan produktif; penyiapan tempat pembibitan dan tempat tanam; penggunaan Agens Pengontrol Hayati (APH), abu sekam, abu dapur/tomang, pupuk organik cair dan perawatan hingga bebas gulma sebagai langkah pas dalam tingkatkan keproduktifan tembakau sebagai komoditas export negara Indonesia.
Jauhi pembibitan yang ada di tepi jalan umum, didekat perumahan perkampungan karena ada banyak tipe gulma disekitaran perumahan sebagai sarang hama dan penyakit tanaman tembakau.