16
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PPKn MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
NUMBERED HEADS TOGETHER
Oleh : Bambang Sumantri
Dosen Tetap Yayasan STKIP PGRI Ngawi
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar PPKn dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) pada siswa kelas X Ak 1 SMK PGRI 6 Ngawi tahun pelajaran 2013/2014.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang meliputi tahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian direncanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dengan materi yang berbeda. Subyek penelitian adalah siswa kelas X Ak-1 SMK PGRI 6 Ngawi tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 40 orang. Sumber data berasal dari informasi guru dan siswa, tempat dan peristiwa berlangsungnya kegiatan pembelajaran, serta dokumentasi.
Teknik pengumpulkan data meliputi angket, observasi, tes dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dan kuantitatif sederhana (deskripstif).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar PPKn siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat melalui hasil angket dan observasi, hasilnya menunjukkan siswa dengan motivasi rendah sebesar 35%, sedang sebesar 52,5%
dan tinggi 12,5%. Pada siklus I siswa dengan motivasi rendah sebesar 12,5% sedang 50%
dan tinggi 37,5%. Pada siklus II siswa dengan motivasi rendah tidak ada, sedang 30% dan tinggi 70%. Sedangkan capaian hasil belajar menunjukkan pra siklus rata-rata 65 atau di bawah KKM. Pada siklus pertama rata-rata capaian hasil belajar sebesar 70% sama dengan KKM dan pada siklus kedua rata-rata capaian hasil belajar sebesar 85%.
Berdasar hasil temuan tersebut disarankan khususnya guru agar senantiasa menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together ini dengan persiapan yang mantap, sehingga tercipta suasana pembelajaran kondusif, motivasi tinggi dan hasil belajar pada capaian yang tinggi pula.
Kata kunci: Cooperative Learning tipe Numbered Heads Together (NHT), Motivasi Belajar, Hasil Belajar
17 A. PENDAHULUAN
Konsepsi psikologi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan merupakan usaha membantu perkembangan anak untuk merealisasikan potensi dirinya secara maksimal. Usaha kearah itu diperlukan adanya bantuan dari pihak lain. Guru merupakan key person dalam proses pembelajaran. Dalam model apapun pembelajaran berlangsung, tidak lepas adanya peran guru, bahkan dapat dikatakan pemegang kunci keberhasilan proses pendidikan.
Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran merupakan bagian yang sangat penting yang harus dilakukan guru dalam membelajarkan siswa.
Pemilihan pendekatan, model dan teknik pembelajaran yang tepat merupakan kunci utama. Sebagai
“sutradara” guru menseting kelas sedemikian rupa, sehingga tercipta suasana kondusif dalam mewujudkan hasil pembelajaran secara efektif dan efisien.
Dalam mewujudkan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien, peranan guru sangat penting, karena
guru memegang tugas dalam mengatur di dalam kelas. Suasana kelas yang hidup dapat membuat siswa belajar tekun dan penuh semangat, sebaliknya suasana kelas yang suram, menegangkan serta aktivitas yang monoton menjadikan siswa kurang bersemangat dalam belajar. Sebagai perancang, pelaksana dan evaluator, guru harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat.
Peraturan Menteri Pendidikan nasional Pasal 19 ayat 1 disebutkan
“Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.
Seiring dengan pergeseran paradigma pendidikan maka proses pembelajaran berlangsung dengan memberi kesempatan yang luas pada peserta didik untuk berperan aktif. Dari
18 teacher center learning menjadi student
center learning, dimana guru sebagai fasilitator dengan memberi arahan, semangat dan petunjuk maupun instruksi yang akan diperankan oleh para siswa.
Model pembelajaran banyak sekali ragamnya, yang menekankan pada tingkat aktivitas siswa lebih tinggi.
Aktivitas siswa sejak dari awal hingga akhir proses pembelajaran menjadikan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari dimensi akademis saja, melainkan dimensi social dan kepribadian menjadi sangat penting.
Upaya yang dilakukan guru adalah memilah dan memilih model pembelajaran yang tepat, sesuai karakteristik kurikulum dan anak didik.
Pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat menentukan pada keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Model-model pembelajaran yang digunakan harus mampu menempatkan siswa sebagai subjek bukan objek belajar, sehingga aktivitas siswa dalam proses sangat
diperlukan, agar pembelajaran menjadi bermakna. Model pembelajaran yang banyak melibatkan aktivitas siswa adalah cooperative learning. Dalam cooperative learning ini menekankan adanya kerjasama dalam kelompok dalam proses pembelajaran. Kelompok yang dimaksud adalah sekumpulan individu bisa dua, tiga atau lebih tetapi tidak terlalu banyak, yang saling berinteraksi dan mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Shaw dalam Agus Suprijono (2013 : 57) mengemukakan
“as two or more people who interact with and influence one another”.
Pada pembelajaran kooperatif para siswa akan dibuat menjadi beberapa kelompok kecil dengan berbagai tingkat kemampuan masing- masing. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini tidak hanya kemampuan di bidang akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, akan tetapi juga adanya unsur kerjasama untuk penguasaan materi tersebut. implementasi cooperative learning dengan baik tentu akan membantu siswa berlatih berkomunikasi, berpartisipasi dan
19 berkolaborasi dalam bentuk siskusi,
presentasi dan sebagainya. Hal demikian tentu akan lebih menyenangkan dan termotivasi dalam suasana kondusif dalam proses cooperative learning.
Banyak ragam model-model dalam cooperative learning ini, salah satunya adalah Numbered Heads Together (NHT). Tipe NHT ini merupakan model cooperative learning yang melibatkan siswa untuk aktif dan bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan pembelajaran baik secara individu maupun kelompok.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT ini menuntut partisipasi siswa berinteraksi sesama temannya untuk memikirkan, menjawab permasalahan yang dilontarkan guru, sehingga membutuhkan komunikasi yang baik dianatara teman sekelompok untuk mempersatukan persepsi.
Berdasarkan konsepsi di atas maka menjadi menarik untuk mengimplementasikan model cooperative learning dengan tipe NHT ini dalam proses pembelajaran, yang dalam hal ini diterapkan dalam
classroom action research pada mata pelajaran PPKn pada siswa kelas X Akuntansi 1 SMK PGRI 6 Ngawi.
B. KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran yang menekankan pada kelompok-kelompok kecil (3–5 orang) dalam pembelajaran, menuntut siswa agar bekerja sama (cooperative), berinteraksi sesama anggota kelompok dalam memahami materi, dan memberikan pendapat pada jawaban terhadap tugas dalam kelompok merupakan karakter dari model cooperative learning. Kelompok- kelompok dalam cooperative learning didasarkan atas saling interdependensi yang menuntut adanya tanggung jawab individual sebagai tolok ukur penguasaan materi tiap anggota kelompok. Masing-masing kelompok diberi hasil berkenaan prestasi belajar anggotanya, sehingga mereka dapat mengetahui teman-temannya yang memerlukan bantuan.
Numbered Heads Together merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa
20 dalam kelompok dan memiliki tujuan
untuk meningkatkan penguasaan materi pelajaran. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Numbered Head Together melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Struktur yang dikembangkan oleh Kagen ini menghendaki siswa belajar saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif dari pada penghargaan individual. Ada struktur yang memiliki tujuan umum untuk meningkatkan penguasaan isi akademik dan ada pula struktur yang tujuannnya untuk mengajarkan keterampilan sosial (Ibrahim, 2000:25). Numbered Heads Together adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa.
Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Isjoni (2012 : 113) menekankan bahwa teknik ini memberi kesempatan kepada para siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Johnson dan Johnson dalam Ismail, 2002: 12).
Agus Suprijono (2013:92) pembelajaran dengan menggunakan metode Nembered Heads Together diawali dengan Numbering. Guru membagi kelas menjadi kelompok- kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan bebrapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Beerikan
21 kesempatan kepada tiap-tiap kelompok
menemukan jawaban. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya “Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan guru. Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan member jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal ini dilakukan terus hingga peserta didik dengan nomor yang sama dari masing- masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban petanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh.
Roger dan David Johnson dalam Lie (2002: 30) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Kelima unsur tersebut yaitu : 1) saling ketergantungan positif, 2) tanggung
jawab perseorangan, 3) tatap muka, 4) komunikasi antar anggota, 5) evaluasi proses kelompok.
Sedangkan Miftahul Huda (2013:138) mengemukakan prosedur model Numbered Heads Together sebagai berikut :
1. Siswa dibagi dalam kelompok- kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.
2. Guru memberikan tugas/pertanayaan dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3. Kelompok beridskusi untuk menemukan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut.
4. Guru memanggil salah satu nomor.
Siswa dengan nomor yang dipanggil mempresentasikan jawaban hasil diskusi kelompok mereka.
Adapun pelaksanaan model pembelajaran tipe Numbered heads Together (NHT) dalam penelitian ini adalah :
1. Numbering
22 Dalam langkah ini yang dilakukan
adalah :
a. Guru membagi peserta didik menjadi kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5 orang dan memberinya mereka nomor, sehingga tiap siswa dalam tiap kelompok memiliki nomor yang berbeda.
b. Melakukan apersepsi perihal materi yang akan dibahas dengan mengaitkan materi yang dibahas dengan materi yang lalu.
c. Mennyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan bagaimana peran masing-masing siswa.
d. Memotivasi siswa, agar timbul rasa ingin tahu tentang konsep- konsep yang akan dipelajari.
2. Questioning
Pada tahapan ini yang dilakukan adalah :
a. Memberikan penjelasan singkat akan materi pelajaran.
b. Mengajukan pertanyaan kepada tiap-tiap kelompok. Pertanyaan masing-masing kelompok berbeda
sesuai dengan topik atau tujuan yang akan dicapai.
3. Heads Together
a. Siswa memikirkan pertanyaan yang diajukan oleh guru.
b. Para siswa berpikir bersama dengan berdiskusi untuk menyatukan pendapat terbaik dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.
4. Answering
a. Guru menyebutkan (memanggil) suatu nomor dari salah satu kelompok secara acak.
b. Siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan.
c. Siswa menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas,ditanggapi oleh kelompok lain. Hal ini dilakukan oleh semua kelompok sesuai dengan pertanyaan masing-masing d. Jika jawaban dari hasil diskusi kelas sudah dianggap betul siswa diberi kesempatan untuk mencatat dan apabila jawaban masih salah, guru akan mengarahkan.
23
?
Perencanaa
Siklus I
Pengamatan
Perencanaa
Siklus II
Pengamatan
Refleksi Pelaksanaan
Refleksi Pelaksanaan
e. Guru memberikan pujian kepada siswa atau kelompok yang menjawab betul.
5 Reflekting
a. Melakukan refleksi atas hasil kinerja terhadap tujuan pembelajaran
b. Guru membimbing siswa menyimpulkan materi.
c. Siswa diberi kuis untuk dikerjakan dan tugas untuk diselesaikan dirumah
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang meliputi pentahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian rencanakan dalam dua siklus dan tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan.
Materi pelajaran yang disampaikan dari masing-masing pertemuan adalah : Sistem Hukum dan Peradilan Nasional, Peranan Lembaga-lembaga Peradilan, Sikap Positif terhadap Hukum (Sadar Hukum) dan Macam-macam Sanksi sesuai Hukum yang Berlaku. Subyek penelitian adalah siswa kelas X
Akuntansi 1 SMK PGRI 6 Ngawi tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 40 orang. Sumber data berasal dari informasi guru dan siswa, tempat dan peristiwa berlangsungnya kegiatan pembelajaran, serta dokumentasi.
Teknik pengumpulkan data meliputi angket, observasi, tes dan wawancara.
Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dan kuantitatif sederhana (deskriptif). Prosedur penelitian adalah model spiral yang saling berkaitan, seperti diagram berikut :
24 (Suharsimi Arikunto,
2010:17)
D. HASIL PENELITIAN 1. Pra Siklus
Pada tahap pra siklus ini guru mengajar dengan metode yang biasa dilakukan, yaitu ceramah bervariasi.
Dari hasil pengamatan, maka diperoleh kesimpulan bahwa suasana kelas kurang menarik. Ada sebagian siswa yang kurang perhatian dan setelah diadakan angket ternyata motivasi belajar mereka kurang memuaskan, dimana 35% (14 siswa) termotivasi rendah, 52,5% (21 siswa) termotivasi sedang dan 12,5% (5 siswa) termotivasi tinggi. Sedangkan prestasi belajar diakhir pelajaran menunjukkan capaian rata-rata 65, ini masih di bawah KKM yaitu 70.
2. Siklus pertama
Setelah diadakan penerapan model NHT seperti yang direncanakan, hasil analisis menunjukkan motivasi belajar siswa terlihat mengalami perbedaan, dimana 12,5% (5 siswa) tergolong motivasi belajar rendah, 50% (20
siswa) termotivasi sedang dan 37,5%
(15 siswa) termotivasi tinggi. Prestasi belajar yang diperoleh rata-rata mencapai 70. Dimana siswa yang masih berada di bawah KKM sebesar 20% (8 siswa) dan siswa yang sudah tuntas atau di atas KKM sebesar 80%
(32 siswa)
3. Siklus kedua
Berdasar pada siklus pertama, maka beberapa kelemahan yang masih ditemui dicarikan solusinya.
Diantaranya masih ada motivasi belajar yang rendah, oleh karena itu dilakukan dengan memberikan penjelasan singkat akan arti pentinya materi dalam kehidupan sehari-hari.
Dimana sebagai Warna Negara tidak akan lepas dari Hukum, oleh karena itu kalau tidak mau dipermainkan oleh hukum, maka kita harus mengetahui sistem hukum maupun peradilan. Selain itu guru senantiasa member reward/pujian terhadap setiap jawaban baik salah maupun benar untuk selanjutnya diarahkan ke sisi normative.
Hasil analisis dari siklus kedua
25 menunjukkan bahwa motivasi belajar
mengalami jauh peningkatan dari siklus pertama. Sebanyak 70% (28 siswa) termasuk motivasi belajar tinggi, 30% (12 siswa) termotivasi belajar sedang dan 0% atau tidak ada siswa yang termotivasi rendah dari penerapan Numbered heads Together ini. Sedangkan prestasi belajar yang dicapai siswa rata-rata sebesar 85 dan semuanya berada di atas KKM.
Dengan demikian siklus dirasa cukup, karena telah memperoleh hasil yang signifikan.
E. SIMPULAN DAN SARAN-SARAN
1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa dengan Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Siswa lebih senang dan kerjasama tercipta sehingga suasana kelas
menjadi kondusif dan
menyenangkan. Dari siklus pertama motivasi belajar siswa sebagian besar tergolong sedang dan pada siklus kedua mengalami perubahan menjadi
lebih tinggi. Sedangkan capaian hasil belajar dari siklus pertama rata-rata 70 dimana masih ada sebagian siswa berada di bawah KKM. Setelah dilanjutkan siklus kedua rata-rata menjadi 85 dengan semua siswa berada di atas KKM. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together ini mampu meningkatkan motivasi belajar dan prestasi hasil siswa.
2. Saran-saran
a. Guru diharapkan memahami dan mampu menerapkan model pembelajaran yang bervariasi dan dapat mempartisipasikan siswa untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran.
b. Peran guru dalam pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together sebagai fasilitator, oleh karena itu hendaknya guru selalu memantau aktivitas siswa dan membantu seperlunya terhadap siswa-siswa yang memerlukan bantuan.
c. Siswa hendaknya lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan kelompok seperti
26 diskusi maupun pada saat
presentasi.
F. PUSTAKA
Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ibrahim, M, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya University Press.
Isjoni. 2012. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ismail, 2002. Model-model
Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Dirjen Dikdasmen Depdiknas.
Lie, 2002. Cooperative Learning. Jakarta : PT Grasindo.
Huda, Miftahul. 2013. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas.
Yogyakarta : Aditya Media.
_______, 2005. Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.