BAB I PENDAHULUAN. pesat dan sangat ketat terhadap di setiap perusahaan yang ada. Hal ini

Teks penuh

(1)

1 1.1. Latar Belakang Masalah

Persaingan industri bisnis di Indonesia saat ini semakin melaju dengan pesat dan sangat ketat terhadap di setiap perusahaan yang ada. Hal ini disebabkan karena Indonesia sedang mengalami fase untuk berubah menjadi lebih baik disetiap tahunnya. Perubahan tersebut terjadi pada semua bidang seperti halnya di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, serta budaya. Dari beberapa masalah disetiap bidang yang sangat terlihat perkembangannya adalah bidang ekonomi. Bidang Perekonomian yang semakin berkembang, maka kompleksitas bisnis akan semakin meningkat seiringan dengan perkembangan saat ini yang dipicu dengan adanya persaingan pasar yang semakin meningkat diantara entitas bisnis dalam segmen pasar yang sama (Sorongan dan Grace, 2014).

Ekonomi yang pasang surut pada akhir – akhir ini mengakibatkan harga bahan baku serta daya beli masyarakat berubah – ubah. Hal ini memberikan pengaruh bagi perusahaan dalam menentukan harga dan volume produksi.

Kemampuan manajemen dalam menerapkan perusahaan harus memadai untuk mengatasi persaingan dengan perusahaan sejenis agar perusahaan dapat mencapai laba semaksimal mungkin. Mendapatkan laba atau keuntungan dan besar kecilnya laba sering menjadi ukuran kesuksesan suatu manajemen. Hal

(2)

tersebut didukung oleh kemampuan manajemen di dalam melihat kemungkinan dan kesempatan dimasa yang akan datang.

Ukuran yang sering dipakai untuk menilai sukses atau tidaknya manajemen suatu perusahaan dilihat dari laba yang dapat diperoleh perusahaan.

Laba dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu harga jual produk, biaya, dan volume penjualan. Biaya menentukan harga jual untuk mempengaruhi volume penjualan, sedangkan penjualan langsung mempengaruhi volume produksi dan volume produksi mempengaruhi biaya. Tiga faktor itu saling berkaitan satu sama lain. Karena itu dalam perencanaan, hubungan antara biaya, volume, dan laba memegang peranan sangat penting.

Perencanaan memerlukan alat bantu berupa analisi biaya – volume – laba. Salah satu teknik analisis biaya – volume – laba adalah analisis break even. Impas sendiri di artikan keadaan dimana suatu usaha yang tidak

memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Dengan demikian analisi break even adalah salah satu alat yang di gunakan untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume penjualan. Analisis break even sangat penting bagi perusahaan karena hal itu akan (1) Memungkinkan perusahaan untuk menentukan tingkat operasi yang harus dilakukan agar semua operting cost dapat tertutup. (2) Untuk mengevaluasi tingkat – tingkat penjualan tertentu dalam hubungannya dengan tingkat keuntungan (Syamsudin, 2011).

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu kegiatan yang memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam penyerapan

(3)

tenaga kerja, pembentukan Produk Domestic Bruto (PDB), nilai ekspor nasional dan investasi nasional (Aufar,2013). UMKM telah diakui sebagai sektor yang mempunyai peranan penting, yakni memiliki karakteristik tangguh dan tahan terhadap krisis ekonomi. Proses pengmbangan usaha yang dilakukan para UMKM dapat menciptakan wirausahawan tangguh, mandiri serta memiliki sikap mental yang kuat dan unggul.

UMKM harus memikirkan dua hal dalam usahanya, yaitu kebutuhan antara konsumen dan UMKM itu sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, manajemen harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi agar tercapai kualitas produk yang baik. Sehingga perusahaan harus meningkatkan harga jual kepada konsumen, dan berdampak langsung pada kenaikan pendapatan UMKM.

Pada penelitian terdahulu mengenai penerapan metode BEP perencanaan laba yang dilakukan oleh Sorongan dan Grace (2014), Malombeke (2013), Samahati (2013), Ponomban (2013), Baris dan Jullie (2014), maka didapat beberapa kesimpulan. Menurut Sorongan dan Grace (2014) dalam penelitiannya mengungkapkan pada indutsri A, B, C, D, E, dan F sudah mampu mengoptimalkan kinerjanya sehingga sudah memperoleh penjualan di atas titik impas. Hasil penelitian Malombeke (2013) mengungkapkan bahwa menganalisis break even point pada Holland Bakery yaitu membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel, menghitung break even point untuk ketiga produk yang diambil menjadi sampel, menghitung margin of safety terdapat bahwa ketiga produk yaitu taaries, bread dan pastry mampu memperoleh keuntungan. Keuntungan ini bergerak secara signifikan dari hasil penjualan

(4)

Holland Bakery telah mampu merencanakan perolehan laba sebaik mungkin.

Penelitian yang dilakukan Samahati (2013) memperoleh hasil pada tahun 2011 dan 2012 Hotel Sedona tidak mengalami kerugian dan laba pada tahun 2011 lebih besar dari laba 2012. Dengan mengasumsikan masing – masing 10% pada biaya variabel dan biaya operasional, maka perencanaan laba dan pendapatan di tahun 2013 lebih banyak dibandingkan 2011 dan 2012. Sedangkan margin keamanan pada Hotel Sedona dalam keadaan aman baik tahun 2011, 2012, dan perencanaan 2013. Baris dan Jullie (2014) dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa UD Jarod, UD Hollywood, UD Pada Idi, UD Fanakey, dan UD Al Hilal sudah mampu mengoptimalkan kinerjanya sehingga sudah memperoleh pejualan diatas break even.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ponomban (2013) Mengungkapkan bahwa adanya perbedaan pencapaian titik impas dalam Rupiah dan dalam kuantitas di setiap tahunnya. Ini disebabkan karena adanya perbedaan besarnya biaya – biaya yang dikeluarkan perusahaan setiap tahun.

Namun, untuk setiap tahun, dapat dilihat bahwa penjualan yang dilakukan oleh perusahaan sudah baik dan selalu berada di atas titik impas, yang berarti perusahaan mampu untuk mencapai keuntungan setiap tahunnya.

UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer merupakan salah satu industri yang cukup memiliki daya tarik tersendiri bagi peneliti untuk dijadikan sebagai objek penelitian, karena UMKM tersebut belum sepenuhnya melakukan analisis BEP untuk menganalisis dalam menentukan pencapaian laba. Dari bulan ke bulan produksinya banyak bervariasi, UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer ingin mengetahui secara tepat berapa titik impas / BEP untuk

(5)

menentukan harga jual yang tepat karena selama ini UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer menentukan harga jual sebesar 125.000 per botol secara perkiraan.

PAZ’s Bio Fertilizer Industrie merupakan industri yang memproduksi pupuk organik yang berada di Dusun Krajan Selatan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Produk pupuk organik pada UMKM ini dipasarkan dengan membentuk agen di setiap daerah.

Penelitian ini merupakan replika dari penelitian terdahulu, Sorongan dan Grace (2014) yang mengolah produk kacang di Kawangkoan. yang membahas tentang perencanaan laba dengan metode analisis break even point.

Penelitian ini bermaksud untuk menguji kembali penelitian sebelumnya dengan tahun dan objek yang berbeda. Objek penelitian ini adalah pada UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap “ANALISIS BREAK EVEN POINT PADA UMKM PAZ’S BIO FERTILIZER (STUDI KASUS PADA UMKM PUPUK PAZ’S BIO FERTILIZER DI JAWA TIMUR)”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penjabaran rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Pada tingkat berapakah penjualan Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer agar mencapai Break Even point pada tahun 2016 ?

2) Berapa besar Margin of Safety yang di capai UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer ?

(6)

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Berapa besar break even point yang dialami oleh UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer tahun 2016.

2. Jumlah margin of safety yang dicapai UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer tahun 2016.

1.4. Manfaat Penelitian

Peneliti berharap agar penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut :

1) Bagi Penulis

Sebagai aplikasi dan pengembangan terhadap teori – teori yang telah dipelajari di perkuliahan untuk dapat diterapkan pada permasalahan dalam dunia nyata.

2) Bagi UMKM

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk mengetahui pada tingkat volume penjualan berapa UMKM dapat mencapai titik break even point.

3) Bagi Akademik

Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan pembaca tetntang manfaat yang akan diperoleh dan sebagai acuan atau pertimbangan bagi peneliti berikutnya yang tertarik dalam masalah ini dengan memperdalam penelitian ini.

(7)

1.5. Batasan Masalah

Agar penulisan ini tidak menyimpang dan mengambang dari tujuan yang semula direncanakan sehingga mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka penulis menetapkan batasan – batasan sebagai berikut :

1. Dalam penelitian ini, penulis hanya membatasi masalah tentang UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer.

2. Data yang dianalisis berupa hasil tanya jawab atau wawancara dengan pihak UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer.

1.6. Sistematika Penulisan BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika penelitian.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, diuraikan teori – teori yang digunakan dalam perhitungan BEP. Teori yang digunakan mulai dari pengertian akuntansi biaya, akuntansi manajemen, pengertian biaya, objek biaya, klasifikasi biaya, pengertian break even point, pengertian contribution margin, pengertian margin of safety, perencanaan laba, UMKM, penelitian terdahulu, dan kerangka konseptual.

(8)

BAB 3 METODELOGI PENELITIAN

Pada bab ini, membahas mengenai tahap – tahap penelitian tentang data dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode pengolahan data yang digunakan penulis.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang pembahasan analisis break even point (BEP), contribution margin, dan margin of safety.

BAB 5 PENUTUP

Pada bab ini dikemukakan tentang kesimpulan penelitian yang diperoleh dari hasil pembahasan serta saran yang diharapkan berguna bagi UMKM Pupuk PAZ’s Bio Fertilizer.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :