• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Pemagangan di Bali Penduduk dan Pajak.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penelitian Pemagangan di Bali Penduduk dan Pajak."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

BAB IV

AZAS, HUKUM DAN KETENTUAN PERPAJAKAN

“Terima kasih atas partisipasi Anda dalam menghitung, membayar dan melaporkan SPT Tahunan. PAJAK untuk pembangunan Bangsa.”

Kutipan diatas tertera pada kertas tanda terima SPT Tahunan setelah kita menyetorkan bukti SPT Tahunan di Kantor Pajak atau unit lain yang ditunjuk. Makna yang tersirat dalam kalimat tersebut bahwa warga negara sebenarnya telah diberikan keleluasaan penuh untuk menghitung, membayar sekaligus melaporkan perkiraan pajak yang dikenakannya secara mandiri. Pertanyaan yang kemudian muncul apakah Negara bisa menjamin kejujuran seratus juta lebih warganya untuk melaporkan pajaknya secara jujur, transparan dan bertanggungjawab? Apakah warga negara kita benar-benar sudah terbuka kesadarannya bahwa pajak bermakna penting bagi penyelenggaraan pembangunan? Bagaimana urgensi pemungutan pajak yang berkeadilan serta bagaimana kemudian menjelaskan munculnya negara yang berada pada posisi bangkrut seperti Yunani akibat perilaku warga sekaligus birokratnya yang bertindak sewenang-wenang atas pajak yang dipungutnya? Akankah suatu saat negara kita bernasib sama dengan kebangkrutan Yunani yang akhirnya menciderai demokrasi yang telah dibangunnya selama ribuan tahun ? Pertanyaan pertanyaan diatas akan dijawab dalam pemaparan bab IV ini.

Tuntutan dalam pelaksanaan demokrasi substansial adalah terdapatnya partisipasi yang terbuka dan transparan dalam proses politik, khususnya dalam pembuatan kebijakan publik. Proses ini memberikan ruang bagi elemen masyarakat untuk menjalankan peran sesuai kapasitas guna melakukan pilihan atas hak politiknya untuk penentuan kehidupannya ke depan. Proses demokrasi yang menyertakan akomodasi atas partisipasi politik secara ideal menjamin teraktualisasinya kesejahteraan warganya. Studi Kahin dan Catatan Hatta menyatakan bahwa regulasi yang jelas dan netral akan mewujudkan wealth of nation (kemakmuran negara) dan pada gilirannya menciptakan social welfare (kesejahteraan sosial). Pada konteks ini, komitmen negara untuk melaksanakan kesejahteraan searah dengan pemberian rasa aman kepada warganya untuk bebas dari segala bentuk ancaman termasuk saat menggunakan hak politik serta kesempatan sama dalam berusaha dengan jaminan hukum yang berjalan konsisten dan tidak pilih kasih. Setiap warga negara dianggap memiliki hak dan kebebasan yang sama.

Pada situasi ini, Negara tidak sekedar mewujudkan demokrasi pada konteks prosedural semata, melainkan pada tata kerja demokrasi deliberatif dengan memberikan ruang pemenuhan hak-hak dasar seluruh warga Negara. Robert Dahl mendefinisikan demokrasi prosedural sebagai sikap tanggap pemerintah secara konsisten akan mengakomodasi preference (pilihan) serta keinginan warganya. Imbangan atas demokrasi ini adalah demokrasi deliberatif dimana keinginan / gagasan warga tersebut terekspresikan pada bentuk keikusertaan warga dalam proses pengambilan kebijakan politik atas kepentingan mereka. Pada tataran praktis-instrumentatif proses ini salah satunya teraktualisasikan melalui politik perpajakan.

(7)

Pemerintah memberikan ruang keterwakilan bagi pembayar pajak sebagai imbalan atas pembayaran pajak yang dilakukan warganya. Pajak menjadi instrumen penting untuk memastikan berjalannya elemen dasar demokrasi modern, seperti hak memilih sekaligus dipilih sebagai wakil dalam lembaga perwakilan. Kedua, pajak merupakan salah satu instrumen kebijakan dan bukan sekedar instrumen ekonomi bagi revenue policy atau kebijakan menarik pendapatan semata (Irianto, 2009:9).

Adanya aktualisasi pajak pada negara modern, dikemukakan pula oleh Tumakaka (dalam Materi Pemagangan Buku Ajar bagi Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Udayana, 2015) pada alur historis sebagai berikut :

Modern Taxation

Tahun 1773 Inggris memaksa Amerika sebagai koloninya untuk membeli teh dan membayar pajak

Warga Boston membuang kargo berisi teh kapal Inggris ke laut

Pelabuhan Boston ditutup, DPR akan dipilih oleh Inggris

Tahun 1776, 13 negara bagian Amerika

menandatangani Declaration of Independence

No Taxation Without Representation

Sumber : Tumakaka (2015) disampaikan dalam materi Pemagangan Mahasiswa Prodi Ilmu Adminsitrasi Negara FISIP Unud

Pendapat B. Guy Peters (dalam Irianto, 2009:9) mengungkapkan bahwa pajak merupakan instrumen bagi pemerintah guna melaksanakan pemenuhan fungsi dasarnya guna mencapai tujuan substantif dari kebijakan. Pajak menjadi ruang politik bukan disebabkan terjadinya proses tawar-menawar politik antara negara dengan warganya dalam hal angka saja, melainkan yang jauh lebih penting adalah adanya kebutuhan negara akan pengakuan politik masyarakat terhadap berbagai instrumen pajak yang dijalankan negara. Harapan yang diinginkan negara adalah timbulnya kepatuhan sosial sehingga berbagai tujuan substantif lainnya bisa diraih.

Irianto (2009) lebih lanjut mencatat pula bahwa kebijakan perpajakan bisa menjadi salah satu cerminan dari demokratis atau tidaknya sebuah Negara. Meskipun bukan satu-satunya faktor yang menentukan, mekanisme pengelolaan pajak di sebuah Negara memberikan kontribusi yang

berarti bagi terciptanya mekanisme-mekanisme demokrasi dalam penyelenggaraan

(8)

Negara penganut demokrasi liberal dan menunjukkan sedemikian penting peranan pajak dalam proses kelahiran dan penguatan lembaga-lembaga perwakilan yang tidak lain merupakan pilar utama dari demokrasi.

4.1. Asas dan Rasio Pajak 4.1.1. Asas Pajak

Pemungutan pajak oleh Negara dalam kerangka penguatan demokrasi harus dilaksanakan sejalan dengan asas-asas yang disepakati bersama dalam kerangka regulasi negara. Hal ini mengingat hakikat pemungutan pajak adalah pengaturan kehidupan masyarakat secara adil termasuk mengakomodasikan keseimbangan antara kepentingan yang dilindungi sehingga setiap orang mendapat apa yang menjadi haknya masing-masing sebagaimana mestinya. Sutedi (2013:22) mencatat terdapat beberapa dasar atau asas pemungutan pajak.

1. Asas Sumber;

Pada asas ini tata cara pemungutan pajak bergantung pada sumber penghasilan suatu negara. Apabila terdapat sumber penghasilan pada negara tertentu, maka Pemerintah berhak memungut pajak tanpa melihat domisili wajib pajak bersangkutan. Pemerintah mengenakan pajak pada penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan apabila penghasilan yang dikenakan pajak tersebut diperoleh atau diterima oleh orang pribadi atau badan bersangkutan dengan sumber-sumber yang berada di Negara tersebut. Asas ini tidak mempersoalkan siapa dan apa status dari orang atau badan yang memperoleh penghasilan tersebut, sebab yang menjadi landasan pengenaan pajak adalah objek pajak yang timbul atau berasal dari Negara itu. Contoh dari asas ini adalah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia, maka penghasilan yang didapat di Indonesia akan dikenakan pajak oleh Pemerintah Indonesia.

2. Asas Domisili;

Pada asas ini Negara mengenakan pajak atas suatu penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan, apabila untuk kepentingan perpajakan, orang pribadi tersebut merupakan penduduk (resident) atau berdomisili di Negara itu atau apabila badan yang bersangkutan berkedudukan di Negara itu. Untuk itulah asas ini disebut pula asas kependudukan (domicile/residence principle). Asas ini tidak mempersoalkan dari mana penghasilan yang akan dikenakan pajak berasal. Negara yang menganut asas ini, dalam sistem pengenaan pajak terhadap penduduknya, akan menggabungkan asas domisili penduduk dengan konsep pengenaan pajak atas penghasilan baik yang diperoleh di Negara itu, maupun penghasilan yang diperoleh di luar negeri (world-wide income concept). Intinya, Negara di mana wajib pajak itu bertempat tinggal, maka Negara tersebut yang berhak mengenakan pajak atas segala penghasilan yang diperoleh dari manapun sumbernya.

3. Asas Nasional;

(9)

kedua asas tersebut kriteria landasan kewenangan Negara mengenakan pajak adalah status subjek yang dikenakan pajak. Pada konteks ini apakah subyek bersangkutan berstatus penduduk atau berdomisili (dalam asas domisili) atau berstatus sebagai warga Negara (dalam asas nasionalitas). Pada asas ini pula, asal-muasal penghasilan yang menjadi objek pajak tidak dianggap penting. Sedangkan pada asas sumber, landasan pemungutannya adalah status objek pajak, apakah objek yang akan dikenakan pajak bersumber dari Negara bersangkutan atau tidak. Status orang atau badan yang memperoleh atau menerima penghasilan tidak begitu penting. Kedua, pada kedua asas tersebut pajak yang akan dikenakan terhadap penghasilan yang diperoleh dimana saja (world wide income). Sedangkan pada asas sumber, pungutan dilakukan pada penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber pada Negara bersangkutan. Biasanya, kebanyakan Negara tidak hanya mengadopsi salah satu asas saja, melainkan mengadopsi lebih satu asas atau gabungan diantara ketiganya. Untuk konteks Indonesia, berdasarkan regulasi perpajakan yang ada, sistem perpajakannya menganut dua asas sekaligus yaitu asas domisili dan asas sumber. Pada konteks ini, Indonesia juga menganut asas kewarganegaraan parsial, khususnya dalam ketentuan yang mengatur pengecualian subjek pajak untuk orang pribadi.

Pengalaman Negara lain seperti di Jepang, individu yang merupakan penduduk (resident individual) menggunakan asas domisili, di mana berdasarkan asas ini seorang penduduk Jepang berkewajiban membayar pajak penghasilan atas keseluruhan penghasilan yang diperolehnya, baik yang diperoleh di Jepang maupun di luar Jepang. Sedangkan bagi bukan penduduk (non resident) Jepang serta badan-badan usaha luar negeri berkewajiban membayar pajak penghasilan atas setiap penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber di Jepang. Di Australia, semua badan usaha milik Negara maupun swasta yang berkedudukan di Australia, dikenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperoleh dari seluruh sumber penghasilan. Sementara itu, untuk badan usaha luar negeri hanya dikenakan pajak atas penghasilan dari sumber yang ada di Australia (Sutedi, 2013:24). 4. Asas Yuridis

Asas ini mempertegas bahwa pemungutan pajak harus didasarkan pada adanya jaminan hukum atau undang-undang sehingga keadilan bisa ditegakkan. Asas ini merujuk pada Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa segala pajak untuk kegunaaan kas Negara berdasarkan undang-undang. Pada penjelasan atas ayat ini ditegaskan mengenai hakikat pajak yang berasal dari uang rakyat sehingga pungutannya harus dapat dipertanggungjawabkan. “betapa caranya rakyat, sebagai bangsa akan hidup dan dari mana didapatnya belanja untuk hidup, harus ditetapkan oleh rakyat itu sendiri, dengan perantaraan Dewan Perwakilan Rakyat. Rakyat menentukan nasibnya sendiri, karena itu juga cara hidupnya. Oleh karena penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, maka segala tindakan yang menetapkan beban kepada rakyat, seperti pajak dan lain-lain, harus ditetapkan dengan undang-undang, yaitu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Demikian halnya dengan yang sudah menjadi kelaziman (karena keharusan) di Negara Hukum”.

(10)

undang-undang, lengkap dengan sanksinya. Kedua, wajib pajak juga harus mendapatkan jaminan hukum agar ia tidak diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh aparatur pemungutnya. Pengaturan dalam regulasi tentang pajak tidak hanya penegasan dari sisi kewajiban, melainkan juga hak wajib pajak, seperti pada tingkat pertama pengajuan keberatan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak dalam upaya penatapan pajaknya, termasuk hak wajib pajak mengajukan banding ke pengadilan pajak apabila keberatan atas penetapan pajaknya tertolak.

Ketiga, terdapat jaminan tersimpannya rahasia-rahasia mengenai diri atau perusahaan-perusahaan wajib pajak yang disampaikan kepada instansi pemungut pajak dan tidak boleh disalahgunakan oleh para pejabat pemungutnya. Terjaganya kerahasiaan ini akan meningkatkan kepercayaan rakyat, terkecuali pemberian informasi tentang data untuk kepentingan saksi dalam peradilan. Seperti di Australia, pihak yang memiliki wewenang untuk mengadakan pemeriksaan sampai pada berkas-berkas individual wajib pajak di kantor-kantor Inspeksi Pajak adalah Auditor General (Badan Pemeriksa Keuangan). Pada pembuatan regulasi perpajakan harus berdasarkan pada prinsip keadilan. Pada konteks ini terkadang seringkali terlewatkan hal-hal penting yang akhirnya berujung pada tindakan yang kurang adil. Misalnya pada ordonansi Pajak Pendapatan tidak diatur tentang kelonggaran-kelonggaran yang diberikan kepada wajib pajak karena beban-beban istimewa. Orang yang berpenghasilan bersih sejuta rupiah setahunnya dan karena menderita suatu penyakit, sehingga setiap bulannya harus mengeluarkan ongkos dokter dan obat-obatan, tetapi tidak mendapat potongan untuk perhitungan pajaknya (Sutedi, 2013). Hal berbeda berlaku di Nederland, bahwa beban biaya ini terintegrasi dalam

buitengenewone lasten yang tercantum dalam Besluit Inkomstenbelasting 1941 Pasal 51 ayat (1) dan (2) sub 2.

5. Asas Ekonomi;

Pada asas ini ditekankan agar pemungutan pajak jangan sampai menghalangi produksi dan perekonomian rakyat. Pajak selain mempunyai fungsi budgeter juga pengaturan politik perekonomian. Pada politik pemungutan pajaknya diusahakan agar jangan sampai menghambat lancarnya produksi dan perdagangan; serta diusahakan supaya tidak menghalangi rakyat dalam usahanya menuju kebahagiaan dan tidak merugikan kepentingan umum.

6. Asas Keuangan;

Asas ini menekankan supaya pengeluaran-pengeluaran untuk memungut pajak harus lebih rendah dari jumlah pajak yang dipungut. Sesuai dengan fungsi budgeter, maka biaya pengenaan dan pemungutan pajak harus diusahakan sekecil-kecilnya dibandingkan dengan pendapatannya, terlebih pada perbandingan pendapatannya. Hasil ini yang selanjutnya digunakan sebagai sumbangan untuk menutup pengeluaran Negara, termasuk biaya-biaya dalam upaya pemungutan pajaknya sendiri.

Untuk menghindarkan tertimbunnya tunggakan-tunggakan pajak, harus selalu diteliti, apakah syarat-syarat penting telah dipenuhi untuk dapat memungut pajak dengan efektif. Syarat ini antara lain adalah pengenaan pajak harus dilakukan pada saat yang terbaik bagi yang harus membayarnya, yaitu harus sedekat-dekatnya saat terjadinya perbuatan, peristiwa ataupun keadaan yang menjadi dasar pengenaan pajak itu, sehingga sangat mudah dibayar oleh orang-orang bersangkutan.

(11)

keuangan Negara. Bilamana anggaran belanja itu mengizinkan, maka ini akan mendapat gelar bijaksana jika pajak tadi dipertahankan dulu untuk sementara waktu.

Dalam asas finansial sesuai dengan fungsi budgeter, maka biaya pemungutan pajak harus seminimal mungkin dan hasil pemungutan pajak hendaknya cukup untuk menutupi pengeluaran Negara. Harus pula diperhatikan saat pengenaan pajak hendaknya sedekat mungkin dengan terjadinya perbuatan, peristiwa dan keadaan yang menjadi dasar pengenaan pajak.

4.1.2. Rasio Pajak

Beberapa asas pemungutan pajak yang terjabarkan di atas tentunya akan memperlihatkan kemampuan Negara dalam mengupayakan pemungutan pajak. Ukuran untuk menilai kemampuan pemerintah dalam memungut pajak inilah yang disebut dengan rasio pajak. Pada konteks ini, rasio pajak yang bisa kita cermati adalah Indonesia. Menurut Studi Welfare Initiative for Better Societes Policy Review (2012) mencatat bahwa pajak merupakan sumber penerimaan terbesar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada tahun 20 12, misalnya, proyeksi penerimaan pajak berkontribusi sebesar Rp 1.033 triliun atau hampir empatperlima penerimaan negara. Meski terlihat besar, penerimaan tersebut sebenarnya masih rendah ditinjau dari nilai rasio pajak terhadap Product Domestic Bruto (P DB).

Pada umumnya, negara yang lebih maju memiliki rasio pajak lebih tinggi. Rasio pajak Indonesia masih berkisar 12% terhadap PDB. Rasio ini termasuk dalam kategori rendah, apabila dibandingkan dengan negara -negara setara. Indonesia saat ini termasuk dalam kategori negara pendapatan menengah bawah (lower middle income) dan rata-rata rasio pajak pada negara dalam kategori ini adalah sebesar 19%. Kapasitas penggalian pajak di Indonesia bahkan masih lebih buruk dibandingkan rata -rata rasio pajak negara miskin (low income) yang mencapai 14,3%. Hal ini seperti terjabar dalam grafik sebagai berikut :

Sumber : Prakarsa, Policy Review (2012)

Tabel diatas memperlihatkan bahwa sebenarnya rasio penerimaan pajak Indonesia lebih rendah dari rata-rata negara miskin. Hal ini mengindikasikan adanya persoalan mendasar dalam kapasitas pemungutan pajak. Hanya saja apabila kondisi ini ditinjau dari sudut pandang positif, ragam persoalan tersebut bisa dibenahi karena potensi penerimaan pajak di Indonesia sangatlah tinggi. Faktanya, dalam setiap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Indonesia senantiasa kehilangan potensi pajaknya. Pada APBN 2012, misalnya, penerimaan pajak di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp. 1,033 triliun. Berdasarkan kategori negara yang berpendapatan menengah, jumlah ini mengindikasikan bahwa Indonesia kehilangan potensi pajak sekitar Rp. 512 triliun atau hampir 50%. Perkir aan konservatif International Monetary Fund (IMF), potensi pajak yang hilang juga lebih dari 40%.

(12)

“ditradisikan” sebagai pilihan akhirnya harus mengalahkan atau meninggalkan pilihan “yang sebenarnya” harus dijalankan yaitu meningkatkan penerimaan pajak.

Apabila pada satu tahun anggaran jumlah utangnya maka utang tersebut hampir selalu lebih besar dari cicilan hutang. Pada suatu tahun anggaran misalnya kalkulasi akumulasi utang mencapai 132,633 miliar dollar AS. Hal ini berarti menyiratkan bahwa setiap penduduk Indonesia menanggung utang Rp. 10 juta rupiah. Akumulasi utang dan pendapatan rendah akan membawa Indonesia terjebak dalam perangkap utang atau debt trap (Keliat, 2014:11). Rasio penerimaan pajak di Indonesia kondisinya bahkan lebih rendah dari rata-rata penerimaan pajak negara miskin. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat masalah mendasar dalam kapasitas pemungutan pajak yang dilakukan oleh Negara.

4.2. Keadilan, Pembukuan dan Cara Pemungutan Pajak

Pada proses pemungutan pajak, Negara mengedepankan asas-asas pemungutan pajak terutama prinsip keadilan. Prinsip keadilan menjadi sangat penting di saat ketimpangan ekonomi masih resisten mendominasi kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia.

Mengenai prinsip keadilan ini beberapa ahli mengemukakan beberapa definisi, antara lain Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations (Sari, 2013). Pada buku ini, Smith mengemukakan ajarannya yang terkenal The Four Maxims. Terdapat beberapa hal penting dalam pemungutan pajak.

 Asas Equality (asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan) artinya pada setiap pemungutan pajak negara harus melihat kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Pada konteks ini negara tidak boleh bertindak diskriminatif terhadap wajib pajak;

 Asas Certainty (asas kepastian hukum) artinya pungutan pajak harus berdasarkan regulasi yang berlaku, sehingga bagi yang melanggar akan dapat dikenai sanksi hukum;

 Asas Convinience of Payment (asas pemungutan pajak yang tepat waktu atau asas kesenangan artinya pemungutan pajak harus dilakukan pada saat yang tepat / baik bagi wajib pajak misalnya disaat wajib pajak baru menerima penghasilannya atau disaat wajib pajak menerima hadiah.

 Asas Effeciency (asas efesien atau asas ekonomis) artinya segala bentuk pembiayaan pemungutan pajak diusahakan sehemat mungkin, jangan sampai terjadi biaya pemungutan pajak lebih besar dari hasil pemungutan pajak.

Pendapat lain dikemukakan W.J. Langen yang menekankan beberapa asas dalam pemungutan pajak, seperti :

 Asas daya pikul artinya besar kecilnya pajak yang dipungut harus berdasarkan besar kecilnya penghasilan wajib pajak. Semakin tinggi penghasilan maka semakin tinggi pajak yang dibebankan;

 Asas manfaat artinya pajak yang dipungut oleh negara harus digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk kepentingan umum.

 Asas kesejahteraan artinya pajak yang dipungut oleh negara digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;

(13)

 Asas beban yang kecilnya artinya pemungutan pajak diusahakan sekecil-kecilnya (serendah-rendahnya) jika dibandinglan sengan nilai obyek pajak. Sehingga tidak memberatkan para wajib pajak.

Sedangkan tokoh lainnya, Adolf Wagner mengemukakan asas pemungutan pajak antara lain :

 Asas politik finalsial yaitu pajak yang dipungut negara jumlahnya harus memadai sehingga dapat membiayai atau mendorong semua kegiatan negara;

 Asas ekonomi yaitu penentuan obyek pajak harus tepat, misalnya pajak pendapatan, serta pajak untuk barang-barang mewah;

 Asas keadilan yaitu pungutan pajak berlaku secara umum tanpa diskriminasi, untuk kondisi yang sama diperlakukan sama pula;

 Asas administrasi yaitu menyangkut masalah kepastian perpajakan (kapan, dimana harus membayar pajak), keluwesan penagihan (bagaimana cara membayarnya) dan besarnya biaya pajak;

 Asas yuridis yaitu pungutan pajak harus berdasarkan Undang-Undang.

Jelas kiranya dari definisi yang dikemukakan para ahli sebagian besar menyatakan bahwa asas pemungutan pajak harus memperhatikan dan menekankan aspek keadilan. Pada konteks ini, pengenaan pajak harus sebanding dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Equality pembagian beban pajak di antara masing-masing subjek pajak hendaknya dilakukan seimbang dengan kemampuannya yaitu seimbang dengan penghasilan yang diterima oleh setiap subjek pajak.

Terdapat kajian kasus menarik mengenai Negara Yunani. Kajian ini memperlihatkan mengenai pengingkaran atas prinsip-prinsip pemungutan pajak yang disebutkan diatas dimana berujung pada situasi krisis ekonomi (disarikan dari berbagai sumber www.viva.co.id, Senin, 17 Desember 2012 dan diplomatmudahiuinsyarifhidayatullah.blogspot.com).

Yunani dan Krisis Keuangan

Negara Yunani semenjak awal tahun 2011 mengalami krisis keuangan yang parah. Krisis ini berimbas pada kondisi ekonomi Yunani yang benar-benar lumpuh. Munculnya berbagai aksi demo dan mogok massal yang dilakukan ratusan ribu pekerja dan pegawai pemerintah telah mengakibatkan berbagai sektor di Yunani lumpuh total. Puncaknya aksi demo dan mogok masal ini menelan 3 koban jiwa yang tebunuh akibat ledakan dan kebakaran yang terjadi di Bank Marfin Athena.

(14)

jenis pajak, menunda dana pensiun, dan memangkas anggaran militer sebagai upaya meningkatkan cadangan devisa negaranya. Untuk mengurangi dampak krisis ini, Yunani melakukan reformasi pemungutan pajak dan sekaligus menindak kecurangan pajak. Hal ini mengingat sebelumnya banyak pajak yang dikemplang oleh oknum pegawai pajak melakukan pemilik usaha. Pendapatan yang hilang dari sektor pajak bisa mencapai lima persen dari output nasional negara Yunani.

Perekonomian Yunani yang tidak terpantau sistem pajak berjumlah lebih dari seperempat dari output tahunan pada tahun 2011 dan kondisi ini merupakan level tertinggi di kalangan anggota Uni Eropa. Di Yunani sudah dianggap lumrah bagi para pelaku usaha kecil melaporkan penjualan yang lebih rendah dari sebenarnya sehingga membayar pajak pertambahan nilai yang lebih rendah dari seharusnya. Para wirausaha seperti tukang ledeng dan tukang listrik memilih dibayar secara tunai biasanya tidak disertai dengan pembuatan tanda terima.

Akibatnya sebesar 53 miliar euro pajak yang jatuh tempo kepada negara Yunani, 15 hingga 20 persen seharusnya bisa dipungut, namun menjadi nihil ketika perilaku korupsi merajalela. Pada upaya mereduksi dampak resiko krisis, sistem pajak Yunani akhirnya dirombak dengan peraturan yang lebih ringkas dan mudah. Peraturan baru mencabut sejumlah pengecualian pajak dan menaikkan pajak properti, korporat dan rumah tangga yang berpendapatan di atas rata-rata. Pemerintah juga memungut pajak atas pendapatan modal dari harga saham yang diperdagangan di bursa Athena. Langkah-langkah ini diharapkan bakal menambah pemasukan negara Yunani dari sektor pajak sekitar 2,5 miliar euro selama 2013-2014. Menggenjot pendapatan dari sektor pajak perlu bagi Yunani untuk mengatasi krisis utang.

Belajar dari kasus diatas tentunya terdapat tiga penyebab krisis ekonomi di Yunani (Tumakaka, Disampaikan dalam Materi Pemagangan Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara dan Program Studi Ilmu Politik FISIP Unud 2015:Mei). Pertama, yaitu korupsi berupa maraknya fakelaki (amplop kecil) untuk suap. Kedua, naiknya hutang dengan besarnya utang 160% PDB. Ketiga, adanya defisit neraca perdagangan, dimana nilai impor yang melampaui nilai ekspor. Hal ini mempengaruhi angka pertumbuhan ekonomi di Yunani sempat terpuruk sebagai berikut :

Sumber : Tumakaka (2015) disampaikan dalam materi Pemagangan Mahasiswa Prodi Ilmu Adminsitrasi Negara FISIP Unud

(15)

penerimaan. Pada kondisi ini kontribusi pajak turun dan utang terus meningkat. Potensi Pajak banyak yang hilang sebesar 33% sehingga aktifitas ekonomi lebih banyak dikuasai pedagang

black market yg tidak membayar pajak. Legarde list menyatakan bahwa 2.000 rekening jumbo terparkir di Bank Swiss. Kondisi terakhir yang terjadi di negara Yunani hingga kini untuk memulihkan perekonomiannya, negara ini melakukan beberapa langkah. Langkahnya antara lain pemotongan gaji pegawai dan pensiunan, pengurangan subsidi rakyat, serta langkah lainnya dalam mengatasi pengangguran.

Refleksi Awal

Lumpuhnya kehidupan ekonomi di Yunani akibat tidak bisa membayar hutang kepada IMF yang sudah jatuh tempo pada akhirnya menyertakan sedikit imbas bagi Indonesia (Metrotvnews.com 10 Juli 2015). Awalnya tercatat oleh beberapa pengamat, meski Indonesia dan Yunani memiliki kerjasama namun tidak banyak nilai ekspornya USD200 juta atau Rp. 2,6 triliun dan sebagian besar adalah kelapa sawit dan pertanian. Begitu pula sekitar 1000 warga negara Indonesia yang sebagian besar bekerja di sektor informal kehilangan pekerjaannya akibat krisis ini. Negara terdampak justru di negara-negara Uni Eropa (UE).

Terdapat tawaran dana talangan dari kreditor Internasional pemerintahan zona mata uang euro yang dipimpin Jerman sebesar US 95 miliar dollar Amerika. Hanya saja tuntutannya Perdana Menteri Alexis Tsipras harus melakukan paket pengetatan menyeluruh dengan menyerahkan sebagian kewenangannya kepada pengawasan pihak asing. Kewajiban Tsipiras adalah mengakhiri pengetatan ekonomi, mengesahkan legislasi terkait pemotongan dana pensiun, penaikan pajak pertambahan nilai dan kebijakan penjualan aset sektor publik senilai 50 miliar euro dibawah pengawasan kreditur asing (Bisnis.com, 15 Juli 2015).

Hal inilah yang memaksa PM Yunani mengadakan referendum ke masyarakat. Hasilnya 38,69% warga menerima bantuan asing dan 61,31% menolak bantuan asing. Hasil referendum ini tentu membuat kaget seluruh menteri zona euro dan segera menimbang ulang persyaratannya. Di sisi lain para penentang kebijakan penghematan yang datang dari petinggi partai politik menyanjung langkah dari hasil referendum ini sebagai kemajuan demokrasi bagi Yunani (Kompas.com 6 Juli 2015).

Refleksi bagi kita tentunya teladan di balik krisis Yunani ini adalah adanya penghargaan Negara (baca : pemerintah) atas kedaulatan rakyat. Negara sangat mengakui bahwa rakyat adalah pihak yang tak boleh diabaikan dalam penentuan kebijakan meski harus langkah cepat dan tepat untuk keluar dari situasi krisis. Pengalaman rejim Orde Baru maupun pemimpin negara sesudahnya yang terkesan sepihak dalam menerima bantuan keuangan dari kreditur lembaga (negara) asing / internasional tanpa menimbangkan secara matang akibat atau konsekuensinya adalah pelajaran berharga betapa kearifan dalam pengambilan kebijakan terkait penerimaan bantuan asing perlu menjadi perhatian. Akibatnya tercatat banyak kasus besar ekonomi terjadi di negara kita seperti Krisis Ekonomi Tahun 2007-2008 serta kasus-kasus yang menyeret oknum mantan menteri kita di meja pengadilan akibat terjerat kasus tindak korupsi di dalamnya.

Pada kasus ini Yunani telah memberikan teladan betapa Pemerintah masih memberikan ruang bagi warganya untuk menentukan sikapnya secara langsung sebagai imbalan atas kesetiaan warganya dalam membayar pajak. Warga yang telah membayar pajak tidak sekedar dipandang sebagai obyek atas instrumen revenue policy atau kebijakan menarik pendapatan semata, melainkan dilibatkan pula dalam penentuan kebijakan strategis bagi negaranya.

4.3. Pembukuan dan Pencatatan Pajak

(16)

dibayar (Burton, 2014:29). Pemberian kepercayaan ini salah satunya tertuang dalam aktifitas pembukuan pajak.

Pembukuan pajak digunakan sebagai dasar penghitungan pajak terutang pada suatu tahun pajak. Pada upaya ini dibutuhkan adanya informasi yang benar dan lengkap mengenai penghasilan wajib pajak guna pengenaan pajak yang adil dan wajar senilai dengan kemampuan ekonomi masing-masing wajib pajak. Untuk dapat menyajikan informasi tersebut, maka diperlukan adanya aktifitas pembukuan pajak yang mana pada proses pembukuan ini wajib pajak dapat mengetahui sendiri berapa besanya pajak terutang yang harus dilaporkan dan disetorkan.

Secara harafiah, pembukuan memiliki arti proses pencatatan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi tentang keadaan harta, kewajiban atau utang, modal, penghasilan dan biaya serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan laba rugi pada setiap periode tahun pajak tersebut (Sari, 2013:222).

Pencatatan pajak memiliki arti pengumpulan data secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang termasuk penghasilan yang bukan obyek pajak dan atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

Aktifitas pembukuan pajak wajib diselenggarakan oleh wajib pajak (WP) badan serta Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto kurang dari Rp. 4.800.000.000,00 setahun. Pada aktifitas pembukuan pajak diawali dengan pencatatan yaitu pengumpulan data secara teratur tentang peredaran bruto dan atau penerimaan penghasilan sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang. Pencatatan dapat dilakukan oleh WP Orang Pribadi yang diperkenankan norma perhitungan penghasilan neto, yaitu WP Orang Pribadi yang peredaran brutonya di bawah Rp. 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam setahun (Sari, 2013:222).

Terdapat beberapa syarat penyelenggaraan pembukuan (Sari, 2013:223). Pertama, diselenggarakan secara teratur dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam Bahasa Indonesia. Kedua, pencatatan dalam satu tahun harus diselenggarakan secara kronologis. Ketiga, buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara progam aplikasi online wajib pajak, harus disimpan selama 10 tahun di tempat tinggal wajib pajak atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Keempat, pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan atau yang dikenakan pajak yang bersifat final. Kelima, pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan yang dikerjakan secara teratur tentang catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. Keenam, bagi wajib pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan atau tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha dan atau tempat usaha yang bersangkutan. Ketujuh, selain menyelenggarakan pencatatan di atas, Wajib Pajak Orang Pribadi harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

(17)

Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Tujuan penyelenggaraan pembukuan dan pencatatan antara lain untuk mempermudah pengisian SPT, perhitungan penghasilan kena pajak, penghitungan PPN dan PPN, serta mengetahui posisi keuangan dan hasil kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara progam aplikasi online wajib pajak, harus disimpan selama sepuluh tahun di Indonesia dengan ketentuan wajib pajak adalah orang pribadi, di tempat kegiatan atau tempat tinggal serta wajib pajak badan dengan tempat kedudukannya yang jelas (Sari, 2013:224).

Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas. Perubahan tahun buku dan perubahan metode pembukuan harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak. Wajib pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing dan mata uang selain rupiah adalah wajib pajak dalam rangka penanaman modal asing; wajib pajak dalam rangka kontrak karya; wajib pajak dalam rangka kontrak bagi hasil; bentuk usaha tetap, serta wajib pajak yang berafiliasi dengan perusahaan induk di luar negeri. Pembukuan yang diselenggarakan oleh wajib pajak bersifat rahasia. Pada saat dilakukan pemeriksaan oleh pihak pemeriksa pajak, maka kerahasiaan untuk merahasiakan pembukuan itu ditiadakan atau gugur.

Dalam hal tata cara pemungutan pajak pada warganya, dalam pemungutannya negara harus berpegang pada beberapa karateristik pemungutan. Beberapa karakteristik tersebut antara lain (Sari, 2013:76):

1. Stelsel nyata atau riil, yaitu pengenaan pajak didasarkan pada objek penghasilan nyata sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Kelebihan model ini pajak dikenakan lebih realistis, sedangkan kelemahannya pajak baru dikenakan pada akhir periode;

2. Stelsel anggapan, yaitu pengenaan pajak didasarkan pada anggapan yang diatur undang-undang. Kelebihan model ini pajak dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu sampai akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak dibayarkan tidak berdasarkan keadaan sesungguhnya;

3. Stelsel campuran yaitu pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan,kemudian pada akhir tahun pembayaran didasarkan dan disesuaikan dengan keadaan sebenarnya.

(18)

terutang oleh wajib pajak. Cirinya wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga.

4.4. Tarif Pajak

Tarif merupakan area sensitif karena didalam pengenaannya mencerminkan aspek keadilan. Seseorang akan melaksanakan atau menjalankan kesukarelaan membayar pajak jika lingkungannya menjamin keadilan. Ukuran keadilan ini menjadi ukuran pribadi sehingga sifatnya sangat relative atau subyektif (Sari, 2013:46). Mardiasmo (2011:312) mengemukakan pula bahwa tarif pajak merupakan dasar pengenaan pajak terhadap objek pajak yang menjadi tanggungannya. Tarif pajak biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Dasar pengenaan pajak merupakan nilai berupa uang yang dijadikan dasar untuk menghitung pajak yang terutang.

Tarif pajak yang besarnya harus dicantumkan dalam undang-undang pajak merupakan salah satu unsur yang menentukan rasa keadilan dalam pemungutan pajak. Penentuan besarnya suatu tarif adalah hal yang krusial dimana kesalahan persepsi dalam penentuannya dapat merugikan berbagai pihak termasuk Negara. Terdapat beberapa jenis pemungutan pajak (Sari, 2013:46).

Tarif progresif (progressive tax rate) merupakan tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin besar atau meningkat apabila jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak juga semakin besar. PEnerapan tariff progresif untuk menghitung pajak terutang dilakukan dengan menerapkan lapisan pajak. Dasar tariff progresif adalah sewajarnya artinya seseorang membayar pajak sesuai dengan kemampuannya. Contoh : Kategorisasi Pajak sesuai Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. Beberapa kategorinya antara lain :

Pendapatan Pengenaan Tarif

Rp. 0 – Rp. 50.000.000,- Tarif 5 %

Rp. 50.000.000,00 – Rp. 250.000.000,00 Tarif 15%

Rp. 250.000.000,00 – Rp. 500.000.000,00 Tarif 25%

Di atas Rp. 500.000.000,00 Tarif 30%

Tarif degresif (degressive tax rate) merupakan kebalikan dari tarif progresif. Tarif degresif adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin kecil bila jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak semakin besar. Namun, tidak berarti jika persentasenya semakin kecil kemudian jumlah pajak yang terutang juga menjadi kecil. Angka ini bisa menjadi lebih besar karena jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajaknya juga semakin besar. Misalnya, terlihat pada tabel ini dibawah :

Pajak yang Terhutang Pengenaan Prosentase Jumlah Terhitung

Rp. 10.000.000,- 15% Rp. 1.500.000,-

Rp. 25.000.000,- 13% Rp. 3.250.000,-

Rp. 50.000.000,- 11% Rp. 5.500.000,-

Rp. 60.000.000,- 10% Rp. 6.000.000,-

Jadi menurut pengenaan tarif degresif besaran jumlah pajak yang terutang adalah sebesar Rp.16.250.000

(19)

terutang (yang harus dibayar). Tarif ini diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 mengenai Tarif PPN dan PPnBM dengan pengenaan tarif proporsional sebesar 10%.

Misalnya terdapat pajak yang terutang sebagai berikut :

Pajak yang Terhutang Pengenaan Prosentase Jumlah Terhitung

Rp.15.000.000,- 10% Rp.1.500.000,-

Rp.25.000.000,- 10% Rp.2.500.000,-

Rp.40.000.000,- 10% Rp.4.000.000,-

Rp.60.000.000,- 10% Rp.6.000.000,-

Tarif tetap (fixed tax rate) adalah tarif pemungutan pajak yang besar nominalnya tetap tanpa memperhatikan jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak. Pengenaan atas tarif ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (BM). Dengan adanya PP No. 24 Tahun 2000, tarif yang digunakan adalah Bea Meterai dengan nilai nominal sebesar Rp.3.000,00 dan Rp.6.000,00.

Hal yang digarisbawahi disini adalah bahwa partisipasi perpajakan sangat ditentukan oleh kepemilikan warga. Tidak semua warga diberi beban berpartisipasi yang sama dalam pembayaran pajak. Pada konteks ini, pajak dipandang sebagai sarana untuk membatasi yang kuat dan melindungi yang lemah sekaligus penyeimbang antara kelompok masyarakat kaya dengan kelompok masyarakat miskin menjadi titik tekan dalam soal partisipasi perpajakan rakyat. Pada pengertian ini, pajak hanya dibebankan kepada kalangan yang memiliki sumber penghasilan, sumber kekayaan dan harta benda yang diwajibkan oleh aturan perundang-undangan negara.

Pada penjelasan ini Tumakaka (2015 dalam Materi Pemagangan Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara dan Program Studi Ilmu Politik FISIP Unud) menggambarkannya sebagai berikut :

Publik

Partisipasi Publik

Partisipasi Publik

Legislatif Eksekutif

Dewan Perwakilan Rakyat Presiden/Gubernur/Bupati

Kebutuhan Publik Partisipasi

Finansial 11

APBN/APBD

(20)

Sumber : Tumakaka (2015) disampaikan dalam materi Pemagangan Mahasiswa Prodi Ilmu Adminsitrasi Negara dan Program Studi Ilmu Politik FISIP Unud

Partisipasi warga dalam membayar pajak merupakan aktualisasi pengakuan mereka atas kekuasaan yang terpilih dari proses demokrasi. Pada alur ini, warga membayar pajak sebagai bentuk partisipasi finansial. Pajak inilah yang kemudian pengalokasiannya diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di level Pemerintah Pusat maupun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) di level Pemerintah Daerah. Proses penyusunan hingga penetapan APBD ini melibatkan peran Presiden dan DPR sebagai Pemerintah Pusat; serta Gubernur, Bupati atau Walikota dan DPRD sebagai Pemerintah Daerah. Alokasi penerimaan APBN atau APBD inilah yang salah satunya berasal dari pajak warga kemudian diperuntukkan sebagai belanja daerah. Komponen belanja ini yang kemudian diperuntukkan bagi pendanaan atas program-program kesejahteraan masyarakat. Aktualisasi atas komponen belanja ini seperti terjabar dalam program-program populis Kartu Indonesia Sehat atau Kartu Indonesia Pintar yang digencarkan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Segenap komponen belanja atas pelaksanaan program di bidang pendidikan dan bidang kesehatan ini bersumber dari pendanaan APBN.

Pada contoh kasus program yang bersumber dari pendanaan APBD, seperti pada program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM), Bedah Rumah, Simantri, dan program lain yang dijalankan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Pada pelaksanaan program ini warga sebenarnya tetap bisa memiliki akses partisipasi untuk mengontrol pelaksanaannya. Tidak hanya memilih wakil-wakilnya sebagai representasi kepentingan di lembaga dewan, warga juga masih bisa mengontrol pelaksanaan atas program-program yang dijalankan Pemerintah melalui saluran-saluran publik seperti media massa, media sosial, hingga penyampaian petisi ke lembaga dewan. Substansi atas akses partisipasi publik ini merupakan tuntutan warga agar bisa tetap mengontrol pajak yang telah dibayarkannya terhadap pelaksanaan program-program pembangunan yang dijalankan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah agar benar-benar berkomitmen pada kebutuhan publik.

Refleksi Diri

Pada akhir 2014 negara berhasil mengembalikan uang negara Rp. 2,6 Triliun dari berbagai kasus penyimpangan pajak di level Pusat maupun Daerah. Pengembalian itu berbentuk uang tunai maupun sejumlah aset berdasarkan pengusutan kasus yang dilakukan selama tiga tahun terakhir . Hasil kerja Tim Instruksi Presiden yang dibentuk saat maraknya kasus penyimpangan pajak, termasuk kasus Gayus Tambunan. Uang ini masih terus nertambah sering dengan masuk berjalannya banyak proses hukum di sejumlah perkara. Tim ini bekerja dibawah Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengedalian Pembangunan (UKP4). Misalnya, untuk kasus Gayus Tambunan secara khusus negara berhasil menyita Rp. 74 miliar, 31 batang logam mulia seberat @100 gram, satu rumah, satu apartemen dan dua mobil.

Mantan Wakil Presiden Budiono saat itu menyatakan atas koordinasi dari berbagai instansi pada tingkat Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah selama kurun tahun 2012-2014 sebanyak 2.647 pegawai dan staf dari berbagai instansi telah mendapat sanksi dari paling ringan hingga diproses pidana karena terlibat penyimpangan pajak, baik Pajak Pusat maupun Pajak Daerah (beritasatu.com tanggal 14 Oktober 2014).

(21)

salah satunya DKI Jakarta dengan menerapkan sistem Pajak Online. Pajak Online ini diterapkan pada pajak hiburan, pajak hotel, pajak restoran dan pajak parkir. Untuk mencapai target pendapatan pajak daerah ini, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama menerpakan enam langkah. Pertama, memberlakukan peraturan tentang standarisasi alat transaksi elektronik. Kedua, mewajibkan wajib pajak untuk menggunakan alat transaksi elektronik termasuk pelaporannya. Ketiga, melakukan audit sistem informasi wajib pajak. Keempat, menggunakan fiber optic untuk mengganti wireless network. Kelima, melakukan standarisasi sistem informasi bagi wajib pajak. Keenam, melakukan pembangunan sistem aplikasi sesuai spesifikasi mesin cash register. Melalui langkah ini, Pemerintah DKI Jakarta akan menarrgetkan penerimaan Pajak Daerah sebesar Rp. 45,32 triliun dengan 10.951 wajib pajak dalam setahun (beritasatu.com tanggal 20 Januari 2015).

4.5.Koreksi Pajak

Pengertian koreksi pajak adalah koreksi atau penyesuaian yang harus dilakukan oleh wajib pajak sebelum menghitung Pajak Penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan dan wajib pajak orang pribadi (yang menggunakan pembukuan dalam menghitung penghasilan kena pajak). Koreksi fiskal terjadi karena adanya perbedaan perlakuan/pengakuan penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan akuntansi pajak (https://herlinamargareta.wordpress.com).

Perbedaan tersebut dikategorikan menjadi beda tetap, yaitu penghasilan dan biaya yang diakui dalam penghitungan laba neto untuk akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam penghitungan akuntansi pajak. Contoh beda tetap adalah penghasilan berupa sumbangan dan penghasilan bunga deposito. Biaya dalam konteks ini merupakan biaya sumbangan dan biaya sanksi perpajakan. Sedangkan beda waktu adalah penghasilan dan biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi komersial atau sebaliknya, tetapi tidak dapat diakui sekaligus oleh akuntansi pajak, biasanya karena perbedaan metode pengakuan. Contoh beda waktu adalah penghasilan pendapatan laba selisih kurs. Sedangkan contoh biaya pada beda waktu adalah biaya penyusutan dan biaya sewa.

Terdapat beberapa jenis koreksi fiskal antara lain koreksi fiskal positif merupakan koreksi fiskal yang menyebabkan penambahan penghasilan kena pajak dan PPh terutang. Pada konteks ini contohnya adalah Biaya PPh. Selain itu terdapat pula koreksi fiskal negatif yang merupakan koreksi dimana mengakibatkan pengurangan penghasilan kena pajak dan PPh terutang. Pada konteks ini contohnya adalah penghasilan bunga deposito

Pengertian koreksi fiskal positif yaitu koreksi fiskal yang menyebabkan penambahan penghasilan kena pajak dan PPh terutang. Terdapat tiga jenis koreksi fiskal positif (www.wibowopajak.com/2012/01/jenis-koreksi-fiskal-positif.html). Pertama, pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi. Kedua, biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota. Ketiga, pembentukan atau pemupukan dana cadangan. Hanya saja disini yang dikecualikan terdapat beberapa hal, yaitu ; cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, serta perusahaan asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS); cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS); cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan; cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; serta cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri.

(22)

Pajak merupakan pungutan yang dilakukan negara atas warganya, sehingga menyangkut seluruh rakyat yang berada di lingkup wilayah Republik Indonesia. Atas kondisi inilah maka pada setiap pungutan pajak harus didasarkan pada dasar regulasi (hukum) tertentu. Hukum pajak atau disebut pula sebagai hukum fiskal adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat melalui kas negara. Hukum perpajakan merupakan bagian hukum publik yang mengatur hubungan antara negara dan orang-orang serta badan hukum yang berkewajiban membayar pajak. Atas kondisi inilah maka hukum pajak seringkali disebut pula sebagai cabang dari hukum administrasi (Sutedi, 2013:6).

4.6.1. Hukum Pajak Material dan Formal

Pada hakikatnya, hukum pajak mengatur hubungan antara pemerintah (fiscus) selaku pemungut pajak dengan rakyat sebagai Wajib Pajak. Terdapat dua macam hukum pajak yaitu (hukum-pajak.blogspot.com) :

1. Hukum pajak materil, yaitu memuat norma-norma yang menerangkan antara lain; keadaan, perbuatan atau peristiwa hukum yang dikenai pajak (objek pajak), siapa yang dikenakan pajak (subjek), berapa besar pajak yang dikenakan (tarif), segala sesuatu tentang timbul dan hapusnya utang pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah dan Wajib Pajak. Contohnya adalah Undang-undang Pajak Penghasilan.

2. Hukum pajak formil memuat bentuk atau tata cara untuk mewujudkan hukum materil menjadi kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak materil). Hukum ini memuat antara lain:

a. Tata cara penyelanggaraan (prosedur) penetapan suatu utang pajak.

b. Hak fiskus untuk mengadakan pengawasan terhadap para Wajib Pajak mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang menimbulkan utang pajak.

c. Kewajiban Wajib Pajak misalnya menyelenggarakan pembukuan/pencatatan, dan hak-hak Wajib Pajak misalnya mengajukan keberatan atau banding. Contoh: Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

4.6.2. Klasifikasi Pajak

Klasifikasi Pajak dapat dibagi berdasarkan golongan sifat dan lembaga pemungut. Klasifikasi pajak berdasarkan golongan antara lain pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung merupakan pajak yang harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan kepada pihak lain. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh). Pajak tidak langsung merupakan pajak yang dapat dibebankan kepada pihak lain. Contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

(23)

Alur Penerimaan dan Penggunaan Pajak

Masyarakat

Bank bayar

setor

Kantor Kas Negara

setor

APBN

APBD setor

disalurkan • Kementerian

• Lembaga

• Instansi Vertikal

• Masyarakat

disalurkan

• Dinas-Dinas

• Masyarakat

Sumber : Tumakaka (2015) disampaikan dalam materi Pemagangan Mahasiswa Prodi Ilmu Adminsitrasi Negara dan Prodi Ilmu Politik FISIP Unud

Pajak Daerah merupakan pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran daerah. Contohnya adalah : Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Parkir, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan, dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

Pajak Pusat merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (UU No. 36 Tahun 2008), Pajak Pertambahan Nilai (UU No. 42 Tahun 2009), Bea Meterai (UU No.13 Tahun 1985), Bea Masuk atau Kepabeanan (UU No. 17 Tahun 2006), dan Cukai (UU No.39 Tahun 2007).

4.6.3. Ketentuan dan Tata Cara Perpajakan

(24)

Terdapat beberapa istilah penting dalam undang-undang perpajakan, khususnya

yang diatur dalam UU No. 28 Tahun 2007

(www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2007_28.pdf). Mengenai definisi pajak

merupakan kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pada pajak ini dibayarkan oleh wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Badan merupakan sekumpulan orang dan/atau modal yang menjadi kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha, meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. Pengusaha kena pajak merupakan pengusaha yang melakukan penyerahan barang kena pajak dan/atau penyerahan jasa kena pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. Nomor Pokok Wajib Pajak merupakan nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Masa Pajak merupakan jangka waktu yang menjadi dasar bagi wajib pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang. Tahun pajak merupakan jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. Bagian tahun pajak merupakan bagian dari jangka waktu 1 (satu) tahun pajak.

Pajak yang terutang merupakan yang harus dibayar pada suatu saat, dalam masa pajak, tahun pajak, atau bagian tahun pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Surat pemberitahuan merupakan surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/ atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat pemberitahuan masa adalah surat pemberitahuan untuk suatu masa pajak. Surat pemberitahuan tahunan adalah surat pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak.

(25)

Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.

Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja.

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/ atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.

(26)

Bukti permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai ke!engkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya.

Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga.

Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.

Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak. Putusan Gugatan adalah putusan badan peradilan pajak atas gugatan terhadap hal-hal yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat diajukan gugatan.

Putusan Peninjauan Kembali adalah putusan Mahkamah Agung atas permohonan peninjauan kembali yang diajukan oteh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak terhadap Putusan Banding atau Putusan Gugatan dari badan peradilan pajak.

(27)

Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal disampaikan secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan disampaikan secara langsung. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan diterima secara langsung.

4.7. Kasus Pajak Fiktif dan Pengemplang Pajak

Pada tataran praktis pemungutan pajak, senantiasa terdapat penyimpangan. Salah satu diantaranya adalah terdapatnya kasus pajak fiktif. Kasus pajak fiktif adalah pelaporan pajak tidak dalam kondisi sesungguhnya. Identik dengan kasus ini terdapat kasus pengemplangan pajak.

Sedangkan kasus pengemplang pajak adalah kasus yang melibatkan kelompok masyarakat yang tidak peduli kepada keadilan dan kesejahteraan. Melalui tindakan mengemplang pajak ini, wajib pajak sama saja telah membiarkan pemerintah kehilangan kemampuan membangun ekonomi dan mendistribusikan kemakmuran pada sebuah negara. Untuk memahami kondisi ini, harap dibaca beberapa studi kasus berikut ini :

Kasus I Pajak Fiktif dari Berita Kompas, 30 Oktober 2014

PEMERINTAH RINGKUS PELAKU PAJAK FIKTIF

KOMPAS – Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan dan Bareskrim Mabes POLRI berhasil meringkus tersangka penerbit faktur pajak fiktif. Tersangka yang berinisial SH alias RM merupakan komisaris PT Mitra Solusi Lintasindo, yang menerbitkan faktur pajak yang tidak berdasar transaksi yang sebenarnya.

Dalam kasus itu, tersangka menggunakan tiga modus. Modus pertama yakni menerbitkan faktur pajak pertambahan nilai (pajak keluaran) atas nama PT Mitra Solusi Lintasindo tanpa adanya kegiatan atau transaksi yang sebenarnya. Modus kedua yaitu menggunakan faktur pajak pertambahan nilai (pajak masukan) dari pihak ketiga tanpa didasarkan pada kegiatan atau transaksi yang sebenarnya.

Sedangkan modus ketiga adalah menyampaikan surat pemberitahuan pajak, tapi isi pajak pertambahan nilainya tidak benar. Akibat tindakan tersangka dan jejaringnya dalam kurun waktu 2010-2012 negara diperkirakan merugi sebesar Rp 16,19 miliar. Sesuai dengan Undang-Undang perpajakan, tersangka diancam hukuman pidana penjara 2-6 tahun penjara, serta denda sebesar 2-6 kali jumlah pajak dalam faktur pajak. (Baca: Mantan Petugas Cleaning Service Kantor Pajak Jadi Tersangka Faktur Fiktif)

Setelah penangkapan tersebut, tersangka langsung diserahkan kepada PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) Ditjen Pajak untuk dilakukan pemeriksaan lanjut. Sebelumnya, PPNS Ditjen Pajak telah melakukan pemanggilan terhadap SH alias RM untuk diperiksa sebagai tersangka. Namun tersangka tersebut melarikan diri, sehingga dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Penyidikan atas tersangka SH alias RM merupakan pengembangan dari kasus penyidikan sebelumnya dengan tersangka Muhammad Kamil alias Emka Tony (MK alias ET). Tersangka yang merupakan Direksi Mitra Solusi Lintasindo ini sudah divonis bersalah melakukan tindak pidana pajak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. MK alias ET hukuman 1 tahun 6 bulan penjara, serta denda sebesar Rp 44 Milyar subsider kurungan 3 bulan.

Direktur Penyidikan dan Intelejen Ditjen Pajak Yuli Kritiyono membenarkan adanya hubungan antara tersangka SH alias RM dengan jejaring pengemplan pajak Muhammad Kamil. "Betul sekali (ini merupakan salah satu jejaringnya)," tutur Yuli kepada Katadata, Kamis 30/10).

Pelaku pengemplangan pajak dengan bermodus faktur pajak fiktif ini cukup banyak. Penanganan kepada penerbit selama ini ternyata tidak menghilangkan minat pasar untuk meminta atau membeli faktur pajak. (Baca: Kasus Faktur Fiktif, Ditjen Pajak Melawan Putusan Pengadilan)

Hal ini membuat potensi penerimaan negara hilang hingga triliunan Rupiah. Catatan Ditjen Pajak, sejak 2008 lebih dari 100 kasus faktur pajak fiktif yang berhasil dibongkar bersama kepolisian.

Meski demikian, Ditjen Pajak mengaku punya beberapa metode mengungkap kejahatan perpajakan tersebut. Terutama dari aktivitas jual beli yang tidak lazim, sebab rata-rata penerbitan faktur bodong dilakukan perusahaan bidang perdagangan.

(28)

official assessment dimana penghitungan pajak yang mesti dibayar oleh wajib pajak menjadi kewenangan penuh pemerintah. Hanya saja semenjak tahun 1983 dilakukan perubahan dengan memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang harus dibayar (self assessment). Pada saat sistem pemungutan pajak ini ditetapkan dalam Undang-Undang Pajak maka secara otomatis regulasi ini menjadi politik perpajakan yang disepakati bersama. Pada saat terjadi penyimpangan atas pemungutan pajak, seperti terjadinya kasus pajak fiktif, maka kesalahan ini menjadi tanggungjawab bersama yang harus diantisipasi.

Untuk mendalami pengertian ini lebih lanjut, terdapat kasus kedua sebagai berikut :

Kasus 2 : Pengemplang Pajak dari Berita Dirjen Pajak berita dari www.mediaindonesia.com/editorial/view/293

PENGEMPLANG PAJAK DIMANA-MANA

Pengemplang pajak ialah kelompok masyarakat yang tidak peduli kepada keadilan dan kesejahteraan. Dengan mengemplang, wajib pajak sama saja telah membiarkan pemerintah kehilangan kemampuan membangun ekonomi dan mendistribusikan kemakmuran. Perlakuan paling tepat bagi mereka ialah tindakan tegas dan keras. Salah satu contohnya ialah tindakan penyegelan Mal Green Tebet, kemarin. Mal yang terletak di Jl MT Haryono, Tebet, Jakarta Selatan, itu disegel petugas pajak karena mengemplang pajak bumi dan bangunan selama 4 tahun. Jumlah tunggakan pajak mal itu dilaporkan telah mencapai Rp1,8 miliar. Kita sangat mengapresiasi langkah petugas pajak atas penyegelan mal itu. Tindakan tersebut sangat tepat momentumnya. Selama ini, kita jarang melihat pesan sekuat itu disampaikan aparat pajak kepada wajib pajak yang bandel. Tindakan penyegelan mal itu juga sejalan dengan pernyataan Wapres Jusuf Kalla di depan Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, JK mengingatkan para pengusaha untuk taat membayar pajak. Perilaku mengemplang, menurut JK, merupakan tindakan egoistis. Dengan mengemplang, pengusaha berarti tidak peduli kepada kehidupan masyarakat. Karena itu, penyegelan mal pengemplang pajak menjadi pesan kuat bagi wajib pajak lain yang masih dan atau berniat mengemplang pajak. Kita ingin tindakan tegas dan keras semacam itu diteruskan dan diperluas. Diteruskan untuk membuat efek jera bagi pengemplang pajak benar-benar terbangun. Diperluas agar tindakan tegas semacam itu dilakukan ke semua sektor, bukan hanya di sektor perdagangan ritel atau mal-mal.

Salah satu sektor yang wajib diberi tindakan tegas ialah sektor pertambangan dan migas. Data Direktorat Jenderal Pajak menyebutkan ketaatan pajak perusahaan di sektor pertambangan sangat rendah. Dari 11 ribu perusahaan pemegang izin usaha pertambangan yang tercatat, hanya 2.000 yang tercatat memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP). Artinya, ada 9.000 perusahaan yang tidak membayar pajak.

Padahal, jika 9.000 perusahaan pertambangan itu semuanya taat membayar pajak, kita mungkin tidak perlu berutang ke luar negeri untuk membiayai pembangunan. Karena itu, tindakan tegas dan keras semestinya juga diberlakukan kepada para pengemplang pajak di sektor pertambangan dan migas. Sudah kerap kita mendengar pengemplangan pajak secara masif oleh perusahaan-perusahaan besar di sektor itu, tetapi tindakan tegas dan keras terhadap mereka masih nihil. Kita ingin penyegelan seperti yang dilakukan terhadap Mal Green Tebet, dalam bentuknya yang setara juga diterapkan di sektor pertambangan.

Rasio pajak kita selama ini berkisar hanya 12% hingga 13%. Angka rasio itu baru separuh dari standar rasio pembangunan milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni sebesar 24%. Angka 12% hingga 13% itu bahkan sangat jauh di bawah rata-rata rasio pajak negara maju anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), yakni 35%. Karena itu, peningkatan rasio pajak tersebut harus digenjot. Tindakan tegas yang konsisten dari aparat pajak kepada pengemplang merupakan jalan menuju sasaran itu, bukan patgulipat seperti yang selama ini kerap kita dengar.

Pajak menjadi penopang dominan pembiayaan APBN maupun APBD, sehingga berbagai jenis pajak yang dipungut, pola pembayaran serta pengawasannya menjadi tanggungjawab seluruh warga negara maupun pemerintah. Fungsi pajak secara ideal untuk membiayai pembangunan, keadilan, pemerataan dan kesejahteraan seluruh warga negara.

Gambar

Tabel diatas memperlihatkan bahwa sebenarnya rasio penerimaan pajak Indonesia lebih rendah dari rata-rata negara miskin

Referensi

Dokumen terkait

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambahn dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena PPh dalam

• Besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak untuk setiap bulan adalah sebesar pajak penghasilan yang terutang menurut surat

Kredit pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak

• Kredit pajak untuk pajak penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh wajib pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam surat tagihan pajak karena

ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak.. yang dipotong

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak