• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian Matematika

Matematika adalah ilmu tentang kuantitas, bentuk, susunan, dan ukuran, yang utama adalah metode dan proses untuk menemukan dengan konsep yang tepat dan lambang yang konsisten, sifat dan hubungan antara jumlah dan ukuran, baik secara abstrak, matematika murni atau dalam keterkaitan manfaat pada matematika terapan (Tri Wijayanti, 2011). Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri menurut Hasanah (2012: 11)

Matematika merupakan ide-ide yang abstrak yang berisi simbol-simbol matematika adalah ilmu yang harus dipahami. Dengan belajar matematika maka siswa akan belajar menalar, bekerja kreatif dan menjadi lebih aktif menurut Susanto (2013: 183). Bersambungan dengan matematika merupakan bahasa simbol, ilmu yang mempunyai pola teratur, terstruktur. Hal ini tentunya bukan menjadi ilmu yang sulit untuk dipelajari oleh siswa. Karena matematika adalah suatu dasar pembekalan pendidikan untuk melatih siswa berfikir logis, sistematis, analitis efektif dan kritis. Matematika merupakan ilmu pasti menurut Heruman (2013: 1).

Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan besaran,

dan konsep-konsep hubungan lainnya yang jumlahnya banyak dan terbagi dalam

tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri (Ali Hamzah dan Muhlisrarini,

2014: 49). Matematika jelas berbeda dengan mata pelajaran lain dalam beberapa

hal berikut, yaitu : a. objek pembicaraannya abstrak, sekalipun dalam pengajaran

di sekolah anak diajarkan benda kongkrit, siswa tetap didorong untuk melakukan

abstraksi; b. pembahasan mengandalkan tata nalar, artinya info awal berupa

pengertian dibuat seefisien mungkin, pengertian lain harus dijelaskan

kebenarannya dengan tata nalar yang logis; c. pengertian/konsep atau pernyataan

(2)

sangat jelas berjenjang sehingga terjaga konsistennya; d. melibatkan perhitungan (operasi); e. dapat dipakai dalam ilmu yang lain serta dalam kehidupan sehari-hari (Destiana Vidya Prastiwi, 2011: 33-34)

Berdasarkan uraian pengertian matematika dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan lambang-lambang atau simbol dan memiliki arti serta dapat digunakan dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan bilangan dan pembelajaran matematika adalah pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat dalam teori dibuat secara deduktif berdasarkan kepada sifat atau teori yang telah dibuktikan kebenaranya dengan tujuan membangun pengetahuan matematika agar bermanfaat dan mampu mempraktekkan hasil belajar matematika dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.2 Tujuan Pembelajaran Matematika

Berdasarkan kurikulum 2013, tujuan pembelajaran berdasarkan Standar kompetensi Lulusan SD yang diharapkan tercapai meliputi: 1) Domain Sikap:

memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggungjawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di sekitar rumah, sekolah, dan tempat bermain. 2) Domain Keterampilan: memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya. 3) Domain Pengetahuan: memiliki pengetahuan faktual dan konseptual dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, humaniora, dengan wawasan kebangaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkugan rumah, sekolah, dan tempat bermain. Matematika diajarkan di sekolah membawa misi yang sangat penting, yaitu mendukung ketercapaian tujuan pendidikan nasional.

Secara umum tujuan pendidikan matematika di sekolah dapat digolongkan

menjadi: a) Tujuan yang bersifat formal, menekankan kepada menata penalaran

dan membentuk kepribadian siswa. b) Tujuan yang bersifat material menekankan

kepada kemampuan memecahkan masalah dan menerapkan matematika. Secara

(3)

lebih terinci, tujuan pembelajaran matematika sebagai berikut: 1) Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi. 2) Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba- coba. 3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah 4) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan tersebut.

Kurikulum 2013 menempatkan matematika sebagai mata pelajaran dengan porsi jam terbanyak yaitu untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan matematis siswa bukan hanya untuk menyelesaikan permasalahan didalam matematika saja, tetapi siswa dilatih bagaimana mengembangkan kemampuan berpikirnya untuk menyelesaikan masalah terkait dengan mata pelajaran lain dan masalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kedepannya ketika siswa sudah terjun dalam masyarakat mereka dapat menggunakan nalarnya untuk menyelesaikan masalah- masalah nyata yang lebih kompleks di dunia kerjanya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengembangkan proses berpikitr matematis siswa sehingga siswa memahami matematika secara hakekatnya.

Kurikulum 2013 menuntut proses pembelajaran matematika diarahkan pada pembelajaran menemukan konsep-konsep matematika (discovery/inquiry learning). Belajar dari permasalahan real (problem/project based learning) sesuai dengan prinsip pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach). Dimana siswa mendapatkan pengalaman belajar melalui proses 6 M (Mengamati, Menanya, Mengeksplorasi atau Mencoba, Menalar atau Menyimpulkan, Mengkomunikasikan atau Membuat jejaring, dan Mencipta atau Membuat karya kreatif).

Evaluasi hasil pembelajaran dalam kurikulum 2013 menghendaki evaluasi

secara holistik mencakup aspek sikap (baik sikap personal, sosial, maupun

spiritual/ religius), pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian dilakukan bukan

(4)

hanya dengan metoda tes (ulangan/ujian tertulis) tetapi juga menggunakan metode non tes (portofolio) dimana penilaian dilakukan terhadap proses yang mencakup ranah sikap, unjuk kerja/performance, dan hasil karya menggunakan autentic assesment. Melalui proses pembelajaran dan proses penilaian seperti tersebut di atas, dimana penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan dilakukan secara terintegrasi, diharapkan pembelajaran matematika dapat menghasilkan siswa yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif sesuai dengan tema pengembangan kurikulum 2013.

Penerapan kurikulum 2013 merupakan penerapan kurikulum dengan menekankan pada pembentukan karakter, yang bertujuan mengembangkan nilai- nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi : (1) mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Metode pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum 2013 adalah metode pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik (scientific appoach) merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach). Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik yaitu: mengamati, mempertanyakan, mengumpulkan informasi/mencoba, mengolah informasi, mengkomunikasikan.

2.2 Hasil Belajar

2.2.1 Pengertian Belajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2013: 7).

Belajar adalah perubahan tingkah laku, dan terjadi karena hasil pengalaman

(Sardiman, AM, 2014: 23). Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang

melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya (Iskandar,

2012:102)

(5)

Belajar adalah sebagai proses aktif internal individu dimana melalui pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif permanen (Kurniawan, 2014: 4) .Sebanding dengan pendapat bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor, hal tersebut diungkapkan oleh Djamarah (2011: 13). Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010: 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut: 1. Faktor intern yaitu faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor intern terdiri dari: a. Faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh). b. Faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan).

c. Faktor kelelahan. 2. Faktor ekstern yaitu faktor yang ada di luar individu.

Faktor ekstern terdiri dari: a. Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, penegrtian orang tua, dan latar belakang kebudayaan). b. Faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah). c. Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat,mass media, teman bergaul, dan betuk kehidupan masyarakat).

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat penulis simpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan ekstern (Slameto, 2010: 54)

2.2.2 Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima

pengalaman belajarnya. Setelah suatu proses belajar berakhir, maka siswa

memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam

proses pembelajaran. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam kegiatan

(6)

pembelajaran adalah hasil belajar. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sebatas mana siswa dapat memahami serta mengerti materi tersebut. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2013: 3)

Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Proses belajar ini dapat menghasilkan suatu pengetahuan dan memberikan suatu perubahan bagi siswa.

Bentuk perubahan dari hasil belajar yang didapat ini merupakan suatu tujuan dari kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan. Hasil belajar merupakan pengukuran dari penilaian kegiatan belajar atau proses belajar yang dinyatakan dalam symbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu menurut Majid (2014: 28)

Perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari belajar (Susanto, 2013: 5). Pengertian tentang hasil belajar dipertegas oleh (Susanto, 2013: 5) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja (Suprijono, 2012: 7)

Perubahan yang dihasilkan siswa ini secara menyeluruh dalam setiap aspek.

Tidak hanya dalam bidang ketrampilan saja namun setiap bidangnya juga dapat mempengaruhi hasil belajar dari siswa. Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang bersifat internal mapun eksternal. Menurut Munadi dalam Rusman, T (2013: 124) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Sementara faktor eksternal meliputi faktor lingkungan dan faktor instrumental.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, dapat penulis simpulkan bahwa

hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut

(7)

melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran serta bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang dengan melibatkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, yang dinyatakan dalam symbol, huruf maupun kalimat.

Evaluasi pembelajaran berfungsi untuk memberikan masukan atau informasi secara komprehensif tentang hasil belajar siswa mulai dari proses pembelajaran hingga hasil akhir pembelajaran. Evaluasi proses belajar adalah evaluasi atau penilaian yang dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung (Wardani, dkk, 2010). Sedangkan evaluasi hasil belajar adalah evaluasi yang dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. (Wardani, dan Slameto, 2012: 51)

Jenis-jenis evaluasi pembelajaran menurut Wardani dan Slameto (2012: 6) : 1. Evaluasi Formatif

Yakni penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir pokok bahasan, tujuannya untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi yang telah dicapai peserta didik.

2. Evaluasi Sumatif

Yaitu penilaian yang dilakukan pada akhir satuan program tertentu (catur wulan, semester atau tahun ajaran) seperti ujian umum.

3. Evaluasi Diagnostik

Yaitu penilaian yang dilakukan untuk melihat kelemahan peserta didik dan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebabnya.

4. Evaluasi Penempatan

Yaitu penilaian yang ditujukan untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan bakat, minat,dan kemampuannya, misalnya pemilihan jurusan.

5. Evaluasi Seleksi

Yakni penilaian yang ditujukan untuk memillih orang yang paling tepat pada kedudukan atau posisi tertentu.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007

tentang Standar Penilaian Pendidikan menyatakan bahwa Kriteria Ketuntasan

Minimal (KKM) adalah Kriteria Ketuntasan Belajar (KKB) yang ditentukan oleh

satuan pendidikan. Teknik yang digunakan dalam penilaian pembelajaran untuk

mengukur hasil belajar peserta didik, yaitu dengan menggunakan teknik tes dan

teknik nontes.

(8)

1) Teknik Tes

Tes merupakan cara yang digunakan dalam kegiatan evaluasi yang didalamnya terdapat tugas untuk dikerjakan atau dijawab oleh siswa yang memiliki jawaban benar atau salah. Jawaban benar dan salah dari setiap siswa inilah yang nantinya akan digunakan untuk melihat sejauh mana siswa telah menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan. (Nurhadi dan Suwardi ,2011: 29). Ada 3 jenis tes yaitu jenis tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. Tes tertulis adalah tes yang membutuhkan jawaban secara tertulis, tes ini memiliki dua jenis tes yaitu tes subjektif atau esay (uraian bebas dan uraian terikat) dan tes objektif (pilihan ganda, benar-salah,tes menjodohkan, tes jawaban singkat) selanjutnya adalah tes lisan, tes lisan adalah tes dengan pertanyaan dan jawaban yang menggunakan lisan oleh siswa, tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan berbahasa siswa (Nurhadi dan Suwardi, 2011:33). Sehingga siswa akan berbicara dengan gaya bahasa mereka sendiri dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Yang terakhir adalah tes perbuatan, tes perbuatan adalah tes berupa penugasan yang disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaannya dilakukan dalam bentuk perbuatan atau unjuk kerja. Dalam tes ini siswa melakukan sesuatu sesuai dengan tugas yang diberikan dan selanjutnya guru akan menilai siswa sesuai dengan opsi-opsi yang telah ditetapkan.

2) Teknik Nontes

Teknik nontes merupakan teknik yang digunakan untuk mengukur hasil belajar selain menggunakan teknik tes. Hasil belajar ini berupa pengetahuan toeritis, ketrampilan, dan sikap, baik pengetahuan teoritis dan ketrampilan keduannya dapat diukur dengan teknik tes, sedangkan untuk sikap dan perkembangan psikologi perlu diukur menggunakan teknik nontes. teknik nontes berupa observasi, wawancara, skala sikap, skala minat dan lain sebagainya.

Dari penjelasan tentang teknik penilaian baik teknik tes maupun teknik

nontes, keduanya sangat penting dalam pengukuran hasil belajar. teknik tes,

dapat membantu untuk mengetahui hasil belajar siswa pada ranah kognitif dari

yang rendah sampai yang tinggi dan psikomotor siswa. Sedangkan, teknik nontes

(9)

dapat diketahui hasil belajar siswa pada ranah afektif dan psikomotor melalui lembar observasi,skala sikap, skala minat dll.

2.3 Model Pembelajaran Everyone is a Teacher Here (ETH)

Model pembelajaran yang konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai model pembelajaran tertentu. Strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Senjaya dalam Suryani dan Leo Agung, 2012: 6). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran . Istilah everyone is a teacher here berasal dari bahasa Inggris yang berarti setiap orang adalah guru (Fachrurrozi dan Mahyuddin, 2010: 206). Hamruni (2012: 163) menyatakan bahwa model pembelajaran everyone is a teacher here merupakan model yang mudah untuk memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu.

Model everyone is a teacher here merupakan cara tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan maupun individual menurut Suprijono (2012:

110), Model ini digunakan oleh guru dengan maksud meminta semua siswa berperan menjadi narasumber terhadap sesama temannya di dalam kelas (Fachrurrozi dan Mahyuddin, 2010: 206). Tujuan penerapan model everyone is a teacher here adalah membiasakan siswa untuk belajar aktif secara individual dan membudayakan sifat berani bertanya, tidak minder, dan tidak takut salah. Menurut Ismail (2008: 94)

Model pembelajaran dapat didefenisikan sebagai cara yang digunakan

guru dalam menjalankan fungsinya dan merupakan alat untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Model pembeajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan-

tahapan tertentu dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran Everyone is

teacher here merupakan salah satu cara atau alat dalam metode pembelajaran aktif

yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran

ini memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertindak sebagai pengajar

terhadap siswa lain. Beberapa ahli percaya bahwa materi pembelajaran akan

(10)

benar-benar dikuasi oleh siswa apabila siswa mampu mengajarkannya kepada siswa lain.

Model pembelajaran everyone is a teacher here yaitu model yang dapat digunakan untuk meningkatkan peran aktif siswa selama proses pembelajaran, dan dapat disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajaran pada berbagai mata pelajaran, khususnya mencapaian tujuan yaitu meliputi aspek : kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan menganalisa masalah, kemampuan menuliskan pendapat-pendapatnya (kelompoknya) setelah melakukan pengamatan, kemampuan menyimpulkan, dan lain-lain.

Model pembelajaran ETH merupakan cara tepat untuk mendapat partisipasi kelas secara keseluruhan maupun individual. Seluruh siswa akan berperan menjadi guru dan menjelaskan materi sesuai dengan soal yang diperolehnya. Dengan melaksanakan model pembelajaran tersebut siswa akan menjadi lebih aktif dan berusaha untuk mencari jawaban dari soal yang diprolehnya, sehingga siswa akan lebih memahami materi pelajaran. Siswa akan lebih merasa nyaman karena bertanya atau menyampaikan pendapatnya kepada temannya sendiri. Dengan menerapkan model pembelajaran tersebut akan meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga dapat memperbaiki aktivitas dan hasil belajar siswa (Suprijono, 2011: 110)

Langkah- langkah Model Pembelajaran Aktif Everyone Is Teacher Here (ETH)

Langkah- langkah dalam menggunakan pembelajaran aktif everyone is teacher here, yaitu (Silberman, 2011: 183) :

1. bagikan kartu indeks kepada tiap siswa. perintahkan siswa untuk menuliskan pertanyaan tentang materi pelajaran yang telah dipelajari di kelas.

2. kumpulkan kartu, kemudian kocoklah, dan bagikan satu-satu kepada siswa.

perintahkan siswa untuk membaca dalam hati pertanyaan atau topik pada kartu yang mereka terima dan pikirkan jawabannya.

tunjuklah beberapa siswa untuk membacakan kartu yang mereka dapatkan dan memberikan jawabannya.

3. setelah memberikan jawaban, perintahkan siswa lain untuk memberi tambahan atas apa yang dikemukakan oleh siswa yang membacakan kartunya.

4. lanjutkan prosedur ini bila masih memungkinkan waktunya.

(11)

Adapun Langkah-langkah model pembelajaran everyone is a teacher here menurut Suprijono (2012: 110) adalah sebagai berikut:

1. Bagikan kartu indeks kepada seluruh siswa.

2. Setiap siswa diminta menuliskan satu pertanyan mengenai materi pembelajaran yang sedang dipelajari di kelas atau sebuah topik khusus yang akan didiskusikan di dalam kelas.

3. Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut kemudian bagikan kepada setiap siswa.

Pastikan bahwa tidak ada siswa yang menerima soal yang ditulis sendiri.

4. Minta kepada siswa untuk membaca di dalam hati pertanyaan pada kertas tersebut kemudian mintalah kepada mereka memikirkan jawabannya.

5. Mintalah kepada siswa secara sukarela membacakan pertanyaan tersebut dan menjawabnya.

6. Setelah jawaban diberikan, mintalah kepada siswa lainnya untuk membacanya.

7. Lanjutkan dengan sukarelawan berikutnya

Tujuan dari model everyone is a teacher here adalah agar siswa akan lebih bergairah dan senang dalam menerima pelajaran dalam suatu proses belajar- mengajar. Secara khusus tujuan implementasi model pembelajaran everyone is a teacher here menurut Fricelia (2012: 18) sebagai berikut:

1) Mengecek pemahaman para siswa sebagai dasar perbaikan proses belajar mengajar.

2) Membimbing usaha para siswa untuk memperoleh suatu keterampilan kognitif maupun sosial

3) Memberikan rasa senang pada siswa.

4) Merangsang dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa.

5) Memotivasi siswa agar terlibat dalam interaksi.

6) Melatih kemampuan mengutarakan pendapat.

7) Mencapai tujuan belajar.

Kelebihan dan Kekurangan Model Everyone is Teacher Here

Kelebihan penerapan model pembelajaran everyone is teacher here menurut Silberman (2011: 31-34) adalah sebagai berikut :

a. siswa mendapat kesempatan baik secara individu maupun berkelompok untuk menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman – temannya.

b. guru dapat mengetahui penguasaan siswa terhadap materi yang disampaikan.

c. mendorong siswa untuk berani mengajukan pendapatnya.

Beberapa kekhawatiran dalam pembelajaran aktif yang bisa menjadi kendala atau kelemahan dalam pembelajaran aktif, Silberman (2011: 31-34) yaitu:

1) kegiatan pembelajaran aktif dikhawatirkan hanya merupakan kumpulan

permaianan.

(12)

2) lebih berfokus pada kegiatan sehingga siswa kurang memahami materi yang dipelajari.

3) menyita banyak waktu.

4) ada kemungkinan siswa akan menyampaikan informasi yang salah dalam metode belajar aktif berbasis kelompok.

5) butuh banyak persiapan dan kreatifitas.

2.4 Analisis Komponen-Komponen Model Everyone is Teacher Here

Model pembelajaran everyone is teacher here adalah suatu kegiatan yang merupakan dasar pijakan guru mengorganisir kegiatan belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang diminati dalam belajar yaitu model pembelajaran kooperatif, dimana siswa aktif dalam menyampaikan pendapat, atau gagasan dan belajar secara berkelompok. Model pembelajaran Everyone is Teacher Here dapat melatih peserta didik dalam menyelesaikan tugasnya secara individu dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu secara tidak langsung peserta didik juga akan belajar mengerjakan atau melakukan sesuatu seperti merumuskan ide, membuat simpulan, memecahkan masalah, dan lain sebagainya, hal ini juga akan membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikirnya dan menghasilkan hasil belajar yang memuaskan. Model ini memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertindak sebagai pengajar terhadap siswa lain sehingga materi pembelajaran akan benar-benar dikuasi oleh siswa apabila siswa mampu mengajarkannya kepada siswa lain.

Model pembelajaran everyone is teacher here menekankan pada partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Model ini memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya.

Dalam kelompok tersebut siswa bersosiali dengan siswa yang lain. Melalui kerjasama siswa mempelajari pengetahuan yang bersifat akademis dalam mencari suatu permasalahan. Komponen model pembelajaran everyone is teacher here yaitu 1) sintak, 2) sistem sosial, 3) prinsip reaksi, 4) sistem pendukung, 5) dampak instruksional dan dampak pengiring.

1) Sintak

Sintak pembelajaran everyone is teacher here yaitu ,

(13)

a) Guru membagikan kartu kosong kepada setiap siswa. Guru meminta para siswa menulis sebuah pertanyaan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari.

b) Guru mengumpulkan kartu, mengocok dan membagikan satu pada setiap siswa.

c) Guru meminta siswa membaca diam-diam pertanyaan yang ada pada kartu dan pikirkan satu jawaban.

d) Guru memanggil sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka dapat dan menjawab pertanyaan yang diterimanya.

e) Guru meminta kepada siswa yang lain untuk menambahkan jawaban yang diberikan.

f) Guru melanjutkan ke siswa lain bila waktu masih memungkinkan.

2) Sistem Sosial

Pada model everyone is a teacher here sistem sosial bersifat mendukung pengajaran sesama siswa di kelas yang menempatkan seluruh tanggung jawab pengajaran kepada seluruh anggota kelas. Strategi ini dapat digunakan untuk meningkatkan proses pembelajaran siswa. Model pembelajaran everyone is a teacher here merupakan sebuah model pembelajaran yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Model ini memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai

“pengajar” terhadap peserta didik lain. Model everyone is a teacher here juga sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Model ini memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya. Dalam proses belajar mengajar, tidak harus semua dari guru, siswa hanya duduk terpagu dan mendengarkan ceramah dari guru, akan tetapi siswa bisa saling mengajar dengan siswa lainnya.

Strategi ini merupakan strategi yang mudah bagi guru untuk untuk memperoleh partisipasi kelas dan tanggung jawab individu

3) Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi merupakan kegiatan yang mengambarkan cara guru yang

seharusnya dalam memperlakukan siswa. Prinsip ini menggambarkan cara guru

(14)

saat memberikan respon kepada siswa. Prinsip ini pula memberikan arahan kepada guru saat menggunakan model pembelajaran yang digunakan. Arahan ini dilakukan harus sesuai permasalahan yang ada dalam suatu model pembelajaran atau langkah suatu model.

Dalam menggunakan model pembelajaran everyone is a teacher here ini proses belajar mengajar, tidak harus semua dari guru, akan tetapi siswa bisa saling mengajar dengan siswa lainnya. Guru mempunyai peran guru adalah sebagai fasilitator bagi siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung,membimbing siswa agar dapat mengembangkan keterampilan mencari tahu terhadap masalah yang dihadapi, serta membantu siswa dalam bekerjasama dalam tim atau kelompok. Guru juga berperan penting untuk dapat mendorong siswa aktif dalam membuat pertanyaan dan jawaban, sehingga tidak mungkin ada siswa yang mengantuk atau melamun pada saat pelajaran, memiliki tanggung jawab masing- masing untuk dapat memecahkan masalah, maka diharapkan masing-masing dari siswa tersebut dapat berkontribusi antara satu dengan yang lainnya

4) Sistem Pendukung

Untuk terlaksananya suatu proses pembelajaran sesuai tujuan dibutuhkan suatu Sistem Pendukung atau komponen Pendukung. Dalam model pembelajaran everyone is a teacher here. Sistem pendukung yang diperlukan adalah guru mempersiapkan rancangan pembelajaran berupa RPP, lembar kerja siswa, dan lembar evaluasi. Selain Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diperlukan juga sarana yang mendukung seperti alat tulis, meja dan juga kursi karena hal tersebut sangat penting untuk pelaksanaan proses pembelajaran dan kelancaran dalam belajar siswa maupun guru. Hal ini juga yang dapat mengukur keberhasilan siswa dalam materi yang akan disampaikan melalui Model pembelajaran everyone is a teacher here.

5) Dampak Instruksional Dan Dampak Pengiring

Dampak intruksional pada pembelajaran matematika materi segi banyak

beraturan dan segi banyak tidak beraturan menggunakan model pembelajaran

everyone is a teacher here bertujuan tercapainya pembelajaran yang telah

dirancang melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Sedangkan dampak

(15)

pengiring yang siswa peroleh dalam pembelajaran matematika materi pecahan menggunkan model pembelajaran everyone is a teacher here adalah meningkatkan setiap individu siswa berani mengemukakan pendapat melalui jawaban atas pertanyaan yang telah dibuatnya kemudian mampu mengemukakan pendapat melalui tulisan dan menyatakannya di depan kelas selanjutnya siswa lain berani mengemukakan pendapat dan menyatakan kesalahan jawaban dari kelompok lain sehingga siswa dapat terlatih dalam menyimpulkan persoalan yang sudah dipelajari.

Setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah serta dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya sehingga meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).

Gambar 2.1

Dampak Pengiring dan Intruksional Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Memahami pecahan

Menjelaskan berbagai bentuk pecahan Dampak

Intruksional

Rasa ingin tahu Mengidentifikasi berbagai bentuk

pecahan

Komunikatif

Mandiri Kritis Dampak Pengiring

Model Pembelajaran every one is a teacher here

Keterangan

Dampak Intruksional Dampak Pengiring

Aktif

(16)

2.5 Penerapan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Dalam Pembelajaran Matematika

Adapun sintak dalam menerapkan model pembelajaran everyone is a teacher here sebagai berikut :

Tabel 2.1 Langkah-langkah penerapan model pembelajaran everyone is a teacher here dengan dalam pembelajaran matematika sebagai berikut :

Kegiatan Guru Tahap Pelaksanaan Kegiatan Siswa 1. Memberikan pretestuntuk mengetahui

kemampuan awal siswa

2. Menjelaskan indikator yang harus dikuasai siswa.

3. Memotivasi siswa akan pentingnya materi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Persiapan pembelajaran. 1. Mengingat mengenai pentingnya mempelajari pecahan

2. Bersama siswa mengulang kembali pelajaran tentang pecahan

Menyampaikan kembali materi pembelajaran mempertanyakan bertanya jawab

1. Mulai membangun dan mengingat pemahaman tentang materi pecahan

3. Membagikan kartu kepada setiap siswa.

4. Meminta siswa untuk menuliskan sebuah pertanyaan tentang materi segiempat pada kartu yang telah diberikan.

5. Meminta siswa mengumpulkan kartu dan mengacak kartu tersebut.

6. Membagikan kembali kartu secara acak (tidak ada siswa yang mendapat kartu milik sendiri)

7. Meminta salah satu siswa untuk berperan menjadi guru.

Pembagian tugas 1. Siswa menerima kartu dan mulai berfikir.

2. Siswa berfikir untuk membuat pertanyaan dan menuliskan pertanyaan pada kartu.

3. Siswa mengumpulkan kartu yang telah ditulis pertanyaan.

4. Siswa menerima kartu dari teman mereka dan memikirkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada pada kartu soal.

5. Siswa dengan sukarela ditunjuk menjawab pertanyaan dan berperan menjadi guru.

6. Siswa lain boleh mengajukan pertanyaan, menambahkan jawaban, memberi saran.

7. Proses diskusi antar siswa terjalin

8. Terdapat 1 siswa menjadi panelis.

1. Membimbing dan melakukan pembenaran-pembenaran jika terjadi kesalahan yang dialami siswa 2. Memberi penguatan kembali tentang

materi yang dipelajari.

3. Membimbing siswa untuk membuat kesimpulan

Analisis, merumuskan , penguatandan

kesimpulan.

1. Melakukan pembenaran dari setiap penjelasan siswa.

2. Membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari

1. Memberikan posttest sebagai evalusi pembelajaran belajar matematika pada siswa

Evaluasi. 1. Mengerjakan posttest belajar matematika

Table 2.3 yang telah telah dipaparkan diatas dapat digunakan sebagai bahan

nantinya dalam pembuatan RPP. Langkah –langkah yanga terdapat dalam

(17)

kegiatan RPP akan disesuaikan dengan kegiatan guru dan kegiatan siswa yang telah dipaparkan dalam tabel diatas .

2.6 Kajian Penelitian Relevan

Penelitian yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini bertujuan untuk menguatkan hasil yang diperoleh tentang hasil belajar melalui model pembelajaran everyone is a teacher here.

Putu Desi Kumara yanti (2016) melakukan penelitian yang berjudul Penerapan Metode Everyone Is A Teacher Here (ETH) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Dalam Pembelajaran IPS Kelas VIII C SMP NEGERI 2 Sukasada tahun pelajaran 2016/2017. Pada siklus I pertemuan pertama rata- rata aktivitas belajar siswa 7,23 dan pertemuan kedua meningkat menjadi 8,58, namun pada pertemuan pertama dan kedua masih tergolong kategori cukup aktif.

Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama rata-rata aktivitas belajar siswa 9,32 dan pertemuan kedua meningkat menjadi 10,94, pertemuan pertama dan kedua tergolong kategori aktif. (2) pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa 72,42 dengan kategori cukup baik. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa 83,06 tergolong kategori baik

Kiki Aryaningrum (2015) melakukan penelitian yang berjudul pengaruh metode pembelajaran everyone is a teacher here terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS terpadu (geografi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Belitang III Oku Timur. hasil belajar siswa setelah diterapan metode pembelajaran everyone is a teacher here nilai rata-rata kelas eksperimen 81,76 lebih besar dari kelas kontrol 73,14. Dari analisis data nilai diperoleh data nilai berdistribusi normal kelas eksperimen 0,03 dan kelas kontrol sebesar 0,76 dan data homogen yaitu 0,782 ≤ 3,841 serta melalui perhitungan uji –t dapat dibuktikan H0 ditolak dan Ha diterima dengan melihat thitung≥ ttabel atau Ha diterima karena thitung≥

ttabelyaitu 6,18 ≥ 1,98 yang berarti ada pengaruh yang signifikan metode pembelajaran everyone is a teacher here dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi.

Novita Diah Ratnasari (2015) melakukan penelitian yang berjudul

Komparasi Metode Word Square Dengan Everyone Is A Teacher Here Terhadap

(18)

Hasil Belajar IPS Kelas III. Berdasarkan nilai rata-rata eksperimen I > nilai rata-rata kelas eksperimen II, yaitu 83.79310345 >79.44444444, dari penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Terdapat perbedaan hasil belajar IPS siswa yang diajarkan menggunakan metode pembelajaran Word Square dengan metode Everyone Is A Teacher Here pada kelas III MIM Srebegan Tahun Pelajaran 2015/2016, (2) Metode Everyone Is A Teacher Here lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan metode pembelajaran Word Square dalam meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas III di MIM Srebegan Tahun Pelajaran 2015/2016.

Astuti, Rini (2014) melakukan penelitian yang berjudul Peningkatan kualitas pembelajaran matematika menggunakan metode everyone is a teacher here berbantuan media interaktif, menemukan hasil: (1) keterampilan guru mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 25,5 (B) meningkat menjadi 31 (A); (2) aktivitas siswa pada siklus I mendapat skor 10,16 (B) menjadi 14,67 (A); (3) iklim pembelajaran pada siklus I mendapatkan skor 17 meningkat sebesar 1,5 menjadi 18,5; (4) kualitas materi yang tadinya mendapat skor 16,5 meningkat menjadi 19 dengan kategori A; (5) kualitas media mendapat kenaikan skor 2, pada siklus I mendapatkan skor 10 kemudian di siklus II mendapatkan skor 12 dengan kategori A; selain kelima indikator tersebut, (6) ketuntasan klasikal dari hasil belajar siswa pada kegiatan pra siklus sebesar 52,8% di siklus I meningkat menjadi 70,5% dan di siklus II menjadi 86%. Indikator keberhasilan ditunjukkan dengan skor pada indikator yang telah disebutkan sekurang-kurangnya baik, serta 80% siswa mengalami ketuntasan belajar individual dengan nilai minimal 62. Ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan yang ditetapkan telah terpenuhi sehingga penelitian ini dinyatakan berhasil.

Lasmiatun (2012) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Penerapan

Metode Belajar Aktif Everyone is a Teachare Here (Eth) dalam Metode

Pembelajaran Langsung terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII

SMPN 34 Kecamatan Dayun Kabupaten Siak Sri Indrapura. Hasil analisis data

tersebut, diambil kesimpulan bahwa penerapan metode everyone is a teacer here

(ETH) dalam metode pembelajaran langsung dapat meningkatkan hasil belajar

(19)

matematika siswa sebesar 40% dan terdapat pengaruh yang signifikan dalam hasil belajar matematika siswa. Ini dapat dilihat dari perbedaan mean pada kelas eksperien sebesar 75 dan mean pada kelas control sebesar 65

Musnaeni (2016) melakukan penelitaian yang berjudul Pembelajaran Everyone Is Teacher Here Dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa; dari hasil analisis data deskriptif diperoleh bahwa kelas kontrol dan kelas eksperimen sebelum perlakuan berkategori kurang dengan rata-rata = 57,14 dan 55,73. Sedangkan setelah perlakuan diperoleh bahwa kelas kontrol berada pada kategori cukup dengan rata-rata = 71,81 dan kelas eksperimen pada kategori baik dengan rata-rata = 78,73. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh dari segi kualitatif dan dari segi kuantitatif dikarenakan terjadi perbedaan kategori hasil belajar dan nilai rata-rata siswa, dengan kata lain ada pengaruh penerapan metode pembelajaran everyone is teacher here terhadap hasil belajar matematika siswa di SMP Muhammadiyah Palopo

Rahayu, Yuni (2015) melakukan penelitian yang berjudul Penerapan Model Everyone Is A Teacher Here untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS pada Siswa Kelas V SD Negeri Tumiyang Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata tes awal 53,5 dengan persentase ketuntasan belajar klasikal 10%. Siklus I, performansi guru 82,67 kategori AB, persentase aktivitas belajar siswa 71%, rata-rata hasil belajar 68,7 dengan ketuntasan belajar klasikalnya 55%, dan perolehan nilai rata-rata penilaian afektif 3,23 kategori B+.

Siklus II, nilai performansi guru 90,42 dengan kategori A, aktivitas belajar 86,5%, rata-rata nilai hasil belajar kognitif 86 dengan ketuntasan belajar klasikal 100%.

Nilai rata-rata penilaian afektif 3,51 dengan kategori A-. Disimpulkan model Everyone Is A Teacher Here dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS materi Peristiwa Sekitar Proklamasi

Herningtyas (2013) yang berjudul Implementasi Metode Everyone Is A

Teacher Here Berbantuan Media Kliping dalam Meningkatkan Kualitas

Pembelajaran PKn pada Siswa Kelas V SDN Tugurejo 01. Berdasarkan hasil

penelitian, model Everyone Is A Teacher Here dapat meningkatkan hasil belajar

siswa pada mata pelajaran PKn. Hasil penelitian menunjukkan data sebagai

(20)

berikut: (1) Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh rata-rata skor 42,36 kategori baik, siklus II meningkat menjadi 49,96 kategori sangat baik; (2) Ketuntasan belajar siswa siklus I yaitu 59%, kemudian siklus II ketuntasan meningkat menjadi 82,3%. Nilai rata-rata kelas mencapai 77, 42.

Hendra (2013) melakukan penelitian tentang Everyone Is A Teacher Here menunjukkan hasil terdapat perbedaan antara siswa yang diberikan pembelajaran aktif tipe Everyone Is A Teacher Here dengan siswa yang diberikan pembelajaran konvensional yaitu thitung = 2,85 > ttabel = 2,00. Perolehan nilai rata-rata hasil belajar yang diberikan pembelajaran aktif Everyone Is A Teacher Here lebih besar daripada siswa yang diberikan pembelajaran konvensional.

Yulianto (2012) dalam penelitian yang berjudul Penerepan Pembelajaran Aktif Teknik Everyone Is A Teacher Here Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Siswa Kelas VIII B SMP N 4 Ngaglik, Sleman; hasilnya menunjukkan bahwa pada siklus I rata-rata motivasi kelas siswa mencapai 64,2%

atau meningkat 3,8% dari angket sebelum tindakan. Pada siklus II rata-rata motivasi belajar kelas mengalami peningkatan 7,9% sehingga mencapai 72,1%.

Pada siklus III rata-rata motivasi kelas adalah 78,3% atau mengalami peningkatan sebesar 6,2%.

Fikriani (2017) melakukan penelitian yang berjudul Penerapan Metode

Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Terhadap Hasil Belajar Matematika

Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Banuhampu. Berdasarkan data yang diperoleh

dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji lilliefors, ternyata dari uji

normalitas yang dilakukan terhadap galat dari sebaran data X dan sebaran data Y

berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan analisis koefisien korelasi dan

koefisien determinasi ternyata diperoleh korelasi (r) yaitu 0,97 sedangkan

koefisien determinasi (r2 ) yaitu 0,9409 dimana berdasakan kriteria pengujian

terdapat korelasi sangat positif. Ini dapat diartikan bahwa 94,09% pengujian

hipotesis diterima pada taraf 95%. Terakhir dengan melakukan pengujian

hipotesis, dari perhitungan diperoleh thitung 21,487 > ttabel= 2,042 yang berarti

hipotesis diterima. Maka berdasarkan hasil perhitungan dapat disimpulakan

terdapat pengaruh pembelajaran dengan metode everyone is a teacher here.

(21)

Anita, J. I. P., & Mahfud (2014) meneliti tentang Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Daur Air Melalui Metode Everyone Is A Teacher Here, hasilnya menunjukkan bahwa penerapan metode Everyone Is A Teacher Here dapat meningkatkan pemahaman konsep daur air pada siswa kelas V SDN Premulung No. 94 Tahun Pelajaran 2013/2014

Hadi Mulyono (2014) melakukan penelitian yang berjudul Penggunaan Model pembelajaran Kooperatif Tipe Everyone Is A Teacher Here Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep IPS Materi Penjajahan Belanda. Pada kondisi awal sebelum dilaksanakan tindakan persentase ketuntasan klasikal sebesar 36,36%, siklus I persentase ketuntasan klasikal sebesar 68,18%, siklus II persentase ketuntasan klasikal meningkat sebesar 90,90%.Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Everyone Is A Teacher Here dapat meningkatkan pemahaman konsep penjajahan belanda siswa kelas V SDN 02 Klodran tahun ajaran 2013/2014.

Laniasari (2016) melakukan penelitian yang berjudul Eksperimen Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Everyone Is Teacher Here dan Time Token Terhadap Kepercayaan Diri dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII SMP N 17 Purworejo Tahun Pelajaran 2015/2016. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri dan prestasi belajar siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Everyone Is teacher here lebih baik dari pada kepercayaan diri dan prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran Time Token.

Suryani (2016) melakukan penelitian yang berjudul Everyone is A Teacher Here: Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPA Kelas IV SD. Hasilnya pada siklus I Siswa tuntas sejumlah 20 siswa (80%), sedangkan pada siklus II sejumlah 22 siswa (88%), terjadi kenaikan sebesar 8% atau sebanyak 2 siswa

Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, dapat memberikan gambaran

peneliti untuk melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan penggunaan

model pembelajaran everyone is a teacher here dalam pembelajaran

matematika. Selain itu ketiga penelitian yang telah disebutkan diatas juga terbukti

menguatkan teori bahwa dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan

(22)

model pembelajaran everyone is a teacher here dapat meningkatkan hasil belajar siswa, demikian pula dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu menggunakan model pembelajaran everyone is a teacher here lebih besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.

2.7 Kerangka Pikir

Masalah yang ada pada pembelajaran matematika adalah pembelajarannya yang terkesan rumit dan menjadi momok bagi siswa. Dengan penyajian di kelas yang kurang menarik dapat membuat siswa merasa bosan jika guru menggunakan metode berceramah terus menerus dan mendominasi kegiatan pembelajaran.

Kurangnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dikarenakan guru kurang memotivasi siswa untuk berani bertanya, menyampaikan pendapat, dan untuk berdiskusi bersama teman. Guru kurang mendesain kegiatan pembelajaran yang inovatif, yang dapat membuat siswa aktif belajar dan terbuka dalam menyampaikan pendapat didalam kelompok belajar, terutama kelompok berperan dalam pemecahan masalah bersama dan kegiatan belajar akan menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, pengukuran hasil belajar yang digunakan yaitu berupa teknik tes dan teknik nontes, tetapi kedua teknik dinilai secara terpisah, sehingga hasil belajar hanya diperoleh dari hasil tes saja. Hal tersebut membuat hasil belajar siswa rendah.

Model pembelajaran everyone is a teacher here dengan pendekatan

saintifik juga sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan

dan secara individual. Dengan model pembelajaran ini, siswa yang selama ini

tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif (Zaeni,

2008:60). Dalam pelaksanaan pembelajaran melalui model pembelajaran everyone

is a teacher here dengan pendekatan saintifik dikelas, mula-mula siswa

menyimak tujuan dan tugas pembelajaran yang disampaikan oleh guru kemudian

guru membagikan kertas kepada setiap siswa dan mintalah mereka untuk

menuliskan sebuah pertanyaan tentang materi pokok yang telah atau sedang

dipelajari, atau topik khusus yang ingin mereka diskusikan dalam kelas

selanjutnya guru meminta siswa mengumpulkan kembali kertas-kertas tersebut,

lalu mengocok dan membagikan kembali secara acak kepada masing-masing

(23)

siswa dan diusahakan pertanyaan tidak kembali kepada yang bersangkutan setelah itu siswa diminta membaca dan memahami pertanyaan di kertas masing-masing, sambil memikirkan jawabannya dilanjutkan guru mengundang sukarelawan untuk membacakan pertanyaan yang ada di tangannya (untuk menciptakan budaya bertanya, mengupayakan memotivasi siswa untuk angkat tangan bagi yang siap membaca-tanpa langsung menunjuknya) kemudin dilanjutkan meminta siswa lain memberikan respon (jawaban/penjelasan) atas pertanyaaan atau permasalahan tersebut, kemudian meminta kepada teman sekelasnya untuk memberi pendapat atau melengkapi jawabannya selanjutnya guru memberikan apresiasi (pujian) terhadap setiap jawaban/tanggapan siswa agar termotivasi dan tidak takut salah kemudian guru mengembangkan diskusi secara lebih lanjut dengan cara siswa bergantian membacakan pertanyaan di tangan masing-masing sesuai waktu yang tersedia. Penilaian yang dilakukan oleh guru melalui model pembelajaran everyone is a teacher here dengan pendekatan saintifik dalam penelitian ini hasil belajar diukur melalui tes (tes obyektif pilihan ganda) dan nontes (lembar observasi).

Berdasarkan uraian diatas, kerangka berpikir pada penelitian ini dapat

digambarkan melalui gambar 2.1 skema peningkatan hasil belajar matematika

melalui model pembelajaran everyone is a teacher here dengan pendekatan

saintifik sebagai berikut.

(24)

Gambar 2.2 Skema Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here

Pembelajara Konvensional

Siswa merasa bosan, jenuh dalam PBM Siswa tidak aktif dalam pembelajaran

Guru menggunakan metode ceramah, Mencatat, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas dari guru

Materi Pecahan

Peningkatkan Hasil Belajar Matematika

Langkah Model Pembelajaran everyone is a teacher here 1. Persiapan pembelajaran.

Mengerjakan pretest. Mengingat mengenai pentingnya mempelajari pecahan

2. Menyampaikan kembali materi pembelajaran.

Mulai membangun dan mengingat pemahaman tentang materi pecahan

3. Pembagian tugas.

Siswa menerima kartu dan mulai berfikir.

Siswa berfikir untuk membuat pertanyaan dan menuliskan pertanyaan pada kartu.

Siswa mengumpulkan kartu yang telah ditulis pertanyaan.

Siswa menerima kartu dari teman mereka dan memikirkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada pada kartu soal.

Siswa dengan sukarela ditunjuk menjawab pertanyaan dan berperan menjadi guru.

Siswa lain boleh mengajukan pertanyaan, menambahkan jawaban, memberi saran.

Proses diskusi antar siswa terjalin

Terdapat 1 siswa menjadi panelis.

4. Analisis, merumuskan , penguatan dan kesimpulan

Melakukan pembenaran dari setiap penjelasan siswa.

Membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari 5. Evaluasi

Mengerjakan posttest dan angket minat belajar matematika

Memahami pecahan

Menjelaskan berbagai bentuk pecahan

Mengidentifi kasi berbagai bentuk pecahan

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Kritis

Mandiri

Aktif

(25)

2.8 Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pikir yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan hipotesis penelitian ini sebagai berikut :

1. Langkah-langkah model pembelajaran everyone is a teacher here dalam meningkatkan hasil belajar matematika adalah tahap persiapan pembelajaran, menyampaikan kembali materi pembelajaran, pembagian tugas, analisis, merumuskan , penguatan dan kesimpulan dan evaluasi.

2. Penggunaan model pembelajaran everyone is a teacher here dapat

meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 4 SDN Klepu 03

Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada media B dianggap tidak sesuai untuk proses suspensi sel pada eksplan kotiledon biji galur mutan tanaman jarak pagar, dikarenakan pada pembentukan spot hijau,

Program bantuan pemagangan siswa MA di Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) tahun anggaran 2011 merupakan kelanjutan dari program bantuan serupa yang telah mulai dilaksanakan pada

(5) Penyampaian keputusan penjatuhan hukuman secara tertutup sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikecualikan dan dapat diinformasikan kepada publik oleh Jaksa Agung

Seminar Nasional Peranan Konservasi Flora Indonesia Dalam Mengatasi Dampak Pemanasan Global telah diselenggarakan pada tanggal 14 Juli 2009 di Kebun Raya “Eka Karya” Bali -

::luas kelainan yang di lihat bisa dimana saja dalam luas kelainan yang di lihat bisa dimana saja dalam paru,luas kelainan tidak melebihi satu lobus,bisa paru,luas kelainan

§ Memeriksa ulang semua pecahan animasi pada camera sheet, yang menunjukkan masalah atau kesalahan dengan personil yang sesuai dengan teliti § Ujian tulis § Ujian lisan §

Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Dumai (2009), cakupan keluarga yang menggunakan sumur gali sebagai akses air bersih yaitu 47,52% termasuk didalamnya pesantren, dan dari 8

Diperlukan adanya upaya analisis mengenai kondisi faktual bagaimana proses pembebasan lahan pembangunan Bendungan Jatigede, kemudian faktor-faktor apa saja yang