• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFISIENSI BUDIDAYA KEPITING BAKAU Scylla serrata CANGKANG LUNAK PADA METODE PEMOTONGAN CAPIT DAN KAKI JALAN, POPEY, DAN ALAMI EKO HARIANTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFISIENSI BUDIDAYA KEPITING BAKAU Scylla serrata CANGKANG LUNAK PADA METODE PEMOTONGAN CAPIT DAN KAKI JALAN, POPEY, DAN ALAMI EKO HARIANTO"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

1

EFISIENSI BUDIDAYA

KEPITING BAKAU Scylla serrata CANGKANG LUNAK

PADA METODE PEMOTONGAN CAPIT DAN KAKI JALAN,

POPEY, DAN ALAMI

EKO HARIANTO

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

2

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

EFISIENSI BUDIDAYA KEPITING BAKAU Scylla serrata CANGKANG LUNAK PADA METODE PEMOTONGAN CAPIT DAN KAKI JALAN, POPEY DAN ALAMI

adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, April 2012

EKO HARIANTO C14080069

(3)

3 ABSTRAK

EKO HARIANTO. Efisiensi Budidaya Kepiting Bakau Scylla serrata Cangkang Lunak pada Metode Pemotongan Capit dan Kaki Jalan, Popey dan Alami. Dibimbing oleh TATAG BUDIARDI dan IIS DIATIN

Jenis kepiting unggulan dalam pasar ekspor adalah kepiting bakau Scylla

serrata cangkang lunak. Kepiting bakau cangkang lunak adalah kepiting bakau

fase ganti kulit (moulting). Metode yang digunakan dalam proses budidaya kepiting bakau cangkang lunak adalah metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat efisiensi tertinggi diantara metode-metode tersebut melalui kajian derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, jumlah kepiting molting terhadap waktu, waktu kepiting molting, pertumbuhan biomassa serta analisis usahanya. Benih yang digunakan kepiting bakau berukuran panjang rata-rata 7,49±0,21 cm dan bobot rata-rata 110,52±2,70 g. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata derajat kelangsungan hidup semua perlakuan berkisar antara 88,89-92,59% (P>0,05). laju pertumbuhan bobot harian tertinggi terdapat pada perlakuan mutilasi yakni sebesar 2,92% (P<0,05). Ganti kulit tercepat terdapat pada metode pemotongan capit dan kaki jalan dengan rata-rata kepiting molting pada hari ke-14, sedangkan waktu molting tertinggi terdapat pada malam hari yakni pukul 22.00-24.00. Analisis biaya ketiga perlakuan diperoleh keuntungan masing-masing sebesar Rp 953,866,469,57; Rp 715,111,865,97 dan Rp 792,038,018,61; BEP (unit) sebesar 1.275 ekor, 1.298 ekor, dan 1.298 ekor; BEPp sebesar Rp 111,097,052; Rp 107,424,805; dan Rp 106,211,729; HPP sebesar Rp 26.285; Rp 19.626; dan Rp 18.288 serta payback

period (PP) selama 0,04 tahun, 0,09 tahun, dan 0,08 tahun. Berdasarkan ketiga

perlakuan menunjukkan bahwa, perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap derajat kelengsungan hidup (P>0,05), namun berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot harian (P<0,05). Secara umum, produksi kepiting bakau cangkang lunak perlakuan alami lebih efisien dibandingkan dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan serta popey, baik dilihat dari parameter budidaya maupun parameter ekonomi

Kata kunci : Kepiting bakau cangkang lunak, produksi, molting, pemotongan capit dan kaki jalan, popey, alami

(4)

4 ABSTRACT

EKO HARIANTO. The Efficiency of Mangrove Crab Scylla serrata Soft Shells Cultivation on Cutting Claws and Foot Paths Methods, Popey and the Natural. Supervised by TATAG BUDIARDI and IIS DIATIN

Types of crab leading export market is the mangrove crab Scylla serrata soft shell. Soft shell mud crab is a crab mangrove swamp phase moult (moulting). The methods used in the process of cultivation a soft shell mud crab is cutting of claws and Foot Paths methods, popey, and natural. The purpose of this research to determine the level of the highest efficiency among these methods by analyzing the survival rate of survival, growth rate, the amount of time molting crabs, crab molting time, growth of biomass as well as cost analysis. The seeds used was 7.49±0.21 cm in length and 110.52 ± 2.70 g in weight. The results showed that the average of survival rate for all treatment are 88,89-92,59% (P>0,05). The highest growth rate was in the treatment of cutting claws foot paths at 2.92% (P<0,05). Moult in the fastest method of cutting claws foot paths with an average crab molting on the 14th day, whereas the highest molting time there at night which is at 22.00-24.00. From cost analysis of third treatment obtained profits each to IDR 953,866,469.57; IDR 715,111,865.97 and IDR 792,038,018.61; BEPunit 1.275 unit, 1.298 unit, and 1.298 unit; BEPp IDR 111,097,052; IDR 107,424,805; and IDR 106,211,729 production cost IDR 26.285; IDR19.626; and IDR 18.288;

payback period (PP) for 0.04 years, 0.09 years and 0.08 years. Based on the three

treatments showed that treatment not a significanttly different (P> 0.05), but significantly different with growth rate of daily weight (P <0.05). In general, the production of soft shell mangrove crab natural treatment is more efficient than cutting of claws and foot path treatment and popey, whether viewed from the cultivation parameters and economic parameters.

Key words: Soft shell mangrove crab, molting, cutting of claws and foot path, popey, natural.

(5)

5

EFISIENSI BUDIDAYA

KEPITING BAKAU Scylla serrata CANGKANG LUNAK

PADA METODE PEMOTONGAN CAPIT DAN KAKI JALAN,

POPEY, DAN ALAMI

EKO HARIANTO

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya

Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Institut pertanian Bogor

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)

6

(7)

7 Judul Skripsi : Efisiensi Budidaya Kepiting Bakau Scylla Serrata Cangkang Lunak pada Metode Pemotongan Capit dan Kaki Jalan, Popey, dan Alami

Nama Mahasiswa : Eko Harianto Nomor Pokok : C14080069

Disetujui

Dosen Pembimbing I

Dr. Ir. Tatag Budiardi, M.Si. NIP. 19631002 199702 1 001

Dosen Pembimbing II

Ir. Iis Diatin, M.M. NIP. 19630908 199002 2 001

Mengetahui:

Ketua Departemen Budidaya Perairan

Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc. NIP. 19591222 1986011 001

(8)
(9)

9

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2011 sampai dengan bulan agustus 2011 di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Jawa Barat, dengan judul “Efisiensi Budidaya Kepiting Bakau Scylla serrata Cangkang lunak pada Metode Pemotongan Capit dan Kaki Jalan, Popey dan Alami.”

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Tatag Budiardi, M.Si. dan Ir. Iis Diatin, M.M. selaku dosen pembimbing, serta Dr. Ir. Dedi Jusadi, M.Sc. selaku dosen pembimbing akademik atas segala bimbingannya selama proses akademik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Eddy Supriyono, M.Sc. selaku dosen penguji atas masukan dan sarannya kepada penulis. Penulis juga menyampaikan penghargaan kepada Kepala BLUPPB Karawang dan Staf yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di lokasi tersebut. Selain itu juga penulis menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Daerah Muara Enim atas beasiswa yang telah diberikan kepada penulis. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu dan semua keluarga atas segala doa dan dukungan selama ini, serta teman-teman BDP 45 atas segala bantuan, kerjasama dan persahabatan yang telah diberikan selama ini.

Bogor, April 2012

(10)

10

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sumatera Selatan pada tanggal 27 Februari 1990 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari ayah Irpani, S.Pdi. dan ibu Rindania.

Pendidikan formal yang telah dilalui penulis adalah SMAN 3 Muara Enim dan lulus tahun 2008. Pada tahun yang sama, penulis diterima di IPB melalui jalur BUD ( Beasiswa Utusan Daerah) dan memilih mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama perkuliahan, penulis aktif pada beberapa organisasi, diantaranya Badan Ekskutif Mahasiswa FPIK, Lembaga Dakwah Kampus IPB, Forum Komunikasi Muslim Perikanan (FKM-C) dan UKM Voli IPB. Untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan terhadap ilmu budidaya perikanan, penulis pernah mengikuti kegiatan praktek kerja lapang di BLUPPB Karawang (2011) dengan komoditas kepiting bakau cangkang lunak. Penulis juga pernah menjadi asisten beberapa mata kuliah, diantaranya adalah Dasar-dasar Akuakultur pada tahun 2010/2011 dan 2011/2012, Fisiologi Hewan Air pada tahun 2010/2011, dan 2011/102, Enginering Akuakultur 2011/2012 serta Pendidikan Agama Islam pada tahun 2010/2011 dan 2011/2012. Penulis juga pernah meraih prestasi menjadi Mahasiswa Berprestasi ke-3 Departemen Budidaya Perairan pada tahun 2010/2011.

Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan penulis dengan menulis skripsi yang berjudul “Efisiensi Budidaya Kepiting Bakau Scylla serrata Cangkang Lunak pada Metode Pemotongan Capit dan Kaki Jalan, Popey dan Alami”.

(11)

11

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... ... i

DAFTAR TABEL ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

I. PENDAHULUAN ... 1

II. BAHAN DAN METODE ... 3

2.1 Waktu dan Tempat Peneltian ... 3

2.2 Rancangan Percobaan ... 3

2.3 Prosedur Peneltian ... 4

2.3.1 Persiapan Wadah ... 4

2.3.2 Penebaran Benih... 5

2.3.3 Pemberian Pakan ... 7

2.3.4 Pengelolaan Kualitas Air... 7

2.4 Parameter Peneltian ... 7

2.4.1 Derajat Kelangsungan Hidup ... 8

2.4.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian ... 8

2.4.3 Jumlah Kepiting Molting Terhadap Waktu ... 8

2.4.4 Waktu Kepiting Molting ... 8

2.4.5 Pertumbuhan Biomassa ... 9

2.4.6 Parameter Kualitas Air ... 9

2.4.7 Perhitungan Ekonomi ... 9

2.5 Analisis Data... 11

III. HASIL DAN PEMBAHASAN... 12

3.1 Hasil ... 12

3.1.1 Derajat Kelangsungan Hidup ... 12

3.1.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian ... 13

3.1.3 Jumlah Kepiting Molting Terhadap Waktu ... 13

3.1.4 Waktu Kepiting Molting ... 14

3.1.4 Pertumbuhan Biomassa ... 15

3.1.5 Kualitas Air ... 16

3.1.6 Efisiensi Ekonomi ... 17

3.2 Pembahasan ... 20

IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 28

4.1 Kesimpulan ... 28

4.2 Saran ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 29

(12)

12

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Parameter kualitas air, satuan, dan alat ukur ... 9 2. Nilai kualitas air selama pemeliharaan kepiting bakau cangkang lunak pada masing-masing perlakuan ... . 16 3. Analisis usaha budidaya kepiting bakau cangkang lunak menggunakan metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... . 19

(13)

13

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Diagram alir kegiatan penelitian ... 4

2. Kurungan basket plastik sebagai wadah pemeliharan kepiting dengan metode popey dan alami ... 5

3. Kurungan bambu sebagai wadah pemeliharann kepiting dengan metode pemotongan capit dan kaki jalan ... 5

4. Kepiting bakau (Scylla serrata) dan bagian-bagiannya ... 6

5. Kepiting bakau alami (belum mengalami proses pemotongan) ... 6

6. Pemotongan capit dan kaki jalan ... 6

7. Benih kepiting bakau cangkang lunak yang sudah dihilangkan capit dan dan keempat kaki jalannya ( Metode pemotongan capit dan kaki jalannya) ... 6

8. Benih kepiting bakau cangkang lunak yang sudah dihilangkan keempat kaki jalannya ( metode popey) ... 6

9. Derajat kelangsungan hidup kepiting bakau cangkang lunak dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... 12

10. Laju pertumbuhan harian bobot kepiting bakau cangkang lunak dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey dan alami ... 13

11. Jumlah kepiting molting terhadap waktu dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... 14

12. Waktu kepiting molting dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... 15

13. Pertumbuhan biomassa kepiting bakau cangkang lunak per tahun dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... 15

(14)
(15)

15

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Data kuantitatif kepiting bakau sebelum dan sesudah molting pada

perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... 32 2. Data kuantitatif laju pertumbuhan bobot harian (%/hari) dan derajat

kelangsungan hidup (SR) kepiting bakau pada metode pemotongan

capit dan kaki jalan, popey, dan alami ... 33

3. Analisis statistik parameter laju pertumbuhan bobot harian (%/hari) kepiting bakau Scylla serrata pada perlakuan pemotongan capit dan

kaki jalan, popey, dan alami ... 34 4. Analisis statistik parameter derajat kelangsungan hidup kepiting bakau Scylla serrata pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey,

dan alami selama pemeliharaan ... 35 5. Data jumlah kepiting molting terhadap waktu pemeliharaan pada

perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey dan alami ... 36 6. Data jumlah kepiting molting terhadap waktu molting pada

perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey dan alami ... 36 7. Jadwal produksi kepiting bakau cangkang lunak dalam satu tahun

17 siklus dengan metode pemotongan capit dan kaki jalan ... 37 8. Perhitungan nilai BEP dan jumlah karamba, kurungan plastik yang

digunakan ... 38 9. Perhitungan analisis usaha ... 42 10. Kondisi kualitas air selama pemeliharan ... 48

(16)

16

I. PENDAHULUAN

Kepiting merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi. Pada tahun 2000, ekspor kepiting mencapai 12.381 ton dan meningkat menjadi 22.726 ton pada 2007. Namun demikian, kenaikan ekspor ini tidak diimbangi dengan peningkatan populasi kepiting tersebut (Siahainenia, 2008). Seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen, produksi kepiting juga dituntut untuk berkesinambungan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi perikanan budidaya pada tahun 2014 sebesar 16,8 juta ton atau meningkat 353% dibandingkan dengan produksi 2009 yaitu sebesar 4,78 juta ton. Guna meningkatkan produksi perikanan budidaya pada tahun 2010, KKP menetapkan sembilan komoditas unggulan termasuk jenis-jenis kepiting. Kepiting sendiri masuk ke dalam komoditas lainnya dalam target produksi KKP dengan target peningkatan sebesar 188% sampai tahun 2014 (KKP, 2010).

Salah satu jenis kepiting yang memiliki prospek yang terus meningkat adalah kepiting bakau (Scylla serrata). Kepiting bakau tersebut hidup pada habitat perairan pantai, khususnya di daerah hutan mangrove. Kepiting bakau memiliki potensi nilai ekonomis penting di wilayah Indo-Pasifik, terutama kepiting yang matang gonad atau sudah bertelur, dewasa dan gemuk (Kanna, 2002). Sulaiman dan Hanafi (1992) menyatakan bahwa daging kepiting mengandung 65,72% protein dan 0,88% lemak, sedangkan ovarium (telur) kepiting mengandung 88,55% protein dan 8,16% lemak.

Kepiting bakau cangkang lunak adalah kepiting bakau fase ganti kulit (moulting) atau kepiting lemburi. Kepiting dalam fase ini mempunyai keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak (soft shell mud crab) sehingga dapat dikonsumsi secara utuh (Anonim, 2009). Pengembangan budidaya kepiting bakau cangkang lunak ini merupakan diversifikasi produksi untuk menjawab tantangan pasar luar negeri. Salah satu kendala yang dialami dalam produksi kepiting bakau cangkang lunak adalah metode yang digunakan memoltingkan kepiting tersebut untuk proses percepatan ganti kulit.

(17)

17 Berbagai cara telah dicoba untuk mempercepat proses ganti kulit seperti rangsangan melalui manipulasi makanan, lingkungan, penambahan hormon ekdisteroid, dan teknik pemotongan capit dan kaki jalan (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Hingga saat ini teknik pemotongan capit dan kaki jalan merupakan teknik yang paling praktis yang dapat diterapkan secara massal.

Teknik pemotongan capit dan kaki jalan merupakan salah satu cara yang masih digemari oleh para pembudidaya kepiting bakau cangkang lunak untuk mempercepat ganti kulit. Ada beberapa cara dalam pemotongan capit dan kaki jalan ini, yaitu pemotongan semua organ kaki dan capit atau lebih dikenal dengan metode mutilasi, pemotongan bagian kaki jalannya saja, dan ada juga yang dibudidayakan secara alami (Nurdin dan Armando, 2010)

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat efisiensi produksi kepiting bakau cangkang lunak tertinggi diantara metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami melalui kajian derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian, jumlah kepiting molting terhadap waktu, waktu kepiting molting serta analisis usahanya.

(18)

18 II. METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2011. Penelitian dilaksanakan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Jawa Barat.

2.2 Rancangan Percobaan

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari :

Perlakuan A: kepiting yang tidak dipotong capit dan kaki jalan (alami) Perlakuan B: kepiting yang dipotong sebagian yakni pada kaki jalan (popey) Perlakuan C: kepiting yang dipotong seluruh capit dan kaki jalan (mutilasi)

Model percobaan yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti rumus Steel dan Torrie (1993) yaitu :

Yij = μ + σi + εij Keterangan :

Yij = Data hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Nilai tengah dari pengamatan

σi = Pengaruh aditif dari perlakuan ke-i

εij = Pengaruh galat hasil percobaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Uji hipotesis diperlukan untuk menguji apakah perlakuan memberikan pengaruh atau tidak terhadap derajat kelangsungan hidup (survival rate, SR) dan laju pertumbuhan bobot harian (specific growth rate, SGR) yang dinyatakan dalam model uji (Hanafiah 2000) :

H0 = Perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami tidak

memberikan pengaruh terhadap parameter yang diamati, yaitu SR dan SGR.

H1 = Perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami memberikan

(19)

19 2.3 Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dengan mengikuti rangkaian kegiatan seperti tercantum pada diagram Gambar 1.

Gambar 1. Diagram alir kegiatan penelitian

2.3.1 Persiapan wadah

Penelitian dilakukan di dalam wadah karamba berupa kotak-kotak bambu dan plastik yang diapungkan atau ditenggelamkan sedalam 15 cm kedalam air tambak berukuran 123 m x 37 m (Gambar 2 dan 3). Tahap persiapan lahan tambak secara berurutan meliputi pengeringan, pengapuran dan pengisian tambak dengan air sampai ketinggian 100-150 cm. Setelah itu dilakukan kegiatan penurunan karamba sebagai media pemeliharaan kepiting bakau sesuai dengan metode yang telah ditetapkan. Jenis wadah yang digunakan dalam produksi kepiting bakau cangkang lunak tertera pada Gambar 2 dan 3.

PERSIAPAN WADAH PEMELIHARAAN a. Persiapan tambak

b. Persiapan keranjang/wadah pemeliharaan kepiting c. Peletakan wadah pemeliharaan pada tambak

PERSIAPAN HEWAN UJI a. Pengukuran panjang dan bobot tubuh

b. Pemotongan capit dan kaki jalan sesuai perlakuan

PEMELIHARAAN a. Pemberian pakan

b. Pengelolaan kualitas air c. Sampling

(20)

20

Gambar 2. Karambaplastik Gambar 3. Karamba bambu sebagai

sebagai wadah wadah pemeliharaan pemeliharaan kepiting dengan kepiting dengan metode

metode popey dan alami pemotongan capit dan kaki jalan

2.3.2 Penebaran Benih

Benih yang digunakan dalam penelitian sebanyak 27 ekor untuk setiap perlakuannya dengan panjang rata-rata 7,49±0,21 cm dan bobot rata-rata 110,52±2,70 g yang diukur menggunakan penggaris dan timbangan. Benih berasal dari daerah Muara Gembong dan Pamanukan, Karawang, Jawa Barat. Padat penebaran yang digunakan untuk perlakuan pemotongan semua capit dan kaki jalan, popey, dan alami yaitu 15 ekor/m2. Setelah disortir benih kepiting tersebut dipotong sesuai perlakuan.

Pemotongan capit dan kaki jalan dilakukan menurut Nurdin dan Armando (2010), yaitu dengan memotong semua bagian capit dan kaki jalan menggunakan gunting pada ujung sehingga pangkal kaki jalan patah dengan sendirinya. Perlakuan alami, benih kepiting tidak dilakukan pemotongan baik kaki jalan maupun capit sehingga pemeliharaan kepiting dilakukan secara alami (Gambar 5). Untuk perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, kaki renang kepiting bakau tersebut tidak dipotong (Gambar 7). Metode popey dilakukan dengan memotong semua kaki jalan kepiting, sedangkan capit dan kaki renangnya dibiarkan (Gambar 8). Penebaran benih dilakukan pada waktu sore hari dan setelah air di dalam lahan tambak didiamkan selama 5-7 hari untuk menstabilkan kondisi air. Pada Gambar 4 tertera bagian kepiting yang berkaitan dengan perlakuan dan pada

(21)

21 Gambar 5 sampai dengan Gambar 8 tertera proses pemotongan kepiting bakau cangkang lunak sesuai dengan perlakuan.

Gambar 4. Kepiting bakau (Scylla serrata) dan bagian-bagiannya

Gambar 5. Kepiting bakau alami (belum mengalami proses pemotongan)

Gambar 6. Pemotongan capit dan kaki jalan

Gambar 7. Benih kepiting bakau cangkang lunak yang sudah dihilangkan capit dan keempat kaki jalannya ( Metode

pemotongan

capit dan kaki jalan)

Gambar 8. Benih kepiting bakau cangkang lunak yang sudah dihilangkan keempat kaki jalannya (metode popey)

Capit

Karapas Kaki jalan

(22)

22 2.3.3 Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan berupa ikan rucah (ikan pepetek, ikan sebelah, ikan selar dan lain-lain) yang telah dipotong-potong. Ikan rucah tersebut didapatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pakan diberikan dengan frekuensi satu kali sehari, yaitu sore hari antara pukul 15.00-16.00 WIB sesuai dengan pendapat Cholik et

al. (2005). Jumlah pakan yang diberikan sekitar 2-4% dari biomassa. Pemberian

pakan dilakukan setelah dua hari dari waktu penebaran. Hal ini disebabkan benih kepiting yang baru dipotong masih berada pada tingkat stres yang tinggi sehingga nafsu makan rendah, bahkan cenderung tidak mau makan.

2.3.4 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air diperlukan agar kondisi air sesuai dengan kebutuhan untuk kehidupan kepiting selama pemeliharaan, antara lain dengan pergantian air. Jumlah air yang dibuang saat ganti air berkisar antara 25-30% dari total volume air tambak dan umumnya dilakukan pada hari 10 sampai hari ke-15. Hal ini sesuai dengan pendapat Rangka dan Sulaeman (2010) pergantian air sejak hari ke-10 sampai hari ke-15 dengan tingkat salinitas yang berbeda dapat mempercepat proses ganti kulit pada kepiting bakau.

2.4 Parameter penelitian

Pengamatan dilakukan selama 15-17 hari untuk perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan dan 30-35 hari untuk perlakuan popey dan alami. Perbedaan waktu pengamatan disebabkan karena perbedaan kecepatan molting antar perlakuan (Gambar 11). Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan bobot kepiting bakau, yang diukur pada awal dan akhir penelitian, serta kualitas air. Parameter tersebut digunakan untuk menghitung parameter kerja berupa derajat kelangsungan hidup laju pertumbuhan bobot harian, jumlah kepiting molting terhadap waktu, waktu kepiting molting, serta deskripsi kualitas air dan analisis ekonomi.

(23)

23 2.4.1 Derajat kelangsungan hidup

Derajat kelangsungan hidup (survival rate, SR) dihitung dari data jumlah kepiting pada awal dan akhir perlakuan dengan rumus (Effendi, 1978):

SR = (Nt / No) x 100%

Keterangan:

SR = Derajat kelangsungan hidup (%) No = Jumlah kepiting awal penelitian (ekor) Nt = Jumlah kepiting akhir penelitian (ekor)

2.4.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian

Laju pertumbuhan bobot spesifik (spesific growth rate, SGR) dihitung dari nilai bobot kepiting sebelum ditebar dan setelah mengalami proses molting serta jangka waktu pencapaian molting tersebut dengan rumus:

SGR = {(Ln wt – Lnwo) / t} x 100%

Keterangan :

SGR = Laju pertumbuhan bobot spesifik (%) wt = Bobot rata-rata kepiting awal penelitian (g)

wo = Bobot rata-rata kepiting akhir penelitian (g)

t = Waktu pemeliharaan

2.4.3 Jumlah Kepiting Molting Terhadap Waktu

Jumlah kepiting molting terhadap waktu pemeliharaan dihitung dari jumlah kepiting yang ditebar pada setiap perlakuan dan dilihat perlakuan yang paling cepat molting atau ganti kulit.

2.4.4 Waktu Kepiting Molting

Waktu kepiting molting dihitung dengan cara melihat dan menghitung jumlah kepiting yang molting setiap perlakuan terhadap waktu molting, baik pagi, siang, sore, maupun pada malam hari dan menentukan puncak terjadinya molting dari waktu yang telah ditentukan.

(24)

24 2.4.5 Pertumbuhan Biomassa

Pertumbuhan biomassa dihitung dari selisih antara biomassa akhir kepiting dengan biomassa awal kepiting bakau cangkang lunak dalam satu tahun pemeliharaan. Pertumbuhan biomassa dihitung dengan rumus (Huisman, 1987):

∆B = (Bt– Bo) x t

Keterangan :

∆B = Selisih antara Biomassa akhir dengan biomassa awal atau pertumbuhan biomassa (kg)

Bt = Bobot rata-rata kepiting awal penelitian (kg)

Bo = Bobot rata-rata kepiting akhir penelitian (g)

t = Waktu pemeliharaan dalam satu tahun (jumlah siklus)

2.4.6 Parameter Kualitas air

Pengukuran parameter kualitas air dilakukan dari awal sampai akhir pemeliharaan yang meliputi parameter suhu, kandungan oksigen terlarut (DO), pH, dan salinitas. Pengukuran kualitas air dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pagi (pukul 06.00 WIB) dan siang (pukul 15.00 WIB) dengan peralatan sesuai dengan Tabel 1.

Tabel 1. Parameter kualitas air, satuan, dan alat ukur Parameter Satuan Alat ukur

Suhu oC Termometer digital

Oksigen terlarut mg/L DO-meter

pH - pH-meter/lakmus

Salinitas (‰) Refraktometer

2.4.7 Perhitungan Ekonomi

Efisiensi ekonomi diperlukan untuk mengetahui aspek ekonomi pada perlakuan penelitian. Berikut merupakan parameter yang dihitung dalam penentuan efisiensi ekonomi.

(25)

25 Keuntungan = Penerimaan-Biaya Produksi Total

2) R/C menunjukkan besarnya perbandingan antara penerimaan dan biaya total yang dikeluarkan yang dihitung dengan rumus (Rahardi et al., 1998):

R/C = Penerimaan Total / Biaya Operasional Total

3) Break even Point (BEP) dihitung menggunakan rumus (Martin et al., 1991): a) BEP penjualan menunjukkan produksi dikatakan impas jika memperoleh

penerimaan sebesar minimal tertentu.

BEP (Rp) = Biaya tetap

1 − Biaya Variabel/Penerimaan

b) BEP unit menunjukkan produksi dikatakan impas jika telah melakukan penjualan sebesar jumlah kg tertentu.

BEP unit (kg) = Biaya tetap

Harga per ekor − Biaya Variabel/Penerimaan

4) Harga pokok produksi (HPP) merupakan nilai atau biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit produksi yang dihitung dengan rumus (Rahardi et

al., 1998):

HPP =Biaya produksi total Volume produksi

5) Payback periode (PP)

PP adalah parameter yang digunakan untuk menghitung lamanya waktu pengembalian modal yang dihitung dengan rumus (Martin et al.,1991):

PP = Investasi

Keuntunganx Tahun

(26)

26 2.5 Analisis data

Data yang didapatkan ditabulasi dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel, grafik atau gambar. Data yang dianalisis meliputi:

1) Analisis ragam (Anova) dengan uji F pada selang kepercayaan 95%. Analisis ini digunakan untuk menentukan apakah perlakuan berpengaruh nyata terhadap derajat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan bobot harian. Apabila berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut Tukey untuk menentukan perbedaan antar perlakuan.

2) Analisis deskripsi kuantitatif digunakan untuk menjelaskan kelayakan media pemeliharaan bagi kehidupan kepiting bakau selama penelitian, jumlah kepiting molting terhadap waktu, waktu kepiting molting, dan analisis ekonomi.

(27)

27

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini meliputi derajat kelangsungan hidup (SR), laju pertumbuhan bobot harian (SGR), jumlah kepiting molting terhadap waktu, waktu kepiting molting, kualitas air, dan analisis ekonomi.

3.1.1 Derajat Kelangsungan Hidup

Pada Gambar 9 tertera data derajat kelangsungan hidup (SR) pada ketiga perlakuan. Rata-rata nilai SR untuk perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami berturut–turut adalah 92,59%, 88,89%, 92,95%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap laju kelangsungan hidup (SR).

Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%

Gambar 9. Derajat kelangsungan hidup kepiting bakau cangkang lunak dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami

92,59 88,89 92,59 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Pemotongan capit dan kaki jalan

Popey Alami Ti n gkat k e lan gsu n gan H id u p (% ) Perlakuan

a

a

a

(28)

28 3.1.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian (SGR)

Pada Gambar 10 tertera data laju pertumbuhan bobot harian pada ketiga perlakuan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan bobot harian (SGR). Laju pertumbuhan bobot pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan (2,92%) sama dengan popey (2,57%), namun keduanya berbeda dengan perlakuan alami (2,44%) yang menghasilkan laju pertumbuhan bobot terendah.

Keterangan : Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%

Gambar 10. Laju pertumbuhan bobot harian kepiting bakau cangkang lunak dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami

3.1.3 Jumlah Kepiting Molting Terhadap Waktu

Pada Gambar 11 tertera data jumlah kepiting molting terhadap waktu pemeliharaan pada ketiga perlakuan. Berdasarkan gambar terlihat bahwa pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan jumlah kepiting molting tertinggi terdapat pada hari ke-16 yakni sebanyak sembilan ekor, kepiting molting terjadi selama kurun waktu empat hari yakni pada hari ke-14 sampai heri ke-17. Pada perlakuan popey dan alami, jumlah kepiting molting tertinggi terdapat pada hari ke-32 (7 ekor) dan hari ke-33 (8 ekor). Kepiting molting terjadi selama kurun waktu enam hari yakni pada hari ke 29 dan berakhir pada hari ke 36.

2,92 2,57 2,44 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 Pemotongan Capit dan kaki jalan

Popey Alami L a ju P er tum bu ha n B o bo t H a ria n (%/ha ri) Perlakuan

a

a

b

(29)

29 Gambar 11. Jumlah kepiting molting terhadap waktu pemeliharaan pada ketiga

perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami

3.1.4 Waktu kepiting molting

Pada Gambar 12 tertera data waktu kepiting molting pada ketiga perlakuan. Berdasarkan gambar terlihat bahwa rata-rata kepiting molting terjadi pada waktu malam hari, semakin malam jumlah kepiting molting semakin meningkat. Jumlah kepiting molting tertinggi terjadi pada malam hari antara pukul 22 sampai pukul 24 untuk masing-masing perlakuannya. Pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan hampir tidak ditemukan kepiting yang molting pada waktu pagi dan sore hari, kepiting molting terjadi hapir semua pada malam hari, sedangkan pada perlakuan popey dan alami, kepiting yang molting hampir dapat dijumpai pada waktu pagi, siang, sore dan malam hari. Kepiting molting berfluktuatif terhadap waktu. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 5 10 15 20 25 30 35 40 ju m lah K e p iting M o lting (E K o r) Hari

(30)

30 Gambar 12. Waktu kepiting molting pada ketiga perlakuan pemotongan capit dan

kaki jalan, popey, dan alami 3.1.7 Pertumbuhan Biomassa

Pada Gambar 13 tertera data pertumbuhan biomassa (∆B) kepiting bakau cangkang lunak pada ketiga perlakuan. Berdasarkan gambar terlihat bahwa pertumbuhan biomassa tertinggi terdapat pada perlakuan alami yakni sebesar 7.589 kg selama satu tahun pemeliharaan, pada perlakuan popey pertumbuhan biomassa selama pemeliharaan satu tahun sebesar 6.574 kg. Pertumbuhan biomassa terdapat pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan yakni sebesar 5.964 kg.

Gambar 13. Pertumbuhan biomassa kepiting bakau cangkang lunak per tahun pada ketiga perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami 0 5 10 15 20 25 30 0 4 8 12 16 20 24 ju m ;ah K e p iting m o lting (E ko r)

Waktu molting (Pukul)

Perlakuan Pemotongan capit dan kaki jalan Perlakuan Popey Perlakuan Alami Perlakuan total

18541 13607 14737 12577 7033 7149 5964 6574 7589 0 4000 8000 12000 16000 20000 Pemotongan Capit dan Kaki Jalan

Popey Alami B iom assa (k g/tah u n ) Perlakuan Bt Bo ∆B

(31)

31 3.1.6 Kualitas Air

Hasil pengukuran kualitas air pada masing-masing perlakuan selama masa pemeliharaan tertera pada Tabel 2. Hasil pengukuran kualitas air yang diperoleh selama penelitian tidak berbeda antar perlakuan dan masih dalam batas toleransi kehidupan kepiting bakau.

Tabel 2. Nilai kualitas air selama pemeliharaan kepiting bakau cangkang lunak pada masing-masing perlakuan

Parameter

Perlakuan

Kisaran optimal Pemotongan

capit dan kaki jalan --- Popey --- Alami --- Pagi Siang Pagi Siang Pagi Siang

DO (ppm) 4,69 6,03 4,69 6,03 4,69 6,03 > 5 1)

pH 7,69 8,41 7,69 8,41 7,69 8,41 7,2-7,8 2)

Suhu (oC) 27,41 32,23 27,41 32,23 27,41 32,23 23-32 2) Salinitas (‰) 24,93 26,17 24,93 26,17 24,93 26,17 15-30 2)

1) William (2003);

(32)

32 3.1.7 Efisiensi Ekonomi

Nilai efisiensi ekonomi produksi kepiting bakau cangkang lunak dengan metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami selama pemeliharaan 35 hari dihitung dalam jangka waktu satu tahun. Perbedaan nilai efisiensi bukan terletak dari harga jual kepiting tersebut, akan tetapi terletak pada jenis dan sarana pendukung kegiatan produksi yang dilakukan pada ketiga metode tersebut sehingga menghasilkan harga yang berbeda. Selain itu, penghitungan analisis usaha ini dilakukan dengan dua skenario. Skenario satu merupakan analisis ekonomi yang dihitung jika dilakukan sistem sewa pada lahan, kolam tambak, dan rumah jaga selama satu tahun. Skenario dua merupakan analisis ekonomi yang dihitung jika dilakukan pembelian tanah/lahan, pembuatan sendiri kolam dan rumah jaga berdasarkan harga-harga yang berlaku sekarang. Analisis usaha pada setiap perlakuan tertera pada Tabel 3 dengan asumsi yang digunakan dalam analisis usaha adalah sebagai berikut:

1) Harga faktor produksi dianggap tetap selama siklus produksi.

2) Masa budidaya kepiting bakau cangkang lunak perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan selama 15 hari persiapan awal dan 15-17 hari pemeliharaan pada siklus pertama, kemudian siklus kedua dan seterusnya yaitu 15-17 hari masa pemeliharaan. Untuk perlakuan alami dan popey masa budidaya selama 1,5 bulan dengan 15 hari persiapan awal dan 35 hari pemeliharaaan pada siklus pertama, kemudian siklus kedua dan seterusnya yaitu 35 hari

3) Selama 1 tahun dilakukan 17 siklus untuk perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, 9 siklus untuk perlakuan popey dan alami (penjadwalan di Lampiran 7)

4) Break Even Point (BEPu) menggunakan asumsi berdasarkan perlakuan padat tebar 15 individu/m2 yaitu 6984 ekor dengan jumlah karamba/keranjang bambu sebanyak 97 unit dan keranjang plastik sebanyak 13.968 buah. (Perhitungan di Lampiran 8)

5) Jumlah benih yang ditebar sebanyak 6984 ekor untuk masing-masing perlakuan (pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami), sesuai dengan perhitungan BEPu (Lampiran 8).

(33)

33 6) Wadah pemeliharaan berupa karamba bambu dengan ukuran 150 cm x 120

cm dan karamba plastik dengan ukuran 26 cm x 9.

7) Biomassa panen pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami secara berturut-turut adalah 1090 kg, 1511 kg, dan 1637 kg.

8) Kelangsungan hidup kepiting dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami secara berturut-turut 92,95%, 88,89%, dan 92,95%. 9) Jumlah tenaga kerja pada kegiatan produksi kepiting bakau cangkang lunak

ini sebanyak 2 orang. Satu orang manajer dan satu orang teknisi. Gaji tenaga kerja tersebut masing adalah Rp 4.500.000,00 dan Rp 1.250,000,00/bulan 10) Tambak yang digunakan disewa dengan tarif Rp 4.000.000,00/tahun.

11) Bobot rata-rata benih kepiting yang ditebar untuk masing-masing metode, pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami sebesar 105,93 g, 111,89 g, dan 113,73 g. Harga benih adalah Rp 19.000,00/kg

12) Asumsi skenario dua, harga tanah setiap satu meter persegi sebesar Rp 50.000,-, biaya pembuatan kolam dengan luas 5000 m2 sebesar Rp 10.000.000,- dan biaya pembuatan rumah jaga tambak berukuran 8 m x 5

m sebesar Rp 25.000.000,-

13) Harga jual kepiting bakau cangkang lunak yaitu Rp. 70.000,-/kg

Tabel 3 menunjukkan komponen analisis usaha budidaya kepiting bakau cangkang lunak menggunakan metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami yang meliputi : biaya investasi, biaya tetap, biaya variabel, penerimaan, keuntungan, R/C rasio, payback period (PP), Harga Pokok Produksi (HPP), dan

break even point (BEP).

Analisis usaha pada Tabel 3 menunjukkan gambaran efisiensi produksi kepiting bakau cangkang lunak dengan perhitungan menggunakan dua skenario. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa keuntungan terbesar skenario satu dan dua terdapat pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, yaitu Rp 953.866.469,- dan Rp 951.483.136,- pada perlakuan popey sebesar Rp 715.111.865,- dan Rp 762.690.815,- per tahun, sedangkan pada perlakuan

alami yaitu sebesar Rp 792.038.018,- dan Rp 839.616.968,- per tahun. Nilai R/C tertinggi skenario satu dan dua terdapat pada perlakuan alami yaitu 4,31 dan 5,37 yang berarti setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1,00 diperoleh pendapatan

(34)

34 sebesar Rp 3,31 dan 4,37. Nilai R/C pada perlakuan popey dan pemotongan capit dan kaki jalan untuk skenario satu dan dua berturut-turut sebesar 4,01 ; 5,02 dan 377 ; 3,75. Hal ini berarti setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1,00 diperoleh pendapatan sebesar Rp 3,01; 4,02 dan 2,77 ; 2,75 .

Tabel 3. Analisis usaha budidaya kepiting bakau cangkang lunak menggunakan metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami

Komponen Rp (x 1000)

Perlakuan Pemotongan capit

dan kaki jalan Popey Alami

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 1 Skenario 2 Skenario 1 Skenario 2 Investasi 38804 568804 62072 593072 62072 593072 Biaya tetap 89292 91675 90904 43325 90904 43325 Biaya variabel 254736 254736 146478 146478 148675 148675 Biaya total 344028 346411 237382 189803 239580 192001 Penerimaan 1297894 1297894 952494 952494 1031618 1031618 Keuntungan 953866 951483 715111 762690 792038 839616 R/C ratio 3,77 3,75 4,01 5,02 4,31 5,37 BEP 111097 114062 107424806 51199 106211 50621

BEP Unit (ekor) 1276 1310 1299 619 1299 619

PP (tahun) 0,04 0,60 0,09 0,78 0,08 0,71

HPP 26285,76 26467,86 19626,25 15692,53 18288,69 14656,68

- Rincian analisis biaya dicantumkan pada Lampiran 9 - Skenario 1 : Lahan, petak tambak, dan rumah jaga disewa

- Skenario 2 : Lahan, petak tambak dibeli dan rumah jaga dibuat sendiri

Dari nilai BEP pada Tabel 3 dinyatakan, bahwa titik impas pada perlakuan

alami skenario 1 dan 2 akan tercapai pada saat penerimaan sebesar Rp 106.211.729,- dan Rp 50.621.125,- dengan nilai produkasi 1.299 ekor dan 619

ekor. Pada perlakuan popey sebesar Rp 107.424.805,- dan Rp 51.199.284 dan BEPu sebanyak 1.299 ekor dan 619 ekor,- artinya titik impas dicapai pada saat penerimaan Rp 107.424.805,- dan Rp 51.199.284 dengan nilai produksi 1.299 ekor dan 619 ekor sedangkan pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan,

titik impas dicapai pada saat penerimaan sebesar Rp 111.097.052,- dan Rp 114.062.388,- dan produksi sebanyak 1.276 ekor dan 1.310 ekor.

Berdasarkan Tabel 3 diketahui nilai HPP pada perlakuan alami skenario 1 dan 2 sebesar Rp 18.288,- dan Rp 14.656,- yang artinya agar usaha tidak rugi maka harus menjual kepiting bakau cangkang lunak dengan harga lebih dari pada

(35)

35 Rp 18.288,- dan Rp 14.656,-. Pada perlakuan popey sebesar Rp 15.692,- dan Rp 19.626 dan pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan sebesar Rp 26.285,- dan Rp 26.467,- yang artinya agar usaha tidak rugi maka harus

menjual kepiting bakau cangkang lunak dengan harga lebih dari pada nilai HPP pada perlakuan popey dan pemotongan capit dan kaki jalan.

Nilai PP pada perlakuan alami skenario 1 dan 2 secara berturut-urut yaitu 0,08 tahun (1 bulan) dan 0,71 tahun (8 bulan); nilai PP perlakuan popey yaitu 0,09 tahun (1 bulan) dan 0,78 (9 bulan), sedangkan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan bernilai PP terendah yaitu 0,04 tahun (0,48 bulan atau 15 hari) dan 0,60 (7 bulan). Berdasarkan nilai PP tersebut dapat diketahui bahwa pengembalian modal tercepat terdapat pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan.

3.2 Pembahasan

Dalam kegiatan budidaya kepiting, terutama kegiatan pembudidayaan kepiting cangkang lunak, jumlah dan biomassa kepiting saat panen sangat penting. Biomassa kepiting cangkang lunak saat panen penting dipertahankan. Oleh karena itu dibutuhkan cara yang dapat membuat kepiting mengalami pertumbuhan bobot yang signifikan selama proses budidaya berlangsung. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan bobot dan mempercepat molting antara lain dengan memberikan ekstrak daun bayam, pemotongan tangkai mata (ablasi), serta pemotongan kaki jalan dan capit. Ketiga metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam memberikan tingkat pertumbuhan pada kepiting cangkang lunak.

Dalam kegiatan penelitian ini dilakukan proses pemotongan capit dan kaki jalan sebagai perlakuan karena dapat meningkatkan laju pertumbuhan bobot dan laju pertumbuhan panjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaripuddin et al. (2004) dalam Husni et al. (2006) yang menyatakan bahwa secara biologis pematahan capit dan kaki jalan dapat merangsang organ tubuh kepiting untuk tumbuh kembali. Setelah capit dan kaki jalan kepiting lepas, kepiting akan terangsang untuk memperbaiki fungsi morfologi tubuhnya dengan cara melakukan pergantian kulit sehingga akan terbentuk bagian tubuh yang baru berupa kepiting yang bercangkang lunak. Ada tiga perlakuan yang dilakukan, yakni perlakuan

(36)

36 pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami. Perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan dan popey dilakukan dengan memotong bagian tubuh, yakni kaki jalan dan capit, baik sempurna maupun sebagian. Sebagai pembanding dilakukan perlakuan pemeliharaan kepiting secara alami tanpa proses pemotongan capit dan kaki jalan.

Derajat kelangsungan hidup (SR) merupakan parameter utama dalam produksi biota akuakultur yang dapat menunjukkan keberhasilan produksi tersebut. Jika diperoleh nilai SR yang tinggi pada suatu kegiatan budidaya, maka dapat dikatakan bahwa kegiatan budidaya yang dilakukan telah berhasil. Pada penelitian ini perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey dan alami tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap derajat kelangsungan hidup (SR). yaitu 88,89-92,59% (P>0,05). Tingginya nilai derajat kelangsungan hidup ini disebabkan karena faktor kondisi media pemeliharaan kepiting yang cocok dengan keadaan tempat kepiting hidup. Selain itu, tingkat stres yang dialami kepiting diduga masih berada pada level yang dapat ditoleransi sehingga tidak menyebabkan kepiting mati.

Pertumbuhan merupakan salah satu komponen yang penting dalam produktivitas. Dalam artian yang luas pertumbuhan merupakan ekspresi dari pertambahan volume, bobot basah, ataupun bobot kering terhadap suatu satuan waktu tertentu (Effendi 1979) dan Hartnoll (1982). Selain itu menurut Holdich dan Lowery (1988) dalam Nilamsari (2007) pertumbuhan pada krustase adalah pertambahan bobot dan panjang panjang tubuh yang terjadi saat setelah pergantian kulit sehingga pertambahan bobot dan panjang pada udang tidak akan terjadi tanpa didahului oleh pergantian kulit. Dalam kegiatan budidaya, pertumbuhan organisme akuatik biasanya dinyatakan dalam bentuk laju pertumbuhan bobot harian. Laju pertumbuhan bobot sangat berkaitan erat dengan kondisi fisiologis dari kepiting tersebut, yaitu proses metabolisme dan tingkat stres yang dialami oleh kepiting. Ketika kepiting dipotong capit dan kaki jalannya, baik sempurna maupun sebagian, maka kepiting tersebut diduga mangalami penurunan kondisi fisiologis akibat stres. Keadaan stres tersebut dapat memacu kepiting untuk melakukan proses molting secara cepat. Akan tetapi, tingkat stres yang dialami

(37)

37 oleh masing-masing kepiting berbeda-beda sehingga hasil dari proses molting tersebut akan memberikan perbedaan pada bobot yang dihasilkan.

Hasil pengukuran bobot tubuh selama pemeliharaan memperlihatkan bahwa, kepiting yang dipelihara mengalami pertambahan bobot. Pertambahan bobot ini berbeda antara perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey dan alami, seperti yang terlihat pada Gambar 10. Effendi (1978) berpendapat bahwa pertumbuhan dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam diantaranya ialah keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit, sedangkan faktor luar yang utama adalah makanan dan suhu perairan.

Penambahan bobot tubuh pada kepiting terjadi karena pengembangan bagian integumen yang tidak mengeras atau terjadi proses penyerapan kadar air, mineral dan ion-ion penting sebagai akibat dari perbedaan tekanan osmotik. Selain itu, pakan yang dimakan dapat dikonversi menjadi energi untuk molting dan tumbuh secara sempurna. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fujaya (2004) yang menyatakan bahwa pertumbuhan jaringan atau organ, pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan, hormon, dan faktor perangsang pertumbuhan.

Perbedaan pertambahan bobot pada masing-masing perlakuan seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya terjadi karena rangsangan atau stimulus yang berbeda pada masing-masing perlakuan. Perlakuan alami merupakan perlakuan yang memiliki laju pertumbuhan bobot yang rendah yakni sebesar 2,44% dan mengalami penambahan bobot yang signifikan dari bobot awal, hal ini disebabkan pada perlakuan alami tidak dilakukan proses pemotongan pada organ capit dan kaki jalan. Pemeliharaan kepiting dilakukan secara alami sehingga rangsangan untuk percepatan proses molting hampir tidak ada, proses molting berlangsung secara alami, sehingga peningkatan bobot tubuh pascamolting berlangsung secara sempurna dan bobot bertambah lebih besar.

Pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan dan popey, laju pertumbuhan bobot kepiting masing-masing sebesar 2,92% dan 2,57%. Hal ini disebabkan karena selain mempercepat proses molting, proses pemotongan capit dan kaki jalan juga memberikan efek pertambahan bobot tubuh pada kepiting. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syaripuddin et al., (2004) dalam Husni et al.,

(38)

38 (2006) yang menyatakan bahwa pertambahan bobot yang dicapai setelah molting sebesar 20-25% dari bobot awal.

Pertumbuhan selalu dikaitkan dengan jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air dalam wadah pemeliharaan karena suhu air, dan kadar oksigen dalam air mempengaruhi nafsu makan, proses metabolisme dan pertumbuhan (Goddard 1996). Kebutuhan oksigen bagi ikan mempunyai dua aspek yaitu kebutuhan lingkungan dan kebutuhan konsumsi yang bergantung pada keadaan metabolisme ikan. Selama penelitian berlangsung dilakukan pengukuran peubah kualitas air meliputi: suhu, salinitas, pH, dan DO (Tabel 2). Berdasarkan hasil pengukuran parameter kualitas air tersebut, didapatkan hasil yang secara umum masih mendukung untuk media produksi kepiting bakau cangkang lunak. Nilai suhu pada pagi dan sore hari berada pada kisaran 27,41°C pagi dan 32,23°C sore, pH berkisar antara 7,69 pagi dan 8,41 sore, DO memiliki kisaran antara 4,69 ppm pagi dan 6,03 ppm sore hari, sedangkan untuk salinitas berada pada kisaran 24,93 ppt pagi dan 26,33 ppt sore. Menurut William (2003) kriteria kualitas air yang harus dipenuhi dalam budidaya kepiting lumpur/bakau di tambak, adalah sebagai berikut pH 6,5 – 8,0 , salinitas 20 –25 ppt, suhu 25–30 0C, DO > 5 mg/l.

Selain parameter diatas diamati juga jumlah kepiting yang molting terhadap waktu pemeliharaan. Berdasarkan data yang diperoleh tampak bahwa pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, kepiting mengalami proses ganti kulit lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan popey dan alami. Pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan rata-rata kepiting bakau molting pada hari ke-14 sampai hari ke-17, sedangkan pada perlakuan popey dan alami kepiting bakau molting pada hari ke-29 sampai hari ke-36 (Gambar 11). Hal ini disebabkan karena stimulus atau rangsangan yang diberikan pada masing-masing perlakuan berbeda. Kondisi ini sesuai pendapat Syarifuddin et al. (2004) dalam Husni et al. (2006) yang menyatakan bahwa teknik pemeliharaan kepiting bakau dengan cara pematahan capit dan kaki jalan kecuali kaki renang bertujuan untuk menghindari kepiting saling memangsa dan keluar dari keranjang dan secara biologis dengan pematahan capit dan kaki jalan tersebut dapat merangsang kepiting lebih cepat ganti kulit. Dengan demikian, pemotongan capit dan kaki jalan dapat merangsang

(39)

39 kepiting bakau untuk melakukan ganti kulit lebih cepat dibandingkan dengan pemeliharaan secara alami.

Kepiting bakau merupakan salah satu jenis krustase yang bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari. Sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap waktu molting pada setiap perlakuan yang diujikan. Berdasarkan data pada Gambar 12, terlihat bahwa rata-rata kepiting bakau mengalami proses ganti kulit pada waktu malam hari, berkisar antara pukul 22.00- 24.00, dan hanya sedikit kepiting yang molting pada waktu pagi dan sore hari. Puncak molting terjadi pada malam hari yang diakibatkan oleh faktor lingkungan terutama suhu. Zacharia dan Kakati (2004) menyatakan, suhu merupakan salah satu faktor abiotik penting yang mempengaruhi aktivitas, nafsu makan, konsumsi oksigen, dan laju metabolisme krustase. Selain itu, menurut Moosa et al., (1985) kepiting bakau tergolong nokturnal (hewan yang aktif dimalam hari), sehingga sebagian besar kegiatan hidupnya dilakukan pada waktu malam hari termasuk molting atau ganti kulit.

Pertumbuhan biomassa merupakan selisih antara biomassa akhir dengan biomassa awal terhadap waktu pemeliharaan. Pertumbuhan biomassa sangat berkaitan erat dengan efisiensi ekonomi karena produk akhir yang dihasilkan adalah kepiting bakau cangkang lunak dalam satuan kilogram. Perlakuan alami memiliki pertumbuhan biomassa tertinggi dibandingkan dengan perlakuan popey serta pemotongan capit dan kaki jalan. Pertumbuhan biomassa selama satu tahun ini secara langsung akan berpengaruh terhadap penerimaan dan R/C rasio. Perlakuan yang memiliki pertumbuhan biomassa tertinggi dapat memiliki penerimaan yang tinggi pula sehingga produksi menjadi semakin efisien. Pertumbuhan biomassa pada perlakuan alami menyebabkan kepiting bakau cangkang lunak mengalami proses ganti kulit yang sempurna karena tingkat stres yang dialami tidak setinggi pada perlakuan popey serta pemotongan capit dan kaki jalan.

Analisis usaha pada Tabel 1 menunjukkan efisiensi produksi kepiting bakau cangkang lunak dengan perhitungan menggunakan dua skenario. Perhitungan ini dibuat berdasarkan analisis resiko bisnis yang dianggap dapat terjadi dengan sistem sewa, sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut dibuat skenario dua dengan asumsi tidak menggunakan sistem sewa tetapi lahan dan bangunan dibeli

(40)

40 dan di buat sendiri. Setiap perlakuan memiliki nilai yang berbeda untuk masing-masing parameter analisis ekonomi yang dihitung. Nilai keuntungan ditentukan oleh besarnya nilai penerimaan. Nilai keuntungan diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan biaya total. Nilai keuntungan pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan paling tinggi dibandingkan perlakuan popey dan alami baik skenario satu dan dua, hal ini disebabkan selisih antara penerimaan dengan biaya total juga paling tinggi. Selain itu, perbedaan nilai keuntungan pada setiap perlakuan juga dipengaruhi oleh biaya variabel yang berbeda pada masing-masing perlakuan.

Selain itu untuk melihat kelayakan usaha, dilakukan perhitungan analisis R/C. Analisis R/C digunakan untuk melihat pendapatan relatif suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Menurut Mahyuddin (2007), suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C lebih besar dari 1 (R/C > 1). Nilai R/C diperoleh dari perbandingan antara nilai penerimaan dengan biaya total. Nilai R/C pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey dan alami lebih besar dari 1. Hal ini dikarenakan nilai penerimaan lebih besar dari biaya total (Tabel 3) sehingga dapat dikatakan bahwa budidaya kepiting bakau cangkang lunak dengan ketiga metode ini layak untuk dijadikan sebagai usaha.

BEP (Break Even Point) merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas, yaitu tidak untung dan tidak rugi (Rahardi et al., 1998). Nilai BEPp dan BEPu pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan memperoleh nilai tertinggi dibandingkan perlakuan popey dan alami baik skenario satu maupun skenario dua. Hal ini dikarenakan nilai penerimaan dan biaya variabel yang tinggi menyebabkan nilai BEP tinggi.

Harga Pokok Produksi (HPP) merupakan nilai atau biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit produk (Rahardi et al., 1998). HPP diperoleh dari perbandingan antara biaya total dengan jumlah produksi. Hal mengandung arti seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 kg kepiting bakau cangkang lunak. Perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan skenario satu dan dua memperoleh nilai HPP tertinggi dibandingkan perlakuan popey dan alami. Hal ini dikarenakan total biaya produksi pertahun pada perlakuan pemotongan capit dan

(41)

41 kaki jalan paling tinggi dibandingkan perlakuan popey dan alami. HPP harus lebih rendah dari harga jual agar dapat memperoleh keuntungan. Secara umum nilai BEP ketiga perlakuan masih berada dibawah harga jual, sehingga usaha ini tadak akan mengalami kerugian.

Payback period (PP) atau tingkat pengembalian investasi merupakan salah

satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu dapat kembali, semakin baik suatu proyek untuk diusahakan karena modal yang kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan & Suwarsono, 2000). Nilai PP pada Tabel 3 menunjukkan bahwa pengembalian modal tercepat terdapat pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan baik pada skenario satu maupun skenario dua. Hal ini dikarenakan nilai keuntungan pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan lebih tinggi dibandingkan perlakuan popey dan alami, selain itu perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan memiliki jumlah siklus produksi yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan popey dan alami.

Berdasarkan analisa teknis, perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan merupakan perlakuan yang ideal untuk usaha budidaya kepiting bakau cangkang lunak karena memiliki laju pertumbuhan bobot harian yang tinggi sehingga biomassa akhir yang diperoleh untuk penjualan akan tinggi. Selain itu perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan memiliki tingkat percepatan molting yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan popey dan alami. Hal ini berpenguruh terhadap siklus produksi, dalam satu tahun terdapat 17 siklus produksi pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, jumlah siklus ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan popey dan alami yang hanya mengalami 9 siklus dalam satu tahun. Sedangkan secara bioekonomis, perlakuan popey dan alami skanario 1 dan 2 memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, hal ini berdasarkan dari nilai R/C rasio perlakuan popey dan alami yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai R/C rasio pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan. Tingginya nilai R/C rasio dikarenakan pertumbuhan biomassa pada perlakuan alami lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan popey serta pemotongan capit dan kaki jalan, sehingga penerimaan pada perlakuan alami tidak jauh berbeda dengan perlakuan

(42)

42 pemotongan capit dan kaki jalan. Selain itu, tingginya nilai R/C rasio pada perlakuan popey dan alami juga disebabkan biaya total produksi perlakuan popey dan alami lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan. Sehingga, berdasarkan analisis bioekonomis perlakuan popey dan alami memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan.

(43)

43 IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Perlakuan alami pada budidaya kepiting bakau cangkang lunak tidak memberikan pengaruh nyata terhadap derajat kelangsungan hidup, namun berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot harian. Derajat kelangsungan hidup untuk semua perlakuan berkisar antara 88,89-92,59%. Laju pertumbuhan bobot harian tertinggi terdapat pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan yaitu sebesar 2,92%. Sedangkan pertumbuhan bobot tertinggi terdapat pada perlakuan alami yaitu sebesar 7.589 kg per tahun.

Performa metode alami lebih baik dibandingkan dengan metode pemotongan capit dan kaki jalan serta metode popey, baik dilihat dari parameter budidaya maupun parameter ekonomi. Produksi kepiting bakau cangkang lunak metode alami lebih efisien dibandingkan dengan melakukan pemotongan capit dan kaki jalan serta metode popey.

4.2 Saran

Budidaya kepiting bakau cangkang lunak sebaiknya dilakukan dengan metode alami. Perlu diteliti lebih lanjut mengenai daya dukung tambak untuk produksi kepiting bakau cangkang lunak, dan jenis kepiting yang akan diproduksi secara alami, popey, dan pemotongan capit dan kaki jalan.

(44)

44 DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Kawasan SA Kembangkan Kepiting Soca. http://www.pikiran rakyat.com. [20 Maret 2012]

Cholik, F. 2005. Review of Mud Crab Culture Research in Indonesia, Central Research Institute for Fisheries, PO Box 6650 Slipi, Jakarta, Indonesia, 310

CRA.

Effendi, M. I. 1978. Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan IPB, Bogor. Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Jakarta: Rineka cipta

Goddard, S. 1996. Feed Management in Intensive Aquaculture. Fisheries and Marine Institute Memorial university. Canada

Hanafiah, K.A.2000. Rancangan Percobaan : Teori dan Aplikasi. PT Raja Grafindo Persada.

Hartnoll, R.G. 1982. Growth. In L.G. Able (Ed). The biology of Crustacea. 2: Embryology. Morphology and Genetics. Academik Press. New York. P. 111-196.

Huisman E.A. 1987. Principles of Fish Production.Wageningen Agricultural university press, Netherlands.

Husnan, S., Suwarsono, M., 2000. Studi Kelayakan Proyek. Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.

Husni, Yohana, R., Widyastuti., 2006. Pemanfaatan Tambak Udang “ Idle” untuk Produksi Kepiting Cangkang Lunak (Shoft shell crab). Media Akuakultur 2:1.

Kanna, A. 2002. Budidaya Kepiting Bakau : Pembenihan dan Pembesaran. Kanisius. Kakarta. 80 hal.

KKP, 2010. 9 komoditas perikanan jadi unggulan. www.kkp.go.id [18 April 2012].

Mahyuddin K. 2007. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.

Martin, J.D., Petty, J.W., Keown, A.J., Scott, D.F., 1991. Basic financial Management 5th edition. Prentice hall Inc, New Jersey.

(45)

45 Moosa, M.K. I., Aswandi, A., Kasry., 1985. Kepiting bakau, Scylla serrata

(Forskal, 1775) dari Perairan Indonesia. Lembaga Ilmu Penegetahuan Indonesia. Jakarta. 180.

Nilamsari, D. 2007. Pengaruh perbedaan padat penebaran terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup Lobster Air Tawar Cherax quadricarinatus. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nurdin M, Armando R. 2010. Cara Cepat Panen Kepiting Soka dan Kepiting

Telur. Jakarta. Penebar Swadaya.

Rahardi,F., kristiawati, R., nazarudin., 1998. Agribisnis Perikanan. Penebar swadaya, Jakarta.

Rangka, N.A, Sulaeman. 2010. Pemacu Pergantian Kulit Kepiting Bakau (Scylla serrata) Melalui Manipulasi Lingkungan untuk Menghasilkan Kepiting Lunak. Prosiding Forum Inovasi teknologi akuakultur.

Soim, A. 1996. Pembesaran Kepiting. Penebaran swadaya. Jakarta.

Siahainenia S. 2008. Aspek Bioekologi Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Ekosistem MangroveKabupaten Subang, Jawa Barat [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Steel, G.D., J.H, Torrie., 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika. Terjemahan PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sulaeman, A., Hanafi., 1992. Pengaruh pemotongan tangkai mata terhadap kematangan gonad dan peiiumbuhan kepiting bakau (Scylla serrata)

JurnalPenelilian Budidayo Panfai 8 (4). BPP-BP, Maros.

Syaripuddin, Hasanuddin, S., Raharjo, E., Soetanti., 2004. Budidaya Kepiting sangkak (Soft shelling crab) Si Primadona Baru yang menjanjikan. Direktorat Jendral Perikanan budidaya.

Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Budidaya Kepiting. Bandung. Nuansa Aulia.

William, A. W., 2003. Aquaculture Site Selection. Kentucky State University Coorporative Extention Program. Princeton.

Zacharia, S., kakati, V.S., 2004. Optimal Salinity and temperature of early developmental stages of Penaeus merguensis de Man. Aquaculture, 232: 378-382.

(46)

46

(47)

47 Lampiran 1. Data kuantitatif kepiting bakau sebelum dan sesudah molting pada,

perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami. Perlakuan Ulangan wo Lo wt Lt wt Cangkang Pemotongan capit dan kaki jalan 1 104,41 7,59 118,13 9,06 55,13 2 104,60 7,81 114,68 9,20 46,13 3 108,77 8,06 119,33 9,76 52,22 Rata-Rata 105,93 7,82 117,38 9,34 51,16 STDEV 2,46 0,23 2,42 0,37 4,59 Popey 1 114,10 7,26 167,56 10,23 87,00 2 111,76 7,51 158,75 10,06 88,13 3 109,82 7,48 151,94 9,74 77,25 Rata-Rata 111,89 7,41 159,42 10,01 84,13 STDEV 2,14 0,14 7,83 0,25 5,98 Alami 1 116,89 7,26 163,75 10,25 90,75 2 114,33 7,51 164,75 10,19 91,38 3 109,98 6,98 160,61 10,27 88,89 Rata-Rata 113,73 7,25 163,04 10,23 90,34 STDEV 3,49 0,27 2,16 0,04 1,29 Keterangan

wo : Bobot rata-rata awal calon kepiting bakau cangkang lunak wt : Bobot rata-rata akhir calon kepiting bakau cangkang lunak lo : Panjang rata-rata akhir calon kepiting bakau cangkang lunak lt : Panjang rata-rata akhir calon kepiting bakau cangkang lunak

w cangkang : Bobot rata-rata akhir cangkang calon kepiting bakau cangkang lunak

(48)

48 Lampiran 2. Data kuantitatif laju pertumbuhan bobot harian (%/hari) dan derajat

kelangsungan hidup (SR) kepiting bakau pada metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami.

Perlakuan Ulangan SGR SR Pemotongan capit dan kaki jalan 1 3,17 88,89 2 2,73 88,89 3 2,86 100,00 Rata-Rata 20,41 92,59 STDEV 0,23 6,42 Popey 1 2,93 88,89 2 2,50 88,89 3 2,29 88,89 Rata-Rata 2,57 88,89 STDEV 0,33 0,00 Alami 1 2,55 88,89 2 2,47 88,89 3 2,29 100,00 Rata-Rata 2,44 92,59 STDEV 0,13 6,42

(49)

49 Lampiran 3. Analisis statistik parameter laju pertumbuhan bobot harian (%/hari)

Kepiting bakau Scylla serrata cangkang lunak pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami.

 Uji Keragaman Homogenitas

Levene Statistic df1 df2 Sig

4 2 6 0,79

 Tabel Anova

SGRW Sum of

Squares df

Mean

Square Fhit P Ftabel

Between Groups 0,00535 6 2 0,00267777 8 34,4285 7 0,001 5,14325 3 Within Groups 0,00046 7 6 7,77778E-05 Total 0,00582 2 8

F hit > F tabel dan P< 0,05 menunjukkan bahwa perlakuan berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% (Perlu dilakukan uji lanjut yaitu uji tukey)

 Uji Tukey

(i) perlakuan (j) perlakuan mean difference (i-j) 95% confidence interval tukey hsd Alami popey -0,003333333 ab pemotongan capit

dan kaki jalan 0,05

Popey alami 0,003333333

b pemotongan capit

dan kaki jalan 0,053333333 pemotongan capit

dan kaki jalan alami -0,05 a

popey -0,053333333

(50)

50 Lampiran 4. Analisis statistik parameter derajat kelangsungan hidup

Kepiting bakau Scylla serrata cangkang lunak pada perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami.

 Uji Keragaman Homogenitas

Levene Statistic df1 df2 Sig

8 2 6 0,2

 Tabel Anova

SR Sum of

Squares df

Mean

Square Fhitung P Ftabel Between

Groups 0,000555556 2 0,000277778 0,5 0,63 5,14325 Within

Groups 0,003333333 6 0,000555556 Total 0,003888889 8

F hit < F tabel dan P>0,05 menunjukkan bahwa perlakuan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%.

Gambar

Gambar 1.  Diagram alir kegiatan penelitian
Gambar 2.  Karamba plastik                Gambar 3. Karamba bambu sebagai
Gambar 4.  Kepiting bakau (Scylla serrata) dan bagian-bagiannya
Gambar 9.  Derajat  kelangsungan  hidup  kepiting  bakau  cangkang  lunak  dengan  perlakuan pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil isolasi dari kepiting bakau yang memiliki gejala klinis seperti insang membuka, kering, berwarna gelap, luka pada tubuh seperti di capit, ventral dan

Terhadap cangkang kepiting bakau, kitin, dan kitosan yang diperoleh dilakukan penentuan kandungan logam magnesium, besi, kalsium, seng, tembaga, dan silika oksida [4].. Gambar 3

Hasil isolasi dari kepiting bakau yang memiliki gejala klinis seperti insang membuka, kering, berwarna gelap, luka pada tubuh seperti di capit, ventral dan

Tingkat molting Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada semua Perlakuan (rata – rata Jumlah molting/jumlah Kepiting dalam Dongdang (20 ekor) Setiap Minggu).. Tingkat

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kinerja produksi kepiting bakau cangkang lunak pada metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami melalui kajian

Dari data pada Tabel 1 terlihat bahwa derajat deasetilasi yang diperoleh dari kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla serrata) dengan konsentrasi NaOH 50% yaitu

Tahapan pada penelitian ini dimulai dari : 1 Preparasi tepung cangkang kepiting, 2 Ekstraksi kitin yaitu proses demineralisasi dan deproteinasi, 4 Uji antioksidan kitin dengan metode

Rata-rata konversi dan efisiensi pakan pada kepiting bakau Scylla serrata Percobaan Konversi pakan Efisiensi pakan % Ikan Rucah 8.51 14.47 Keong Bakau 7.75 16.06 Usus Ayam 8.19