• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. METODE PENELITIAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi adalah salah satu daerah yang beberapa penduduknya melakukan usahatani jamur tiram putih. Pelaksanaan pengambilan data untuk keperluan penelitian dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2008.

4.2. Metode Pengambilan Responden

Responden dalam penelitian ini adalah penduduk Kecamatan Pamijahan yang membudidayakan jamur tiram putih. Responden terkonsentrasi di Desa Gunung Menyan, Cibening, dan Gunung Bunder I. Penentuan responden dilakukan dengan teknik snowball sampling yaitu responden yang terpilih berdasarkan informasi dari responden sebelumnya. Pemilihan reponden dilakukan terus menerus sampai mencapai taraf redundancy, yaitu dengan menggunakan responden baru lainnya ternyata tidak menambah informasi baru yang bermakna. Teknik snowball sampling digunakan karena tidak terdapat list data

penduduk Kecamatan Pamijahan yang membudidayakan jamur tiram putih untuk dijadikan frame sampling. Sampling yang dimaksud disini adalah responden pilihan peneliti sendiri secara purposive.

4.3. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang berhubungan dengan penelitian. Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung dengan responden yang bersangkutan. Data primer yang diperlukan diantaranya penerimaan, pengeluaran, dan pendapatan dari usahatani jamur tiram putih di lokasi penelitian.

Data sekunder diperoleh dari internet, literatur-literatur, serta penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian-penelitian. Data sekunder yang

(2)

digunakan yaitu PDB nasional hortikultura, neraca perdagangan jamur, dan data permintaan jamur.

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mendeskripsikan kegiatan usahatani jamur tiram putih di lokasi penelitian. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis pendapatan dan kelayakan usahatani jamur tiram putih. Data dan informasi yang diperoleh disusun dalam bentuk tabulasi agar lebih mudah untuk dianalisis. Pengolahan data dilakukan secara manual dengan menggunakan kalkulator serta komputer terutama program excel.

4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani dibedakan menjadi dua yaitu pendapatan atas biaya tunai (pendapatan tunai) dan pendapatan atas biaya total (pendapatan total). Pendapatan merupakan hasil pengurangan antara penerimaan dengan biaya. Penerimaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual.

Pendapatan usahatani dirumuskan dalam persamaan matematik sebagai berikut (Soekartawi, 1995): I = R – C ... 1) R = Py x Y ... 2) C = FC + VC .. ... 3) Keterangan: I = pendapatan (Rp) R = penerimaan (Rp) C = biaya (Rp) Py = harga output (Rp) Y = output (kg)

FC = biaya tetap (fixed cost) (Rp) VC = biaya variabel (variable cost) (Rp)

(3)

Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya pajak tanah, sewa tanah, dan penyusutan alat-alat. Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya berhubungan langsung dengan jumlah produksi yang dihasilkan misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, obat-obatan, dan biaya tenaga kerja musiman.

Biaya tunai, adalah biaya tetap dan biaya variabel yang dibayar tunai. Biaya tidak tunai (diperhitungkan) yaitu biaya penyusutan alat-alat pertanian dan sewa lahan milik sendiri (biaya tetap). Biaya total adalah penjumlahan antara biaya tunai dengan biaya diperhitungkan.

Biaya diperhitungkan yang dimasukkan ke dalam analisis pendapatan ditunjukkan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan petani jika modal, sewa lahan, dan tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan. Pada umumnya petani hanya memperhitungkan biaya yang dikeluarkan dalam bentuk tunai saja.

Untuk mengukur efisiensi usahatani dapat diketahui dari perbandingan antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan (R/C). Analisis R/C dibagi dua yaitu R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. Secara matematik, hal ini dapat dituliskan sebagai berikut (Soekartawi, 1995):

a = R ...4) C R = Py x Y ...5) C = FC + VC ...6) Keterangan: a = nilai R/C R = penerimaan (Rp) C = biaya (Rp) Py = harga output (Rp) Y = output (Kg)

FC = biaya tetap (fixed cost) (Rp) VC = biaya variabel (variable cost) (Rp)

Secara teoritis nilai R/C = 1 menggambarkan keadaan usahatani yang tidak untung dan tidak rugi. Usahatani dapat dikatakan untung apabila nilai R/C > 1 (R

(4)

> C). Sebaliknya jika nilai R/C < 1 (R < C) maka usahatani itu rugi. Semakin besar nilai R/C maka usahatani yang dilakukan semakin menguntungkan. Nilai R/C menggambarkan setiap penambahan biaya Rp1 maka akan memperoleh penerimaan senilai R/C.

Titik impas adalah suatu kondisi dimana suatu usaha tidak mengalami kerugian ataupun memperoleh laba. Untuk dapat menentukan tingkat titik impas maka biaya yang dikeluarkan harus dapat dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel, serta harga jual per unit tidak berubah selama periode yang dianalisa.

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap, tidak berubah dalam

range output tertentu, tetapi untuk setiap satuan produksi akan berubah-ubah

sesuai dengan perubahan produksi. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya akan naik turun sebanding dengan hasil produksi atau volume kegiatan, tetapi untuk setiap satuan produksi akan tetap.

Hasil penjualan dikurangi dengan biaya variabel merupakan sisa atau margin yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan laba. Rasio antara margin dengan hasil penjualan disebut dengan marginal income ratio. Dalam keadaan impas labanya adalah nol, maka dengan membagi jumlah biaya tetap dengan

marginal income ratio-nya, akan diperoleh tingkat penjualan (dalam rupiah) yang

harus dicapai agar perusahan tidak menderita rugi ataupun memperoleh laba. Titik impas dalam rupiah dapat ditentukan dengan rumus (Munawir, 1995):

Titik Impas (dalam rupiah) = TFC ……….7) 1 - TVC

S Keterangan:

TFC = biaya tetap total (Rp) TVC = biaya variabel total (Rp) S = volume penjualan (Rp)

(5)

4.4.2. Analisis Kelayakan Investasi

Untuk mengetahui kelayakan budidaya jamur tiram putih maka akan dibandingkan antara manfaat dan biaya untuk menghitung beberapa kriteria kelayakan investasi yaitu NPV, IRR, net B/C, dan tingkat pengembalian investasi (payback period).

4.4.2.1. Net Present Value (NPV)

NPV dapat dikatakan sebagai nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi. Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang arus manfaat dengan nilai sekarang arus biaya. NPV dihitung dengan rumus matematik (Gray, et. al.,1993):

NPV

=

=

+

n t t t t

i

C

B

1 / 0

(

1

)

...8) Keterangan:

Bt = penerimaan (benefit) pada tahun ke-t (Rp) Ct = biaya (cost) pada tahun ke-t (Rp)

n = umur proyek (tahun)

i = tingkat suku bunga per tahun (8,74%)

Nilai NPV menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari proyek/usaha selama umur proyek pada discount rate tertentu. Suatu proyek dikatakan layak diusahakan apabilai nilai NPV > 0.

4.4.2.2. Internal Rate of Return (IRR)

IRR adalah tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa mendatang, atau nilai discount rate yang membuat nilai NPV sama dengan nol. Cara menghitung IRR adalah dengan cara mencoba-coba. Langkah pertama adalah dengan cara mencari tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif, selanjutnya dicari lagi tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif (Husnan dan Suwarsono, 1999). Perkiraan IRR diperoleh dengan interpolasi berdasarkan perhitungan tingkat

(6)

bunga dan NPV yang sudah dilakukan. Rumus yang digunakan dalam perhitungan IRR yaitu:

IRR =

+

+

(

2 1

)

2 1 1 1

x

i

i

NPV

NPV

NPV

i

...9) Keterangan:

i1 = tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif i2 = tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV yang bernilai positif

NPV2 = NPV yang bernilai negatif

Jika IRR lebih besar dari tingkat diskonto maka proyek dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan.

4.4.2.3. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)

Merupakan angka perbandingan antara jumlah present value yang positif (sebagai pembilang) dengan present value yang negatif (sebagai penyebut). Jika

net B/C > 1 maka proyek layak untuk dilaksanakan. net B/C dapat dihitung

dengan menggunakan rumus:

Net B/C

=

= = + − + − n t t t t n t t t t i C B i C B 1 / 0 1 / 0 ) 1 ( ) 1 ( ...10) Keterangan:

Bt = penerimaan (benefit) pada tahun ke-t (Rp) Ct = biaya (cost) pada tahun ke-t (Rp)

n = umur proyek (tahun)

i = tingkat suku bunga per tahun (8,74 %)

Nilai net B/C menunjukan setiap tambahan biaya sebesar Rp1 maka

tambahan manfaat bersih yang akan dihasilkan adalah sebesar nilai net B/C. B – C > 0

(7)

4.4.2.4. Tingkat Pengembalian Investasi (Payback Period)

Payback period merupakan jangka waktu atau period yang diperlukan

untuk membayar kembali (mengembalikan) semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi suatu proyek. Metode ini mencoba mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali karena itu satuan hasilnya bukan persentase tetapi satuan waktu (bulan, tahun, dan sebagainya). Jika periode payback ini lebih pendek dari umur proyek, maka proyek dikatakan menguntungkan dan layak dilaksanakan.

Perhitungan payback period dilakukan dengan metode discounted payback period dimana nilai manfaat bersih yang terdapat pada cash flow didiskontokan

dan dikumulatifkan dari tahun ke tahun. Dengan demikian akan didapatkan tahun-tahun ketika manfaat bersih kumulatif masih bernilai negatif dan tahun-tahun-tahun-tahun ketika manfaat bersih bernilai positif, yang menandakan bahwa investasi sudah kembali Ibrahim (1998) dalam Yunus (2005).

4.4.3. Analisis Sensitivitas

Variasi dari analisis sensitivitas adalah analisis nilai pengganti (Switching

Value Analysis). Dalam analisis nilai pengganti, dicari berapa banyak elemen

yang kurang baik yang akan diganti agar proyek dapat memenuhi tingkat minimum diterimanya proyek. Variabel yang diduga dapat menyebabkan perubahan terhadap kelayakan investasi jamur tiram di Kecamatan Pamijahan adalah upah tenaga kerja dan produksi jamur tiram putih.

Pengujian dengan menggunakan nilai pengganti yang dilakukan pada penelitian ini adalah menentukan berapa besarnya proporsi penurunan produksi jamur tiram putih dan proporsi kenaikan upah tenaga kerja tetap akibat manfaat sekarang neto menjadi nol. Nilai nol itu tentu saja akan membuat perbandingan manfaat investasi neto menjadi persis sama dengan 1.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 10 Hasil grafik dan regresi hubungan antara Durasi Rupture (Tdur) dan Azimut Stasiun(  ) 2012 Grafik diatas merupakan hasil dari gempa bumi pada tanggal 03

1) Melakukan sosialisasi kepada keluarga mitra tentang Kampung UMKM untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Mengurangi Angka Putus Sekolah. 2) Melakukan

Dalam rongga mulut spesies Candida yang paling dominan adalah Candida albicans, yaitu sebesar 50% dari seluruh flora normal mulut, tetapi dalam rongga mulut yang sehat dan bersih

Karena memiliki nilai konduktivitas yang besar dengan jumlah kation yang banyak maka zeolit rasio 10:15 yang dihasilkan dalam penelitian merupakan zeolit yang

Hasil pengolahan data gempa bumi dari jaringan Mini Regional Palu dalam kurun waktu Januari 2012 - Maret 2013 dengan (Gambar 4 dan 5) menunjukkan bahwa sebaran gempa bumi

seru sekalian alam yang telah melimpahkan anugerah-Nya yang tiada tara, karena atas kehendak-Nya saya masih berkesempatan untuk menyelesaikan tugas akhir yang

Selama pandemi COVID-19, siswa menghadiri pembelajaran jarak jauh dalam keadaan yang sangat sulit dan seringkali tanpa pengajaran atau dukungan nyata dari guru

Gabungan antigen TES dan asai ELISA ini dapat membantu dalam meningkatkan sensitiviti dan spesifisiti ujian serologi bagi diagnosis toksokariasis berbanding antigen