PERANCANGAN ULANG KURSI SANTAI
YANG DILENGKAPI TEMPAT BUKU
DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI
SKRIPSI
Disusun Oleh :
MAURIANUS FANI MANGETAN
0832010091
J URUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN “ J AWA TIMUR
SKRIPSI
PERANCANGAN ULANG KURSI SANTAI
YANG DILENGKAPI TEMPAT BUKU
DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI
Disusun Oleh :
MAURIANUS FANI MANGETAN
0832010091Telah Dipertahankan Dihadapan dan Diterima Oleh Dosen Penguji Pada Tanggal : 23 November 2012
Dosen Penguji : Dosen Pembimbing :
1. 1.
Dr.Ir.Minto Waluyo,MM Ir. Yustina Ngatilah, MT
NIP. 196 11130 199003 1 001 NIP. 19570306 198803 2 001
2. 2.
Ir.Tri Susilo,MM Enny Ariyani, ST.MT
NIP.19550708 198903 NPY. 340099500411
3.
Ir. Yustina Ngatilah, MT NIP. 19570306 198803 2 001
Mengetahui
Dekan Fakultas Teknologi Industri
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Sur abaya
KATA PENGANTAR
Assalamu’alikum Wr. Wb.
Segala puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat terselesaikan Tugas Akhir/Skripsi dengan judul “Perancangan Ulang Kursi Santai Yang Dilengkapi Rak Buku dengan Pendekatan Ergonomi”.
Tugas Akhir/Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh mahasiswa jenjang pendidikan Strata-1 (Sarjana) Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur guna meraih gelar kesarjanaan.
Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. R. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Ir. Sutiyono, MT selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri UPN “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak DR. Ir. Minto Waluyo, MM selaku Ketua Jurusan Teknik Indutri UPN “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Drs. Pailan, MPd selaku Sekretaris Jurusan Teknik Indutri UPN “Veteran” Jawa Timur.
5. Ibu Ir. Yustina ngatilah, MT selaku Dosen Pembimbing I Skripsi. 6. Ibu Enny Ariyani, ST, MT selaku Dosen Pembimbing II Skipsi.
8. Segenap staff Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama masa perkuliahan.
9. Seluruh Keluargaku (Papa, Mama, Kakak, dan Kekasih) Makasi banyak atas Doa, Semangat, dan Support yang uda diberikan buat aku.
10. Teman-temanku (halim, Yudha, yanuar, roby, dan cikyen), terima kasih banyak.
11. Pihak – pihak terkait yang membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir/Skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih banyak.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir/Skripsi ini terdapat kesalahan dan kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu sebagai penulis, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan Tugas Akhir/Skripsi ini. Akhir kata, semoga Tugas Akhir/Skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surabaya, 12 November 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 2
1.3 Batasan Masalah... 2
1.4 Asumsi ... 2
1.5 Tujuan ... 2
1.6 Manfaat ... 3
1.7 Sistematika Penulisan ... 3
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk ... 5
2.1.1 Perancangan Produk ... 5
2.1.2 Pengembangan Produk ... 8
2.1.3 Inovasi Produk... 11
2.2.1 Sejarah dan Perkembangan Ergonomi ... 12
2.2.2 Definisi Ergonomi ... 14
2.2.3 Bidang Kajian Ergonomi ... 16
2.2.4 Sikap Kerja ... 17
2.3 Anthropometri ... 20
2.3.1 Definisi Anthropometri ... 20
2.3.2 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya ... 21
2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal dan Persentil Dalam Penetapan Data Anthropometri ... 26
2.4 Keseimbangan ... 32
2.5 Kursi Santai dan Rak buku ... 34
2.5.1 Definisi Kursi Santai dan Rak buku ... 34
2.5.2 Komponen dan Bahan Kursi Santai dan Rak buku ... 35
2.6 Kuisioner ... 35
2.7 Pengujian Data ... 37
2.7.1 Uji Keseragaman Data ... 37
2.7.2 Uji Kecukupan Data ... 39
2.8 Penelitian Terdahulu ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41
3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel ... 41
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data ... 47
4.2 Pengolahan Data ... 48
4.2.1 Desain Kursi Santai Awal ... 48
4.2.2 Desain Kursi Santai yang Dilengkapi Rak Buku ... 59
4.2.2.1 Uji Keseragaman Data ... 59
4.2.2.2 Uji Kecukupan Data ... 60
4.2.2.3 Menentukan Persentil ... 62
4.2.2.4 Perancangan Desain Kursi Santai yang Dilengkapi Rak Buku ... 65
4.2.2.5 Uji Coba Pemakaian Kursi Santai yang Dilengkapi Rak Buku ... 66
4.2.2.6 Perbandingan Desain Kursi Santai Awal dengan Kursi Santai yang Dilengkapi Rak Buku ... 67
4.3 Hasil dan Pembahasan ... 70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 73
5.2 Saran ... 74
ABSTRAKSI
Kursi santai yang ada sekarang memiliki fungsi hanya sebagai tempat bersantai saja tanpa adanya fungsi lain. Pada saat pengguna bersantai sambil membaca buku atau koran pengguna sering kali berdiri dari tempat duduk untuk mengganti judul bacaan yang kebanyakan orang malas melalukannya karena sudah dalam posisi santai. Begitu pun dengan tempat buku, dengan bentuknya yang besar dan susah dipindahkan membuat kebanyakan orang meletakkannya disudut-sudut ruang yang sulit untuk dijangkau.
Kursi santai yang dilengkapi tempat buku merupakan penggabungan antara kursi santai dan tempat buku dimana tempat buku diletakkan pada kedua sisi tempat buku yang memungkinkan pengguna lebih mudah dalam menggapainya. Rancangan ini juga memiliki dua pengaturan untuk bagian sandaran yaitu posisi tegak dan posisi miring yang bisa diatur sesuai dengan kebutuhan pengguna. Untuk membuat rancangan ini lebih nyaman lagi maka ditambahkan spon pada bagian sandaran kursi yang juga dapat diatur posisinya untuk menopang bagian leher agar tidak mudah lelah ketika sedang membaca buku. Rancangan ini juga memiliki bentuk yang flexibel sehingga bisa dipindahkan sesuai dengan kebutuhan dan kemauan pengguna untuk menghindari kejenuhan dan suasana bosan.
Penelitian ini bertujuan merancang ulang dan mengembangkan produk inovasi kursi santai yang dilengkapi tempat buku yang ergonomis sesuai dengan kebutuhan konsumen yang mempunyai kenyamanan dalam penggunaanya.
Adapun spesifikasi ukuran untuk desain kursi santai yang dilengkapi tempat buku, yaitu panjang dudukan kursi santai yang dilengkapi tempat buku adalah 51 cm, lebar dudukan kursi santai yang dilengkapi tempat buku adalah 48, tinggi sandaran kursi adalah 99 cm, tinggi dudukan siku adalah 22 cm, tinggi kursi 35 cm, panjang kursi keseluruhan adalah 110 cm, lebar kursi keseluruhan adalah 74 cm, lebar tempat buku adalah 10 cm, panjang ruang tempat buku adalah 51 cm dan sudut kemiringan yang digunakan adalah 80º dan 90º. Ukuran diatas menunjukkan produk sudah ergonomis dengan diperkuat oleh hasil kuisioner kursi santai yang dilengkapi tempat buku SS (sangat sesuai) sebanyak 52 jawaban, S (sesuai) sebanyak 73 jawaban, C (cukup) sebanyak 23 jawaban, TS (tidak sesuai) 2 dan, STS (sangat tidak sesuai) tidak ada. SS, S, C, TS, STS > SS, S, C, TS, STS atau 52, 73, 23, 2, 0 > 16, 50, 51, 30, 3`.
ABSTRACT
Lounge chairs are there now has only function as a place to relax without any other function. At the moment the user to relax while reading a book or newspaper users often stand up from a sitting to replace reading the title that most people are lazy melalukannya because it is in a relaxed position. So even with bookshelves, with its large and difficult to be moved to make most people put it in the corner-corner space that is difficult to reach.
Lounge chairs are fitted bookcase is a merger between lounge chairs and bookshelves where bookshelves placed on both sides of the bookcase that allows users to more easily within reach. This design also has two settings for the back of the upright and tilted positions which can be adjusted according to user needs. To make this design more comfortable then added to the sponge on the back of the chair that can also be positioned to support the neck so as not to tire easily when reading books. This design also has a flexible form that can be moved according to user needs and a willingness to avoid burnout and boredom mood.
This research aims to redesign and develop product innovations lounge chairs that ergonomic are equipped bookshelves according to the needs of consumers who have comfort in use.
The design specifications for the size of the lounge chairs are fitted bookshelves, the long seat chairs are fitted bookcase is 51 cm, width of seat chairs are fitted bookcase is 48, back of a chair height is 99 cm, elbow height is 22 cm, height seat 35 cm, overall seat length is 110 cm, the overall seat width is 74 cm, width of the book is 10 cm, the length of the room where the book is 51 cm and the angle used is 80 º and 90 º. Shows the size of the product has been reinforced by the results of ergonomic chairs questionnaires incorporating bookshelves, VA (very appropriate) answer as many as 52, F (fit) by 73 answers, Q (quite) as much as 23 answers, NA (not appropriate) as much as 2 and , VNA (very not appropriate) does not exist, VA, F, Q, NA, VNA > VA, F, Q, NA, VNA atau 52, 73, 23, 2, 0 > 16, 50, 51, 30, 3`.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia yang semakin berkembang ini kita sebagai manusia mengharapkan munculnya hal-hal baru yang lebih praktis dan nyaman dalam penggunaanya serta mempunyai daya guna lebih dari produk sebelumnya. Hal ini ditunjang pula dengan ketersediaan alat penunjang yang dilengkapi dengan teknologi sekarang ini untuk pembuatan dan semakin berkembangnya kebutuhan manusia akan sebuah kemudahan. Pada umumnya kursi santai dan rak buku merupakan salah satu properti yang dalam keseharian tidak asing lagi buat kita.
Kursi santai yang ada sekarang memiliki fungsi hanya sebagai tempat bersantai saja tanpa adanya fungsi lain. Pada saat pengguna bersantai sambil membaca buku atau koran pengguna sering kali berdiri dari tempat duduk untuk mengganti judul bacaan yang kebanyakan orang malas melalukannya karena sudah dalam posisi santai. Dengan adanya rancangan ulang kursi santai yang dilengkapi tempat buku ini maka kita akan lebih mudah dalam mendapatkan buku bacaan tanpa harus berdiri saat ingin menggantinya. Rancangan ini juga memiliki bentuk yang flexibel sehingga bisa diatur sudut kemiringannya yaitu antara 80º dan 90º agar pengguna dapat lebih nyaman.
miring yang bisa diatur sesuai dengan kebutuhan pengguna. Untuk membuat rancangan ini lebih nyaman lagi maka ditambahkan spon pada bagian sandaran kursi yang juga dapat diatur posisinya untuk menopang bagian kepala agar tidak mudah lelah ketika sedang membaca buku.
Penelitian ini bertujuan merancang ulang dan mengembangkan produk inovasi kursi santai yang dilengkapi tempat buku yang ergonomis sesuai dengan kebutuhan konsumen yang mempunyai kenyamanan dalam penggunaanya.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang dihadapi, yaitu :
“Bagaimana merancang ulang kursi santai yang dilengkapi tempat buku yang ergonomis sehingga mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan
dalam penggunaanya?”
1.3. Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :
1. Data antropometri disesuaikan dengan masyarakat Indonesia dengan pertimbangan usia antara 17-70 tahun.
2. Kursi santai yang digunakan merupakan kursi santai ibu kost yang ada di Daerah Rungkut Sawah
3. Persentil yang digunakan adalah persentil 5, 50, dan 95.
1.4 Asumsi
Asumsi yang akan digunakan yaitu :
1. Kondisi pengguna diukur dalam keadaan baik.
2. Sampel yang diukur mewakili seluruh pengguna produk.
1.5 Tujuan
Adapun tujuan penelitian yaitu :
Melakukan perancangan ulang kursi santai yang dilengkapi tempat buku yang ergonomis sehingga mampu memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam penggunaannya.
1.6 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah : 1. Bagi Peneliti
Sebagai latihan untuk menerapkan teori yang diberikan dibangku kuliah dalam permasalahan nyata.
2. Bagi Pengguna tinggi
Sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan perpustakaan dan bahan studi banding bagi yang berminat dengan masalah ini.
3. Bagi pembaca
1.7 Sistematika Penulisan Laporan
Pada dasarnya sistematika penyusunan adalah suatu hal yang sangat diperlukan dalam pembuatan karya tulis karena sistematika penyusunan memuat seluruh isi karya tulis secara berurutan sehingga dapat terlihat dengan jelas mengenai masalah-masalah yang dibahas. Dalam hal ini makalah skripsi yang dibuat oleh penyusun adalah membahas mengenai hal-hal sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan secara umum mengenai latar belakang, tujuan ruang lingkup sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan teori-teori mengenai obyek produk yaitu, teori mengenai ergonomi yang dilengkapi dengan desain perancangan produk
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan mengenai lokasi penelitian ,metode pengupulan data yang dilengkapi dengan langkah pemecahan masalah.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Menjelaskan pengumpulan data yang dilengkapi dengan perancangan sapu lantai multifungsi.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi tentang kesimpulan terhadap permasalahan yang telah dibahas serta memberikan saran yang bermanfaat.
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk. 2.1.1 Perancangan Pr oduk.
Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian kegiatan dalam proses pembuatan produk. Dalam tahap perancangan tersebut dibuat keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang menyusulnya. Diantara keputusan penting tersebut, termasuk keputusan yang membawa akibat apakah industri dalam negeri dapat berpartisipasi atau tidak dalam suatu pembangunan proyek.
Kesejahteraan dan kualitas hidup manusia yang telah mencapai tingkat yang tinggi saat ini, sebagian besar adalah akibat diciptakan, dibuat dan dimanfaatkannya berbagai produk dan jasa yang tak terhitung macam dan jumlahnya oleh para insinyur dan ahli-ahli teknik lainnya. Kontribusi para ahli teknik dalam meningkatkan kesejahteraan manusia tersebut adalah dalam kegiatan mencipta, merancang dan membuat produk dan jasa yang berguna bagi manusia karena meringankan beban hidupnya dan membuat hidup lebih nyaman. Produk dan jasa tersebut juga harus memenuhi beberapa persyaratan modern seperti tidak merusak lingkungan, hemat energi dan lain sebagainya.
perancangan konsep produk, disusul kemudian dengan perancangan, pengembangan dan penyempurnaan produk.
Dalam bentuk yang paling sederhana, hasil rancangan dapat berupa sebuah sketsa atau gambar sederhana dari produk yang akan dibuat. Dalam hal si pembuat produk adalah si perancang sendiri, maka sketsa atau gambar yang dibuat cukup sederhana saja asalkan dapat dimengertinya sendiri.
Menurut Pressman (2010), perancangan adalah langkah pertama dalam fase pengembangan rekayasa produk atau sistem. Perancangan itu adalah proses penerapan berbagai teknik dan prinsip yang bertujuan untuk mendefinisikan sebuah peralatan, satu proses atau satu sistem secara detail yang membolehkan dilakukan realisasi fisik (Taylor dalam Pressman,2001).
1. Langkah - langkah Perancangan Produk a. Fase Informasi.
Fase yang bertujuan untuk memahami seluruh aspek yang berkaitan dengan produk yang hendak dikembangkan dengan cara mengumpulkan seluruh informasi yang dibutuhkan secara akurat diantaranya (Imam Djati 2001) : - Gambar produk awal dan spesifikasi.
- Kriteria keinginan konsumen terhadap produk. - Kriteria keinginan relatif konsumen.
- Kriteria manufaktur yang mencakup diagram mekanisme pembuatan struktur dan fungsi.
- Kriteria buying. Dasar Kemampuan pembelian produk dengan pertimbangan kualitas,maupun performance produk.
b. Fase kreatif.
Fase yang bertujuan untuk menampilkan alternatif yang dapat memenuhi fungsi yang dibutuhkan diantaranya :
- Penentuan kriteria atribut yang menggunakan diagram pohon. - Penentuan prioritas perancangan.
- Pembuatan alternatif model produk. c. Fase analisa.
Fase yang bertujuan untuk menganalisa alternatif yang dihasilkan pada fase kreatif dan memberikan rekomendasi terhadap alternatif terbaik dan analisa yang dilakukan antara lain :
-Analisa kriteria atribut yang akan dikembangkan. -Penilaian kriteria atribut antar model.
-Pembobotan kriteria atribut produk. -Value analysis.
d. Fase pengembangan.
Fase yang bertujuan memilih salah satu alternatif tunggal dari beberapa alternatif yang ada yang merupakan alternatif terbaik dan merupakan output dari fase analisa. Data data tentang alternatif yang digunakan adalah :
- Alternatif terpilih.
- Gambar produk terpilih dan spesifikasinya. e. Fase rekomendasi.
2. Model Perancangan Produk.
Dalam model perancangan produk terdefinisikan menjadi dua jenis model yang sangat dominan dalam awal perancangan produk yaitu model deskriptif dan model perspektif (Ginting R, 2009).
a. Model deskriptif.
Dalam model ini pentingnya menghasilkan suatu konsep solusi sejak dini dalam proses perancangan dan berfokus pada solusi heuristic (pengalaman sebelumnya bersifat umum).
b. Model perspektif.
Model yang bersifat sistematik dan penekanan berada pada semakin meningkatnya kebutuhan yang lebih analitik sebelum aktifitas pembangkitan alternatif alternatif solusi.
2.1.2 Pengembangan Pr oduk.
Tujuan perusahaan dalam mengembangkan produk adalah agar dapat memenangkan persaingan terhadap barang sejenis, sehingga volume penjualan dan laba perusahaan dapat meningkat serta perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan dapat memperluas usahanya. Pengembangan produk dapat pula dilakukan dengan cara memperbaiki produk yang sudah ada (modifikasi produk), perbaikan produk yang sudah ada dilakukan dengan cara: perbaikan mutu/kualitas, perbaikan segi/feature baru, dan perbaikan corak/motif. Disamping menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan juga menciptakan suatu strategi pengembangan produk.
Usaha strategi pengembangan produk diharapkan dapat mengikuti perubahan teknologi yang dipakai dalam perusahaan. Hal ini bagi perusahaan sangat penting karena suatu saat akan mengalami peralihan teknologi. Pada peralihan teknologi perusahaan akan menggunakan teknologi lebih maju guna menjaga kedinamisan perusahaan. Oleh karena itu diperlukan strategi bagi perusahaan agar dapat menciptakan suatu produk baru.
Menurut Urlich (2001, pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang dimulai dari analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap produksi, penjualan, dan pengiriman produk.
1. Tahap - Tahap Dalam Pengembangan Produk.
Menurut Swastha (1997), ada beberapa tahap dalam pengembangan produk, yaitu :
a. Tahap Penyaringan.
Tahap Penyaringan dilakukan setelah berbagai macam ide tentang produk telah tersedia, Dalam tahap ini merupakan pemilihan sejumlah ide dari berbagai macam sumber. Adapun informasi atau ide berasal dari manager perusahaan, pesaing, para ahli termasuk konsultan, para penyalur, langganan, atau lembaga lain.
b. Tahap Analisa Bisnis.
Pada tahap ini msing-masing ide dianalisa dari segi bisnis untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan ide tersebut dapat menghasilkan laba.
c. Tahap Pengembangan.
Pada tahap ini, ide yang telah dianalisa perlu dikembangkan karena ide-ide tersebut lebih menguntungkan. Pengembangan ini tentunya harus sesuai dengan kemampuan perusahaan.
d. Tahap Pengujian.
Tahap pengujian merupakan kelanjutan dari tahap pengembangan, meliputi : - Pengujian tentang konsep produk.
- Pengujian terhadap kesukaan konsumen. - Penelitian laboratorium.
- Test penggunaan.
2.1.3 Inovasi Pr oduk.
Menurut etimologi, inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna ‘pembaharuan; perubahan (secara) baru’. Inovasi adakalanya diartikan sebagai penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui orang; contohnya penemuan benua Amerika. Sebenarnya, benua Amerika sudah ada sejak dahulu, tetapi baru ditemukan pada tahun 1492 oleh orang Eropa yang bernama Columbus. Invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia; contohnya teori belajar, mode busana, dan sebagainya. Inovasi adalah suatu ide, produk, metode, dan seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa hasil diskoveri atau invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu.
Effendi sanusi (2011) mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru, praktik-praktik baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran. Pengertian baru di sini, mengandung makna bukan sekadar baru diketahui oleh pikiran (cognitive), melainkan juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat dalam arti sikap (attitude) dan juga baru dalam pengertian belum diterima dan diterapkan oleh seluruh warga masyarakat setempat.
diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.
Fullan mengemukakan bahwa tahun 1960-an adalah era banyak inovasi pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia, fisika baru, mesin belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu, pengajaran secara tim (team teaching), termasuk sistem belajar mandiri.
2.2 Ergonomi.
2.2.1Sejar ah dan Per kembangan Er gonomi.
Di dalam buku Eko Nurmianto, Istilah "ergonomi" mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut:
1. C.T. Thackrah, England, 1831.
ergonomis sehingga mengakibatkan membungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan. Disamping itu juga mengamati para pekerja yang berada pada lingkungan kerja dengan temperatur tinggi, kurangnya ventilasi, jam kerja yang panjang, dan gerakan kerja yang berulang-ulang (repetitive work).
2. F. W. Taylor, U.S.A., 1898.
Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan
metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan. Beberapa metodanya merupakan konsep ergonomi dan manajemen modern.
3. F .B. Gilberth, U.S.A., 1911.
Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih
mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur naik-turun (adjustable).
4. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatigue Research Board), England, 1918.
2.2.2Definisi Ergonomi.
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia merancang suatu sistem kerja, sehingga manusia dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan nyaman. Fokus dari ergonomi adalah manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dan pekerja serta kehidupan sehari-hari dimana penekanannya adalah pada faktor manusia.
Menurut Pulat (1992) ergonomi merupakan studi tentang interaksi antara manusia dengan objek yang mereka gunakan, dan lingkungan di mana mereka bekerja. Beberapa hal yang penting dalam pengertian tersebut adalah komponen manusia, obyek, lingkungan, serta interaksi antar komponen-komponen tersebut.
tentang rancang bangun lingkungan kerja (working environment), karena jika sistem perangkat keras berubah maka akan berubah pula lingkungan kerjanya.
Tujuan ergonomi adalah menambah efektifitas penggunaan objek fisik dan fasilitas yang digunakan oleh manusia dan merawat atau menambah nilai tertentu, misalnya kesehatan, kenyamanan dan kepuasan pada proses penggunaan tersebut.
Ergonomi dapat pula berperan sebagai desain pekerjaan pada suatu organisasi, misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja atau shift kerja, meningkatkan variasi pekerjaan dan lain-lain. Ergonomi dapat pula berfungsi sebagai desain perangkat lunak karena dengan semakin banyaknya pekerjaan yang berkaitan erat dengan komputer. Penyampaian informasi dalam suatu sistem komputer harus pula diusahakan sekompatibel mungkin sesuai dengan kemampuan dalam pemrosesan informasi oleh manusia. Ilmu ergonomi ini secara khusus akan mempelajari tentang keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya. Disiplin ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan, baik di dalam jangka pendek maupun panjang. Pada saat berhadapan dengan keadaan lingkungan kerja yang berupa perangkat keras (hardware mesin, peralatan kerja, dan sebagainya) dan perangkat lunak (metode kerja, sistem, dan prosedur).
Prinsip penting yang harus selalu diterapkan pada setiap perancangan adalah fitting the job to the man rather than the man to the job, dalam hal ini pekerjaan
mengikuti karakteristik dari manusia yang akan menggunakan sistem kerja tersebut.
2.2.3Bidang Kajian Ergonomi.
Pada berbagai sumber literatur, bidang kajian Ergonomi tidak berbeda secara signifikan, perbedaan hanya menyangkut pengelompokan bidang kajian. Pengelompokan bidang kajian yang lengkap dan mencakup seluruh prilaku manusia dalam bekerja adalah kajian Ergonomi yang dikelompokkan oleh Iftikar Z. Sutalaksana sebagai berikut :
1. Anthropometri.
Anthropometri adalah cabang ergonomi yang mengkaji masalah dimensi tubuh manusia, Informansi dimensi tubuh manusia diperlukan untuk merancang sistem kerja yang ergonomis. Data Anthropometri selalu berbeda untuk setiap individu. Perbedaan itu merupakan suatu kodrat bahwa tidak ada manusia yang sama dalam segala hal.
2. Faal Kerja.
Perilaku manusia yang dibahas dalam Faal kerja adalah reaksi tubuh selama bekerja, khususnya mengenai energi yang dikeluarkannya. Hal-hal yang banyak dibahas dalam Faal kerja manusia adalah kelelahan (fatique) kerja otot. 3. Biomekanika Kerja.
4. Penginderaan.
Manusia pada dasarnya memiliki lima indera utama, yaitu indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga), indera penciuman (hidung), indera perasa (kulit), serta indera perasa (lidah). Dalam ergonomi, penglihatan dan pendengaran dikaji untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan indera tersebut dalam merespon informasi dari sitem kerja.
5. Psikologi Kerja.
Psikologi kerja membahas masalah-masalah kejiwaan yang ditemukan ditempat kerja, yakni menyangkut faktor diri manusia, termasuk didalamnya: kebiasaan, jenis kelamin, usia, sifat dan kepribadian dan sebagainya. Masalah faktor diri ini dikaji sebagai bagian dari ergonomi Karena pada setiap individu manusia terdapat faktor diri yang khas sebagai bawaan lahir. Ketidakcocokan dapat menimbulkan tekanan (stress) dan rendahnya motivasi untuk bekerja, sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas yang dihasilkan.
2.2.4Sikap Kerja.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan, yaitu :
1. Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau sikap berdiri secara bergantian.
2. Semua sikap tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan, hendaknya diusahakan agar beban statis diperkecil. 3. Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membebani
dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh (paha). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi darah dan juga untuk mencegah keluhan kesemutan yang dapat mengganggu aktivitas.
Sikap tubuh dalam bekerja terdiri dari :
menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 20-30 menit. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi, jaga bahu tetap rileks.
Gambar 2.1 Sikap kerja pada Visual Display Terminal (VDT)
Keuntungan bekerja sambil duduk adalah sebagai berikut : a. Kurangnya kelelahan pada kaki.
b. Terhindarnya sikap-sikap yang tidak alamiah. c. Berkurangnya pemakaian energi dalam bekerja. d. Kurangnya tingkat keperluan sirkulasi darah.
Namun, kegiatan bekerja sambil duduk juga dapat menimbulkan kerugian/ masalah bila dilakukan secara tidak ergonomis. Kerugian tersebut antara lain :
a. Melembeknya otot-otot perut. b. Melengkungnya punggung.
2.3 Anthropometri.
2.3.1Definisi Anthropometr i.
Menurut Sritomo Wignjosoebroto dalam bukunya istilah antropometri berasal dari "anthro" yang berarti manusia dan "metri" yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukurandimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb.) berat dan lain-lain. Yang berbeda satu dengan yang lainnya. Antropometri secara luasakan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan (desain) produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksimanusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luasantara lain dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll ).
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya.
3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer dll.
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
95 % dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya.
2.3.2Data Anthropometr i dan Cara Pengukurannya.
Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia , yaitu (Nurmianto, 2003) :
1. Umur.
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahiran sampai dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian ysng dilakukan oleh A. F. Roche dan G. H. Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun, sedangkan wanita 17,3 tahun. Meskipun ada 10 % yang masih terus bertambah tinggi sampai usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita). Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan (Wignjosoebroto, 1995).
2. Jenis kelamin (sex).
3. Suku bangsa (etnic).
Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnic akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi tubuh suku bangsa negara Timur.
4. Keacakan / Random.
Hal ini menjelaskan bahwa walaupun telah terdapat dalam satu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku atau bangsa, kelompok usia dan pekerjaannya, namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat.
5. Jenis Pekerjaan.
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan. Misalnya, buruh dermaga harus mempunyai postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya. Apalagi jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.
6. Pakaian.
Tebal tipisnya pakaian yang dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda akan memberikan varisi berbeda-beda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orangpun akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lainnya.
7. Faktor Kehamilan.
8. Tubuh Cacat.
Hal ini jelas menyebabkan perbedaan antara yang cacat dengan yang tidak terhadap ukuran dimensi tubuh manusia.
9. Posisi tubuh (posture).
Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran.
Berkaitan dengan posisi tubuh manusia dikenal dua cara pengukuran, yaitu: a. Antropometri Statis (Structural Body Dimensions).
Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur meliputi berat badan, tinggi tubuh, dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/panjang lutut, pada saat berdiri/duduk, panjang lengan, dan sebagainya.
b. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimensions).
Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan (Wignjosoebroto, 1995) .
Gambar 2.2. Antr opometri untuk Perancangan Pr oduk Sumber: Wignjosoebroto, 2003
Gambar 2.3. Antr opometr i Tinggi Badan Ber dir i dan Duduk Sumber : Sritomo Wigjosoebroto, 2003
Keterangan gambar 2.2. di atas, yaitu:
1 : Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai dengan ujung kepala).
2 : Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak. 3 : Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak.
5 : Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam gambar tidak ditunjukkan).
6 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk (di ukur dari alas tempat duduk pantat sampai dengan kepala).
7 : Tinggi mata dalam posisi duduk. 8 : Tinggi bahu dalam posisi duduk.
9 : Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus). 10 : Tebal atau lebar paha.
11 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan. ujung lutut.
12 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari lutut betis.
13 : Tinggi lutut yang bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk. 14 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang di ukur dari lantai sampai dengan
paha.
15 : Lebar dari bahu (bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk). 16 : Lebar pinggul ataupun pantat.
17 : Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan dalam gambar).
18 : Lebar perut.
19 : Panjang siku yang di ukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi siku tegak lurus.
20 : Lebar kepala.
23 : Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar kesamping kiri kanan (tidak ditunjukkan dalam gambar).
24 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak. 25 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak.
26 : Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan di ukur dari bahu sampai dengan ujung jari tangan.
2.3.3Aplikasi Distribusi Normal, allowance dan Per sentil Dalam Penetapan Data Anthropometr i.
Data anthropometri diperlukan agar supaya rancangan suatu produk bisa sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang diperlukan pada hakekatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara individual. Adanya variansi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana kita mampu merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu suai” dengan suatu ukuran tertentu.
Tabel 2.1. Data Antr opometri Masyarakat Indonesia
Pada penetapan data anthropometri, pemakaian distribusi normal akan umum diterapkan. Distribusi normal dapat diformulasikan berdasarkan harga ratarata dan simpangan standarnya dari data yang ada. Berdasarkan nilai yang ada tersebut, maka persentil (nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari orang yang memiliki ukuran pada atau di bawah nilai tersebut) bisa ditetapkan sesuai tabel probabilitas distribusi normal. Bilamana diharapkan ukuran yang mampu mengakomodasikan 95% dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2,5th dan 97,5th percentile sebagai batas-batasnya (Wignjosoebroto, 1995).
Gambar 2.4. Distribusi nor mal yang mengakomodasi 95% dari populasi. Sumber: Wignjosoebroto, 2003
Menurut Panero dan Zelnik (2003) disamping berbagai variasi, pola umum dari suatu distribusi data anthopometrik, seperti juga data-data lain, biasanya dapat diduga dan diperkirakan seperti pada distribusi Gaussian. Distribusi semacam itu, bila disajikan melalui grafik dengan membandingkan kejadian yang muncul terhadap besaran, biasanya berbentuk kurva simetris atau berbentuk lonceng. Ciri umum kurva berbentuk lonceng tersebut adalah besarnya prosentase pada bagian tengah dengan sediki saja perbedaan yang mencolok pada bagian ujung dari skala grafik tersebut.
terletak pada ujung-ujung grafik. Telah disebutkan pula bahwa merancang untuk kepentingan keseluruhan populasi sekaligus merupakan hal yang tidak praktis. Oleh karena itu sebaiknya dilakukan perancangan dengan tujuan dan data yang berasal dari segmen populasi dibagian tengah grafik. Jadi merupakan hal logis untuk mengesampingkan perbedaan yang ekstrim pada bagian ujung grafik dan hanya menggunakan segmen terbesar yaitu 95% dari kelompok populasi tersebut.
Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean (rata-rata) dan SD (standar deviasi). Sedangkan persentil adalah suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase dari sekelompok orang yang dimensinya sama atau lebih rendah dari nilai persentil yang digunakan. Misalnya: persentil 95% adalah mewakili sama dengan atau lebih rendah dari 95% jumlah populasi; persentil 5% adalah mewakili sama dengan atau lebih rendah dari 5% jumlah populasi (Nurmianto, 2004).
Persentil ke-50 memberi gambaran yang mendekati nilai rata-rata dari suatu kelompok tertentu, namun demikian pengertian ini jangan disalah artikan sama dengan mengatakan bahwa rata-rata orang pada kelompok tersebut memiliki ukuran tubuh yang dimaksudkan tadi. Ada dua hal penting yang harus selalu diingat bila menggunakan persentil. Pertama, persentil anthropometrik dari tiap invidu hanya berlaku untuk satu data dimensi tubuh saja. Kedua, tidak dapat dikatakan seseorang memilki persentil yang sama, ke-95 atau ke-90 atau ke-5, untuk keseluruhan dimensi tubuhnya (Panero dan Zelnik, 2003).
Tabel 2.2. Macam persentil dan cara perhitungan dalam distribusi nor mal.
Sumber: Wignjosoebroto, 1995 Keterangan tabel 2.2. di atas, yaitu:
x = mean data
σ = standar deviasi dari data x
Pada pengolahan data anthropometri yang digunakan adalah data anthropometri
hasil pengukuran dimensi tubuh manusia yang berkaitan dengan dimensi dari
perancangan fasilitas kerja.
Sedangkan pada penentuan dimensi rancangan fasilitas kerja perakitan dibutuhkan beberapa persamaan berdasarkan pendekatan anthropometri. Ini berkaitan dengan penentuan penggunaan persentil 5 dan 95.
Perhitungan nilai persentil 5 dan persentil 95 dari setiap jenis data yang diperoleh, dilanjutkan dengan perhitungan untuk penentuan ukuran rancangan dan pembuatan rancangan berdasarkan ukuran hasil rancangan. Menurut Wignjosoebroto (2003), untuk menghitung persentil 5 dan persentil 95 menggunakan rumus pehitungan yang terdapat pada tabel 2.2. sebelumnya.
P50 = x ... Persamaan 2.2.
P95 = x + 1,645 σ x ... Persamaan 2.3. Allowance
Allowance adalah faktor kelonggaran yang dibutuhkan dalam sebuah pengukuran seperti halnya penambahan ukuran pada dimensi suatu produk untuk memberikan kelonggaran.
Penentuan kelonggaran (allowance) ditentukan sesuai kebutuhan dalam pembuatan suatu produk dengan acuan memberikan kenyamanan untuk mendapat suatu produk yang ergonomis. Kelonggaran setiap dimensi yang digunakan tidak selalu sama karena masing-masing dimensi memiliki ukuran yang berbeda dan membutukan kelonggaran (allowance) yang berbeda juga. Perhitungan allowance dapat dilihat pada persamaan 2.4, 2.5, 2.6 :
P5 = x - 1,645 σ x + allowance ... Persamaan 2.4. P50 = x+ allowance ... Persamaan 2.5.
P95 = x + 1,645 σ x + allowance ... Persamaan 2.6.
2.4 Keseimbangan
gerak translasi yang sedang dijalani dimana pada kasus ini lintasannya berbentuk parabola. Tongkat ini memang berputar pada porosnya, yaitu tepat di titik beratnya. Dan, secara keseluruhan benda bergerak dalam lintasan parabola. Lintasan ini merupakan lintasan dari posisi titik berat benda tersebut.
Cara untuk mengetahui letak titik berat suatu benda akan menjadi mudah untuk benda-benda yang memiliki simetri tertentu, misalnya segitiga, kubus, balok, bujur sangkar, bola dan lain-lain. Yaitu sama dengan letak sumbu simetrinya. Hal ini jelas terlihat pada contoh diatas bahwa letak titik berat sama dengan sumbu rotasi yang tidak lain adalah sumbu simetrinya.Di sisi lain untuk benda-benda yang mempunyai bentuk sembarang letak titik berat dicari dengan perhitungan. Perhitungan didasarkan pada asumsi bahwa kita dapat mengambil beberapa titik dari benda yang ingin dihitung titik beratnya dikalikan dengan berat di masing-masing titik kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah berat pada tiap-tiap titik. dikatakan titik berat juga merupakan pusat massa di dekat permukaan bumi, namun untuk tempat yang ketinggiannya tertentu di atas bumi titik berat dan pusat massa harus dibedakan.
2.5 Kur si Santai
2.5.1 Definisi Kur si Santai
Kursi santai merupakan salah satu alat atau tempat untuk menikmati suasana santai misalnya santai di depan rumah atau tempat-tempat dengan suasana tenang dan nyaman. Pada dasarnya kursi santai hanya dimanfaatkan sebagai wadah santai saja namun sebenarnya jika dilakukan inovasi sedikit maka akan memberikan nilai fungsi dan guna yang lebih.
2.5.2 Komponen Kur si santai
Komponen utama pembuatan kursi santai dan rak buku umumnya adalah : 1. Kursi santai
a. papan atau kayu yang sudah dipotong menurut ukuran misaanya pada bagian dudukan dengan dimensi 45cm x 7cm x 2cm dengan tambahan Dechosid yaitu pelapis seperti texture kayu yang halus dan mengkilap.
b. Paku yaitu digunakan sebagai penyambung seluruh bagian komponen kursi santai.
2.6 Kuisioner.
Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
Dengan menggunakan kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.Penggunaan kuesioner tepat bila :
1. Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling berjauhan.
3. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat sebelum proyek sistem diberi petunjuk-petunjuk tertentu.
4. Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.
J enis Per tanyaan Pada Kuisioner
Perbedaaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam kuesioner adalah dalam wawancara memungkinkan adanya interaksi antara pertanyaan dan artinya. Dalam wawancara analis memiliki peluang untuk menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah-istilah yang belum jelas, mengubah arus pertanyaan, memberi respons terhadap pandanmgan yang rumit dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya. Beberapa diantara peluang-peluang diatas juga dimungkinkan dalam kuesioner. Jadi bagi penganalisis pertanyaan-pertanyaan harus benar-benar jelas, arus pertanyaan masuk akal, pertanyaan-pertanyaan dari responden diantisipasi dan susunan pertanyaan direncanakan secara mendetail.Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner adalah :
1. Pertanyaan Terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa diterjemahkan dengan benar.
2. Pertanyaan Tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup pilihan-pilihan respons yang tersedia bagi responden.
1. Gunakan bahasa responden kapanpun bila mungkin. Usahakan agar kata-katanya tetap sederhana.
2. Bekerja dengan lebih spesifik lebih baik daripada ketidak-jelasan dalam pilihan kata-kata. Hindari menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik. 3. Pertanyaan harus singkat.
4. Jangan memihak responden dengan berbicara kapada mereka dengan pilihan bahasa tingkat bawah.
5. Hindari bias dalam pilihan kata-katanya. Hindari juga bias dalam pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan.
6. Berikan pertanyaan kepada responden yang tepat (maksudnya orang-orang yang mampu merespons). Jangan berasumsi mereka tahu banyak.
7. Pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut secara teknis cukup akurat sebelum menggunakannya.
8. Gunakan perangkat lunak untuk memeriksa apakah level bacaannya sudah tepat bagi responden.
2.7 Pengujian Data.
2.7.1Uji Keseragaman Data.
dalam uji keseragaman data yaitu menghitung besarnya rata-rata dari setiap hasil pengamatan, dengan persamaan berikut :
x = n
xi
∑
... Persamaan 2.7.Dimana:
x = Rata-rata data hasil pengamatan. x = Data hasil pengukuran.
Langkah kedua adalah menghitung deviasi standar dengan persamaan 2.8 berikut:
1 )
( 2
− −
=
∑
n x xi
σ ... Persamaan 2.8.
Dimana:
σ = Standar deviasi dari populasi.
n = Banyaknya jumlah pengamatan. x = Data hasil pengukuran.
Langkah ketiga adalah menentukan batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol bawah (BKB) yang digunakan sebagai pembatas dibuangnya data ektrim dengan menggunakan persamaan 2.9 dan 2.10 berikut :
BKA = X + kσ ... Persamaan 2.9. BKB = X - kσ ... ... Persamaan 2.10.
Dimana:
X = Rata-rata data hasil pengamatan.
σ = Standar deviasi dari populasi.
Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2. Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.
2.7.2Uji Kecukupan Data.
Analisis kecukupan data dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah data yang diambil sudah mencukupi denganmengetahui besarnya nilai N’. Apabila N’ < N maka data pengukuran dianggap cukup sehingga tidak perlu dilakukan pengambilan data lagi. Sedangkan jika N’ > N maka data dianggap masih kurang sehingga diperlukan pengambilan data kembali. Adapun tahapan dalam uji kecukupan data adalah sebagai berikut :
1. Menentukan Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan.
2. Pengujian Kecukupan Data.
... Persamaan 2.11. Dimana:
N’ = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan. x = Data hasil pengukuran.
s = Tingkat ketelitian yang dikehendaki (dinyatakan dalam desimal). k = Harga indeks tingkat kepercayaan, yaitu:
Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1. Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2. Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.
Setelah mendapatkan nilai N’ maka dapat diambil kesimpulan apabila N’<N maka data dianggap cukup dan tidak perlu dilakukan pengambilan data kembali, tetapi apabila N’ > N maka data belum mencukupi dan perlu dilakukan pengambilan data lagi.
2.8 Penelitian Terdahulu.
Yang dijadikan landasan pada penelitian ini adalah :
1. ”Perancangan Kursi pada Stasiun Kerja Gerinda” oleh : Triwulandari S. Dewayana, Universitas Trisakti. Pada penelitian tersebut menyatakan bahwa merancang fasilitas kerja berupa kursi yang dapat diatur ketinggiannya/ posisinya sesuai dengan posisi tubuh pekerja pada stasiun kerja untuk aktifitas menggerinda.
Jawa Timur, 2012. Pada penelitian tersebut diketahui desain tempat tidur balita terkait dengan dimensi-dimensi meliputi: stabilitas produk, kekuatan produk, fungsional dan bahan material.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada konsumen yang yang berada di daerah Rungkut Surabaya yang dimulai pada bulan Juni 2012 sampai data yang diperlukan terpenuhi.
3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Var iabel 3.2.1 Identifikasi Variabel
Variabel dapat diartikan sebagai faktor yang mempunyai besaran dan variasi dalam penelitian. Jenis variabel dalam penelitian ada dua yaitu :
1. Variabel terikat 2. Variabel bebas
Adapun variabel bebas yang berpengaruh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Tinggi siku dalam posisi duduk (tsd). b. Jarak dari lipat lutut ke pantat (jlp). c. Lebar pinggul atau pantat (lp).
3.2.2 Definisi Operasional Variabel
1. Variabel terikat adalah variabel yang perubahannya dipengaruhi oleh variabel lain, dalam hal ini adalah: kursi santai yang dilengkapi tempat buku yang ergonomis.
2. Variabel bebas adalah adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat.
Adapun variabel bebas yang berpengaruh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Tinggi siku dalam posisi duduk (tsd), diukur dari siku sampai alas tempat duduk pantat.
b. Jarak dari lipat lutut ke pantat (jlp), diukur dari pantat sampai bagian belakang lutut.
c. Lebar pinggul atau pantat (lp), diukur dari sisi pantat satu kesisi paha yang lainnya.
d. Tinggi badan dalam posisi duduk (tbd), diukur dari alas tempat duduk pantat sampai dengan kepala.
3.3 Langkah-langkah Pemecahan Masalah
Penjelasan langkah-langkah pemecahan masalah : 1. Mulai
Mulai ini meliputi kegiatan seperti : pembuatan proposal, konfirmasi pada pihak personalia, penyerahan judul permasalahan pada pihak jurusan sampai pembuatan surat keterangan penelitian.
2. Studi Pustaka
Studi kepustakaan yang dilakukan sebagai sarana pembantu pengumpulan informasi yang berkaitan dengan permasalahan. Studi kepustakaan ini diperoleh dari literatur-literatur seperti text books, jurnal maupun dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Dari studi kepustakaan ini akan diperoleh landasan metode-metode untuk pengolahan data, dan literatur mengenai objek pengamatan meja komputer serta acuan-acuan yang akan dipergunakan dalam penelitian.
3. Observasi penelitian
Melakukan kegiatan observasi pengungkapan fakta-fakta dalam proses memperoleh keterangan atau data dengan cara terjun langsung ke lapangan. 4. Identifikasi Masalah
Melakukan kegiatan pencarian dan pengenalan akan suatu masalah yang akan diteliti lebih lanjut.
5. Perumusan Tujuan
inovatif dari yang sudah ada saat ini.Serta menentukan tujuan dalam penelitian ini.
6. Pengumpulan Data
Melakukan pengumpulan data dengan cara melakukan pengukuran langsung terhadap tubuh manusia.
7. Uji Keseragaman Data
Dilakukan untuk menetapkan data yang seragam untuk mengaplikasikannya dapat digunakan peta kontrol. Melalui peta kontrol dapat terlihat apakah data seragam atau tidak ada data ekstrim. Jika ada data yang tidak seragam atau ada data ekstrim , data tersebut dibuang. Perhitungan pengujian ini meliputi : a. Perhitungan nilai rata-rata tiap dimensi.
x = n
xi
∑
b. Perhitungan standar deviasi.
1 )
( 2
− −
=
∑
n x xi σ
c. Perhitungan batas control atas dan bawah. BKA = X + kσ
BKB = X - kσ 8. Uji kecukupan data
Rumus uji kecukupan data :
9. Desain kursi santai yang dilengkapi dengan tempat buku
Dilakukan desain kursi santai yang dilengkapi dengan tempat buku dengan ukuran yang telah dihitung berdasarkan presntil.
10.Pembuatan kursi santai yang dilengkapi dengan tempat buku
Pembuatan produk jadi sesuai desain dan ukuran yang berdasarkan perhitungan presentil.
11.Uji Kursi santai yang dilengkapi dengan tempat buku
Kegiatan uji hasil dari desain dan rancangan kursi santai yang dilengkapi dengan tempat buku.
12.Hasil dan Pembahasan
Membahas hasil dari perancangan produk kursi santai yang dilengkapi dengan tempat buku dan pengujian keergonomisan yang telah dilakukan. 13.Kesimpulan dan Saran
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data Data Antr opometr i Pengguna
Ukuran untuk perancangan ulang kursi santai yang dilengkapi tempat buku diambil dari data antropometri pengguna produk tersebut yaitu dimensi tubuh masyarakat Indonesia usia 17-70 tahun sebanyak masing-masing 30 orang.
Tabel 4.1 Tabel Pengukuran Dimensi Tubuh dalam Satuan Centimeter (cm)
J umlah Or ang yang Diukur
Dimensi
tsd jlp lp tbd tld
1 23 49 33 86 35
2 22 48 33 86 40
3 23 49 35 85 41
4 21 47 36 86 41
5 19 49 36 86 38
6 19 45 35 80 42
7 19 47 37 81 40
8 25 45 37 86 42
9 20 47 37 83 41
10 21 50 36 83 42
11 22 51 37 82 44
12 23 50 33 86 45
13 20 51 32 87 44
14 20 51 33 87 45
15 25 49 31 86 36
16 18 49 35 88 36
17 19 47 35 83 40
18 24 51 34 83 35
19 24 50 36 90 34
20 24 49 38 80 38
21 24 48 32 86 40
22 21 46 32 86 40
23 21 47 33 83 42
24 22 48 35 89 39
25 24 45 36 86 42
26 20 45 37 84 37
27 22 47 36 89 38
28 25 47 34 86 38
29 25 48 37 85 44
30 26 49 38 86 44
Keterangan :
1. tsd = Tinggi siku dalam posisi duduk 2. jlp = Jarak dari lipat lutut ke pantat 3. lp = Lebar pinggul
4. tbd = Tinggi badan posisi duduk 5. tld = Tinggi lutut dalam posisi duduk
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Desain Kur si Santai Awal 1. Desain Kursi Santai Awal
Gambar kursi santai awal dapat di lihat pada Gambar 4.1 dibawah ini:
Gambar 4.1 Kursi Santai Awal
bacaan yang kebanyakan orang malas melalukannya karena sudah dalam posisi santai. Begitu pun dengan tempat buku, dengan bentuknya yang besar dan sulit dipindahkan membuat kebanyakan orang meletakkannya disudut-sudut ruang yang sulit untuk dijangkau.
4.2.2 Desain Kur si Santai yang Dilengkapi Tempat Buku 4.2.2.1 Uji Keseragaman Data
Uji keseragaman data digunakan untuk pengendalian proses bagian data yang ditolak atau tudak seragam karena tidak memenuhi spesifikasi.
1. Tinggi siku dalam posisi duduk (tsd)
Perhitungan ukuran dimensi tsd didasarkan pada data pengukuran dimensi tsd dari 30 orang untuk produk kursi santai yang dilengkapi tempat buku diperlihatkan pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Tabel Pengukuran Dimensi tsd
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi tsd
1 23
2 22
3 23
4 21
5 19
6 19
7 19
8 25
9 20
10 21
11 22
12 23
13 20
14 20
15 25
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi tsd 17 19 18 24 19 24 20 24 21 24 22 21 23 21 24 22 25 24 26 20 27 22 28 25 29 25 30 26 ∑X 661 1. Rata-rata
CL = = ∑
=
30 661= 22,033 cm
2. Standart Deviasi (σx)
σx = ∑( )
= 1 30 ) 033 , 22 26 ...( ) 033 , 22 22 ( ) 033 , 22 23
( 2 2 2
− − + − + −
= 2,251 cm
3. Uji Keseragaman Data BKA =
+ k.
σx= 22,033 + 2 (2,251 ) = 26,535 cm BKB =
– k.
σxGambar 4.2 Uji Keseragaman Data Dimensi Tinggi Siku dalam Posisi Duduk Analisa:
Dari grafik di atas terlihat bahwa, semua data ukuran dimensi tinggi siku dalam posisi duduk sudah seragam karena berada dalam batas control dan tidak ada data yang ekstrim.
2. J arak dar i lipat lutut ke pantat (jlp)
Perhitungan ukuran dimensi jlp didasarkan pada data pengukuran dimensi jlp dari 30 orang untuk produk kursi santai yang dilengkapi tempat buku diperlihatkan pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Tabel Pengukuran Dimensi jlp
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi jlp
1 49 2 48 3 49 4 47 5 49 6 45 7 47 8 45 9 47 10 50 11 51 23 2223 21 191919 25 2021 2223 2020 25 1819 24242424 2121 22 24 20 22 252526 16 18 20 22 24 26
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
UJI KESERAGAM AN DATA
Series 1 Series 2 Series 3 Series 4
BKA = 26,535
BKB = 17,53
CL = 22,033
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi jlp 12 50 13 51 14 51 15 49 16 49 17 47 18 51 19 50 20 49 21 48 22 46 23 47 24 48 25 45 26 45 27 47 28 47 29 48 30 49 ∑X 1.444 1. Rata-rata
CL = = ∑
=
30 1444= 48,133 cm
2. Standart Deviasi (σx)
σx = ∑( )
= 1 30 ) 133 , 48 49 ...( ) 133 , 48 48 ( ) 133 , 48 49
( 2 2 2
− − + − + −
= 1,87 cm
3. Uji Keseragaman Data BKA =
+ k.
σxBKB =
– k.
σx= 48,133 - 2 (1,87) = 44,393 cm
Gambar 4.3 Uji Keseragaman Data Dimensi Jarak Dari Lipat Lutut Ke Pantat Analisa:
Dari grafik di atas terlihat bahwa, semua data ukuran dimensi Jarak dari lipat lutut ke pantat telah seragam karena sudah berada dalam batas kontrol dan tidak ada data yang ekstrim.
3. Lebar Pinggul (lp)
Perhitungan ukuran dimensi lp didasarkan pada data pengukuran dimensi lp dari 30 orang untuk produk kursi santai yang dilengkapi tempat buku diperlihatkan pada tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4 Tabel Pengukuran Dimensi lp
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi lp
1 33 2 33 3 35 4 36 5 36 6 35 49 4849 47 49 45 47 45 47
5051505151 4949 47 51 50 49 48 464747 4545 474748 49 40 42 44 46 48 50 52
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
UJI KESERAGAM AN DATA
Serie s1 Serie s2 Serie s3 Serie s4 BKA =25.06
BKB = 44.2
CL = 48.133 Data ke-Data pe n gukur
an BKA = 51,873
BKB = 44,393
CL = 48,133
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi lp 7 37 8 37 9 37 10 36 11 37 12 33 13 32 14 33 15 31 16 35 17 35 18 34 19 36 20 38 21 32 22 32 23 33 24 35 25 36 26 37 27 36 28 34 29 37 30 38 ∑X 1.052 1. Rata-rata
CL = = ∑
=
30 1.052= 35,067 cm
2. Standart Deviasi (σx)
σx = ∑( )
= 1 30 ) 067 , 3 38 ...( ) 067 , 35 33 ( ) 067 , 35 33
( 2 2 2
− − + − + −
3. Uji Keseragaman Data
BKA =
+ k.
σx= 35,067 + 2 (1,837 ) = 38,741 cm
BKB =
– k.
σx= 35,067 - 2 (1,837 ) = 31,39 cm
Gambar 4.4 Uji Keseragaman Data Dimensi Lebar Pinggul Analisa:
Dari grafik di atas terlihat bahwa, semua data ukuran dimensi Lebar pinggul telah seragam karena sudah berada dalam batas kontrol dan tidak ada data yang ekstrim.
4. Tinggi badan posisi duduk (tbd)
Perhitungan ukuran dimensi tbd didasarkan pada data pengukuran dimensi tbd dari 30 orang untuk produk kursi santai yang dilengkapi tempat buku diperlihatkan pada tabel 4.5 berikut.
3333 35 3636 35 373737 36 37 33 32 3334 3535 34 36 38 3232 33 35 36 37 36 34 37 38 30 32 34 36 38 40
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
UJI KESERAGAM AN DATA
Serie s1 Serie s2 Serie s3
BKA = 38,741
BKB = 31,39
CL = 35,067
Tabel 4.5 Tabel Pengukuran Dimensi tbd
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi tbd
1 86
2 86
3 85
4 86
5 86
6 80
7 81
8 86
9 83
10 83
11 82
12 86
13 87
14 87
15 86
16 88
17 83
18 83
19 90
20 80
21 86
22 86
23 83
24 89
25 86
26 84
27 89
28 86
29 85
30 86
∑X 2.554
1. Rata-rata
CL = = ∑
=
30 2.5542. Standart Deviasi (σx)
σx = ∑( )
= 1 30 ) 133 , 85 86 ...( ) 133 , 85 86 ( ) 133 , 85 86
( 2 2 2
− − + − + −
= 2,5 cm
3. Uji Keseragaman Data BKA =
+ k.
σx= 85,133 + 2 (2,5 ) = 90,133 cm BKB =
– k.
σx= 85,133 - 2 (2,5 ) = 80,133 cm
Gambar 4.5 Uji Keseragaman Data Dimensi Tinggi Badan Dalam Posisi Duduk Analisa:
Dari grafik di atas terlihat bahwa, semua data ukuran dimensi tinggi badan dalam posisi duduk telah seragam karena sudah berada dalam batas kontrol dan tidak ada data yang ekstrim.
8686 858686 80 81 86 8383 82 86 8787 86 88 8383 90 80 8686 83 89 86 84 89 86 8586 80 82 84 86 88 90
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
UJI KESERAGAM AN DATA
Serie s1 Serie s2 Serie s3 Serie s4
BKA = 90,133
BKB = 80,133
CL = 85,133
5. Tinggi lutut dalam posisi duduk (tld)
Perhitungan ukuran dimensi tld didasarkan pada data pengukuran dimensi tld dari 30 orang untuk produk kursi santai yang dilengkapi tempat buku diperlihatkan pada tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Tabel Pengukuran Dimensi tld
J umlah Or ang yang Diukur Dimensi tld
1 35
2 40
3 41
4 41
5 38
6 42
7 40
8 42
9 41
10 42
11 44
12 45
13 44
14 45
15 36
16 36
17 40
18 35
19 34
20 38
21 40
22 40
23 42
24 39
25 42
26 37
27 38
28 38
29 44
30 44
1. Rata-rata
CL = = ∑
=
30 1.203= 40,1 cm
2. Standart Deviasi (σx)
σx = ∑( )
= 1 30 ) 40,1 44 ...( ) 40,1 40 ( ) 40,1 35
( 2 2 2
− − + − + −
= 3,11 cm
3. Uji Keseragaman Data
BKA =
+ k.
σx= 40,1 + 2(3,11 ) = 46,32 cm BKB =
– k.
σx= 40,1 - 2 (3,11 ) = 33,88 cm
Gambar 4.6 Uji Keseragaman Data Dimensi Tinggi Lutut dalam Posisi Duduk
35 404141 38 42 40 42 4142 44454445
3636 40 35 34 38 4040 42 39 42 373838 4444 33 35 37 39 41 43 45 47
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
UJI KESERAGAM AN DATA
Serie s1 Serie s2 Serie s3 Serie s4
BKA = 46,32
BKB = 33,88
CL = 40,1
Analisa:
Dari grafik di atas terlihat bahwa, semua data ukuran dimensi tinggi lutut dalam posisi duduk telah seragam karena sudah berada dalam batas kontrol dan tidak ada data yang ekstrim.
4.2.2.2 Uji Kecukupan Data
Uji kecukupan data digunakan untuk menganalisa jumlah pengukuran apakah sudah valid, dimana tujuannya membuktikan bahwa data sampel yang diambil sudah dapat mewakili populasi.
Untuk uji kecukupan data digunakan tingkat ketelitian 5% dan tingkat kelayakan 95% maka rumus uji kecukupan data adalah:
N’=
∑ (∑ )
∑
Nilai k = 2 dan nilai s = 0,05
Jika, N’ ≤ N maka data sudah cukup untuk melakukan perancangan N’ > N maka data belum cukup untuk melakukan perancangan. 1. Tinggi siku dalam posisi duduk (tsd)
Data Tinggi siku dalam posisi duduk (tsd) dari Tabel 4.2 diperoleh nilai: ∑ X = 661
∑ X 2 = 14.711
Maka : N’= ,
( . ) ( )
=
16,145Kesimpulan:
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan perancangan.
2. Jarak dari lipat lutut ke pantat (jlp)
Jarak dari lipat lutut ke pantat (jlp) dari Tabel 4.3 diperoleh nilai: ∑ X = 1.444
∑ X 2 = 69.606
Maka : N’= ,
( . ) .
.
=
2,33Kesimpulan: N’ = 2,33 ≤ N = 30
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan perancangan.
3. Lebar pinggul (lp)
Data Lebar pinggul (Lp) dari Tabel 4.4 diperoleh nilai: ∑ X = 1.051
∑ X 2 = 36.949
Maka : N’= ,
( . ) ( . )
.
=
5,6Kesimpulan: N’ = 5,6 ≤ N = 30
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan perancangan.
4. Tinggi badan dalam posisi duduk (tbd)
∑ X = 2.554 ∑ X 2 = 217.612
Maka : N’= ,
( 217.612) ( . )
.
=
1,335Kesimpulan: N’ = 1,335 ≤ N = 30
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan perancangan.
5. Tinggi lutut dalam posisi duduk (tld)
Data Tinggi lutut dalam posisi duduk (tld) dari Tabel 4.6 diperoleh nilai: ∑ X = 1.203
∑ X 2 = 48.521
Maka : N’= ,
( . ( . )
.
=
9,31Kesimpulan: N’ = 9,31 ≤ N = 30
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan perancangan.
Tabel 4.7 Hasil Uji Kecukupan Data
No Dimensi Tubuh N N' Keterangan