SKRIPSI
Oleh
NUR AMALIA VEGA
105721132716
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR
2021
EFEKTIVITAS STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN TERHADAP
KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH (STUDI PADA
PEMERINTAHDAERAH KABUPATEN GOWA)
SKRIPSI
Oleh
NUR AMALIA VEGA
NIM 105721132416
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjaa Pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah
Makassar
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIAH MAKASSAR
MAKASSAR
Karya ilmiah ini kupersembahkan untuk:
Kedua orangtua, keluarga, dan saudara-saudara saya yang sangat saya sayangi.
MOTTO
”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya”
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul “Efektivitas standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah (Studi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa) ”.
Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Almarhum Bapak Sade dan Ibu farida yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tanpa pamrih. Dan saudara-saudaraku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan, dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penghargaan
yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Ismail Rasullong, SE., MM., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Muh. Nur Rasyid., SE., MM., selaku Ketua Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Ismail Badollahi , S.E., M.Si., Ak., CA.CSP selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi selesai dengan baik.
5. Bapak Nasrullah, SE., MM., selaku Pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga ujian skripsi.
6. Bapak/Ibu dan Asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.
7. Segenap Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
8. Pimpinan dan semua pegawai Kantor Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa.
9. Terima kasih kepada Kakak saya Idul Adha, ST yang sudah menggantikan peran almarhum bapak dalam pendidikan saya.
10. Terima kasih kepada sahabatku Irmaya Hasri, Sri Devyana K, Indy Alifiah M dan Vivi Ardianti Arif yang turut ikut membantu dalam proses pengerjaan skripsi.
yang tak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan dorongan dan semangat selama penyelesaian skipsi ini.
13. Terima kasih teruntuk semua kerabat yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulisan Skripsi ini.
Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa Skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan Skripsi ini.
Mudah-mudahan Skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Makassar, Mei 2021 Penulis,
ABSTRAK
Nur Amalia Vega (2021), Efektivitas Standar Akuntansi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintahan (studi pada Pemerintahan Daerah Kabupaten Gowa), Skripsi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, dibimbing oleh Pembimbing I Ismail Badollahi dan Pembimbing II Nasrullah.
Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas pengelolaan sumber daya masyarakat. Laporan keuangan yang berkualitas haruslah memenuhi karakteristik kualitatif yaitu andal, relevan, dapat dibandingkan dan dapat dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memberikan bukti efektivitas standar akuntansi pemeritahan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah..
Penelitian ini dilakukan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Gowa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara. Sampel yang digunakan di dalam penelitian ini adalah Kepala Bidang Akuntansi, Kasie Penyusunan Laporan Keuangan, dan Sub. Bagian Keuangan. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas penerapan standar akuntansi pemerintahan, berpengaruh positif terhdap kualitas laporan Keuangan pemerintah daerah Kabupaten Gowa.
Kata kunci : Efektivitas Standar Akuntansi Pemerintah terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
iii
Quality of Government Financial Reports (study on the Regional Government of Gowa Regency), skripsi management study program Faculty of Economics and Bussiness, Muhammadiyah University Makassar, supervised advisor I Dr. Ismail Badollahi, S.E.,M.Si.,Ak.,CA.CSP and Advisor II Nasrullah, S.E.,M.M. Financial reports must meet qualitative characteristics, namely riable, relevant, comparable and understandable.
This research aims to test and provide evidence of the effectiviness of countermeasures against the quality of regional government financial management agency for the government of Kabupaten Gowa. The method of collecting data in this study used the interview method.
This research is the head of Accountancy section head of financial statement prepartion and finance sub division. Based on the results of the analysis, this research shows that the electivity of implementing the administrasive accounting standards. Has a positive effect on the quality of local government financial reports in Gowa regency.
Keywords : Effectiveness of Government Accounting Standards on the Quality of Local Government Financial Statements.
iv
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL ...HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK BAHASA INDONESIA ... vii
ABSTRACT ... viii DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR GAMBAR ... xi DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah... 4 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
E. Tinjauan Teori ... 6
1. Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah ... 6
2. Laporan Keuangan Pemerintahan ... 8
3. Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) ... 9 4. Efektivitas Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan 17
v
F. Tinjauan Empiris ... 20
G. Kerangka Pikir ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
H. Jenis penelitian ... 25
I. Tempat dan Waktu Penelitian ... 25
J. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran ... 25
K. Pengumpulan Data ... 27
L. Teknik Analisis Data ... 27
M. Metode Analisis Data ... 28
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 29
A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian (Objek ... 29
B. Hasil Penelitian ... 42
C. Pembahasan ... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55
A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 55 DAFTAR PUSTAKA
vi
DAFTAR TABEL
Halaman
2.1.2 Lampiran Peraturan Pemerintahan ... 10
2.2 Tinjauan Terdahulu ... 18
4.1 Daftar Informan ... 42
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Instansi pemerintahan memiliki kewajiban dalam pengelolaan keuangan dan mempertanggung jawabkan semua kegiatan keuangannya yang sesuai dengan tugas pokok dan perencanaan yang telah ditetapkan. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) merupakan persyaratan yang memiliki kekuatan hukum dalam upaya peningkatan kualitas laporan keuangan pemerintah di indonesia, sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 bagian Pengantar Standar Akuntansi Pemerintahan, SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintrahan. Peningkatan akuntabilitas dan keandalan dalam pengelolaan keuangan pemerintah dilakukan melalui penyusunan dan pengembangan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), termasuk mendukung pelaksanaan penerapan perkembangan akuntansi pemerintahan saat ini. Setelah pemberlakuan dari single entry ke double entry accounting melalui peraturan pemerintahan Nomor 24 Tahun 2005, dengan keluarnya peraturan pemerintahan Nomor 71 Tahun 2010 merupakan jembatan kedua dalam akuntansi keuangan pemerintahan Indonesia untuk mengantarkan dari akuntansi berbasis kas menuju akrual (cash toward accrual/CTA) ke arah akuntansi berbasis akrual penuh (full accrual) dengan masa tenggang selama empat tahun. Bergantung pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara yang bersangkutan.
Negara Indonesia telah menetapkan Standar Akuntansi Pemerintahannya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010. Adapun pengertian
Standar Akuntansi Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 yaitu “prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dalam hal ini, kualitas sdm, pengetahuan hinggan profesionalnya seorang aparatur pemerintah juga akan mempengaruhi kualitas dari sistem laporan keuangan yang akan dihasilkan dan bagaimana sistem keuangan itu akan berjalan. Keberadaan sebuah sistem akuntansi menjadi sangat penting karena fungsinya dalam menentukan kualitas informasi pada laporan keuangan, mengungkapkan bahwa jika belum memahami sistem akuntansi, maka belum memahami penyusunan laporan keuangan, karena akuntansi pada dasarnya merupakan sistem pengolahan informasi yang menghasilkan keluaran berupa informasi akuntansi atau laporan keuangan. Sistem akuntansi memberikan pengetahuan tentang pengolahan informasi akuntansi sejak data direkam dalam dokumen sampai dengan laporan yang dihasilkan.
Laporan keuangan pemerintah daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBD harus disusun atau dihasilkan dari sebuah sistem akuntansi pemerintah daerah yang handal, yang bisa dikerjakan secara manual ataupun menggunakan aplikasi komputer. Namun mengingat sumber daya manusia yang masih sangat minim yang berspesialisasi di bidang akuntansi khususnya akuntansi keuangan sektor publik maka akan lebih tepat jika menggunakan sistem aplikasi komputer yang komprehensif dan sudah teruji. Hal ini akan dapat meminimalkan kesalahan proses akuntansi dan meningkatkan kualitas laporan keuangan yang dihasilkan. Pemerintah daerah selaku pengelola dana publik harus mampu menyediakan laporan keuangan yang diperlukan publik secara akurat, relevan, dan tepat waktu. Hal ini sesuai dengan apa yang ditegaskan Mardiasmo (2009) bahwa untuk dapat menghasilkan laporan
3
keuangan yang relevan, handal, dan dapat dipercaya, pemerintah daerah harus memiliki sistem akuntansi yang handal.
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berupa prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan demikian, SAP merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia. Maka dari itu, pemahaman aparatur atas penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.
Pemerintah Daerah perlu tiga sumber utama untuk bertahan hidup yaitu keuangan, material, dan sumber daya manusia (Nkechi,2014). Sumber daya manusia diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan yang berkualitas sesuai dengan tujuan organisasi sektor publik. Pemerintah Daerah memerlukan sumber daya manusia yang berkompeten dibidangnya dalam menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas. Menurut Juita (2013) sumber daya manusia merupakan elemen organisasi yang sangat penting, karenanya harus dipastikan bahwa sumber daya manusia ini harus dikelola sebaik mungkin agar mampu memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Pengelolaan sumber daya manusia dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan agar mampu meningkatkan kompetisinya.
Tingginya kualitas laporan keuangan Pemrintah Daerah juga ditentukan oleh seberapa baik pengendalian internal yang dimiliki Institusi Pemerintah Daerah. Sistem pengendalian intern didefinisikan oleh Abiola (2013) sebagai
tindakan yang dilakukan pada keuangan dan non-keuangan untuk memastikan perlidungan aset, deteksi, dan pencegahan penipuan.
Terkait dengan hal ini, Ningtyas (2016) yang melakukan penelitian untuk menguji apakah efektivitas penerapan standar akuntansi pemerintahan berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah pada Kabupaten Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penerapan standar akuntansi pemerintahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah pada Kabupaten Sidoarjo. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah pada indikator penilaian efektivitas penerapan standar akuntansi pemerintah dan pada objek penelitian.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kayetria (2019) untuk mengetahui apakah pemahaman standar akuntansi pemerintah dan pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah pada dinas-dinas di pemerintah Kabupaten Jembrana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman SAP dan pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah Kabupaten Jembrana. Perbedaan penelitian ini menggunakan pengukuran efektivitas, tidak menggunakan variabel pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah dan memiliki objek penelitian yang berbeda.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengetahui seberapa besar pengaruh efektivitas penerapan standar akuntansi pemerintah terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah sehingga penulis membahasnya
5
dalam skripsi yang berjudul: “Efektivitas Standar Akuntansi Pemerintah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah (Studi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan laporan yang ada di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Efektivitas Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Gowa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian yang dilakukan ini untuk mengetahui Efektivitas Standar Akuntansi Pemerintahan terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintahan Daerah Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam melakukan penelitian ini sebagai berikut : 1. Bagi peneliti, penelitian ini berrmanfaat agar peneliti dapat menambah
pengetahuan tentang efektivitas penerapan standar akauntansi pemerintahan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintahan.
2. Bagi pemerintah, dapat menjadi masukan serta kritikan terhadap penerapan standar akuntansi dan efektivitas sistem laporan keuangan pemerintahan
3. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan referensi saat akan melakukan penelitian lebih jauh mengenai efektivitas standar akuntansi pemerintahan terhadap
kualitas laporan keuangan pemerintah,khususnya untuk para mahasiswa yang baru memulai penelitian.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Tinjauan Teori
1.
Kualitas Laporan Keuangan PemerintahLaporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat dilakukan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan tersebut. Laporan keuangan dibuat semata untuk mengetahui kondisi finansial suatu perusahaan. Sehingga pihak atasan bisa mengevaluasi dengan tepat jika kondisi keuangan usaha mengalami masalah. Maka dari itu laporan keuangan harus dibuat dengan tepat dan cermat. Karena ini berupa laporan tentu ada tanggung jawab yang diserahkan kepada operator keuangan. Peraturan pemerintah No. 71 Tahun 2010 menjelaskan karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya.
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang
dipercayakan kepadanya, dengan: a) menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; b) menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
c) menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;
d) menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;
e) menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya;
f) menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan;
g) menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi.
Keempat karakteristik berikut merupakan persyaratan normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu :
1. Relevan, ialah harus memuat informasi yang dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini dan dapat memprediksi masa depan.
2. Andal, ialah informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bebas dan tidak terikat dengan pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan semua fakta yang ada secara jelas dan jujur serta informasi yang disajikan telah terferivikasi. Agar informasi dapat diandalkan, ,maka informasi harus memenuhi hal sebagai berikut :
8
Penyajian jujur dalam penelitian ini dilihat dari pernyataan bahwa informasi yang dihasilkan dapat dipercaya. Informasi akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan harus disampaikan secara jujur disetiap transaksi atau peristiwa lainnya dan disajikan secara wajar. b. Laporan keuangan harus subtansial
Subtansial artinya informasi akuntansi yang ada dalam laporan keuangan harus disampaikan sesuai transaksi dan peristiwa lainnya dengan subtansial dan realitas ekonomi, bukan hanya bentuk hukumnya.
c. Laporan keuangan sebagai pertimbangan sehat
Pertimbangan sehat artinya informasi akuntansi yang disajikan harus berguna dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi karena pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian dalam melakukan perkiraan.
d. Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak hanya informasi yang menguntungkan beberapa pihak, yang akan merugikan pihak yang berlainan.
3. Dapat dibandingkan, ialah laporan keuangan yang dibuat harus bisa dibandingkan dengan laporan keuangan lain, yang memiliki sistem, pedoman, dan kebijakan akuntansi yang sama, ini untuk menilai perusahaan atau instansi anda.
4. Dapat dipahami, ialah laporan harus dipahami secara umum tidak hanya oleh pihak manajemen saja, tetapi masyarakat pun yang ingin
mengetahuinya dapat memahami. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar. Apabila pengguna laporan keuangan dapat mengerti informasi yang disajikan, maka informasi bisa dikatakan dapat dipahami dan dimengerti
2. Laporan Keuangan Pemerintahan
Laporan keuangan merupakan suatu pernyataan entitas pelaporan yang terkandung didalam komponen laporan keuangan, merupakan bentuk pertanggung jawaban pengeloaan keuangan negara/daerah selama satu periode. Pernyataan dalam laporan keuangan daerah dapat bersifat implitis dan eksplitis. Mengenai keberadaan, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian dan alokasi, penyajian dan pengungkapan dan ketaatan dan kepatuhan, Silviana:2013.
Berdasarkan PP No. 71 tahun 2010 laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggung jawaban berupa laporan keuangan, yaitu terdiri dari :
a. Pemerintah pusat b. Pemerintah daerah
c. Satuan organisasi dilingkungan pemerintahan pusat/daerah atau organisasi lainnya.
10
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 tahun 2006 dalam ketentuan umumnya menyebutkan bahwa keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggara pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
3. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
Menurut Mardiasmo (2004), Standar Akuntansi sangat diperlukan untuk menjamin konsistensi dalam pelaporan keuangan. Tidak adanya standar SAP dinyatakan dalam bentuk Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP), yaitu SAP yang diberi judul, nomor, dan tanggal efektif. Selain itu, SAP juga dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. PSAP dapat dilengkapi dengan Interprestasi Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) atau Buletin Teknis SAP. IPSAP dan Buletin Teknis SAP disusun dan diterbitkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) dan diberitahukan kepada Pemerintah dan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK). Rancangan IPSAP disampaikan kepada BPK paling lambat empat belas hari kerja sebelum IPSAP. IPSAP dimaksudkan untuk menjelaskan lebih lanjut topik tertentu guna menghindari salah tafsir pengguna PSAP. Sedangkan Buletin Teknis SAP dimaksudkan untuk mengatasi masalah teknis akuntansi dengan menjelaskan secara teknis penerapan PSAP atau IPSAP.
1. SAP Berbasis akrual
Pemerintah menerapkan SAP Berbasis Akrual, yaitu SAP yang mengakui pendapatan, beban, aset, dan ekuitas dalam pelaporan
finansial berbasis akrual, serta mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang dutetapkan dalam APBN/APBD. SAP Berbasis Akrual tersebut dinyatakan dalam bentuk PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. PSAP dan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis Akrual dimaksud tercantum dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
Penyusunan SAP Berbasis Akrual dilakukan oleh KSAP melalui proses baku penyususnan ( due process). Proses baku penyusunan SAP tersebut tersebut merupakan merupakan pertanggung jawaban profesional KSAP yang secara lengkap terdapat dalam Lampiran III Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
2. SAP Berbasis Kas Menuju Akrual
Penerapan SAP Berbasis Akrual dilaksanakan secara bertahap dari penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual menjadi penerapan SAP Berbasis Akrual. Sap Berbasis Kas Menuju Akrual yaitu SAP yang mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan berbasis kas, serta mengakui aset, utang, dan ekuitas dana berbasis akrual. Penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap dilakukan dengan memperhatikan urutan persiapan dan ruang lingkup laporan. SAP Berbasis Kas Menuju Akrual dinyatakan dalam bentuk PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. PSAP dan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis Kas Menuju Akrual tercantum dalam Lampiran II
12
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010. Sebelumnya, SAP Berbasis Kas Menuju Akrual digunakan dalam SAP berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 menyatakan bahwa selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut Pasal 36 ayar (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2005 digantikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
3. PSAP Dalam Dua Basis SAP
SAP tercantum dalam dua lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010. Lampiran I untuk SAP Berbasis Akrual dan Lampiran II untuk SAP Berbasis Kas Menuju Akrual.
Tabel 2.1.2
Lampiran Peraturan Pemerintah
PSAP No. Tentang SAP Berbasis
Akrual
SAP Berbasis Kas Menuju
Akrual
– Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan
Lampiran I.01 Lampiran II.01
PSAP 02 Laporan Realisasi
Anggaran Berbasis Kas Lampiran I.03 Lampiran II.03
PSAP 03 Laporan Arus Kas Lampiran I.04 Lampiran II.04
PSAP 04 Catatan atas Laporan
Keuangan Lampiran I.05 Lampiran II.05
PSAP 05 Akuntansi Persediaan Lampiran I.06 Lampiran II.06
PSAP 06 Akuntansi Investasi Lampiran I.07 Lampiran II.07
PSAP 07 Akuntansi Aset Tetap Lampiran I.08 Lampiran II.08
PSAP 08 Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan Lampiran I.09 Lampiran II.09
PSAP 09 Akuntansi Kewajiban Lampiran I.10 Lampiran II.10
PSAP 10
Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Operasi yang Tidak Dilanjutkan
Lampiran I.11 Lampiran II.11
PSAP 11 Laporan Keuangan
Konsolidasian Lampiran I.12 Lampiran II.12
14
Prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan terdiri dari :
1. Basis Akuntansi
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemeritah adalah basis akrual, untuk pengakuan pendapatan- LO, beban aset, kewajiban dan ekuitas. Dalam hal peraturan perundangan mewajibkan disajikannya laporan keuangan dengan basis kas, maka ekuitas wajib menyajikan laporan demikian. Basis akrual untuk LO berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau olej entitas pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun kas belum dikeluarkan oelh Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Pendapatan seperti bantuan pihak luar/asing dalam bentuk jasa disajikan pula pada LO. Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis kas, maka Laporan Realisasi Anggaran (LRA) disusun berdasarkan basis kas, berarti bahwa pendapatan dan penerimaan pembiayaan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah.
Namun demikian, bilamana anggaran disusun dan dilaksanakan berdasarkan basis akrual, maka LRA disusun berdasarkan basis akrual. Basis akrual untuk neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau padea
saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
2. Nilai Historis (Historiscal Cost)
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah. Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal yang tidak terdapat nilai historis, dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait.
3. Realisasi (Realization)
Bagi pemerintah, pendapatan basis kas yang tersedia telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah suatu periode akuntansi akan digunakan untuk membayar utang dan belanja dalam periode tersebut. Mengingat Laporan Realisasi Anggaran (LRA) masih merupakan laporan yang wajib disusun, maka pendapatan atau belanja basis kas diakui setelah diotorisasi melalui anggaran dan telah menambah atau mengurangi kas. Prinsip layak temu
biaya-16
pendapatan (matching-cost againts revenue principle) dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial.
4. Subtansi Mengungguli Bentuk Formal (Subtance Over Form) Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan subtansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila subtansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus digunakan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
5. Periodisitas (Periodicity)
Kegiata akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Periode utama yang digunakan adalah tahunan. Namun, periode bulanan, triwulan, dan semesteran juga dianjurkan.
6. Konsistensi (Consistency)
Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang
lebih baik dibanding metode lama. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
7. Pengungkapan Lengkap (Full Disclosure)
Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan atau Catatan atas Laporan Keuangan.
8. Penyajian Wajar (Fair Presentation)
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Ketika menghadapi ketidakpastian peritiwa dan keadaan tertentu, maka diperlukan faktor pertimbangan sehat. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan pembentukan cadangan tersembunyi, sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.
18
Pengertian efektivitas umumnya berkaitan dengan suatu ukuran kemampuan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu. Ukuran kemampuan yang dimaksud dapat bermacam-macam tergantung daripada sasaran atau tujuan yang ingin dicapai atau yang telah ditetapkan. Penerapan Standar Akuntasi Pemerintahan dikatakan efektif jika tujuan yang dicapai oleh instansi pemerintah sesuai dengan yang diharapkan. Tujuan dari penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan tersebut yaitu guna dalam peningkatan Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), dalam rangka traspantasi dan akuntabilitas penyelenggara akuntansi pemerintah.
Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008, Pasal 1 No.2, Sistem pengendalian intern Pemerintah atau SPIP adalah sistem pengendalian intern yang dilaksanakan secara menyeluruh dilingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sistem pengendalian intern dibutuhkan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas sistem keuangan pemerintah. Sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakin memadai atas tercapainya suatu tujuan organisasi atau instans melalui kegiatan yang efektif dan efisien. SPIP sebagaimana dimaksud memiliki tujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan dan perundang-undangan negara.
Menurut Ravianto (2014:11) efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai
dengan yanag diharapkan. Artinya apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan sesuai dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya, maupun mutunya maka dapat dikatakan efektif.
Suatu penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan efektif, ketika tujuannya adalah untuk meningkatkan Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah (LKPP) begitu pula laporan keuangan daerah (LKPD) yang bersifat transparansi dan juga akuntabilitas dalam penyelenggara akuntansi pemerintah oleh karena itu, sangat dibutuhkan sistem pengendalian internal yang baik sehingga akan terciptanya keyakinan yang memadai demi tercapainya efektivitas. Sistem pengendalian internal dalam lingkup pemerintahan disebut Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP).
Sistem Pegendalian Intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi atau instansi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang undangan (peraturan pemerintah No. 60 Tahun 2008, Pasal 1 No. 1).
Terdapat beberapa komponen dalam suatu pengendalian internal pemerintah, sebagai berikut:
1. penilaian resiko
2. Lingkungan pengendalian 3. Informasi dan komunikasi
20
4. Pemantauan
5. Aktivitas Pengendalian
5. Penerapan Sistem Akuntansi Daerah
Pengertian Akuntansi sebagaimana dikemukakan oleh Accounting Principle Board (APB) yang memandang akuntansi dari sudut fungsinya sebagai beerikut :
“Akuntansi adalah suatu sistem informasi keuangan, yang bertujuan untuk menghasilkan dan melaporkan informasi yang relevan bagi berbagai pihak yang berkepentingan” (Hans Kartikahadi, dkk. 20
Sistem akuntansi adalah prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh pihak-pihak didalam dan diluar organisasi atau instansi. Organisasi bebas merancang dan menerapkan berbagai prosedur yang diharapkan dapat menghasilkan informasi yang dibutuhkan.
6. Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Kompetensi Sumber Daya Manusia mencakup kapasitasnya, yaitu kemampuan seseorang atau individu, suatu organisasi atau instansi untuk melaksanakan fungsi-fungsi atau kewenangannya untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Untuk menilai kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia dalam melaksanakan suatu fungsi, termasuk akuntansi, dapat dilihat dari level of responsibility dan kompetensi seumber daya tersebut. Tanggung jawab dapat dilihat dari atau tertuang dalam deskripsi jabatan.
Deskripsi jabatan merupakan dasar untuk melaksanakan tugas dengan baik. Tanpa adanya deskripsi jabatan yang jelas, sumber daya tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Sedangkan kompetensi dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya. Kompetensi merupakan karakteristik dari seseorang yang memiliki keterampilan (skill/, pengetahuan (knoweledge), dan kemampuan (ability).
B.
Tinjauan Empiris
Akuntansi pemerintahan diyakini akan berdampak pada kualitas suatu laporan keuangan di pemerintahan pusat dan daerah. Persyaratan untuk meningkatkan kualitas Laporan Keuangan yang memiliki kekuatan hukum yaitu SAP. Adanya pengaruh antara Standar Akuntansi Pemerintahan pada kualitas laporan keuangan pemerintah daerah yaitu SAP diterapkan dilingkup pemerintahan, baik dipemerintahan daerah dan dinas-dinasnya. Penerapan Standar Akuntansi diyakini dapat membantu meningkatkan kualitas Laporan Keuangan Pemerintahan, dengan demkian informasi yang diperoleh pemerintah dan daerah akan menjadi dasar pengambilan keputusan di pemerintahan serta terwujudnya transpansi dan akuntabilitas.
Dibawah ini merupakan ide dan kesimpulan yang didapat dari para peneliti terdahulu mengenai Efektivitas Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintahan.
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
22
1.
Dea Wulandari, 2019 Pengaruh Efektivitas Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Informasi Laporan Keuangan dengan Akuntabilitas Sebagai Variabel Moderasi. Efektivitas penerapan standar akuntansi pemerintah berpengaruh terhadap kualitas informasi laporan keuangan pemerintah.2.
Widya Mutia Ningrum, 2019 Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Sistem pengendalian Intern, dan Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Penerapan standar akuntansi pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi dan sistem pengendalian intern berpengaruh positif.3.
Kayetria Ratrigas, 2019 Pengaruh Efektivitas Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan pada Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2015-2017. Efektivitas standar akuntansi pemerintahan berpengaruh sebesar 16,2% terhadap kualitas laporan keuangan pmerintah.4.
Bangkit Rahmawan, 2019 Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah, Sistem Pengendalian Internal dan Kompetensi Staf Akuntansi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Standar akuntansi pemerintah berpengaruh positif terhadap laporan keuangan pemerintahC. Kerangka Konseptual
Untuk menciptakan suatu pemerintahan yang baik, diperlukan suatu sistem yang bisa mengatur kehidupan masyarakat dalam segala bidang, baik sosial, ekonomi, politik, dan bidang lainnya. Guna terciptanya pemerintahan yang baik (Good Governance) diperlukan peraturan yang dapat mengatur segala bidang kemasyarakatan salah satunya adalah undang-undang yang mengatur tentang ekonomi, khususnya Pengelolaan Keuangan Negara, mulai dari penyelewengan anggaran, sampai pada masalah perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang telah menarik perhatian pemerintah untuk menciptakan peraturan perundang-undangan untuk memudahkan dalam penyelesaian segala masalah yang ada dibidang perekonomian khusunya keuangan.
Dari uraian yang telah dijelaskan diatas dapat digambarkan kerangka konseptual sebagai berikut :
Gambar 2.3 Kerangka Konseptual
Pemerintah Daerah
Kabupaten Gowa
Peraturan Pemerintah 71 Tahun 2010 (Tentang Standar Akuntansi
Pemerintah)
24
Sesuai dengan peraturan pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mengenai prinsip-prinsip akuntansi yang telah diterapkan dalam menyusun atau menyajikan laporan keuangan pemerintah. Hal ini wajib dan baik digunakan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah baik pemerintahan pusat maupun pemerintah daerah, dalam rangka transpantasi dan akuntabilitas penyelenggara akuntansi pemerintah. Untuk laporan keuangan terdapat empat karakteristik yang merupakan persyaratan laporan keuangan, yaitu : relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami.
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode Penelitian kualitatif deskriptif, berdasarkan Modul Rancangan Penelitian (2019) yang diterbitkan oleh Ristekdikti, penelitian kualitatif bisa dipahami sebagai prosedur riset yang memanfaatkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati. Menurut Sugion, penelitian kualitatif adalah penelitian dimana peneliti ditempatkan sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara penggabungan dan analisis data bersifat induktif (Sugiono, 2010 : 9)
Dalam pemikiran digunakanannya metode ini adalah karena penelitian ini ingin mengetahui tentang fenomena yang ada dan dalam kondisi yang alamiah, bukan dalam kondisi terkendali, atau eksperimen. Di samping itu, karena penelitian perlu untuk langsung terjun ke lapangan bersama objek penelitian sehingga jenis penelitian kualitatif deskriptif kiranya lebih tepat untuk digunakan.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Kantor Pemerintahan Daerah Kabupaten Gowa Jl.Tumanurung Raya No.45, Sungguminasa dan akan dilakukan pada bulan November sampai dengan Desember 2020.
29
C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
Standar Akuntansi Pemerintahan (X) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah, indikatornya:
1. Basis akrual 2. Nilai historis
3. Substansi mengungguli bentuk formal 4. Piodisitas
5. Pengungkapan lengkap
Kualitas Laporan Keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam laporan keuangan sehingga dapat memenuhi tujuannya, indikatornya:
1. Relevan 2. Andal
3. Dapat dibandingkan 4. Dapat dipahami
D. Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2016:117) “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
a. Populasi penelitian, dalam penelitian ini adalah 10 orang pegawai yang bekerja pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa. b. Sampel, adalah bagian yang diambil dari suatu populasi yang
30
keseluruhan. Pada penelitian ini sampel yang diambil yaitu 3 orang pegawai yang ikut dalam proses penyusunan laporan keuangan di Pemerintah Kabupaten Gowa.
E. Pengumpulan Data
Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1.Wawancara
Yaitu penelitian yang dilakukan peneliti dengan proses komunikasi berupa tanya jawab langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses wawancara mengenai peraturan terbaru mengenai Standar Akuntansi Pemerintahan, untuk informasi dalam proses penyusunan laporan keuangan daerah. Pihak-pihak yang terkait dalam penelitian yaitu para pegawai yang berada di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa.
2. Observasi
Yaitu penelitian yang dilalukan peneliti dengan bentuk pengamatan langsung terhadap aktivitas para pegawai dikantor Pemerintan Kabupaten Gowa. 3. Dokumentasi
Yaitu penelitian yang dilakukan peneliti dengan mengumpulkan data secara langsung dari para pegawai untuk dujadikan data penelitian.
F. Metode Analisis Data
Analisis data adalah sebagai bagian dari proses pengajuan data yang hasilnya digunakan sebagai bukti yang memadai untuk menarik kesimpulan penelitian.
Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan
31
masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.
Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan seberapa jauh suatu target yang telah dicapai oleh manajemen seperti kualitas, kuantitas, dan waktu, dimana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu atau lebih singkatnya, efektivitas adalah usaha tertentu atau suatu tingkat keberhasilan yang bisa dicapai oleh seseorang, perusahaan atau instansi. Untuk mencapai suatu efektivitas maka bisa digunakan rumus efektivitas berikut ini:
Rumus Efektivitas : Output Target/Output Aktual > = 1
a. Apabila output aktual berbanding output yang diinginkan >1 maka tidak tercapai efektivitas.
b. Apabila output aktual berbanding output yang diinginkan >1 atau = 1 maka akan tercapai efektivitas.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi (Objek) Penelitian 1. Sejarah Pemerintahan Kabupaten Gowa
Mulai abad ke-15, nama Kabupaten Gowa sudah tidak asing lagi dalam sejarah nasional, Kerajaan Gowa merupakan kerajaan maritim yang besar
32
pengaruhnya di perairan Nusantara. Bahkan dari kerajaan ini juga muncul nama pahlawan nasional yang bergelar Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin yang merupakan Raja Gowa XVI yang berani melawan VOC Belanda pada tahun-tahun awal kolonialisme di Indonesia. Kerajaan Gowa memang pada akhirnya takluk kepada Belanda lewat Perjanjian Bungaya. Namun meskipun sebagai kerajaan, Gowa tidak lagi berjaya, kerajaan ini mampu memberi warisan terbesarnya, yaitu Pelabuhan Makassar. Pelabuhan yang kemudian berkembang menjadi Kota Makassar ini dapat disebut anak kandungnya, sedangkan Kerajaan Gowa merupakan awal mula Kabupaten Gowa.
Meskipun Kota Makassar lebih banyak dikenal oleh masyarakat, tidak bisa dipungkiri Kabupaten Gowa diibaratkan sebagai ibu dari kota tersebut. Kabupaten Gowa memasok sebagian besar kebutuhan dasar kehidupan kota. Mulai dari bahan material untuk pembangunan, bahan pangan terutama sayur mayur, sampai aliran air bersih dari Waduk Bili-bili yang terletak di Kabupaten Gowa. Kemampuan Kabupaten Gowa menyuplai kebutuhan bagi daerah sekitarnya dikarenakan keadaan alamnya. Kabupaten seluas 1.883,32 kilometer persegi ini memiliki enam gunung, dimana yang tertinggi adalah Gunung Bawakaraeng. Daerah ini juga dilalui Sungai Jeneberang yangb didaerah
26
pertemuannya dengan Sungai Jenelata dibangun Waduk Bili-bili. Keuntungan alam ini menjadikan tanah Gowa kaya akan bahan galian, disamping tanahnya yang subur.
Wilayah Kabupaten Gowa terbagi dalam 18 Kecamatan dengan jumlah Desa/kelurahan definitif sebanyak 169 dan 726 Dusun/Lingkunga. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit yaitu sekitar 72,26% yang meliputi 9 kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu, dan Biringbulu. Selebihnya 27,74% berupa dataran rendah dengan topografi tanah yang datar meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu,Pattallassang, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo, dan Bontonompo Selatan.
Visi :
Terwujudnya Gowa sebagai Daerah tujuan wisata, sejarah, dan alam yang handal dan berdaya saing tinggi di Sulawesi Selatan.
Misi :
1. Melestarikan nilai, keragaman dan kekayaan budaya dalam rangka memperkuat jati diri dan karakter bangsa.
2. Mengembangkan Ekonomi Kreatif dan industri pariwisata yang handal dan berdaya saing serta destinasi yang berkelanjutan.
3. Mengembangkan sumber daya kebudayaan dan pariwisata.
4. Mengembangkan jaringan hubungan kemitraan yang berbasis kerakyatan. 5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kebudayaan dan pariwisata yang profesional dan berkemampuan tinggi.
6. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan program antar stakechorder maupun sektor terkait.
7. Mengembangkan program pemasaran dalam rangka peningkatan pendapatan asli daerah.
Dari segi Perekonomian, Kabupaten Gowa memiliki bahan-bahan galian golongan C di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang, seperti pasir, batu kali, dan kerikil secara turun temurun mampu memberikan nafkah bagi penduduk sekitarnya. Kontribusi sektor ini dalam kegiatan ekonomi Tahun 2000 nilainya mencapai Rp.105,4 Milyar atau 9,13%, tetapi sumbangan sektor ini terhadap kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) cukup signifikan. Pada tahun anggaran 2001, Pemkab menargetkan Rp. 2,03 Milyar dari pajak bahan galian golongan c untuk mengisi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kegiatan penggalian memang cukup besar karena selain tersedianya material ini di sepanjang jalan protokol yang menghubungkan Kabupaten Gowa dengan Kota Makassar. Bahan galian memang mampu memberikan pemasukan yang besar bagi kas Pemkab Gowa. Pos pajak ini mendominasi pendapatan hingga mencapai 65% dalam PAD tahun anggaran 2001 yang besarnya Rp. 3,11 Milyar.
Dalam sektor pertanian Kabupaten Gowa juga sangat berpotensi. Pekerjaa utama penduduk Kabupaten yang pada tahun 2000 lalu berpendapatan per kapita Rp. 2,09 juta ini adalah bercocok tanam, dengan sub sektor pertanian tanaman pangan sebagai andalan. Sektor pertanian memberi kontribusi sebesar 45% atau senilai Rp. 525,2 Milyar. Lahan persawahan yang tidak sampai 20% (3,640 hektare) dari total lahan kabupaten mampu memberikan hasil yang memadai. Dari berbagai produksi tanaman pertanian seperti padi dan palawija, tanaman hortikultura menjadi primadona.
28
Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa merupakan badan yang
2. Gambaran Umum Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa
a. Uraian Tugas dan Fungsi
Memegang peranan dan fungsi strategis di bidang pengelolaan keuangan daerah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor : 41 Tahun 2007, dan Peraturan Daerah Nomor : 07 Tahun 2008 Tanggal 28 Juli 2008, serta Peraturan Bupati Gowa Nomor : 39 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas Jabatan Struktural pada Badan Pengelolaan Keuangan daerah Kabupaten Gowa.
Untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi secara Efektif dan Efisien tersebut, telah ditetapkan aturan bagi para pemegang Jabatan Struktural maupun non Struktural sebagai Perangkat Daerah dan Unsur pelaksana Otonomi Daerah yang menjadi tanggung jawabnya dalam Perencanaan, Pengolahan, Penagihan, Penelitian, Pembukuan, Penyuluhan, Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian Pengelolaan Keuangan Daerah. Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud diatas Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Perumusan kebijakan teknis dinas; 2. Penyusunan rencana strategik dinas;
3. Penyelenggaraan pelayanan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pengelolaan keuangan daerah;
4. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan dinas;
5. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan dinas;
6. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pmpinan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gowa Nomor : 07 Tahun 2008 Tanggal 28 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Daerah Kabupaten Gowa, untuk melaksanakan tugas dan fungsinya Struktur Orgaisasi Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa terdiri atas:
a. Kepala Dinas b. Sekretariat :
Dalam menyelenggarakan tugas sekretariat dibantu oleh tiga sub bagian terdiri dari:
(1) Sub. Bagian Umum & Kepegawaian (2) sub. Bagian Perencanaan & Peaporan (3) Sub. Bagian Keuangan
c. Bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD) : (1) Seksi Penetapan PAD
(2) Seksi Pajak Daerah (3) Seksi Retribusi Daerah
d. Bidang Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah : (1) Seksi Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah (2) Seksi Pendataan dan Penyuluhan
30
e. Bidang Akuntansi :
(1) Seksi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas (2) Seksi Akuntansi Aset
(3) Seksi Perbendaharaan f. Bidang Anggaran
(1) Seksi Penyusunan APBD (2) Seksi Otoritas DPA-SKPD (3) Seksi Perbendaharaan g. Bidang Aset Daerah :
(1) seksi Perencanaan Keputusan (2) Seksi Analisis Aset
(3) Seksi Penghapusan Aset h. Kelompok Jabatan Fungsional 1. Tugas dan Fungsi Kepala Dinas
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor : 41 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Nomor : 07 Tahun 2008 Tanggal 28 Juli 2008, serta Peraturan Bupati Gowa Nomor : 39 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas Jabatan Struktural pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa, maka untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi secara Efektif dan Efisien tersebut, telah ditetapkan aturan bagi para pemegang Jabatan Struktural maupun Non Struktural sebagai Perangkat Daerah dan Unsur pelaksana Otonomi Daerah yang menjadi tanggungjawabnya dalam Perencanaan, Pengolahan, Penagihan, Penelitian, Pembukuan, Penyuluhan, Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian Pengolahan Keuangan Daerah.
Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa adalah unsur pelaksana Otonomi Daerah dengan Tugas Pokok dan Fungsinya sebagai berikut:
a. Penyusunan rencana strategik dinas;
b. Penyelenggara pelayanan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pengolahan keuangan daerah;
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program, dan kegiatan dinas
d. Penyelenggaraan evaluasi dan kegiatan dinas;
e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
2. Tugas dan Fungsi Sekretaris :
Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris, mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi, dan melaporkan penyelenggara tugas kesekretariatan, meliputi unsur umum dan kepegawaian, perencanaan dan pelaporan serta pengelolaan keuangan.
Dalam menyelenggarakan tugs sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretaris mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, dan perencana pelaporan;
b. Penyelenggaraan kebijakan administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, dan perencanaan pelaporan;
32
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan sub bagian.
3. Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Bidang Pendapatan Asli Daerah dpimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi dan melaporkan penyelenggaraan tugas, Bidang Pendapatan Asli Daerah.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Bidang mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis Bidang Pendapatan Asli Daerah;
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan Bidang Pendapatan Asli Daera; Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup Bidanf Pendapatan Asli Daerah;
c. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup Bidang Pendapatan Asli Daerah.
4. Tugas Fungsi Kepala Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah Bidang Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan yang Sah dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi, dan melaporkan penyelenggaraan tugas Bidang Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan yang Sah.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis Bidang Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan yang Sah;
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan Bidang Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah;
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan, program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam ligkup Bidang Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan yang Sah;
d. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup bidang.
5. Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Akuntansi
Bidang Akuntansi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas merencanakan operasional, memberi tugas, memberi petunjuk, menyeliam mengatur, mengevaluasi, dan melaporkan penyelenggaraan tugas Bidang Akuntansi.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis Bidang Akuntansi;
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan Bidang Akuntansi
d. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural daam lingkup Bidang Akuntansi.
34
Bidang Anggaran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas merencankan operasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi, dan melaorkan penyelenggaraan tugas Bidang Anggaran.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1), Kepala Bidang mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis Bidang Anggaran;
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan Bidang Anggaran;
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawaan program, dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup Bidang Anggaran;
d. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup Bidang Anggaran.
7. Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Aset Daerah
Bidang Aset Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas merencanakan oeprasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi, dan melaporkan penyelengaaraan tugas Bidang Aset Daerah
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pda ayat (1), Kepala Bidang mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis Bidang Aset Daerah;
b. Penyelenggaraan program dan kegiatan Bidang Aset Daerah;
c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup Bidang Aset Daerah;
d. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan kepala seksi dan pejabat non struktural dalam lingkup Bidang Aset Daerah.
Visi dan Misi SKPD : 1. Visi SKPD
Berdasarkan keadaan saat ini dan perkiraan strategi 5 Tahun yang akan datang Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa telah meerapkan visi yang telah dirumuskan dan menjadi komitmen bersama dengan melibatkan seluruh stakeholders dilingkungan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa. Adapun visi yang ditetapkan yaitu sebgai berikut : ”Terwujudnya Pengelolaan Keuangan yang Handal dan Akuntantabel guna mendukung Tata Kelola Pemerintahan yang Baik”
2. Misi SKPD
Dalam rangka mewujudkan harapan yang terkandung dalam visi Badan Pengelolaan Keuangan Daerah maka perlu dirumuskan misi yang merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan proyeksi kondisi tentang masa depan. Selaras dengan visi yang telah dirumuskan bersama, Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa merumuskan dan menetapkan misi untuk periode Tahun 2016 sampai dengan Tahun 2021 yaitu sebagai berikut :
a. Meningkatkan kualitas sumber daya aparatur dan kualitas pelayanan administrasi Dinas Pengelolaan Keuangan.
b. Meningkatkan pelyanan penata usahaan anggaran yang transparan, efektif, efisien, dan akuntabel, berbasis teknologi informasi.
36
d. Meningkatkan pelaksanaan tata kelola barang milik daerah yang baik dan berkelanjutan.
e. Meningkatkan penyusunan laporan keuangan dan akuntansi aset daerah yang transparansi dan akuntabel sesuai dengan kebijakan dan standar akuntansi pemerintah.
Pernyataan misi tersebut ditas harus diketahui dan dilaksanakan seluruh jajaran pegawai Badan Pengelolaan Keuangan Daerah sehingga seluruh jaringan pegawai Badan Pengelolaan Keuangan Daerah ikut berperan serta sesuai dengan beban tanggung jawabnya guna mewujudkan harapan yang terkandung dalam visi.
C. Pengawasan Keuangan Daerah
Urusan penyelenggaraan pemerintahan yang hampir semuanya dilaksanakan melalui pusat sudah mulai didistribusikan kepada daerah berdasarkan kewenangan daerah yang diatur dalam Undang-Undang, hal ini mengingat volume dan aneka ragam urusan pemerintahan dan pembangunan yang diselenggarakan di daerah sedemikian kompleks serta memerlukan penyelesaian yang cepat dan tepat, diperlukan adanya pengawasan yang intensif. Hal ini dimaksudkan guna menjamin terselenggaranya urusan pemerintahan dan pembangunan dalam kerjasama yang serasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah tingkat atasnya. Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan diperlukan untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan pemerintahan berjalan sesuai dengan rencana dan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, dalam rangka mewujudkan good governance dan clean government, pengawasan juga diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan
efisien, transparan, akuntabel, serta bersih dan bebas dari praktik-praktik KKN (Korupsi Kolusi Dan Nepotisme). Melalui pengawasan, diharapkan dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien.
Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan dan untuk mencapai tujuan dari pemerintah yang telah direncanakan maka perlu adanya pengawasan, karena dengan pengawasan tersebut, maka tujuan yang dicapai dapat dilihat dengan berpedoman pada rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pemerintah. Dalam tata aturan pemerintahan kita kenal adanya lembaga Pengawasan Pembangunan, baik pengawasan Internal maupun Eksternal. Pengawas eksternal adalah BPK dan BPKP. Sedangkan di Pemerintah Provinsi dan Kabupaten pengawasan internal dilakukan oleh Inspektorat Daerah yang merupakan unsur pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja berdasarkan indikator-indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan.
Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pengawasan: 1. Menetapkan standar pelaksanaan (Perencanaan)
Dalam melakukan pengawasan harus mempunyai standar yang jelas. 2. Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
Mengukur kinerja pegawai SKPD, sejauhmana pegawai dapat menerapkan perencanaan yang telah dibuat atau ditetapkan organisasi sehingga
38
3. Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan menganalisa penyimpangan-penyimpangan.
4. Pengambilan tindakan koreksi
Melakukan perbaikan jika ditemukan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Dengan dibuatnya Standar Operasional Prosedur (SOP), semua SKPD di Kabupaten Gowa sudah dijalankan sesuai SOP, agar tidak terjadi penyimpangan. Pengawasan yang dilakukan BPKD selaku Bendahara Umum Daerah dan entitas akuntansi hanya sebatas menyampaikan prosedur dan mekanismenya, aturan kelengkapannya, selanjutnya lebih jauh Inspektorat yang mempunyai tugas di lapangan. BPKD tidak bisa secara langsung melakukan pengawasan di lapangan, hanya sebatas dimitrasi. Untuk turun dan mengecek ke lapangan adalah tugas Inspektorat.
B. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Informan Penelitian
Informan Penelitian adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian (Moleong 2014). Peneliti melakukan wawancara kepada informan yaitu beberapa pegawai yang berkaitan dengan Penyusunan Laporan Keuangan Daerah di Bidang Akuntansi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.