i
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL BAHASA DAN BUDAYA III
REVITALISASI IDENTITAS MELALUI BAHASA DAN BUDAYA MARITIMPenyunting Ahli Dr. I Ketut Sudewa, M.Hum
Penyunting Pelaksana Drs. I Wayan Teguh, M.Hum
DENPASAR, 25 – 26 SEPTEMBER 2018
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR 2018
ii
KATA PENGANTAR
Pada kesempatan ini kami selaku panitia mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pemakalah kunci Dr. Darmoko, M.Hum. (Universitas Indonesia); pemakalah utama: Prof. Dr. I Gde Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. (Institut Seni Indonesia Bali), dan Dr. Purwadi, M.Hum. (Universitas Udayana) telah bersedia menyampaikan ide-ide dan gagasannya untuk memperkuat kegiatan SNBB III. Terimakasih pula kami ucapkan kepada para pemakalah pendamping, peserta dan mahasiswa yang sudah berupaya untuk turut berpartisipasi mengikuti kegiatan SNBB III.
Kami juga mengucapkan terimakasih atas dukungan Ibu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. selaku dekan FIB serta koordinator Program Studi di lingkungan FIB, Bapak/Ibu Dosen, Mahasiswa dan civitas Akademika FIB Unud, yang telah ikut berpartisipasi pada kegiatan SNBB III ini. Dan tentunya tidak lupa pula kami juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia SNBB III atas kerja kerasnya untuk mewujudkan kegiatan seminar ini sehingga dapat berjalan dengan lancar.
Akhirnya kami tidak pernah lupa dengan pepatah yang mengatakan bahwa ―Tiada gading yang tak retak‖. Oleh karena itu, kami mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan di hati Bapak/Ibu selama acara ini berlangsung. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi terlaksananya SNBB III yang lebih berkualitas di masa mendatang akan kami terima dengan tangan terbuka.
Panitia Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
iii SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya maka buku kumpulan makalah-makalah yang dikompilasi dalam bentuk proceeding untuk Seminar Nasional Bahasa dan Budaya (SNBB) III dengan mengusung tema ‗Revitalisasi Identitas melalui Bahasa dan Budaya Maritim‘ dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Budaya kemaritiman menarik untuk dibahas dan didiskusikan secara akademis dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-60, dan Badan Kekeluargaan ke-37 Fakultas Ilmu Budaya, serta Dies Natalis Universitas Udayana ke-56. Maritim adalah bagian budaya Nusantara karena merupakan identitas bagi Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai negara Nusantara (archipelagic state). Melalui SNBB III, pembahasan mengenai wilayah perairan bukan saja sebagai pembatas, tetapi juga sebagai penghubung antarpulau yang menyatukan Nusantara sekaligus sumber daya melimpah yang harus dikelola dengan baik diharapkan menjadi fokus utama seminar ini. Budaya maritim sebagai identitas menyentuh dapat semua lini tata perilaku masyarakat, dan negara untuk melahirkan teknologi, seni, bahasa, dan budaya yang unik.
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana mengembangkan ilmu bahasa dan budaya memiliki peran untuk merevitalisasi identitas masyarakat dan bangsa. Dinamika budaya kemaritiman yang berkaitan dengan konteks ideologi, sejarah, antropologi, arkeologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahasa, dan ketahanan tidak terbebas dari kerawanan dan kepunahan shingga perlu untuk merevitalisasi identitas tersebut.
Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Para Koordinator Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Udayana atas kerjasama yang baik sehingga seminar bersama bisa dilaksanakan.
2. Dr. Darmoko, M.Hum. (Unversitas Indonesia) sebagai pembicara kunci; pemakalah utama: Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Kar.,
iv
M.Hum (ISI Denpasar), Dr. Purwadi, M.Hum. (FIB Unud), serta para pemakalah pendamping lainnya.
3. Peserta SNBB III, 2018 yang terdiri atas, peneliti dan/atau dosen bahasa, sastra, dan budaya, mahasiswa, pekerja dan pengamat media, dll yang terlalu panjang bila disebutkan semuanya.
4. Panitia SNBB III yang telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan penyelenggaraan seminar ini dengan sebaik-baiknya.
SNBB III yang diselenggarakan atas kerjasama semua Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dapat memberikan pencerahan, dan diharapkan bermuara pada penyatuan Visi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yaitu memiliki keunggulan dan kemandirian dalam bidang
pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan aplikasi keilmuan yang berlandaskan kebudayaan.
Melalui kesempatan ini sekali lagi kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan SNBB III, dengan harapan semoga Tuhan YME memberikan imbalan yang setimpal dengan pengorbanan Bapak/Ibu sekalian. Kami juga tidak lupa mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penyelengaraan acara ini. Kami ucapkan Selamat Berseminar, dan semoga bermanfaat.
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dekan,
v DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii SAMBUTAN ... iii DAFTAR ISI ... v PEMAKALAH KUNCI REVITALISASI TEKS-TEKS KEARIFAN LOKAL KEMARITIMAN UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA Darmoko ... 1
PEMAKALAH UTAMA SENI KELAUTAN MEMBANGUN HARMONISASI MANUSIA DENGAN ALAM I Gede Arya Sugiartha ... 15
STRATEGI MASYARAKAT NELAYAN KEDONGANAN MENGHADAPI KEMISKINAN Purwadi Soeriadiredja ... 22
PEMAKALAH PENDAMPING EKSISTENSI PURI AGUNG KARANGASEM DALAM DINAMIKA SOSIAL BUDAYA A.A.A Dewi Girindrawardani ... 41
VARIASI BAHASA SUNDA DI DAERAH PESISIR JABAR SELATAN Asri Soraya Afsari, Teddi Muhtadin ... 50
PERILAKU BUDAYA KESEHATAN DALAM PRAKTIK PERAWATAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA MASYARAKAT PESISIR DI MANGGARAI, NTT Bambang Dharwiyanto Putro ... 57
ANALISIS PEMAKAIAN RAGAM JURNALISTIK DI SMAN 1 ABIANSEMAL: KASUS MENULIS BERITA LANGSUNG I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, Anak Agung Putu Putra, I Ketut Nama, Ni Putu N. Widarsini, Sri Jumadiah ... 67
vi
IDEOLOGI BUDAYA MARITIM DALAM PIDATO MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
I Gusti Ayu Gde Sosiowati ... 73 CITRA DIRI PADA TEKS VERBAL MEDIA KAMPANYE PILGUB BALI I Gusti Ngurah Parthama, Ni Luh Kade Yuliani Giri ... 82 HEGEMONI BUDAYA DALAM PRAKTIK KEKUASAAN MARITIM
I Ketut Darma Laksana ... 88 SITUS KAPAL U.S.A.T LIBERTY DI PANTAI TULAMBEN DALAM
PERSPEKTIF ARKEOLOGI MARITIM DAN PARIWISATA
I Ketut Setiawan ... 94 KECENDERUNGAN PEMAKAIAN BAHASA BALI SEBAGAI CERMIN IDENTITAS MASYARAKAT DI DAERAH PARIWISATA NUSA DUA I Made Rajeg, Ni Luh Sutjiati Beratha, Ni Wayan Sukarini ... 100 KERAS, KASAR, PEDAS, PENUH GAIRAH KARAKTERISTIK
MASYARAKAT PESISIR DALAM DRAMA ―MALAM JAHANAM‖ KARYA MOTINGGO BUSYE
I Made Suarsa ... 108 GAMBARAN PERJALANAN LAUT A.A. ISTRI AGUNG DAN
SUAMINYA DARI KARANGASEM KE JEMBRANA
I Made Suastika ... 114 PERAIRAN BALI SEBAGAI RUANG BUDAYA DAN PERADABAN
I Putu Gede Suwitha ... 120 MEMBANGUN KARAKTER BANGSA MELALUI PELESTARIAN DAN PENGIMPLEMENTASIAN NILAI BUDAYA: PERSPEKTIF
BUDAYA BALI
I Wayan Cika... 128 MELACAK KEBAHARIAN NUSANTARA BERDASARKAN
BUKTI-BUKTI ARKEOLOGIS
I Wayan Srijaya ... 135 REVOLUSI BIRU DAN HUMAN SECURITY NELAYAN DI KUSAMBA KLUNGKUNG
I Wayan Tagel Eddy, Anak Agung Ayu Rai Wahyuni ... 146 MEMAHAMI KATA TUGAS DALAM BAHASA INDONESIA DITINJAU DARI PELONCATAN KATEGORI DAN FUNGSI
vii
TERJEMAHAN ISTILAH KELAUTAN BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA INDONESIA
Ida Ayu Made Puspani ... 163 FUNGSI DAERAH PESISIR DARI MASA KE MASA DI BALI
(KAJIAN KEPUSTAKAAN)
Ida Ayu Putu Mahyuni ... 172 SISTEM SEWA KONTRAK BERDASARKAN KURS DALAM NIAGA
BANDAR DI BULELENGBALI, PERTENGAHAN ABAD XIX
Ida Ayu Wirasmini Sidemen ... 178 FUNGSI MITOS BHATARA BAGUS BALIAN: PUTRA DEWA DAN PUTRI PENDETA
Ida Bagus Jelantik Sutanegara Pidada ... 186 KONTROVERSIAL PERDAGANGAN KERAMIK KUNO HASIL
PENGANGKUTAN DI LAUT CIREBON JAWA BARAT
Ida Bagus Sapta Jaya ... 197 WISATA BAHARI SEBAGAI DAYA TARIK OBYEK WISATA
POTENSIAL:STUDI KASUS PANTAI SANUR, DENPASAR SELATAN, KOTA DENPASAR-BALI
Ketut Darmana ... 203 PELATIHAN PENULISAN JURNALISTIK BAGI SISWA SMAN 1 KUTA SELATAN, KABUPATEN BADUNG
Ketut Riana, S.U, Putu Evi Wahyu Citrawati, I Nyoman Darma Putra,
Made Sri Satyawati, Wayan Teguh ... 212 MITOS TOKOH KEBO IWA DI PANTAI SOKA, TABANAN
Luh Putu Puspawati ... 218 PENGAMAN BATIN SEBAGAI SUMBER GAGASAN PENULISAN
KREATIF JURNALISTIK-SASTRA DI SMAN I PETANG KECAMATAN PETANG KABUPATEN BADUNG
Maria Matildis Banda, Ida Bagus Jelantik SP, I Made Suarsa,
Sri Jumadiah dan I Komang Paramartha ... 223 ASPEK MODAL DALAM PENULISAN KARYA SASTRA PRAGMATIS Maria Matildis Banda, Sri Jumadiah ... 232 AMA DAN EMANSIPASI WANITA
Ngurah Indra Pradhana ... 242 VARIASI POLA DESKRIPSI PADA ISTILAH BUDAYA BALI PADA TEKS BERBAHASA INGGRIS
viii
PERDAGANGAN ANTAR PULAU OLEH MASYARAKAT BALI KUNO PADA ABAD IX-XIV MASEHI: KAJIAN EPIGRAFIS DAN TAPONIMI Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, Kristiawan ... 253 REPRESENTASI BUDAYA JEPANG DALAM SAMPUL NOVEL TEENLIT INDONESIA
Ni Luh Putu Ari Sulatri, Ni Made Andry Anita Dewi ... 260 AKTIVITAS KEMARITIMAN PADA MASA BALI KUNA
Ni Luh Sutjiati Beratha, I Wayan Ardika... 266 PENGGUNAAN KENJŌGO MŌSHIWAKE ARIMASEN DAN MŌSHIWAKE
GOZAIMASEN DALAM DRAMA BERBAHASA JEPANG
Ni Made Andry Anita Dewi, Silvia Damayanti ... 275 MENCERMATI KEHIDUPAN REMAJA BERMASALAH DI KOTA
DENPASAR-BALI
Ni Made Wiasti, Ni Luh Arjani, I Ketut Kaler ... 282 PENGAJARAN BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA JEPANG MAHASISWA DALAM KELAS CHUJOKYU KAIWA (Studi Kasus Mahasiswa Sastra Jepang, Universitas Udayana)
Ni Putu Luhur Wedayanti, Choleta Palupi Titasari ... 289 BENTUK IKONIK KELAUTAN DALAM NOVEL SUARA SAMUDRA KARYA MARIA MATILDIS BANDA
Ni Putu N. Widarsini ... 294 TATA CARA PENULISAN DAN FUNGSI SURAT RESMI, SERTA
ANALISIS PERMASALAHAN DALAM PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA
Ni Wayan Arnati ... 301 PENINGGALAN ARKEOLOGI DI WILAYAH DESA ADAT KEMONING MERUPAKAN PENGARUH CORAK BUDAYA HINDU/INDIA SEBAGAI AKIBAT HUBUNGAN SECARA MARITIM
Ni Wayan Herawathi ... 318 PARIWISATA BUDAYA: MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERIMBANG ANTARA PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN BALI
Nyoman Reni Ariasri ... 324 KEPERCAYAAN DALAM SIKLUS KEHIDUPAN PADA MASYARAKAT SUNDA PESISIR (KECAMATAN PAMEUNGPEUK, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT)
ix
JEJAK AWAL KEMARITIMAN PADA CADAS LIANG PU‘EN DI LEMBATA NTT
Rochtri Agung Bawono, Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, Kristiawan, Coleta Palupi Titasari... 337 PURI TAMAN SABA : SIMBOLISASI PENDIDIKAN SENI BUDAYA BALI Sulandjari ... 343
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 242 Denpasar, 25-26 September 2018
AMA DAN EMANSIPASI WANITA Ngurah Indra Pradhana
Prodi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Jepang merupakan salah satu negara maritim. Maka dari itu, banyak profesi dari masyarakat Jepang yang berhubungan dengan laut. Para prianya bekerja sebagai nelayan, sedangkan wanita yang berprofesi sebagai penyelam tersebut biasa dikenal dengan istilah Ama. Ama (海女) merupakan salah satu tradisi kuno di Negeri Sakura untuk sebutan bagi penyelam tradisional wanita di Jepang. Tradisi yang sudah dilakukan, sejak 3000 tahun silam. Para wanita yang menjadi Ama ini kebanyakan tinggal di kawasan Toba dan Shima di Prefektur Mie. Ama mampu menyelam sampai kedalaman 20 meter ke dasar laut tanpa alat bantu. Biasanya mereka menyelam untuk mencari segala komoditas laut seperti rumput laut, mutiara, dan kerang. Ama melakukan tugas rumah tangga, memasak untuk suami dan mengantar anak mereka ke sekolah sebelum mereka mulai menyelam di pagi hari. Menyelam memberikan mereka pendapatan ekstra dan makanan berkualitas bagi keluarga dan komunitas setempat dimana mereka tinggal. Sayangnya, kini tidak banyak wanita yang mau menjadi Ama. Makin banyak kapal-kapal nelayan yang memakai peralatan canggih untuk berburu ikan dan hasil laut lainnya, serta insentif ekonomi menjadi Ama pun semakin berkurang bagi penyelam-penyelam tua. Tidak lama lagi profesi mereka akan lenyap ditelan kemajuan teknologi. Dari total 8.000 Ama di tahun 1950-an, kini tinggal tersisa 2.000 Ama saja.
Kata Kunci : Maritim, Ama, Wanita Penyelam
Sejarah Ama
Jepang dikenal dengan negara kepulauan atau archipelagic state.Dari sisi jumlah, pulau-pulau di Jepang hampir mencapai 7.000 dengan luas lautan sekitar 4 juta kilometer persegi (km²).Jepang merupakan salah satu negara maritim. Maka dari itu, banyak profesi dari masyarakat Jepang yang berhubungan dengan laut. Para prianya bekerja sebagai nelayan, dengan pergi melaut yang bisa berhari-hari. Para wanitanya tidak mau kalah, ingin juga bekerja. Maka mereka tidaklah melaut seperti para pria, melainkan memilih untuk menyelam.Wanita yang berprofesi sebagai penyelam tersebut biasa dikenal dengan istilah Ama.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 243 Denpasar, 25-26 September 2018
Ama (海女) merupakan salah satu tradisi kuno di Negeri Sakura untuk sebutan bagi penyelam tradisional wanita di Jepang.Tradisi yang sudah dilakukan, sejak 3000 tahun silam.Ama tercatat merupakan sebuah profesi yang sudah dilakukan sejak lama, bahkan tercatat dalam sejarah yaitu pada sebuah literatur di abad ke-7. Namun saat ini hanya berada di wilayah Mie, Iwate dan Prefektur Ishikawa saja.Sebuah legenda mengatakan bahwa mereka tiba di Jepang sebagai bagian dari suku pelayaran nomaden. Sesungguhnya mereka semua asli penduduk Jepang. Bagi mereka yang tinggal di Ise-shima, dan banyak area lain di Jepang, Ama dianggap sebagai sosok abadi dan dihormati. Para wanita yang menjadi Ama ini kebanyakan tinggal di kawasan Toba dan Shima di Prefektur Mie. Prefektur Mie merupakan salah satu prefektur di Jepang yang letaknya berdekatan dengan Nagoya, Osaka dan Kyoto. Dari Tokyo, harus naik bus atau kereta kurang lebih 6-8 jam. Atau jika langsung dari Bandara Internasional Chubu, bisa menggunakan kapal laut yang jaraknya hanya 40 menit menuju Kota Toba di Mie.Baik Toba dan Shima, keduanya sama-sama berada di pesisir yang menghadap ke Samudera Pasifik. Kehidupan masyarakatnya pun bergantung kepada laut.
244 Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III Denpasar, 25-26 September 2018 Profesi Ama
Ama, sejatinya bukan pekerjaan untuk kaum wanita saja, ada juga kalangan pria yang menjadi Ama tetapi dengan tulisan yang berbeda (海士, ―master laut‖), namun jumlah perempuan yang menggeluti profesi ini jauh lebih besar, sehingga secara umum, diakui sebagai profesi untuk perempuan.Alasan kenapa lebih banyak kaum perempuan yang menyelam adalah tubuh mereka dapat mempertahankan panas yang lebih baik di dinginnya laut karena memiliki lebih banyak lemak dibandingkan pria.Ama mampu menyelam sampai kedalaman 20 meter ke dasar laut tanpa alat bantu. Artinya paru-paru dan daya tahan tubuh mereka sangatlah kuat. Di zaman dulu, Ama menyelam dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan cawat.Tentu saja, itu butuh latihan sedari kecil dan terus-menerus. Kimiyo Hayashi (61 tahun), seorang Ama menceritakan bagaimana rasanya menyelam secara tradisional itu. "Lautan sangat dingin, wajah seperti membeku. Gelombang juga sangat berbahaya dan seperti menyayat badan. Kadang juga tidak ketahuan jika ada hiu yang mendekat. Kita harus menyelam dengan cepat dan efisien,".Di zaman sekarang ini walau sudah modern, para Ama tetap menyelam tanpa menggunakan alat selam. Paling hanya memakai fin saja untuk makin memudahkan bergerak di air.
Cara menyelam para Ama terdapat dua jenis. Pertama mereka menyelam dengan bergantung pada seutas tali yang dikaitkan pada sang suami yang menantinya di atas perahu. Metode ini biasanya digunakan saat Ama menyelam di tengah lautan lepas dengan tingkat kedalaman agak tinggi. Sang suami harus tahu benar kapan ia harus menarik sang istri ke permukaan.Kedua adalah dengan menyelam sendirian yang biasanya dilakukan di perairan yang agak dangkal. Di sini Ama mengikatkan diri mereka dengan seutas tali pada keranjang kayu di permukaan.Mereka menghabiskan waktu sekitar satu menit di bawah air pada setiap penyelaman, dan melakukannya sebanyak 50 hingga 100 kali. Keselamatan mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan laut, yang berarti mereka harus bekerja bergandengan tangan dengan alam untuk mengurangi resiko kecelekaan.
Ama biasanya mereka menyelam untuk mencari segala komoditas laut seperti rumput laut, mutiara,dan kerang. Namun, Ama tidak sembarangan mengambil hasil laut. Ada beberapa kerang yang boleh diambil dan tidak diambil.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 245 Denpasar, 25-26 September 2018
Jumlahnya juga dibatasi, hal tersebut semata-mata menjaga kehidupan laut sendiri. Mereka percaya, jika mereka berbuat baik dengan alam, maka alam akan berbuat baik dengan mereka.
Banyak dari Ama juga melakukan tugas rumah tangga, memasak untuk suami dan mengantar anak mereka ke sekolah sebelum mereka mulai menyelam di pagi hari. Menyelam memberikan mereka pendapatan ekstra dan makanan berkualitas bagi keluarga dan komunitas setempat dimana mereka tinggal.
Ama di Jaman Sekarang
Sayangnya, kini tidak banyak wanita yang mau menjadi Ama. Kebanyakan wanita generasi mudanya memilih pindah ke Osaka atau Tokyo (yang berjarak 3 jam naik mobil) untuk bekerja. Apalagi, makin banyak kapal-kapal nelayan yang memakai peralatan canggih untuk berburu ikan dan hasil laut lainnya. Selain itu, insentif ekonomi menjadi Ama pun semakin berkurang bagi penyelam-penyelam tua. Tidak lama lagi profesi mereka akan lenyap ditelan kemajuan teknologi.Dari total 8.000 Ama di tahun 1950-an, kini tinggal tersisa 2.000 Ama saja. Hal inilah yang ditakuti oleh generasi-generasi tua di Prefektur Mie, bahwa tradisi Ama akan mati.
Saat ini, masih terdapat masyarakat yang melakoni kegiatan menyelam. Namun sudah tidak menjadikan sebagai sumber utama penghasilan Ama, banyak dari mereka kini terpaksa mencari pendapatan tambahan. Beberapa dari mereka membuka ryokan (penginapan) atau peternakan kecil milik keluarga.Banyak dari mereka bekerja di restoran bertemakan Ama di dekat dermaga. Mereka melayani turis yang ingin menikmati seafood dan menghibur tamu dengan tarian tradisional. Selain itu, amagoya ( 海 女 小 屋 ), pondok untuk beristirahat para penyelam ama, telah dibuka untuk umum dan melayani pengunjung yang ingin mencicipi seafood panggangnya. Menikmati makanan laut segar yang dibuat oleh
246 Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III Denpasar, 25-26 September 2018 Upaya Pelestarian
Profesi menyelam Ama dijadikan sebagai warisan budaya sejak tahun 2014. Sejak tahun 2007, sudah ada sebuah gerakan untuk mendaftarkan profesi ini sebagai warisan budaya di UNESCO. Dalam rangka membangun momentum untuk pendaftaran, kota Shima dan Toba ditunjuk menjadi tuan rumah acara ―Ama Summit‖ sebanyak lima kali dari enam kali gelaran acara yang sudah berlangsung sejak tahun 2009.Pertemuan ke-6 diadakan di Toba. Ama dari Jepang dan Korea Selatan, sepakat untuk menyebarkan budaya ama untuk G7 Ise-Shima Summit. Di zaman modern sekarang ini, hal yang dilakukan para penyelam Ama di Prefektur Mie memang patut mendapatkan apresiasi yang mendalam mengingat mereka terus menjaga dan melestarikan salah satu profesi tradisional untuk kaum wanita di Jepang.
DAFTAR UNDUHAN https://travel.detik.com/travel-news/d-3292491/putri-duyung-terakhir-di-jepang (07 september 2018) https://www.vice.com/id_id/article/8qb8d3/bertemu-nenek-penyelam-spesialis-mencari-bahan-baku-seafood-di-jepang (07 september 2018) https://his-travel.co.id/blog/article/detail/wanita-penyelam-dari-prefektur-Mie-Jepang (07 september 2018) https://thedailyjapan.com/para-penyelam-ama-di-prefektur-mie-masih-menjaga-dan-melestarikan-profesi-tradsional-untuk-kaum-wanita-di-jepang/ (07 september 2018) https://m.kontan.co.id/news_analisis/memahami-tata-kelola-maritim-jepang?page=1 (07 september 2018)