PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 4 TAHUN 2005
TENTANG
BANGUNAN GEDUNG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PARIGI MOUTONG,
Menimbang :
Mengingat :
a. bahwa untuk mengendalikan pembangunan agar sesuai dengan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Parigi Moutong perlu dilakukan pengendalian pemanfaatan ruang;
b. bahwa agar bangunan gedung dapat menjamin keselamatan penghuni dan lingkungannya harus diselenggarakan secara tertib, diwujudkan sesuai dengan fungsinya, serta dipenuhinya persyaratan administrasi dan teknis bangunan gedung;
c. bahwa agar bangunan gedung dapat terselenggara secara tertib dan terwujud sesuai dengan fungsinya, diperlukan peran masyarakat dan upaya pembinaan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung;
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3186);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
4. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3318);
5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan Dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469);
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3470);
7. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3501);
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);
9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3833);
10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Parigi Moutong Di Provinsi Sulawesi Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4185);
11. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
12. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
14. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1987 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3352);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha Dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3955);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3957);
19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1993 tentang Izin Mendirikan Bangunan Dan Undang-Undang Gangguan Bagi Perusahaan Industri;
20. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 66/PRT/1993 tentang Teknis Penyelenggaraan Bangunan Industri Dalam Rangka Penanaman Modal;
21. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
22. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 468/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan;
23. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung;
24. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Terhadap Bahaya Kebakaran Di Perkotaan;
25. Peraturan Daerah Kabupaten Parigi Moutong Nomor 1 Tahun 2004 tentang Kewenangan Kabupaten Parigi Moutong Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 4 Seri E Nomor 3).
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG dan
BUPATI PARIGI MOUTONG
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG BANGUNAN GEDUNG
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah yang dimaksud dengan :
1. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah adalah Kesatuan masyarakat umum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dan sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai Unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah.
3. Bupati adalah Bupati Parigi Moutong.
4. Kabupaten adalah Kabupaten Parigi Moutong.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Parigi Moutong yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
6. Dinas adalah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Parigi Moutong.
7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Parigi Moutong.
8. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan atau melayang dalam suatu lingkungan secara tetap sebagian atau seluruhnya terletak diatas atau dibawah permukaan tanah dan atau perairan yang berupa bangunan gedung dan atau bukan gedung .
9. Bangunan Gedung Negara adalah Bangunan Gedung untuk keperluan dinas yang menjadi atau akan menjadi kekayaan Negara dan dibangun dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD atau sumber pembiayaan lainnya yang diatur sesuai peraturan yang berlaku .
10. Bangunan Gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukanya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau perairan yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatan baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, kegiatan budaya maupun kegiatan khusus .
11. Bangunan Permanen adalah bangunan yang didalam peninjauannya dari segi konstruksi dan umur bangunan tersebut dapat dipergunakan atau dinyatakan lebih dari 15 (lima belas) tahun.
12. Bangunan Semi Permanen adalah bangunan yang dalam peninjauannya dari segi konstruksi dan umur bangunan tersebut dapat dipergunakan atau dinyatakan antara 5 (lima) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun.
13. Bangunan Sementara/Darurat adalah bangunan yang dalam peninjauannya dari segi konstruksi dan umur bangunan tersebut dapat dipergunakan atau dinyatakan kurang dari 5 (lima) tahun .
14. Kapling/Pekarangan adalah suatu perpetakan tanah, yang menurut pertimbangan pemerintah Propinsi/Kabupaten Parigi Moutong dapat dipergunakan untuk tempat mendirikan bangunan .
15.Mendirikan Bangunan adalah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian termaksud pekerjaan menggali, menimbun atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan .
16. Merubah Bangunan adalah pekerjaan mengganti dan/atau menambah bagian bangunan yang ada termasuk pekerjaan membongkar yang berhubungan dengan pekerjaan mengganti dan/ atau menambah bagian bangunan tersebut . 17. Merobohkan Bangunan adalah pekerjaan meniadakan sebagian atau seluruh
bagian bangunan ditinjau dari segi fungsi bangunan dan/atau konstruksi . 18. Garis Sempadan adalah garis pada halaman pekarangan perumahan yang
ditarik sejajar dengan garis as jalan, tepi sungai atau as pagar, dan merupakan batas antara kapling/pekarangan yang tidak dibolehkan dibangun bangunan . 19. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah bilangan pokok atas perbandingan
antara luas lantai dasar bangunan dengan luas kapling/pekarangan .
20. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah bilangan pokok atas perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan dengan luas kapling/pekarangan . 21. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah bilangan pokok atas perbandingan antara
luas daerah hijau dengan luas kapling/pekarangan.
22. Daerah Hijau Bangunan adalah Ruang Terbuka pada bangunan yang dimanfatkan untuk penghijauan.
23. Tinggi Bangunan adalah jarak yang diukur dari permukaan tanah, dimana bangunan tersebut didirikan, sampai dengan titik puncak bangunan .
24. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) adalah Izin yang diberikan dalam mendirikan bangunan.
25. Izin Perubahan Bangunan (IPB) adalah Izin yang diberikan untuk mengubah bangunan sesuai dengan fungsi bangunan yang tertera dalam IMB.
26. Izin Penghapusan Bangunan (IHB) adalah Izin yang diberikan untuk menghapus/ merobohkan bangunan secara total baik secara fisik maupun secara fungsi, sesuai dengan fungsi bangunan yang tertera dalam IMB.
27. Pemeliharaan adalah kegiatan menjaga keandalan bangunan beserta sarana dan prasarananya agar selalu layak fungsi.
28. Perawatan adalah kegiatan memperbaiki dan atau mengganti bagian bangunan, komponen, bahan bangunan dan atau sarana dan prasarana agar bangunan tersebut tetap layak fungsi .
29. Pelestarian adalah kegiatan perawatan, pemugaran serta pemeliharaan bangunan dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan tersebut sesuai dengan aslinya menurut periode yang ditetapkan.
30. Pengkaji Teknis adalah orang perorangan, atau badan hukum yang mempunyai sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelayakan fungsi bangunan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 31.Prasarana dan Sarana Bangunan Gedung adalah fasilitas kelengkapan didalam
dan diluar bangunan gedung yang mendukung pemenuhan terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut .
32. Pengguna Bangunan adalah pemilik bangunan gedung dan atau bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik bangunan gedung yang menggunakan dan atau mengelola bangunan gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan.
33. Masyarakat adalah perorangan, kelompok, badan, kelompok dan lembaga atau organisasi yang kegiatannnya dibidang bangunan gedung termasuk masyarakat hukum adat dan masyarakat ahli, yang berkepentingan dengan penyelengaraan bangunan gedung.
34. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan, pemenuhan kewajiban berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.
35. Penyidikan Tindak Pidana adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
BAB II
AZAS, TUJUAN DAN LINGKUP BANGUNAN GEDUNG Pasal 2
Untuk penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung yang akan atau dilaksanakan di daerah Kabupaten adalah berlandaskan pada asas pemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, keserasian, serta kesinambungan bangunan gedung dengan tata wilayah lingkungannya.
Pasal 3 Tujuan bangunan gedung adalah :
a. untuk mewujudkan bangunan gedung yang berfungsi sesuai dengan tata bangunan gedung yang serasi, selaras, dan seimbang dengan lingkungannya;
b. untuk mewujudkan ketertiban penyelenggaraan bangunan gedung yang terjamin keandalan teknis bangunannya dari aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan, serta efisien dalam penggunaan sumberdaya sesuai dengan tata lingkungannya;
c. untuk mewujudkan kepastian hukum di dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung.
Pasal 4
Di dalam penyelenggaraan pengaturan tentang bangunan gedung di Kabupaten ini adalah juga meliputi beberapa aspek diantaranya penyelenggaraan, persyaratan, peran masyarakat, pembinaan sanksi hukum serta hal lain yang menyangkut keselamatan dan kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan yang dimaksud.
BAB III
FUNGSI, KLASIFIKASI DAN PERIZINAN BANGUNAN GEDUNG Pasal 5
Fungsi bangunan gedung adalah sebagai berikut :
a. sebagai fungsi hunian, keagamaan, usaha, sosial dan budaya, serta fungsi khusus;
b. hunian meliputi tempat tinggal, bangunan tinggal utama, rumah tinggal deret, rumah susun, serta rumah tinggal sementara;
c. fungsi keagamaan adalah meliputi masjid, gereja, pura wihara, kelenteng serta bangunan fungsi agama yang diatur berdasarkan peraturan yang berlaku; d. bangunan dengan fungsi sosial budaya adalah untuk pendidikan,
e. bangunan dengan fungsi usaha adalah perdagangan, perindustrian, perhotelan wisata, rekreasi, terminal dan usaha lainnya sesuai peruntukannya;
f. bangunan dengan fungsi khusus adalah instalasi pertahanan, keamanan Negara, reactor nuklir serta yang diputuskan oleh kebijakan tertentu untuk bangunan dimaksud;
g. perubahan fungsi yang ditetapkan harus mendapat persetujuan dan penetapan kembali oleh Pemerintah Daerah.
Pasal 6 Klasifikasi bangunan gedung terdiri dari :
a. Menurut fungsinya, bangunan di wilayah Kabupaten Parigi Moutong diklasifikasikan sebagai berikut :
1. bangunan Rumah Tinggal dan semacamnya; 2. bangunan Pelayanan Umum;
3. bangunan Perdagangan dan Jasa; 4. bangunan Industri; 5. bangunan Pergudangan; 6. bangunan Perkantoran; 7. bangunan Transportasi; 8. bangunan Khusus; 9. bangunan Keagamaan.
b. Menurut umurnya, bangunan dalam wilayah Kabupaten, diklasifikasikan atas 1. bangunan permanent;
2. bangunan semi permanen; 3. bangunan sementara.
c. Menurut wilayahnya bangunan dalam wilayah Kabupaten, diklasifikasikan atas 1. bangunan di kawasan Perkotaan;
2. bangunan di kawasan Pedesaan;
3. bangunan di Kawasan Khusus / Tertentu.
d. Menurut Lokasinya bangunan dalam wilayah Kabupaten, diklasfisikasikan atas 1. bangunan di tepi jalan arteri;
2. bangunan di tepi jalan kolektor;
3. bangunan di tepi jalan antar lingkungan (lokal); 4. bangunan di tepi jalan lingkungan;
5. bangunan di tepi jalan desa; 6. bangunan di tepi jalan setapak.
e. Menurut ketinggiannya, bangunan dalam wilayah Kabupaten, diklasfisikasikan atas
2. bangunan bertingkat sedang (Tiga sampai dengan Lima Lantai); 3. bangunan bertingkat tinggi (Enam Lantai keatas).
f. Menurut luasnya, bangunan dalam wilayah Kabupaten, diklasfisikasikan atas 1. bangunan dengan luas kurang dari 100 M²;
2. bangunan dengan luas antara 100 - 500 M²; 3. bangunan dengan luas antara 500 - 1000 M²; 4. bangunan dengan luas diatas 1000 M².
g. Menurut statusnya, bangunan dalam wilayah Kabupaten, diklasfisikasikan atas
1. bangunan Pemerintah; 2. bangunan Swasta.
Pasal 7
(1) Setiap orang, badan/lembaga sebelum membangun bangunan gedung di wilayah Kabupaten, diharuskan memiliki IMB dari Bupati.
(2) Setiap orang, badan/lembaga sebelum merubah bangunan gedung di wilayah Kabupaten, diharuskan memiliki IPB dari Bupati.
(3) Setiap orang, badan/lembaga sebelum merobohkan bangunan gedung di wilayah Kabupaten, diharuskan memiliki IHB dari Bupati.
BAB IV
PERSYARATAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Bagian Pertama Persyaratan Umum
Pasal 8
(1) Setiap bangunan harus memenuhi persyaratan teknis, persyaratan lingkungan, persyaratan hukum dan administrasi agar bangunan dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan .
(2) Fungsi bangunan yang didirikan harus sesuai dengan peruntukan lokasi yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang .
(3) Perletakan bangunan pada lokasi harus di gambar dalam gambar situasi . (4) Gambar situasi bangunan yang telah disetujui Dinas menjadi kelengkapan
IMB .
(5) Gambar situasi perletakan bangunan memuat penjelasan tentang :
a. bentuk Kapling/Pekarangan yang sesuai dengan Peta Badan Pertanahan Nasional;
c. nama jalan menuju kapling dan sekeliling kapling; d. peruntukan bangunan sekeliling kapling;
e. letak bangunan di atas kapling; f. koefisien hijau bangunan; g. koefisien dasar bangunan; h. garis sempadan bangunan; i. arah angin rata-rata; j. skala gambar. Bagian Kedua Persyaratan Bangunan Paragraf 1 Garis Sempadan Pasal 9
(1) Garis Sempadan Pondasi Bangunan terluar yang sejajar dengan as jalan (rencana jalan)/ tepi sungai/tepi pantai ditentukan berdasarkan lebar jalan/rencana jalan lebar sungai/ kondisi pantai, fungsi jalan dan peruntukan kapling/kawasan .
(2) Letak garis sempadan pondasi bangunan terluar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila tidak ditentukan lain adalah setengah lebar daerah milik jalan (DMJ) dihitung dari tepi jalan/pagar .
(3) Letak garis sempadan pondasi bangunan terluar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk daerah pantai apabila tidak ditentukan lain adalah 100 meter dari garis pasang tertinggi pada pantai yang bersangkutan .
(4) Untuk lebar jalan/sungai yang kurang dari 5 meter, letak garis sempadan adalah 2,5 meter dihitung dari tepi jalan/sungai.
(5) Letak garis sempadan pondasi bangunan terluar pada bagian samping yang berbatasan dengan tetangga apabila tidak ditentukan lain adalah minimal 2 meter dari batas kapling, atau atas dasar kesepakatan dengan tetangga yang saling berbatasan .
(6) Letak garis sempadan pondasi bangunan terluar pada bagian belakang yang berbatasan dengan tetangga apabila tidak ditentukan lain adalah minimal 2 meter dari batas kapling, atau dasar kesepakatan dengan tetangga yang saling berbatasan.
Pasal 10
(1) Garis Sempadan Pagar terluar yang berbatasan dengan jalan ditentukan berhimpit dengan batas terluar milik jalan.
(2) Garis Pagar disudut persimpangan jalan ditentukan dengan serongan/tikungan atas dasar fungsi dan peranan jalan.
(3) Tiang pagar yang berbatasan dengan jalan ditentukan maksimum 1,5 meter dari permukaan halaman/trotoar dengan bentuk transparan atau tembus pandang dan tidak membahayakan
Pasal 11
(1) Garis sempadan jalan masuk ke kapling apabila tidak ditentukan lain adalah berhimpit dengan batas terluar garis pagar.
(2) Pembuatan jalan masuk harus mendapat Izin dari Kepala Dinas.
Pasal 12
(1) Teras/Balkon tidak dibenarkan diberi dinding sebagai ruang tertutup.
(2) Balkon bangunan tidak dibenarkan mengarah/menghadap ke kapling tetangga.
(3) Garis terluar balkon bangunan tidak dibenarkan melewati batas pekarangan yang berbatasan dengan tetangga.
Pasal 13
(1) Garis terluar suatu tritis/overstock yang menghadap ke arah tetangga tidak dibenarkan melewati batas pekarangan yang berbatasan dengan tetangga. (2) Apabila garis sempadan bangunan yang ditetapkan berhimpit dengan garis
sempadan pagar, cucuran atap suatu tritis/overstock harus diberi talang dan pipa talang harus disalurkan sampai ke tanah.
(3) Dilarang menempatkan lubang angin/ventilasi/jendela pada dinding yang berbatasan dengan tetangga.
Paragraf 2
Garis Sempadan Pantai / Danau / Sungai Pasal 14
(1) Garis sempadan untuk bangunan gedung yang dibangun ditepi pantai/danau/sungai, apabila tidak ditetapkan lain adalah sebesar 100 meter dari garis pasang tertinggi untuk bangunan gedung di tepi pantai, dan 50 meter untuk bangunan gedung di tepi danau/ sungai.
(2) Untuk bangunan dan kawasan tertentu besarnya garis sempadan pantai/danau/sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan Bupati setelah mendapat pertimbangan dari para ahli.
Paragraf 3
Jarak Antara Bangunan Pasal 15
(1) Jarak antara masa/blok bangunan satu lantai ujung yang satu dengan lainnya dalam satu kapling atau antara kapling minimum 4 meter .
(2) Setiap bangunan umum harus mempunyai jarak masa/blok bangunan dengan bangunan di sekitarnya minimum 6 meter dan 3 meter dengan batas kapling .
(3) Untuk bangunan bertingkat, setiap kenaikan satu lantai jarak antara masa/blok bangunan yang satu dengan yang lainnya di tambah dengan 0,5 meter .
(4) Untuk bangunan tertentu, ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dikecualikan.
Paragraf 4
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Pasal 16
(1) Koefisien Dasar Bangunan (KDB) ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian
lingkungan/resapan air permukaan tanah dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi peruntukan, fungsi bangunan, keselamatan dan kenyamanan bangunan .
(2) Ketentuan besarnya KDB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan
dengan Rencana Tata Ruang Daerah atau sesuai dengan ketentuan Per Undang-undangan .
(3) Setiap bangunan umum, apabila tidak ditentukan lain, ditetapkan KDB
maksimum 60 % (enam puluh perseratus).
(4) Setiap bangunan gedung yang dibangun dan dimanfaatkan harus memenuhi
kepadatan bangunan yang diatur dalam KDB sesuai yang ditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan.
Paragraf 5
Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Pasal 17
(1) Koefisien Lantai Banguinan (KLB) ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian
lingkungan/resapan air permukaan tanah dan pencegahan terhadap bahaya
kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi bangunan, keselamatan dan
kenyamanan umum .
(2) Ketentuan besarnya KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan
dengan Rencana Tata Ruang Daerah atau sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan .
Paragraf 6
Koefisien Daerah Hijau (KDH) Pasal 18
(1) Koefisien Daerah Hijau (KDH) ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian lingkungan/ resapan air permukaan tanah .
(2) Ketentuan besarnya KDH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan rencana tata ruang daerah atau sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan.
(3) Setiap bangunan umum, apabila tidak ditentukan lain, ditetapkan KDH maksimum 30 % (tiga puluh perseratus).
Paragraf 7 Ketinggian Bangunan
Pasal 19
(1) Ketinggian bangunan ditentukan sesuai dengan rencana tata ruang.
(2) Untuk masing-masing lokasi yang belum dibuat tata ruangnya, ketinggian maksimum bangunan ditetapkan oleh Kepala Dinas dengan mempertimbangkan lebar jalan, fungsi bangunan, keselamatan bangunan, serta keserasian dengan lingkungan.
(3) Ketinggian bangunan deret maksimum 4 (empat) lantai dan selebihnya harus berjarak dengan persil tetangga minimal 5 (lima) m2.
Bagian Ketiga Persyaratan Lingkungan
Paragraf 1
Keserasian Lingkungan Pasal 20
(1) Setiap bangunan tidak diperbolehkan menghalangi pandangan lalu lintas. (2) Setiap bangunan langsung atau tidak langsung tidak diperbolehkan
mengganggu atau menimbulkan gangguan keamanan, keselamatan umum, keseimbangan/pelestarian lingkungan dan kesehatan lingkungan.
(3) Setiap bangunan langsung atau tidak langsung tidak diperbolehkan dibangun / berada di atas sungai/saluran/selokan/parit pengairan.
Paragraf 2
Pengendalian Dampak Lingkungan Pasal 21
(1) Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan hanya berlaku bagi
(2) Setiap pemohon yang mengajukan permohonan mendirikan bangunan yang mempunyai usaha atau jenis kegiatan bangunan sama atau lebih dari 5 hektar, diwajibkan untuk melengkapi persyaratan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1991 pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 serta KC. 11/MENLH/3/94.
(3) Untuk kawasan industri, perhotelan, perumahan, real estate, pariwisata, gedung bertingkat yang mempunyai ketinggian 60 meter atau lebih, pelabuhan diwajibkan melengkapi persyaratan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
(4) Bagi pemohon Izin Mendirikan Bangunan kurang dari 5 hektar dalam mengajukan permohonannya harus disertai rekomendasi dari Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Paragraf 3
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Pasal 22
(1) Persyaratan untuk suatu kawasan lebih lanjut akan disusun dan ditetapkan dalam RTBL.
(2) Dalam Penyusunan RTBL tersebut dapat mengikutsertakan masyarakat, pengusaha dan para ahli sesuai dengan kondisi dan kawasan masyarakat setempat.
(3) RTBL yang telah disusun dan ditetapkan akan ditinjau kembali setiap 3 tahun.
(4) Pemanfaatan RTBL dalam rangka meningkatkan kualitas bangunan gedung dan lingkungan yang berkelanjutan harus sesuai dengan aspek fungsional, ekonomi, sosial termasuk ekologi dari bangunan gedung dimaksud.
BAB V
PERSYARATAN KEANDALAN BANGUNAN
Bagian Pertama Persyaratan Arsitektur
Pasal 23
(1) Setiap bangunan harus mempertimbangkan perletakan ruang sesuai dengan fungsi ruang dan hubungan ruang di dalamnya.
(2) Setiap bangunan harus mempertimbangkan faktor keindahan, kandungan lokal, dan sosial budaya setempat.
(3) Setiap bangunan harus mempertimbangkan segi-segi pengembangan konsepsi arsitektur bangunan tradisional, hingga secara estetika dapat mencerminkan perwujudan corak budaya setempat.
Bagian Kedua Persyaratan Struktur
Paragraf 1
Bangunan Satu Lantai Pasal 24
(1) Bangunan satu lantai adalah bangunan yang berdiri langsung di atas pondasi pada bangunan dan tidak terdapat pemanfaatan lain selain pada lantai dasarnya.
(2) Bangunan satu lantai temporer tidak diperkenankan dibangun di pinggir jalan utama/ arteri kota kecuali dengan Izin Bupati dan Unsur Bangunan dinyatakan tidak lebih dari 2 (dua) tahun.
(3) Bangunan satu lantai semi permanen tidak diperkenankan dibangun di pinggir jalan utama/arteri kota.
(4) Bangunan satu lantai semi permanen dapat diubah menjadi permanen setelah diperiksa oleh Dinas dan dinyatakan memenuhi syarat.
Paragraf 2 Bangunan Bertingkat
Pasal 25
Yang dimaksud dengan bangunan bertingkat adalah :
b. bangunan bertingkat pemanen dengan ketinggian dua sampai lima lantai. c. bangunan bertingkat semi permanen dengan ketinggian dua lantai.
Pasal 26
(1) Bangunan bertingkat semi permanen tidak diperkenankan dibangun di jalan utama.
(2) Bangunan bertingkat semi permanen tidak dapat dibangun menjadi bangunan permanen.
Paragraf 3 Bangunan Tinggi
Pasal 27
(1) Yang termasuk kelompok ini adalah Bangunan tinggi permanen dengan jumlah lantai lebih dari 5 (lima) .
(2) Untuk bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 8 (delapan), perencanaan dan pelaksanaannya harus mendapat rekomendasi teknis dari Menteri Pekerjaan Umum.
Paragraf 4
Ketahanan Konstruksi Pasal 28
(1) Setiap bangunan harus dibangun dengan mempertimbangkan kekuatan, kekakuan dan kestabilan dari segi struktur.
(2) Peraturan/standar tehnis yang harus dipakai ialah peraturan atau standar tehnis yang berlaku di Indonesia yang meliputi SNI (Standar Nasional Indonesia) tentang tata cara, spesifikasi, dan metode uji yang berkaitan dengan bangunan gedung.
(3) Setiap bangunan dan bagian konstruksinya harus diperhitungkan terhadap beban sendiri, beban yang dipikul, beban angin, getaran dan gaya gempa sesuai dengan peraturan pembebanan yang berlaku.
(4) Setiap bangunan dan bagian konstruksinya yang dinyatakan mempunyai tingkat gaya angin atau gaya gempa yang cukup besar harus direncanakan dengan konstruksi yang sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku.
(5) Setiap bangunan bertingkat lebih dari dua lantai, dalam pengajuan perIzinan mendirikan bangunan harus menyertakan perhitungan strukturnya.
(6) Dinas yang mempunyai kewajiban dan wewenang untuk memeriksa konstruksi
bangunan yang dibangun atau akan dibangun, baik dalam rancangan bangunannya maupun pada masa pelaksanaan pembangunan terutama untuk ketahanan terhadap gempa.
Bagian Ketiga
Persyaratan Bahan Bangunan Pasal 29
(1) Penggunaan bahan bangunan diupayakan semaksimal mungkin menggunakan
bahan bangunan produk dalam negeri/setempat, dengan kandungan lokal minimal 60% (enam puluh perseratus).
(2) Penggunaan bahan bangunan harus mempertimbangkan keawetan dan kesehatan
dalam pemanfaatan bangunan.
(3) Bahan bangunan yang dipergunakan harus memenuhi syarat-syarat teknis sesuai
dengan fungsinya seperti yang di persyaratkan dalam standard Nasional Indonesia (SNI) tentang spesifikasi bahan bangunan yang berlaku.
(4) Penggunaan bahan bangunan yang mengandung racun atau bahan kimia yang
berbahaya, harus mendapat rekomendasi dari instansi terkait dan dilaksanakan oleh ahlinya.
(5) Pengecualian dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat rekomendasi dari Bupati atau pejabat yang ditunjuk.
Bagian Keempat Persyaratan Utilitas
Paragraf 1 Jaringan Air Bersih
Pasal 30
(1) Jenis, mutu, sifat bahan, dan peralatan instalasi air bersih harus memenuhi standar dan ketentuan teknis yang berlaku.
(2) Pemilihan sistim dan penempatan instalasi air minum harus disesuaikan dan aman terhadap sistim lingkungan, bangunan-bangunan lain, bagian-bagian lain dari bangunan dan instalasi-instalasi lain sehingga tidak saling membahayakan, menggangu dan merugikan serta memudahkan pengamatan dan pemeliharaan.
(3) Pengadaan sumber air minum diambil dari PDAM atau sumber lain yang dibenarkan secara resmi oleh yang berwenang.
Paragraf 2 Jaringan Air Hujan
Pasal 31
(1) Pada dasarnya air hujan harus dibuang atau dialihkan kesaluran umum kota.
(2) Jika hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memungkinkan, berhubung
belum tersedianya saluran umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima oleh yang berwenang, maka pembuangan air hujan harus dilakukan melalui proses peresapan ataupun cara-cara lain yang ditentukan oleh Dinas.
(3) Saluran Air Hujan:
a. Dalam tiap-tiap pekarangan harus dibuat saluran pembuangan air hujan.
b.Saluran dimaksud harus mempunyai ukuran cukup besar dan kemiringan
yang cukup untuk dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik.
c. Air hujan yang jatuh di atas atap harus segera disalurkan ke saluran di atas
permukaan tanah dengan pipa atau saluran pasangan terbuka.
d.Saluran harus dibuat sesuai dengan Ketentuan Perundang-undangan.
Paragraf 3 Jaringan air kotor
Pasal 32
(1) Semua air kotor yang asalnya dari dapur, Kamar mandi, wc, dan tempat cuci, pembuangan harus melalui pipa-pipa tertutup dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
(2) Pembuangan air kotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diolah melalui proses penyaringan sebelum dialirkan ke saluran umum.
(3) Jika hal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak memungkinkan, berhubung belum tersedianya saluran umum ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima oleh yang berwenang, maka pembuangan air hujan harus dilakukan melalui proses peresapan ataupun cara-cara lain yang ditentukan oleh Dinas.
(4) Letak sumur-sumur peresapan berjarak minimal 10 (sepuluh) meter dari sumber air minum atau air bersih terdekat dan/atau tidak berada dibagian atas kemiringan tanah terhadap letak sumber air minum atau bersih, sepanjang tidak ada ketentuan lain yang disyaratkan atau diakibatkan oleh suatu kondisi tanah.
Paragraf 4
Tempat Pembuangan Sampah Pasal 33
(1) Setiap pembuangan baru dan/atau perluasan suatu bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat kediaman diharuskan memperlengkapi dengan tempat atau kotak atau lubang pembuangan sampah yang ditempatkan dan dibuat sedemikian rupa sehingga kesehatan umum terjamin.
(2) Dalam hal di daerah lingkungan perkotaan yang tersedia kotak-kotak sampah induk, maka sampah dapat ditampung untuk diangkut oleh petugas.
(3) Dalam hal jauh dari kotak sampah induk maka sampah-sampah dapat dibakar dengan cara-cara yang aman atau dengan cara lainnya.
Bagian Kelima
Persyaratan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pasal 34
(1) Setiap bangunan harus memiliki prasarana dan sarana bangunan yanag mencukupi agar dapat terselenggaranya fungsi bangunan yang telah di tetapkan.
(2) Setiap bangunan umum harus memiliki kelengkapan prasarana dan sarana bangunan yang memadai,seperti:
a. sarana pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran . b. tempat parkir .
c. sarana transportasi vertikal . d. sarana tata udara .
e. fasilitas penyandang cacat . f. sarana penyelamatan.
Pasal 35
(1) Setiap bangunan harus memiliki cara, sarana dan alat/perlengkapan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran yang bersumber dari listrik, gas, api, dan sejenisnya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam: a. Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000, tentang
Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
b. Standar Nasional Indonesia (SNI).
c. Ketentuan atau Standar lain yang berlaku .
(2) Setiap Bangunan umum harus dilengkapi petunjuk secara jelas tentang: a. Cara pencegahan dari bahaya kebakaran .
b. Cara penanggulangan bahaya kebakaran. c. Cara penyelematan dari bahaya kebakaran. d. Cara pendeteksian sumber kebakaran.
e. Tanda-tanda penunjuk arah jalan keluar yang jelas.
Bagian Keenam
Persyaratan Kenyamanan dan Kesehatan Dalam Bangunan Pasal 36
(1) Setiap bangunan yang dibangun harus mempertimbangkan faktor kenyamanan dan kesehatan bagi pengguna / penghuni yang berada di dalam dan disekitar bangunan .
(2) Dalam merencanakan bangunan harus memperhatikan :
a. Sirkulasi udara di dalam bangunan, dan setiap ruang harus mendapatkan udara segar yang cukup;
b. Jumlah sinar/penerangan yang cukup sesuai dengan fungsi ruangnya; c. Tingkat kebisingan yang dapat di terima .
BAB VI
PERIZINAN DAN PENGAWASAN BANGUNAN
Bagian Pertama
Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Paragraf 1
Arah Perencanaan Pasal 37
Sebelum mengajukan permohonan IMB, pemohon harus meminta keterangan tentang arahan perencanaan Kepada Dinas tentang rencana-rencana mendirikan
bangunan yang terdiri atas :
a. Jenis / Peruntukan Bangunan;
b. Luas lantai bangunan yang diIzinkan;
c. Jumlah lantai / lapis bangunan di atas / di bawah permukaan tanah yang diizinkan;
d. Garis Sempadan yang berlaku; e. KDB, KLB, dan KDH yang diIzinkan; f. Persyaratan-persyaratan bangunan;
g. Persyaratan Perencanaan, Pelaksanaan, dan Pengawasan Bangunan; h. Hal-hal yang dipandang perlu;
Paragraf 2
Perencanaan Bangunan Pasal 38
(1) Perencanaan bangunan rumah tinggal satu lantai dengan luas kurang dari 50 M² dapat dilakukan oleh orang yang ahli atau berpengalaman dengan tingkat pendidikan serendah-rendahnya SLTA.
(2) Perencanaan bangunan sampai dengan dua lantai dapat dilakukan oleh orang yang ahli dengan tingkat pendidikan serendah-rendahnya D3 (Sarjana Muda Teknik Arsitek)
(3) Perencanaan bangunan lebih dari dua lantai atau bangunan umum atau bangunan spesifik harus dilakukan oleh Badan Hukum yang telah mendapat kualifikasi sesuai bidangnya.
(4) Perencana bertanggung jawab bahwa bangunan yang direncanakannya telah memenuhi persyaratan teknis dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Ketentuan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak berlaku bagi perencanaan:
a. Bangunan yang sifatnya sementara dengan syarat bahwa luas dan tingginya tidak bertentangan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Dinas.
b. Pekerjaan pemeliharaan / perbaikan bangunan, yaitu :
1. Memperbaiki bangunan dengan tidak mengubah konstruksi dan luas lantai bangunan;
2. Pekerjaan memplester, memperbaiki petak bangunan dan lapis lantai bangunan;
3. Memperbaiki penutup atap tanpa mengubah konstruksinya; 4. Memperbaiki lobang cahaya / udara tidak melebihi dari 1 M²; 5. Membuat pemisah halaman tanpa konstruksi;
Pasal 39 Perencanaan bangunan terdiri atas :
a. Perencanaan Arsitektur; b. Perencanaan Konstruksi; c. Perencanaan Utilitas.
Paragraf 3
Tata Cara Mengajukan
Permohonan Izin Mendirikan Bangunan (PIMB) Pasal 40
(1) PIMB harus diajukan sendiri secara tertulis oleh Pemohon kepada Bupati atau Dinas yang berwenang.
(2) Lembar isian PIMB tersebut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dengan Surat keputusan Bupati .
(3) PIMB harus dilampiri dengan :
a. Foto Copy Bukti Pemilikan Tanah; b. Foto Copy KTP;
c. Foto Copy Bukti Pembayaran PBB; d.. Satu Set Gambar Bangunan;
e. Perhitungan Struktur Untuk Bangunan Bertingkat;
f. Persetujuan atau Izin pemilik tanah untuk bangunan yang didirikan di atas tanah yang bukan miliknya;
g. Untuk badan usaha yang bermohon harus melampirkan Bukti Tanda Lunas Pajak (Fiskal).
Pasal 41
(1) Dinas mengadakan penelitian PIMB yang diajukan sesuai dengan syarat-syarat
administrasi bangunan gedung dan tehnis menurut ketentuan dari peraturan yang berlaku.
(2) Dinas memberikan tanda terima PIMB apabila semua persyaratan administrasi
telah terpenuhi .
(3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja setelah permohonan diterima
sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dinas menetapkan besarnya retribusi yang wajib dibayarkan berdasarkan ketentuan yang berlaku, atau menolak PIMB yang diajukan karena tidak memenuhi persyaratan tehnis.
(4) Pemohon membayar retribusi berdasarkan penetapan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) untuk PIMB yang memenuhi persyaratan teknik .
(5) Setelah pemohon melunasi retribusi yang telah ditetapkan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4). Dinas memberikan Izin sementara untuk melaksanakan pembangunan fisik .
(6) Untuk PIMB yang ditolak, harus diperbaiki mengikuti ketentuan yang berlaku atau petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Dinas, kemudian untuk diajukan kembali.
(7) Besarnya Retribusi akan diatur dalam Peraturan Daerah.
Paragraf 4
Keputusan Izin Mendirikan Bangunan Pasal 42
(1) Izin Mendirikan Bangunan diberikan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkannya Izin Sementara .
(2) Izin Mendirikan Bangunan ditanda tangani oleh Bupati atau Dinas yang berwenang yang ditunjuk olehnya .
(3) Izin Mendirikan Bangunan hanya berlaku kepada nama yang tercantum dalam surat permohonan Izin Mendirikan Bangunan .
(4) Pemohon yang selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Izin Mendirikan Bangunan belum memulai pelaksanaan pekerjaannya maka Surat Izin Mendirikan Bangunan batal dengan sendirinya.
(5) Perubahan nama pada Surat Izin Mendirikan bangunan dikenakan bea balik nama sesuai dengan ketentuan yang berlaku .
(6) Izin Mendirikan Bangunan dapat bersifat sementara kalau dipandang perlu oleh Bupati dan diberikan jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun .
Pasal 43
Permohonan Izin Mendirikan Bangunan (PIMB) ditolak apabila :
a. Bangunan yang akan didirikan dinilai tidak memenuhi persyaratan teknik bangunan;
b. Tidak memenuhi persyaratan/ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 38 Peraturan Daerah ini tidak terpenuhi;
c. Bangunan yang akan didirikan diatas lokasi/tanah yang penggunaannya tidak sesuai dengan rencana Kota yang sudah diterapkan dalam Rencana Umum Tata Ruang Wilayah;
d. Bangunan mengganggu atau memperburuk lingkungan sekitarnya;
e. Bangunan akan mengganggu lalu lintas, aliran air (air hujan), cahaya atau bangunan-bangunan yang telah ada;
f. sifat bangunan tidak sesuai dengan sekitarnya;
g. Tanah bangunan untuk kesehatan tidak mengIzinkan;
h. Rencana bangunan tersebut menyebabkan terganggunya jalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah;
j. Apabila pada lokasi tersebut sudah ada rencana pemerintah;
k. Apabila bertentangan dengan undang-undang, Peraturan Daerah Propinsi atau peraturan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 44
Izin mendirikan bangunan tidak diperlakukan dalam hal:
a. Membuat lubang-lubang Ventilasi, penerangan dan sebagainya yang luasnya tidak lebih dari 1 m² dengan sisi terpanjang mendatar tidak lebih dari 2 (dua) meter;
b. Membongkar bangunan yang menurut pertimbangan Dinas yang berwenang tidak membahayakan;
c. Pemeliharaan/perbaikan bangunan dengan tidak merubah denah, konstruksi maupun arsitektur dari bangunan semula;
d. Mendirikan bangunan yang tidak permanen untuk memelihara binatang jinak atau taman-taman, dengan persyaratan :
1. Di tempatkan di halaman belakang;
2. Luas tidak melebihi 10 (sepuluh) m² dan tingginya tidak melebihi 1½ meter.
e. Membuat kolam hias, taman dan patung-patung, tiang bendera di halaman pekarangan rumah;
f. Membongkar bangunan yang termasuk dalam kelas tidak permanent;
g. Mendirikan bangunan sementara yang pendiriannya telah memperoleh Izin dari Bupati untuk paling lama 1 (satu) bulan;
h. Mendirikan perlengkapan bangunan yang pendiriannya telah diperoleh Izin selama mendirikan suatu bangunan.
Pasal 45
Dilarang mendirikan, merubah dan merobohkan bangunan apabila :
a. Tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan, Izin Merubah Bangunan dan Izin Merobohkan Bangunan;
b. Menyimpang dari ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat lebih lanjut dari Izin mendirikan, merubah dan merobohkan bangunan;
c. Menyimpang dari rencana pembangunan yang menjadi dasar pemberian Izin Mendirikan, Merubah dan Merobohkan bangunan;
d. Menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah ini;
e. Mendirikan bangunan, Merubah bangunan dan Merobohkan bangunan di atas tanah orang lain tanpa Izin pemiliknya atau kuasanya yang sah.
Pasal 46
(1) Bupati dapat mencabut Surat Mendirikan, Merubah dan Merobohkan Bangunan, apabila:
a. Dalam waktu 6 (enam) bulan setelah tanggal Izin di berikan pemegang Izin masih belum melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh dan meyakinkan;
b. Pekerjaan-pekerjaan itu terhenti selama 3 (tiga) bulan dan ternyata tidak akan dilanjutkan;
c. Izin yang telah diberikan, kemudian ternyata di dasarkan pada keterangan-keterangan yang keliru;
d. Pembangunan itu kemudian ternyata menyimpang dari rencana dan syarat-syarat yang di sahkan.
(2) Pencabutan Izin Mendirikan, Merubah dan Merobohkan Bangunan diberikan dalam bentuk Surat Keputusan Bupati kepada pemegang Izin di sertai dengan alasan-alasannya.
(3) Sebelum keputusan sebagaiman dimaksud pada ayat (2) dikeluarkan, pemegang Izin terlebih dahulu diberitahu dan diberi peringatan secara tertulis dan kepadanya diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan-keberatannya.
Pasal 47
(1) Pemohon Izin Mendirikan Bangunan wajib memberitahukan secara tertulis kepada Dinas tentang :
a. Saat akan dimulainya pekerjaan mendirikan bangunan tersebut sebagaimana yang tercantum dalam Izin Mendirikan Bangunan, sekurang-kurangnya 24 jam sebelum pekerjaan dimulai;
b. Saat akan dimulainya bagian-bagian pekerjaan mendirikan bangunan, sepanjang hal itu dipersyaratkan dalam IMB, sekurang-kurangnya 24 jam sebelum bagian itu selesai di kerjakan.
(2) Pekerjaan mendirikan bangunan dalam IMB baru dapat mulai di kerjakan setelah Dinas menetapkan garis sempadan pagar, garis sempadan bangunan, serta ketinggian permukaan tanah pekarangan tempat bangunan akan didirikan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan dalam IMB .
(3) Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah diterima pemberitahuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), Dinas tidak melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka pemohon dapat memulai pekerjaannya .
(4) Pekerjaan mendirikan bangunan harus dilaksanakan sesuai dengan rencana yang diajukan dan ditetapkan dalam IMB.
Pasal 48
(1) Selama pekerjaan mendirikan bangunan dilaksanakan, pemohon IMB dapat diwajibkan untuk menutup lokasi tempat mendirikan bangunan dengan pagar pengaman yang mengelilingi dengan pintu rapat .
(2) Bilamana terdapat sarana kota yang mengganggu atau terkena rencana pembangunan, maka pelaksanaan pemindahan / pengamanan harus di kerjakan oleh pihak berwenang, atas biaya pemilik IMB.
Pasal 49
(1) Pelaksana pekerjaan mendirikan bangunan sampai dua lantai dapat dilakukan oleh pelaksana perorangan yang ahli atau berpengalaman dengan tingkat pendidikan serendah-rendahnya SLTA.
(2) Pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan dengan luas lebih dari 500 M² atau bertingkat lebih dari dua lantai atau bangunan spesifik harus dilakukan oleh pelaksana yang berbadan hukum yang memiliki kualifikasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Paragraf 5
Pengawasan Pelaksanaan Pekerjaan Pasal 50
(1) Pengawasan Pelaksanaan Pekerjaan dapat dilakukan oleh Pengawas yang sudah mendapat Izin .
(2) Selama pekerjaan mendirikan bangunan dilakukan, pemohon IMB diwajibkan agar menempatkan salinan gambar IMB beserta lampirannya di lokasi pekerjaan untuk kepentingan pemeriksaan oleh petugas.
(3) Petugas Dinas berwenang untuk :
a. Memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan setiap saat pada jam kerja;
b. Memeriksa apakah bahan bangunan yang digunakan sesuai dengan Persyaratan Umum Bahan Bangunan (PUBB) dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS);
c. Memerintahkan menyingkirkan bahan bangunan yang tidak memenuhi syarat, demikian pula alat-alat yang dianggap berbahaya serta merugikan keselamatan/kesehatan umum;
d. Memerintahkan membongkar atau menghentikan segera pekerjaan mendirikan bangunan, sebagian atau seluruhnya untuk sementara waktu, apabila :
1. Pelaksanaan mendirikan bangunan menyiimpang dari Izin yang telah diberikan atau syarat-syarat yang telah di tetapkan;
2. Peringatan tertulis dari Dinas tidak dipenuhi dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
Paragraf 6
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pasal 51
(1) Pelaksanaan mendirikan bangunan harus mengikuti ketentuan-ketentuan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja yang berlaku .
(2) Pemegang Izin mendirikan bangunan diwajibkan untuk selalu berusaha menyediakan air bersih yang memenuhi kesehatan lingkungan tempat pekerjaan di tempatkan sedemikian rupa sehingga mudah dicapai oleh para pekerja yang membutuhkannya .
(3) Pemegang Izin mendirikan bangunan diwajibkan selalu berupaya menyediakan perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan lengkap dan banyaknya sesuai dengan jumlah orang yang dipekerjakan, ditempatkan sedemikian rupa di dalam lingkungan pekerjaan sehingga mudah dicapai bila diperlukan
(4) Pemegang Izin mendirikan bangunan diwajibkan sedikit-dikitnya menyediakan satu MCK (Mandi Cuci Kakus) sementara, bila mempekerjakan sampai dengan 20 orang pekerja, untuk 10 orang berikutnya setiap kelipatan disediakan tambahan masing-masing 1 (satu) MCK lagi .
Bagian Kedua
Izin Perubahan bangunan (IPB) Paragraf 1
Izin Perubahan Bangunan (IPB) Pasal 52
Apabila terjadi perubahan bangunan sesuai yang telah ditetapkan dalam IMB, pemilik IMB di wajibkan mengajukan permohonan yang baru kepada Bupati.
Paragraf 2
Tata Cara Pengajuan IPB Pasal 53
(1) Permohonan Izin Perubahan Bangunan (PIPB) diajukan secara tertulis kepada Bupati oleh perorangan, badan / lembaga melalui Dinas dengan mengisi formulir yang disediakan.
(2) Formulir isian PIPB sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Paragraf 3 Penerbitan IPB
Pasal 54
(1) Dinas melakukan Penelitian atas PIPB yang diajukan mengenai syarat-syarat
administrasi, teknik dan lingkungan menurut peraturan yang berlaku pada saat PIPB diajukan.
(2) Dinas memberikan tanda terima PIPB apabila persyaratan administrasi telah
terpenuhi.
(3) Dinas memberikan Izin apabila bangunan yang diajukan IPBnya telah memenuhi
persyaratan tehnis dan lingkungan.
(4) Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah diterbitkannya Izin
sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3), Dinas menetapkan besarnya retribusi yang wajib dibayar oleh pemohon sesuai dengan peraturan yang berlaku .
(5) Berdasarkan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pemohon wajib
membayar retribusi .
(6) Dalam jangka waktu paling lama 30(tiga puluh) hari kerja setelah retribusi di
lunasi, Bupati mengeluarkan Izin Perubahan Bangunan untuk bangunan yang bersangkutan kepada pemohon IPB.
(7) Besarnya Retribusi akan diatur dalam Peraturan Daerah.
Paragraf 4 Pengawasan IPB
Pasal 55
(1) Dalam rangka pengawasan perubahan bangunan, petugas dinas dapat meminta kepada pemilik bangunan untuk memperlihatkan IPB beserta lampirannya.
(2) Dinas dapat menghentikan pekerjaan mengubah bangunan apabila perubahannya tidak sesuai dengan IPB.
(3) Dalam hal terjadi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka setelah diberikan peringatan tertulis serta apabila dalam waktu yang ditetapkan penghuni tetap tidak memenuhi ketentuan seperti yang ditetapkan dalam IPB, Bupati akan mencabut IPB yang telah diterbitkan.
Bagian Ketiga
Izin Merobohkan Bangunan (IHB) Paragraf 1
Petunjuk Merobohkan Bangunan Pasal 56
(1) Bupati dapat memerintahkan kepada pemilik untuk merobohkan bangunan yang dinyatakan :
a. Rapuh .
b. Membahayakan keselamatan umum.
c. Tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan lain yang berlaku. (2) Pemilik bangunan dapat mengajukan permohonan untuk merobohkan
bangunannya.
(3) Sebelum mengajukan permohonan Izin merobohkan bangunan pemohon harus terlebih dahulu meminta petunjuk tentang rencana merobohkan bangunan kepada Dinas yang meliputi .
a. Tujuan atau alasan merobohkan bangunan. b. Persyaratan merobohkan bangunan.
c. Cara merobohkan bangunan. d. Hal-hal lain yang dianggap perlu.
Paragraf 2
Perencanaan Merobohkan Bangunan Pasal 57
(1) Rencana merobohkan bangunan dibuat oleh perencana bangunan. (2) Pengecualian ayat (1) tidak berlaku bagi :
a. Bangunan sederhana. b. Bangunan tidak bertingkat.
(3) Perencanaan merobohkan bangunan meliputi . a. Sistem merobohkan bangunan
b. Pengendalian pelaksanaan merobohkan bangunan.
Paragraf 3
Tata Cara Mengajukan
Permohonan Izin Merobohkan Bangunan (PIHB) Pasal 58
(1) PIHB harus diajukan sendiri secara tertulis kepada Bupati oleh perorangan atau badan / lembaga dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Dinas. (2) Formulir isian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan
Bupati
Paragraf 4 Penerbitan IHB
Pasal 59
(1) Dinas mengadakan penelitian atas PIHB yang diajukan mengenai syarat-syarat administrasi, teknik dan lingkungan menurut peraturan yang berlaku pada saat PIHB diajukan.
(2) Dinas memberikan tanda terima PIHB apabila persyaratan administrasi telah terpenuhi.
(3) Dinas memberikan rekomendasi aman atas rencana merobohkan bangunan apabila perencanaan merobohkan bangunan yang diajukan IHBnya telah memenuhi persyaratan keamanan teknis dan keselamatan lingkungan.
(4) Dalam waktu lima hari kerja setelah diterbitkannya rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Dinas menetapkan besarnya retribusi yang wajib dibayar oleh pemohon sesuai dengan peraturan yang berlaku
(5) Berdasarkan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pemohon wajib membayar retribusi.
(6) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah retribusi dilunasi, Bupati mengeluarkan Izin merobohkan bangunan untuk bangunan yang bersangkutan kepada pemohon IHB.
(7) Besarnya Retribusi akan diatur dalam Peraturan Daerah.
Paragraf 5
Pelaksanaan Merobohkan Bangunan Pasal 60
(1) Pekerjaan merobohkan bangunan baru dapat dimulai sekurang-kurangnya 5 (lima) hari kerja setelah IHB diterima .
(2) Pekerjaan merobohkan bangunan dilaksanakan berdasarkan tata cara dan rencana yang di sahkan dalam IHB .
paragraf 6
Pegawasan Pelaksanan Merobohkan Bangunan Pasal 61
(1) Selama pekerjaan merobohkan bangunan dilaksanakan, pemilik IHB harus menempatkan salinan IHB beserta lampirannya di lokasi pekerjaan untuk kepentingan pemeriksaan petugas
(2) Petugas berwenang :
a. Memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan pekerjaan merobohkan bangunan .
b. Memeriksa apakah perlengkapan dan peralatan yang digunakan untuk merobohkan bangunan atau bagian-bagian bangunan yang dirobohkan sesuai dengan persyaratan yang disahkan dalam IHB;
c. Melarang perlengkapan, peralatan dan cara yang digunakan untuk merobohkan bangunan yang berbahaya bagi pekerja, masyarakat sekitar dan lingkungan, serta memerintahkan mentaati cara-cara yang telah disahkan dalam IHB.
BAB VII
SANKSI ADMINISTRASI PASAL 62
Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi, dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam pasal 7, pasal 9, pasal 12, pasal 13, pasal 14, pasal 15, pasal 20, pasal 21, pasal 51 dan pasal 52 dikenai sanksi administrasi dan/atau sanksi pidana.
PASAL 63
(1) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 dapat berupa : a. Peringatan Tertulis;
b. Pembatasan kegiatan pembangunan;
c. Penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan;
d. Penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan bangunan gedung; e. Pembekuan izin mendirikan bangunan;
f. Pencabutan izin mendirikan bangunan;
g. Pembekuan sertifikat layak fungsi bangunan gedung; h. Pencabutan sertifikat layak fungsi bangunan gedung; atau i. Perintah pembongkaran bangunan gedung.
(2) Selain pengenaan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikenakan sanksi denda paling banyak 10% dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun.
BAB VIII PENYIDIKAN
PASAL 64
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana terhadap Pelanggaran Peraturan Daerah ini, sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana.
(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenan dengan tindak pidana pelanggaran Perturan Daerah ini agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas.;
b. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana;
c. Memintah keterangans dan bahan bukti dari orang pribadi atau adan sehubungan dengan tindak pidanas;
d. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen –dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan buktii tersebut;
e. Memintah bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidakan tindak pidana;
f. Menyuruh berhenti dan/atau, melarang sesorang meninggalkan ruangan atau tempatt pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana yang di maksud pada huruf c;
g. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana; h. Memanggil seseorang yang berkaitan dengan tindak ptdana; i. Menghentikan penyidikan;
j. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan;
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melaui Penyidik Pejabat Polisi negara Republik Indonesia , sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
BAB IX
KETENTUAN PIDANA PASAL 64
(1) Setiap pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung yang tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan Daerah ini, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak 10% dari nilai bangunan jika mengakibatkan kerugian harta benda orang lain.
(2) Setiap pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan atau denda paling banyak 15% dari nilai bangunan gedung jika mengakibatkan cacat seumur hidup.
(3) Setiap pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan atau denda paling banyak 20% dari nilai bangunan gedung jika mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.
(4) Dalam proses peradilan atas tindakan pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) hakim memperhatikan pertimbangan dari tim ahli bangunan gedung.
(5) Pelaksanaan pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.
BAB X
KETENTUAN PERALIHAN Pasal 65
(1) Bangunan yang telah memperoleh Izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah sebelum ditetapkannya Peraturan Daerah ini dinyatakan masih tetap berlaku. (2) Bagi bangunan yang telah ada sebelum Peraturan Daerah ini berlaku yang
belum memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan dalam tempo 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal Perundangan Peraturan Daerah ini diwajibkan untuk memiliki Izin Mendirikan Bangunan. Penyesuaian bangunan tersebut dengan syarat-syarat tercantum dalam Peraturan Daerah ini diberikan tenggang waktu 2 (dua) tahun .
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP Pasal 66
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Parigi Moutong.
Ditetapkan di Parigi
Pada tanggal 25 Juli 2005
Diundangkan di Parigi Pada tanggal 25 Juli 2005
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG
Drs. TASWIN BORMAN, M.Si Pembina Utama Muda
NIP. 010 081 665
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 4 TAHUN 2005
TENTANG
BANGUNAN GEDUNG
I. UMUM
Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Oleh karena itu penyelenggaraan bangunan gedung perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, andal, berjati diri, serta seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya.
Bangunan gedung merupakan salah satu wujud fisik pemanfaatan ruang. Oleh karena itu dalam pengaturan bangunan gedung tetap mengacu pada pengaturan tata ruang. Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hokum dalam penyelenggaraan bangunan gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administrasi dan tehnis bangunan gedung, serta harus diselenggarakan secara tertib.
Keseluruhan maksud dan tujuan pengaturan bangunan gedung dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan dan keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya bagi kepentingan masyarakat yang berperikemanusiaan dan keadilan.
Dengan diberlakukannya semua penyelenggaraan bangunan gedung baik pembangunan maupun pemanfaatan, yang dilakukan di wilayah Kabupaten Parigi Moutong yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, masyarakat serta oleh pihak asing, wajib mematuhi seluruh ketentuan yang tercantum dalam Peraturan daerah ini. Pengaturan dalam Peraturan Daerah ini juga memberikan ketentuan pertimbangan kondisi social, ekonomi dan budaya masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah terus mendorong, memberdayakan dan meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk dapat memenuhi ketentuan dalam peraturan daerah ini secara bertahap sehingga jaminan keamanan, keselamatan dan kesehatan masyarakat dalam menyelenggarakan bangunan gedung dan lingkungannya dapat dinikmati oleh semua pihak secara adil dan dijiwai dengan pelaksanaan tata pemerintahan yang baik.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Cukup Jelas Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Cukup Jelas Pasal 6 huruf a angka 1
Bangunan Rumah Tinggal sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan yang peruntukannya untuk ditinggali secara tetap. angka 2
Bangunan Pelayanan Umum sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan gedung dengan fungsi utama untuk bangunan pendidikan, bangunan pelayanan kesehatan, bangunan peribadatan dan bangunan kebudayaan.
angka 3
Bangunan Perdagangan dan Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan gedung dengan fungsi utama untuk bangunan pertokoan, pusat perbelanjaan, mal, dan pasar.
angka 4
Bangunan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai industri kecil, industri sedang dan industri besar/berat.
angka 5
Bangunan Pergudangan sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai tempat penyimpanan.
angka 6
Bangunan Perkantoran sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan gedung dengan fungsi utama untuk tujuan-tujuan usaha profesional baik itu perkantoran pemerintah maupun swasta.
angka 7
Bangunan Transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah Bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai terminal, stasiun bis, stasiun kereta api, halte bus, bandar udara, dan pelabuhan laut. angka 8
Bangunan Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah meliputi bangunan gedung dengan tingkat kerahasian tinggi atau tingkat resiko bahaya tinggi seperti bangunan kemiliteran.
angka 9 Cukup Jelas Huruf b Cukup Jelas Huruf c Angka 1
Kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotan, pemusatan dan distribusi jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan ekonomi.
Angka 2
awasan pedesaan sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan ekonomi.
Angka 3
Kawasan khusus/tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan.
Huruf d Angka 1
Bangunan di tepi jalan arteri adalah jalan yang melayani angkutan umum dengan cirri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi.
Angka 2
Bangunan tepi jalan kolektor adalah jalan yang melayani angkutan pengumpulan / pembagian dengan cirri-ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah masuk dibatasi.
Angka 3
Bangunan tepi jalan antar lingkungan (lokal) adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jauh dekat kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalam masuk tidak di batasi. Angka 4
Cukup jelas Angka 5
Bangunan tepi jalan desa adalah jalan yang memiliki lebar badan jalan kurang dari 7 meter samapi dengan 3 meter
Angka 6
Bangunan tepi jalan setapak adalah jalan yang memiliki lebar badan jalan kurang dari 2 meter
Huruf e Cukup Jelas Huruf f Cukup Jelas Huruf g Cukup Jelas Pasal 7 Cukup Jelas Pasal 8 Cukup Jelas Pasal 9 Cukup Jelas Pasal 10 Cukup Jelas Pasal 11 Cukup Jelas Pasal 12 Cukup Jelas Pasal 13 Cukup Jelas Pasal 14 Cukup Jelas
Pasal 15 ayat (1) Cukup Jelas ayat (2) Cukup Jelas ayat (3) Cukup Jelas ayat (4)
Untuk bangunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah bangunan-bangunan pada kompleks pertokoan dan/atau pergudangan. Pasal 16 Cukup Jelas Pasal 17 Cukup Jelas Pasal 18 Cukup Jelas Pasal 19 Cukup Jelas Pasal 20 Cukup Jelas Pasal 21 Cukup Jelas Pasal 22 Cukup Jelas Pasal 23 Cukup Jelas Pasal 24 Cukup Jelas Pasal 25 Cukup Jelas Pasal 26 Cukup Jelas Pasal 27 Cukup Jelas Pasal 28 Cukup Jelas Pasal 29 Cukup Jelas
Pasal 30 Cukup Jelas Pasal 31 Cukup Jelas Pasal 32 Cukup Jelas Pasal 33 Cukup Jelas Pasal 34 ayat (1) Cukup Jelas ayat (2) huruf a Cukup Jelas huruf b Cukup Jelas huruf c
Untuk transportasi vertical sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah tangga, baik tangga manual maupun escalator atau lift.
huruf d Cukup Jelas huruf e Cukup Jelas huruf f Cukup Jelas Pasal 35 Cukup Jelas Pasal 36 Cukup Jelas Pasal 37 Cukup Jelas Pasal 38 ayat (1)
Orang ahli atau berpengalaman dengan tingkat pendidikan serendah-rendahnya SLTA sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah STM jurusan Bangunan Gedung.
ayat (2)
Orang ahli atau berpengalaman sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah D3 Jurusan Arsitek.
ayat (3) Cukup Jelas ayat (4) Cukup Jelas ayat (5) Cukup Jelas Pasal 39 huruf a Cukup Jelas huruf b Cukup Jelas huruf c
Utilitas sebagaimana dimaksud pada pasal ini adalah sarana penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya.
Pasal 40 ayat (1) Cukup Jelas ayat (2) Cukup Jelas ayat (3) huruf a
Bukti Pemilikan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah sertifikat atau akte tanah.
huruf b Cukup Jelas huruf c Cukup Jelas huruf d Cukup Jelas huruf e Cukup Jelas huruf f
Persetujuan atau Izin pemilik tanah sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah pernyataan dengan menandatangani pernyataan persetujuan tetangga.
huruf g
Pasal 41 Cukup Jelas Pasal 42 ayat (1) Cukup Jelas ayat (2) Cukup Jelas ayat (3) Cukup Jelas ayat (4) Cukup Jelas ayat (5) Cukup Jelas ayat (6)
Izin bangunan dapat bersifat sementara sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah pemberian Izin berupa Surat Keterangan IMB.
Pasal 43 Cukup Jelas Pasal 44 Cukup Jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Cukup Jelas Pasal 47 Cukup Jelas Pasal 48 Cukup Jelas Pasal 49 Cukup Jelas Pasal 50 Cukup Jelas Pasal 51 Cukup Jelas Pasal 52
Perubahan Bangunan yang dimaksud pada pasal ini adalah: 1. Perubahan Fungsi Bangunan,