PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI POLI KLINIK PENTAKIT DALAM RSD.BALUNG
JEMBER
Dewi krisdianawati¹, Awatiful Azza², Zuhrotul Eka Yulis³. ¹Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UNMUH Jember,
²Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UNMUH Jember, [email protected] ³Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UNMUH Jember, [email protected]
ABSTRACT
Introduce: Compliance is the number where the behavior of patients in accordance with the provisions given by health professionals. Adherence means taking medication exactly in accordance with the rules, that is the correct medication, at the right time, the right way. One way to improve compliance is the provision of education.
Method: This study uses a pre-experimental research design with pre post desaign approach aims to determine the effect of education with medication adherence in hypertensive patients dipoliklinik disease in RSD Balung Jember. The population in this study were patients with hypertension who came to the clinic Balung RSD disease in Jember. Total sample of 30 respondents. Sampling techniques in this study is quota sampling. This research used Wilcoxon test.
Result: The results showed that after a given educational respondents said there Effect of Education with medication adherence in hypertensive patients using (α = 0.05) obtained ρ value of 0.000. The conclusion of this research shows that there is the effect of education with medication adherence.
Discuss: Discussion of this study are expected in future studies may examine the provision of education on medication adherence in hypertensive patients at another clinic involving family members who live at home.
Keywords: Education; Medication adherence; hypertension
PENDAHULUAN
Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi telah membunuh 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang membesar. Pada 2025 mendatang, diproyeksikan sekitar 29% warga dunia
terkena hipertensi. Persentasi penderita hipertensi saat ini paling banyak di negara berkembang. Sedang di negara maju hanya 35%. Dikawasan asia tenggara 36% persen orang dewasa menderita hipertensi. Hipertensi merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini. Kebanyakan orang merasa sehat dan
energik walaupun hipertensi. Keadaan ini sangat berbahaya, yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada masyarakat (Balitbangkes, 2007). Seseorang dikatakan Hipertensi Ringan jika sistolik 140-159mmHg dan tekanan diastoliknya 90-99mmHg. Hipertensi Sedang jika sistolik 160-179mmHg dan diastoliknya 100-109mmHg. Hipertensi Berat jika sistolik 180-209 mmHg dan diastoliknya 110-119 mmHg. Apabila sistoliknya <210 mmHg dan diastolik >120 mmHg dinamakan Hipertensi Maligna.
Masalah terbesar dalam menghadapi penderita hipertensi adalah kepatuhan. Kepatuhan pasien mengikuti nasihat yang diberikan oleh dokter dan tidak melupakan minum obat sesuai dengan instruksi dokter.
Edukasi tentang bahaya penyakit hipertensi dan deteksi dini sangat diperlukan guna meminimalisir tingkat kematian dan kerusakan organ serta cacat total penderita hipertensi. mengetahui dan mengenal lebih jauh akan penyakit hipertensi (Arieska, 2014).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Pra Experimental. Desain yang digunakan adalah one group pre test post test design yaitu dengan menggunakan satu kelompok saja tanpa kelompok kontrol.
Penelitian bertempat di poliklinik penyakit dalam RSD Balung Jaember pada bulan september-desember 2014. Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang kontrol di poliklinik penyakit dalam RSD Balung Jember. Sampel diambil dengan tehnik quota sampling, kriteria inklusinya Pasien yang menjalani terapi hipertensi minimal dua kali sebelum dilakukan penelitian, Bersedia sebagai respoden, Berusia 30-70 tahun. HASIL PENELITIAN
Berikut akan disajikan hasil penelitian pengaruh pemberian edukasi terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSD Balung Jember.
A. Data Umum
a. Distribusis Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel 5.1 hasil distribusi frekuensi jenis kelamin didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamn laki-laki yaitu sebanyak 18 responden (60%).
No Jenis Kelamin Jumlah %
1 Laki-laki 18 60%
2 Wanita 12 40%
b. Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia No Usia Jumlah % 1 30-40 2 6,7% 2 41-50 7 23,3% 3 51-60 10 33,3% 4 61-70 11 36,7% Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah Dari tabel 5.2 Jumlah tertinggi usia 61-70 tahun sebanyak 36,7%.
c. Distribusi Responden Berdasarkan Suku Bangsa
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Suku Bangsa No Suku Bangsa Jumlah %
1 Jawa 23 76,7%
2 Madura 7 23,3%
Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah
Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan sebagian besar responden bersuku bangsa jawa, yaitu 76,7%.
d. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan
Terakhir No Pendidikan Terakhir Jumlah % 1 SD 6 20% 2 SMP 7 23,3% 3 SMA 11 36,7% 4 PT 6 20% Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah
Pada tabel 5.4 Jumlah terbanyak berpendidikan SMA yaitu 36,7%. e. Distribusi Responden Berdasarkan
Pekerjaan
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan No Pekerjaan Jumlah % 1 PNS 7 23,4% 2 Petani 8 26,7% 3 Pedagang 4 13,3% 4 IRT 4 13,3% 5 Swasta 2 6,7% 6 Pensiunan 5 16,7% Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah Berdasarkan tabel 5.5 Menunjukkan bahwa jumlah terbanyak responden bekerja sebagai petani yaitu 26,7%. f. Distribusi Responden Berdasarkan
Pendapatan
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendapatan No Pendapatan Jumlah % 1 <UMR (<1.271.000) 6 20% 2 =UMR (1.271.000) 4 13,3% 3 >UMR (>1.271.000) 20 66,7% Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah Berdasarkan tabel 5.6 sebagian besar responden berpendapatan > UMR yaitu 66,7%
g. Distribusi Responden Berdasarkan Tinggal Serumah Dengan
Tabel 5.7 Distribusi Responden Frekuensi Berdasarkan Tinggal No Tinggal serumah
dengan
Jumlah %
2 Anak 6 20%
Total 30 100%
Sumber: data primer yang telah diolah Berdasarkan tabel 5.7 mayoritas responden tinggal serumah dengan suami/istri 80%.
h. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Tabel 5.8 Distribusi Responden Frekuensi Berdasarkan Status
Pernikahan No Status Pernikahan Jumlah % 1 Menikah 24 80% 2 Tidak menikah 0 0% 3 Janda 4 13,3% 4 Duda 2 6,7% Total 30 100% Sumber: Data primer yang telah diolah
Menurut tabel 5.8 didapatkan hasil mayoritas responden berstatus menikah yaitu 80%.
i. Distribusi Responden Berdasarkan Pengobatan Pernah Dilakukan
Tabel 5.9 Distribusi Responden Frekuensi Berdasarkan Pengobatan
yang Pernah Dilakukan No Pengobatan yang pernah dijalani Jumlah % 1 Pengobatan sendiri 4 13,3% 2 Alternatif 4 13,3% 3 Petugas Kesehatan 9 30,0% 4 Puskesmas 5 16,7% 5 RS 8 26,7% Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah
Menurut tabel 5.9 Jumlah tertinggi pengobatan yang pernal dijalani yaitu
berobat ke petugas kesehatan sebanyak 30%.
j. Distribusi Responden Berdasarkan Penyuluhan yg Pernah Diikuti
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penyuluhan
yang Pernah Diikuti No Penyuluhan yg diikuti Jumlah % 1 Pernah 21 70% 2 Tidak Pernah 9 30% Total 30 100%
Sumber: Data primer yang telah diolah Berdasarkan tabel 5.10 didapatkan sebagian besar responden pernah mengikuti penyuluhan yaitu 70%. B. Data Khusus
a. Identifikasi Kepatuhan Minum Obat sebelum dilakukan edukasi pada Pasien Hipertensi dipoliklinik penyakit dalam RSD Balung Jember Tabel 5.11 Identifikasi Kepatuhan
Minum Obat pada Pasien Hipertensi sebelum diberikan
edukasi Kepatuhan Minum Obat SebelumEdukasi Jumlah % Patuh 12 40% kurang patuh 7 23,3% tidak patuh 11 36,7% Total 30 100% Sumber: Data primer yang telah diolah
Berdasarkan tabel 5.11 Didapatkan hasil kepatuhan dan ketidak patuhan responden hampir sama yaitu patuh 40% dan tidak patuh 36,7%.
b. Identifikasi Kepatuhan pada Pasien Hipertensi Setelah diberikan Edukasi Tabel 5.12 Identifikasi Kepatuhan
pada Pasien Hipertensi Setelah diberikan Edukasi Kepatuhan Minum Obat Setelah Edukasi Jumlah % Patuh 20 66,7% kurang patuh 8 26,7% tidak patuh 2 6,7% Total 30 100% Sumber: Data primer yang telah diolah
Berdasarkan Tabel 5.12 Mengalami peningkatan kepatuhan yaitu sebesar 66,7%.
c. Analisis terhadap pengaruh edukasi dan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Hipertensi
Tabel 5.13 Analisis terhadap pengaruh edukasi dan Kepatuhan
Minum Obat pada Pasien hipertensi Kepatuhan Sebelum Edukasi Setelah Edukasi Jmlh % Jmlh % Patuh 12 40% 20 66,7% Kurang- patuh 7 23,3% 8 26,7% tidak patuh 11 36,7% 2 6,7% Total 30 100% 30 100% Sumber: Data primer yang telah diolah
Berdasarkan tabel 5.13 Menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian edukasi terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi sebagian besar mengalami peningkatan, yaitu sebelum edukasi patuh 40% setelah edukasi menjadi 66,7%, sedangkan
responden tidak patuh sebelum edukasi 36,7% setelah edukasi 6,7%.
d. Analisa Hasil
Hasil analisa kepatuhan responden terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi dipoliklinik RSD Balung sebagai berikut:
Tabel 5.13 Pengaruh Pemberian Edukasi terhadap Kepatuhan Minum Obat pada Pasien
Hipertensi variabel Mean Z Hitung P value Kepatuhan seteleh Edukasi Negativ e ranks 8,00 Kepatuhan sebelum Edukasi Positif ranks 0,00 -3,690 0,000 Ties 0 Total 30
Sumber: Data primer yang telah diolah
Hasil uji analisis statistik nonparametrik dengan menggunakan uji wilcoxon menunjukkan bahwa nilai p = 0,00 dengan taraf signifikan 0,05. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Ha diterima. P = 0,00 < 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edukasi memiliki pengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSD Balung Jember.
PEMBAHASAN
1. Identifikasi Kepatuhan pasien hipertensi sebelum diberikan edukasi
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar tingkat kepatuhan responden sebelum diberikan edukasi adalah kurang patuh. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.11 bahwa pada responden patuh dan tidak patuh hampir sama yaitu patuh 40%, dan tidak patuh sebanyak 36,7%.
Menurut Niven (2002), Kepatuhan adalah sejumlah mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan. Kepatuhan berarti memakai obat persis sesuai dengan aturan, yaitu obat yang benar, pada waktu yang benar, dengan cara yang benar.
Faktor - faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien hipertensi dalam mengonsumsi obat adalah: Faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi dampak pendidikan dan kesehatan, hubungan antara pasien dengan petugas kesehatan serta dukungan dari lingkungan sosial dan keluarga. Faktor internal: Faktor internal meliputi usia, gaya
hidup, sikap dan emosi yang disebabkan oleh lama penyakit yang diderita, dan kepribadian pasien. Faktor eksternal dari kepatuhan yaitu dampak pendidikan. yang mana pendidikan yang dimaksud disini yaitu pendidikan kesehatan atau edukasi yang diberikan pada pasien sesuai dengan penyakitnya.
Faktor yang tidak dapat dikontrol terdiri dari jenis kelamin, dimana menurut pendapat Jaya (2009), laki-laki dianggap lebih rentan mengalami hipertensi dibandingkan perempuan. Hal ini dikarenakan gaya hidup yang lebih buruk dan tingkat stres yang lebih besar pada laki-laki dibanding perempuan. Faktor selanjutnya adalah usia pasien, dimana usia 45 tahun hingga 59 tahun dianggap mengalami kecenderungan hipertensi karena pada usia middle age merupakan usia dimana kondisi tubuh mulai menurun dan rentang mengalami penyakit kronis (Santrock, 2002).
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian pada tabel 5.1 distribusi responden berdasarkan jenis kelamin didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 60% dan wanita
40%. Serta pada tabel 5.2 distribusi responden berdasarkan usia didapatkan responden terbanyak berusia diatas 50 tahun yaitu 70%. Keberhasilan pengobatan pada pasien hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu di antaranya adalah kepatuhan dalam mengonsumsi obat, sehingga pasien hipertensi dapat mengendalikan tekanan darah dalam batas normal. Tetapi 50% dari pasien hipertensi tidak mematuhi anjuran petugas kesehatan untuk mengonsumsi obat, yang menyebabkan banyak pasien hipertensi yang tidak dapat mengendalikan tekanan darah dan berujung pada kematian pasien, meskipun para pasien telah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan tabel 5.10 distribusi frekuensi responden berdasarkan penyuluhan yang pernah diikuti sebelumnya sebagian besar pernah mendapatkan penyuluhan sebelumnya yaitu 70%. Meskipun sudah pernah mendapatkan edukasi atau penyuluhan pasien masih sering tidak patuh dalam meminum obat hal ini berkaitan dengan usia. Semakin bertambah umur, semakin matang seseorang. Sehingga dapat
dikatakan umur dapat mempengaruhi pengetahuan dan perilaku seseorang. Induvidu lanjut usia mangalami kemunduran fungsi kognitif akibat proses menua yang diperkirakan mulai diatas usia 60 tahun. Selain itu kemampuan menerima suara menurun. Pada usia 40 tahun titik dekat penglihatan dapat terlihat dengan jelas sudah hampir sampai 23 cm. Hal tersebut diatas akan mempengaruhi proses belajar pada individu lansia (Robbins, 2001) 2. Identifikasi Kepatuhan minum
obat pada pasien hipertensi setelah diberikan edukasi
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kepatuhan sebagian besar responden setelah diberikan edukasi mengalami peningkatan yaitu patuh
sebanyak 66,7%, kurang patuh sebayak 26,7% dan responden yang tidak patuh mengalami penurunan yaitu sebanyak 6,7%. Pernyataan ini dapat dilihat pada tabel 5.12 Distribusi Frekuensi Responden Setelah diberikan Edukasi pada Pasien Hipertensi dipoliklinik Penyakit Dalam RSD Balung Jember Desember 2014.
Menurut Notoatmodjo (2003) tujuan edukasi adalah menjadikan
kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat, menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat, mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada.
Untuk memperoleh hasil yang efektif dalam penelitian ini peneliti memberikian edukasi pada individu lanjut usia dengan menggunakan alat bantu edukasi yang menarik.
Faktor alat bantu dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan materi edukasi. Didalam menerima sesuatu yang baru, manusia mempunyai kecenderungan untuk lupa terhadap pengertian yang diterima (Notoadmodjo, 2005). Salah satu media yang sering digunakan dalam eduksi adalah penggunaan bukku panduan/ booklet. Media booklet biasanya dikombinasi dengan metode ceramah, karena media ini dapat dibaca dan dipelajari oleh peserta didik setelah pulang kerumah. Sejauh yang peneliti ketahui masih belum ada metode yang efektif digunakan untuk pemberian edukasi terhadap usia lanjut atau lansia.
3. Analisa pengaruh pemberian edukasi terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi sebelum dan setelah diberikan edukasi
Hasil uji analisis wilcoxon menunjukkan bahwa nilai p = 0,00 dengan taraf signifikan 0,05. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Ha diterima. P = 0,00 < 0,05 menunjukkan bahwa pemberian edukasi memiliki pengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSD Balung Jember.
Tujuan dari pendidikan adalah membentuk dan meningkatkan cipta atau pengetahuan, rasa atau emosi, dan karsa atau perilaku. Hasil pendidikan kesehatan juga dapat dilihat dari 3 domain yang meliputi perubahan pengetahuan dan perilaku.
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu (Notoadmodjo, 2005). Panca indra yang mempunyai peran besar dalam memperoleh pengetahuan adalah mata dan telinga, terutama dalam proses pendidikan, pengalaman diri sendiri, maupun pengalaman orang
lain, media masa bahkan lingkungan.
Sikap merupakan suatu pernyataan evaluatif yang dibuat manusia terhadap diri sendiri., orang lain, objek atau isu-isu. (Notoadmodjo, 2005).
Sedangkan tindakan adalah sesuatu yang belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk mewujudkan untuk menjadi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung. Terbentuknya perilaku baru (terutama pada orang dewasa) dimulai dari perubahan pengetahuan yang berlanjut terjadinya perubahan dan akhirnya terbentuk perilaku baru. ( Notoadmodjo, 2003).
Hal itulah yang membuat Ha diterima yang artinya menujukkan bahwa pemberian edukasi memiliki pengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi.
Hal tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya. Dalam penelitian Alfrina Hany (2012) yang berjudul hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di poli jantung RSSA Malang didapatkan hasil sebanyak 60,2% termasuk kepatuhan menengah dan 33,7% kepatuhan rendah. Keluarga dan tenaga kesehatan harus bekerja
sama agar pasien hipertensi patuh minum obat agar tekanan darah pasien hipertensi terkontrol
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan yaitu:
1. Tingkat kepatuhan sebelum diberikan edukasi dikatakan kurang patuh. Dapat diketahui perbedaan responden yang patuh dan tidak patuh berimbang, yaitu patuh sebesar 40%, kurang patuh 23,3%, dan tidak patuh sebesar 36,7%. 2. Tingkat kepatuhan setelah diberikan
edukasi kepatuhan responden meningkat, yaitu responden patuh dari 40% menjadi 66,7% dan tidak patuh dari 36,7% menjadi 6,7% 3. Ada pengaruh pemberian edukasi
terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di poliklinik RSD Balung Jember.
SARAN
Saran penelitian ini ditujukan bagi: 1. Tenaga Kesehatan
Mengoptimalkan peran sebagai pendidik dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya edukasi bagi kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi.
2. Masyarakat
Mengikuti penyuluhan kesehatan tentang penyakit hipertensi, cara penanganan, pengobatan, dampak yang dapat ditimbulkan
3. Institusi Pelayanan Kesehatan Menyelenggarakan program pemberian edukasi tentang perawatan hipertensi dan konseling ini dapat dilakukan ninimal 1 bulan sekali pada saat pasien kontrol. 4. Penelitian selanjutnya
Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut, dengan instrumen yang telah dimodifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Bruner, Sudrath. (2002). Keperawatan Medikal Bedah, Jakrta Edisi 8,vol 3 EGC Balitbangkes Depkes RI. (2007). Laporan
Hasil Kesehatan Dasar (Riskesdas) , Jakarta: Indonesia Tahun 2007 Depkes RI. (2007). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: EGC.
Depkes RI. (2010). Hasil Riskerdas RI Tahun 2010, Jakarta
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. (2010). Profil Kesehatan Propinsi Jawa
Timur.(online).http://dinkes.jatimpr ov.gp.id.diakses tanggal 16 juli 2014
Morisky DE, Ang A, Krousel-Wood M, Ward H. (2008). Predictive validity of a medication adherence measure
for hypertension control. J Clin Hypertens.
Niven, N. (2008). Psikologi kesehatan: pengantar untuk perawat dan professional kesehatan lain. Jakarta: EGC
Notoatmojo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan, , Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Notoadmodjo, Soekidjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatn. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan metodelogi Penelitian Ilmu Keperwatan : Pedoman skripsi, Tesis dan Intrumen Keperawatan. (Edisi 2). Jakarta : Salemba Medika. Purwanto, M.N. (2000). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis edisi Kedua. Bandung : PT Remaja Rosda Karya. Riskesdas. (2007). Hindari Hipertensi,http://hipertensi/index.ph p.htm, diakses tanggal 6 juli 2014 Suliha, U. (2002). Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC WHO. (2010). Global Status Report on
Noncommunicable Dieses 2010.
http://www.who.int/nmh/publication s/net_report_chapter1.pdf
Yogantoro, Mohammad. (2006). Hipertensi Esensial. Dalam Sudoyo, Aru W, Setitohadi, Bambang, Alwi, Idrus, Simadibrata K., Marcellus, Setiati, Siti (Ed 1). (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (Ed. Ke-4). Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.