ANALISIS STRATEGI MITIGASI RISIKO
PADA SUPPLY CHAIN PT. PAL INDONESIA (PERSERO)
Ari Fendi1 dan Evi Yuliawati2
1,2)
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya Jl. Arief Rahman Hakim No. 100, Sukolilo, Surabaya Email : [email protected]
;
[email protected]ABSTRAK
Dunia kita selalu dipenuhi oleh ketidakpastian dan hal yang tidak terduga. Ketika bencana terjadi dimungkinkan berdampak timbulnya gangguan dalam skala besar. Bila suatu bencana besar terjadi, sektor bisnis juga akan ikut menerima akibatnya. Oleh karenanya, dibutuhkan supply chain yang robust terhadap berbagai gangguan agar dapat bertahan. Supply chain PT. PAL Indonesia (Persero) memiliki jaringan yang cukup kompleks, sehingga akan semakin banyak risiko yang menyertainya. Beranjak dari latar belakang tersebut penelitian ini dilakukan untuk memberikan masukan sehubungan dengan strategi yang digunakan PT. PAL Indonesia (Persero) untuk menangani dan mitigasi (pengurangan) risiko yang terjadi dalam supply chainnya. Penyelesaian penelitian ini terbagi dalam 2 fase House of Risk. Tahapan pada fase pertama diawali dari identifikasi kejadian risiko dan fase kedua House of Risk yaitu fase penanganan risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 41 kejadian risiko dan 29 agen risiko, yang berpotensi terjadi pada supply chain perusahaan manufaktur pembuatan kapal PT. PAL Indonesia (Persero). Dari hasil tersebut kemudian terpilih 3 agen risiko sebagai penyebab terjadinya risiko berdasarkan diagram Pareto 80/20 yang memerlukan penanganan lebih lanjut oleh pihak manajemen. Strategi mitigasi risiko yang digunakan untuk menangani ketiga agen risiko tersebut adalah strategy proactive supply, yaitu berupa strategy stock, coordination dan multiple route.
Kata kunci: strategi mitigasi risiko, supply chain, Risk Priority Index (RPI)
PENDAHULUAN
Tantangan terbesar dalam proses produksi saat ini adalah mengelola dan mengurangi
risiko yang melekat dalam setiap situasi bisnis. Proses supply chain dalam industri pembuatan
kapal pada PT. PAL Indonesia (Persero) melibatkan jaringan supply chain kompleks.
Kompleksitas supply chain menghadapkan PT. PAL Indonesia (Persero) dengan berbagai risiko
yang bisa menyebabkan gagalnya tujuan (goal) yang hendak dicapai, seperti pembatalan kontrak
dengan pelanggan yang disebabkan oleh molornya serah terima kapal, dan lain-lain.
Pada penelitian ini akan dilakukan identifikasi kejadian risiko yang berpotensi timbul
pada suatu supply chain PT. PAL Indonesia (Persero). Pengukuran tingkat likelihood dan
consequence serta pemetaan dalam risk map dan perhitungan nilai Risk Priority Index merupakan
langkah-langkah yang dilakukan untuk mengetahui kejadian risiko mana yang akan dipilih dan
diperlukan adanya corrective action dengan memberikan korelasi antara kejadian risiko dan agen
risiko sehingga terpilihlah agen risiko yang kemudian akan dilakukan penanganan dengan
strategy proactive supply yang diharapkan dapat memitigasi kejadian risiko yang timbul. Adapun
permasalahan yang dihadapi adalah ”Bagaimana cara untuk memitigasi risiko pada supply chain
di PT. PAL Indonesia (Persero)?”.
Dalam penelitian ini ada beberapa tujuan sebagai berikut adalah :
1. Mengidentifikasi kejadian risiko supply chain perusahaan manufaktur pembuatan kapal seperti
PT. PAL Indonesia (Persero).
2. Menentukan kejadian risiko dan agen risiko yang terpilih, untuk dilakukan corrective action.
3. Merencanakan strategi untuk menangani dan memitigasi risiko dalam supply chain.
METODE
Penelitian ini terbagi dalam 2 fase dalam House of Risk. Fase pertama diawali dari
identifikasi sampai penentuan kejadian risiko yang akan di hitung nilai Risk Priority Index (RPI).
Pengukuran tingkat likelihood dan consequence serta pemetaan dalam risk map dan melakukan
perangkingan dari hasil perhitungan nilai RPI. Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk
mengetahui kejadian risiko mana yang akan dipilih. Diperlukan adanya corrective action sehingga
terpilihlah agen risiko. Fase kedua adalah fase penanganan risiko yaitu perancangan strategi
mitigasi risiko dengan menggunakan strategy proactive supply.
PEMBAHASAN
Identifikasi kejadian risiko yang diidentifikasi dari pemetaan aktivitas supply chain
perusahaan. Identifikasi kejadian risiko dikumpulkan dari interview, brainstorming, personal
Identifikasi masalah
Studi Pustaka
Penetapan Tujuan penelitian
Studi Lapangan
Identifikasi Kejadian Risiko Pemetaan aktivitas Supply
Chain Perusahaan
Tahap Persiapan
Evaluasi Risiko - Memetakan risiko dalam risk map - Menentukan rangking kejadian risiko - Identifikasi agen risiko
- Identifikasi korelasi antara kejadian risiko dengan agen risiko - Menentukan agen risiko terpilih
Kesimpulan dan Saran Pengukuran Kejadian Risiko 1. Penyebaran kuisioner
- Menentukan likelihood - Menentukan consequence 2. Perhitungan nilai Risk Priority Index
Perancangan Strategi Mitigasi
- Pemetaan kejadian risiko berdasarkan agen risiko terpilih - Penentuan strategi mitigasi
- Deskripsi strategi mitigasi
Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
Tahap Analisis Data
report, dan event documentation. Nilai RPI didapatkan dari perkalian antara likelihood dan
consequence.
Tabel 1. Identifikasi Kejadian Risiko Berdasarkan Ranking RPI
Kode Kejadian Risiko (Risk Event) RPI (L) x (C) Ranking E37 Keterlambatan penerimaan barang dari supplier 25 1
E38 Supplier tidak dapat memenuhi order 25 1
E08 Keterlambatan dalam melakukan evaluasi penawaran 20 2
E10 Supplier tidak memenuhi kesepakatan dalam kontrak 20 2
E36 Material di gudang tidak dapat digunakan lagi
(rusak karena terlalu lama di simpan) 20 2
E41 Kualitas tidak sesuai dengan standar mutu 20 2
E04 Sering terjadi revisi dalam drawing (basic design) 16 3
E16 Terjadi overstock part assembly di gudang 16 3
E39 Barang datang tidak sesuai spesifikasi (kualitas) 16 3
E40 Barang datang tidak memenuhi kuantitas 16 3
E01 Fluktuasi harga pembuatan kapal 15 4
E35 Kuantitas dan kualitas SDM tidak terpenuhi 15 4
E11 Harga material yang akan di beli tidak valid (invalid) 12 5 E12 Keterlambatan penerbitan surat PO (Purchase Order) 12 5
E13 Ketergantungan pada pemasok tunggal 12 5
E14 Pengadaan barang atau jasa terlambat 12 5
E15 Terjadi shortage part assembly di gudang 12 5
E17 Perubahan mendadak dalam Master Schedule 12 5
E18 Molornya schedule / penjadwalan produksi 12 5
E32 Tidak tersedianya alat angkut / transportasi 12 5
E02 Tidak terpenuhinya kontrak 9 6
E05 Ketidaksingkronan gambar 9 6
E06 Keterbatasan jumlah designer 9 6
E07 Ketidaksesuaian pada material dan equipment yang dibutuhkan 9 6
E19 Pembengkakan jam orang 9 6
E20 Kerusakan mesin (trouble) 6 7
E21 Penumpukan elemen pada salah satu stasiun kerja 6 7 E29 Kesalahan di dalam penandaan material (Marking) 6 7
E30 Kesalahan di dalam penyambungan block 6 7
E03 Kesalahan persepsi kontrak 4 8
E22 Kelelahan pegawai 4 8
E24 Cacat produk 4 8
E25 Produk terkontaminasi (berkarat/korosi) 4 8
E31 Plat dan profil terjatuh dari ketinggian dan membahayakan keselamatan
pekerja 4 8
E33 Kelayakan alat angkut / transportasi 4 8
E34 Kehabisan stock consumable 3 9
E09 Proses negoisasi/pelelangan terhambat karena gangguan teknis 2 10
E23 Elemen produk berserakan 2 10
E26 Pemadaman listrik 2 10
E27 Kesalahan dalam set up mesin 2 10
E28 Kesalahan di dalam pembuatan mould loft 2 10
Kemudian dilakukan pemetaan risiko dengan menggunakan risk map seperti dilihat pada
tabel 2. Ada 4 area dalam risk map, yaitu area hijau menunjukkan tidak diperlukan tindakan
korektif, area kuning menunjukkan tindakan korektif perlu dipertimbangkan, area orange
menunjukkan bahwa tindakan korektif sangant dianjurkan, dan area merah menunjukkan tindakan
korektif harus dilakukan. Risiko yang akan ditindaklanjuti adalah risiko pada area oranye dan area
merah.
Tabel 2. Risk Map
CL 1 2 3 4 5
5 E01 E36 E41 E37 E38
4 E32 E16 E39 E40 E08 E10
E04
3
E20 E21 E29 E02 E05 E06 E11 E12 E13 E35
E30 E07 E19 E14 E15 E17
E18
2 E23 E26 E27 E03 E22 E24
E28 E25 E31 E33
1
E09 E34
Tabel 3. Hasil Identifikasi Agen Risiko
Kode Agen Risiko
A01 Kebutuhan material dalam jumlah banyak A02 Variasi barang yang besar
A03 Kelangkaan material
A04 Kelemahan dalam nota kesepakatan, tidak bisa klaim asuransi A05 Kesalahan pemilihan supplier
A06 Referensi harga material yang tidak akurat A07 Keterlambatan pengadaan barang A08 Permintaan yang mendadak
A09 Belum ada perancangan jangka panjang
A10 Evaluasi teknis lama dan perlu penyesuaian anggaran A11 Permintaan barang tidak menyebutkan spesifikasi yang jelas A12 Verifikasi permintaan barang kurang tepat
A13 Ketergantungan pada satu sumber pasokan (supplier) A14 Tidak mempunyai harga pembanding
A15 Usia barang / peralatan tua
A16 Faktor gangguan alam / bencana alam (banjir, badai / cuaca buruk) A17 Kebakaran
A18 Fluktuasi nilai tukar rupiah dengan dolar A19 Pemogokan tenaga kerja
A20 Supplier mengalami kebangkrutan
A21 Perubahan rencana produksi
A22 Pasokan listrik terhenti / listrik padam dari pemasok energi A23 Kesalahan prosedur
A24 Pencemaran lingkungan
A25 Kualitas barang dari supplier tidak sesuai dengan standar mutu A26 Banyaknya SDM kompeten yang keluar / pindah ke perusahaan lain A27 Alat angkut / transporter / crane rusak
A28 Kurangnya koordinasi antar bagian A29 Approval yang lama
Agen risiko merupakan faktor penyebab yang menyebabkan terjadinya risiko dengan
berbagai macam karakteristik yang melekat dalam setiap risiko yang ditimbulkannya. Setiap
kejadian risiko bisa ditimbulkan tidak hanya berasal dari satu faktor penyebab sehingga bisa
dikatakan lebih dari satu faktor penyebab dapat menimbulkan terjadinya beberapa risiko
tergantung dari kondisi yang ada. Berikut adalah hasil identifikasi agen risiko:
Tabel 4. Kriteria Penilaian Korelasi dalam Menentukan Bobot
Warna Bobot K e t e r a n g a n
9 Menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara agen risiko dan kejadian risiko 3 Menunjukkan adanya korelasi yang sedang antara agen risiko dan kejadian risiko 1 Menunjukkan adanya korelasi yang lemah antara agen risiko dan kejadian risiko
Tabel 5. Matriks House Of Risk Fase Identifikasi Risiko
Risk AgentRisk
Event RPI A01 A02 A03 A04 A05 A06 A07 A08 A09 A10 A11 A12 A13 A14 A15
E37 25 9 1 E38 25 9 E08 20 3 3 9 3 9 9 E10 20 1 3 9 1 9 E36 20 3 9 E41 20 3 E04 16 3 E16 16 3 1 E39 16 9 3 E40 16 1 1 3 E01 15 E35 15 E11 12 3 E12 12 3 E13 12 3 9 E14 12 9 E15 12 9 3 3 3 9 E17 12 1 3 3 E18 12 3 9 1 E32 12 1 3 Jumlah Korelasi 16 88 381 20 369 96 576 48 180 116 540 156 169 288 232 Ranking Agen Risiko 29 19 3 28 5 18 1 24 11 16 2 13 12 7 8
Dari gambar Gambar 2 diperoleh bahwa agen risiko terpilih yang akan dijadikan bahan
pertimbangan dalam menyusun rancangan strategi mitigasi dalam supply chain adalah sebagai
mana ditunjukkan pada Tabel 7.
Dalam mengidentifikasi korelasi antara setiap kejadian risiko dengan agen risiko.
Digunakan House of Risk yaitu membandingkan hubungan secara langsung antara kejadian risiko
dan agen risiko. Tabel 4. dibawah ini merupakan penilaian korelasi yang digunakan mengikuti
aturan sebagai berikut:
Tabel 5. Matriks House Of Risk Fase Identifikasi Risiko (lanjutan)
Risk AgentRisk
Event RPI A16 A17 A18 A19 A20 A21 A22 A23 A24 A25 A26 A27 A28 A29
E37 25 E38 25 1 1 1 3 E08 20 3 E10 20 1 1 E36 20 1 E41 20 9 1 9 E04 16 3 3 3 3 E16 16 9 E39 16 9 E40 16 E01 15 9 E35 15 1 9 E11 12 3 E12 12 E13 12 E14 12 E15 12 1 1 3 3 9 E17 12 E18 12 1 1 1 3 1 3 3 E32 12 9 Jumlah Korelasi 49 44 227 40 81 300 216 32 75 372 135 108 84 144 Ranking Agen Risiko 23 25 9 26 21 6 10 27 22 4 15 17 20 14
Nilai korelasi didapatkan dari perhitungan RPI dikalikan dengan bobot antara kejadian
dan agen risiko yang diberikan. Setelah nilai korelasi untuk masing-masing agen risiko diperoleh,
selanjutnya adalah menggambarkan hasil korelasi untuk setiap agen risiko tersebut dalam diagram
Pareto.
Prinsip Pareto dengan aturan 80/20 meggambarkan bahwa 80% kejadian risiko yang
muncul itu berasal dari 20% agen risiko yang menyebabkannya. Oleh karena itu melalui
penggambaran Diagram Pareto dibawah ini akan ditentukan agen risiko terpilih yang termasuk
dalam 20% penyebab utama munculnya kejadian risiko yang terjadi di PT. PAL Indonesia
(Persero).
Tabel 7. Agen Risiko Terpilih
Kode Agen Risiko Nilai Korelasi
A07 Keterlambatan pengadaan barang dari supplier 576 A11 Permintaan barang tidak menyebutkan spesifikasi yang jelas 540
Rencana strategi mitigasi yang bisa diimplementasikan untuk mereduksi dampak dari
agen risiko terpilih tersebut berfokus pada supply. Strategi mitigasi yang tergolong dalam
strategy proactive supply dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 8. Strategy Proactive Supply
Strategy Factor Strategy Mitigation
Strategy Proactive Supply
Strategy Stock Multiple Route Coordination Flexible Supply Base Sumber: Tang, 2001
Secara lebih jelas penentuan strategi mitigasi untuk masing-masing agen risiko terpilih
dapat dilihat pada Matriks House of Risk pada fase penanganan risiko berikut.
Tabel 9. Matriks House Of Risk Fase Penanganan Risiko
Strategy Proactive Supply S tr a te g y S to ck M u lt ip le R o u te C o o rd in a ti o nNo. Kode Agen Risiko
1 A07 Keterlambatan pengadaan barang dari supplier
2 A11 Permintaan barang tidak
menyebutkan spesifikasi yang jelas
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa rancangan strategi mitigasi yang bisa
diimplementasikan untuk mereduksi dampak dari agen risiko terpilih adalah sebagai berikut :
Tabel 10. Perancangan Strategi Mitigasi
No. Kode Agen Risiko Strategi Mitigasi
1 A07 Keterlambatan pengadaan barang dari supplier
Strategy Stock Coordination Multiple Route 2 A11 Permintaan barang tidak menyebutkan spesifikasi
yang jelas Coordination
Tabel 11. Deskripsi Strategi Mitigasi
No. Agen Risiko Strategi mitigasi Keterangan
1
Keterlambatan pengadaan barang dari supplier
Strategy stock
Dengan melakukan penambahan persediaan, perusahaan dapat mempertimbangkan untuk melaku-kan penyimpanan pada lokasi strategi tertentu seperti gudang / pusat distribusi dimana gudang tersebut berbagi penggunaannya dengan beberapa partner supply chain.
Coordination
Melakukan koordinasi dengan user dan supplier agar permintaan barang sesuai dengan rencana dan tepat waktu sehingga dapat diatur perancangan permintaan yang lebih baik.
Multiple route
Mencari dicari rute alternatif pengiriman material sehingga material dapat terkirim sesuai jadwal penerimaan yang telah ditentukan.
Misalnya melalui jalur alternatif, baik itu melalui jalur darat, laut dan udara.
Tabel 11. Deskripsi Strategi Mitigasi (lanjutan)
No. Agen Risiko Strategi mitigasi Keterangan
2
Permintaan barang tidak menyebutkan spesifikasi yang jelas
Coordination
Agar melakukan permintan yang lebih spesifik atau dengan membuat suatu standar spesifikasi umum. Menjalin komunikasi diantara kedua belah pihak dapat menjadikan hubungan kerja sama yang lebih harmonis.