BAB 6
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
6.1 Kesimpulan Penelitian Kesimpulan dari penelitian ini merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian berdasarkan hasil observasi, pemaparan, identifikasi, dan analisis seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya mengenai gang kampung sebagai obyek penelitian yang juga merupakan langkah penetuan strategi konsolidasi pada kawasan. 6.1.1 Tipologi Gang Kampung Sebagai Nilai KarakteristikBerikut hasil temuan konfigurasi gang kampung berdasarkan pola tipologi ruang pada kawasan penelitian :
1. Terdapat 6 ragam konfigurasi gang kampung berdasarkan pengelompokan pola jalan, pola massa dan fungsi gang kampung. a. Pola jalan linier dengan pola massa grid. b. Pola jalan linier dengan pola massa organik. c. Pola jalan angular dengan pola massa grid. d. Pola jalan angular dengan pola massa linier. e. Pola jalan angular dengan pola massa organik. f. Pola jalan organik dengan pola massa organik. 2. Lokasi persebaran ragam gang kampung : a. Kawasan Terban • Pola jalan linier dengan pola massa grid dikawasan ini terdapat pada jalan kampung sisi utara.
• Pola jalan angular dengan pola massa grid dikawasan ini terdapat pada jalan kampung sisi timur dan jalan rukunan .
• Pola jalan angular dengan pola massa organik terdapat pada jalan rukunan.
• Pola jalan organik dengan pola massa organik terdapat pada jalan inspeksi.
b. Kawasan Jogoyudan
• Pola jalan linier dengan pola massa grid dikawasan ini terdapat pada jalan kampung jalan rukunan rusunawa.
• Pola jalan linier dengan pola massa organik dikawasan ini terdapat pada jalan jalan kampung.
• Pola jalan angular dengan pola massa organik terdapat pada jalan inspeksi.
• Pola jalan organik dengan pola massa organik terdapat pada jalan rukunan sisi dalam permukiman.
c. Kawasan Macanan
• Pola jalan linier dengan pola massa grid dikawasan ini terdapat pada jalan kampung.
• Pola jalan angular dengan pola massa linier dikawasan ini terdapat pada jalan inspeksi.
• Pola jalan angular dengan pola massa organik terdapat pada jalan rukunan.
d. Kawasan Tegalpanggung
• Pola jalan angular dengan pola massa linier terdapat pada jalan kampung utama.
• Pola jalan angular dengan pola massa organik terdapat pada rukunan dan jalan inspeksi. 3. Konsep gang kampung sebagai ruang multifungsi pada kawasan meningkatkan nilai ruang kawasan penelitian. 6.1.2 Tipologi Gang Kampung Berdasarkan Nilai Integrasi (Keterhubungan) Berikut hasil temuan pola tipologi gang kampung berdasarkan nilai integrasi (keterhubungan) dan nilai visibilitas pada masing‐masing kawasan : 1. Kawasan Terban
Secara global, hasil temuan pola tipologi gang kampung berdasarkan nilai integrasi (keterhubungan) dan nilai visibilitas adalah sebagai berikut :
a. Gang kampung yang memiliki integrasi kuat adalah yang memiliki pola jalan linier atau angular (linier berliku) dengan pola massa grid atau linier. Butiran massanya sedang sampai besar.
b. Gang kampung yang memiliki integrasi sedang yang memiliki pola memiliki pola linier dan angular dengan pola massa grid, butiran massa kecil hingga sedang.
c. Sedangkan gang kampung yang memiliki integrasi lemah atau rendah adalah yang memiliki pola jalan organik, kondisi jalannya pendek, terputus, sempit dan berundak dengan butiran massa sedang hingga kecil.
6.1.3 Faktor Penentu Yang Mempengaruhi Nilai Keterhubungan (Integrasi)
Berikut hasil temuan faktor yang mempengaruhi nilai keterhubungan baik itu axial maupun visual:
1. Pola jalan
Pola jalan sempit dan berliku yang cenderung memiliki integrasi rendah. Sebaliknya, pola jalan linear cenderung memiliki integrasi tinggi. Baik secara sistem axial maupun visibilitas. Bentuk tipologi ruang jalan dan lebar mempengaruhi nilai integrasi baik secara aksial maupun visual. 2. Pola massa
Pola massa lebih berpengaruh pada visibilitas suatu ruang. Integrasi visual semakin sulit terbentuk pada kawasan dengan pola tatanan massa padat dan organik sehingga terjadi segregasi atau terpisah dari ruang lainnya.
3. Butiran massa
Butiran massa mempengaruhi nilai visibilitas atau keterlihatan ruang. Butiran massa yang besar dapat menjadi penghalang visual sedangkan massa kecil memudahkan akses suatu ruang. Sehingga perlunya pengelompokan atau pembagian zonasi permukiman.
6.1.4 Konsep Konsolidasi Kawasan Bantaran Sungai Berdasarkan Karakteristik Gang Kampung
Berdasarkan analisis konfigurasi gang kampung pada kawasan penelitian tepian sungai Code, dapat disimpulkan konsep konfigurasi gang kampung untuk meningkatkan dan menguatkan nilai ruang adalah sebagai berikut :
1. Terdapat jalur akses dari daratan menuju perairan (sungai) sehingga masyarakat lebih peka terhadap kelangsungan lingkungan sungai (ekologi).
Gambar 6.1 Ilustrasi Sistem Terasering Sebagai Akses Menuju Sungai
Sumber : Analisis 2015
2. Terdapat permukiman bertingkat atau rusunawa dengan sistem panggung pada area tepian sungai menggunakan prinsip gang kampung. Gambar 6.2 Ilustrasi Sistem Panggung Pada Bangunan Bertingkat di Area Bantaran Sungai Sumber : Analisis 2015 3. Adanya ruang dengan fungsi publik yang menjadi bagian konfigurasi. a. Pocket park Gambar 6.3 New Urban Pocket Park Sumber : www.sdcitybeat.com Gambar 6.4 Hunters Point Pocket Park Sumber : www.cmgsite.com
b. Decks
Konstruksi menyerupai dermaga yang dibuat diatas tepian air sehingga tidak menutupi permukaan air. Gambar 6.5 Ilustrasi Konsep Deck Sebagai Pemanfaatan Area Bantaran Sungai Sumber : Analisis 2015 c. Ruang publik dibawah rusunawa sebagai area komersil Gambar 6.6 Ilustrasi Area Publik Pada Lantai Dasar Bangunan Bertingkat Sumber : Analisis 2015 4. Ragam fungsi massa pelingkup sebagai pemicu kegiatan dan aktifitas. Gambar 6.7 Ilustrasi Ragam Fungsi Massa Pada Kampung Code Sumber : Analisis 2015
a. Zona luar yang berbatasan dengan luar kawasan. Zona ini memiliki tingkat pergerakan tinggi, dapat dikembangkan sebagai zona ekonomi lokal. b. Zona tengah yang menjadi pusat permukiman. Zona ini memiliki tingkat
pergerakan cenderung rendah.
c. Zona dalam yang berbatasan dengan sungai, menjadi barier sekaligus area aktifitas. Zona ini memiliki tingkat pergerakan sedang.
6.2 Rekomendasi
Rekomendasi dilakukan secara berkesinambungan, baik dalam sistem perkotaan hingga sistem kawasan. 6.2.1 Dasar Pertimbangan Hal‐hal yang menjadi pertimbangan dalam pemberian rekomendasi berupa arahan yaitu : 1. Arahan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil temuan penelitian.
2. Arahan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek mitigasi bencana permukiman kawasan bantaran Code.
3. Arahan dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi ruang jalan dan keterbatasan lahan.
6.2.2 Rekomendasi Umum ‐ Rekomendasi Sistem Perkotaan
1. Posisi bangunan terdekat sungai sekurang‐kurangnya 10 meter dari tepi sungai, sesuai dengan PP no.30 th 2011 tentang sempadan sungai. “…Sungai dengan kedalaman kurang atau sama dengan 3m adalah 10m” dengan memberikan fasilitas guna menampung kegiatan yang terjadi dalam permukiman.
Gambar 6.8 Ilustrasi Potongan Kawasan Dengan Sempadan Sungai 5‐15m Pada Kampung Code
2. Pemasangan batas antara garis sempadan sungai dengan kawasan permukiman berupa jalan inspeksi dan area vegetasi (RTH).
Gambar 6.9 Ilustrasi Ruang Terbuka Hijau Pada Kampung Code
Sumber : Analisis 2015
3. Pemanfaatan zona sungai dan tepiannya sebagai ruang publik dengan mempertimbangkan sistem keruangan, ekologi, dan ekonomi masyarakat. a. Dengan sistem “decks”. Gambar 6.10 Kondisi Eksisiting Area Tepian Sungai Sebagai Jalan Inspeksi Sumber : Survey 2013 Gambar 6.11 Ilustrasi “Decks” Sebagai Area Rekreasi Kampung Code Sumber : Analisis 2015
b 4. P m b. Membuk Gambar Gam Perbaikan ta mengikuti ka Gamb ka akses unt r 6.12 Kondisi E bar 6.13 Ilustra lud ramah li arakteristik su bar 6.14 Kondis Sumber : Surv uk turun ke Eksisting Area T Tertu Sumb asi Akses ke Sun Sumb ingkungan m ungai. si Talud Eksistin vey 2013 sungai. Tepian Sungai, K utup Talud Ting ber : Survey 201 ngai dan Peman er : Analisis 201 menggunakan ng Gamba www.eka Kurangnya Akse gi 13 nfaatannya seb 15 n konstruksi ar 6.15 Talud Ko Sumb oktariyantonugro es ke Sungai Ka bagai Area Publi ekologis hid onstruksi Hidro ber : oho.files.wordpre rena ik draulis ologis ess.com
Gambar 6.16 Ilustrasi Talud Ramah Lingkungan Kampung Code
Sumber : Analisis 2015
5. Mengintegrasikan ruang‐ruang kota dengan permukiman bantaran melalui sarana transportasi yang memadai. a. Tersedianya Jalur bis. b. Jalur kereta (monorel). Gambar 6.17 Konsep Transportasi Kawasan Code Sumber : Prayitno 2013
6.2.3 Rekomendasi Khusus (Guideline) ‐ Rekomendasi Sistem Kawasan
Berdasarkan pemaparan dan analisis pada bagian sebelumnya, pada bagian ini merupakan pemaparan rekomendasi terhadap langkah konsolidasi yang dilakukan pada kawasan penelitian.
1. Penataan kembali jaringan jalan kampung (gang kampung) pada ruang kawasan penelitian yang terpisah. Gambar 6.18 Letak Jalan Terpisah Yang Dihubungkan Dengan Jalan Terintegrasi Sumber : Analisis 2015 2. Penataan pola massa pada kawasan penelitian. Konsep terasering (berundak) diterapkan pada permukiman bantaran sungai. Gambar 6.19 Konsep Terasering Sebagai Pola Penataan Massa Kawasan Bantaran Sungai Sumber : Analisis 2015 3. Pengaturan zonasi sesuai dengan kondisi kawasan. a. Zona dengan kategori “baik”
Zona ini sebagai pembatas permukiman dengan zona luar kawasan. Sebagai zona transisi, ragam fungsi yang mengangkat ekonomi lokal sekaligus berfungsi sebagai pengarah dan ke area permukiman.
b. Zona dengan kategori “sedang”
Zona ini merupakan zona mix‐use, berada di bantaran sungai yang merupakan sempadan sungai. Konsep vertikal living dengan ragam fungsi massa yang memicu kegiatan dan aktifitas. Konsep bangunan panggung dan permanen sebagai bangunan tipikal tempat evakuasi sementara untuk daerah rawan bencana banjir. Gambar 6.22 Vertical Living Kampung Code Sumber : Analisis 2015 c. Zona dengan kategori “kurang” Zona ini merupakan zona hunian. Zona ini berada diantara zona baik dan zona sedang yang menjadi barrier. Konsep konsolidasi yang diterapkan pada zona adalah konsep “pocket park”, pengadaan street furniture yang mendukung aktifitas lokal. Gambar 6.20 Rethymno – Crete, Greece Sumber : www.architecturendesign.net Gambar 6.21 Ekonomi Lokal Kreatif Sumber : www. citizendaily.net
Gambar 6.23 Letak Pocket Park Kampung Code
Sumber : Analisis 2015
4. Pengembangan konsep tematik sesuai karakteristik pada setiap kawasan, sebagai berikut : a. Kawasan Terban sebagai kawasan kuliner. Gambar 6.24 Ilustrasi Potongan Kawasan Terban Sumber : Analisis 2015 b. Kawasan Jogoyudan sebagai kawasan rekreasi. Gambar 6.25 Ilustrasi Potongan Kawasan Jogoyudan Sumber : Analisis 2015
c. Kawasan Macanan sebagai kawasan komersil. Gambar 6.25 Ilustrasi Potongan Kawasan Macanan Sumber : Analisis 2015 d. Kawasan Tegalpanggung sebagai kawasan kreatif (handcraft). Gambar 6.25 Ilustrasi Potongan Kawasan Tegalpanggung Sumber : Analisis 2015