• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM DI MATA WARGA KOTA dan CITIZENSHIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUKUM DI MATA WARGA KOTA dan CITIZENSHIP"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM DI MATA WARGA KOTA dan CITIZENSHIP YANG

TAK TERWUJUD

Oleh : NELI TRIANA

(sebuah makalah untuk tugas Filsafat Ilmu

Pengetahuan dan Kajian Multidisiplin-KPP UI yang ditulis pada Desember

2016)

Selalu menarik, terlebih bagi kami sebagai mahasiswa Program Kajian

Pengembangan Perkotaan, untuk mengamati perilaku warga kota saat berada di jalan umum atau ruang publik di Jakarta. Dalam keseharian, mudah ditemukan orang yang melanggar lampu merah, tidak memakai helm, memotong jalan, dan berhenti tidak pada tempatnya. Saat terjadi kecelakaan akibat sama-sama

melanggar aturan, kedua belah pihak bisa saling bertikai tanpa pernah merasa salah. Itulah potret yang tampak di sebagian ruas jalan Jakarta yang bisa terjadi kapan pun. Meskipun rambu-rambu lengkap dan jelas terpasang, pelanggaran terus terjadi.

Untuk memahami betapa sering aturan dianggap angin lalu di ibu kota, selanjutnya akan dijabarkan kasus pelanggaran hukum. Dalam laporan jurnalistik di Harian Kompas, disebutkan bahwa melalui aplikasi Qlue yang

dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejak Januari hingga Oktober 2015 lalu, aplikasi ini diunduh 90.000 kali dengan laporan masyarakat berkisar 1.200-1.500 laporan per hari1.

Kepala Unit Pengelola Smart City DKI Jakarta Setiaji, kala itu menyebutkan, jumlah laporan melonjak ketimbang saat awal peluncuran aplikasi Qlue, yakni 40-50 laporan per hari. Laporan yang masuk, antara lain, terkait informasi atau temuan jalan rusak, lampu penerang jalan umum rusak, kemacetan lalu lintas, parkir liar, sampah, pedagang kaki lima, genangan, pengemis, dan pelanggaran lain. Masih dari berita yang sama, dilaporkan bahwa selain jumlah laporan, jumlah informasi yang ditayangkan portal smartcity.jakarta.go.id juga

bertambah. Menurut Setiaji, pada awal peluncuran, portal Smart City memuat lima jenis informasi. Kini, ada sekitar 200 jenis informasi dari 25 satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang bisa diakses masyarakat umum, termasuk laporan masyarakat melalui Qlue.

Saat mengakses aplikasi Qlue, Minggu 11 Desember 2016 pukul 23.44, laporan berbagai pelanggaran aturan di ruang publik tetap terjadi. Parkir kendaraan bermotor tidak pada tempatnya, pedagang kaki lima mengokupasi lahan hijau maupun trotoar, pemasangan spanduk dan baliho tidak pada tempatnya, perusakan rambu lalu lintas, dan banyak lagi. Setiap hari selama Oktober-November 2016, tercatat lebih dari 1.500 pelanggaran aturan di ruang publik dilaporkan lewat aplikasi Qlue. Pada Agustus-November 2016, Qlue mencatat ada 23.683 laporan kejadian parkir liar yang mengganggu arus lalu lintas. Di sebagian lokasi parkir liar, terpasang jelas rambu dilarang parkir.

1 Harian Kompas. “Laporkan Aparat lewat Aplikasi * Laporan Jadi Salah Satu Indikator Kinerja Aparatur”.

(2)

Banyaknya pelanggar aturan juga menjadi pekerjaan rumah yang tak juga beres bagi kepolisian. Sesuai laporan data Polda Metro Jaya seperti dilaporkan di

Kompas, akhir tahun 2015, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian (kala itu) mengatakan, Jakarta sebagai pertemuan berbagai budaya, agama, kepentingan politik, dan ekonomi itu memang menimbulkan berbagai kerawanan2. ”Jakarta adalah melting pot, tempat meleburnya berbagai budaya, agama, dan politik, dengan segala kepentingannya. Hal itu menjadikannya rawan sebagai arena konflik, termasuk yang bernuansa agama, politik, dan ekonomi, seperti perebutan lahan,” kata Tito saat memaparkan laporan akhir tahun 2015 di Polda Metro Jaya.

Menurut Tito, memang ada penurunan kasus kejahatan, termasuk pelanggaran hukum yang terjadi di ruang publik, sepanjang 2015 lalu. Akan tetapi, angka kejahatan itu sendiri tetap tinggi. Total kasus pada 2015 menurun ketimbang tahun sebelumnya dari 44.687 kasus menjadi 44.304 kasus atau 0,86 persen. Sayangnya, tingkat penyelesaian kasus (crime clearance) menurun dari 31.365 kasus pada 2014 menjadi 29.750 kasus pada 2015 atau turun 5,15 persen. Tingkat crime rate (risiko penduduk terkena tindak pidana) menurun dari 196 per 100.000 orang menjadi 195 orang per 100.000 orang. Tingkat crime clock

melambat selama 10 detik dari 12 menit 16 detik terjadi satu kejahatan menjadi 12 menit 26 detik terjadi satu kejahatan.

Dikutip dari laman NTMC POLRI, menurut Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, terjadi peningkatan pelanggaran lalu lintas sebesar 36,58 % pada periiode januari sampai September 2016 dibandingkan dengan januari hingga September 2015, di Jakarta3.

AKBP Budianto mengatakan, usia pelanggaran di bagi menjadi dua kategori, yaitu rentan umur 31 tahun – 40 tahun dan rentan umur 16 – 30 tahun. Pada pelanggaran lalu lintas banyak terjadi pada rentan umur 31 tahun – 40 tahun dengan peningkatan sebesar 61, 54 % dari tahun lalu, AKBP Budiyanto

mengatakan, peningkatan jumlah pelanggaran lalu lintas itu berjumlah 261.985 orang. Pelanggar pada Januari-September 2015 mencapai 716.166 orang. Sedangkan sejak Januari-September tahun ini mencapai 978.151 pelanggar lalu lintas.

Pemerintah selaku pembuat kebijakan telah memberikan penekanan berupa Undang -undang Lalu Lintas No. 22 Tahun 2009, serta Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu DKI Jakarta No. 8 Tahun 2007 tentang ketertiban umum. Berdasarkan data di atas, peraturan yang dibuat oleh pemerintah tidak mempunyai kekuatan untuk mencegah pelanggaran hukum dilakukan.

Berdasarkan fakta terjadinya pelanggaran aturan terus menerus dan begitu banyak jumlahnya, muncul pertanyaan, apakah warga ibu kota ini memang 2 Harian Kompas. “Ibu Kota Terbelit Kasus Klasik * Narkotika, Terorisme, Kejahatan Jalanan, dan Korupsi Menonjol pada 2015”. KOMPAS(Nasional) - Kamis, 31 Dec 2015 Halaman: 23

3 Rizal, Fahrul. Ini Presentase Pelanggar Lalu Lintas di Jakarta. 2016. Diakses dari

(3)

tergolong orang-orang yang tak beretika sehingga begitu mudah mengabaikan hukum? Bisakah etika sebagai salah satu cabang ilmu filsafat ikut andil dalam mencari solusi atas masalah etika warga ibu kota? Pertanyaan lebih lanjut, mengapa pelanggaran aturan di ruang publik terus terjadi di Jakarta? Saat hukum tak bergigi, apa yang terjadi pada kota ini?

Teori Etika (Emanuel Kant dikutip dari Bartens)

1. Etika dan Moralitas

Etika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-1 tahun 1 988, dibedakan menjadi tiga arti, yaitu 1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); 2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; dan 3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Dalam KBBI edisi ke-2 tahun 1991, etika justru diartikan sebagai ilmu yang memelajari etik. Sementara etik diartikan sebagaimana arti ke-2 dan ke-3 pengertian etika pada KBBI edisi ke 14. Berbicara tentang etika, salah satu pemikir yang sangat berpengaruh adalah Immanuel Kant. Dalam ruang lingkup filsafat etika, Kant termasuk pada filsafat etika aliran deontologi, yaitu suatu aliran filsafat yang menilai setiap perbuatan orang dan memandang bahwa kewajiban moral dapat diketahui dengan intuitif dengan tidak memperhatikan konsep yang baik. Pengikut Kant, Bertens

menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan kenyataan dalam masyarakat, ia lebih memilih menggunakan istilah etika dengan arti sesuai KBBI edisi pertama .

Bertens lalu merumuskan sendiri arti etika, yaitu 1) nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya; 2) kumpulan asas atau nilai moral yang dimaksud sebagai kode etik; dan 3) ilmu tentang yang baik atau buruk. Sedangkan moral, kata Bertens, berarti etis jika dipakai sebagai kata benda dan etika jika dipakai sebagai kata sifat. Dari sisi etika sebagai cabang ilmu filsafat, moralitas adalah ciri khas manusia.

2. Etika dalam Dunia Modern

Masih mengutip Bertens, memandang situasi etis dalam dunia modern, ada tiga ciri menonjol, yaitu 1) adanya pluralisme moral, dalam masyarakat-masyarakat yang berbeda sering terlihat nilai dan norma yang berbeda pula; 2) banyak masalah etis baru yang tidak terduga; dan 3) ada kepedulian etis yang universal. Sebagai contoh, A. Wylleman dalam bukunya De grondslag van de moraal, Tijdschrift voor Filosofie 28 (1996) halaman 626 seperti dikutip Bertens menjelaskan kondisi di Yunani kuno sekitar pertengahan abad ke-5 Masehi.

“Waktu itu kesadaran etis di sana mengalami krisis besar. Pola-pola moral yang tradisional tidak lagi memiliki dasar untuk berpijak, akibat

(4)

banyaknya perubahan sosial dan religius. Para Sofis tidak berhasil memberikan jawaban tepat untuk mengatasi krisis itu, tapi sebaliknya meruncungkan keadaan dengan subyektivisme dan relativisme mereka. Adalah Sokrates dan Plato yang menunjukkan jalan keluar dari kemelut moral itu. Mereka tetap berpegang pada normal-norma yang berlaku dalam polis (kota negara) yang tradisional di Yunani. Yang baru adalah bahwa mereka mengusahakan suatu pendasaran rasional bagi norma-norma itu5.”

Bertens juga menegaskan terdapat hubungan yang erat antara moral dan

hukum. Meskipun diakuinya moral dan hukum tidak sama. Terkadang ada hukum yang justru bertentangan dengan moral. Filsuf Jerman Immanuel Kant seperti dikutip Bertens, menyatakan hukum dan moral mengatur tingkah laku manusia, namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral juga menyakut sikap batin seseorang 6. Kant membedakan dua sikap yang dalam moralitas tradisional dan keagamaan sering tidak dibedakan, antara legalitas dan moralitas. Legalitas adalah kesesuaian kelakuan kita dengan norma-norma yang berlaku—tanpa memperhatikan motivasi. Misalnya orang tidak melakukan korupsi karena risiko terlalu besar.

Orang baru bertindak moral kalau ia bertindak demi hukum moral, jadi karena itu kewajiban dan tanggung jawabnya, karena ia peduli pada orang yang

memerlukan perhatiannya. Dengan demikian tindakan lahiriah tidak lagi cukup untuk menilai kualitas moral seseorang. Tidak melanggar norma-norma moral belum membuktikan bahwa ia bersikap moral. Ia bisa tidak melanggar norma- norma moral karena itu menguntungkan. Maka menurut Kant kualitas moral seseorang tergantung dari sikap hati orang itu. Karena itu tidak mungkin kita menilai kualitas moral seseorang semata-mata dari sikap dan tindakan yang dapat diamati. Kualitas seseorang tergantung dari apa ia taat pada suara hati atau membiarkan diri diselewengkan daripadanya. Kant mendasarkan teori etikanya pada konsep imperatif kategoris.

“Bertindaklah semata-mata menurut prinsip (Maxime) yang dapat sekaligus kaukehendaki menjadi hukum umum!”

Yang dimaksud Kant: Suatu pertimbangan—yang mendasari keputusan dan pengambilan sikap—hanya sah secara moral apabila dapat diuniversalisasikan, jadi dapat dituntut dari siapa saja, di mana saja, dalam kondisi yang sama. Kant berpendapat bahwa kita tidak hidup dalam suatu vacuum normatif, jadi kita sudah tahu—dari pendidikan kita—sekian norma moral, tetapi sebagai orang yang secara moral dewasa, kita mempertanggungjawabkan sikap yang kita ambil dalam jaringan normatif itu dengan memastikan bahwa sikap itu dapat diberlakukan secara umum.

3. Hati Nurani sebagai Norma Moral

(5)

Bagi Kant, inti dari kesadaran moral adalah suara hati. Suara hati adalah

kesadaran akan kewajiban saya dalam situasi konkret. Suara hati membuat kita sadar bahwa kitalah yang bertanggung jawab. Suara hati secara psikologis mengandaikan bahwa kita berani mengambil sikap sendiri dan tidak hanya ikut-ikutan dalam kelompok. Fakta adanya suara hati membantah kolektivisme.

Tidak berbeda dengan Kant, Bertens berpendapat hati nurani memiliki peran penting dalam hidup moral manusia. Bertens, bahkan menyebut hati nurani sebagai norma terakhir untuk perbuatan manusia.

“Kita selalu wajib mengikuti hati nurani dan tidak pernah boleh kita lakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Hati nurani mengikat kita secara mutlak. Namun, harus langsung ditambahkan, putusan hati nurani yang merupakan norma moral terakhir bersifat subyektif dan beum tentu perbuatan yang dilakukan atas desakan hati nurai adalah baik juga secara obyektif7.”

Dengan subyektifitasnya, hati nurani harus dididik agar bisa lebih bersifat

obyektif. Pendidikan hati nurani, bersama dengan seluruh pendidikan moral, jauh lebih kompleks sifatnya. Filsuf Perancis Gabriel Madinier dalam bukunya La conscience morale tahun 1954, seperti dikutip Bertens, mengemukakan bahwa tempat yang paling serasi untuk pendidikan moral adalah keluarga, bukan sekolah. Pendidikan hati nurani harus dijalankan sedemikian rupa sehingga si anak menyadari tanggungjawabnya8.

Madinier, seperti ditulis Bertens, menegaskan bahwa kekuatan para pendidik moral, termasuk orang tua dan pengasuh lainnya adalah bahwa mereka sendiri patuh pada nilai moral juga. Kuncinya, kewajiban hukum moral mengikat semua orang. Untuk itu, pendidikan moral tidak akan berhasil jika para pendidik tidak bisa menjadi panutan. Ciri perkembangan moral menurut psikolog Amerika Serikat Lawrence Kohlberg seperti dikutip Bertens9 :

(6)

Tabel 1. Ciri Perkembangan Moral menurut Lawrence Kohlberg

Masih terkait dengan hati nurani, dalam antropologi dikenal adanya kebudayaan malu dan kebudayaan kebersalahan10 . Kebudyaaan malu, seperti dijelaskan Bertens, kebudayaan malu seluruhnya ditandai oleh rasa malu dan tidak dikenal rasa bersalah. Hampir semua kebudayaan di Asia adalah kebudayaan malu. Kebudayaan ini mengandung pengertian bila orang berbuat buruk tidak pasti ia anggap buruk. Namun, menjadi malapetaka jika orang lain tahu, untuk itu harus ditutupi. Berbeda dengan kebudayaan bersalah, pengertian dosa dan

kebersalahan di sini amat dipentingkan. Sekali pun perbuatan buruk tidak diketahui orang lain, si pelaku merasa bersalah juga. Dalam kebudayaan ini, sanksinya adalah dari diri sendiri bukan dari orang luar. Kebudayaan ini banyak dianut di Eropa dan Amerika.

4. Kebebasan dan Tanggungjawab

(7)

Kant menyebut keharusan moral imperatif (perintah). Ia membedakan antara imperatif hipotetis dan imperatif kategoris. Imperatif hipotetis adalah keharusan bersyarat. Keharusan itu bersyarat. Sebaliknya, keharusan moral bersifat

kategoris atau mutlak/tak bersyarat.

Itulah kekuatan luar biasa kesadaran moral. Kesadaran itu adalah kesadaran bahwa kita mutlak wajib melakukan atau tidak melakukan sesuatu dan semua kewajiban dari luar harus melalui satpam suara hati itu. Karena itu suara hati/kesadaran moral adalah tempat di mana manusia, manusia individual, langsung menyadari otonominya. Bagi Kant otonomi moral adalah unsur kunci dalam moralitas. Otonomi itu tidak berarti bahwa kita masing-masing seenaknya menetapkan apa yang wajib dan apa yang tidak. Bukan kita yang menetapkan suara hati. Kita justru berhadapan dengan suara hati.

Tetapi otonomi moral berarti bahwa kita masing-masing berhak, dan bahkan wajib, untuk mengikuti tanpa kecuali apa yang kita sadari sebagai kewajiban. Perintah apa pun, dari mana pun, serta pewajiban-pewajiban sosial, misalnya undang-undang, tidak dapat langsung mengikat hati orang. Orang berhak—dan tidak bisa menghindar—untuk menyadari sendiri apakah apa yang dari luar dihadapkan kepadanya sebagai kewajiban, betul-betul merupakan kewajiban.

Suara hati juga merupakan bukti nyata—bukti yang langsung disadari—bahwa manusia itu memang bebas, bebas dalam arti eksistensial, dalam arti bahwa ia dapat dan harus menentukan sikapnya sendiri. Kesadaran bahwa aku wajib dan bertanggung jawab membuktikan bahwa aku bebas menentukan sikapku (hal mana tidak menyangkal bahwa kebebasan kita secara internal sering sangat terbatas secara psikologis, sosial dan budaya). Kesadaran moral membuktikan kebebasan manusia.

Sedangkan kebebasan dan tanggungjawab menurut Bertens seolah-olah menjadi pengertian kembar. Tidak mungkin manusia mendapat kebebasannya tanpa ada tanggungjawab yang dipikul. Demikian juga sebaliknya. Bertens menekankan bahwa terkait etika umum, yang paling terkait adalah kebebasan individual yang arti kebebasannya, yaitu :

a. kesewenang-wenangan, seseorang merasa bebas jika bisa berbuat sesuka hatinya, bebas dari kewajiban dan keterikatan. Sering salah kaprah dengan pengertian “merasa bebas” dari kewajiban/keterikatan. Padahal, dalam konteks ini, Bertens menekankan bahwa arti kebebasan

kesewenang-wenangan ini adalah setiap orang bisa “melaju bebas” justru karena ada norma-norma yang berlaku. Ia tidak bisa ditindas orang lain karena ada terlindungi norma dan ia bisa melakukan hal-hal terbaik yang ia mau yang tentu saja tidak melabrak norma.

b. kebebasan fisik, tiada paksaan atau rintangan dari luar

(8)

d. kebebasan psikologis, kemampuan manusia mengembangkan serta mengarahkan hidupnya

e. kebebasan moral, tidak bisa disamakan tetapi berkaitan dengan kebebasan psikologis, tanpa kebebasan psikologs tidak ada kebebasan moral.

f. Kebebasan eksistensial, kebebasan menyeluruh yang menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada salah satu aspek saja

Bertens menunjukkan bahwa kebebasan individu dibatasi oleh faktor-faktor dari dalam, baik fisik maupun psikis. Selain itu, dibatasi juga oleh lingkungan,

kebebasan orang lain, dan generasi-generasi mendatang. Berdasarkan semua itu, jadilah selalu ada tanggungjawab yang mengiringi kebebasan manusia yang sangat terkait dengan hati nurani dan juga moralitas.

5. Martabat Manusia

Bertens sekali lagi mengutip Immanuel Kant ketika membicarakan martabat manusia. Menurut Kant, kita harus menghormati martabat manusia karena manusia satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Manusia adalah makhluk bebas dan otonom yang sanggup mengambil keputusannya sendiri. Manusia adalah pusat kemandirian. Martabat manusia selalu harus dihormati. Tidak pernah manusia boleh diperalat dan dimanipulasi demi tercapainya tujuan yang terletak di luar manusia it11 .

Bertens menyimpulkan bahwa martabat manusia menyangkut kewajiban

seseorang terhadap orang lain. Dan itu, tulisnya, memang aspek paling penting, yang antara lain mengakibatkan bahwa martabat manusia dapat

dioperalisasikan dalam hak-hak asasi manusia. “Tapi martabat manusia menyangkut juga kewajiban saya terhadap diri saya sendiri sebagai manusia. Martabat manusia sebagai norma dasar moralitas tidak saja harus saya terapkan terhadap orang-orang di sekitar saya, melainkan juga terhadap diri saya

sendiri12.”

Bertens kembali mengutip Kant, yaitu bagi Kant, martabat manusia menjadi sumber kewajiban baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Selain itu, Bertens menambahkan, patut diingat bahwa manusia adalah bagian dari alam dan tidak boleh ditempatkan dalam posisi bertentangan dengan alam. Alam juga tidak boleh diperlakukan sebagai sarana belaka bagi keperluan manusia. Alam tidak boleh dirusak atau dihabiskan atas nama martabat manusia. Ada hak dan kewajiban yang mengikuti guna mencapai kehidupan manusia sesuai hati nurani, kebebasan, dan martabat manusia. Hak adalah bagian penting dari etika. Bertens menuliskan,

“Orang yang selalu menghormati hak-hak sesama manusia dan tidak pernah melanggar hak-hak itu belum tentu merupakan orang yang sungguh-sungguh baik secara moral. Menghormati hak-hak sesama

(9)

adalah tuntutan etis yang sangat diperlukan. Mutu moral seseorang akan hancur berantakan, kalau tuntutan ini tidak dipenuhi. Tetapi pengakuan hak itu tidak lebih daripada suatu minimum etis saja. Jika kita

menyamakan etika dengan teori hak begitu saja, kita mematoki etika itu sampai suatu tahap minimalistis. Etika yang sebenarnya jauh lebih luas. Orang yang sungguh-sungguh baik secara etis tidak akan membatasi diri pada pengakuan hak saja13.”

Sedikit harapan pada etika terapan

Menjadi orang baik, menyimpulkan Bertens, adalah dengan mengikuti apa yang dipaparkan di atas. Dengan demikian, bisa dikatakan, sebagian warga ibu kota belumlah menjadi orang yang baik sesuai kategori Kant maupun Bertens. Suara hati atau hati nurani yang dianggap Kant sebagai inti dari kesadaran moral terasa kurang relevan. Kebebasan untuk dirinya bertanggung jawab seakan hilang pada ruang-ruang publik di Jakarta, termasuk fasilitas jalan maupun lingkungan hidup. Data di atas turut menyajikan bahwa etika moral yang digagas oleh Kant dirasa kurang dapat mewakili perilaku masyarakat DKI Jakarta yang ada saat ini.

Namun, selain bisa menjadi pisau analisis untuk menjelaskan etika warga Jakarta, kami berpendapat dengan menggunakan etika terapan, ilmu filsafat di masa modern dapat turut andil dalam mencari solusi atas masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Menurut Bertens14, etika terapan merupakan pendekatan ilmiah yang tidak seragam dan tidak ada metode siap pakai. Namun, setidaknya ada empat unsur pendekatan yang dinilai paling berperan dalam etika terapan. Keempat unsur tersebut, yaitu: 1) dari sikap awal menuju refleksi; 2) informasi; 3) norma-norma moral; 4) logika.

Etika terapan bukan hal baru dalam sejarah filsafat moral. Sejak Plato dan Aristoteles sudah ditekankan bahwa etika merupakan filsafat praktis, artinya filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang harus kita lakukan . Bertens menjelaskan bahwa etika terapan sempat banyak digunakan tetapi kemudian meredup. Di era modern ini, etika terapan mengalami kebangkitan kembali. Etika terapan dapat menyoroti suatu profesi atau suatu masalah. Kini, banyak bermunculan apa yang kemudian dikenal sebagai etika bisnis, etika biomedis, dan kode etik untuk bidang

professional tertentu. Juga masalah lain, termasuk ketika bicara soal diskriminasi SARA, lingkungan, serta tidak menutup kemungkinan akan

munculnya masalah-masalah etis baru dan berat saat ini yang berasal dari hasil yang dicapai ilmu dan teknologi modern.

(10)

Dengan demikian etika terapan dapat membantu untuk mengangkat pertimbangan dan keputusan moral kita dari suatu taraf subjektif serta

emosional ke suatu taraf yang objektif dan rasional. Itulah yang diharapkan dari etika terapan sebagai ilmu. Objektif berarti bisa diterima oleh semua yang

berkepentingan. Dengan demikian pertimbangan dan keputusan moral kita akan bersifat rasional juga. Memahami perilaku warga kota, seperti Jakarta, serta mencoba mencari solusi atasnya mungkin bisa menjadi lahan baru bagi etika terapan. Etika terapan diharapkan dapat menjadi pisau analisa baru dalam membedah berbagai isu strategis perkotaan dan perilaku warga kota, termasuk DKI Jakarta.

Ketimpangan penerapan hukum mengacaukan kota

Penjelasan terkait manusia bermartabat yang seharusnya selalu mendengar hati nurani meskipun cukup mencerahkan, tetapi masih belum bisa menjawab

mengapa sebagian warga ibu kota begitu tak peduli pada hukum. Jadi, mengapa sebenarnya kita harus mematuhi aturan atau hukum yang berlaku?

Sebuah pertanyaan dari Filsuf Aristoteles dengan jawabannya mungkin

mempermudah kita untuk memahami apa yang tengah menjangkiti masyarakat penghuni ibu kota, seperti yang ditulis Grant (2014). “[T]he ruler must learn by obeying, as he would learn the duties of a general of cavalry by being under the orders of a general of cavalry, or the duties of a general of infantry by being under the orders of a general of infantry, or by having had the command of a company or brigade. It has been well said that ‘he who has never learned to obey cannot be a good commander.’ the two are not the same, but the good citizen ought to be capable of both; he should know how to govern like a freeman, and how to obey like a freeman — these are the virtues of a citizen15.

Aristoteles, sebagaimana dijelaskan dalam artikel itu, meyakini bahwa baik demokrasi maupun tirani tidak tepat bagi perkembangan sebuah negara,

termasuk kota di dalamnya. Namun, ia meyakini bahwa penciptaan hukum yang baik dan sistem keadilan yang efektif merupakan esensi yang harus ada untuk menciptakan harmonisasi antara pemerintah dan warga negara atau warga kotanya. Ketika harmonisasi itu tidak terjadi, atau bisa dikatakan jika terjadi ketimpangan dalam penerapan aturan, maka akan sulit meminta warga kota patuh hukum.

Di Jakarta dan kawasan sekitarnya, ketimpangan penerapan hukum kasat mata terlihat. Dalam berita Kompas, akhir Desember 2013, dilaporkan bahwa pada kasus kecelakaan yang melibatkan anak pejabat tinggi negeri ini di Tol Jagorawi pada 1 Januari 2013 yang menewaskan dua orang dan melukai tiga lainnya, pelaku hanya dikenai 5 bulan penjara dan hukuman percobaan 6 bulan. Hakim

15 Oster, Grant, 2014. Why Obey?: A Look at Plato and Aristotle. diakses dari

(11)

pun memutuskan pelaku tidak harus dipenjara selama masa percobaan berlangsung sesuai pinsip restorative justice16.

Masih dari berita yang sama, ada kutipan menarik yaitu, ”Para penegak hukum yang menangani kasus seperti itu tidak profesional. Seharusnya mereka

menjunjung tinggi etika profesinya sehingga setiap orang mendapat perlakuan sama di mata hukum,” ujar Hotmarta Adelia Saragih, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Ia kemudian menceritakan, beberapa waktu lalu ada salah satu temannya yang tertangkap dalam razia lalu lintas oleh kepolisian di Medan. Oleh karena tidak membawa surat lengkap, motor temannya ditahan polisi. Tidak terima perlakuan itu, temannya menelepon kakaknya dan

menceritakan kejadian itu. Si kakak lantas datang ke tempat razia. Ajaib, setelah berbicara dengan polisi, motor adiknya dikembalikan. Si pelanggar pun

dibebaskan dari sanksi. ”Contoh arogansi anak orang tertentu itu sudah bukan rahasia lagi di kotaku. Menyedihkan,” ungkapnya.

Warga ibu kota, juga terbiasa dengan pemberitaan terkait kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara maupun para wakil rakyat di DPR/MPR. Kasus-kasus itu terus diulas secara masif di semua media massa dan Komisi

Pemberantasan Korupsi (KPK) tak pernah berhenti membongkar perampok kelas kakap yang menyasar uang rakyat ini. Namun, saat menjalani persidangan, hakim hanya menjatuhkan hukuman ringan kepada para terdakwa korupsi. Koruptor juga tidak lantas kehilangan pengaruh, kekayaan, dan kekuasaan.

Pemerintah atau para penguasa yang abai bisa memicu terbentuknya kelompok masyarakat yang secara sadar melawan hukum. Kebutuhan warga untuk

dihargai dan sisi kelam bagian kota yang tidak terurus atau tidak tersentuh tangan pemerintah digambarkan gamblang oleh Anderson (1999). Anderson memaparkan kehidupan warga kulit hitam miskin di kota-kota di Amerika Serikat yang sarat dengan kekerasan. Mereka terjerat perdagangan dan penggunaan narkoba sehingga kehidupan mereka pun tergantung dari para bandar narkoba17. Warga di komunitas tersebut memiliki sistem keamanan sendiri, mereka yang lemah bergantung pada para bandar yang rata-rata bersenjata api untuk menunjukkan eksistensinya. Siapa pun yang dinilai tidak menunjukkan rasa hormatnya akan berhadapan dengan moncong senjata api atau babak belur dihajar anggota geng si bandar. Komunitas-komunitas ini melahirkan kebudayaan baru, selain kekerasan jalanan, juga ada musik rap yang sarat lirik bercerita tentang kehidupan mereka, kata-kata kasar, dan keputusasaan. Mereka tidak percaya polisi bisa melindungi kelompoknya. Program-program pemerintah pun rata-rata tidak bisa mengurai, apalagi mengatasi masalah mereka.

Selain soal hukum yang belum bisa memayungi semua kepentingan warga kota, ketidaknyamanan penguni area metropolitan seperti Jakarta juga akibat kondisi

16 Harian Kompas. “Arogansi Anak Orang Terkenal” KOMPAS(Nasional) - Selasa, 03 Dec 2013 Halaman: 34

(12)

yang mereka hadapi sehari-hari. Wirth (1938) mengatakan bahwa memahami sebuah kota bisa dilakukan dengan mencermati dan memahami tiga hal, yaitu populasi, kepadatan penduduk, dan keheterogenan warganya. Penambahan jumlah penduduk atau populasi akan berpengaruh pada hubungan antarwarga dan karakter kota. Semakin besar populasi, semakin besar variasi individu di dalamnya. Keterikatan budaya, sosial, semakin renggang. Dalam situasi seperti ini, kompetisi dan mekanisme kontrol formal akan menggantikan ikatan

tradisional untuk mengendalikan kota.

Ketika penduduk bertambah dan lahan tetap, kata Wirth, maka akan terjadi keterbatasan kota untuk berkembang. Tingkat kepadatan bertambah. Namun, dengan kerenggangan sosial yg terjadi, secara fisik boleh dekat tetapi secara personal berjauhan.

Di era modern ini, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin makin lebar. Masyarakat kota makin terkotak-kotak antara tempat usaha, tempat kerja, rumah. Kota punya kawasan-kawasan dengan fungsi-fungsinya sendiri. Tanpa ikatan emosi dan sentimental, orang cenderung makin kompetitif, saling memanfaatkan. Peluang untuk terjadi friksi dan iritasi besar, rasa frustasi juga makin membebani karena tekanan kecepatan teknologi yang mengelilingi kita.

Penduduk kota memang beragam, dari bermacam suku, ras, agama, tingkat ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Mereka berkecenderungan membuat kelompok-kelompok atas dasar kesamaan di antara mereka. Grup-grup ini cenderung eksklusif. Ini sangat berbeda dengan kehidupan di pedesaan. Penduduk kota juga sebagian besar bukan pemilik lahan. Banyak isu muncul, diiringi perilaku kolektif yang susah diprediksi dan sangat bermasalah. Fasilitas kota lebih diperuntukkan bagi kebutuhan rata-rata yang muncul bukan pada kebutuhan per individu. Jika seseorang ingin terlibat dalam kehidupan sosial, politis, and ekonomi di kota, dia harus menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar dan ini berarti menjadikannya bagian dari pergerakan massa yang besar.

Rasa frustasi atas keadaan yang selalu dihadapi juga kecenderungan mengikuti arus dominan bisa jadi membuat pelanggaran aturan di ruang publik di Jakarta juga terjadi massal. Lihat saja di perempatan jalan, mereka yang melanggar rambu berupa lampu lalu lintas begitu banyak. Sampah yang masih saja

bertumpuk menyumbat nyaris semua saluran air juga akibat kebiasaan sebagian warga kota membuang limbah sembarangan. Saat pelanggaran aturan terjadi begitu masif, petugas di lapangan pun makin tak kuasa menegakkan aturan.

(13)

serta alat menuju hidup bersama yang aman dan nyaman. Harmonisasi antara pemerintah dan warga kota tidak tercipta, bahkan ada rasa saling tak percaya. Citizenship yang diharapkan Aristoteles pun sulit terwujud.

DAFTAR PUSTAKA

(Tanpa Penulis). 2014. Pengetahuan Dasar Tentang Filsafat Ilmu dan Pengetahuan. Diakses dari

http://veronica.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/32912/Filsafat+dan +Etika.pdf pada 13 November 2016 pukul 23.02 WIB.

Anderson, Elijah. 1999. “The Code of the Street” and “Decent and Street Families”. Dalam Richard T.

LeGates dan Frederic Stout (Ed.). The City Reader 6nd Edition (Hal 131-138). London and New York: Routledge

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. 2014. Status Lingkungan Hidup

Daerah (SLHD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014. Diakses dari

http://bplhd.jakarta.go.id/SLHD2015/pdf/Buku%20I/Buku%20I%20Bab %203F.pdf pada Selasa, 13 November 2016 pukul 01.03 WIB.

Bertens, K. (1993). Etika, Seri Filsafat Atma Jaya: No. 15. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bona, Maria Fatima. 2016. Jakarta Hasilkan 7.000 Ton Sampah Per Hari. Diakses dari

http://www.beritasatu.com/megapolitan/338886-jakarta-hasilkan-7000-ton-sampah-per-hari.html pada Selasa, 13 November 2016 pukul 01.22 WIB.

Harian Kompas. “Laporkan Aparat lewat Aplikasi * Laporan Jadi Salah Satu Indikator Kinerja

Aparatur”. KOMPAS(Nasional). Senin, 19 Oct 2015 Halaman: 25

Harian Kompas. “Ibu Kota Terbelit Kasus Klasik * Narkotika, Terorisme, Kejahatan Jalanan, dan

Korupsi Menonjol pada 2015”. KOMPAS(Nasional) - Kamis, 31 Dec 2015 Halaman: 23

Harian Kompas. “Arogansi Anak Orang Terkenal” KOMPAS(Nasional) - Selasa, 03 Dec 2013

(14)

Kant, I. (1949) Fundamental Principles of the Metaphysics of Morals, Translated by Thomas K. Abbott

with an introduction by Marvin Fox. New York: The Bobbs-Merill Company, Inc. dalam STIE Banten (Tanpa Penulis). 2012. Diakses dari

http://stiebanten.blogspot.co.id/2012/03/etika-deontologis-immanuel-kant.html pada 13 November 2016 pukul 19.11 WIB.

Magnis-Suseno, Franz. Moralitas dan Otonomi: Immanuel Kant. Makalah seri kedua Kuliah Umum

Filsafat Etika dari Yunani Klasik hingga Jawa di Teater Salihara, 09 Februari 2013, 16:00 WIB. Diakses dari

http://www.suarakita.org/wp-content/uploads/2013/02/Moralitas-Kant-Magnis-Suseno-2013-02-03.pdf

pada 13 November 2016 pukul 21.20 WIB.

Magnis-Suseno, Franz. (1997) 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta:

Kanisius.

Oster, Grant, 2014. Why Obey?: A Look at Plato and Aristotle. diakses dari

http://hankeringforhistory.com/why-obey-look-plato-aristotle/ Minggu, 11 Desember 2016, pukul 22.56

Rizal, Fahrul. 2016. Ini Presentase Pelanggar Lalu Lintas di Jakarta. Diakses dari

http://ntmcpolri.info/ini-grafik-pelanggar-lalu-lintas-di-jakarta, pada 17 Nopember 2016 pukul 09.12 WIB.

Wirth, Louis. 1938. “Urbanism as a Way of Life”. Dalam Richard T. LeGates dan Frederic Stout (Ed.).

Gambar

Tabel 1. Ciri Perkembangan Moral menurut Lawrence Kohlberg

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa ketentuan terkait dengan mekanisme dalam pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, maka terlihat bahwa mekanisme pengisian jabatan Gubernur

dalam Pendidikan dan Komitmen Siswa terhadap Sekolah: Studi Meta- Analisis” menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua di sekolah memiliki korelasi positif terhadap komitmen

Perlakuan berbagai jenis media organik memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter-parameter pertumbuhan eksplan anggrek hitam, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, panjang

Ucapkan dalam hati : "Pendulum ini akan bergerak ke kanan jika jawaban adalah Ya" lalu konsentrasikan diri pada kehendak batin yang telah menyatu dengan pendulum tsb

Pada aspek praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk peneliti pemula yang ingin melakukan penelitian mengenai film dengan menggunakan pendekatan

Dari pertanyaan ini akan dapat dilihat peran yang telah dijalankan oleh gereja bagi para taruna- pemuda dalam kaitannya untuk pembangunan karakter Kristen

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah immature embryo yang diisolasi dari biji 6 varietas gandum yaitu Selayar, HP 1744, Alibey, Dewata, Oasis dan

dimana kita tahu bersama bahwa bidang ground antena juga berfungsi sebagai reflektor, sehingga bagian tengah antena merefleksikan radiasi lebih besar dari