TUGAS REKAYASA SUMBER DAYA AIR
Daerah Aliran Sungai TONDANO
Manado, Sulawesi Utara
Oleh :
WEDDY VENISIA
051 11 056
Dosen :
1. Dr. Ir. Trihono Kadri, MS 2. Endah Kusumaningrum.ST
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS TRISAKTI
2014
Air merupakan sumber dari kehidupan. Manusia pun juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap air. Terdapat sebuah ironi mengenai air. Walaupun planet bumi merupakan planet yang berkelimpahan air, yaitu dua per tiga luasan bumi tertutup oleh air, namun saat ini di berbagai belahan dunia muncul fenomena kelangkaan air. Indonesia ternyata juga mengalami permasalahan dengan air. Pada beberapa daerah di Indonesia mulai muncul fenomena kelangkaan air bersih, terutama di musim kemarau. Fenomena kelangkaan air bersih akan semakin parah jika tidak segera dilakukan penanganan yang serius, dan tentunya dapat menghambat perkembangan wilayah. Munculnya fenomena ini disebabkan oleh adanya anggapan bahwa air merupakan sumber daya yang dapat diperbarui, namun tidak disertai kesadaran bahwa untuk dapat memperbarui diri, sumber-sumber air memerlukan lingkungan yang kondusif. Kelangkaan ini lebih terasa pada daerah yang kekurangan sumber air dan tidak terjangkau layanan dari pemerintah, sehingga masyarakat harus berjuang sendiri mencukupi kebutuhannya.
SUMBER DAYA AIR
1.1 PENGERTIAN SUMBER DAYA AIR
Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung didalamnya. Air merupakan komponen utama didalam kehidupan manusia, karena potensi yang terkandung dalam air atau pada sumber air yang didapat memberikan manfaat atau kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya. Maka pengertian rekayasa sumber daya air adalah membuat atau merekayasa sumber daya air supaya bisa dengan baik di proses, di kelola, dan di pakai sesuai kegunaan dan kebutuhan kehidupan manusia tersebut.
1.2
PENGERTIAN REKAYASA SUMBER DAYA AIR
penerapan ilmu yang terkait dengan pemanfaatan seluruh sumber daya air atau buatan manusia dalam merancang produk akhir yang bermanfaat bagi masyarakat.
1.3 SUMBER-SUMBER AIR
Sumber air merupakan komponen penting untuk penyediaan air bersih karena tanpa sumber air maka suatu system penyediaan air bersih tidak akan berfungsi. Menurut kami terdapat 5 sumber air, yaitu :
a. Air laut
Air ini sifatnya asin karena mengandung garam NaCl. Kadar garam Nacl dalam air laut 3% dengan keadaan ini maka air laut tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai air minum
b. Air Hujan
Air hujan juga mempunyai
sifat agresif terutama terhadap
pipa-pipa penyalur maupun
c. Air permukaan Merupakan air
yang mengalir di
permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur,batang kayu, daun, kotoran industri dan lainnya.
d. Air tanah
Merupakan air yang berada di
bawah tanah dalam zone
jenuh dimana tekanan
hidrstatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer.
e. Mata Air
Merupakan air tanah yang
keluar dengan sendirinya ke
permukaan tanah dengan
oleh musim, sedangkan kualitasnya sama dengan air dalam.
1.4 KEGUNAAN
REKAYASA SUMBER DAYA
AIR
Penggunaan sumber daya air merupakan upaya penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Hampir disetiap kebutuhan manusia penggunaan sumber daya air sangat di nomor satukan. Penggunaan SDA bisa dipergunakan untuk sumber makanan dari perairan, prasarana lalulintas air antar pulau, sebagai fungsi energi pembangkit tenaga, pengaturan iklim, dan yang terpenting adalah sebagai sumber mineral.
1.5 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERKELANJUTAN
Gambar di atas menggambarkan suatu proses pengolahan sumberdaya air yang di peruntukan dan dipergunakan untuk keperluan masyarakat sekitar. Contohnya, sumber air tersebut dapat dialirkan ke sawah untuk digunakan pengarian sawah masyarakat.
1.6 PROSES PENGELOLAAN AIR
Pengelolaan air di sini termasuk pengelolaan perairan pantai dan ekosistem danau. Pengelolaan air meliputi strategi sebagai berikut:
a) melindungi perairan agar terjaga kebersihannya sehingga dapat menjaga kelangsungan flora dengan menjaga perakaran tanaman dari gangguan fisik maupun kimiawi;
b) mengusahakan cahaya matahari dapat menembus dasar perairan, sehingga proses fotosintesa dapat berjalan lancar c) menjaga agar fauna memangsa dan predator selalu seimbang
dengan mempertahankan rantai makanan
Pada prinsipnya pengelolaan sumber daya alam air ini, sangat bergantung pada bagaimana kita mempergunakan dan memelihara serta memperlakukan sumber air itu menjadi seoptimal mungkin, tetapi tanpa merusak ataupun mencemarinya dan juga mempertahankan keadaan lingkungan sebaik-baiknya.
Usaha pencegahan
pencemaran air ini
bukan merupakan proses
yang sederhana, tetapi melibatkan berbagai faktor sebagai berikut: a) Air limbah ang akan dibuang ke perairan harus diolah lebih
dahulu sehingga memenuhi standar air limbah yang telah ditetapkan pemerintah.
b) Menentukan dan mencegah terjadinya interaksi sinergisma antar polutan pemerintah.
c) Menggunakan bahan yang dapat mencegah dan menyerap minyak yang tumpah di perairan
e) Limbah radioaktif harus diproses dahulu agar tidak mengandung bahaya radiasi dan barulah dibuang di perairan.
f) Mengeluarkan atau menguraikan deterjen atau bahan kimia lain dengan menggunakan aktifitas mikroba tertentu sebelum dibuang ke dalam perairan umum
DAERAH ALIRAN SUNGAI TONDANO
2.1 TINJAUAN UMUM DAS
DAS Tondano berperan sebagai pusat pembangunan ekonomi Sulawesi Utara. Lebih dari 70% area di DAS ini digunakan untuk produksi pertanian. Sungai Tondano adalah sumber utama air minum untuk penduduk kota Manado dan Minahasa (PDAM minahasa dan Manado), untuk melayani kebutuhan harian sekitar 120.000 penduduk. Selain itu sungai Tondano merupakan penyedia energi untuk turbin hydroelektrik dengan kapasitas terpasang 34 Megawatts ((PLTA) Tonsea Lama, dan Tanggari I dan II). Energi ini dapat menyuplai 30% energy yang dibutuhkan propinsi Sulawesi Utara.
2.2 LETAK GEOGRAFIS DAS TONDANO
Ekosistem DAS Tondano terletak di Propinsi Sulawesi Utara. DAS ini terletak pada pada 1o dan 2o LU dengan topografinya berupa
pegunungan. Luas DAS ini sekitar 500,97 km2 (kira-kira 50.000 ha).
Secara administratif, DAS Tondano terletak di wilayah administrasi kabupaten Minahasa dan kota Manado. Bagian hulu (utara) DAS ini terletak pada kabupaten Minahasa (10 kecamatan) dan bagian hilirnya (selatan) di kota Manado (4 kecamatan).
Kabupaten Minahasa Utara merupakan pemekaran dari Kabupaten Minahasa yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2003, dengan ibukotanya Airmadidi. Secara geografis terletak antara 1014’ – 1056’ LU dan 124042 – 124013’ BT. Adapun
batas-batas Kabupaten Minahasa Utara meliputi: a. Sebelah Utara : Laut Sulawesi
b. Sebelah Timur : Kota Bitung
2.3
KARAKTERISTIK DAS
2.3.1 Iklim
73,4%. Kendati demikian suhu atau temperatur dipengaruhi pula oleh ketinggian tempat di atas permukaan laut. Semakin tinggi letaknya, maka semakin rendah pula suhunya, dengan perhitungan setiap kenaikan 100 meter dapat menurunkan suhu sekitar 0,6 °C.
2.3.2 Kondisi Hidrologi dan Curah Hujan
Danau Tondano merupakan reservoir alam dengan luas sekitar 4.800 ha dengan volume air sekitar 680 juta m3 berfungsi penting
sebagai sumber air minum, sumber tenaga listrik (PLTA di Tonsea Lama, Tenggari I dan II), irigasi, perikanan, dan parawisata. Isu berkembang akhir-akhir ini danau Tondano telah mengalami pendangkalan yang parah yang disebabkan oleh erosi dan eutrifikasi. Data curah hujan yang tercatat pada stasiun cuaca Kayuwatu ratarata hujan di Airmadidi sebesar 2.408 mm. (Review RTL-RLKT DAS Tondano, Tahun 2003). Tiupan angin utara membawa uap air dari Laut Cina Selatan ke wilayah Manado dan sekitarnya. Secara orografis, udara tersebut terangkat, kemudian uap air mengalami kondensasi dan membentuk butir hujan yang jatuh di Kawasan Manado dan Airmadidi. Rata-rata suhu tertinggi hampir sama dengan Kota Manado yaitu 26,70C pada bulan Agustus dan terendah pada bulan Januari (25,30C).
Keadaan topografi sebagian besar mempunyai relief datar sampai berombak dan sebagian lainnya bergelombang sampai curam. Selain itu kondisi morfologi yang terdiri dari pendataran alluvium, dataran banjir dan dataran aluvial yang mana merupakan fenomena alam yang sangat rentan terhadap bahaya banjir.
2.3.4 Geologi
Kondisi geologi sebagian besar adalah wilayah vulkanik muda, sejumlah besar erupsi serta bentuk kerucut gunung merapi aktif yang padam menghiasi Minahasa bagian tengah, daerah Bolaang Mongondow dan kepulauan Sangihe. Material-material yang dihasilkan letusannya berbentuk padat serta lain-lain bahan vulkanik lepas. Semua vulkanik ini berbentuk pegunungan (otogenisa) menghasilkan morfologi yang berbukit bukit dan bergunung- gunung dengan perbedaan relief topografik yang cukup besar.
2.3.5 Penggunaan Lahan
selain juga untuk kebutuhan domestik. Danau Tondano merupakan juga sumber ikan yang tinggi. Total tangkapan bisa mencapai lebih dari 2000 ton ikan (1998) yang berasal dari floating nets culture system (karamba) 1357 ton dan dari tradional fishing776 tons). Produksi ikan dengan fish culture techniques berkembang secara signifikan pada tahun 1990. Rawa pada outlet Danau Tondano juga dimanfaatkan untuk peternakan (budidaya itik, dll). Danau ini juga merupakan tujuan wisata yang utama, khususnya bagi pariwisata lokal. Beberapa areal lahan di kawasan DAS Tondano ini merupakan sentra produksi hortikultura Sulawesi Utara.
2.3.6 Keadaan
Tanah
Kondisi tanah permukaan maupun karena penutup tanah berupa beton atau sejenisnya. Tegalan dan sawah memiliki vegetasi yang tidak bisa menjaga stabilitas permukaan karena bersifat tergenang, serta memiliki sistem perakaran yang dangkal sehingga kurang menjaga kekompakkan partikel tanah.
2.4.1 Keadaan Penduduk
Pada tahun 2002, penduduk Kabupaten Minahasa Utara sekitar157.898 jiwa. Dengan luas wilayah 916,30 km2, berarti
kepadatan penduduk rata-rata mencapai 172 jiwa/km2.
Berdasarkan data per kecamatan, kepadatan penduduk tertinggi di kecamatan Airmadidi yaitu 248 jiwa/km2 yang
diikuti oleh Kecamatan Kauditan yaitu 230 jiwa/km2
sedangkan kepadatan penduduk terendah di kecamatan Likupang Timur yaitu 107 jiwa/km2 .
2.4.2 Ekonomi masyarakat sekitar
Kabupaten Minahasa Utara yang sebagian wilayahnya adalah pesisir, mata pencaharian utama penduduknya adalah sebagai petani. Di wilayah pesisirnya, berdasarkan hasil studi RTL-RLKT Daerah Pantai Wori – Likupang tahun 2004, peran sektor pertanian dalam menyediakan lapangan kerja cukup dominan, yaitu sekitar 78,07 %. Dari prosentase tersebut, sekitar 53,49 % adalah petani dan 24,58 % merupakan nelayan. Tanaman utama yang diusahakan adalah kelapa, cengkih, buah-buahan dan palawija. (RTLRLKT Daerah Pantai Minahasa Utara, 2004).
2.4.3 Budaya Masyarakat
2.5 PERMASALAHAN DAS
2.5.1 Latar belakang Permasalahan
Tingkat kerusakan lingkungan di DAS Tondano sangat parah dan memprihatinkan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1999, DAS Tondano dikategorikan sebagai salahsatu DAS dari 60 DAS Prioritas I di Indonesia. Pemerintah Sulawesi Utara juga menetapkan DAS Tondano sebagai kawasan yang kritis. Beberapa permasalahan lingkungan yang mengancaman kelestarian DAS Tondano di antaranya perusakan hutan dan lahan, erosi dan sedimentasi, banjir, penurunan kualitas dan kuantitas air, pencaplokan sempadan sungai, danau dan mata air.
2.5.2 Perbandingan Kondisi Terdahulu dan saat ini
Kondisi dahulu muara Daerah Aliran Sungai Tondano semakin dangkal dan butuh dilakukannya pengerukan. Sebab, ketika air surut sedikit saja, muara itu langsung terlihat seperti daratan dan dapat mengandaskan perahu motor yang besar saat masuk di kawasan tersebut. Dan Pada beberapa tahun terakhir ini, DAS Tondano telah mengalami perubahan yang begitu besar sebagai akibat meningkatnya aktivitas manusia dalam pemanfaatan lahan. Tahun 1982 luas hutan 2.450 ha atau 8,35 % Tahun 1999, luas hutan berkurang menjadi 2.182 ha atau 7,44 % (PPLH-Unsrat 2005). Dari tabel 2 terlihat bahwa saat ini luas hutan yang tersisa hanya sekitar 7% di DAS ini, jauh dibawah persyaratan minimum UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan sebesar 30 %. Hutan yang tersisa pun lebih banyak terdapat di daerah hilir.
2.6 PENANGGULANGAN MASALAH
2.6.2 Keterkaitan MDG’S terhadap Penanggulangan Masalah
Air merupakan anugerah dari Tuhan yang tak terhingga, tidak hanya bagi manusia melainkan untuk semua elemen yang tinggal di bumi membutuhkan air. Begitu pentingnya air untuk manusia, sehingga negaramemiliki kewajiban untuk menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari guna memenuhi kebutuhan akan air yang bersih, sehat dan produktif. Namun, di sisi lain keberadaannya semakin lama sangat mengkhawatirkan. Adapun faktor yang berpengaruh akan terjadinya penurunan kualitas, kuantitas dan kontinuitas adalah pertambahan jumlah penduduk dan kegiatan ekonomi yang dalam dekade terakhir meningkat dengan pesat.
Yang paling penting adalah pembangunan prasarana penyediaan air baku untuk memastikan pemenuhan komitmen terhadap Millenium Development Goals (MDG’s) yang dikhususkan pada Goal ke-7, yaitu “Memastikan Kelestarian Lingkungan,” dan Target C, yaitu “Mengurangi hingga setengahnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar hingga tahun 2015”. Untuk itu pemerintah Indonesia telah menetapkan target pembangunan untuk tahun 2014 guna mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, melalui program lain untuk ketahanan pangan dan air.
terancam akibat berbagai masalah yang dialami danau Tondano. Salah satu persoalan yng mengemuka saat ini adalah pendangkalan danau Tondano. Dari berbagai sumber, penurunan kedalaman danau Tondano dapat dilihat di bawah ini.
Tahun Kedalaman
Maksimal Analisis penurunan
1934 40 m
T Tahun 1934-1974:
Selama 40 tahun , penurunan sebesar 12 m. Berarti rata-rata penurunan per tahun adalah = 12 m / 40 thn = 0,3 m (30 cm); atau penurunan setiap 10 tahun = 12/4 = 3 m.
Tahun 1974-1983
Selama 9 tahun, penurunan sebesar 1 m. Rata-rata penurunan per tahun= 0,11 m (11 cm)
Tahun 1983-1987
Dalam kurun waktu 4 tahun terjadi penurunan 7 m atau penurunan per thn = 1,75 m (175 cm)
Tahun 1987-1992
Dalam kurun waktu 5 tahun, terjadi penurunan 4 m. Penurunan per tahun = 0,8 m (80cm)
Tahun 1992-1996
Dalam 4 tahun, penurunan hanya 1 m. Per tahun = 0,25 m/thn (25 cm)
http://www.harian-komentar.com/headlines-news/8886-muara-das-tondano-juga-perlu-dikeruk.html
http://www.ugm.ac.id/id/berita/8604-peneliti.ugm:.longsor.dan.banjir.bandang.masih.mengancam.manad o
http://www.balithut-manado.org/index.php?
option=com_content&view=article&id=60:konservasi-tanah&catid=1:2011&Itemid=2
http://limnologi.lipi.go.id/danau/profil.php?
id_danau=sul_tond&tab=gambaran%20umum
PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR DI WILAYAH SUB DAS
TONDANO DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( Melisa P. Todingan1, Meldi Sinolungan2 , Yani E.B. Kamagi2 , Jeanne Lengkong).
Profil Kehutanan Sulawesi Utara ( Balai Pengelolaan wilayah
Daerah Aliran Sungai Tondano)
JURNAL MIPA UNSRAT ONLINE 2 (2) 133-139 (Analisis Spektral Data Curah Hujan di Sulawesi Utara).
Evaluasi Perubahan Penggunaan Lahan daerah Aliran sungai