1
Sejarah “Dunia Komposisi Indonesia” & Meneropong dunia komposisi musik Indonesia kedepannya. [Menengok ke belakang untuk membuat langkah ke depan]
Oleh: Michael Asmara
Indonesia mempunya begitu banyak ragam jenis musik, tak bisa di pungkiri bahwa masing-masing jenis musik tersebut tentu mengalami perkembangannya sendiri-sendiri. Perkembangan tersebut ada yang mengambil idiom dari daerahnya atau bangsa lain, atau mengembangkan musik daerahnya dengan melalui inovasi-inovasi kreatifnya atau bahkan ciptaan baru yang belum ada sebelumnya. Meski pada masa sebelum abad 20 kebanyakkan karya musik tradisi di buat secara bersama, dan dipersembahkan kepada Tuhannya atau Raja, namun pada abad 20 pertengahan kebiasaan tersebut sedikit demi sedikit mulai bergeser menjadi lebih individual. Maka dalam dunia musik gamelan/karawitan Jawa Bali kita bisa mengenal sejumlah komponis seperti:
Ki Martopangrawit, Ki Wasitodipuro, Hardjo Soebrata, Ki Narto Sabdo, , Rahayu Supanggah, Rustopo, AL Suwardi, Nano Suratno, Komang Astita, I Wayan Rai, Djaduk Ferianto, I Wayan Sadra, Nyoman Winda, Pande Made Sukerta, I Wayan Gde Yudane, Dody Satya Ekagustdiman, Iwan Gunawan, Y Subowo dsb. Sementara untuk daerah lain seperti Aceh, Padang, Makasar, NTT, dsb tentu banyak yang telah mereka perbuat untuk melakukan inovasi.
(Disini saya hanya sedikit menyebutkan para komponis yang latar belakang pendidikannya adalah “karawitan” dan tidak ada yang berasal dari daerah diluar Jawa Bali, hal itu karena lagi-lagi masalah pendokumentasian kita yang masih lemah. Bukankah ini sebenarnya tugas dari para musikolog /etnomomusikolog kita untuk mencatat data-data tersebut diatas??. Tapi mungkin para
musikolog/etnomusikolog kita masih kurang percaya diri, sehingga mereka lebih suka mencatat/meneliti para komponis Eropa Amerika atau yang anonym kalau musik daerah.)
Disamping komponis dari latar belakang musik tradisi mereka/bangsa masing-masing. Ada juga yang kemudian komponis-komponis dengan berlatar belakang ‘pendidikan tradisi musik barat’ Kita tahu bahwa musik barat mulai masuk ke Indonesia tentu saat penjajahan Belanda, baik melalui para misionaris gereja atau penduduk Belanda yang tinggal di Indonesia.
2
Spies untuk membangun orkes Kraton Yogyakarta pada tahun 1930 an selama beberapa tahun.Disini musik Bach, Mozart Beethoven mulai sering dimainkan. Dari sini muncul cikal bakal berdirinya konservatorium musik barat dikemudian hari di Yogyakarta pada masa Sultan HB IX tahun 1952, yaitu dari SMIND 5 tahun, kemudian menjadi AMI (lalu ISI Jur. Musik) yang melahirkan sejumlah lieder, tokoh musik dan ‘komponis dengan latar belakang pendidikan musik barat’ di Indonesia yang pertama kali. Kita bisa sebut saja antara lain:
Cornel Simanjuntak, Liberty Manik, Amir Pasaribu, FX Sutopo, Idris Sardi, R.A.J Sudjasmin, Slamet A. Syukur, Suka Hardjana.
Diluar Yogyakarta pada masa ini juga muncul para tokoh musik dan pencipta lagu maupun lieder seperti Ismail Marzuki, Kusbini, Husein Mutahar, Bintang Sudibyo (ibu Sud), dsb
Apa yang ingin saya utarakan dari pemaparan diatas adalah bahwa dibanding dengan perkembangan musik " tradisi Indonesia" contemporer, musik seni " tradisi barat" contemporer di Indonesia baru dimulai pada pertengahan abad 20. Tokoh-tokoh yang tercatat adalah Amir Pasaribu, Paul Gautama Soegiyo, Tri Suci Kamal dan Slamet A.Syukur. Amir mengambil gaya "Debussy" an, Tri Sutji pada awalnya mengambil gaya Classic-Romantik, sementara Slamet minimalis/maximalis.
Dari ke tiga tokoh komponis " musik seni" sepertinya hanya Slamet A. Sjukur yang aktif mengajar komposisi. Hasil awal kemudian dari tangan Slamet lahir komponis generasi angkatan '80 an seperti Franky Raden, Otto Sidharta, Tony Prabowo, Yasudah, Sugeng Pratikno, Fahmi Alatas Didik AGP, Tina Silvana.
Tapi ternyata diluar lingkaran Slamet pada tahun '80 an tersebut juga muncul komponis-komponis yang belajar diluar negeri, dibawah bimbingan Jack Body atau secara mandiri seperti Ben M. Pasaribu, Irwansyah Harap, dari Sumatra Utara, Harry Rusli dari Bandung laludari Yogyakarta Sapto Raharjo , Sutanto Mendut, Jusbar Djaelani, Jose H. Suyoto, (mereka bertiga merupakan murid Jack Body), Christinus Kristiyanto, Budi Ngurah, Memet Chaerul Slamet, Royke B Koapaha, dan saya sendiri Michael Asmara.
3
Namun dalam perjalanan waktu, pada awal abad 21 ini, saya melihat hanya tinggal beberapa saja yang sepertinya masih bisa disebut "sebagai komponis" , selain sebagian sudah meninggal, sebagian lagi sibuk dengan aktifitasnya sebagai birokrat, dosen atau profesi lainnya.
Saya jadi ingat apa yang pernah dikatakan Gianni Versace seorang perancang model busana terkenal Italy, bahwa; " My dream was always to be a composer, but fashion came very easily.". Memang tidak seperti halnya seni rupa yang menjual karyanya dalam bentuk material dan bisa dibawa pulang, untuk seni pertunjukkan, dalam hal ini musik, yang materinya berupa bunyi, maka hanya "kenangan" yang bisa dibawa pulang. Andaikan itu ada berupa CD atau rekaman. tentu hal itu bisa dikatakan seperti sebuah foto, dimana peristiwa, nuansa dan suasananya tidak mungkin terulang persis sama dan sebangun. Hal tersebut diatas tentu akan membuat kita bertanya seakan ingin sebuah kepastian jawaban: "Apakah memang demikian susah untuk menjadi komponis yang bisa bertahan pada profesinya?. Bila demikian, apa bisa disebut bahwa menjadi komponis merupakan panggilan jiwa seperti halnya menjadi
biarawan??. Lalu bagaimana nasib karya-karya yang pernah mereka ciptakan pada saat mereka masih aktif sebagai komponis?".
Karena kita menjual “kenangan”, sesuatu hal yang abstrak. Sehingga sangatlah perlu kita selalu menghadirkan karya seni tersebut secara berkesinambungan, karena seeperti yang dikatakan Theodor Adorno bahwa; "A work of art legitimates itself historically only by virtue of its uniqueness and intrinsic validity. Only works which have truth and consistency can impinge on the historical process" (Sebuah karya seni dalam sejarah akan menjadi sah dengan sendirinya bila mempunyai sifat unik dan kebenaran yang hakiki. Hanya karya-karya yang mempunyai kebenaran dan konsistensilah yang dapat
mempengaruhi proses sejarah). Sehingga bisa mencapai "kebenaran yang hakiki" dan selanjutnya bisa selalu hidup dalam “kenangan” para penikmatnya, yang pada gilirannya akan selalu hadir sebagai sebuah peristiwa sejarah. Bila tidak karya seni kita tersebut tentu akan hilang begitu saja. Menjadi komponis " musik seni" memang tidak menjanjikan apa-apa, kecuali " the happiness of creating", dengan kebahagiaan berkreasi maka hidupnya menjadi bahagia, yang lain akan mengikuti. Apabila kita tidak mendapatkan lagi rasa "bahagia untuk berkreasi", maka untuk apa kita menjadi komponis??.
Tantangan masa lalu memang berbeda dengan masa sekarang. Namun di abad 21 ini, juga banyak kemudahan-kemudahan sehubungan dengan inovasi IT yang berkembang pesat, dan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga kita akan lebih mudah mendapatkan informasi atau
memberikan informasi mengenai kegiatan kita sebagai komponis, dengan demikian tentu sebagai akibat kita akan mendapatkan apresiator lebih banyak dan jangkauannya lebih luas. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah karya musik memerlukan 3 element pokok: komponis, pemain/interpreter,
penonton/apresiator. Tanpa ada 3 hal tersebut diatas, maka yang tinggal hanya kertas scores. Dengan adanya perkembangan IT maka ketiga hal tersebut akan lebih mudah kita gapai.
bunyi-4
bunyian dapat memberikan andil maupun sumbangasih yang berarti bagi ladang bunyi-bunyian di dunia ini.
Daftar pustaka:
-Sejarah Nasional Indonesia VI oleh Marwati Djoned Posponagoro, Nugroho Notosusanto : Balai Pustaka. -Sejarah Musik IV oleh Dieter Mack: Kanisius.
-Essays on Modern Music oleh Theodor Adorno; Verso.
-Polemik Musik Indonesia. oleh Franki Raden, Slamet A. Syukur, Dieter Mack, Yapi Tambayong :Majalah Kalam.
-6 Tahun Pekan Komponis Muda oleh Dewan Kesenian Jakartal
-Karawitan Source Reading in Javanese Gamelan and Vocal Music Vol 3: Centre for South and Southeast Asian Studies The University of Michgan
- My Happy Life: an autobiography oleh Darius Milhaud.