KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG
JUDUL
PAPER
“Gijzeling Upaya Optimalisasi
Penerimaan Negara Sektor Pajak”
Disusun oleh:
FRAN DIKA DWI PURNOMO A.S (133060017966)
Mahasiswa Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi
Kelas 4-L / 11 085642822464
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan paper ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga paper ini dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan pengetahuan bagi pembaca.
Harapan saya semoga paper ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi paper ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Paper ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan paper ini.
Bintaro, 14 April 2015
DAFTAR ISI
JUDUL...1
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I PENDAHULUAN...4
A. Latar Belakang...4
B. Rumusan Masalah...5
C. Tujuan...5
BAB II GAMBARAN UMUM GIJZELING...6
A. Pengertian dan Dasar Hukum...6
B. Pelaksanaan Gijzeling...7
C. Hambatan Pelaksanaan Gijzeling...9
BAB III GIJZELING UPAYA OPTIMALISASI PENERIMAAN NEGARA SEKTOR PAJAK...11
A. Faktor-Faktor Penyebab Diperlukannya Gijzeling...11
B. Pengaruh Gijzeling dalam Peningkatan Penerimaan Negara...13
BAB IV KESIMPULAN...15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pajak merupakan iuran masyarakat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan, dengan tidak mendapat balas jasa secara langsung yang dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum, untuk mencapai kesejahteraan umum. Pajak merupakan sumber penerimaan negara terbesar yang digunakan untuk melakukan pembayaran atas belanja pemerintah dalam rangka proses pembangunan Indonesia. Mengingat pentingnya sumber penerimaan negara tersebut bagi kelangsungan pembangunan dibutuhkan agar penerimaan pajak di Indonesia terus meningkat dari tahun ketahun.
Reformasi di bidang perpajakan telah dilakukan guna membantu meningkatkan kemudahan dalam pemungutan pajak. Oleh sebab itu diharapkan penerimaan perpajakan akan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Salah satu reformasi yang telah dilakukan adalah dengan mengubah sistem pemungutan pajak official assessment menjadi self assessment. Dalam sistem yang baru ini pemerintah memberi kepercayaan kepada setiap wajib pajak untuk melakukan kewajiban perpajakannya.
Kewajiban yang dimaksud adalah kewajiban wajib pajak untuk mendaftarkan dirinya untuk mendapat NPWP, mengambil dan mengisi sendiri formulir SPT, menghitung sendiri pajak terutang, serta membayar pajak tepat pada waktunya.Sementara pemerintah dalam hal ini aparat perpajakan bersikap pro aktif melakukan pembinaan, penelitian dan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan wajib pajak berdasarkan ketentuan undang-undang perpajakan.
Penegakan hukum pajak dengan tegas merupakan salah satu cara agar ketentuan hukum perpajakan dapat ditaati dan dipatuhi oleh wajib pajak. Dengan adanya ketegasan dalam hukum pajak diharapkan kepatuhan pajak muncul dari diri wajib pajak bukan atas dasar ancaman dan paksaan, tetapi disisi lain pemerintah juga memerlukan alat pemaksa dan sanksi yang bersifat menjerakan dan mendidik yang merupakan konsekuensi dari tindak pelanggaran hukum negara. Salah satu upaya paksa adalah berupa lembaga penyanderaan (gijzeling), sebagai terobosan untuk menjerat wajib pajak yang membandel.
Lembaga sandera atau gijzeling dipergunakan oleh pemerintah sebagai salah satu upaya setelah tahapan sebelumnya dijalankan tidak terpenuhi. Tahapan tersebut adalah; tindakan penagihan pajak yang mempunyai kekuatan hukum yang memaksa, berupa serangkaian tindakan agar wajib pajak / penanggung pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan cara menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan pokok dalam penulisan Paper ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peranan lembaga gijzeling terhadap peningkatan penerimaan pajak negara? 2. Bagaimana proses penyelesaian sengketa pajak dengan gijzeling?
C. Tujuan
Tujuan penulisan yang digunakan dalam penulisan paper mengenai Gijzeling Upaya Optimalisasi Penerimaan Negara Sektor Pajak, adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui peran lembaga gijzeling terhadap peningkatan penerimaan pajak negara.
BAB II
GAMBARAN UMUM
GIJZELING
A. Pengertian dan Dasar Hukum
Setiap penegakan hukum harus memenuhi unsur kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan. Gijzeling merupakan salah satu upaya yang dikenal dalam proses penegakan hukum, sehingga harus memperhatikan unsur-unsur penegakan hukum. Penegakan hukum melalui penyanderaan di bidang hukum perdata diatur dalam Perma No. 1 Tahun 2000 tanggal 30 Juni tahun 2000 tentang Lembaga Paksa Badan. Ada dua hal yang penting dalam Perma No. 1 Tahun 2000 ini, yaitu:
1. Gijzeling sebagai suatu alat paksa eksekusi yang secara psikis diberlakukan terhadap debitur untuk melunasi hutang pokok
2. Gijzeling sebagai upaya paksa tidak langsung dengan memasukkan seorang debitur nakal ke dalam rumah tahanan negara yang ditetapkan pengadilan. Debitur nakal dimaksud adalah penjamin utang yang dapat diperluas penunggak pajak yang mampu tetapi tidak mau membayar utangnya.
Penegakan hukum melalui gijzeling di bidang perpajakan dapat dilihat di Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa yang merupakan dasar hukum pelaksanaan sandera bagi wajib pajak atau penanggung npajak yang tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar pajak. Dalam Pasal 1 angka 21 UU Nomor 19 Tahun 2000 dinyatakan bahwa Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan Penanggung Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu. Pasal ini memuat rumusan mengenai pengertian istilah yang bersifat teknis dan baku yang digunakan dalam pelaksanaan penyanderaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga sandera ini di atur dalam :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 137 Tahun 2000 tentang Tempat dan Tata Cara Penyanderaan, Rehabilitasi Nama Baik Penanggung Pajak dan Pemberian Ganti Rugi dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa;
3. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-218/ PJ/ 2003 tanggal 30 Juli 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyanderaan dan Pemberian Rehabilitasi Nama Baik Penanggung Pajak yang disandera.
B. Pelaksanaan Gijzeling
Penyanderaan merupakan salah satu bentuk upaya penagihan pajak. Agar penyanderaan tidak dilaksanakan sewenang-wenang dan juga tidak bertentangan dengan rasa keadilan, maka diberikan syarat-syarat tertentu. Penyanderaan hanya dapat dilakukan apabila Wajib Pajak memenuhi syarat kuantitatif dan syarat kualitatif untuk dilakukan penyanderaan sesuai dengan ketentuan Undang-undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
Syarat kuantitatif dan kualitatif yang harus dipenuhi seorang wajib pajak agar dapat dilakukan penyanderaan sebagai berikut:
1. Syarat kuantitatif dilaksanakannya penyanderaan adalah Penanggung Pajak mempunyai utang pajak sekurang-kurangnya Rp.100.000.000,00 yang meliputi semua jenis pajak dan tahun pajak. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penyanderaan tidak ditujukan kepada Wajib Pajak yang berpenghasilan kecil.
2. Syarat kualitatif dilaksanakannya penyanderaan adalah Penanggung Pajak diragukan itikad baiknya dalam melunasi utang pajak.
Berdasarkan Pasal 3 huruf d Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-218/PJ/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyanderaaan dan Pemberian Rehabilitasi Nama Baik Penanggung Pajak yang disandera, penjelasan mengenai adanya petunjuk bahwa Penanggung Pajak diragukan itikad baiknya dalam pelunasan utang pajak meliputi:
1. Penanggung Pajak tidak merespon himbauan untuk melunasii utang pajak
2. Penanggung Pajak tidak menjelaskan/tidak bersedia melunasi utang pajak baik sekaligus maupun angsuran
3. Penanggung Pajak tidak bersedia menyerahkan hartanya untuk melunasi utang pajak
5. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan, atau pekerjaan yang dilakukan di Indonesia
6. Penanggung Pajak akan membubarkan badan usahanya atau menggabungkan usahanya, atau memekarkan usahanya, atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau dikuasai, atau melakukan perubahan bentuk lainnya.
Penyanderaan hanya dapat dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan yang diterbitkan oleh pejabat setelah mendapatkan izin tertulis dari Menteri Keuangan untuk penagihan pajak pusat atau dari gubernur untuk penagihan pajak daerah. Pejabat yang berwenang untuk melaksanakan penyanderaan adalah jurusita pajak. Dalam pelaksanaan penyanderaan jurusita pajak harus menyampaikan Surat Perintah Penyanderaan langsung kepada Wajib pajak dan salinannya diserahkan kepada kepala tempat penyanderaan.Apabila dalam proses penyanderaan terdapat kesulitan maka jurusita pajak dapat meminta bantuan kepada pihak kepolisian atau kejaksaan.
Setelah melakukan penyanderaan, jurusita pajak membuat Brita Acara Penyanderaan yang dibuat pada saat Penanggung Pajak ditempatkan di tempat penyanderaan. Penanggung Pajak yang disandera ditempatkan di tempat tertentu sebagai tempat penyanderaan dengan syarat-syarat antara lain:
1. Tertutup dan terasing dari masyarakat 2. Mempunyai fasilitas terbatas
3. Mempunyai sitem pengamanan dan pengawasan yang memadai
Penanggung Pajak ditempatkan ditempat penyanderaan paling lama enam bulan terhitung sejak Penanggung Pajak ditempatkan dalam tempat penyanderaan dan dapat diperpanjang untuk selama-lamanya enam bulan. Selama dalam penyanderaan Penanggung Pajak berhak untuk:
1. Melakukan ibadah di tempat penyanderaan sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
5. Memperoleh bahan bacaan dan informasi lainnya atas biaya penanggung pajak yang disandera dan menerima kunjungan.
Adanya hak untuk menyampaikan keluhan dapat berupa pengajuan gugatan. Penanggung Pajak yang disandera dapat mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan penyanderaan hanya kepada pengadilan negeri. Pengajuan gugatan atas pelaksanaan penyanderaan hanya sebatas pada masalah prosedural ketika Jurusita Pajak melaksanakan penyanderaan.
Penanggung pajak dapat mengajukan perohonan rehabilitasi nama baik dan ganti rugi apabila gugatan Penanggung Pajak dikabulkan oleh Pengadilan Negeri dan putusan pengadilan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Rehabiulitasi nama baik dilaksanakan oleh pejabat dala bentuk satu kali pengumuman pada media cetak nasional. Besarnya ganti rugi yang diberikan pejabat kepada wajib pajak atau Penanggung Pajak adalah sebesar Rp100.000,00 setiap hari selama masa penyanderaan yang telah dijalankan.
Penanggung Pajak yang disandera akan dibebaskan apabila telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Utang pajak dan biaya penagihan pajak telah dibayar luans
2. Jangka waktu yang ditetapkan dalam Surat Perintah Penyanderaan telah dipenuhi 3. Berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap 4. Berdasarkan pertimbangan tertentu dari Menteri Keuangan atau gubernur
C. Hambatan Pelaksanaan Gijzeling
Gijzeling atau lembaga penyanderaan sudah lama diatur dalam hukum Indonesia, tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui secara jelas praktek dari gijzeling ini. Terdapat beberapa hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan gijzeling:
1. Belum tersedia tempat khusus untuk penyanderaan.
Dalam undang-undang perpajakan yang mengatur tentang sandera, belum ada ketentuan tentang penanganan para sandera dalam sebuah tempat tertentu. Sedangkan menurut surat keputusan Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM ditentukan bahwa sambil menunggu tempat khusus untuk penyanderaan dilakukan pada tempat tahanan.
Sistem hukum yang berlaku disuatu negara akan berjalan dengan efektif apabila terdapat budaya sadar hukum masyarakatnya. Apabila masyarakat mematuhi hukum tanpa kesadaran dari diri sendiri maka penegakkan hukum akan sia-sia. Sampai sekarang ini banyak anggota masyarakat yang dalam kehidupan sehari-hari, menghargai seseorang lebih didasarkan pada kekayaan yang dimiliki orang yang bersangkutan. Ini dapat diihat bahwa sebagian anggota masyarakat akan memberikan pelakuan yang berbeda terhadap seseorang dengan melihat kekayaanyang dimiliki. Aparat penegak pun sebagian berperilaku seperti itu.
3. Masih adanya Mafia Peradilan yang Memungkinkan untuk Melakukan Pendekatan-pendekatan.
Penegakan hukum adalah pelaksanaan konkrit hukun daam kehidupan masyarakat sehari-hari. Peradilan merupakan sebagai suatu macam penegakkan hukum karena aktivitasnya tidak terlepas dari hukum. Pengadilan menunjuk pada proses mengadili. Peradilan merupakan bagian penting dalam proses mengadii perkara, dimana hakim melakukan pemeriksaan terhadap peristiwa yang terjadi.
BAB III
GIJZELING
UPAYA OPTIMALISASI
PENERIMAAN NEGARA SEKTOR PAJAK
A. Faktor-Faktor Penyebab Diperlukannya Gijzeling 1. Gijzeling merupakan upaya penegakan hukum
Pajak merupakan iuran wajib rakyat yang dipungut secara memaksa, karena sifat memaksa itu pemungutan pajak harus didasarkan pada peraturan. Oleh sebab itu, tunduk kepada ketentuan hukum pajak yang berlandaskan norma-norma hukum, prinsip, dan asas hukum secara umum. Agar hukum bisa berjalan dengan efektif maka diperlukan suatu alat penegakan hukum. Alat penegakan yang dapat digunakan dalam upanya peningkatan penerimaan negara terutama sektor pajak adalah dengan gijzeling.
Dalam keseharian, tidak semua alat paksa dapat digunakan mengingat pelaksanaannya membutuhkan biaya serta konsekuensi lain yang timbul dalam pelaksanaannya. Begitu juga dalam penggunaan alat paksa gijzeling, hanya penanggung pajak yang memenuhi syarat yang dapat dikenakan sanksi ini. Sanksi dalam penegakkan hukum sangat diperlukan guna terlaksananya hukum itu sendiri di dalam masyarakat. Penagihan pajak yang dilakukan secara paksa tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan memperhatikan aspek keadilan dan kemanusiaan sehingga tidak dilakukan secara sewenang-wenang.
2. Gijzeling diharapkan Menciptakan Kesadaran pada Masyarakat
Rakyat dalam suatu negara mempunyai hak yang harus diperjuangkan dan memiliki kewajiban yang harus dilakukan. Dalam pelaksanaan kewajibannya seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu motif ytang sering mendasari seseorang melaksanakan kewajibannya adalah karena adanya dorongan perasaan takut akan mendapatkan sanksi bila tidak melaksanakan kewajiban. Berarti dapat ditarik kesimpulan masyarakat bukan karena kesadaran melainkan karena rasa takut atau keterpaksaan dalam melaksanakan kewajibannya. Hal ini juga berlaku pada pemenuhan kewajiban membayar pajak oleh para wajib pajak.
pajak yang memenuhi syarat, akan mendorong wajib pajak lain untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak karena meraka takut akan mengalami hal yang sama. Akan tetapi, jika penyanderaan tidak dilakukan lagi, mungkin tingkat kepatuhan wajib pajak akan menurun, bahkan sama sekali tidak patuh. Kepatuahan wajib pajak tidak akan meningkat secara otomatis jika pemerintah tidak mengimbanginya dengan peningkatan pelayanan umum dan perpajakan serta keadilan.
Dalam hal gijzeling, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah terkait dengan upaya menciptakan kesadaran untuk patuh melaksanakan kewajiban perpajakan adalah dengan menerapkan undang-undang dengan tegas. Dengan tersedianya ketentuan hukum mengenai gijzeling dan aturan pelaksananya, maka sudah saatnya bagi DJP untuk mengefektifkan lembaga penyanderaan. Penegakan hukum merupakan bagian penting untuk membentuk kesadaran atas pemenuhan kewajiban. Penegakan hukum akan berkorelasi positif terhadap penerimaan negara
3. Gijzeing Merupakan Upaya Terakhir Penagihan Pajak
gijzeling atau penyanderaan ialah penyitaan atas badan orang yang berutang pajak. Tindakan ini juga suatu penyitaan, tetapi bukan langsung atas kekayaan, melainkan secara tidak langsung, yaitu diri orang yang berutang pajak. Undang-Undang PPSP mengatur mengenai penagihan utang pajak kepada wajib pajak melalui upaya penegakan hukum. Salah satu alat paksa dalam UU PPSP adalah melalui penyanderaan (gijzeling).
Tujuan dilakukannya gijzeling adalah untuk mendorong kesadaran, dan pemahaman masyarakat bahwa pajak adalah sumber terbesar penerimaan negara dan pembangunan nasional, serta merupakan salah satu kewajiban kenegaraan, sehingga dengan penagihan pajak melalui surat paksa tersebut setiap anggota masyarakat wajib berperan aktif dalm melaksanakan sendiri kewajiban perpajakannya.
B. Pengaruh Gijzeling dalam Peningkatan Penerimaan Negara
Sektor pajak memegang peranan penting dalam perkembangan kesejahteraan masyarakat suatu negara karena pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang pada akhirnya dipergunakan untuk pembangunan dengan tujuan akhir kesejahteraan masyarakat sebesar-besarnya. Hal ini mendorong pemerintah untuk menciptakan suatu mekanisme yang dapat memberikan paksaan bagi para wajib pajak yang tidak meaksanakan kewajibannya. Salah satu alat pemaksa tersebut, yaitu gijzeling.
Gijzeling dalam rangka penagihan pajak saat ini tidak hanya diberlakukan di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Lembaga seperti ini juga diterapkan di negara Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia. Hakekat penyanderaan sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan-ketentuan pada dasarnya adalah pengekangan sementara waktu kebebasan penanggung pajak dengan menempatkan di rumah tahanan negara. Mengingat bahwa tindakan tersebut hampir sama diberlakukan kepada pelaku tindak pidana, maka penyanderaan yang dilakukan terhadap wajib pajak/penanggung pajak ini dilaksanakan secara hati-hati dan sangat selektif.
Sistem pajak akan dinilai dari besar kecilnya penerimaan uang pajak ke kas negara, baik yang dibayarkan secara sukarela maupun yang dipungut oleh petugas pajak karena banyak Wajib Pajak yang tidak patuh dalam membayar pajak, meskipun pemerintah teah memberikan kelonggaran dengan memberikan peringatan terlebih dahulu, namun wajib pajak terkadang tetap saja lalai untuk membayar pajak. Berdasarkan data yang telah didapatkan dari beberapa sumber, (dapat dilihat pada tabel) kebijakan gijzeling dianggap cukup ampuh dalam rangka meningkatkan penerimaan negara, walaupun kewajiban perpajakan dari wajib pajak belum dibayar seluruhnya, teteapi sesuai dengan ketentuan pelepasan sandera yang telah membayar prosentase teretentu harus diikuti dengan pelunasan hutang pajak.
Tahun Triwulan Penagihan dg Surat Paksa Pelunasan Tunggakan
2009 I 83,272,289 179,367,277
II 7,045,387,614 82,545,213
III 1,142,198,411 21,608,535
IV 793,839,698 327,430,171
BAB IV
KESIMPULAN
Gijzeling mempunyai berbagai definisi dari berbagai sudut pandah. Salah satu definisi yang cukup menggambarkan gijzeling yang diterapkan di Indonesia adalah penyitaan atas badan orang yang berutang pajak. Tindakan ini juga suatu penyitaan, tetapi bukan langsung atas kekayaan, melainkan secara tidak langsung, yaitu diri orang yang berutang pajak. Latar belakang penerapan gijzeling adalah didasarkan pada kenyataan bahwa negara kerap kali kesulitan dalam proses pemungutan pajak karena banyak wajib pajak yang tidak patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Meskipun sudah ditetapkan payung hukumnya dengan jelas, namun pelaksanaannya masih dirasa kurang efektif. Terdapat beberapa faktor yang menghambat pelaksanaan gijzeling
di Indonesia seperti belum adanya tempat khusus untuk penyanderaan, adanya faktor budaya atas kurang tegasnya aparat perpajakan, masih terdapat mafia peradilan yang memungkinkan untuk melakukan pendekatan-pendekatan. Pemerintah sangat mengandalkan penerimaan Negara dari sektor pajak sebagai alat yang digunakan untuk mendanai pengeluaran-pengeluaran pemerintah pusat. Maka supaya target penerimaan pajak tercapai aparat pajak harus berani bertindak tegas dengan memanfaatkan adanya lembaga sandera ini.
DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Pemerintah No. 137 Tahun 2000 Tentang Tempat Dan Tata Cara
Penyanderaan, Rehabilitasi Nama Baik Penanggung Pajak, Dan Pemberian Ganti Rugi Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa
Sulistyo, Budi(2015).Menggenjot Penerimaan Pajak melalui Gijzeling.from http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/menggenjot-penerimaan-pajak-melalui-gijzeling.13 April 2015.
Tobing, C Ganda, dkk.(2015).Gijzeling:Akankah Memberi Efek Jera dan Mendorong Kepatuhan?.from
http://dannydarussalam.com/wp-content/uploads/2015/02/InsideHEADLINE_28_SECURED.pdf.11 April 2015.
Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000, Pasal 33 ayat (1)
Wahyumurti, Mulyatsih.2005.Pengaruh Lembaga Sandera Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak.Program Magister Kenotariatan.Universitas Diponegoro.Semarang