• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM RASKIN BERAS MISKIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM RASKIN BERAS MISKIN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PROGRAM RASKIN (BERAS MISKIN) DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MISKIN

OLEH:

MICHAEL C. KAUNANG

ABSTARKSI

Raskin adalah salah satu program pemerintah untuk membantu masyarakat yang miskin dan rawan pangan, agar mereka mendapatkan beras untuk kebutuhan rumah tangganya. Program raskin tersebut merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan termasuk dalam Kluster I tentang Bantuan dan Perlindungan Sosial. Instruksi presiden Nomor 8 tahun 2008 tentang kebijakan perberasan mengintruksikan Menteri dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen tertentu, serta Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melakukan upaya peningkatan pendapatan petani, ketahanan pangan, pengembangan ekonomi pedesaan serta stabilitas ekonomi nasional.

Tujuan dalam penelitian ini adalah dalam rangka pengawasan terhadap masyarakat dalam hal ini keluarga dan perseorangan agar dapat berdaya guna dengan adanya program RASKIN, agar masalah kemiskinan di Kota Manado dapat menurun lebih khusus di Kelurahan Winangun satu.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Implementasi Program raskin di kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 unsur kepentingan dalam implementasi ini adalah melalui isu strategis pengentasan kemiskinan. Secara politikalnya mengacu pada visi dan misi Kota Manado, tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.

Kata Kunci : Implementasi Program RASKIN, Implementasi, Pemerintah Kelurahan.

1. PENDAHULUAN

Program Raskin (Program Penyaluran Beras Untuk Keluarga Miskin) adalah sebuah program dari pemerintah. Program ini dilaksanakan di bawah tanggung jawab Departemen Dalam Negeri dan Perum Bulog sesuai dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri Dalam Negeri dengan Direktur Utama Perum Bulog Nomor : 25 Tahun 2003 dan Nomor : PKK-12/07/2003, yang melibatkan instansi terkait, Pemerintah Daerah dan masyarakat.

(2)

tersebut jelas berdampak pada naiknya harga bahan pangan (sembilan bahan pokok), salah satunya beras.

Program Raskin ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran dari rumah tangga miskin sebagai bentuk dukungan dalam meningkatkan ketahanan pangan dengan memberikan perlindungan sosial beras murah dengan jumlah maksimal 15 Kg/rumah tangga miskin/bulan dengan masing-masing seharga Rp. 1600,00/Kg (Netto) di titik distribusi. Program ini mencakup di seluruh provinsi, sementara tanggung jawab dari distribusi beras dari gudang sampai ke titik distribusi di pegang oleh Perum Bulog (www.digilib.itb.ac.id). Sasaran dari Program Raskin ini adalah meningkatkan akses pangan kepada keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam rangka menguatkan ketahanan pangan rumah tangga dan mencegah penurunan konsumsi energi dan protein. Dalam memenuhi kebutuhan pangan tersebut, Program Raskin perlu dilaksanakan agar masyarakat miskin benar-benar bisa merasakan manfaatnya, yakni dapat membeli beras berkualitas baik dengan harga terjangkau. Sebagai Daerah dengan jumlah penduduk miskin yang masih tergolong tinggi, Kelurahan Winangun I, Kota Manado termasuk daerah yang menjadi target penyaluran Raskin.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peniliti mengambil rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, Bagaimanakah implementasi program RASKIN (Beras Miskin) dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di Kelurahan Winangun 1?

2. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisa kualitatif. Peneliti akan mencoba menggambarkan secara umum program-program pemerintah dalam menanggulangi masalah kemiskinan, serta lebih khusus mencoba menggambarkan implementasi program dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di Kelurahan Winangun 1, Kecamatan Malalayang.

B. Lokasi Penelitian

(3)

Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri, sebagai mahasiswa tingkat akhir program studi Ilmu Pemerintahan. Namun setelah fokus penelitian menjadi jelas mungkin akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana lainnya, yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang lebih mendalam untuk melengkapi hasil penelitian.

D. Informan Pemerintah

Victor Karundeng (Lurah Winangun 1)

Martinus Genohong (Staf Pelayan Kantor Kelurahan Winangun 1) Albert Tambuwun (Kepala Lingkungan VI Kelurahan Winangun 1) Eddy Tumbel (Kepala Lingkungan II Kelurahan Winangun 1)

Masyarakat

James Tampi (Ketua RT 02 Lingk. VI Kel. Winangun 1) Lili Saroinsong (Warga Lingk. V Kel. Winangun 1) Meyti Mende (Warga Lingk. V Kel. Winangun 1) Slamet Junaidy (Warga Lingk. VI Kel. Winangun 1) Sari En (Warga Lingk. I Kel. Winangun 1)

Meity Rumende (Warga Lingk. VI Kel. Winangun 1) E. Teknik Analisis Data

Analisi data yang digunakan adalah deskriptif narasi. Cara ini menurut Miles dan Hubermen (dalam bukunya Satori dan Komariah, Metodelogi Penelitian Kualitatif (2009:238) diterapkan melalui tiga alur, yaitu : 1. Reduksi data, 2. Penyajian Data, 3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi.

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Implementasi RASKIN di Kelurahan Winangun Satu

Implementasi Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 dipengaruhi oleh :

(4)

Kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi Menurut Lurah Winangun I ..., kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi Kelurahan Winangun I tahun 2013 adalah : “Secara political mengacu pada isu strategis pengentasan kemiskinan melalui visi dan misi Kota Manado yaitu tentang kesejahteraan rakyat, dengan digulirkannya program-program pemerintah, untuk pengentasan kemiskinan, salah satunya adalah Program Beras Miskin, agar kesejahateraan warga miskin dapat terangkat. Implementasi Program Raskin yang dikejar bukan kepentingan, karena yang dikejar kepentingan akan ada kesenjangan-kesenjangan antara tujuan Program Raskin daengan Stakeholder di pemerintahan”. Implementasi adalah pelaksanaan teknis di lapangan. Teori di lapangan RTS-PM mendapat 15 kg. tetapi dikarenakan jumlah RTS-RTS-PM lebih banyak dari kuota ada kebijakan lain berdasarkan musyawarah masyarakat di kelurahan Winangun I RTS-PM hanya mendapat 13 kg itu untuk kesejahteraan masyarakat kelurahan Winangun I bukan kepentingan camat.

Bahwa kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi implementasi Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 secara politikal di lapangan adalah melalui isu strategis pengentasan kemiskinan yang bertujuan mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok yaitu beras melalui pendistribusian beras bersubsidi sebanak 156 Kg/RTS per tahun atau setara dengan 15 kg per RTS per bulan dengan harga tebus Rp. 1600 per kilogram netto di titik distribusi Camat dan Lurah tidak mempunyai kepentingan apapun dalam penyaluran beras Raskin.

b. Tipe Manfaat

(5)

Warga RW 02 Kp. Jambore Bawah merasa terbantu dengan digulirkannya Program Raskin tersebut, karena beban RTSPM Kp. Jambore Bawah berkurang, meskipun jatah Raskinnya hanya turun 1 bulan sekali. Mata pencaharian masyarakat di RW 02 yang mayoritas pekerja harian tidak bisa mendapatkan penghasilan yang tetap. Oleh karena itu jika sepi pekerjaan masyarakat RW 02 kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya, dan yang mendapat Raskin di RW 02 Kp. Jambore Bawah adalah orang-orang yang sudah lanjut usia.

c. Derajat Perubahan yang ingin dicapai oleh Pemerintah

Menurut Lurah Winangun I , dengan digulirkannya Program Raskin ke daerah- daerah derajat perubahan apa yang ingin dicapai oleh pemerintah. Digulirkannya Program Raskin ini pemerintah mengharapkan masyarakat miskin, petani dalam negeri khususnya di sektor pertanian dapat lebih sejahtera dan meningkat. Jika sektor pertanian meningkat maka ekonomi pedesaan berkembang dan stabilitas ekonomi nasional akan naik.

RW dan RT di Kp. Jambore Atas memberikan kebijakan dengan berdasarkan hasil musyawarah dengan RTM yang mempunyai kartu Raskin agar membagi Raskin tersebut dengan Rumah Tangga Miskin yang tidak menerima kartu. Pada tahun 2013 RW 06 Kp. Jambore atas sudah melunasi Raskinnya.

Bahwa RTSPPM RW 06 Kp. Jambore Bawah tersebut sangat mengharapkan Raskin ini tiap bulan bisa turun, karena dengan adanya Raskin mereka tidak perlu membeli beras tiap hari. Menurut Warga Lingk. V Laurens adalah sebagai berikut : “Dengan adanya Raskin, kesejahteraan RTSPM bertambah, diharapkan Raskin ini turunnya 1 minggu sekali. Beras

yang didistribusikan harus beras yang bagus”..

RTSPM LINGKUNGAN 05 Kp. Jambore Atas mempunyai keinginan yang sama dengan RTSPM RW 06 Kp. Jambore Bawah yang mengharapkan Raskin tersebut pendistribusiannya lancar secepat-cepatnya minimal 1 minggu sekali Raskin tersebut bisa didistribusikan kepada masyarakat.

d. Letak Pengambilan Keputusan

(6)

Kota Manado adalah Melakukan pembinaan terhadap aparatur pemerintah mulai dari tingkat kelurahan sampai ke tingkat RT, membuat teguran kepada kepala-kepala lingkungan, evaluasi dan monitoring terhadap realisasi penyetoran Raskin. Bahwa lurah sudah bertindak tegas agar kelurahan Winangun I lebih meningkatkan kinerjanya selaku Pelaksana Distribusi karena lurah adalah penanggung jawab pendistribusian Raskin di wilayah kelurahan Winangun I, selain itu lurah bertanggung jawab dalam penyelesaian pembayaran Harga Pokok Beras (HPB) serta administrasi distribusi Raskin. Jika terjadi kemacetan pembayaran Raskin lurah harus cek ke lapangan dimana pembayaran yang susah dan Camat Manado sudah memerintahkan Lurah Winangun I untuk membicarakan hal ini dengan Forum RW di Kelurahan Winangun I, agar titik permasalahan macetnya pembayaran Raskin bisa ditemukan, dan dihasilkan solusi yang baik. Jika ada RW yang tidak jujur menyetorkan uang pembayaran Raskin nya agar bisa diganti oleh yang lain.

e. Pelaksana Program

Siapa saja yang melaksanakan Program Raskin di tingkat Kota Manado sampai dengan tingkat kelurahan Winangun I.

Menurut Staf Pelayanan, yang melaksanakan Program Raskin di tingkat Kota Manado sampai dengan tingkat Kelurahan Winangun I adalah Untuk tingkat Kabupaten Pelaksanaannya adalah Tim Koordinasi Raskin Kabupaten Manado yaitu bagian Administrasi, perekonomian Setda Kabupaten Manado, Tingkat Kecamatan Malalayang, Pelaksana Programnya adalah Tim Koordinasi Raskin Kecamatan Malalayang melalui Bagian Kesos Kecamatan manado. Sedangkan untuk tingkat kelurahan dikelola oleh Kelurahan Winangun I selaku Pelaksana Pendistribusian Raskin di wilayah Kelurahan Winangun I di bawah naungan Kasi Kesos kelurahan Winangun I Beras Raskin tersebut diterima dari Satuan Kerja Raskin yang bertanggung jawab kepada Perum Bulog Divisi Regional I Rangkas Bitung.

(7)

Program di tingkat kelurahan Winangun I adalah Lurah, staf pelayanan Kelurahan Winangun I serta RT dan RW sekelurahan Winangun I, karena kelurahan Winangun I merupakan pelaksana distribusi.

Bahwa kelurahan Winangun I selaku pelaksana distribusi di tingkat kelurahan mempunyai wewenang untuk mendistribusikan Raskin kepada RTSPM, dan pembayaran Raskin serta administrasinya merupakan tanggung jawab Lurah sepenuhnya, bila mana terjadi keterlambatan pembayaran Raskin seperti sekarang, seharusnya lurah Winangun I mengadakan rapat intern dan mempertanyakan setoran dari tiap-tiap RT, dari situ akan terlihat RW dan RT mana saja yang belum melunasi pembayarannya.

Kemudian masalah pembayaran Raskin oleh warga sejumlah 2000, padahal yang semestinya 1600. “jadi ini sangat memberatkan masyarakat, tapi karena mungkin buntu biaya transportasi jadi kami membayarnya. Kata Jemes, seorang warga.

Kalau yang belum bayar Raskin tanggulangi dulu oleh Kepala Lingkungan (Pala) masing-masing. Kenapa bisa terjadi pembayaran yang macet, kalau di tiap-tiap RW sudah menyetorkan uang pembayaran Raskin lalu mengapa kelurahan Winangun I belum bisa menyelesaikannya tunggakannya.

Wajar jika RTSPM tidak lancar dalam melakukan pembayaran Raskinnya, karena bagi masyarakat miskin uang sebesar Rp. 20.800 untuk membayar beras Raskin sebanyak 15 kg pun kalau belum ada mereka bingung harus membayar dengan apa. Sementara mereka membutuhkan beras Raskin tersebut. Di sebagian kelurahan masih ada Ketua RW yang mau menanggulangi pembayaran Raskin untuk RTSPM diwilayahnya tapi di sebagian RW lagi belum bisa. Kepala Lingkungan yang sering menanggulangi dulu pembayaran Raskin untuk RTSPMnya adalah Kepala Lingkungan 05 Kp. Jambore Atas. Kemudian harga yang seharusnya 1600 per kg, warga harus membayar 2000 per kg, dikarenakan untuk tambahan biaya transportasi dan lain sebagainya. Penambahan ini sebagian warga menerimanya, sebagian warga mengeluhkannya.

(8)

sebesar Rp. 1. 600 per kilogram, sedangkan faktor eksternalnya adalah kondisi dan teknis di lapangan masih rendahnya ekonomi RTSPM.

f. Sumberdaya yang digunakan

Sumberdaya aparatur pemerintah sangat menentukan sukses dan tidaknya suatu kebijakan. Aparatur kelurahan harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap Program Pemerintah/Raskin yang bersentuhan langsung dengan masyrakat ini. Sebagai pelaksana distribusi kelurahan harus memilih aparatur-aparatur yang memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi dan mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya, karena implementasi Raskin ini adalah merupakan Program dari Pemerintah Pusat untuk warga miskin yang membutuhkan beras bersubsidi.

Menurut Lurah Sumberdaya aparatur kelurahan Winangun I cukup baik, hanya masyarakatnya yang belum mampu, karena kami tidak menargetkan jumlah, tapi kami lebih menitik beratkan pada sasaran. Berapa sasaran RTS-PM yang sudah menerima Raskin, karena kami ingin tepat sasaran, Raskin ini benar-benar hanya dibeli oleh RTSPM, bukan kepada pihak lain yang ingin mengambil keuntungan.

Kelurahan Winangun I bertujuan baik, ingin benar-benar memberikan Raskinnya hanya untuk RTSPM yang benar-benar membutuhkan. Tetapi segi pembayaran juga harus diupayakan lancar, karena jika pembayaran sering terlambat, maka pendistribusian Raskinnya terlambat juga, pihak Sub Dolog Sub Divre I tidak bisa mengirimkan Raskin ke Kelurahan Winangun I sebelum pembayarannya dilunasi. Jika Raskin di Kelurahan Winangun I sering telat Pendistribusiannya maka yang dirugikan adalah warga miskin di kelurahan Winangun I sendiri.

2. Lingkungan Kebijakan (Contex of Policy)

a. Kekuasaan, kepentingan-kepentingan dan strategi dari aktor yang terlibat.

(9)

dalam seluruh proses kebijakan, dengan demikian evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalah-masalah kebijaksanaan, program-program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi maupun tahap dampak kebijakan.

Strategi apa yang dilakukan oleh Lurah Winangun I agar kelurahan Winangun I dapat mengatasi keterlamabatan pembayaran Raskinnya, agar pendistribusian Raskin di kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado lancar.

Alangkah baiknya jika yang menyimpan, dan memegang uang Raskin adalah orang yang jujur, amanah dan bisa dipercaya. Untuk menghindari hal-hal yang dapat merugikan kelurahan dan RTSPM khususnya. Dialog dengan RT/RW dan masyarakat di lingkungan kelurahan Winangun I bisa membuka jalan untuk mengetahui permasalahan-permasalahan apa saja yang ditemukan dilapangan dalam implementasi Beras Miskin di wilayah Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado.

b. Karakteristik Lembaga dan Rezim yang berkuasa

Bagaimana karakteristik kelurahan Winangun I sehingga pembayaran Raskin di Kelurahan Winangun I terlambat. “Aparatur kelurahan masih lemah dalam melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan program pemerintah/Raskin.” (Wawancara dengan james tampi, ketua RT 02, lingk. VI)

Tentang karakteristik masyarakat Kelurahan Winangun I adalah : “Antusias masyararakat terhadap Raskin yang digulirkan Pemerintah di Kelurahan Winangun Icukup bagus”

Seharusnya sebagai pengambil keputusan, seorang pimpinan harus tegas dalam mengambil keputusan, mengontrol setiap program yang sedang berjalan dan tegas menerapkan peraturan kepada aparatur di lingkungan kerjanya.

c. Tingkat Kepatuhan dan Adanya Respon dari Pelaksana

Bagaimana tingkat kepatuhan dan respon aparatur kelurahan Winangun I dalam pelaksanaan program Raskin di wilayah Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado pada tahun 2013, serta faktor pendukung dan penghambat program Raskin di Kelurahan Winangun I Kecamatan Manado Kota Manado tahun 2013.

(10)

dikonsumsi. Perum Bulog harus mementingkan kesejahteraan masyarakat juga, tidak hanya mementingkan keuntungan perusahaannya.

Dari hasil akhir penelitian tersebut kita dapat melihat kembali teori yang dikemukakan oleh Merilee S. Grindle dalam Agustino (2006:154) yang menyatakan bahwa : “Pengukuran keberhasilan implementasi dapat dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan apakah pelaksanaan program sesuai dengan yang telah ditentukan, yaitu melihat pada action program dari individu projects dan yang kedua apakah tujuan program tersebut tercapai”.

Dari teori yang dikemukakan oleh Grindle tersebut peneliti dapat menjelaskan mengenai implementasi Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Winangun I Kecamatan Manado Kota Manado tahun 2013, dimana dalam teori tersebut indikator yang terpenting dalam melihat keberhasilan dari suatu kebijakan tersebut adalah dengan melihat bagaimana proses implementasi tersebut, begitu juga dalam Implementasi Program Raskin di Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 harus melihat bagaimana proses implementasi tersebut, apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan program/aturan yang telah ditentukan.

Selain itu Grindle juga dalam Agustino (2006:168) menyatakan bahwa keberhasilan implementasi dari suatu kebijakan amat ditentukan oleh tingkat implementasi itu sendiri, yang terdiri dari content of policy (Isi Kebijakan) dan Context of Policy (lingkungan kebijakan).

(11)

manfaat, derajat perubahan yang dicapai menurut peneliti sudah sesuai, dan dapat dijadikan pendukung dalam suatu kebijakan untuk diimplementasikan, hanya saja untuk indikator letak pengambilan keputusan, sumber daya yang digunakan strategi dari aktor yang terlibat, karakteristik lembaga dan rezim yang berkuasa, serta tingkat kepatuhan dan respon dari pelaksana menurut penulis belum cukup mendukung terhadap implementasi tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian, Implementasi Program raskin di kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 unsur kepentingan dalam implementasi ini adalah melalui isu strategis pengentasan kemiskinan. Secara politikalnya mengacu pada visi dan misi Kota Manado, tujuannya adalah kesejahteraan rakyat. Indikator tipe manfaat sudah sesuai dan dapat dijadikan pendukung dalam implementasi karena program Raskin ini sangat dirasakan manfaatnya oleh RTSPM di Kelurahan Winangun I dengan digulirkannya Program raskin ini ada perubahan yang dirasakan oleh Rumah Tangga Miskin, yaitu kesejahteraan mereka terbantu, sedangkan untuk indikator yang lain hanya RTSPM LINGKUNGAN 2 Lembah sari yang belum merasakan kesejahteraan dari Program Raskin tersebut, berdasarkan wawancara dengan masyarakt winangun 1 yaitu letak pengambilan keputusan Kelurahan Winangun I dinilai masih lemah dalam mengambil keputusan. Begitu juga mengenai sumber daya yang digunakan, aparatur Kelurahan Winangun I tidak taat peraturan dalam menjalankan tugasnya selaku Pelaksana Distribusi Raskin, Kelurahan Winangun I belum mengupayakan strategi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pembayaran dari RTSPM-nya, untuk indikator karakteristik lembaga dan rezim yang berkuasa kelurahan Winangun I masih lemah dalam menegakan fungsi kontrol terhadap Pelaksanaan Program Pemerintah, tidak tegas dan lemah dalam menerapkan aturan kepada aparatur dikelurahan Winangun I sampai ke tingkat RT. Dan untuk indikator tingkat kepatuhan dan respon dari pelaksanaan menurut wawancara dengan lurahnya cukup baik.

(12)

Implementasi Program Raskin di Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 pada dasarnya baik isi maupun dari lingkungan kebijakan itu sendiri beberapa indikator sudah cukup mendukung tapi ada beberapa indikator yang belum mendukung, sehingga beberapa indikator yang kurang mendukung tersebut menjadi penghambat bagi kelancaran implementasi tersebut. Dimana implementasi program raskin di kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 belum berjalan seperti yang diharapkan.

4. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Implementasi Program Beras Miskin (Raskin) di Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado tahun 2013 belum berjalan dengan baik seperti yang diharapkan, karena pendistribusian Raskin di Kelurahan Winangun I tahun 2013 terlambat. Hal ini disebabkan karena pembayaran Beras Miskin dari Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) kepada Pihak Kelurahan Winangun I tersendat. Kemudian masalah harga Raskin yang ditambah oleh pelaksana.

2. Partisipasi masyarakat RTS-PM untuk mengambil Beras Miskin cukup tinggi. Faktor ekonomi Masyarakat Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang Kota Manado masih rendah, dan RTS-PM tersebut berasal dari kalangan bawah.

Sistim kolektif yang belum maksimal. Pembentukan tim yang belum berkompeten belum bekerja sesuai harapan. Ada sebagian dari RTS-PM yang kesadaran untuk membayar Raskin nya masih rendah. Biaya operasional Raskin belum maksimal dan masih ditemukannya beras Raskin dengan kualitas rendah. Sumber daya aparatur di Kelurahan Winangun I belum maksimal. Fungsi kontrol terhadap pelaksanaan Program Raskin masih lemah. Menegakan aturan kepada Aparatur di Kelurahan Winangun I sampai ke tingkat RT tidak tegas. Masih ditemukannya Beras Miskin (Raskin) dengan kualitas rendah, beras Raskin tersebut berbau, berkutu dan berwarna kuning.

(13)
(14)

2. Jika Raskin yang didistribusikan oleh Perum Bulog adalah beras yang tidak layak, bisa dikirimkan kembali kepada pihak Bulog untuk diganti dengan beras yang layak untuk dikonsumsi oleh RTS-PM ini sesuai dengan peraturan dari Menko Kesra yang dituangkan dalam Buku Petunjuk dan Teknis Raskin tahun 2013. Begitu juga dengan aparatur kelurahan ada baiknya mengikuti pelatihan cara-cara penyaluran RASKIN yang di adakan oleh pemerintah terkait, agar tidak lagi terjadi penyimpangan atau kesalahan-kesalahn dalam peng implementasian RASKIN ke masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab, Solihin. 2005. Analisis Kebijaksanaan, Dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta : Bumi Aksara

Agustino, Leo. 2006. Politik Dan Kebijakan Publik. Bandung : Aldi Bandung – Pusat KPEW Lemit UNPAD.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Edward III, George C (edited), 1984, Public Policy Implementing, Jai Press Inc, London-England.

Endi, Haryono dan Sapto, Ilkodar. 2005. Menulis Skripsi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Faisal, Sanafiah. 2007. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta : Rajawali Grapindo Persada.

Grindle, Merilee S. 1980. Politics and Policy Implementation in The Third World, Princnton University Press, New Jersey.

Islamy, Irfan. 2007. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta : Bumi Aksara Kountur, Ronny. 2007. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi Dan Tesis. Jakarta : PPM Strauss, Anselm dan Corbin Juliet. 2007. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik, Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

(15)

Umar, Husein. 2004. Metode Penelitian Untuk Skripsi Dan Tesis Bisnis. Jakarta: Grafindo Persada.

Wahab, Solichin A. 1991. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan, Bumi Aksara Jakarta.Wibawa, Samodra. KebijakanPublik, Intermedia Jakarta

Sumber-sumber lain :

Biro Pusat Statistik (BPS), 2009. Kemiskinan Di Indonesia.

Buku Petunjuk Teknis Raskin Tahun 2013 dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Repbulik Indonesia.

Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah (LAKIP) Kelurahan Winangun I Tahun 2013

Buku Monografi Kelurahan Winangun I Tahun 2013.

Intruksi Presiden No. 8 tahun 2008. Tentang Kebijakan Perberasan Nasional.

Keputusan Menko Kesra No. 35 tahun 2008. Tentang Tim Koordinasi Raskin Pusat.

Peraturan Presiden RI No. 13 tahun 2009. Tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 2002. Tentang Ketahanan Pangan.

Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2003. Tentang Pendirian Perusahaan Umum Bulog. Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang No. 7 tahun 1996 Tentang Pangan.

Referensi

Dokumen terkait

Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersbut... ADAPTASI TERHADAF

yang membeli adalah Karyawan Laki-laki 10% 54,54% Berdasarkan nilai confidence yang telah ditemukan untuk masing-masing rule asosiasi seperti pada tabel 4.9 maka dapat

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kinerja PMO dengan keteraturan berobat dan kepatuhan minum obat pasien TB paru menggunakan

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PENUNJUKAN TIM KEGIATAN ON THE JOB TRAINING BAGI PENELAAH KEBERATAN YANG DIANGKAT BERDASARKAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK PERIODE

Perencanaan Proses Belajar Menagajr dengan Menggunakan KIT IPA SD Pada Siswa Kelas IV.. Perencanan

Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian gambaran uji cukit ( skin prick test ) alergen ingestan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Guru Fikih, sebagai pedoman agar dapat mengimplementasikan pembelajaran berbasis media gambar dalam meningkatkan hasil belajar fikih siswa dengan media dan metode yang

Fokus penelitian pada penelitian ini yaitu pada sistem akuntansi pembelian dan pengeluaran kas yang meliputi fungsi terkait, dokumen dan catatan yang digunakan, prosedur yang