Daftar Isi
Daftar Isi ... i
Abstrak ... ii
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Praktikum ... 2
1.4 Manfaat Praktikum ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 3
2.1 Pemilihan Bahan Aktif ... 10
2.2 Bahan Aktif Terpilih ... 12
2.3 Pemilihan Bentuk Sediaan ... 13
2.4 Persyaratan Mutu ... 14
2.5 Pemilihan Bahan Tambahan ... 15
BAB III. KERANGKA KONSEPTUAL ... 17
BAB IV. METODE PENELITIAN 4.1 Alat dan Bahan ... 20
4.2 Kerangka Operasional ... 21
4.3 Metode Kerja... 22
BAB V. HASIL EVALUASI DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Uji Sediaan ... 29
5.2 Hasil Evaluasi ... 30
5.2 Pembahasan ... 34
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... iii
DAFTAR PUSTAKA ... iv
Abstrak
Trimoxan merupakan sediaan oral suspensi rasa frambose untuk mengatasi infeksi/peradangan dari meninges (meningitis) yang disebabkan oleh bakteri. Trimoxan mengandung bahan aktif Cotrimoxazol yang terdiri dari Sulfametoxazol dan Trimetoprim. Tiap 5 ml Trimoxan mengandung 400 mg Sulfametoxazol dan 80 mg Trimetoprim. Trimoxan mampu mengatasi bakteri-bakteri penyebab meningitis, diantaranya Streptococcus pneumonia, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes, dan Flavobacterium meningosepticum.
Dalam formulasi sediaan Trimoxan digunakan bahan tambahan seperti sorbitol dan propilenglikol masing-masing sebagai pembasah dan pelarut, nipagin sebagai pengawet, NaH2PO4 dan Na2HPO4 sebagai dapar, sukrosa sebagai pemanis, strawberry red sebagai pewarna, frambose essence sebagai penambah aroma, dan air sebagai pelarut. Sulfametoksazol yang bersifat praktis tidak larut dalam air beserta dengan Trimetoprim yang bersifat sangat sukar larut dalam air perlu dibasahi dengan sorbitol dalam proses pembuatannya. Sebangai suspending agent digunakan CMC Na sebanyak 1% yang ditaburkan diatas air panas sampai mengembang. Campuran Sulfametoksazol dan Trimetoprim yang sudah dibasahi dengan sorbitol dicampur dengan CMC Na sedikit demi sedikit. Kemudian dicampur dengan nipagin yang dilarutkan dalam propilenglikol (kelarutan 1:5) dan sukrosa yang dilarutkan dalam air panas, ditambahkan dapar, pewarna dan essence frambose.
Semua bahan ini dibuat dalam volume 150 ml dengan 60 ml untuk kemasan dan sisanya untuk evaluasi. Dosis yang digunakan untuk anak umur 1-5 tahun sehari 2 x ½takaran, untuk anak umur
6-10 tahun sehari 2 x 1 takaran, untuk anak umur 11-13 tahun sehari 2 x 1½ takaran, untuk anak umur 14 tahun keatas sehari 2 x 2 takaran. Berdasarkan formula tersebut, dihasilkan suspensi oral berwarna merah muda dengan aroma frambose dan rasanya manis. pH yang diperoleh sebelum adjust 6,04 dan
Bab I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Permasalahan
Berbagai macam penyakit belakangan ini banyak bermunculan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolgi yang pesat. Karena itu seharusnya penyakit ini dapat ditanggulangi juga dengan kemajuan iptek yang sudah ada untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Disini peran farmasis sangat dibutuhkan, karena ruang lingkup farmasis yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu dengan meningkatnya gangguan pada tingkat kesehatan, terutama yang berkaitan erat dengan kegiatan dalam bidang tekhnologi dan dan formulasi sediaan farmasi, baik itu semisolida, solida maupun likuida.
Dalam pembuatan sediaan ini dituntut pengetahuan yang luas dari seorang farmasis dibidangnya. Selain dituntut dalam bidang pengetahuan, farmasis juga harus terampil dan cekatan dalam prakteknya membuat sediaan. Sediaan yang dibuat hendaknya disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Disini farmasis dituntut untuk mengolah sediaan yang dibuatya berdasarkan seni membuat obat. Untuk meningkatkan acceptable dari sediaan dapat ditambahkan pewarna essence, pemanis dan lain-lain sehingga mempunyai penampilan, bentuk, estetik yang baik dan menarik sehingga menimbulkan rasa senang dan nyaman pada pemakainya. Perlu di ingat bahwa konsumen biasanya hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sedikit mengenai pemakaian obat, penyimpanan obat dan lain-lain.
Oleh sebab itu sangat dibutuhkan peranan farmasis dalam menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan mutu seperti: aman, efektif, acceptable, stabil, demi tercapainya efektifitas yang optimal dari suatu produk obat. Karena itu sangat diperlukan juga peranan farmasi dalm melaksanakan salah satu tugas seven star of pharmacy, yaitu memberikan layanan konsultasi, informasi, edukasi (KIE) yang tepat, jelas dan mudah di pahami oleh pasien. Sebagai formulator, perlu dipertimbangkan alasan dan pemilihan bentuk sediaan yang tepat karena akan menentukan keberhasilan dari formulasi yang akan dihasilkan.
Berbagai macam penyakit baru terus bermunculan dengan gejala yang tampaknya biasa saja. Namun, berakibat yang sangat fatal apabila tidak segera mendapat penanganan yang serius. Sejalan dengan hal tersebut sudah sewajarnya apabila semua pihak yang terkait dengan bidang kesehatan khususnya farmasis meningkatkan peranannya terutama dalam bidang teknologi dan formulasi sediaan farmasi.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana rancangan formula, manufaktur sediaan, evaluasi dan rancangan kemasan sediaan untuk pengobatan anti meningitis?
1.3. Tujuan
Menyusun rancangan formula, manufaktur sediaan, evaluasi dan rancangan kemasan sediaan untuk pengobatan anti meningitis yang memenuhi persyaratan mutu aman, efektif, stabil dan dapat diterima.
1.4. Manfaat
Manfaat yang didapatkan dengan menjalani praktikum ini, antara lain:
1. Memahami kerangka konseptual pembuatan suatu sediaan.
2. Memahami perhitungan dosis yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Bab 2
Tinjauan Pustaka
PENGERTIAN SUSPENSI
a. Suspensi adalah sediaaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila dikocok perlahan endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dituang.
b. Farmakope Indonesia IV Th. 1995, hal 17
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.
c. Farmakope Indonesia III, Th. 1979, hal 32
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
MACAM-MACAM SUSPENSI
Suspensi berdasarkan kegunaanya menurut USP XXVII, 2004, hal 2587
a. suspensi oral : sediaan cair yang menggunakan partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu pembawa cair dengan flavouring agent yang cocok yang dimaksudkan untuk pemberian oral. b. Suspensi topical : sediaan cair yang mengandung partikel-partikel padat yang terdispersi
dalam suatu pembawa cair yang dimaksudkan untuk pemakaian pada kulit.
c. Suspensi otic : sediaan cair yang mengandung partikel-partikel mikro dengan maksud ditanamkan di luar telinga.
d. Suspensi optalmik : yaitu sediaan cair yang steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.
SYARAT SEDIAAN OBAT SUSPENSI
a. FI IV, 1995, hal 18
1. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara iv dan intratekal
2. Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan dengan cara tertentu harus mengandung zat antimikroba. 3. Suspensi harus dikocok sebelum digunakan
4. Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.
b. FI III, 1979, hal 32
1. Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap 2. Jika dikocok, harus segera terdispersi kembali
3. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi
4. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
c. Fornas Edisi 2, 1978, hal 333
Pada pembuatan suspensi, untuk mencegah pertumbuhan cendawan, ragi dan jasad renik lainnya, dapat ditambahkan zat pengawet yang cocok terutama untuk suspensi yang akan diwadahkan dalam wadah satuan ganda atau wadah dosis ganda.
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SEDIAAN
(RPS ed. 18, vol 3, 1538-1539) Kelebihan :
1. Baik digunakan untuk pasien yang sukar menerima tablet / kapsul, terutama anak-anak. 2. Homogenitas tinggi
3. Lebih mudah diabsorpsi daripada tablet / kapsul (karena luas permukaan kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat).
4. Dapat menutupi rasa tidak enak / pahit obat (dari larut / tidaknya) 5. Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air
Kekurangan
1. Kestabilan rendah (pertumbuhan kristal jika jenuh, degradasi, dll)
2. Jika membentuk “cacking” akan sulit terdispersi kembali sehingga homogenitasnya turun. 3. Alirannya menyebabkan sukar dituang
4. Ketepatan dosis lebih rendah daripada bentuk sediaan larutan
5. Pada saat penyimpanan, kemungkinan terjadi perubahan sistem dispersi (cacking, flokulasi deflokulasi) terutama jika terjadi fluktuasi / perubahan temperatur.
6. Sediaan suspensi harus dikocok terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang diinginkan.
PENGERTIAN MENINGITIS
Berdasarkan penyebabnya Meningitis dibagi menjadi 4 :
Meningitis yang disebabkan oleh virus ( Meningitis Virus atau Non Purulent Meningitis )
Virus penyebab meningitis antara lain adalah virus enterovirus (polio), virus coxsackie A dan B), mumps, virus herpes simpleks, virus varicella zooster (cacar air ), virus hepatitis. Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya akan pulih dengan pengobatan dan perawatan yang spesifik. Penyakit ini akan sembuh sempurna tanpa kompilkasi apabila ditangani dengan baik. Pada kasus yang ringan akan sembuh setelah 3-4 hari. Sedangkan pada kasus berat dapat sembuh setelah 7-14 hari.
Meningitis yang disebabkan oleh jamur ( Fungal meningitis )
Sangat jarang terjadi, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan imun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS.
Meningitis yang disebabkan oleh pertumbuhan organisme yang menyerang membran dan cairan otak ( Chronic meningitis ).
Pertumbuhan organisme ini terjadi selama sekitar dua minggu ataupun lebih.
Meningitis yang disebabkan oleh bakteri ( Bacterial meningitis )
Meningitis disebabkan oleh bakteri dapat mengakibatkan kerusakan serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkankematian.
Bakteri yang menyebabkan meningitis diantaranya :
1) Streptococcus pneumoniae (pneumococcus).
Bakteri ini adalah penyebab terbanyak meningitis pada bayi atau pun anak-anak. Jenis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia, telinga dan rongga hidung (sinus).
2) Neisseria meningitidis (meningococcus).
Penyebab kedua terbanyak setelah bakteri Streptococcus pneumoniae adalah bakteri Neisseria meningitidis (meningococcus). Terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah dam mencapai otak sehingga mengakibatkan radang selaput otak. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian dalam waktu 24-48 jam sejak gejala pertama muncul.
3) Haemophilus influenzae (haemophilus).
Bakteri Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang menyebabkan infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaccine) dapat menurunkan peluang meningitis karena bakteri jenis ini.
4) Listeria monocytogenes (listeria).
Bakteri penyebab meningitis ini dapat ditemukan di banyak tempat dan di dalam makanan yang telah terkontaminasi. Bakteri ini berasal dari hewan peliharaan local. Makanan yang mungkin terkontaminasi oleh bakteri jenis ini adalah hot dog, keju dan daging sandwich.
PATOGENESIS DAN ETIOLOGI
Bakteria bisa menyebar ke meningens secara langsung, dari bagian parameningeal seperti sinus-sinus paranasal dan telinga bagian tengah. Kapsul polisakharida bakteri, lipopolisakharida, dan lapisan luar protein berperanan untuk invasi dan virulensi kuman.
Bakteri dalam SSP akan mengaktifkan sel lain seperti mikroglia, yang dapat mensekresi IL-1 dan TNF [tumor necrosis factor] alpha yang akan dipertahankan sebagai antigen dan dalam jalur imunogenik ke limfosit. Reaksi imun intra SSP ini memicu sebuah sirkulus sejak perangsangan netrofil untuk melepaskan protease dan mediator toksin lain seperti radikal bebas O2, yang selanjutnya akan meningkatkan jejas inflamasi pada sawar darah otak, sehingga memudahkan lebih banyak bakteri dan netrofil yang berada pada sirkulasi untuk masuk ke cairan serebrospinalis. Akhirnya respon inflamasi yang timbul pada meningitis bacterial akan mengganggu Sawar Darah Otak [Blood Brain Barier], menyebabkan vasogenik edema, hidrosefalus dan infark serebral. Sedangkan mekanisme bagaimana bakteri dapat menembus sawar darah otak sampai saat ini belum jelas. Adanya komponen dinding sel bakteri yang dilepaskan kedalam cairan serebrospinal merangsang produksi dari sitokine inflamasi seperti Interleukin 1 dan 6, prostaglandin dan TNF. Semua faktor inilah yang barangkali menginduksi terjadinya inflamasi dan kerusakan sawar darah otak. Perkembangan komplikasi intrakranial dari meningitis otogenik dapat terjadi melalui tiga mekanisme, yakni:
1. Penyebaran langsung infeksi melalui tulang yang berdampingan dengan selaput otak, misalnya: osteomyelitis ataupun cholesteatoma.
2. Penyebaran infeksi retrograde misalnya thrombophlebitis.
3. Melalui jalan masuk anatomi normal, oval window ataupun round window ke meatus akustikus internus, kokhlear dan aquaduktus vestibularis, dehisensi terhadap tulang yang tipis akibat malformasi congenital.
Meningitis dapat menyerang siapa saja, jika dikelompokkan berdasarkan usia maka yang rentan terserang oleh meningitis adalah :
1. Anak-anak.
Anak usia satu tahun berada dalam posisi paling rentan terhadap meningitis. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 6-10 persen dari anak-anak berusia di bawah 12 bulan yang terkena penyakit ini jika tidak ditangani secara cepat dapat menyebabkan kematian.
2. Remaja dan dewasa
Mereka yang berusia 15 – 24 tahun adalah kelompok yang rentan terhadap meningitis karena perubahan gaya hidupnya seperti merokok, clubbing dan traveling.
3. Lanjut usia
PENGOBATAN
Pengobatan umum untuk meningitis adalah aplikasi yang cepat dari antibiotik dan obat, kadang-kadang antivirus. Dalam beberapa situasi, obat kortikosteroid juga dapat digunakan untuk mencegah komplikasi dari peradangan yang terlalu aktif. Meningitis dapat menyebabkan serius konsekuensi jangka panjang seperti defisit tuli, epilepsi, hidrosefalus dan kognitif, terutama jika tidak ditangani dengan cepat.
Pemberian antibiotik secara Infus (intravenous) adalah langkah yang baik untuk menjamin kesembuhan serta mengurang atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan.
Adapun beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan diberikan Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone.
Treatment atau therapy lainnya adalah yang mengarah kepada gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam (paracetamol), shock dan kejang (diazepam) dan lain sebagainya.
Pengobatan Meningitis Berdasarkan Bakteri
Bakteri 1 2 3
Nisseria meningitis Penicillin G Ceftriaxone/Cefotaxime Chloramphenicol
Streptococcus agalactine Ampicilin/Penicillin G ±
Gentamicin Ceftriaxone/Cefotaxime -
Listeria monocytogenes Ampicillin/Penicillin G ±
Gentamicin
Trimethoprim-Sulfametoxazole -
Pasteurella multicida Amoxicillin-davulanate
Penicillin G Doxycycline Ceftriaxone
Flavobacterium
meningosepticum Vancomycin
Trimethoprim-Sulfametoxazole Chloramphenicol
Campylobacterium fetus Ampicillin Ceftriaxone Chloramphenicol
Leptospira Penicillin G Doxycycline -
Gryptococcus neoformans (jamur)
Amphotericin B ±
flucytosine Fluconazole -
Sulfametoksazol-Trimetoprim (Kotrimoksazol)
Pengenalan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol merupakan salah satu kemajuan penting dalam perkembangan efektivitas agen antimikroba secara klinis dan membuktikan anggapan teoritis menjadi aplikasi praktik, yaitu jika dua obat bekerja pada bagian dari rantai reaksi enzimatis pada bakteri, hasil kombinasinya merupakan reaksi yang sinergis.
gram positif lebih peka terhadap trimetoprim, tetapi dapat terjadi resistensi jika digunakan sendiri. Contoh bakteri yang resisten adalah Pseudomonas aeruginosa, Bacteroides fragilis, dan Enterococci. Kotrimoksazol dapat digunakan untuk Chlamydia diphteriae dan N.meningitidis, meskipun dapat juga dipakai untuk S. Pneumoniae walaupun ada peningkatan resistensi yang mengganggu.
Interaksi yang sinergis antara trimetoprim dan sulfametoksazol dalam sediaan tampak bahkan ketika organisme resisten terhadap sulfonamid dengan atau tanpa resisten sedang terhadap trimetoprim. Akan tetapi, sinergisme paling maksimal terjadi ketika mikroorganisme sensitif terhadap kedua komponen obat.
Mekanisme kerja dari trimetoprim dan sulfametoksazol
Berdasarkan kerjanya pada dua tahap yang berrutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam tetrahidrofolat. Sulfonamid menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat. Trimetoprim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari hidrofolat menjadi tetrahidrofolat
Efek terhadap mikroba
Resistensi bakteri
Frekuensi terjadinya resistensi terhadap kotrimoksazol lebih rendah dari pada terhadap masing-masing obat karena mikroba yang resisten terhadap salah satu komponen masih peka terhadap komponen yang lainnya
Farmakokinetik
Untuk mendapatkan efek sinergi diperlukan perbandingan kadar optimal dari kedua obat. Untuk kebanyakan kuman,rasio kadar sulfametosazol : trimetoprim yang optimal adalah 20 : 1.Trimetoprim mempunyai volume distribusi yang 9x lebih besar dari pada sulfametoksazol karena sifatnya yang lipofilik.Trimetoprim cepat terdistribusi kedalam jaringan dan kira-kira 40% terikat pada protein plasma dengan adanya sulfametoksazol. Kira-kira 65% sulfametoksazol terikat pada protein plasma. Obat dapat masuk kesaliva dan CSS lebih mudah. Hingga 60% trimetoprim dan sulfametoksazol dieksresi melalui urin dalam 24 jam setelah pemberian.
Efek samping
Menimbulkan megaloblastik,leukopenia,trombositopenia 75%efek samping terjadi pada kulit
Gejala-gejala saluran cerna :mual,muntah,diare jarang terjadi Glositis dan stomatitis relatif sering
Reaksi susunan saraf pusat berupa sakit kepala,depresi,dan halusinasi disebabkan oleh sulfonamide
Kontraindikasi
2.1 Pemilihan Bahan Aktif
NO Bahan Aktif Efek Utama Efek Samping Indikasi Kontra Indikasi Spesifikasi lain
1 Cotrimoxazole digunakan sebagai kombinasi dalam cotrimoxazole karena aktivitasnya sinergis
(BNF edisi 66, p. 382) 2.Diabsorbsi pada saluran gastrointestinal dan mencapai puncak konsentrasi pada plasma
a. Sulfametoxazole = 2 jam setelah pemberian oral
b.Trimetoprim = 1-4 jam setelah pemberian oral
(MD edisi 36, p. 341 dan 356) 2 Chlomphenicol 1.Antibakteri
3 Ampicillin Dapat digunakan pada
1. Absorbsi ampicillin oral tidak lebih baik pada penicillin adanya makanan dalam saluran cerna akan menghambat absorbs obat.
(Farmakologi dan Terapi edisi 4, p. 627)
2. menembus placenta dan sedikit yang terdistribusi ASI
2.2. Bahan Aktif Terpilih
Bahan aktif terpilih untuk meredakan dan mengatasi meningitis adalah Cotrimoxazole, karena :
a. Dibanding chloramphenicol dan benzilpenicilin, cotrimoxazole adalah satu satunya obat yang tidak memberikan efek samping berbahaya bagi ibu hamil dan menyusui karena tidak menembus plasenta. Chloramphenicol juga dapat menyebabkan efek samping berupa “grey baby syndrome”. Sedangkan benzil penicillin berdifusi melalui plasma dan masuk dalam sirkulasi janin, serta muncul falam jumlah kecil dalam ASI (MD edisi 37 hal 231-232, 261) b. Lebih dipilih karena tidak memberikan efek jangka panjang. Chloramphenicol dalam terapi
jangka lama wajib dihindari bagi pasien dengan depresi sumsum tulang belakang (MD edisi 37 hal 261). Pemakaian jangka lama benzilpenicilin dapat menyebabkan superinfeksi dengan penicillin resistant termasuk Clostridium difficile atau candida (MD edisi 37 hal 232)
c. Digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang rentan, terutama dalam saluran kemih, pernafasan, dan saluran pencernaan sehingga dapat digunakan untuk menjadi terapi pengobatan pada penyakit meningitis (MD edisi 37 hal 281)
d. Cotrimoxazole mempunyai sifat bakterisidal dengan spectrum kerja lebih cepat dibanding sulfonamide (MD edisi 37 hal 281). Cotrimoxazole memberikan efek sinergis yang lebih baik utuk menghambat reaksi enzimatik obligat pada dua tahap yang berurutan pada mikroba dibanding chloramphenicol dan penicillin yang bukan merupakan obat kombinasi dan hanya berdiri sendiri. (Farmakologi dan Terapi ed 4 hal 590)
e. Memiliki daya resistensi terhadap bakteri yang lebih baik daripada chloramphenicol dan
penisilin. Frekuensi terjadinya resistensi terhadap cotrimoxazole lebih rendah karena mikroba yang resisten terhadap salah satu komponen masih peka terhadap komponen lainnya.
(Farmakologi dan Terapi ed 4 hal 591)
f. Aktivitas antibakteri cotrimoxazole berdasarkan atas kerjanya pada 2 tahap yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam tetrahidrofolat. Sulfonamide menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan trimetoprim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari dihidrofolat (Farmakologi dan Terapi ed 4 hal 591)
2.3. Pemilihan Bentuk Sediaan
Sulfametoxazol
KARAKTERISTIK
Fisika Kimia
1. Kelarutan dalam pelarut internal 1 : 3400 dalam air
2. Tingkat kelarutan sulfametoxazol meninggkat saat phnya juga meningkat.
3. Daya kelarutan sulfametoxazol meninggkat dengan menggunakan suhu 25-37
4. Ph sediaan : 5,0-6,50 ( USP 32, p 148 dan 152)
5. Konsentrasi puncak plasma tercapai sekitar 2jam (MD 37, p 370)
Trimetropim
KARAKTERISTIK
Fisika Kimia
1. Kelarutan dalam pelarut internal 1 : 2500 dalam air
1 : 55 dalam kloroform 1 ; 80 dalam etanol Tidak larut dalam eter 2. Organoleptis
Warna : putih Rasa :sangat pahit Bentuk : Kristal
4. Konsentrasi puncak plasma terjadi sekitar 1-4jam setelah pemberian dosis oral .
2.4. Persyaratan Mutu Sediaan
Sediaan yang dibuat harus memenuhi persyaratan mutu yang setara dengan ketentuan dari Farmakope Indonesia IV/USP/British Pharmacopee, European Pharmacopee dan memperhatikan kriteria pendaftaran obat jadi dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia
1. Aman
Aman diartikan sebagai bermanfaat secara fisiologis, tanpa efek samping yang merugikan atau dengan efek samping yang telah dikendalikan, sehingga tidak lebih toksik dari toksisitas bahan aktif sebelum diformulasi. Dikatakan aman apabila bahan aktif kadarnya tidak melebihi yang tertera pada masing masing monografi di FI:
- Suflametaxazole: tidak kurang dari 98,5 % dihitung terhadap zat yang dikeringkan (FI 3, p. 586)
- Trimethoprim: tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari 101 % dihitung terhadap zat yang dikeringkan (FI 3, p.613)
2. Efektif
Efektif diartikan sebagai jumlah kecil, hasil kerja optimal (pemberian dosis kecil dapat memberikan efek terapi yang optimum dalam waktu singkat dengan efek samping yang minimum.
- Sulfametaxazole: diabsorbsi sempurna pada GIT, kosentrasi puncak plasma 2 jam setelah pemberian
- Trimethoprim: diasorbsi baik oleh GIT, kosentrasi puncak plasma 1-4 jam setelah pemberian
3. Acceptable
Diarikan sebagai prediksi pemenuhan psikologis konsumen pemakai: Sediaan mempunyai penampilan, bentuk, estetika yang baik dan menarik sehingga menimbulkan rasa nyaman pada pemakainya. Organoletis dapat diterima, seperti: rasa (ditambah sukrosa dan sorbitol), warna (strawberry red), dan essence (frambose)
4. Stabilitas Fisika
Diartikan sebagai konsistensi fisik tidak berubah selama penyimpanan dan pemakaian yang meliputi: penampilan, keseragaman, viskositas, dan organoleptis (USP 31, p. 1703)
- Sulfametaxazole: sukar larut dalam air (1:3400), BJ = 253,28, Kristal tidak berbau, bersifat higroskopik (Codex 20, p. 1051)
- Trimethoprim: sukar larut dalam air (1:2500), kristal putih sangat pahit dan tidak berbau (Codex 20, p.1082)
5. Stabilitas Kimia
Diartikan sebagai sediaan dikatakan stabil secara kimia apabila intergritas dan kekeruhan kimiawi dan potensi kimia tetap. Serta tidak mengalami perubahan pH (USP 32, p. 1703)
- Sulfametaxazole: pH 4.0 – 6.0 (FI 4, p. 210) - Trimethoprim : pH 8.2 ( MD 37, p. 1691)
6. Stabilitas Mikrobiologi
1703). Pada sediaan tidak boleh ada bakteri Salmonella sp., Escherica coli, Enterobacter sp., Pseudomonas sp., Chlostridium sp., dan Candida sp. (Lachmann 3,964)
7. Stabilitas Toksikolgik
Sediaan tidak boleh menunjukkan adanya gejala kenaikan toksisitas atau perubahan pada sediaan selama penyimpanan dalam waktu tertentu (USP XXII, p. 1703)
8. Stabilitas Farmakologik
Sediaan tidak mengalami perubahan efek farmakologi yang menyimpang dari yang direncanakan atau dari tujuan pengobatan sampai batas waktu yang ditentukan (USP XXII, p. 1703)
2.5.
Pemilihan Bahan Tambahan1. Sorbitol ( FI 4, p. 756)
- Pemerian : serbuk, granul atau lempengan; higroskopik; warna putih; rasa manis
- Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam methanol etanol dan asam asetat
- Fungsi : pemanis (corrigensia saporis) 2. Sukrosa ( FI 4, p. 762)
- Pemerian : hablur putih atau tidak berwarna ; massa hablur atau berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa manis; stabil di udara. Larutan netral terhadap lakmus
- Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih; sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroform dan dalam eter
- Fungsi : pemanis (corrigensia saporis) 3. CMC Na ( FI 4, p. 175)
- Pemerian : serbuk atau granul, putih sampai krem; higroskopik
- Kelarutan : mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal; tidak larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organik lain
- Fungsi : suspending agent 4. Nipagin ( FI 4, p. 551)
- Pemerian : hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih; tidak berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar
- Kelarutan : sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter
- Fungsi : pengawet dalam sediaan 5. Sodium phosphat, monobasic (hpe page 659)
- Pemerian : tidak berwarna atau putih, kristal atau deliquecent, tidak berbau, tidak berasa
- Kelarutan : larut dalan (1:1) air , larut dalam enthanol 95 %
- pH : 4,1-4,5 w/v aqueous solution
- Densitas : 1,915 g/cmᶾ untuk dihydrate
6. Sodium phosphat, dibasic (hpe page 656)
- Pemerian : serbuk berwarna putih, berbentuk kristal, tidak berbau, tidak berasa
- Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, lebih larut dalam air panas atau air hangat, praktis tidak larut dalam etanol 95%
- pH : 9,1 untuk 1% w/v aqueous solution
- Fungsi : buffering agent 7. Frambose Essence
- Fungsi : corrigensia odoris 8. Propilenglikol ( FI 4, p. 712 )
- Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna; rasa khas; praktis tidak berbau; menyerap air pada udara lembab
- Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform; larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial; tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak
- Fungsi : pelarut dari nipagin 9. Strawberry Red
Bab 3
Kerangka Konseptual
Formula Terpilih
R/ Sulfametoxazole 400 mg
Trimetoprim 80 mg
Propilenglikol 2 %
Dapar Fosfat-fosfat pH 6 :
NaH2PO4 1,14 %
Na2HPO4 0,08 %
CMC Na 0,5 %
Nipagin 0,2 %
Sukrosa 30 %
Sorbitol 10 %
Strawberry Red 0,02 %
Frambose Essence q.s
Aqua purificata ad 5 ml
Bab 4
Metode Penelitian
4.1 Alat dan Bahan
Alat :
a) Botol coklat 60 ml b) Timbangan digital c) Beaker glass d) Pengaduk kaca e) Waterbath f) Pipet tetes g) Gelas ukur h) Mortir + stamper i) Sudip
j) Piknometer
k) Viskometer test (VT-04) l) Viskometer Stormer m) Mikroskop Elektrik n) pH meter
Bahan :
a) Sulfametoxazol 400 mg b) Trimetoprim 80 mg c) Sukrosa 45 gram d) Nipagin 0,3 gram e) NaH2PO4 1,71 gram f) Na2HPO4 0,12 gram g) CMC Na 0,75 gram h) Propilenglikol 3 ml i) Sorbitol 15 ml
4.2. Kerangka Operasional
Buat Sirup simplex a.Timbang sukrosa 45 g b.Ukur air panas 22,5 ml c.a+b aduk ad larut, tunggu
ad dingin
Buat dapar fosfat-fosfat pH 6,00 a.timbang NaH2PO4 1,71 g + air 5 ml,
Buat mucilago CMC Na a.Timbang CMC Na 0,75 g b.Ukur air panas 30 ml
c.Taburkan CMC Na diatas air panas diamkan 15 menit, camp ad hom
a.Timbang Sulfametokxazole 12,6 gram, gerus ad halus
b.Timbang Trimetoprim 2,52 gram, gerus ad halus c.a + b campur ad homogen
d.Kalibrasi sorbitol 15 ml
e.c dibasahi dengan d, campur ad homogen di
Timbang Strawberry red 30 mg di neraca analitik + air 2 ml, aduk ad larut
+ 3 tetes essence Frambose
+ Air purificata ad 130 ml Ambil sediaan 20 ml, cek
pH = 6,0 Nama peralatan yang digunakan :
4.3 Metode Kerja
1. Dosis Bahan Aktif
Cotrimoxazole Sulfametaxazole dan Trimethoprim
1.1. Sulfametaxazole
Martindale ed 28, p. 1479
Anak-anak : 50 – 60 mg/kg BB Martindale ed 37, p. 281
Anak-anak : 400 mg sehari 2x ( 6-12 tahun )
Dewasa : 800 mg sehari 2x
Remington ed 19 vol. 2, p. 1277
Dewasa & anak > 40 kg : 800 mg setiap 12 jam Anak-anak 40 kg : 20 mg/kg BB setiap 12 jam The Pharmaceutical Codex, p. 1051
Anak-anak : 100 mg
Dewasa : 400 – 800 mg
1.2. Trimethoprim
Remington ed 19 vol. 2, p. 1277
Dewasa & anak > 40 kg : 160 mg setiap 12 jam Anak-anak 40 kg : 4 mg/kg BB setiap 12 jam BNF 66, p. 383
Anak-anak 6 bulan-5 tahun : 240 mg / 12 jam Anak-anak 6 tahun-12 tahun : 480 mg / 12 jam
Dewasa : 960 mg / 12 jam
Martindale ed 28, p. 1484
Anak-anak : 6 – 8 mg/kg BB sehari dibagi menjadi 2 dosis
2. Perhitungan Dosis Bahan Aktif 1.1. Sulfametoxazole
20 mg/kgBB (Remington edisi 19, p. 1277)
1.2. Trimetoprim
4 mg/kgBB (Remington edisi 19, p. 1277)
3. Perhitungan Bahan Tambahan Dapar fosfat – fosfat pH 6
pH = 6 -log [H+] = 6 [H+] =
pKa = 7,20 -log ka = 7,20 Ka =
ß
= 2,303 .
0,001 = 2,303 C
C =
.[
]
=
=0,077776932
pH = pka + log
6 = 7,20 + log
log = -1,20
log [G] = 0,063095734 [A]
C = [G] + [A]
0,077776932 = 0,063095734 [A] + [A] [A] = 0,073160797
[G] = 4,616134233 . M
NaH2PO4 + NaOH Na2HPO4 + H2O
[A] [G]
[A] = 0,073160797 x Mr (156,01) = 11,41381594 ⁄
: 10
= 1,141381594 ⁄
= 1,14 %
[G] = 4,616134233 . x Mr (177,98) = 0,82157957 ⁄
: 10
Perhitungan ADI
1. Propilenglikol maksimal 25mg/kgBB (kadar oral 25%)
4. Tabel Penimbangan
5. Cara Pembuatan Sediaan dalam Skala Laboratorium
No Tahapan Perlakuan Alat Catatan/Hasil
1 Kalibrasi botol coklat 60 ml
-Botol coklat -Gelas ukur -Beaker
2
Buat Sirup Simplex :
a) Timbang Sukrosa 45 gram b) Kalibrasi air panas 22,5 ml c) b + a aduk ad larut, tunggu dingin
-Timbangan -Beaker -Pengaduk
3
Buat dapar fosfat-fosfat pH 6 :
a) Timbang NaH2PO4 + 5 ml air, aduk ad larut
d) cek pH = 6, jika tidak sesuai di adjust
4
Buat mucillago CMC Na :
a) Timbang CMC Na 0,75 gram b) Kalibrasi air panas 30 ml
c) Taburkan a di atas b diamkan selama 15 menit, campur ad homogen
-Timbangan -Beaker glass -Gelas ukur -Mortir
5 Timbang Sulfametoxazole 12,6 gram, gerus ad halus -Timbangan - Mortir
6 Timbang Trimetoprim 2,52 gram, gerus ad halus -Timbangan - Mortir
7 6 + 5 campur ad homogen
8 Kalibrasi Sorbitol 15 ml - Gelas Ukur
9 7 dibasahi 8, campur ad homogen di Lumpang - Mortir
10 9 + 2c, campur ad homogen
11 4c + 10, campur ad homogen
12 3d + 11, campur ad homogen
13 Kalibrasi propilenglikol 3 ml -Gelas ukur
-Beaker
14 Timbang Nipagin 0,3 gram - Timbangan
15 13 + 14 aduk ad larut
16 12 + 15 campur ad homogen
17 Timbang strawberry Red 30 mg di analitik + air 1 ml, aduk ad larut
- Timbangan - Beaker
18 16 + 17 campur ad homogen
19 18 + 3 tetesi Frambose essence, campur ad homogen
20 19 + aqua purificata ad 130 ml di beaker - Beaker
21
Ambil no. 20 sebanyak 20 ml, cek pH (jika tidak sesuai diadjust)
- jikaPh > 6 tambahkan NaH2PO4
- jikaph < 6 tambahkan Na2HPO4
Bab 5
Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian
5.1. Analisis Uji Sediaan Uji pH :
Alat : pH meter
a) Kaliberasi pH meter :
1. Elektrode gelas dicuci dengan aqua, dikeringkan dengan tissue. 2. Celupkan electrode kedalam larutan buffer standard.
3. Amati dan catat pH standart. b) Pengukuran pH sediaan :
1. Electrode dibilas dengan sediaan.
2. Isi beaker glass dengan sediaan q.s ad electrode tercelup, catat pH yang terbaca.
Uji Viskositas :
Alat : viscometer Rion – Viskometer VT - 0.4 F
Uji Berat Jenis : Alat : Gelas Ukur
a) Gelas Ukur ditimbang di timbangan analitik (a)
b) Gelas Ukur diisi dengan sediaan ad penuh, timbang (b)
c) Hitung dengan rumus =
Uji Sifat Alir :
Instrumen : viskometer stormer seri 80202
1. Menentukan nilai tetapan Kv viscometer dengan gliserin p.a
2. Setelah mengetahui nilai tetapan Kv gliserin p.a, isi ganti beaker glass dengan sirup sediaan 3. Pasang beban yang telah ditentukan
4. Siapkan stopwatch, kemudian lepaskan rem dan lakukan pengamatan waktu yang diperlukan untuk menempuh 100 putaran
5. Tambahkan beban dan lakukan pengamatan yang sama
7. Dengan menggunakan harga Kv yang diperoleh pada percobaan kerja sebelumnya, hitung viskositas bahan yang diperiksa
Uji Mikromeritik :
Alat : Mikroskop Optik, Mikrometer Okuler dan Objektif.
1. Mikrometer okuler yang akan dikalibrasi dipasang di dalam lensa okuler. 2. Mikrometer objektif dipasang dibawah lensa objektif.
3. Skala 0,0 pada mikrometer objektif dihimpitkan hingga segaris dengan salah satu skala pada skala okuler.
4. Sejumlah skala pada skala objektif yang segaris dengan sejumlah skala pada skala okuler dicatat, dilakukan replikasi 3x.
5. Mikrometer objektif dilepas.
6. Sediaan suspensi diteteskan pada gelas objek. 7. Amati ukuran partikel sebanyak 250 kali, catat.
8. Catat ukuran partikel terbesar dan terkecil untuk membuat interval kelas.
Uji Laju Sedimentasi : Alat : Gelas ukur 25ml 1. Siapkan gelas ukur
2. Masukan sediaan suspense ke dalam salah satu gelas ukur
3. Masukan sediaan yang tidak mengandung suspending agent ke dalam gelas ukur satunya 4. Amati dan catat volume endapan yang terbentuk
5.2. Hasil Evaluasi
Parameter Uji Spesifikasi Hasil +/-
Organoleptis: a. Bentuk b. Warna c. Bau d. Rasa
a. Oral Suspension b. Merah muda c. Frambose d. Manis
a. Oral Suspension b. Merah muda c. Frambose d. Manis
+
+
+
+
pH 6,00 ± 5% 6,00 +
Berat Jenis 1,2 g/cm3 1,087 g/cm3 -
Viskositas 1000-2000 cPs 95 cPs +
Laju Sedimentasi
a. Tidak mudah mengendap jika didiamkan, apabila mengendap mudah terjadi redispersi kembali menjadi cairan yang homogen
a. Tidak mudah mengendap dan mudah terjadi redispersi kembali
+
b. Ukuran pertikel dan viskositas konstan selama penyimpanan
b. Viskositas konstan selama
penyimpanan +
c. Mudah dituang ke dalam sendok takar
c. Mudah dituang ke dalam sendok
takar +
Sebaran Ukuran Partikel
Homogenitas partikel terdistribusi secara merata
Homogenitas partikel terdistribusi
kurang merata -
Hasil pengamatan :
Suhu Ruang Praktikum : 27º C
RH : 56 %
Harga tetapan Kv Viskometer Stormer
Sebaran Ukuran Partikel
Hasil kaliberasi skala okuler dengan menggunakan skala obyektif
standar : 1 skala obyektif = 10 µm
1 skala okuler = 1 skala obyektif
= 10 µm
Ukuran Partikel Sediaan Trimoxan
Ukuran Partikel dengan Skala Okuler / Satuan µm
50 60 30 70 20 30 50 40 60 50
80 30 40 70 50 30 20 20 30 40
50 20 30 20 30 20 40 60 20 60
30 30 50 70 30 50 30 40 20 40
50 30 20 20 20 20 40 50 30 30
40 50 30 40 50 70 30 40 20 50
40 20 20 30 20 20 50 30 20 70
30 30 30 20 50 60 40 20 30 40
40 50 20 20 20 20 50 50 60 30
40 30 40 20 30 50 70 30 70 20
40 30 50 30 30 40 30 40 40 50
20 30 50 60 50 50 30 30 50 20
30 40 50 60 60 50 40 50 60 40
20 20 60 40 30 40 40 50 60 20
30 30 20 50 40 60 30 20 30 70
20 20 20 30 20 80 40 40 60 50
50 30 50 20 40 60 50 40 20 30
20 30 40 40 60 60 30 20 30 40
40 50 60 50 70 40 30 20 40 50
60 50 70 30 20 40 50 20 30 20
40 50 40 50 60 30 50 40 60 40
60 30 50 30 30 20 40 30 50 40
70 20 40 20 20 30 50 20 40 30
20 30 30 50 20 60 40 70 40 30
30 30 20 30 50 40 30 20 20 20
Nilai minimal : 20
Nilai maksimal : 80 Interval Kelas :
=
Uji Sedimentasi
F =
Vu = volume sedimentasi akhir
Vo = volume sedimentasi awal rentang
(μm) Nilai tengah rentang (d)
jumlah partikel
setiap rentang (n) (nd) (nd²) (nd³) (nd⁴) 20-26 23 56 1288 29624 681352 15671096
26,1-32,1 29.1 62 1804.2 52502.22 1527814.602 44459404.92
32,2-38,2 35.2 0 0 0 0 0
38,3-44,3 41.3 49 2023.7 83578.81 3451804.853 142559540.4
44,4-50,4 47.4 46 2180.4 103350.96 4898835.504 232204802.9
50,5-56,5 53.5 0 0 0 0 0
56,6-62,6 59.6 23 1370.8 81699.68 4869300.928 290210335.3
62,7-68,7 65.7 0 0 0 0 0
68,8-74,8 71.8 12 861.6 61862.88 4441754.784 318917993.5
74,9-80,9 77.9 2 155.8 12136.82 945458.278 73651199.86
Jumlah 250 9684.5 424755.37 20816320.95 1117674373
Waktu
Waktu Volume sedimentasi (F)
15 25/25 = 1
Distribusi Partikel (µm)
5.3. Pembahasan
Sediaan yang dihasilkan yaitu berupa sediaan cairan sistim heterogen yaitu suspensi. Karena pada praktikum ini bahan aktif yang diolah semuanya tidak dapat terlarut dalam solvent yang digunakan. Berikut hasil organoleptis sediaan kelompok kami:
Bau : Frambose
Rasa : Manis
Warna : Merah muda
Bentuk : Suspensi
pH sediaan : 6,00 Viskositas sediaan : 95 cPs
Sediaan dirancang mempunyai viskositas dengan rentang 90-100 cPs. Berat Jenis (B.J) = dirancang untuk memiliki berat jenis 1,2 g/ml. Sediaan yang dibuat berbentuk oral suspensi, berwarna merah muda mempunyai rasa manis dengan aroma frambose. Bahan aktif yang kelompok kami gunakan semuanya tidak dapat terlarut dalam solvent sehingga perlu dibasahi dengan wetting agent yaitu sorbitol. Solvent yang kami gunakan yaitu aquadem dan sediaan dirancang dengan spesifikasi pH 6,0 agar sesuai dengan pH stabilitas sediaan oral suspensi Cotrimoxazol (stabil pada pH 5,0-6,5). Untuk itu ditambahkan dapar yang berfungsi untuk menahan pH sediaan. Dapar yang digunakan dalam pembuatan sediaan ini adalah dapar fosfat-fosfat. Pada evaluasi yang kami lakukan, sebelum di adjust diperoleh pH sedian 6,04 dan setelah diadjust pH sediaan menjadi 6,00.
Sediaan sirup kami mempunyai viskositas 0,95 dPas, yang diukur dengan menggunakan Viskometer VT - 0.4F. Hasil pengukuran viskositas ini menunjukkan bahwa viskositas sediaan yang dibuat adalah 95 cPs.
Berat jenis sediaan yaitu 1,087 g/ml dimana belum memenuhi spesifikasi sediaan yaitu 1,2 g/ml. Sifat Alir sediaan kami dirancang untuk memiliki sifat Pseudoplastis. Namun setelah dilakukan uji sifat alir didapat hasil bahwa sediaan kami bersifat Dilatan karena viskositas bertambah dengan penambahan laju geser & gaya geser, semakin besar gaya yang diberikan maka kecepatan mengalir lebih kecil. Dari uji menentukan sebaran ukuran partikel sediaan suspensi secara mikroskopis, didapat Jumlah Partikel terbanyak pada rentang diameter 26,1-32,1 μm. Pada uji Sedimentasi, sediaan Trimoxan sudah memenuhi Spesifikasi yang diinginkan yaitu, tidak mudah mengendap jika didiamkan, apabila mengendap mudah terjadi redispersi kembali menjadi cairan yang homogen, Ukuran partikel dan viskositas konstan selama penyimpanan, Mudah dituang ke dalam sendok takar.
Sediaan dibuat dalam kemasan 60 ml, dimana lama terapi dirancang untuk penggunaan selama 6 hari, dengan aturan pakai sebagai berikut :
- Umur 1-5 tahun : sehari 2 x ½ sendok takar
- Umur 6-10 tahun : sehari 2 x 1 sendok takar
- Umur 11-13 tahun : sehari 2 x 1½ sendok takar
- Umur 14 tahun keatas : sehari 2 x 2 sendok takar
Bab 6
Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Berdasarkan evaluasi sediaan yang telah dilakukan disimpulkan bahwa sediaan Trimoxan belum layak diproduksi. Bentuk sediaan berupa oral suspensi. Mempunyai warna merah, memiliki bau frambose, dan rasa manis. Dengan uji pH didapat pH sediaan berkisar antara 6.0 setelah diadjust yang memenuhi kriteria pH standar. Berdasarkan uji viskositas didapat viskositas sediaan sebesar 0.95 dPas x 100 = 95 cps. Sediaan dirancang mempunyai viskositas 90-100 cps. Sifat Alir sediaan dirancang untuk memiliki sifat alir Pseudoplastis, namun setelah dilakukan pengujian didapat sifat alir sediaan adalah non-newtonian yaitu Dilatan. Uji berat jenis didapat sediaan Trimoxan mempunyai BJ 1.087 g/ml. Dari uji menentukan sebaran ukuran partikel sediaan suspensi secara mikroskopis, didapat Jumlah Partikel terbanyak pada rentang diameter 26,1-32,1 μm. Dari hasil grafik Kurva Histogram antara
Ukuran Partikel (µm) vs Distribusi Frekuensi, disimpulkan bahwa homogenitas partikel terdistribusi
kurang merata. Pada uji Sedimentasi, sediaan Trimoxan sudah memenuhi Spesifikasi yang diinginkan yaitu, tidak mudah mengendap jika didiamkan, apabila mengendap mudah terjadi redispersi kembali menjadi cairan yang homogen, Ukuran partikel dan viskositas konstan selama penyimpanan serta mudah dituang ke dalam sendok takar.
B. Saran
a) Sebaiknya sebelum praktikum dimulai, bahan-bahan yang diperlukan disiapkan terlebih dahulu oleh praktikan sehingga praktikum dapat berlangsung dengan lancar.
b) Pencampuran bahan-bahan obat dan bahan tambahan pada sediaan dilakukan dengan cara yang lebih baik lagi. Diusahakan pengental masih dalam keadaan hangat dan pencampuran antara bahan obat dan pengental sedikit demi sedikit agar antara bahan obat, bahan tambahan, dan pengental dapat tercampur dengan baik dan tidak membentuk serabut yang mengakibatkan tidak homogennya sediaan.
c) Air yang dibutuhkan untuk melarutkan bahan obat dan bahan tambahan diperhitungkan dengan baik sebelum mulai praktikum agar sesuai dengan volume sediaan yang diinginkan (150 ml)