• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Teroretis Kondisi Fisik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan " Landasan Teroretis Kondisi Fisik"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Kajian Teoritis

1. Hakikat Kondisi Fisik

Kondisi fisik menurut Sajoto (1988:37) adalah : “satu prasarat yang sangat

diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet bahkan dapat dikatakan sebagai keperluan dasar yang tidak dapat ditunda atau ditawar-tawar lagi atau titik tolak suatu olahraga prestasi”

Dari uraian diatas dapat dijelaskan kondisi fisik adalah keadaan yang ada pada diri setiap atlet yang sangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi seorang atlet bahkan bisa dikatakan sebagai landasan ataupun sebagai titik tolak awal dari olahraga prestasi.

Harsono (1988 : 153) mengemukakan bahwa “ Kondisi fisik memegang peranan penting pada atlet waktu mengikuti program latihan, maupun saat bertanding’. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara baik dan

sistematis sehingga dengan demikian atlet dapat berprestasi secara maksimal. Seperti yang diungkapkan oleh Sajoto (1988 : 57) “Komponen kondisi fisik adalah satu

(2)

Bompa (1994:2) menjelaskan bahwa “Kondisi fisik harus dipertimbangkan

sebagai unsur yang diperlukan didalam latihan guna mencapai prestasi yang tertinggi”. Untuk mencapai kondisi kesegaran yang prima seseorang perlu melakukan

latihan fisik yang melibatkan komponen kesegaran jasmani dengan metode latihan yang benar. Seperti yang diungkapkan oleh Moeslim M. dalam Harsuki (2003 : 318) “hanya atlet yang memiliki kemampuan fisik prima mampu berlatih secara optimal.

Dan hanya atlet yang berlatih secara optimal yang memungkinkan perolehan yang optimal”.

Untuk maksud yang sama Harsono (1998:100) mengemukakan bahwa : “Perkembangan kondisi fisik yang menyeluruh amatlah penting oleh karena tanpa

kondisi fisik yang baik atlet tidak dapat mengikuti latihan-latihan dengan sempurna”.

Selanjutnya Sajoto (1988:58) mengemukakan : “beberapa unsur yang masuk

dalam lingkup kondisi fisik, antara lain kekuatan (Strength), Daya Tahan Otot ( Muscular Endurance), Daya Tahan (Endurence) Daya Ledak Otot (Muscular Power), Kecepatan (Speed), Kelentukan (Flexibility), Keseimbangan (Balance), Koordinasi (Coordination), Kelincahan (Agility), Ketepatan (Accuracy), Kecepatan Reaksi (Reaction Speed)”.

(3)

sudah direncanakan secara baik dan sistematis yang ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem organ tubuh dengan demikian memungkinkan atlet akan berprestasi dengan baik”

Pada cabang olahraga atletik, Lutan, dkk (1999:28) menyatakan “kondisi fisik atlet atletik yang perlu dibina adalah : Kekuatan (Srength), Daya Tahan Otot (Muscular Endurance ), Daya Ledak (Power), Kecepatan (Speed), Kelentukan (Flexibility), dan Daya Tahan (Endurance).

a. Kekuatan (Strength)

Harsono (1988:177) mengatakan “Kekuatan (strength) merupakan dasar

(basis) dari power dan daya tahan otot. Kekuatan merupakan kondisi fisik yang mendasar dan harus dimiliki oleh setiap individu”. Seperti diuraikan Sajoto (1988:58) bahwa “ Kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya

dalam menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja”. lebih lanjut

Harsono (1988:178) mengatakan bahwa “Kekuatan kemampuan otot untuk

membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk dapat mengembangkan kemampuan kekuatan tubuh adalah dengan mengangkat, mendorong atau menarik beban baik dengan beban tubuh sendiri atau dengan beban dari luar.

(4)

dengan adanya kondisi otot yang baik dapat meningkatkan kekuatan si atlet. Kemampuan kerja otot sangat dibutuhkan dalam setiap aktifitas olahraga, khususnya cabang atletik. Otot yang paling dominan bekerja adalah otot lengan dan otot tungkai. Dengan memiliki kekuatan otot lengan dan otot tungkai yang baik, maka lemparan atau tolakan akan semakin jauh dan terarah.

Kemudian Harsono (1998:177) menambahkan bahwa

“kekuatan otot merupakan basis dari semua komponen fisik karena : merupakan daya penggerak setiap aktifitas fisik, memegang peranan penting dalam melindungi atlet/orang dari kemungkinan cidera, dengan kekuatan otot akan dapat lari cepat, melempar atau menendang lebih jauh dan efisien, serta memukul lebih kuat, dapat membantu stabilitas sendi-sendi”.

Dengan demikian kekuatan merupakan basis dari semua aktifitas. Dapat dikatakan kekuatan ini secara umum memang dibutuhkan dalam semua gerak dan semua aktifitas olahraga terutama dalam cabang atletik.

(5)

pemberian beban pada otot yang akan dilatih,akan tetapi beban tersebut haruslah sedikit demi sedikit bertambah berat agar perkembangan otot lebih kuat. Untuk mendapatkan kekuatan yang baik dapat dilakukan dengan cara melakukan aktivitas dan latihan dengan beban ringan tapi memiliki waktu yang lama seperti : bench press, leg press, latihan squat thrust, push up, sit-up, pull up, squat jump, renang dan lain – lain. Dengan demikian dapat dikatakan kekuatan ini secara umum memang dibutuhkan dalam semua gerak dan semua aktifitas olahraga terutama dalam cabang olahraga atletik.

b. Daya Tahan Otot (Muscular Endurance )

Menurut Sajoto (1988:210) “Daya tahan otot (Muscular Endurance) adalah

daya tahan yang menunjukkan kemampuan otot atau sekelompok otot, dalam melaksanakan tugasnya dengan waktu yang cukup lama. Sementara Harsono (1998:202) menjelaskan : “Daya tahan otot adalah kemampuan otot untuk melakukan

kontraksi secara berturut-turut untuk waktu yang lama”.

Dick dalam Harsono (1998:202) menambahkan bahwa “ Daya tahan otot yang diistilahkan dengan StrengthEndurance adalah kemampuan seluruh organisme tubuh untuk mengatasi lelah pada waktu melakukan aktifitas yang menuntut Strength dalam waktu yang lama.

(6)

daya tahan otot, repetisi angkatannya harus lebih banyak daripada repetisi untuk latihan strength dan latihan power, yaitu antara 20 – 25 RM ( Repetisi Maksimal ). Hal ini berarti bahwa beban saat weight trainingnya lebih ringan daripada 25 RM ( Harsono (1988 : 191)).

Dari beberapa kutipan diatas dapat diterangkan bahwa dengan memiliki daya tahan otot yang baik, maka seorang atlet akan dapat melakukan aktifitas secara terus menerus sampai waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Dalam cabang olahraga atletik daya tahan otot ini sangat perlu sekali dimilki oleh pelari 400M, 800M. Dalam beberapa nomor atletik, faktor daya tahan otot sangat berpengaruh dominan dalam mencapai hasil yang maksimal karena dalam melakukan lari perlu adanya daya tahan otot yang baik, seperti daya tahan otot perut, punggung, lengan maupun otot tungkai

c. Daya Ledak (Power)

Menurut Harsono (1998:200) “Power atau daya ledak adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat” Sementara

menurut Sajoto (1988:55) “daya ledak adalah kemampuan melakukan gerakan secara

explosive”. Bompa (1994:55) “Menyatakan bahwa : Daya ledak merupakan hasil kali

(7)

Selanjutnya Sajoto (1988 : 55) menambahkan bahwa “ Daya ledak otot adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, dengan usaha yang dikerahkannya dalam waktu sependek –pendeknya”.

Selanjutnya Bompa (1994:231) menyatakan bahwa:

“Membedakan daya ledak menjadi dua bagian yaitu daya ledak siklis dan daya ledak asiklis. Daya ledak siklis merupakan daya ledak yang dilakukan secara berulang seperti pada lari cepat, renang cepat dan lain-lain, sedangkan daya ledak asiklis merupakan daya ledak yang dilakukan sekali saja tanpa ada pengulangan seperti menendang bola dan nomor lempar dan tolak dalam cabang olahraga atletik.

Dari beberapa kutipan diatas dapat dijelaskan bahwa latihan daya ledak tidak boleh hanya menekankan pada beban, akan tetapi harus pula pada kecepatan mengangkat, mendorong atau menarik beban. Oleh sebab itu, mengangkat dengan cepat maka berat bebannya tidak boleh seberat beban untuk latihan kekuatan. Dan tidak boleh juga terlalu ringan sehingga otot tidak merasakan beban. Beban juga tidak boleh terlalu berat sehingga transfer optimal dari kekuatan ke daya ledak tidak terjadi, jadi berat beban harus disesuaikan

(8)

d. Kecepatan (Speed)

Menurut Sajoto (1988 :58) kecepatan (speed) adalah : “Kemampuan

seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat – singkatnya.” Harsono (1998:216) juga menambahkan bahwa “kecepatan anggota tubuh seperti lengan atau tungkai adalah penting guna

memberikan akselarasi kepada objek-objek eksternal seperti atletik, sepak bola, soft ball, bola voli dan sebagainya”. Dalam cabang olahraga atletik, faktor kecepatan sangat berpengaruh dalam meningkatkan prestasi atlet, karena kecepatan merupakan kemampuan untuk menempuh suatu jarak dengan waktu yang singkat. Kecepatan bukan saja berarti menggerakkan tubuh secara keseluruhan tetapi juga dapat terbatas pada kecepatan anggota tubuh tertentu.

Nossek (1982:19) mengemukakan bahwa

“Kecepatan dalam aplikasinya dibedakan atas kecepatan lari atau Sprinting, kecepatan reaksi atau reaction speed dan kecepatan bergerak atau speed of movement. Kecepatan sprint adalah kemampuan organisme untuk bergerak dengan cepat lurus kedepan. Kecepatan ini tergantung pada kemampuan otot dan sistem artikulasi. Kecepatan reaksi adalah kecepatan menjawab suatu rangsangan sampai adanya respon awal pada otot, sedangkan kecepatan bergerak adalah kemampuan merubah dari suatu tempat ke tempat lain dalam suatu gerakan yang utuh degnan waktu yang cepat. Kecepatan bergerak ini dipengaruhi oleh unsur lain seperti kekuatan otot, daya ledak, kelincahan dan keseimbangan.”

(9)

waktu dan kecepatan melintasi suatu jarak yang diberikan. Hubungan antara ketiga faktor tersebut membantu memberikan suatu penilaian dari tampilan latihan yang memerlukan kecepatan” Bompa (1994:30) juga megemukakan bahwa:

“Membedakan kemampuan pada dua tipe yaitu kecepatan umum dan kecepatan special. Kecepatan umum didefenisikan sebagai kemampuan untuk menampilkan beberapa macam gerakan atau reaksi gerak dengan cara berulang-ulang. Sedangkan kecepatan spesial pada bagian yang lain tergantung pada kemampuan untuk melakukan sebuah latihan atau keterampilan pada kecepatan tertentu yang biasanya sangat tinggi.”

Kecepatan itu tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu kekuatan, waktu reaksi (reaction time), dan fleksibilitas (Koni Pusat didalam Deni (2010 : 16)). Jadi pada saat berlatih dalam upaya peningkatan kecepatan, seorang atlet haruslah dilatih juga kekuatannya, fleksibilitas dan kecepatan reaksinya dan tidak hanya berlatih kecepatannya saja tanpa unsur pendukungnya juga dilatih.

Kemudian Kent (1994 : 354) didalam Sudarman (2009) menjelaskan bahwa “Kecepatan pada cabang olahraga tertentu sangat dominan dan mutlak dibutuhkan.

Kecepatan lahir dari kekuatan yang telah dimiliki, dimana kecepatan ini menampilkan sebuah gerakan dalam periode waktu sesingkat mungkin.

(10)

e. Kelentukan (Flexibility)

Menurut Sajoto (1988:58) bahwa ”kelentukan adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya untuk melakukan segala aktifitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot, ligamen-ligamen sekitar persendian. Harsono (2000:8) juga berpendapat “kelentukan juga ditentukan oleh elastis tidaknya

otot-otot, tendon dan ligamen disekitar sendi tersebut. Dengan demikian seseorang yang fleksibel, adalah seseorang yang mempunyai ruang gerak luas dalam sendi-sendinya dan mempunyai otot-otot elastis

Kelentukan merupakan salah satu bagian komponen kondisi fisik, yang dikategorikan juga sebagai komponen kondisi fisik dasar. Disebut sebagai komponen fisik dasar adalah karena kelentukan tersebut berdiri sendiri, tidak dipengaruhi komponen kondisi fisik lainnya.

Para ahli memberikan defenisi terhadap kelentukan, seperti yang diungkapkan oleh Sadoso dalam Agita (2011:16) menyatakan bahwa “Kelentukan atau flexibility adalah kemungkinan gerak pada daerah gerak persendian atau golongan persendian”.

kemudian dapat disebutkan bahwa setiap orang memiliki kualitas kelentukan masing-masing, dengan kata lain kualitas daripada kelentukan tersebut adalah cenderung berbeda antar orang yang satu dengan yang lain

(11)

juga diungkapkan bahwa apabila seseorang terbentur dalam meningkatkan kualitas biomotor lainnya seperti kekuatan tersebut akan terbantu dengan peningkatan daripada nilai kelentukan. Terkait dengan olahraga atletik, unsur kelentukan sangat diperlukan terutama pada nomor-nomor lempar, lompat dan jalan cepat.

f. Daya Tahan (Endurance)

Istilah daya tahan sering disama artikan sebagai ketahanan. Para ahli memberikan defenisi atau pengertian tentang daya tahan, seperti Harsono (1998:155) menyatakan bahwa “daya tahan adalah suatu keadaan atau kondisi tubuh yang

mampu untuk bekerja untuk waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Harsono (1988:155) menyatakan bahwa :

“Oleh karena batasan daya tahan adalah kemampuan untuk bekerja (atau berlatih) dalam waktu yang lama” maka latihan untuk mengembangkan komponen daya tahan haruslah sesuai dengan batasan tersebut, yaitu latihan-latihan yang kita pilih haruslah berlangsung untuk waktu yang lama, misalnya lari jarak jauh, cross country atau lari lintas alam, fartlek, interval training, atau bentuk latihan apapun yang memaksa tubuh kita untuk bekerja dalam waktu yang lama (lebih dari enam menit)”.

Harre (1982:124) menyatakan bahwa “Daya tahan dalam olahraga merupakan kemampuan untuk menahan kelelahan” lebih lanjut Harre (1982:124) kebutuhan akan

(12)

seseorang memiliki daya tahan yang prima akan cepat mengalami pemulihan setelah melakukan kerja yang berat”.

Pengertian yang relatif sama dikemukakan oleh Harsono (1998:23) bahwa “Daya tahan dapat dibagi tiga bagian kategori yakni : daya tahan spesial yaitu

kemampuan tubuh (pusat saraf)melawan kelelahan, daya tahan otot lokal yaitu kemampuan tubuh (otot lokal) untuk melawan kelelahan sub maksimal dan daya tahan umum yaitu kemampuan tubuh (jantung – paru) dalam melawan kelelahan dengan insensitas rendah waktu lama”. Terkait dengan cabang olahraga atletik unsur

daya tahan sangat diperlukan terutama pada nomor lari jarak jauh (5.000m, 10.000m), jalan cepat dan maraton. Dalam melatih daya tahan otot dapat juga dilatih melalui latihan – latihan seperti yang diungkapkan oleh Harsono (1988 : 157) bahwa : “ Dua sistem latihan yang dapat menjamin peningkatan daya tahan (endurance), yaitu Fartlek dan interval training”.

(13)

2. Profil Pusat Pendidikan Dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) SUMUT

Pusat Pendidikan Dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Provinsi Sumatera Utara berdiri sejak tahun 1984 yang dilaksanakan oleh direktorat Keolahragaan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda da Olahraga Provinsi Sumatera Utara, yang berorientasi kepada pembinaan olahragawan pelajar berbakat untuk dibina dan ditingkatkan prestasinya di bidang olahraga. Disamping itu mereka harus dapat juga menyelesaikan studi dengan baik.

Di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Sumatera Utara cabang olahraga atletik mencakup nomor lari (100m, 200m, 400m, 800M, 1500m, 3000m steeplechase, 5000m), Lempar (Lembing, Cakram dan Tolak Peluru),dan jalan.

Atlet yang terdaftar sebagai atlet PPLP diberikan fasilitas yang memadai, mulai dari tempat tinggal dengan segala perlengkapannya seperti tempat tidur, lemari, dispenser, makan tiga kali sehari, uang saku perbulannya dan diberikan juga les malam demi meningkatkan mutu akademik mereka masing – masing.

(14)

yaitu : Bapak Nur Hasyim, S.Pd, pada nomor lempar, Bapak Lilik Herianto, S.Pd, pada nomor lari jarah menengah,jauh,dan jalan,dan yang terakhir Bapak Mardi Lestari, SE ,pada nomor lari Pendek (Sprint).

Dalam mencapai sebuah prestasi yang maksimal, tentulah harus ada upaya semaksimal mungkin dengan dibarengi usaha yang keras juga dari seorang atlet. Karena ini tentu akan menentukan prestasi yang akan dicapau olah atlet itu sendiri. Begitu juga dengan para atlet yang tergabung di PPLP yang dikarantina dan dipusatkan di Sunggal. Mereka difasilitasi dengan berbagai fasilitas yaitu diantaranya pemberian tempat tidur, sepatu latihan, baju latihan, sepatu lempar/lari, dan penambahan ekstra makanan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh secara langsung dari PPLP Sunggal, bahwa sistem perekrutan atlet PPLP Sunggal dilakukan dengan cara menyeleksi siswa atau pelajar yang berpotensi untuk dijadikan atlet dengan meleui berbagai tes yang telah ditetapkan seperti tes kesehatan dan tes fisik yang dilakukan oleh pihak Dispora Sumatera Utara. Dimana sebelumnya setiap pemerintah daerah telah mengirim calon atlet yang akan di seleksi untuk masuk dan bergabung dalam pemusatan latihan di Sunggal.

(15)

istirahatnya dikarenakan karena faktor aktifitasnya yang menyita waktunya, padahal aktifitas tadi belum tentu berguna atau bahkan tidak berguna yaitu seperti menelpon sampai larut atau bermain game sampai larut malam. Oleh karena itu para atlet harus tahu betul segala aktifitas yang ia jalani dan diharapkan dapat secara selektif memilih aktifitas yang memang bermanfaat bagi dirinya sehingga tidak mempengaruhi prestasinya sendiri.

Setiap hari kegiatan dari pada atlet – atlet PPLP ini sudah terprogram dan terjadwal, Mereka berlatih dari senin – sabtu dan pada hari kamis dan minggu mereka diberikan rest atau waktu untuk refreshing. Disamping itu mereka juga ditekankan menjaga waktu istirahatnya dalam upaya agar stamina masing – masing atlet tidak terganggu.Ini dapat dilihat dari jadwal kegiatan atlet PPLP berikut ini :

Tabel 1. Daftar kegiatan Atlet Setiap Harinya

NO WAKTU KEGIATAN

1 05.00 Bangun Pagi,Shalat

2 05.30 Latihan Pagi

3 06.30 Makan Pagi

4 07.00 – 13.00 Pergi Sekolah, pulang Sekolah

5 13.30 Makan Siang

6 14.00 Istirahat Siang

(16)

8 15.30 – 18.00 Latihan Sore

9 20.00 Makan Malam

10 20.30 – 22.00 Belajar, Apel Malam

11 22.00 Tidur

(Sumber : Dikutip dari daftar kegiatan sehari – hari atlet PPLP)

Dalam pemenuhan nutrisi PPLP, pihak pengelola telah menunjuk pihak catering yang telah mengatur menu setiap hari untuk para atlet yang berada di PPLP. Dalam penyediaan makanan pihak catering melayani seluruh atlet yang yang ada di PPLP, tentu ini sebenarnya tidak dianjurkan karena tentu akan mengurangi dari segi rasa atau bahkan dari segi nilai gizinya. Adapun menu atlet PPLP tidaklah tetap,ini akan terus berubah – ubah sesuai dengan pihak catering. Berikut adalah contoh dari menu makanan atlet PPLP :

Tabel 2. Daftar menu makanan atlet PPLP SUMUT

(17)

Malam

Malam Nasi,sambel ayam, sayur bening, sambel telur, Siang Nasi,telur rendang, ikan

goreng,sayur bayam,semangka

(18)

Untuk bidang akademik PPLP SUMUT bekerja sama dengan pihak SMA Negeri 15 Medan, Yayasan pendidikan Mulia dan SMP Negeri 30 Medan dan dibidang pelatih direkomendasikan oleh induk organisasi olahraga terkait,untuk atletik direkomendasikan oleh PASI). Berikut Nama-nama atlet atletik PPLP SUMUT Tahun 2012.

Tabel 3. Nama – Nama Atlet Atletik Nomor Sprint PPLP Sumatera Utara tahun 2012

(19)

3 Winda Sari P 2011 800 - 1500 Karo

Tabel 5. Nama – Nama Atlet Atletik Nomor Lempar PPLP Sumatera Utara tahun 2012

No Nama Atlet L/P Tahun

Masuk Spesialis

Asal Daerah

1 Abd. Hafiz L 2010 L.Lembing Medan

2 Wahyudi Ginting L 2010 T. Peluru Karo

3 Yolanda Ginting P 2011 T. Peluru Medan

4 Ayu Ardila P 2011 L.Cakram Binjai

Tabel 6. Nama – Nama Atlet Atletik Nomor Jalan PPLP Sumatera Utara tahun 2012

No Nama Atlet L/P Tahun

Masuk Spesialis

Asal Daerah

1 Yuni Shara P 2011 Jalan Cepat Medan

2 Syafaat Tarigan L 2012 Jalan Cepat Karo

(20)

Medan, dimana SMA N.15 ini memang sudah bekerja sama dengan pihak Dispora dalam pembinaan atlet.

B. Kerangka Berpikir

Untuk dapat mencapai prestasi yang maksimal, faktor kondisi fisik merupakan pendukung yang utama. Kondisi fisik memegang peranan penting pada atlet pada waktu mengikuti program latihan maupun pada saat akan berlomba. Program latihan kondisi fisik haruslah disusun secara baik dan sistematis agar terwujud tingkat kesegaran jasmani yang baik sehingga dengan demikian memungkinkan seseorang atlet untuk mencapai prestasi yang diharapkan.

Adapun kondisi fisik yang perlu dibina adalah : Kekuatan ( Strength ), Daya Tahan Otot ( Muscular Endurence), Daya ledak ( Power ), Kecepatan ( Speed ), Kelentukan ( Flexibility ), dan Daya Tahan ( Endurence ).

Kekuatan adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan satu kali kontraksi secara maksimal melawan tahanan/beban. Khususnya untuk cabang olahraga atletik. Otot yang paling dominan bekerja adalah otot lengan dan otot tungkai. Dengan memiliki kekuatan otot lengan dan otot tungkai yang baik, maka lemparan atau tolakan akan semakin jauh dan terarah.

(21)

renang, senam alat, tinju, atletik dan sebagainya. Dalam cabang olahraga atletik daya tahan otot sangat perlu sekali dimiliki oleh pelari 400 m, 800 m, dan 1.500 m.

Kecepatan adalah kemampuan untuk menempuh suatu jarak dengan waktu yang singkat. Kecepatan ini sangat memberikan kontribusi yang sangat besar pada nomor-nomor jarak pendek/sprint (100 m, 200 m, 400 m) dan lempar.

Kelentukan adalah kemampuan sendi untuk melakukan gerakan dalam ruang sendi secara maksimal. Terkait dengan olahraga atletik, unsur kelentukan sangat diperlukan terutama pada nomor-nomor lempar, lompat dan jalan cepat.

Daya ledak adalah gabungan antara kecepatan maksimal dan kekuatan maksimal. Daya ledak sangat diperlukan bagi seorang pelempar, pelompat, juga pada pelari jarak pendek, yakni pada saat start.

Daya tahan adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan yang ringan sampai tingkat intensitas sub maksimal, dengan melibatkan kelompok otot-otot besar secara terus menerus dalam waktu yang relative lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Terkait dengan cabang olahraga atletik unsur daya tahan sangat diperlukan terutama pada nomor lari jarak jauh (5.000 m, 10.000 m) dan jalan cepat.

(22)

Gambar

Tabel 1. Daftar kegiatan Atlet Setiap Harinya
Tabel 2. Daftar menu makanan atlet PPLP SUMUT
Tabel 3. Nama – Nama Atlet Atletik Nomor Sprint PPLP Sumatera Utara tahun 2012
Tabel 5. Nama – Nama Atlet Atletik Nomor Lempar PPLP Sumatera Utara tahun 2012

Referensi

Dokumen terkait

Lingkup penelitian ini adalah kebutuhan soft skills di dunia kerja industry garment dan kemampuan soft skills yang telah dimiliki oleh lulusan SMK khususnya pada

Pada hari ini Jumat tanggal Satu bulan November Tahun Dua Ribu Tiga Belas, kami selaku Panitia Pengadaan Barang/Jasa Pada Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan

Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa bagian batang hanya berpengaruh terhadap KA dan kerapatan kayu, sedangkan BJ, MOE, MOR, σtk// dan kekerasan sisi (tangensial dan

Tujuan pembelajaran yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensinya dimuat

[r]

Dengan demikian terhadap putusan arbitrase tidak dapat diajukan upaya hukum.. banding, kasasi atau

Terkait dengan Permohonan Pengujian Ketentuan Pasal 44 ayat (4) Undang- Undang Ketenagalistrikan atau Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan

Pada tugas akhir ini akan dibuat sistem perangkat lunak yang dapat membantu program KIA yang dapat dapat melakukan proses analisis menggunakan