METODE PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata kuliah Teori Belajar Matematika
Dosen: Widodo Winarso, M.PdI
pada Jurusan Matematika
Tahun Akademik 2017
Disusun Oleh :
Kelompok : 9
1. Wulan Marlina (1608105076) 2. Shofantun Nihayah (1608105060) 3. Nur Iban Faturohman (1608105077)
KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, sholawat serta salam semoga dicurahkan kepada nabi besar kita Nabi Muhammad saw, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang selalu taat dan patuh terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasullullah saw hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, berkat izin dan pertolongan dari Allah SWT, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Penulisan laporan ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Teori Belajar Matematika
Pada kesempatan kali ini, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan laporan ini dan semoga mendapat balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. Amin.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun terhadap penulisan makalah ini.
Akhirnya kami berharap, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat dan bisa dimanfaatkan, khususnya bagi kami dan umumnya bagi semua pihak yang berkepentingan. Semoga Allah swt meridhoi atas segala usaha hamba-Nya. Amin.
Cirebon, 6 Februari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Rumusan Masalah...3
1.3. Tujuan Pembahasan...3
BAB II...4
PEMBAHASAN...4
2.1. Pengertian Metode Discovery Learning...4
2.2. Kelemahan dan kelebihan Metode Discovery Learning...5
2.3. Langkah-langkah mempersiapkan aplikasi model Discovery Learning...7
2.4. Contoh penerapan dari Metode Discovery Learning...9
BAB III...10
PENUTUP...10
3.1 Kesimpulan...10
3.2 Saran...11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa:“ Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
model pembelajaran discovery learning adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya tidak melalui pemberitahuan, namun ditemukan sendiri. Penemuan (discovery) merupkan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran menurut Hosnan (2014: 280). Pada intinya, model discovery learning ini mengubah kondisi belajar anak yang tadinya pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi siswa aktif belajar. Mengubah penerimaan informasi secara keseluruhan dari guru menjadi siswa menemukan informasi sendiri melalui bimbingan guru.
Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Penggunaan metode Discovery Learning, ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Men gubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Mengubah modus Ekspositori siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri.
Bruner dalam (Suherman, 2003:44) mengemukakan bahwa anak-anak (siswa) berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental yakni: (a) enactive, pada tahap ini anak dalam belajar menggunakan atau memanipulasi obyek-obyek secara langsung; (b) iconic, menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek, anak sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek; dan (c) symbolic, anak memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi ada kaitannya dengan obyek-obyek. Teori belajar Bruner ini sangat mendukung dalam membantu anak-anak (siswa) dalam memahami konsep matematika karena keabstrakannya dalam usaha meningkatkan penalaran matematis siswa.
Ausubel dalam (Dahar, 2006:94) mengemukakan bahwa belajar diklasifikasikan dalam dua dimensi, (1) berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penerimaan atau penemuan, (2) bagaimana siswa mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Selanjutnya dikatakan bahwa pembelajaran dapat menimbulkan belajar bermakna jika memenuhi prasyarat, yaitu : (1) Materi yang akan dipelajari melaksanakan belajar bermakna secara potensial, (2) Anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna. Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa (Dahar, 2006:99).
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Metode Discovery Learning? 2. Apa kelemahan dan kelebihan dari Metode Discovery Learning? 3. Bagaimana persiapan dalam aplikasi model Discovery Learning?
4. Sebutkan contoh implementasi dari Metode Discovery Learning dalam pembelajaran matematika di SMA/MA?
1.3. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Mengetahui pengertian Metode Discovery Learning
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan Metode Discovery Learning
BAB II
PEMBAHASAN
1.1.Pengertian Metode Discovery Learning
Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa ssecara aktif dalam proses pembelajaran.
Menurut Wilcox (Slavin, 1977), dalam pembelajaran dengan penemuan siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Pengertian discovery learning menurut Jerome Bruner adalah metode belajar yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif didalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
Menurut Bell (1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagia hasil dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ie menemukan informasi baru. Dalam belajar penemuan, siswa dapat membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenaran dengan menggunakan prose induktif atau proses dedukatif, melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.
Pembelajaran Discovery learning adalah model pembelajaran yang mengatur sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
Dalam pembelajaran discovery learning, mulai dari strategi sampai dengan jalan dan hasil penemuan ditentukan oleh siswa sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Maier (Winddiharto:2004) yang menyatakan bahwa, apa yang ditemukan, jalan, atau proses semata – mata ditemukan oleh siswa sendiri.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan di transfer dalam kehidupan bermasyarakat.
1.2. Kelemahan dan kelebihan Metode Discovery Learning
Kelebihan discovery learning
1. Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah (problem solving)
2. Dapat meningkatkan motivasi
3. Mendorong keterlibatan keaktifan siswa
4. Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir
5. Menimbulakan rasa puas bagi siswa. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat
6. Melatih siswa belajar mandiri
7. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif
8. Menimbulkan rasa senang pada siswa
9. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri
11. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi
12. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.
13. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri
14. Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri
15. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar 16. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Kekurangan discovery learning
1. Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik
2. Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan 3. Tidak berlaku untuk semua topik
4. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berpikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi
5. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya
6. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama
7. Pengajaran Discovery Learning lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian
1.3. Langkah-langkah mempersiapkan aplikasi model Discovery Learning
Tahap Persiapan dalam Aplikasi Model Discovery Learning Seorang guru bidang studi, dalam mengaplikasikan metode discovery learning di kelas harus melakukan beberapa persiapan. Berikut ini tahap perencanaan menurut Bruner, yaitu:
a) Menentukan tujuan pembelajaran.
b) Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
c) Memilih materi pelajaran.
d) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
e) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
f) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
g) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa (Suciati & Prasetya Irawan dalam Budiningsih, 2005:50).
Prosedur aplikasi discovery learning
Adapun menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan model Discovery Learning di kelas tahapan atau prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum adalah sebagai berikut:
b) Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah). Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244).
c) Data collection (pengumpulan data). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya (Djamarah, 2002:22).
d) Data processing (pengolahan data). Menurut Syah (2004:244) data processing merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
e) Verification (pentahkikan/pembuktian). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41).
1.4. Contoh penerapan dari Metode Discovery Learning
Penggunaan metode pembelajaran dalam kegiatan belajar merupakan faktor yang sangat penting, karena dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi hasil pembelajaran. Dengan demikian dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa salah satu cara yang dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran discovery learning. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning pada Materi Peluang di Kelas X SMA Negeri 7 Banda Aceh” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran discovery learning lebih baik daripada rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Sedangkan metode Pembelajaran Discovery learning adalah model pembelajaran yang mengatur sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pembelajaran discovery learning (penemuan) merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme. Pada pembelajaran penemuan, siswa didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri.
2. Pembelajaran penemuan memliki beberapa kelebihan. Pembelajaran penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk terus bekerja hingga menemukan jawaban. Siswa melalui pembelajaran penemuan mempunyai kesempatan untuk berlatih menyelesaikan soal, mempertajam berpikir kritis secara mandiri, karena mereka harus menganalisa dan memanipulasi informasi.
3. Pembelajaran penemuan juga mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya dapat menghasilkan kesalahan dan membuang-buang waktu, dan tidak semua siswa dapat melakukan penemuan.
4. Seorang guru bidang studi, dalam mengaplikasikan metode discovery learning di kelas harus melakukan beberapa persiapan. Berikut ini tahap perencanaan menurut Bruner, yaitu:
Menentukan tujuan pembelajaran.
Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
Memilih materi pelajaran.
Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa (Suciati & Prasetya Irawan dalam
Budiningsih, 2005:50).
3.2 Saran
Berdasarkan uraian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa implementasi strategi discovery learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika SMA Negeri 7 Banda Aceh, Berdasarkan kesimpulan di atas, maka ada beberapa saran yang bisa dipaparkan dari penelitian ini yaitu:
1. Strategi discovery learning sangat membantu mengembangkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan melatih kesiapan siswa dalam menjawab pertanyaan atau soal latihan yang diajukan dalam kondisi apapun, maka dari itu dalam penggunaan strategi discovery learning sebaiknya siswa lebih berperan aktif sehingga siswa bisa memahami materi secara langsung.
2. Pembelajaran menggunakan strategi discovery learning dapat dijadikan salah satu solusi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran, hendaknya guru perlu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih bervariasi dan menyenangkan.
3. Siswa lebih termotivasi dan bersemangat karena pada strategi discovery learning menuntut siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat menemukan sendiri permasalahan yang diberikan oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi.2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Budiningsih, C Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Cahyo, N Agus. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Jogjakarta: DIVA press. 7