• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP NEGARA BARAT TERHADAP KEMENANGAN H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SIKAP NEGARA BARAT TERHADAP KEMENANGAN H"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Randi Andaru Putra NIM : 0901135801

MK : Komunikasi Politik (UAS) Kelas : A

Jur : Ilmu Hubungan Internasional

SIKAP NEGARA BARAT TERHADAP KEMENANGAN HAMAS DI PALESTINA ( ANALISA DALAM BENTUK KOMUNIKASI POLITIK )

Pemboikotan pengucuran dana bantuan bagi Palestina, serta blokade ekonomi dan dana pembangunan bagi Palestina pasca kemenangan Hamas menjadi menarik untuk dikaji. Harus diakui bahwa selama ini kelangsungan ekonomi Palestina banyak ditopang oleh bantuan dan pinjaman lunak negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat. sehingga, ketika Hamas, yang selama ini dikenal sebagai organisasi perlawanan Islam garis keras di Palestina dan sangat anti Barat memenangkan Pemilu. Maka Uni Eropa dan Amerika Serikat tersebut meradang dan mengancam tidak akan mengucurkan dana bantuan ekonomi Palestina untuk pembangunan di negara sarat konflik tersebut. Dan hal tersebut dibuktikan dengan sama sekali memblokade rekening Palestina di sejumlah negara Eropa, serta bantuan yang diperuntukkan bagi Palestina.

Sementara itu, yang menarik untuk disimak adalah konflik internal, sebagai akibat dari tidak sinergisnya antara Faksi Fatah, yang dipimpin oleh Mamoud Abbas, yang merupakan Presiden Palestina, dan Ismail Haniya, yang merupakan pemimpin Faksi Hamas, yang juga Perdana Menteri Palestina. Berkembangnya konflik tersebut makin mendorong problem rakyat Palestina makin kompleks. Sebagaimana diketahui bersama bahwa diblokadenya bantuan ekonomi dan keuangan telah membuat rakyat Palestina makin sengsara dalam kubang kesulitan ekonomi dan politik.

(2)

itu juga, akan dibahas hubungan timbal balik antara negara Barat dengan Pemerintahan Palestina pimpinan Ismail Haniya.

Komunikasi Politik dan Elit Negara

Formulasi dari pengertian komunikasi politik dalam berbagai persfektif memiliki perbedaan yang cukup signifikan.perbedaan tersebut bertitik tolak pada pembacaan secara akademis mengenai makna dari komunikasi dan politik itu sendiri. Dalam pandangan Astrid S. Soesanto, komunikasi politik diartikan sebagai pola komunikasi antara penguasa dalam hal ini pemerintah dengan masyarakat, sebagai upaya mengikat masyarakat dalam setiap kebijakan yang dibuat dengan berbagai sanksi yang diberlakukan dengan kesepakatan lembaga-lembaga politik lainnya1. Sedangkan Dan

Nimmo melihat komunikasi politik sebagai bagian dari pengembangan dan penyelesaian dari sebuah konflik. Dan Nimmo bahkan secara gamblang melihat esensi dari komunikasi politik sebagai pembuat dan upaya penyelesaian konflik yang terjadi, bisa antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan pemerintah, ataupun negara dengan negara.2

Dalam upaya untuk membaca sistem nilai suatu bangsa, maka dapat dilihat dengan mengkaji dan mem-blejeti pemahaman mitos dan etos dari bangsa tersebut. Mitos diartikan sebagai pola tentang nilai-nilai dasar dan pengalaman yang menjadi karakter manusia yang ditrasnformasikan melalui ilmu pengetahuan, pengalaman, serta sistem nilai. Sementara etos suatu negara juga berkait dengan seperangkat nilai yang bersifat fundamental yang dijadikan satu pijakan moral yang memberi arah terhadap tujuan nasional suatu negara. bila dilihat dari dua hal tersebut, maka hakikat komunikasi politik bertitik tolak pada hakikat manusia yang selalu ingin mengembangkan jalinan komunikasi dengan manusia lain yang berada dalam determinan geopolitik, budaya, maupun lingkungan yang berbeda. Hal ini diasumsikan sebagai penegasan bahwa komunikasi politik harus mampu menembus batas ragam kepentingan, lintas wilayah, dan daerah, lintas keyakinan, yang beresensi pada terbangunnya kepentingan bersama tanpa ada satu negarapun yang dirugikan.

1 Susanto, S. Astrid. 1975. Pendapat Umum. Jakarta: Bina Cipta. Hal. 55

(3)

Sementara itu, sebagai unsur penegas, komunikasi politik juga memiliki unsur-unsur, adapun unsur-unsur tersebut adalah3: Pertama, komunikator politik, yakni individu-individu yang

menduduki struktur kekuasaan, individu-individu yang berada dalam suatu instnasi, asosiasi, partai politik, lembaga-lembaga pengelola media massa, tokoh masyarakat, pemimpin suatu negara, badan-badan internasional, dan lain-lain. Kedua, komunikan politik, yakni orang yang menerima pesan dari komunikator politik. Komunikan dapat bersifat perorangan (individual), kelompok (group), institusi, organisasi, masyarakat, partai politik, negara, dan pemerintahan negara lain.

Ketiga, isi atau pesan-pesan komunikasi politik. Isi atau pesan komunikasi ini merupakan produk dari proses komunikasi yang berlangsung. Isi pesan setidaknya menyangkut, yakni: (a) Seperangkat norma yang mengatur lalu lintas transformasi pesan-pesan. (b) Panduan dan nilai nilai idealis yang tertuju kepada upaya mempertahankan dan melestarikan sistem nilai yang sedang berlangsung. (c) Sejumlah metode dan cara pendekatan untuk mewujudkan sifat-sifat integratif bagi penghuni sistem. (d) Karakteristik yang menunjukkan identitas bangsa. (e) Motivasi sebagai dorongan dasar yang memicu pada upaya meningkatkan kualitas hidup bangsa.

Keempat, media komunikasi politik. Unsur ini sangat penting artinya bagi pengguna dan pemanfaat komunikasi politik, apakah personal, kelompok, ataupun negara yang berbentuk symbol ataupun bentuk-bentuk yang mampu menjadi media bagi efektifitas komunikasi politik di dalam negara, ataupun antar negara. Kelima, tujuan komunikasi politik. Dalam komunikasi politik, tujuan komunikasi selalu beririsan dengan tujuan nasional suatu negara. demi mencapai tujuan tersebut, maka sumber sumber komunikasi diolah scara bijak melalui perencanaan yang matang dan terarah. Satu hal yang harus digaris bawahi juga disini adalah tujuan komunikasi politik yang hendak dicapai sangat tergantung pada sistem politik dan pemerintahan suatu negara. Keenam, sumber komunikasi politik. Sumber diartikan sebagai asal keluarnya, diperolehnya atau munculnya isu, informasi yang dapat dijadikan materi atau pesan dari komunikasi politik. Hal yang harus ditegaskan adalah bahwa sumber komunikasi politik sangat menentukan kualitas dan kredibilitas komunikasi politik.

(4)

Satu penegasan yang sulit dibantah dalam kasus embargo ekonomi dan pemboikotan bantuan ekonomi negara Barat terhadap Palestina adalah upaya untuk memposisikan Palestina tergantung dan di bawah kontrol negara-negara Barat. Hal ini terkait pada upaya Barat untuk tetap menjadi negara penyanggah bagi kepentingannya di Timur Tengah. Sementara di luar Faksi Fatah, yang cenderung moderat, justru menganggap bahwa ketergantungan atas bantuan ekonomi dan keuangan akan membuat Palestina makin terperosok ke dalam kubang penderitaan dan keterjajahan. Dua asumsi tersebut di atas makin menegaskan bahwa komunikasi politik antara negara-negara Barat dan Amerika dengan pemerintahan Palestina pasca kemenangan Hamas mengalami kebuntuan. Hal ini terletak pada komunikator politik di masing-masing negara memiliki keyakinan dan pendapatnya masing-masing-masing-masing. Sehingga yang terjadi upaya saling membenarkan terhadap sikap yang diambilnya. Barat masih menggangap bahwa Hamas adalah organisasi politik yang anti Barat, menolak berunding dengan Israel, dan tidak mengakui Israel. Sementara di internal Palestina sendiri terjadi konflik yang disebabkan oleh perebutan kontrol atas berbagai lembaga strategis lainnya, selain masalah metodologi perjuangan yang juga berbeda satu dengan yang lainnya.

(5)

Teori Komunikasi Politik

Secara sederhana, komunikasi politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan juga aktor-aktor politik didalamnya atau yang berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan dan juga kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara yang memerintah dan yang diperintah.Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja, mulai dari tokoh partai, dosen, mahasiswa hingga lapisan masyarakat bawah dan tidak mengherankan jika ada yang menjuluki komunikasi politik sebagai sekedar neologisme atau ilmu yang sebenarnya tidak lebih dari istilah belaka. Dalam prakteknya, komunikasi politik sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada satupun manusia yang tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang komunikasinya sudah terjebak dalam sebuah analisis dan kajian dalam ilmu komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar soal kenaikan harga bahan bakar minyak adalah salah satu bentuk dari kecenderungan didalam komunikasi politik itu sendiri.

(6)

Dari penjelasan di atas, komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan dan penyebaran tindakan yang dilakukan oleh komunikator yang memiliki makna. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat secara inheran didalam ssetiap fungsi sistem politik. Komunikasi politik mengatarkan setiap lembaga atau pemangku kepentingan dan cakupan konsekuensi atas bergulirnya kebijakan tersebut. Dalam prakteknya, komunikasi politik memiliki bentuk-bentuk yang lebih konkret dalam retorika politik, agitasi, propaganda, politik, kampanye politik, pembentukan opini, lobby politik dan lain sebagainya.

Teori Empati dan Homofili

Asumsi dasar dari teori ini adalah komunikasi politik akan berjalan sukses bila seorang komunikator dapat menempatkan diri dengan baik kedalam sudut pandang khalayak atau masyarakat. Hal ini erat kaitannya dengan pencitraan diri komunikator politik untuk menyesuikan suasana pikirannya dengan alam pikiran khalayak atau masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa empati adalah kemauan untuk menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Berlo memperkenalkan teori yang dikenal dengan nama teori penurunan dari penempatan diri dalam diri orang lain, artinya komunikator mengadalkan diri, bagaimana jika ia sedang berada dalam posisi komunikan

Homofili dapat digambarkan sebagai suasana dan kondisi kepribadian dan kondisi fisik. Komunikasi yang dilaksanakan atas dasar kesamaan akan lebih efektif dan lancar dibandingkan dengan komunikasi yang dilaksanakan atas dasar ketidaksamaan. Komunikasi politik model ini dengan mudah dapat dilihat pada politikuas atau kader partai di Indonesia, yaitu memiliki kostum yang seragam, atau dapat dilihat pada diri seorang kepala daerah tertentu yang merupakan seorang putra daerah di wilayah kepemimpinannya. Dia memiliki bahasa, pakaian, adat atau budaya yang sama dengan masyarakat yang dipimpinnya.

(7)

penerima adalah homofili karena orang-orang yang mirip cenderung menemukan makna-makna dan diakui secara bersama dan yang ketiga adalah homofili dan komunikasi saling memelihara karena makin banyak komunikasi di antara mereka, makin cenderung dapat berbagi pandangan dan melanjutkan komunikasi.

Kesimpulan :

Komunikasi politik antar negara yang tidak cukup baik membawa implikasi kepada kesulitan ekonomi rakyat Palestina. Meski dari kondisi tersebut, membawa efek positif bagi pembangunan kepemilikan dan kecintaan rakyat Palestina pada eksistensi bangsa. Sehingga, dalam konteks diplomasi politik juga harus disadari benar bahwa membangun hubungan dan opini yang terus beranjak dinamis menyebabkan komunikasi politik yang intensif antar negara akan mampu meminimalisir hal-hal negatif. Sehingga hal-hal yang mampu meningkatkan kerja sama dan membangun posisi politik yang sama, akan mampu membangun komunikasi timbal-balik, baik sebagai penegas eksistensi bangsa, maupun pengembangan kesadaran masyarakatnya perihal penolakan terhadap bentuk-bentuk penjajahan baru dalam bentuk pemaksaan kehendak dan pembangunan ketergantungan ekonomi.

Referensi

A.P. Sumarno. Et al. 1999. Dasar-dasar Komunikasi Politik. Bandung: Alumnus Brown, Bernard E.Roy Macridis (ed) 1996. Comparative Politics: Notes and Readings. Belomont:Wadsworth Publishing Company.

Muhaimin, Yahya. Colin MacAndrews. 1995. Masalah-masalah Pembangunan Politik. Yogyakarta: UGM Press.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pemberdayaan ekonomi rakyat di Pantai Parangtritis yang sangat berpotensi, dengan dilakukannya upaya pengembangan Obyek Wisata Pantai Parangtritis sehingga menjadi tempat

Dalam pasal 10 ayat 3 Undang-Undang Hak Tanggungan ditentukan bahwa apabila obyek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi hak lama yang telah

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, dapat dikatakan bahwa skripsi mahasiswa Ilmu Komunikasi sebagai suatu hasil penelitian mahasiswa dilakukan dengan metode ilmiah yang

2) Latar Belakang Masalah.. Khusus PKMK, uraikan proses dalam mengidentifikasi peluang usaha. Gambarkan secara kuantitatif potret, profil dan kondisi khalayak

Alhasil, perseroan masih mencatat rugi bersih sebesar US$ 434,2 ribu atau naik 2,47% dari rugi bersih periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 423,7

Dari sembilan gapura yang melambangkan Sembilan Wali atau Wali Sanga itu terdapat tiga gapura yang diyakini sebagai bangunan asli peninggalan Sunan

alkohol 70%, basahi kapas dengan alkohol kemudian oleskan ke seluruh permukaan media tumbuh, sterilkan spatula dengan menyemprotkan alkohol kemudian dilidah

Penelitian ini merujuk pada Gratification Sought (GS) untuk mengetahui motif dari anggota komunitas Backpacker Indonesia (BPI) dalam menonton tayangan Jejak