1
PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN BAGI NARAPIDANA ANAK Oleh: Ratna Purba1 dan Nurhadi2
INTISARI
Tulisan ini akan mengkaji pemenuhan hak pendidikan bagi narapidana anak. Topik ini dianggap penting mengingat, selama dalam masa tahanan, narapidana anak tidak dapat mengakses pendidikan di luar lembaga pemasyarakatan (Lapas). Di sisi lain, hak pendidikan merupakan salah satu hak dasar yang harus dipenuhi. Tulisan ini disusun berdasarkan hasil studi kualitatif yang dilakukan terhadap narapidana anak di Lapas Kelas IIA Samarinda. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan interview terhadap narapidana anak dan petugas Lapas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi pemenuhan hak pendidikan bagi narapidana anak. Variasi tersebut terlihat antara kategori pendidikan formal dan informal maupun antar jenjang pendidikan (Paket A, B dan C). Studi ini juga menemukan bahwa penerimaan anak terhadap program pendidikan yang diselenggarakan Lapas sangat bervariasi. Narapidana anak juga merasa tidak diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi terkait kegiatan yang sesuai bagi mereka. Hadirnya partisipasi anak dalam berbagai kegiatan Lapas lebih karena adanya paksaan.
Kata kunci: hak anak, pemenuhan hak pendidikan, narapidana anak
A. PENDAHULUAN
Kejahatan yang dilakukan oleh anak, atau dalam kadar yang lebih rendah - kenakalan anak, bukan merupakan hal baru. Di negara-negara Eropa, memasuki pertengahan Abad ke-19 sebagian anak masuk dalam tindak-tindak kejahatan. Hingga saat ini pun tindak kenakalan anak tidak hilang dalam kehidupan masyarakat manapun. Dalam beberapa tahun belakangan ini fakta-fakta menunjukan hal yang cukup mengejutkan: anak yang dianggap sebagai penerus bangsa dan bahkan wajib dilindungi, banyak terlibat dalam tindak kejahatan. Hal tersebut tentulah menjadi masalah sosial baru yang patut mendapatkan perhatian dari banyak pihak, karena menyangkut masa depan anak. Anak yang mengalami masalah sosial, dapat digolongkan masuk dalam situasi anak rawan, yakni sebuah keadaan dimana sang anak karena situasi, kondisi, dan tekanan kultur maupun struktur tidak mendapatkan hak-hak mereka. Bahkan anak yang masuk dalam kondisi anak rawan akan mudah tereksploitasi dan terdiskriminalisasi oleh lingkungannya.
1
Alumnus Program Studi S2 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, FISIPOL UGM 2
2
Irwanto (dalam Suyanto, 2010:4-5), mengacu pada kategori PBB, memberikan beberapa kategori kondisi anak rawan, yakni: (i) anak yang ditelantarkan atau mengalami kekerasan, (ii) anak yang berkonflik dengan senjata, (iii) anak yang dipekerjakan baik formal maupun informal, (iv) anak yang bekerja di pekerjaan yang mengandung resiko tinggi, (v) anak yang terlibat dalam zat-zat psikoaktif, (vi) anak yang terdiskriminatif (cacat, kaum minoritas, miskin, tidak memiliki akte kelahiran/KTP), (vii) anak yang karena status sosial perkawinannya menjadi terdiskriminatif, dan (viii) anak yang berkonflik dengan hukum. Dari beberapa kategori tersebut terlihat bahwa anak akan masuk dalam dua posisi, yaitu anak sebagai korban dan anak sebagai pelaku. Adanya anak sebagai pelaku tindak kejahatan tentu akan membawa anak berurusan dengan hukum.
Pada pertengahan Abad ke-19 negara-negara Eropa menggunakan lembaga sekolah/asrama sebagai bentuk pengontrolan bagi anak. Sekolah merupakan sebuah lembaga dengan menggunakan sistem pendidikan yang dianggap dapat mendisiplinkan anak. Hal tersebut tidak jauh berbeda pada saat ini. Sekolah merupakan tempat pengajaran/sistem pendidikan, yang juga dapat dikatakan membentuk kepribadian anak menjadi lebih baik. Namun dengan menyebarnya sistem sekolah ternyata tidak mengurangi tingkat kejahatan yang dilakukan oleh anak. Sebagai contoh, kasus yang terjadi pada tahun 2012, seorang anak di Sulawesi Tengah harus berhadapan dengan hukum karena dituduh melakukan pencurian sandal milik anggota Brimob (Natalia, pada Kompas.com, edisi: 6 Januari 2012).
Kejadian lain yang dapat kita jadikan contoh yakni di tahun 2013, seorang anak berusia 11 tahun harus mendapatkan hukuman kurungan penjara karena melakukan pencurian (Leandha, pada Kompas.com, edisi: Jumat, 7 Juni 2013). Kasus-kasus lain yang juga dapat dilakukan oleh anak yakni pelecehan seksual, narkoba bahkan sampai pada pembunuhan. Anak berkonflik dengan hukum tentulah bukan permasalahan biasa, seorang anak yang diharapkan mendapatkan kehidupan yang layak bahkan terhindar dari tekanan justru dihadapkan dengan sistem peradilan.
3
kurungan penjara. Penjara atau yang saat ini dikenal dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM Indonesia. Lapas merupakan sebuah lembaga penghukuman bagi para masyarakat pelanggar hukum. Selanjutnya Rutan atau yang dikenal dengan rumah tahanan adalah lembaga penahanan para masyarakat yang sedang berhadapan dengan masa peradilan. Perbedaan fungsi Rutan maupun lapas kini sangat sulit dibedakan; hal ini disebabkan kerena jumlah narapidana yang terus meningkat. Meningkatnya jumlah narapidana tidak diikuti oleh terciptanya Lapas ataupun Rutan di setiap wilayah, sehingga masalah over kapasitas tidak dapat dihindari. Masalah over kapasitas inilah yang menyebabkan Rutan terpaksa menampung para narapidana bahkan membina mereka, sebagaimana apa yang seharusnya diterima dalam Lapas.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) pada bulan September 2015, jumlah anak yang berstatus tahanan maupun narapidana ada sebanyak 2.941 anak. Dari jumlah tersebut sebanyak 615 anak laki-laki dan 18 anak perempuan berstatus tahanan; sedangkan sejumlah 2.273 anak laki-laki dan 35 anak perempuan berstatus narapidana. Selain itu patut diketahui di waktu yang sama, data menunjukan bahwa ada 2.020 anak yang ditempatkan dalam Lapas maupun Rutan umum atau bercampur dengan orang dewasa (data terakhir jumlah per kanwil, diakses melalui : http://smslap.ditjenpas.go.id, pada 15 September 2015). Bercampurnya anak dengan tahanan maupun narapidana dewasa bukan tanpa sebab. Dari 33 provinsi, Indonesia hanya memiliki 17 lembaga pemasyarakatan khusus anak. Maka dapat dipastikan provinsi yang tidak memiliki lembaga pemasyarakat anak akan menggabungkan tahanan maupun narapidana anak dengan mereka yang dewasa.
4
Mengenai apa saja yang menjadi hak anakpun telah jelas ditungkan dalam undang-undang perlindungan anak (UU No 23 Tahun 2002 dengan perubahan sesuai UU No. 35 Tahun 2014).
Sekalipun negara telah memberikan regulasi mengenai perlindungan hak anak, pertanyaan berikutny adalah: dapatkah akses pemenuhan tersebut terpenuhi atau diberikan dalam Lapas maupun Rutan? Hal ini terutama jika melihat realitas bahwa lembaga pemasyarakatan anak tidak terdapat di setiap wilayah Indonesia. Sebagai contoh, Kalimantan Timur memiliki 11 Lembaga Pemasyarakatan, sembilan diantaranya mengalami over kapasitas. Sampai pada Bulan September 2015 tercatat sebanyak 9 tahanan dan 73 narapidana yang tersebar dan bercampur dengan narapidana dewasa (Kanwil Kalimantan Timur, diakses melalui :
http://smslap.ditjenpas.go.id pada 15 September 2015).
Permasalahan over kapasitas tentu merupakan permasalahan yang cukup berat bagi lembaga pemasyarakatan, para petugas harus dapat mengawasi dan mendampingi ratusan orang dengan tenaga seadanya. Terlebih lagi munculnya beberapa kasus pelanggaran yang terjadi di dalam Lapas. Seperti yang terjadi di Lapas Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur. Kasus tesebut menjerat salah seorang petugas pemasyarakatan menjadi tersangka atas tindakan sodomi yang dilakukan terhadap 7 orang narapidana. Salah satu narapidana yang menjadi korban merupakan narapidana anak yang berumur 17 tahun (Makur, diakses melalui
Kompas.com, edisi 28 Agustus 2014).
5
Selanjutnya, Ahmadi & Uhbiyati (2015) menjelaskan bahwa anak merupakan seseorang yang membutuhkan tuntunan, pelayanan maupun dorongan agar dapat mempertahankan hidupnya. Agar dapat mempertahankan hidupnya maka seseorang khususnya anak memerlukan pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah cara untuk mendapatkan kepandaian, keterampilan serta pembentuk perilaku seseorang agar dapat mandiri/dewasa. Salah satu tujuan penting dari pendidikan yakni mendidik dan membimbing anak agar dapat hidup serasi dengan masyarakat lain. Anak harus disiapkan untuk dapat menerima norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu dengan adanya pendidikan anak disiapkan agar dapat menjadi agen pembangunan bangsanya.
Dari uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang hendak dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana pemenuhan hak pendidikan bagi narapidana anak? Untuk menjawab permasalahan tersebut maka telah dilakukan qualitative case study di Lapas Kelas IIA Samarinda. Lapas ini dipilih karena telah ditetapkan sebagai Lapas khusus anak oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan pada tahun 2014 (ditjenpas.web.id. edisi 15 Oktober 2014). Penelitian dilakukan terhadap 22 napi anak yang berumur antara 14
– 18 tahun. Anak-anak tersebut menjadi narapidana anak karena mereka narkoba (12 anak), asusila (5 anak), curanmor (3 anak) dan jambret (2 anak). Untuk mengetahui informasi tentang pemenuhan hak pendidikan napi anak digunakan metode pengumpulan data berupa observasi, interview dan dokumentasi.
B. HAK ANAK DALAM PENDIDIKAN
Prinsip utama dalam penyelenggaraan hak anak didasari oleh tidak adanya diskriminasi terhadap anak; segala keputusan yang akan diambil harus berdasarkan pada kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of children). Anak berhak mendapatkan perlindungan, berhak untuk hidup dan berhak menyuarakan pandangannya (James dan James, 2012 :180). PBB sebagai salah satu lembaga dunia yang menaruh banyak perhatian pada anak menginisiasi sebuah konvensi mengenai hak anak. Dari konvensi tersebut diputuskan bahwa anak memiliki beberapa hak dasar, yaitu:
6
kesehatan merupakan beberapa contoh hak yang dapat mendorong tumbuh kembang anak.
2. Hak perlindungan (rights to protection) merupakan hak anak untuk mendapatkan perlindungan, bahkan pencegahan dari penyalahgunaan, pelanggaran hak anak. Negara berhak memberikan perlindungan dari diskriminasi, kekerasan maupun eksploitasi anak.
3. Hak berpartisipasi (rights to participation), anak berhak masuk dan mengangkat suara dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya.
Dari 3 hak dasar tersebut menciptakan 10 hak penting dalam kehidupan anak, yakni hak bermain, pendidikan, kesehatan, hak atas perlindungan, mendapatkan nama, mendapatkan kebangsaan, mendapatkan makanan, mendapatkan rekreasi, mendapatkan kesamaan (kesetaraan) dan peran dalam pembangunan.
Salah satu hak anak yang patut dilindungi yakni hak atas pendidikan. Hak ini menjadi sangat penting karena pendidikan dipandang sebagai sebuah cara mengajarkan/mendidik, mendisiplinkan anak agar menjadi generasi penerus yang berkompeten. Hak tersebut banyak mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, misalnya Ahsinin (tanpa tahun) dari Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA). Ahsinin menyatakan bahwa anak merupakan kolompok rentan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sosial, maka negara wajib memberikan perlindungan bagi anak terutama dalam melindungi hak mereka. Salah satu bentuk perlindungan penting harus diberikan pada anak yakni yang berkaitan dengan pendidikan anak.
7
menjelaskan proses kegiatan secara spesifik dalam setiap program pemenuhan hak narapidana anak.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Andi Soraya Tenrisoji Amiruddin (2013) mengenai pemenuhan hak narapidana dalam mendapatkan pendidikan dan pelatihan anak di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Kota Pare-pare. Penelitian ini menunjukan bahwa pemenuhan hak narapidana anak masih sangat kurang. Terdapat beberapa penghalang dalam mencapai kepuasan hak anak yaitu berupa kurangnya kapasitas ruangan, kurangnya dana, sarana maapun prasarana, tidak adanya pekerja profesional terutama pegawai (SDM) yang menangani narapidana anak, dan sulitnya memberikan arahan pada narapidana anak. Amiruddin dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa pendidikan anak lewat keterampilan kerja akan mendukung pembangunan nasional. Hal tersebut digambarkan dari adanya kegiatan keterampilan kerja yang dilaksanakan dalam lembaga pemasyarakatan, namun dalam penelitian tersebut hanya melihat dari pandangan para petugas. Peneliti tidak dapat menggambarkan bagaimana pandangan narapidana anak terhadap kegiatan pelatihan kerja tersebut.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Afandi Haris Raharjo (2014) mengenai pemenuhan hak narapidana anak untuk mendapatkan pendidikan di Lapas (Studi kasus Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar). Dalam penelitiannya Raharjo tidak menjelaskan bentuk penilaian/hasil penelitian yang dilakukan oleh para petugas dalam menganalisis kebutuhan narapidana anak. Namun dalam penelitian tersebut Raharjo menunjukan bahwa petugas telah memberikan upaya pemenuhan hak narapidana anak terutama dalam hal pendidikan. Terdapat Program Kejar (Kelompok belajar) Paket A, B, dan C; selain itu adanya narapidana yang mendapatkan akses sekolah di luar Lapas serta adanya kerja sama dengan dinas pendidikan untuk mendatangkan tenaga pendidik. Sementara kendala yang juga ada dilapas ini yakni, kurangnya sarana, terbatasnya tenaga pendidik, kurangnya tenaga pengawalan, kurangnya dana bagi pendidikan anak dalam Lapas.
8
Tenaga Kerja, Departemen Perindustrian dan Dinas Kesehatan. Namun demikian penelitian ini tidak menggambarkan pemenuhan hak dari sudut pandang petugas pemasyarakatan maupun dari sisi narapidana anak. Sehingga penelitian tersebut tidak menjelaskan bagaimana proses, manfaat serta bentuk partisipasi anak ataupun petugas dalam sebuah kegiatan.
Sri Ismawati (2013) melakukan studi komparasi tentang mekanisme penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum pada masyarakat Dayak Kanayatn. Ismawati memberikan gambaran jika seorang anak melakukan pelanggaran hukum, maka anak tersebut akan mendapatkan hukuman yang sama dengan orang dewasa. Namun yang menjadi perbedaan yakni anak tidak menanggung sendiri sanksi tersebut. Sanksi adat akan diberikan juga kepada keluarga korban. Namun sanksi bukanlah seperti halnya dengan sistem hukum formal; sanksi adat akan memberikan pendendaan berupa benda-benda yang harus diberikan kepada korban. Jika dalam undang-undang negara memberikan batasan bahwa anak merupakan seseorang yang berusia dibawah 18 tahun termasuk dalam kandungan; namun dalam penelitian Ismawati tidak menjelaskan batasan umur seseorang masih dikategorikan anak dalam Suku Dayak Kanayatn. Maka tidak heran jika sanksi yang diberikan pada anak sama halnya dengan sanksi yang diberikan pada orang dewasa pada umumnya.
Imran Adiguna, Aswanto, Wiwie Heryani (tanpa tahun) melakukan studi tentang penerapan diversi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dalam sistem peradilan pidana. Penelitian ini menunjukan bahwa diversi dilaksanakan agar anak terhindar dari efek negatif sistem peradilan dan sistem penghukuman penjara bagi anak. Kelebihan pada penelitian ini yakni memberikan penjelasan bahwa diversi anak tidak mudah dilakukan karena masyarakat menganggap pelaku kriminal sekalipun anak-anak harus mendapatkan hukuman yang sesuai dengan undang-undang. Dengan demikian pelaksanaan diversi akan ditolak oleh pihak korban tindak pidana.
9
dijelaskan, terlihat bahwa sudut pandang anak sama sekali tidak diangkat; yang dilihat hanyalah dari sisi orang dewasa, bahkan dari aturan yang berlaku saja. Oleh sebab itu penting kiranya untuk melihat sudut pandang narapidana anak selama menjalani masa hukuman – yang merupakan fokus dari pembahasan ini. Untuk melihat hal tersebut, maka studi ini menggunakan beberapa indikator terpenuhinya hak pendidikan anak, meliputi: (i) ketersediaan, berfungsinya lembaga pendidikan, program pendidikan yang layak, (ii) aksesibilitas, tidak adanya diskriminasi bagi siapapun dalam mengakses lembaga pendidikan, siapapun dapat merasakan pendidikan, (iii) akseptibilitas, lembaga pendidikan memiliki kurikulum, metode belajar, yang sesuai dengan kebudayaan yang dipegang anak didik, dan (iv) adaptibilitas, pendidikan diharuskan dapat menyesuaikan perubahan dalam masyarakat.
C. LAPAS DAN PEMBENTUKAN BUDAYA ANAK
Gagasan mendasar masuknya anak ke dalam Lapas adalah untuk menciptakan budaya anak yang sesuai dengan sistem budaya yang dibangun manusia dewasa. Anak yang telah divonis melanggar aturan hokum diharapkan dapat berperilaku sesuai dengan norma dan aturan yang diidealkan dalam masyarakat. Tiga sub-bab berikut akan membahas upaya lapas dalam merubah budaya anak.
C.1. Budaya anak dalam Lapas
Budaya memiliki dua unsur penting yakni bahasa dan partisipasi. Bahasa digunakan agar seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain sekalipun dengan menggunakan kode-kode tertentu. Sedangkan partisipasi diciptakan agar seseorang dapat melihat bahkan mengikuti kegiatan yang diadakan. Kegiatan yang berlangsung secara berkepanjangan dan terus berulang akan menjadi sebuah kebiasaan bahkan membudaya dalam kehidupan setiap orang. Corsaro (2014:34-39) menerangkan bahwa seseorang mulai mengenal budaya saat orang tersebut lahir, dimana anak akan diajak berpatisipasi mengenal budaya yang ada disekitarnya. Partisipasi anak dimulai dari adanya komunikasi antara orang dewasa dan anak, dari komunikasi tersebut akan menciptakan sebuah interaksi.
10
atau diterima dari lingkungannya, anak dapat pula menciptakan budaya baru yang dapat mereka terapkan pada dunianya. Maka dapat dikatakan bahwa seorang anak akan mendapatkan, lalu mengolah sendiri informasi-informasi mengenai budaya di sekitarnya. Setelah mendapatkan informasi tersebut anak dapat memproduksinya menjadi sebuah budaya baru dan akan mereka praktekan pada teman-temannya. Selain dalam mempelajari budaya, anak juga dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, terutama yang berkaitan dengan kelangsungan hidupnya. Wyness (2013) menyatakan bahwa setiap anak berhak berpartispasi dalam bidang sosial, ekonomi maupun politik.
Pandangan Corsaro dan Wyness tersebut sangat sulit dilihat dalam mengamati budaya anak di Lapas. Anak sebagai seorang narapidana diharuskan (dipaksa) mengikuti budaya, norma bahkan peraturan yang ada dalam Lapas. Apabila Corsaro menyatakan anak dapat mengambil dengan sendirinya informasi dari lingkungan dan memproduksi pada dunianya, tidak demikian halnya saat anak berada dalam Lapas. Anak mendapatkan paksaan dari adanya aturan-aturan yang berlaku. Paksaan tersebut diciptakan agar setiap narapidana termasuk anak dapat taat dan mendisiplinkan diri pada aturan yang berlaku di Lapas. Pandangan ini dapat mendukung pernyataan Simon dan Sunaryo (2011 :145-146) yang menyatakan bahwa penjara (Lapas) adalah lingkungan masyarakat dalam masyarakat. Masyarakat yang berada dalam penjara diharuskan masuk dalam sebuah sistem sosial baru dan mengikuti aturan bahkan kebiasaan dalam Lapas. Baik dari proses masuk, penempatan ruang, bergaul maupun masuk dalam kegiatan yang ada.
Hasil penelitian di Lapas Kelas II A Samarinda menunjukkan bahwa salah satu kegiatan yang selalu dilakukan oleh para narapidana yakni apel. Apel merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk mengecek jumlah narapidana. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah adanya narapidana yang kabur/meloloskan diri dari hukuman. Lapas membagi apel menjadi dua bagian yakni apel khusus petugas dan apel khusus narapidana. Apel khusus petugas merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh para staf pemasyarakatan sebelum memulai dan mengakhiri pekerjaan mereka. Pada kesempatan ini kepala pemasyarakatan secara langsung dapat mengecek kehadiran para stafnya. Sedangkan apel narapidana merupakan sebuah cara pengecekan jumlah narapidana. Apel ini dilakukan sebanyak tiga kali yakni apel pagi, siang dan sore hari.
11
pada pukul 08.00-08.30 pagi. Hari Senin merupakan jadwal senam narapidana dewasa laki-laki dengan narapidana anak. Hari Rabu kembali diisi oleh narapidana dewasa dan anak, sedangkan Hari Jumat diikuti oleh narapidana wanita dan narapidana anak. Selain itu terdapat beberapa pelatihan yang di ikuti oleh anak diantaranya pelatihan AC, otomotif, meubel, wirausaha dan menjahit.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan karena adanya paksaan yang diterima oleh anak. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan AZ yang merasa dirinya terpaksa bangun di pagi hari untuk melakukan apel dan kegiatan lain: “Yah, jengkel sama siapa lagi, mau ga mau… (wawancara pada 7 Januari 2016). Sebelum masuk dalam Lapas narapidana anak tersebut memiliki kebiasaan tidur di pagi hari, sedangkan saat ini anak terpaksa harus tidur di malam hari agar dapat bangun di pagi hari. Selain adanya paksaan untuk mengubah kebiasaanya, anak juga merasa terpaksa mengikuti kegiatan-kegiatan yang diberikan. Salah seorang narapidana anak (IW) menyatakan bahwa dirinya terpaksa mengikuti kegiatan kejar paket. Hal tersebut merupakan paksaan karena adanya sanksi atau hukuman bagi narapidana anak yang tidak mengikuti kegiatan tersebut. Adanya sanksi atau hukuman memaksa narapidana anak untuk aktif mengikuti setiap jadwal maupun kegiatan yang berlaku. Apa yang dialami oleh narapidana anak tersebut tidak sesuai dengan wacana yang dihasilkan oleh Konvensi Hak Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memberikan pandangan bahkan suara terhadap setiap kegiatan yang berkenaan dengan kehidupan mereka (James dan James, 2012:125-126).
Setiap kegiatan yang dilakukan atau yang diikuti oleh narapidana anak bukanlah berdasarkan keinginan anak, melainkan berdasarkan program dari lembaga yang berkerja sama dengan pihak lapas. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan salah satu petugas: “Sebenarnya itu kaya AC, otomotif itu dari sana yang menentukan, mereka sendiri yang buat MOU-nya, kita yah nyediakan orang aja” (wawancara pada 21 Desember 2015). Dari pernyataan tersebut maka dapat dipastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan oleh para narapidana bukanlah berdasarkan kebutuhan narapidana anak. Kegiatan diciptakan berdasarkan keinginan lembaga pembantu atau lembaga yang bekerja sama dengan pihak Lapas. Selain tidak memiliki hak untuk memberikan pendapatnya, anak juga tidak diizikan untuk berpartisipasi langsung dalam menyiapkan barang-barang yang akan mereka gunakan selama pelatihan.
12
Kehidupan manusia dalam penjara sangat jelas diterangkan oleh Foucault dalam Suyono (2002:321-438) bahwa manusia yang berada dalam sistem penghukuman kurungan penjara akan dipaksa mengubah kebiasaannya dengan berbagai macam metode. Manusia akan dipaksa berubah dan mengikuti setiap aturan yang mendisiplinkan tubuh; narapidana akan diubah menjadi manusia yang patuh pada aturan yang berlaku. Manusia akan dipaksa berubah dari adanya bentuk ruangan yang membatasi gerak maupun wacana-wacana yang mengusai setiap tindakan manusia. Wacana yang dimaksud dapat berupa aturan yang mengekang kegiatan narapidana. Hal ini pula yang terjadi pada anak. Kehidupan narapidana anak dalam Lapas dipaksa mengikuti dan mematuhi aturan yang berlaku. Anak dipaksa mengubah kebiasaan mereka dan mengikuti kebudayaan yang ada dalam Lapas.
C.2. Ruangan sebagai pembentuk sikap anak
Seperti yang dijelaskan pada bagian awal, salah satu yang mempengaruhi kesejahteraan anak yakni tersedianya ruang bagi anak. Ruangan dapat mempengaruhi kesejahteraan fisik dan kognitif seorang anak. Ruangan bagi anak terbagi menjadi dua bagian yakni ruang alami anak dan ruang ramah anak. ruang alami anak merupakan ruang dimana anak mengalami masa perkembangan dari lahir, contoh konkrit dari ruang tersebut adalah sebuah keluarga. Sedangkan ruang ramah anak merupakan ruang yang dibuat untuk memenuhi hak anak, misalnya saja sekolah dan taman bermain. Beberapa hak yang dapat dipenuhi saat anak berada dalam ruang ramah anak yakni anak dapat merasa senang, aman, nyaman dan merasa dilindungi bahkan haknya untuk bermain atau rekreasi dapat terpenuhi (James dan James 2012 : 170-172). Ruang yang selalu digunakan oleh anak dalam Lapas terdiri dari beberapa ruangan sebagaimana diuraikan sebagai berikut.
a. Kamar anak
13
tumpukan kasur dan bantal yang telah tersusun rapih, dan tepat disebelah kiri pintu kamar terdapat 1 kamar mandi yang ditutupi sehelai kain. Blok anak tidak memiliki ruang yang cukup luas bagi ruang gerak anak. Anak tidak memiliki ruang untuk melakukan olahraga dalam blok, serta tidak memiliki sarana untuk bermain atau sekedar menghibur diri kecuali dengan TV yang tersedia di kamar. Keadaan kamar dengan berbagai jeruji besi dan kawat-kawat pembatas, menjelaskan bahwa mereka benar-benar berada dalam Lapas dan menyandang status seorang narapidana.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan dengan apa yang ditulis oleh Holloway dan Valentine (2005:1-13) dalam bukunya yang berjudul “Children’s geographies playing,
living, learning”. Holloway dan Valentine menjelaskan bahwa seorang anak dapat dengan sadar menyadari dirinya berada dalam sebuah lingkungan tertentu dengan mengamati tempat dan desain ruangannya. Masuknya anak dalam sebuah tempat dan ruang baru dapat memberikan sebuah budaya baru bagi anak. Menyandang status sebagai seorang narapidana anak dan terperangkap dalam Lapas tentunya menjadi sebuah gejolak tersendiri bagi anak. Hal ini dapat menimbulkan rasa sedih ataupun tidak senang bagi anak. Perasaan sedih menyandang status narapidana dialami oleh IW. Narapidana anak tersebut menceritakan bahwa dirinya ditinggalkan orang tuanya kembali kekampung halaman di Sulawesi, karena mendapatkan cibiran dari para tetangganya. Selain itu narapidana anak tersebut menyatakan, “Makanannya ga enak, tempat tidurnya ga enak…” (wawancara pada 11 Januari 2016). Pernyataan tersebut tentunya telah melanggar salah satu indikator ruang ramah anak sebagaiman dijelaskan pada bagian sebelumnya, yakni harus menciptakan rasa senang pada anak.
b. Ruang-ruang kegiatan anak
14
Ruang kejar paket ini berada di lantai dua ruang serba guna, setiap kegiatan kejar paket terdapat dua orang tamping yang mengawasi para narapidana. Dari hasil observasi juga terlihat bagaimana anak-anak melakukan kegiatan baris-berbaris; Nampak seorang narapidana anak memimpin barisan dan seorang petugas mengamati kegiatan mereka. Kegiatan anak dilakukan di lapangan terbuka, maka dapat dipastikan kegiatan anak dapat secara langsung diamati oleh setiap petugas yang berjaga saat itu.
Philo dalam Holt (2011:27-48) menerangkan geografis atau ruang gerak anak dengan menggunakan perspektif Michel Foucault tentang Discipline and Punish. Philo menyatakan bahwa saat anak nakal atau bermasalah dengan hukum, maka penghukuman yang tepat ialah menahan anak layaknya seorang narapidana. Penghukuman ini dipandang lebih baik karena, pemenjaraan anak dipandang dapat menciptakan rasa jera dan dapat menciptakan rasa patuh pada anak. Lembaga pemenjaraan dipandang lebih mampu membentuk sikap anak karena mengadopsi mekanisme kontrol panoptikon yang tidak digunakan lembaga lain. Sistem panoptikon yang dibuat oleh Jeremy Bentham menggunakan sistem pengontrolan atau pengawasan pada ruang gerak tubuh.
15
Sari (2005) dalam penelitiannya juga menunjukan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan daya kreativitas anak. Lingkungan yang dibutuhkan tidak hanya lingkungan psikis saja, namun lingkungan fisik juga memiliki peran yang kuat. Dalam lingkungan fisik keadaan ruang ideal seharusnya dapat diterima oleh anak. Ruangan dapat dikatakan ideal bagi anak atau ramah anak apa bila dapat memberikan rasa aman, bebas dan nyaman dalam ruangan. Keadaan ruang yang ideal tersebutlah yang dapat memberikan rangsangan imajinasi dan dapat melatih serta menciptakan suatu kreativitas anak. Adanya pengaruh ruang pada imajinasi anak juga terjadi pada narapidana anak. AZ salah satu narapidana anak penyalahgunaan narkotika sempat menceritakan pengalamannya. AZ mengaku sempat beberapa kali ingin menggunakan narkoba, hal tersebut karena melihat gambar obat-obatan yang ditempel pada dinding kamar anak, “Engga cuman ada foto-foto…”(wawancara pada 7 Januari 2016). AZ harus menahan keinginan tersebut karena susahnya mendapatkan barang dan minimnya uang yang dimilikinya. Hal ini menunjukan pada kita bahwa ruang kamar narapidana anak memberikan dampak negatif karena mendorong anak berimajinasi mengkonsumsi narkoba.
C.3. Lapas sebagai lembaga pendidik anak.
Pendidikan merupakan sebuah proses dimana seseorang mentransferkan ilmu atau pengetahuan bahkan pengalamannya bagi orang lain termasuk anak. Pendidikan dipandang sangat penting bagi perkembangan anak, karena anak belum memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dalam hidupnya. Pandangan tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Locke dalam James dan Prout (2005) menyatakan bahwa anak adalah manusia yang terlahir tanpa memiliki pengetahuan. Pengalamanlah yang akan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada manusia.
16
mendidik anak, dan dapat memberikan pandangan baru bagi anak. Selain memberikan didikan pada anak, sekolah dan asramah juga dipercaya dapat melatih keterampilan khusus anak pada anak. Keterampilan tersebutlah yang dapat digunakan saat anak masuk dalam dunia kerja (James dan Prout, 2005:43-47).
Pada saat ini anak yang melakukan tindak kenalakan tidak lagi dimasukan dalam sebuah lembaga pendidikan. Setiap anak yang melakukan tindak pelanggaran hukum khususnya Indonesia, dapat dijatuhi hukuman kurungan penjara. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam UU Peradilan anak. Bahkan dalam Undang-Undang tersebut secara jelas menerangkan bahwa seorang anak dapat dijatuhi hukuman kurungan penjara apabila telah berumur 12 tahun. Berdasarkan hasil penelitian terdapat anak-anak usia 14 sampai 18 tahun yang menjalani hukuman kurungan penjara di Lapas Klas II A Samarinda.
Masuknya anak dalam lembaga penghukuman seperti Lapas tentunya memaksa anak harus taat pada aturan yang berlaku. Sebagaimana pada abad 19 lembaga pendidikan disediakan sebagai lembaga penghukuman bagi anak. Setiap anak yang melakukan tindak kenakalan akan dipaksa masuk dalam lembaga pendidikan seperti asramah atau sekolah. Lembaga tersebut digunakan untuk mengubah kebiasaan, sikap maupun perilaku anak dari yang tidak baik menjadi lebih baik. Sementara saat ini setiap anak yang melakukan tindak kenalakan atau pelanggaran, akan dihadapkan pada proses peradilan dan berkesempatan besar masuk dalam Lapas. Namun pada penelitian ini ditemukan bahwa lembaga pemasyarakatan sebagai lembaga penghukuman, memiliki peran layaknya lembaga pendidikan. Lapas sebagai lembaga penghukuman berkuasa mendidik bahkan membentuk sikap anak. Didikan yang dapat diberikan oleh pihak pemasyarakatan terlihat dari program-program pembinaan dan pendisiplinan yang berlaku.
17
kebiasaan mereka. Salah satunya dari adanya beberapa kegiatan yang mengajarkan rasa tanggung jawab dan disiplin.
MF salah seorang anak anggota program rehabilitasi menceritakan beberapa
kegiatan yang diikutinya, “Yah kita kan di dalam itu ada beberapa departemen buat kitchen, laundry, kebersihan yah macem-macem. Nah kalau saya kan dibagian kitchen
jadi saya bertangung jawab buat nyiapkan makanan famili disitu… Yah kalau ada
gesekan antara family kan, dibahas jadikan ga ada namanya kekerasan semua bisa
diselesaikan” (wawancara pada 14 Januari 2016). Kutipan tersebut menggambarkan bahwa anak diajarkan untuk memiliki rasa tanggung jawab, terlihat program tersebut mengajarkan anak memiliki hubungan kekeluargaan pada narapidana lain. Dari adanya program tersebut narapidana anak justru lebih senang berada di blok rehabilitasi dari pada blok anak. Pernyataan tersebut muncul dari adanya ungkapan R, anak peserta program rehabilitasi, ketika ditanya tentang perasaan tinggal di blok rehabilitasi atau
blok anak: “(Tinggal di) rehablah… kalau blok anak itu ribut terus Bu, ga tau itu berolokan terus” (wawancara pada 18 Januari 2016).
Dari dua kutipan wawancara di atas menunjukan bahwa saat anak berada dalam lembaga penghukuman, lembaga tersebut yang berkuasa membentuk sikap anak. Bahkan selain itu lembaga pemasyarakatanpun dapat menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidik anak. Anak diajarakan untuk berdisiplin, diubah sikap maupun perilakunya, bahkan dilatih kemandiriannya lewat beberapa pelatihan kerja. Pandangan mengenai lembaga penghukuman menjalankan fungsi pendidikan juga dinyatakan oleh Simon dan Sunaryo (2011:29-30) yang menyatakan bahwa lembaga pemasyarakatan dapat menjalankan fungsi lembaga pendidikan dan pembangunan. Lapas dapat menjalankan fungsi tersebut dengan mendidik para warga binaan dalam menciptakan manusia yang berkualitas. Fungsi tersebut tercipta dari adanya program pembinaan kepribadian dan kemandirian. Program pembinaan kepribadian berkaitan dengan pemulihan hidup, sedangkan program kemandirian berkaitan dengan keterampilan kerja seseorang.
D. PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN NAPI ANAK
18
dibutuhkan anak pada masa perkembangan menuju kedewasaannya. Untuk menghindari permasalahan tersebut maka pada UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 dengan perubahan UU No. 35 Tahun 2014 menyatakan secara jelas bahwa setiap anak berhak menerima hak-haknya sebagai anak. Salah satu hak anak yang disebutkan dalam UU tersebut yakni mengenai pendidikan. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan meningkatkan kecerdasan sesuai bakatnya. Hak pendidikan tentu dapat diterima juga oleh setiap anak yang sedang menjalani hukuman pidana. Hal tersebut diperkuat dari adanya UU No. 11 Tahun 2012 tentang Peradilan Anak. Pada Undang-undang tersebut menyatakan bahwa setiap anak yang menjalani masa pidana berhak memperoleh haknya sesuai ketentuan undang-undang.
Pendidikan dan pengajaran sangat penting bagi anak. Dengan adanya pendidikan anak dapat belajar mempertahankan dan merawat hidupnya tanpa harus selalu bergantung pada orang tuanya (Ahmadi & Uhbiyati, 2015:73-74). Sebagaimana diketahui, pendidikan terbagi atas pendidikan formal, non-formal dan in-formal. Lapas Klas II A Samarinda memiliki 22 narapidana anak yang seharusnya mendapatkan hak pendidikan mereka. Dalam memenuhi hak pendidikan tersebut terdapat beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal yang diterima narapidana anak yakni mengikuti kegiatan program kejar paket A, B, C. Sementara itu pendidikan non-formal yang dapat diberikan yakni, pelatihan baris-berbaris (PBB), pelatihan kerja, serta adanya kegiatan-kegiatan membaca Al-Quran di masjid.
Sekalipun terdapat beberapa kegiatan yang berkenaan dengan pendidikan formal dan non-formal, penting juga untuk melihat bagaimana budaya/rutinitas yang dilakukan oleh anak dalam Lapas. Hal tersebut karena budaya merupakan hal penting dalam membentuk kepribadian anak. Anak dapat secara langsung mengambil informasi, mencontoh bahkan dapat membentuk sebuah budaya baru dalam dunianya. Setelah mendapatkan informasi barulah anak dapat menyebarkan pengetahuan dan pengalamannya pada teman sebayanya (Corsaro, 2014 : 34-35).
D.1. Upaya Lapas memenuhi hak pendidikan narapidana anak
19
non-formal. Selama menjalani masa hukuman anak mengikuti berbagai macam kegiatan, walaupun kegiatan tersebut bukan berdasarkan keinginan mereka. Kegiatan tersebut dibuat berdasarkan keinginan dari lembaga yang bekerjasama dengan Lapas. karena itu kita patut mengetahui apakah anak dapat menerima dengan baik kegiatan-kegiatan tersebut.
a. Kegiatan pelatihan kerja
Terdapat beberapa pelatihan yang diterima anak diantaranya perbaikan AC, otomotif, mebel, menjahit. Dari semua anak pelatihan otomotif dan perbaikan AC adalah pelatihan yang disukai oleh anak. RA salah seorang anak narapidana kasus penyalahgunaan narkotika, menyatakan menyukai kegiatan pelatihan perbaikan AC. Narapidana anak tersebut belajar membongkar, memasang, mencuci AC. Selanjutnya AT, narapidana anak tersebut telah mengikuti kegiatan pelatihan otomotif dan mebel. Pada pelatihan tersebut AT menyakatan, bahwa disetiap kegiatan narapidana anak hanya menjadi peserta kegiatan. Anak tidak memiliki kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam menentukan program bahkan dalam menyediakan perlengkapan kegiatan. Namun dari berbagai kegiatan yang tidak pernah mengikuti sertakan pendapat anak tersebut, AT memiliki satu kegiatan yang disuka yakni, “otomotif itu aja
bu (Wawancara pada 4 Januari 2016)” hanya kegiatan otomotif yang disukainya.
b. Kegiatan Baris-Berbaris (PBB)
20
latihan mereka. Hal ini tentunya akan menjadi sebuah pengalaman yang membanggakan bagi mereka, karena dapat tampil menunjukan keahlian mereka.
c. Kegiatan kejar paket
Dua puluh dua narapidana anak mengikuti kegiatan kejar paket. Terdapat tiga jenis kejar paket yakni kejar paket A B dan C. Paket A diisi oleh 8 orang anak, paket B sebanyak 6 orang anak dan paket C sebanyak 8 orang anak. Terdapat dua pandangan anak mengenai kegiatan kejar paket tersebut. Anak-anak yang mengikuti kegiatan kejar paket A merasa sangat terbantu dan senang mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini dilihat dari salah satu pernyataan AT, sebagai salah satu anak yang mengikuti kelompok belajar di paket A, yang menyatakan bahwa kegiatan Kejar Paket lebih menyenangkan daripada kegiatan otomotif karena menurutnya gurunya baik. Wawancara dengan AT menggambarkan bahwa anak menyukai dan senang mengikuti kegiatan kejar paket. AT merasa senang saat mengikuti kegiatan kejar paket karena dapat belajar membaca.
Perasaan senang saat mengikuti kegiatan kejar paket juga dirasakan oleh beberapa anak paket B. Narapidana anak merasa senang karena cara mengajar guru kejar paket berbeda dengan cara mengajar guru di sekolah sebelumnya. Sebagai contoh DU peserta paket B menyatakan “kalau ini kasih contoh terus, kita gak tau dikasih tau jawabannya (Wawancara pada 12 Januari 2016)”. Dari kutipan tersebut anak merasa senang dapat mengikuti kegiatan kejar paket. Peneliti menanyakan beberapa bentuk bangun ruang dan rumus matematika pada anak tersebut. Hasilnya menunjukan bahwa anak tersebut masih mengingat beberapa rumus bangun ruang. Selain itu nampak sekali anak tersebut menyukai metode belajar mengajar yang diterapkan oleh guru kejar paket. Namun demikian, dari beberapa anak peserta kejar paket B, terdapat salah seorang anak yang menunjukan bahwa kegiatan tersebut dilakukan karena adanya paksaan: “Senang ga senang yah mau kaya apa… soalnya kalau engga yah di hukum… disuruh lari” (Wawancara pada 11 Januari 2016). Dari kutipan wawancara tersebut, nampak kegiatan kejar paket dilakukan atau diikuti agar tidak mendapatkan hukuman dari petugas. IW terkesan tidak menyukai kegiatan kejar paket, hal ini menunjukan kembali pada kita bahwa tidak semua kegiatan yang diberikan disuka oleh anak.
21
paket. Saat itu para narapidana anak diminta mengerjakan soal bahasa Ingris. Suasana kelas saat itu cukup ribut, anak-anak tidak dapat mengerjakan dengan keadaan tenang. Beberapa diantara mereka melihat jawaban teman yang lain bahkan ada satu anak yang tertidur dalam ruangan. Sementara itu disisi lain terdapat beberapa anak yang aktif menanyakan jawaban soal pada guru. Setelah selesai menjawab semua pertanyaan lembar soal dikumpulkan pada guru dan kegiatan kejar paketpun berakhir.
Pandangan selanjutnya datang dari peserta kejar paket C. Narapidana anak peserta kejar paket C merasa tidak puas mengikuti kegiatan belajar mengajar. FER salah seorang narapidana anak tindak penyalahgunaan narkotika, yang merupakan salah satu siswa SMK di kota Samarinda. FER merasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan kejar paket, hal tersebut karena pelajaran dan metode yang diterima sangat berbeda dengan apa yang diterima saat berada di sekolah. FER menyatakan: “Engga, ga suka aku...yang pasti pertama pelajarannya, terus cara belajarnya gitu-gitu aja (Wawancara pada 20 Januari 2016). Selanjutnya pendapat mengenai hak pendidikan anak datang dari salah seorang narapidana yang sebelumnya merupakan siswa SMA swasta. Boboho, peserta paket C, ketika ditanya tentang pemenuhan hak pendidikan di Lapas, menyatakan:
“Engga (terpenuhi) lah Bu… kaya apa terpenuhi, belajarnya kaya gitu, gurunya ga datang tiap hari” (Wawancara pada 14 Januari 2016). Dua kutipan wawancara tersebut mengindikasikan anak tidak merasa senang bahkan merasa haknya tidak terpenuhi dengan baik.
22
Tiga kegiatan yang telah dipaparkan sebelumya merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh narapidana anak selama menjalani masa kurungan dalam Lapas. Beberapa kegiatan tersebut digunakan sebagai sebuah cara menumbuhkan kemampuan dan kreatifitas anak, terutama saat mereka nantinya kembali ke lingkungan masyarakat ataupun masuk dalam dunia kerja. Hal ini menunjukan bahwa Lapas dapat memberikan atau mengupayakan kegiatan yang berkenaan dengan pendidikan anak. Sekalipun hasil wawancara sebelumnya menunjukkan bahwa anak tidak dapat menyampaikan aspirasi mereka dalam setiap kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh narapidana anak merupakan kegiatan yang telah dirancang oleh lembaga yang bekerja sama dengan pemasyarakatan. Adanya hukuman atau sanksi bagi narapidana anak yang tidak mengikuti kegiatan menunjukan bahwa terdapat paksaan bagi anak untuk aktif dalam setiap kegiatan. Fakta tersebut menunjukan sebuah pertentangan dengan apa yang dihasilkan dari adanya Konvensi Hak Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memberikan suara atau pendapatnya pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan dirinya (James dan James, 2012:148). Belum adanya pendapat anak yang diminta dalam setiap kegiatan menunjukan bahwa orang dewasa masih memiliki pengaruh besar dalam menentukan dan membentuk kehidupan anak.
Kegiatan pelatihan kerja maupun pendidikan dalam Lapas tidak hanya berlaku di Indonesia. Negara-negara Eropa menggunakan pelatihan kerja dan pendidikan dalam merehabilitasi tahanan maupun narapidana di Eropa. Hawley, dkk (2013) menjelaskan bahwa pelatihan dan pendidikan dapat mengurangi bahkan menghilangkan tindak kejahatan yang dimiliki narapidana. Keseharian narapidana dalam penjara akan dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan positif, disisi lain kegiatan tersebut dapat digunakan saat narapidana kembali ke masyarakat. Kembalinya seorang narapidana dalam lingkungan masyarakat bukanlah sebuah hal yang mudah. Status sebagai seorang mantan narapidana ternyata memiliki resiko pendiskriminasian dan dikucilkan baik dalam lingkungan masyarakat maupun pekerjaan. Karena itu dengan adanya kegiatan pelatihan kerja dan pendidikan, narapidana telah disiapkan dapat menyesuaikan diri saat berada di luar penjara.
23
mendidik narapidana. Terdapat manfaat lain dari kegiatan ini yakni dapat mengurangi resiko pengulangan tindak kenakalan yang sudah menjadi kebiasaan anak. Adanya manfaat dari pelatihan kerja, pendidikan maupun olahraga bagi narapidana anak tentu menjadi sebuah acuan bagi terselenggaranya kegiatan tersebut. Demi mencapai hasil yang memuaskan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan adanya paksaan dari Lapas Klas II A Samarinda.
D.2. Metode mengajar
Dalam mendidik anak terdapat proses pemindahan keterampilan, pengetahuan, sikap bahkan norma orang dewasa/orang tua pada anak. Pemindahan ini dikenal dengan istilah proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar juga dapat dikatakan sebagai sebuah cara mempengaruhi, membantu dan menuntun anak. Dalam proses belajar mengajar seorang pendidik memiliki berbagai cara agar anak dapat memahami dengan baik apa yang diajarkan. Penelitian yang dilakukan oleh Khuzaimah (tanpa tahun) menemukan bahwa dalam proses belajar mengajar diperlukan model mengajar yang dapat menarik minat siswa. Penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat pengaruh yang besar terhadap gaya mengajar guru terhadap minat dan prestasi belajar siswa.
Pada penelitian ini para pengajar pelatihan kerja terkesan tidak memiliki sebuah metode mengajar yang menarik. Pengajar hanya sekedar mentransferkan ilmu pengetahuan pada peserta. Saat kegiatan pelatihan perbaikan AC peneliti mengamati pengajar hanya menjelaskan rangkaian-rangkaian atau bagian dari AC. Pengajar menjelaskan dan mempraktekkan cara membongkar, mencuci dan memasang rangkaian AC kembali. Kegiatan tersebut terkesan sangat kaku, tidak ada kedekatan hubungan yang terjalin antara pengajar dan peserta. Cara mengajar dan metode mengajar akan sangat nampak saat kita melihat kegiatan Kejar Paket. Metode yang digunakan oleh pengajar yakni menjelaskan dan menerangkan di papan tulis. Sementara pada kegiatan Kejar Paket, anak hanya mendengarkan dan menerima pelajaran dari guru.
24
disuruh baca” (wawancara pada 4 Januari 2016). Hasil wawancara tersebut mengindikasikan guru mengajak anak ikut berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Salah satu cara yang digunakan yakni mengajak anak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Cara mengajar guru juga dideskripsikan oleh narapidana anak yang lain, salah satunya datang dari ungkapan Boboho, “Semua juga dapat 100 Bu” terlepas dari hasil jawaban narapidana anak, “Mana ada Bu,, benar ga benar (dinilai) 100… paling 1,5 jam aja Bu, kita belum ngerti udah diganti Bu” (wawancara pada 14 Januari 2016).
Kutipan tersebut mengindikasikan anak merasa kurang puas dengan metode belajar mengajar yang digunakan oleh guru Kejar Paket. Setiap anak mendapatkan nilai 100 saat mengerjakan sebuah tugas; sang anak merasa nilai tersebut merupakan nilai asal-asalan yang diberikan oleh pengajar. Selain itu anak juga merasa tidak nyaman dengan metode mengajar guru karena dalam sehari anak bisa belajar selama 1,5 jam dan harus mempelajari tiga mata pelajaran. Ketidakpuasan narapidana anak pada pengajar juga diutarakan oleh RA. Narapidana anak tersebut mengalami kesulitan saat mengikuti proses kejar paket. Hal tersebut karena anak belum lancar menulis dan membaca, “Asik-asik aja, tapi aku jengkel, guru itu cepat nulis, aku lambat, jadi ketinggalan. Jengkel aku… Ada tuh yang ga bisa jawab kita ketawain. Aada yang ribut
disuruh nulis tapi ga bisa, ketawa lagi, hahaha… Pernah ga bisa juga aku haha, asik kok…
Tulis separo aja, separo engga, kadang 1 sampai 3, sisanya enggak”(wawancara pada 23 Desember 2015). Dari kutipan tersebut menunjukkan bahwa RA merasa senang dapat masuk dalam kegiatan kejar paket, namun selama mengikuti proses belajar mengajar anak merasakan kesusahan atau kesulitan. Kesulitan yang dialami anak yakni tidak dapat mengikuti mata pelajaran yang diajarkan saat itu. RA merupakan salah satu anak yang belum lancar menulis dan membaca. Pernyataan RA mengindikasikan bahwa pelajaran yang diterima tidak sepadan dengan kemampuannya. RA sangat kesulitan ketika dihadapkan dengan mata pelajaran yang banyak menulis atau mencatat. Secara umum dari beberapa anak tersebut terlihat cara mengajar yang digunakan guru yakni menerangkan di papan tulis, menilai tugas anak tanpa melihat salah atau benar. Selain itu guru terkesan memaksa beberapa anak untuk menerima pelajaran yang sebenarnya bagi sebagian anak belum mampu menerimanya.
25
cara mengajar yang digunakan oleh para pengajar baik kegiatan pelatihan maupun kejar paket. Narapidana anak hanya melihat, mendengarkan, mencatat, dan maju ke depan mengerjakan tugas dipapan tulis jika diminta guru. Saat mengikuti kegiatan kejar paket terdapat anak yang tidur, tidak mengerjakan tugas, tidak memiliki rasa takut pada guru dan ribut saat di kelas. Pada kegiatan pelatihan sampai pada kejar paket terdapat tiga kelompok perasaan anak yaitu, merasakan senang, kesusahan, bahkan ada yang tidak menyukai kegiatan. Pada kegiatan pelatihan baris-berbaris terdapat beberapa anak yang tidak menyukai kegiatan karena kegiatannya melelahkan dan panas. Demikian juga dengan kegiatan pelatihan kerja, terdapat beberapa anak yang terpaksa mengikuti karena takut mendapatkan sanksi. Sedangkan pada kegiatan paket terdapat anak yang merasa senang, kesulitan mengikuti proses belajar, sampai pada tidak menyukai kegiatan tersebut. Adanya rasa tidak menyukai proses belajar mengajar karena sebagian anak merasa tidak menyukai pelajaran maupun metode yang diberikan oleh guru. Adanya perasaan tidak menyukai proses belajar mengajar tersebut mengindikasikan tidak terjadinya sebuah hubungan yang baik antara pengajar dengan murid. Pitzer, dkk (2014) menyatakan seorang guru harus menciptakan sebuah hubungan yang baik dengan murid. Guru harus menciptakan suasana akademik dalam proses belajar mengajar, suasana terbuka, adanya umpan balik saat proses belajar mengajar. Ruang kelas yang kondusif penuh tawa, terdapat tugas yang menantang murid, adanya rasa puas dan adanya rasa hormat pada murid juga pada guru.
D.3. Fasilitas anak dalam pemenuhan hak pendidikan anak
Selama kegiatan pengajaran, anak memerlukan berbagai fasilitas pembelajaran, mulai dari ruangan belajar-mengajar, guru, alat tulis dan berbagai bentuk fasilitas pembelajaran lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas yang diterima anak terlihat sangat minim. Anak hanya memiliki satu buku pelajaran, satu alat tulis, penghapus dan rautan (peruncing pensil), sebagaimana dinyatakan AT ketika ditanya tentang fasilitas pembelajaran yang dimiliki, “Buku, pensil, penghapus… sama itu rautan”
26
belajar sampai pada fasilitas belajar, “Iya bu, kalau disini kita ga punya buku, pelajaran cuman satu buku aja ga bisa tanya” (wawancara pada 14 Januari 2016).
Kurangnya fasilitas pembelajaran yang diterima anak bukan tanpa sebab. Pihak Lapas mengakui bahwa dana yang mereka miliki tidak dapat memenuhi setiap kebutuhan narapidana anak. Dana yang mereka dapatkan sangat terbatas. Selain itu jumlah narapidana baik dewasa maupun anak-anak yang sangat banyak memaksa para petugas harus mampu mengelola keuangan dengan baik. Keterbatasan anggaran Lapas diatasi dengan adanya ikatan kerjasama dengan berbagai lembaga. Hal ini dapat dilihat dari wawancara dengan salah seorang petugas berikut:
Petugas: Wah ga ada Mbak, jujur saja dana dari pusat itu sedikit Mbak, kecil sekali, untuk membagi aja susah. Makanya kami kadang masukan proposal ke Dinas Sosial, kemana-mana deh Mbak.
Peneliti: Bu, kan saya baca Bu, kalau disini dulu kegiatan pramuka bagus Bu, nah itu biayanya gimana?
Petugas: Nah Mbak, itu dulu, itu tahun lalu memang kepramukaan bagus Mbak karena kami kerjasama sama pihak luar, UNMUL juga Mbak. Tapi itu ga berlangsung lama Mbak, sebentar aja. Ya ga mungkin kami punya dana menyewa orang buat ngajar mereka Mbak. Itu ada pelatihan perbaikan AC itu Mbak, tanpa biaya Mbak, karena apa, kami berusaha cari bantuan Mbak.
Terbatasnya anggaran yang tersedia memaksa pihak pemasyarakatan memiliki ikatan dengan berbagai macam lembaga. Ikatan yang terbentuk tersebutlah yang secara perlahan mampu memenuhi beberapa keperluan/kebutuhan maupun fasilitas narapidana. Minimnya fasilitas atau perlengkapan anak akan berdampak pada motivasi belajar anak, sebagaimana dinyatakan dalam penelitian Giantera (2013). Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa fasilitas yang diterima anak selama proses belajar mengajar mempengaruhi motivasi dan hasil belajar anak.
27
wawancara di bagian sebelumnya menyatakan bahwa setiap anak yang tidak mengikuti kegiatan kejar paket akan dikenakan sanksi atau hukuman. Pada bagian akseptabilitas terhadap pengajar ditemukan bahwa terdapat kurikulum khusus yang dijadikan acuan mengajar dari Kementerian Pendidikan. Pernyataan tersebut nampak dari wawancara yang dilakukan pada 20 Januari 2015dengan guru pengajar Kejar Paket:
Peneliti: Pak, ini anak-anak ini ada kurikulumnya ga sih, Pak?
Petugas: Yah ada lah, Mbak.
Peneliti: Sama ga sih Pak sama sekolahan di luar?
Petugas: Beda Mbak, ada kurikulum khusus kan istilahnya mereka. Ini sama sekolahnya terpotong. Nah, ikut paket ini juga kan ga kaya sekolahan biasa. Kalau SD kan 6 tahun, kalau ikut Paket itu kalau aktif ya setahun Mbak.
Selain memiliki kurikulum khusus, anak juga memiliki buku pelajaran khusus yang disediakan oleh Kementerian. Selama anak mengikuti kegiatan Kejar Paket, anak akan dipaksa memahami maupun berlatih ilmu-ilmu pengetahuan secara cepat.
E. HUKUMAN DISIPLIN DAN PERLINDUNGAN ANAK
28
Rasa jera yang muncul akibat adanya hukuman kurungan pemenjaraan ternyata tidak dialami oleh semua narapidana anak. Dari penelitian ini ditemukan beberapa anak yang kembali melakukan tindak kenakalan yang sama selama menjalani masa kurungan dalam Lapas. Tindak kenalakan tersebut yakni merokok dan mengkonsumsi narkoba. Sanksi berupa hukuman fisikpun diterima oleh anak. Penghukuman yang diterima anak secara jelas diceritakan oleh IW, “Dicambuk (dengan suara pelan sambil membesarkan matanyanya)… Yah, merah-merah, luka-luka, sakit. Masih baru seminggu itu. Ini baru
ilang”(wawancara pada 11 Januari 2016). Pengakuan anak ini didukung dengan adanya pernyataan dari DU, “Itu, habis diatas dia dicambuk”(wawancara pada 12 Januari 2016).
Adanya tindak kenakalan yang dilakukan oleh narapidana anak jelas menunjukan bahwa sebagian narapidana anak tidak atau belum jera, sehingga anak dengan berani mengulang tindak kenakalannya. Tindak kenalakan yang dilakukan dalam Lapas menunjukan bahwa narapidana anak tersebut telah melanggar atau tidak patuh pada aturan yang berlaku. Ketidakpatuhan narapidana anak ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Purba (2014). Pada penelitian tersebut Purba menyatakan bahwa sistem pendisiplinan panoptik dalam penjara tidak hanya menciptakan kepatuhan saja, tetapi dapat pula menciptakan ketidakpatuhan. Ketidakpatuhan anak pada aturan yang berlaku dalam Lapas menunjukan dampak dari penghukuman fisik pada anak.
Jyoti dan Neetu (2013) pada penelitiannya menyatakan bahwa penghukuman fisik pada anak dapat memberikan beberapa dampak. Penghukuman fisik pada anak dapat mempengaruhi kesehatan anak, mempengaruhi perkembangan anak, mempengaruhi proses belajar anak, meningkatnya emosional anak, masuknya anak dalam kegiatan negatif lain, bahkan menggangu hubungan anak dengan orang tua (orang dewasa). Pandangan bahwa Lapas dapat memberikan efek jera ternyata tidak dialami oleh sebagian narapidana anak. Adanya pelanggaran yang dilakukan oleh anak, menunjukan bahwa anak tidak dapat mengubah atau sulit mengurangi tindak kenakalannya dengan menggunakan metode penghukuman fisik.
F. KESIMPULAN
29
ini menunjukkan bahwa upaya pihak Lapas dalam memenuhi hak pendidikan narapidana anak terlihat dari adanya beberapa pelatihan kerja dan kegiatan Kejar Paket A, B dan C. Terdapat dua penilaian yang dirasakan narapidana anak pada pemenuhan hak pendidikannya,
a. Bagi narapidana anak yang sebelumnya putus sekolah semasa SD dan SMP merasa hak pendidikan yang diberikan selama dalam Lapas telah terpenuhi. Pada pendidikan formal (Kejar Paket) narapidana anak merasa senang/suka pada kegiatan tersebut walaupun terdapat beberapa anak yang kesulitan mengikuti metode belajar guru. Pada pendidikan non-formal (pelatihan kerja dan baris-berbaris) anak dapat menerima dengan baik cara/metode yang digunakan tenaga pengajar, sekalipun terdapat beberapa anak yang tidak suka pada kegiatan baris-berbaris.
b. Bagi narapidana anak yang statusnya masih sebagai pelajar SMP, SMA dan SMK merasa haknya sebagai pelajar tidak terpenuhi. Hal tersebut karena pada pendidikan formal (Kejar Paket) narapidana anak merasa metode mengajar dan mata pelajaran yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diterima selama di sekolah sebelumnya. Pada kegiatan pendidikan non-formal khususnya pelatihan baris-berbaris terdapat beberapa anak yang tidak suka pada kegiatan tersebut. Sedangkan pada pelatihan kerja setiap anak merasa senang mengikuti kegiatan tersebut.
Matriks penilaian pemenuhan hak pendidikan narapidana anak
Ketersediaan Aksesibilitas Akseptibilitas Adaptibilitas
30
31 DAFTAR PUSTAKA
Adiguna, Imran. Aswanto dan Heryani, Wiwie. Tanpa tahun. Penerapan Diversi Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana.
Universitas Hasanuddin.
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2015. Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. Ahsinin, Adzkar. Tanpa tahun. Anak Sebagai Korban Paling Awal Dan Paling Rentan
Karena Tindakan Diskriminatif. Yayasan Pemantau Hak Anak.
Amiruddin, A. S. T. 2013. Pemenuhan Hak Narapidana dalam hal Mendapatkan Pendidikan dan Pelatihan Anak di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Kota Parepare. Universitas Hasanuddin.
Corsaro, William. A. 2014. The Sociology of Childhood. London : Sage Publications. Dharma Setiawan. 2013. Divonis Tiga Bulan, Bocah 11 Tahun Harus Meringkuk di Tahanan.
http://news.okezone.com/read/2013/06/04/340/817367/divonis-tiga-bulan-bocah-11-tahun-harus-meringkuk-di-tahanan. Diakses pada 26 September 2015. Dib, Claudio Zaki. 1988. Formal, Non-Formal and Informal Education:
Concepts/Applicability.
http://www.soc.iastate.edu/staff/mazur/Formal%20%20Nonformal%20Educat ion%20in%20Uganda%20(condensed).pdf. Diakses pada 20 Mei 2016.
Hawley, Jo. Murphy, Ilona dan Otero, Manuel Souto. 2013. Prison Education and Training in Europe.
Holloway, L. Sarah dan Valentine, Gill. 2005. Children’s Geographies. London & New York : Routledge.
Holt, Louise. 2011. Geographies of Children, Youth And Families. London and New York : Routledge.
Ikawati, Dkk. 2007. Pengkajian Model Pemberdayaan Lembaga Perlindungan Anak Dalam Pelayanan Kesejahteraan Anak. Departemen Sosial RI Badan Pendidikan Dan Penelitian Kesejahteraan Sosial : Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial.
Ismawati, Sri. 2013. Mekanisme Penyelesaian Perkara Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Pada Masyarakat Dayak Kanayatn (Kajian Perbandingan Terhadap
Sistem Peradilan Pidana Anak). Jurnal Dinamika Hukum Vol. 13 No. 2. Universitas Tanjungpura.
James, Allison dan James, Adrian. 2012. Key Concepts in Childhood Studies. London : Sage Publications.
James, Alison dan Prout, Alan. 2005. Constructing and Reconstructing Childhood: Contemporary Issues in the Sociological Study of Childhood, Second Edition. London : Falmer Press.
Jyoti, Shukla dan Neetu, Singh. 2013. Implications of corporal punishment on primary school children. IOSR Journal of Humanities and Social Science (IOSR-JHSS), Vol. 15 hal. 57-61.
Kabar Lapas. 2014. Tunas Harapan Lapas Klas II A Samarinda. Melalui : http://www.pemasyarakatan.com/tunas-harapan-lapas-klas-iia-samarinda/. Diakses pada 15 September 2015.
Kanwil, 2015. Data Terakhir Jumlah Penghuni Per-UPT. Melalui
http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/kanwil/db65b0c0-6bd1-1bd1-9334-313134333039. Diakses Pada 15 September 2015.
32
Khuzaimah, Riani. Tanpa tahun. Pengaruh Gaya Mengajar Guru dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi. Universitas Negeri Surabaya.
Lewis, Gwen dan Meek, Rosie. The Benefits of Sport and Physical Education for Young Men In Prison : An Exploration of Policy and Practice in England and Wales.
Journal Prison Service. No 209.
Makur, Markus. 2014. Pegawai Lembaga Pemasyarakat Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga melakukan tindakan sodomi
terhadap tujuh narapidana. Melalui:
http://regional.kompas.com/read/2014/08/28/11121871/Seorang.Sipir.Didug a.Sodomi.Tujuh.Napi. Diakses Pada 27 September 2015.
Pitzer, Jennifer R. Skinner, Allen A. Furres, Carrie J. 2014. The Influence Of Teacher And
Peer Relationships On Student’s Classroom Engagement And Everyday
Motivational Resilience. Melalui :
https://www.pdx.edu/psy/sites/www.pdx.edu.psy/files/2014-Furrer.Skinner.Pitzer%20(1).pdf. Diakses Pada 21 Maret 2016.
Purba, Ratna. 2014. Mekanisme Pendisiplinan Para Tahanan dan Narapidana Di Rutan Klas II B Tanah Grogot. Jurnal Sosiatri, Vol. 2 hal. 35-48.
Raharjo, Afandi Haris. 2014. Pemenuhan Hak Narapidana Anak Untuk Mendapatkan Pendidikan Di Lembaga Pemasyarakatan (Studi Kasus Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Makassar). Universitas Hasanuddin.
Sari, Sriti Mayang. 2005. Peran Ruang Dalam Menunjang Perkembangan Kreativitas Anak. Jurnal Dimensi Interior. Vol. 3, No 1. Universitas Kristen Petra.
Simon, R, Josias dan Sunaryo, Thomas. 2011. Studi Kebudayaan Lembaga Pemasyarakatan. Bandung: Lubuk Agung.
Suyanto, Bagong. 2010. Masalah Sosial Anak. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Suyono, Seno Joko. 2002. Tubuh Yang Rasis. Yogyakarta: Puastaka Pelajar.
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Peradilan Anak. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Unicef. 2006. Child Protection Information Sheets. Melalui :
http://www.unicef.org/publications/files/Child_Protection_Information_Sheets. pdf. Di akses pada 22 mei 2016.
Widari, Tatik Mei. 2012. Pemenuhan Hak Pendidikan Anak Didik Pemasyarakatan Di Lembaga Pemasyarakatan Anak. DIH, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 8, No. 15, hal. 28 – 47.
Wyness, Michael. 2013. Global Standards and Deficit Childhoods: The Contested Meaning of Children’s Participation. Children’s Geographies. Vol. 11, No. 3, hal. 340–353.