PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
PELATIHAN BERKEBUN SAYURAN DENGAN METODE VERTIKULTUR BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI PANTI ASUHAN BINA SIWI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Diusulkan Oleh:
Siti Nur Hasanah 12312241011/Angkatan 2012
Renita 13103241079/Angkatan 2013
Titik Wulandari 13312241017/Angkatan 2013
Siti Khoirunnisa’ 12306141014/Angkatan 2012
Rifa Hidayatun 12308141007/Angkatan 2012
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA
ii ii 1.
2. 3.
4. 5.
6.
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
RINGKASAN ... iv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 2
1.3 Tujuan... 2
1.4 Potret Kondisi Masyarakat Sasaran ... 2
1.5 Profil Masyarakat Sasaran... 3
1.6 Potensi Wilayah Masyarakat Sasaran... 3
1.7 Luaran yang Diharapkan... 3
1.8 Manfaat Kegiatan... 3
BAB 2 GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN 2.1 Kondisi Masyarakat Sasaran ... 5
BAB 3 METODE PELAKSANAAN 3.1 Teknik/Metode Pelaksanaan... 3.2 Tahapan/Prosedur Pelaksanaan... 3.3 Pencapaian Tujuan Program.... ... 6 6 8 BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya ... 9
4.2 Jadwal Kegiatan ... 9
LAMPIRAN Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota, dan Dosen Pendamping ... 10
Lampiran 2. Justifikasi Aggaran Kegiatan ... 17
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas ... 21
Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Kegiatan ... 22
Lampiran 5. Surat Pernyataan Kesediaan dari Mitra ... 23
iv
RINGKASAN
Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan baik secara interindividual maupun intra-individual sehingga memerlukan program layanan khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Panti Asuhan Bina Siwi yang berada di daerah Pajangan, Bantul, Yogyakarta merupakan salah satu panti asuhan di Yogyakarta yang mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus, yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dengan keterbatasan mental (anak berkebutuhan khusus), dan beberapa merupakan anak-anak dengan keterbatasan fisik (tunadaksa) dan keterbatasan pendengaran (tunarungu). Jumlah anak berkebutuhan khusus yang terdapat di panti asuhan Bina Siwi saat ini adalah 30 orang, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Untuk meningkatkan kemampuan motorik dan keterampilan anak-anak berkebutuhan khusus, pengasuh panti asuhan secara rutin memberikan pelatihan untuk membuat berbagai kerajinan tangan, seperti aneka asesoris dan boneka sederhana dari kain flanel, merangkai bunga, menyablon, membatik, dan kerajinan tangan lainnya. Selain untuk meningkatkan kemmapuan motorik anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan ini, produk kerajinan tangan anak-anak ini djual/dipasarkan di outlet-outlet terdekat oleh para pengurus panti guna menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab jumlah subsisi dana dari desa yang didapatkan masih relatif kecil dan belum dapat
mem-back up kebutuhan panti asuhan.
Sejauh ini, pelatihan yang diberikan oleh para pengasuh panti asuhan adalah pelatihan tersebut diatas. Hal tersebut cepat atau lambat akan membuat anak berkebutuhan khusus merasa bosan, sehingga diperlukan pelatihan lain yang dapat dijadikan sebagai variasi kegiatan anak berkebutuhan khusus sehari-hari. Pelatihan tentang tata cara berkebun aneka sayur menggunakan metode vertikultur merupakan salah satu alternatif yang dapat diberikan. Metode vertikultur dipilih sebagai jawaban dari permasalahan lahan di panti asuhan Bina Siwi yang cukup sempit. Anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan ini akan dilatih menanam berbagai jenis sayur yang dapat ditanam dengan metode vertikultur seperti kangkung, tomat, cabai, bayam dan kemangi yang tidak membutuhkan waktu lama untuk dipanen. Pelatihan dimulai dari penyiapan media tanam, menyemaikan benih, penanaman bibit sayuran hasil semaian, pemeliharaan yang meliputi penyiraman dan pemupukan, serta pemanenan
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan baik secara interindividual maupun intra-indifidual sehingga memerlukan program layanan khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Mereka yang digolongkan anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokan berdasarkan gangguan atau kelainan dalam aspek (1) fisik/ motorik : cereberal palsy, polio; (2) kognitif : mental retardasi/ tunagrahita (kecerdasan di bawah rata-rata), anak berbakat (kecerdasan diatas rata-rata);(3) bahasa dan bicara; (4) pendengaran (tunarungu); (5) penglihatan (tunanetra).
Masih banyak orang yang menganggap anak berkebutuhan khusus adalah anak yang tidak mampu berkembang, hidupnya selalu bergantung pada orang lain, dan tidak mampu hidup mandiri. Padahal, bila anak berkebutuhan khusus diberi pelayanan yang sesuai dan diberi kesempatan yang sama dengan anak lainnya, mereka dapat menunjukan potensi yang masih dimiliki dan dapat bersaing dengan anak yang lainnya. Dengan diberi pelayanan yang khusus pula, seperti diberi ketrampilan anak berkebutuhan khusus dapat hidup tanpa harus selalu bergantung pada orang lain bahkan potensi yang dimiliki mereka, dapat memberikan manfaat yang produktif untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Berkebun secara vertikultur merupakan salah satu cara berkebun berbagai tanaman sayuran yang berumur pendek dan tidak memerlukan lahan yang luas. Selain itu, berkebun cara vertikultur tidak mengenal musim dan tidak memerlukan teknik yang terlalu rumit. Sehingga, semua lapisan masyarakat dapat melakukannya. Berkebun secara vertikultur hanya memerlukan perawatan secara rutin dan teratur.Meskipun memiliki banyak keunggulan, teknik berkebun cara vertikultur ini belum banyak dikembangkan oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang berbagai macam alternatif teknik berkebun. Masyarakat masih sangat bergantung dengan lahan yang cukup untuk berkebun. Padahal, kepadatan penduduk yang semakin bertambah memungkinkan ketidaktersediaannya lahan yang cukup untuk berkebun. Sementara itu, semakin banyaknya jumlah penduduk justru semakin meningkat pula kebutuhan akan pangan terutama sayuran.
merangkai bunga, menyablon dan membatik. Kehidupan mereka sangat bergantung dari hasil penjualan kerajinan tangan yang dibuat anak-anak dan pengasuh panti. Dari hasil penjualan kerajinan tangan itu tentu saja masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anak di panti terutama kebutuhan pangan mereka. Apalagi, anak berkebutuhan khusus sangat memerlukan makanan yang bergizi seperti berbagai sayuran organik untuk menjaga kesehatan mereka.
Apabila untuk pemenuhan kebutuhan pangan berupa sayuran dipenuhi dengan cara berkebun sendiri pasti akan sangat membantu meringankan beban perekonomian di Panti Asuhan Bina Siwi. Akan tetapi, panti asuhan ini tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk berkebun. Oleh karena itu, teknik berkebun dengan cara vertikultur perlu dikembangkan di Panti Asuhan Bina Siwi. Selain itu karena cara berkebunnya yang sederhana, teknik ini juga dapat dilakukan oleh anak berkebutuhan khusus. Dari latar belakang tersebut, kami memiliki gagasan untuk menyelenggarakan pelatihan ketrampilan berkebun dengan teknik vertikultur pada anak berkebutuhan khusus di Panti Asuhan Bina Siwi.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang teridentifikasi adalah kebutuhan sayuran organik bagi anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bina Siwi, serta pendanaan panti asuhan yang masih dilakukan secara mandiri. Jumlah subsidi dana yang didapatkan dari desa belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari di panti asuhan Bina Siwi. Selain itu, panti asuhan Bina Siwi juga belum mempunyai donatur tetap yang dapat meringankan beban pendanaan di panti asuhan.
1.3. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai melalui program pelatihan ini adalah untuk mengenalkan metode berkebun sayuran dengan metode vertikultur yang sesuai dengan kondisi lahan di panti asuhan Bina Siwi yang relatif sempit. Selain itu melalui pelatihan ini, anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bina Siwi mempunyai pengetahuan dan keterampilan baru yakni dalam hal berkebun. Lebih lanjut, hasil panen dari kegiatan ini dapat mengurangi beban kebutuhan sehari-hari, bahkan dapat dijual/dipasarkan untuk menambah penghasilan.
1.4. Potret Kondisi Masyarakat Sasaran
Anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan ini diasuh oleh 6 pengasuh. Secara kualitatif, meski mengalami keterbatasan, anak-anak berkebutuhan khusus di pati asuhan ini memiliki kemampuan merawat diri dan kemampuan motorik lainnya seperti beribadah (sholat), membuat aneka kerajinan tangan, bermusik (hadroh dan band modern) yang baik.
1.5. Profil Masyarakat Sasaran
Panti Asuhan Bina Siwi beralamat di Kompleks Balai Desa Sendang Sari, kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Panti asuhan Bina Siwi termasuk panti asuhan swasta yang pengelolaannya masih dilakukan secara mandiri oleh para pengasuh panti. Pendanaan panti asuhan ini sebagian kecil diperoleh dari subsidi desa dan sebagian besar dilakukan secara mandiri oleh pengurus panti dalam arti belum ada instansi/institusi/perorangan yang menjadi donatur tetap.
1.6. Potensi Wilayah Masyarakat Sasaran
Para anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bina Siwi memiliki semangat, solidaritas dan kreatifitas yang cukup tinggi. Mereka sudah terbiasa untuk membuat berbagai kerajinan tangan seperti asesoris dari kain flanel, boneka wisuda dari kain flanel, merangkai bunga akrilik, dan membuat keset dari kain perca serta membatik dan menyablon kaos. Produk-produk tersebut dipasarkan oleh para pengurus panti di outlet terdekat sehingga menjadi salah satu sumber penghasilan sehari-hari panti asuhan. Oleh karena itu, pelatihan berkebun sayuran dengan metode vertikultur dapat diterapkan di panti asuhan tersebut mengingat keterampilan motorik tunagrahita ringan di panti ini cukup baik.
1.7. Luaran yang Diharapkan
Dengan pelatihan berkebun sayuran dengan metode vertikultur ini diharapkan para anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bina Siwi memiliki pengalaman dan keahlian yang lain. Selain itu, diharapkan kegiatan berkebun sayuran dengan metode vertikultur ini dapat terus dikembangkan sehingga hasil panennya dapat memenuhi kebutuhan sayuran organik sehari-hari dan menjadi salah satu sumber penghasilan untuk panti asuhan Bina Siwi.
1.8. Manfaat Kegiatan
yang dapat menghindarkan anak panti dari kebosanan. Selain itu, hasil panen dari pelatihan ini mampu memenuhi kebutuhan sayuran organik untuk dikonsumsi anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bina Siwi. Lebih lanjut, kegiatan ini berpotensi bisnis yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan lain.
BAB 2
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
2.1 Kondisi Masyarakat Sasaran
Panti Asuhan Bina Siwi terletak di Kompleks Balai Desa Sendang sari Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul. Panti ini mengasuh 30 anak dengan berbagai keterbatasan. Para Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK di panti asuhan ini sebagian besar terdiri dari keterbatasan mental (tuna grahita), juga terdapat beberapa anak yang memiliki keterbatasan fisik (tuna daksa), dan keterbatasan dalam pendengaran (tuna rungu).
Lokasi panti asuhan jauh dari keramaian perkotaan, sehingga panti asuhan ini kurang perhatian. Panti Asuhan Bina Siwi dikelola secara mandiri oleh para pengasuhnya. Panti asuhan ini belum memiliki donatur tetap yang dapat menopang jalannya kehidupan panti dengan 30 anak panti dan 6 orang pengasuh panti. Selama ini pendanaan panti asuhan sebagian berasal dari subsidi desa yang jumlahnya masih relatif sedikit untuk dapat memenuhi semua kebutuhan panti asuhan.
Demi mencukupi kekurangan subsidi dana dari desa, para pengasuh di Panti Asuhan Bina Siwi melatih keterampilan kepada para anak berkebutuhan khusus atau difabel untuk memproduksi berbagai kerajinan. Keterampilan yang diajarkan antara lain membuat souvenir seperti bros, gantungan kunci, tempat pensil dari kain perca dan kain flanel. Selain keterampilan membuat kerajinan tangan, para anak berkebutuhan khusus tersebut juga diajarkan cara membatik kain dengan pewarna alami dan tekstil serta menjahit baju untuk dipasarkan dan dititipkan di outlet terdekat.
BAB 3
METODE PELAKSANAAN 3.1 Teknik/Metode Pelaksanaan
Pelatihan berkebun sayuran bagi anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bina Siwi menggunakan pola tanam ke atas atau vertikultur. Metode vertikultur dipilih karena panti asuhan Bina Siwi memiliki lahan yang tidak terlalu luas (sempit). Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor1). Sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas.
3.2 Tahapan/Prosedur Pelaksanaan
Tahapan/prosedur pelatihan berkebun sayuran dengan metode vertikultur adalah sebagai berikut:
3.2.1 Pengadaan rak tanam vertikultur
Susunan rak tanam vertikultur yang akan digunakan adalah vertikultur bertingkat. Rak vertikultur ini memiliki ukuran lebar ke samping 1 m, ke belakang 0,5 m dan tinggi 1,5 m. Bahan rak terbuat dari talang PVC, sedangkan kaki rak terbuat dari bambu atau kayu2). Jumlah rak dalam satu unit dibuat 5 tingkat/level.
Gambar 1. Rak Tanam Vertikultur
Oleh karena memerlukan proses pengerjaan yang cukup rumit, wadah tanam vertikultur ini tidak dibuat oleh para anak berkebutuhan khusus sendiri, melainkan dibuat oleh para pengrajin rak tanaman (pesan), namun desain wadah tanam vertikultur dibuat oleh tim.
3.2.2 Pengadaan media tanam
Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang sistem perakaran1). Media tanam yang digunakan adalah campuran antara tanah, pupuk kompos, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Setelah semua bahan terkumpul dilakukan pencampuran hinga merata.
Campuran media tanam selanjutnya dimasukkan kedalam paralon dan dipastikan tidak ada ruang kosong, namun tidak terlalu padat agar air tetap dapat mengalir dan akar tanaman dapat lebih leluasa bernafas.
1)Liferdi, Lukman. 2014. Teknologi BudidayaTanaman Sayuran secara Vertikultur. Bandung: Balai Penelitian Tanaman Sayuran. 2)Asep, Wahyu. 2012.Rak Vertikultur Solusi Pekarangan Sempit. Banten: BPTP Banten.
3.2.3 Penyemaian benih sayuran
Penyemaian benih memerlukan wadah dan media tanam. Wadah yang digunakan adalah wadah khusus persemaian yang disebut “tray” dengan jumlah lubang 200 buah, sementara itu media tanam yang dapat digunakan untuk menyemaikan benih adalah media tanam dari produk jadi yang bersifat organik1).
Gambar 2. Penyemaian Benih
Penyemaian benih dimulai dengan menyiapkan wadah semai berupa tray-semai. Kemudian mengisi setengah bagian tray-semai dengan media tanam berupa tanah, pasir halus, sekam halus, dan pupuk organik serta sedikit air agar lembab. Selanjutnya benih dimasukkan disetiap lubang tray-semai, kemudian menutupnya dengan media tanam dan menyemprot dengan air dalam sprayer serta menutupnya dengan kardus atau plastik warna solid3). Penyemaian dilakukan selama dua sampai tiga minggu atau jika benih sudah berkecambah dan mengeluarkan 4-5 helai daun.
3.2.4 Penanaman bibit tanaman hasil semaian
Bibit tanaman hasil semaian selanjutnya ditanam dalam media tanam yang telah disiapkan dalam wadah tanam vertikultur (pot bertingkat). Sebelum ditanam dalam wadah vertikultur, terlebih dahulu bibit tanaman hasil semaian disiram air hingga jenuh (meneteskan air dari bawah). Setelah disiram, baru kemudian bibit tanaman tersebut dipindahkan/ditanam dalam lubang-lubang yang terdapat pada wadah vertikultur. Setiap jenis bibit sayuran ditanam dalam paralon yang berbeda.
3.2.5 Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Penyiraman dilakukan dua kali sehari, yakni setiap pagi dan sore. Selain penyiraman tanaman setiap hari, juga perlu dilakukan pemupukan. Agar sayuran yang dihasilkan adalah jenis sayuran organik, maka pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos/pupuk kandang/pupuk bokhasi. Sementara itu, pengendalian hama dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida nabati yang ramah lingkungan.
1) Liferdi, Lukman. 2014. Teknologi BudidayaTanaman Sayuran secara Vertikultur. Bandung: Balai Penelitian Tanaman Sayuran. 2) Asep, Wahyu. 2012.Rak Vertikultur Solusi Pekarangan Sempit. Banten: BPTP Banten.
3.2.6 Pemanenan
Pemanenan sayuran dilakukan dengan cara memotong sebagian daunnya (tidak dicabut) agar tanaman sayuran dapat bertahan lebih lama dan bisa dipanen berulang-ulang.
3.3 Pencapaian Tujuan Program
BAB 4
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
A. Anggaran Biaya
Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1 Peralatan Penunjang (27%) 2.800.000
2 Bahan Habis Pakai (48%) 4.950.000
3 Perjalanan (15%) 1.500.000
4 Lain-Lain (10%) 1.000.000
Jumlah 10.250.000
B. Jadwal Kegiatan
Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan
No Jenis Kegiatan
Bulan ke-1
Bulan ke-2
Bulan ke-3
Bulan ke-4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan:
Pendekatan dengan ABK dan pengasuhnya di panti asuhan
Pengadaan peralatan penunjang dan bahan-bahan pelatihan
2 Pelaksanaan:
Pembuatan wadah media vertikultur Pengolahan media tanam
Penyemaian benih Penanaman bibit tanaman hasil penyemaian Pemeliharaan Pemanenan
3 Evaluasi kegiatan dan
feedback
Biodata Dosen Pembimbing
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Satino, S.Si., M.Si.
2 Jenis Kelamin L
3 Jurusan Pendidikan Biologi
4 NIDN 0031086505
5 Tempat dan Tanggal Lahir Cilacap, 31 Agustus 1965
6 E-Mail [email protected]
7 Nomor Telepon/HP 085879845444
B.Riwayat Pendidikan
Jenjang S1 S2
Nama Institusi Universitas Jenderal Soedirman
Universitas Gadjah Mada
Bidang Biologi Lingkungan Ekologi
Tahun Lulus 1993 2005
C.Bidang Pengabdian
No Jenis/Nama Kegiatan Tempat Tahun 1 Pelatihan Bioplastik bagi Penduduk
di Kecamatan Kemadang Wonosari Gunung Kidul DIY
Kemandang Wonosari Gunung Kidul
DIY
2005
2 PPM Penuntasan WAJAR 9 Tahun Melalui Babonisasi di Nglipar Gunung Kidul
Nglipar Gunung Kidul
2006
3 Pendalaman Materi IPA Biologi untuk Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman
Laboratorium Jurdik Biologi
FMIPA UNY
2006
4 Pelatihan Penyusunan Karya Ilmiah Guru Biologi SMU Se-Kabupaten Sleman
Laboratorium Jurdik Biologi
FMIPA UNY
2006
5 PPM Peningkatan Kemampuan Guru Mengembangkan Media Peraga untuk Pembelajaran IPA-Biologi SD di Kodya Yogyakarta
Laboratorium Jurdik Biologi
FMIPA UNY
2007
6 Pelatihan Kulturisasi Objek Mikroorganisme bagi Para Guru IPA SMP di Kabupaten Bantul
Laboratorium Jurdik Biologi
FMIPA UNY
Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan
1. Peralatan Penunjang
Material Justifikasi
Pemakaian Kuantitas
Harga 5 tim pelatihan
35 buah 15.000/ 5 tim pelatihan
35 tanaman yang rusak
5buah 30.000/
2. Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi
Pemakaian Kuantitas
Harga
Benih sawi Variasi jenis sayuran
Benih selada Variasi jenis sayuran
Benih tomat Variasi jenis sayuran
Benih cabai Variasi jenis sayuran
Sekam halus Media tanam 2 karung 100.000/ karung
200.000
Air Menyiram tanaman 3000 liter
500/ liter 1.500.000
Pestisida bagi para pengasuh
panti untuk
Material Justifikasi Pemakaian
Kuantitas Harga Satuan (Rp) untuk perjalanan ke Panti Asuhan dengan tujuan perkenalan tim dan pendekatan dengan Untuk perjalanan membeli benih Untuk perjalanan membeli peralatan penunjang pelatihan
3 Unit 50.000/ unit 150.000 Untuk perjalanan ke bengkel pembuatan rak bertingkat
Sewa Untuk perjalanan ke panti tujuan untuk perjalanan ke panti tujuan Untuk perjalanan ke panti untuk untuk perjalanan ke panti untuk Untuk perjalanan ke panti untuk
memanen tanaman
Sewa motor + bensin
Sewa motor: @Rp30.000
Bensin: @Rp20.000 Untuk perjalanan ke panti tujuan
evaluasi kegiatan dan feedback
3 Unit 50.000/ unit 150.000
SUB TOTAL (Rp) 1.500.000
4. Lain-lain
Material Justifikasi
Pemakaian Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp) Sewa kamera Dokumentasi
pelaksanaan kegiatan
15 Hari 15.000/ hari
225.000
Amisnistrasi dan penyusunan laporan
Sewa laptop, print, fotokopi,
dan ATK
5 Paket 75.000/ paket
375.000
Snack pelatihan Jajanan pasar dan minum bagi
ABK saat pelatihan
10 Paket 40.000/ paket
400.000
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim dan Pembagian Tugas
S-1 Pendidikan Luar Biasa 3 Titik Wulandari