Semirata 2013 FMIPA Unila |323
Implementasi Praktek Inovasi Pembelajaran Matematika
(PIPM) dalam MPMBS SMP, SMA dan SMK di Mahasiswa
Angkatan 1 Program S2 Pendidikan Matematika JPMIPA
FKIP UNIB tahun 2012 *).
Drs.M. Fachruddin. S M.Pd
Program Studi Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB Email: [email protected]
Abstract. The purpose of this research is to describe the development quality of PIPM management based on SMP, SMA, and SMK in the First Year of Math Post Graduated Educational Program JPMIPA FKIP UNIB 2012. The research indicators were : Context of program, program input, openness, cooperation, autonomy, sustainbility, accountability, output, and outcome. This research method is evaluation research and done in SMP, SMA, and SMK in in the First Year of Math Post Graduated Educational Program JPMIPA FKIP UNIB 2012, which the total of respondents were all of PIPM Students in the First Year of Math Post Graduated Educational Program JPMIPA FKIPUNIB. They were: students who as a teacher in their respective school, the data were collected trough questionnaires, interviews and data documentation. Analysis the data were with the simple statistical in average and percentage. The results of research is showed that the findings a complete description of PIPM in implementation MPMBS for improvement quality of education in SMP, SMA, and SMK in the First Year of Math Post Graduated Educational Program JPMIPA FKIP UNIB and based on development all PIPM quality that is: (1) Describe the implementation of PIPM in MPMBS component in context of program, (2) Describe implementation of PIPM in MPMBS component in the input program, (3) Describe implementation of PIPM in MPMBS component in the indicators of openness, cooperation, autonomy, sustainability, and accountability, (4) Describe implementation of PIPM in MPMBS component in achievement of the objectives (output), (5) Describe implementation of PIPM in MPMBS components in the impact on schools. All of these can improve the quality in SMP, SMA, and SMK even gave an overview and feedback on the implementation of PTK (actions research) and Lesson Study in schools where students are expected to serve so that the resulting output in school mathematics will be very good.
Keywords: the implementation of PIPM inMPMBSSMP, SMA, and SMK in the First Year of Math Post Graduated Educational Program JPMIPA FKIP UNIB 201
PENDAHULUAN
Penerapan PIPM (Praktik Inovasi Pembelajaran Matematika) Program Studi Pasca Sarjana (S-2) Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP Universitas Bengkulu dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP, SMA dan SMK, didukung oleh
324| Semirata 2013 FMIPA Unila
menerapkan manajemen berbasis sekolah, ditunjukan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.
. Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah mengamanatkan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan berskala
kabupaten/kota antara lain:
penyelenggaraan pendidikan (pasal 14 ayat 1 butir f). Berkenaan dengan kewajiban pemerintah daerah tersebut, maka manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa dan semangat otonomi. Pelaksanaan MBS bertumpu pada pilar-pilar MPMBS yang meliputi: keterbukaan, kemandirian, kemitraan (kerjasama), partisipasi dan akuntabilitas.
Berdasarkan hasil evaluasi secara independen oleh UNICEF pada akhir 2000, ternyata program MBS ini telah merubah paradigma yang sangat signifikan antara lain terlihat: (1) peningkatan lingkungan kelas dan kegiatan pembelajaran, (2) guru menjadi lebih profesional, (3) masyarakat lebih aktif terlibat dalam kegiatan sekolah, (4) partisipasi anak dalam pendidikan meningkat, (5) ada peningkatan nilai hasil belajar, (6) semua daerah rintisan telah mengalokasikan dana untuk menunjang pelaksanaan program. Berdasarkan kondisi ini, maka program MBS telah menjadi kebijakan resmi Departemen Pendidikan Nasional untuk sekolah dasar. Konsep MBS berasal dari Amerika. Ciri khas masyarakat Amerika, berbeda dengan ciri khas masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, ujicoba MBS di Indonesia dilakukan untuk mencari model MBS yang cocok dengan masyarakat Indonesia; landasan pemikiran inilah yang mendasari dilakukan penelitian PIPM di mahasiswa angkatan I Program Studi S2 Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB dalam MPMBS.
Pada prinsipnya, sejak digulirkannya program MPMBS, seluruh sekolah menengah pertama (SMP) negeri di
Propinsi Bengkulu dianjurkan
melaksanakan program ini. Beberapa sekolah yang dijadikan sekolah ujicoba pelaksanaan MBS oleh UNESCO, UNICEF dan Dinas Pendidikan Nasional. Sosialisasi program MBS telah dilaksanakan melalui pelatihan Training Of Trainer (TOT) MBS untuk kepala sekolah dan salah seorang guru. Seusai pelatihan, sekolah yang melaksanakan MBS mendapat dana Rp 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah). Berrdasarkan pengamatan selintas beberapa sekolah telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, terutama dalam manajemen sekolah dan dalam proses pembelajaran.
Semirata 2013 FMIPA Unila |325 menemukan jalan keluar agar mutu
pendidikan di sekolah dapat meningkat. Oleh sebab itu melalui pendekatan PIPM dalam MBS diharapkan adanya perubahan pola berpikir seluruh warga sekolah agar berorientasi pada budaya peningkatan mutu. Kompleksitas masalah yang dihadapi sekolah dalam upaya peningkatan mutu, seharusnya menjadi penggerak berpikir kreatif. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah di propinsi Bengkulu. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan mahasiswa angkatan I S2 Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB tahun 2012, mutu pendidikannya menunjukkan peningkatan. Akan tetapi perlu dievaluasi melalui penelitian, apakah peningkatan itu karena penerapan PIPM mahasiswa angkatan I S2 Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB dalam MPMBS atau karena faktor lain.
Berdasarkan uraian tentang latar belakang masalah dan identifikasi masalah, menunjukkan betapa kompleksnya implementasi program PIPM dalam MPMBS. Untuk memperoleh informasi yang representatif dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, maka perlu dilakukan penelitian. Sesuai dengan komponen program PIPM dan indikator program MPMBS, maka rumusan rmasalah utama tersebut dapat dirinci menjadi beberapa pertanyaan penelitian: (1) Bagaimanakah pelaksanaan PIPM dalam MPMBS pada komponen konteks program dalam rangka peningkatan mutu pendidikan SMP,SMA dan SMK di Propinsi Bengkulu? (2) Bagaimanakah pelaksanaan PIPM dalam MPMBS pada komponen input program dalam rangka peningkatan mutu pendidikan SMP, SMA dan SMK di Propinsi Bengkulu? (3) Bagaimanakah proses pelaksanaan PIPM dalam MPMBS pada indikator-indikator keterbukaan, kerjasaman, kemandirian, sustainbilitas dan
akuntabilitas. (4) Bagaimanakah pelaksanaan PIPM dalam MPMBS pada komponen ketercapaian sasaran (output) dalam rangka peningkatan mutu pendidikan SMP, SMA dan SMK di Propinsi Bengkulu? (5) Bagaimanakah pelaksanaan PIPM dalam MPMBS pada komponen dampak terhadap sekolah (outcome) dalam rangka peningkatan mutu pendidikan SMP, SMA dan SMK di Propinsi Bengkulu?
METODE PENELITIAN
Variabel Penelitian
Pada dasarnya, variabel penelitian PIPM dalam MPMBS ini terdiri atas: 7 indikator program dan 5 komponen program. Berdasarkan keterkaitan antara indikator program dan komponen program, maka variabel dalam penelitian ini terdiri atas: (1) konteks; (2) input; (3) keterbukaan; (4) kerjasama; (5) kemandirian; (6) sustainbilitas; (7) akuntabilitas; (8) ketercapaian sasaran (output); dan (9) dampak terhadap sekolah (outcome). Definisi Konseptual
Konteks
Definisi konseptual variabel konteks adalah seperangkat landasan hukum dan kebijakan pendidikan dalam konteks sosial, ekonomi dan geografis di mana suatu sekolah berada.
Input
Definisi konseptual variabel input adalah modal dasar sekolah yang bersifat internal, bersifat fisik dan non fisik, perangkat lunak maupun perangkat keras, yang semuanya dimanfaatkan untuk peningkatan mutu.
Keterbukaan
326| Semirata 2013 FMIPA Unila
penyusunan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan.
Kerjasama
Definisi konseptual variabel kerjasama adalah suatu proses manajemen sekolah yang tercermin dalam pengorganisasian dan keterpaduan kerja untuk meningkatkan mutu sekolah. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh adanya pengorganisasian yang baik dan menghasilkan keterpaduan kerja yang harmonis.
Kemandirian
Definisi konseptual variabel kemandirian adalah suatu proses manajemen sekolah dalam rangka pengurangan dan atau penghilangan ketergantungan sekolah kepada pihak pemerintah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Ciri-ciri kemandirian sekolah: (1) tingkat ketergantungan rendah; (2) bersifat adaptif, antisipatif dan proaktif; (3) memiliki jiwa
kewirausahaan tinggi; (4)
bertanggungjawab; (5) memiliki kontrol yang kuat terhadap input dan sumberdaya; (6) memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja; (7) komitmen diri yang tinggi; dan (8) beracuan pada prestasi.
Sustainbilitas
Definisi konseptual variabel sustainbilitas adalah suatu proses manajemen yang dilakukan secara kontinyu untuk mempertahankan keberlanjutan program. Melalui proses ini, eksistensi program beserta hasil-hasil yang telah dicapai dan upaya-upaya inovatif peningkatan hasil, dilakukan secara terus menerus. Pimpinan sekolah dan guru harus mampu menunjukkan keyakinannya dan menjamin bahwa program PIPM dalam MPMBS yang sedang berjalan akan terus berlanjut.
Akuntabilitas
Definisi konseptual variabel akuntabilitas adalah suatu proses manajemen sekolah yang diarahkan kepada
pemenuhan harapan pemerintah dan masyarakat mengenai keluaran pendidikan dan standard belajar siswa. Bentuk konkret dari proses ini berupa laporan pertanggungjawaban sekolah kepada pemerintah dan masyarakat. Salah satu bentuk laporan yang sering dilakukan sekolah adalah laporan hasil belajar siswa.
Ketercapaian Sasaran (Output)
Definisi konseptual variabel ketercapaian sasaran (output) adalah suatu kondisi yang menggambarkan tingkat ketercapaian sasaran dari hasil suatu proses PIPM dalam MPMBS.
Dampak terhadap sekolah (outcome). Definisi konseptual variabel outcome adalah akibat yang ditimbulkan oleh pelaksanaan program PIPM dalam MPMBS. Akibat tersebut dapat diketahui setelah beberapa waktu pelaksanaan program. Secara teori, pihak yang terkena dampak adalah sekolah sebagai suatu lembaga, personil sekolah, siswa dan masyarakat. Dampak PIPM dalam MPMBS dapat bersifat positif dan dapat bersifat negatif.
Definisi Operasional
Konteks adalah nilai isi program PIPM dalam MPMBS di suatu sekolah yang memuat landasan hukum, visi, misi dan tujuan sekolah.
Semirata 2013 FMIPA Unila |327 perpustakaan, buku-buku, laboratorium,
alat peraga pembelajaraan, media sekolah, dan perangkat komunikasi sekolah. (6) Berbagai peraturan sekolah dalam berbagai aspek kehidupan di sekolah, baik yang bersifat akademik maupun non akademik.
Keterbukaan adalah nilai keterlibatan langsung semua warga sekolah dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Definisi secara operasional tersebut diwujudkan dalam bentuk nilai indikator keterbukaan yang akan dikaji melalui penelitian ini, yang mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) Keterlibatan personil sekolah dalam penyusunan, pelaksanaan, evaluasi program, dan dalam pengambilan keputusan. (2) Pemahaman personil sekolah mengenai alokasi dana yang dimiliki sekolah. (3) Pemahaman terhadap program. (4) Keterbukaan dalam penggalian sumber dana sekolah dan alokasi anggaran.
Kerjasama adalah nilai indikator kebersamaan semua warga sekolah dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Nilai indikator kerjasama tersebut diperoleh melalui penilaian. Penilaian yang akan dilakukan melalui penelitian ini, mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) Peningkatan peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. (2) Peningkatan kualitas dan kuantitas kerjasama dengan lembaga yang relevan. (3) Kenyamanan kerja para personil sekolah. (4) Keharmonisan kerjasama antar warga sekolah, seperti: kepala sekolah, guru, tata usaha, dan siswa. (5) Pola hubungan kerja yang diciptakan di sekolah.
Kemandirian adalah nilai yang diperoleh sekolah dalam pelaksanaan PIPM dalam MPMBS. Penilaian yang akan dilakukan mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) Inovasi dalam bidang kurikulum dan pembelajaran. (2) Pembinaan ketenagaan.
(3) Pembinaan kesiswaan. (4) Manajemen keuangan, misalnya, pola baru manajemen keuangan. (5) Pola pembinaan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait yang lebih efektif dan berdayaguna.
Sustainbilitas adalah nilai yang dicapai oleh sekolah dari penilaian terhadap keberlanjutan program. Penilaian variabel keberlanjutan program yang akan dikaji melalui penelitian ini mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) Keyakinan kepala sekolah, guru, tata usaha dan siswa mengenai keberlanjutan PIPM dalam MPMBS. (2) Motivasi kepala sekolah, guru, tata usaha dan siswa mengenai keberlanjutan PIPM dalam MPMBS. (3) Jaminan keberlanjutan program-program PIPM dalam MPMBS.
Akuntabilitas adalah nilai yang dicapai oleh sekolah atas penilaian terhadap proses akuntabilitas. Penilaian atas indikator ini, dilakukan melalui penelitian yang meliputi: sasaran pelaporan, media pelaporan, waktu pelaporan, mekanisme pelaporan, kesesuaian program dengan kebutuhan siswa dan isi laporan.
Ketercapaian sasaran (output) adalah nilai yang dicapai sekolah dalam bentuk prestasi siswa. Penilaian atas Indikator output dilakukan melalui penelitian ini mencakup: prestasi akademik siswa, prestasi non akademik siswa, prestasi sekolah, dan kinerja sekolah.
328| Semirata 2013 FMIPA Unila
berikutnya. Penelitian dilaksanakan pada Mahasiswa Angkatan I S2 Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB. Penelitian dilaksanakan selama 12 bulan, yaitu selama tahun 2012.
Menurut Patton (1980: 236), aktivitas penelitian kebijakan mencakup dua hal, yakni: analisis kebijakan dan evaluasi program. Ada tiga model atau pendekatan yang representatif yang dapat ditempuh melalui penelitian kebijakan, yakni: pendekatan analisis kebijakan, pendekatan evaluasi program dan pendekatan analisis secara statistic. Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluasi program dengan menggunakan analisis statistik secara sederhana, karena program ini merupakan suatu kebijakan pemerintah yang sudah dilaksanakan selama beberapa tahun yang lalu. Dalam melakukan analisis hasil penelitian ini juga sampai pada sebab-sebab mengapa fakta terjadi dan memprediksi kedepan masa yang akan datang.
Majchrzak (dalam Riduwan, 2008: 51) menjelaskan bahwa penelitian kebijakan adalah suatu proses penelitian yang dilakukan pada masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga hasil temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan kasus-kasus di tempat kerjanya. Hasil akhir dari penelitian kebijakan berupa rekomendasi yang diberikan kepada pihak pengambil kebijakan untuk membuat suatu keputusan tertentu.
Penelitian ini tergolong penelitian evaluasi program. Ada empat model evaluasi, yakni: Model CIPP (Contect Input Process Product), Model UCLA, Model Stake atau Model Countenance dan Model Brinkerhoff (Farida Yusuf Tayibnapis, 2000: 14-22). Sesuai dengan variabel yang akan diteliti, yakni: konteks, input, proses, output dan outcome PIPM dalam MPMBS,
maka penelitian ini cocok menggunakan Model CIPP. Evaluasi memegang peranan penting dalam pendidikan, antara lain untuk: membuat kebijakan dan keputusan, menilai hasil yang dicapai suatu program, menilai kurikulum, memberi kepercayaan kepada sekolah dan memperbaiki materi dan program pendidikan (Farida Yusuf Tayibnapis, 2000: 3).
Ada beberapa pendekatan dalam evaluasi, antara lain: pendekatan eksperimental, pendekatan yang berorientasi kepada tujuan, pendekatan yang berfokus pada keputusan, pendekatan yang berorientasi kepada pemakai dan pendekatan yang responsif (Farida Yusuf Tayibnapis, 2000: 23-32). Rujukan untuk mengevaluasi implementasi program PIPM dalam MPMBS adalah tujuan program PIPM dalam MPMBS. Secara umum bertujuan meningkatkan mutu pendidikan berbasis sekolah guna mencapai kemandirian sekolah, maka pendekatan yang cocok digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yang berorientasi kepada tujuan. Penelitian ini memilih menggunakan pendekatan evaluasi program dengan menggunakan analisis statistik secara sederhana dan analisis kualitatif, karena program ini merupakan suatu kebijakan pemerintah yang sudah dilaksanakan selama beberapa tahun yang lalu. Dalam melakukan analisis hasil penelitian, juga menganalisis dari sisi pelaku kebijakan dan lingkungan kebijakan. Hasil akhir penelitian evaluasi program berupa rekomendasi yang diberikan kepada pihak pengambil kebijakan untuk membuat suatu keputusan tertentu.
Teknik Analisis Data
Semirata 2013 FMIPA Unila |329 675). Teknis analisis data dalam penelitian
ini akan menggunakan kedua cara analisis tersebut. Teknik analisis secara kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif yang berupa angka-angka dengan menggunakan teknik statistik sederhana, yakni: bentuk persentase dan skor rata-rata. Persentase dikenal secara luas untuk melaporkan hasil tes yang sudah distandarisasikan. Hal ini sehubungan dengan kenyataan bahwa penyajian persentase secara relatif lebih mudah diinterpretasikan dalam menunjukkan rangking individual atau posisinya dalam suatu kelompok (Fachruddin, 2012: 72). Analisis secara kualitatif digunakan dalam memberikan makna hasil analisis kuantitatif dan dalam pembahasan hasil penelitian yang berupa argumentasi rasional terhadap temuan-temuan penelitian PIPM dalam MPMBS, sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang pelaksanaan program PIPM dalam MPMBS.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program PIPM dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah pada SMP,SMA,dan SMK di Propinsi Bengkulu rata-rata baik, sedangkan tingkat pencapaian yang sangat baik dialami oleh tingkat SMP. Tingkat pencapaian pelaksanaan program PIPM dalam MPMBS pada indikator program dan komponen program sebagai berikut: (1) Pelaksanaan PIPM dalam MPMBS dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Propinsi Bengkulu pada indikator keterbukaan, dengan nilai sangat baik dicapai oleh SMP; keterbukaan dengan nilai baik dicapai oleh SMA; dan
330| Semirata 2013 FMIPA Unila
komponen input, dengan nilai sangat baik dicapai oleh SMP , nilai baik dicapai oleh SMA; nilai sedang dicapai oleh SMK .10) Adanya perbedaan tingkat pencapaian program antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lainnya, karena adanya perbedaan kepemimpinan dan perbedaan partisipasi masyarakat.
Implikasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka implikasi hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Pelaksanaan program PIPM dalam MPMBS di SMP Propinsi Bengkulu ternyata mampu meningkatkan kualitas lulusan (output) Sangat baik, meskipun memiliki input yang berkategori baik. Penerapan program PIPM sebaagai manajemen model ini dibutuhkan motivasi yang tinggi dari pelaku kebijakan atau pelaksana program, khususnya kepala sekolah, guru, tata usaha, dan siswa. (2) Implikasi logis dari kemandirian adalah sangat dibutuhkannya peran serta masyarakat sekitar untuk menjaga dan meningkatkan akuntabilitas sekolah. Dampak lebih dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas jika para pelaku kebijakan secara terus menerus merencanakan dan melaksanakan program-program terobosan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Peningkatan kualitas dan kuantitas kerjasama, khususnya dengan pihak luar, sangat mendukung pencapaian kemandirian. (3) Untuk mempertahankan dan meningkatkan pencapaian target kelulusan, dibutuhkan upaya-upaya inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran matematika termasuk melaksanakan PTK dan Lesson study . Implikasi dari kemandian dan akuntabilitas yang tinggi, bahwa belum adanya inovasi, kreativitas, peningkatan kualitas dan kuantitas sarana prasarana pembelajaran matematika akan menurunkan target kelulusan.
PUSTAKA ACUAN
Abu-Duhou, Ibtisam. School Based Management. Jakarta: Logos, 2002.
Anderson, Scarvia B. and Samuel Ball. The Profession and Practice of Program Evaluation. London: Jossey-Bass Publishers, 1978.
Ariani, Dorothea W. Manajemen Kualitas. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003.
Danim, Sudarwan. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Danim, Sudarwan. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005.
Depdiknas. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Buku I: Konsep dan Pelaksanaan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas, 2001.
Dunn, William M. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Jakarta: Gadjah Mada University Press, 2000.
Fachruddin.S., Implementasi PIPM Dalam pelaksanaan PTK dan Lesson Study di S2 Penddidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB: 2012.
Fiske, Edward B, Descentralization of Education , alih bahasa, Basilius B. Jakarta: Grasindo,1998.
Hanafiah, M Jusuf, et al. Pengelolaan Mutu Total PendidikanTinggi. Makalah Semirata PTN BKS Barat. Jakarta: Depdiknas, 1994.
Hardjosoedarmo, Soewarso. Total Quality Management. Yogyakarta: Andi Offset, 2004.
Semirata 2013 FMIPA Unila |331 Lewis, Ralph G. Total Quality in Higher
Education. Florida: St Lucie Press, 1994.
Maxwell, John C. The 21 Indispensable Qualities of A Leader, Alih bahasa oleh Arvin Saputra, Interaksara, 2001.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori Model dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo, 2003.
Patton, M.Q. Quantitative evaluation methods. Beverly Hill: Sage Publications, 1980.
Prodi S2 Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB, Panduan Praktik Inovasi Pembelajaran Matematika (PIPM) Prodi S2 Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP UNIB :2012
Riduwan. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta, 2008.
Robbins, Stepen P. dan Mary Coulter. Management. Terjemahan T. Hermaya. Jakarta: PT. Indeks, 1999.
Sagala, Syaiful. Administrasi Pendidikan
Kontemporer. Bandung: Alfabeta, 2000.
Sallis, Edward. Total Quality Managemen in Education. Philadelphia: Kogan Page Educational Management Series, 1993.
Siagian, Sondang P.. Fungsi-Fungsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
Supriono S dan Achmad S, Manajemen Berbasis Sekolah. Jatim: SIC, 2001.
Syarifuddin. Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan: Konsep, strategi dan aplikasi. Jakarta: Grassindo, 2002.
Terry, George R. Guide to Management, diterjemahkan oleh J.Smith. D.F.M. Jakarta: Grasindo, 2003.
Tilaar, H.A.R. Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998.
Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2008.
Winardi, J. Manajemen Perubahan. Jakarta: Prenada Media, 2005.