Pertanyaan Apa yang kamu ketahui tentang

11  15 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Pertanyaan : Apa yang kamu ketahui tentang ? a. Kedokteran Gigi Forensik

b. DNA Forensik Jawaban :

a. Kedokteran gigi forensik atau dikenal dengan istilah Odontologi Forensik atau Forensic Dentistry tersusun dari paduan bahasa Romawi dan Yunani, yaitu : Forensic berasal dari bahasa Romawi yang berarti termasuk peradilan dan Odontology berasal dari bahasa Yunani, yaitu odons berarti gigi dan logis berarti ilmu pengetahuan. Sehingga Odontologi Forensik berarti ilmu pengetahuan tentang gigi geligi untuk peradilan. Dalam arti luas Odontologi Forensik, meliputi semua upaya pemanfaatan pemeriksaan gigi, komponen mulut dan wajah untuk kepentingan peradilan dan identifikasi.

Pengertian ilmu kedokteran gigi forensik menurut beberapa ahli adalah :

 Arthur D. Golman, mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi forensik

adalah suatu ilmu yang berkaitan dengan hukum alam penyelidikan melalui gigi geligi.

 Dr.Robert Bj. Dorion, mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi

forensik adalah suatu aplikasi semua ilmu pengantar tentang gigi yang terkait dalam memecahkan hukum pidana dan perdata.

 Djohansyah Lukman, mengatakan bahwa ilmu kedokteran gigi

forensik adalah suatu terapan dari semua disiplin ilmu kedokteran gigi yang berkaitan erat dalam penyelidikan demi terapan hukum dan proses peradilan.

Sehingga pengertian Odontologi Forensik adalah penggunaan ilmu kedoteran gigi terhadap hokum, termasuk beberapa studi ilmiah, dimana sistem hukum dan ilmu kedokteran gigi bertemu. Bidang kedokteran gigi ini melibatkan pengumpulan dan interpretasi bukti dental dan bukti lain yang berhubungan dalam semua bidang kriminalitas.

(2)

Dalam perkara pidana mengenali siapa korban merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Dengan mengetahui siapa korban akan terbuka jalan untuk mengenali siapa keluarga, teman lawan atau saingan dalam usaha. Dari

informasi-informasi tersebut, sering ditemukan siapa pelaku tindak pidana yang dicari. Oleh karenanya identifikasi korban seringkali merupakan suatu titik tolak penyidikan.

Kemudian timbul pertanyaan, kenapa harus gigi yang menjadi objek pemeriksaan ? Alasannya adalah sebagai berikut :

 Gigi merupakan rangkaian lengkungan secara anatomis,

antropologis dan morfologis mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi sehingga apabila trauma mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.

 Gigi sukar untuk membusuk kecuali gigi tersebut sudah

mengalami nekrotik atau gangren, biarpun dikubur, umumnya organ-organ tubuh lain bahkan tulang telah hancur tetapi gigi tidak (masih utuh).

 Gigi di dunia ini tidak ada yang sama karena menurut SIMS

dan Furnes bahwa gigi manusia kemungkinan sama adalah 1:1000000000.

 Gigi mempunyai ciri-ciri yang khusus apabila ciri-ciri gigi

tersebut rusak atau berubah maka sesuai dengan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gigi bahkan setiap ras mempunyai ciri yang berbeda.

 Gigi tahan asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang

dibunuh dan direndam di dalam drum berisi asam pekat, jaringan ikatnya hancur sedangkan giginya masih utuh.

 Gigi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan suhu 400

C gigi tidak akan hancur, kecuali dikremasi karena suhunya diatas 1000 C. Gigi menjadi abu sekitar suhu lebih dari 649 C. Apabila gigi tersebut ditambal menggunakan amalgam maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar suhu lebih dari 871 C, sedangkan bila gigi tersebut memakai mahkota logam atau inlay alloy emas maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar suhu 871-1093 C.

 Gigi dan tulang rahang secara roentgenografis, biarpun

terdapat pecahan-pecahan rahang pada roentgenogramnya dapat diinterpretasi kadang-kadang terdapat anomali dari gigi dan komposisi tulang rahang yang khas.

 Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi umumnya ia

(3)

dan gigi palsu tersebut dapat ditelusuri atau diidentifikasi. Gigi palsu akrilik akan terbakar menjadi abu pada suhu 538 C-649 C. Bridge dari porselen akan menjadi abu pada suhu 1093 C.

 Gigi merupakan sarana terakhir dalam identifikasi apabila

sarana-sarana lain atau organ lain tidak ditemukan.

Dalam penelitian korban dengan menggunakan Odontologi Forensik, dapat ditemukan informasi berupa :

 Golongan darah korban.

 Umur korban.

 Ras korban.

 Jenis kelamin korban.

 Kebiasaan-kebiasaan tertentu.

b. DNA forensik merupakan salah satu cabang yang memang bertugas secara khusus hanya untuk menganalisis sampel, bukan sembarangan sampel melainkan antara satu dengan yang lainnya kemudian digunakan untuk menguji kecocokan mereka. Dalam dunia medis DNA menjadi alat untuk mencocokkan hubungan kekerabatan, biasanya adalah antara orang tua dengan anaknya, selain itu juga masih ada manfaat yang tak kalah penting, yaitu dalam bidang forensik itu sendiri. Banyak bagian yang bisa dimanfaatkan sebagai sampel, bagi manusia sendiri ada darah, cairan mani, cairan vagina, sel-sel jaringan yang lainnya juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan uji coba. Setidaknya sampel yang dikumpulkan juga bukan hanya satu melainkan ada 2 yaitu dari TKP dan dari tersangka, pemrosesan menggunakan biologi molekuler hingga nantinya dari identifikasi tersebut dapat dilihat kecocokan antara tersangka dan korban, jika terbukti benar maka tersangka akan langsung mendapatkan pemrosesan hukum lebih lanjut. Waktu yang dibutuhkan selama analisis forensik tersebut juga tak bisa dikatakan sebentar, paling sedikit adalah 3 minggu bahkan bisa mencapai 3 bulan lebih.

(4)

berdasarkan kenyataan jika sebenarnya tiap orang memiliki sidik jari yang berbeda.

Selain itu, kita tahu bahwa selain sidik jari antara satu manusia dengan yang lainnya sangatlah berbeda berdasarkan dengan DNA yang dimiliki. Jadi ini dinyatakan sebagai alat yang penting dalam identifikasi tidak kriminal. Melakukan sebuah tes DNA menunjukkan bahwa kita ingin mengetahui atau ada tujuan di dalamnya, sampel tentunya berasal dari satu orang sama, jika sampel adalah orang yang sama maka kemungkinan ada pemalsuan laporan juga sangatlah kecil.

Secara garis besarnya dapat dikatakan bahwa DNA adalah komponen utama dan paling penting bagi manusia, pembuktian secara ilmiah bisa saja dilakukan, bahkan untuk bidang kejahatan sekalipun. Untuk itu tak jarang setiap tindakan kriminal baik yang dilakukan secara terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi pada suatu saat nanti pasti akan ditemui siapa pelaku sebenarnya, kebenaran bisa diuangkan dari bagian terkecil dari makhluk hidup sekalipun.

Pertanyaan : Berikan contoh kasus yang berhubungan dengan ? a. Kedokteran Gigi Forensik

b. DNA Forensik

Jelaskan / uraikan menurut pendapat saudara mengenai kasus tersebut.

Jawaban :

a. Sejarah forensik odontologi sudah ada sejak sebelum masehi (SM) yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Roma Claudius pada tahun 49 SM, Agrippina ( yang kelak akan menjadi ibu Kaisar Nero) membuat rencana untuk mengamankan posisinya. Janda kaya Lollia Paulina merupakan saingannya dalam menarik perhatian Kaisar, maka ia membujuk Kaisar untuk mengusir wanita tersebut dari Roma. Akan tetapi hal itu rupanya masih dianggapnya kurang dan ia menginginkan kematian wanita tersebut. Tanpa setahu Kaisar, ia mengirim seorang serdadu untuk membunuh wanita tersebut. Sebagai bukti telah melaksanakan perintahnya, kepala Lollia dibawa dan ditunjukkan kepada Agrippina. Karena kepala tersebut telah rusak parah mukanya, maka Agrippina tidak dapat mengenalinya lagi dari bentuk mukanya. Untuk mengenalinya Agrippina menyingkap bibir mayat tersebut dan memeriksa giginya yang mempunyai ciri khas, yaitu gigi depan yang berwarna kehitaman. Adanya ciri tersebut pada gigi mayat membuat Agrippina yakin bahwa kepala tersebut adalah benar kepala Lollia.

(5)

bahwa melalui gigi palsu yang dibuatnya yaitu berupa Bridge Work gigi depan dari taring kiri ke taring kanan yang ia buat sehingga drg. Paul Revere dapat dikatakan dokter gigi pertama yang menggunakan ilmu kedokteran gigi forensik dalam pembuktian.

Pada tahun 1887 Godon dari Paris merekomendasikan penggunaan gigi untuk identifikasi orang yang hilang. Untuk itu ia menganjurkan agar para dokter gigi menyimpan data gigi para pasiennya, untuk berjaga-jaga kalau-kalau kelak data tersebut diperlukan sebagai data pembanding.

Kasus identifikasi personal yang terkenal adalah kasus pembunuhan Dr. George Parkman, seorang dokter dari Aberdeen, oleh Professor JW Webster. Pada kasus ini korban dibunuh, lalu tubuhnya dipotong-potong lalu dibakar di perapian.

Polisi mendapatkan satu blok gigi palsu dari porselin yang melekat pada potongan tulang. Dr. Nathan Cooley Keep, seorang dokter bedah mulut memberikan kesaksian bahwa gigi palsu itu adalah bagian dari gigi palsu buatannya pada tahun 1846 untuk Dr. Parkman yang rahang bawahnya amat protrusi.

Pada tanggal 4 Mei 1897, sejumlah 126 orang Farisi dibakar sampai meninggal di Bazaar de la Charite. Para korban sulit diidentifikasi secara visual karena umumnya dalam keadaan terbakar luas dan termutilasi. Berdasarkan pemeriksaan Dr. Oscar Amoedo (dokter gigi Kuba yang berpraktek di Paris) dan dua orang dokter gigi Perancis, Dr. Davenport dan Dr. Braul untuk melakukan pemeriksaan gigi para korban kemudian ternyata mereka berhasil mengidentifikasi korban-korban ini.

Pada tahun 1917 di dermaga Brooklyn ditemukan mayat yang kemudian dipastikan sebagai seorang wanita yang telah menghilang 8 bulan sebelumnya. Identifikasi pada kasus ini ditegakkan berdasarkan temuan bridge pada gigi geliginya.

Sekitar tahun 1960 ketika program instruksional formal kedokteran gigi forensik pertama dibuat oleh Armed Force Institute of Pathology, sejak saat itu banyak kasus penerapan forensik odontologi dilaporkan dalam literatur sehingga forensik odontologi mulai banyak dikenal bukan saja di kalangan dokter gigi, tetapi juga di kalangan penegak hukum dan ahli-ahli forensik.

(6)

lengkap. Mereka diantaranya dari Swedia lima korban, Denmark tiga korban, Australia empat puluh korban, Jerman empat korban, Amerika empat korban, Inggris sepuluh korban, Belanda satu korban, Perancis dua korban, dan Jepang dua korban. Kemudian kasus berikutnya adalah kecelakaan bis di Paiton Probolinggo yang menewaskan 54 orang, dimana dapat dilakukan identifikasi melalui gigi sebanyak 33 orang yaitu sekitar 33%.

Bertitik tolak pada pengalaman kasus yang mana tersebut di atas, maka bisa dijadikan sebuah acuan bagaimana pelaksanaan identifikasi korban selama ini, sehingga dari kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam penanganan bencana tersebut dapat diantisipasi perbaikan-perbaikan yang perlu dimasa mendatang. Identifikasi korban bencana massal merupakan NO MAN ISLAND (daerah tak bertuan) yang perlu tatanan serta memerlukan dana, sarana, dan prasarana yang cukup mahal, sehingga sampai saat ini belum ada satu instansi yang mau menangani dengan serius dan benar. Dari pengalaman berupa

bencana-bencana massal ini ternyata odontologi forensik memiliki peranan yang cukup penting dalam proses identifikasi ini.

Meskipun sebagai sarana identifikasi yang penting, ternyata gigi juga memiliki kelemahan. Misalnya mayoritas masyarakat Indonesia jarang berobat ke dokter gigi. Selain itu, dokter gigi pun belum tentu melakukan pencatatan data gigi bahkan penyimpanan yang tertata baik. Akibatnya, ketika diperlukan sebagai data pembanding jika terjadi sesuatu musibah, tidak dapat diperoleh data gigi yang tepat.

b. Pertama, kasus yang terjadi di Purwokerto. Yakni, seorang anak berusia 13 tahun yang hamil dan melahirkan. Si anak yang mengalami kelainan mental ini tak bisa dimintai keterangannya di persidangan karena di bawah umur. “Dia hanya mengatakan main kuda-kudaan dengan kakeknya,” si kakek yang disebut juga sudah pikun. Sehingga, tak bisa dimintai keterangan. “Akhirnya, pengadilan meminta dilakukan tes DNA. Lalu, terbukti bahwa anak itu adalah anak si kakek. Ini sebagai kasus incest antara kakek dan cucunya.”

(7)

Berdasarkan pemeriksaan DNA dari tersangka, anak dan darah tali pusat maka janin itu adalah benar anak tersangka. DNA ini awalnya satu-satunya bukti. Hukum Indonesia membutuhkan minimal dua alat bukti. Akhirnya, tersangka mengaku setelah tes DNA ini sehingga didapat dua alat bukti, hasil tes DNA dan pengakuan tersangka.

Ketiga adalah kasus perselingkuhan. Seorang wanita yang hamil tiba-tiba menggugurkan kandungannya. Suami wanita ini curiga dengan sikap istrinya yang mengaborsi janin tanpa persetujuannya. Tes DNA pun dilakukan dan hasilnya, janin bayi itu bukan anak dari suami resminya.

Keempat, kasus yang terjadi di Malang, Jawa Timur. Mantan Wanita Tuna Susila (WTS) asal Indonesia menikah dengan pria asal Inggris. Wanita ini sedang dalam keadaan hamil ketika suaminya bertugas ke Thailand selama satu tahun. Setelah masa kerjanya berakhir di Thailand, si pria Inggris ini kembali ke Indonesia. Setelah berjalan beberapa tahun, si pria ingin membawa anaknya ke London, kampung halaman orangtuanya. Berdasarkan aturan imigrasi Indonesia, setiap laki-laki asing yang ingin membawa anaknya (meski anak yang resmi dari perkawinan) harus melakukan tes DNA untuk

membuktikan bahwa itu anaknya.

Setelah dilakukan tes DNA didapat hasil yang mengejutkan. Anak itu bukan anak

kandung dari wanita mantan WTS dan pria asal Inggris itu. Usut punya usut, ternyata wanita itu mengalami keguguran ketika ditinggal suaminya ke Thailand. Ia pun kembali ke tempat kerjanya, lokalisasi WTS. Dia bertemu dengan rekannya yang mengalami ‘kecelakaan kerja’ sehingga rekannya itu hamil. Dia meminta anak itu dia yang pelihara dan diakui sebagai anaknya.

Kelima, kasus selingkuh anggota DPRD di Medan, Sumatera Utara. Seorang anggota DPRD mencurigai istrinya selingkuh hanya karena wajah anaknya mirip dengan wajah teman baiknya, seorang pengusaha. Perselisihan ini dibawa ke Pengadilan Negeri Medan. Hakim memerintahkan dilakukan pemeriksaan DNA. Hasilnya, si anak memang bukan anak anggota DPRD itu, tetapi anak temannya.

(8)

retina mata, susunan gigi, bentuk tengkorak kepala serta bagian tubuh lainnya) yang telah lama digunakan kepolisian untuk identifikasi. Terlepas dari keuntungannya itu, penerapan DNA Forensik masih terbatas di Indonesia dikarenakan dana yang dibutuhkan sangat mahal dan SDM forensik yang kurang, sehingga kepolisian RI biasanya menerapkan standar prioritas untuk analisis ini, prioritas utama analisis biasanya menyangkut kasus-kasus nasional seperti peristiwa peledakan bom atau untuk potongan tubuh korban yang telah hancur, yang tidak dapat diidentifikasi lagi dengan proses biometri.

Pertanyaaan : Apa yang saudara ketahui tentang hal-hal berikut, uraikan dengan

jelas dan sistematis?

a. Peran kedokteran forensik dalam penegakan hukum beserta contoh kasusnya.

b. Pasal-pasal dalam KUHAP yang berhubungan dengan keterangan ahli.

Jawaban :

a. Dalam contoh kasus tindak pidana, seperti pencurian, penggelapan, penipuan dan sejenisnya, tentunya pihak penyidik tidak akan mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi barang bukti yang salah satu atau beberapa diantaranya dapat dijadikan sebagai alat bukti, yang selanjutnya akan diperiksa dalam sidang pengadilan. Akan tetapi, apabila kasus tindak pidana tersebut berkaitan dengan timbulnya luka, terganggunya kesehatan maupun kematian, maka persoalannya tidak sesederhana seperti pada contoh kasus diatas.

Oleh karena luka, terganggunya kesehatan pada suatu saat akan sembuh atau bahkan kemungkinan menjadi lebih parah. Demikian halnya dengan korban yang meninggal, juga harus selekasnya dikubur. Untuk mengungkap secara hukum, tentang benarkah telah terjadi tindak pidana serta apa sesungguhnya penyebabnya dan dengan alat apa perbuatan pidana itu dilakukan, diperlukan alat bukti yang konkrit pada saat terjadinya tindak pidana yang bisa dipertanggung jawabkan secara yuridis. Contohnya adalah dalam tindak pidana abortus provokatus kriminalis.

(9)

hanya terkandung aspek yuridis semata, melainkan juga aspek teknis dan aspek manusia.

Abortus provokatus kriminalis sebagai suatu persoalan teknis, tentunya membutuhkan peran disiplin ilmu lain, yang mampu membuktikan secara teknis hubungan kausalitas antara perbuatan dengan akibat yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan bukti-bukti yang lain. Adapun disiplin ilmu yang dimaksud adalah Ilmu Kedokteran Forensik. Ilmu Kedokteran Forensik merupakan cabang ilmu kedokteran yang memanfaatkan Ilmu Kedokteran dan ilmu lain yang terkait untuk kepentingan penegakan hukum.

Contoh kasusnya adalah dengan menggunakan metode DNA Forensik yang merupakan cabang dari Kedokteran Forensik, yang mana kasus yang terjadi di Malang, Jawa Timur. Mantan Wanita Tuna Susila (WTS) asal Indonesia menikah dengan pria asal Inggris. Wanita ini sedang dalam keadaan hamil ketika suaminya bertugas ke Thailand selama satu tahun. Setelah masa kerjanya berakhir di Thailand, si pria Inggris ini kembali ke Indonesia. Setelah berjalan beberapa tahun, si pria ingin membawa anaknya ke London, kampung halaman orangtuanya. Berdasarkan aturan imigrasi Indonesia, setiap laki-laki asing yang ingin membawa anaknya (meski anak yang resmi dari perkawinan) harus melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa itu anaknya. Setelah dilakukan tes DNA didapat hasil yang mengejutkan. Anak itu bukan anak kandung dari wanita mantan WTS dan pria asal Inggris itu. Usut punya usut, ternyata wanita itu mengalami keguguran ketika ditinggal suaminya ke Thailand. Ia pun kembali ke tempat kerjanya, lokalisasi WTS. Dia bertemu dengan rekannya yang mengalami ‘kecelakaan kerja’ sehingga rekannya itu hamil. Dia meminta anak itu dia yang pelihara dan diakui sebagai anaknya.

b. Ilmu Kedokteran Forensik mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Keberadaan dokter forensik atau

(10)

yang sah (pasal 185 KUHAP butir 1). Keterangan ahli dapat diberikan secara tertulis (Visum et Repertum) maupun secara lisan di depan sidang pengadilan.

Berikut ini adalah pasal-pasal dalam KUHAP yang mengatur tentang keberadaan ahli dalam hal ini adalah untuk dokter forensik sebagai dasar hukum beracara di persidangan :

Pasal 120 KUHAP

(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.

(2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangn menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan, atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

Pasal 133 KUHAP

(1) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus dilakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 179 KUHAP ayat (1)

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokteratau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 186 KUHAP

Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

(11)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...