• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERIKSAAN KESADARAN wajib MENGUKUR GCS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMERIKSAAN KESADARAN wajib MENGUKUR GCS"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERIKSAAN KESADARAN

/ MENGUKUR GCS

Posted by ramzkesrawan on 2010/07/13

Tingkat Kesadaran

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadarankesadaran dibedakan menjadi :

1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..

2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.

4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.

6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.

Mengukur Tingkat Kesadaran

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.

(2)

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

Pemeriksaan GCS

GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.

Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata , bicara dan motorik. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.

Eye (respon membuka mata) : (4) : spontan

(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).

(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari) (1) : tidak ada respon

Verbal (respon verbal) :

(5) : orientasi baik

(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.

(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)

(2) : suara tanpa arti (mengerang)

(1) : tidak ada respon Motor (respon motorik) :

(6) : mengikuti perintah

(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)

(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)

(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). (2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).

(1) : tidak ada respon

Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…

(3)

Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :

GCS : 14 – 15 = CKR (cidera kepala ringan) GCS : 9 – 13 = CKS (cidera kepala sedang)

(4)

Cuci tangan

1.

Sebelum kontak dengan pasien,

2.

Sebelum tindakan aseptik,

3.

Setelah terkena cairan tubuh pasien,

4.

Setelah kontak dengan pasien,

5.

Setelah kontak dengan linkungan di sekitar pasien

Prinsip dari 6 langkah cuci tangan antara lain :

1.

Dilakukan dengan menggosokkan tangan menggunakan cairan antiseptik (handrub) atau dengan air

mengalir dan sabun antiseptik (handwash). Rumah sakit akan menyediakan kedua ini di sekitar

ruangan pelayanan pasien secara merata.

2.

Handrub dilakukan selama 20-30 detik sedangkan handwash 40-60 detik.

(5)

OKSIGENASI

Peralatan

Nasal kanul : merupakan tabung plastik yang mempunyai cabang kecil yang menonjol untuk

dimasukkan kedalam lobang hidung, metode ini merupakan metode yang paling mudah dan

paling dapat diterima karena lebih efektif, mudah dipakai oleh klien (Potter&Perry,1997).

Klien yang menerima terapi oksigen melalui nasal kanul hidung dapat berkomunikasi dengan

mudah, dapat makan minum dan melakukan aktifitas setiap hari. Klien juga dianjurkan untuk

bernafar melalui hidung karena pernafasan lewat mulut dapat menurunkan bahkan dapat

menghilangkan oksigen. Oksigen dengan nasal kanule diberikan 1-6 l/mnt (Potter&Perry,

1997). Diatas 6 l/mnt tidak akan meningkatkan oksigen yang dihasilkan, justru hal ytersebut

akan meningkatkan kekeringan membran mukosa. Bagaimanapun oksigen dengan nasal

kanul biasanya digunakan dengan kecepatan aliran 2-3 l/mnt.

Humidifier : humidifier dilengkapi dengan tabung air steril yang bisa didisi kembali. Alat ini

melekat pada pada alat yang menghasilkan oksigen. Humidifier berfungsi melembabkan

membasahi oksigen sebelu bergerak melalui hidung ke paru-paru sehingga mencegah

mengeringnya membran mukosa saluran pernafasan. Air yang digunakan harus steril untuk

mencegah infeksi dari mikro organisme yang dapat tumbuh dalam lingkungan lembab.

Flowmeter : merupakan alat yang melekat ke oksigen outlet, yang mengatur jumlah oksigen

yang dihasilkan. Ada 2 tipe flowmeter : balon air raksa dan ukuran, kedua tipe mencatat

jumlah liter yang dikeluarkan permenit.

Sumber oksigen : Oksigen biasanya disimpan dalam tabung atau berasal sentral/\. jumlah

gas dicatat dalam ukuran pounds perinchi persegi. ketika tabung hampir kosong jarum

menunjuk ke area merah dan menandakan tabung harus ganti. terdapat juga tabung-tabung

yang kecil untuk keadaan darurat, dapat dipindahkan dan biasanya aman karena bertekanan

rendah.

ksigen yang diberikan dapat secara kontinyu dengan aliran 1-6 liter/menit.Konsentrasi

oksigen yang dihasilkan dengan nasal kanul sama dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44 %.

Berikut ini adalah aliran FiO2 yang dihasilkan nasal kanul:

(6)

Rjp anak dan bayi

1. Penilaian respon.

Setelah penolong sudah yakin bahwa tindakan bersifat aman bagi penolong & anak yang ditolong maka

penilaian respons terhadap anak dapat dilakukan dengan segera.

Pertama kali berikan rangsangan dengan memanggil sambil menepuk/menggoyangkan pasien apakah

pasien tersebut memberikan respons terhadap rangsangan yang diberi & perhatikan juga apakah ada

tanda2 trauma pada anak tersebut.

2. Aktifkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpatu (SPGDT).

Apabila pasien tidak memberikan respons & penolong lebih dari satu orang, minta tolong kepada orang

terdekat untuk menelpon sistem gawat darurat & mengambil AED (Automatic External Defibrillator).

Apabila penolong hanya seorang diri & henti jantung disaksikan baru terjadi, maka segera untuk

mengaktifkan sistem gawat darurat & ambil AED jika tersedia.

Sedangkan apabila penolong hanya seorang diri & henti jantung tidak disaksikan, maka lakukan dulu

resusitasi jantung paru (RJP) selama 2 menit kemudian aktifkan sistem gawat darurat & ambil AED.

3. Kompresi Jantung (Circulation).

Dalam melakukan pemeriksaan nadi pada anak & bayi sebelum melakukan kompresi merupakan

hal yang tidak mudah karena pemeriksaan nadi tidak dilakukan pada arteri karotis, tetapi pada

arteri brakialis/arteri femoralis. Sedangkan pada anak usia 1 tahun keatas dapat dilakukan

seperti pada orang dewasa.

Kompresi harus dilakukan dengan segera pada anak maupun bayi yang tidak sadarkan diri,

serta tidak ada denyut nadi & tidak bernafas.

(7)

Kompresi dada pada Anak usia 1-8 tahun.

Letakkan tumit satu tangan pada setengah bawah tulang dada (sternum), hindarkan jari2 pada tulang iga

anak.

Tekan sternum sedalam 2,5 sampai 4 cm, lalu lepaskan dengan rasio menekan : melepas adalah dengan

kecepatan 100 x permenit.

Sesudah 30 x kompresi, buka jalan nafas & berikan 2 x nafas buatan hingga dada terangkat ( untuk 1

penolong)

Kompresi & nafas buatan dengan rasio 15 : 2 (untuk 2 penolong).

Kompresi dada pada bayi.

Letakkan 2 jari satu tangan pada setengah bawah sternum; lebar jari berada di bawah garis

intermammari.

Tekan sternum sedalam 1,25 hingga 2,5 cm, lalu angkat tanpa melepaskan jari dari sternum dengan

kecepatan 100 x permenit.

Setelah 30 x kompresi, buka jalan nafas & berikan 2 x nafas buatan hingga dada terangkat (untuk 1

penolong).

(8)

Rumus

Untuk memahami lebih lanjut, terlebih dahulu kita harus mengetahui rumus

dasar menghitung jumlah tetesan cairan dalam satuan menit dan dalam satuan

jam:

Rumus dasar dalam satuan menit

Rumus dasar dalam satuan jam

Dewasa (

macro drip

)

Infus set

macro drip

memiliki banyak jenis berdasarkan faktor tetesnya. Infus set

yang paling sering digunakan di instalasi kesehatan Indonesia hanya 2 jenis saja.

Berdasarkan merek dan faktor tetesnya:

Merek Otsuka

faktor tetes = 15 tetes/ml

Merek Terumo

faktor tetes = 20 tetes/ml

Infus

Blood set

untuk tranfusi memiliki faktor tetes yang sama dengan merek

otsuka, 15 tetes/menit.

Infus

set

macro drip

dengan faktor tetes 10 tetes/menit jarang ditemui di

Indonesia. Biasanya hanya terdapat di rumah sakit rujukan pusat, rumah sakit

pendidikan, atau rumah sakit internasional.

Penurunan rumus dewasa

Berikut ini adalah rumus cepat hasil penurunan dari rumus dasar (dalam satuan

jam), untuk pasien dewasa:

o) Merek Otsuka

(9)

Contoh soal 1

Seorang pasien dengan berat 65 kg datang ke klinik dan membutuhkan 2.400 ml

cairan RL. Berapa tetes infus yang dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien

mesti dicapai dalam waktu 12 jam? Di klinik tersedia infus set merek Otsuka.

Diketahui:

Cairan = 2.400 ml (cc)

Waktu = 12 jam

Faktor tetes Otsuka = 15 tetes/ml

Jawab:

Jadi, pasien tersebut membutuhkan 50 tetes infus untuk menghabiskan cairan

2400 ml dalam waktu 12 jam dengan menggunakan infus set Otsuka.

Contoh soal 2

Seorang pasien datang ke RSUD dan membutuhkan 500 ml cairan RL. Berapa

tetes infus yang dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai dalam

waktu 100 menit? Di RSUD tersedia infus set merek Terumo.

Diketahui:

Cairan = 500 ml (cc)

Waktu = 100 menit

Faktor tetes Terumo = 20 tetes/ml

(10)

Jadi, pasien tersebut membutuhkan 100 tetes infus untuk menghabiskan cairan

500 ml dalam waktu 100 menit dengan menggunakan infus set Terumo.

Anak (

micro drip

)

Lain halnya dengan dewasa, anak dengan berat badan dibawah 7 kg

membutuhkan infus

set

dengan faktor tetes yang berbeda.

Micro drip

faktor tetes = 60 tetes/ml

Penurunan rumus anak

Berikut ini adalah rumus cepat hasil penurunan dari rumus dasar (dalam satuan

jam) untuk pasien anak:

Contoh soal anak

Seorang ibu datang membawa bayinya yang sakit ke IGD dengan keluhan diare

lebih dari 5 kali. Anak bayi tersebut membutuhkan cairan RL sebanyak 100 ml.

Berapa tetes infus yang dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai

dalam waktu 1 jam?

(11)

PEMBERIAN OBAT MANITOL

DEFINISI

Mannitol adalah salah satu obat yang sering digunakan di ruang ICU yang

secara

rutin

digunakan

sebagai

komponen

solusi

dalam

cardiopulmonary perfusion

untuk mempertahankan osmolarity dari

perfusate(8).

(2) Ansa henle, yaitu dengan penghambatan reabsorpsi natrium dan air oleh

karena hipertonisitas daerah medula menurun;

(3) Duktus koligentes, yaitu dengan penghambatan reabsorbsi natrium dan air

akibat adanyapapillary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau

Sebagian besar manitol (>90%) dikeluarkan oleh ginjal dalam bentuk utuh pada

urin. Manitol diekresikan melalui filtrasi glomerulus dalam waktu 30 – 60 menit

setelah pemberian. Diuretic osmotic absobsinya buruk bila diberikan peroral,

sehingga obat ini harus diberikan secara parenteral (intravena) dalam jumlah

besar.

INDIKASI dan DOSIS

Manitol dapat digunakan misalnya untuk profilaksis gagal ginjal akut, suatu

keadaan yang dapat timbul akibat operasi jantung, luka traumatik berat, dan

menderita ikterus berat.

Manitol tersedia dalam berbagai kemasan dan konsentrasi, yaitu: manitol 10%

dalam kemasan plabottle 250 ml (25 gr) dan 500 ml (50 gr). Manitol 20% dalam

kemasan plabottle 250 ml (50 gr) dan 500 ml (100 gr). Sebelum digunakan

manitol dihangatkan terlebih dahulu untuk melarutkan kristal-kristalnya.

KONTRA INDIKASI

Pada penderita payah jantung pemberian manitol berbahaya, karena volume

darah yang beredar meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah

gagal. Pemberian manitol juga dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan

anuria, kongesti atau udem paru yang berat, dehidrasi hebat, dan perdarahan

intra kranial, kecuali bila akan dilakukan kraniotomi, serta pada pasien yang

hipersensitivitas terhadap manitol.

(12)

1) Ekspansi Cairan Ekstraseluler.

2) Dehidrasi Dan Hipernatremia.

3) Hiperkalemia

4) Reaksi anafilaksis atau alergi

LUAS LUKA BAKAR

Dewasa : Hukum 9

(Rule Of Nine(s))

atau anak

Table Lund & Bowder

– Permukaan kepala : 9 % – Permukaan pinggang : 9 %

– Permukaan setiap lengan : 9 % – Permukaan paha : 9 %

– Permukaan dada : 9 % – Permukaan betis : 9 %

– Permukaan perut : 9 % – Perineum & genital : 9 %

– Permukaan punggung : 9 % – Telapak tangan : 1 %

Bayi

:

Rumus

10, Anak

:

Rumus

10-15-10

Atau

menggunakan

tabel

Lund

&

Browder

– Kepala leher : 15 %

– Depan belakang

:

20 %

Ekstermitas

atas

kanan

kiri

:

10

%

– Ekstremitas bawah ka/kiri : 15 %

KATEGORI PENDERITA LUKA BAKAR

1. Luka Bakar Berat / kritis

(13)

Trauma

listrik

– Disertai trauma lainnya , misal fraktur

2. Luka Bakar Sedang

PROGNOSIS

BERAT RINGANNYA LUKA BAKAR DITENTUKAN

OLEH

1. Kedalaman sebesar derajat I, II atau III

2. Luasnya untuk ditentukan prosentase

4. Luka pada : wajah, tangan, genital/perineal

5. Penyebabnya : kimia dan listrik

6. Menderita penyakit lain : DM, hipertensi

Penderita dengan luka

bakar > 40% diusahakan pemasangan CVP

Bila

Luas

luka

bakar

:

<

20%

artinya tubuh masih bisa kompensasi

– > 20% akan terjadi shock hipovolemik (perpindahan cairan intra ke ekstravasculer)

PRINSIP PENANGANAN

1. Api masih hidup, Jika api masih hidup penderita disuruh berhenti lalu

jatuhkan diri dan kemudian berguling di lantai / tanah (stop drop roll)

2. Hilangkan heat-restore à bila < 15 menit siram air dingin

(14)

lakukan

Escharektomi

, karena dapat menimbulkan sukar nafas. Bila perlu

lakukan

zebra incision

pada tulang iga dan Circulation dengan

menggunakan formula Baxter dengan larutan Ringer Laktat, jangan

memakai NaCl karena Cl memperberat asidosis.

FORMULA BAXTER

– Zalf Bioplasenton, dapat cegah kuman

masuk/infeksi

Derajat II

– Cuci dengan larutan savlon 5 cc dalam

NaCl 500 cc

– Sufratul

– Tutup verband steril tebal , ganti tiap

minggu

Hari ke-7 dimandikan air biasa, setelah mandi daerah luka didesinfektan sol savlon 1 : 30.

Luka dibuka 3 – 4 hari jika tidak ada infeksi / jaringan nekrose

POSISI PENDERITA

Ekstremitas sendi yang luka posisi fleksi / ekstensi maksimal

Leher & muka defleksi, semi fowler (bantal di punggung)

(15)

1. Luka bakar grade I (superficial burn) Kerusakan jaringan terbatas

pada kulit lapisan epidermis, secara klinis kulit tampak merah, kering

dan terasa sakit. luka bakar derajat satu 2. Luka bakar grade IIa

(superficial partial-thickness burn) Kerusakan jaringan mengenai

sebagian dermis, folikel rambut dan kelenjar keringat tetap utuh,

secara klinis kulit tampak merah/kuning, basah dengan bula, dan

terasa sakit. luka bakar derajat dua 3. Luka bakar grade IIb (deep

partial-thickness burn) Kerusakan jaringan mengenai sebagian dermis

dan folikel rambut, hanya kelenjar keringat yang tetap utuh, secara

klinis kulit tampak merah/kuning, basah dengan bula, dan terasa sakit.

3. Luka bakar grade III (full thickness burn) Kerusakan jaringan

Gambar

tabel

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Glasgow Coma Scale pada pasien trauma kapitis dengan cara melihat skor GCS yang tercantum pada rekam medis pasien.. Dari

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien trauma kapitis yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan, diperiksa skor skala koma Glasgow , dan dilakukan

Skor skala koma Glasgow pada pasien trauma kepala dapat.. diklasifikasikan menjadi tiga: ringan dengan skor 15-13, sedang dengan

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik

PENGARUH VOLUME PERDARAHAN DAN SKOR GLASGOW COMA SCALE GCS SAAT MASUK RUMAH SAKIT TERHADAP KEJADIAN MORTALITAS PADA PASIEN STROKE PERDARAHAN INTRASEREBRAL DI RSUD DR.. MANAJEMEN RESUME