Perkembangan Islam dan Tamadun Melayu di

18  12 

Teks penuh

(1)

Tugas Kelompok

Dosen Pembimbing

SIAT dan Tamadun Melayu Bambang Supradi, M.Pd.I

Perkembangan Islam dan Tamadun Melayu

Di Brunei Darussalam

Disusun oleh :

Kelompok 6

Azhar Siddiq

Jihad Benastey

Fakultas Sains dan Teknologi

Jurusan Teknik Informatika

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Pekanbaru

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan

rahmat, Inayah, taufik dan hinayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.

Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk

maupun pedoman bagi pembaca dalam memahami perkembangan Islam dan

tamadun Melayu di Brunei Darussalam.

Penulis mengakui masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh karena

itu diharapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat

membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Pekanbaru, September 2018

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 1

1.3. Tujuan ... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 2

2.1. Sejarah Brunei Darussalam ... 2

2.2. Islam Sebelum Periode Kolonial ... 3

2.2.1. Islam periode Inggris ... 4

2.2.2. Islam di Brunei dan Dewasa Ini. ... 6

2.3. Awal Proses Masuknya Islam Dan Perkembangannya ... 8

2.4. Pendidikan ... 12

2.5. Tamadun Melayu ... 12

BAB III PENUTUP ... 14

3.1. Simpulan ... 14

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yang sangat makmur di bagian

utara Pulau Borneo/Kalimantan dan berbatasan dengan Malaysia. Brunei terdiri

dari dua bagian yang yang dipisahkan di daratan oleh Malaysia. Nama Borneo

berdasarkan nama negara ini, sebab pada zaman dahulu kala, negeri ini sangat

berkuasa di pulau ini.

Islam menjadi agama resmi Negara Brunei Darussalam, Karena itu mendapat

perlindungan dari negara. Pemerintah juga sangat mendukung perkembangan dan

kemajuan Islam, di mana Sultan Brunei menjadi kepala agama di tingkat negara.

Sebagian besar Muslim di negara ini adalah Sunni yang menganut mazhab Syafi’i.

1.2.Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah Brunei Darussalam sebelum penjajahan sampai merdeka?

2. Bagaimana perkembangan Islam di Brunei Darussalam?

3. Bagaimana perkembangan pendidikan di Brunei Darussalam?

4. Bagaimana perkembangan tamadun Melayu di Brunei Darussalam?

1.3.Tujuan

1. Mengetahui sejarah Brunei Darussalam sebelum penjajahan sampai merdeka.

2. Mengetahui perkembangan Islam di Brunei Darussalam.

3. Mengetahui perkembangan pendidikan di Brunei Darussalam.

(5)

2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Sejarah Brunei Darussalam

Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yang makmur di bagian utara

Pulau Borneo/Kalimantan dan berbatasan dengan negara Malaysia. Brunei

memiliki ukuran wilayah yang tidak begitu luas, diperkirakan hanya seluas 5.765

km persegi. Penduduknya juga relatif sedikit, diperkirakan berjumlah 360.000.

Mayoritas penduduknya adalah Melayu, sebagian lainnya adalah pendatang seperti

Cina. Pemerintah tidak menerbitkan data lengkap tentang penganut agama, namun

satu sumber menyebutkan bahwa 67,2 % penduduknya Muslim; 13% Budha, 10%

Kristen; dan 10% lainnya menganut keyakinan lainnya. Sekitar 20% penduduk

adalah etnis Cina, di mana diperkirakan sebagian di antaranya menganut Kristen

(Anglikan, Katolik dan Methodists) dan sebagian lainnya menganut agama Budha.

Juga terdapat sejumlah tenaga kerja yang berasal dari Australia, Inggris, Filipina,

Indonesia, dan Malaysia yang menganut Islam, Kristen dan Hindu. 297 Sebagai

tempat ibadah, di Brunei terdapat 101 mesjid, 7 buah gereja, sejumlah kelenteng

Cina dan 2 buah candi.1

Keberadaan Brunei sudah ada sejak abad ke-6 dan menjadi kerajaan tertua di

antara kerajaan-kerajaan tanah Melayu. Pada masa itu daerah Brunei menjadi salah

satu pelabuhan persinggahan dan pusat perdagangan dari Cina, Arab dan India.

Berdasarkan bukti monumen dan fakta sejarah yang ada di Brunei adalah lebih

meyakinkan dan mewujudkan bahwa islam telah ujud di Brunei sejak abad ke 13

M. Karena sebuah batu nisan seorang Cina kenamaan beragama islam pada tahun

1264 M yang terdapat di Brunei.2

Situasi politik di negara Brunei Darussalam tampaknya sangat tenang, hal ini

mungkin karena ukuran negara ini yang kecil. Hampir seluruh penduduk Brunei

adalah Melayu, meskipun ada sejumlah kecil kaum Iina pendatang. Sebagai agama

resmi, islam mendapat lindungan dari negara, islam sangat berkembang di Brunei,

(6)

3

karena didukung oleh pemerintah dan tidak adanya demokrasi politik

memungkinkan pemerintah memberlakukan kebijaksanaan di bidang agama dan

kebijakan umum lainnya tanpa banyak kesulitan. Dan juga karena Brunei sangat

berhati-hati terhadap pengaruh dari luar, tampaknya masyarakat feodal tradisional

ini akan tetap bertahan.

Brunei mengubah bentuk kerajaan menjadi kesultanan bersamaan dengan

masuknya islam ke sana pada abad ke 15. Tahun-tahun berikutnya menjadi masa

kejayaan kesultanan tersebut. Daerah kekuasaannya meluas hingga Filipina selatan.

Sepanjang sejarahnya, Brunei tercatat hanya mengalami 2 kali pertikaian politik.

Pertama, tak lama setelah kedatangan orang Eropa pertama di Brunei. Pada tahun

1521, pelaut Spanyol Magellan mendaratnya dua kapalnya di sana. Pemberontakan

rakyat dipicu ketidaksuaan mereka atas campur tangan orang asing dalam

pemerintahan.

Paman sultan, raja muda hasil yang menjabat perdana menteri gagal

memadamkan pemberontakan itu. Akhirnya bantuan asing yang dipimpin olah

petualang Inggris, James Brooke menumpas pemberontakan, diangkat sebagai raja

atas wilayah kuching, Baudab Lundo. Akhirnya sejak tahun 1888 brunei menjadi

daerah protektorat Inggris.

Pada tahun 1962, terjadi pemberontakan rakyat yang kedua dipimpin oleh

Azhari. Ia menuntut kemerdekaan Kalimantan Utara meliputi wilayah Shahab,

Serawak dan Brunei, namun pemberontakan tersebut berhasil dipatahkan.

Pada tahun 1971, Inggris memberikan kebebasan untuk menjalankan

pemerintahan Brunei. Meski cukup lama berada di bawah pengaruh kolonialisme

Inggris, namun secara kultural islam sangat mewarnai kehidupan rakyat dan

pemerintah Brunei.3

2.2.Islam Sebelum Periode Kolonial

Di Brunei Darussalam, Islam telah diterima secara resmi sebagai agama raja

dalam rakyat dan telah memiliki corak pemerintahannya secara bersultan dengan

(7)

4

pengislaman Awak Alak Betatar(1363-1402) dengan nama sultan Muhammad syah

dan terakhir adalah sultan haji Hassanal Bolkiah(1957-sekarang).

Sultan-sultan negara Brunei telah mengembangkan islam di dalam negaranya

dan juga daerah sekitarnya. Mereka juga telah melaksanakan undang-undang islam

secara peringkat-peringkat sehingga menjadi undang-undang dasar negara Brunei

Darussalam.

Sebagai bukti jelas pelaksanaan UU islam di Brunei yaitu bahwa Brunei ialah

mewujudkan UU islam tertulis dan disahkan. Ada dua naskah UU islam Brunei,

naskah Brunei terkenal bernama Hukum Kanun Brunei mengandung 96 muka surat

dan boleh didapati di dewa bahasa dan pustaka Brunei. Naskah kedua terkenal

dengan nama UU dan Adat Brunei Lama, Terdiri dari 68 muka surat, di simpan di

Museum Serawak.

Kandungan hukum Kanun Brunei ini jelas mencakup bidang yang luas dalam pelaksanaan hukum syara’, termasuk hukum hudud dan qishas. Hukum Kanun Brunei mengandung kira-kira 47 pasal yang mana kandungan hukum ini sesuai dengan hukum syara’.

Sebelum kedatangan Inggris, Brunei telah diperintah berdasarkan Hukum Kanun Brunei yang berasaskan syara’. Dengan ini tidak ada keraguan mengenai sumber dan asas undang-undang Brunei yaitu undang-undang islam yang

pemakaian dan pelaksanaannya meluas dan menyeluruh sebelum kedatangan dan

campur tangan Inggris.

2.2.1. Islam periode Inggris

Pada tahun 1847 merupakan tahun bersejarah bagi Inggris, karena pada tahun

tersebut bermulanya hubungan antara Brunei dengan kerajaan Inggris. Pada tahun

1906 Brunei dengan resminya menerima kehadiran residen British akibat dari

beberapa perjanjian tahun 1886 dan 1888, kandungan perjanjian-perjanjian tersebut

ialah membuat peruntukan memberi kuasa pentadbiran undang-undang kepada

pihak Inggris.

Sebagai contoh bahwa Inggris mulai menunjukkan minat untuk campur tangan

dalam bidang UU dan pentadbirannya seperti dalam perjanjian tahun 1856, Inggris

(8)

5

kalangan rakyat Inggris atau antara rakyat Inggris dengan rakyat asing negara

Brunei. Walaupun hakim Inggris diberi kuasa bidang ini, namun beliau tidaklah

mempunyai kuasa penuh dalam menjalankan tugas-tugas kehakiman. Hakim

kerajaan Inggris apabila menjalankan tugas disertai oleh hukum kerajaan Brunei.

Hukuman-hukuman yang dijatuhkan hendaklah berdasarkan pada hukuman yang

terdapat dan diperuntukkan dalam UU tempatan dengan syarat, hukuman yang

dijatuhkan pada rakyat Inggris hendaklah tidak boleh lebih berat dari hukum yang

biasa diberikan dalam UU Inggris bagi kesalahan yang sama.

Dengan demikian Inggris telah mulai mempunyai aturan untuk campur tangan

dalam pentadbiran dan kehakiman Negara Brunei. Namun, kelihatannya Inggris

belum puas selagi belum berkuasa penuh di bidang perundangan dan

pentadbirannya. Kuasa penuh bagi mentadbir urusan perundangan dan kehakiman

rakyat Inggris di Brunei diberikan pada Inggris hanya setelah tercantumnya

perjanjian 1888 artikel VII perjanjian tersebut terbuat.

a. Bidang kuasa sipil dan jenayah kepada jawatan kuasa kehakiman Inggris

untuk mengendalikan kasus rakyat asing dari negara jajahan Inggris dan kasus

rakyat negara lain jika mendapat persetujuan negara mereka.

b. Bidang kuasa untuk menghakimkan kasus yang melibatkan rakyat Brunei

jika rakyat Brunei dalam kasus tersebut merupakan seorang penuntut atau

pendakwa. Tapi jika di dalam sesuatu kasus itu, rakyat Brunei adalah orang yang

dituntut atau didakwa, maka kasus tersebut akan diadili oleh Mahkamah

Tempatan.4

Ternyata walaupun Brunei Darussalam merupakan sebuah negara merdeka dan

berdaulat yang mana undang-undangnya sepatutnya dipatuhi dan dihormati, namun

hal ini tidak berlaku karena Inggris telah membuat berbagai tindakan untuk campur

tangan dalam perundangan dan pentadbiran keadilan Negara Brunei Darussalam.

Nampaknya mereka belum puas sebelum mempunyai kuasa mutlak di bidang

perundangan dan kehakiman ini.

(9)

6

Inggris berhasil mendapat kuasa untuk campur tangan dalam urusan

pentadbiran dan pemerintahan termasuk urusan perundangan kecuali

perkara-perkara mengenai agama Islam. Mungkin karena undang- undang adat tidak begitu

jelas dan kedudukan hukum Sya'ra pula dirasakan tergugat. Maka pihak kerajaan

Brunei telah menghantar satu utusan pada pesuruhnya British ke Borneo pada 2 Juli

1906 menuntut agar :

a. Setiap kasus yang berkaitan dengan agama Islam diadili oleh hakim-hakim

tempatan.

b. Meminta agar adat-adat dan undang-undang tidak dirombak , dipindah dan

dilanggar selama-lamanya.

Hasil dari utusan tersebut pihak Inggris setuju untuk mendirikan mahkamah Syari’ah yang akan mengendalikan urusan undang-undang yang berkaitan dengan agama Islam. Bagaimanapun Inggris telah menolak permintaan kedua dengan

alasan bahwa tujuan asal dari perjanjian 1906 adalah untuk memperbaiki adat dan

undang-undang tempatan sebagai langkah untuk menyelamatkan Brunei.

2.2.2. Islam di Brunei dan Dewasa Ini.

Brunei benar-benar merdeka dari kolonial Inggris pada 1 Januari 1984,

beberapa tahun setelah kota-kota di sekitar itu dimenangkan kemerdekaannya.

Berdasarkan teori semenjak tahun 1984. Islam merupakan agama pokok di Brunei

dan benar-benar melekat di negara tersebut. Jadi Islam di Brunei adalah peraturan

negara dan terlebih lagi adalah merupakan suatu birokratis. Seperti Malaysia

politik-politik Islam yang ternama tidak dibenarkan. Ini tentu bukan berarti bahwa

Islam sama sekali tidak pada suatu aturan yang dinamis. Sebaliknya Islam sangat

hidup di Brunei khususnya dalam segi budaya dan spiritual. Ada berbagai bukti

pertumbuhan islam di Brunei di berbagai sektor. Tetapi peranan Islam terus

menerus untuk dapat benar-benar ditentukan oleh kerajaan dan sangat tidak

mungkin susunan tersebut akan berubah di masa-masa yang akan datang.

Seperti negeri-negeri Melayu lainnya, kesultanan Brunei tidak melepaskan

kedaulatannya kepada Inggris. Tahun 1888 dibuatlah perjanjian antara Inggris

(10)

7

Segala pengaturan menyangkut urusan dalam negeri di tanda tangani oleh

sultan, namun Brunei dibujuk untuk menerima penasihat Inggris yang akan

memberi nasihat kepada Sultan tentang segala persoalan selain persoalan

keagamaan. Sistem hukum Inggris juga diadopsi secara selektif. Birokrasi dan

modern dengan pemerintah modem mulai diterapkan. Peran sultan sebagai

penguasa absolut ditinjau kembali. Dalam kenyataan residen Inggris, yang tugasnya

hanyalah sebagai penasihat mengambil sebagian besar kewajiban yang di

dahulunya merupakan tugas-tugas Sultan. Lembaga-lembaga baru seperti

konstitusi, kepolisian, birokrasi yang dijalankan oleh pegawai-pegawai distrik dan

lain-lain diciptakan untuk membantu modernisasi politik tradisional.

Sebagian besar masyarakat pribumi berusaha menjauhi hal-hal yang menurut

ajaran agama merupakan perbuatan rendah. Hal ini membantu mereka tetap

memiliki kebanggaan dan rasa percaya diri sebagai muslim dan memperlebar

kepercayaan mereka bahwa meskipun mereka tidak lagi merdeka di bidang

ekonomi dan politik, namun di bidang spiritualitas mereka masih merdeka, namun

demikian ada juga efek negatifnya. Isi ajaran agama yang mereka terima cenderung

statis dan menekankan aspek ritual. Pemisahan agama dari politik yang

mengakibatkan berkurangnya kegiatan-kegiatan politik mungkin menyebabkan

keadaan ini. Landasan spiritual yang dibentuk lewat pengajaran agama, pada

umumnya kuat, namun penekanan yang terlalu berlebihan terhadap teknologi

menciptakan situasi di mana pendidikan ortodoks yang tertutup tidak muncul

sebagai suatu yang cukup untuk mengantisipasi kompleksitas perubahan dunia yang

begitu cepat.

Tidak mengherankan jika pemimpin nasional di kawasan ini yang diilhami cita

cita kemerdekaan politik muncul terutama dari orang-orang yang terdidik dalam

sistem pendidikan kolonial. Namun bagi kaum muslimin Islam merupakan unsur

pemersatu yang penting dalam perjuangan nasional meskipun jalan menuju

kemerdekaan berbeda-beda antara satu negeri dengan negeri yang lainnya.

Brunei memperoleh kemerdekaan penuh pada 1 Januari 1984. Sistem politik

(11)

8

sebagai pemegang kepemimpinan kerajaan yang bernama negara Brunei

Darussalam.

2.3.Awal Proses Masuknya Islam Dan Perkembangannya

Berdasarkan bukti sejarah yang ada di Brunei Darussalam Islam masuk ke

Brunei sekitar abad ke -13 M. Semenjak itu kerajaan Brunei berubah menjadi

kesultanan Islam.

a) Batu Nisan

Batu nisan tersebut didapati di perkuburan Islam Rangas di jalan Tutong

Bandan Sari, bertuliskan Cina kepunyaan orang Cina bernama P’u-kung Chin-mu

yang meninggal pada tahun 1264 M zaman dinasti Sung Selatan.

Untuk menguatkan alasan bahwa tuan p'u adalah seorang yang memeluk Islam,

yaitu apabila mayat orang islam di pemakaman orang non muslim maka akan

timbul kegaduhan, karena perbuatan itu berlawanan dengan hukum fiqih dari segi

mengubur mayat tetapi batu nisan itu kekal sampai sekarang dan ini membuktikan

bahwa tuan p'u adalah orang Cina yang beragama Islam. 5

b) Kerajaan Islam

Islam masuk ke Brunai di bawa oleh saudagar-saudagar Islam. Yang intinya

orang-orang Arab diikuti oleh orang Persia, Gujarab dan penyebaran agama itu

tidak dijalani dengan kekerasan dan tidak ada penaklukan negeri. Raja Brunai,

Awak Alak Batatar mula-mula belum menganut agama Islam tapi ketika itu, Brunai

telah menjalin hubungan dengan Malaka. Yang pada waktu itu agama Islam telah

berkembang di malaka.

Menurut silsilah raja-raja Brunai bahwa Awak Alak Batatar sendiri berangkat

ke Malaka dan menikah dengan putri Malaka, kemudian Awak Alak Batatar tertarik

masuk Islam dan mengganti namanya dengan sultan Muhammad Syah. Dalam masa

pemerintahan Sultan Muhammad itulah seorang bangsa Arab dari Mekkah (thaif)

yang bernama Syarif Ali datang ke Brunei dan mengembangkan Islam di Brunai,

kemudian menikahkan Syarifah dengan anak kemenakannya baginda putri Pateh

Berbai.6

(12)

9

Perkembangan dan kemajuan Islam di Brunai semakin nyata setelah rajanya

Awak Alak Batatar memeluk agama Islam pada tahun 1368 M, dengan gelar Sultan

Muhammad Syah yang menjadikan agama islam dilakukan sebagai agama resmi

negara. Usaha-usaha mengembangkan agama islam dilakukan secara menyeluruh

baik dalam maupun luar negeri. Kemasyhuran di Brunai mendorong imigrasi ulama

Islam ke negeri itu. Perkembangan dan majunya Islam di Brunai lebih pesat.

Setelah pusat penyebaran dan kebangkitan Islam di Malaka jatuh ke tangan

Portugal .pada tahun 1511 M, sehingga banyak ahli agama Islam pindah ke Brunai.

Kesultanan Brunai juga mengislamkan wilayah yang ada dalam kekuasaannya

Pendidikan agama menjadi penting dalam menyadarkan identitas Islam orang

Melayu Brunai. Bahasa Melayu tetap menjadi media keagamaan dan komunikasi

antara kaum muslimin Brunai.

Brunai menjadi pusat pengembangan agama Islam pada masa pemerintahan

sultan Bolkiah (sultan Brunai yang ke-5), di antara cara Sultan Bolkiah

mengembangkan ajaran Islam yaitu melalui perkawinan. Baginda Menaklukan

Suluk (sulu) kemudian menikahi putri Raja Suluk yaitu Laila Mancapai.

Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di Brunai

adalah :

1. Faktor Perdagangan

Perdagangan Portugis dan Arab merupakan golongan yang memainkan

peranan penting dalam penyebaran Islam di sekitar pulau- pulau Melayu. Brunai

juga merupakan salah satu kawasan yang dianggap menerima Islam melalui

golongan itu

Pada abad ke-19 M, perdagangan-perdagangan Arab-Persia menguasai

perdagangan laut di antara dunia Arab hingga ke Cina. Malah mereka menjadi

penghubung di antara kepulauan Melayu dengan China. Sejarah China

menggelarkan Brunai sebagai polisi mencatatkan bahwa ia mempunyai pelabuhan

yang maju dan disinggahi oleh pedagang-pedagang Asia seperti ; Arab, Persia,

(13)

10

Pedagang-pedagang Islam ini boleh jadi menyebarkan Islam itu sendiri.

Membawa ulama-ulama Islam atau kapal-kapal mereka atau mengadakan

perkawinan dengan penduduk setempat.

2. Kedudukan Yang Strategis

Kedudukan Brunai yang strategis turut membantu penyebaran Islam ke negeri

itu, Brunai terletak di pantai barat borneo yang menghadap ke laut cina selatan yang

menjadi laut perdagangan, laut yang utama pada masa itu.

Para pedagang asing di Asia tenggara pada masa itu sangat mengenali Brunei

dan kedudukannya sehingga mereka dapat mengetahui kedudukan jarak di antara

Brunei dengan pelabuhan lain.

3. Peranan Pendakwah

Ajaran Islam di kembangkan oleh mubaligh luar negeri juga dikembangkan

oleh orang-orang Brunai yang telah mendapatkan pengetahuan agama Islam dari

negeri jiran (Makkah). Pelajaran yang diterima oleh orang-orang Brunai itu menjadi

amal mereka dengan teguhnya. Semangat keislaman orang Brunai begitu kokoh

karena menyerahkan diri mereka semata-mata karena Allah. Di antara pendakwah

Islam yang memainkan peranannya seperti syekh Alwi Al Fakeh Al-Muqqaddam.7

4. Melalui Perkawinan

Amalan perkawinan merupakan salah satu faktor universal yang membantu

penyebaran Islam di tempat, dan di dunia ini. Dalam konteks penyebaran Islam di

Asia tengara Brunai juga tidak terkecuali.

Perkawinan di antara tokoh pendakwah Syarif ali dengan putri raja Brunai

dianggap telah banyak memberikan sambungan kepada kita pada perkembangan

Islam di Brunai, dan di tambah pula beliau menjadi Sultan Brunai yang ke-5, ini

semakin memudahkan dalam usaha penyebaran Islam di negara itu.

5. Masalah Partai Politik

Jika di lihat dari perkembangan islam di Brunai, bahwa mayoritas

penduduknya orang Melayu Brunai yang beridentitas Islam. dengan berkomunikasi

(14)

11

menggunakan bahasa International (bahasa Inggris) dan antara sesamanya

berkomunikasi tetap bahasa Melayu yang merupakan ciri khas bahasa mereka.

Dalam sistem pemerintahan Brunai atau sistem kesultanan di Negara Jiran ini,

di bentuk suatu organisasi-organisasi Islam yaitu Majelis Agama Islam Brunei

(MAIB) di bidang keagamaan atas dasar undang-undang Agama dan mahkamah

Qadi pada tahun 1955 M. Majelis ini bertugas menasehati sultan dalam hal Agama

Islam, dan untuk melaksanakan kegiatan Agama di Brunai di urus oleh Menteri

sebagai mana yang terdapat di Indonesia adanya Menteri Agama. Dalam menjalani

dakwah Islamiah Brunai sering mendatangkan mubaligh dari Indonesia, selain

mubaligh di Brunai juga banyak tenaga pengajar dari Indonesia dalam berbagai

disiplin dan ilmu keagamaan dan bahasa Arab.

Brunai juga mengirim mahasiswanya untuk mempelajari ilmu agama di

Indonesia, seperti di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Brunai pernah bekerja sama

dengan Indonesia di bidang pendidikan Agama Islam, hal ini terbukti dengan

adanya kunjungan beberapa tokoh muslim Brunai ke lembaga tinggi dalam

pendidikan yang mendalami ilmu-ilmu Al-Quran di Jakarta dan masalah politik

negara Brunai ini, salah satunya masuknya negara Brunai Darussalam ke dalam

himpunan bangsa-bangsa Asia tenggara (ASEAN) pada tahun 1984.8

6. Respons pemerintah Brunai terhadap islam

Islam di Brunai, berkembang dan maju lebih pesat dalam bentuk

pemerintahannya maupun rakyat Melayu Brunai dalam mensyariatkan dan

menjalankan agama. itu terlihat sekali, Islam masuk ke Brunai dengan jalan damai

tanpa adanya paksaan. karena Agama resmi Brunai yaitu islam. namun agama lain

pun tidak di larang, ini terbukti di antaranya penduduknya hidup saling

berdampingan dan saling berinteraksi antar sesamanya.

Dilihat dari ekonomi Masyarakat Melayu Brunai kehidupan dalam mencukupi

kebutuhan mereka lebih stabil dan sejahtera, karena pemerintahan sangat

memperhatikan kebutuhan yang di hadapi oleh rakyatnya. Hal ini terlihat dari

kekayaan dan hasil bumi negara Brunai tersebut.

(15)

12 2.4.Pendidikan

Sistem Persekolahan agama dapat dilaksanakan dengan teratur sekitar tahun

60-an dan sudah banyak mengalami perubahan berdasarkan pada kehendak negara

Brunei sendiri. Kurikulum pelajar bagi mata pelajaran agama di sekolah-sekolah

Melayu dan Inggris menggunakan kurikulum pelajaran Malaysia. Pada tahun 1950

kerajaan mulai mengirim 3 pelajar keluar negeri untuk mempelajari pengetahuan

agama Islam dengan bahasa Arab di sekolah Arab Al-Juned Singapura. Lulusan

dari sekolah Arab-Al Juned melanjutkan pelajaran ke Kolej Islam Kelang Malaysia,

dan seterusnya ke Universitas Al-Azhar Mesir. Hal ini bertujuan untuk mendalami

ilmu pengetahuan agama melalui bahasa Al-Qur’an. Pada Tahun 1985 didirikan

Universitas Brunei Darussalam dengan penerimaan mahasiswa dimulai tanggal 10

Oktober 1985.9

Dalam kehidupan individu, masyarakat di Brunei sangat memegang teguh

ajaran Islam seperti anak yang sudah berumur lima tahun diserahkan kepada guru

untuk belajar mengaji, shalat berjamaah dll.

2.5.Tamadun Melayu

Hampir seluruh penduduk Brunei adalah Melayu walaupun ada sejumlah kecil

kaum Cina pendatang. Sebagai agama resmi, Islam mendapat perlindungan dari

negara. Bangsa Melayu pada konteks kuno adalah bangsa yang percaya pada

praktek magis, di antaranya perilaku magis yang berkembang adalah :

1. Percaya pada keramat seperti karang-karang yang berbentuk aneh, biasanya

pohon-pohon besar yang bentuknya sudah tidak utuh, kuburan di tengah hutan.

2. Praktek tradisional, para nelayan secara umum masyarakat Melayu tanah dan

laut didiami makhluk supranatural. Dengan begitu diadakan upacara tertentu

untuk menjamin keselamatan pelaut dan untuk mendapatkan hasil tangkapan

yang banyak.

Kegiatan-kegiatan ini telah ditinggalkan sekitar dua dekade yang lalu,

pemimpin, tokoh masyarakat dan guru telah berhasil dalam mendidik masyarakat

dengan islam yang murni dan bebas dari kepercayaan kepercayaan dinamisme. 10

(16)

13

Proses pemurnian Islam di kalangan masyarakat Melayu telah dilakukan oleh

kelompok-kelompok dakwah yang beragam dan tanggung jawab itu telah diambil

alih oleh negara.

Kerajaan Brunei menganut ideologi kerajaan Islam Melayu atau Melayu Islam

Beraja (MIB). Sebuah surat kabar resmi pemerintah menjelaskan tentang MIB

sebagai berikut:

“Kerajaan Islam Melayu menyerukan kepada masyarakat untuk setia kepada rajanya, melaksanakan Islam dan menjadikannya sebagai jalan hidup serta

menjalani kehidupan dengan mematuhi segala karakteristik dan sifat sejati bangsa

Melayu Brunei Darussalam, termasuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa utama”11

(17)

14

BAB III

PENUTUP

3.1.Simpulan

Brunei Darussalam adalah negeri Melayu yang suasana dan tradisi

keislamannya sangat kuat, bahkan telah mendarah daging. Islam masuk ke Brunei

melalui beberapa teori. Islam di Brunei Darussalam mengalami perkembangan

yang cukup pesat dari masalah pra-kolonialisme, kolonialisme, dan masa

kemerdekaan serta pembentukan Kerajaan Brunei Darussalam. Hal ini didukung

dengan diadopsinya hukum Islam sebagai hukum ketatanegaraan dan hukum

publik, dan diperkuat oleh penerapan hukum Syariah oleh Sultan Brunei. Walaupun

Brunei Darussalam memiliki penduduk yang heterogen, namun Brunei Darussalam

dianggap sebagai negara yang berhasil menerapkan Hukum Islam tanpa

pertentangan dan pertumpahan darah dari kaum minoritas.

(18)

15

Helmiati. 2013. Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru: Suska Press.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...