• Tidak ada hasil yang ditemukan

latar belakang dan jalan tol

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "latar belakang dan jalan tol"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, transportasi adalah suatu aspek kehidupan yang sangat menunjang dalam berbagai segi kehidupan. Semakin baik transportasi yang ada, semakin baik pula tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Salah satu segi transportasi yang akhir-akhir ini semakin gencar ditingkatkan adalah yang berkaitan dengan pembangunan jalan tol.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berkomitmen untuk mempercepat pembangunan sejumlah proyek jalan tol di Indonesia. Hal ini sesuai visi Nawacita di antaranya untuk membangun infrastruktur secara komprehensif. Termasuk di dalamnya adalah transportasi umum yang terintegrasi di darat, laut dan udara serta peningkatan kapasitas jalan, melalui pelebaran jalan, penambahan jalan baru dan pembangunan jalan tol.

Prioritas percepatan pembangunan jalan tol diutamakan pada 5 proyek yakni Jalan Tol Trans Jawa, Jalan Tol Non Trans Jawa, Jalan Tol Sumatera, Jalan Tol-Manado Bitung dan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda. Progres pembangunan jalan tol Trans Jawa yang terdiri dari 9 ruas yang mencapai kemajuan-kemajuan berarti baik untuk pengadaan tanah dan konstruksi. Berdasarkan Laporan Kemajuan Pelaksanaan Jalan Tol Tahun 2015 yang dirilis Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Agustus 2015, ruas-ruas tol yang menjadi prioritas telah menunjukkan perkembangan yang berarti.

(2)

sepanjang 87 km, ruas tol Mojokerto–Jombang–Kertosono (ruas 8) sepanjang 41 km, dan ruas tol Mojokerto–Surabaya (ruas 9) sepanjang 36 km.

Sehubungan dengan uraian yang telah dijelaskan di atas maka, penulis ingin mencoba mengambil bahasan dari salah satu bagian ruas jalan tol Trans Jawa yaitu Proyek Tol Solo – Kertosono. Lingkup pembahasan dari penulis yakni tentang struktur organisasi proyek tersebut. Demikianlah latar belakang penulis mengambil topik untuk dikembangkan pembahasannya dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka, rumusan masalah adalah sebagai berikut :

1.2.1 Bagaimana struktur organisasi dari sebuah proyek?

1.2.2 Bagaimana struktur organisasi dari proyek jalan tol Solo-Kertosono?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

1.3.1 Untuk mengetahui bagaimana struktur organisasi dalam sebuah proyek 1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana struktur organisasi pada Proyek Jalan Tol

Solo-Kertosono

1.4 Manfaat

Berdasarkan tujuan penelitian yang diuraikan di atas maka, manfaat yang ingin dicapai sebagai berikut:

1.4.1 Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai struktur organisasi dalam suatu proyek, khususnya Proyek Jalan Tol Solo-Kertosono

1.4.2 Bagi Lembaga

(3)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 STRUKTUR ORGANISASI 2.1.1 Definisi

Robbins (2007) mendefinisikan struktur organisasi sebagai penentuan bagaimana pekerjaan dibagi, dikoordinasikan, dan dikelompokkan secara formal.

Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan. Hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian ataupun posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi.

Kerangka kerja organisasi disebut sebagai desain organisasi (organizational design). Bentuk spesifik dari kerangka kerja organisasi dinamakan dengan struktur organisasi (organizational structure).

2.1.2 Elemen Struktur Organisasi - Spesialisasi pekerjaan.

Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.

- Departementalisasi.

Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.

(4)

Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.

- Rentang kendali.

Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.

- Sentralisasi dan Desentralisasi.

Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.

- Formalisasi.

Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.

2.1.3 Faktor Penentu Struktur Organisasi - Strategi.

Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi maka logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. Lebih tepatnya, struktur harus mengikuti strategi

- Ukuran.

Ukuran adalah besarnya suatu organisasi yang terlihat dari jumlah orang dalam organisasi tersebut.

- Teknologi Organisasi.

Teknologi organisasi adalah dasar dari subsistem produksi, termasuk teknik dan cara yang digunakan untuk mengubah input organisasi menjadi output.

- Lingkungan.

(5)

2.2 STRUKTUR ORGANISASI PROYEK KONSTRUKSI 2.2.1 Definisi

Struktur organisasi proyek secara umum dapat diartikan dua orang atau lebih yang melaksanakan suatu ruang lingkup pekerjaan secara bersama dengan kemampuan dan keahlianya masing–masing untuk mencapai suatu tujuan sesuai yang direncanakan.

Suatu proyek konstruksi yaitu proyek fisik yang dicapai dengan kegiatan konstruksi merupakan suatu sistem. Sedangkan sistem itu sendiri secara konseptual berpengertian adanya perangkat atau kelompok yang menyangkut beberapa unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama.

2.2.2 Unit Organisasi

2.2.2.1 Unit Organisasi Pemilik Proyek / Employer - Pemilik Proyek

Pemilik proyek adalah pihak yang menginginkan suatu fasilitas proyek, sekaligus yang menangung pembiayaan proyek yang akan didirikan.

- Pemimpin Proyek (PIMPRO)

Pemimpin Proyek adalah orang yang diangkat untuk memimpin pelaksanaan kegiatan proyek, mempunyai hak, wewenang, fungsi serta bertanggung jawab penuh terhadap proyek yang dipimpinnya dalam mencapai target yang telah ditetapkan.

Tugas Pimpinan Proyek (pimpro) :

 Mengambil keputusan terakhir yang berhubungan dengan pembangunan proyek.

 Menandatangani Surat Perintah Keja (SPK) dan surat perjanjian (kontrak) antara pimpro dengan kontraktor.

 Mengesahkan semua dokumen pembayaran kepada kontraktor.  Menyetujui atau menolak penyerahan pekerjaan

(6)

- Bendahara.

Bendahara adalah orang yang bertanggung jawab kepada Pemimpin Proyek atas pengaturan penbiayaan sesuai dengan peraturan yang berlaku pada pelaksanaan proyek.

Tugas dan kewajiban Bendahara yaitu :

 Mematuhi peraturan-peraturan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi pelaksanaan keuangan Daerah dan Negara.

 Membuat buku kas umum beserta buku penunjangnya.

 Mengadakan data yang bersifat kearsipan yang menyangkut dengan pembukuan.

 Bertangung jawab atas uang kas proyek yang diamanatkan oleh Pemimpin Proyek.

 Menyelenggarakan pengurusan keuangan baik bersifat penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran serta bertanggung jawab sepenuhnya atas pengolahan keuangan proyek.

 Membuat Surat Pertanggungjawaban Pelaksanaan

Anggaran Pembangunan (SPJP).

- Kepala Urusan Tata Usaha.

Tugas kepala urusan tata usaha yaitu:

 Menginventaris semua barang-barang milik proyek.

 Membuat pembukuan arsip-arsip selama pelaksanaan proyek.  Memelihara peralatan administrasi dan bangunan kantor.

 Mempersiapkan semua kebutuhan perlengkapan administrasi dan alat-alat kantor untuk menunjang kelancaran proyek tersebut.

- Kepala Urusan Teknik

Tugas kepala urusan teknik yaitu:

(7)

 Membantu mengevaluasi pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan sehingga sesuai dengan yang direncanakan.

 Memberikan saran-saran teknis kepada pelaksanaan kegiatan.

 Mengambil keputusan yang berhubungan dengan proyek atas telah disepakati agar dapat memberikan laporan kepada Pimpinan Proyek mengenai kualitas material dan peralatan yang digunakan sesuai dengan rencana atau belum.

Tugas dan tanggung jawab pengawas lapangan yaitu :

 Melaksanakan pengawasan pekerjaan di lapangan, sehingga tetap terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana kerja.

 Menampung segala persoalan di lapangan dan menyampaikannya kepada pemimpin proyek.

 Membantu survey dan mengumpulkan data di lapangan.

 Menjaga hubungan baik dengan instasi serta masyarakat setempat yang berhubungan dengan pekerjaan.

 Meneliti laporan bulanan yang diserahkan oleh kontaktor.

- Pelaksana Kegiatan.

Tugas pelaksana kegiatan yaitu :

 Mengendalikan proyek sejak awal kegiatan sampai selesai pelaksanaan.

(8)

- Pemegang Kas

Tugas pemegang kas yaitu :

 Meyelenggarakan data-data kearsipan yang berhubungan dengan bukti-bukti pembukuan keuangan selama pelaksanaan proyek.

 Bertanggung jawab atas pengelolaan admisinistrasi keuangan proyek.  Melaksanakan pembayaran atas persetujuan pelaksana kegiatan serta

menyiapkan surat permintaan pembayaran (SPP).

 Menyelenggarakan buku kas umum dengan buku-buku pembantunya.

- Pelaksana Administrasi Keuangan

Tugas pelaksana adminstrasi keuangan yaitu :

 Mempersiapkan daftar biaya berkaitan dengan rancangan dalam bentuk batas biaya dan target biaya untuk setiap bagian pekerjaan.  Menyelenggarakan sistem administrasi umum dan teknis dalam

rangka memperlancar pengelolaan proyek.

 Membuat pembukuan arsip-arsip yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek.

 Melaksanakan pengendalian biaya selama pelaksanaan proyek.

2.2.2.2 Unit Organisasi Kontraktor Pelaksana

- General Superintendent.

General Superintendent adalah unit organisasi kontraktor pelaksana yang berada dilapangan. General Superintendent merupakan wakil mutlak dari perusahaan.

Tugas General Superintendent yaitu :

 Mengkoordinir seluruh pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

 Bertanggung jawab atas seluruh pelaksanaan proyek dari awal sampai selesai.

 Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan kontrak.

(9)

- Deputy General Superintendent.

Tugas Deputy General Superintendent yaitu :

 Bertanggung jawab kepada general superintendent.

 Mengambil keputusan yang berkenaan dengan proyek atas persetujuan general superintendent.

 Membantu general superintendent dalam mengkoordinir pelaksanaan proyek dari awal sampai selesai.

- Site Engineer Manager.

Tugas Site Engineer Manager yaitu :

 Bertanggung jawab atas urusan teknis yang ada dilapangan.

 Memberikan cara-cara penyelesaian atas usul-usul perubahan desain dari lapangan berdasarkan persetujuan pihak pemberi perintah kerja, sedemikian rupa sehingga tidak menghambat kemajuan palaksanaan di lapangan.

 Melakukan pengawasan terhadap hasil kerja apakah sesuai dengan dokumen kontrak.

- Site Adm. Manager.

Tugas Site Adm. Manager yaitu :

 Bertanggung jawab atas penyelenggaraan administrasi di lapangan.  Membuat laporan keuangan mengenai seluruh pengeluaran proyek.  Membuat secara rinci pembukuan keuangan proyek.

 Memeriksa pembukuan arsip-arsip selama pelaksanaan proyek.

- Site Operation Manager.

Tugas site Operation Manager yaitu :

(10)

 Memotivasi pelaksana agar mampu bekerja dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang tinggi.

 Menetapkan rencana dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan pengendalian dari pelaksanaan pekerjaan.

- Progress/ Monthly Certificate (MC)

Tugas Progress/MC yaitu :

 Memberikan rekomondasi kepada perencana agar dapat mencapai kemajuan pekerjaan yang telah direncanakan.

 Memonitor kemajuan pekerjaan yang telah selesai.

 Memeriksa kemajuan apakah pekerjaan sesuai dengan perencanaan. - Quality Control.

Tugas Quality Control yaitu :

 Memeriksa kualitas hasil pekerjaan yang telah selesai.

 Memberikan saran kepada pelaksana agar hasil pekerjaan tersebut sesuai dengan dokumen.

 Memeriksa kualitas material yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

- Pelaksana.

Tugas pelaksana yaitu :

 Melaksanakan pekerjaan harian sesuai dokumen kontrak.  Mengkoordinir pekerja agar bekerja efektif dan efisien.  Melaksanakan pekerjaan harian lapangan.

- Surveyor/Drawing.

Tugas Surveyor/Drawing yaitu :

 Membuat gambar-gambar kerja yang diperlukan dalam proyek.  Bertanggung jawab atas data-data pengukuran di lapangan.

 Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah pelaksanaan proyek.

(11)

- Site Engineer.

Tugas Site Engineer yaitu :

 Bertanggung jawab kepada pemilik proyek.

 Mengadakan penilaian terhadap kemajuan pekerjaan, memberikan petunjuk-petunjuk atas wewenang yang diberikan pelaksana kegiatan.  Mengatur atau menggerakkan kegiatan teknis agar dicapai efisiensi

pada setiap kegiatan (pekerjaan yang harus ditangani).

 Mengecek dan menandatangani dokumen tentang pengendalian mutu dan volume pekerjaan.

- Highway Engineer

Tugas Highway Engineer yaitu :

 Menganalisa data survey lapangan, data lain yang tersedia seperti tipe dan volume lalu lintas dan meyiapkan detai desain, perkiraan jumlah dan biaya, serta pekerjaan dan usulan perubahan.

 Menyiapkan rencana kerja detail pekerjaan untuk menyelidiki termasuk pengeboran atau sondir jika diperlukan dan mengkoordinasikan semua kegiatan tim supervisi dalam melaksanakan rencana kerja di lapangan.

 Melaksanakan review design dan usulan perubahan design serta biaya, meyiapkan gambar teknis untuk membuat laporan pada pelaksanaan kegiatan pengawasan

- Chief Inspector

Tugas Chief Inspector yaitu :

 Bertanggung jawab kepada Site Engineer.

 Membantu Site Engineer dalam menyiapkan data untuk “final payment”.

 Melaksanakan pengarsipan surat-surat, laporan harian, laporan bulanan, jadwal kemajuan pekerjaan dan lain-lain.

(12)

- Quality Engineer.

Tugas Quality Engineer yaitu :

 Bertanggung jawab kepada Site Engineer.

 Menyerahkan kepada Site Engineer himpunan data bulanan pengendalian mutu paling lambat 14 bulan berikutnya. Himpunan data harus mencakup semua tes laboratorium dan lapangan secara jelas dan terperinci

 Melakukan semua analisa semua tes, termasuk usulan komposisi campuran (job mix formula) dan justifikasi teknik atas persetujuan dan penolakan usul tersebut.

 Memerintahkan kontraktor untuk membongkar dan memperbaiki kembali pekerjaan yang kualitasnya tidak sesuai dengan ketentuan.  Menolak material dan peralatan kontraktor yang tidak memenuhi

syarat dan ketentuan yang berlaku.

 Memeriksakan hasil pekerjaan dari kontarktor apakah sesuai mutu dan kualitas yang ditentukan.

- Quantity Engineer.

Tugas Quantity Engineer yaitu :

 Bertanggung jawab kepada Site Engineer.

 Melakukan pengawasan terhadap pekerjaan kontraktor apakah sesuai dengan kuantitas yang telah ditentukan.

 Menolak pekerjaan kontraktor yang kuantitasnya tidak sesuai dengan ketentuan.

 Memberikan laporan tertulis pada pelaksanaan kegiatan atas hal-hal yang menyangkut masalah pengendalian kuantitas.

- Inspector

Tugas Inspector yaitu :

(13)

 Mengadakan pengawasan yang terus menerus di lokasi pekerjaan yang sedang dikerjakan dan memberi laporan kapada Chief Inspector atas pekerjaan yang tidak sesuai dengan dokumen kontrak. Semua hasil pengamatan harus dilaporkan secara tertulis.

 Menyiapkan catatan harian untuk peralatan, tenaga kerja dan bahan yang digunakan oleh kontaktor untuk menyelesaikan pekerjaan harian.

- Surveyor

Tugas Surveyor yaitu :

 Bertanggung jawab langsung kepada Quantity Engineer.

 Melakukan pengawasan ketelitian pengukuran oleh kontraktor terhadap titik-titik penting sehingga tidak terjadi selisih dimensi maupun elevasi.

 Mengumpulkan semua data pekerjaan yang dilaksanakan di lapangan dan bertanggung jawab atas ketlitian yang didapat.

- Lab.Technician

Tugas Lab.Technician yaitu :

 Melaksanakan pengambilan contoh tanah/ material dan melakukan pengujian tanah/ material di laboratorium.

 Mengevaluasi hasil tes tersebut dan bertanggung jawab terhadap ketelitian dan kebenaran hasil yang diproses.

2.2.3 Tahap Manajemen Proyek - Planning

(Perencanaan) Proses dimana terdapat perencanaan atas semua pekerjaan yang akan dilaksanakan dari mulai awal sampai akhir termasuk tujuan-tujuan yang akan dicapai dari proses pembangunan proyek.

- Organizing

(14)

- Directing

(Pengarahan) Pengarahan merupakan realisasi dari proses perencanaan yang dilakukan oleh semua anggota kelompok dengan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

- Controlling

(Pengawasan) Agar hasil pekerjaan sesuai dengan rencana dalam pelaksanaan perlu adanya pengawasan sebagai control dan koreksi terhadap segala penyimpangan yang mungkin terjadi.

- Coordinating

(Koordinasi) Agar pekerjaan berjalan dengan lancar maka perlu adanya koordinasi yang baik antar semua pihak yang terlibat didalamnya. Manajemen proyek yang baik dan didukung oleh kegiatan administrasi yang baik pula, akan dapat dengan mudah memonitor suatu kegiatan proyek dilapangan, mudah untuk memantau tingkat kemajuan proyek dan akan memudahkan dalam menentukan kebijaksanaan atau langkah-langkah yang harus diambil oleh pelaksana proyek

2.3 PROYEK JALAN TOL SOLO-KERTOSONO 2.3.1 Gambaran Singkat

(15)

Tol Solo-Ngawi mempunyai nilai investasi sebesar Rp5,14 triliun dengan rinician biaya konstruksi Rp3,2 triliun dan biaya tanah Rp1,78 triliun. Sementara ruas tol Ngawi-Kertosono, nilai investasinya mencapai Rp3,83 triliun dengan biaya konstruksi sebesar Rp2,36 triliun dan biaya tanah Rp1,08 triliun. Sehingga, total investasi ruas Solo-Ngawi-Kertosono senilai Rp8,97 triliun.

Perkiraan volume kendaraan atau volume lalu lintas (traffic count) yang akan melewati koridor utama Tol Solo Kertosono lebih dari 10.000 kendaraan per hari.

Diharapkan pembangunan jalan tol Solo–Kertosono mampu meningkatkan aksesibilitas dan kapasitas jaringan jalan dalam pergerakan orang dan angkutan barang. Termasuk penyediaan jaringan transportasi jalan yang efisien di Pulau Jawa dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang cepat.

(16)

Awalnya konsesi Tol Solo-Ngawi 90,1 Km dan Ngawi-Kertosono 86,6 Km dipegang PT Thiess Cotractors Indonesia (TCI) asal Australia, namun karena alasan finansial menyebabkan mangkraknya proyek tol ini. Pemerintah mengambil alih 100% kepemilikan saham melalui dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Ruas jalan tol Solo-Ngawi dimiliki oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Solo Ngawi Jaya. Sementara ruas jalan tol Ngawi-Kertosono oleh BUJT PT Ngawi Kertosono Jaya. Dengan pengesahan ini maka kepemilikan saham beralih kepada PT Jasa Marga dan PT Waskita Karya. Keduanya berbagi porsi kepemilikan 60% untuk Jasa Marga dan 40% untuk Waskita Karya.

(17)
(18)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Struktur organisasi didefinisikan sebagai penentuan bagaimana pekerjaan dibagi, dikoordinasikan, dan dikelompokkan secara formal. (Robbin 2007). Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan. Hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian ataupun posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi.

(19)

- Penentuan suatu struktur organisasi disesuaikan dengan faktor yang telah diuraikan di atas.

- Suatu proyek harus mempunyai garis koordinasi yang jelas dalam struktur organisasi sehingga memudahkan dalam pengerjaan proyek tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

- https://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Tol_Solo%E2%80%93Ngawi - http://jalantol.net/jalan-tol-solo-kertosono/

- http://jalantol.net/category/trans-jawa/

- http://jalantol.net/percepatan-pembangunan-jalan-tol/

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Ruang lingkup kerja tersebut meliputi: melaksanakan proyek- proyek pengembangan masyarakat yang bersifat suplementer (mengisi yang belum diisi pemerintah), atau yang

Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu proses untuk menangani berbagai masalah dalam ruang lingkup kerja untuk dapat menunjang aktifitas organisasi atau

Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian dalam penelitian ini yaitu mengenai perilaku menyimpang diartikan perilaku siswa yang tidak dapat berkonsentrasi

Masyarakat merupakan struktur organisasi kehidupan bersama. Dalam struktur, setiap orang memainkan perannya masing-masing. Suatu peran berhubungan dengan peran yang

Jabatan fungsional Pengawas Sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengawasan

Putra Papua Barat, dengan ruang lingkup yang akan diteliti adalah bagaimana pengaruh kompensasi, budaya organisasi, dan kompetensi terhadap kinerja karyawan pada

Berdasarkan konsep kerentanan tersebut diatas, secara diagramatik ruang lingkup penelitian analisis kerentanan populasi penyu belimbing di Pantai Jamursba Medi dan

Dapat mengetahui tugas dan tanggung jawab di masing-masing bagian melalui bagan atau struktur organisasi Direktorat SDM dan Umum dan Direktorat Operasi dan Pengembangan Bisnis