1. Moh Jazuli
2. Lucianus Sudaryono
S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya ([email protected])
Abstrak
Perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang mengalami sebuah ketimpangan, merupakan dampak interaksi, interelasi dan interdependensi dari berbagai wilayah, yang berbentuk faktor faktor pengaruh terhadap sebuah perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan wilayah-wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto dan wilayah kecamatan potensial berdasarkan faktor sosial ekonomi dan fisik lingkungan. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif berdasarkan statistik yang dianalisis dengan persamaan regresi berganda dan analisis SIG yang berdasar pada nilai variabel setiap kecamatan. Variabel-variabel bebas yang diperhatikan yang dianggap berpengaruh terhadap indeks perkembangan wilayah adalah tingkat pendidikan masyarakat, jumlah kendaraan bermotor, kepadatan penduduk, jumlah industri, jarak kecamatan terhadap Kota Mojokerto, panjang jalan aspal dari satuan wilayah fungsional kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto sebesar 67,4% yang dipengaruhi oleh variabel bebas dalam penelitian ini, sedangkan sisanya sebesar 32,6% dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel bebas. Setelah indeks perkembangan wilayah kecamatan diregresikan terhadap variabel bebas, didapatkan beta tertinggi pada variabel tingkat pendidikan masyarakat dengan nilai sebesar 1,078 dan dengan taraf signifikansi sebesar 0,005 sehingga tingkat pendidikan masyarakat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto karena besaran signifikansi <5%. Sedangkan untuk mencari potensi wilayah digunakan 3 variabel yang memiliki nilai beta tertinggi pada kolom unstandardized coefficients berturut-turut yaitu panjang jalan aspal dengan nilai beta sebesar 1.089, tingkat pendidikan masyarakat dengan nilai beta sebesar 0.735, dan jarak ke kota dengan nilai beta sebesar 0.143. Kecamatan Mojosari merupakan kecamatan yang memiliki potensi tertinggi untuk berkembang, karena nilai variabel potensinya berada pada kelas tinggi (158.8021 – 186.4300) dengan nilai tertinggi, sedangkan Kecamatan Mojoanyar merupakan kecamatan yang memiliki potensi terendah untuk berkembang, karena nilai variabel potensinya berada pada kelas rendah (48.2900 – 75.918) dengan nilai terendah. Kata Kunci: Indeks Perkembangan Wilayah Kecamatan, Faktor Pengaruh, Potensi
Abstract
value, while Mojoanyar Sub-District is the lowest potentially to develop, cause by potentially variable is at the low level (48.2900 – 75.918) with the lowest value.
Keywords: Sub-district area development indexes, influential factor, potential
PENDAHULUAN
Pembangunan terbentuk dari hasil integrasi antara kondisi wilayah setempat beserta aktivitas manusia sebagai aspek interaksi dan jalinan antar wilayah sekitar daerah tersebut sebagai aspek interelasi. Namun kenyataan dari sebuah proses pembangunan ialah kemerataan yang tidak sepadan antara satu daerah dengan daerah lainnya, dengan kata lain pembangunan tidak terjadi secara linier dan serentak sesuai dengan teori kutub pertumbuhan yang dikemukakan oleh Perroux atas dasar pengamatan terhadap proses pembangunan. Perroux mengakui kenyataan bahwa pembangunan tidak terjadi dimana-mana secara serentak, tetapi muncul ditempat-tempat tertentu dengan intensitas yang berbeda. Tempat-tempat itulah yang dinamakan titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan. Dari titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan itulah pembangunan akan menyebar melalui berbagai saluran dan mempunyai akibat akhir yang berlainan pada perekonomian secara keseluruhan(Perroux,1955).
Dalam pengembangan wilayah, peranan kota dapat diibaratkan sebagai mata dan telinga terhadap perkembangan di daerahnya [ CITATION Rah06 \l 1057 ]. Gejala menunjukkan bahwa kota yang agak besar merupakan sebuah stimulator, (walaupun tidak selamanya) untuk melangsungkan transisi atau peralihan dari masyarakat ekonomi yang berdasar pertanian kepada masyarakat ekonomi yang maju yang memiliki tingkat produktivitas tinggi dan kegiatan produktif yang luas di daerah sekitar kota dan bahkan sampai di daerah pedalaman [ CITATION Rah10 \l 1057 ].
Kota Mojokerto terletak di tengah-tengah Kabupaten Mojokerto, memiliki kepadatan penduduk 8.486 jiwa/km2 (Mojokerto Dalam Angka, 2015), terbesar ketiga di Provinsi Jawa Timur. Sebagai sebuah kota yang berada di dalam wilayah Kabupaten Mojokerto, maka ada sebuah interelasi antara Kota Mojokerto dengan Kabupaten Mojokerto. Dalam teori pusat pertumbuhan terdapat konsep spread effect dimana pusat pertumbuhan mampu menyebarkan pertumbuhan ke daerah yang berada di sekitarnya melalui proses transfer energy sehingga daerah tersebut menjadi berkembang dan maju.
Tabel 1: Jarak tiap Kecamatan di Kabupaten Mojokerto terhadap Kota
Mojokerto
No Kecamatan Jarak Kecamatan
terhadap Kota Mojokerto (Km)
1 Jatirejo 18,7
2 Gondang 20,3
3 Pacet 30,1
4 Trawas 40
5 Ngoro 27,4
6 Pungging 18,5
7 Kutorejo 18,8
8 Mojosari 18
9 Bangsal 8,3
10 Mojoanyar 9,4
11 Dlanggu 15
12 Puri 10,3
13 Trowulan 15
14 Sooko 1,4
15 Gedeg 7,7
16 Kemlagi 17,2
17 Jetis 10,8
18 Dawarblandong 18
sumber: diolah dari Google Maps
Tabel 2: Indeks Perkembangan Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Mojokerto
N
o Kecamatan Indeks PerkembanganWilayah
1 Jatirejo 18,06
2 Gondang 18,04
3 Pacet 20,93
4 Trawas 20,34
5 Ngoro 18,31
6 Pungging 16,65
7 Kutorejo 17,47
8 Mojosari 27,13
9 Bangsal 21,51
10 Mojoanyar 16,44
11 Dlanggu 17,44
12 Puri 18,98
13 Trowulan 14,30
14 Sooko 19,12
15 Gedeg 22,09
16 Kemlagi 16,44
17 Jetis 17,96
18 Dawarblando
ng 16,80
Sumber: Data Olahan
Dari uraian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui faktor-faktor dari sudut sosial ekonomi dan fisik
lingkungan yang mempengaruhi
perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto berdasarkan indikator sosial ekonomi dan fisik lingkungan; 2) Mengetahui faktor yang
paling berpengaruh terhadap
perkembangan wilayah-wilayah
kecamatan di Kabupaten Mojokerto.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian sekaligus populasi adalah satuan-satuan wilayah administrasi berupa kecamatan yang berada di Kabupaten Mojokerto sejumlah 18 kecamatan yang terdiri atas ;Kecamatan Jatirejo, Kecamatan Gondang, Pacet, Kecamatan Trawas, Kecamatan Ngoro, Kecamatan Pungging, Kecamatan Kutorejo, Kecamatan Mojosari, Kecamatan
Bangsal, Kecamatan Mojoanyar,
Kecamatan Dlanggu, Kecamatan Puri,
Kecamatan Trowulan, Kecamatan Sooko, Kecamatan Gedeg, Kecamatan Kemlagi,
Kecamatan Jetis, Kecamatan
Dawarblandong.
Untuk dapat menilai variable perkembangan wilayah di tiap-tiap kecamatan yang terdapat di Kabupaten Mojokerto, maka indikator yang digunakan meliputi:
1. Ketersediaan Fasilitas Publik
Kriteria Ketersediaan Fasilitas Publik, dalam (Mulyanto:2004) dapat diukur dengan menjumlahkan nilai dari 2 subindikator, yaitu:
a. Rasio fasilitas kesehatan
RFKi
=
Jumlah fasilitas kesehatan kecamatan i
Jumlah penduduk kecamatan i
b. Rasio fasilitas pendidikan
R FPi
=
Jumlah fasilitas pendidikan kecamatan i
Jumlah p e nduduk kecamatan i
Nilai dari Ketersediaan Fasilitas Publik didapat dengan menjumlahkan kedua sub indicator, dengan sebelumnya menyamakan satuan dari ketiga nilai terlebih dahulu. Yang selanjutnya didapatkan:
KFPi
=
RFKi
+
RFP
Keterangan:
KFPi = nilai ketersediaan fasilitas public kecamatan i.
RFKi = Rasio fasilitas kesehatan kecamatan i
RFPi = Rasio fasilitas pendidikan kecamatan i
2. Ekonomi Wilayah
Kriteria Ekonomi Wilayah dalam Mulyanto:2004 dapat diukur dengan menjumlahkan nilai dari 2 subindikator, yaitu:
a. PDRB di kecamatan yang bersangkutan.
b. Rasio fasilitas ekonomi
R FEi
=
Jumlah fasilitasekonomi kecamatani
Nilai dari Ekonomi Wilayah didapat
KEWi = nilai ekonomi wilayah kecamatan i.
PDRBi = PDRB kecamatan i
RFEi = Rasio fasilitas ekonomi kecamatan i
3. Kondisi Fisik
Kriteria fisik dalam Mulyanto:2004 diukur dengan rasio luas kawasan terbangun terhadap luas wilayah di
Kecamatan yang bersangkutan
K Fi
=
Luas kawasan terbangun kecamatani
Luas wilayahkecamatan i
Bobot dari masing-masing indicator perkembangan wilayah (Ketersediaan Fasilitas Publik, Ekonomi Wilayah, Kondisi Fisik) menurut Bappenas:2001 dalam Mulyanto:2004 adalah sebagai berikut:Skema III.1 : Bobot Indikator Perkembangan Wilayah (Bappenas:2001
dalam Mulyanto:2004)
Tabel 4: Penentuan Variabel Bebas dan Operasionalisasi Variabel telah menempuh Sekolah Lanjut di kecamatan yang
dengan jumlah penduduk kecamatan. Dalam
Penduduk Kepadatanyang dimaksud adalahpenduduk hasil perhitungan antara jumlah penduduk disuatu kecamatan dibagi luas wilayah kecamatan yang bersangkutan dengan satuan jiwa/km2.
4 Jumlah Industri Dalam penelitian ini yang dimaksud ialah jumlah skor industri yang terdiri banyaknya industri besar dan industri kecil di
beraspal Dalam penelitian ini yangdimaksud ialah panjang jalan teraspal yang diukur tujuan penelitian yang dikemukakan, maka: 1) Untuk rumusan masalah pertama peneliti menggunakan teknik analisis regresi berganda guna mengetahui apakah semua variable bebas mempunyai pengaruh bersama-sama terhadap variable terikat. 2) Untuk rumusan masalah kedua peneliti menggunakan teknik analisis determinasi (R2) guna mengetahui besar peran dari
pengaruh variable bebas terhadap variable terikat (Perkembangan Wilayah). 3) Untuk rumusan masalah ketiga peneliti menggunakan analisis SIG bersifat deskriptif kuantitatif berdasarkan pada nilai variabel melalui peta pada setiap kecamatan
HASIL PENELITIAN
interaksi variable bebas dan variable terikat, menunjukkan angka sebesar 0.674. Sehingga dapat ditafsirkan bahwa semua variable bebas yang digunakan semakin mendekati angka 0 (nol) semakin akurat, dengan angka sebesar itu maka bermotor, kepadatan penduduk, jumlah industri, jarak ke kota, dan panjang jalan beraspal berpengaruh secara simultan terhadap variabel indeks perkembangan wilayah. Hal ini dengan mengikuti taraf signifikansi 0.05 sebagai nilai cut off dari nilai signifikansi. Artinya jika nilai probabilitas (signifikansi) < 0,05 maka seluruh variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat dan begitupun sebaliknya. Cara yang kedua untuk melihat signifikansi adalah dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel, Fhitung
yang terdapat pada tabel ANOVA sebesar 6.865. Ftabel diperoleh melalui penentuan
df1 dan df2 (degree of freedom). Adapun rumus memperoleh df1 dan df2 adalah sebagai berikut:
- df1 = k – 1 - df2 = n – k
- n = jumlah sampel
- k = jumlah variabel bebas dari ketentuan di atas, maka - df1 = 6 – 1
(3.11<6.864). Dari perbandingan antara Fhitung dengan Ftabel maka dapat disimpulkan
bahwa variabel tingkat pendidikan masyarakat, jumlah kendaraan bermotor, kepadatan penduduk, jumlah industri, jarak ke kota, dan panjang jalan beraspal
berpengaruh secara simultan terhadap variabel indeks perkembangan wilayah.
Hasil dari regresi linier berganda dalam output coefficients pada kolom unstandardized coeeficients yang digunakan untuk keperluan prediksi berdasrkan nilai beta menunujukkan panjang jalan beraspal dengan nilai β = 1.089, tingkat pendidikan masyarakat dengan nilai β = 0.735, dan jarak ke kota dengan nilai β = 0.143. Maka kecamatan yang memiliki tiga jenis variabel dengan beta tertinggi berpotensi untuk meningkatkan indeks perkembangan wilayah. Dari 18 kecamatan yang berada dalam satuan wilayah fungsional Kabupaten Mojokerto, terdapat 1 kecamatan memiliki potensi sedang tinggi Kecamatan Jatirejo, sedangkan 1 kecamatan memiliki potensi tinggi yaitu Kecamatan Mojosari. Kecamatan Mojosari memiliki nilai panjang jalan beraspal pada kelas sedang tinggi yakni dengan nilai 3.77, tingkat pendidikan masyarakat pada kelas tinggi dengan nilai 20.23, dan jarak pada kelas sedang dengan nilai 18. Sedangkan untuk Kecamatan Jatirejo memiliki nilai panjang jalan beraspal pada kelas tinggi yakni dengan nilai 4.50, tingkat pendidikan masyarakat pada kelas sedang tinggi dengan nilai 10.54, dan terhadap indeks perkembangan wilayah. Faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto adalah tingkat
pendidikan masyarakat, jumlah
kendaraan bermotor, kepadatan penduduk. Dari semua faktor yang memiliki pengaruh signifikan, terdapat faktor yang paling berpengaruh (signifikansi tertinggi) adalah tingkat pendidikan masyarakat dengan nilai signifikansi 0.005.
Pengaruh tingkat pendidikan
masyarakat terhadap indeks
masyarakat tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan masyarakat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Hill dan Williams (1985)
menyatakan dalam melihat
perkembangan suatu wilayah dari segi pendidikan, alternatif yang digunakan untuk mengukur perkembangan adalah rasio banyaknya pelajar pada jenjang SMA/sederajat. Berdasarkan data yang diperoleh, Kecamatan Mojosari memiliki nilai paling tinggi, hal ini dikarenakan karena Kecamatan Mojosari memiliki sarana pendidikan yang lebih banyak secara kuantitas, dan lebih baik secara kualitas sehingga menimbulkan gejala aglomerasi di Kecamatan Mojosari yang berasal dari kecamatan lain.
Pengaruh jumlah kendaraan
bermotor terhadap indeks
perkembangan wiayah memiliki nilai signifikansi < α, yakni sebesar 0.020 dan β = -0.989. Dari nilai yang terdapat pada variabel jumlah kendaraan bermotor tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kendaraan bermotor memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap indeks
perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, dan pengaruh dari jumlah kendaraan bermotor bernilai negatif, yang artinya kecamatan yang mengalami kenaikan jumlah kendaraan bermotor naik, maka
indeks perkembangan wilayah
menurun. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya perusahaan transportasi yang cenderung dimiliki oleh pengusaha yang berdomisili dekat dengan jalan kolektor primer karena menganggap sebagai peluang bisnis, serta adanya lokasi tambang galian C di beberapa kecamatan yang memunculkan perusahaan transportasi berupa truck. Aktifitas usaha tersebut tidak begitu banyak melibatkan masyarakat luas, sehingga tidak merangsang adanya pertumbuhan fasilitas publik, ekonomi wilayah, dan kondisi fisik sebagai bagian indikator dari indeks perkembangan wilayah.
Pengaruh kepadatan penduduk terhadap indeks perkembangan wiayah memiliki nilai signifikansi < α, yakni sebesar 0.006 dan β = 0.768. Dari nilai yang terdapat pada variabel kepadatan penduduk tersebut dapat diketahui bahwa kepadatan penduduk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
indeks perkembangan wilayah
kecamatan di Kabupaten Mojokerto, dan pengaruh dari kepadatan penduduk bernilai positif, yang artinya kecamatan yang mengalami kenaikan pada kepadatan penduduk, maka indeks perkembangan wilayah juga akan naik.
Menurut Bintarto (1997) kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial dan ekonomi yang heterogen, dan materialistis. Diasumsikan bahwa kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang semakin tinggi, maka kecamatan tersebut semakin mendekati kondisi fisik dan sosial perkotaan. Harvey (2012) berpendapat bahwa kepadatan penduduk akan merangsang adanya konfigurasi ruang yang baru sebagai pemenuhan terhadap kebutuhan pasar yang terus membutuhkan laba. Semakin kepadatan penduduk naik, maka akan merangsang adanya sarana-sarana pendukung baru seperti sarana pendidikan, sarana ekonomi, sebagai bagian dari sub indikator dari indeks perkembangan wilayah. Namun yang perlu dicermati bahwasannya kepadatan penduduk dalam jumlah yang terlalu besar, akan menimbulkan permasalahan wilayah. Dalam hal ini hanya kajian terbatas pada data tahun 2015.
Pengaruh jumlah industri terhadap indeks perkembangan wiayah memiliki nilai signifikansi > α, yakni sebesar 0.179 dan β = 0.301. Dari nilai yang terdapat pada variabel jumlah industri tersebut dapat diketahui bahwa jumlah industri memiliki pengaruh yang tidak
signifikan terhadap indeks
ekonomi, dimana akan membentuk suatu pusat pertumbuhan karena mampu memberi stimulus terhadap aktifitas lain di luar kegiatan industri yang sifatnya positif bagi pertumbuhan ekonomi.
Kota Mojokerto sebagai wilayah fungsional yang berada di tengah-tengah wilayah fungsional Kabupaten Mojokerto, diasumsikan mampu menjadi pusat pertumbuhan yang akan memberikan spread effect terhadap pertumbuhan di Kabupaten Mojokerto. Dari hasil uji penelitian melalui analisis regreis linier berganda menyebutkan bahwa pengaruh jarak ke kota terhadap indeks perkembangan wiayah memiliki nilai signifikansi > α, yakni sebesar 0.056 dan β = 0.435. Dari nilai yang terdapat pada variabel jarak ke kota tersebut dapat diketahui bahwa jarak ke kota memiliki pengaruh yang kurang
signifikan terhadap indeks
perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, dan pengaruh dari jarak ke kota bernilai positif, yang artinya kecamatan yang mengalami geografis dalam pembangunan bukan merupakan sebuah masalah, pendapat tersebut didasarkan atas kondisi global saat ini yang sudah difasilitasi oleh teknologi.
Terlihat bahwasannya Kabupaten
Mojokerto mencoba sedang
membangun kecamatan yang berada di wilayah perbatasan dengan kabupaten
lain. Dalam kajian indeks
perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, tentunya tidak bisa terlepas dari instrumen pembangunan berupa kebijakan penataan ruang Kabupaten Mojokerto yang sudah diberlakukan dan sedang berlaku dalam bentuk Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Mojokerto Tahun 2012-2032 dalam pasal 14 ayat 1, ditetapkan PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi) perkotaan Mojosari yang meliputi
pelayanan pusat pemerintahan,
pendidikan, permukiman, kesehatan, perdagangan dan jasa. Dengan kebijakan tersebut maka pemusatan kegiatan di
Kabupaten Mojokerto berada pada Kecamatan Mojosari yang memiliki jarak ke Kota Mojokerto sepanjang 18 km. Dari kebijakan tersebut bisa disimpulkan bahwa yang menjadi pusat pertumbuhan untuk Kabupaten Mojokerto adalah Kecamatan Mojosari.
Pengaruh panjang jalan beraspal terhadap indeks perkembangan wiayah memiliki nilai signifikansi > α, yakni sebesar 0.118 dan β = 0.298. Dari nilai yang terdapat pada variabel panjang jalan beraspal tersebut dapat diketahui bahwa panjang jalan beraspal memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten merupakan perhatian subdisiplin antara tata ruang wilayah dengan aktifitas distribusi ekonomi (Stutz, 2008). Dalam hal ini panjang jalan sebagai sarana penunjang distribusi ekonomi mampu memberikan kontribusi positif terhadap kenaikan indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah bahwa Indeks Perkembangan Wilayah pada tiap-tiap kecamatan di Kabupaten Mojokerto tidak merata. Variabel bebas yakni tingkat pendidikan masyarakat, jumlah kendaraan bermotor, kepadatan penduduk, jumlah industri, jarak ke kota, dan panjang jalan beraspal berpengaruh sebesar 67.4% terhadap Indeks Perkembangan Wilayah, sedangkan sisanya 32.6% dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini. Diantara variabel bebas yang digunakan untuk menjelaskan variabel terikat, maka variabel tingkat pendidikan masyarakat menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap variabel bebas yakni indeks perkembangan wilayah dengan nilai β = 1.078 dan α = 0.005.
kecamatan dengan indeks perkembangan wilayah lebih tinggi, jika dibandingkan dengan bagian utara dan bagian selatan dari Kabupaten Mojokerto, dimana pada bagian tengah Kabupaten Mojokerto terdapat jalan nasional dan jalan provinsi yang lebih panjang jika dibandingkan dengan bagian utara dan bagian selatan Kabupaten Mojokerto. Mengacu pada nilai β (unstandardized coefficients) panjang jalan beraspal dengan nilai β = 1.089, tingkat pendidikan masyarakat dengan nilai β = 0.735, dan kepadatan penduduk dengan nilai β = 0.361, maka kecamatan yang memiliki panjang jalan beraspal tertinggi, menjadi kecamatan yang berpotensi untuk meningkatkan indeks perkembangan wilayah. Dari 18 kecamatan yang berada dalam satuan wilayah fungsional Kabupaten Mojokerto, Kecamatan Jatirejo memiliki nilai panjang jalan beraspal pada kelas sangat tinggi yakni dengan nilai 4.50, tingkat pendidikan masyarakat pada kelas sangat tinggi dengan nilai 10.54, dan kepadatan penduduk pada kelas sedang rendah dengan nilai 9.84.
Saran
Saran yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian adalah: 1) Dengan analisis regresi pada uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel yang paling signifikan bagi indeks perkembangan wilayah adalah tingkat pendidikan dan kepadatan penduduk, maka selayaknya pemerintah Kabupaten Mojokerto memperhatikan aspek sumber daya manusia, sehingga sumber daya manusia memiliki kualitas dan kapabilitas sebagai subjek perkembangan wilayah. 2) Dengan analisis SIG deskriptif kuantitatif yang menunjukkan indeks perkembangan wilayah kecamatan yang tinggi berada pada bagian tengah, maka selayaknya pemerintah Kabupaten Mojokerto meningkatkan pembangunan pada bagian utara dan selatan dengan kebijakan seperti peningkatan sarana prasarana pendidikan, transportasi guna mencapai keseimbangan dalam pembangunan. 3) Adanya perbedaan indeks perkembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Mojokerto merupakan implikasi aktifitas masyarakat yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi geografis wilayah tempat tinggal, maka diperlukan
pengontrolan oleh Pemerintah Kabupaten Mojokerto agar tidak terjadi benturan pembangunan yang merugikan
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, R. 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Adisasmita, R. 2010. Pembangunan Kota Optimum, Efisien & Mandiri. Yoyakarta: Graha Ilmu.
Bintarto. 1997. Pengantar Geografi Kota. Yogyakarta: LIP SPRING
BPS Kabupaten Mojokerto. 2015. Kabupaten Mojokerto Dalam Angka
Harvey, David. 2008. “The Right to The City”. New Left Review. Edition 53.
Mulyanto. 2004. Pembangunan Daerah dan Indikator Kemajuan Pembangunan Daerah di Era Otonomi. Surakarta.
Murray, Walwick, E. 2006. Geographies of Globalization. New York. Routledge