Reliabilitas dan Daya Beda Aitem Skala Trust
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
LAMPIRAN B
Rangkuman Kategorisasi Trust Subjek Penelitian
No
Jenis
Kelamin Usia Semester Etnis
Pengalaman
Langsung Organisasi Kategorisasi
380 L 20 6 Jawa Ya SAHIVA rendah
381 P 21 8 Batak Ya PEMA rendah
382 P 22 10 Nias Ya TIDAK rendah
383 P 22 10 Jawa Ya UKMI sedang
384 L 23 10 Batak Ya PEMA rendah
385 L 22 10 Batak Ya HMI rendah
386 L 19 4 Batak Tidak PEMA tinggi
387 L 23 10 Batak Tidak TIDAK rendah
388 L 20 4 Batak Tidak IMS tinggi
389 L 23 10 Minang Tidak TIDAK sedang
390 L 20 4 Batak Tidak IMS rendah
391 P 18 2 Jawa Tidak SUARA USU rendah
392 L 20 4 Minang Tidak SUARA USU tinggi
393 P 20 6 Batak Tidak SUARA USU rendah
394 L 21 6 Batak Tidak SUARA USU rendah
395 P 19 2 Batak Tidak SUARA USU tinggi
396 P 20 6 Batak Ya SUARA USU rendah
397 P 20 4 Minang Tidak SUARA USU rendah
398 P 21 6
Aceh
(Gayo) Tidak SUARA USU rendah
399 L 19 4 Jawa Tidak SUARA USU sedang
LAMPIRAN C
1.
Hasil Analisa Deskriptif
1. Hasil Analisa Deskriptif
Descriptives
Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation Variance Kurtosis Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic Statistic Statistic Std. Error
aitem1 400 3 1 4 982 2.46 .035 .696 .484 -.296 .243
aitem2 400 3 1 4 845 2.11 .028 .566 .321 .933 .243
aitem3 400 3 1 4 805 2.01 .038 .751 .564 -.472 .243
aitem4 400 3 1 4 809 2.02 .034 .673 .453 .495 .243
aitem5 400 3 1 4 878 2.19 .033 .650 .423 -.075 .243
aitem6 400 3 1 4 909 2.27 .032 .648 .419 .073 .243
aitem7 400 3 1 4 913 2.28 .033 .662 .439 .131 .243
aitem8 400 3 1 4 956 2.39 .032 .643 .414 -.199 .243
aitem9 400 3 1 4 778 1.95 .033 .650 .423 1.073 .243
aitem10 400 3 1 4 774 1.94 .033 .657 .432 1.354 .243 aitem11 400 3 1 4 931 2.33 .033 .664 .441 -.311 .243 aitem12 400 3 1 4 1002 2.50 .036 .715 .511 -.240 .243 aitem13 400 3 1 4 1013 2.53 .034 .686 .470 -.176 .243
aitem14 400 3 1 4 858 2.15 .035 .704 .495 .267 .243
aitem16 400 3 1 4 829 2.07 .034 .681 .463 .743 .243
aitem17 400 3 1 4 788 1.97 .031 .616 .380 .988 .243
aitem18 400 3 1 4 840 2.10 .034 .679 .461 .432 .243
aitem19 400 3 1 4 890 2.23 .032 .648 .420 .055 .243
aitem20 400 3 1 4 903 2.26 .033 .657 .432 -.276 .243
aitem21 400 3 1 4 857 2.14 .032 .647 .418 .476 .243
aitem22 400 3 1 4 874 2.19 .034 .672 .452 .039 .243
aitem23 400 3 1 4 849 2.12 .033 .662 .439 .224 .243
aitem24 400 3 1 4 898 2.24 .032 .645 .416 .201 .243
aitem25 400 3 1 4 932 2.33 .033 .661 .437 -.245 .243
aitem26 400 3 1 4 821 2.05 .034 .675 .456 .252 .243
aitem27 400 3 1 4 810 2.02 .031 .617 .380 .846 .243
aitem28 400 3 1 4 822 2.06 .033 .658 .433 .619 .243
aitem29 400 3 1 4 830 2.07 .031 .617 .380 .695 .243
aitem30 400 3 1 4 915 2.29 .032 .637 .406 .023 .243
aitem31 400 3 1 4 913 2.28 .032 .639 .409 -.056 .243
aitem32 400 3 1 4 826 2.07 .031 .630 .397 .532 .243
aitem33 400 3 1 4 818 2.04 .032 .632 .399 .910 .243
aitem34 400 3 1 4 830 2.08 .032 .637 .405 .883 .243
aitem35 400 3 1 4 795 1.99 .031 .623 .388 .836 .243
aitem36 400 3 1 4 885 2.21 .033 .670 .448 .247 .243
aitem40 400 3 1 4 926 2.31 .035 .701 .492 -.252 .243 aitem41 400 3 1 4 817 2.04 .032 .642 .412 1.085 .243
aitem42 400 3 1 4 842 2.10 .031 .612 .375 .828 .243
aitem43 400 3 1 4 818 2.04 .031 .620 .384 1.119 .243 aitem44 400 3 1 4 896 2.24 .031 .619 .383 -.047 .243 aitem45 400 3 1 4 779 1.95 .031 .617 .381 1.027 .243 aitem46 400 3 1 4 816 2.04 .031 .612 .374 1.284 .243 aitem47 400 3 1 4 857 2.14 .034 .684 .468 -.072 .243
aitem48 400 3 1 4 849 2.12 .033 .662 .439 .704 .243
aitem49 400 3 1 4 820 2.05 .031 .623 .388 .308 .243
aitem50 400 3 1 4 804 2.01 .029 .575 .331 1.140 .243
aitem51 400 3 1 4 817 2.04 .035 .705 .497 .038 .243
Valid N
Uji One Sample T-Test
2. Hasil Analisa Korelasi
Korelasi Trust dengan Usia
Symmetric Measures
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Korelasi Trust dengan Jenis Kelamin
Symmetric Measures
Value
Asymp. Std.
Errora Approx. Tb
Approx. Sig.
Interval by Interval
Pearson's R
.012 .049 .229 .819c
Ordinal by Ordinal
Spearman
Correlation -.015 .050 -.291 .771
c
N of Valid Cases 400
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Korelasi Trust dengan Tingkat Pendidikan
Symmetric Measures
Value
Asymp. Std.
Errora Approx. Tb
Approx. Sig.
Interval by Interval
Pearson's R
-.141 .050 -2.834 .005c
Ordinal by Ordinal
Spearman
Correlation -.141 .051 -2.839 .005
c
N of Valid Cases 400
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Korelasi Trust dengan Etnis
Symmetric Measures
Value
Asymp. Std.
Errora Approx. Tb
Approx. Sig.
Interval by Interval
Pearson's R
.016 .050 .312 .755c
Ordinal by Ordinal
Spearman
Correlation .033 .050 .663 .508
c
N of Valid Cases 400
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Korelasi Trust dengan Pengalaman Langsung
Symmetric Measures
Value
Asymp. Std.
Errora Approx. Tb
Approx. Sig.
Interval by Interval
Pearson's R
-.064 .034 -1.282 .201c
Ordinal by Ordinal
Spearman
Correlation -.040 .043 -.790 .430
c
N of Valid Cases 400
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Korelasi Trust dengan Ada Tidaknya Mengikuti Organisasi
Symmetric Measures
Value
Asymp. Std.
Errora Approx. Tb
Approx. Sig.
Interval by Interval
Pearson's R
-.123 .049 -2.480 .014c
Ordinal by Ordinal
Spearman
Correlation -.090 .050 -1.799 .073
c
N of Valid Cases 400
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Korelasi Trust dengan Organisasi Kemahasiswaan yang Diikuti
Symmetric Measures
Value
Asymp. Std. Errora
Approx. Tb
Approx. Sig.
Interval by Interval
Pearson's R
-.066 .047 -1.312 .190c
Ordinal by Ordinal
Spearman
Correlation -.053 .051 -1.066 .287
c
N of Valid Cases 400
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
LAMPIRAN D
1.
Verbatim Wawancara Awal
2.
Verbatim Wawancara Personal dengan
1. Verbatim Wawancara Awal
Nama Subjek : Joko Riski Yono
Tanggal : 6 Mei 2013
Jam : 20.00 – 20.30 WIB
Lokasi : Kompleks Taman Sakura Indah
Saya : Jadi pak, hal yang pertama yang saya ingin tanyakan secara umum menurut
Bapak Trust masyarakat Medan sekarang secara umumnya dan khusunya
Bapak lah terhadap DPRD Kota Medan itu gimana Trustnya.
Joko : Jadi kan gini, sebelum melangkah kepada Trust atau kepercayaan, bahwa
DPRD ini kan sebuah lembaga dewan ya, perwakilan daripada masyarakat
dan dia dipilih melalui pemilihan umum ya. Pemilihan umum itu dari,
tahun 1999 kita sudah demokratis sampai dengan sekarang kan sudah ada
empat kali pemilu gitu kan. Sementara masyarakat memandang bahwa
DPRD atau mungkin DPD Kota Medan khususnya dipandang dia bisa
mewakili kepentingan masyarakat secara luas dalam menjalankan fungsi
anggaran, pengawasan, legislasi yaitu pembentukan peraturan
perundang-undangan Perda ya.
Sepertinya masyarakat itu dia gak memandang secara langsung ya dan
mendapat sebuah imbas atau mendapat sebuah dampak gitukan dari adanya
sebuah lembaga perwakilan itu. Karena apa, mereka memandang DPRD ini
hanya sebuah sebatas apa namanya, bagi-bagi kekuasaan aja. Ini awam
yang melihat ya, bukan saya secara akademik. Jadi masyarakat itu melihat
DPRD sebagai ajang bagi-bagi kekuasaan untuk elit-elit politik di daerah
untuk mendapatkan tempat melalui partai politik.
Nah, sementara aspirasi, kan DPRD ini kan sebagai sebuah lembaga punya
keinginan, harapan, aspirasi yang kemudian di aspirasi itu dilaksanakan.
justru tiga fungsi yang diharapkan bisa merepresentasikan kepercayaan
masyarakat itu, tidak maksimal. Hanya maksimal dalam fungsi anggaran.
Fungsi anggaran itu pun hanya tebatas kepada rutinitas kerja Pemko
maupun pribadi anggota DPRD. Tidak secara langsung kepada masyarakat
gitu kan. Ini sebagai catatan persoalan yang mendesak khususnya di Kota
Medan. Karna gini, toh mereka membuat Perda sekalipun tidak ada efek
secara langsung terhadap masyarakat. Misalnya tentang pajak, retribusi,
atau tentang perlindungan masyarakat menengah kebawah. Kan mereka
tidak merasakan secara langsung. Yang contoh lebih konkrit lagi itu
persoalan Jamkesda ya, jaminan kesehatan daerah. Itu didalam praktek
lapangan kalo orang itu bukan pendukung daripada walikota, dia tidak akan
mendapat fasilitas itu. Kemudian kalaupun merka yang mau mendapatkan
jamkesda itu persyaratannya birokratis sekali. Mulai dari surat keterangan
miskin, kemudian rekomendasi dari RS atau puskesmas yang bersangkutan.
Hal-hal yang seperti itu masyarakat mengnggap pemerintah ini atau DPRD
ini tidak mengerti kepentingan mereka. Hanya mengurusi kepentingan
mereka sendiri. Mereka butuh hanya menjelang pemilu. Makanya tingkat
partisipasi, tingkat kepercayaan terhadap DPRD ini sebagai bukti adalah
pemilukada kemarin tanggal 7 Maret itu hanya tinggal sekitar 47%.
S : Iya, gak lebih dari 50%.
J : Berarti kan tingkat kepercayaannya, level propinsi kan berkurang, ada dibawah
50%. Berarti kan otomatis tingkat legitimasi dukungannya kan melemah kan.
Ini sebagai gambaran real di masyarakat, fenomana itu kan. Pada fungsi
pengawasan, fungsi pengawasan kan ya DPRD ini kan gak jauh beda dengan
eksekutif juga yang harusnya itu benar-benar melakukan pengawasan seperti
yang dimandatkan oleh undang-undang tetapi dalam prakteknya kan juga
membenarkan apa yang dilaksanakan oleh eksekutif dan terbukti bahwa
korupsi di Pemko Medan semakin hari semakin justru meningkat bukannya
S: Oh iya kayak kemarin Rahudman baru kenak lagi ya pak.
J: Kalo Rahudman kan dia ini korupsi Tapsel sebelum dia menjabat pimpinan di
Pemko Medan kan. Korupsi lain ada kan yang jelas masih dalam proses
penyidikan, kayak apa itu korupsi BNI, perkara korupsi pengantaran barang
tapi belum dilimpahkan karena masi dalam proses penyidikan. Kemudian
masalah legislasinya ya pembentukan perda. DPRD ini kan hanya
mengesahkan, menetapkan RAPBD aja. Selebihnya mandeg di legislasi aja
tidak ada peningkatan dalam proses pembahasan itu. Kalau menurut saya
Pemko Medan itu tidak begitu banyak tahu tentang legislasi. Tapi untuk DPRD
Provinsi memang saya ada penelitian. DPRD Provinsi itu untuk tahun anggaran
2012 dari 23 rancangan Perda, hanya bisa menyelesaikan 3 rancangan perda. 3
rancangan perda itu APBD, RAPBD, dan anggaran perubahan. Selebihnya
Perda-perda yang berkaitan dengan pembahasan BUMD, kemudian Inalum,
Perkebunan dan Perhotelan itu belum terselesaikan oleh DPRD Provinsi.
DPRD Provinsi yang saya teliti ya. Itu tidak diselesaikan sama sekali, dengan
alasan pertama, sibuk dengan kegiatan lain. Kedua, membina konstituen.
Ketiga, mandat dari partai untuk mengamankan jalannya Pilgubsu yang pada
akhirnya untuk tahun 2012 yang terselesaikan itu hanya 3 ran perda. Itu pun
ran perda APBD. Kalo APBD itu yang menyusun Pemprop, sama kalo APBD
Kota atau Kabupaten yang mempersiapkan itu Bupati atau Walikota.
Sementara DPRD hanya membahas dan menetapkan kan. Sementara DPRD
sendiri, untu Propinsi ya, dari 24 hanya 3 yang terselesaikan. Yang 21 itu jadi
PR untuk tahun 2013, malah jd nambah 11 ran perda total 34 ran perda.
Pokoknya sebelum pemilu sudah terselesaikan 34 ran perda itu. Apakah itu
mungkin, wong dari tahun dia dilantik sebagai anggota DPRD Propinsi 2009
sampai dengn 2012, 3 tahun aja gak ada yang diselesaikan apalag kog
menambah 11 ran perda baru lagi yang jumlahnya 34.
Itu ditingkat DPRD Propinsi. Saya pikir di DPRD Kota Medan pun tidak jauh
beda. Utamanya di DPRD Kota medan, masyarakat Kota Medan itu yang
kesehatan, persoalan catatan sipil, akte kelahiran, KTP, KK dan perizinan.
Prosesnya berbelit-belit, ada pungli, kemudian birokrasi yang panjang dan
tidak transparan. Itu dalam pelayanan publik ya. Kemudian pendidikan.
Pendidikan kan yang seharusnya mereka dapet beasiswa BOS karena mereka
tidak mampu ternyata tidak dapat, itu yang mampu yang tidak layak malah
dapat, itu kan namanya diskriminasi. Hal-hal itu yang menjadi catatan di
masyarakat, sepak terjang DPRD yang konon dia mewakili kepentingan
masyarakat luas khususnya di Kota medan ternyata hanya sekedar janji tidak
sesuai dengan praktik di lapangan, tidak dilakukan secara maksimal, seperti itu.
S: Berarti secara keseluruhan karena kinerja mereka juga ya pak.
J: Satu kinerja, yang kedua perilaku ya. Perilaku anggota DPRD ini perilakunya
kan dibilang apa ya, perilakuny itu tidak dekat dengan rakyat. Tidak merasakan
apa yang sebenarnya. Mereka itu elitis, dari gaya, penampilan, tunjangan.
Mereka jadi anggota DPRD bukan karena keinginannya untuk
memperjuangkan aspirasi konstituen, tapi untuk dia sendiri dengan tunjangan
dan honor tiap bulan diatas 10juta kan yang dia dapatkan tiap bulan. Itu kan
dijadikan modal, karna selama pemilu kan dia sudah mengeluarkan biaya yang
cukup besar, bagaimana dia bisa mengembalikan modal itu kan tidak tertutup
oleh gaji. Bukan nnya kita suudzhon ya, perbuatan melawan hukum atau
penyalahgunaan wewenang itu sangat mungkin di lakukan. Ntah itu dia
melakukan korupsi atau tindak pidana yang lain yang intinya merugikan
kepentingan kelompok atau kroninya.
*pembicaraan selanjutnya selama beberapa menit tidak terekam karena
masalah teknis*
J: Kesewenang-wenangan daripada penyelenggara pemerintahan daerah, baru
kemudian temen-temen mahasiswa turun untuk memperjuangkan aspirasi itu.
Dengan keadaan mahasiswa sekarang ini pun saya percaya ya, mahasiswa itu
masih punya semacam niat suci atau idealisme bahwa yang mereka
masyarakat. Korupsi ini pun sekarang sudah banyak ya, bahkan tingkat Kadis
pun sudah mulai korupsi. Apalagi sekarang dengan sistem otonomi daerah ini
pemimpin itu uda kayak Raja ya, yang berhak mengurus rumah tangganya
sendiri.
S: Jadi menurut Bapak penting gak sih untuk kita memiliki Trust terhadap DPRD?
J: Penting.
S: Kenapa?
J: Satu, karena kita telah memilih sistem demokrasi ya. Sistem demokrasi ini
meski belum sempurna kan itu namanya juga proses, menuju kesempurnaan itu
kan ada pengorbanan, butuh waktu dan juga butuh SDM. Karena gini,
satu-satunya yang menjadikan sesuatu itu sah adanya kan karena adanya pemilihan
umum. Pemilu itukan diadakan secara umum, bebas, langsung, rahasia, jujur,
adil, dan itu adalah kedaulatan tertinggi yang dimiliki oleh rakyat Indonesia,
khususnya orang medan ya. Satu suara itu adalah kedaulatan tertinggi yang itu
dijamin oleh konstitusi yang diberikan mandat kepada pemilu untuk kemudian
memilih caleg untuk kemudian ditetapkan menjadi anggota dewan yang dia
berkewajiban bukan diperintahkan ya, dia itu wajib hukumnya untuk anggota
DPRD itu memperjuangkan aspirasi konstituen itu sendiri.
Misalnya saya menjadi anggota DPRD, saya dari partai A. Tidak hanya partai
A saja yang saya perjuangkan. Seluruh masyarakat kota medan ini tanpa
memandang ras, suku, dan agama harus saya perjuangkan. Karena saya bukan
lagi wakil partai tapi wakil rakyat. Menjalankan fungsi sebagaimana yang
diharapkan oleh rakyat itu sendiri yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan
fungsi pengawasan. Yang paling lemah dari ketiga fungsi itu adalah fungsi
legislasi dan fungsi pengawasan. Kalo fungsi budgeting ini karena memang
sudah dikonsep dari pemerintah sendiri, orang itu tinggal tanda tangan aja.
dalam perwujudan aspirasi itu tidak maksimal karena sumber daya manusia dia
pun gak mumpuni, apa yang mau diperjuangkan kan ya.
S: Alasan lainnya apa lagi ya pak?
J: Disamping itu gini. Ini kan semacam kesepakatan politik ya dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Kalo teorinya Montesque kan memisahkan
bahwa dalam sebuah negara ini yang menjalan fungsi eksekutif itu kan
pemerintah, fungsi legislatif itu kan perwakilan, kemudian fungsi yudisial itu
kan hakim. Masing-masing fungsi ini saling mengontrol dan saling
melaksanakan check and balance, saling mengawasi. Eksekutif selaku
pelaksana dan legislatif selaku pengawas, ya dua-duanya harus berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Seperti rel kereta api itulah, di sisi kanan kiri
beda tapi kan tujuannya sama.
S: Seperti partner ya pak.
J: iya, partner. Dan dia tidak saling mempengaruhi dengan yang lain, tapi saling
mengawasi begitu.
S: Terus begini pak, menurut bapak ada gak sih pengaruh mungkin di kota Medan
ini kan banyak suku, budaya segala macamnya mulai dari batak, jawa dan lain
lain. Menurut bapak ada gak sih pengaruh budaya terhadap Trust, apakah
persentasinya akan berbeda-beda di setiap suku, pak.
J: Pengaruh secara langsung, ada ya. Medan ini kan dikatakan sebagai
miniaturnya Indonesia, berbagai macam suku, ras ada. Dikatakan heterogen ya.
Meskipun heterogen tapi sesungguhnya ada semacam api dalam sekam
meskipun secara kasat mata tidak nampa, tapi bisa dirasakan gitu lho.
S: Maksudnya apa itu ya pak.
J: Jadi gini, dalam proses politik ya misalkan atau mendukung jabatan praktik
tertentu. Dek Rahmi orang kita apa ya?
J: Aceh ya. Dalam jabatan tertentu kan kadang kalau di atas itu harahap, dibawah
juga harahap. Kalo diatasnya hasibuan, bawahnya hasibuan. Ntah kebetulan
atau kesengajaan saya tidak tahu pasti, itupun sebetulnya tidak hanya di medan
ya di jawa pun sama. Nepotis itu bertaut erat dengan manajemen publik, itu
pasti. Misalkan kalo saya keluarganya guru, kakak saya pun jadi guru, tapi saya
memang tidak mau jadi guru ya. Hal itu pun kurang lebih di Medan, kalau
bapaknya ada di dinas, anaknya pun atau keponakannya pun ada di dinas. Di
sumut ini terkenal semua urusan musti tunai kan, dan orang medan itu terkenal
rasional dan pragmatis. Gimana itu.
S: Uda lah rasional, pragmatis pulak ya pak.
J: Iya, gimana itu, cemana adek terjemahkan itu.
S: Agak susah juga pak.
J: Cemana itu, karena aku nulis di koran itu. Ada artikel di waspada tanggal 7
maret pas pilkada itu.
S: Iya pak, pragmatis itu yang agak susah saya bilangkannya gimana itu pak.
J: Kalo rasional okelah kita sepakat bahwa dia itu memilih atau berkata
berdasarkan nalar, akal sehat. Kalo pragmatis ini kan sesuatu dilakukan karena
itu menguntungkan untuk dia atau tidak gitu kan. Fenomena itu abang kaitkan
dengan Sumut ini semua urusan mesti tunai. Dan adek perlu ketahui Sumut ini
3 propinsi terbesar diduga sebagai yang paling besar korupsinya. Satu jakarta,
yang kedua samarinda, ketiga sumut. Itu aku dapat dari laporan PPATK, pusat
pelaporan transaksi keuangan. Kira-kira gimana, salah gak?
S: Bener, pak. Walikotanya aja tengok tu.
J: Itu, ada cerita aneh ni. Di kabupaten Batubara itu pemekaran kan. Itu
bisa-bisanya kas Pemda disimpan bukan di bank resmi tapi di lembaga
penyimpanan uang biasa kayak BPR itu disana, di Tangerang. Dananya
S: Jadi kalau menurut Bapak orang Batak itu cenderung percaya ke wakil
rakyatnya atau pemerintah, atau gimana pak.
J: Kalau gini ya, di Sumut atau di Medan itu kan cenderung masyarakat ini kan
yang batak ya, ini mungkin ya, rasa kesukuannya itu kan kuat sekali ya. Kalau
dia nasution, ikutlah nasution. Atau dia gus-man itu kan batak, sama si
sukirman itu jawa ya. Aduh, lari-lari lah ini dek jawabnya karena bundanya ini
gak ada.
S: Iya pak, gapapa.
J: Kalo orang jawa di medan ini terus terang aja, lebih batak daripada orang batak
itu sendiri. Jadi di medan ini bisa kita bilang keras. Saya mau mempersepsikan
keras dan tegas itu beda. Kalau keras itu hanya penekanan intonasi kata atau
sikap perbuatan. Tapi kalau tegas itu yang jelas menunjukkan karakter, atau
memilih sesuatu itu kan berprinsip. Kalau memutuskan A, ya A.
Kalau masalah itu, gimana tadi dek bisa diulang.
S: Jadi gini pak, kalau per suku-suku ini ada gak perbedaan Trust mereka ke
DPRD? Jadi kayak latar belakang budaya mereka itu apakah berpengaruh
terhadap tingkat Trust mereka terhadap DPRD.
J: Kalau sekarang kan, gini ya.. secara empirik sebnarnya tidak ada persoalan
budaya itu, sekarang ini lebih kepada pribadi anggota DPRD ya. Kalau anggota
DPRD ini mencerminkan sikap perilaku daripada masyarakat sehari-hari.
Kesederhanaan, kesahajaan, anti korupsi, memperjuangkan masyarakat tanpa
ada kepentingan apapun, masyarakat akan menghargai, tanpa memandang
mereka orang batak, melayu. Persoalannya kan kadang gini, untuk menarik
simpati misalnya saya orang Jawa. Saya katakan kepada orang jawa, kalau
kalian tidak memilih saya saya tidak akan memberikan tempat dan kamu tidak
akan dapat apa-apa disini. Nah yang ini kan hanya tipu muslihat, politik itu kan
tidak ada yang namanya kawan abadi atau saudara yang ada kepentingan abadi
salah satunya adalah dengan perspektif budaya, atau golongan, atau suku itu
tadi. Jadi suku, golongan itu kan pada dasarnya ini kan hanya membedakan
tentang bahasa, warna kulit, bermarga atau tidak bermarga. Kalau persoalan
prestasi kerja atau persoalan tentang kemampuan itu kan tidak dilihat dari
sukunya, tapi kan kapasitas itu yang menunjukkan kemampuannya,
integritasnya, bisa dipercaya gak, dia mempunyai imparsial gak, punya sikap
kenegarawan gak.
S: Jadi pak, tadi kan kita uda ke masyarakat, sekarang kita ke mahasiswa.
Mahasiswa kan ada yang masuk organisasi ini itu, kayak yang bapak bilang
tadi ada Pema, Kammi, HMI, GMNI. Kalau menurut bapak, sama kayak suku
tadi, ada gak pengaruhnya ke Trust. Akankan beda orang yang di organisasi
ini, itu. Gimana Pak?
J: Pengaruhnya ke Trust ada ya. Kan gini, organisasi-organisasi mahasiswa kan
ada organisasi intra kampus, intra kampus itu kan seperti pema, senat, bem.
Kalo ekstra kampus itu kan Kammi, HMI, GMNI. Umumnya anggota DPRD
ini atau elit-elit politik ini kan mereka alumni daripada organisasi-organisasi
seperti itu, meskipun tidak semua anggota DPRD adalah alumni GMNI, HMI,
atau Kammi. Memang, tidak dipungkiri kebanyakan dari anggota DPRD atau
DPR pusat sekalipun adalah mereka yang notabenenya dulu adalah aktivis.
Kenapa kog mereka jadi anggota DPRD yang notabene dulunya aktivis?
Karena satu, pengalaman mereka berorganisasi. Kedua, networkingnya sudah
luas dan dia sudah terkader di dalam organisasi, bagaimana kemudian
menyusun peraturan, bagaimana dia debat, bagaimana dia menyanggah,
bagaimana dia memberikan usul, kan dilatih seperti itu kepemimpinannya di
organisasi itu.
Nah, mahasiswa itu ada kepentingan secara langsung atau tdiak langsung.
Secara langsung, kalau dia ada alumninya di DPRD, paling tidak setiap
kegiatan dia dibantu baik itu bantuan pribadi atau bantuan dari APBD yang
itu Dauroh namanya. Mkanya kalau kemudian teman-teman mahasiswa
memperjuangkan aspirasi ke DPRD dan disitu ada seniornya, pada akhirnya
terfragmentasi dalam kelompok kepentingan-kepentingan tersebut gitu lho.
Misalnya kalau saya HMI ada senior saya di DPRD, terus saya ikut demo,
besok-besok kalau saya ada kegiatan, apalagi kayak saya alumni FH USU.
Kemudian saya ikut demo, besok-besok kalau ada kegiatan saya gak dibantu,
atau nyalon jadi ketua cabang gak didukungnya pulak ya kan. Nah ini juga
yang bikin bertolak belakang dari diri mahasiswanya juga. Tapi ya dari
mahasiswa punya keinginan dong untuk memperjuangkan, untuk demo
menyuarakan aspirasi. Kalau ini tidak dilakukan, sebagai mahasiswa apa kata
dunia? Akhirnya ya dilaksanakan juga, meskipun tidak maksimal. Jadi ya kalau
saya pikir di organisasi-organisasi mahasiswa itu masih ada Trust, itu pastilah
baik secara langsung ada kepentingan politiknya, secara tidak langsung ada
semacam hubungan simbiolis mutualisme lah meskipun secara langsung kasat
mata tidak ada, tapi diebelakang itu ada.
S: Baik pak, sepertinya saya sudah mendapat semua jawabannya ini pak, uda
banyak banget ilmu yang disharing pak. Hehehe
J: Ada lagi gak ni yang mau ditanyakan.
2. Verbatim Wawancara Personal dengan Subjek Penelitian
LAMPIRAN VERBATIM Responden I
Wawancara I Tanggal : 19 April 2013
Jam : 13.58 – 14.15 WIB
Lokasi : Koridor Fakultas Hukum
S: Jadi yang ingin saya tanyakan itu apa sih alasan akbar kenapa kepercayaannya
rendah terhadap DPRD?
A: Karna gini, pertama kan kita liat dari segi DPRD Kota Medan sendiri kan
dipilh oleh rakyat, dimana sistemnya sekarang kan sistem pemilihan langsung,
one man one put kan. dimana kita liat sekarang ini kenapa kepercayaan
masyarakat cenderung rendah terhadap DPRD Kota Medan itu sendiri lebih
dikarenakan hanya sekedar janji-janji saja tidak ada namanya bentuk aplikasi
secara nyata yang dilakukan oleh DPRD Kota Medan. Termasuk dalam hal
menanggapi beberapa kasus, itu juga sih yang membuat kenapa kepercayaan
terhadap DPRD Kota Medan itu rendah.
Kedua, mungkin gini karena orang-orang didalam DPRD itu sendiri seperti
hanya ingin duduk dan menikmati hasil.. apa.. artinya pada saat kampanye
mereka mengeluarkan uang segini, dan mereka pengen balik modal terus
kemudian cari untung. Itu yang di.. lebih kepada mengambil sebuah proyek,
gitu sih..
S: Jadi begitu.. tadi akbar ada bilang cara mereka menanggapi kasus. Bisa ceritain
gak contohnya seperti apa.
A: Ya, sperti begini kan. Banyak beberapa kasus-kasus seperti relokasi apa tu
S: Oh iya, yang di titi gantung itu ya..
A: Ya, titi gantung.. itu kan, sebenarnya wewenang daripada Perda Kota Medan
kan, wewenang daripada anggota. Tapi, DPRD Kota Medan dalam hal ini tidak
menanggapi sisi-sisi dan bagaimana hal positif dan negatif dari relokasi tempat
itu. Sehingga kepercayaan itu cenderung turun. Kita liat itu kan dari segi
kasus-kasus yang ada di Medan ini tidak ada bentuk kerja nyata dari DPRD.
S: Jadi intinya, kenapa tidak ada kepercayaan itu karena tidak ada bentuk kerja
nyata dari DPRD itu sendiri.
A: Iya..
S: Trus, kalau boleh saya tahu sewaktu pileg kemarin akbar milih gak?
A: Milih, dan ternyata ya begitu.. haha ya itulah makanya mungkin memang mau
dari latar belakang apapun belum ada yang bisa melihat bentuk kerja nyata
mereka.
S: Jadi kalau menurut akbar, penting gak sih kepercayaan kita mahasiswa sebagai
masyarakat juga kan ya untuk percaya ke DPRD.
A: Sangat pentinglah, dimana posisi mahasiswa sendiri adalah agent of change,
bagaimana mahasiswa harus menyikapi berbagai hal-hal yang berkembang di
dalam situasi kota medan sendiri. Jadi, bagaimana kami sebagai mahasiswa
mengontrol DPRD kota medan yang selama ini dan sampai saat ini tidak ada.
Yang ada mereka saat ini hanya relokasi untuk pembangunan gedung baru kan
sementara gak nampak apa-apa kinerjanya. Coba kita runut lagi ya kan.. sekali
mereka reses itu butuh dana berapa,itu dia. Tapi tidak ada bentuk peringatan.
Kita liat mereka reses dimana sih, dirumah mereka, liburan, itu yang kita liat..
gak ada kita liat turun ke masyarakat ngeliat apa lagi yang kurang dan apa yang
dibutuhkan masyarakat.
S: Kira-kira menurut akbar sebagai mahasiswa, dan aktivis juga kan, untuk ke
pemerintahan kita yang demokratis dan memalui pemilihan langsung,
kepercayaan masyarakat penting kan ya. Gimana saran-saran atau
implementasi ke depannya supaya Trustnya masyarakat dan kita sebagai
mahasiswa itu bisa percaya lagi ke DPRD .
A: Percaya kembali ya..
S: Iya, percaya kembali.
A: Kalau kita katakan sih pertama kepada lebih kepada orangnya sendiri yang
mencalonkan diri menjadi caleg, kita liat apakah dia mencari keuntungan atau
tidak. Yang kedua mungkin dari segi curriculum vitaenya juga. Bagaimana CV
juga berpengaruh dalam memberikan pilihan. Apakah dia sosok seorang yang
bagaimana, apakah dia sosok yang sering terjun ke masyarakat atau apakah
sosok yang memang dia orangnya konseptor, atau orang lapangan itu juga kita
liat. Kalau kita liat kedepannya sih kembali ke orang-orang yang nantinya
menjadi anggota DPRD menunjukkan tadinya sebelum pemilu 2014 ini
bagaimana mereka bisa menarik hati masyarakat kota medan untuk kembali
percaya karena selama ini kita liat sih, kalau aku sendiri sih kurang sependapat
dengan sistem yang sekarang.
S: Sistem yang gimana?
A: Sistem sekarang yang dimana orang mencalonkan diri kemudian kita pilih gitu
kan. Itu kan tidak efektif begitu, tidak tau bagaimana sih orang-orang yang kita
pilih. Sama aja kan. Kenapa tidak kembali ke sistem kenapa gak partai aja yang
memilih gitu kan.
S: Jadi, menurut akbar kita kayak memilih partainya, nanti partainya yang meilih
orang-orang didalam.
A: Jadi, kalau partai yang memilih, otomatis ada sistem recall atau pergantian
antara waktu. Jadi kalau dilihat kinerjanya tidak pas, mereka tinggal diganti
dengan yang lain. Lebih bagus begitu sistemnya daripada langsung memilih
berkompeten. Intinya, mau DPRD atau DPR itu semua sama aja. Hanya untuk
LAMPIRAN VERBATIM Responden II Wawancara II Tanggal : 24 April 2013
Jam : 13.24 – 13.33 WIB
Lokasi : Bangku Depan Toilet Fakultas Hukum
Subjek : Yoko
S: Ya, jadi apa alasannya kenapa Trust yoko terhadap DPRD Kota Medan rendah.
Bisa disebutin?
Y: Pertama ya, yang buat aku kurang percaya pada pihak DPRD karena gak
terealisasi semua program yang direncanakan. Selain itu, kinerjanya gak
maksimal, mungkin apa yang di sampaikan pada saat dia belum terpilih, pada
saat dia kampanye.. jadi yang dia sampaikan itu berbeda. Aku dapat
istilahnya itu hypocrite, hipokrit itu artinya itu munafik. Jadi ya apa yang
dikatakannya itu gak sesuai dengan apa yang dlakukan. Selain itu juga ada
kayak apa ya seperti ada batasan antara DPRD dengan masyarakat. Mereka
gak menyadari bahwasanya kan mereka juga hanya wakil. Jadi kalo dari aku
mereka itu seperti kaum borjuis sedangkan kita masyarakat ini adalah kau
proletar. Jadi gitu. Dan tindakan mereka pun mementingkan egoisme sendiri.
Mungkin ini uda diketahui publik lah gimana kan bukan rahasia pribadi lagi.
Selain itu, eeee apalagi yaa.. banyak tindakan yang menyimpang seperti
dalam memanfaatkan anggaran. Yang dialokasikan tidak sesuai dengan yang
sebenarnya. Jadi ada mark up dalam semua proyek-proyek yang dijalankan
gitu. Eee ya itu aja, iya itu aja..
S: Jadi tadi yoko ada bilang kan kinerja mereka itu gak maksimal, bisa
Y: Eee, kira-kira seperti apa ya.. mungkin secara rinci gak bisa kugambarkan,
tapi dalam bayangkanku seperti itu, dari cerita di televisi dan dari
kawan-kawan adalah yang gak maksimal itu.
S: Jadi menurut yoko Trust kita ke wakil rakyat itu perlu gak, ke DPRD.
Y: Kalo kepercayaan itu pasti perlu ya, karena kalau dia naik itu karena kita
percaya. Yang terpilih itu pasti yang dipercaya. Namun kadangkala
kepercayaan itu bisa dibeli dengan pembelian suara. Sebelum dia terpilih dia
melakukan money politic agar dia terpilih. Kepercayaan itu memang sangat
krusial namun pada kenyataannya untuk mempercayai itu sangat berat.
S: Emm, maksudnya?
Y: Gimana yaa.. simpelnya, emm, gimana ya bilangnya..
S: Jadi menurut kamu kepercayaan itu penting tapi ketika kita mempercayai
mereka itu yang berat untuk dilakukan, gitu maksudnya? Karena melihat
kinerja mereka. Gitu?
Y: Iya, betul.. jadi kalau dia pada saat kampanye dilakukan dengan benar, kita
juga percaya dia tulus, tapi pada saat dia uda menjadi seorang wakil rakyat
dia tidak menjalankan fungsinya dengan sebagaimana mestinya gtu. Nah
itulah yang membuat kita menarik kepercayaan. Kita uda percaya tapi
kepercayaan kita gak dimanfaatkan, dikecewakan kitanya..
S: Saya melihat di identitas kalau yoko itu ketua GMNI ya?
Y: Bukan, bukan ketua itu. Tapi saya ketua kader, ketua kelas merah.
S: Apa aja sih interaksi yang sudah pernah dilakukan ke DPRD?
Y: Kalau kemarin kami ada melakukan aksi di kantor gubernur. Inginnya
melakukan dialog langsung dengan gubernur, tapi kemarin diwakilkan ole
beberapa pegawainya. Itu dalam rangka menolak kenaikan harga BBM. Trus
dewan namun itu diadang oleh anggota Polri dan dilengkapi dengan mobil
water canonnya. Jadi itu kendala kami untuk masuk, yang kami berhasil
masuk itu Cuma nembus pagar kantor gubernur. Nah itulah yang tadi saya
sebutkan kita berdialog dengan mereka.
S: Berarti GMNI sering ya melakukan aksi untuk menyuarakan aspirasi?
Y: Tergantung isunya juga. Kami ada rapat internal, kalau itu patut untuk
disuarakan maka kami akan aksi.
S: Biasaya dari beberapa aksi yang dilakukan, diterima dengan baik gak?
Y: Gak semuanya ya. Kalaupun diterima, mungkin gak disampaikan ke atasan,
kan yang nerima kita kan gak langsung ke yang kita tuju. Dan kalaupun telah
kita sampaikan, kemungkinan gak sesuai ataupun bakan gak disampaikan
kepada yang tertuju itu.
S: Biasanya kalian menyampaikannya kemana? Ke ketua?
Y: Iya.
S: Dan biasanya yang menerima?
Y: Ya yang menerima itu ya anggota biasa, ya gitu..
S: Jadi kalau bisa saya simpulkan, alasan mengapa tidak percaya denga DPRD itu
karena kinerja mereka yang tidak sesuai dengan kenyataan. Berbeda antara
sewaktu kampanye dengan saat sudah duduk sana.
Y: Iya, itu uda jadi rahasia umum ya.
LAMPIRAN VERBATIM Responden III Wawancara III Tanggal : 26 April 2013
Jam : 10.06 – 10.15 WIB
Lokasi : Mushola Fakultas Keperawatan
Subjek : Nisa
S: Jadi pertanyaannya itu apa alasannya tidak percaya terhadap DPRD Kota
Medan
N: Alasannya itu terkait dengan RUU Keperawatan. Jadi RUU Keperawatan itu
sudah lama diproses bahkan sebelum orang kakak masuk ke kampus pun UU
Keperawatan itu sudah dirancang. Masuk 2009 kemudian sekitar 2010-an atau
2011 kita pernah melakukan kunjungan ke kantor DPRD Kota Medan. Kita
diskusi terkait dengan gimana sih pandangan mereka terkait dengan
undang-undang. Bukan sekali aja kami kesana, ada dua atau tiga kali, tapi sepertinya tidak ada respon. Mungkin mereka hanya bilang ―kita usahakan ini bakalan kita coba masukkan dan segala macam‖. Tidak respon juga, bahkan ini sudah dari 2009, 2010, 2011, 2012 dan sekarang uda 2013.
Sebenarnya perawat-perawat sendiri sudah sering ya melakukan aksi demo
bahkan di 2012 kita seluruh Ikatan Lembaga Keperawatan se-Indonesia,
mahasiswa-mahasiswa kumpulan perawat, kakak juga kemarin ikut serta.
Disitu satu-satunya harapan kita mahasiswa itu bisa mengawal terbentuknya
RUU Keperawatan segera disahkan. Sudah bertahun-tahun itu loh. Makanya
itu kan mereka itu sebagai penampung aspirasi masyarakat, yang disitu juta
termasuk mahasiswa, mahasiswa keperawatan gitu, berharap bahwa aspirasi
kita itu bisa diterima. Tapi, ya gitulah itu, pokoknya sampai kita kemarin itu
kalau adek tau ya kami buat aksi seribu mahasiswa kita demo di kantor DPR
bergerak dan mau akhirnya membahas tentang badan legislatifnya, kemudian
siapa yang akan merumuskannya dan segala macamnya. Terakhir kakak dengar
sampai sekarang ini belum juga itu kan. Sampai memang kita berharap
presiden juga turut andil di dalam undang-undang ini. Itu sih alasan sebenarnya
yang mendasarinya, aduh gemes rasanya..
Padahal ada UU sebelum yang keperawatan ini, kakak lupa UU apa gitu ya,
ada dua atau berapa gitu UU yang sudah disahkan. Bagaimana dengan UU
Keperawatan? Padahal ya tanpa profesi keperawatan, yang namanya pelayanan
kesehatan itu pasti bakalan timpang. Kita berharap ya dari DPRD, mereka lah
yang setidaknya mengapakan, karena mereka itu kan wakil kita. Walaupun
memang ada beberapa anggota DPR ya, jadi memang ada yang sudah dibagi
berdasarkan daerahnya. Jadi untuk daerah kita ini ada 5 ntah berapa DPR yang
kita inikan. Kemarin itu ada 8 yang anggota DPRD ini kita sms-in untuk ikut
serta dalam pembahasan RUU untuk segera disahkan. Memang ada beberapa anggota yang membalas sms, salah satunya membalas gini ―yang pasti jangan hanya ke saya saja mengsmsnya, kalian juga harus mengsms anggota yang lainnya juga‖. Itu salah satunya sih kenapa akhirnya memang sulit gitu untuk percaya apalag ini uda bertahun-tahun loh RUU ini diajukan.
S: Kalau menurut kakak penting gak kita punya kepercayaan terhadap DPRD?
N: Pasti pentinglah, yang namanya suatu hubungan timbal balik antara masyarakat
dan DPRD pasti butuh yang namanya membangun kepercayaan. Ketika kita
membangun sebuah hubungan, tapi kita tidak mau membangun yang namanya
kepercayaan, efeknya ketika misalnya si A membuat kesalahan, tanpa kita
percaya, kita akan langsung membabi buta dan langsung menyalahkan. Jadi,
percaya itu sangat penting. Tapi satu hal juga, jangan kepercayaan masyarakat
itu disalahgunakan.
N: Satu aja, mereka tu adalah wakil rakyat. Ya buktikan aja bahwa ketika mereka
mengucapkan A, ya seharusnya mereka melaksanakan A. Jangan hanya
sekedar pandai berbicara tapi tidak pandai berbuat. Itu sih.
S: Berarti kesimpulannya kalau bisa saya simpulkan berarti mereka tidak
mempunyai kekonsistenan antara perilaku dan tindakan, tidak menggubris
aspirasi mahasiswa. Gitu ya kak.
N: Walaupun mungkin kita gak tau sih ada apa dibalik itu gtu kan. Kita gak tau
kan kepentingan apa dibawah mereka. Tapi ya gitu setidaknya terlepas dari
kepentingan apapun itu, termasuk mahasiwa ya kan, seharusnya mereka mau
mendengarkannya gitu kan.
S: Kayak yang kakak bilang tadi kita gak tau ada kepentingan apa dibalik itu kan,
tapi setidaknya mereka bisa transparan gitu ya kak. Memberitahukan apa yang
sedang terjadi.
N: Iya, seharusnya gitu ya kan, terbuka, mereka memang harus lebih transparan..
S: Baik kak, itu saja, sudah selesai. Terima kasih ya kak.
LAMPIRAN VERBATIM Responden IV Wawancara IV Tanggal : 30 April 2013
Jam : 15.17 – 15.20 WIB
Lokasi : Kantin Perpustakaan USU
Subjek : Desi
D: Alasan kenapa saya tidak percaya atau trust saya rendah terhadap DPRD, yang
pertama, yang saya liat itu kinerjanya yang sangat sangat buruk ya dari sisi
pandang masyarakat saya liat kinerjanya buruk misalnya seperti ehhmm..
seperti yang mereka kenaikan gaji, pembangunannya. Itu kalo DPRD Pusat.
Kalo DPRD Medan sendiri, rasanya kayak gak punya DPRD gitu. Istilahnya ya
gak terlihat gitu lho yang mewakili masyarakat itu gimana wujudnya gitu lho.
Karna kalau misalnya di medan yang kelihatan justru kayak misalnya mungkin
itupun mungkin karna wujud kerjanya dari walikota medan. Tapi kalau dari
DPRD sendiri bener-bener gak ngerasa punya DPRD jadinya.
S: Itu aja? Jadi istilahnya kayak gak ada bentuk kerja nyata dari DPRD.
D: Iya, kayaknya jadi yaudah ini aja DPRD. Kayak nama aja. Cuma duduk, diam
dan bernafas mungkin ya, selebihnya gak ada.
S: Pedes banget ya alasannya, hehe. Trus kalau menurut Desi penting gak kita
yang membawa kita kayak kita di bawa sama pemimpin tapi kita gak percaya.
gak bener itu. Gak akan ada itu kerjaannya yang bener.‖ Makanya kepercayaan
itu penting dari masyarakatnya ke DPRDnya.
LAMPIRAN E
1. Contoh Aitem Skala Trust Setelah Uji Coba
SKALA PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013
KATA PENGANTAR
Dengan hormat,
Dalam rangka memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan
sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, saya akan mengadakan
penelitian mengenai mahasiswa. Untuk itu saya memerlukan sejumlah data yang
hanya akan saya peroleh dengan adanya kerjasama dan kesediaan Anda dalam
mengisi kuisioner ini. Penelitian ini, menggunakan 1 buah kuesioner yang terdiri
dari 51 pernyataan. Tidak ada jawaban yang salah, setiap orang dapat mempunyai
jawaban yang berbeda, karena itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri
Anda dengan sejujur-jujurnya tanpa mendiskusikan dengan orang lain. Semua jawaban dan identitas Anda akan dijaga kerahasiaannya dan hanya
digunakan untuk keperluan penelitian ini saja.
Bantuan Anda dalam menjawab pernyataan dalam kuesioner ini adalah
bantuan yang sangat besar artinya bagi keberhasilan penelitian ini. Untuk itu saya
mengucapkan terimakasih.
Hormat Saya,
IDENTITAS PRIBADI
Nama :
Jenis Kelamin : L/P*
Usia :
Fakultas :
Semester :
Suku :
1. Apakah Anda pernah mengalami pengalaman langsung atau pernah berinteraksi dengan DPRD Kota Medan?
Jika Ya, mohon ceritakan apa dan bagaimana pengalaman Anda tersebut:
... ... ... ... ...
2. Apakah Anda termasuk dalam anggota organisasi kemahasiswaan? Jika Ya, silahkan tulis organisasi apa dan jabatan Anda dalam organisasi tersebut.
Misal: 1. PEMA, jabatan: Sekretaris Umum (Boleh lebih dari satu jawaban).
... ... ... ... ...
PETUNJUK PENGISIAN
Baca dan pahami baik – baik setiap pernyataan. Dalam kuesioner ini
DPRD yang dimaksud adalah DPRD Kota Medan. Di setiap pernyataan, Anda diminta untuk memilih salah satu pilihan berdasarkan keadaan diri Anda yang
sesungguhnya. Berilah tanda silang (X) pada salah satu pilihan Anda. Alternatif jawaban yang tersedia terdiri dari 4 pilihan, yaitu:
STS : bila pernyataan Sangat Tidak Sesuai dengankeadaan diri Anda
TS : bila pernyataan Tidak Sesuai dengan keadaan diri Anda
S : bila pernyataan Sesuai dengan keadaan diri Anda
SS : bila pernyataan Sangat Sesuai dengan keadaan diri Anda
Bila sudah selesai tolong periksa kembali jawaban anda, jangan sampai ada nomor yang terlewati.
Contoh:
No. PERNYATAAN STS TS S SS
1. Saya puas dengan kinerja DPRD Kota
Medan.
X
RAHASIA
No PERNYATAAN STS TS S SS
1 DPRD memiliki kualitas untuk mewakili
masyarakat kota Medan.
2 Saya puas dengan keseluruhan efisiensi
(kemampuan menjalankan tugas dengan
baik dan tepat) kerja DPRD.
3 Saya bisa menyampaikan keluhan saya
kepada DPRD.
4 Saya merasa DPRD transparan dalam
menyusun dan menetapkan anggaran
daerah (APBD).
5 DPRD peduli dengan kesejahteraan
masyarakat yang diwakilinya.
6 Dalam melakukan pengawasan terhadap
lembaga eksekutif (Kepala Daerah, Wakil
Kepala Daerah beserta perangkat daerah),
DPRD mendengar keluhan yang
disampaikan oleh masyarakat.
7 Anggaran daerah (APBD) yang disusun
dan ditetapkan oleh DPRD mengutamakan
kebutuhan masyarakat yang diwakilinya.
8 DPRD memiliki komitmen dalam
No PERNYATAAN STS TS S SS
9 Saya merasa DPRD konsisten antara
perkataan dan tindakannya.
10 Saya merasa terwakili oleh DPRD.
11 DPRD memiliki kualitas dalam melakukan
pengawasan terhadap pengelolaan
pembangunan daerah.
12 DPRD memiliki kemampuan dalam
menentukan anggaran daerah (APBD).
13 DPRD memiliki kemampuan dalam
menyusun dan menetapkan Peraturan
daerah (Perda) yang mencerminkan
kebutuhan daerah kota Medan.
14 Saya bisa menyampaikan keluhan atau
aspirasi saya jika ada yang tidak sesuai dari
kinerja pengawasan DPRD terhadap
lembaga eksekutif (Kepala Daerah, Wakil
Kepala Daerah beserta perangkat daerah).
15 DPRD melakukan pengawasan terhadap
lembaga eksekutif (Kepala Daerah, Wakil
Kepala Daerah beserta perangkat daerah)
karena peduli dengan keterwakilan
masyarakat.
16 DPRD tulus dalam upayanya untuk
No PERNYATAAN STS TS S SS
17 Saya puas dengan efisiensi kinerja DPRD
dalam mewujudkan suasana pemerintahan
daerah yang transparan.
18 Saya bisa menyampaikan keluhan atau
aspirasi saya jika ada yang tidak sesuai dari
mekanisme penyusunan dan penetapan
Peraturan daerah (Perda) kota Medan.
19 DPRD memiliki kualitas dalam
mewujudkan suasana pemerintahan daerah
yang transparan.
20 DPRD mendengarkan aspirasi dan keluhan
dari masyarakat.
21 Saya bisa menyampaikan keluhan atau
aspirasi saya jika ada ketidaksusaian antara
kondisi kemampuan keuangan daerah
dengan output (keluaran) kinerja pelayanan
masyarakat.
22 DPRD mengutamakan transparansi
mengenai Peraturan daerah (Perda) kepada
semua masyarakat.
23 Saya puas dengan efisiensi Peraturan
daerah (Perda) yang disusun dan ditetapkan
No PERNYATAAN STS TS S SS
24 DPRD mengutamakan akuntabilitas
(memberikan pertanggung jawaban)
mengenai Peraturan daerah (Perda) kepada
semua masyarakat.
25 DPRD memiliki kualitas dalam menyusun
dan menetapkan Perda yang mencerminkan
aspirasi masyarakat.
26 Saya menerima informasi yang memadai
mengenai bagaimana hasil pelaksanaan
pengawasan yang dilakukan oleh DPRD.
27 Nilai yang diterapkan oleh DPRD sama
dengan nilai yang saya pegang.
28 Saya puas dengan efisiensi Peraturan
daerah (Perda) yang telah mampu
menampung aspirasi masyarakat.
29 Saya merasa DPRD transparan dalam
melakukan pengawasan terhadap
pemerintah daerah kota medan.
30 DPRD memiliki kualitas dalam menyusun
dan menetapkan Perda yang mencerminkan
tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
31 DPRD memiliki komitmen dalam
melakukan pengawasan terhadap
No PERNYATAAN STS TS S SS
32 Saya puas dengan efisiensi kinerja DPRD
dalam menetapkan anggaran daerah
(APBD) yang sesuai dengan kebutuhan
daerah.
33 Saya menerima informasi yang memadai
mengenai bagaimana hasil evaluasi
Peraturan daerah (Perda) kota Medan.
34 Fungsi pengawasan yang dijalankan oleh
DPRD sesuai dengan nilai yang saya
pegang.
35 Saya menerima informasi yang memadai
mengenai hasil evaluasi keefektifan dan
keefisienan dari anggaran belanja daerah
(APBD).
36 DPRD memiliki komitmen mengenai
tranparansi Peraturan daerah (Perda).
37 Peraturan daerah (Perda) yang disusun dan
ditetapkan oleh DPRD sesuai dengan nilai
yang saya pegang.
38 DPRD memiliki komitmen dalam
pembuatan anggaran daerah (APBD).
39 DPRD memiliki kualitas dalam
No PERNYATAAN STS TS S SS
40 DPRD memiliki kemampuan mewakili
masyarakat kota Medan.
41 Dalam melakukan pengawasan, perilaku
DPRD sesuai dengan apa yang mereka
katakan.
42 Saya puas dengan kemampuan DPRD
dalam melakukan pengawasan terhadap
pengelolaan pembangunan daerah.
43 DPRD menunjukkan perilaku yang
konsisten dari hari ke hari.
44 DPRD memiliki kemampuan dalam
melakukan pengawasan terhadap
pengelolaan pembangunan daerah.
45 Perilaku DPRD sesuai dengan apa yang
mereka katakan.
46 Saya rasa nilai yang diterapkan oleh DPRD
dalam menyusun dan menetapkan anggaran
belanja daerah (APBD) sama dengan nilai
yang saya pegang.
47 Anggaran daerah (APBD) yang disusun
dan ditetapkan oleh DPRD mengutamakan
48 Saya puas dengan kemampuan DPRD
dalam menyusun dan menetapkan
Peraturan daerah (Perda).
49 Saya puas dengan efisiensi kinerja
pengawasan DPRD dalam hal pengelolaan
pembangunan daerah.
50 Saya rasa nilai yang diterapkan oleh DPRD
dalam menjalankan anggaran (APBD)
sama dengan nilai yang saya pegang.
51 Saya rasa DPRD menjaga kepercayaan
masyarakat.
MOHON PERIKSA KEMBALI JAWABAN ANDA, PASTIKAN TIDAK ADA JAWABAN YANG KOSONG