JURNAL MANAJEMEN PERKANTORAN
Judul : Delegasi dan Rentang Kendali Flight Department Leaders Dibuat oleh : Ghany Razaq Hergantara
Jurusan : Administrasi Niaga
Program Studi D3 Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bandung
ABSTRAK
Di zaman globalisasi sekarang ini tentunya tidak aneh akan istilah pesawat terbang, hal ini merupakan perwujudan dari perkembangan teknologi globalisasi di bidang transportasi. Akan tetapi pada kenyataannya, proses dari pelayanan transportasi pesawat terbang tidak semuanya berjalan secara lancar. Banyak terjadi inisiden yang mengakibatkan timbulnya kekecewaan penumpang pesawat terhadap maskapai pesawat terbang atau perusahaan penerbangan, insiden yang sering terjadi adalah delay keberangkatan pesawat terbang yang efeknya membuat penumpang harus menunggu dalam kurun waktu yang cukup lama bahkan ada yang sampai berhari-hari. Dan tentunya karena ada kejadian seperti maka resiko terakhirnya adalah kerugian yang dialami oleh pihak perusahaan penerbangan yang disebabkan oleh turunnya minat kepada perusahaan penerbangan dan juga tuntutan dari penumpang yang diajukan kepada perusahaan penerbangan. Semua masalah tersebut tentunya tidak terlepas dari kurang cakapnya dan juga cepatnya proses operasional yang dijalankan oleh pihak-pihak yang terdapat dalam perusahaan penerbangan atau sistem manajemen dari perusahaan penerbangan, seperti kurangnya sumber daya manusia yang bekerja dalam perusahaan yang bersangkutan ataupun tidak sebandingya jumlah manajemen dengan jumlah staff atau bawahan. Oleh karena itu pembahasan jurnal ini akan membahas tentang delegasi dan juga rentang kendali yang terdapat dalam departemen penerbangan yang merupakan inti dari perusahaan penerbangan. Metode penelitian yang saya gunakan untuk menghimpun materi adalah metode studi pustaka, dengan cara mencari literatur dari sumber-sumber yang terkini. Dan hasil dari pembahasan dalam jurnal ini diantaranya adalah bentuk pendelegasian wewenang dari aviation manager kepada maintenance manager dan chief pilot, lalu dari chief pilot kepada pilot dan pramugari, dan yang terakhir adalah delegasi wewenang dari maintenance manager kepada ketua teknisi. Dan juga didapati bahwa rentang kendali dari sebuah departemen penerbangan PT Garuda Indonesia dengan perbandingan 28 : 851 ( 28 orang chief pilots dan 851 orang pilot ).
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Perusahaan penerbangan, seperti PT. Garuda Indonesia, ataupun perusahaan penerbangan yang lain, tentunya diperlukan peran pihak-pihak yang bertugas sebagai pemimpin, koordinator, pengendali, dan lain sebagainya, yang mana semua aktivitas tesebut tercakup dalam kegiatan manajemen. Secara umum banyak dari CEO perusahaan penerbangan melakukan delegasi wewenang kepada departemen-departemen yang terdapat di suatu perusahaan penerbangan, dan salah satunya yang paling berpengaruh dalam kemajuan perusahaan penerbangan adalah departemen penerbangan, yang mana departemen tersebut merupakan jantung perusahaan penerbangan.
Mengetahui bahwa, perusahaan penerbangan merupakan perusahaan dengan komplektisitas dan proporsi spesialisasi dengan tingkatan yang tinggi, maka memperkerjakan individu yang cocok dalam melakukan aktivitas manajemen merupakan langkah awal dari pembentukan departemen penerbangan yang baik. Untuk membentuk kelancaran dalam memulai kinerja sebuah departemen penerbangan diperlukan seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan tinggi dan juga berpengalaman di dunia penerbangan. Akan tetapi sebaliknya, apabila sebuah departemen penerbangan dipimpin oleh seseorang yang minim pengalaman akan hal penerbangan dan dia diberikan tugas membentuk system operasi, memiliki tanggung jawab untuk membeli pesawat terbang, dan memperkerjakan karyawan, maka dia akan mudah melewatkan beberapa aspek-aspek penting yang wajib disertakan dalam operasi departemen penerbangan.
Di samping memperkerjakan orang yang tepat, untuk bisa mencapai kesuksesan dalam bisnis penerbangan yaitu diperlukan pembagian tugas ( job description ) yang jelas serta sistematis. Pada umumnya
pembagian tugas ini diwujudkan sebagai struktur organisasi dan konsep dari struktur organisasi itu sendiri memiliki suatu istilah
yang disebut “rentang kendali”.
Metode Penelitian
Metode penelitian studi pustaka ini saya gunakan dalam rangka mencari bahan pembahasan untuk jurnal ini guna memberikan hasil penelitian dengan focus rentang kendali departemen penerbangan, yaitu dengan cara mencari literatur atau sumber materi dari buku-buku yang up to date.
PENGERTIAN DELEGASI DAN
RENTANG KENDALI
Delegasi adalah tindakan yang berupa pelimpahan hak untuk bekerja atau melakukan aktivitas yang ditujukan bagi orang lain sesuai dengan keinginan pihak pemberi wewenang. Selain itu juga terdapat beberapa ahli yang mengungkapkan tentang pengertian delegasi wewenang, diantaranya : Menurut James, A.F. Stoner Pendelegasian wewenang adalah kepercayaan ataupun tugas yang diberikan dari atasan kepada organisasi atau perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab atasan yang bersangkutan. (1996) ; Ralph C. Davis berpendapat bahwa Delegasi adalah proses penyerahan wewenang atau tugas sebagai bentuk pelepasan kedudukan demi melaksanakan tanggung jawab.
Sedangkan rentang kendali memiliki pengertian yakni, kemampuan pemimpin untuk melakukan kinerjanya secara efektif dan efisien dengan mengendalikan sejumlah bawahan atau dalam arti kata lain
“ideal”.
KONSEPSI DELEGASI WEWENANG Meskipun konsep dari pendelegasian wewenang merupakan penyerahan tanggung jawab yang diperoleh bawahan dari atasan, akan tetapi tanggung jawab tertinggi tetap dipegang oleh pimpinan yang memberikan wewenangnya kepada bawahan. Maka agar pelaksanaan tugas dapat berlangsung sesuai dengan keinginan yang dikehendaki oleh pimpinan, seorang pimpinan haruslah memastikan bahwa wewenang pelaksanaan tugas yang
dimandatkan kepada bawahan untuk melaksanakan pekerjaan itu cukup dan pimpinan tersebut juga perlu memberi arahan pada bawahannya tentang bagaimana dirinya menggunakan wewenang tersebut untuk diimplementasikan dalam pekerjaan. Berikut konsepsi delegasi wewenang secara umum :
1. Pemberian tugas dari pimpinan kepada bawahan atau staff.
2. Menstimulasi seorang atau sekelompok bawahan agar bertindak sesuai dengan batas yang dikehendaki pemimpin.
3. Memaksimalkan pekerjaan dari bawahan.
4. Mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan.
Akan tetapi dalam melakukan pendelegasian wewenang, seorang pimpinan perlu mengetahui kemampuan dan juga faktor kesiapan dari bawahan atau staff yang akan diserahi wewenang, karena hal ini dapat menyangkut resiko akhir dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh bawahan. Berikut adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan pimpinan dalam memberikan wewenangnya pada bawahan : 1. Kecakapan bawahan dalam
melaksanakan pekerjaan.
2. Kepercayaan pimpinan terhadap bawahan.
3. Tingkat ego pimpinan terhadap bawahan.
4. Kesiapan bawahan dalam menerima wewenang dari pimpinan dan melaksanakannya.
Dalam pelaksanaannya, pendelegasian wewenang yang baik haruslah memerhatikan beberapa hal yang dinilai dapat melancarkan jalannya pekerjaan dan juga tercapainya tujuan, beberapa hal tersebut diantaranya adalah :
wewenang yang diberikan oleh pimpinan.
2. Penggunaan standar, batasa, dan juga pekerjaan harus diuraikan secara garis besar.
3. Tidak menekan atau mengikat bawahan dalam mengembangkan inisiatif dan juga melaksanakan pekerjaaanya.
4. Pengawasan yang dilakukan secara berkala.
5. Melakukan rapat kecil terkait dengan gagasan yang diajukan oleh bawahan.
6. Memberikan kepercayaan pada bawahan tanpa mengurangi tingkat pengawasan.
7. Ajukan saran-saran yang bersigat membangun apabila terdapat kesalahan terhadap apa yang dilakukan oleh bawahan.
Pendelegasian wewenang tidak hanya terdapat pada manajemen level bawah saja, akan tetapi pendelegasian wewenang juga terdapat pada manajemen level tinggi dari sebuah perusahaan. Dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi derajat dari pendelegasian wewenang adalah sebagai berikut :
1. Semakin tinggi keputusan yang dibuat terhadap suatu tindakan, maka semakin besar pula bahwa keputusan tersebut ditangani oleh manajemen level tinggi ( BIAYA KEPUTUSAN ).
2. Tingkatan akan kebutuhan desentralisasi ditentukan oleh besarnya kebutuhan akan kebijakan standar ( STANDARISASI KEBIJAKAN ).
3. Adanya diskusi-diskusi atau dialog ilmiah dan juga terbuka sebagai tindakan pemecahan atas kecenderungan budaya perusahaan yang telah lama dipertahankan meskipun budaya atau kebiasaan tersebut disadari merupakan kebiasanaa yang kurang tepat untuk
dilaksanakan. ( HISTORIS ORGANISASI ).
4. Pengembangan sumber daya manusia pada level pimpinan sebagai upaya pemecahan dari sedikitnya jumlah pimpinan operatif ( level menegah dan bawah ) yang akan berdampak pada sedikitnya jumlah desentralisasi wewenang dalam sebuah perusahaan ( KETERSEDIAAN
PIMPINAN YANG
BERKUALITAS ).
5. Pembagian pusat kekuasaan dan juga desentralisasi wewenang pada level manajemen sebagai upaya untuk memecahkan masalah keterlambatan pengambilan keputusan yang disebabkan ooleh besarnya organisasi dan tingginya komplektisitas aktivitas yang terdapat dalam organisasi tersebut. ( UKURAN ORGANISASI ). 6. Seorang pimpinan akan lebih
mudah melakukan pendelegasian wewenang pada bawahannya apabila tingkat pengendalian dan pengawasan yang dilakukan terhadap bawahan tidak terlalu tinggi atau dalam arti kata lain terbilang mudah ( SISTEM PENGAWASAN ).
bawahan sedangkah untuk pekerjaan yang bersifat mekanis , seorang pemimpin idealnya memimpin 12-30 orang bawahan. Akan tetapi pada dasarnya baik atau tidaknya pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan tergantung pada motivasi dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pimpinan. Perlu diketahui bahwa rentang kendali dibutuhkan oleh sebuah perusahaan
karena terdapat keterbatasan atau “limit factors”. Keterbatasan-keterbatasan tersebut diantaranya adalah :
1. Seorang pemimpin memiliki waktu yang terbatas artinya dalam satu waktu pemimpin memiliki tugas yang beraneka ragam sehingga pemimpin membutuhkan bawahan untuk melakukan apa yang diinstruksikan oleh pemimpin ( KETERBATASAN WAKTU ). 2. Seorang pemimpin tidak semuanya
memiliki kemampuan atau pengetahuan secara menyeluruh tentang perusahaannya dan untuk itu pemimpin perlu mendelegasikan pekerjaannya kepada bawahan ( KETERBATASAN
PENGETAHUAN ).
3. Seorang pemimpin juga memiliki Batasan terhadap kemampuan yang dia miliki dalam mengendalikan bawahannya, oleh karena itu perlu adanya standar jumlah bawahan yang dapat dikendalikan oleh seorang pemimpin. ( KETERBATASAN
KEMAMPUAN ).
4. Seorang pemimpin perlu melakukan pengawasan dan perhatian terhadap bawahannya secara efektif dan efisien akan tetapi apabila jumalh bawahan yang diawasi pemimpin terlalu banyak maka pemimpin tersebut tidak akan bisa mengawasi dan memberikan perhatian kepada bawahannya secara efektif, oleh karena itu perlu adanya pembatasan jumlah karyawan yang di bawahi oleh
seorang pemimpin. (KETERBATAS PERHATIAN ). Dalam perkembangan sebuah perusahaan, maka akan terdapat peningkatan jumlah karyawan pula, oleh karena itu sebuah perusahaan harus menentukan jenis rentang kendali yang cocok dengan jumlah karyawan dan juga kemampuan manajemen perusahaan tersebut. Berikut adalah jenis-jenis dari rentang kendali :
1. Rentang Kendali Sempit
Alasan digunakannya rentang kendali menyempit adalah karena hierarki dari struktur perusahaan yang masih sederhana dan tidak terlalu rumit sehingga penyebaran arus informasi dan juga komando dari atasan kepada bawahan masih terbilang mudah dan sederhana, sehingga jenis rentang kendali ini lebih cocok digunakan pada perusahaan yang berskala kecil yang memiliki kondisi manajemen yang masih sederhana. Dan hal ini juga bisa meningkatkan moral dan produktivitas karyawan.
2. Rentang Kendali Lebar
Alasan digunakannya rentang kendali melebar adalah karena tingkat hierarki yang dimiliki oleh perusahaan cenderung tinggi dan hal ini tentunya akan memperlambat arus informasi dan juga komando dari atasan kepada bawahan sehingga semakin kompleks arus penyebaran informasi maka akan semakin besar pula resiko terjadinya penyimpangan atau distortion, oleh karena itu perusahaan perlu mengatur rentang kendalinya secara melebar agar perputaran arus informasi dapat terkendalikan. 3. Rentang Kendali Campuran
ketidakefektifan kinerja dari pimpinan yang disebabkan karena terlalu lebarnya rentang kendali yang dimiliki.
Dalam menentukan ukuran rentan kendali yang tepat bagi seorang pemimpin, terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi faktor umum dan faktor spesifik.
1. Faktor Umum
• Rentang kendali akan semakin melebar apabila fungsi-fungsi kerja yang dilaksanakan oleh sekelompok pekerja merupakan sejenis. (Kesamaan Fungsi). • Rentang kendali akan
melebar jika kelompok kerja yang dibentuk oleh pemimpin ditempatkan secara dekat dalam konteks fisik (Kedekatan Geografis).
• Jika pengawasan langsung yang dibutuhkan oleh pemimpin semakin sedikit maka rentang kendali akan melebar ( Tingkat
Pengawasan yang
Dibutuhkan).
• Apabila koordinasi yang diperlukan semakin sedikit maka rentang kendali yang dibutuhkan semakin melebar (Tingkat
Koordinasi yang
Dibutuhkan).
• Apabila bantuan organisasional yang dibutuhkan pengawas semakin besar maka rentang kendali akan melebar (Kebutuhan Bantuan Organisasional).
2. Faktor Spesifik
Faktor spesifik terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah :
• Faktor Situasi ✓ Tugas rutin ✓ Tugas sejenis ✓ Kegiatan
operasional stabil ✓ Tingkat
ketergantungan ✓ Prosedur kerja ✓ Tingkat pengawasan • Faktor Bawahan
✓ Kemampuan
bawahan dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. ✓ Tingkat pengawasan
rendah yang sesuai dengan kondisi pekerja untuk mengembangkan inisiatif.
• Faktor Atasan ✓ Kemampuan
kepemimpinan yang dimiliki oleh manajer.
✓ Bantuan yang diterima oleh manajer dalam pelaksanaan
kegiatan.
✓ Kegiatan tambahan yang dimiliki oleh seorang manajer dalam manajer lebih menyukai
PENGERTIAN DAN KONSEPSI DEPARTEMEN PENERBANGAN Departemen penerbangan adalah salah satu dari departemen perusahaan pesawat terbang, yang mana basis kegiatan dari departemen ini adalah kegiatan yang bersifat teknis dan juga pelayanan kepada konsumen, dalam arti kata lain, departemen penerbangan adalah departemen yang menjalankan fungsi utama dari sebuah perusahaan pesawat terbang. Berikut adalah kegiatan utama yang dilakukan oleh departemen penerbangan :
1. Membuat produk dan menjualnya. 2. Memasarkan produk yang telah
diproduksi.
3. Mencari konsumen yang hendak menggunakan produk.
4. Memiliki kompensasi untuk setiap produk yang dijual.
5. Mengontrol segala aspek perusahaan
6. Merespon dan mengantisipasi permintaan dan tren pasar.
Departemen penerbangan dapat dikatakan sukses apabila, manajer dari departemen penerbangan bertingkah selayaknya seorang pebisnis yang menjalankan bisnisnya sendiri dengan mengutamakan pelayanan dan juga tenaga kerja yang terdapat di dalam departemen penerbangan. Selain hal tersebut, untuk menggapai tujuan dari perusahaan, maka sumber daya manusia yang terdapat di dalam departemen penerbangan haruslah memiliki visi yang sama sehingga dalam pelaksanaan kerjanya dapat berjalan secara selaras antara bawahan dan juga atasan. Dalam hal ini haruslah terdapat visi yang terbentuk dalam departemen penerbangan ini, yang mana visi tersebut harus simple, focus, dan realistik. Dan visi ini juga harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut departemen penerbangan, seperti :
1. Bagaimana departemen ini ingin dilihat oleh departemen lain dan juga oleh perusahaan secara umum?
2. Dimanakah departemen ini ditempatkan di dalam perusahaan ? 3. Apakah cita-cita atau mimpi yang
diidamkan oleh departemen penerbangan ini?
4. Kemanakah arah tujuan departemen dibentuk ?
5. Apakah tujuan utama dibentuknya departemen ?
6. Reputasi apakah yang akan dikembangkan oleh departemen? 7. Posisi apakah yang diinginkan
departemen untuk berada di dalam perusahaan penerbangannya ? 8. Apa sajakah standar yang
diinginkan oleh departemen penerbangan untuk digunakan dalam pelaksanaan kegiatan teknis dan juga operasionalnya ?
Dalam realita kehidupan organisasi tidak ada departemen yang terlalu kecil untuk memiliki sebuah visi demi kelancaran tujuannya. Tanpa adanya sebuah visi maka para bawahan akan menggunakan standard an juga nilai pekerjaan masing-masing dan mereka tidak akan pernah bisa bekerja sama dan juga tidak memiliki tujuan yang sama. Dan hal ini juga mempengaruhi hubungan antara atasan dan juga bawahan karena jika visi yan telah ditetapkan oleh atasan sesuai dengan apa yang dikehendaki bawahan maka hubungan harmonis antara atasan dan juga bawahan akan terjalin dengan sangat baik sehingga pelimpahan tugas dari atasan kepada bawahan juga terlaksana secara baik dan sesuai dengan prosedur yang berlaku di perusahaan. Oleh karena itu isi sebagai sebuah gambaran dari takdir departemen sangatlah diperlukan sebelum perencanaan tugas dibuat.
Mengacu pada lokasi dan juga komplektisitas teknis yang dimiliki oleh departemen penerbangan, pada umumnya departemen penerbangan adalah organisasi semi otonom. Bagaimanapun, hubungan yang kuat antara departemen penerbangan dengan perusahaan induk haruslah terjalin kuat, hal ini ditujukan agar tujuan dari departemen penerbangan dapat terpenuhi. Organisasi dari departemen penerbangan haruslah bersifat datar dan juga fungsional. Maksudnya adalah bidang administrasi, maintenance, dan operasional yang merupakan tiga fungsi dasar ini harus dipersembahkan oleh pihak-pihak inti.dan hubungan dari ketiga fungsi dasar tersebut diharuskan terjalin secara dekat.
Dalam konteks organisasional departemen penerbangan ini pada umumnya terbagi menjadi dua bentuk, yakni :
1. Departemen Penerbangan Kecil Di dalam departemen penerbangan tipe ini, tidak diperlukan seorang manajer penerbangan, melainkan yang berperan sebagai pihak yang mengatur jalannya keseluruhan kegiatan operasional dari departemen penerbangan ini adalah seorang ketua pilot. Tipe departemen penerbangan seperti ini biasa terdapat pada perusahaan penerbangan tunggal. Dan untuk selanjutnya peran ketua pilot adalah sebagai pemberi laporan kepada chief executive officer (CEO) akan hasil dari keseluruhan kegiatan operasional yang terjadi di departemen penerbangan. Di dalam departemen tipe ini juga tidak didapati adanya teknisi maintenance penerbangan. Melainkan hanya terdapat teknisi umum dan juga jajaran pilot sebagai bawahan dari ketua pilot dan dalam melaksanakan kinerjanya, ketua pilot dibantu oleh bagian administrasi.
2. Departemen Penerbangan Besar
Dalam konteks departemen penerbangan yang lebih besar, terdapat jabatan manajer penerbangan yang ditunjuk untuk menjalankan poin utama dari kegiatan operasional penerbangan dan juga memasok sebagian besar ahli administrasi dan keuangan untuk departemen. Sedangkan peran dari ketua pilot berbeda dengan apa yang ada pada departemen penerbangan dengan tipe kecil. Di dalam departemen penerbangan tipe besar ini, ketua pilot berperan sebagai penyedia ahli operasional dan juga mewakili kepentingan dari jajaran pilot serta pramugari. Secara khas, ketua pilot juga berperan sebagai komando pusat dari para pilot yang ditugaskan pada satu atau lebih pesawat terbang. Berbeda dengan departemen penerbangan kecil, departemen penerbangan tipe besar memiliki manajer maintenance yang memiliki peran mendemonstrasikan keahlian kepemimpinan, administrasi, dan manajerial agar setiap segmen dari organisasional departemen penerbangan tipe ini dapat beroperasi secara efektif dan efisien. Meskipun manajer maintenance ini tetap dikategorikan sebagai teknis yang handal, akan tetapi mereka tidak selalu terlibat secara langsung dalam kegiatan maintenance dan tugas inspeksi yang sebenernya di dalam departemen penerbangan tipe besar. Selain itu juga terdapat safety manager dalam departemen tipe ini yang bertugas untuk memberikan segala bentuk laporan kepada kepala departemen.
STRUKTUR ORGANISASIONAL
1. Departemen tipe kecil
2. Departemen tipe besar TEKNISI
REPORTING SENIOR
KETUA PILOT MANAJER
KEAMANAN
KETUA INSPEKSI
PRAMUGARI MANAJER
KEAMANAN
PILOT ADMINISTRASI
KETUA PILOT
MAINTENANCE MANAGER
MANAJER PENERBANGAN
ADMINISTRASI MANAJER
KEAMANAN
SCHEDULER
TEKNISI
PILOT
KETUA TEKNISI
RUANG LINGKUP KEGIATAN DEPARTEMEN PENERBANGAN
1. MAINTENANCE
Di dalam perusahaan penerbangan tunggal, tanggung jawab akan maintenance dan inspeksi dilakukan oleh pemilik perusahaan atau chief pilot dari departemen penerbangan. Chief pilot atau pemilik dari perusahaan pada umumnya dijalankan oleh satu orang, dan orang tersebut bertanggung jawab penuh untuk menguji kelayakan penerbangan dari perusahaan pesawat terbang. Banyak pilot dari perusahaan pesawat terbang berupaya untuk memindahkan tanggung jawab dengan tujuan memastikan bahwa pesawat terbang telah teruji kelayakannya kepada vendor pesawat. Bagaimanapun hal ini bukanlah tugas dari vendor untuk menguji kelayakan terbang pesawat terbang, melainkan hal ini adalah tugas dari pemilik perusahaan yang harus memastikan bahwa pekerjaan bagian maintenance dan inspeksi dapat berjalan secara lancar.
2. ADMINISTRASI
Kegiatan administrasi di dalam departemen penerbangan sangat tergantung pada penciptaan prosedur administrasi oleh kepala departemen atau kepala perusahaan. Jika sebuah prosedur relevan ada di dalam perusahaan induk, maka hal ini haruslah diprioritaskan terlebih dahulu daripada membentuk jajaran ad hoc. Bagaimanapun, jika prosedur yang dibuat tidak pantas untuk diterapkan dalam departemen penerbangan, maka harus ada langkah cepat untuk mengubah prosedur yang bermasalah. Caranya adalah dengan bertanya dan juga melakukan pendekatan terhadap orang atau pihak yang
bertanggung jawab terhadap prosedur operasional. Untuk mencapai tujuan tersebut juga bisa dengan mengadakan consensus, yaitu manajer meminta argument kepada para bawahan ataupun pihak penting lain dalam departemen terkait dengan prosedur yang akan diterapkan di dalam departemen. 3. MANAJEMEN
Dalam konteks kepemimpinan, sebuah manajemen perusahaan penerbangan menyediakan keseluruhan personil atau tenaga kerja serta pelayanan yang diperlukan, dalam arti kata lain system manajemen membawahi langsung para personil dari sebuah perusahaan atau departemen. Sistem manajemen dari perusahaan penerbangan membiayai biaya bulanan dan juga personil, pelatihan, operasi dasar, penjadwalan penumpang, operasi perawatan. Manajemen dari departemen penerbangan juga berfungsi untuk mengontrol kebijakan, prosedur kerja, biaya keluar, kualitas kerja yang dilakukan oleh staff atau bawahan secara desentralisasi tugas.
4. SAFETY PROGRAMS
dari departemen penerbangan. Dalam konteks penentuan standar keamanan terbang yang berfokus pada penumpang pesawat terbang adalah dengan cara menerima laporan dari pilot senior serta mekanik terkait ketidakamanan operasi penerbangan. Dan tentunya hal ini juga harus didukung oleh keseluruhan staff yang pada prakteknya diwujudkan dalam bentuk pendelegasian dari seorang safety manager kepada bawahan seperti teknisi dan juga pilot.
PERWUJUDAN PENDELEGASIAN
WEWENANG DALAM
DEPARTEMEN PENERBANGAN
1. Departemen Penerbangan Kecil Seperti yang sudah tertera dalam struktur organisasi dari departemen penerbangan kecil, dapat diambil pengertian bahwa di dalam struktur tersebut terdapat bentuk pendelegasian wewenang dari atasan kepada bawahan, contohnya adalah : pendelegasian wewenang dari chief executive officer (CEO) kepada ketua pilot dalam bentuk pemberian akses langsung dari CEO kepada ketua pilot akan pengawasan terhadap teknisi dan juga jajaran pilot dalam hal kinerja, kontrak tenaga kerja, pengangkatan tenaga kerja, serta pelayanan terhadap pelanggan atau penumpang.
2. Departemen Penerbangan Besar Selayaknya departemen penerbangan kecil, departemen penerbangan tipe besar juga tentunya memiliki sistem pendelegasian wewenang juga, akan tetapi sistem pendelegasian wewenang dalam deparetemen penerbangan tipe besar lebih kompleks dibandingkan dengan departemen penerbangan tipe kecil. Di dalam departemen penerbangan
tipe besar yang mengacu kepada struktur organisasinya, terdapat tiga sistem pendelegasian wewenang diantaranya adalah :
• Reporting Senior kepada Aviation Manager
Bentuk pendelegasian ini diwujudkan dalam penugasan dari reporting senior kepada aviation
manager untuk
menjalankan poin vital dari operasi penerbangan serta mensupply sumber daya manusia dalam hal administrasi dan juga keuangan.
• Ketua Pilot kepada Pilot dan Pramugari
Bentuk pendelegasian dari ketua pilot kepada pramugari adalah dengan cara menugaskan pilot dan juga pramugari untuk melakukan penerbangan dan juga pelayanan terhadap penumpang, selain itu pilot juga diminta untuk memberikan laporan terkait keamanan penerbangan sebagai bahan bagi ketua pilot untuk memberikan laporan keamanan penerbangan kepada safety manager.
• Maintenance Manager kepada Lead Technicians Pendelegasian wewenang dari maintenance manager kepada lead technicians adalah dalam wujud penyerahan tugas teknisi, kepemimpinan yang sebelumnya
dengan dibantu oleh para technicians yang
merupakan bawahan dari lead technicians.
PERWUJUDAN RENTANG KENDALI
DALAM DEPARTEMEN
PENERBANGAN
Pada pembahasan topik ini akan terfokus pada satu sampel rentang kendali, yaitu rentang kendali chief pilot terhadap pilot dan pramugari.
Pada umumnya bisnis penerbangan membtuhkan lebih dari dua pilot untuk skala penerbangan domestik perharinya, hal ini dimaksudkan agar penerbangan yang berjalan akan terlaksana secara aman dan juga kegiatan operasional berjalan lancar. Biasanya perusahaan penerbangan menggunakan tiga pilot untuk ditugaskan terbang perharinya. Karena jika suatu waktu pilot yang bersangkutan tengah mengalami kejadian yang tak terduga dia bisa digantikan oleh dua rekan yang lain. Seseorang yang sangat penting menjalankan tugasnya untuk mengkoordinir dan juga mengatur sirkulasi jumlah pilot perharinya adalah seorang chief pilot, dan jumlah dari chief pilot ini sendiri haruslah sesuai dengan teori rentang kendali yang sebelumnya telah dijelaskan yaitu untuk pekerjaan yang menyangkut fisik, wajarnya seorang pimpinan atau ketua membawahi 12-30 orang bawahan. Jadi, pada intinya perbandigan antara chief pilot dengan pilot haruslah 1:30. Karena jika jumlah chief pilot tidak sebanding dengan jumlah pilot, maka kinerja chief pilot pun tidak akan terlaksana secara efektif dan efisien, sehingga dapat mengganggu kelancaran kegiatan operasi penerbangan, dan biasanya hal inilah salah satu penyebab insiden delay atau keterlambatan keberangkatan pesawat terbang. Dan resiko terakhir dari kejadian ini adalah kecewanya penumpang maskapai dan akan menyebabkan degradasi jumlah penumpang pesawat terbang per tahunnya. Berikut adalah contoh tabel perhitungan jumlah pilot yang dibutuhkan pertahunnya dalam hitungan hari :
Jadi, dapat diambil kesimpulan dari perhitungan diatas bahwa jumlah pramugari yang dibutuhkan dalam setiap
hari nya adalah 1:4 dari setiap pilot = 28 orang pramugari setiap harinya, jadi total pilot dan juga pramugari yang dibawahi oleh seorang chief pilot adalah 35 orang. Dan jumlah tersebut masih tergolong dalam jumlah wajar rentang kendali dengan kategori pekerjaan fisik. Berikut adalah contoh kasus rentang kendali yang ada pada PT Garuda Indonesia :
Deskripsi
Perhitungan Total
Jumlah pilot yang dibutuhkan
perhari
Seperti yang dilansir pada berita harian (Kompas.com , 24/8/2010) bahwa jumlah pilot dari PT Garuda Indonesia termasuk dalam jumlah yang terbilang massive yaitu 851 pilot, maka dapat diambil kesimpulan bahwa chief pilot yang dibutuhkan PT Garuda Indonesia adalah 1:30 dari 851 pilot yaitu sekitar 28 orang chief pilot.
KESIMPULAN
Jadi untuk memnentukan keberhasilan dan juga kelancaran perusahaan penerbangan dalam mencapai tujuan diperlukan peran dari departemen penerbangan yang merupakan departemen inti yang bertanggung jawaba atas kegiatan operasional utama yang terdapat di dalam perusahaan penerbangan. Oleh karena itu juga diperlukan sumber daya manusia yang cakap dan juga cukup untuk menjalankan kegiatan operasional dalam departemen tersebut. Seperti pembagian delegasi wewenang yang sistematis dan juga desentralisasi rentang kendali yang sebanding, yaitu 1:30 orang atau 1 orang pimpinan wajarnya memimpin 30 orang bawahan ( pekerjaan fisik ) dan 1-12 orang (untuk pekerjaan yang bersifat pemikiran ) Di dalam departemen penerbangan ini sendiri dapat diambil sampel bahwa seorang chief pilot wajarnya memimpin 35 orang pilot.
DAFTAR PUSTAKA
Bibliography
Asmana, A. (2016, Mei). Rentang Manajemen. Retrieved from Legal and General Knowledge: ABI ASMANA LEGAL AND GENERAL KNOWLEDGE (
legalstudies71.blogspot.co.id/2016/0 5/rentang-manajemen-rentang-kendali.html
Chaniago, H. (2013). Manajemen Kantor Kontemporer. Bandung, Jawa Barat, Indonesia: CV Akbar Limas Perkasa.
Dewanty, E. D. (2017, Mei 5). Pengertian Rentang Kendali. Retrieved from https://erizkadd.wordpress.com/2017 /05/05/pengertian-rentang-kendali/
Sheehan, J. J. (2013). Business and Corporate Aviation Management. United States of America: Mc Graw Hill Education.
tulisanterkini. (n.d.). Pengertian Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab. Retrieved from tulisanterkini.com:
http://tulisanterkini.com/artikel/artik