• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telaah Isu Strategis Rancangan Peraturan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Telaah Isu Strategis Rancangan Peraturan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Telaah

Isu

Strategis

Rancangan

Peraturan Presiden Republik Indonesia

tentang Rencana Tata Ruang Kawasan

Strategis

Kawasan

Konservasi

Keanekaragaman Hayati (K3H) Teluk

Bintuni-Provinsi Papua Barat.

--Cagar Alam Teluk Bintuni, Supermarket kehidupan masyarakat—

Tiar Pandapotan Purba, ST, IAP1 | Ismail Husen ST2 Jakarta, Maret 2016

Background

Sebagaimana yang diamanatkan di dalam undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang pada pasal 8 ayat (3) dinyatakan bahwa pemerintah dalam hal ini kementerian agraria dan tata ruang memiliki wewenang dalam pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis nasional yang meliputi penetapan, perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang kawasan strategis nasional. Yang dimaksud dengan kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati (K3H) Teluk Bintuni merupakan salah satu kawasan strategis nasional dengan sudut kepentingan lingkungan hidup dan mendapat perhatian pemerintah untuk di susun rencana tata ruangnya.

Sebagai salah satu kawasan penting mangrove di Indonesia, K3H Teluk Bintuni mendapat perhatian

1 Tiar Pandapotan Purba, ST, IAP. Lahir dan besar di Kota Batam, saat ini berdomisili di Pamulang, Tangerang Selatan. Bekerja sebagai ahli urban and regional planning pada tim swakelola Kementerian agraria dan tata ruang, kegiatan penyempurnaan rancangan peraturan presiden rencana tata ruang kawasan strategis taman nasional lorentz dan K3H Teluk Bintuni, tahun 2015-2016. Email: [email protected]. Mobile: 081310418551. 2 Bekerja sebagai ahli geographic information system (GIS expert)

pada tim swakelola Kementerian agraria dan tata ruang, kegiatan penyempurnaan rancangan peraturan presiden rencana tata ruang kawasan strategis taman nasional lorentz dan K3H Teluk Bintuni, tahun 2015-2016. Email: [email protected]. Mobile: 087883628xxx.

dari berbagai elemen masyarakat nasional, regional dan internasional karena memiliki kekayaan keanekaragaman hayati mangrove yang tinggi (32 spesies) di Asia Tenggara bahkan dunia (FAO, 2007) dengan persentase sebesar 19% dari persebaran di negara lainnya sehingga berperan penting dalam ketersediaan carbon di dunia. Selain itu kawasan K3H Teluk Bintuni juga memiliki potensi alam bawah bumi berupa cadangan gas alam yang tinggi bagi dunia karena merupakan salah satu penghasil gas besar di Indonesia (selain Arun Aceh, Bontang Kaltim, dan Pulau Natuna). Berdasarkan BP Statistical Review of World Energy 2015, Indonesia memiliki cadangan gas alam terbesar ketiga di wilayah Asia Pasifik (after Australia and Tiongkok) dengan kontribusi 1,5% dari total cadangan gas dunia. Kemudian hasil hutan kegiatan Industri HPH pada K3H Teluk Bintuni sangat luas dan bernilai tinggi berupa kayu merbau yang terkenal dalam perdagangan dunia karena berkualitas tinggi dipergunakan pada berbagai konstruksi umum, eksterior, outdoor furniture dan lainnya. Selain itu, perhatian pada kawasan ini menjadi penting karena adanya cagar alam teluk bintuni yang telah ditetapkan melalui SK Menhut No. 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan kawasan hutan provinsi dan perairan papua dimana luas cagar alam teluk bintuni di tetapkan seluas 124.850 hektar. Dan sebagaimana diketahui bahwa proses eskalasi perubahan luas cagar alam teluk bintuni dimulai sejak tahun 1982, 1991 dan terakhir 1999 yang tak lepas dari adanya pengaruh potensi sumber daya alam hayati dan non hayati pada kawasan K3H teluk Bintuni.

(2)

sehingga memiliki ketergantungan yang tinggi dalam pembentukan kehidupan sehari-hari masyarakat. Potensi flora-nipah yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan papan dan berbagai fauna sebagai bahan pangan serta herbal membentuk siklus hidup kesaling-bergantungan antar ekosistem di dalamnya

Deliniasi KSN K3H Teluk Bintuni.

Sejak di libatkan di dalam pekerjaan ini, ahli mencermati bahwa belum ada definisi yang mantab terkait fisiografis teluk yang de facto pada kawasan penanganan. Memperhatikan berbagai dokumen yang dirilis oleh pemerintah dan lainnya terlihat ada dualisme nama pada teluk yakni teluk berau dan teluk bintuni. Namun pengkajian terhadap RTRW Kabupaten Fakfak pada rencana pola ruang disebutnyatakan bahwa teluk yang ada adalah teluk bintuni. Dan tidak disebutnyatakan bahwa ada teluk berau pada raperda maupun pada peta rencana struktur dan pola ruang. Sementara perda rencana tata ruang kabupaten sorong selatan ahli belum mendapatkan dokumen lengkap.

Pada tahun 2012 sewaktu kegiatan perancangan raperpres K3H Teluk Bintuni usulan deliniasi KSN menggunakan kriteria (i) batas administrasi sebagai polyline terluar; (ii) kriteria ecoregion teluk bintuni. Ekoregion sendiri menurut UU No. 32 Tahun 2009 telah mempertimbangkan beberapa kesamaan indikator seperti karakteristik bentang alam; daerah aliran sungai; iklim; flora dan fauna; sosial budaya; ekonomi; kelembagaan masyarakat; dan hasil inventarisasi lingkungan hidup. Oleh karenanya kriteria yang digunakan sudah tepat namun dalam kaidah analisis GIS-nya belum memenuhi hasil akhir sebagaimana mestinya.

Kemudian, pada tahun 2013 deliniasi KSN K3H berkembang-ubah mengikuti polyline DAS meliputi DAS Aramasa, DAS Wagura, DAS Jawati, DASs, Muturi, DAS Wasian, DAS Nusawammer. Kriteria yang digunakan tidak menyebutkan adanya penggunakan indikator ecoregion secara menyeluruh. Namun pengkajian terhadap deliniasi yang dibuat terlihat mengikuti pola DAS yang mempengaruhi kawasan inti yakni cagar alam teluk bintuni.

Pada tahun 2015 hasil rancangan raperpres yang dihasilkan terlihat bahwa deliniasi K3H mengikuti kriteria ecoregion sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam UU No. 32 Tahun 2009. Yang menjadi polemik dan kurang akurat adalah

penetapan KKLD menjadi kawasan inti dan atau bagian dari kawasan konservasi kewenangan pusat dalam hal ini adalah KemenLHK. Selain itu dari hasil pengkajian terhadap dokumen yang ada ada beberapa rencana sistem jaringan yang belum dimasukkan ke dalam raperpres.

Gambar perubahan deliniasi KSN K3H

Pada tahun 2016 ini, sebagaimana ahli terlibat. Hal utama yang akan dikaji selain kawasan inti yang sudah ditetapkan de facto adalah kawasan penyangga yang belum final sejak 9 tahun yang lalu karena dinamika kegiatan terdampak pada main

zone dan proses empiris penetapan KSN yang

(3)

Rencana pengembangan sesuai potensi tambang mineral, minyak dan gas juga ada pada Kabupaten Fak-Fak yakni di Distrik Bomberay (Blok Genting Oil) sebagai kawasan peruntukan tambang migas dan pertambangan mineral di Distrik Kokas. Kedua distrik tersebut terletak pada wilayah teluk bintuni. Sebagaimana diketahui juga bahwa saat ini telah berlangsung kegiatan ekploitasi migas di distrik Sumuru pada kabupaten Teluk Bintuni dan Sorong dan laporan dari DirjenLH KemenLHK telah ada pencemaran pada kawasan teluk bintuni sebagaimana dilaporkan di dalam profil ecoregion laut dan pulau pada tahun 2013. Pencemaran dan tata kelola migas di lokasi perlu mendapat perhatian ketat agar tidak memberi dampak buruk pada inti kawasan agar tidak terjadi kecelakaan lingkungan seperti di Teluk Mexico.

Oil spill at gulf of Mexico memberi dampak pada empat negara bagian di america yakni Missisippi, Louisiana, Alabama dan Florida terutama pada kawasan pesisir. BP menanggung biaya lingkungan sebesar 18 triliun US$. Dampak buruk lingkungan pesisir termasuk habitat fauna laut seperti burung laut, ikan, sea turtle, padang lamun, dan kepiting serta flora pesisir seperti mangrove. Dunia mengklaim bahwa kejadian merupakan bencana terbesar sepanjang abad.

Gambar Dampak Oil Spill Mexico Gulf

Ecoregion Kabupaten di sekitar teluk bintuni yang dapat memberi pengaruh kuat-sedang dan rendah kepada kawasan inti cagar alam teluk bintuni.

Ekoregion sebagaimana ketentuan yang ditetapkan didalam UU No 32 Tahun 2009 menjelaskan bahwa ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan hidup. Definisi lainnya menyebutkan bahwa Ecoregion adalah adalah batas darat dan perairan di mana batas tersebut ditentukan bukan oleh batas secara

politik, akan tetapi oleh batas geografis dari komunitas manusia dan sistim lingkungan. Pada pasal 7 ayat (2) disebutkan penetapan wilayah ekoregion mempertimbangkan kesamaan a. karakteristik bentang alam; b. daerah aliran sungai; c. iklim; d. flora dan fauna; e. sosial budaya; f. ekonomi; g. kelembagaan masyarakat; dan h. hasil inventarisasi lingkungan hidup.

Karakter bentang alam laut. Ekoregion Laut 14 Laut Seram dan Teluk Bintuni terbentuk sekitar 3 juta tahun silam (Hall, 2001). Berdasarkan Peta Kemiringan Lereng Dasar Laut (Sulistyo dan Triyono, 2009), hampir seluruh wilayah ini memiliki kemiringan yang bervariasi dari kelas lereng miring (1-­­3o), kelas lereng agak terjal (3-­­ 10o), kelas lereng terjal (10-­­20o), dan kelas lereng curam (>20o). Selain itu berdasarkan Peta Toponimi Dasar Laut ekoregion ini memiliki 2 cekungan, yaitu : Cekungan Salawati, dan Cekungan Berau; 1 paparan, yaitu Paparan Sayang; 1 plato, yaitu Plato Wagea; dan 1 dataran yaitu Dataran Wagea. Dan merupakan bagian dari serpihan Wallacea. Morfologi dasar laut ekoregion berupa dataran abisal (abyssal plain) dan lereng benua (continental slope) dengan kedalaman berkisar antara 0 hingga 4.980 m.

Bentang alam darat pulau papua, sebagaimana Teluk bintuni ada didalamnya, berdasarkan hasil pengkajian dari DirjenLH KemenLHK pada tahun 2013 disebutkan bahwa kawasan sekitar perairan teluk bintuni memiliki beberapa ekoregion yakni S31 atau disebut dataran struktural jalur jayawijaya, S32 Dataran Struktural Jalur Utara, F3 dataran fluvial seget – Bintuni, O13 dataran Organik/Gambut Seget Bintuni, S22 Perbukitan Struktural Jalur Utara, S21 Perbukitan Struktural Jalur Jayawijaya dan K2 Perbukitan Solusional/Karst Papua. Ekoregion tersebut merupakan konsep betnang alam dengan pendekatan morfologi dan genesa yang diintegrasikan dengan peta iklim dan prediksi tipe vegetasi berdasarkan interpretasi elevasi kontur dan tipe iklim Schmudt Ferguson.

Daerah aliran sungai yang masuk ke kawasan teluk bintuni sebenarnya terdapat beberapa DAS yakni DAS Tarof, DAS Kamundan di Kabupaten Sorong Selatan; DAS Wariagar, DAS Sebyar, DAS Wasian, DAS Muturi, DAS Jakati, DAS Nusawammer, DAS Aramasa, DAS Wagura, DAS Kaitero, DAS Kasuari, DAS Magote di Kabupaten Teluk Bintuni; DAS Otomeri, DAS Bomberay, DAS Bedidi dan DAS Kayuni di Kabupaten Fakfak.

(4)

yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Jadi ada 18 DAS yang memberi pengaruh pada perairan teluk bintuni dimulai dari spits hingga ke inti kawasan K3H Teluk Bintuni yakni CATB. DAS yang memberi pengaruh kuat pada ekosistem CA Alam Teluk Bintuni berada di Kabupaten Teluk Bintuni.

Flora dan fauna pesisir teluk bintuni. Hasil pengkajian yang dilakukan oleh konsultan AMDAL BP LNG Tangguh menyebutkan bahwa ekosistem,

biodiversity dimana LNG Tangguh beroperasi

memiliki kesamaan baik dari ekosistem dan keanekaragaman hayati. Termasuk adalah hutan mangrove, spesies endemis seperti paramelomys, rusa, flying foxes, burung kasuari, king bird of paradise dan lainnya.

Jika mencermati dan menarik benang mrah ekoregion berdasarkan bentang lahan yang ada, maka ada dominansi bentang alam ekoregion yakni F3 dan O13 yang membentuk kawasan teluk. O13 adalah dataran Organik/Gambut Seget Bintuni. F3 adalah dataran fluvial seget – Bintuni. Lahan Fluvial adalah semua proses yang terjadi di alam baik fisika, maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan, baik yang merupakan air yang mengalir secara terpadu (sungai), maupun air yang tidak terkonsentrasi ( sheet water). proses fluviatil akan menghasilkan suatu bentang alam yang khas sebagai akibat tingkah laku air yang mengalir di permukaan. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan. Bentuk lahan flufial meliputi dataran aluvial, dataran banjir, tanggul alam sungai, rawa belakang, kipas aluvial, teras sungai, gosong sungai, sungai teranyam, sungai meander dan delta.

Gambut diartikan sebagai material atau bahan organik yang tertimbun secara alami dalam keadaan basah berlebihan, bersifat tidak mampat dan tidak atau hanya sedikit mengalami perombakan. Gambut terbentuk oleh lingkungan yang khas, yaitu rawa dan suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kondisi langka udara (anaerob) akibat keadaan hidro-tofografi berupa genangan, ayunan pasang surut, atau keadaan yang selalu basah telah mencegah aktivitas mikroorganisme yang diperlukan dalam

perombakan. Dengan kata lain, pada kondoso ini laju penimbunan bahan organic lebih besar daripada mineralisasinya. Laju penimbunan gambut dipengaruhi oleh paduan antara keadaan tofografi dan curah hujan dengan curahan perolehan air yang lebih besar daripada kehilangan air serta didukung oleh sifat tanah dengan kandungan fraksi lanau (silt) yang rendah. Dalam konteks lingkungan, gambut mempunyai peranan sebagai penyangga (buffer) lingkungan. Hal ini berhubungan dengan fungsi gambut dalam gatra hidrologis, biogeokimiawi dan ekologis. Fungsi gambut secara hidrologi menyumpan air. Gambut yang masih mentah (fibrik) dapat menyimpan air sangat besar antara 500%-1.000% bobot. Gambut rawa alami selain sebagai daerah tamping air juga penyeimbang system tata air wilayah. Gambut merupakan kawasan penyerap dan penyimpan air selama musim hujan, tetapi pada saat curah hujan sedikit secara perlahan melepaskan air simpanannya. Hal ini penting artinya untuk mencegah terjadinya banjir pada saat musim hujan besar dan kelangkaan air pada musim kemarau. Selain itu, gambut pantai diperlukan sebagai penyangga antara wilayah marin dan wilayah air tawar. Dengan mempertahankan keseimbangan antara keduanya, maka terjadinya penyusupan air laut ke pesisir dan pencemaran di perairan pantai akibat hasil buangan daratan dapat dicegah. Pemendaman karbon berkaitan dengan pengukuhan iklim global dan kemantapan ekosistem alami. Kemampuan gambut dalam mengkonservasi air dan pemendaman karbon berkaitan erat dengan kepentingan lingkungan, baik secara regional maupun global.

Jadi dapat dipastikan bahwa ekoregion F3 dan O13 memberi pengaruh kuat dalam kestabilan ekosistem teluk bintuni. Namun perlu hati-hati terhadap peniadaan dan atau apabila mengesampingkan potensi laut dan pesisir yang ada di teluk. Sedangkan ekoregion S22, K2 memberik pengaruh sedang kemudian ekoregin S31 dan K2 memberi pengaruh rendah.

(5)

Rencana Pola Ruang Menurut Perpres 54/2014 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Papua

Potensi mineral dan batubara di K3H berdasarkan rencana pola ruang pada Perpres 54/2014 disebutkan memiliki potensi yang besar. Tersebar di Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Sedangkan potensi minyak dan gas bumi berada di Kabupaten Teluk Bintuni, kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Hal ini dipertegas oleh KemenESDM dan Pertamina serta British Petroleum yang akan mengembangkan beberapa blok minyak dan gas di Muturi Block, Berau Block dan Wiriagar Block yang berada di perairan teluk bintuni.

Didalam arahan operasionalisasi pengembangan kawasan andalan fakfak dan kawasan andalan bintuni dijelaskan untuk kawasan peruntukan pertambangan dikembangka kawasan untuk kegiatan sektor unggulan pertambangan, industri pengolahan pertambangan, lokasi pembuangan tailing dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, permukiman serta didukung prasarana dan sarana.

Kemudian kawasan lindung nasional di sekitar teluk bintuni yang meliputi hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air, sempadan pantai, sempadan sungai, cagar alam teluk bintuni, dan kawasan lindung terumbu karang.

Rencana Pola Ruang Kabupaten Sekitar

Minimnya dokumen spasial terutama RTRW Sorong Selatan yang belum didapatkan menyulitkan ahli untuk mengkaji lebih dalam terkait arahan pemanfaatan ruang pemerintah daerah.

Berdasarkan raperda rencana tata ruang kabupaten Teluk Bintuni terdapat kawasan strategis kabupaten yang direncanakan yakni KSK kawasan perkotaan bintuni barat sebagai ibukota kabupaten dan KSK LNG BP Tangguh yang berada di distrik Babo. Sedangkan kawasan lindung berupa suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya ditetapkan yakni CA Teluk Bintuni di distrik Wamesa dan CA Wagura Kota di distrik Babo. Untuk kawasan lindung lainnya seperti HL

terdapat hampir di setiap distrik. Sedangkan kawasan peruntukan pariwisata raperda mengarahkan agar CA di wilayah timur pesisir teluk bintuni.

Gambar Rencana Pola Ruang Kab Fakfak dan Teluk Bintuni

Konklusi

1. Pemantapan dan pemahaman de facto fisiografis teluk, terutama teluk bintuni, sehingga tidak ada dualisme nama pada fisiografis yang sama;

2. Penyepakatan kriteria deliniasi lintas sektor semisal:l (i) kriteria ekoregion; (ii) kriteria DAS pembawa dampak kualitas ekosistem teluk de facto;

3. Merumuskan batangtubuh raperpres sesuai dengan kontekstual dan prediksi ancaman terhadap ekosistem inti kawasan dan pengendalian yang harus dilakukan sebagai upaya melindungi inti kawasan;

4. Memastikan keseluruhan jakstra dokumen spasial diatasnya untuk mengatur pengendalian ruang sekitar teluk dan inti kawasan.

Gambar

Gambar perubahan deliniasi KSN K3H
Gambar Dampak Oil Spill Mexico Gulf
Gambar Ekoregion K3H Teluk Bintuni
Gambar Rencana Pola Ruang Kab Fakfak dan Teluk Bintuni

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan untuk perlakuan P3 yang dibandingkan dengan perlakuan P0 menghasilkan persentase lemak dan kulit karkas yang nyata lebih rendah daripada kontrol

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : untuk mengetahui pengaruh yang signifikan secara simultan dan

Save As : Menyimpan lembar kerja aktif ke dalam disk dengan nama lain Save All : Menyimpan semua file program pada jendela yang aktif ke dalam disk Print : Mencetak lembar

Penurunan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0.19 persen diakibatkan penurunan pada subkelompok konsumsi rumah tangga (IKRT) sebesar 0,39 persen sedangkan indeks

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!.. Ekologi Tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan alam yang masih baru memerlukan ilmu

Jabatan Fungsional Widyaiswara adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, melatih

Kolom Kontrol (KLM kontrol I, KLM kontrol II, KLM kontrol III) yang dibebani 100% sampai runtuh, digunakan sebagai acuan untuk menentukan variasi beban dan menjadi

Akan tetapi karena suatu pengaruh tertentu, perubahan gradual butiran yang terbalik (makin ke bawah semakin halus) dapat terbentuk pada suatu batuan sedimen dan