1.
PERLINDUNGAN HAM BAGI
NARAPIDANA DI INDONESIA Oleh:
Rusmilawati Windari, SH,MH
1. PENDAHULUAN
1. A. Latar Belakang
“AllHuman being are born free and equal in dignity and rights”,[1] artinya adalah setiap manusia dilahirkan merdeka (bebas) dan mempunyai hak yang sama. Pengakuan HAM yang telah diakui secara universal dan dirumuskan dalam Universal Declaration of Human Rights (UDHR) ini menunjukkan bahwa HAM merupakan hak asasi yang melekat pada diri setiap manusia tanpa membedakan jenis kelamin, umur, status, ras, kebangsaan, ataupun perbedaan lainnya.
Pernyataan UDHR di atas merupakan prinsip fundamental dari pengakuan HAM. Prinsip fundamental tersebut harus benar-benar dipahami oleh semua pihak tanpa terkecuali. Hal ini dikarenakan karena setiap orang berpotensi melanggar HAM, dan sebaliknya setiap orang juga berpotensi untuk dilanggar HAM-nya, sekalipun orang tersebut adalah narapidana (para pelaku
kejahatan). Narapidana memang merupakan seseorang yang telah
melanggar HAM orang lain, namun bukan berarti HAM yang melekat pada dirinya dengan serta merta hilang dan dia boleh diperlakukan semena-mena oleh pihak lain guna menebus semua perbuatan jahatnya.
Hak asasi manusia (HAM), sering digambarkan sebagai masalah moral yang bersifat universal. Sebagian HAM itu ada yang bersifat interaliable (tak bisa dilenyapkan)dan unviolable (tak bisa diganggu gugat). HAM semacam itu disebut sebagai non-derogable human rights, yaitu hak –hak asasi yang tidak dapat diingkari atau dilanggar sekalipun negara dalam keadaan “internal unrest”, “civil war or public emergency”[2]
1. a. right to life;
2. b. prohibition of torture;
3. c. prohibition of slavery;
4. d. prohibition of inprisonment solely for inability to fulfill a contractual obligation;
5. e. prohibition of expost facto;
6. f. right to recognition as a person by the law; and
7. g. freedom of religion.
Bertolak dari pemahaman non-derogablehuman rights di atas, narapidana sebagai seorang yang dirampas sebagian haknya tentunya tetap berhak memperoleh perlindungan atas hak-hak asasinya yang bersifat
non-derogable sebagaimana yang telah dirinci oleh prof. Muladi. Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, dikarenakan label “narapidana” yang melekat pada dirinya dan dianggap sebagai orang pesakitan oleh sebagian orang, maka seolah-olah seorang narapidana tidak mempunyai hak apapun.
Tindakan semena-mena atau kekerasan memang rentan sekali terjadi terhadap tersangka, terdakwa maupun narapidana. Dalam sejarah,
penahanan manusia untuk keperluan pemeriksaan atau pemidanaan ntuk tujuan penghukuman di negara manapun pernah mengalami masa-masa suram. Negara-negara Eropa barat, dalam hal ini terkenal dengan
penghukuman yang kejam terhadap para pelaku kejahatan, seperti
penenggelaman hidup-hidup, hukum bakar, bahkan hingga abad ke -19, di Belanda masih berlaku tindakan memberi cap pada tubuh narapidana dengan besi panas yang membara.[4]
Bentuk-bentuk kekerasan semacam memang tidak ada dalam sistem pemidanaan pada zaman modern saat ini, terlebih lagi sejak adanya pergeseran tujuan pemidanaan yang tidak lagi diorientasikan pada
kekerasan dalam bentuk lain yang berkedok pada rangkaian pembinaan narapidana justru seringkali terjadi. Kita masih ingat beberapa kasus kekerasan yang menimpa beberapa narapidana, seperti kasus Paris
Pangaribuan di medan pada tahun 1996, kasus Marsinah, tjetje tadjudi, dan kasus lainnya.
Mengingat kondisi narapidana yang rentan sekali mendapat tindakan kekerasan selama menjalani masa hukumannya, maka sebagai manusia yang juga diakui eksistensinya oleh hukum, patut kiranya dibahas mengenai Bagaimanakah perlindungan HAM yang diberikan oleh hukum kepada para narapidana.
1. B. Perumusan Permasalahan
Bertolak dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah sajakah yang menjadi hak-hak narapidana sebagai bagian dari HAM?
2. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap HAM para narapidana di Indonesia?
3. II. PEMBAHASAN
1. A. Hak Asasi Manusia dan Perkembangannya
Pembicaraan dengan mengangkat topik Hak asasi manusia (HAM) dewasa ini memang seolah-olah tidak pernah ada habisnya. Bagaimana tidak, sejak peristiwa paling fenomenal “Black Tuesday” terjadi pada tanggal 11
September 2001, semenjak itu lah, topik Hak-hak asasi manusia semakin mendapat perhatian khusus dari banyak kalangan, terutama para akademisi dan praktisi hukum.
Sebenarnya topik mengenai Hak asasi manusia bukan merupakan topik yang baru. Pengakuan hak-hak manusia bahkan telah ada dalam beberapa
dipertegas lagi dengan “Declaration of Independence 1778, Declaration des Droits de l’homme et du Citoyen (Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara Perancis pada tahun 1789). Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1948 hak-hak asasi manusia diakui secara Internasional dengan dikeluarkannya Deklarasi HAM sedunia.[5]
Selanjutnya, Muladi menggambarkan perkembangan HAM ke dalam 3 (tiga bentuk), yaitu:[6]
1. pertama, HAM yang bernuansa hak-hak sipil dan politik, sebagaimana yang tersirat dan tersurat dalam dalam piagan HAM universal PBB 1948;
2. Kedua, HAM yang berkaitan dengan hak-hak ekonomi, sosial, budaya, yang berkembang pada tahun 1966;
3. Ketiga, HAM yang berkaitan dengan hak-hak kolektif, yang dikembangkan pada tahun 1986.
Hak asasi manusia merupakan hak-hak dasar yang dibawa manusia semenjak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, maka perlu dipahami bahwa HAM tersebut tidaklah bersumber dari negara dan hukum, tetapi smata-mata bersumber dari Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya, sehingga pada prinsipnya HAM itu tidak dapat dikurangi oleh siapapun bahkan oleh negara.[7]
Definisi HAM di atas senada dengan definisi HAM yang di rumuskan dalam pasal 1 nomor 1 Undang-undang HAM Nomor39 Tahun 1999 adalah:
“ Seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”.[8]
1. 1. Freedom of speech;
2. 2. Freedom of Religion;
3. 3. Freedom from fear;
4. Freedom for want.
Dalam Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia) 1948 tercantum hak-hak yang paling mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari manusia (unalienable rights of all members of human family), yaitu : hak atas penghidupan dan keselamatan pribadi (pasal 3). Larangan tentang penghambaan, perbudakan dan perdagangan budak (pasal 4). Larangan menjatuhkan perlakuan atau pidana yang aniaya dan kejam (pasal 5). Hak atas pengakuan hukum (pasal 6). Hak atas persamaan di hadapan hukum dan atas non-diskriminasi dalam pemberlakuannya (pasal 7). Hak atas pemulihan (pasal 8). Larangan terhadap
penangkapan,penahanan atau pengasingan yang sewenang-wenang (pasal 9). Hak atas pengadilan yang adil (pasal 10). Praduga takbersalah dan larangan terhadap hukum ex post facto(pasal 11). Hak memiliki
kewarganegaraan (pasal 16). Hak untuk memiliki kekayaan (pasal 17). Kebebasan berfikir, berhati nurani dan beragama (pasal 18). [10]
Negara sebagai lembaga kekuasaan tertinggi mempunyai kewajiban untuk melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) warganya melalui sarana hukum yang terintegrasikan dalam undang-undang HAM. Narapidana sebagai manusia dan warga negara juga berhak atas perlindungan hukum atas hak-haknya. Mengenai hal ini ditegaskan dalam pasal 12 Universal Declaration of Human Rights yang menetapkan, bahwa:[11]
“no one subjected to arbitrary interference with his privacy, family, or
correspondence, or to attacks upon his honour and reputation, every one has the
right to the protection of the law against such interference or attack” (garis bawah oleh penulis).
“ setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlakuan hukum yang adil serta mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang sama di depan hukum”.
Selanjutnya, dipertegas kembali dalam pasal 5 ayat (1), yang berbunyi sebagai berikut:
“setiap orang diakui sebagai manusia pribadi, yang berhak menuntut dan memperoleh perlakuan serta perlindungan yang sama sesuai dengan martabat kemanusiaannya di depan hukum”
Pasal 3 ayat (2) dan pasal 5 ayat (1) Undang-undang HAM di atas dengan jelas dan tegas mengakui persamaan hak dan perlakuan serta perlindungan di mata hukum. Ketentuan tersebut berlaku untuk semua orang tanpa
terkecuali, baik itu orang baik-baik maupun narapidana. Dengan berdasarkan ketentuan di atas, maka terhadap setiap bentuk penyiksaan, penganiayaan, atau tindak kekerasan apapun, narapidana mempunyai hak yang sama di mata hukum untuk dilindungi dan menuntut keadilan atas kerugian yang dideritanya.
1. B. Hak-Hak Narapidana
Narapidana menurut pasal 1 nomor 7, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 merupakan terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan).[13]
Seperti halnya manusia pada umumnya, seorang narapidana mempunyai hak yang sama meskipun sebagian hak-haknya untuk sementara dirampas oleh negara. Adapun hak-hak narapidana yang dirampas oleh negara untuk sementara berdasarkan Deklarasi HAM PBB 1948, yaitu:[14]
1. hak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam lingkungan batas-batas tiap negara. (pasal 13 ayat (1));
2. hak meninggalkan suatu negara, termasuk negaranya sendiri (pasal 13 ayat (2));
4. kebebasan berkumpul dan berserikat (pasal 20);
5. hak memilih dan dipilih (pasal 21);
6. jaminan sosial (pasal 22);
7. hak memilih pekerjaan (pasal 23);
8. hak menerima upah yang layak dan liburan (pasal 24);
9. hak hidup yang layak (pasal 25);
10.hak mendapatkan pengajaran secara leluasa (pasal 26);
11.kebebasan dalam kebudayaan (pasal 27).
Sedangkan hak-hak yang dapat dicabut dalam pasal 35 KUHP dapat dirinci sebagai berikut:[15]
1. hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu;
2. hak memasuki angkatan bersenjata;
3. hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang didasarkan atas aturan-aturan umum;
4. hak menjadi penasehat atau pengurus menurut hukum, hak menjadi wali pengawas, pengampu atau pengampu pengawas, atas orang yang bukan ank-anak sendiri;
5. hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian atau pengampuan atas anak sendiri;
6. hak menjalankan pencaharian.
Pada umumnya, Hak-hak narapidana yang tidak dapat diingkari, dicabut oleh negara sekalipun dan dalam kondisi apapun, adalah seperti yang tercantum dalam Deklarasi HAM PBB 1948, yaitu: hak atas penghidupan dan
keselamatan pribadi (pasal 3). Larangan tentang penghambaan, perbudakan dan perdagangan budak (pasal 4). Larangan menjatuhkan perlakuan atau pidana yang aniaya dan kejam (pasal 5). Hak atas pengakuan hukum (pasal 6). Hak atas persamaan di hadapan hukum dan atas non-diskriminasi dalam pemberlakuannya (pasal 7). Hak atas pemulihan (pasal 8). Larangan terhadap penangkapan, penahanan atau pengasingan yang sewenang-wenang (pasal 9). Hak atas pengadilan yang adil (pasal 10). Praduga tak bersalah dan larangan terhadap hukum ex post facto (pasal 11). Hak memiliki kewarganegaraan (pasal 16). Hak untuk memiliki kekayaan (pasal 17). Kebebasan berfikir, berhati nurani dan beragama (pasal 18).[16]
Beberapa hak-hak yang tercantum dalam Deklarasi HAM PBB ini, juga telah dirumuskan secara singkat dalam pasal 4 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, yang berbunyi sebagai berikut:[17]
“Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa,hak kebebasan pribadi, pikiran, dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah HAM yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun”.
Hak-hak Asasi manusia yang telah tersebut di atas, kemudian dijabarkan lagi dalam pasal 14 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan, yaitu:[18]
1. melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaan;
2. mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani;
3. mendapatkan pendidikan dan pengajaan;
4. mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;
6. mendapat upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan;
7. menerima kunjungan keluarga, penasehat hukum atau orang tertentu lainnya;
8. mendapat pengurangan masa pidana (remisi);
9. mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga;
10.mendapatkan pembebasan bersyarat;
11.mendapatkan cuti menjelang bebas;
12.mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundnag-undangan yang berlaku.
Manual lembaga Pemasyarakatan mengatur setidaknya ada 5 (lima) hak narapidana yang diberikan apabila narapidan tersebut telah memenuhi persyaratan tertentu. Hak – hak tersebut adalah:[19]
1. mengadakan hubungan terbatas dengan pihak luar;
Negara tidak berhak membuat seorang narapidana menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Selama menjalani masa hukumannya, seorang narapidana harus secara berangsur-angsur diperkenalkan dengan masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat. Antara lain dengan cara: surat menyurat dan kunungan keluarga.
1. memperoleh remisi;
Setiap 17 Agustus 1945, berdasarkan Keppres Nomor 5 Tahun 1987, setiap narapidana yang berkelakuan baik, telah berjasa kepada negara, melakuakn perbuatan yang bermanfaat bagi negara atau kemanusiaan, dan narapidana yang membantu kegiatan dinas LAPAS, akan memperoleh remisi.
1. memperoleh asimilasi;
diasingkan dari masyarakat. Asimilasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: asimilasi ke dalam (yaitu, hadirnya masyarakat ke dalam LP), dan asimilasi ke luar (yaitu, hadirnya narapidana di tengah-tengah masyarakat).
1. memperoleh cuti;
2. memperoleh pembebasan bersyarat.
Hak ini merupakan hak pengintegrasian narapidana, yaitu hak narapidana untuk sepenuhnya berada di tengah-tengah masyarakat, dengan syarat narapidana tersebut telah menjalani 2/3 dari masa hukumannya. Narapidana yang memperoleh pembebasan bersyarat ini tetap diawasi oleh BAPAS dan Jaksa negeri setempat.
C. Perlindungan Hukum Terhadap HAM Narapidana
Perlindungan hukum narapidana dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi narapidana (fundamental rights and freedoms of prisoners) serta berbagai kepentingan yang
berhubungan dengan kesejahteraan narapidana. (definisi ini merupakan hasil modifikasi penulis dari definisi perlindungan Hukum Anak, oleh Barda Nawawi Arief).[20]
Perlindungan hukum atas hak-hak narapidana di Indonesia sebenarnya telah diatur dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak-Asasi Manusia, dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan.
Inti perlindungan narapidana adalah terwujudnya pembinaan narapidana sesuai dengan sistem pemasyarakatan yang diberlakukan dalam Undang-undang Pemasyarakatan.
Sistem pemasyarakatan adalah suatu susunan elemen yang berintegrasi yang membentuk suatu kesatuan yang integral membentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang melanggar hukum pidana atas dasar
Bertolak dari pemahaman mengenai sistem pemasyarakatan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa tujuan dari pembinaan narapidana itu sendiri tidak lain adalah rehabilitasi dan resosialisasi narapidana, dengan menyertakan unsur-unsur edukatif, korektif dan defensif. Tujuan pembinaan ini
menunjukkan bahwa tindakan-tindakan yang tidak bernilai edukatif, korektif dan defensif dalam proses pembinaan tidak dibenarkan, apalagi tindakan – tindakan yang memenuhi tindak pidana seperti halnya penyiksaan ataupun penganiayaan.
Tindak pidana yang kerapkali menimpa narapidana di dalam penjara adalah tindak pidana yang melibatkan unsur-unsur kekerasan di dalamnya, baik yang dilakukan oleh sesama narapidana, maupun oleh petugas LP.
Dalam Declaration Against Torture and Other Cruel in Human Degrading Treatment or Punishment (adopted by the general assembly, 9 Desember 1975), dengan tegas melarang semua bentuk:[22]
“penganiayaan atau tindakan kejam lain, perlakuan dan pidana yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia dan merupakan pelanggaran hak-hak dasar manusia”.
Pembinaan narapidana mengandung makna memperlakukan seseorang yang berstatus narapidana untuk dibangun agar bangkit menjadi seseorang yang baik. Atas dasar pengertian pembinaan yang demikian itu sasaran yang perlu dibina adalah pribadi dan budi pekerti narapidana, yang didorong untuk membangkitkan rasa harga diri pada diri sendiri dan orang lain, serta
mengembangkan rasa tanggung jawab untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang tentram dan sejahtera dalam masyarakat, dan selanjutnya berpotensi luhur dan bermoral tinggi.[23]
Demi menghindari tindakan yang mengandung penyiksaan atau bentuk kekerasan lainnya, maka pembinaan narapidana harus didasarkan atas pedoman-pedoman yang telah diatur dalam pasal 5 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yaitu:[24]
1. Pengayoman
2. Persamaan perlakuan dan pelayanan;
4. Pembimbingan;
5. Penghormatan harkat dan martabat manusia;
6. Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu.
Menurut Muladi, Pemasyarakatan merupakan suatu proses pembinaan narapidana yang sering disebut theurapetics proccess, yakni membina narapidana dalam arti menyembuhkan seseorang yang tersesat hidupnya karena kelemahan-kelemahan tertentu. [25]
Bertolak dari pemikiran prof. Muladi di atas, menurut penulis jika narapidana dianggap sebagai orang yang sedang sakit atau tersesat, maka pembinaan yang dikenakan terhadapnya harus benar-benar arif dan bijaksana. Bila dianalogikan sebagai orang sakit, tentunya masing-masing narapidana mempunyai penyakit yang berbeda-beda, dan proses penyembuhannya dan obatnya pun berbeda juga. Demikian pula halnya dengan pembinaan
narapidana, petugas LP seharusnya memberikan pembinaan yang juga disesuaikan dengan kondisi dari narapidana itu sendiri, tanpa adanya tindakan-tindakan pembinaan di luar kewajaran.
Tindakan kekerasan apapun tidak dibenarkan sebagai salah satu metode pembinaan narapidana. Konsep ini harus dipahami oleh setiap narapidana. Menurut pasal 5 Code of Conduct for Law Enforcement Officials menegaskan bahwa: “ Tak seorang petugas penegak hukum pun boleh menimbulkan, mendorong atau mentoleransi tindakan penyiksaan……….juga tidak dapat mengemukakan perintah atasan atau keadaan luar biasa………….sebagai pembenaran penyiksaan”.[26]
Selanjutnya kembali dipertegas pasal 10.1 International Convenant Civil Politic Rights (ICCPR) bahwa: “Semua orang yang dicabut kebebasannya akan diperlakukan secara manusiawi dan dengan menghormati martabat yang menjadi sifat pribadi manusiawi mereka”.[27]
Ketentuan tersebut mengisyaratkan bahwa kehilangan kemerdekaan
Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan,memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana, sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat berperan aktif dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.
Dalam rangka mencapai tujuan pembinaan narapidana, sistem kepenjaraan ini memberi pedoman yang disebut “Sepuluh prinsip pemasyarakatan”, ialah: [28]
1. Orang yang tersesat harus diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna dalam masyarakat;
2. penjatuhan pidana bukan tindakan pembalasan dendam dari negara;
3. rasa tobat tidaklah dapat dicapai dengan menyiksa, melainkan dengan bimbingan;
4. negara tidak berhak membuat seorang narapidana lebih buruk atau lebih jahat daripada sebelum ia masuk lembaga;
5. selama kehilangan kemerdekaan bergerak, narapidana harus dikenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat;
6. pekerjaan yang diberikan kepada narapidana tidak boleh bersifat mengisi waktu atau hanya diperuntukkan bagi kepentingan lembaga atau negara saja. Pekerjaan yang diberikan harus ditujukan untuk pembangunan negara;
7. bimbingan dan didikan harus berdasarkan asas Pancasila;
8. tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia meskipun ia telah tersesat. Tidak boleh ditunjukkan kepada
narapidana bahwa ia itu penjahat;
10.Sarana fisik lembaga dewasa ini merupakan salah satu hambatan pelaksanaan sistem pemasyarakatan.
Sistem pemasyarakatan di Indonesia seringkali mendapat kritikan tajam, karena dianggap tidak berhasil dalam menyelenggarakan pembinaan pada para narapidana dan masih menyisakan metode-metode kolonial, sehingga melanggar HAM dari narapidana. Menurut penulis, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ditinjau dari hukum positif Indonesia (baik Undang-undang HAM dan Undang-Undang-undang Pemasyarakatan), sebenarnya
perlindungan hukum HAM narapidana sebagian besar telah diatur dalam kedua undang-undang tesebut. Dengan kata lain, kedua undang-undang tersebut telah cukup memberikan perlindungan bagi narapidana.
Menurut penulis, terjadinya praktek-praktek kekerasan terhadap para narapidana, perlu dipahami kembali bahwa keberhasilan sistem peradilan pidana tidak hanya ditentukan oleh kualitas dari hukum substantifnya saja, melainkan juga ditentukan oleh kualitas perilaku para penegak hukum atau pelaksana hukum itu sendiri dan kualitas . Bukankah hukum itu tidak lain adalah “ it doesn’t matter what the law says. What matters is what the guy behind the desk inteprets the law says”.[29] Artinya tidak lain adalah bahwa hukum juga tergantung pada para penegak hukum/pelaksana hukum dalam mengintepretasikan hukum itu sendiri.
III. PENUTUP
1. A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa:
1. Narapidana seperti halnya manusia pada umumnya mempunyai hak-hak yang juga harus dilindungi oleh hukum. Hak-hak-hak yang harus dilindungi tersebut terutama hak-hak yang sifatnya non-derogable, yakni hak – hak yang tidak dapat diingkari atau diganggu gugat oleh siapapun dan dalam keadaan apapun.
tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut.
Selanjutnya, dijabarkan lagi dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yakni di antaranya: hak untuk memperoleh remisi, hak beribadah,hak untuk mendapat cuti, hak untuk berhubungan dengan orang luar secara terbatas, hak memperoleh pembebasan bersyarat, dan hak-hak lainnya seperti yang tercantum dalam pasal 14 Undang-undang Pemasyarakatan.
1. Perlindungan hukum terhadap HAM narapidana telah cukup dilindungi oleh hukum positif Indonesia (undang HAM dan Undang-undang Pemasyarakatan), yakni dalam bentuk Pembinaan yang diorientasikan pada rehabilitasi dan resosialisasi narapidana. Namun pada kenyataannya, masih banyak terjadi praktek-praktek