• Tidak ada hasil yang ditemukan

masuk dan berkemb hindu budha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "masuk dan berkemb hindu budha"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Berkembangnya hindu –

Berkembangnya hindu –

(2)

MASUK DAN BERKEMBANGNYA

MASUK DAN BERKEMBANGNYA

AGAMA HINDU-BUDHA

AGAMA HINDU-BUDHA

DI INDONESIA

DI INDONESIA

Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Resi Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Resi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat

sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.

(3)

Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.

Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche

Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang(waisya) India damai yang dilakukan oleh golongan pedagang(waisya) India

Mookerjee (ahli - India tahun 1912).Mookerjee (ahli - India tahun 1912).

Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka

untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang

berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia

Hindu di Indonesia

Moens dan Bosch (ahli - Belanda)Moens dan Bosch (ahli - Belanda)

Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar

(4)

AGAMA HINDU DI INDONESIA

AGAMA HINDU DI INDONESIA

Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala

pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa

peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu

yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan

melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain

menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu

tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan

"Vaprakeswara". "Vaprakeswara".

Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia,

yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga

munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah.

Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga

berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan

diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun,

Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai

(5)

Data Peninggalan Sejarah di

Data Peninggalan Sejarah di

Indonesia.

Indonesia.

Data peninggalan sejarah disebutkan Resi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India Data peninggalan sejarah disebutkan Resi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India

ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali,

ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali,

yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia,

yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia,

melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu

melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu

besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam

besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam

prasasti-prasasti seperti:

prasasti-prasasti seperti:

Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):

Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat

Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat

pura suci untuk Resi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.

pura suci untuk Resi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.

 Prasasti Porong (Jawa Tengah)Prasasti Porong (Jawa Tengah)

Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi

Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi

Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada

Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada

beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak

beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak

mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari

mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari

lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.

(6)

Dari prasasti-prasasti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa Dari prasasti-prasasti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa

"Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau

"Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau

adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan

adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan

dengan tapak kaki dewa Wisnu

dengan tapak kaki dewa Wisnu

Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya

yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa

yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa

Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja

Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja

Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti

Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti

sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu

sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu

berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas

berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas

di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai

di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai

huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti

huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti

ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra,

ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra,

Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650

Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650

Masehi

Masehi

Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa

sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh

sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh

Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala

Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala

berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap

berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap

Dewa Syiwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.

(7)

Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat

Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca

Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya

perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu

berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti

Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja

Dewa Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Dewa Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para

Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu

raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di

daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.

Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan

bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan

Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.

Setelah dinasti Isyana Wangsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun Setelah dinasti Isyana Wangsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun

1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak

muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab

Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan

Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi

Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada

(8)

 Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan

Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan

Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan

masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan

masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan

perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya

perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya

candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur

candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur

disamping juga munculnya buku Negarakertagama.

disamping juga munculnya buku Negarakertagama.

Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama

Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat

Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat

dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan

dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan

Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama

Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama

dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.

(9)

Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada

pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada

abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu

abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu

Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada

Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada

jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui

jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui

Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah

Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah

Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah

Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah

dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga.

dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga.

Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih

Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih

Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.

Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.

 Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada

ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi

ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi

pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada

pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada

masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai

masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai

jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra)

jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra)

ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra,

ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra,

agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci,

agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci,

seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu

seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu

(Klungkung).

(10)

Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di

Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami

Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami

kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul

kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul

dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka

dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka

tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja,

tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja,

Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di

Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di

Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja,

Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja,

Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra

Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra

Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959

Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959

terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23

terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23

Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan

Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan

Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang

Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang

menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan

menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan

landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10

landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10

Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan

Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan

menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali

menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali

dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu

dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu

Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

kebudayaan Hindu ke wilayah Indonesia dilakukan oleh orang-orang India dari kasta ksatria {para prajurit}. Mereka melarikan diri ke Indonesia sebagai akibat dari terjadinya

Masuknya islam ke indonesia melalui jalur perdagangan yang terjadi pada abad ke 7-15M yang berasal dari daerah gujarat, india.. Adapula yang mengatakan islam datang keindonesia

Sinkritisme ajaran Veda dan ajaran leluhur telah terjadi berabad-abad lamanya, baik dari 5 teori masuknya agama Hindu ke Indonesia, dari proses perjalanan orang

perlu diketahui bahwa masuknya agama Hindu ke wilayah kepulauan Nusantara (Indonesia) dengan berbagai sektenya, hanya membawa nilai-nilai ajarannya. Sedangkan budaya

4. Terdapat berbagai pendapat tentang proses masuknya agama Hindu ke Indonesia. Jika dilihat dari peninggalan berupa prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta, agama

proses masuknya agama Hindu ke Indonesia. Jika dilihat dari peninggalan berupa prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta, agama Hindu disebarkan oleh golongan...

Wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang tersebut terlihat dari pengambilan lakon ceritera dari kisah Ramayana maupun Mahabarata yang berasal dari budaya India, tetapi tidak

Wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang tersebut terlihat dari pengambilan lakon ceritera dari kisah Ramayana maupun Mahabarata yang berasal dari budaya India, tetapi tidak